Hina Kelana: Bab 36. Enam Kakek Aneh dari Lembah Tho

Kiranya otak orang ini memang bebal, tapi selamanya sangat hati-hati.

“Sudah tentu kau lebih tinggi,” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. “Caramu berlari tadi menunjukkan Ginkangmu sangat tinggi, betapa pun jago Ko-san-pay itu takkan mampu menyusul kau.”

Si muka benjol bertambah senang, tanpa ragu-ragu lagi ia mendekati Lenghou Tiong. Namun dia masih belum hilang dari seluruh kekhawatirannya, ia tanya pula, “Tapi kalau dia dapat menyusul aku, lantas bagaimana?”

“Jangan khawatir, jika dia berani main gila padamu, hmm, ini!” sampai di sini Lenghou Tiong mencabut sebagian gagang pedangnya, lalu dientakkan kembali ke dalam sarungnya sehingga mengeluarkan suara “takkk”, lalu melanjutkan, “Sekali tebas segera kubunuh dia!”

“Bagus, bagus!” si muka benjol sangat senang. “Apa yang kau katakan ini harus kau tepati.”

“Sudah tentu,” sahut Lenghou Tiong. “Cuma kalau dia tidak menguber kau ya aku tidak perlu membunuh dia.”

“Betul, kalau dia tak mampu menyusul aku, boleh biarkan dia sesukanya,” kata si benjol dengan tertawa.

Diam-diam Lenghou Tiong geli. Pikirnya, “Sekali kau sudah lari, di dunia ini siapa yang mampu menyusul kau? Buset!”

Ia melihat sifat kakek-kakek aneh itu ketolol-tololan, tapi terang sangat polos dan bukan orang jahat, untuk dijadikan sahabat masih boleh juga. Segera ia berkata, “Sudah lama kudengar nama kalian yang termasyhur. Hari ini dapat bertemu, nyatanya memang tidak bernama kosong. Numpang tanya, siapakah nama kalian yang terhormat?”

Kata-kata Lenghou Tiong itu sebenarnya tidak masuk akal. Sudah menyatakan nama kakek-kakek itu termasyhur dan telah lama didengar, tapi bertanya pula tentang nama-nama mereka. Tapi keenam kakek itu ternyata tidak memikirkan ucapan yang bertentangan itu, mereka justru sangat gembira karena nama mereka dikatakan termasyhur. Segera si muka keriput berkata, “Aku adalah Toako, bernama Tho-kin-sian (dewa akar Tho).”

“Dan aku adalah Jiko, bernama Tho-kan-sian (dewa dahan Tho).” sambung si muka kelabu.

“Dan aku entah Samko atau Siko, namaku Tho-ki-sian (dewa ranting Tho),” kata si muka benjol. Ia tuding si muka hitam dan menyambung pula, “Dan dia entah Site atau Samko, dia bernama Tho-yap-sian (dewa daun Tho).”

Lenghou Tiong menjadi heran, “Mengapa kalian berdua tidak mengetahui siapa yang lebih tua, siapa Samko dan yang mana Siko?” tanyanya.

“Bukan kami yang tidak tahu, tapi ayah-bundaku yang lupa,” kata Tho-ki-sian.

“Aneh, bagaimana ayah-bundamu bisa lupa?” tanya Lenghou Tiong pula terheran-heran.

“Waktu kami dilahirkan, ayah-ibu sih ingat siapa yang lebih tua, tapi beberapa tahun kemudian beliau-beliau telah lupa semua, maka sukar diketahui pula siapa Losam dan siapa Losi (si nomor tiga dan si nomor empat),” jawab Tho-ki-sian. Kemudian dia tunjuk si muka hitam dan menyambung, “Tapi dia berkeras ingin menjadi Losam, aku tidak mau panggil dia Samko, dia lantas ajak berkelahi padaku, terpaksa aku mengalah padanya.”

“Kiranya kalian adalah dua bersaudara,” kata Lenghou Tiong tertawa.

“Benar, kami berenam saudara,” sahut Tho-ki-sian.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Ada ayah-ibu yang sinting, pantas melahirkan anak-anak tolol begini.”

Segera ia tanya pula kepada yang lain, “Dan yang dua ini apa namanya?”

“Aku adalah Tho-hoa-sian (dewa bunga Tho),” sahut si muka merah.

“Dan aku Tho-sit-sian (dewa buah Tho),” sambung si muka kuda.

Lenghou Tiong sampai tertawa geli. Nama Tho-hoa-sian yang merah itu memang rada-rada sama dengan warna bunga Tho, tapi potongan mukanya yang buruk itu betapa pun tidak sesuai dengan namanya yang indah itu.

Melihat Lenghou Tiong tertawa, Tho-hoa-sian salah wesel, katanya dengan tertawa, “Di antara enam saudara hanya namaku yang paling enak didengar.”

“Ya, nama Tho-hoa-sian memang sangat indah, tapi Tho-kin, Tho-kan, Tho-ki, Tho-yap dan Tho-sit juga tidak kurang indahnya,” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa. “Wah, jika namaku juga demikian indahnya tentu aku akan sangat senang.”

Dasar sifat Tho-kok-lak-sian itu memang mirip anak kecil, demi mendengar nama mereka dipuji, seketika mereka sangat gembira. Mereka anggap Lenghou Tiong adalah manusia yang paling baik di dunia ini. Bahkan Tho-ki-sian dan Tho-sit-sian sampai berjingkrak-jingkrak dan menari.

“Dan sekarang marilah kita berangkat,” kata Lenghou Tiong kemudian. Sebenarnya ia hendak minta Tho-kok-lak-sian membuka Hiat-to Liok Tay-yu yang tertutuk itu, tapi begitu mengingat keadaan guru dan ibu-gurunya sedang menghadapi bahaya, ia pikir lagi sejam dua jam biarkan Liok Tay-yu terbuka sendiri Hiat-to yang tertutuk itu daripada membuang waktu.

Dari jalanan lereng situ ke ruang pendopo Hoa-san-pay jaraknya ada belasan li, tapi perjalanan mereka sangat cepat, hanya sebentar saja mereka sudah tiba di tempat tujuan.

Begitu sampai di luar rumah lantas terlihat Lo Tek-nau, Nio Hoat, Si Cay-cu, Gak Leng-sian, Lim Peng-ci dan belasan Sute yang lain sedang berkumpul di situ, paras mereka kelihatan sedih. Mereka menjadi girang begitu tampak datangnya Lenghou Tiong.

Lo Tek-nau lantas memapak maju, katanya dengan suara bisik-bisik, “Toasuko, guru dan ibu-guru sedang menemui tamu di dalam.”

Lenghou Tiong menoleh dan memberi isyarat agar Tho-kok-lak-sian berhenti di situ saja dan jangan bersuara. Lalu ia berkata kepada Lo Tek-nau, “Keenam orang ini adalah kawanku, tak perlu diurus. Biar kuperiksa apa yang terjadi di dalam.”

Segera ia mendekati jendela dan mengintip ke dalam ruangan.

Perbuatan Lenghou Tiong ini sebenarnya tidak pantas, tapi Lo Tek-nau dan lain-lain tahu saat ini keadaan luar biasa sehingga mereka pun tidak anggap keliru tindakan Lenghou Tiong itu.

Waktu Lenghou Tiong mengintip ke dalam, dilihatnya pada tempat tamu berduduk seorang tua berjenggot, bertubuh kekar, kedua pelipis agak menonjol, terang mempunyai Lwekang dan Gwakang yang cukup tinggi. Pada tangan kanannya membawa Leng-ki (panji kebesaran) Ngo-gak-kiam-pay. Di sebelahnya duduk seorang Tojin setengah umur, seorang lagi adalah Nikoh berusia 30-an lebih, lalu seorang tua pula berumur kurang-lebih setengah abad. Dari dandanan mereka teranglah mereka adalah jago-jago dari Ko-san-pay, Thay-san-pay, Hing-san-pay dan Heng-san-pay.

Selain itu ada lagi tiga orang, semuanya berusia 50-60 tahun, dari pedang yang tergantung di pinggang mereka terang adalah orang Hoa-san-pay. Orang pertama berparas murung dengan kulit muka kuning kemerah-merahan, mungkin inilah Hong Put-peng yang diceritakan oleh Liok Tay-yu itu. Guru dan ibu-gurunya tampak mengiringi duduk di tempat tuan rumah, di atas meja tersedia teh dan penganan.

Terdengar si kakek dari Heng-san-pay sedang berkata, “Gak-heng, urusan golonganmu mestinya tidak pantas kami untuk ikut campur. Tapi Ngo-gak-kiam-pay kita sudah berserikat, sama kewajiban dan sama tanggungan, jika ada sesuatu golongan yang bertindak kurang baik tentu akan ditertawai oleh sesama kawan Kangouw dan keempat golongan lain akan ikut menanggung malu, oleh karena itu, tadi Gak-hujin mengatakan Ko-san, Thay-san dan Heng-san kami tidak seharusnya ikut campur urusan orang lain. Kukira ucapan ini kurang tepat.”

Mendengar itu, legalah hati Lenghou Tiong. Pikirnya, “Mereka telah bicara sekian lamanya, kiranya masih bertengkar tentang urusan demikian dan belum sampai bergebrak. Untung Laksute menyampaikan berita padaku tepat pada waktunya sehingga aku tidak terlambat.”

Maka terdengar Gak-hujin sedang menjawab, “Dengan ucapan Pang-suheng ini apakah kau anggap Hoa-san-pay kami tidak tahu urusan sehingga membikin nama baik golonganmu ikut tercemar?”

Kakek she Pang dari Heng-san-pay itu nama lengkapnya adalah Pang Lian-eng. Selama hidupnya memang paling suka usil, suka ikut campur urusan orang lain yang mestinya tiada sangkut pautnya dengan dia. Kedatangannya ke Hoa-san ini bukan dia yang menjadi peranan pokok, dia juga bukan tokoh pemegang panji kebesaran Ngo-gak-kiam-pay, tapi justru dia yang paling banyak bersuara. Dengan tertawa dingin dia lantas menjawab ucapan Gak-hujin, “Hehe, orang mengatakan Ling-lihiap dari Hoa-san-pay adalah mahaketuanya, mestinya Cayhe tidak percaya, tapi tampaknya sekarang apa yang tersiar di Kangouw itu memang bukan omong kosong.”

Gak-hujin menjadi gusar karena diolok-olok lebih berkuasa daripada suaminya, seakan-akan suaminya takut bini. Jawabnya, “Betapa pun kedatangan Pang-suheng ini terhitung tamu kami, maka tidak pantas kami menyalahi kau. Cuma seorang kesatria Heng-san-pay yang sudah terkenal tak dinyana bisa sembarangan mengoceh demikian, kelak bila bertemu dengan Bok-taysiansing rasanya perlu kutanyakan padanya.”

“O, jadi karena aku adalah tamu, maka Gak-hujin sungkan menyalahi, kalau bukan di Hoa-san sini tentu Gak-hujin sudah ayun pedang menebas kepalaku, bukan?” jengek Pang Lian-eng.

“Mana aku berani,” sahut Gak-hujin. “Masakah Hoa-san-pay kami berani mengurusi persoalan dalam golongan kalian? Di antara orang Heng-san-pay kalian ada yang bersekongkol dengan Mo-kau, hal ini sudah tentu akan diselesaikan oleh Co-bengcu, golongan kami tidak perlu ikut campur.”

Ucapan Gak-hujin ini cukup lihai. Tentang Lau Cing-hong dari Heng-san-pay berkomplot dengan Kik Yang dari Mo-kau dan dua-duanya binasa di luar kota Heng-san, setiap orang Kangouw mengetahui mereka dibunuh oleh jago Ko-san-pay yang dikirim oleh Co-bengcu. Dengan mengungkat kejadian itu, pertama, Gak-hujin sengaja mengorek borok Heng-san-pay, kedua, dia menyindir Pang Lian-eng yang telah melupakan sakit hati terbunuhnya Suheng sendiri, tapi sekarang malah mendukung orang Ko-san-pay dan datang mencari perkara kepada Hoa-san-pay.

Benar juga seketika air muka Pang Lian-eng berubah hebat. Teriaknya dengan sengit, “Gak-hujin, dari zaman dulu kala sampai sekarang, dari golongan atau aliran mana yang tidak pernah terdapat murid murtad? Kedatangan kami ke Hoa-san sekarang justru hendak menegakkan keadilan dan membantu Hong-toako membersihkan anasir jahat dari perguruannya.”

“Siapa adalah anasir jahat yang kau maksudkan?” jawab Gak-hujin dengan sikap menantang. “Jelek-jelek suamiku disebut orang sebagai ‘Kun-cu-kiam’, tapi kau, apa julukanmu?”

Paras Pang Lian-eng menjadi merah.

Kiranya julukannya yang resmi adalah “Kim-gak-tiau” (rajawali bermata emas), tapi di belakangnya orang Bu-lim suka memanggilnya “Kim-gak-oh-ah” (si gagak bermata emas), yaitu karena dia banyak omong, suka cerewet mencampuri urusan orang lain dan menjemukan.

Dengan pertanyaan Gak-hujin itu sudah tentu ia tahu yang dimaksudkan oleh nyonya rumah itu sekali-kali bukan julukan “Kim-gak-tiau”, tapi adalah si gagak bermata emas. Dianggap gagak, keruan Pang Lian-eng tambah gusar. Teriaknya, “Hm, suamimu berjuluk Kun-cu-kiam apa? Di atas Kun-cu (laki-laki sejati) itu kukira harus ditambah lagi satu huruf ‘Wi’ (palsu, maksudnya menjadi laki-laki palsu).”

Mendengar sang guru dihina secara terang-terangan, Lenghou Tiong tidak tahan lagi. Cuma dia belum kenal asal usul Pang Lian-eng, segera ia menoleh dan tanya Lo Tek-nau, “Lo-sute, apa sih nama julukan manusia ini?”

Lo Tek-nau masuk perguruan sudah memiliki ilmu silat lebih dulu, pengalamannya di dunia Kangouw juga sudah luas dan banyak kejadian-kejadian di dunia persilatan yang pernah didengarnya. Segera ia menjawab, “Orang menjuluki si tua ini sebagai ’si gagak bermata emas’.”

Tanpa berpikir lagi Lenghou Tiong terus berteriak dari luar, “Hai, itu gagak bermata buta, kalau berani lekas keluar ke sini!”

Suara tanya-jawab Lenghou Tiong dengan Lo Tek-nau itu telah didengar oleh Gak Put-kun, diam-diam ia heran mengapa muridnya itu turun dari puncak pertapanya? Segera ia mencelanya, “Jangan kurang sopan, anak Tiong. Pang-susiok adalah tamu, mana boleh kau sembarangan omong?”

Keruan mata Pang Lian-eng merah berapi, dadanya hampir-hampir meledak saking gusarnya. Dia sudah pernah dengar apa yang terjadi dengan Lenghou Tiong di kota Heng-san, maka ia lantas memaki, “Hah, kukira siapa, tak kusangka adalah bocah yang suka main perempuan di Heng-san itu! Hm, jago-jago Hoa-san-pay benar-benar hebat sekali.”

“Betul,” jawab Lenghou Tiong tertawa, “aku memang pernah main perempuan di kota Heng-san, lonte kenalanku itu she Pang.”

“Kau … kau masih berani mengoceh tak keruan!” bentak Gak Put-kun.

Mendengar sang guru benar-benar sudah gusar, Lenghou Tiong tidak berani bersuara pula. Tapi Hong Put-peng dan kawan-kawannya yang duduk di dalam ruangan itu tanpa merasa sama tersenyum.

Sekonyong-konyong Pang Lian-eng melompat ke tepi jendela, “blang”, ia depak daun jendela hingga sempal dan mencelat. Ia tidak kenal Lenghou Tiong, maka dengan menuding rombongan anak murid Hoa-san-pay ia membentak, “Yang bicara tadi adalah binatang yang mana?”

Anak murid Hoa-san-pay semua bungkam tak menjawabnya.

“Maknya,” Pang Lian-eng mengumpat pula. “Aku tanya, mana yang bicara barusan ini?”

“Barusan adalah kau sendiri yang bicara, dari mana aku bisa tahu binatang apa?” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

Berulang kali Pang Lian-eng dicaci oleh Lenghou Tiong, memangnya dia sudah murka, terutama ucapan “lonte yang kukenal di Heng-san itu she Pang” itu benar-benar sangat menghinanya, sebab ini berarti orang dari keluarga Pang yang telah menjadi pelacur. Apalagi kata-kata “dari mana aku bisa tahu binatang apa”, ini seakan-akan langsung menganggapnya sebagai binatang. Sebagai tokoh yang tingkatannya lebih tua, keruan Pang Lian-eng berjingkrak murka, ia tidak tahan lagi. Sambil mengerang keras-keras ia terus menerjang ke arah Lenghou Tiong.

Melihat datangnya lawan yang sedang kalap itu, cepat Lenghou Tiong melompat mundur dan segera hendak mencabut pedang. Tapi tiba-tiba sesosok bayangan orang sudah berkelebat, dari dalam pendopo telah melayang keluar seorang, di mana cahaya pedang mengilat, “cring”, kontan Pang Lian-eng telah dihalangi.

Kiranya orang itu adalah nyonya Gak.

“Kita adalah orang sendiri, ada urusan apa boleh dibicarakan secara baik-baik, buat apa pakai kekerasan?” seru Gak Put-kun sambil melangkah keluar. Ia lolos pedang dari pinggangnya Lo Tek-nau, sekali putar terus tekan ke bawah, kontan pedangnya telah menahan ke bawah kedua batang pedang Pang Lian-eng dan Gak-hujin yang sedang beradu itu.

Sekuatnya Pang Lian-eng hendak mengangkat pedangnya, tapi sedikit pun bergeming, pedang Gak Put-kun tak dapat digeser sama sekali. Keruan ia tersipu-sipu, dengan muka merah kembali ia mengerahkan tenaganya pula.

“Ngo-gak-kiam-pay kita adalah sejalan dan sehaluan seperti orang sekeluarga, hendaklah Pang-suheng jangan merisaukan kata-kata anak kecil,” kata Gak Put-kun sambil tertawa. Lalu ia menoleh menyemprot Lenghou Tiong, “Kau sembarangan mengoceh, hayo lekas minta maaf pada Pang-supek!”

Lenghou Tiong tidak berani membantah, terpaksa ia melangkah maju dan memberi hormat, katanya, “Maaf Pang-supek, tadi aku telah sembarangan omong seperti burung gagak yang berkaok-kaok tak keruan dan mencemarkan nama baik tokoh persilatan yang terhormat, sungguh lebih rendah daripada binatang, hendaklah engkau jangan marah, aku tidak sengaja memaki engkau. Ocehan gagak busuk, gagak celaka tadi anggap saja seperti kentut.”

Begitulah berulang-ulang ia menyebut gagak busuk segala, sudah tentu semua orang mengetahui secara tidak langsung dia sedang memaki Pang Lian-eng lagi. Masih mendingan orang lain, tapi Gak Leng-sian sudah tidak tahan lagi sehingga mengikik tawa.

Dalam pada itu Gak Put-kun merasakan Pang Lian-eng berturut-turut tiga kali telah mengerahkan tenaga dengan maksud hendak melepaskan pedang dari tindihan pedangnya. Gak Put-kun tersenyum sambil perlahan-lahan menarik pedangnya dan dikembalikan kepada Lo Tek-nau.

Saat itu Pang Lian-eng sedang berusaha mengangkat pedangnya ke atas, ketika daya tekanan dari atas mendadak lenyap, maka terdengarlah suara “trang-trang” dua kali, dua batang pedang patah telah jatuh ke lantai. Pedang Pang Lian-eng dan Gak-hujin masing-masing tinggal separuh saja, dan karena saking nafsunya dia mengangkat pedangnya sehingga jidat Pang Lian-eng sendiri hampir-hampir terbacok oleh senjata patah. Untung dia sempat menahannya, tapi juga sudah kelabakan dan muka merah.

“Ka … kau … dua mengeroyok satu,” bentak Pang Lian-eng dengan gusar. Tapi lantas teringat olehnya bahwa pedang Gak-hujin juga patah tertindih oleh tenaga dalam Gak Put-kun. Jadi terang Gak Put-kun hanya ingin memisah pertarungan itu dan tiada maksud hendak membela istrinya. Maka dengan muka merah padam mendadak ia membuang pedangnya yang patah, lalu putar tubuh dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Di waktu menggunakan pedangnya untuk menindih patah pedang kedua orang, Gak Put-kun sudah melihat di belakang Lenghou Tiong berdiri Tho-kok-lak-sian yang berpotongan sangat aneh, diam-diam ia heran dan segera memberi salam, “Maafkan jika ada sambutan yang kurang baik atas kunjungan tuan-tuan berenam.”

Akan tetapi Tho-kok-lak-sian hanya terbelalak saja, tidak balas memberi hormat, juga tidak bicara.

Segera Lenghou Tiong berkata, “Ini adalah Suhuku, ketua Hoa-san-pay ….”

Belum habis ucapannya, mendadak Hong Put-peng telah menyela, “Memang betul dia adalah gurumu, tapi apakah dia juga ketua Hoa-san-pay, ini harus tunggu nanti. Nah, Gak Put-kun, Ci-he-sin-kang yang telah kau pertunjukkan tadi sungguh hebat. Tapi melulu mengandalkan kepandaian itu saja belum tentu mampu mengetuai Hoa-san. Setiap orang mengetahui bahwa Hoa-san-pay adalah satu di antara Ngo-gak-kiam-pay, lima aliran ilmu pedang dari lima gunung, dan dengan sendirinya mengutamakan ilmu pedang. Tapi kau hanya berlatih tentang ‘Khi’ (hawa, tenaga dalam) saja sehingga kau sebenarnya telah menyeleweng, yang kau latih sudah bukan ajaran murni perguruan sendiri lagi.”

“Ucapan Hong-heng ini agak berlebihan,” sahut Gak Put-kun. “Memang betul yang dimainkan Ngo-gak-kiam-pay adalah pedang, tapi setiap golongan dan aliran tentu juga mengutamakan ‘tenaga dalam menyertai pedang’. Ilmu pedang adalah pelajaran luar, Khikang adalah pelajaran dalam. Luar-dalam harus dilatih barulah ilmu silatnya dapat sempurna. Bila menurut ucapan Hong-heng tadi dan cuma berlatih ilmu pedang melulu, bila bertemu ahli Lwekang tentu akan kelihatan kelemahanmu.”

“Itu pun belum tentu,” kata Hong Put-peng dengan tertawa dingin. “Paling baik memang orang yang serbapandai. Tapi umur manusia terbatas, mana ada kesempatan bagimu untuk meyakinkan segala macam ilmu itu? Untuk meyakinkan ilmu pedang saja belum tentu bisa sempurna, masakah masih ada kesempatan untuk meyakinkan Lwekang apa segala? Seperti dikatakan orang, tangan kiri melukis lingkaran, tangan kanan menggambar persegi, kedua-duanya takkan jadi. Contoh ini sudah cukup menunjukkan bahwa seorang tidak mungkin sekaligus meyakinkan macam-macam ilmu dengan sempurna. Aku tidak mengatakan berlatih Khikang kurang baik, cuma ilmu silat sejati dari Hoa-san-pay kita bukanlah Khi, tapi adalah Kiam, ilmu pedangnya. Bahwasanya kau ingin belajar ilmu silat dari golongan lain apa salahnya, sedangkan belajar ilmu dari Mo-kau saja orang tak bisa urus, apalagi meyakinkan Khikang. Tapi manusia umumnya memang tamak, kalau bisa ingin dapat lebih banyak, tapi sering-sering ketamakan itulah mendatangkan malapetaka malah. Sekarang kau mengetuai Hoa-san-pay dan telah tersesat jalan, bencana yang ditimbulkan olehmu sungguh celaka bagi anak murid Hoa-san-pay umumnya.”

“Membawa bencana bagi anak murid Hoa-san-pay, kukira ini sukar dibuktikan,” ujar Gak Put-kun dengan tersenyum.

“Mengapa sukar dibuktikan?” mendadak si pendek yang berada di sebelah Hong Put-peng berteriak. Perawakannya pendek, tapi suaranya ternyata sekeras guntur sehingga mengejutkan orang. Hanya Gak Put-kun yang Lwekangnya cukup sempurna sama sekali tidak tergetar oleh suaranya itu.

Melihat kepandaian “Say-cu-ho” (auman singa) yang sangat diandalkan itu sedikit pun tidak mengejutkan Gak Put-kun, diam-diam si pendek gusar. Segera ia berteriak lebih keras lagi, “Kau bilang tiada buktinya? Ini, murid-muridmu yang tak becus ini bukankah korban bencana yang kau perbuat? Kepandaian apa yang mereka miliki?”

Suaranya yang lebih keras itu membuat anak telinga semua orang mendengung-dengung seakan-akan pekak.

Tapi Gak Put-kun tetap tersenyum saja, katanya, “Seng-heng, ilmu ‘Say-cu-ho’ ini sebenarnya berasal dari kaum Buddha, jika sudah terlatih sempurna, sekali gertak saja dapat meruntuhkan ratusan atau ribuan orang, kekuatannya memang tiada taranya.”

Si pendek she Seng itu bernama Put-yu, arti namanya adalah “tidak sedih”, tapi wataknya sangat keras, berangasan. Begitu mendengar ucapan Gak Put-kun tadi, ia terkesiap dan mengakui pengetahuan Gak Put-kun yang luas. Namun dengan gusar ia lantas berkata pula, “Hm, apakah kau hendak bilang Lwekangku kurang murni, ilmu ‘Say-cu-ho’ ini belum sempurna, bukan?”

“Mana aku berani bermaksud demikian,” sahut Put-kun. “Cuma ilmu Say-cu-ho ini adalah ilmu sakti kaum Buddha, untuk bisa melatihnya hingga sempurna memang tidaklah mudah. Padri-padri saleh yang benar-benar mahir ilmu ini pada zaman sekarang mungkin dapat dihitung dengan jari.”

Ucapan Gak Put-kun itu kedengarannya sopan santun, tapi kalau diteliti lebih dalam, terang dia sedang mengolok-olok kepandaian Seng Put-yu yang dianggapnya belum sempurna.

Watak Seng Put-yu sangat keras tapi otaknya kurang encer. Sesudah tertegun sejenak barulah paham maksud ucapan Gak Put-kun itu, keruan ia menjadi gusar. “Sret”, pedangnya lantas dilolos dan berteriak pula, “Hong-suheng telah menyatakan kau tidak sesuai menjabat ketua Hoa-san-pay, kulihat kau memang tidak pantas juga. Nah, kau ingin mundur teratur atau minta diseret turun dari kedudukanmu?”

“Seng-heng,” jawab Gak Put-kun, “cabang Kiam-cong (sekte pedang) kalian sudah meninggalkan perguruan kita pada 30 tahun yang lalu dan tidak mengaku sebagai murid Hoa-san-pay pula, mengapa hari ini kalian datang mencari perkara? Jika kalian anggap memiliki kepandaian hebat, boleh saja kalian mendirikan pangkalan sendiri untuk mengalahkan Hoa-san-pay di dunia persilatan, jika demikian halnya maka aku pun akan menyerah lahir-batin. Tapi sekarang kalian sengaja cari perkara, selain membikin buruk hubungan baik kita, apa sih faedahnya.”

“Gak-suheng,” seru Seng Put-yu, “Cayhe memang tiada permusuhan apa-apa dengan kau dan mestinya tidak perlu bercekcok. Cuma kau sudah mengangkangi kedudukan Hoa-san-pay dan menyesatkan anak muridmu yang mengutamakan berlatih Khi dan tidak meyakinkan Kiam, akibatnya nama dan wibawa Hoa-san-pay kita makin hari makin runtuh, tanggung jawab ini betapa pun tak bisa kau elakkan. Sebagai murid Hoa-san-pay tak dapatlah aku tinggal diam saja.”

Baru sekarang Lenghou Tiong tahu jelas bahwa Hong Put-peng dan si pendek Seng Put-yu ini adalah murid sekte pedang dari perguruannya sendiri.

Maka terdengar Gak Put-kun sedang menjawab, “Seng-heng, percekcokan sekte Khi dan sekte Kiam kita sudah berlangsung sejak lama. Pada pertandingan di puncak Giok-li-hong dahulu sudah jelas siapa yang kalah dan siapa yang menang. Kejadian yang sudah ditentukan beberapa puluh tahun yang lalu itu apa gunanya kalian mengungkat-ungkatnya pula?”

“Tentang kalah atau menang pada pertandingan dahulu itu siapa yang menyaksikannya?” kata Seng Put-yu. “Dengan lain perkataan, kedudukanmu sebagai ketua ini diperoleh secara tidak beres, kalau tidak, Co-bengcu sebagai pemimpin Ngo-gak-kiam-pay sampai-sampai mengirimkan panji kebesarannya ini dan memerintahkan kau mengundurkan diri?”

“Ya, kukira di dalam soal ini tentu ada sesuatu yang tidak beres,” sahut Gak Put-kun. “Biasanya Co-bengcu cukup bijaksana, menurut pikiran sehat tentu beliau takkan begitu saja mengirimkan panji kebesarannya dan suruh mengganti ketua Hoa-san-pay.”

“Memangnya apakah kau sangka panji ini palsu?” tanya Seng Put-yu sambil menunjuk panji Ngo-gak-kiam-pay itu.

“Panji itu sih tidak palsu, cuma panji adalah benda mati, barang bisu, tak bisa bicara,” ujar Put-kun.

Mendadak si kakek berjenggot dari Ko-san-pay itu ikut bicara, “Gak-suheng mengatakan panji ini barang bisu, apakah aku Theng Eng-gok juga bisu?”

“Mana aku berani berkata demikian,” sahut Put-kun. “Cuma persoalan ini sangat penting, Cayhe harus bertemu sendiri dulu dengan Co-bengcu baru dapat mengambil keputusan.”

“Jika demikian, jadi Gak-suheng tak dapat memercayai aku si orang she Theng ini?” kata si kakek berjenggot yang bernama Theng Eng-gok itu dengan kurang senang.

“Mana aku berani,” kata Put-kun. “Seumpama Co-bengcu benar-benar mempunyai maksud demikian juga beliau tak dapat melulu percaya kepada satu pihak saja lantas memberikan perintahnya. Betapa pun beliau juga mesti mendengar kata-kataku dahulu.”

“Ah, apa gunanya banyak omong? Pendek kata kedudukanmu sebagai ketua ini terang tak mau diserahkan, bukan?” sela Seng Put-yu sambil melolos pedang terus menyerang.

Berbareng dengan selesai ucapannya, sekaligus ia sudah menyerang empat kali. Empat kali serangan itu cepatnya luar biasa, yang paling hebat adalah empat serangan itu satu sama lain berbeda gerakannya, benar-benar luar biasa lihainya. Tusukan pertama menembus baju bagian bahu kiri, tusukan kedua menembus baju bahu kanan, tusukan ketiga menembus baju dekat lambung kanan dan tusukan keempat menembus baju bagian lambung kiri. Jadi empat kali tusukan telah membuat baju Gak Put-kun berlubang delapan buah, untungnya tusukan-tusukan itu semuanya lewat dekat kulit badannya dan tiada sedikit pun melukai. Betapa hebat dan bagusnya serangan-serangan ini benar-benar sudah mencapai tingkatan yang sangat sempurna.

Keruan para anak murid Hoa-san-pay sama terperanjat menyaksikan itu. Pikir mereka, “Keempat jurus serangan itu adalah sejalan dengan ilmu pedang perguruan kita sendiri, cuma selamanya tak pernah melihat dimainkan sang guru. Jago dari sekte pedang memang benar-benar lain daripada yang lain.”

Sebaliknya Theng Eng-gok, Hong Put-peng dan lain-lain merasa lebih kagum terhadap Gak Put-kun. Sudah terang empat jurus serangan Seng Put-yu itu sangat lihai dan mematikan, namun Gak Put-kun tetap menghadapinya dengan tersenyum dan tenang, kesabarannya sebagai seorang yang berlatih ilmu dalam sungguh jarang terdapat. Dan kalau dia dapat menghadapi serangan-serangan lihai itu dengan acuh tak acuh, tentu Gak Put-kun sudah mempunyai perhitungan sendiri, bilamana perlu sekali turun tangan tentu dia mampu mengalahkan Seng Put-yu. Dalam keadaan demikian walaupun Gak Put-kun sama sekali belum balas menyerang, namun perbawanya tiada ubahnya seperti dia sudah di pihak yang menang.

Sedangkan Lenghou Tiong tengah menyelami keempat jurus serangan yang dilancarkan Seng Put-yu tadi. Meski gaya empat kali serangan itu sangat aneh, tapi ia merasa sudah kenal betul, yaitu dua jurus serangan menurut ukiran di dinding gua belakang yang telah dipelajarinya itu. Cuma di sini Seng Put-yu telah mengubah dua jurus itu menjadi empat gerakan, padahal sebenarnya cuma dua jurus saja. Pikirnya diam-diam, “Apanya yang mengherankan kedua jurus serangannya itu? Tapi tampaknya dia sangat bangga dengan kepandaiannya itu.”

Sementara itu terdengar Gak-hujin telah berkata, “Seng-heng, suamiku hanya mengalah mengingat kalian adalah tamu kami. Kau sudah menusuk empat kali di atas bajunya, jika kau masih tidak tahu diri, betapa pun Hoa-san-pay menghormati tamunya juga ada batasnya!”

Seng Put-yu memang sangat bangga dengan empat kali serangannya, tapi walaupun dia kagum juga terhadap sikap Gak Put-kun yang tenang-tenang itu, namun dilihatnya sikap Gak-hujin rada khawatir, terang agak jeri terhadap ilmu pedangnya tadi, keruan rasa sombong Seng Put-yu bertambah, segera ia menjawab, “Huh, mengalah kepada tamu apa? Asalkan Gak-hujin mampu memecahkan empat jurus seranganku tadi, tanpa disuruh juga aku akan segera pergi dari sini dan takkan menginjak lagi puncak Giok-li-hong ini.”

Biarpun pengalamannya luas dan membanggakan ilmu pedangnya sendiri tapi melihat sikap Gak Put-kun yang tenang-tenang itu, ia pun tidak berani menantang lagi padanya, sebagai gantinya ia berbalik menantang Gak-hujin yang dianggapnya kaum wanita lemah dan gampang dibekuk, dalam keadaan demikian tentu Gak Put-kun akan bingung menghadapi Hong Put-peng.

Begitulah segera ia menegakkan pedang dan berseru, “Nah, silakan Gak-hujin! Ling-lihiap adalah jago terkemuka Hoa-san-pay yang terkenal, hari ini Seng Put-yu dari sekte pedang ingin belajar kenal dengan ilmu dalam andalanmu.”

Dengan ucapannya ini secara tidak langsung ia hendak menyatakan pertarungan kembali antara kedua sekte Hoa-san-pay yang berbeda paham itu.

Dasar watak Gak-hujin memang lebih keras daripada sang suami, sudah tentu dia tak tahan atas tantangan Seng Put-yu itu. “Sret”, segera pedang dilolosnya.

Tapi sebelum dia membuka suara, Lenghou Tiong sudah lantas berseru, “Sunio, kepandaian sekte pedang yang tersesat ini masakan dapat dibandingkan ilmu silat murni ajaran perguruan kita. Biarlah Tecu coba-coba dulu padanya, jika Khikangku tidak mampu menandinginya barulah nanti Sunio membereskan dia.”

Dan tanpa menunggu jawaban Gak-hujin segera ia melangkah maju, tahu-tahu tangannya sudah membawa sebuah sapu bobrok yang dijemputnya dari pojok dinding sana. Sambil mengacung-acungkan sapunya dia berkata kepada Seng Put-yu, “Seng-suhu, kau bukan lagi orang seperguruan, maka sebutan Supek atau Susiok tidak berlaku lagi. Jika kau mau insaf dan masuk kembali ke perguruanku, entah Suhu sudi menerima kau atau tidak? Seumpama Suhu sudi menerima kau, namun menurut peraturan Hoa-san-pay, orang yang masuk perguruan lebih belakang harus panggil Suheng padaku. Nah, mau tidak?”

Habis berkata ia putar balik sapunya dan menuding ke arah Seng Put-yu.

Keruan Seng Put-yu menjadi murka, bentaknya, “Anak keparat, sembarangan mengoceh! Asalkan kau mampu menahan empat kali seranganku tadi, aku Seng Put-yu akan mengangkat kau sebagai guru!”

Lenghou Tiong menggeleng-gelengkan kepala, sahutnya, “Tidak, aku tidak sudi mempunyai murid seperti kau ….” belum lenyap suaranya, Seng Put-yu sudah berjingkrak murka.

“Lolos pedangmu dan terima kematian!” bentak Seng Put-yu.

“Di mana tenaga murni tiba biarpun sebatang rumput juga mirip senjata tajam, terhadap beberapa jurus serangan Seng-heng yang sepele itu buat apa mesti pakai pedang?” sahut Lenghou Tiong dengan sikap mengejek.

“Baik, adalah kau sendiri yang sombong, maka jangan menyalahkan aku turun tangan keji,” kata Seng Put-yu.

Gak Put-kun dan Gak-hujin tahu ilmu silat Seng Put-yu jauh lebih tinggi daripada Lenghou Tiong, hanya sebatang sapu saja dapat berbuat apa? Jika pertandingan berlangsung tentu akan sangat berbahaya bagi pemuda itu. Maka cepat mereka membentak, “Mundur, anak Tiong!”

Namun sudah terlambat, sinar pedang berkelebat, Seng Put-yu sudah mulai menyerang. Ia telah menusuk, yang digunakan memang betul adalah jurus serangannya terhadap Gak Put-kun tadi.

Sebabnya dia tidak pakai jurus serangan lain, pertama, keempat jurus serangan itu memang kepandaiannya yang paling diandalkan. Kedua, dia sudah menyatakan lebih dulu akan tetap menggunakan empat jurus serangan itu. Ketiga, dia sengaja menggunakan serangan-serangan yang sudah dikenal lawan, dengan demikian supaya orang lain takkan mengatakan dia menang karena bersenjata.

Sebaliknya diam-diam Lenghou Tiong sudah merancangkan cara menghadapi jurus-jurus serangan Seng Put-yu itu. Dari gambar-gambar ukiran dinding yang dilihatnya di dalam gua itu, semuanya melukiskan pemakaian senjata aneh untuk mengalahkan pedang lawan. Bila sekarang dirinya memakai pedang, padahal Tokko-kiu-kiam belum terlatih dengan sempurna, tentu sukar memperoleh kemenangan malah. Sebaliknya sapu bobrok ini kebetulan dapat digunakan sebagai Lui-cin-tang (sejenis senjata berbentuk serok).

Begitulah, maka ketika dilihatnya pedang Seng Put-yu menusuk ke arahnya, kontan sapu Lenghou Tiong terus menyapu ke muka lawan.

Tindakan Lenghou Tiong ini sebenarnya sangat berbahaya. Kalau senjata yang dia gunakan benar-benar Lui-cin-tang yang terbuat dari baja, maka serangannya ini tentu akan memaksa lawan menarik kembali pedangnya untuk menangkis. Tapi sekarang senjatanya hanya sebatang sapu bobrok, paling-paling lidinya akan menggores beberapa jalur luka di muka lawan saja, lebih dari itu tidak mungkin lagi. Sebaliknya pedang Seng Put-yu tentu akan menembus dadanya.

Namun Lenghou Tiong agaknya sudah memperhitungkan lawannya adalah jago angkatan tua, tentu mukanya tidak sudi disapu oleh sebuah sapu yang kotor itu. Sekalipun dia dapat membinasakan lawannya juga sukar mencuci bersih rasa malu tersapunya muka oleh sapu yang penuh tahi ayam dan debu kotor itu.

Dan benar juga, di tengah jerit khawatir orang banyak, tiba-tiba Seng Put-yu memalingkan mukanya untuk menghindar dan menarik kembali pedangnya untuk menangkis.

Cepat Lenghou Tiong juga menahan sapunya ke bawah untuk menghindarkan benturan dengan pedang musuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: