Hina Kelana: Bab 33. Caranya Membikin Dian Pek-kong Roboh Tertutuk

Sungguh heran Lenghou Tiong tak terkatakan, ia tidak tahu dari mana munculnya kakek itu, mengapa sedikit pun tidak berasa dan tahu-tahu orang sudah berdiri di belakangnya. Tengah ragu-ragu, terdengar Dian Pek-kong telah menegur si kakek, “Apakah engkau adalah … adalah Hong-losiansing?” Si kakek menghela napas, sahutnya, “Sungguh tidak nyana bahwa di dunia ini masih ada orang yang kenal namaku.” Diam-diam Lenghou Tiong heran, bahwasanya Hoa-san-pay sendiri terdapat seorang tokoh angkatan tua, mengapa selama ini guru dan ibu-gurunya tak pernah membicarakannya? Jangan-jangan dia cuma menurutkan ucapan Dian Pek-kong tadi dan memalsukan. Pula, masakah begini kebetulan, baru saja Dian Pek-kong menyebut Hong Jing-yang, ternyata benar-benar menongol seorang Hong Jing-yang. Terdengar kakek itu lagi berkata, “Lenghou Tiong, kau bocah ini memang tidak becus! Coba sini, biar aku mengajar kau. Lebih dulu kau menggunakan jurus ‘Pek-hong-koan-jit’, lalu jurus ‘Yu-hong-lay-gi’, menyusul jurus ….” begitulah ia lalu mencerocos sekaligus sampai 30 jurus. Ke-30 jurus yang diuraikan itu sudah pernah dipelajari semua oleh Lenghou Tiong, beberapa jurus di antaranya bahkan terlalu biasa baginya, dalam latihan sehari-hari dengan sesama saudara seperguruan saja sungkan digunakan, masakah sekarang malah dipakai untuk menempur Dian Pek-kong, sudah pasti tidak cukup kuat. Tapi si kakek sudah lantas menegurnya, “Apa yang kau ragukan? Tiga puluh jurus sekaligus dimainkan memang tidak gampang, boleh coba kau mengulangi dulu satu kali.” Pikir Lenghou Tiong tiada jelek untuk mencobanya. Segera ia menurut, lebih dulu ia memainkan jurus Pek-hong-koan-jit, jurus ini ujung pedang mengacung ke atas di waktu ditarik kembali, sedangkan jurus kedua Yu-hong-lay-gi harus menusuk dari bawah ke atas, jadi kedua jurus ini satu sama lain tak bisa menyambung. Keruan Lenghou Tiong tertegun dan tak bisa melanjutkan. Si kakek yang mengaku bernama Hong Jing-yang itu menghela napas, omelnya, “Bodoh, goblok! Pantas kau adalah muridnya Gak Put-kun, tidak bisa melihat gelagat, tak dapat berubah haluan menurut keadaan. Ilmu pedang harus dapat dimainkan secara bebas menurut keinginan. Sehabis jurus Pek-hong-koan-jit tadi, biarpun ujung pedang mengacung ke atas, masakah kau tak dapat menariknya kembali sambil menusuk? Biarpun menurut teori ilmu pedang tiada gerakan demikian, apakah kau tak bisa melakukannya sendiri sesuai dengan keadaan?” Petunjuk ini seketika menyadarkan Lenghou Tiong, pedangnya menurun, dengan sendirinya lantas melancarkan jurus Yu-hong-lay-gi dan begitu seterusnya dia dapat memutar pedangnya dengan lancar dan rapat. Seperti ajaran si kakek tadi, sekaligus ia telah memainkan 30 jurus. “Ya, boleh sih sudah boleh, cuma sayang masih kaku dan lambat,” ujar si kakek. “Namun untuk melayani bocah keparat itu rasanya sudahlah cukup. Nah, boleh coba maju saja.” Walaupun masih meragukan si kakek adalah Susiokconya sendiri, tapi apa pun juga pastilah dia seorang tokoh persilatan angkatan tua, hal ini tidak perlu disangsikan lagi. Maka ia lantas memberi hormat dan mengucapkan terima kasih, lalu berpaling ke arah Dian Pek-kong dan berkata, “Marilah Dian-heng, kita mulai lagi!” “Apa gunanya?” sahut Dian Pek-kong. “Aku sudah hafal dengan ke-30 jurus seranganmu ini. Jika kita bertanding lagi, biarpun aku menang juga tidak terhormat.” “Jika demikian, ya, baik juga, silakan saja Dian-heng pergi dari sini,” sahut Lenghou Tiong. “Aku harus banyak minta petunjuk kepada Locianpwe ini dan tiada tempo buat mengobrol dengan Dian-heng.” “Apa artinya ucapanmu ini?” seru Dian Pek-kong dengan aseran. “Kau tidak mau ikut pergi bersama aku, ini berarti jiwaku akan korban percuma gara-garamu.” Lalu ia berpaling kepada si kakek dan berkata, “Hong-locianpwe, Dian Pek-kong adalah bocah kemarin saja dan tidak sesuai untuk bergebrak dengan engkau. Bila engkau sampai ikut turun tangan tentu akan merendahkan kedudukanmu.” Si kakek menghela napas sambil manggut-manggut, tanpa menjawab ia lantas mendekati batu besar di sebelah sana dan duduk. Tentu saja Dian Pek-kong merasa lega, segera ia membentak, “Lihat serangan!” dan goloknya terus membacok ke arah Lenghou Tiong. Cepat Lenghou Tiong mengegos terus balas menebas sesuai dengan jurus keempat menurut petunjuk si kakek. Dan sekali serangannya sudah lancar, susul-menyusul serangan yang lain lantas membanjir dengan lincah. Yang digunakan terkadang adalah jurus-jurus menurut petunjuk si kakek, tapi terkadang di luar ke-30 jurus yang disebut si kakek tadi. Setelah menyadarkan kebebasan ilmu pedang yang tidak terikat oleh suatu gerakan tertentu, seketika ilmu pedang Lenghou Tiong maju dengan pesat. Dengan sengit ia labrak Dian Pek-kong sehingga seratus jurus lebih dan masih belum tentu kalah atau menang. Sampai akhirnya tenaganya mulai lemas. Mendadak Dian Pek-kong menggertak dan goloknya terus membacok. Bacokan itu tampaknya sukar dihindarkan. Lenghou Tiong menjadi nekat, berbareng ia pun mengacungkan ujung pedang untuk menikam dada lawan. Tapi golok Dian Pek-kong telah diputar ke samping terus memotong ke bawah, “trang”, kedua senjata terbentur dan tanpa menunggu Lenghou Tiong menarik kembali pedangnya, mendadak Dian Pek-kong melepaskan goloknya sambil menubruk maju, kedua tangannya dengan kuat mencekik leher Lenghou Tiong. Seketika napas Lenghou Tiong menjadi sesak, tanpa kuasa pedangnya juga terlepas dari cekalan. “Pendek kata, jika kau tidak ikut aku turun dari sini, segera kucekik mampus kau!” teriak Dian Pek-kong dengan kalap. Muka Lenghou Tiong tampak merah padam karena tak bisa bernapas, tapi dia masih menggeleng tanda tetap tidak mau menurut. Keruan Dian Pek-kong semakin murka, teriaknya, “Biar seratus atau dua ratus jurus, asal aku yang menang, kau harus ikut pergi bersama aku. Peduli apa tentang 30 jurus segala.” Mestinya Lenghou Tiong ingin bergelak tertawa untuk mengolok-oloknya, tapi tenggorokannya tercekik oleh sepuluh jari lawan yang kuat laksana tanggam, maka terpaksa ia hanya menyeringai saja tanpa bisa bersuara. Tiba-tiba terdengar si kakek tadi berkata pula dengan nada gegetun, “Goblok, sungguh goblok, tangan tidak pegang pedang, jari tangan juga merupakan pedang. Apakah jurus ‘Kun-giok-boan-tong’ (kemala emas memenuhi ruangan) itu tidak dapat dilakukan dengan jari tangan?” Terkilas seketika petunjuk itu di dalam benak Lenghou Tiong, tanpa ragu-ragu lagi kelima jarinya terus menusuk ke depan seperti tusukan pedang dalam jurus “Kun-giok-boan-tong”. Kontan Dian Pek-kong bersuara tertahan dan roboh terkulai. Kesepuluh jari yang mencekik leher Lenghou Tiong itu lantas terlepas. Sungguh sama sekali Lenghou Tiong tak menyangka bahwa hanya sekali tutuk begitu saja ternyata membawa tenaga yang begitu kuat sehingga tokoh selihai Dian Pek-kong itu dengan gampang saja sudah kena ditutuk roboh. Ia coba meraba-raba leher sendiri yang tercekik tadi, rasanya masih panas. Dilihatnya maling cabul itu sudah terkulai dan melingkar seperti udang dengan tiada hentinya berkejang. Kejut dan girang Lenghou Tiong tak terkatakan, seketika tak terhingga rasa kagumnya kepada si kakek, segera ia mendekatinya dan menyembah, serunya, “Thaysusiokco, maafkan cucu murid tadi bersikap kurang hormat.” Habis berkata, berulang-ulang ia terus menjura. “Sekarang kau tidak menyangsikan aku sebagai penipu lagi, bukan?” kata si kakek dengan tertawa hambar. “Ampun, mana cucu berani,” sahut Lenghou Tiong sambil menyembah pula. “Sungguh cucu sangat beruntung dapat berjumpa dengan angkatan tua dari golongan sendiri seperti kakek, hal ini benar-benar sangat menggirangkan.” “Bangunlah kau,” kata si kakek yang bernama Hong Jing-yang. Sesudah menjura beberapa kali lagi barulah Lenghou Tiong merangkak bangun. Dilihatnya wajah si kakek sangat pucat dan kurus seperti orang habis sakit. Segera ia berkata, “Thaysusiokco, apakah engkau lapar? Di dalam gua sini ada tersedia sedikit ransum kering.” Lalu ia hendak pergi mengambilkan. Namun Hong Jing-yang telah menggeleng, katanya, “Tidak perlu!” Sambil memandang sinar matahari yang menyilaukan kemudian ia berkata pula perlahan, “Hangat benar sinar mentari ini, sudah ada berpuluh tahun aku tidak berjemuran di bawah sinar matahari.” Diam-diam Lenghou Tiong sangat heran, tapi tidak berani bertanya. Hong Jing-yang memandang sekejap kepada Dian Pek-kong yang menggeletak itu, lalu berkata, “Dia punya Tan-tiong-hiat telah kau tutuk, dengan kekuatannya satu jam kemudian dia akan dapat menyadarkan diri, nanti dia pasti akan merecoki kau lagi tak habis-habis. Kau dapat menggunakan jari tangan sebagai pedang, bila kau dapat mengalahkan dia dalam 30 jurus sehingga dia menginsafi bukan tandinganmu, terpaksa dia akan mengeluyur pergi. Tapi sesudah kau mengalahkan dia, kau harus paksa dia bersumpah takkan menyiarkan sepatah kata pun tentang diriku di sini.” “Tadi cucu sudah bertanding berulang-ulang dengan dia dengan memakai pedang dan selalu kalah, apalagi dengan bertangan kosong, masakah dapat ….” kata Lenghou Tiong dengan ragu-ragu. Hong Jing-yang menghela napas, katanya dengan perlahan, “Satu jam saja rasanya sudah cukup. Kau adalah muridnya Gak Put-kun, mestinya aku tidak ingin mengajarkan ilmu silat padamu, tapi sudah lama aku ‘cuci tangan’ dan tidak pernah bergebrak dengan orang lagi. Kalau aku tidak pinjam tanganmu tentu sukar memaksa dia bersumpah dan tutup mulut tentang rahasia diriku. Coba kau ikut masuk kemari.” Habis berkata ia lantas masuk ke dalam dan menerobos ke gua belakang melalui lubang yang digali Lenghou Tiong itu. Segera Lenghou Tiong ikut masuk ke sana. Sambil menunjukkan ukiran-ukiran dinding itu Hong Jing-yang berkata, “Gambar-gambar ukiran ini tentunya sudah kau periksa dan sudah ingat betul, cuma cara memainkannya sama sekali bukan begitu. Gak Put-kun si bocah itu benar-benar tidak becus. Padahal bakatmu sangat baik, tapi telah dididik olehnya sampai sebodoh kerbau.” Biasanya Lenghou Tiong paling hormat dan mencintai sang guru, demi mendengar ucapan Hong Jing-yang yang mengolok-olok Gak Put-kun itu, seketika ia menjawab dengan tegas, “Thaysusiokco, aku tidak mau minta belajar padamu, sudah, biarlah aku keluar saja dan membinasakan Dian Pek-kong itu dan habis perkara.” Hong Jing-yang melengak, tapi segera ia tahu sebab musababnya. Dengan hambar ia berkata pula, “Kau sudah kalah beberapa kali dan dia tidak mau melukai kau, tapi baru saja kau bisa menang sudah lantas mau membunuhnya. Apakah anak murid Hoa-san-pay memang manusia-manusia yang tak tahu budi orang? Apakah kau sirik karena aku memaki gurumu? Baiklah, selanjutnya aku takkan menyinggung dia. Tapi jelek-jelek aku adalah Susiokconya, jika aku menyebutnya ‘bocah’ tentunya masih boleh, bukan?” “Asalkan selanjutnya Thaysusiokco tidak memaki lagi guruku yang berbudi, tentu cucu akan menuruti segala pengajaranmu,” sahut Lenghou Tiong. “Ha, jadi seakan-akan aku yang minta kau belajar, ya?” ujar Hong Jing-yang dengan tersenyum. “Cucu tidak berani berpikir demikian, mohon Thaysusiokco maafkan,” kata Lenghou Tiong. Lalu Hong Jing-yang mulai menunjuk ukiran ilmu pedang Hoa-san-pay di dinding gua itu, katanya, “Jurus-jurus serangan ini memang benar kepandaian hebat dari golongan kita. Di antaranya ada sebagian yang sudah lama hilang tak terturunkan, sampai-sampai … gurumu juga tidak paham. Namun jurus-jurus serangan itu meski bagus, bila sejurus demi sejurus dipisahkan cara memakainya tetap akan dapat dipecahkan musuh ….” Mendengar sampai di sini tergeraklah hati Lenghou Tiong. Lapat-lapat seperti diketemukanlah suatu intisari dari ilmu pedang, tanpa merasa air mukanya menampilkan rasa kegirangan luar biasa. “Apakah kau sudah paham? Coba terangkan,” ujar Hong Jing-yang. “Tidakkah Thaysusiokco hendak mengutarakan bilamana jurus demi jurus itu dimainkan menjadi suatu rangkaian, maka musuh takkan mampu memecahkannya,” sahut Lenghou Tiong. Hong Jing-yang manggut-manggut girang, katanya, “Benar, memangnya aku sudah bilang bakatmu sangat baik, nyatanya daya tangkapmu memang sangat tinggi. Para Tianglo dari Mo-kau ini ….” sembari berkata ia telah menunjuk suatu ukiran orang-orangan yang memakai senjata toya. “O, dia itu adalah Tianglo dari Mo-kau?” Lenghou Tiong menegas. “Apakah kau belum tahu?!” sahut Hong Jing-yang. “Kesepuluh kerangka tengkorak yang terdapat di sini ini adalah sepuluh Tianglo dari Mo-kau.” “Mengapa mereka bisa mati semua di sini?” tanya Lenghou Tiong dengan heran. “Akulah yang membunuh mereka!” kata Hong Jing-yang. Padahal para Tianglo dari Mo-kau selamanya terkenal memiliki ilmu silat mahatinggi, tapi kata-kata “akulah yang membunuh mereka” yang diucapkan Hong Jing-yang itu kedengarannya biasa saja seakan-akan dia hanya memites mati sepuluh ekor semut. “Selang satu jam lagi Dian Pek-kong sudah akan mendusin, tapi kau terus tanya tentang kejadian-kejadian di masa lampau, apakah tempomu untuk belajar ilmu silat takkan terbuang percuma?” “O, ya, silakan Thaysusiokco memberi petunjuk,” cepat Lenghou Tiong mengiakan. Sesudah menghela napas gegetun, lalu Hong Jing-yang berkata, “Para Tianglo dari Mo-kau ini sebenarnya semua cerdik dan pandai, mereka telah dapat memecahkan habis-habisan seluruh ilmu pedang Ngo-gak-kiam-pay yang paling tinggi. Ai, sungguh sayang, sayang mereka terpaksa harus kubunuh semua.” Diam-diam Lenghou Tiong menggerutu, “Baru saja kau mengomeli aku membuang tempo percuma karena bertanya tentang Tianglo-tianglo dari Mo-kau itu, tapi sekarang kau sendiri malah mencerocos terus.” Walaupun demikian pikirnya, namun lahirnya dia tidak perlihatkan sesuatu tanda apa-apa. Maka Hong Jing-yang telah menyambung pula, “Sungguh sayang mereka tidak paham bahwa jurus serangan adalah mati, tapi orang yang memainkan jurus serangan itulah yang hidup. Biarpun kau pandai menghancurkan jurus serangan yang mati, kalau kebentur jurus serangan yang hidup, tentu kaulah yang akan celaka. Jadi yang harus diingat betul-betul adalah kata-kata ‘hidup’ tadi. Belajar serangan harus mempelajari cara hidup, di waktu menyerang harus menyerang secara hidup. Apabila ragu-ragu dan kaku, biarpun kau sudah hafal beribu-ribu jurus serangan lihai juga percuma bila ketemukan lawan tangguh.” Sungguh girang Lenghou Tiong tak terkatakan, memangnya dia adalah seorang pemuda yang lincah dan penuh semangat, uraian Hong Jing-yang itu benar-benar kena pada lubuk hatinya. Maka berulang-ulang ia menjawab, “Ya, ya, betul, harus belajar dan menggunakannya secara hidup.” “Di dalam Ngo-gak-kiam-pay kita memang banyak sekali orang-orang tolol,” kata Hong Jing-yang lebih jauh. “Mereka mengira asalkan dapat belajar sebaik mungkin ajaran-ajaran sang guru dan dengan sendirinya mereka pun akan menjadi jagoan. Padahal, hm, apa artinya kalau cuma pandai bersanjak saja tanpa memahami makna sanjak itu sendiri. Biarpun dapat juga menggubah sebuah dua syair pasaran, tapi kalau tidak timbul dari jiwa seninya yang hidup, apakah dapat menjadi penyair yang besar?” Sesungguhnya dengan ucapan Hong Jing-yang ini juga Gak Put-kun ikut terkena. Tapi karena merasa uraian itu memang cukup beralasan, pula nama Gak Put-kun tidak langsung disebut, maka Lenghou Tiong tidak menyatakan keberatannya pula. Hong Jing-yang telah menyambung lagi, “Belajar dan menggunakannya secara hidup hanya langkah pertama saja. Harus dapat melaksanakan menyerang tanpa jurus, dengan demikian barulah benar-benar telah mencapai tingkatan yang paling sempurna. Tadi kau bilang jurus demi jurus sekaligus dilancarkan menjadi suatu rangkaian serangan sehingga musuh tak mampu melawan, ucapanmu ini hanya tepat separuh saja. Mestinya bukan cuma sekaligus dilancarkan menjadi suatu rangkaian serangan, tapi pada hakikatnya harus tidak jelas jurus apa yang dilancarkan. Kalau menyerang tanpa diketahui jurus serangannya, dengan sendirinya musuh tak dapat lagi memecahkan seranganmu.” Hati Lenghou Tiong sampai berdebar-debar, diam-diam ia menggumam sendiri, “Menyerang tanpa jurus, cara bagaimana dapat memecahkannya?” “Seumpama seorang yang tak pernah belajar silat, dia memutarkan pedang secara serabutan, dalam keadaan demikian biarpun betapa pandainya kau juga tidak tahu dia hendak menyerang ke mana, jangankan lagi bicara tentang memecahkan jurus serangannya. Cuma serangan tanpa jurus bagi orang yang tak pernah belajar silat itu tentu saja akan gampang dikalahkan oleh orang yang pandai, tapi kalau ilmu pedang yang sempurna hanya dapat mengatasi orang dan tidak dapat diatasi orang.” Sampai di sini Hong Jing-yang lantas menjemput sekerat tulang kaki tengkorak di atas tanah, sekenanya ia acungkan ujung tulang kaki itu ke arah Lenghou Tiong dan bertanya, “Coba, cara bagaimana kau akan mematahkan jurus seranganku ini?” Karena tidak tahu gaya jurus serangan apa itu, dengan melengak Lenghou Tiong menjawab, “Ini bukan jurus serangan sehingga tak bisa dipecahkan.” “Itulah dia!” ujar Hong Jing-yang dengan tersenyum. “Tapi kalau musuh menggunakan senjata atau pukulan dan tendangan, karena dia memakai jurus serangan, asal kau tahu cara memecahkan serangannya dengan segera kau sudah dapat mengatasi dia dan merobohkannya.” “Jika musuh juga tidak pakai jurus serangan, lantas bagaimana?” tanya Lenghou Tiong. “Jika demikian tentu musuh juga tokoh kelas wahid, untuk ini harus tergantung kepada kesudahannya, mungkin dia lebih mahir daripada kau atau mungkin juga kau lebih pandai,” sahut Hong Jing-yang. Sesudah menghela napas, lalu ia menyambung pula, “Tapi di zaman ini sudah sukar dicari lagi tokoh lihai demikian itu. Bila secara kebetulan dapat kau ketemukan seorang-dua, maka terhitung kau yang beruntung. Selama hidupku juga cuma bertemu dengan tiga orang tokoh demikian saja.” “Ketiga tokoh siapakah mereka itu?” tanya Lenghou Tiong. Hong Jing-yang menatapnya sejenak dengan tersenyum, sahutnya kemudian, “Sungguh tidak nyana di antara murid Gak Put-kun ternyata ada yang suka urus hal tetek bengek dan tidak mau belajar secara tekun. Hah, bagus, bagus!” Muka Lenghou Tiong menjadi merah, cepat ia memberi hormat dan berkata, “Ya, Tecu memang bersalah.” “Tidak salah, tidak salah!” seru Hong Jing-yang dengan tertawa. “Kau bocah ini mempunyai semangat yang hidup, ini cocok sekali dengan seleraku. Cuma temponya sekarang hanya sedikit saja, bolehlah kau melebur 30-40 jurus ilmu pedang Hoa-san-pay kita yang paling hebat, bayangkan saja cara bagaimana akan dimainkan sekaligus menjadi suatu rangkaian, lalu melupakannya seluruhnya, ya, melupakannya sama sekali, satu jurus pun jangan tertinggal dalam benakmu. Dan sebentar lagi bila kau bertempur dengan Dian Pek-kong, bolehlah kau menggunakan ilmu pedang jurus itu untuk melabraknya.” Lenghou Tiong mengiakan dan segera memusatkan perhatian untuk memeriksa gambar-gambar ukiran dinding. Selama beberapa bulan ini sebenarnya dia sudah hampir merata mengikuti semua ukiran itu. Sekarang dia hanya berusaha merangkaikan ilmu pedang dari Hoa-san-pay sendiri agar bisa dimainkan dengan sekaligus tanpa terputus. “Segala sesuatu harus dibiarkan berjalan menurut apa adanya, jika satu dan lain sukar dirangkaikan janganlah sekali-kali dipaksakan,” kata Hong Jing-yang. Petunjuk ini lebih memudahkan lagi bagi Lenghou Tiong, ia tak perlu memilih jurus-jurus serangan itu lagi, tidak antara lama beberapa puluh jurus ilmu pedang Hoa-san-pay itu sudah dapat dirangkaikan menjadi satu, yang masih sukar hanya cara melebur jurus-jurus serangan itu sehingga tiada lubang sedikit pun. Begitulah ia terus memutar pedangnya menebas ke sana dan memotong ke situ, sedikit pun ia tidak hiraukan apakah gaya serangannya itu mirip dengan gambar ukiran yang dilihatnya atau tidak, dia melontarkan gaya serangan sesuka hatinya, terkadang serangannya menjadi sangat lancar, hal ini sangat menyenangkan hatinya. Selama belasan tahun ia berguru dan berlatih, setiap kali harus berlatih sepenuh semangat dan tenaga, sedikit pun tidak boleh sembrono, sebab pengawasan Gak Put-kun sangat keras, setiap jurus tak boleh dilewatkan bila belum dimainkan dengan tepat. Tapi ajaran Hong Jing-yang sekarang ternyata terbalik, yakni menyuruhnya sesuka hatinya, makin bebas makin baik, ini memang sangat cocok dengan jiwa Lenghou Tiong malah. Ia terus putar pedangnya dengan segala kebebasan, rasanya senang dan puas tak terkatakan. Tiba-tiba terdengar Dian Pek-kong berteriak di luar gua sana, “Lenghou-heng, silakan keluar untuk bertanding lagi.” Lenghou Tiong terkesiap, cepat ia menghentikan permainannya dan bertanya kepada Hong Jing-yang, “Thaysusiokco, cara permainanku ini apakah sudah dapat menahan serangan kilat goloknya?” “Mana bisa? Masih selisih terlalu jauh!” sahut Hong Jing-yang sambil menggeleng. “Tak bisa menahan serangannya?” Lenghou Tiong menegas dengan kejut. “Jika hendak menahannya sudah tentu tidak dapat, tapi buat apa sih kau menahan serangannya?” ujar si kakek. Seketika sadarlah Lenghou Tiong, pikirnya dengan girang, “Benar, maksud tujuan Dian Pek-kong ialah minta aku ikut dia turun gunung dan dia sekali-kali tidak berani membunuh aku. Asalkan aku terus menyerang saja tanpa menghiraukan jurus serangannya, akhirnya tentu aku bisa melawannya lebih dari 30 jurus.” Segera ia berlari keluar gua dengan pedang terhunus. Dilihatnya Dian Pek-kong sudah siap dengan goloknya dan lantas menegurnya, “Lenghou-heng, sesudah kau diberi petunjuk oleh Hong-locianpwe, ilmu pedangmu memang nyata sudah maju pesat. Cuma robohnya aku tadi adalah karena sedikit ayal sehingga kena tertutuk olehmu. Betapa pun aku tetap penasaran dan tidak menyerah, mari kita coba bertanding lagi.” “Baik,” kata Lenghou Tiong, kontan pedangnya lantas menusuk secara miring dan menceng, batang pedangnya bergoyang-goyang, sedikit pun tidak membawa tenaga serangan. Keruan Dian Pek-kong terheran-heran. “Jurus serangan apakah ini?” demikian ia bertanya-tanya di dalam hati. Dilihatnya serangan Lenghou Tiong itu sampai di tengah jalan mendadak berubah lagi. Sekonyong-konyong tangannya mengkeret mundur ke samping, pedangnya menusuk ke tempat yang kosong, menyusul gagang pedang ditarik mundur seperti hendak disodokkan ke dadanya sendiri. Tapi di luar dugaan pergelangan tangannya terus memutar pula sehingga sodokan gagang pedang itu menuju ke tempat kosong pula di samping badan. Keruan Dian Pek-kong tambah heran. “Apakah dia sudah gila?” demikian pikirnya. Ia coba memancingnya dengan golok membacok. Tapi sama sekali Lenghou Tiong tidak menghindar atau mengegos, sebaliknya ujung pedangnya terus ditarik kembali dan menusuk ke perut Dian Pek-kong. “Aneh!” seru Dian Pek-kong sambil menarik kembali goloknya untuk menangkis ke bawah. Tak tersangka Lenghou Tiong mendadak melemparkan pedangnya ke udara. Saking herannya Dian Pek-kong sampai menengadah. Pada saat itulah, “plak”, tahu-tahu hidungnya telah kena dijotos oleh Lenghou Tiong sehingga keluar kecapnya alias mengucurkan darah. Dan di tengah Dian Pek-kong masih terkejut itulah secepat kilat Lenghou Tiong menggunakan jari tangan sebagai pedang, untuk kedua kalinya kembali ia menutuk Tan-tiong-hiat lawan. Tanpa ampun lagi tubuh Dian Pek-kong lemas terkulai pula dengan air muka yang penuh kejut, heran dan amat marah pula. Waktu Lenghou Tiong memutar tubuh, Hong Jing-yang telah memanggilnya masuk ke gua lagi, katanya, “Kembali kau mendapatkan kesempatan satu setengah jam untuk berlatih ilmu pedang. Dia roboh untuk kedua kalinya, keadaannya tambah payah sehingga waktu sadarnya akan tambah lama. Cuma pertarungan selanjutnya boleh jadi dia akan menggunakan serangan-serangan berbahaya, kau harus lebih hati-hati. Cobalah sekarang kau melatih ilmu pedang dari Heng-san-pay.” Begitulah, dengan petunjuk Hong Jing-yang itu, ilmu pedang yang dimainkan Lenghou Tiong menjadi sukar diraba perubahan jurus serangannya sehingga Dian Pek-kong kena ditutuk roboh berturut-turut dua kali. Sementara itu hari sudah dekat magrib, Liok Tay-yu datang mengantarkan daharan pula. Lenghou Tiong sudah menyembunyikan Dian Pek-kong yang tidak bisa berkutik itu di belakang batu karang, sedang Hong Jing-yang berada di gua belakang. Lenghou Tiong berkata kepada Liok Tay-yu, “Nafsu makanku mulai tambah baik, besok Laksute boleh tambahkan sedikit nasi dan sayur-mayur.” Melihat semangat Toasukonya sudah banyak lebih segar, Liok Tay-yu ikut bergirang. Ia menyanggupi besok akan membawakan daharan yang lebih banyak. Sesudah Liok Tay-yu pergi, Lenghou Tiong lantas membuka Hiat-to Dian Pek-kong dan mengajak dia dan Hong Jing-yang makan bersama. Hong Jing-yang hanya makan sedikit saja sudah cukup, sebaliknya Dian Pek-kong masih penasaran dan kurang nafsu makan, sambil menyumpit nasi sembari mencaci maki. “Prak”, mendadak mangkuk yang dipegangnya terpencet pecah sehingga isinya bertebaran. Lenghou Tiong terbahak-bahak, katanya, “Buat apa Dian-heng mesti marah-marah kepada sebuah mangkuk nasi?” “Aku tidak marah kepada mangkuk nasi, tapi marah padamu, keparat!” teriak Dian Pek-kong dengan mencaci maki. “Lantaran aku tidak mau membunuh kau, maka di waktu bertanding kau melulu menyerang tanpa bertahan sehingga menguntungkan kau. Hm, hm, dasar Nikoh celaka itu ….” dia mestinya hendak mencaci maki Gi-lim, tapi entah mengapa dia tidak melanjutkan. Tapi lantas berseru pula, “Lenghou Tiong, kalau berani hayolah coba bertanding lagi!” “Baik!” sahut Lenghou Tiong sambil berbangkit. Pertarungan ulangan ini berlangsung dengan lebih seru dan sengit. Lenghou Tiong menggunakan cara lama, dia hanya menyerang saja dan tidak menghiraukan serangan Dian Pek-kong. Tak tersangka sekali ini Dian Pek-kong sudah ganti siasat, serangannya juga ganas, “sret-sret” dua kali, berturut-turut paha dan lengan kiri Lenghou Tiong telah kena dilukai. Nyata dia sudah jengkel, walaupun tidak bermaksud membunuh, tapi ia sengaja melukai anggota badan Lenghou Tiong agar dia kesakitan dan jeri. Karena itu permainan pedang Lenghou Tiong menjadi kacau, hanya dalam beberapa jurus saja ia sudah ditendang roboh oleh Dian Pek-kong. Dengan tertawa senang Dian Pek-kong mengancam tenggorokan Lenghou Tiong dengan goloknya, katanya, “Nah, masih mau coba lagi tidak? Pendek kata, setiap kali bergebrak setiap kali pula akan kupersen kau dengan beberapa luka, biarpun tidak kubunuh juga sekujur badanmu pasti akan babak belur dan mengucurkan darah.” “Sudah tentu akan kulawan terus,” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. “Seumpama aku kalah, apakah Thaysusiokco juga akan tinggal diam?” “Beliau adalah tokoh angkatan tua, tidak nanti dia sudi bergebrak dengan aku,” ujar Dian Pek-kong sembari menyimpan kembali goloknya. Hatinya kebat-kebit juga, khawatir kalau-kalau Hong Jing-yang benar-benar membela Lenghou Tiong yang dilukai itu, asal dirinya digebah pergi saja sudah bisa membikin runyam. Lenghou Tiong lantas merobek kain baju sendiri untuk membalut kedua tempat lukanya, lalu masuk ke dalam gua. Katanya dengan muka cemberut kepada Hong Jing-yang, “Wah, dia sudah ganti siasat, Thaysusiokco. Dia telah main serang sungguh-sungguh, bila lengan kanan kena dilukai dia, tentu aku tak bisa memegang senjata dan akan kalah.” “Baiknya sekarang sudah malam, kau boleh janji untuk bertanding lagi pada besok pagi,” ujar Hong Jing-yang. “Malam ini kau jangan tidur, semalam suntuk kau harus berlatih segiatnya, aku akan mengajarkan tiga jurus ilmu pedang padamu.” “Hanya tiga jurus?” Lenghou Tiong menegaskan. Ia heran, hanya tiga jurus saja buat apa perlu makan waktu semalam suntuk? “Kulihat kau ini cukup pintar, cuma entah pintar sungguh-sungguh atau pintar pura-pura atau sok pintar saja,” kata Hong Jing-yang. “Jika kau memang betul-betul pintar, maka tiga jurus ini pasti akan kau kuasai dalam semalam ini. Tapi bila bakatmu kurang baik, daya tangkapmu kurang cekatan, maka … maka besok pagi kau pun tidak perlu berkelahi lagi dengan dia, kau terima mengaku kalah saja dan ikut pergi bersama dia.” Mendengar uraian ini, Lenghou Tiong menduga ketiga jurus ilmu pedang ini pasti luar biasa, tentu sangat sukar dipelajari. Tapi hal ini malah menimbulkan rasa ingin tahu dan semangat belajarnya. Dengan tegas ia menjawab, “Thaysusiokco, meski bakat cucu kurang cukup dan mungkin tidak sanggup mempelajari tiga jurus ilmu pedang itu dalam semalam saja, tapi aku lebih suka dibunuh olehnya daripada menyerah dan ikut pergi bersama dia.” “Ehm, bagus itu,” kata Hong Jing-yang dengan tertawa. Ia menengadah dan memikir sejenak, kemudian katanya pula, “Semalam mempelajari tiga jurus mungkin terlalu dipaksakan bagimu. Biarlah jurus kedua itu boleh ditunda saja, kita hanya mempelajari jurus pertama dan ketiga saja. Cuma … cuma jurus ketiga itu banyak perubahan-perubahan yang berasal dari jurus kedua. Namun, biarlah kita kesampingkan dulu bagian-bagian tertentu yang ada hubungannya dengan jurus kedua, boleh kita coba nanti.” Ia berbicara sendiri, lalu merenung lagi, akhirnya geleng-geleng pula. Keruan Lenghou Tiong dibuatnya kelabakan dan semakin ketarik, sebab ia tahu setiap ilmu silat yang semakin sulit dipelajari tentu mempunyai manfaat yang semakin besar. Didengarnya Hong Jing-yang sedang menggumam lagi, “Jurus pertama itu mengandung 360 gerak perubahan, jika lupa satu perubahan saja tentu jurus ketiga akan sukar dimainkan dengan tepat. Wah, ini menjadi agak sulit.” Kembali Lenghou Tiong terkejut mendengar bahwa jurus pertama saja meliputi 360 gerak perubahan. Dilihatnya Hong Jing-yang sedang menghitung-hitung dengan jarinya sambil komat-kamit entah menyebut istilah-istilah apa, yang terang air mukanya makin kelihatan muram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: