Hina Kelana: Bab 35. Ada Orang Hendak Rebut Jabatan Ketua Hoa-san-pay

“Kiranya Thaysusiokco tinggal di belakang situ, sungguh sangat kebetulan jika demikian. Siang malam cucu akan dapat meladeni dan menemani Thaysusiokco.”

“Coba kau ikut kemari,” kata Hong Jing-yang.

Tanpa berpikir lagi Lenghou Tiong ikut masuk ke dalam gua. Dilihatnya orang tua itu mendorong beberapa kali pada dinding gua, sepotong batu lantas menggeser perlahan dan akhirnya terlihatlah sebuah lubang gua. Sudah berpuluh kali Lenghou Tiong masuk-keluar gua belakang itu, tapi tak tersangka bahwa di gua belakang itu masih ada sebuah gua lagi.

Hong Jing-yang lantas melangkah masuk ke dalam gua itu, baru saja Lenghou Tiong hendak ikut masuk ke sana, mendadak orang tua itu membentak dengan suara bengis, “Coba lihat ke atas!”

Waktu Lenghou Tiong mengangkat kepalanya, tertampaklah di atas pintu gua itu tertulis: “Yang masuk gua ini bunuh tanpa ampun.” Keruan ia terkejut dan menghentikan langkahnya.

“Ketujuh huruf itu adalah tulisanku,” kata Hong Jing-yang dengan sungguh-sungguh, “maka siapa pun tidak kecuali, bila kau melangkah masuk ke dalam gua ini tentu akan kubunuh.”

“Thaysusiokco ….” baru Lenghou Tiong hendak bicara, tiba-tiba Hong Jing-yang sudah merapatkan pintu batu itu dari dalam.

Untuk agak lama Lenghou Tiong berdiri terkesima di situ. Ia coba mendorong pintu batu itu perlahan, batu itu kelihatan bergerak-gerak, nyata sekali dengan gampang saja batu itu dapat dibuka, tapi lantas terkilas olehnya tulisan “yang masuk gua ini bunuh tanpa ampun” tadi, segera ia lepaskan tangannya dari batu itu, ia pikir bila orang tua itu sudah mengadakan larangan keras itu sebaiknya jangan dilanggarnya.

Telah belasan hari Lenghou Tiong berkumpul dengan Hong Jing-yang, ia merasa sangat kagum dan cocok sekali dengan jiwa orang tua itu seakan-akan sahabat sebaya, meskipun sebenarnya Hong Jing-yang adalah angkatan tua yang lebih tinggi tiga tingkat daripadanya. Karena itu ia merasa berat dan masygul bila sekarang mendadak harus berpisah. Pikirnya pula, “Di waktu mudanya watak Thaysusiokco ini mungkin sangat bandel seperti aku. Di waktu dia mengajarkan ilmu pedang padaku selalu mengatakan ‘manusianya yang menguasai ilmu pedang dan bukan ilmu pedang yang menguasai manusia’. Dikatakan pula bahwa ‘manusia adalah hidup, ilmu pedang adalah mati, manusia hidup tidak boleh terikat oleh ilmu pedang yang mati’. Logika ini memang tepat sekali. Tapi mengapa selamanya Suhu tak pernah mengatakan padaku?”

Lalu terpikir pula olehnya, “Ya, mungkin Guru kenal watakku dan khawatir aku berlatih secara ngawur sehingga tak keruan malah. Bila kepandaianku sudah cukup sempurna tentu guru akan menjelaskan hal itu kepadaku. Ilmu pedang Thaysusiokco sudah tentu sudah mencapai tingkatan yang tiada taranya, cuma sayang beliau tidak mau mempertunjukkan kemahirannya kepadaku. Kepandaian beliau tentu lebih tinggi lagi daripada guru. Melihat usia beliau yang sudah begitu lanjut, seorang diri tinggal di gua belakang sana, tentu hidupnya akan sangat kesepian dan kurang mendapat pelayanan. Tapi mengapa beliau sengaja menulis larangan memasuki gua itu bagi siapa pun juga walaupun anak murid Hoa-san-pay sendiri seperti diriku?”

Ia bermaksud mendorong pintu batu itu untuk menemui Hong Jing-yang pula, tapi demi terbayang sikapnya yang kereng tadi, akhirnya ia urungkan maksudnya. Ia menghela napas dan lantas keluar gua untuk berlatih pula.

Tokko-kiu-kiam itu cuma namanya saja sembilan jurus, tapi sesungguhnya meliputi segala macam ilmu silat di seluruh dunia ini. Setiap kali berlatih, setiap kali Lenghou Tiong bertambah memahaminya. Kira-kira satu jam lamanya ia berlatih, ketika ia mengeluarkan suatu serangan, tanpa merasa yang dilontarkan ternyata jurus “Yu-hong-lay-gi” dari ilmu pedang perguruannya sendiri.

Ia tertegun dan geleng-geleng sambil menggumam sendiri, “Ah, salah!” menyusul ia memainkan ilmu pedang Tokko-kiam-hoat pula. Tapi tidak lama kemudian, ketika dia menusuk, tahu-tahu yang dikeluarkan adalah jurus Yu-hong-lay-gi pula.

Diam-diam ia mendongkol sendiri, ia berpikir kebiasaan seorang memang sulit dihilangkan. Lantaran dirinya sudah hafal memainkan ilmu pedang perguruannya sendiri, maka di kala berlatih setiap saat dapat menyelip ilmu pedang yang dikuasainya itu. Mendadak terkilas suatu pikiran olehnya, “Thaysusiokco menganjurkan padaku untuk memainkan ilmu pedang ini secara bebas dan menurutkan sewajarnya, lalu apa salahnya jika aku memainkan ilmu pedang perguruan sendiri, bahkan kalau kuseling juga dengan ilmu pedang Heng-san-pay, Ko-san-pay dan lain-lain juga tidak menjadi halangan. Biarlah aku berlatih menuruti pikiranku ini, salah atau benar akan kutanyakan kepada Thaysusiokco bila beliau keluar nanti.”

Segera ia memutar pedangnya pula, dasar yang ia mainkan adalah ilmu pedang ciptaan Tokko itu, tapi bila lancar dia lantas selingi dengan jurus-jurus serangan yang hebat dari ilmu pedang perguruannya sendiri serta jurus serangan aneh-aneh yang telah dilihatnya di dinding gua itu. Tapi karena ilmu pedang Ngo-gak-kiam-pay itu pada hakikatnya berlawanan dengan ilmu silat dari Mo-kau, maka kedua macam ilmu silat itu sukar dilebur menjadi satu.

Setelah berlatih lagi belasan kali dan tetap sukar dibaurkan, akhirnya Lenghou Tiong membuang pedangnya dan merasa gegetun. Katanya dalam hati, “Suhu sering mengatakan bahwa yang baik dan yang jahat tidak dapat berdiri bersama, agaknya ilmu silat Mo-kau memang aneh juga sehingga di antara kedua aliran ilmu silat pun tidak dapat dipersatukan.”

Maka untuk selanjutnya dia hanya berlatih secara bebas tanpa pedulikan ilmu pedang apa yang dimainkannya, asal cocok terus dimainkan, ia campurkan berbagai jurus serangan di dalam Tokko-kiu-kiam. Cuma jurus yang paling banyak dimainkan selalu jurus Yu-hong-lay-gi, main ke sana kemari akhirnya serangan yang dilontarkan juga Yu-hong-lay-gi itu. Mendadak tergerak hatinya, “Bila jurus permainanku ini dilihat oleh Siausumoay, entah apa yang akan dia katakan?”

Teringat kepada gadis itu, tanpa merasa wajahnya menampilkan senyuman.

Selama ini karena dia harus menghadapi Dian Pek-kong, sehingga seluruh perhatiannya tercurah kepada latihan ilmu pedang, maka bayangan Gak Leng-sian sudah lama tidak muncul lagi dalam benaknya, kini mendadak teringat, seketika rasa rindunya sukar ditahan pula.

Tapi lantas terpikir pula, “Entah selama ini diam-diam dia mengajarkan ilmu pedang lagi kepada Lim-sute atau tidak? Meski Suhu telah melarangnya, tapi Siausumoay biasanya sangat bandel dan dimanjakan, boleh jadi ia telah melanggar larangan Suhu dan telah mulai mengajar lagi. Seumpama tidak mengajar, karena siang dan malam selalu bertemu, tentu pula hubungan Siausumoay dan Lim-sute akan semakin rapat.”

Teringat demikian, senyumannya tadi lambat laun berubah menjadi senyuman getir dan akhirnya menjadi murung malah.

Selagi dia termenung-menung, tiba-tiba terdengar seruan Liok Tay-yu, “Toasuko! Toasuko!”

Suaranya kedengarannya sangat gelisah dan khawatir.

Lenghou Tiong terkejut, terkilas pikirannya, “Wah, celaka! Jangan-jangan keparat Dian Pek-kong itu telah mengalihkan sasarannya ke rumah dan telah menculik Siausumoay untuk memaksa agar aku menuruti keinginannya.”

Cepat ia memburu ke tepi karang, dilihatnya Liok Tay-yu sedang berlari ke atas dengan menjinjing keranjang daharan. Napasnya tampak tersengal-sengal dan sedang berseru dengan terputus-putus, “Toa … Toasuko, wah, ce … celaka!”

“Ada apa? Kenapa dengan Siausumoay?” tanya Lenghou Tiong dengan khawatir.

Saat itu Liok Tay-yu telah melompat ke atas puncak situ, ia menaruh keranjang yang dibawanya itu di atas batu, lalu menjawab, “Siausumoay? Dia tidak apa-apa. Wah, celaka, gelagatnya bisa celaka!”

Mendengar bahwa Gak Leng-sian tidak apa-apa, maka legalah hati Lenghou Tiong. Segera ia tanya, “Urusan apa yang celaka?”

“Suhu … Suhu dan Sunio sudah pulang!” sahut Liok Tay-yu dengan masih megap-megap.

Lenghou Tiong bergirang, semprotnya, “Cis! Kalau Suhu dan Sunio sudah pulang kan sangat baik, mengapa bilang celaka?”

“Tidak, tidak, kau tidak tahu,” kata Liok Tay-yu. “Baru saja Suhu dan Sunio pulang, sekadar minum saja belum mereka sudah lantas dikunjungi beberapa orang, tampaknya orang-orang dari kawan Ngo-gak-kiam-pay kita.”

“Jika kunjungan kawan-kawan dari Ngo-gak-kiam-pay, apanya yang perlu diherankan?” ujar Lenghou Tiong.

“Tidak, tidak, kau tidak tahu. Di antara mereka itu masih ada tiga orang pula yang mengaku orang Hoa-san-pay kita, bertemu dengan Suhu lantas memanggil Suheng, tapi Suhu tidak memanggilnya sebagai Sute.”

“Bisa terjadi demikian? Macam apakah ketiga orang itu?” tanya Lenghou Tiong rada heran.

“Yang seorang sangat tinggi dan gemuk dan mengaku she Hong bernama Put-peng. Seorang lagi adalah Tojin dan yang lain bertubuh pendek, nama-nama mereka aku tidak ingat, yang terang semuanya memang orang dari angkatan ‘Put’.”

“Ya, mungkin mereka adalah murid murtad perguruan kita yang sudah lama dipecat.”

“Benar, dugaan Suheng memang tepat. Memang begitu Suhu melihat mereka lantas tidak senang. Kata beliau, ‘Hong-heng, kalian bertiga sudah tiada hubungan apa-apa lagi dengan Hoa-san-pay, untuk apa datang ke Hoa-san sini?’

“Hong Put-peng itu menjawab, ‘Apakah Hoa-san adalah milikmu? Kenapa melarang orang lain datang ke sini?’

“Suhu mendengus, katanya, ‘Jika kalian pesiar ke atas gunung ini sudah tentu silakan dengan bebas. Tapi Gak Put-kun bukan lagi Suhengmu, sebutan Gak-suheng aku tidak berani terima.’

“Mendadak Hong Put-peng itu menjengek, ‘Hm, dahulu kau menggunakan tipu muslihat sehingga berhasil mengangkangi Hoa-san ini dan mengusir kami dari sini, utang lama ini harus kita bereskan hari ini. Kau tidak sudi dipanggil Suheng olehku, hm, sesudah perhitungan utang piutang nanti sekalipun kau menyembah dan suruh aku memanggil saja tidak sudi aku.’”

“O, sampai demikian persoalannya?” kata Lenghou Tiong. Diam-diam ia percaya sang guru sedang menghadapi persoalan yang sangat pelik.

Sementara itu Liok Tay-yu menyambung lagi, “Ketika kami mendengar ucapan orang she Hong itu, tentu saja kami sangat gusar. Siausumoay yang pertama-tama tidak tahan, segera ia memaki. Namun Sunio ternyata tenang-tenang saja dan melarang Siausumoay bertindak. Suhu sama sekali tidak memandang sebelah mata kepada ketiga orang itu, katanya dengan hambar, ‘Kau ingin membuat perhitungan? Perhitungan apa dan cara bagaimana menghitungnya?’

“Dengan suara keras Hong Put-peng itu menjawab, ‘Kau merampas jabatan ketua Hoa-san-pay sudah 30-an tahun, apa kau merasa masih belum cukup? Bukankah sudah waktunya kau menyerahkan tempatmu kepada orang lain?’

“Suhu tertawa dan menjawab, ‘O, kiranya kedatangan kalian ini bermaksud untuk merebut kedudukanku ini. Sebenarnya tidak perlu susah-susah, asalkan Hong-heng merasa cukup syarat menjabat kedudukanku ini, tentu aku akan menyerahkannya padamu.’

“Hong Put-peng berkata, ‘Dahulu kau mendapatkan jabatanmu ini dengan tipu muslihat keji, sekarang aku sudah melapor kepada Co-bengcu dari perserikatan Ngo-gak-kiam-pay kita, aku telah diberi panji kebesarannya dan diperintahkan mengambil alih jabatan ketua Hoa-san-pay dari tanganmu.’

“Habis berkata ia lantas mengeluarkan sebuah bendera kecil, jelas itu adalah Ngo-gak-leng-ki, panji tanda perintah ketua perserikatan Ngo-gak-kiam-pay.”

Lenghou Tiong berseru penasaran, katanya dengan gusar, “Co-bengcu benar-benar telah melampaui kekuasaannya, urusan dalam Hoa-san-pay kita tidak perlu dia ikut campur, berdasarkan apa dia ada hak untuk memecat dan mengangkat ketua Hoa-san-pay yang baru?”

“Benar, makanya waktu itu Sunio juga berkata begitu. Akan tetapi orang tua dari Ko-san-pay yang mengaku she Sin telah membela Hong Put-peng secara mati-matian, katanya jabatan ketua Hoa-san-pay harus diserahkan kepada Hong Put-peng sehingga terjadi perdebatan seru dengan ibu-guru. Orang-orang Thay-san-pay, Heng-san-pay dan lain-lain yang ikut datang memusuhi kita. Toa … Toasuko, melihat gelagatnya kurang menguntungkan, maka aku lantas lari ke sini untuk memberitahukan padamu.”

“Kesulitan perguruan adalah kewajiban mutlak para murid untuk membelanya dengan segenap jiwa raganya,” kata Lenghou Tiong. “Laksute, marilah kita berangkat!”

“Benar! Bila Suhu melihat perjuanganmu, tentu beliau takkan menyalahkan kau yang telah melanggar larangannya turun dari puncak sini.”

Belum selesai Lak-kau-ji bicara, tahu-tahu Lenghou Tiong sudah lantas berlari ke bawah. Terdengar suaranya, “Biarpun dimarahi Suhu juga tidak apa-apa. Celakanya kalau Suhu benar-benar menyerahkan jabatannya kepada orang lain, inilah yang runyam.”

Karena sudah ketinggalan, segera Liok Tay-yu menyusul dengan cepat dan sudah tentu dia tidak jelas mendengar apa yang dikatakan Lenghou Tiong itu.

Belum seberapa jauhnya mereka berlari di jalan pegunungan itu, sekonyong-konyong dua sosok bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu telah menghalang di tengah jalan.

Jalan pegunungan itu sangat sempit, yang sebelah adalah jurang yang tak terkirakan dalamnya, sebelah lain adalah dinding karang, munculnya kedua pengadang itu benar-benar mendadak luar biasa. Waktu itu Lenghou Tiong sedang lari dengan cepat sehingga hampir-hampir tertumbuk. Ketika lekas-lekas ia menahan langkahnya, jaraknya dengan kedua pengadang itu sudah tinggal belasan senti saja.

Waktu diperhatikan, terlihat muka salah seorang pengadang itu benjal-benjol, dekak-dekik tidak rata. Seorang lagi mukanya penuh keriput, semuanya sangat menyeramkan. Keruan Lenghou Tiong terkejut dan cepat melompat mundur, bentaknya, “Siapa kau?”

Tapi pada saat itu juga ia merasa di belakangnya juga berdiri dua orang. Dengan terkejut ia menoleh. Kembali dilihatnya dua wajah yang sangat buruk, yang satu bermuka lebar dan sangat merah, yang lain bermuka lonjong sebagai muka kuda. Kedua wajah itu jaraknya cuma belasan senti saja di belakangnya, sehingga waktu ia menoleh hampir-hampir saja ia adu hidung dengan salah seorang aneh itu.

Keruan Lenghou Tiong tambah kaget, cepat ia melangkah maju. Tapi segera tertampak lagi di tepi jalan yang berbatasan dengan jurang itu berdiri pula dua orang. Yang seorang bermuka sangat hitam dan yang lain pucat keabu-abuan. Telapak kaki kedua orang itu kelihatan mengapung di tepi jurang, hanya satu-dua jari kaki mereka yang bertahan di atas tanah, jadi tubuh mereka pada hakikatnya bergantungan di udara, keadaannya sangat berbahaya, jangankan didorong, cukup ditiup oleh angin pegunungan saja mungkin mereka sudah tertiup jatuh ke dalam jurang.

Dalam sekejap itu Lenghou Tiong telah dikepung oleh enam orang aneh di tengah jalan yang luasnya cuma satu meter saja. Hawa napas kedua orang di depannya dapat tercium, hawa napas kedua orang di belakangnya juga terasa hangat-hangat mengusap tengkuknya.

Melihat kedua orang yang berdiri di tepi jurang itu, bila Lenghou Tiong mau menumbuknya memang dengan sangat mudah dapat membuat mereka terjerumus ke dalam jurang, tapi itu tidak berarti dia dapat lolos dari kepungan keempat orang yang berdiri di muka-belakangnya itu.

Segera Lenghou Tiong hendak melolos pedang, tapi keenam orang mendadak melangkah maju setengah tindak sehingga Lenghou Tiong tergencet di tengah-tengah, ruang bergeraknya semakin sempit, hendak mengangkat tangan saja susah, sebab pasti akan menyentuh orang-orang itu.

Waktu itu terdengar Liok Tay-yu telah berteriak-teriak di belakang, “He, he! Kalian mau apa?”

Selama hidup Lenghou Tiong belum pernah mengalami kejadian seaneh ini, biarpun dia pintar dan cerdik juga kehilangan akal dalam waktu sekejap itu.

Keenam orang itu benar-benar seperti setan, seperti jin, mirip siluman. Muka mereka buruk menakutkan, gerak-gerik mereka lebih-lebih aneh pula.

Lenghou Tiong bermaksud mendorong kedua orang di depannya, tapi kedua orang itu berdiri terlalu dekat sehingga tak mungkin dapat mengangkat kedua tangannya. Sekilas terpikir olehnya bahwa orang-orang aneh ini tentu adalah begundalnya Hong Put-peng. Namun dia coba bertanya pula, “Sebenarnya siapa kalian ini?”

Sekonyong-konyong pandangannya jadi gelap, sebuah karung besar telah mengurung dari atas kepalanya, tahu-tahu tubuhnya sudah berada di dalam karung itu. Hanya terdengar seorang berkata padanya dengan suara tajam melengking, “Jangan takut, akan kami bawa kau untuk bertemu dengan si nona cilik.”

Mendengar itu mendadak Lenghou Tiong tahu, “Ah, kiranya mereka adalah komplotannya Dian Pek-kong.”

Segera ia berteriak-teriak, “He, lekas kalian melepaskan aku! Kalau tidak segera aku membunuh diri dengan pedang. Lenghou Tiong berani berkata berani berbuat, biarpun mati aku pantang menyerah.”

Baru habis ucapannya, tiba-tiba kedua lengan sendiri telah dipegang oleh dua tangan dari luar karung. Begitu kuat kedua tangan itu sehingga mirip tanggam besi, lengan Lenghou Tiong sampai amat kesakitan.

Percuma saja Lenghou Tiong habis mempelajari Tokko-kiu-kiam dan mahir cara mematahkan ilmu tangkapan, tapi dalam keadaan seperti sekarang ini, biarpun mempunyai kepandaian setinggi langit juga tidak dapat dikeluarkan sedikit pun. Dia hanya bisa mengeluh belaka di dalam karung.

Mendadak terdengar seorang di antaranya berkata, “Si nona cilik sayang itu ingin bertemu padamu. Kau menurut ya, kau pun anak yang baik, sayang!”

Menyusul seorang lagi berkata, “Kau jangan membunuh diri, jika tidak menurut sebentar akan kubikin kau mati tidak hidup pun tidak.”

“Jika dia sudah mati bunuh diri, bagaimana kau akan bikin dia hidup tidak mati pun tidak?” tanya seorang kawannya.

“Aku hanya menakut-nakuti dia supaya tidak membunuh diri,” sahut orang yang tadi.

“Kalau mau menakut-nakuti harus jangan diperdengarkan padanya, sekarang dia sudah tahu, tentu tak dapat ditakut-takuti lagi,” debat kawannya pula.

“Aku justru ingin menakut-nakuti dia, kau mau apa?” ngotot orang tadi.

“Aku bilang lebih baik membujuk dia saja,” kata seorang lagi.

“Tidak, sekali aku menakut-nakuti tetap akan kutakut-takuti dia,” orang tadi tetap ngotot.

“Tapi aku lebih suka membujuknya,” sahut yang lain. Dan begitulah orang-orang itu terus bertengkar tak berhenti-berhenti.

Dikurung di dalam karung itu Lenghou Tiong menjadi khawatir dan mendongkol pula mendengar pertengkaran orang-orang seperti anak kecil itu. Pikirnya, “Ilmu silat enam orang itu sangat tinggi, tapi agaknya sangat tolol.”

Segera ia berteriak, “Kalian akan menakut-nakuti atau membujuk, semuanya tak berguna. Bila kalian tidak lepaskan aku, segera aku akan menggigit lidah untuk membunuh diri.”

Tapi mendadak pipinya terasa kesakitan, seorang telah meremas kedua belah pipinya dengan keras. Lalu suara seorang sedang berkata, “Bocah ini sangat bandel, jika lidahnya tergigit putus dan tak bisa bicara tentu si nona cilik tidak senang.”

“Jika lidahnya tergigit putus tentu orangnya akan mati, masakah cuma tak bisa bicara?” ujar seorang lagi.

“Belum tentu bisa mati,” sahut orang tadi. “Kalau tidak percaya boleh coba kau menggigit lidahmu.”

“Aku percaya pasti akan mati, maka tidak perlu gigit lidahnya sendiri. Kau tidak percaya, maka kau saja yang coba.”

“Buat apa aku menggigit lidah?” sahut orang tadi. “Eh, biar dia saja.”

Lalu terdengarlah suara jeritan Liok Tay-yu, rupanya dia telah kena ditangkap juga oleh orang-orang aneh itu. Terdengar orang tadi membentak, “Hayo, kau menggigit putus lidahmu, coba lihat kau akan mati atau tidak. Hayo lekas gigit, lekas!”

“Tidak, tidak, aku tidak mau!” teriak Liok Tay-yu.

Mendadak Lenghou Tiong berteriak dan pura-pura sangat kesakitan. Tapi terdengar salah seorang aneh itu berkata, “Kau pura-pura saja. Kupencet gerahammu, cara bagaimana kau dapat menggigit lidah?”

“Lepaskan aku, lepaskan aku!” teriak Lenghou Tiong dengan suara tak jelas.

Mendadak terdengar suara “bret-bret” dua kali, karung itu telah robek, kedua lengannya telah ditarik keluar melalui lubang sobekan karung itu. Menyusul pandangannya menjadi terang, kiranya seorang aneh itu telah merobek dua lubang kecil pada karung itu sehingga dia dapat melihat keadaan di luar.

Tertampaklah seorang kakek dengan muka penuh keriput berkata padanya, “Asal kau berjanji takkan membunuh diri segera juga akan kulepaskan kau.”

Habis berkata ia lantas melepaskan tangannya yang memencet kedua belah geraham Lenghou Tiong itu.

Sementara itu dua orang aneh yang berada di belakangnya sedang memaksa Liok Tay-yu supaya menggigit lidahnya sendiri untuk dicoba akan mati atau tidak bila lidah tergigit putus.

Maka Liok Tay-yu terus berteriak-teriak, “Tidak, tidak, aku tidak mau. Bila lidah tergigit putus tentu akan mati!”

“Nah, apa kataku?” kata si orang aneh tadi. “Bila lidah putus tentu orangnya akan mati. Dia sendiri pun mengaku demikian.”

“Dia kan belum mati, mana buktinya?” sahut kawannya.

“Dia belum mati karena belum gigit lidahnya. Sekali gigit tentu akan mati!” bantah orang tadi.

Dalam pada itu diam-diam Lenghou Tiong mengerahkan tenaga ke lengannya dan coba meronta sekuatnya, tapi pergelangan tangannya lantas kesakitan, sedikit pun tak bisa terlepas. Muka keenam orang aneh itu sangat buruk, ilmu silat mereka begitu lihai pula. Dalam keadaan demikian, biarpun Lenghou Tiong yang biasanya sangat cerdik juga mati kutu seketika.

Sejenak kemudian tiba-tiba ia mendapat akal. Mendadak ia menjerit dan pura-pura pingsan. Maka terdengarlah tiga orang aneh itu berseru khawatir, “Wah, celaka!”

“Dia mati ketakutan!” kata seorang di antaranya.

“Tidak, takkan mati ketakutan, masakah begitu tak becus,” ujar yang lain.

“Seumpama mati juga bukan mati ketakutan!” timbrung pula seorang lagi.

“Habis, sebab apa dia mati?” tanya yang pertama tadi.

Di sebelah sana Liok Tay-yu menjadi kaget. Disangkanya sang Toasuko benar-benar telah dibikin mati, seketika ia menangis sedih.

Sementara itu seorang aneh itu berkata pula, “Aku tetap bilang dia mati ketakutan.”

“Tidak, cengkeramanmu terlalu keras, tentu dia mati tercengkeram,” kata yang lain lagi.

“Ya, sebenarnya apa sebab kematiannya?” kata pula yang lain.

“Aku menutup urat nadi sendiri, mati bunuh diri!” mendadak Lenghou Tiong berteriak.

Karena Lenghou Tiong mendadak berteriak, keenam orang aneh itu menjadi kaget malah. Tapi mereka lantas terbahak-bahak dan berkata bersama, “Hahahaha! Kiranya dia belum mati, cuma pura-pura mati!”

“Aku tidak pura-pura mati, tapi sudah mati dan hidup kembali!” seru Lenghou Tiong.

“Apa benar kau dapat menutup urat nadi sendiri? Wah, kepandaian ini sukar sekali dipelajari, kau ajarkan padaku saja,” kata seorang di antaranya.

“Kepandaian itu teramat tinggi, bocah ini tentu tidak bisa, dia berdusta padamu,” kata yang lain.

“Kau bilang aku tidak bisa? Kalau tidak bisa, mengapa tadi aku bisa mati menutup urat nadi sendiri?” ujar Lenghou Tiong.

Orang aneh itu garuk-garuk kepala, katanya, “Ya, ini memang rada aneh!”

Melihat kebebalan keenam manusia aneh itu, segera Lenghou Tiong berkata pula, “Jika kalian tidak lekas lepaskan aku, segera aku akan menutup urat nadiku, bila sekali ini aku mati lagi tentu takkan hidup kembali.”

“Tidak, kau tidak boleh mati,” seru kedua orang yang memegangi lengan Lenghou Tiong sambil melepaskan tangan masing-masing. “Jika kau mati, wah, bisa runyam.”

“Minta aku tidak mati juga boleh asal kalian lekas menyingkir, aku ada urusan penting harus buru-buru berangkat,” kata Lenghou Tiong.

“Tidak, tidak boleh!” kata kedua orang yang mengadang di depan itu. “Kau harus ikut kami pergi menemui si nona cilik.”

Sekuatnya Lenghou Tiong melompat dengan maksud melampaui kedua orang yang mengadang di depannya itu, di luar dugaan, kedua orang itu pun ikut-ikut meloncat ke atas, gerakan mereka cepat luar biasa sehingga tubuh mereka seperti dinding terbang saja yang tetap mengadang di depan Lenghou Tiong.

Tapi begitu badan Lenghou Tiong tertumbuk dengan tubuh kedua pengadangnya dan jatuh kembali, selagi badannya masih terapung dia sudah lantas hendak melolos pedang. Namun pundaknya lantas terasa ditahan ke bawah, dua orang di belakangnya kembali sudah memegangi kedua lengannya dari luar karung sehingga pedang tidak sampai dicabut keluar. Waktu itu kedua lengannya terbuka di luar karung dan badannya masih tetap dikerudung karung, pedangnya juga tertutup di dalam karung. Sebenarnya ia bermaksud menggunakan pedang untuk merusak karung itu, lalu akan melawan orang-orang itu dengan Tokko-kiu-kiam yang baru dipelajarinya itu. Tapi sekali pundaknya ditahan oleh tangan kedua orang aneh itu, seketika tubuhnya mendak ke bawah, jangankan lolos pedang, untuk berdiri tegak saja sukar.

Sesudah merobohkan Lenghou Tiong, kedua orang itu berseru, “Angkat saja dia!” Segera kedua orang yang berdiri di depannya masing-masing memegangi sebelah kaki Lenghou Tiong terus diangkat ke atas.

“He, apa-apaan kalian ini?” Liok Tay-yu berteriak-teriak.

“Orang ini suka gembar-gembor, bunuh saja dia!” kata seorang aneh. Lalu tangannya hendak menggaplok ke batok kepala Liok Tay-yu.

Cepat Lenghou Tiong berseru, “Jangan, jangan dibunuh!”

“Baik, aku menurut padamu, tidak bunuh dia, tapi tutuk dia supaya bisu,” kata orang aneh itu. Habis ucapannya, tanpa berpaling lagi jarinya terus menuding ke belakang. “Crit”, tahu-tahu Hiat-to yang membikin bisu di tubuh Liok Tay-yu sudah tertutuk.

Waktu itu Liok Tay-yu sedang berteriak, tapi mendadak ia menjerit terus putus suaranya seketika seperti tali suara yang digunting secara mendadak. Tubuhnya juga lantas melingkar kejang.

Melihat cara menutuk tenaga dalam dari jarak jauh, betapa jitunya pula, mau tak mau Lenghou Tiong terpesona, tanpa merasa ia bersorak memuji.

Orang aneh itu menjadi senang, katanya dengan tertawa, “Ini saja belum. Aku masih mempunyai kepandaian-kepandaian lain yang lebih hebat, biarlah aku pertunjukkan untukmu.”

Jika di waktu biasa tentu Lenghou Tiong ingin menambah pengalamannya, tapi sekarang dia sedang mengkhawatirkan keselamatan sang guru, pikirannya sedang gelisah, maka cepat ia menjawab, “Tidak, aku tidak ingin lihat.”

“Mengapa kau tidak ingin melihat? Aku justru suruh kau lihat,” kata orang aneh itu. Mendadak ia meloncat ke atas, tahu-tahu sudah melayang lewat di atas kepala keempat orang aneh yang mengusung Lenghou Tiong. Badannya sebenarnya agak gendut, tapi lompatannya itu ternyata sangat enteng dan gesit dengan gaya yang sangat indah.

Selama hidup Lenghou Tiong belum pernah melihat loncatan seindah itu, tanpa merasa ia berseru memuji pula, “Bagus!”

Wajah orang aneh yang lonjong sebagai muka kuda itu berseri-seri, sahutnya, “Ini saja belum, masih ada lagi yang lebih hebat!”

Usia orang bermuka kuda ini sedikitnya juga sudah ada 60-70 tahun, tapi sifatnya benar-benar mirip anak kecil, sekali dipuji semakin menjadi. Ilmu silatnya yang tinggi itu benar-benar berbeda sama sekali dengan sifatnya yang kekanak-kanakan itu.

Diam-diam Lenghou Tiong teringat kepada guru dan ibu-gurunya yang sedang menghadapi kesulitan. Pihak lawan terdiri dari jago-jago Ko-san-pay, Thay-san-pay dan lain-lain, biarpun dirinya sudah berada di sana juga tak bisa membantu banyak. Orang-orang ini berkepandaian sangat tinggi, kenapa aku tidak menipu mereka agar ikut ke sana untuk membantu Suhu?

Karena pikiran demikian segera Lenghou Tiong berkata, “Sedikit kepandaianmu ini apa gunanya dipamerkan di sini?”

“Sedikit kepandaianku? Buktinya kau kan tak bisa berkutik dan tertangkap?” kata orang bermuka kuda itu.

“Aku cuma kaum keroco dari Hoa-san-pay, sudah tentu dengan mudah dapat kalian tangkap,” sahut Lenghou Tiong. “Sekarang di atas gunung ini sedang berkumpul jago-jago dari Ko-san-pay, Thay-san-pay dan lain-lain, apakah kalian berani mengusik mereka?”

“Kenapa tidak berani? Di mana mereka?” teriak orang itu.

“Si nona cilik hanya suruh kita menangkap Lenghou Tiong dan tidak minta kita mengusik jago-jago Ko-san-pay atau Thay-san-pay segala. Sudahlah, kita jangan mencari gara-gara, lekas berangkat saja,” demikian kata si kakek bermuka keriput.

“Benar juga,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa. “Pantas jago-jago Ko-san-pay dan Thay-san-pay itu mengatakan paling memandang hina kakek-kakek bermuka kuda, bermuka merah dan siluman tua bermuka keriput dan lain-lain lagi, bila ketemu tentu mereka akan dipites seperti semut. Cuma sayang keenam siluman tua itu belum-belum sudah lantas lari terbirit-birit bila mendengar suara jago-jago Ko-san-pay dan kawan-kawannya itu dan sukar diketemukan lagi meski telah dicari-cari.”

Mendengar ucapan Lenghou Tiong itu seketika keenam kakek aneh itu berjingkrak marah, mereka berkaok-kaok, “Di mana beradanya orang-orang Ko-san-pay dan begundalnya? Hayo bawa kami ke sana, lekas!”

“Huh, peduli apa Ko-san-pay, Thay-san-pay dan lain-lain segala, masakah Tho-kok-lak-sian (enam dewa dari lembah Tho) jeri kepada mereka?”

“Kurang ajar! Barangkali orang itu sudah bosan hidup, masakah Tho-kok-lak-sian hendak dipites seperti semut saja?”

“Eh, ya, kalian mengaku sebagai Tho-kok-lak-sian, tapi orang-orang Ko-san-pay dan kawan-kawannya itu justru menyebut kalian Tho-kok-lak-kui (enam setan),” demikian Lenghou Tiong sengaja mengadu biru lagi. “Wah, Lak-sian, kukira kalian lebih baik menghindari mereka saja sejauh mungkin, ilmu silat jago Ko-san-pay itu luar biasa lihainya, tentu kalian bukan tandingannya.”

“Tidak, tidak bisa! Biar sekarang juga kita melabraknya,” teriak si kakek bermuka merah.

Tapi orang yang bermuka benjal-benjol itu lantas menyela, “Wah, kukira gelagatnya tidak bagus. Bila jago Ko-san-pay itu berani bermulut besar, tentu dia mempunyai kepandaian luar biasa. Jangan-jangan kita memang bukan tandingannya, buat apa kita mencari penyakit? Hayolah, kita lekas pulang saja.”

“Site (adik keempat) memang paling penakut, berkelahi saja belum sudah mengaku kalah?” ujar si muka kuda.

“Tapi kalau benar-benar dipites seperti semut, wah kan celaka?” ujar si muka benjol.

Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli. Ada-ada saja manusia-manusia aneh di dunia Kangouw. Padahal ilmu silat orang ini sangat tinggi, tapi nyalinya justru begini kecil. Biarlah aku memancingnya lagi. Segera ia berkata, “Jika mau lari hendaklah lekas. Kalau terlambat, jangan-jangan jago Ko-san-pay itu sudah akan memburu ke sini dan kalian tentu tak bisa lolos lagi.”

Eh, benar saja, si muka benjol itu terus lari secepat terbang, hanya sekejap saja sudah menghilang.

Lenghou Tiong sampai terperanjat malah, pikirnya, “Ginkang orang aneh ini benar-benar luar biasa laksana setan iblis saja. Ginkangnya ini tampaknya berpuluh kali lebih tinggi lagi daripada Dian Pek-kong, kalau dia mau lari siapa pula di dunia ini yang mampu mengejarnya? Sungguh aneh, dia memiliki Ginkang yang mahatinggi, kenapa penakut dan suka lari? Wah, ucapanku tadi yang terlalu berlebih-lebihan, kalau mereka benar-benar lari ketakutan kan berbalik membikin runyam maksud tujuanku.”

Dalam pada itu si muka kuda sedang berkata, “Siko memang penakut, biarkan dia lari saja, kita yang akan pergi melabrak jago Ko-san-pay itu.”

“Ya, berangkat, lekas! Harus kita hajar dia!” seru keempat kawannya yang lain.

Mendadak si muka hitam melepaskan karung yang masih mengerudungi badan Lenghou Tiong, lalu katanya, “Hayo lekas bawa kami ke sana, ingin kulihat bagaimana caranya dia akan pites kami sebagai semut.”

“Membawa ke sana sih aku tidak keberatan,” sahut Lenghou Tiong, “Cuma kalian harus menuruti suatu syaratku.”

“Syarat apa?” tanya si muka keriput. “Kalau bisa dipenuhi akan kami penuhi, kalau tidak ya tidak.”

Diam-diam Lenghou Tiong mengakui di antara keenam kakek itu adalah si muka keriput ini yang paling encer otaknya. Segera ia berseru, “Aku Lenghou Tiong adalah seorang laki-laki sejati, sekali-kali takkan sudi menyerah diancam dan dipaksa orang. Soalnya aku cuma mendengar jago Ko-san-pay itu mencemooh dan menghina kalian berenam, aku merasa ikut penasaran bagi kalian, makanya mau membawa kalian ke sana untuk membikin perhitungan dengan dia. Tapi kalau mentang-mentang berjumlah banyak dan hendak memaksa berbuat ini dan itu, maka biar mati pun aku Lenghou Tiong sekali-kali takkan menurut.”

Serentak kelima kakek aneh itu bertepuk tangan memuji, “Bagus, kau berjiwa kesatria, kami sangat kagum.”

“Jika demikian aku akan membawa kalian ke sana, tapi sesudah bertemu nanti kalian tak boleh sembarangan omong dan bertindak supaya semua kesatria dunia persilatan takkan menertawakan Tho-kok-lak-sian terlalu bodoh, masih anak bawang, tidak tahu seluk-beluk orang hidup. Maka kalian harus menuruti omonganku, kalau tidak kalian tentu akan membikin malu padaku.”

Ucapan Lenghou Tiong ini sebenarnya bermaksud coba-coba saja, tak terduga kelima kakek aneh serentak berseru, “Benar, itu memang tepat. Kami tidak boleh dicemoohkan orang bahwa Tho-kok-lak-sian terlalu bodoh, masih anak bawang!”

Lenghou Tiong mengangguk, katanya, “Baiklah, jika demikian marilah kalian ikut padaku.”

Segera ia melanjutkan perjalanan dengan langkah cepat. Kelima kakek aneh itu pun mengikutinya dari belakang.

Beberapa li kemudian, tertampak si muka benjol sedang mengintip di balik batu karang sana. Lenghou Tiong pikir orang penakut ini harus dipancing supaya berani. Segera ia berseru padanya, “Kepandaian jago Ko-san-pay itu berselisih sangat jauh dengan kau, jangan takut padanya, mari kita beramai-ramai pergi menghajar dia.”

Si muka benjol menjadi girang. “Baik, aku pun ikut!” serunya. Tapi mendadak ia menambahkan pertanyaan pula, “Kau bilang ilmu silat jago Ko-san-pay itu selisih jauh sekali dengan aku. Lalu aku yang lebih tinggi atau dia yang lebih tinggi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: