Hina Kelana: Bab 32. Dian Pek-kong Diracun Orang dan Munculnya Jago Tua Hoa-san-pay Hong Jing-yang

Sebenarnya Dian Pek-kong tiada maksud hendak membunuh Lenghou Tiong. Pikirnya, “Pemuda itu lebih suka mati daripada menyerah, sulit juga untuk dilayani. Jika sampai bergebrak, aku tidak dapat membunuh dia, sebaliknya dia menyerang dengan nekat, hal ini tidaklah menguntungkan bagiku.” Tiba-tiba ia mendapat akal, katanya segera, “Lenghou Tiong, kita tidak punya permusuhan, buat apa mesti mengadu jiwa? Tidakkah lebih baik kita bertaruh saja?” Lenghou Tiong menjadi girang, memang cara demikianlah yang diharap-harapkan. Jika taruhannya kalah, paling tidak masih dapat main pokrol untuk menyanggahnya. Walaupun demikian pikirannya, tapi mulutnya pura-pura enggan. Katanya, “Taruhan apa? Bila menang aku tetap tidak mau pergi, sekalipun kalah juga aku tidak mau pergi.” “Memangnya murid pertama Hoa-san-pay sedemikian takutnya terhadap ilmu golok kilat Dian Pek-kong ini sehingga 30 jurus saja tidak berani terima?” ejek Dian Pek-kong. “Apa yang kutakuti? Paling banter terbunuh saja, kenapa mesti takut?” jengek Lenghou Tiong dengan gusar. “Lenghou-heng,” kata Dian Pek-kong, “bukanlah aku memandang enteng padamu, namun kukira 30 jurus ilmu golok kilatku ini sukar bagimu untuk menerimanya. Jika kau mampu menerima 30 jurus seranganku, seketika juga aku akan mohon diri dan tinggal pergi tanpa mengusik padamu lagi. Tapi kalau beruntung aku yang menang, maka kau harus berjanji akan ikut pergi menemui Gi-lim Siausuthay.” Sekejapan itu pikiran Lenghou Tiong bekerja cepat mengingat kembali ilmu golok Dian Pek-kong itu. Dari pengalaman pertempuran dua kali, ditambah pula petunjuk-petunjuk dari guru dan ibu-gurunya, masakah sekarang 30 jurus saja tidak mampu melawannya? Mendadak ia membentak, “Baik, akan kuterima 30 jurus seranganmu!” Berbareng itu segera pedangnya menusuk lebih dulu. Seketika tubuh Dian Pek-kong bagian atas terbungkus oleh sinar pedangnya. “Ilmu pedang bagus!” seru Dian Pek-kong sembari menangkis dengan goloknya dan mundur selangkah. “Satu jurus!” teriak Lenghou Tiong, menyusul dia menyerang pula dengan jurus Jong-siong-eng-khik. Kembali Dian Pek-kong berseru memuji. Sekali ini dia tidak menangkis lagi, tapi terus menggeser ke samping untuk menghindar. Karena dia hanya menghindar dan tidak saling gebrak, maka sebenarnya tak boleh dihitung satu jurus. Namun Lenghou Tiong tak peduli, ia berteriak pula, “Jurus kedua!” Berbareng serangan lain dilontarkan pula. Begitulah beruntun-runtun Lenghou Tiong menyerang lima kali, Dian Pek-kong hanya menghindar atau menangkis saja, sama sekali ia tidak balas menyerang, sedangkan hitungan Lenghou Tiong sudah sampai pada angka “kelima”. Ketika serangan keenam dia lontarkan dari bawah menusuk ke atas, mendadak Dian Pek-kong menggertak keras-keras, goloknya terus membacok sehingga kedua senjata saling beradu. Kontan pedang Lenghou Tiong terbentur menurun ke bawah. Tiba-tiba Dian Pek-kong membentak pula cepat, “Keenam! Ketujuh! Kedelapan! Kesembilan! Kesepuluh!” Setiap kali ia menghitung satu kali, setiap kali pula goloknya membacok ke bawah, jadi beruntun-runtun ia membacok lima kali, jurus serangannya tetap sama tanpa berubah, selalu ia membacok dari atas ke bawah mengarah kepala. Bacokan-bacokan itu yang satu lebih keras daripada yang lain, ketika dia membacok pula untuk keenam kalinya, Lenghou Tiong tidak tahan lagi, ia merasa sekujur badannya seperti tergencet oleh segenap tenaga lawan, sampai bernapas saja sukar, namun sekuatnya ia masih menangkis dengan pedangnya. “Trang”, kembali kedua senjata beradu keras, lengan Lenghou Tiong pegal kesemutan, pedangnya terlepas dan jatuh ke tanah. Ketika untuk ketujuh kalinya Dian Pek-kong membacok pula, tiada jalan lain bagi Lenghou Tiong kecuali tutup mata menanti ajal saja. “Hahaha! Jurus keberapa ini?” tanya Dian Pek-kong sambil tertawa. “Ilmu golokmu memang lebih tinggi daripadaku, tenagamu juga jauh lebih kuat, Lenghou Tiong mengaku bukan tandinganmu.” “Jika demikian, marilah berangkat!” kata Dian Pek-kong. “Tidak, tidak mau!” sahut Lenghou Tiong sambil menggeleng. “Lenghou-heng,” kata Dian Pek-kong dengan aseran, “aku menghormati kau sebagai seorang jantan tulen yang bisa pegang janji. Dalam 30 jurus tadi kau sudah kalah, mengapa sekarang kau mengingkar janji?” “Aku memang tidak percaya di dalam 30 jurus kau mampu menangkan aku, nyatanya sekarang aku sudah kalah. Tetapi aku kan tidak bilang sesudah kalah lantas akan ikut pergi padamu. Coba katakan, apakah aku berjanji demikian?” Dian Pek-kong menjadi bungkam. Memang Lenghou Tiong tak pernah berjanji, yang menyatakan demikian itu adalah dia sendiri. “Hm, dasar kau memang licin,” jengeknya kemudian. “Lalu bagaimana jika kau tidak berjanji?” “Hal kekalahanku adalah karena tenagaku memang kalah kuat, maka aku masih penasaran. Sesudah mengaso lagi boleh kita coba-coba lagi.” “Baik, aku terima tantanganmu. Akan kubikin kau menyerah lahir-batin barulah kau tidak penasaran,” kata Dian Pek-kong. Lalu ia duduk di atas batu sambil tertawa memandangi Lenghou Tiong. Diam-diam Lenghou Tiong sedang berpikir, “Jahanam ini memaksa aku ikut dia pergi, entah apa maksud tujuannya? Jika cuma menemui Gi-lim Sumoay saja rasanya sukar dipercaya. Dia toh bukan murid Gi-lim sesungguhnya, apalagi seorang Nikoh prihatin dari Hing-san-pay sebagai Gi-lim Sumoay masakah mempunyai hubungan dengan maling cabul yang bernama busuk seperti dia ini? Cuma sekarang aku telah diawasi olehnya, cara bagaimana aku harus meloloskan diri?” Teringat olehnya keenam kali bacokan Dian Pek-kong tadi sebenarnya tiada sesuatu yang luar biasa, hanya tenaganya yang mahadahsyat dan sukar ditangkis. Ia pikir bila mampu menangkis bacokannya tadi, maka untuk melawan 30 jurus tentulah tidaklah sukar. Sekonyong-konyong terkilas suatu pikiran, “Tempo hari secepat kilat Bok-taysiansing telah membinasakan Hui Pin, itu jago terkemuka dari Ko-san-pay, betapa hebat ilmu pedang Heng-san-pay yang dimainkan Bok-taysiansing itu benar-benar sukar diukur. Jika aku dapat menggunakan caranya itu untuk melawan Dian Pek-kong, tentu aku takkan kalah. Tentang ilmu pedang Heng-san-pay itu juga terukir di dinding gua belakang, bila aku dapat pelajari 30-40 jurus saja sudah cukup untuk melabrak maling cabul ini.” Namun segera terpikir pula, “Ah, betapa pun hebatnya ilmu pedang Heng-san-pay itu, hanya dalam waktu singkat saja mana mungkin bisa memahaminya. Aku sendirilah yang melamun tak keruan.” Melihat air muka Lenghou Tiong sebentar tampak berseri-seri dan lain saat murung lagi, Dian Pek-kong menjadi geli. Tanyanya dengan tertawa, “Lenghou-heng, apakah akal bulusmu untuk memecahkan ilmu golokku ini sudah kau peroleh?” Mendengar tekanan nada Dian Pek-kong pada kata-kata “akal bulus” itu sengaja dibikin keras, keruan Lenghou Tiong menjadi naik pitam, teriaknya, “Untuk mematahkan ilmu golokmu saja mengapa mesti pakai akal bulus segala? Kau sengaja cerewet terus di sini untuk mengganggu pemusatan pikiranku sehingga aku tak dapat memeras otak dengan tenang, biarlah aku memikirkannya ke dalam gua saja, tapi janganlah kau coba-coba mengganggu lagi.” “Baiklah, boleh kau pergi peras otakmu, aku takkan mengganggu kau,” kata Dian Pek-kong pula dengan tekanan nada pada kata-kata “peras otak”. Keruan Lenghou Tiong mendongkol, sambil mengomel kecil ia terus masuk ke dalam gua. Ia menyalakan obor dan menerobos ke dalam gua belakang. Tibalah dia di tempat ukiran-ukiran dinding itu. Ia pikir asal dapat mempelajari beberapa jurus yang aneh dan ruwet perubahannya, lalu digunakan untuk melabrak Dian Pek-kong, boleh jadi akan dapat membingungkan dan mengalahkan lawan itu. Segera ia memerhatikan dan mengingat-ingat 20-an jurus ilmu pedang Heng-san-pay, ia pikir biarpun di dalam ukiran itu dengan mudah ilmu pedang Heng-san-pay telah dikalahkan, namun Dian Pek-kong pasti tidak tahu cara mengatasinya. Sementara itu didengarnya Dian Pek-kong sedang menggembor di depan, “Lenghou Tiong, jika kau tidak lekas keluar, segera aku akan menyerbu ke dalam.” Cepat-cepat Lenghou Tiong berlari keluar dengan pedang terhunus. “Baiklah, akan kucoba lagi 30 jurus seranganmu!” “Sekali ini kalau Lenghou-heng kalah lagi lantas bagaimana?” tanya Pek-kong dengan tertawa. “Kalah satu kali atau dua kali apa bedanya, mengapa mesti pakai bagaimana segala?” sahut Lenghou Tiong sembari kerjakan pedangnya dengan cepat, sekaligus ia telah menyerang tujuh kali tanpa berhenti, semuanya jurus serangan yang aneh dan hebat yang baru dipahaminya dari ukiran dinding. Sama sekali Dian Pek-kong tidak menduga bahwa Hoa-san-kiam-hoat mempunyai variasi yang begitu luasnya sehingga seketika itu dia rada kelabakan dan mundur beberapa tindak. Sampai serangan kesepuluh, diam-diam Pek-kong terkejut. Ia pikir jika terus main bertahan saja mungkin akan memberi kesempatan kepada Lenghou Tiong untuk menyerang sampai 30 jurus, terpaksa ia harus balas menyerang. Mendadak ia bersuit keras, goloknya lantas membacok. Karena tenaganya sangat dahsyat, sukarlah bagi Lenghou Tiong untuk memainkan pedangnya. Sampai jurus ke-19, ketika kedua senjata beradu, kembali pedang Lenghou Tiong tergetar mencelat. Cepat Lenghou Tiong melompat mundur dan berseru, “Dian-heng hanya mengandalkan tenaga lebih kuat dan bukan dengan ilmu golokmu. Kekalahan kali ini pun kuterima. Biar kumasuk ke dalam untuk memikirkan 30 jurus lagi untuk mengulangi pertandingan kita.” “Hahaha, biarpun kau main siasat ulur waktu juga tiada gunanya, saat ini guru dan ibu-gurumu paling sedikit berada beberapa ratus li dari sini, dalam waktu beberapa hari mereka tidak mungkin dapat pulang, janganlah sia-siakan tenagamu,” ejek Dian Pek-kong dengan tertawa. “Kalau mengharapkan kedatangan guruku untuk membereskan kau, terhitung pahlawan apa?” sahut Lenghou Tiong. “Soalnya aku baru saja sakit, tenagaku belum pulih sehingga menguntungkan kau. Jika melulu bertanding jurus serangan masakah 30 jurus saja aku tidak mampu melawan kau?” “Huh, tidak perlu kau pakai akal bulus. Aku tak peduli apakah menang dengan ilmu golok atau karena tenaga lebih kuat, kalah ya kalah, menang ya menang, apa gunanya kau putar lidah?” “Baik, boleh coba kau tunggu lagi. Jika memang laki-laki sejati janganlah lari, tidak nanti Lenghou Tiong sudi mengejar kau.” Dian Pek-kong terbahak-bahak, ia mundur dua langkah dan duduk kembali di atas batu. Sesudah masuk ke dalam gua, Lenghou Tiong pikir Dian Pek-kong itu sudah kenal ilmu pedang Thay-san-pay dan Hing-san-pay karena dia pernah bertempur dengan Te-coat Totiang dan Gi-lim Sumoay, ilmu pedang Heng-san-pay tadi juga sudah kucoba dan gagal, sekarang tinggal ilmu silat Ko-san-pay saja yang mungkin belum dikenal olehnya. Segera ia mencari bagian ukiran dinding yang mengenai ilmu pedang Ko-san-pay dan mempelajari belasan jurus. Pikirnya dengan jurus-jurus serangan baru ini ditambah lagi jurus-jurus serangan Heng-san-pay lain yang belum sempat digunakan tadi, lalu mendadak mengeluarkan pula beberapa jurus serangan Hoa-san-pay sendiri, boleh jadi serangan gado-gado ini akan dapat membikin pusing kepala maling cabul itu. Maka sebelum Dian Pek-kong berkaok memanggilnya dia sudah berlari keluar untuk bertempur. Karena diberondong dengan macam-macam gaya serangan, mula-mula Dian Pek-kong memang kerepotan dan berulang-ulang berteriak aneh. Tapi sesudah 20-an jurus, kembali ia balas menyerang tiga kali, akhirnya goloknya mengancam di depan leher Lenghou Tiong sehingga pemuda itu terpaksa lepas senjata dan mengaku kalah. “Pertama kali aku hanya dapat bergebrak sepuluh jurus dan kedua kalinya sudah tahan 18 jurus, ketika aku mengasah otak lebih lama sedikit sekarang sudah mampu bertahan sampai 21 jurus, dan kalau aku menyelaminya lebih lama lagi akhirnya tentu dapat menahan 30 jurus gebrakan, bahkan mengalahkan kau. Apakah kau tidak takut Dian-heng?” “Apa yang kutakuti?” sahut Dian Pek-kong. “Boleh silakan kau mengasah otak, memeras otak sesukamu!” “Baik, harap kau tunggu lagi,” kata Lenghou Tiong sambil masuk lagi ke dalam gua. Walaupun lahirnya dia tenang-tenang saja dan mengobrol kepada Dian Pek-kong, tapi batinnya sebenarnya sangat gelisah. Pikirnya, “Dengan menghadapi bahaya dia berani datang ke Hoa-san, tentu dia mempunyai tipu muslihat tertentu. Mengapa dia sengaja main tanding dengan aku, padahal dengan mudah dia sudah dapat membekuk diriku, buat apa aku dilepaskan lagi setiap kali? Apa maksud tujuannya yang sebenarnya?” Begitulah menurut panggilan perasaan Lenghou Tiong, ia merasa kedatangan Dian Pek-kong ke Hoa-san ini tentu mempunyai muslihat keji yang tersembunyi. Tapi muslihat apa sukar untuk diketahui. Pikirnya, “Jika tujuannya menghalangi aku agar orang lain dapat membereskan segenap Sute dan Sumoay yang tinggal di rumah, kenapa dia tidak membunuh saja diriku, bukankah cara demikian lebih gampang dan lebih cepat? Tapi apa sebabnya dia tidak berbuat demikian, bahkan menerima setiap tantanganku yang walaupun diketahuinya melulu ingin ulur tempo belaka? Tampaknya hari ini Hoa-san-pay sedang menghadapi suatu kesulitan besar. Suhu dan Sunio sekarang tidak berada di rumah, aku adalah murid tertua, kewajiban ini harus kupikul, tak peduli Dian Pek-kong mempunyai tipu muslihat keji apa saja harus kulawan dengan segenap tenaga dan pikiran. Asal ada kesempatan tiada jeleknya jika sekali serangan kubinasakan dia saja.” Setelah ambil keputusan bulat, segera ia pergi mempelajari gambar-gambar ukiran dinding lagi. Sekali ini yang dia pelajari adalah jurus-jurus serangan mematikan yang paling ganas. Ketika dia keluar gua pula, sementara itu fajar sudah menyingsing. Biarpun di dalam hatinya sudah ambil keputusan akan membunuh orang, tapi lahirnya dia malah tertawa-tawa, tegurnya, “Dian-heng, jauh-jauh kau datang kemari, tapi aku belum memenuhi kewajibanku sebagai tuan rumah, sungguh aku merasa tidak enak. Sesudah pertandingan ini, tak peduli siapa yang menang atau kalah, tetap aku akan mengundang Dian-heng sekadar menikmati hasil bumi pegunungan ini.” “Terima kasih,” sahut Dian Pek-kong dengan tertawa. “Dan kelak bila kita bertemu lagi di lain tempat, jika kita bergebrak pula, tentu bukan lagi pertandingan halusan seperti sekarang ini, tapi pasti pertarungan mati-matian.” “Sesungguhnya teman seperti Lenghou-heng ini adalah sangat sayang bila terbunuh. Namun kalau aku tidak membunuh kau, melihat kemajuan ilmu silatmu yang begini pesat, kelak kalau kau sudah lebih unggul daripadaku, tentu kau tak dapat mengampuni seorang maling cabul sebagai diriku ini.” “Betul juga,” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. “Cara tukar pikiran tentang ilmu silat seperti sekarang ini kelak tentu tidak mungkin terjadi lagi. Dian-heng, sekarang aku akan mulai lagi, harap kau memberi petunjuk seperlunya.” “Silakan,” sahut Dian Pek-kong. “Agaknya makin aku berpikir semakin bukan tandingan Dian-heng,” seru Lenghou Tiong sambil tertawa. Belum lenyap suaranya, pedangnya sudah lantas menusuk. Ketika ujung pedangnya masih jauh dari sasarannya, mendadak Lenghou Tiong tarik miring ke samping dan secepat kilat menusuk balik lagi. Waktu Dian Pek-kong angkat golok hendak menangkis, sebelum kedua senjata beradu, tahu-tahu Lenghou Tiong sedikit memutar pedangnya dan menebas dari atas ke bawah selangkangan. Serangan ini benar-benar di luar dugaan, keji dan lihai sekali. Keruan Dian Pek-kong terperanjat, lekas-lekas ia meloncat ke atas. Tapi Lenghou Tiong telah mencecarnya lagi tiga kali serangan, semuanya mengarah tempat mematikan di tubuh Dian Pek-kong. Karena didahului, kedudukan Dian Pek-kong menjadi terdesak dan kerepotan cara menangkisnya. Tiba-tiba terdengar “bret” sekali, pedang Lenghou Tiong menusuk lewat di sebelah pahanya sehingga celananya tertusuk satu lubang, untung tidak sampai terluka. Namun gerakan Dian Pek-kong juga amat cepat, kepalan kanan lantas menjotos sehingga Lenghou Tiong terhantam roboh terjungkal. Katanya dengan tertawa, “Serangan Lenghou-heng ini selalu mengincar jiwaku, apakah inilah caranya mengukur ilmu silat masing-masing?” Lenghou Tiong melompat bangun, sahutnya dengan tertawa, “Bagaimanapun cara seranganku toh tak dapat mengganggu seujung rambutnya Dian-heng.” Tiba-tiba terpikir oleh Lenghou Tiong, “Betapa pun dia toh tidak mau membunuh aku, maka akulah yang bebas untuk menyerangnya tanpa memikirkan keselamatanku, aku hanya menyerang saja tanpa menjaga, tentu hal demikian akan menguntungkan aku.” Maka dengan tertawa ia lantas melangkah maju, katanya, “Sungguh kuat sekali tenaga pukulan Dian-heng tadi.” “Ah, hendaklah dimaafkan,” sahut Dian Pek-kong. “Tapi tulang igaku mungkin sudah patah beberapa buah,” ujar Lenghou Tiong sambil maju lebih mendekat. Sekonyong-konyong pedangnya berpindah tangan terus menusuk. Serangan kilat ini benar-benar sukar diduga sebelumnya. Keruan Dian Pek-kong kaget, sementara itu ujung pedang sudah dekat dengan perutnya. Dalam seribu kerepotannya sekuatnya ia jatuhkan diri ke belakang terus menggelinding ke samping. Namun Lenghou Tiong sudah lantas mengejar dan melancarkan beberapa kali serangan. Tentu saja Dian Pek-kong kelabakan dalam keadaan merebah. Tampaknya kalau Lenghou Tiong menyerang lagi beberapa kali tentu Dian Pek-kong akan terpantek di atas tanah oleh pedangnya. Tak terduga mendadak sebelah kaki Dian Pek-kong telah menendang sehingga pergelangan tangan Lenghou Tiong kesakitan dan pedang terlepas, menyusul kaki Dian Pek-kong yang lain mendepak pula dan tepat mengenai perut Lenghou Tiong, kontan ia jatuh terjengkang. Cepat sekali Dian Pek-kong lantas melompat bangun dan menubruk maju, goloknya lantas mengancam di depan leher Lenghou Tiong, katanya dengan tertawa dingin, “Hm, keji amat ilmu pedangmu, hampir saja jiwaku melayang. Sekali ini kau takluk atau tidak!” “Tentu saja tidak,” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. “Kita telah berjanji bertanding senjata, tapi tangan dan kakimu ikut maju, ya hantam ya tendang, apakah ini masuk hitungan?” “Biarpun hantaman dan tendangan tadi dihitung juga belum ada 30 jurus,” sahut Dian Pek-kong sambil tertawa dingin dan menarik kembali goloknya. Segera Lenghou Tiong melompat bangun, katanya dengan gusar, “Biarpun ilmu silatmu tinggi dan mengalahkan aku dalam 30 jurus, lantas mau apa? Kalau mau bunuh boleh bunuh, mengapa kau mengejek? Jika mau tertawa boleh tertawa, kenapa mesti tertawa dingin?” “Teguran Lenghou-heng memang benar, akulah yang salah, dengan tulus hati aku minta maaf,” sahut Dian Pek-kong sambil memberi hormat. Lenghou Tiong melengak malah, sama sekali tak terduga bahwa sebagai pihak yang menang Dian Pek-kong malah mau minta maaf padanya. Hal ini membuatnya semakin yakin bahwa di balik sikapnya itu pasti mempunyai tipu muslihat tertentu. Karena sukar memperoleh kesimpulan, sekalian Lenghou Tiong lantas bertanya secara blak-blakan. Katanya, “Dian-heng, ada sesuatu yang sukar dimengerti bagiku, entah Dian-heng sudi memberi keterangan atau tidak.” “Tiada sesuatu bagiku yang perlu dirahasiakan, baik membunuh orang maupun memerkosa dan merampok, kalau berani berbuat ya berani mengaku, buat apa mesti menyangkal?” sahut Pek-kong. “Bagus, jika demikian, jadi Dian-heng adalah seorang laki-laki tulen yang suka terus terang.” “Istilah ‘laki-laki tulen’ tak berani kuterima, paling aku hanya seorang hina yang dapat pegang janji saja,” ujar Pek-kong dengan tertawa. “Hehe, tokoh macam Dian-heng jarang juga diketemukan di dunia Kangouw,” kata Lenghou Tiong. “Sekarang aku numpang tanya, kau telah sengaja memancing kepergian guru dan ibu-guruku, lalu datang ke sini dan memaksa aku ikut pergi padamu, sebenarnya mau ke mana dan untuk urusan apa?” “Sejak tadi sudah kukatakan bahwa aku mengundang kau pergi bertemu dengan Gi-lim Siausuthay untuk sekadar memenuhi rasa rindunya.” “Tidak mungkin, urusan ini terlalu lucu dan aneh, Lenghou Tiong toh bukan anak kecil, masa dapat percaya ocehanmu ini.” Dian Pek-kong menjadi gusar, serunya, “Aku memandang kau sebagai kesatria sejati, sebaliknya kau tetap anggap aku sebagai jahanam yang kotor dan rendah sehingga apa yang kukatakan sama sekali kau tak percaya? Memangnya ucapan ini bukan ucapan manusia? Nah dengarlah, bila orang she Dian ini omong kosong, biarlah kau anggap lebih rendah daripada binatang.” Melihat ucapannya yang sungguh-sungguh itu, mau tak mau Lenghou Tiong percaya juga. Katanya dengan heran, “Soal Dian-heng mengangkat guru kepada Nikoh kecil itu kan cuma kelakar saja, mengapa jauh-jauh kau sengaja datang kemari untuk mengundang aku demi kepentingannya?” Dian Pek-kong menjadi kikuk, sahutnya, “Dalam hal ini tentu saja masih ada soal lain.” Tiba-tiba terpikir oleh Lenghou Tiong urusan cinta memang sukar diceritakan, jangan-jangan Dian Pek-kong benar-benar kesengsem kepada Gi-lim yang cantik molek itu sehingga dari maksud jahatnya telah berubah menjadi maksud baik. Segera ia tanya, “Apakah barangkali Dian-heng telah jatuh cinta sungguh-sungguh kepada Gi-lim Sumoay dan kau telah memperbaiki tingkah lakumu yang dahulu?” “Ah, mana bisa jadi, janganlah Lenghou-heng sembarangan omong,” sahut Pek-kong. Lenghou Tiong lantas teringat kepada kejahatan yang baru saja dilakukan Dian Pek-kong di kota Tiang-an dan Yen-an, masakah penjahat demikian dapat berubah dalam sekejap? Rasanya tidak mungkin. Maka ia lantas tanya, “Habis ada soal lain apakah, mohon Dian-heng memberi tahu.” “Soal ini menyangkut kesialanku, buat apa kau bertanya terus?” sahut Pek-kong. “Pendek kata, bila aku tak berhasil mengundang kau turun gunung, sebulan kemudian tentu aku akan mati dengan tubuh membusuk tak terkatakan.” Lenghou Tiong terkejut, tapi lahirnya ia pura-pura tidak paham. Tanyanya, “Mana bisa demikian?” Tiba-tiba Dian Pek-kong membuka baju sehingga kelihatan dadanya, diperlihatkannya dua titik merah sebesar mata uang di bawah kedua teteknya, lalu berkata, “Aku telah diracun orang dan dipaksa datang ke sini untuk mengundang kau agar menemui Gi-lim Siausuthay. Jika tak berhasil mengundang kau, sebulan kemudian kedua titik merah ini akan mulai membusuk dan terus menjalar ke seluruh tubuh dan tak ada obatnya lagi. Setelah tiga setengah tahun barulah akan mati membusuk. Maka maklumlah sekarang, dengan pengakuanku yang terus terang ini bukan maksudku hendak minta belas kasihanmu, tapi agar kau tahu betapa pun kau menolak undanganku pasti juga akan kupaksa. Bila kau benar-benar mau ikut pergi, segala perbuatan apa pun juga dapat kulakukan. Biasanya aku memang sudah berbuat segala kejahatan, apalagi sekarang dalam keadaan kepepet, apa yang harus kupikirkan pula?” Diam-diam Lenghou Tiong percaya apa yang diceritakan itu. Ia pikir kalau dapat mengulur waktu sampai lebih dari sebulan, tanpa dibunuh juga maling cabul yang terkutuk ini akan mati dengan sendirinya. Maka dengan tertawa ia berkata, “Sungguh jail sekali orang yang meracuni Dian-heng itu. Entah Dian-heng terkena racun apa, boleh jadi masih ada obat pemunahnya, coba terangkan.” “Tentang pemberi racun itu tak perlu dibicarakan lagi,” sahut Pek-kong. “Pendek kata, bila aku benar-benar tak berhasil mengundang kau turun gunung, kalau aku mati, maka kau pun takkan kubiarkan selamat.” “Ya, sudah tentu. Tapi Dian-heng harus mengalahkan aku secara jantan sehingga aku takluk lahir batin. Dengan demikian mungkin aku akan ikut kau turun gunung. Untuk ini silakan kau menanti lagi sebentar, aku akan masuk ke dalam untuk memeras otak lagi.” Sesudah berada di dalam gua belakang, kali ini yang diperiksanya adalah ukiran ilmu pedang Thay-san-pay. Ia merasa ilmu pedang itu toh tiada sesuatu yang luar biasa. Tapi tiba-tiba ia tertarik pada cara lawannya yang memainkan tombak pendek untuk mengalahkan ilmu pedang Thay-san-pay itu. Makin diperhatikan makin tertarik, sampai selang berapa lama pun tak diketahuinya. Baru kemudian didengarnya suara Dian Pek-kong sedang berkaok-kaok di luar gua, maka cepat ia berlari keluar untuk bertempur pula. Sekali ini Lenghou Tiong sudah berpengalaman, ia tidak menghitung jurus keberapa lagi, tapi begitu gebrak segera ia menyerang dengan penuh tenaga. Dian Pek-kong juga tak berani ayal demi melihat setiap kali masuk gua, setiap kali pula Lenghou Tiong mendapat kemajuan. Pertarungan cepat itu dalam sekejap saja entah sudah berlangsung berapa jurus. Tiba-tiba Dian Pek-kong melangkah maju, secepat kilat pergelangan tangan Lenghou Tiong telah kena dipegang olehnya terus ditelikung, ujung pedang lantas mengancam di tenggorokan dan membentak, “Kembali kau kalah lagi!” Walaupun tangannya kesakitan karena ditelikung, tapi mulut Lenghou Tiong tetap tak mau kalah, jawabnya, “Tidak, bukan aku, tapi kaulah yang kalah!” “Mengapa aku yang kalah malah?” tanya Dian Pek-kong dengan gusar. “Sebab jurus ini adalah jurus ke-32,” kata Lenghou Tiong. “Jurus ke-32? Mana bisa? Kau toh tidak menghitungnya,” ujar Pek-kong. “Aku memang tidak bersuara menghitung, tapi menghitungnya secara diam-diam di dalam batin. Dengan terang gamblang jurus terakhir ini adalah jurus ke-32,” bantah Lenghou Tiong. Padahal sama sekali ia tidak pernah menghitung. Apa yang dikatakan hanya bualan belaka. Dian Pek-kong melepaskan tangan Lenghou Tiong, lalu berkata, “Tidak bisa. Jurus pertama tadi adalah begini, aku menangkis dengan demikian, lalu kau menyerang lagi dengan begini dan ….” begitulah ia terus mengulangi jurus pertarungan mereka tadi dan ternyata semuanya betul, sampai akhirnya waktu tangan Lenghou Tiong kena dipegang baru jurus ke-28 saja. Keruan kagum Lenghou Tiong tak terkatakan atas daya ingatan lawannya, mau tak mau ia memuji, “Ingatan Dian-heng memang benar-benar hebat. Kiranya akulah yang salah hitung. Biar kumasuk sebentar untuk memeras otak lagi.” “Nanti dulu!” tiba-tiba Dian Pek-kong mencegah. “Sebenarnya ada rahasia apakah di dalam gua ini. Apakah di situ tersedia kitab pelajaran ilmu silat yang tinggi? Mengapa setiap kali kau keluar selalu bertambah dengan macam-macam jurus serangan baru?” Sembari berkata, segera ia hendak masuk ke dalam gua. Tentu saja Lenghou Tiong terkesiap, jika gambar ukiran dinding itu sampai dilihatnya, tentu urusan bisa runyam. Tapi dia sengaja memperlihatkan air muka girang dan sekejap saja ia lantas pura-pura berlagak khawatir pula, katanya sambil pentang kedua tangannya, “Apa yang tersimpan di dalam gua adalah kitab-kitab pusaka perguruan kami, Dian-heng adalah orang luar, kau dilarang masuk.” Melihat perubahan air muka Lenghou Tiong yang cepat itu, Dian Pek-kong menjadi curiga, mengapa mula-mula pemuda itu bergirang lalu pura-pura khawatir dan merintangi dengan tujuan aku memaksa menerjang ke dalam gua. Padahal di dalam gua mungkin terdapat perangkap dan benda lain yang bisa bikin celaka padaku. Tapi masakah aku gampang ditipu? Begitulah, biarpun ilmu silat Dian Pek-kong jauh lebih tinggi, tapi bicara tentang tipu akal memang Lenghou Tiong lebih licin. Dia sengaja main pura-pura dan sungguh-sungguh sehingga Dian Pek-kong tertipu, akhirnya dia tidak berani masuk gua. Demikianlah beberapa kali Lenghou Tiong telah masuk keluar gua lagi dan telah banyak mempelajari macam-macam jurus serangan yang aneh, tapi tetap tak mampu bertahan lebih dari 30 jurus. Sebaliknya Dian Pek-kong semakin curiga, dia tidak paham mengapa setiap keluar kembali dari gua tentu kepandaian Lenghou Tiong bertambah dengan jurus-jurus serangan yang aneh dan lihai. Sementara itu sudah lewat tengah hari, untuk sekian kalinya kembali Dian Pek-kong berhasil mengalahkan Lenghou Tiong. Tiba-tiba terpikir olehnya ilmu pedang yang dimainkan Lenghou Tiong barusan ini adalah Ko-san-kiam-hoat, sebelumnya dia telah memainkan ilmu-ilmu pedang dari Heng-san-pay, Thay-san-pay dan lain-lain. Wah, jangan-jangan di dalam gua banyak berkumpul jago-jago dari Ngo-gak-kiam-pay yang telah mengajarkan kepandaian mereka kepada Lenghou Tiong. Untung tadi ia tidak jadi menerjang ke dalam, kalau tidak tentu aku bisa mati konyol. Lantaran berpikir demikian, tanpa merasa ia lantas tanya pula, “Mengapa mereka tidak keluar saja?” “Siapa tidak keluar?” tanya Lenghou Tiong bingung. “Mereka, para tokoh angkatan tua di dalam gua yang mengajarkan ilmu pedang padamu itu, suruhlah mereka keluar untuk coba-coba kepandaianku.” Untuk sejenak Lenghou Tiong melengak, tapi segera ia paham apa yang dipikir oleh Dian Pek-kong, dengan terbahak-bahak ia berkata, “Para Locianpwe itu merasa … merasa enggan untuk bergebrak dengan Dian-heng. Tapi jika Dian-heng ada minat boleh saja silakan masuk ke dalam untuk minta belajar kepada belasan Locianpwe itu. Kukira beliau-beliau itu pun rada menghargai ilmu golok Dian-heng.” “Hm, kaum Locianpwe apa? Paling-paling adalah orang-orang yang bernama kosong saja,” jengek Dian Pek-kong. “Kalau tidak, mengapa berulang kali kau telah diberi petunjuk toh sampai saat itu kau belum mampu melawan diriku lebih dari 30 jurus?” Dengan mengandalkan Ginkangnya yang lihai, Dian Pek-kong pikir biarpun sekaligus belasan tokoh itu membanjir keluar juga tak mampu mengejar diriku apabila aku tak sanggup melawan mereka. Apalagi kalau benar angkatan tua dari Ngo-gak-kiam-pay, mereka tentu menjaga harga diri dan tidak sudi main kerubut. “Soal aku tak bisa melawan dirimu adalah karena aku sendiri yang bodoh, hendaklah Dian-heng hati-hati sedikit dan jangan sembarangan bicara, bila sampai membikin marah mereka, asal salah seorang Cianpwe itu mau turun tangan, tak usah tunggu sebulan lagi kau akan mati dengan badan membusuk, sebentar saja jiwamu sudah bisa dibikin melayang di puncak gunung ini.” “Coba terangkan, Cianpwe siapa-siapa saja yang berada di dalam gua itu?” tanya Dian Pek-kong. Lenghou Tiong berpura-pura bersikap mencurigakan. Lalu menjawab, “Ah, para Cianpwe itu sudah lama mengasingkan diri, berkumpulnya mereka di sini juga tiada sangkut pautnya dengan kau. Nama-nama para Cianpwe itu tidak boleh diketahui orang luar, andaikan kukatakan juga kau tak kenal. Maka lebih baik tak kukatakan saja.” Melihat sikap Lenghou Tiong yang aneh itu, Dian Pek-kong tambah sangsi. Katanya, “Kalau tokoh-tokoh angkatan tua dari Ko-san, Heng-san, Thay-san dan Hing-san memang masih ada sedikit. Tapi Hoa-san-pay kalian sudah lama kehabisan tokoh angkatan tua. Hal ini diketahui setiap orang Bu-lim. Maka ucapan Lenghou-heng sungguh sukar untuk dipercaya.” “Benar, memang sejak kena penyakit menular di masa dahulu, tokoh-tokoh Cianpwe golongan kami memang sudah wafat semua, hal ini memang sangat merugikan Hoa-san-pay kami, kalau tidak masakah Dian-heng dapat bebas berkeliaran ke sini dan mencari perkara padaku? Ucapanmu memang benar, di dalam gua memang betul tidak terdapat tokoh dari golongan kami.” Karena sebelumnya Dian Pek-kong sudah menarik kesimpulan dirinya sedang didustai, maka kalau Lenghou Tiong bilang timur, tentu dia anggap barat. Lenghou Tiong menyatakan di dalam gua tidak ada tokoh Hoa-san-pay, hal ini tentu sebaliknya. Ia coba merenung sejenak, tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, serunya sambil menepuk paha, “Ya, ingatlah aku sekarang. Kiranya adalah Hong Jing-yang, Hong-locianpwe.” Sudah tentu Lenghou Tiong tidak kenal siapakah Hong Jing-yang itu. Tapi dia tahu tak peduli apa yang dia katakan tentu akan dicurigai Dian Pek-kong. Dari nama Hong Jing-yang itu dapat dipastikan tokoh itu masih lebih tua dua angkatan dari gurunya yang memakai nama “Put”. Maka ia sengaja menjawab, “Ah, janganlah Dian-heng sembarang omong. Hong … Hong-thaysuco (kakek guru) sudah lama menghilang entah ke mana, entah beliau masih hidup tidak di dunia ini, masakah sekarang beliau bisa datang ke sini. Jika Dian-heng tidak percaya boleh silakan masuk memeriksanya sendiri.” Sudah tentu, semakin Lenghou Tiong menyilakan dia masuk ke dalam gua, semakin Dian Pek-kong merasa hendak dijebak dan dengan sendirinya dia tidak mau tertipu. Diam-diam ia yakin dugaannya tentu tidak salah. Sesudah terjadi bencana dahulu, di antara tokoh-tokoh angkatan tua kabarnya cuma Hong Jing-yang saja yang berhasil selamat. Kalau dihitung umurnya sekarang juga sudah ada lebih 80 tahun, betapa pun tinggi ilmu silatnya, dalam hal tenaga tentu juga sudah loyo. Kenapa aku mesti takut? Karena pikiran demikian, segera Dian Pek-kong berkata, “Lenghou-heng, kita sudah bertempur hampir sehari semalam, biarpun diteruskan juga kau tetap bukan tandinganku. Sekalipun berulang-ulang kau diberi petunjuk oleh kau punya Hong-thaysuco juga tiada gunanya. Sebaiknya kau ikut berangkat bersama aku saja.” Baru saja Lenghou Tiong akan menjawab, sekonyong-konyong di belakangnya ada suara seorang menanggapi dengan nada dingin, “Jika aku betul-betul memberi petunjuk beberapa jurus masakah tidak mampu membereskan kau keparat ini?” Keruan Lenghou Tiong terkejut, cepat ia berpaling. Maka tertampaklah di samping gua sudah berdiri seorang kakek berjenggot putih dan berjubah hijau, sikapnya seram, mukanya pucat sebagai mayat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: