Hina Kelana Bab 29. Lelaki Sejati Tidak Sudi Minta Belas Kasihan Orang Lain

Dengan gusar ia lantas menggunakan pedang Thay-san-pay yang dijemputnya tadi dan membacok sekuatnya pada barisan huruf itu. “Trang”, terdengar suara nyaring dengan percikan lelatu api. Sebuah huruf ukiran itu sampai terpapas sebagian. Dari bacokan itu pula segera dapat diketahui bahwa batu dinding itu keras luar biasa, untuk mengukir tulisan di atas dinding itu terang tidaklah mudah, tapi toh sudah dilakukan oleh Cianpwe-cianpwe almarhum itu, ini menandakan betapa hebat tenaga tokoh-tokoh angkatan tua itu. Tiba-tiba dilihatnya pula di samping tulisan-tulisan itu adalah ukiran orang-orangan berpedang yang hanya terdiri dari beberapa goresan saja, namun dari gayanya jelas kelihatan adalah sejurus ilmu pedang Hoa-san-pay sendiri yang disebut “Yu-hong-lay-gi” (burung Hong datang menyembah). Di depannya adalah sebuah ukir-ukiran orang-orangan yang menggunakan sejenis senjata yang lurus seperti tombak atau toya. Ujung senjata itu lurus mengacung kepada ujung pedang lawannya, caranya sangat bodoh dan lucu. Diam-diam Lenghou Tiong mencemoohkan. Masakah jurus serangan “Yu-hong-lay-gi” yang lihai dengan berbagai perubahan ikutan itu akan ditangkis dengan cara sebodoh itu. Akan tetapi ketika dia teliti lebih jauh, terlihat gaya tubuh ukiran orang-orangan yang bersenjata seperti toya yang diacung lurus ke ujung pedang lawan itu agaknya siap dengan macam-macam perubahan yang aneh dan sukar diduga. Sambil mengikuti lukisan yang hanya terdiri dari beberapa goresan itu, makin lama Lenghou Tiong makin heran. Ia tidak habis mengerti bahwa jurus “Yu-hong-lay-gi” yang mempunyai daya tekanan ikutan yang lihai itu dapat dipatahkan begitu saja hanya dengan sekali acungkan toya lawan. Pikir punya pikir, dari heran ia menjadi kagum dan akhirnya merasa khawatir pula. Saking asyiknya ia termenung memandangi ukiran-ukiran itu sehingga lupa waktu, mendadak tangannya terasa sakit dan panas, kiranya api obor sudah menyala sampai pangkalnya dan tangannya terselomot. Cepat ia lemparkan sisa obor itu. Sementara itu di dalam gua sudah sangat terang. Ia coba mengamat-amati ukiran bagian lain. Ternyata orang-orangan itu sekarang sedang memainkan sejurus “Jong-siong-eng-khik” (cemara tua menyambut tamu). Semangatnya seketika terbangkit. Jurus inilah yang dahulu telah dilatihnya berulang-ulang sampai sebulan lamanya sehingga akhirnya merupakan salah satu jurus serangan yang paling diandalkannya. Ada tiga kali ia menggunakan jurus itu dan setiap kali musuhnya selalu keok. Ia coba melihat ukiran orang-orangan yang menggunakan toya itu. Ternyata toya yang dipegangnya ada lima batang yang mengarah lima tempat berbahaya lawannya. Keruan ia heran, mengapa satu orang menggunakan lima batang toya? Tapi sesudah diperhatikan lebih jauh, tahulah dia bahwa sebenarnya yang digunakan hanya sebatang toya saja. Empat batang lain hanya gambaran bayangan toyanya yang digerakkan dengan cepat sekaligus mengarah lima tempat bahaya di tubuh lawannya. Ia terperanjat. Serangan yang sekaligus mengarah lima tempat ini cara bagaimana harus dilayani dengan jurus Jong-siong-eng-khik yang juga mengutamakan kecepatan itu, terang jurus ilmu pedang Hoa-san-pay yang lihai ini kembali dikalahkan lagi oleh permainan toya itu. Begitulah, makin melihat gambar-gambar ukiran itu, makin cemas Lenghou Tiong. Ternyata semua jurus ilmu pedang perguruan yang paling lihai seluruhnya terlukis di situ. Celakanya setiap jurus serangan itu selalu kena dipatahkan oleh setiap gerakan toya lawan secara aneh, bahkan ukiran orang-orangan yang main toya itu tampaknya sangat kaku dan bodoh menggelikan, namun titik arah toya lawan itu benar-benar sukar diduga dan susah dielak. Seketika itu kepercayaan Lenghou Tiong kepada ilmu silat Hoa-san-pay sendiri serasa lenyap semua. Ia merasa biarpun akhirnya berhasil mewariskan seluruh kepandaian gurunya, bila ketemu dengan orang yang memainkan toya seperti gambar ini, maka terang tiada jalan lain kecuali menyerah kalah. Jika demikian halnya, lalu apa gunanya belajar ilmu pedang lagi? Masakah Hoa-san-kiam-hoat benar-benar begini tak becus? Kalau melihat kerangka-kerangka tengkorak di dalam gua itu sedikitnya orang-orang itu sudah meninggal berapa puluh tahun yang lalu, mengapa selama itu Ngo-gak-kiam-pay toh masih tetap menjagoi dunia Kangouw dan belum pernah terdengar ilmu pedang salah satu golongan itu kena dikalahkan orang? Sampai sekian lamanya Lenghou Tiong termenung-menung seperti patung di dalam gua itu, sampai akhirnya tiba-tiba terdengar suara orang berseru di luar sana, “Toasuko! Toasuko! Di manakah kau?” Lenghou Tiong terkejut dan cepat-cepat menerobos kembali ke dalam gua sendiri. Didengarnya suara Liok Tay-yu sedang berteriak-teriak di tepi jurang sana. Segera ia melompat keluar dan memutar ke belakang sepotong batu cadas di sebelah samping sana, lalu menjawab, “Aku ada di sini! Ada urusan apakah, Laksute?” Liok Tay-yu mendekatinya menurutkan arah suara, katanya girang, “Kiranya Toasuko lagi duduk di sini. Aku mengantarkan daharan untukmu. Aku menjadi khawatir ketika tidak tampak kau berada di dalam gua.” Kiranya sehari suntuk Lenghou Tiong terpesona oleh ukiran ilmu silat di dalam gua rahasia itu sehingga lupa daratan dan tahu-tahu sekarang sudah petang. Gua tempat Lenghou Tiong merenungkan dosanya itu sebenarnya tidak dalam, tapi Liok Tay-yu tidak berani sembarangan masuk, ia hanya melongok dari luar, ketika tidak tampak sang Suheng, ia lantas mencarinya di luar sehingga tentang lubang di dinding gua yang menembus lorong di bawah tanah itu tidak diketahui olehnya. “Aku harus selalu di atas puncak sini, masakah boleh pergi ke mana-mana?” ujar Lenghou Tiong. Tiba-tiba ia berseru heran, “He, kenapakah mukamu itu?” Kiranya di atas jidat sebelah kanan Lak-kau-ji itu ditempel koyok, bahkan darah tampak merembes keluar, terang baru saja terluka. Maka Liok Tay-yu menjawab, “Ah, tak apa-apa. Pagi tadi dalam latihan aku kurang hati-hati sehingga tergores pedang.” Namun dari sikapnya yang dongkol dan penasaran itu, Lenghou Tiong menduga tentu ada persoalan lain. Ia coba menanya lagi, “Laksute, sebenarnya sebab apa terluka? Masakah aku pun hendak kau bohongi?” “Toasuko,” sahut Tay-yu dengan marah-marah, “bukanlah aku bohong padamu, aku hanya khawatir kau ikut marah, maka lebih baik tak kuceritakan.” “Siapakah yang melukai jidatmu itu?” tanya pula Lenghou Tiong lagi. Ia heran, sebab sesama saudara seperguruannya biasanya sangat akur satu sama lain, selamanya tak pernah terjadi perkelahian. “Tadi pagi aku berlatih dengan Lim-sute,” tutur Tay-yu. “Dia baru saja berhasil mempelajari jurus Yu-hong-lay-gi, karena sedikit lena sehingga jidatku dilukai olehnya.” “Ah, adalah soal biasa bila terjadi sedikit cedera di kala sesama Suheng dan Sute berlatih,” ujar Lenghou Tiong. “Dan kenapa kau mesti marah? Mungkin Lim-sute belum matang latihannya sehingga tak dapat menguasai pedangnya, hendaklah kau memakluminya. Cuma kau sendiri pun agak gegabah. Jurus Yu-hong-lay-gi itu memang sangat hebat, mestinya kau harus melayani dia dengan hati-hati.” “Itu pun sudah kumaklumi, hanya saja aku tidak menyangka bahwa bo … bocah she Lim itu baru beberapa bulan masuk perguruan sudah lantas dapat memainkan jurus Yu-hong-lay-gi itu. Padahal dulu sampai lima tahun aku belajar barulah Suhu mengajarkan jurus serangan itu padaku.” Lenghou Tiong melengak juga mendengar ucapan Liok Tay-yu yang penasaran itu. Memang betul, Lim Peng-ci baru beberapa bulan belajar dan tahu-tahu sudah mahir menggunakan jurus Yu-hong-lay-gi, kemajuan ini benar-benar teramat pesat. Padahal kalau tidak mempunyai bakat yang baik dan latihan dasar yang kuat, kemajuan yang terlalu pesat itu kelak malah akan membikin celaka dia sendiri. Entah mengapa sebegitu cepat Suhu mengajarkan jurus serangan lihai itu padanya? Terdengar Liok Tay-yu sedang bercerita pula, “Waktu itu aku agak terkejut, sedikit lena saja lantas kena dilukai olehnya. Siapa tahu Siausumoay malah bertepuk tangan menyoraki, serunya, ‘Nah, Lak-kau-ji, muridku saja kau tak bisa menang, selanjutnya kau jangan berlagak pahlawan lagi di hadapanku!’ “Sementara itu bocah she Lim itu merasa bersalah karena melukai aku, dia telah mendekati aku hendak membalut lukaku, tapi telah kutendang hingga terjungkal. Siausumoay lantas marah padaku, omelnya, ‘Lak-kau-ji, dengan maksud baik orang hendak membalut lukamu, kenapa kau malah menendangnya. Kalau kalah jangan lantas marah!’ “Coba, Toasuko, kiranya jurus serangan itu adalah Siausumoay yang diam-diam mengajarkan kepada bocah she Lim itu.” Sesaat itu perasaan Lenghou Tiong terasa getir tak terkatakan. Ia tahu jurus Yu-hong-lay-gi itu sangat sukar dilatih, sekarang Siausumoay berhasil mengajarkannya kepada Lim-sute, terang tidak sedikit jerih payah yang dicurahkannya. Pantas sudah sekian lamanya nona itu tidak datang menjenguknya, kiranya setiap hari dia berada bersama Lim-sute. Ia cukup kenal sifat Gak Leng-sian yang suka bergerak dan tidak sabaran mengerjakan hal-hal yang rumit. Gadis itu pun suka menang, maka untuk kepentingan sendiri dia masih mau tekun belajar ilmu pedang. Sebaliknya kalau suruh dia mengajar orang lain, terang dia pasti tidak sabaran. Tapi sekarang dia ternyata sudah mengajarkan jurus Yu-hong-lay-gi yang ruwet itu kepada Lim Peng-ci, maka dapat dibayangkan betapa suka dan besar perhatiannya kepada Sute itu. Sejenak kemudian, sesudah perasaannya tenang kembali, barulah ia berkata pula, “Mengapa kau bisa berlatih pedang dengan Lim-sute?” “Rupanya apa yang kukatakan padamu kemarin itu membikin Siausumoay kurang senang, waktu pulang, sepanjang jalan dia terus mengomel,” tutur Tay-yu. “Pagi-pagi tadi aku lantas diseret olehnya agar latihan bersama. Sedikit pun aku tidak punya prasangka apa-apa, apa sih halangannya latihan bersama? Siapa duga diam-diam Siausumoay sudah mengajarkan beberapa jurus lihai kepada bocah she Lim itu, lantaran itulah aku telah kecundang.” Makin jelaslah bagi Lenghou Tiong persoalannya. Tentu hari-hari terakhir ini hubungan Gak Leng-sian dengan Lim Peng-ci semakin akrab, maka tidaklah heran bila Liok Tay-yu yang lebih akrab dengan dirinya telah membelanya dan suka menyindir dan mencari perkara kepada Lim Peng-ci. “Tentunya kau sering mengomeli Lim-sute, bukan?” ia coba tanya. “Pemuda yang hina dina begitu apakah tidak pantas dimaki?” sahut Tay-yu dengan mendongkol. “Dia juga takut padaku, bila aku mendamprat dia, selamanya dia tidak berani membalas. Bila bertemu dengan aku juga lekas menyingkir pergi. Sungguh tidak sangka bocah itu ternyata … ternyata begitu keji. Hm, padahal betapa sih kepandaiannya? Kalau dia tidak dijagoi Siausumoay masakah dia mampu melukai aku?” Perasaan Lenghou Tiong juga sangat gemas. Tiba-tiba teringat olehnya jurus serangan aneh yang khusus digunakan untuk mengalahkan Yu-hong-lay-gi itu, segera ia jemput sebatang ranting kayu dan bermaksud mengajarkan jurus itu kepada Liok Tay-yu. Tapi lantas terpikir lagi olehnya, “Agaknya Laksute sudah terlalu benci kepada Lim-sute, bila jurus serangan ini sampai digunakan olehnya, sedikitnya Lim-sute pasti akan terluka parah. Dan kalau Suhu dan Sunio mengusut perkara ini, tentu kami berdua akan menerima hukuman berat.” Maka urunglah dia mengajarkan jurus aneh itu kepada Liok Tay-yu, katanya kemudian, “Ya, apa mau dikata lagi, anggaplah kekalahanmu itu sebagai suatu pengalaman. Lain kali jangan ceroboh lagi. Urusan di antara sesama saudara seperguruan tak perlu dipikirkan lagi.” “Toasuko,” seru Liok Tay-yu sambil menatap tajam kepada Lenghou Tiong, “aku sih tidak menjadi soal, tapi masakah kau anggap sepele urusan ini?” Lenghou Tiong tahu yang dia maksudkan adalah urusan Gak Leng-sian. Pedih rasa hatinya sehingga air mukanya berubah seketika. Tay-yu merasa menyesal atas ucapannya yang menusuk perasaan Toasuko itu, cepat ia menambahkan, “Ya, aku … aku yang salah omong.” “Kau tidak salah omong,” kata Lenghou Tiong sambil memegang tangan sang sute. “Masakah aku tidak memerhatikan persoalannya? Hanya saja …. Ah, Laksute, untuk selanjutnya kita tak perlu membicarakan urusan ini lagi.” “Baik,” sahut Tay-yu. “Toasuko, jurus Yu-hong-lay-gi itu pun dahulu kau pernah mengajarkan padaku. Untuk selanjutnya tentu akan kulatih lebih baik agar bocah she Lim itu mengetahui ajaran Toasuko lebih hebat atau ajaran Siausumoay yang lebih bagus.” Lenghou Tiong tersenyum pedih, katanya, “Sebenarnya, sebenarnya jurus itu pun tiada sesuatu yang luar biasa.” Melihat sikap sang Suheng yang lesu itu, Tay-yu menyangka tentu Toasuheng itu merasa patah hati lantaran dijauhi oleh Siausumoaynya, maka ia pun tidak berani tanya lagi. Sesudah Liok Tay-yu pergi, Lenghou Tiong pejamkan mata untuk mengumpulkan tenaga. Kemudian ia menyalakan obor kayu cemara yang berminyak itu dan pergi memeriksa pula ukiran-ukiran di dinding gua belakang. Mula-mula ia selalu teringat kepada cara bagaimana Gak Leng-sian mengajar ilmu pedang kepada Lim Peng-ci, sampai lama sekali ia tak bisa memusatkan perhatiannya. Goresan-goresan ukiran di dinding itu seakan-akan berubah menjadi bayangan Gak Leng-sian dan Lim Peng-ci, yang satu sedang mengajar dan yang lain sedang belajar dengan mesranya. Yang terbayang-bayang selalu tampang Lim Peng-ci yang cakap itu. Tanpa merasa ia menghela napas, pikirnya, “Tampang Lim-sute berpuluh kali lebih bagus daripadaku, usianya juga jauh lebih muda, hanya satu-dua tahun lebih tua daripada Siausumoay, sudah tentu mereka berdua dapat bergaul lebih rapat.” Mendadak dilihatnya ukiran orang-orangan yang menggunakan pedang sedang menusuk ke depan, caranya dan gayanya mirip sekali dengan “jurus serangan tunggal keluarga Ling” yang pernah dimainkan Gak-hujin tempo hari. Lenghou Tiong terkejut. Pikirnya, “Jurus serangan itu terang adalah ciptaan ibu-guru sendiri, mengapa bisa terukir lebih dulu di dinding gua ini? Sungguh sangat aneh.” Waktu ia perhatikan lebih teliti ukiran itu, barulah diketahui bahwa jurus serangan ukiran itu ada perbedaan cukup mencolok dengan jurus serangan ciptaan Gak-hujin. Serangan menurut ukiran itu lebih kuat dan lebih sederhana, sebaliknya serangan Gak-hujin itu mempunyai gerakan ikutan yang banyak dan sukar diduga, maka juga lebih lihai. Diam-diam Lenghou Tiong manggut. Kiranya serangan ciptaan ibu-gurunya itu sesuai dengan gaya tokoh angkatan lama, pantas terlihat ada persamaannya. Jika demikian, jangan-jangan berbagai jurus ilmu pedang yang terukir di sini ini banyak yang belum diketahui oleh guru dan ibu-guru. Apakah mungkin Suhu sendiri belum lagi komplet mempelajari ilmu pedang Hoa-san-pay sendiri yang teramat tinggi dan sukar dijajaki itu? Kemudian dia memerhatikan pula gaya serangan toya lawan dalam ukiran itu. Toya itu tetap mengacung lurus ke depan, ujung toya tepat mengarah ujung pedang. Pedang dan toya terukir menjadi satu garis lurus. “Celaka!” diam-diam Lenghou Tiong berseru demi melihat garis lurus antara toya dan pedang itu. Tanpa merasa timbul lagi rasa khawatirnya yang sukar diuraikan. Ujung pedang dan toya saling beradu, toya lebih keras dan pedang agak lemas, jika kedua pihak sama-sama mengerahkan tenaga, maka pedang pasti akan patah, sedang toya tentu akan terus mengarah ke depan dan sukar untuk dielakkan. Jalan satu-satunya ialah lepaskan senjata dan bertekuk lutut minta ampun. Semalam suntuk itu entah berapa ratus kali dia mondar-mandir di dalam gua belakang itu, selama hidupnya belum pernah merasakan pukulan batin begitu hebat. Pikirnya, “Ngo-gak-kiam-pay kami, terutama Hoa-san-pay, selamanya diakui sebagai golongan terkemuka di dunia persilatan, siapa duga ilmu silat yang dianutnya sebenarnya begini jelek dan tidak tahan sekali gempur. Menurut jurus serangan dalam ukiran dinding itu, ada sebagian besar sampai-sampai guru dan ibu-guru juga tidak mengetahui, tapi biarpun dapat meyakinkan ilmu pedang perguruan sendiri secara sempurna dan melebihi Suhu juga tiada gunanya. Asalnya pihak lawan tahu cara mematahkannya, tidak urung jago terpandai dari golongan sendiri juga terpaksa tekuk lutut minta ampun, jika tidak mau minta ampun terpaksa harus korbankan jiwa.” Begitulah dengan lesu ia berjalan kian kemari di dalam gua sehingga tanpa merasa hari sudah pagi. Ia coba memeriksa lagi ukiran-ukiran lain. Dilihatnya jurus-jurus ilmu pedang Heng-san-pay, Thay-san-pay, Ko-san-pay dan Hing-san-pay juga mengalami nasib yang sama dengan Hoa-san-pay, semuanya kena dikalahkan lawan secara total sehingga jalan satu-satunya yang terakhir adalah tekuk lutut dan minta ampun jika tidak mau mati. Lenghou Tiong adalah orang cerdas, pengalamannya luas, banyak ilmu pedang dari golongan lain sudah pernah dilihatnya. Tapi anehnya setiap jurus serangan yang lihai dari ilmu pedang itu selalu kena ditundukkan oleh lawan. Dia tidak habis mengerti macam orang apakah orang-orang yang bernama Hoan Siong, Tio Ho, Thio Seng-hong dan Thio Seng-in itu? Mengapa begitu besar hasrat mereka mengukirkan jurus-jurus serangan yang dapat menghancurkan ilmu pedang dari Ngo-gak-kiam-pay kami, sebaliknya nama kebesaran mereka malah sama sekali tak terkenal di dunia persilatan, bahkan Ngo-gak-kiam-pay masih tetap tersohor selama ini? Tiba-tiba timbul suatu pikirannya, “Mengapa aku tidak menghapus ukiran-ukiran ini dengan kapak tajam itu? Dengan demikian kehormatan Ngo-gak-kiam-pay akan tetap dipertahankan dan anggaplah aku tidak pernah menemukan gua rahasia ini.” Segera ia jemput sebuah kapak dan diangkat tinggi-tinggi. Namun ia tertegun lagi ketika melihat macam-macam jurus serangan yang aneh dan hebat itu. Sesudah ragu-ragu sejenak, akhirnya ia berseru sendiri, “Seorang laki-laki harus berani menghadapi kenyataan, kenapa mesti menipu orang dan menipu dirinya sendiri?” Ia tidak jadi melenyapkan ukiran itu. Ia keluar lagi ke depan gua, sesudah berpikir sampai lama, kemudian ia datang lagi ke gua belakang untuk memeriksa ukiran-ukiran di dinding itu. Begitulah ia sebentar masuk dan sebentar keluar, entah sudah berapa kali dia mondar-mandir, tanpa terasa hari sudah petang lagi. Tiba-tiba terdengar suara tindakan orang, kiranya Leng-sian yang mengantar daharan untuknya. Dengan girang Lenghou Tiong memapak ke tepi tebing dan berseru, “Siausumoay!” Saking terharunya sampai suaranya rada gemetar. Namun gadis itu sama sekali tidak menjawab. Sesudah naik ke atas, ia taruh keranjang nasi itu di atas meja batu, lalu putar tubuh dan tinggal pergi, sekejap saja ia tidak pandang Lenghou Tiong. Keruan Lenghou Tiong menjadi gugup, cepat ia berseru pula, “Siausumoay, kenapakah kau?” Tapi Leng-sian hanya mendengus saja dan segera melompat turun ke bawah tebing. Biarpun berulang-ulang Lenghou Tiong memanggilnya lagi tetap dia tidak menjawab dan tidak menoleh. Saking terguncang perasaannya sehingga Lenghou Tiong tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia coba membuka tutup keranjang daharan, isinya tetap satu bakul nasi, dua mangkuk sayuran seperti biasanya. Untuk sekian lamanya ia memandangi daharan itu dengan termangu-mangu seperti orang linglung. Beberapa kali ia ingin makan, tapi hanya satu-dua suap saja sudah terasa kering mulutnya dan sukar mengunyah, akhirnya dia tidak jadi makan lagi. Pikirnya, “Jika Siausumoay marah padaku, mengapa dia sendiri masih mengantar daharan untukku? Jika tidak marah padaku, kenapa satu patah kata saja tidak bicara padaku, bahkan melirik sekejap juga tidak. Jangan-jangan Laksute jatuh sakit, maka Siausumoay yang menggantikan dia mengantar nasi. Tapi kan masih ada Gosute, Jitsute dan lain-lain yang dapat mewakilkan dia, buat apa mesti Siausumoay sendiri yang mengantar?” Pikirannya bergolak memikirkan diri Gak Leng-sian sehingga tentang ilmu silat yang terukir di dinding gua belakang itu terlupa olehnya. Petang esoknya, kembali Leng-sian mengantarkan nasi lagi. Akan tetapi tetap tidak memandang dan tidak bicara apa-apa, malahan waktu turun dari puncak gunung itu dia telah menyanyikan lagu rakyat daerah Hokkian dengan merdunya. Keruan hati Lenghou Tiong semakin pedih seperti disayat, pikirnya, “Kiranya dia sengaja hendak menusuk perasaanku.” Petang hari ketiga, tetap Gak Leng-sian yang mengantarkan daharan bagi Lenghou Tiong. Seperti sebelumnya, dia taruh keranjang nasi di atas meja batu, lalu putar tubuh hendak pergi. Lenghou Tiong benar-benar tidak tahan lagi, cepat ia berteriak, “Nanti dulu, Siausumoay, aku ingin bicara padamu!” Leng-sian berpaling dan menjawab, “Ada apa? Silakan bicara.” Melihat sikap si nona yang dingin sebagai es itu, Lenghou Tiong menjadi gelagapan, “Kau … kau ….” “Aku kenapa?” tanya si nona. Padahal biasanya Lenghou Tiong sangat lincah, mulutnya juga tajam, tapi sekarang menghadapi sang Sumoay yang dicintainya itu ternyata tidak sanggup mengucapkan apa-apa. “Kau tidak mau bicara, biarlah aku pergi saja,” ujar Leng-sian sambil melangkah pergi lagi. Keruan Lenghou Tiong tambah gelisah. Ia tahu sekali sudah pergi, paling cepat baru besok petangnya nona itu dapat datang lagi. Jika urusannya tidak dibicarakan sekarang juga, apakah dirinya dapat tahan siksaan batin semalam suntuk ini? Apalagi kalau melihat sikap si nona yang dingin itu, bisa jadi besok dia tidak akan datang lagi, bahkan seminggu atau sebulan juga tidak datang, kan bisa runyam? Saking gugupnya, tanpa pikir Lenghou Tiong lantas menarik lengan baju si nona sambil berseru, “Siausumoay!” “Lepaskan!” mendadak Leng-sian membentak dengan gusar sambil mengibaskan tangannya. Tak tersangka terdengarlah “bret”, lengan bajunya terobek satu potong sehingga kelihatan lengannya yang putih bersih itu. Leng-sian tersipu-sipu malu, dengan gusar ia membentak, “Kau … kau berani!” “O, maaf Siausumoay!” cepat Lenghou Tiong memberi penjelasan. “Aku … aku tidak sengaja.” Cepat Leng-sian menutupi lengan yang terbuka itu dengan lengan baju sebelah lain. Lalu menegur dengan suara tak sabar, “Sebenarnya apa maksudmu?” “Siausumoay,” sahut Lenghou Tiong, “aku merasa tidak mengerti sebab apakah kau bersikap demikian padaku? Bila memang benar aku bersalah padamu, biarpun kau menusuk sepuluh atau dua puluh kali di tubuhku dengan pedangmu juga aku takkan … takkan menyesal biar mati sekalipun.” “Huh, kau adalah Toasuheng, masakah kami berani padamu?” jengek Leng-sian. “Jangankan bilang menusuk-nusuk tubuhmu, asalkan kau tidak menusuk-nusuk orang saja sudah cukup dibuat terima kasih.” “Sudah kurenungkan, tapi aku benar-benar tidak tahu bilakah aku pernah bersalah kepadamu?” ujar Lenghou Tiong. “Kau tidak tahu? Kau suruh Lak-kau-ji mengadu biru kepada ayah dan ibu, apakah sekarang kau masih belum tahu?” “Aku suruh Lak-kau-ji mengadu biru kepada guru dan ibu-guru?” Lenghou Tiong menegas dengan heran. “Mengadu tentang apa? Mengadu … mengadu dirimu?” “Ya, kau tahu bahwa ayah dan ibu sayang padaku, biarpun mengadu diriku juga takkan berguna, maka kau sengaja … sengaja mengadu … hm, kau masih berlagak pilon, apa kau benar-benar tidak tahu?” Tiba-tiba Lenghou Tiong paham duduknya perkara, perasaannya bertambah pedih. Katanya kemudian, “Apakah karena Laksute terluka ketika berlatih dengan Lim-sute, hal ini telah diketahui guru dan ibu-guru, lalu Lim-sute telah didamprat, bukan?” “Latihan di antara sesama saudara seperguruan, jika sedikit lengah saja kan bukan sengaja hendak melukai orang? Tapi ayah justru mengeloni Lak-kau-ji dan telah mendamprat Siau-lim-cu, katanya pula, kekuatan Siau-lim-cu belum waktunya untuk melatih jurus Yu-hong-lay-gi, maka aku dilarang mengajar dia lagi. Nah baiklah, anggaplah kau yang menang! Akan tetapi aku … aku pun takkan gubris padamu lagi, takkan menggubris kau untuk selamanya.” Dahulu, sebelum Lim Peng-ci masuk perguruan Hoa-san-pay, bila Leng-sian marah kepada Lenghou Tiong, sering nona itu pun mengatakan “aku takkan menggubris padamu lagi”. Akan tetapi ucapan itu selalu disertai dengan senyum dikulum, sedikit pun tiada maksud “tidak menggubris” secara sungguh-sungguh. Tapi sekali ini sikap nona itu benar-benar garang dan nadanya dingin tegas. Dengan rasa cemas Lenghou Tiong melangkah maju setindak, katanya, “Siausumoay, aku ….” sebenarnya ia hendak membantah bahwa dirinya tidak pernah suruh Lak-kau-ji mengadu biru kepada sang guru, tapi lantas terpikir olehnya, “Asalkan aku merasa tidak berdosa dan tidak pernah melakukan hal seperti itu, buat apa aku mesti minta belas kasihan padanya?” Karena itu ia tidak melanjutkan lagi kata-katanya. “Kau kenapa?” tanya Leng-sian. “Aku … aku tidak apa-apa,” sahut Lenghou Tiong. “Kupikir seumpama Suhu benar-benar melarang kau mengajar Lim-sute, hal ini toh bukan sesuatu yang luar biasa, kenapa kau sedemikian marah padaku?” Muka Leng-sian menjadi merah, katanya, “Aku justru marah padamu, aku justru marah padamu! Hm, diam-diam kau mengandung maksud jelek, kau sangka bila aku tidak mengajar ilmu pedang kepada Lim-sute, lalu aku akan setiap hari datang ke sini untuk mengawani kau. Hm, aku justru takkan gubris lagi padamu.” Habis berkata, ia membanting sebelah kakinya di atas tanah, lalu putar tubuh dan tinggal pergi. Kali ini Lenghou Tiong tidak berani menariknya lagi. Dengan rasa mendongkol dan penasaran kembali ia mendengar nyanyian si nona yang nyaring merdu di bawah puncak. Ia coba melongok ke bawah gunung, terlihatlah bayangan si nona yang ramping sedang menghilang di balik lereng sana. Tiba-tiba ia merasa khawatir, “Aku telah menarik robek lengan bajunya, entah dia akan mengadukan kejadian ini kepada Suhu tidak? Jika beliau menganggap perbuatanku ini tidak sopan, lantas … lantas bagaimana baiknya? Bila sampai tersiar, tentu aku akan dipandang hina oleh para Sute dan Sumoay yang lain.” Tapi lantas terpikir pula, “Ah, aku toh tidak sengaja berlaku kasar padanya. Seorang laki-laki sejati asalkan merasa perbuatannya sendiri dapat dipertanggungjawabkan secara benar, peduli apa dengan pendapat orang lain?” Walaupun soal robeknya lengan baju Leng-sian tak dikhawatirkan lagi, tapi bila teringat kepada sikap si nona yang begitu benci kepada dirinya hanya karena dilarang mengajar kepada Lim Peng-ci, sungguh perasaan Lenghou Tiong menjadi pedih. Semula ia masih menghibur dirinya sendiri, mungkin Siausumoay yang masih terlalu muda belia itu merasa kesepian, maka dicarinya seorang teman bermain yang usianya sebaya seperti Lim-sute itu, maksud lain tidak ada. Namun bila dipikir bahwa Lim Peng-ci itu baru beberapa bulan berada di Hoa-san, tapi dia sudah dapat merebut hati si nona daripada dirinya yang dibesarkan bersama sejak kecil. Teringat ini, kembali dia merasa pedih dan penasaran pula. Malam itu, entah berapa ratus kali ia keluar-masuk gua dengan pikiran yang kusut. Besok paginya dia masih terus mondar-mandir tanpa mengaso. Sampai petangnya, kali ini yang mengantarkan daharan ternyata Liok Tay-yu adanya. Sesudah menaruh keranjang daharan dan mengisikan nasi di dalam mangkuk, lalu ia berkata, “Toasuko, silakan dahar!” Lenghou Tiong mengiakan dan menerima mangkuk dan sumpitnya. Tapi hanya dua kali ia menyuap nasi ke dalam mulut, lalu sukar untuk menelan lagi. Ia memandang sekejap ke bawah puncak dan perlahan-lahan menaruh mangkuk sumpitnya. “Toasuko, air mukamu tampak pucat, apakah badanmu kurang sehat?” tanya Tay-yu. “Ah, tidak apa-apa,” sahut Lenghou Tiong. “Jamur ini adalah aku yang petik untukmu, cobalah kau mencicipi rasanya,” bujuk Tay-yu. Karena tidak mau mengecewakan maksud baik sang Sute, Lenghou Tiong menyumpit dua potong jamur dan dimakan, lalu memuji rasanya yang lezat. Padahal sedikit pun ia tidak dapat merasakan lezatnya makanan itu. “Toasuko,” tiba-tiba Tay-yu berkata dengan berseri-seri, “hendak kusampaikan suatu kabar baik. Sejak kemarin guru dan ibu-guru telah melarang Siausumoay berlatih dengan Lim-sute.” “Kau dikalahkan Lim-sute, lalu mengadu kepada Suhu bukan?” tanya Lenghou Tiong dengan dingin. Liok Tay-yu melonjak dan menyahut, “Siapa bilang aku dikalahkan dia? Aku … aku kan demi ….” sampai di sini mendadak ia tidak meneruskan lagi. Sebenarnya Lenghou Tiong cukup paham terlukanya Liok Tay-yu hanya karena sedikit lena saja, kalau bicara kepandaian sejati terang Lim Peng-ci bukan tandingannya. Sebabnya dia mengadu kepada Suhu sesungguhnya demi untuk kepentingan dirinya, kiranya para Sute sama kasihan padaku karena mengetahui Siausumoay telah menjauhi aku. Lebih-lebih Laksute yang paling akrab dengan aku, maka dia telah berusaha membela diriku. Hm, seorang laki-laki sejati masakah mesti minta dikasihani orang lain? Demikian pikir Lenghou Tiong. Sekonyong-konyong ia naik darah seperti orang gila, ia angkat mangkuk piring dan dilempar ke dalam jurang semua sambil berteriak, “Siapa ingin kau ikut campur urusan!” Keruan Tay-yu terkejut. Selamanya ia sangat menghormat dan mengindahkan Toasuko, siapa duga sekali ini telah membuatnya sedemikian murka. Dengan takut ia melangkah mundur sambil berkata, “Toa … Toasuko! Jika aku bersalah, silakan kau menghajar aku saja.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: