Hina Kelana: Bab 30. Gak-hujin Menguji Ilmu Pedang Lenghou Tiong

Setelah melemparkan semua mangkuk piring ke dalam jurang, saat itu Lenghou Tiong telah angkat sepotong batu dan hendak dilemparkan pula. Tapi demi mendengar ucapan Liok Tay-yu itu, mendadak ia menghela napas panjang sambil membuang batu itu. Ia pegang kedua tangan Tay-yu dan berkata, “Maaf, Laksute, perasaanku sendiri yang merasa kesal dan tiada sangkut paut dengan dirimu.” Tay-yu merasa lega. Katanya, “Biarlah kupulang untuk mengambilkan daharan lagi.” “Tidak, tidak perlu,” kata Lenghou Tiong. “Selama beberapa hari ini aku memang tidak nafsu makan.” Tay-yu melihat daharan kemarin masih utuh, sedikit pun belum termakan. Ia menjadi khawatir. Katanya, “Toasuko, kemarin kau pun tidak makan apa-apa?” “Ya, tak apa-apa, memang beberapa hari ini aku tidak nafsu makan,” sahut Lenghou Tiong sambil memaksakan tertawa. Tay-yu tidak berani banyak omong lagi. Kemudian ia mohon diri buat pulang. Besoknya sebelum matahari terbenam dia sudah datang membawakan daharan. Pikirnya, “Hari ini telah kubawakan satu poci arak dan menambahi dua macam sayuran enak, betapa pun aku harus membujuk Toasuko supaya makan sedikit banyak.” Setiba di dalam gua, dilihatnya Lenghou Tiong berbaring di atas batu besar itu dengan muka pucat dan kurus. Agak terkejut ia. Segera katanya, “Toasuko, coba lihatlah apakah ini?” Berbareng ia terus angkat botol arak dan membuka sumbatnya. Maka keluarlah bau arak yang harum. Kegemaran Lenghou Tiong memang adalah minum arak, cepat ia terima botol arak itu terus ditenggaknya sekaligus hingga setengah botol. “Ehmm, tidak jeleklah arak ini!” pujinya. Tay-yu sangat senang. Segera ia ambil mangkuk dan berkata, “Biar kuisikan nasi untukmu.” “Tidak, tidak perlu! Aku tidak ingin makan,” kata Lenghou Tiong sambil goyang tangan. “Semangkuk saja,” ujar Tay-yu, lalu mangkuk itu diisi nasi dengan penuh. Melihat maksud baiknya itu terpaksa Lenghou Tiong menjawab, “Baiklah, habis minum arak barulah kumakan nasinya.” Namun semangkuk nasi itu sampai akhirnya tetap tak dimakan oleh Lenghou Tiong. Ketika besoknya Tay-yu datang lagi, ia melihat semangkuk nasi itu masih tetap tertaruh di atas meja batu, sedangkan sang Toasuko masih tidur. Dilihatnya kedua pipi Lenghou Tiong rada merah. Ia coba meraba dahinya, rasanya panas seperti dibakar. “He, Toasuko, kau sakit?” tanyanya khawatir. Tiba-tiba Lenghou Tiong berseru, “Arak, arak, mana arak! Aku mau minum arak!” Walaupun Liok Tay-yu telah membawakan arak lagi, tapi ia tidak berani memberinya, ia hanya menuangkan semangkuk air dan disodorkan padanya. Sekaligus Lenghou Tiong menghabiskan semangkuk air itu lalu berseru, “Arak bagus, arak enak!” Habis itu lalu ia menjatuhkan diri pula di atas batu sambil terus menggumam, “Arak bagus, arak bagus!” Melihat sakitnya tidak enteng, Tay-yu menjadi khawatir. Celakanya pagi tadi guru dan ibu-gurunya kebetulan turun gunung karena ada urusan penting. Cepat ia berlari pulang untuk menyampaikan hal itu kepada Lo Tek-nau dan saudara-saudara seperguruan yang lain. Walaupun Gak Put-kun telah melarang para muridnya naik ke atas puncak kecuali orang yang ditugaskan mengantar ransum untuk Lenghou Tiong, tapi sekarang sang Toasuko dalam keadaan sakit, kalau cuma pergi menjenguknya rasanya juga tidak melanggar larangan itu. Namun demikian, para murid Hoa-san-pay itu pun tidak berani naik ke atas puncak semua, lebih dulu Lo Tek-nau dan Nio Hoat, besoknya Si Tay-cu dan Ko Kin-beng dan kemudian bergilir pula yang lain. Pada hari pertama itu juga Liok Tay-yu telah memberitahukan hal sakitnya Toasuko kepada Gak Leng-sian serta para saudara seperguruan akan pergi menjenguknya secara berkelompok-kelompok. Rupanya waktu itu rasa dongkol Gak Leng-sian masih belum hilang, ia berkata, “Lwekang Toasuko sangat tinggi, mana bisa dia jatuh sakit. Huh, aku tidak mau ditipu.” Penyakit Lenghou Tiong itu benar-benar rada berat, berturut-turut empat hari empat malam ia terus tak sadarkan diri. Berulang-ulang Liok Tay-yu memohon dengan sangat kepada Leng-sian agar sudi naik ke atas puncak untuk menjenguk sang Toasuko, untuk mana hampir-hampir saja ia berlutut kepada si nona. Melihat kesungguhan Liok Tay-yu, akhirnya Leng-sian menjadi khawatir juga, segera ia naik ke atas bersama Tay-yu. Dilihatnya muka Lenghou Tiong kurus celung, janggutnya tak terawat, sedikit pun tidak ganteng seperti biasanya. Leng-sian merasa menyesal, ia mendekati Lenghou Tiong dan memanggilnya dengan suara halus, “Toasuko, aku datang menjenguk kau, hendaklah kau jangan marah lagi ya?” Tapi Lenghou Tiong seperti orang linglung, matanya terbelalak lebar dan seperti bingung memandangi si nona, seakan-akan sudah tidak kenal lagi padanya. “Toasuko, aku inilah! Mengapa kau tidak gubris padaku?” seru Leng-sian pula. Namun Lenghou Tiong tetap termangu-mangu saja, lewat agak lama akhirnya ia tertidur, sampai kemudian Tay-yu dan Leng-sian pulang dia masih tetap belum mendusin. Sakit Lenghou Tiong itu terus berlangsung hingga lebih sebulan, akhirnya sembuh juga dengan perlahan-lahan. Selama lebih sebulan itu Leng-sian telah datang menjenguknya tiga kali. Waktu datang untuk kedua kalinya, pikiran Lenghou Tiong sudah sadar dan merasa sangat senang demi melihat si nona. Ketika datang untuk ketiga kalinya, Leng-sian telah membawakan beberapa potong penganan kesukaan sang Toasuko. Waktu itu Lenghou Tiong sudah kuat berduduk, dia telah makan penganan yang dibawakan itu. Tapi habis itu untuk seterusnya Leng-sian tidak pernah datang lagi. Sesudah bisa berbangkit dan kuat berjalan, setiap hari Lenghou Tiong suka menantikan kedatangan sang Sumoay di tepi tebing. Akan tetapi setiap kali yang terdengar bukanlah suara tindakan Siausumoaynya yang lincah itu, sebaliknya yang muncul adalah Liok Tay-yu dengan langkahnya yang cepat. Petang itu kembali Lenghou Tiong duduk termenung di tepi tebing dan memandang ke bawah. Tiba-tiba dilihatnya dua sosok bayangan orang sedang mendatangi dengan cepat luar biasa. Yang berjalan di depan adalah seorang wanita. Sesudah dekat, kiranya adalah guru dan ibu-gurunya. Saking girangnya ia sampai berjingkrak dan berseru, “Suhu! Sunio!” Hanya sekejap saja Gak Put-kun dan istrinya sudah melompat ke atas tebing puncak tertinggi itu. Tangan Gak-hujin menjinjing sebuah keranjang nasi. Menurut peraturan Hoa-san-pay yang sudah turun-temurun, setiap murid yang dihukum kurung merenungkan dosanya di atas puncak gunung itu, murid-murid yang lain dilarang naik ke situ untuk bicara padanya. Siapa duga sekarang Gak Put-kun dan istrinya malah datang sendiri untuk menjenguknya. Sudah tentu girang Lenghou Tiong tak terhingga, cepat ia berlutut dan menyembah, serunya sambil merangkul kedua kaki sang guru, “O, Suhu, Sunio, sungguh murid sangat rindu kepada kalian!” Gak Put-kun cukup kenal watak muridnya yang berperasaan lembut. Sebelum datang dia sudah mencari tahu apa sebabnya Lenghou Tiong jatuh sakit. Walaupun murid-muridnya tidak ada yang mengaku terus terang, tapi dari kata-kata mereka telah dapat diduga pangkal penyakitnya adalah karena Leng-sian. Waktu dia tanya putrinya itu, dari jawabannya yang tergagap-gagap dan mencurigakan itu ia menjadi lebih jelas duduknya perkara. Sekarang dilihatnya luapan perasaan Lenghou Tiong seperti anak kecil itu, meski sudah tinggal setengah tahun di puncak terpencil itu toh wataknya masih belum berubah, maka dengan kurang senang ia telah mendengus. Gak-hujin yang segera membangunkan Lenghou Tiong, dipandangnya sejenak anak murid kesayangan itu, ia menjadi terharu dan kasihan demi melihat air muka Lenghou Tiong yang pucat dan kurus itu. Tanyanya dengan suara halus, “Anak Tiong, aku dan Suhu baru saja pulang dari Kwan-gwa. Katanya kau telah sakit, apakah sekarang sudah baik?” Dada Lenghou Tiong terasa panas dan air mata hampir-hampir mengucur keluar, sahutnya, “Sekarang sudah baik. Suhu dan Sunio tentu sangat capek dari perjalanan jauh dan baru pulang sudah lantas datang men … menjenguk murid.” Sampai di sini tak tertahankan lagi guncangan perasaannya, bicaranya menjadi parau dan tergagap. Cepat ia berpaling untuk mengusap air matanya yang akan menetes. Dari dalam keranjang nasi Gak-hujin mengeluarkan semangkuk kuah Jinsom yang masih hangat-hangat, katanya, “Ini adalah kuah Jinsom yang kubawa dari Kwan-gwa, akan bermanfaat bagi kesehatanmu, lekas kau minum.” Sungguh terharu dan sangat berterima kasih bila Lenghou Tiong ingat bahwa sepulangnya dari perjalanan jauh, pertama-tama sang guru dan ibu-guru sudah lantas menjenguknya dengan membawakan kuah Jinsom. Dengan tangan rada gemetar ia terima mangkuk itu. Melihat tangan murid kesayangan itu gemetar, Gak-hujin bermaksud menyuapnya. Tapi Lenghou Tiong sudah lantas menyeruput habis kuah Jinsom itu, lalu mengucapkan terima kasih. Gak Put-kun coba pegang nadi tangan Lenghou Tiong. Setelah diperiksa sejenak, dalam hal Lwekang ia merasa muridnya itu malahan mundur daripada dahulu. Ia semakin kurang senang. Katanya, “Sakitnya sudah sembuh. Hanya saja … Tiong-ji, selama beberapa bulan tinggal di sini sebenarnya apa yang kau kerjakan? Mengapa Lwekangmu tidak maju, sebaliknya malah mundur?” “Ya, mohon Suhu dan Sunio mengampuni,” sahut Lenghou Tiong sambil menyembah. “Anak Tiong baru saja sakit dan kesehatannya belum lagi pulih, dengan sendirinya tenaga dalamnya tentu lebih lemah daripada dulu. Memangnya kau mengharapkan dia semakin sakit semakin kuat Lwekangnya?” ujar Gak-hujin dengan tersenyum. “Yang kuperiksa adalah Lwekangnya dan bukan lemah dan kuat badannya,” kata Gak Put-kun. “Lwekang golongan kita berbeda dengan golongan lain, asal giat berlatih, sekalipun di waktu tidur juga terus maju tiada hentinya. Tiong-ji sudah belasan tahun belajar Lwekang, jika badannya tidak terluka, seharusnya tidak sampai jatuh sakit. Pendek kata adalah karena dia tak dapat menguasai perasaan dan nafsu, makanya Lwekangnya tiada kemajuan.” Gak-hujin tahu apa yang dikatakan sang suami memang tidak salah. Segera ia berkata kepada Lenghou Tiong, “Anak Tiong, Suhumu sering memperingatkan padamu agar kau giat belajar, kau dikurung di atas puncak sini untuk berlatih sendiri sebenarnya bukanlah dihukum benar-benar, tapi maksudnya agar supaya kau tidak diganggu oleh urusan-urusan lain, agar di dalam setahun ini baik Lwekang maupun ilmu pedangmu dapat maju dengan pesat. Tak tersangka … tak tersangka, ai ….” Lenghou Tiong sangat malu dan gugup, cepat ia menjawab, “Ya, murid sudah insaf akan kesalahannya, sejak kini tentu akan belajar dengan sungguh-sungguh.” Lalu Gak Put-kun berkata pula, “Banyak sekali perubahan dan pergolakan di dunia persilatan. Akhir-akhir ini aku dan ibu-gurumu telah menjelajahi berbagai tempat dan melihat banyak sekali bibit-bibit bencana yang sukar dibasmi, lekas tentu akan mendatangkan malapetaka hebat. Sungguh hatiku merasa tidak tenteram sekali. Kau adalah muridku yang pertama, aku dan ibu-gurumu menaruh harapan sebesar-besarnya atas dirimu, semoga kelak kau dapat membagi beban kesukaran kami demi perkembangan dan kejayaan Hoa-san-pay kita. Tapi kau lebih suka terlibat dalam urusan muda-mudi, tidak pikirkan kemajuan, sungguh membikin kami sangat kecewa.” Melihat wajah sang guru yang murung itu, Lenghou Tiong tambah gugup, lekas-lekas ia menyembah pula dan minta ampun. “Ya, murid benar-benar bersalah besar sehingga mengecewakan harapan Suhu dan Sunio.” Gak Put-kun membangunkannya, katanya dengan tersenyum, “Jika kau sudah insaf akan kesalahanmu, maka legalah hatiku. Biarlah setengah bulan lagi aku akan datang pula untuk menguji ilmu pedangmu.” Habis berkata segera ia putar tubuh hendak pulang. “Suhu, ada suatu hal ….” seru Lenghou Tiong. Ia bermaksud melaporkan tentang ukiran di dinding gua belakang yang dilihatnya itu. Namun Gak Put-kun telah mengebaskan tangannya terus turun ke bawah. “Dalam setengah bulan ini kau harus giat belajar,” demikian Gak-hujin memberi pesan. “Hal ini menyangkut kepentingan hidupmu di masa depan, janganlah sekali-kali kau lalai.” “Baik, Sunio ….” mestinya dia hendak melaporkan pula tentang ukiran di dinding itu, tapi Gak-hujin sudah lantas menuding-nuding Gak Put-kun, lalu menggoyang-goyangkan tangannya dengan tersenyum. Habis itu ia lantas menyusul ke arah sang suami. Sesudah berada sendirian, diam-diam Lenghou Tiong berpikir, “Mengapa ibu-guru bilang berhasil tidaknya latihanku akan menyangkut kepentingan hidupku di masa depan? Sebab apa pula ibu-guru memberi pesannya itu padaku di belakang Suhu? Jangan-jangan … jangan-jangan ….” Tiba-tiba hatinya berdebar-debar dan mukanya merah, ia tidak berani memikir lebih mendalam lagi hal ini. Dalam hati kecilnya timbul suatu harapan, “Jangan-jangan Suhu dan Sunio mengetahui sakitku ini adalah lantaran Siausumoay, maka mereka akan menjodohkan Siausumoay kepadaku? Cuma mulai sekarang aku harus giat belajar, baik Lwekang maupun ilmu pedang, semuanya aku harus dapat mewariskan ajaran Suhu. Agaknya Suhu tidak enak bicara terang-terangan padaku, tapi Sunio anggap aku sebagai anak kandung, diam-diam beliau telah memberi pesan padaku. Kalau tidak, urusan apakah yang menyangkut kepentingan hidupku di masa depan?” Berpikir sampai di sini, seketika semangatnya terbangkit, ia angkat pedang terus memainkan beberapa kali ilmu pedang yang paling tinggi ajaran Suhunya. Akan tetapi ukiran-ukiran di dinding gua belakang itu sudah melekat dalam pada benaknya, tak peduli dia memainkan jurus apa, dengan sendirinya dalam benaknya lantas timbul macam-macam cara untuk mengalahkannya itu. Ia berhenti bermain, pikirnya, “Tentang ukiran-ukiran itu aku belum sempat bicara kepada guru dan ibu-guru, setengah bulan lagi bila beliau-beliau datang pula, setelah diperiksa tentu macam-macam tanda tanya akan terpecahkan.” Begitulah, walaupun kata-kata Gak-hujin itu telah membangkitkan semangatnya, tapi seharian itu latihannya ternyata tiada banyak kemajuan, sebaliknya perasaannya bergolak malah dan berpikir, “Guru dan ibu-guru hendak menjodohkan Siausumoay padaku, entah dia sendiri sukarela atau tidak? Jika aku benar-benar bisa menjadi suami-istri dengan dia, entah dia dapat melupakan Lim-sute tidak? Padahal Lim-sute yang baru masuk perguruan dan minta petunjuk ilmu pedangnya padanya, suka mengawani dia sekadar menghilangkan rasa kesal, kedua orang toh tidak saling mencintai sungguh, mana dia dapat dibandingkan dengan diriku yang sudah belasan tahun dibesarkan bersama Siausumoay. Tempo hari aku hampir-hampir dibunuh oleh Ih Jong-hay, berkat Lim-sute yang bersuara sehingga aku tertolong, kejadian ini tak boleh kulupakan selama hidup ini, kelak aku harus membalas kebaikannya. Jika dia menghadapi bahaya, biarpun mengorbankan jiwa sendiri juga aku harus menolong dia sekuat tenaga.” Sang tempo lewat dengan cepat, sekejap saja setengah bulan sudah lalu. Petang hari itu Gak Put-kun dan istrinya telah datang lagi. Yang ikut datang adalah Lo Tek-nau, Liok Tay-yu dan Gak Leng-sian. Melihat Siausumoay juga ikut datang, sewaktu menyapa Suhu dan Sunio suaranya sampai-sampai rada gemetar. Melihat air muka sang murid sudah jauh lebih segar dan penuh semangat, Gak-hujin mengangguk-angguk dan berkata, “Anak Sian, coba ambilkan nasi untuk Toasuko, biarkan dia makan yang kenyang agar nanti dapat berlatih pedang dengan baik.” Leng-sian mengiakan. Lalu membuka keranjang nasi dan mengeluarkan mangkuk dan sumpit. Ia isi semangkuk nasi dan berkata dengan tertawa, “Silakan makan, Toasuko!” “Teri … terima kasih,” sahut Lenghou Tiong. “He, apakah engkau masih demam? Mengapa suaramu gemetar lagi?” tanya Leng-sian dengan tertawa. “Ti … tidak apa-apa,” sahut Lenghou Tiong. Tapi diam-diam berkata di dalam hati, “Bila selanjutnya siang dan malam di waktu makan kau senantiasa mendampingi aku, maka tiada permohonan lain lagi selama hidupku ini.” Semangkuk nasi itu segera dimakannya, hanya beberapa kali sapu dengan sumpitnya sudah dihabiskan. “Kutambahkan nasi lagi,” ujar Leng-sian. “Terima kasih, sudah cukup,” sahut Lenghou Tiong. “Suhu dan Sunio sedang menunggu.” Lalu dia keluar gua, dilihatnya Gak Put-kun dan istri duduk berjajar di atas batu. Lenghou Tiong melangkah maju dan memberi hormat. Rasanya ingin bicara apa-apa tapi mulutnya seperti terkancing dan sukar membuka suara. Waktu ia berpaling, dilihatnya Liok Tay-yu sedang memicingkan sebelah mata padanya dengan wajah berseri-seri. Diam-diam Lenghou Tiong heran, pikirnya, “Apakah Laksute memperoleh berita apa-apa sehingga ikut bergirang bagiku?” Gak Put-kun memandang tajam kepada Lenghou Tiong, sejenak kemudian baru berkata, “Kemarin Kin-beng baru pulang dari Tiang-an, katanya Dian Pek-kong telah melakukan beberapa perkara di kota itu.” “Dian Pek-kong berada di Tiang-an?” Lenghou Tiong menegas. “Yang dia lakukan tentu bukan perkara baik.” “Sudah tentu, masakah masih perlu tanya?” ujar Gak Put-kun. “Ho-keh-ceng di kota Tiang-an, tentu kau kenal bukan?” “Ya, murid kenal,” sahut Lenghou Tiong. “Ho-cengcu adalah sahabat baik Suhu. Beliau tersohor di dunia Kangouw karena ruyung baja dan tameng besinya. Apakah … apakah mungkin Dian Pek-kong berani menyatroni Ho-keh-ceng?” Gak Put-kun menengadah memandang awan yang melayang lewat di langit. Lalu katanya dengan perlahan, “Ya, Jisiocia (putri kedua) Ho-cengcu baru saja gantung diri kemarin.” Lenghou Tiong juga sudah menduga perkara yang dilakukan Dian Pek-kong tentulah soal pemerkosaan, tapi tak menduga bahwa dia begitu berani menyatroni Ho-cengcu yang termasyhur itu. Ho-cengcu itu lengkapnya bernama Ho Koan. Usianya antara 50-an, mahir bersenjata tameng dan ruyung baja, ilmu silatnya sangat hebat dan disegani di dunia Kangouw. Tadi Gak Put-kun hanya mengatakan putri Ho-cengcu itu mati gantung diri, sebabnya sudah tentu karena telah diperkosa oleh Dian Pek-kong. Hanya saja tidak diceritakan terus terang karena di situ juga hadir Gak-hujin dan Leng-sian. Namun Lenghou Tiong sudah lantas tahu duduknya perkara, serunya dengan gusar, “Keparat Dian Pek-kong itu benar-benar sudah kelewat takaran berbuat kejahatan dan pantas dibunuh. Suhu, kita ….” sampai di sini ia tidak dapat meneruskan lagi. “Kita kenapa?” tanya Put-kun. “Keparat itu berani main gila di kota Tiang-an, terang dia memandang enteng kepada Hoa-san-pay kita,” kata Lenghou Tiong. “Cuma Suhu dan Sunio yang berkedudukan tinggi dan terhormat memang tidak perlu mengotorkan pedang untuk membinasakan jahanam itu. Sayang kepandaian murid belum cukup sempurna dan bukan tandingan jahanam itu, apalagi murid adalah orang berdosa dan tak dapat turun dari puncak sini. Namun kalau jahanam itu dibiarkan malang melintang di kaki gunung Hoa-san kita, hal ini sungguh harus disesalkan.” “Jika kau benar-benar ada kemungkinan membinasakan jahanam itu untuk membalas sakit hati Ho-cengcu, sudah tentu aku dapat mengizinkan kau turun dari puncak sini,” kata Put-kun. “Coba sekarang kau pertunjukkan ilmu pedang tunggal keluarga Ling ajaran ibu-gurumu itu. Selama setengah tahun ini tentunya kau pun sudah hampir memahami seluruhnya, ditambah lagi dengan petunjuk-petunjuk ibu-gurumu nanti, rasanya sudah cukup untuk menandingi keparat she Dian itu.” Lenghou Tiong melengak. Ia merasa ibu-gurunya tidak pernah mengajarkan jurus ilmu pedang padanya. Tapi setelah dipikir segera ia paham persoalannya. Sesudah percobaan tempo hari, meski ibu-gurunya secara resmi tidak mengajarkan jurus serangan itu, tapi dengan tingkat pelajarannya atas ilmu silat perguruannya sendiri seharusnya dirinya paham di mana letak kekuatan jurus serangan itu. Maka sang guru menduga selama setengah tahun ini dia sudah dapat menyelami dan meyakinkan jurus serangan itu dengan lebih sempurna. Teringat akan jurus serangan ilmu pedang ibu-guru itu, tanpa merasa jidatnya lantas berkeringat, alangkah gugupnya dia. Maklum, waktu mula-mula dia naik ke atas puncak itu memang dia sering memikirkan dan mengulangi permainan jurus ilmu pedang yang hebat itu. Tapi sejak dia menemukan ukiran dinding di gua belakang dan melihat ilmu pedang Hoa-san-pay semuanya kena dipatahkan orang, malahan jurus serangan lihai ajaran ibu-guru itu pun kalah habis-habisan, mau tak mau dia telah kehilangan kepercayaan atas jurus serangan itu dan sejak itu tak pernah memikirkannya lagi. Siapa duga sekarang sang guru telah minta dia mempertunjukkan jurus serangan tunggal itu, katanya jurus itu akan digunakan untuk membunuh Dian Pek-kong. Sesungguhnya dia ingin mengatakan jurus itu tak berguna, percuma saja, sebab akan dapat dikalahkan orang. Tapi di depan Lo Tek-nau dan Liok Tay-yu tidaklah pantas menilai rendah jurus serangan ciptaan ibu-guru yang sangat dibanggakan beliau itu. Melihat sikap Lenghou Tiong yang ragu-ragu itu, segera Put-kun bertanya, “Apakah jurus tunggal itu belum kau latih dengan baik? Itulah tidak mengapa. Jurus serangan itu adalah intisari dari ilmu silat Hoa-san-pay kita, mungkin Lwekangmu belum cukup kuat sehingga sukar meyakinkannya. Tapi lambat laun tentu kau dapat mengatasinya.” “Tiong-ji,” tiba-tiba Gak-hujin berkata dengan tertawa. “Kenapa tidak lekas mengucapkan terima kasih kepada Suhu? Beliau telah siap mengajarkan ‘Ci-he-sin-kang’ padamu.” Lenghou Tiong terkesiap. Tapi cepat ia pun berkata, “Ya, terima kasih, Suhu.” Dan baru dia hendak berlutut menyembah, cepat Put-kun menahannya, katanya dengan tertawa, “Ci-he-sin-kang adalah inti tertinggi dari Lwekang perguruan kita, sebabnya aku tidak mau sembarangan mengajarkan kepada para murid bukanlah karena kepelitanku. Soalnya bila sudah berlatih Lwekang ini, maka pemusatan pikiran harus kuat, latihan harus giat, sedikit pun tidak boleh ayal di tengah jalan, kalau tidak tentu akan membahayakan yang melatihnya malah. Dari itu, anak Tiong, aku ingin melihat dulu kemajuan ilmu silat yang kau capai selama ini, habis itu barulah aku dapat ambil keputusan boleh mengajarkan Ci-he-sin-kang padamu atau tidak.” Mendengar Toasuko mereka akan mendapat ajaran “Ci-he-sin-kang”, sungguh kagum Lo Tek-nau, Liok Tay-yu dan Gak Leng-sian tak terkatakan. Mereka tahu Ci-he-sin-kang itu adalah ilmu Lwekang yang mahahebat, termasuk satu di antara ilmu kebanggaan Hoa-san-pay. Mereka tahu di antara sesama saudara seperguruan memang tiada seorang pun yang lebih pandai daripada Lenghou Tiong, bahwasanya kelak dia yang akan menjadi ahli waris sang guru adalah tidak perlu disangsikan lagi. Mereka hanya tidak nyana bahwa begini cepat guru mereka sudah mengajarkan ilmu sakti itu kepada Toasuhengnya. Segera Liok Tay-yu berkata, “Toasuko selalu belajar dengan giat. Setiap hari bila aku mengantar daharan ke sini, selalu melihat dia sedang belajar, kalau tidak duduk semadi tentu sedang berlatih pedang.” Leng-sian meliriknya sambil mencibir, dalam hatinya menggerutu, “Hm, kau si monyet ini berani bohong, kau memang selalu mengeloni Toasuko saja.” Sementara itu Gak-hujin telah berkata, “Boleh lolos pedangmu, anak Tiong. Kalau kita guru dan murid bertiga pergi melabrak Dian Pek-kong, kukira masih boleh juga.” “Engkau maksudkan kita bertiga mengerubut Dian Pek-kong seorang, Sunio?” tanya Lenghou Tiong. “Ya, terangnya kau yang menantang dia, tapi diam-diam aku dan gurumu membantu dari samping,” ujar Gak-hujin dengan tertawa. “Tak peduli siapa yang membunuh dia, kita akan tetap mengatakan kau yang membunuhnya agar aku dan gurumu tidak diolok-olok oleh sesama orang Kangouw.” “Bagus sekali,” seru Leng-sian. “Jika ayah dan ibu diam-diam membantu, biarpun anak juga berani melabraknya.” “Hm, enak saja kau bicara,” omel Gak-hujin dengan tertawa. “Toasukomu pernah bergebrak dengan Dian Pek-kong sampai ratusan jurus, dia yang cukup kenal di mana letak kelihaian lawan. Sebaliknya dengan sedikit kepandaianmu itu dapat berbuat apa? Pula sebagai seorang anak perempuan, nama jahanam itu saja jangan disebut, jangankan lagi hendak bertemu dan bergebrak dengan dia.” Habis berkata, “sret”, mendadak pedangnya terus menusuk ke dada Lenghou Tiong. Namun sambutan Lenghou Tiong ternyata tidak kalah cepatnya, “trang”, pedangnya segera menangkis, tapi sebelah kakinya juga melangkah mundur setindak. “Sret-sret-sret ….” berturut-turut Gak-hujin melancarkan serangan pula sampai enam kali, hampir berbareng juga terdengar suara “trang-tring-trang ….” enam kali, setiap serangan ibu-gurunya ternyata dapat ditangkis oleh Lenghou Tiong. “Balas menyerang!” bentak Gak-hujin mendadak. Ilmu pedangnya lantas berubah, dia membacok dan menebas, yang dimainkan bukan lagi ilmu pedang Hoa-san-pay. Segera Lenghou Tiong tahu ibu-gurunya telah memainkan golok kilat Dian Pek-kong agar dirinya dapat menyelami ilmu golok itu dan memperoleh cara mematahkannya. Serangan Gak-hujin semakin cepat, di tengah serangan-serangannya itu sudah sukar dicari lubang lagi. “Ayah, jurus serangan ibu itu memang sangat cepat, tapi yang dimainkan adalah ilmu golok dan bukan ilmu pedang, mungkin golok kilat Dian Pek-kong itu pun tidak secepat ini.” “Betapa hebat kepandaian Dian Pek-kong itu, masakah begitu gampang untuk menyerang menurut ilmu goloknya?” ujar Put-kun dengan tersenyum. “Sebenarnya ibumu juga tidak sungguh-sungguh menirukan ilmu goloknya, hanya dia benar-benar telah mengeluarkan segenap kecepatannya untuk mengalahkan ilmu golok Dian Pek-kong yang memang teramat cepat itu. Coba kau lihat, bagus jurus ‘Yu-hong-lay-gi’!” Kiranya saat itu Lenghou Tiong sedang melancarkan jurus serangan itu secara tepat, saking senangnya tanpa merasa Gak Put-kun sampai berseru memuji. Tak terduga baru saja dia memuji, di sebelah sana serangan Lenghou Tiong macet setengah jalan, arahnya menceng, tenaganya kurang sehingga tak dapat menembus jaringan sinar pedang Gak-hujin yang rapat itu. “Wah, salah besar jurus itu,” demikian pikir Gak Put-kun sambil menghela napas. Dalam pada itu, sedikit pun Gak-hujin tidak memberi kelonggaran, “sret-sret-sret” tiga kali, kembali ia cecar Lenghou Tiong sehingga pemuda itu kerepotan menangkisnya. Melihat permainan Lenghou Tiong itu makin lama makin kacau dan tak keruan, di waktu terpaksa harus menangkis yang digunakan sebagian besar juga bukan jurus ilmu pedang perguruannya sendiri, keruan Gak Put-kun mengerut kening dan kurang senang. Hanya saja meski permainan pedang Lenghou Tong itu tampaknya kacau tak keruan, tapi dia masih tetap dapat menangkis setiap serangan Gak-hujin. Ketika mundur sampai di dinding gunung, untuk mundur lagi sudah buntu, lambat laun ia mulai melancarkan serangan balasan. Sekonyong-konyong ia mendapat kesempatan, “sret”, ia gunakan jurus “Jong-siong-eng-khik”, pedangnya terus menyambar ke pelipis Gak-hujin. Namun dengan cekatan Gak-hujin dapat menangkisnya, menyusul pedang diputar kencang untuk menjaga diri. Ia tahu jurus Jong-siong-eng-khik itu mempunyai beberapa serangan ikutan lain yang lihai, terpaksa dari menyerang ia berubah menjadi bertahan saja. Tak tersangka kembali Lenghou Tiong telah memperlihatkan kelemahannya, pedangnya sudah menyelonong ke depan, tapi gerakannya lambat, tenaganya lemah, sedikit pun tidak membawa daya tekanan terhadap lawan. Gak-hujin membentak, “Tiong-ji, seranglah dengan sepenuh hati, pikiranmu melayang ke mana dan memikirkan apa?” Berbareng ia terus balas membacok tiga kali. Lekas-lekas Lenghou Tiong mengiakan sambil berlompatan menghindar. Wajahnya kelihatan merasa malu, cepat ia balas menyerang lagi. Dari samping, Lo Tek-nau dan Liok Tay-yu dapat melihat air muka sang guru makin lama makin bersungut. Diam-diam mereka ikut merasa takut. Mendadak angin berkesiur, Gak-hujin berputar cepat kian kemari dengan sinar pedang yang gemerlapan sehingga sukar dibedakan lagi jurus serangan apa yang sedang dilancarkan. Sebaliknya pikiran Lenghou Tiong terasa kacau, bilamana dia diserang, selalu timbul pula jurus serangan untuk mengalahkannya seperti apa yang dilihatnya dalam ukiran di dinding gua itu. Karena pengaruh pikiran itu, serangan-serangan yang dilakukannya selalu gagal setengah jalan karena dianggapnya toh percuma saja. Sebabnya Gak-hujin menggunakan serangan kilat maksudnya hendak memancing supaya Lenghou Tiong mengeluarkan jurus tunggal keluarga Ling yang tiada bandingannya itu. Siapa duga Lenghou Tiong hanya menyambut serangan-serangan itu sekenanya saja, bukan saja pemusatan pikirannya terpencar, bahkan kelihatan jeri dan takut-takut. Padahal biasanya dia kenal watak Lenghou Tiong adalah pemberani, sejak kecil sudah tidak takut kepada apa pun juga, cara bertempurnya yang takut-takut sekarang benar-benar tak pernah terjadi sebelumnya. Keruan Gak-hujin sangat gusar. Bentaknya, “Masih tidak keluarkan jurus serangan tunggal itu?” Lenghou Tiong mengiakan, pedangnya terus menusuk ke depan, gayanya dan tenaga yang dipakai seketika memang tepat seperti “jurus tunggal keluarga Ling” ciptaan Gak-hujin itu. “Bagus!” seru Gak-hujin. Ia tahu serangan itu sangat lihai, cepat ia mengegos ke samping, pedangnya menangkis sekuatnya dari bawah ke atas. Saat itu Lenghou Tiong sebaliknya berpikir, “Ah, jurus ini pun tiada gunanya, percuma saja, tentu juga kalah habis-habisan!” Pada saat itulah tangannya lantas tergetar, pedang terlepas dari cekalan karena sampukan pedang Gak-hujin dan mencelat tinggi ke udara. Keruan ia terkejut sehingga menjerit kaget. Sesudah menggunakan tenaga dalamnya untuk menyampuk mencelat pedang sang murid, menyusul ujung pedang Gak-hujin sudah lantas menusuk pula dengan jurus tunggal ciptaan sendiri itu. Sudah tentu serangan sekarang jauh lebih hebat daripada dahulu, sebab jurus tunggal ini adalah kebanggaannya dan telah diselaminya lebih mendalam selama ini, baik kecepatan dan kekuatannya diutamakan untuk sekali gempur mematikan musuh. Rupanya Gak-hujin menjadi gemas demi melihat jurus serangan yang dilontarkan Lenghou Tiong tadi ternyata sangat lemah, tampaknya seperti jurus ciptaannya itu, tapi sebenarnya sangat berbeda. Dalam gusarnya, tanpa pikir ia terus balas menyerang dengan jurus mahalihai itu. Walaupun dia tidak berniat membinasakan muridnya sendiri, serangan Gak-hujin itu benar-benar sangat hebat, belum tiba ujung pedangnya tahu-tahu Lenghou Tiong sudah terkurung oleh sinar pedangnya. “Celaka!” diam-diam Gak Put-kun berseru. Cepat ia lolos pedangnya Leng-sian dan melangkah maju. Ia khawatir kalau sang istri tak sempat menahan diri sehingga Lenghou Tiong dilukai. Saat itu keadaan sudah sangat berbahaya, asal ujung pedang Gak-hujin mendesak maju beberapa senti lagi, segera Gak Put-kun sudah siap-siap akan menangkisnya. Namun begitu ia pun tidak yakin tangkisannya dapat menyelamatkan sang murid karena dia tahu kepandaian sang istri selisih tidak banyak dengan dirinya. Yang dia harap adalah asalkan luka Lenghou Tiong bisa diperingan saja. Pada saat sekejapan itulah sekonyong-konyong Lenghou Tiong juga sudah berusaha membela diri, sekenanya ia ambil sarung pedang yang masih tergantung di pinggangnya, ia mendak sedikit ke bawah dan berjongkok miring ke samping, mulut sarung pedangnya lantas diacungkan ke depan, tepat memapak ujung pedang Gak-hujin yang sedang menusuk tiba itu. Gerakan yang digunakan Lenghou Tiong ini adalah menurut ukiran di dinding gua belakang yang dilihatnya itu. Ukiran itu menggambarkan pemain toya mengacungkan ujung toya untuk memapak ujung pedang sehingga saling adu senjata, toya keras dan pedang lemas, bila saling mengadu Lwekang, maka pedang pasti akan patah. Lantaran pedangnya telah mencelat, menyusul dilihatnya serangan ibu-gurunya sudah menyambar tiba lagi, dalam keadaan pikiran kacau dan terpengaruh oleh macam-macam jurus serangan aneh seperti apa yang dilihatnya di dinding gua itu, untuk menyelamatkan diri sendiri, tanpa pikir lagi dan dengan sendirinya ia terus mengeluarkan jurus serangan toya menurut ukiran dinding itu. Tapi waktu itu dia tak bersenjata, apalagi hendak mencari toya, sudah tentu tidak ada kesempatan. Maka sekenanya dia lantas pegang sarung pedang sendiri dan diacungkan ke ujung pedang Gak-hujin sehingga kedua senjata menjadi satu garis lurus. Sekali dia menggunakan jurus serangan toya itu, dengan sendirinya timbul juga tenaga dalamnya. Maka terdengarlah suara “cret” sekali, pedang Gak-hujin telah menyusup masuk ke dalam sarung pedang. Kiranya dalam keadaan gugup tadi Lenghou Tiong tidak sempat putar sarung pedangnya, yang dia acungkan ke depan adalah bagian mulut sarung pedang, maka pedang Gak-hujin tidak sampai tergetar patah, sebaliknya lantas menyusup masuk malah seperti pedang itu sengaja disarungkan kembali. Gak-hujin sampai terkejut, tangannya tergetar sakit, pedang lantas terlepas dari cekalan. Ternyata pedangnya sudah kena dirampas oleh Lenghou Tiong dengan sarung pedangnya. Serangan Lenghou Tiong itu masih mencakup beberapa gerakan iringan, waktu itu dia sudah tak bisa menguasai diri lagi, sarung pedangnya masih terus mengacung ke depan ke arah tenggorokan Gak-hujin. Cuma yang mengancam tenggorokan itu adalah gagang pedang Gak-hujin sendiri. Kejut dan gusar luar biasa Gak Put-kun, pedangnya terus menyampuk, “plak”, sarung pedang Lenghou Tiong terpukul. Sampukan Gak Put-kun itu telah digunakan Ci-he-sin-kang yang mahadahsyat, seketika dada Lenghou Tiong terasa sesak, dia tergetar mundur beberapa tindak dan akhirnya jatuh terduduk. Sedangkan sarung pedang itu bersama pedang di dalamnya telah patah menjadi beberapa potong dan jatuh berserakan. Pada saat itulah sinar putih berkelebat dari udara, pedang Lenghou Tiong yang mencelat tadi sekarang pun jatuh ke bawah dan menancap ke dalam tanah hampir sebatas gagang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: