Hina Kelana: Bab 31. Munculnya Dian Pek-kong di Puncak Hoa-sanou Tiong

Apa yang terjadi sedari pedang Lenghou Tiong dicukit mencelat ke udara, Gak-hujin menyerang dan disambut dengan sarung pedang oleh Lenghou Tiong, lalu Gak Put-kun mematahkan pedang bersama sarung pedang itu, kemudian pedang yang mencelat ke udara tadi jatuh kembali, semuanya itu hanya terjadi dalam beberapa detik saja. Sudah tentu Lo Tek-nau, Liok Tay-yu dan Gak Leng-sian sampai terkesima menyaksikan kejadian-kejadian itu. Habis itu, Gak Put-kun lantas melompat maju ke depan Lenghou Tiong, “plak-plak-plak”, beruntun-runtun ia persen beberapa kali tamparan pada muka murid itu sambil membentak gusar, “Binatang, apa-apaan perbuatanmu ini?” Kepala Lenghou Tiong terasa pusing dan badan sempoyongan, cepat ia berlutut dan berkata, “Suhu, Sunio, murid memang … memang harus dihukum mati.” Dengan murka Put-kun membentak pula, “Selama setengah tahun ini dosa apa yang kau renungkan dan ilmu silat apa yang kau latih di sini?” “Murid tidak … tidak berlatih ilmu silat apa-apa,” sahut Lenghou Tiong. “Jurus seranganmu kepada ibu-gurumu barusan, cara bagaimana datangnya ilhammu itu?” bentak pula Gak Put-kun dengan bengis. “Sama sekali murid tidak punya pikiran apa-apa, ketika terancam bahaya sekenanya murid lantas memainkan jurus tadi,” sahut Lenghou Tiong dengan takut. “Ya, aku pun menduga tanpa pikir kau lantas mengeluarkan jurus demikian, makanya aku merasa gusar,” ujar Gak Put-kun sambil menghela napas. “Apakah kau sadar sudah mengarah ke jalan yang sesat dan sukar melepaskan diri?” “Mohon … mohon Suhu memberi petunjuk,” sahut Lenghou Tiong sambil menyembah. Sementara itu Gak-hujin sudah tenang kembali dari kejadian tadi. Dilihatnya sang suami telah menampar Lenghou Tiong sehingga pipi pemuda itu merah bengkak, timbul seketika rasa kasih sayangnya. Cepat ia berkata, “Sudahlah, lekas kau bangun saja. Kunci persoalan ini memang kau belum tahu.” Lalu ia berpaling pada sang suami, “Suko, bakat anak Tiong teramat cerdas, selama setengah tahun ini kita tidak mendampingi dia dan membiarkan dia berlatih sendiri dan nyatanya sudah lantas sesat ke jalan yang tidak benar.” Put-kun termangu-mangu, katanya kepada Lenghou Tiong, “Bangunlah!” Lenghou Tiong lantas merangkak bangun. Ia merasa heran dan bingung sebab apa guru dan ibu-gurunya mengatakan latihannya tersesat ke jalan yang jahat. “Coba kalian kemari!” tiba-tiba Put-kun memanggil Lo Tek-nau bertiga. Berbareng Tek-nau, Tay-yu dan Leng-sian mengiakan dan mendekati orang tua itu. Perlahan-lahan Put-kun duduk di atas batu, lalu mulai berkata, “Empat puluh tahun yang lalu, ilmu silat Hoa-san-pay pernah terbagi menjadi dua golongan, yaitu antara yang baik dan yang jahat, antara yang benar dan yang salah ….” Lenghou Tiong dan lain-lain sama heran, pikir mereka, “Ilmu silat Hoa-san-pay tetap ilmu silat Hoa-san-pay, mengapa bisa terbagi menjadi dua golongan antara yang baik dan yang jahat? Mengapa selama ini belum pernah terdengar Suhu menceritakan soal ini?” Leng-sian yang usilan segera bertanya, “Ayah, yang kita latih adalah ilmu silat yang baik dan asli, bukan?” “Sudah tentu,” sahut Put-kun. “Tapi golongan yang sesat itu justru mengaku pihak mereka adalah golongan yang baik dan tulen, pihak kita yang dituduh golongan yang sesat. Namun lama-kelamaan antara yang baik dan jahat dengan sendirinya tersisihkan, golongan yang sesat itu akhirnya buyar lenyap dengan sendirinya. Selama 40 tahun ini golongan mereka sudah tidak terdapat lagi di dunia ini.” “Pantas selama ini aku belum pernah mendengar tentang hal ini,” kata Leng-sian. “Ayah, jika golongan yang sesat itu sekarang sudah lenyap, maka kita pun tak perlu mengurusnya lagi.” “Kau tahu apa?” omel Put-kun. “Apa yang dikatakan golongan sesat itu juga bukan golongan jahat betul-betul, mereka tetap orang kita sendiri. Hanya saja titik pokok berlatih masing-masing pihak berbeda. Coba katakan, bagian mana yang pertama aku mengajarkan kepada kalian?” Sembari bertanya sorot matanya menatap ke arah Lenghou Tiong. Maka pemuda itu cepat menjawab, “Yang diajarkan lebih dulu adalah pengantar cara mengatur napas, dimulai dengan berlatih Lwekang lebih dulu.” “Benar,” kata Put-kun. “Titik pokok ilmu silat Hoa-san-pay terletak pada hal latihan Lwekang, bila Lwekang sudah jadi, maka lancarlah dalam cabang-cabang ilmu silat lainnya dan ini adalah cara tulen dari perguruan kita. Tapi di antara tokoh-tokoh angkatan tua perguruan kita dahulu ada suatu golongan yang menganggap letak inti ilmu silat kita berada pada ilmu pedang, jika ilmu pedang sudah sempurna, biarpun Lwekang kurang mendalam juga cukup untuk mengalahkan musuh. Dan di sinilah perbedaan paham antara golongan yang benar dan yang sesat.” “Ayah, meskipun Lwekang sangat penting, tapi ilmu pedang juga tidak boleh diabaikan bukan?” demikian tiba-tiba Leng-sian menimbrung. “Jika hanya Lwekang saja juga takkan memperlihatkan betapa hebat ilmu silat Hoa-san pay kita bila tidak disertai dengan ilmu pedang yang lihai. Ya, sudah tentu kalau mungkin dua-duanya harus sempurna semuanya.” “Hm, ucapanmu ini kalau kau katakan pada 40 tahun yang lalu, mungkin kepalamu bisa segera berpisah dengan tubuhmu,” jengek Gak Put-kun. “Hah, hanya omong saja bisa mengakibatkan kepala berpisah dengan tubuh?” seru Leng-sian sambil melelet lidahnya. “Sungguh terlalu!” “Waktu aku masih muda, pertengkaran antara kedua golongan masih belum menentu,” kata Put-kun. “Jika berani mengucapkan kata-katamu tadi, bukan saja golongan yang mengutamakan Lwekang yang membunuh kau, bahkan golongan yang mengutamakan ilmu pedang juga akan membunuh kau. Sebab di antaranya kedua aliran itu tidak dapat disejajarkan, kau anggap pedang juga penting, itu berarti meninggikan derajat golongan pro pedang, ini dipandang sebagai durhaka yang tak terampunkan.” “Sebenarnya buat apa dipertengkarkan, asalkan kedua pihak bertanding, bukankah segala sesuatu menjadi jelas,” ujar Leng-sian. Put-kun menghela napas, lalu bercerita, “Pada waktu itu golongan pro Lwekang kita berjumlah lebih sedikit, sebaliknya para paman guru dari golongan pro pedang berjumlah banyak. Ditambah lagi pelajaran ilmu pedang memang lebih cepat, bila sama-sama berlatih sepuluh tahun, tentu pihak pro pedang yang lebih unggul, kalau berlatih 20 tahun, masih tetap sama kuatnya, baru sesudah lebih dari 20 tahun barulah latihan Lwekang akan bertambah kuat, bila sudah 30 tahun, maka kemenangan pastilah di pihak kaum Lwekang. Akan tetapi selama 20 tahun lebih itu sudah tentu kedua pihak akan terus bertengkar tak habis-habisnya.” “Tapi akhirnya kaum pedang toh mengaku salah dan kalah bukan?” tanya Leng-sian. Put-kun menggeleng kepala tanpa bicara. Selang sejenak barulah membuka suara, “Mereka tetap kepala batu dan ngotot tak mau mengaku kalah. Walaupun mereka telah kalah habis-habisan ketika diadakan pertandingan menentukan di Giok-li-hong sini, tapi mereka lebih suka membunuh diri seluruhnya.” Lenghou Tiong dan Gak Leng-sian sama berseru kaget mendengar keterangan itu. Kata Leng-sian, “Hanya pertandingan di antara sesama saudara seperguruan, apa artinya kalah atau menang, mengapa mesti menempuh jalan nekat begitu?” “Soalnya tidak begitu sederhana,” ujar Put-kun. “Dahulu waktu perebutan Bengcu (ketua serikat) dari Ngo-gak-kiam-pay, kalau bicara tentang jumlah jago dan tingginya kepandaian, mesti Hoa-san-pay kita yang menduduki tempat utama. Tapi karena bagian dalam golongan kita bertengkar sendiri, pertarungan di Giok-li-hong telah jatuh korban belasan tokoh-tokoh angkatan tua, maka kedudukan Bengcu akhirnya kena direbut oleh Ko-san-pay. Kalau dipikirkan pangkal pokok kesalahan kita adalah karena pertengkaran di antara golongan sendiri itu. Bila teringat kepada bunuh-membunuh secara kejam di antara sesama saudara seperguruan dahulu, sungguh kasihan dan mengerikan.” Melihat air muka gurunya berkerut-kerut, mungkin teringat kepada kejadian-kejadian mengerikan di masa lampau, tanpa merasa Lenghou Tiong ikut ngeri. Perlahan-lahan Put-kun membuka bajunya sehingga kelihatan dadanya. Mendadak Leng-sian menjerit, “Aduh! Ayah, kau … kau ….” Kiranya di dada Gak Put-kun itu terdapat satu jalur panjang bekas luka yang dari atas ke bawah. Melihat bekas luka itu dapatlah dibayangkan betapa parah lukanya waktu itu, boleh jadi jiwanya hampir saja melayang. Sejak kecil Lenghou Tiong dan Gak Leng-sian hidup bersama Gak Put-kun, tapi baru sekarang mereka tahu di atas badan orang tua itu terdapat bekas luka parah itu. Sesudah menutup kembali bajunya, lalu Put-kun berkata, “Waktu pertarungan di atas Giok-li-hong dahulu, aku telah kena ditebas sekali oleh seorang Susiok sehingga jatuh pingsan. Dia mengira aku sudah mati, maka tidak menambahi serangannya. Coba kalau pedangnya menyambar lagi, hehe, tentu jiwaku sudah melayang!” “Kalau ayah tidak ada, tentu aku pun entah berada di mana,” sela Leng-sian dengan tertawa. Put-kun tersenyum. Tapi dengan kereng ia lantas berkata pula, “Ceritaku ini adalah rahasia besar Hoa-san-pay kita, siapa pun dilarang membocorkan. Orang-orang golongan lain cuma mengetahui bahwa dalam sehari saja Hoa-san-pay kita telah kehilangan belasan tokoh terkemuka, tapi tiada seorang pun yang tahu apa sebabnya. Seluk-beluk kejadian ini terpaksa kuceritakan sekarang, sebab persoalannya sesungguhnya memang sangat penting. Jika anak Tiong meneruskan arah yang diambilnya sekarang, tidak sampai tiga tahun saja tentu dia akan lebih mengutamakan pedang daripada Lwekang, inilah terlalu berbahaya bagi kehancuran dirimu sendiri, bahkan jerih payah dengan pengorbanan para Cianpwe Hoa-san-pay kita juga akan hancur seluruhnya.” Lenghou Tiong sampai berkeringat dingin mendengarkan cerita itu, kembali ia mohon ampun akan kekurangmengertiannya itu. “Tiong-ji, cara kau merebut pedangku dengan sarung pedang tadi dari mana kau mendapatkan ilhamnya?” tiba-tiba Gak-hujin bertanya. “Seketika itu yang murid pikirkan adalah menangkis serangan ibu-guru yang mahalihai, sama sekali tak mengira bahwa … bahwa ….” “Ya, soalnya sekarang kau tentu sudah paham,” ujar Gak-hujin. “Walaupun jurusmu tadi sangat bagus, tapi begitu kebentur dengan Lwekang Suhumu yang mahatinggi, betapa bagus jurus seranganmu juga tak berguna lagi. Dahulu ketika pertandingan di atas Giok-li-hong ini, entah betapa hebat ilmu pedang pihak yang mengutamakan permainan pedang itu, tapi berkat Ci-he-sin-kang yang telah diyakinkan oleh kakek-gurumu, belasan jago dari pihak pro pedang itu semuanya dikalahkan olehnya. Maka mulai sekarang hendak kalian camkan petuah gurumu tadi. Inti ilmu silat golongan kita terletak pada Lwekang, ilmu pedang hanya sebagai ikutan saja. Jika latihan Lwekang gagal, betapa pun tinggi ilmu pedangmu juga tiada gunanya.” Lenghou Tiong, Lo Tek-nau dan lain-lain sama membungkuk tubuh menerima petuah itu. Lalu Gak Put-kun bicara lagi, “Tiong-ji, mestinya hari ini aku akan mengajarkan pengantar Ci-he-sin-kang padamu, habis itu akan membawa kau turun gunung untuk membunuh jahanam Dian Pek-kong. Tapi urusan ini sekarang harus ditunda dahulu, selama dua bulan hendaknya kau mengulangi pelajaran Lwekang yang pernah kuajarkan sebelumnya, buanglah segala ilmu pedang yang aneh-aneh dan menyesatkan itu, kemudian aku akan menguji kau lagi, ingin kulihat ada kemajuan atau tidak.” Sampai di sini mendadak nadanya berubah bengis, “Tapi jika kau tetap tak mau insaf dan masih terus mengarah ke jalan yang sesat, maka, hehe, janganlah kau menyesal bila mesti terima akibatnya.” “Ya, murid pasti tidak berani lagi,” sahut Lenghou Tiong. “Dan kau, anak Sian dan Tay-yu, watak kalian juga kurang sabar, apa yang kukatakan tadi kalian juga harus ingat baik-baik,” demikian seru Gak Put-kun pula. Liok Tay-yu mengiakan dengan hormat. Sebaliknya Leng-sian menjawab, “Meski aku dan Laksuko berwatak tidak sabaran, tapi kami tidak secerdas Toasuko, mana mampu menciptakan ilmu pedang apa segala?” “Hm, tidak mampu? Bukankah kau dan Tiong-ji pernah ingin menciptakan Tiong-leng-kiam-hoat segala?” jengek Put-kun. Muka Lenghou Tiong dan Leng-sian sama berubah merah. Cepat Lenghou Tiong minta ampun pula. Sedangkan Leng-sian berkata lagi, “Itu adalah kejadian yang sudah sangat lama, tatkala mana kami hanya main-main saja. Dari mana ayah mendapat tahu?” “Sebagai Ciangbunjin, kalau gerak-gerik anak muridnya saja tidak tahu, lalu apa jadinya Hoa-san-pay kita?” dengus Put-kun. Melihat nada dan sikap sang guru itu sungguh-sungguh dan kereng, kembali Lenghou Tiong terkesiap pula. “Tentang ilmu silat golongan kita, asal sudah mencapai tingkatan sempurna, setiap gerakan ringan saja sudah cukup untuk merobohkan orang,” kata Put-kun pula sambil berbangkit. “Orang luar mengira Hoa-san-pay kita terkenal dengan ilmu pedang saja, sebenarnya pandangan demikian terlalu menilai rendah kita.” Habis berkata mendadak lengan baju kirinya mengebas sekali, di mana tenaganya tiba, sekonyong-konyong pedang yang tergantung di pinggang Liok Tay-yu meloncat keluar dari sarungnya. Ketika lengan baju kanan Gak Put-kun mengebas pula ke batang pedang itu, terdengarlah “krak-krek” beberapa kali, kontan pedang itu patah menjadi beberapa bagian. Keruan kejut Lenghou Tiong dan lain-lain tak terkatakan. Gak-hujin yang siang malam berdampingan dengan sang suami juga tidak tahu tingkatan Lwekang suaminya itu ternyata sudah sedemikian tingginya. Sungguh ia pun kagum luar biasa. “Marilah berangkat!” kata Put-kun. Bersama istrinya segera mereka turun dari puncak itu diikuti oleh Lo Tek-nau dan lain-lain. Sambil memandangi kedua batang pedang yang sudah patah-patah itu, kejut dan girang pula hati Lenghou Tiong. Pikirnya, “Kiranya ilmu silat Hoa-san-pay sendiri sedemikian lihainya, setiap jurus serangan yang dilontarkan Suhu rasanya tiada seorang pun yang mampu menangkisnya. Ukiran-ukiran di dinding gua belakang itu mengatakan seluruh ilmu silat dari Ngo-gak-kiam-pay telah kena dipatahkan dan dihancurkan orang, namun nama kebesaran Ngo-gak-kiam-pay buktinya tetap harum sampai sekarang dan menjagoi dunia persilatan. Kiranya masing-masing golongan memiliki dasar Khikang (Lwekang) yang hebat sehingga orang lain tidaklah gampang hendak mengalahkannya. Teori ini sebenarnya mudah dimengerti, tapi aku sendirilah yang telah keblinger. Sama-sama sejurus ‘Yu-hong-lay-gi’, tentu saja sangat berbeda dalam permainan Lim-sute dan Suhu. Serangan toya menurut ukiran dinding itu dapat mematahkan serangan jurus Yu-hong-lay-gi, tapi tidak mungkin dapat menangkis serangan Suhu dalam jurus yang sama.” Setelah memecahkan soal ini, rasa kesalnya selama beberapa bulan ini seketika tersapu bersih. Walaupun tadi gurunya tidak jadi mengajarkan Ci-he-sin-kang dan juga tidak menjodohkan Leng-sian kepadanya, namun sekarang Lenghou Tiong tidak merasa lesu lagi, sebaliknya kepercayaannya terhadap ilmu silat perguruan sendiri telah pulih kembali, semangat terbangkit seketika. Walaupun kedua pipi yang ditampar oleh gurunya tadi masih terasa sakit, tapi diam-diam ia merasa bersyukur sang guru keburu menyadarkan dia sehingga tidak sampai dia tersesat dan menjadi orang berdosa bagi perguruan sendiri. Segera ia membuang segala pikiran yang tidak-tidak dan duduk bersimpuh memusatkan pikiran. Petang besoknya Liok Tay-yu mengantarkan daharan padanya, dia memberi tahu bahwa pagi tadi sang guru dan ibu-guru telah berangkat ke Siamsay Utara. Lenghou Tiong rada heran. Ia tanya mengapa kedua orang tua itu ke sana? “Dian Pek-kong telah pindah tempat dan berbuat kejahatan pula di Yen-an,” tutur Tay-yu. Maka tahulah Lenghou Tiong. Ia pikir bila guru dan ibu-gurunya sudah tampil ke muka, tentu Dian Pek-kong sukar lolos dari ajalnya. Tiba-tiba ia merasa sayang juga. Ia merasa Dian Pek-kong itu memang pantas binasa sesuai ganjaran atas kejahatannya, tapi ilmu silatnya sesungguhnya juga amat tinggi, sifatnya juga cukup jantan seperti apa yang telah dialaminya di Cui-sian-lau tempo hari. Cuma sayang apa yang diperbuatnya selalu hal-hal yang jahat sehingga menjadi musuh bersama kaum persilatan. Dua hari selanjutnya Lenghou Tiong giat belajar Lwekang, dia telah menyumbat kembali lubang yang menembus ke gua belakang itu. Jangankan pergi melihat ukiran-ukiran dinding itu, bahkan berpikir saja tidak berani lagi. Petang hari itu, sesudah bersantap, dia duduk bersemadi untuk beberapa lamanya. Ketika dia akan tidur, tiba-tiba terdengar ada suara orang naik ke atas puncak itu. Dari suara tindakannya yang cepat gesit, terang ilmu silat pendatang itu sangat tinggi. Keruan ia terkejut. Ia tahu pendatang itu bukan orangnya sendiri, untuk maksud apa kedatangannya? Cepat ia siapkan pedang di pinggangnya. Dalam pada itu, pendatang itu sudah sampai di atas puncak dan sedang berseru, “Lenghou Tiong, sahabat lama yang datang ini!” Lenghou Tiong terperanjat. Ternyata pendatang itu bukan lain adalah “Ban-li-tok-heng” Dian Pek-kong! Padahal guru dan ibu-gurunya sedang pergi mencarinya, tapi sekarang dia malah datang ke Hoa-san. Segera Lenghou Tiong memapak keluar dan menjawab dengan tertawa, “Sungguh tidak nyana atas kunjungan Dian-heng ini!” Dian Pek-kong membawa sebuah pikulan. Dari kedua keranjang bambu pikulannya telah dikeluarkannya dua guci arak. Katanya dengan tertawa, “Kabarnya Lenghou-heng sedang meringkuk dalam penjara di puncak Hoa-san sini, tentu mulutmu sudah ketagihan, maka dari Tiang-an aku sengaja mengambilkan dua guci arak simpanan 130 tahun lamanya untuk dinikmati bersama Lenghou-heng.” Lenghou Tiong coba mendekati, di bawah sinar bulan dapat dilihatnya di luar kedua guci itu memang ada kertas etiket “Ti-sian-lau”, yaitu nama sebuah restoran terbesar di kota Tiang-an. Dari kertas etiket itu serta lak yang membungkus rapat mulut guci dapatlah diketahui memang barang simpanan lama sekali. Dasar kegemarannya memang minum arak, keruan ia bergirang, katanya dengan tertawa, “Kau telah sengaja memikul 100 kati arak ini ke puncak Hoa-san sini, kebaikanmu ini benar-benar harus dipuji. Mari, mari, boleh segera kita minum arak.” Ia berlari ke dalam gua dan mengambil dua buah mangkuk besar. Sementara itu Dian Pek-kong sudah membuka tutup guci sehingga terendus bau harum arak yang semerbak. Belum lagi arak itu masuk perutnya, baunya saja sudah memabukkan. Segera Dian Pek-kong menuangkan semangkuk penuh, katanya, “Coba kau mencicipi dulu, bagaimana rasanya?” Tanpa menolak lagi segera Lenghou Tiong menenggaknya sekaligus hingga habis, lalu serunya memuji, “Ehmmm, benar-benar arak bagus yang jarang ada bandingannya di dunia ini.” Dengan tertawa Dian Pek-kong berkata, “Menurut kaum ahli, katanya arak ternama hanya terdapat di Hunyang dan di Siauhin. Arak Hunyang tempatnya adalah di kota Tiang-an dan yang nomor satu adalah buatan ‘Ti-sian-lau’. Maka di zaman ini arak dari restoran yang termasyhur itu hanya dua guci ini saja dan tidak lebih.” Lenghou Tiong menjadi heran. “Masakah gudang Ti-sian-lau itu hanya bersisa dua guci ini saja?” tanyanya. “Simpanan di gudang Ti-sian-lau sih sangat banyak, ada ratusan guci sedikitnya,” sahut Dian Pek-kong dengan tertawa. “Tapi kupikir arak bagus ini kalau dapat dicicipi oleh setiap orang asal berduit, dari mana dapat menunjukkan kehebatan dan kekhususan Lenghou-tayhiap dari Hoa-san pay? Maka dari itu segera kukerjakan, hanya sebentar saja guci-guci di gudang restoran itu sudah hancur berantakan dan terjadi banjir arak.” Lenghou Tiong terkejut dan geli, tanyanya cepat, “He, jadi Dian-heng telah menghancurkan seluruh isi gudangnya?” “Ya, makanya di dunia sekarang ini hanya tinggal dua guci ini saja, dengan demikian barulah kelihatan oleh-oleh ini ada harganya bukan? Hahahaha!” “Terima kasih, terima kasih!” kata Lenghou Tiong sambil menuang semangkuk dan menenggaknya habis. “Padahal Dian-heng telah sudi memikul kedua guci arak ini ke puncak Hoa-san sini, jerih payah ini saja sudah pantas untuk dihargai setinggi-tingginya. Jangankan yang dibawa ini adalah arak nomor satu di dunia, sekalipun cuma air tawar juga membuat Lenghou Tiong sangat berterima kasih.” “Bagus, laki-laki sejati, jantan tulen!” seru Dian Pek-kong sambil mengacungkan jari jempol. “Mengapa Dian-heng memuji?” tanya Lenghou Tiong. “Kau tahu orang she Dian ini adalah maling cabul yang dapat berbuat kejahatan apa pun juga, setiap orang Hoa-san-pay semuanya ingin membunuh diriku juga. Tapi sekarang kubawa arak untukmu dan Lenghou-heng telah minum tanpa curiga apakah arak ini berbisa atau tidak, maka aku bilang hanya laki-laki sejati yang berjiwa besar saja yang ada nilainya untuk minum arak nomor satu ini.” “Ah, Dian-heng terlalu memuji saja. Kita sudah dua kali bergebrak, aku sudah tahu perbuatan Dian-heng memang tidak senonoh, namun kuyakin perbuatan pengecut pastilah tidak sudi dilakukan oleh Dian-heng. Padahal ilmu silat Dian-heng jauh lebih tinggi daripadaku, bila benar-benar ingin mencabut nyawaku dapatlah dilakukan dengan mudah, buat apa mesti pakai racun apa segala!” “Hahaha, benar juga ucapanmu,” seru Dian Pek-kong sambil terbahak. “Tapi apakah kau mengetahui bahwa kedua guci arak ini tidak kubawa langsung dari Tiang-an, tapi lebih dulu aku telah mampir ke daerah Siamsay untuk melakukan beberapa perkara, habis itu baru naik ke Hoa-san sini?” Lenghou Tiong terkesiap, ia tidak mengerti apa arti ucapan Dian Pek-kong itu. Tapi setelah direnung sejenak segera ia paham duduknya perkara. Katanya, “O, kiranya Dian-heng sengaja membikin beberapa perkara untuk memancing keberangkatan guru dan ibu-guruku, lalu kau dengan bebas dapat datang kemari. Dian-heng sengaja menggunakan tipu pancingan ini, entah apa maksud tujuanmu?” “Boleh Lenghou-heng coba menerkanya,” sahut Dian Pek-kong dengan tertawa. “Baik,” kata Lenghou Tiong. Lalu ia menuang semangkuk arak pula dan menyambung, “Dian-heng, kau adalah tamu, di gunung sunyi ini tidak ada sesuatu yang dapat kusuguhkan, biarlah kupinjam arakmu ini untuk menyuguhkan kau semangkuk.” “Terima kasih,” sahut Dian Pek-kong. Lalu mereka bersama-sama menghabiskan semangkuk arak. Mereka sama tertawa, saling memperlihatkan mangkuk masing-masing yang sudah kosong. Setelah menaruh kembali mangkuknya, mendadak sebelah kaki Lenghou Tiong melayang ke depan, kontan dua guci arak itu ditendang mencelat dan jatuh ke dalam jurang. Dian Pek-kong terkejut. “Heh, sebab apakah Lenghou-heng menendang kedua guci arak itu?” “Jalan kita berbeda, pikiran kita berlainan,” sahut Lenghou Tiong. “Dian Pek-kong, kejahatanmu sudah kelewat takaran, setiap orang persilatan siapa yang tidak ingin membinasakan kau. Lenghou Tiong menghormati kau karena sifatmu yang tidak terlalu pengecut, makanya sudi minum tiga mangkuk arak bersama kau. Persahabatan kita sampai di sini juga sudah berakhir, jangankan cuma dua guci arak, biarpun segala benda mestika di dunia ini kau taruh di depanku juga tak dapat membeli persahabatanku kepadamu.” “Sret”, mendadak ia lolos pedang dan berseru pula, “Dian Pek-kong, biarlah sekarang aku belajar kenal pula dengan ilmu golokmu yang hebat itu.” Namun Dian Pek-kong tidak melolos goloknya, dia tersenyum sambil menggeleng, katanya, “Lenghou-heng, ilmu pedang Hoa-san-pay kalian memang hebat, cuma usiamu masih muda, pelajaranmu belum sempurna. Jika kita mesti main senjata, betapa pun kau bukan tandinganku.” Teringat kepada kejadian dahulu, Lenghou Tiong sadar dirinya memang bukan tandingan maling cabul ini, kalau dahulu tidak menggunakan tipu akal mungkin jiwanya sudah melayang di tangannya. Segera ia mengangguk, katanya, “Ucapan Dian-heng memang betul. Dalam sepuluh tahun ini aku memang tidak mampu membinasakan Dian-heng.” Habis berkata, “krek”, ia kembalikan pedang ke dalam sarungnya. “Hahaha! Orang yang tahu gelagat adalah jantan sejati!” seru Dian Pek-kong. “Lenghou Tiong adalah kaum keroco saja, dengan susah payah Dian-heng datang kemari, mungkin tujuanmu bukan hendak mengambil buah kepalaku ini. Tapi hendaklah maklum bahwa kita adalah lawan dan bukan kawan, apa pun kehendak Dian-heng sama sekali takkan kuterima.” “Belum lagi aku bicara sudah lebih dulu kau tolak,” kata Dian Pek-kong dengan tertawa. “Betul,” sahut Lenghou Tiong. “Tak peduli apa kehendakmu pasti bertolak belakang seluruhnya. Aku memang bukan tandinganmu, terpaksa harus kabur saja. Selamat tinggal!” Habis berkata segera ia berlari ke belakang tebing sana. Namun Dian Pek-kong terkenal dengan Ginkang yang tinggi dan jarang ada bandingannya, oleh karena itulah selama ini dia dapat bergerak bebas meski sering digerebek oleh jago-jago persilatan dari berbagai aliran. Maka begitu Lenghou Tiong memutar tubuh, gerakan Dian Pek-kong ternyata lebih cepat pula, tahu-tahu dia sudah mengadang di depannya. Meskipun Lenghou Tiong beberapa kali putar haluan, tapi selalu dia kena dihalangi. “Tidak dapat lari, terpaksa berkelahi,” seru Lenghou Tiong sambil lolos pedang. “Marilah kita coba-coba lagi, Dian-heng, tapi aku pun akan berteriak minta bala bantuan.” “Jika gurumu datang kemari, terpaksa akulah yang akan kabur,” ujar Pek-kong dengan tertawa. “Namun Gak-siansing dan Gak-hujin sekarang berada beberapa ratus li jauhnya, terang mereka tidak keburu datang menolong kau. Sedangkan para Sutemu itu walau berjumlah banyak toh takkan berguna meski kau panggil ke sini, yang lelaki jiwanya akan melayang percuma, yang wanita, hehe … malahan kebetulan bagiku ….” Mendengar ucapan terakhir itu, Lenghou Tiong terkesiap. Ia pikir apa yang dikatakan maling cabul itu memang betul, para Sutenya terang bukan tandingan Dian Pek-kong, sebaliknya Siausumoaynya yang cantik itu bila dilihat Dian Pek-kong tentu akan menjadi korban keganasannya pula. Dasarnya Lenghou Tiong memang cerdik dan banyak tipu akalnya, segera ia mengambil keputusan, paling baik sekarang harus main pokrol saja untuk mengulur waktu, tak bisa menang dengan kekerasan, terpaksa harus mengalahkannya dengan akal. Asalkan diulur dan ditunda sampai guru dan ibu-gurunya sudah pulang nanti tentu keadaan akan dapat diselamatkan. Maka katanya kemudian sambil angkat bahu, “Baiklah, memangnya berkelahi aku pun tak bisa memang, lari juga tak dapat, panggil bala bantuan juga gagal, ya, apa mau dikata lagi.” “Lenghou-heng,” kata Dian Pek-kong dengan tertawa, “harap kau jangan salah sangka bahwa aku akan membikin susah padamu, padahal kedatanganku ini sangat berguna bagimu, aku percaya kelak kau tentu akan merasa terima kasih padaku.” “Dian-heng adalah maling cabul yang buruk nama, tak peduli urusan ini akan berfaedah bagiku atau tidak, pendek kata aku takkan sudi menjadi begundalmu,” sahut Lenghou Tiong. “Memang betul aku adalah maling cabul yang mahajahat, sebaliknya Lenghou-heng adalah kesatria muda terpuji dari Hoa-san-pay, sudah tentu kita tak bisa bergaul bersama. Tapi kalau tahu begini kenapa dahulu dilakoni?” “Apa artinya dahulu dilakoni?” tanya Lenghou Tiong. “Habis, ketika di Cui-sian-lau dahulu kita malah minum bersama semeja dengan akrab sekali.” “Hanya minum bersama saja apa artinya, dalam sejarah juga tidak kurang kaum pahlawan minum bersama musuh, misalnya Lau Pi dan Co Cho di zaman Sam-kok.” “Dan malahan di rumah pelacuran Kun-giok-ih kita juga pernah main perempuan bersama,” demikian Pek-kong menambahkan. “Cis,” jengek Lenghou Tiong, “tatkala itu aku dalam keadaan terluka parah, mana bisa dikatakan main perempuan segala?” “Akan tetapi di rumah pelacuran itulah Lenghou-heng telah tidur satu ranjang bersama kedua nona yang cantik jelita itu.” Hati Lenghou Tiong tergetar. Teriaknya, “Dian Pek-kong, hendaklah mulutmu dijaga bersih sedikit. Lenghou Tiong selamanya menjaga harga diri, kedua nona itu lebih-lebih suci bersih. Jika kau sembarangan omong secara kotor lagi, terpaksa aku tidak sungkan-sungkan pula.” “Apa gunanya kau tidak sungkan padaku sekarang? Jika kau ingin menjaga nama baik Hoa-san-pay, tatkala itu seharusnya kau berlaku sungkan dan menghormati kedua nona itu. Tapi mengapa secara terang-terangan di hadapan tokoh-tokoh Jing-sia-pay dan Heng-san-pay kau tidur satu ranjang dan main gila dengan kedua nona itu? Hahahaha!” Keruan Lenghou Tiong sangat gusar, kontan ia menghantam ke depan. Namun dengan tertawa Dian Pek-kong telah mengelak. Katanya, “Apa yang terjadi itu tak mungkin disangkal olehmu, bukti menjadi saksi. Kalau tempo hari tidak main gila terhadap mereka, mengapa sekarang mereka rindu padamu?” Diam-diam Lenghou Tiong pikir tiada gunanya bertengkar mulut dengan bajingan yang hina ini, kalau bicara terus bukan mustahil segala kata-kata kotor juga dapat diucapkan olehnya. Waktu di Cui-sian-lau tempo dulu dia telah tertipu, kejadian itu merupakan suatu penghinaan yang memalukan baginya, hanya dengan kejadian itulah baru dapat menyumbat mulutnya. Maka mendadak ia tertawa malah dan berkata, “Aha, kukira ada keperluan apa Dian-heng datang ke sini, tak tahunya adalah perintah gurumu si Nikoh cilik Gi-lim yang mengirimkan dua guci arak padaku untuk membalas budiku karena aku telah mencarikan seorang murid baik baginya. Hahaha!” Sekilas muka Dian Pek-kong berubah merah. Sahutnya kemudian, “Kedua guci arak itu adalah oleh-olehku sendiri. Hanya saja kedatanganku ke Hoa-san sini memang benar ada hubungannya dengan Gi-lim Siausuhu.” “Kalau panggil Suhu ya Suhu saja, mengapa pakai Siau (cilik) segala? Seorang laki-laki sejati sekali sudah omong harus pegang janji. Memangnya kau hendak menyangkal? Gi-lim Sumoay adalah murid Hing-san-pay yang ternama, adalah beruntung sekali jika kau dapat mengangkat seorang guru seperti dia. Hahaha!” Sekarang Dian Pek-kong yang murka, segera ia hendak mencabut golok, tapi dapatlah ia menahan perasaannya, katanya dengan dingin, “Lenghou-heng, kepandaian silatmu kurang sempurna, tapi kepandaian mulutmu benar-benar lihai.” “Ya, main hantam tidak dapat menandingi Dian-heng, terpaksa mencari jalan melalui mulut,” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. “Adu mulut aku terima mengaku kalah saja. Sekarang silakan Lenghou-heng ikut berangkat padaku.” “Tidak, tidak mau! Biarpun aku dibunuh juga tidak mau!” “Apakah kau tahu ke mana aku hendak membawa kau?” tanya Dian Pek-kong. “Tidak tahu!” sahut Lenghou Tiong. “Pendek kata, apakah kau akan bawa aku naik ke langit atau masuk ke bumi, tetap aku tidak sudi ikut pergi.” “Sesungguhnya aku hendak mengundang Lenghou-heng pergi menjumpai Gi-lim Siausuhu,” kata Dian Pek-kong akhirnya. Lenghou Tiong terkejut. “Hee, kiranya Gi-lim Sumoay kembali jatuh ke dalam cengkeramanmu lagi?” serunya. “Sungguh kurang ajar sekali kau, berani berlaku tidak senonoh kepada gurunya sendiri?” Dian Pek-kong menjadi gusar. Jawabnya, “Guruku ada orangnya tersendiri, bila kuterangkan tentu kau akan kaget setengah mati. Untuk selanjutnya hendaklah kau jangan mencampuradukkan hal ini dengan Gi-lim Siausuhu.” Sesudah sikapnya agak ramah, lalu katanya pula, “Sesungguhnya siang dan malam Gi-lim Siausuhu senantiasa terkenang padamu. Aku telah anggap kau sebagai sahabat, sejak itu aku tidak berani bersikap kurang hormat sedikit pun padanya. Untuk ini bolehlah kau percaya padaku. Nah, marilah kita berangkat saja.” “Tidak, tidak mau! Sekali tidak mau, tetap tidak mau!” sahut Lenghou Tiong. Dian Pek-kong tertawa dan tidak bersuara pula. “Apa yang kau tertawakan?” tanya Lenghou Tiong. “Ilmu silatmu lebih unggul, lalu kau hendak pakai kekerasan untuk menawan aku bukan?” “Sama sekali aku tiada punya rasa permusuhan kepadamu, sesungguhnya aku tidak ingin membikin susah padamu. Tapi jauh-jauh aku sudah datang kemari, mana boleh pulang dengan tangan hampa?” “Dian Pek-kong, dengan ilmu golokmu yang hebat itu memang tidak sukar untuk membunuh diriku. Tetapi Lenghou Tiong lebih suka mati daripada dihina, paling-paling jiwaku ini saja yang akan melayang, jika kau ingin menawan aku hidup-hidup, huh, jangan harap.” Untuk sejenak Dian Pek-kong menatap tajam ke arah Lenghou Tiong. Dari kejadian-kejadian dahulu memang diketahuinya murid Hoa-san-pay ini sangat gagah perwira, wataknya suka nekat dan tak gentar terhadap apa pun juga. Jika dia benar-benar sudah nekat, untuk membunuhnya memang gampang, tapi hendak menawannya benar-benar sukar. Akhirnya Dian Pek-kong berkata, “Lenghou-heng, aku hanya diminta orang untuk mengundang kau supaya menemui Gi-lim Siausuthay, maksud lain tidak ada. Buat apa kau mesti nekat dan mengadu jiwa?” “Kalau sesuatu aku sudah tidak mau, jangankan kau, sekalipun guruku, ibu-guru, Ngo-gak-bengcu atau si kakek raja juga tak bisa memaksa aku. Pendek kata sekali aku tidak mau pergi, tetap aku tidak mau pergi.” “Jika begini kukuh tekadmu, terpaksa aku berlaku kasar padamu,” kata Dian Pek-kong sambil melolos golok. “Kau bermaksud menawan aku, itu sudah perbuatan yang kasar padaku. Biarlah hari ini puncak ini sebagai tempat istirahatku yang abadi,” seru Lenghou Tiong dengan gusar. “Sret”, ia pun mengacungkan pedangnya sambil bersuit panjang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: