Hina Kelana: Bab 37. Tubuh Seng Put-yu Dibeset Menjadi Empat

Hanya satu gebrakan saja Seng Put-yu sudah terpaksa menarik kembali pedangnya untuk menangkis, tanpa terasa mukanya menjadi merah jengah. Ia tidak tahu bahwa usapan sapu Lenghou Tiong sebenarnya adalah ciptaan belasan jago Mo-kau, sebaliknya ia menyangka berhasilnya Lenghou Tiong mematahkan serangannya hanya karena kebetulan saja. Dengan gusar serangan kedua segera dilontarkan pula menuju dada dekat ketiak.

Namun Lenghou Tiong sempat mengegos pula, ia pindahkan sapu ke tangan kiri, tampaknya seperti menghindari tusukan pedang lawan, tapi secepat kilat sapunya menyambar pula ke depan mengarah dada Seng Put-yu.

Gagang sapu lebih panjang daripada pedang, meski sapunya bergerak belakangan, tapi tiba lebih dulu pada sasarannya, belum sempat Seng Put-yu putar kembali pedangnya, beberapa jalur ujung sapu yang lemas itu sudah mengenai dadanya, berbareng Lenghou Tiong berseru, “Kena!”

Akan tetapi hampir pada saat yang sama sapunya tertebas kutung oleh pedang lawan.

Namun para penonton dapat melihat dengan jelas bahwa Seng Put-yu yang kalah. Apabila senjata yang digunakan Lenghou Tiong bukan sapu melainkan senjata panjang terbuat dari besi, maka dada Seng Put-yu pasti sudah terluka parah.

Bilamana lawannya adalah tokoh kelas tinggi tentu Seng Put-yu akan melempar pedang dan mengaku kalah. Tapi sekarang yang mengalahkan dia hanya seorang murid angkatan kedua, bahkan dikalahkan hanya dengan sebuah sapu, ke mana lagi dia harus menaruh mukanya.

Tanpa bicara lagi, “sret-sret-sret”, berturut-turut ia melancarkan tiga kali serangan lihai. Dua jurus serangan di antaranya sama dengan ukiran di dalam dinding gua, satu jurus lainnya meski belum dikenal oleh Lenghou Tiong, tapi sejak dia berhasil mempelajari “cara mengalahkan ilmu pedang” dari Tokko-kiu-kiam, untuk mematahkan segala macam serangan pedang boleh dikata bukan sesuatu yang sukar lagi baginya.

Segera Lenghou Tiong berkelit menghindarkan serangan pertama, menyusul ia gunakan gagang sapu sebagai toya untuk membentur batang pedang lawan sehingga menceng ke samping. Jurus ketiga dia sambut dengan “toya”, ujung pedang lawan dipapak dengan toya.

Jika yang dipegang Lenghou Tiong itu benar-benar toya terbuat dari baja, maka toya yang keras itu akan melawan pedang yang agak lemas, tentu pedang akan patah seketika, cara ini memang amat bagus untuk mematahkan serangan lawan dan pemakai pedang pasti akan celaka.

Tak terduga karena permainan dalam keadaan tergesa-gesa itu Lenghou Tiong lupa bahwa senjata yang dipegangnya itu hanya batang bambu bekas sapu yang sudah terkutung ujungnya, toya bambu ketemu pedang baja, dengan sendirinya bambunya kalah, “cret”, ujung pedang menancap masuk ke tengah tabung bambu.

Pikiran Lenghou Tiong dapat bekerja dengan cepat, tangan kanan segera digunakan menghantam batang bambu itu dari samping, kontan bambu yang berisikan pedang itu mencelat jauh ke sana.

Dari malu Seng Put-yu menjadi murka, tangan kiri menyambar secepat kilat, “brak”, dengan tepat dada Lenghou Tiong kena digenjot olehnya.

Kepandaian Seng Put-yu adalah hasil latihan dari berpuluh tahun, sebaliknya Lenghou Tiong hanya mengandalkan gerak tipu yang aneh, sudah tentu tenaga dalamnya sekali-sekali bukan tandingan Seng Put-yu, kontan ia roboh terjungkal, darah segar lantas menyembur dari mulutnya.

Sekonyong-konyong beberapa bayangan orang berkelebat, tahu-tahu kedua tangan dan kedua kaki Seng Put-yu diangkat ke atas oleh orang, terdengarlah suara jeritan ngeri, menyusul darah bertebaran memenuhi lantai bercampur dengan isi perut yang berhamburan.

Ternyata badan Seng Put-yu telah dibetot mentah-mentah menjadi empat potong, setiap anggota badannya itu dipegang oleh seorang yang berwajah buruk dan aneh. Kiranya empat dari Tho-kok-lak-sian yang membeset tubuh Seng Put-yu.

Kejadian yang cepat dan luar biasa ini membikin setiap orang terkesima kaget. Saking ngerinya Gak Leng-sian sampai menjerit dan jatuh pingsan.

Perubahan yang mendadak itu sekalipun Gak Put-kun, Hong Put-peng dan tokoh-tokoh kelas tinggi pun tertegun di tempatnya dengan mulut melongo. Pada saat yang hampir sama, Tho-kan-sian yang bermuka kelabu dan Tho-sit-san yang bermuka kuda itu pun melayang maju mendekati Lenghou Tiong, dengan cepat luar biasa mereka angkat tubuh pemuda itu terus dibawa lari ke bawah gunung dengan cepat luar biasa.

Berbareng Gak Put-kun dan Hong Put-peng juga bergerak, pedang mereka menusuk dua orang di antara enam tamu aneh itu, tapi lantas terdengar suara “crang-cring” dua kali, pedang mereka lantas patah menjadi dua.

Hanya dalam sekejap mata saja keempat “dewa” itu sudah menghilang dengan Ginkang mereka yang tinggi.

Waktu pedang Gak Put-kun dan Hong Put-peng tergetar patah, mereka merasa badan sasarannya itu bukanlah badan dari darah dan daging, keruan mereka terperanjat. Tapi mereka lantas sadar juga bahwa di punggung kedua orang aneh itu tentu terdapat benda keras sebangsa pelat besi dan sebagainya, kalau tidak masakah mampu menahan tusukan dua jagoan seperti Gak Put-kun dan Hong Put-peng.

Jago Hoa-san-pay yang satu lagi bernama Ko Put-ek, dia juga menyambitkan sebatang panah kecil dan jago Ko-san-pay yang berjenggot telah menimpukkan sebuah paku, sambaran kedua senjata rahasia ini sangat keras, tapi juga terdengar suara “tring-tring” dua kali, walaupun mengenai sasarannya, namun punggung kedua orang aneh itu tidak terluka sedikit pun, hanya dalam sekejap saja keenam manusia aneh sudah menghilang dengan menggondol Lenghou Tiong.

Gak Put-kun, Hong Put-peng, Theng Eng-gok, Ko Put-ek dan lain-lain hanya saling pandang dengan melongo, sudah terang mereka tidak sanggup mengejar kecepatan Tho-kok-lak-sian itu. Mereka merasa ngeri dan sedih melihat darah berceceran memenuhi lantai dengan jenazah Seng Put-yu yang sudah terbeset menjadi empat potong itu.

Selang agak lama barulah Theng Eng-gok membuka suara, “Gak-heng, apakah engkau tidak kenal asal-usul keenam orang aneh itu?”

Put-kun menggeleng kepala, sorot matanya menatap ke arah Hong Put-peng dengan maksud bertanya, tapi Hong Put-peng juga geleng-geleng kepala, begitu pula yang lain.

Dalam pada itu Lenghou Tiong yang terluka parah karena hantaman Seng Put-yu, selama jatuh pingsan dia telah dibawa lari oleh kedua “dewa”. Waktu dia siuman kembali, segera dilihatnya dirinya berbaring di dalam kamar, sebuah wajah yang panjang seperti muka kuda dengan mata yang bersinar tajam sedang menatapnya dengan penuh rasa cemas dan khawatir.

Melihat Lenghou Tiong membuka mata, dengan girang Tho-hoa-sian berseru, “Aha, dia sudah sadar, sudah sadar! Bocah ini takkan mati.”

“Sudah tentu takkan mati, hanya pukulan begitu saja masakah bisa membuatnya mati?” ujar Tho-sit-sian.

“Huh, enak saja kau bicara,” bantah Tho-hoa-sian. “Coba kalau pukulan itu mengenai tubuhmu, sudah tentu tak bisa melukaimu, tapi bocah ini mana bisa dibandingkan dirimu, bukan mustahil dia akan mati terhantam.”

“Sudah terang dia tidak mati, mengapa kau bilang dia akan terhantam mati?” sahut Tho-sit-sian.

“Aku kan tidak bilang pasti akan mati, tapi aku mengatakan bukan mustahil akan terpukul mati,” kata Tho-hoa-sian.

“Kalau dia sudah siuman kembali tentu tidak ada alasan dikatakan bukan mustahil akan mati,” sahut Tho-sit-sian dengan ngotot.

“Aku tetap akan berkata demikian, habis kau mau apa?” kata Tho-hoa-sian dengan aseran.

“Itu membuktikan pandanganmu kurang tepat, boleh dikatakan pula pada hakikatnya kau tidak tahu,” ujar Tho-sit-sian.

“Jika kau tahu pasti dia takkan mati, mengapa tadi kau sendiri menghela napas dan merasa khawatir dan sedih?” debat Tho-hoa-sian.

“Aku menghela napas bukan mengkhawatirkan kematiannya, tapi khawatir si nona cilik akan merasa cemas bila melihat keadaannya ini,” sahut Tho-sit-sian. “Kedua, dasarnya mukaku memang panjang seperti muka kuda, potongan muka yang panjang seperti aku ini dengan sendirinya tak bisa tertawa-tawa dan riang gembira.”

Mendengar pertengkaran mulut kedua orang aneh itu, walaupun merasa geli juga, tapi jelas kedua orang itu menaruh perhatian yang amat besar terhadap keselamatannya, maka diam-diam Lenghou Tiong merasa sangat terharu dan berterima kasih.

Ketika mendengar mereka mengatakan “si nona cilik” mungkin yang dimaksudkan itu adalah Gi-lim Sumoay dari Hing-san-pay. Maka dengan tersenyum ia lantas menyela, “Sudahlah, kalian berdua jangan khawatir, aku Lenghou Tiong takkan mati.”

“Nah, kau dengar dia sendiri menyatakan takkan mati, tadi kau masih terus bilang dia mungkin akan mati,” demikian Tho-sit-sian lantas menumpangi.

“Waktu aku mengatakan demikian tadi dia masih belum bersuara,” sahut Tho-hoa-sian tak mau kalah.

“Sejak tadi dia sudah membuka mata dan dengan sendirinya dapat membuka suara, hal ini siapa pun dapat menduganya,” kata Tho-sit-sian.

Diam-diam Lenghou Tiong merasa jemu, kalau pertengkaran kedua orang itu diteruskan, boleh jadi takkan berhenti biarpun tiga-hari-tiga-malam. Segera ia berkata, “Ya, sebenarnya aku akan mati, cuma ketika mendengar kalian berharap aku jangan mati, kupikir betapa besar kekuasaan Tho-kok-lak-sian, bila kalian minta aku jangan mati, mana aku berani mati?”

Mendengar demikian, senanglah hati Tho-hoa-sian dan Tho-sit-sian. Kata mereka berbareng, “Marilah kita beri tahukan kepada Toako!”

Segera mereka berlari pergi. Tidak lama kemudian Tho-kok-lak-sian pun muncul lagi seluruhnya.

Kembali keenam orang itu bicara tidak habis-habis, ada yang membual bahwa jasanya sendiri paling besar, ada yang merasa bersyukur Lenghou Tiong tidak mati, ada lagi yang menyatakan rasa khawatirnya ketika Lenghou Tiong terpukul roboh, karena menolong pemuda itu lebih penting sehingga tidak sempat membikin perhitungan dengan si anjing tua dari Ko-san-pay. Kalau tidak, anjing tua Ko-san-pay itu juga dibetot menjadi empat potong barulah rasa dongkolnya bisa terlampias.

Luka Lenghou Tiong sebenarnya sangat berat, untuk menyenangkan Tho-kok-lak-sian tadi dia telah ikut bicara, tapi habis itu dia lantas pingsan pula. Dalam keadaan samar-samar ia merasa dadanya terasa muak dan sesak, darah seluruh tubuhnya seakan-akan bergolak saling tumbuk, rasanya tidak enak.

Sejenak kemudian, ketika pikirannya rada sadar, ia merasa tubuhnya seperti sedang dipanggang, panasnya tak terkatakan. Tanpa merasa ia merintih. Tiba-tiba ada orang membentaknya, “Ssst, jangan bersuara!”

Waktu Lenghou Tiong membuka matanya, dilihatnya sebuah pelita dengan api sebesar kacang berada di atas meja, sekujur badan sendiri telanjang bulat dan terbaring di lantai, kedua tangan dan kedua kaki masing-masing dipegang oleh seorang, dua orang lagi ada yang menahan perutnya dengan telapak tangan, ada lagi yang menggunakan telapak tangan menekan “Pek-hwe-hiat” di ubun-ubunnya.

Dalam kagetnya segera Lenghou Tiong merasa suatu hawa panas menyusup masuk melalui telapak kaki kiri terus naik ke paha, ke perut, ke dada, ke lengan kanan dan akhirnya mencapai telapak tangan kanan.

Berbareng itu suatu hawa panas juga menyusup masuk melalui telapak tangan kiri terus naik ke lengan, ke dada, ke perut, ke paha kanan dan akhirnya sampai di telapak kaki kanan.

Kedua arus hawa panas itu terus berputar kian kemari, saking panasnya Lenghou Tiong merasa seperti sedang dipanggang. Dia tahu Tho-kok-lak-sian sedang menggunakan Lwekang yang tinggi untuk menyembuhkan lukanya, dalam hati dia merasa sangat berterima kasih. Segera ia pun mengerahkan Lwekang sendiri untuk menambah kekuatan penyembuhan itu.

Tak terduga baru saja tenaganya sendiri baru mulai bekerja dari pusarnya, mendadak perut terasa sakit luar biasa seperti ditikam, kontan darah segar tersembur dari mulutnya.

Keruan Tho-kok-lak-sian terkejut. “Celaka!” teriak mereka berbareng.

Segera Tho-yap-sian yang tangannya menahan ubun-ubun Lenghou Tiong itu lantas menepuk sehingga pemuda itu dihantam pingsan lagi.

Untuk selanjutnya Lenghou Tiong selalu berada dalam keadaan tak sadar, badan sebentar dingin dan sebentar panas, kedua arus hawa panas itu pun selalu menyusur kian kemari di antara urat anggota badannya, antara kedua kaki dan kedua tangan terkadang timbul beberapa arus hawa panas yang saling gontok, saling tumbuk sehingga rasanya bertambah menderita.

Hari itu mendadak pikiran Lenghou Tiong rada segar. Didengarnya Tho-kan-sian sedang berkata, “Coba kalian lihat, dia sudah tidak berkeringat lagi, bukankah karena hawa murni yang kusalurkan dan berputar di antara urat nadi anggota badannya telah membawa hasil? Dengan caraku ini tentu dapat kusembuhkan lukanya.”

“Ala, masih berani omong besar?” sahut Tho-kin-sian. “Coba kalau kemarin dulu tidak menggunakan caraku, dengan hawa murni yang kusalurkan ke berbagai urat nadi di bagian jantung dan perutnya, tentu sejak itu bocah ini sudah mati, masakah kau sempat menunggu lagi sampai hari ini.”

“Betul!” sahut Tho-ki-sian. “Cuma biarpun cara Toako itu dapat menyembuhkan luka dalamnya, namun kedua kakinya tentu akan menjadi lumpuh dan ini berarti kurang sempurna cara penyembuhanmu, betapa pun toh caraku lebih baik. Luka dalam bocah ini terletak pada bagian jantungnya, segala penyembuhan harus disalurkan melalui sana.”

“Kembali kau mengoceh tak keruan,” omel Tho-kin-sian dengan gusar. “Kau bukan cacing di dalam perutnya, dari mana kau tahu luka dalamnya terletak pada jantungnya?”

Begitulah beberapa orang aneh itu kembali bertengkar tidak habis-habis.

Tiba-tiba Tho-yap-sian berkata, “Cara menyalurkan hawa murni ke dalam tubuhnya, kukira kurang baik, kurasa lebih penting harus menyembuhkan dulu kakinya melalui Siau-yang-meh.”

Habis berkata, tanpa menunggu persetujuan kawan-kawannya segera tangannya menekan “Tang-kok-hiat” di bagian lutut kiri Lenghou Tiong, suatu arus hawa panas lantas menyusup masuk melalui Hiat-to itu.

Tho-kan-sian menjadi gusar, bentaknya, “Hah, kembali kau main gila padaku. Baiklah, boleh kita coba-coba siapa yang lebih tepat.”

Lalu ia pun mengerahkan tenaga dalam dan memperkuat saluran hawa murninya.

Keruan yang paling celaka adalah Lenghou Tiong sendiri, ia merasa muak dan ingin muntah, darah seakan-akan hendak menyembur keluar pula. Diam-diam ia hanya mengeluh belaka.

Ia tahu keenam orang itu bermaksud baik menolong jiwanya, tapi mereka mempunyai pendirian yang berbeda-beda cara penyembuhannya, jika masing-masing menggunakan caranya sendiri-sendiri, maka runyamlah dirinya.

Sesungguhnya ia ingin bersuara menolak dan minta agar Tho-kok-lak-sian berhenti saja, celakanya mulutnya sukar bicara.

“He, kalian lihat, kedua mata bocah itu terbelalak belaka, bibirnya bergerak, tapi justru tidak mau bicara ….” demikian terdengar Tho-yap-sian berseru.

Keruan Lenghou Tiong sangat mendongkol, bukannya dia tidak mau bicara, tapi badan tersiksa sedemikian rupa, masakah sanggup bersuara pula.

Sementara itu Tho-yap-sian sedang melanjutkan, “Melihat keadaannya, terang kepalanya pening dan matanya berkunang-kunang, maka harus disembuhkan melalui ….”

Baru sampai di sini Lenghou Tiong lantas merasa bagian bawah matanya yang melekuk itu kesakitan, menyusul ujung sisi bawah juga terasa linu, menyusul lagi beberapa Hiat-to di bagian dahi dan di belakang kepala ikut kesakitan pula dan linu pegal, saking tak tahan, Lenghou Tiong hanya dapat meringis saja.

“Lihatlah, biarpun kau pencet sini dan pijat sana toh dia masih tidak bicara,” kata Tho-ki-sian. “Kukira bukan otaknya yang berpenyakit, tapi lidahnya yang kaku, ini tandanya harus menyembuhkan dia melalui In-pek-hiat, Thay-pek-hiat dan lain-lain tempat, tapi … tapi kalau tidak sembuh, jangan kalian menyalahkan aku!”

“Jika kau tak bisa menyembuhkan dia, tentu jiwanya akan melayang, maka kau harus disalahkan,” kata Tho-kan-sian.

“Wah, kalau salah menyembuhkannya kan bisa runyam,” sahut Tho-ki-sian yang bernyali kecil sebagai tikus itu.

“Salah atau tidak sulit untuk dikatakan karena belum kau lakukan,” ujar Tho-hoa-sian. “Padahal bocah ini hanya terluka luar saja dan tidak penting, namun sudah sekian lama kita berusaha menyembuhkan dia dan tetap gagal. Kukira dia punya penyakit ini harus disembuhkan mulai dari dalam.”

“Ah, kau memang plintat-plintut, kemarin kau bilang begitu, sekarang bilang begini, mengapa saling bertentangan pendapatmu?” omel Tho-sit-sian.

“Kita sudah mencobanya dengan berbagai cara dan tetap tidak berhasil, terpaksa aku harus menggunakan cara yang luar biasa,” tiba-tiba Tho-kin-sian menyela.

“Cara yang luar biasa bagaimana?” tanya saudara-saudaranya.

“Penyakit bocah ini terang semacam penyakit yang aneh dan harus disembuhkan dengan cara aneh pula. Maka aku akan menyembuhkan dia melalui Hiat-to di luar kebiasaan, aku akan menutuk 12 Hiat-to yang paling aneh dan jarang dikenal.”

“He, jangan Toako, ini terlalu bahaya!” seru Tho-hoa-sian dan lain-lain.

Tapi lantas terdengar Tho-kin-sian membentak, “Jangan apa? Jika ayal tentu jiwa bocah ini sukar tertolong lagi!”

Habis itu Lenghou Tiong lantas merasa In-tong-hiat, Hi-yau-hiat dan lain-lain kesakitan luar biasa seperti ditusuk oleh pisau tajam. Ia pentang mulut ingin berteriak, tapi sedikit pun tak bisa mengeluarkan suara. Ia merasa enam arus hawa panas berputar kian kemari dari berbagai urat nadi yang berlainan, terkadang saling gontok dan saling tumbuk dengan hebatnya. Sudah tentu derita Lenghou Tiong tak terkatakan, nyata tubuhnya telah menjadi medan pertempuran hawa murni keenam manusia aneh itu.

Sungguh gusar Lenghou Tiong tidak kepalang, diam-diam ia mengutuki Tho-kok-lak-sian itu, bila dirinya tidak jadi mati, kelak tentu akan kucencang kalian enam ekor anjing tua ini, demikian gerutunya dalam hati. Kalau bisa bersuara, mungkin segala caci maki yang paling kotor sudah dilontarkan.

Padahal kalau dipikir, maksud tujuan Tho-kok-lak-sian itu tidaklah jahat melainkan ingin menyembuhkan lukanya dengan bantuan tenaga murni mereka, cara demikian sebenarnya sangat merugikan mereka sendiri.

Begitulah sembari mengerahkan hawa murni masing-masing untuk menyembuhkan Lenghou Tiong, Tho-kok-lak-sian masih terus bertengkar karena berbeda pendapat. Mereka tidak tahu bahwa karena sok pintar mereka, selama beberapa hari Lenghou Tiong telah “dipermak” oleh mereka sedemikian rupa.

Untunglah sejak kecil Lenghou Tiong sudah belajar Lwekang Hoa-san-pay yang hebat, dasarnya sudah terpupuk kuat, kalau tidak tentu jiwanya sudah melayang kena dikocok oleh Tho-kok-lak-sian itu.

Sesudah lama mengerahkan hawa murni mereka dan keadaan Lenghou Tiong bukannya bertambah baik, sebaliknya denyut jantungnya semakin lemah, napasnya semakin berat, bukan mustahil segera akan tewas, mau tak mau Tho-kok-lak-sian menjadi khawatir. Tho-ki-sian yang penakut itu yang pertama-tama berkata, “Sudahlah, aku tidak mau bekerja lagi. Jika diteruskan dan dia telanjur mati, arwahnya yang penasaran mungkin akan selalu menggoda padaku, kan bisa susah aku.”

Habis berkata segera ia menarik tangannya yang menahan salah satu Hiat-to di tubuh Lenghou Tiong.

Tho-kin-sian menjadi gusar, katanya, “Jika bocah ini benar-benar mati, maka orang pertama yang disalahkan tentulah dirimu. Arwahnya akan berubah menjadi setan gentayangan dan akan selalu menggoda dan mengintil di belakangmu.”

Mendadak Tho-ki-sian menjerit ketakutan, ia melompat keluar melalui jendela, dalam sekejap saja sudah menghilang entah ke mana.

Berturut-turut Tho-kan-sian, Tho-sit-sian dan lain-lain juga lantas menarik kembali tangan mereka. Ada yang berkerut kening, ada yang geleng-geleng kepala, semuanya merasa tak berdaya.

“Tampaknya bocah ini sukar diselamatkan lagi, lantas bagaimana baiknya?” ujar Tho-yap-sian.

“Boleh kalian beri tahukan si nona cilik, katakan bahwa bocah ini telah kena dihantam satu kali oleh keparat itu, karena tidak tahan maka bocah ini mati,” ujar Tho-kan-sian.

“Katakan tidak bahwa kita telah berusaha menyembuhkan dia?” tanya Tho-kin-sian.

“Wah, ini jangan sekali-kali diberitahukan,” sahut Tho-kan-sian.

“Tapi kalau si nona cilik tanya kita mengapa tidak berusaha menyembuhkan dia, lantas bagaimana?” tanya pula Tho-kin-sian.

“Jika begitu kita katakan saja sudah berusaha menyembuhkan dia, cuma tidak berhasil,” kata Tho-kan-sian.

“Dan si nona cilik tentu akan anggap kita Tho-kok-lak-sian tak berguna, tidak becus, lebih celaka daripada enam ekor anjing,” kata Tho-kin-sian.

Tho-kan-sian menjadi gusar, serunya, “Wah, si nona cilik memaki kita sebagai anjing, sungguh keterlaluan, aku tidak tahan.”

“Si nona cilik tidak memaki kita, akulah yang bilang demikian,” kata Tho-kin-sian.

“Jika dia tidak memaki, dari mana kau tahu?” tanya Tho-kan-sian.

“Aku kan cuma mengumpamakan saja, boleh jadi dia akan memaki kita,” sahut Tho-kin-sian.

“Aku yakin si nona cilik pasti akan menangis dan takkan memaki kita,” ujar Tho-kan-sian.

“Aku lebih suka dia memaki kita sebagai anjing daripada melihat dia menangis sedih,” kata Tho-kin-sian.

“Seumpama dia benar-benar memaki juga takkan memaki kita sebagai anjing,” kata Tho-kan-sian pula.

“Habis memaki kita sebagai apa?” tanya Tho-kin-sian.

“Memangnya kita berenam ini mirip anjing?” sahut Tho-kan-sian. “Sedikit pun tidak mirip. Maka kukira dia akan memaki kita sebagai kucing.”

“Cis, mengapa memaki kita sebagai kucing?” sela Tho-yap-sian. “Memangnya kita mirip kucing?”

“Kata-kata makian kan tidak perlu mesti mirip dengan orang yang dimaki,” timbrung Tho-hoa-sian. “Kita adalah manusia, adalah orang, bila nona cilik mengatakan kita adalah orang, maka ini bukan lagi makian.”

“Seumpama dianggap orang juga masih ada kemungkinan dimaki,” Tho-sit-sian ikut di dalam perdebatan itu. “Umpama dia mengatakan kita adalah orang goblok, orang tolol, orang jahat, ini kan kata-kata makian.”

“Biarpun orang goblok atau tolol atau orang jahat, setidak-tidaknya akan lebih lumayan daripada anjing, “ujar Tho-kin-sian.

“Jika keenam ekor anjing itu adalah anjing pintar, anjing galak, lalu anjingnja lebih baik atau orangnya lebih baik?” tanya Tho-sit-sian.

Sejak tadi Lenghou Tiong berbaring dalam keadaan kempas-kempis, sungguh geli setengah mati ketika mendengarkan pertengkaran mereka yang lucu itu. Entah mengapa, tiba-tiba suatu arus hawa hangat menyentak ke atas, mendadak ia dapat bersuara, “Enam ekor anjing tentu akan jauh lebih baik daripada kalian!”

Seketika para “Sian” itu melongo kaget. Belum lagi mereka sempat bersuara, sekonyong-konyong terdengar Tho-ki-sian bertanya di luar jendela, “Mengapa enam ekor anjing akan lebih baik daripada kami?”

Tadi dia telah lari pergi terbirit-birit, entah sejak kapan dia sudah mengeluyur kembali.

Maka berbareng kelima saudaranya ikut bertanya, “Ya, mengapa enam ekor anjing bisa lebih baik daripada kami?”

Sungguh Lenghou Tiong ingin membuka mulut dan mencaci maki mereka, tapi tenaga sedikit pun tidak ada, hanya dengan suara lemah ia berkata, “Ka … kalian antarkan aku kembali ke … ke Hoa-san, hanya … hanya Suhuku saja yang da … dapat menolong jiwaku ….”

“Apa katamu? Hanya gurumu saja yang mampu menolong jiwamu?” Tho-kin-sian menegas. “Jadi maksudmu Tho-kok-lak-sian tak mampu menolongmu?”

Lenghou Tiong manggut-manggut, mulutnya ternganga, tapi tak bisa bicara lagi.

“Persetan!” omel Tho-yap-sian. “Apa kepandaian Suhunya, masakah dia lebih lihai daripada kami Tho-kok-lak-sian?”

“Hm, boleh coba suruh gurunya bertanding dengan kita,” seru Tho-hoa-sian.

“Ya, kita berempat masing-masing memegang satu tangan dan satu kakinya, sekali betot saja dia akan kita sobek menjadi empat potong,” kata Tho-kan-sian.

“Benar, bahkan setiap orang di Hoa-san akan kita sobek menjadi empat potong,” teriak Tho-sit-sian.

Mendengar pertengkaran manusia-manusia abnormal yang ngawur dan lucu itu, kalau tidak berada dalam keadaan payah sungguh Lenghou Tiong ingin tertawa sepuas-puasnya. Tapi biarpun tutur kata dan tingkah laku orang-orang aneh itu sangat menggelikan, namun akhirnya Lenghou Tiong merasa sebal juga.

Cuma kalau dipikir kembali, kali ini secara kebetulan dapat bertemu dengan manusia-manusia aneh itu, hal ini boleh dikata sesuatu yang menguntungkan juga, paling tidak melihat tingkah laku yang menggelikan dan sukar dicari bandingannya itu sungguh tidak percumalah hidupnya ini.

Teringat demikian, tanpa merasa timbul semangat jantannya, tiba-tiba ia berkata, “Aku … aku ingin minum arak!”

Seketika Tho-kok-lak-sian bergirang mendengar suara Lenghou Tiong. Seru mereka, “Bagus, bagus sekali! Dia ingin minum arak, terang dia takkan mati.”

“Mati atau tidak, paling perlu sekarang minum arak dulu sepuas-puasnya,” kata Lenghou Tiong setengah merintih.

“Betul, orang hidup kalau tidak minum arak apa artinya menjadi manusia, kan lebih baik menjadi kura-kura saja,” kata Tho-hoa-sian yang kegemarannya juga minum arak.

Sebaliknya Tho-kan-sian yang biasanya tidak minum arak itu menjadi gusar, teriaknya, “Kau memaki aku yang tidak suka minum arak sebagai kura-kura, kuyakin kau sendiri adalah bulus.”

“Bulus juga boleh, paling perlu minum arak,” sahut Tho-hoa-sian.

Khawatir kedua orang itu bertengkar lagi tak habis-habis, cepat Lenghou Tiong merintih pula, “Lekas … lekas ambilkan, aku ingin minum arak, kalau tidak tentu aku akan … akan mati!”

“Ya, ya, baik, akan kuambilkan arak,” sahut Tho-hoa-sian cepat sambil melangkah pergi.

Benar juga, tidak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa sebuah poci arak.

Keadaan Lenghou Tiong sebenarnya sudah sangat payah, tapi demi mengendus bau arak, seketika semangatnya berbangkit, katanya, “Harap suapi aku!”

Tho-ki-sian lantas tempelkan poci arak itu ke mulutnya dan perlahan menuangkan araknya. Seceguk demi seceguk akhirnya Lenghou Tiong menjadi tambah sadar dan cerdas, pikirnya, “Keenam orang ini suka diumpak, dipuji, terpaksa aku harus menipu mereka.”

Maka ia lantas berkata, “Guruku sering berkata bahwa jago yang paling … paling lihai di dunia ini adalah Tho … Tho ….” sampai di sini ia sengaja berhenti.

Sudah tentu Tho-kok-lak-sian menjadi tertarik, cepat mereka tanya berbareng, “Apakah Tho-kok-lak-sian maksudmu?”

Lenghou Tiong tersenyum, sahutnya, “Ya, betul. Suhuku sering berkata pula bahwa beliau sangat ingin diberi kesempatan untuk minum arak bersama Tho-kok-lak-sian dan bersahabat dengan mereka agar … agar dapat minta keenam kesa … kesat ….”

“Keenam kesatria maksudnya?” kembali Tho-kok-lak-sian menegas.

“Betul, agar dapat minta keenam kesatria besar itu sudi memperlihatkan kesaktian mereka di depan para murid Hoa-san-pay ….” sampai di sini napas Lenghou Tiong terasa sesak, terpaksa ia berhenti bicara.

Keruan Tho-kok-lak-sian tidak mau berhenti, beramai-ramai mereka bertanya, “Lalu bagaimana? Dari mana gurumu mengetahui kesaktian kami? Wah, ketua Hoa-san-pay itu benar-benar seorang yang baik hati, siapa saja yang berani mengganggu sebatang rumput ataupun sebatang pohon Hoa-san tentu kita takkan mengampuni dia.”

“Gurumu adalah orang baik, kami sangat ingin bersahabat dengan dia. Marilah sekarang juga kita berangkat ke Hoa-san!” akhirnya Lak-sian berkata demikian.

Justru kata-kata ini yang lagi diharapkan Lenghou Tiong agar diucapkan mereka, maka tanpa pikir ia lantas menanggapi, “Betul, sekarang juga kita lantas berangkat ke Hoa-san!”

Dasar Tho-kok-lak-sian memang polos, sekali bilang berangkat segera mereka benar-benar berangkat. Lenghou Tiong lantas mereka gotong terus diangkut pergi.

Setengah hari kemudian tiba-tiba Tho-kin-sian mengeluh, “Wah, celaka. Salah, salah besar! Nona cilik menyuruh kita membawa bocah ini untuk menghadapinya, mengapa kita malah membawanya kembali ke Hoa-san?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: