Hina Kelana: Bab 34. Tokko-kiu-kiam = Sembilan Jurus Ilmu Pedang Tokko

“Tiong-ji,” katanya kemudian, “dahulu waktu aku belajar jurus pertama ini saja memakan waktu tiga bulan. Sekarang kau disuruh mempelajari dua jurus dalam semalam ini sesungguhnya lebih mirip bergurau.” Sejenak kemudian, tiba-tiba ia menyebut istilah-istilah yang diucapkannya tadi dengan cepat, sesudah beberapa puluh kalimat, ia coba suruh Lenghou Tiong ikut menghafalkan istilah-istilah itu. Waktu Lenghou Tiong mengulangi istilah-istilah itu, ternyata dengan lancar ia dapat menyebutnya di luar kepala. Hong Jing-yang menjadi heran malah, ia tanya, “Apakah rumus umum Tokko-kiu-kiam (sembilan jurus ilmu pedang Tokko) ini pernah kau pelajari?” Lenghou Tiong menjawab, “Cucu tidak pernah belajar dan tidak tahu apa yang disebut ‘Tokko-kiu-kiam’ itu.” “Habis mengapa kau bisa menghafalkannya dengan tepat?” tanya Hong Jing-yang pula. “Aku hanya menirukan Thaysusiokco saja,” sahut Lenghou Tiong. Hong Jing-yang tampak kegirangan. “Jika demikian jadilah. Meski dalam semalam saja sukar dipelajari secara lengkap, tapi boleh kau mengingatnya secara paksa. Jurus pertama tidak perlu dipelajari melainkan diingat saja, jurus ketiga cukup belajar setengahnya saja. Coba dengarkan dengan baik ….” lalu ia menguraikan beberapa puluh kalimat, kemudian Lenghou Tiong disuruh menghafalkan, bila ada yang salah segera Hong Jing-yang mengingatkannya kembali dan begitu seterusnya sampai ratusan kalimat rumus umum itu diajarkan kepada Lenghou Tiong dan dapat diingatnya dengan baik. Rumus umum dari “Tokko-kiu-kiam” itu seluruhnya ada ribuan kalimat, biarpun daya ingatan Lenghou Tiong sangat baik juga diperlukan dua-tiga jam baru bisa ingat dengan sempurna. Sesudah mencobanya dua-tiga kali lagi dan ternyata Lenghou Tiong benar-benar sudah hafal di luar kepala, lalu Hong Jing-yang berkata, “Jurus pertama yang merupakan rumus dari Tokko-kiu-kiam itu adalah kunci dasar seluruh pelajaran sembilan jurus ilmu pedangnya, meski sekarang kau sudah hafal, tapi karena tujuannya asal ingat saja tanpa menyelami artinya, kelak tentu mudah terlupakan. Maka selanjutnya pagi sore harus kau ulangi menghafalkan.” Setelah Lenghou Tiong mengiakan, lalu Hong Jing-yang berkata pula, “Tentang jurus pertama sudah kau hafalkan, sekarang tidak perlu menyelaminya dulu. Adapun jurus kedua adalah ‘cara memecahkan ilmu pedang’, gunanya untuk mematahkan semua ilmu pedang dari golongan dan aliran mana pun juga di dunia ini, ini pun sekarang belum perlu dipelajari. Jurus ketiga adalah ‘cara memecahkan ilmu golok’, gunanya untuk memecahkan segala macam ilmu golok, baik golok besar, golok tunggal atau golok kembar, dan lain-lain sebagainya. Yang dimainkan Dian Pek-kong adalah golok kilat dari golok tunggal, maka malam ini kau hanya belajar cara melawan ilmu goloknya itu saja.” Mendengar di antara kesembilan jurus ilmu pedang ciptaan orang she Tokko itu ada jurus-jurus yang dapat memecahkan segala macam ilmu golok dan ilmu pedang, sungguh terkejut dan girang Lenghou Tiong tak terkatakan. Katanya dengan penuh kekaguman, “Kesembilan jurus ilmu pedang ini sedemikian saktinya, cucu benar-benar dengar saja belum pernah.” “Gurumu sebenarnya sudah pernah dengar, cuma dia tidak mau bercerita kepada kalian,” kata Hong Jing-yang. Lenghou Tiong menjadi heran. “Apa sih sebabnya?” tanyanya tidak habis mengerti. Hong Jing-yang tidak menjawab pertanyaannya, tapi berkata pula, “Jurus ketiga ‘cara memecahkan ilmu golok’ dari Tokko-kiu-kiam itu mengutamakan kecepatan dan kegesitan. Ilmu golok Dian Pek-kong itu memang sudah sangat cepat, tapi kau harus lebih cepat daripada dia, untuk ini apa daya? Sebenarnya dengan usiamu yang masih muda ini juga tidak sulit untuk main lebih cepat daripada dia, cuma kalah atau menang sukarlah diramalkan. Jika orang tua bangka seperti aku tentu sukar untuk main lebih cepat daripadanya. Jalan satu-satunya adalah menyerang lebih dulu dari dia. Asal kau sudah tahu dia akan melancarkan jurus serangan apa, lalu mendahului. Sebelum tangan musuh terangkat dan ujung pedangmu sudah mengancam tempatnya yang berbahaya, dengan demikian kecepatannya menjadi kalah cepat daripadamu.” Berulang-ulang Lenghou Tiong mengangguk, katanya, “Ya, benar. Agaknya Tokko-kiu-kiam ini mengajarkan orang cara bagaimana menaksir dan mendahului serangan musuh.” “Tepat, tepat! Memang bocah yang boleh diajar!” seru Hong Jing-yang sambil tepuk tangan memuji. “Menaksirkan dan mendahului serangan musuh, memang inilah merupakan inti dari keistimewaan Tokko-kiu-kiam. Sebab setiap orang di kala akan menyerang tentu sudah kelihatan tanda-tandanya. Misalnya dia akan membacok bahu kirimu, maka dengan sendirinya dia akan melirik bahumu itu. Bila waktu itu goloknya terpegang di tangan kanan, tentu dia akan mengangkat goloknya dengan memutar setengah lingkaran ke atas untuk kemudian barulah membacok miring ke sebelah kiri ….” begitulah ia lantas membahas dan mengupas jurus ketiga dari bagian yang khusus digunakan untuk mengalahkan serangan golok kilat dengan macam-macam perubahannya. Lenghou Tiong sampai terkesima dan senang tak terkatakan mendengar uraian orang tua itu. Sesaat ia seperti telah mencapai suatu dunia persilatan yang sebelumnya tak pernah didengar atau dilihatnya, tiada ubahnya seperti seorang pemuda yang mendadak berada di dalam sebuah istana yang mewah, apa yang dilihat dan didengarnya boleh dikata serbaaneh dan serbabaru baginya. Karena luasnya variasi dari jurus ketiga itu, seketika itu juga cuma sebagian kecil saja yang dapat ditangkap oleh Lenghou Tiong, selebihnya ia hanya ingat-ingat betul di dalam hati saja. Begitulah yang satu mengajar dengan tekun dan yang lain belajar dengan giat, tanpa merasa sang tempo telah lalu dengan cepat, tiba-tiba terdengar Dian Pek-kong sedang berteriak di luar gua. “Lenghou-heng, hari sudah terang, kau sudah mendusin belum?” Lenghou Tiong tertegun dan berseru tertahan, “Wah, hari sudah pagi lagi.” “Ya, sayang temponya terlalu singkat, pelajaranmu cukup cepat dan sudah melampaui harapanku. Sekarang boleh keluar untuk berkelahi lagi dengan dia!” ujar Hong Jing-yang. Sambil mengiakan, Lenghou Tiong coba merenungkan kembali apa-apa yang telah dipelajarinya semalam. Mendadak ia bertanya, “Thaysusiokco, ada suatu hal yang aku merasa tidak mengerti, yakni mengapa perubahan-perubahan jurus ini semuanya adalah serangan belaka tanpa suatu gerakan bertahan?” “Kesembilan jurus ilmu pedang ciptaan Tokko ini memang cuma mengenal maju dan tidak tahu apa artinya mundur,” tutur Hong Jing-yang. “Maka dari itu setiap gerakan adalah serangan belaka yang membikin musuh terpaksa harus bertahan dan tentu saja dirinya sendiri tidak perlu pikirkan bertahan segala. Pencipta dari ilmu pedang ini adalah Tokko Kiu-pay Locianpwe. Nama beliau ‘Put-pay’ (tak terkalahkan), selama hidupnya selalu ingin mengalami kekalahan, tapi belum pernah terkabul keinginannya itu. Karena ilmu pedangnya tiada tandingannya di dunia ini, lalu buat apa mesti pikirkan bertahan atau menjaga diri segala? Padahal kalau ada orang yang memaksa beliau harus tarik pedang untuk bertahan, maka beliau benar-benar akan kegirangan sekali.” “Tokko Kiu-pay, namanya Tokko Kiu-pay?” Lenghou Tiong menggumam sendiri, ia membayangkan tokoh angkatan tua yang mahasakti itu, selama hidupnya tiada tandingan, mencari seorang lawan yang mampu memaksa dia bertahan saja sukar, maka betapa lihai kepandaiannya benar-benar sudah sukar diukur. Dalam pada itu terdengar Dian Pek-kong sedang berteriak-teriak pula, “Hayo, lekas keluar kau, biar kubacok kau beberapa kali lagi!” “Inilah aku!” sahut Lenghou Tiong sembari jinjing pedangnya. “Anak Tiong,” kata Hong Jing-yang, “karena tidak cukup waktu, maka di mana letak intisari dari jurus ketiga ini belum dapat dibahas secara mendalam. Bila kau bertanding lagi dengan dia akan menghadapi suatu bahaya, yaitu bila dia melukai atau mengutungi lengan kananmu, maka tiada jalan lain bagimu kecuali menyerah dan terima nasib. Hal inilah yang membikin aku khawatir.” “Cucu nanti akan berbuat sekuat tenaga,” seru Lenghou Tiong dengan penuh semangat. Segera ia berlari keluar gua. Ia pura-pura bersikap lesu sambil menguap dan mengurut pinggang, lalu kucek-kucek matanya. Habis itu barulah ia menegur, “Dian-heng, apakah semalam kau tidak bisa tidur nyenyak?” Dian Pek-kong mengangkat goloknya ke depan dan berseru, “Lenghou-heng, sesungguhnya aku tidak ingin melukai kau, tapi kau sendiri yang terlalu kepala batu, betapa pun kau tidak mau ikut pergi bersamaku. Jika pertarungan ini dilangsungkan terus sehingga aku terpaksa membacok sepuluh kali atau dua puluh kali di tubuhmu, hal ini benar-benar sangat menyesalkan bagiku.” “Buat apa kau membacok sepuluh kali atau dua puluh kali,” ujar Lenghou Tiong. “Cukup asal kau sekali bacok mengutungi tangan kananku supaya aku tidak dapat memegang senjata, dengan demikian kan sudah beres dan kau dapat berbuat sesukanya atas diriku.” “Tidak, aku hanya ingin kau mengaku kalah saja, buat apa aku membuat cacat lengan kananmu?” sahut Dian Pek-kong sambil menggeleng. Dalam hati Lenghou Tiong sangat girang, tapi lahirnya dia tetap perlihatkan sikap yang kurang percaya, katanya, “Ah, jangan-jangan cuma mulutmu saja bicara demikian, bila sudah kalah nanti akhirnya kau menjadi kalap dan menggunakan cara keji.” “Kau tidak perlu memancing,” sahut Dian Pek-kong. “Pertama aku toh tiada permusuhan apa-apa dengan kau. Kedua, aku menghormati kau sebagai seorang laki-laki yang berjiwa kesatria sejati. Ketiga, bila aku benar-benar melukai kau hingga parah, mungkin aku akan dipersulit oleh orang lain. Nah, boleh silakan mulai lagi!” “Baik, silakan dulu!” kata Lenghou Tiong. Lebih dulu Dian Pek-kong membuat suatu gerakan pura-pura, serangan kedua menyusul lantas membabat dari samping dengan amat dahsyat. Baru saja Lenghou Tiong hendak menandingi dengan gerak perubahan jurus ketiga dari Tokko-kiu-kiam, tak terduga ilmu golok Dian Pek-kong itu benar-benar cepat luar biasa, belum lagi pedang Lenghou Tiong terangkat, tahu-tahu serangan Dian Pek-kong sudah berganti lagi sehingga Lenghou Tiong ketinggalan satu langkah. Sesudah dua-tiga kali serang, diam-diam Lenghou Tiong menjadi gelisah, “Wah, celaka! Ilmu pedang yang baru kupelajari ternyata tak bisa digunakan, tentu Thaysusiokco sedang memaki ketololanku.” Setelah bergebrak beberapa jurus lagi, butir-butir keringat sudah memenuhi dahi Lenghou Tiong. Tak disangkanya jika dia mengeluh, adalah bagi pandangan Dian Pek-kong ilmu pedang yang dimainkannya tampak lihai luar biasa, setiap gerakannya selalu menjadi halangan bagi ilmu goloknya. Maka Dian Pek-kong juga kejut tak terkatakan. Pikirnya, “Beberapa gerakan pedangnya jelas dapat membinasakan aku, mengapa dia sengaja bikin lambat? Ah, tentu dia sengaja bermurah hati agar aku tahu sendiri dan mundur teratur. Ya, aku memang sudah ‘tahu sendiri’, tapi untuk ‘mundur teratur’ inilah yang sulit, terpaksa aku harus bertahan sampai saat terakhir.” Begitulah, jadi kedua orang sama-sama mengeluh, maka serang-menyerang mereka menjadi sangat hati-hati. Tidak lama kemudian permainan golok Dian Pek-kong bertambah cepat lagi, sebaliknya gerak perubahan jurus ketiga ilmu pedang Lenghou Tiong juga mulai lancar, tertampaklah cahaya pedang dan sinar golok gemerlapan, pertarungan mereka semakin seru. Mendadak Dian Pek-kong membentak sambil menendang sehingga perut Lenghou Tiong terdepak. Kontan tubuh Lenghou Tiong mencelat ke belakang. Tiba-tiba terkilas suatu pikiran, asal mempunyai waktu satu hari satu malam lagi tentu besok akan dapat mengalahkan dia. Maka cepat Lenghou Tiong pura-pura melepaskan pedangnya dan jatuh terguling dengan mata terpejam, dengan menahan napas ia pura-pura jatuh kelengar. Melihat Lenghou Tiong pingsan, Dian Pek-kong menjadi khawatir malah. Tapi dia cukup mengenal watak Lenghou Tiong yang licin dan banyak tipu akalnya, ia tidak berani mendekat untuk memeriksanya agar tidak disergap secara mendadak. Dia hanya melangkah maju beberapa tindak dengan golok melintang di depan, serunya, “Lenghou-heng, bagaimana kau?” Sesudah diulangi beberapa kali seruannya, perlahan-lahan Lenghou Tiong baru siuman, dengan suara lemah ia menjawab, “Mari … mari kita mulai lagi!” Lalu ia hendak merangkak bangun, tapi tangannya terasa lemas, kembali ia terbanting jatuh. “Tampaknya kau tidak kuat lagi, boleh kau mengaso sehari lagi, besok ikut aku turun gunung saja,” kata Dian Pek-kong. Tentu saja Lenghou Tiong sangat girang, tapi ia tidak menanggapi dan berusaha merangkak bangun dengan napas terengah-engah. Rupanya Dian Pek-kong tidak curiga lagi, segera ia mendekati untuk memayangnya bangun. Tapi untuk menjaga segala kemungkinan, pada waktu melangkah maju seperti tanpa sengaja sebelah kakinya telah menginjak pedang Lenghou Tiong yang terjatuh di atas tanah itu, berbareng tangan kanan siap menjaga diri dan tangan kiri digunakan memegang Hiat-to di lengan kanan Lenghou Tiong, lalu diangkat ke atas. Lenghou Tiong sengaja menggelendot sekalian pada tangan kiri Dian Pek-kong untuk memperlihatkan kelemahannya, lalu mulutnya pura-pura mencaci maki, “Keparat! Siapa yang minta bantuanmu?” Sambil mengomel dengan berincang-incut ia terus masuk ke dalam gua. Hong Jing-yang tersenyum dan berkata, “Dengan cara demikian kau telah mendapat kesempatan sehari semalam lagi tanpa susah payah. Cuma caramu tadi agak rendah dan tidak tahu malu.” “Terhadap manusia rendah dan kotor seperti dia, apa boleh buat, terpaksa juga menggunakan cara rendah,” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. “Tapi bagaimana kalau terhadap orang baik?” tanya Hong Jing-yang dengan sungguh-sungguh. Lenghou Tiong tertegun dan ragu-ragu, tapi akhirnya menjawab, “Biarpun orang baik-baik, kalau dia hendak membunuh aku masakah terima dibunuh olehnya? Di kala kepepet biarpun cara rendah dan kotor juga terpaksa digunakan.” “Bagus, bagus!” puji Hong Jing-yang dengan girang. “Dengan ucapanmu ini, kau telah menyatakan dirimu bukanlah seorang kesatria palsu, bukan orang yang cuma pura-pura alim. Seorang laki-laki sejati harus berani bertindak secara bebas, peduli apa dengan peraturan Bu-lim dan tertib perguruan segala, persetan semuanya!” Lenghou Tiong hanya tersenyum saja dan tak berani menanggapi. Apa yang dikatakan Hong Jing-yang itu sebenarnya kena betul di dalam lubuk hatinya. Cuma peraturan Hoa-san-pay sangat keras, maka dia tidak berani memberi suara terhadap ucapan Hong Jing-yang tadi. Bila kata-kata itu terucapkan dari mulutnya dan dapat didengar gurunya, maka 40 kali rangketan mungkin adalah hukuman yang paling ringan. Begitulah, dengan jari tangannya yang kurus kering, Hong Jing-yang telah mengelus-elus kepala Lenghou Tiong. Katanya dengan tersenyum, “Di antara murid Gak Put-kun ternyata ada orang semacam kau, nyata pandangannya masih boleh juga.” Ia tepuk-tepuk bahu Lenghou Tiong, lalu menyambung, “Kau bocah yang sangat mencocoki seleraku. Baiklah, mari kita coba berlatih lagi jurus-jurus ilmu pedang Tokko-tayhiap itu.” Segera ia menguraikan lebih mendalam jurus pertama dari Tokko-kiu-kiam, sesudah bisa dipahami oleh Lenghou Tiong, lalu diberi petunjuk-petunjuk pula tentang hubungan-hubungan perubahan dengan jurus ketiga. Lenghou Tiong telah mengingat semuanya dengan baik-baik, bila ada yang kurang paham ia lantas tanya lebih jelas. Karena kali ini temponya cukup banyak, maka cara belajarnya tidak tergesa-gesa seperti kemarinnya, setiap gerakan dan setiap perubahannya telah dapat dimainkan dengan agak lengkap. Setelah bersantap malam dan mengaso satu-dua jam, kemudian Lenghou Tiong mulai belajar lagi dengan giat. Esok paginya Dian Pek-kong mengira luka Lenghou Tiong agak parah, maka dia tidak berkaok-kaok menantang lagi. Keruan kebetulan bagi Lenghou Tiong, ia dapat berlatih lebih lama di dalam gua. Menjelang tengah hari Lenghou Tiong telah lengkap mempelajari macam-macam perubahan jurus ketiga itu. Maka berkatalah Hong Jing-yang, “Jika hari ini masih tak bisa mengalahkan dia juga tidak menjadi soal, boleh belajar lagi sehari semalam, betapa pun besok pasti akan menang.” Dengan perlahan Lenghou Tiong lantas melangkah keluar, dilihatnya Dian Pek-kong sedang memandang jauh ke depan di tepi jurang. Segera ia pura-pura heran dan menegur, “He, mengapa Dian-heng belum pergi, kukira sudah berangkat kemarin!” “Aku sedang menantikan engkau,” sahut Dian Pek-kong sambil berpaling. “Kemarin aku telah membikin susah padamu, tentu hari ini sudah sembuh, bukan?” “Sembuh sih belum,” sahut Lenghou Tiong. “Cuma luka di bagian paha ini masih kesakitan.” “Haha, dalam pertarungan tempo hari di kota Heng-yang agaknya luka Lenghou-heng jauh lebih parah daripada sekarang, tapi kau toh tidak pernah mengeluh dan merintih. Aku tahu kau banyak tipu akal, hari ini sengaja pura-pura saja, tidak nanti aku dapat ditipu.” “Kau tidak mau tertipu, tapi sekarang kau sudah tertipu, seumpama keburu sadar juga sudah terlambat. Nah, Dian-heng, lihat seranganku!” berbareng Lenghou Tiong terus ayun pedangnya menusuk dada lawan. Cepat Dian Pek-kong menangkis, tapi menangkis tempat kosong. Sedangkan serangan Lenghou Tiong yang kedua sudah tiba pula. “Cepat amat!” puji Dian Pek-kong sambil melintangkan goloknya untuk menjaga diri. Namun serangan ketiga, keempat, kelima dan keenam berturut-turut sudah lantas dilancarkan pula oleh Lenghou Tiong. “Itu saja belum, ini, masih ada yang lebih cepat!” serunya dengan tertawa. Berbareng serangannya yang lain menyusul lagi secara bertubi-tubi dan tak habis-habis. Yang digunakan benar-benar adalah intisari dari Tokko-kiu-kiam yang hanya mengenal maju terus pantang mundur, hanya menyerang melulu tanpa kenal bertahan. Setelah belasan gebrakan, baru sekarang Dian Pek-kong tahu rasa dan kaget. Ia merasa bingung entah cara bagaimana menangkis serangan Lenghou Tiong. Setiap kali diserang, setiap kali ia mundur satu tindak, sudah belasan serangan, sementara itu ia sudah mundur sampai di tepi jurang. Sebaliknya serangan-serangan Lenghou Tiong tidak menjadi kendur. “Sret-sret …” kembali ia melancarkan empat kali tusukan pula, semuanya menuju tempat mematikan di tubuh Dian Pek-kong. Sekuatnya Dian Pek-kong menangkis dua kali, tapi serangan ketiga betapa pun tak bisa ditahan lagi, terpaksa ia melangkah mundur lagi. Tapi ia menjadi kaget karena kakinya telah menginjak tempat kosong. Ia tahu di belakangnya adalah jurang yang tak terkirakan dalamnya, jika sampai terjeblos tentu tamatlah riwayatnya. Pada detik yang berbahaya itu sekuatnya ia membacokkan goloknya ke tanah sekadar untuk menahan tubuhnya. Namun saat itu juga ujung pedang Lenghou Tiong juga sudah mengancam di depan tenggorokannya. Seketika wajah Dian Pek-kong pucat pias. Sama sekali Lenghou Tiong tidak bersuara, ujung pedangnya tetap mengancam di depan tenggorokan lawan. Sampai sekian lamanya dengan gusar Dian Pek-kong berteriak, “Mau bunuh boleh bunuh, kenapa mesti ragu-ragu segala!” Tapi Lenghou Tiong lantas menarik kembali senjatanya sambil melompat mundur. Katanya, “Kekalahan Dian-heng ini hanya karena kelengahan seketika sehingga kena didahului olehku, biarlah jangan dianggap, marilah kita mulai lagi.” Dian Pek-kong mendengus karena merasa terhina. Tanpa bicara lagi ia terus putar goloknya dan menerjang maju, ia menyerang secara membadai. Pikirnya, “Sekali ini aku menyerang lebih dulu, tentu kau tak bisa mengambil keuntungan lagi.” Ketika tampak golok lawan membacok tiba, cepat Lenghou Tiong juga mengangkat pedang dan menusuk miring dari samping ke perut lawan, berbareng mengegos untuk menghindarkan serangan goloknya. Melihat serangan balasan itu datangnya terlalu cepat, lekas-lekas ia putar goloknya kembali untuk mengetok batang pedang. Ia menduga tenaganya sendiri lebih kuat, sekali kebentur tentu pedang Lenghou Tiong akan tergetar mencelat. Namun sekali serangannya sudah berbalik menguasai lawan, maka serangan kedua, ketiga dan seterusnya lantas dilancarkan pula oleh Lenghou Tiong secara bertubi-tubi, setiap serangannya selalu ganas lagi jitu, yang diarah selalu tempat-tempat yang berbahaya. Karena tidak sanggup menangkis dengan sama cepat, terpaksa Dian Pek-kong main mundur lagi. Belasan gebrakan kemudian kembali ia berada pada posisi tadi. Dia sudah berada di tepi jurang pula. Ketika pedangnya Lenghou Tiong menebas ke bawah sehingga Dian Pek-kong terpaksa mengayun goloknya untuk melindungi tubuhnya bagian bawah, saat itu jari tangan kiri Lenghou Tiong juga sudah lantas mengancam di depan dadanya, tepat Tan-tiong-hiat yang akan ditutuk. Tapi kira-kira dua-tiga senti di depan dada lawan, jari Lenghou Tiong itu lantas berhenti. Dian Pek-kong sudah pernah dua kali ditutuk di tempat yang sama, kalau kali ini tertutuk pula, maka robohnya bukan jatuh pingsan di atas tanah, tapi akan tergelincir ke dalam jurang. Tapi Lenghou Tiong kelihatan diam saja, jelas sengaja memberi kelonggaran. Benar juga, sesudah kedua orang termangu sejenak, lalu Lenghou Tiong melompat mundur pula. Untuk sebentar saja Dian Pek-kong berduduk di atas batu sambil merenungkan apa yang dialami. Mendadak ia mengerang keras, golok berputar dan menerjang maju lagi, serangan-serangannya sekarang tambah lihai. Kali ini dia sudah memilih tempat, dia berdiri membelakangi gunung. Ia berpikir andaikan terdesak mundur lagi juga akan mundur masuk ke dalam gua, betapa pun kali ini harus bertempur mati-matian. Namun kini Lenghou Tiong sudah lengkap mempelajari jurus “cara memecahkan ilmu golok” dari Tokko-kiu-kiam, mengenai segala macam gerak perubahan serangan golok baginya sudah bukan soal lagi. Maka ia tunggu ketika bacokan golok Dian Pek-kong sudah tiba barulah dia mengegos ke kanan, berbareng pedangnya terus menebas lengan kiri lawan. Waktu Dian Pek-kong tarik kembali goloknya untuk menangkis, mendadak pedang Lenghou Tiong sudah berubah menjadi tusukan ke pinggangnya. Karena tidak keburu menangkis lagi, terpaksa Dian Pek-kong mundur sedikit ke sisi kanan. Dalam pada itu, tusukan Lenghou Tiong sudah tiba pula, sekali ini mengarah pelipis kiri, ketika Dian Pek-kong menangkis, tahu-tahu ujung pedang hendak menusuk paha kiri. Tiada jalan lain, terpaksa Dian Pek-kong menggeser lagi ke kanan. Begitulah serangan-serangan Lenghou Tiong susul-menyusul selalu mengarah sebelah kirinya sehingga Dian Pek-kong terpaksa melangkah mundur ke sebelah kanan. Belasan langkah kemudian, bukannya dia mundur ke dalam gua, tapi sudah terdesak ke tepi dinding tebing di sebelah kanan gua. Karena terhalang oleh dinding batu dan tidak dapat mundur lagi, Dian Pek-kong terpaksa memutar goloknya dengan kencang, ia tidak peduli cara bagaimana Lenghou Tiong akan menyerang lagi. “Bret-bret ….” berulang-ulang terdengar suara robeknya kain, ternyata lengan baju dan lengan celana Dian Pek-kong bagian kiri telah tertusuk robek sampai enam kali. Tusukan-tusukan pedang itu hanya merobek kain baju dan celana saja, sedikit pun tidak melukai kulit dagingnya. Namun Dian Pek-kong cukup terang bahwa setiap tusukan Lenghou Tiong itu tentu bisa mengutungi lengan atau kakinya, bahkan untuk menembus perutnya juga tidak sukar. Dalam keadaan demikian Dian Pek-kong menjadi putus asa. Mendadak ia muntah darah dan badan sempoyongan. Berturut-turut tiga kali Lenghou Tiong telah dapat mendesak Dian Pek-kong sampai di tepi garis kematiannya. Padahal beberapa hari sebelumnya ilmu silat Dian Pek-kong jauh lebih tinggi daripadanya. Sekarang mati-hidup lawannya tergantung kepada dirinya, malahan kemenangannya itu diperoleh dengan sangat mudah, keruan girangnya tak terhingga walaupun lahirnya tidak memperlihatkan sesuatu tanda apa-apa. Kini melihat Dian Pek-kong sudah kalah habis-habisan sampai muntah darah mau tak mau ia merasa menyesal juga. Segera ia berkata, “Dian-heng, kalah atau menang adalah soal jamak di medan perang, kenapa engkau mesti begini? Bukankah aku pun berulang-ulang terjungkal di tanganmu?” Dian Pek-kong lantas membuang goloknya, katanya sambil menggeleng kepala, “Ilmu pedang Hong-locianpwe benar-benar mahasakti dan tiada tandingannya di zaman ini. Cayhe selamanya bukan tandinganmu lagi.” Lenghou Tiong menjemputkan golok orang dan diangsurkan kepadanya dengan hormat. Katanya, “Ucapan Dian-heng memang betul. Kemenanganku secara kebetulan ini hanyalah berkat petunjuk-petunjuk dari Hong-thaysusiokco. Sekarang beliau ingin minta Dian-heng berjanji sesuatu.” Dian Pek-kong tidak menerima goloknya, tapi menjawab dengan pedih, “Jiwaku saja tergantung di tanganmu, apa yang dapat kukatakan pula?” “Soalnya begini,” kata Lenghou Tiong. “Hong-thaysusiokco sudah terlalu lama mengasingkan diri dan tidak ikut campur segala urusan khalayak ramai atau diganggu orang lain. Maka bila Dian-heng sudah pergi dari sini hendaklah jangan bicara tentang diri beliau kepada orang lain. Untuk ini aku akan merasa sangat berterima kasih.” “Asal pedangmu sekali tusuk saja, orangnya mati dan mulutnya tertutup, bukankah sudah beres?” ujar Dian Pek-kong dengan dingin. Namun Lenghou Tiong lantas melangkah mundur dan memasukkan pedang ke dalam sarungnya. Jawabnya, “Dahulu waktu kepandaian Dian-heng masih jauh di atasku, bila engkau sekali bacok membinasakan diriku tentu juga takkan seperti peristiwa hari ini. Soal jangan disiarkan kepada orang luar tentang diri Hong-thaysusiokco adalah permohonanku yang sangat, sedikit pun tiada bermaksud memaksa dan mengancam.” “Baiklah, aku berjanji.” jawab Dian Pek-kong. “Terima kasih,” kata Lenghou Tiong sambil memberi hormat. “Aku diperintahkan ke sini untuk mengundang kau turun gunung, tapi aku tak bisa memenuhi tugasku, urusan ini sekali-kali belum selesai sampai di sini saja,” kata Dian Pek-kong. “Untuk bertempur lagi aku bukan tandinganmu, tapi soal ini pun tidak berarti beres. Baiklah Lenghou-heng, sampai jumpa pula.” Habis berkata, ia memberi salam lalu melangkah pergi. Teringat bahwa Dian Pek-kong keracunan dan tak lama lagi akan mati dengan badan membusuk, sesudah bertempur selama beberapa hari dengan dia, tanpa terasa timbul juga rasa berat dalam hati Lenghou Tiong, hampir-hampir saja ia berseru akan ikut pergi. Tapi segera teringat pula bahwa dirinya sedang dihukum kurungan di atas puncak situ, tanpa izin gurunya sekali-kali tidak boleh turun dari puncak itu. Apalagi Dian Pek-kong adalah maling cabul yang kejahatannya sudah kelewat takaran, jika dirinya ikut pergi bersama dia, bukankah akan dianggap sebagai manusia kotor dan rendah. Karena itu ia hanya menyaksikan kepergian Dian Pek-kong saja, lalu ia masuk kembali ke dalam gua dan menyembah di hadapan Hong Jing-yang, katanya, “Thaysusiokco bukan saja sudah menyelamatkan jiwaku, bahkan telah mengajarkan ilmu pedang mahatinggi kepadaku, budi kebaikan ini betapa pun sukar dibalas.” “Ilmu pedang mahatinggi? Hehe, masih selisih terlalu jauh,” demikian sahut Hong Jing-yang sambil tersenyum. Senyumannya itu terasa penuh rasa kehampaan. Segera Lenghou Tiong memohon, “Cucu minta Thaysusiokco sudi mengajarkan seluruh Tokko-kiu-kiam itu.” “Kau ingin belajar? Apakah kelak kau takkan menyesal?” tanya Hong Jing-yang. Lenghou Tiong melengak, ia heran mengapa ditanya akan menyesal atau tidak? Tapi segera ia paham. “Ya, Tokko-kiu-kiam itu bukanlah ilmu pedang perguruannya sendiri. Maksud Thaysusiokco adalah mengkhawatirkan kelak aku akan didamprat oleh Suhu. Tapi biasanya Suhu toh tidak melarang aku memburu ilmu silat dari golongan lain. Apalagi dari gambar-gambar ukiran di dinding gua ini aku sudah banyak mempelajari ilmu pedang dari Ko-san-pay, Heng-san-pay dan lain-lain, bahkan ilmu silat dari Tianglo-tianglo Mo-kau itu pun sudah kupelajari, hendak melupakannya juga tidak bisa lagi. Kini Tokko-kiu-kiam terang jauh lebih sakti, benar-benar kepandaian mukjizat yang diimpi-impikan oleh setiap orang persilatan, secara kebetulan aku mendapat kesempatan untuk belajar dengan petunjuk-petunjuk dari tokoh angkatan tua perguruannya sendiri, mengapa aku menyia-nyiakan kesempatan bagus ini?” Karena itu tanpa ragu-ragu lagi ia lantas menyembah, “Jika cucu dapat belajar, ini adalah rezeki yang suka dicari, kelak tentu akan merasa terima kasih, sekali-kali takkan menyesal.” “Baik, jika demikian aku akan mengajarkan padamu,” kata Hong Jing-yang. “Dian Pek-kong telah pergi dengan penasaran, tentu dia belum menyerah begini saja. Tapi biarpun ia datang lagi, sedikitnya juga selang sepuluh hari atau setengah bulan pula. Waktu kita cukup banyak, kau harus belajar mulai dari depan agar dasarnya dapat terpupuk dengan kuat.” Begitulah ia lantas menguraikan kembali dari jurus pertama Tokko-kiu-kiam itu dan memberi penjelasan lebih lengkap. Kemudian diberi petunjuk-petunjuk pula tentang rumitnya perubahan-perubahan setiap jurus serangan. Dari awal Lenghou Tiong hanya mengingat istilah-istilahnya saja sudah dapat memahami artinya yang terkandung, apalagi sekarang Hong Jing-yang memberi petunjuk-petunjuk secara jelas, keruan Lenghou Tiong memperoleh manfaat sebesar-besarnya, girangnya tak terkatakan, takjubnya tak terhingga. Di atas puncak gunung itulah Hong Jing-yang mengajarkan seluruh Tokko-kiu-kiam yang meliputi sembilan jurus itu. Dimulai dari jurus pertama “Cong-koat-sik” (rumus atau ikhtisar umum), lalu “Boh-kiam-sik” (cara mengalahkan ilmu pedang), kemudian “Boh-to-sik” (cara mengalahkan ilmu golok), terus “Boh-jiang-sik” (cara mengalahkan permainan tombak), “Boh-pian-sik” (cara mengalahkan permainan ruyung), “Boh-so-sik” (cara mengalahkan permainan tali), “Boh-ciang-sik” (cara mengalahkan ilmu pukulan), “Boh-ci-sik” (cara mengalahkan bidikan panah) dan jurus kesembilan “Boh-gi-sik” (cara mengalahkan ilmu hawa atau Lwekang). “Cara mengalahkan permainan tombak” itu meliputi cara mengalahkan permainan senjata-senjata panjang lain seperti toya, trisula, tongkat panjang dan sebagainya. “Cara mengalahkan permainan ruyung” itu meliputi cara mengalahkan senjata keras dan pendek seperti gada, cundrik, belati, tongkat pendek, perisai, ruyung baja dan sebagainya. “Cara mengalahkan permainan tali” itu meliputi kepandaian mengalahkan senjata-senjata yang lemas seperti tali panjang, cambuk, toya bertekukan tiga atau sembilan, tombak berantai, jaringan, bandul bertali dan lain sebagainya. Tiga jurus yang terakhir ternyata jauh lebih sulit dipelajari daripada enam jurus yang pertama. “Boh-ciang-sik” adalah kepandaian yang khusus ditujukan untuk mengalahkan segala macam ilmu pukulan dan tendangan lawan. Sebab kalau musuh sudah berani bertanding dengan bertangan kosong untuk melawan senjatanya, maka kepandaiannya tentu sudah mencapai tingkatan yang tertinggi, pakai atau tanpa senjata boleh dikata tiada bedanya lagi. “Boh-ci-sik” harus diartikan secara luas dan tidak terbatas pada mengalahkan “Ci” (panah) saja, tapi meliputi segala macam senjata rahasia. Di waktu berlatih jurus ini harus mahir dulu kepandaian “mendengarkan suara membedakan senjata”. Harus dapat menggunakan senjata sendiri untuk menyampuk senjata rahasia musuh dan balas menyerang musuh pula. Sedangkan jurus kesembilan yang disebut “Boh-gi-sik” hanya diajarkan oleh Hong Jing-yang cara berlatihnya saja. Katanya, “Jurus ini ditujukan untuk lawan yang memiliki Lwekang yang tinggi. Dengan ilmu pedangnya ini dahulu Tokko-locianpwe telah malang melintang di dunia persilatan tak pernah ketemu tandingan, dia ingin dikalahkan orang, tapi belum pernah dialami. Ini disebabkan beliau sudah menguasai ilmu pedangnya sedemikian sempurna dan saktinya. Begitu pula kau, sekarang kau sudah tahu jalannya, agar bisa lebih banyak menang daripada kalahnya kau harus berlatih dengan giat, lewat 20 tahun lagi paling tidak kau sudah dapat menjagoi dunia persilatan di samping tokoh-tokoh yang lain.” Lenghou Tiong tahu perubahan ilmu pedang Tokko-kiu-kiam itu tak terbatas, untuk dapat menguasainya boleh dikata sukar dipastikan waktunya, kalau Hong Jing-yang menyuruhnya untuk berlatih lagi 20 tahun juga bukan sesuatu yang luar biasa. Maka jawabnya, “Jika dalam 20 tahun cucu dapat menguasai dan meneruskan cita-cita Tokko-locianpwe yang menciptakan kesembilan jurus ilmu pedang ini, maka cucu benar-benar merasa syukur tak terhingga.” “Hendaklah kau mengetahui bahwa ilmu pedang ciptaan Tokko-locianpwe ini tidak cukup dihafalkan di luar kepala saja, yang lebih penting adalah memahami daya gunanya, kalau sudah dapat menguasai cara penggunaannya, di kala berhadapan dengan musuh, semakin tak terikat oleh susunan ilmu pedang yang kau hafalkan itu semakin baik. Bakatmu sangat baik, adalah sangat tepat untuk belajar ilmu pedang ini. Untuk selanjutnya kau boleh berlatih sendiri dengan giat. Sekarang aku akan pergi saja.” “Thaysusiokco, engkau hen … hendak ke mana?” tanya Lenghou Tiong terkejut. “Aku memang tinggal di gua belakang sana selama berpuluh tahun,” sahut Hong Jing-yang. “Kemarin dulu karena rasa iseng aku telah keluar gua dan mengajarkan ilmu pedang ini padamu dengan harapan ilmu sakti ciptaan Tokko-locianpwe tidak sampai musnah. Sekarang kau sudah mempelajarinya dengan lengkap, cita-citaku sudah terkabul, mengapa aku tidak lekas pulang saja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: