Hina Kelana: Bab 28. Rahasia di Dalam Gua

“Juga tidak seluruhnya dia menurut padaku,” ujar Leng-sian. “Misalnya kemarin aku suruh dia mengawani aku pergi menangkap ayam hutan, tapi dia menolak. Katanya dia masih harus berlatih lebih giat kedua jurus ‘Pek-hong-koan-jit’ dan ‘Thian-jwan-to-kwa’ yang masih belum masak terlatih.”

Lenghou Tiong rada heran. Katanya, “Baru beberapa bulan dia berada di Hoa-san dan sekarang dia sudah berlatih sampai jurus-jurus ‘Pek-hong-koan-jit’ dan ‘Thian-jwan-to-kwa’ itu? Siausumoay, ilmu pedang Hoa-san-pay kita harus dipelajari menurut urut-urutannya dan tidak boleh terburu-buru ingin cepat.”

“Kau jangan khawatir, masakah aku sembarangan mengajar padanya?” ujar Leng-sian. “Watak Siau-lim-cu memang kepala batu, siang berlatih, malam juga berlatih. Untuk bicara dengan dia saja selalu dia tidak betah, bicara sedikit saja sudah membelok kepada soal ilmu pedang lagi. Karena ketekunannya itu, ilmu pedang yang harus dilatih tiga tahun oleh orang lain baginya hanya setengah tahun saja sudah dikuasainya. Terkadang aku suruh dia mengiringi aku pergi bermain, selalu dia enggan-enggan kelihatannya.”

Lenghou Tiong terdiam. Sekonyong-konyong ia merasa kesal tak terkatakan, bacang yang baru digigitnya dua kali itu hanya dipegang saja di tangannya.

“Toasuko,” Leng-sian menegur sambil menarik lengan bajunya, “apakah kau keselak, kenapa tidak bicara?”

Lenghou Tiong terkesiap, cepat-cepat ia jejalkan sisa bacang itu ke dalam mulut. Penganan yang tadinya dirasakan sangat lezat itu mendadak sukar ditelannya.

Leng-sian tertawa terkikih-kikih, katanya sambil menuding sang Suko, “Jangan buru-buru, nanti gigimu ikut tertelan.”

Dengan senyum getir sebisanya Lenghou Tiong telan sisa bacang itu ke dalam perut. Pikirnya, “Mengapa aku begini bodoh? Siausumoay memang suka bergerak, aku sendiri tidak dapat turun dari puncak ini, adalah jamak kalau Siausumoay lantas minta Lim-sute mengawani dia. Mengapa pikiranku begini sempit dan mengkhawatirkan urusan ini?”

Karena berpikir demikian, segera ia tenang kembali. Katanya dengan tertawa, “Rupanya bacang buatanmu ini jauh lebih lezat daripada bacang lain, maka gigi dan lidahku hampir-hampir ikut kumakan sendiri ke dalam perut.”

Leng-sian terbahak-bahak tawa. Selang sejenak, ia berkata pula, “O, Toasuko yang harus dikasihani, sudah sekian lamanya kau hidup sendirian di puncak karang ini, pantas kau menjadi rakus terhadap makanan yang lezat.”

Sesudah Leng-sian turun dari puncak situ, selang belasan hari pula baru nona itu naik lagi ke atas puncak. Sekali ini dia membawa sebuah keranjang kecil berisi buah kering, kacang dan lain sebagainya.

Selama belasan hari itu, Lenghou Tiong benar-benar sangat rindu kepada si nona. Selama itu yang mengantarkan ransum baginya adalah Liok Tay-yu. Bila Lenghou Tiong menanyakan tentang Siausumoaynya, selalu air muka Liok Tay-yu kelihatan aneh dan serbasusah menerangkan. Tentu saja Lenghou Tiong merasa curiga. Ia coba menanya dengan teliti, tapi tiada sesuatu keterangan memuaskan yang diperolehnya. Bilamana pertanyaan berbelit-belit, maka terpaksa Liok Tay-yu menjawab, “Keadaan Siausumoay sangat baik, mungkin Suhu melarang dia naik ke sini agar tidak mengganggu Toasuko.”

Sekarang Siausumoay yang dirindukannya siang dan malam itu telah datang pula, sudah tentu Lenghou Tiong sangat girang. Dilihatnya wajah si nona merah bercahaya, jauh lebih cantik daripada sebelum jatuh sakit. Tiba-tiba timbul suatu pertanyaan dalam benak Lenghou Tiong, “Dia sudah segar bugar, mengapa selang sekian lamanya baru naik lagi ke atas puncak ini? Apakah benar-benar dilarang oleh guru atau ibu-guru?”

Waktu berhadapan dengan Lenghou Tiong, mendadak wajah Leng-sian menjadi merah. Katanya, “Toasuko, telah sekian lamanya aku tidak datang menjenguk engkau, apakah kau marah padaku?”

“Masakah aku marah padamu?” sahut Lenghou Tiong. “Tentu Suhu atau ibumu melarang kau naik ke sini, bukan?”

“Ya. Ayah mendesak aku berlatih sejurus ilmu pedang yang baru. Katanya perubahan ilmu pedang ini sangat ruwet. Bilamana aku datang ke sini tentu perhatianku akan terpecah.”

“Ilmu pedang apakah itu?” tanya Lenghou Tiong.

“Coba kau terka.”

“Apakah ‘It-ji-hui-kiam’?”

Leng-sian menggeleng. “Bukan,” sahutnya.

“Apakah ‘Beng-beng-kiam-hoat’?”

“Salah, coba terka lagi.”

“Ya, tentu adalah Siok-li-kiam-hoat, bukan?”

“Wah, itu kan ilmu pedang andalan ibu, aku tidak memenuhi syarat untuk melatihnya,” kata Leng-sian sambil menjulurkan lidah. “Biarlah aku beri tahukan, yang kulatih adalah 19 jurus Giok-li-kiam-hoat!”

Lenghou Tiong rada terkejut, katanya, “Kau sudah mulai berlatih 19 jurus Giok-li-kiam? Ya, itu memang ilmu pedang yang sangat ruwet.”

Giok-li-kiam-hoat yang disebut itu meski hanya 19 jurus saja, tapi perubahannya sangat ruwet, kalau tidak ingat dengan jelas setiap jurusnya, sukarlah untuk memainkannya dengan sempurna. Berdasarkan kemampuan Leng-sian sekarang rasanya toh masih belum sesuai untuk berlatih Giok-li-kiam-hoat itu.

Dahulu Lenghou Tiong dan Leng-sian serta para Sutenya yang lain juga pernah menyaksikan guru dan ibu-guru mereka saling gebrak dengan menggunakan ilmu pedang itu. Guru mereka telah menerjang dengan menggunakan 19 jurus Giok-li-kiam-hoat saja untuk melayani, dan ternyata tidak kalah tangguhnya biarpun harus menandingi belasan macam ilmu pedang dari aliran lain.

Tatkala itu mereka benar-benar takjub tak terhingga menyaksikan permainan ibu-gurunya itu. Segera Leng-sian merengek-rengek minta ibunya mengajarkan ilmu pedang itu. Tapi Gak-hujin berkata, “Usiamu masih terlalu muda, pertama, Lwekangmu belum kuat, kedua, ilmu pedang itu terlalu ruwet. Sedikitnya usiamu sudah lebih dari 20 tahun baru boleh melatih ilmu pedang ini. Pula Giok-li-kiam-hoat ini khusus digunakan untuk mematahkan setiap ilmu pedang dari golongan lain, kalau melulu para Suhengmu sendiri yang bergebrak dengan kau, akhirnya Giok-li-kiam ini akan berubah seakan-akan khusus ditujukan untuk mengalahkan Hoa-san-kiam-hoat saja. Jadi untuk melatihnya harus diiringi dengan ilmu pedang dari golongan lain. Untuk mana pengetahuan umum anak Tiong adalah sangat luas, dia paham berbagai ilmu pedang golongan lain, kelak bila dia ada waktu senggang dan kau pun sudah cukup umur, barulah kalian boleh sama-sama berlatih.”

Kejadian itu sudah dua tahun yang lalu, selama itu hal mana tidak pernah disebut-sebut lagi. Tak terduga sekarang Leng-sian sudah mulai berlatih.

“Syukurlah kalau Suhu mempunyai hasrat untuk melatih kau setiap hari,” ujar Lenghou Tiong kemudian.

Maklum, di antara tokoh-tokoh Hoa-san-pay sekarang kecuali Lenghou Tiong yang pengetahuan umum sangat luas dengan ilmu pedang dari berbagai golongan lain, hanya Gak Put-kun saja yang dapat melebihi muridnya ini. Maka kalau Leng-sian sudah mulai berlatih Giok-li-kiam, tentulah Gak Put-kun sendiri yang melatihnya.

Tapi wajah Leng-sian kembali merah, katanya, “Mana ayah ada tempo buat melatih diriku. Adalah Siau-lim-cu yang mengiringi latihanku setiap hari.”

“O, Lim-sute maksudmu?” Lenghou Tiong menegas dengan heran. “Apakah dia juga paham sedemikian banyak ilmu pedang dari golongan lain?”

“Tidak, dia hanya paham semacam ilmu pedang dari keluarga Lim mereka sendiri yaitu Pi-sia-kiam-hoat,” sahut Leng-sian dengan tertawa. “Kata ayah, meski daya serangan Pi-sia-kiam-hoat itu kurang kuat, tapi gerak perubahannya sangat aneh dan dapat dibuat bermain ilmu pedang lain. Maka untuk melatih Giok-li-kiam-hoat itu aku diperbolehkan memulai dengan iringan Pi-sia-kiam-hoat.”

“O, kiranya demikian,” kata Lenghou Tiong.

“Toasuko, apakah kau merasa kurang senang?” tanya Leng-sian tiba-tiba.

“Ah, tidak! Mengapa aku merasa kurang senang? Kau dapat meyakinkan ilmu pedang yang paling hebat dari perguruan kita, untuk ini aku justru merasa girang bagimu, masakah aku tidak senang malah?”

“Akan tetapi kulihat air mukamu mengunjuk rasa kurang senang.”

Lenghou Tiong paksakan tertawa, katanya, “Ah, mana bisa! Eh, sudah sampai jurus keberapa kau meyakinkan Giok-li-kiam itu?”

Leng-sian tidak menjawab, selang agak lama baru berkata, “Eh, Toasuko, mestinya ibu akan menyuruh kau latihan bersama aku. Sekarang Siau-lim-cu yang mewakilkan kau, makanya kau tidak suka, bukan? Namun, Toasuko, lantaran kau belum boleh turun dari puncak ini, sedangkan aku tidak sabar menunggu dan ingin lekas-lekas berlatih ilmu pedang hebat itu, makanya aku tidak menunggu kau lagi.”

“Hahaha, kembali kau bicara seperti anak kecil lagi,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa. “Kita adalah saudara seperguruan, siapa saja yang latihan bersama kau juga sama saja.”

Setelah merandek sejenak, lalu katanya pula dengan tertawa, “Tapi aku tahu kau lebih suka latihan bersama Lim-sute daripada bersama aku.”

Kembali air muka Leng-sian merah jengah, katanya, “Ngaco-belo! Kepandaian Siau-lim-cu kalau dibandingkan kau masih ketinggalan jauh, apa untungnya bila aku latihan bersama dia?”

Lenghou Tiong tertawa, pikirnya, “Ya, Lim-sute baru beberapa bulan saja masuk perguruan, betapa pun cerdik pandainya juga terbatas kemajuan yang diperolehnya.”

Karena pikiran demikian, segera buyarlah rasa kesalnya tadi. Katanya pula dengan tertawa, “Mumpung kita berada di sini, biarlah aku menjajal beberapa jurus, ingin kulihat sampai berapa majunya latihanmu ke-19 jurus Giok-li-kiam itu?”

“Bagus!” Leng-sian berseru girang. “Kedatanganku hari ini justru … justru ….”

“O, justru ingin memamerkan ilmu pedangmu yang baru kau latih ini bukan?” sela Lenghou Tiong dengan tertawa. “Baiklah, silakan mulai.”

“Toasuko,” kata Leng-sian sambil melolos pedang, “dalam hal ilmu pedang selamanya kau lebih kuat daripadaku, tapi bila aku sudah sempurna meyakinkan Giok-li-kiam, tentu kau takkan dapat mengalahkan lagi. Hayo, kenapa kau belum melolos pedang?”

“Tidak perlu buru-buru,” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa sambil tangan kiri bergerak ke samping, menyusul tangan kanan dengan cepat menusuk ke depan. Katanya, “Ini adalah Siong-hong-kiam-hoat dari Jing-sia-pay, jurus ini disebut Siong-to-ji-lui (daun Siong rontok bergemuruh).”

Telapak tangan kanan itu ternyata digunakan sebagai pedang terus menusuk bahu Leng-sian.

Cepat si nona miringkan tubuh seraya melangkah mundur, pedang segera ditangkiskan ke telapak tangan Lenghou Tiong sambil berseru, “Awas!”

“Jangan khawatir,” ujar Lenghou Tiong. “Bila aku tak sanggup menangkis tentu aku akan melolos pedang.”

“Kau berani melawan 19 jurus Giok-li-kiam dengan bertangan kosong saja?” tegur Leng-sian.

“Latihanmu sekarang belum sempurna, bilamana kelak kau sudah sempurna meyakinkannya tentu aku tidak berani lagi melawan dengan tangan kosong.”

Dasar sifat Leng-sian memang suka menang, selama belasan hari ini telah tekun berlatih Giok-li-kiam dan dirasakannya sudah maju pesat, andaikan digunakan melawan jago Kangouw nomor satu rasanya juga takkan kalah. Siapa duga sekarang sang Toasuko berani memandang enteng padanya dan akan melawan ilmu pedangnya yang baru dan lihai itu dengan tangan kosong saja. Keruan si nona kurang senang. Katanya dengan muka bersungut, “Bila pedangku melukai kau, jangan kau marah padaku dan juga tak boleh lapor pada ayah-ibu lho!”

“Sudah tentu,” sahut Lenghou Tiong. “Boleh kau serang menurut kemampuanmu, bila kau sungkan-sungkan malah akan kurang tampak kepandaianmu yang sejati.”

Habis berkata, mendadak telapak tangan kiri terus membacok ke depan sambil berseru, “Awas!”

Leng-sian terkejut. “He, jadi tangan … tangan kirimu juga digunakan sebagai pedang?” tegurnya.

Apabila serangan Lenghou Tiong barusan ini dilontarkan sungguh-sungguh, tentu Leng-sian sudah terluka. Tapi dia telah menahan tenaga serangannya, katanya dengan tertawa, “Di dalam Siong-hong-kiam-hoat dari Jing-sia-pay ini adalah suatu jurus yang disebut Hoan-jiu-kiam (ilmu pedang bertukar tangan), pedang yang digunakan terkadang di tangan kanan dan lain saat bisa berpindah ke tangan kiri sehingga musuh sukar menduganya.”

Leng-sian terkesiap. “Hah, aneh benar ilmu pedang itu? Lihat seranganku!” bentaknya sambil balas menusuk.

Dari gaya serangan si nona yang luwes itu Lenghou Tiong dapat melihat jurus serangan itu adalah satu gerakan bagus dari Giok-li-kiam-hoat. Pujinya, “Hebat sekali serangan ini. Hanya kurang cepat!”

“Kurang cepat katamu? Bila lebih cepat lagi tentu sebelah bahumu sudah terpapas,” omel Leng-sian.

“Boleh coba kau memapasnya!” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa. Tangan kanannya tergenggam seperti pedang terus memotong ke lengan kiri si nona.

Diam-diam Leng-sian mendongkol karena dipandang enteng oleh Toasukonya. Ia putar pedangnya dengan kencang, ke-19 jurus Giok-li-kiam yang baru dilatihnya semua belasan hari itu telah dikeluarkan seluruhnya.

Tapi di antara ke-19 jurus itu yang betul-betul dapat diingat olehnya hanya sembilan jurus saja dan dari sembilan jurus ini yang benar-benar dapat digunakan dengan lancar juga cuma enam jurus saja. Namun melulu enam jurus saja sudah membawa daya tekanan yang mahadahsyat, di mana ujung pedangnya mengarah selalu memaksa Lenghou Tiong menjauhkan diri.

Terpaksa Lenghou Tiong mengitari si nona. Setiap kali menyerobot maju untuk menyerang, selalu dia terdesak mundur lagi oleh ilmu pedang si nona yang lihai itu. Suatu kali ketika dia buru-buru melompat mundur, tak terduga punggungnya telah tertumbuk pada suatu batu dinding yang menonjol sehingga terasa kesakitan.

Leng-sian sangat senang karena berada di atas angin. “Apakah kau belum mau melolos pedang?” tegurnya dengan tertawa.

“Belum, sebentar lagi!” sahut Lenghou Tiong. Ia pancing agar si nona mengeluarkan seluruh Giok-li-kiam-hoat sejurus demi sejurus.

Akan tetapi sesudah sekian lamanya, dilihatnya bolak-balik yang dimainkan Leng-sian melulu enam jurus saja. Maka pahamlah Lenghou Tiong apa sebabnya. Mendadak ia melangkah maju setindak, telapak tangannya lantas menebas sebagai pedang sambil membentak, “Awas, serangan maut ketiga dari Siong-hong-kiam-hoat!”

Melihat serangan dahsyat itu, lekas-lekas Leng-sian mengangkat pedang menangkis ke atas. Justru gerakan si nona ini memang sudah dalam perhitungan Lenghou Tiong, segera tangan yang lain menjulur ke depan dan jarinya menyelentik, “trang”, dengan tepat batang pedang si nona kena diselentik.

Seketika genggaman tangan Leng-sian kesakitan sehingga tidak kuat memegang pedangnya, kontan senjatanya mencelat ke atas terus menyelonong jatuh ke dalam jurang.

Wajah Leng-sian pucat pasi dan memandangi Lenghou Tiong dengan terkesima, hanya bibir bawah tertampak digigit kencang-kencang.

Hati Lenghou Tiong berdebur-debur juga, pikirnya, “Wah, kenapa aku ini? Sudah belasan tahun aku mengiringi latihan Siausumoay, selamanya aku berlaku sungkan dan mengalah padanya, mengapa sekarang aku berbuat demikian, makin lama makin tak genah perbuatanku ini.”

Tiba-tiba Leng-sian berpaling ke arah jurang dan berseru, “Pedang … pedang itu!”

Kembali Lenghou Tiong terkesiap. Ia tahu pedang yang digunakan Siausumoaynya itu adalah pedang mestika yang disebut “Pik-cui-kiam” yang dihadiahkan sang Suhu padanya tatkala nona itu berulang tahun ke-18, sekarang pedang itu terjatuh ke dalam jurang yang sukar dijajaki dalamnya, terang sukar diketemukan kembali. Sekali ini dirinya benar-benar telah berbuat suatu kesalahan besar.

Melihat Lenghou Tiong berdiri dengan agak linglung, mendadak Leng-sian membanting kaki terus putar tubuh dan tinggal pergi.

“Siausumoay!” seru Lenghou Tiong.

Namun Leng-sian tidak menggubrisnya lagi, langsung ia turun dari puncak gunung itu. Lenghou Tiong memburu sampai tepi puncak dan bermaksud hendak mencegahnya, tapi sebelum tangan menyentuh lengan si nona, ia urungkan maksudnya itu. Dilihatnya si nona sudah lantas turun ke bawah tanpa menoleh.

Diam-diam Lenghou Tiong sangat masygul. Biasanya ia suka mengalah pada Sumoay cilik itu, mengapa tadi sekali selentik telah membuat pedangnya mencelat? Jangan-jangan … jangan-jangan lantaran dia telah diajari Giok-li-kiam oleh ibu-guru, lalu aku merasa iri? Tapi, ah, tidak, tidak mungkin iri. Giok-li-kiam adalah ilmu pedang yang dipelajari oleh murid wanita Hoa-san-pay, bila kepandaiannya tambah tinggi, sudah tentu aku ikut girang. Ai, boleh jadi sudah terlalu lama aku dikurung sendirian di puncak terpencil ini sehingga watakku berubah keras. Semoga sedikit hari lagi Siausumoay akan naik lagi ke sini, biarlah aku akan memberi penjelasan dan minta maaf padanya.

Akan tetapi hari kedua, ketiga, dan keempat tetap tidak kelihatan bayangan si nona. Selama tiga malam Lenghou Tiong tidak bisa tidur nyenyak. Perasaannya bergolak, pikirannya kusut. Sudah dikarangnya banyak perkataan yang akan diutarakan kepada Siausumoaynya, namun si nona tetap tidak naik lagi ke atas puncak.

Selang 18 hari pula, akhirnya datang juga Leng-sian, tapi tidak sendirian, melainkan bersama Liok Tay-yu. Mestinya banyak sekali yang hendak dibicarakan Lenghou Tiong kepada Siausumoaynya, tapi lantaran ada Liok Tay-yu, maka sukar untuk diucapkan.

Sesudah makan, Liok Tay-yu dapat memahami perasaan Lenghou Tiong. Katanya, “Toasuko, Siausumoay, sudah lama kalian tidak bertemu, biarlah kalian mengobrol lebih lama, aku akan pulang saja lebih dulu.”

“Eh, Lak-kau-ji, kau akan melarikan diri ya? Tidak bisa, datang bersama harus pergi bersama juga!” kata Leng-sian dengan tertawa sambil berbangkit.

“Siausumoay, aku memang ingin bicara dengan kau,” kata Lenghou Tiong.

“Baiklah, Toasuko ingin bicara, Lak-kau-ji juga harus berdiri di situ, dengarkan petuah Toasuko!” kata si nona dengan tertawa.

“Tidak, aku bukan memberi petuah, tapi kau punya pedang itu ….”

“Hal itu sudah kukatakan kepada ibu bahwa tanpa sengaja pedangku telah jatuh ke dalam jurang dan sukar diketemukan, ibu tidak marah padaku, sebaliknya beliau menghibur dan berjanji akan memberikan pedang lain yang lebih bagus,” ujar Leng-sian. “Sudahlah, Toasuko, kejadian yang sudah lalu itu buat apa dibicarakan lagi?”

Semakin si nona anggap soal sepele pada kejadian itu, semakin tidak enak bagi Lenghou Tiong. Katanya kemudian, “Sesudah aku lepas dari kurungan di sini, kelak pasti akan kucarikan sebatang pedang bagus untukmu.”

“Sesama saudara seperguruan, apa artinya sebatang pedang saja?” kata Leng-sian dengan tersenyum. “Apalagi pedang itu akulah yang kurang hati-hati dan jatuh ke dalam jurang. Adalah salahku sendiri karena tidak becus, masakah aku menyalahkan orang lain. Biarlah kita menerima nasibnya sendiri-sendiri seperti sering dikatakan Siau-lim-cu padaku.”

Kembali Lenghou Tiong merasa getir demi mendengar nama Siau-lim-cu disebut pula. Mendadak teringat olehnya. “Tempo hari waktu aku menjajal Giok-li-kiam-hoat yang dimainkan Siausumoay, mengapa aku menggunakan Siong-hong-kiam-hoat dari Jing-sia-pay untuk menandingi dia? Jangan-jangan timbul maksudku sengaja hendak merendahkan Pi-sia-kiam-hoat Lim-sute karena segenap anggota keluarganya telah diubrak-abrik dan menjadi korban keganasan orang-orang Jing-sia-pay? Jadi aku sengaja hendak mengolok-olok Lim-sute? Sebab apakah jiwaku menjadi begitu sempit?”

Segera terpikir pula olehnya, “Tempo hari waktu jiwaku terancam di bawah pukulan Ih Jong-hay, adalah berkat bantuan Lim-sute yang tidak kenal bahaya, dia telah menyindir Ih Jong-hay sehingga jago Jing-sia-pay itu urung membinasakan aku. Jadi sesungguhnya aku telah utang budi padanya. Mengapa sekarang aku malah mengolok-olok dia?”

Berpikir demikian, ia merasa malu sendiri. Katanya pula sambil menghela napas, “Pembawaan Lim-sute adalah sangat pintar, juga sangat giat, selama berapa bulan ini mendapat petunjuk dari Siausumoay, tentu kemajuannya sangat pesat. Cuma sayang untuk setahun lamanya aku tidak boleh turun dari sini, kalau tidak, tentu aku akan membantu latihannya sekadar membalas utang budiku padanya.”

Leng-sian mengerut kening, tanyanya, “Siau-lim-cu itu berbudi padamu? Selamanya aku belum pernah mendengar hal ini.”

“Sudah tentu dia sendiri takkan berkata kepada orang lain,” ujar Lenghou Tiong. Lalu ia pun menceritakan kejadian dahulu itu.

“Pantas ayah suka memuji dia mempunyai jiwa kesatria sejati, kiranya dia pernah menolong kau dari ancaman bahaya,” kata Leng-sian. Sampai di sini tiba-tiba ia tertawa dan menyambung pula, “Sebenarnya sukar untuk dipercaya bahwa hanya dengan sedikit kepandaiannya saja dia mampu menyelamatkan Toasuko dari Hoa-san-pay serta membela putri ketua Hoa-san-pay dan membunuh putra kesayangan ketua Jing-sia-pay. Sungguh siapa pun takkan menduga bahwa ‘pendekar besar’ yang suka membela keadilan itu ternyata hanya sekian saja kepandaiannya.”

“Soal kepandaian dapatlah dilatih, tapi jiwanya yang luhur adalah pembawaan, di sinilah perbedaan antara orang baik dan jahat,” kata Lenghou Tiong.

“Sering aku pun mendengar ayah dan ibu berkata demikian tentang diri Siau-lim-cu,” kata Leng-sian dengan tersenyum. “Toasuko, ada suatu sifat yang sama di antara kau dan Siau-lim-cu.”

“Sifat apa?” tanya Lenghou Tiong.

“Sifat angkuh, kalian berdua sama-sama angkuhnya,” kata si nona dengan tertawa.

Mendadak Liok Tay-yu menyela, “Toasuko adalah pemimpin di antara para Suheng dan Sute, sudah sepantasnya mesti angkuh sedikit. Tapi bocah she Lim itu kutu macam apa? Berdasarkan apa dia main angkuh-angkuhan segala?”

Dari nadanya terang sekali dia sangat tidak suka kepada Lim Peng-ci.

Keruan Lenghou Tiong melengak. Tanyanya, “Lak-kau-ji, bilakah Lim-sute telah berbuat kesalahan padamu?”

“Dia sih tidak pernah bersalah apa-apa padaku, hanya saja para Suheng dan Sute tidak biasa melihat tingkah lakunya itu,” kata Liok Tay-yu dengan marah-marah.

“He, ada apakah Laksuko ini? Kenapa kau selalu memusuhi Siau-lim-cu?” kata Leng-sian. “Dia adalah Sute, sebagai Suko mestinya kau tidak perlu bercekcok dengan dia.”

“Asalkan dia berkelakuan baik-baik saja takkan menjadi soal, kalau tidak, orang she Liok inilah yang pertama-tama takkan mengampuni dia,” kata Liok Tay-yu dengan menjengek.

“Sebenarnya kelakuannya apa yang kurang baik?” tanya Leng-sian.

“Dia … dia ….” namun Lak-kau-ji tidak melanjutkan lagi.

“Sebenarnya apakah urusannya? Mengapa kau enggan menerangkan?” desak Leng-sian.

“Sudahlah, mudah-mudahan Lak-kau-ji yang salah mata dan keliru sangka,” kata Liok Tay-yu.

Tiba-tiba muka Leng-sian bersemu merah dan tidak menanya lagi. Ia coba mengobrol urusan lain dengan Lenghou Tiong. Ketika Liok Tay-yu menyatakan hendak pulang, segera si nona ikut berangkat bersama.

Lenghou Tiong termenung-menung di tepi puncak menyaksikan menghilangnya kedua bayangan orang itu di balik bukit sana. Tiba-tiba dari arah lereng bukit berkumandang suara nyanyian Leng-sian yang nyaring merdu.

Karena sejak kecil dibesarkan bersama, maka sudah sering Lenghou Tiong mendengar Leng-sian bernyanyi. Tapi lagu yang dinyanyikannya sekarang ternyata belum pernah didengarnya. Biasanya yang dinyanyikan Leng-sian adalah lagu-lagu rakyat berpantun dari daerah Siamsay, tapi sekarang lagu itu kedengarannya sangat aneh, suaranya terdengar jelas, tapi entah apa artinya?

Diam-diam Lenghou Tiong berpikir, “Entah sejak kapan Siausumoay telah mempelajari lagu baru yang sangat merdu ini, lain kali bila dia naik lagi ke sini akan kuminta dia menyanyi pula.”

Namun mendadak dadanya serasa digodam sekali dengan keras, tiba-tiba ia sadar, “Ah, itu adalah lagu rakyat daerah Hokkian. Pasti Lim-sute yang mengajarkan dia.”

Malam itu perasaan Lenghou Tiong bergolak dengan hebat, betapa pun sukar pulas. Telinganya selalu mendenging-denging suara nyanyian Leng-sian yang halus merdu dengan lagunya yang tak dikenal itu.

Beberapa kali Lenghou Tiong mencela dirinya sendiri percuma saja sebagai seorang laki-laki sejati, hanya disebabkan sebuah lagu saja sudah kelabakan demikian. Walaupun tahu tak perlu memusingkan diri, tapi suara nyanyian si nona masih terus menggoda pikirannya. Saking pedihnya, mendadak ia angkat pedang dan membacok serabutan ke arah dinding batu. Mendadak suatu arus tenaga dahsyat membanjir keluar dari dalam perut, pedangnya menusuk cepat ke depan, gayanya dan kekuatannya ternyata adalah “pedang tunggal tiada bandingannya dari keluarga Ling” yang pernah diciptakan Gak-hujin itu. Terdengarlah suara “crat” sekali, tahu-tahu pedangnya menancap ke dalam dinding batu.

Lenghou Tiong sampai kaget sendiri. Ia merasa betapa pun kemajuan yang dicapainya selama beberapa bulan ini juga tidak mungkin mampu menusuk dinding batu sampai pedangnya menancap hingga dekat gagang. Untuk ini diperlukan tenaga dalam yang kuat, sekalipun guru dan ibu-gurunya juga belum tentu mampu.

Untuk sejenak Lenghou Tiong sampai kesima sendiri, waktu ia tarik kembali pedangnya, tiba-tiba tangannya merasakan bahwa dinding batu itu sesungguhnya sangat tipis, hanya beberapa senti tebalnya, di balik dinding batu sana adalah tempat luang.

Lenghou Tiong sangat heran, ia coba menusuk lagi dengan pedangnya, “pletak”, tahu-tahu pedangnya patah menjadi dua. Kiranya tenaga yang digunakan sekali ini kurang kuat sehingga dinding yang beberapa senti tebalnya itu sukar ditembus lagi.

Segera ia keluar gua dan mengambil sepotong batu besar, sekuatnya ia hantamkan batu itu ke dinding. Sesudah dikepruk beberapa kali, bubuk batu rontok bertebaran. Dari suara benturan batu itu, sayup-sayup terdengar di balik dinding itu ada suara kumandang yang membalik, terang di belakang dinding itu ada tempat yang cukup luas.

Sekuatnya ia angkat batu dan mengepruk lagi beberapa kali. “Blang”, mendadak dinding batu itu ambruk sebuah lubang, batu besar itu sampai jatuh di lantai sebelah dengan mengeluarkan suara gemuruh yang berkumandang tak berhenti. Bahkan batu itu masih terus menggelinding ke bawah. Kiranya di balik dinding sebelah sana adalah tanah yang miring menurun.

Sebenarnya perasaan Lenghou Tiong tadi sedang masygul, demi diketahui di balik gua itu ada “dunia lain”, seketika segala pikirannya yang menyebalkan itu terbang ke awang-awang. Segera ia pergi mengambil batu untuk memukul dinding pula. Hanya menghantam beberapa kali lagi, sekarang lubang itu sudah sebesar kepala. Sesudah mengepruk lebih lebar sedikit, segera ia menyalakan obor dan menerobos lewat lubang itu. Ternyata di balik sana adalah sebuah lorong yang sempit. Waktu ia mengawasi bagian bawah, mendadak ia merinding. Ternyata tepat di sebelah kakinya sendiri menggeletak suatu rangka tengkorak.

Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa di situ akan terdapat tengkorak yang menakutkan itu. Ia pikir jangan-jangan tempat ini adalah kuburan. Tapi mengapa tengkorak ini tidak berbaring sebagaimana mestinya, sebaliknya menggeletak dengan tengkurap. Melihat gelagatnya lorong yang sempit itu toh bukan jalan kuburan.

Waktu ia periksa tengkorak itu, pakaian yang terpakai itu sudah hancur menjadi debu, di samping tengkorak ada sepasang kapak besar yang mengilap tersorot oleh cahaya api obor. Ia coba angkat sebuah kapak itu, rasanya sangat berat, sedikitnya ada 40 kati lebih. Sekenanya ia coba ayun kapak itu ke arah dinding, “crat”, tahu-tahu sepotong batu terkapak jatuh.

Kembali Lenghou Tiong terperanjat. Tak terduga kapak itu ternyata tajam luar biasa, ia pikir tentu senjata tinggalan seorang tokoh dunia persilatan angkatan tua. Ketika diperiksanya tempat bekas bacokan kapak itu ternyata sangat licin seperti pisau memotong tahu saja. Bahkan dilihatnya pula di sebelah lain juga penuh bekas-bekas bacokan kapak. Setelah merenung sejenak, mau tak mau ia terkesima.

Ia coba memeriksa ke bawah dengan penerangan obor, ternyata dinding sekitar lorong itu penuh bekas bacokan kapak. Keruan kejutnya tak terkirakan. Kiranya lorong itu adalah buatan orang yang kini telah menjadi tengkorak dengan bantuan kapaknya yang tajam itu. Ya, tentu karena suatu sebab orang itu telah terkurung di dalam perut gunung, terpaksa ia menggunakan kapak tajam itu untuk membuat jalan keluar. Akan tetapi sayang, ketika jaraknya dengan tempat gua hanya tinggal beberapa senti saja orang itu sudah kehabisan tenaga dan binasa. Ai, sungguh malang nasib orang itu. Demikian pikir Lenghou Tiong.

Setelah menyusur lorong itu sekian lamanya, ternyata masih belum mencapai ujung lorong. Mau tak mau Lenghou Tiong sangat kagum terhadap keuletan serta kesaktian orang yang membuat lorong dengan kapak itu.

Sesudah beberapa jauhnya lagi, tiba-tiba tertampak di bawah tanah ada dua rangka tengkorak lagi. Sebuah duduk bersandar dinding, sebuah lagi jatuh meringkuk. Melihat keadaan itu, Lenghou Tiong pikir orang yang terkurung di dalam perut gunung itu ternyata lebih dari satu orang. Ia merasa heran pula, sebab tempat itu adalah wilayah kekuasaan Hoa-san-pay, orang luar tidaklah mudah datang ke situ. Apa barangkali tengkorak-tengkorak itu adalah para tokoh angkatan tua dari Hoa-san-pay sendiri yang telah melanggar undang-undang perguruan sehingga dihukum kurung di situ?

Ia coba maju ke depan lagi. Mendadak dari sebelah kiri tertampak ada cahaya. Segera ia membelok ke kiri mengikuti jalanan lorong itu. Tiba-tiba di depannya kelihatan sebuah gua batu yang amat luas, sedikitnya cukup untuk berkumpul ribuan orang. Di ujung kiri atas gua itu ada sebuah lubang, dari situlah cahaya menembus masuk dari luar.

Sementara itu hari sudah pagi, walaupun sinar matahari belum keras, tapi keadaan di dalam gua itu sudah cukup jelas terlihat. Ternyata di tengah gua itu ada tujuh kerangka tengkorak, ada yang duduk, ada yang berbaring, di samping masing-masing tengkorak itu terdapat senjata-senjata. Di samping lima tengkorak adalah pedang, dua lainnya adalah senjata-senjata yang aneh bentuknya, yang sebuah seperti godam dan yang lain adalah gada segitiga dan penuh bergigi tajam.

Diam-diam Lenghou Tiong berpikir, “Orang-orang yang menggunakan kedua macam senjata aneh dan kapak tadi pasti bukan anak murid Hoa-san-pay, hanya kelima orang yang memakai pedang itulah adalah tokoh angkatan tua golongannya sendiri.”

Ia coba ambil sebatang pedang. Ternyata lebih pendek daripada pedang biasa, namun badannya lebih lebar hampir sekali lipat, bobotnya juga sangat berat. Katanya di dalam hati, “Ini adalah pedang Thay-san-pay, kiranya pemakai senjata ini adalah Locianpwe dari Thay-san-pay.”

Waktu diperiksanya lagi keempat pedang yang lain, yang sebatang lemas dan enteng, yaitu senjata dari Hing-san-pay. Sebatang pedang lagi bentuknya berlengkung-lengkung seperti keris, yakni satu di antara pedang yang biasa dipakai orang Heng-san-pay. Pedang yang lain lagi tampaknya tidak tajam, hanya ujungnya yang mengilap, itulah senjata yang suka digunakan tokoh Ko-san-pay. Pedang terakhir baik bentuknya maupun bobotnya terang adalah senjata yang biasa dipakai Hoa-san-pay sendiri.

Lenghou Tiong tambah heran, jadi kelima tokoh angkatan tua itu adalah dari Ngo-gak-kiam-pay, tapi mengapa bisa mati bersama di situ? Apa barangkali mereka bertempur dengan lima orang musuh dan akhirnya telah gugur bersama seluruhnya?

Ia coba memeriksa dinding-dinding gua itu dengan bantuan obor, maka tertampaklah di dinding sebelah kiri sana ada terukir enam belas huruf besar yang berbunyi: “Ngo-gak-kiam-pay rendah dan tidak tahu malu, bertanding kalah, mencelakai lawan secara pengecut.” Huruf-huruf itu terang diukir dengan senjata yang sangat tajam sehingga dalamnya sampai dua-tiga senti di dinding batu itu. Selain itu masih ada huruf-huruf kecil yang lebih banyak, isinya semuanya mencaci maki dan mencemoohkan Ngo-gak-kiam-pay.

Diam-diam Lenghou Tiong mendongkol setelah membaca tulisan-tulisan itu, pikirnya, “Kiranya orang-orang ini telah ditawan dan dikurung di sini oleh Ngo-gak-kiam-pay kami. Saking gemasnya karena tak bisa berbuat apa-apa, mereka lantas mengukir tulisan di sini untuk memaki lawan. Perbuatan demikian inilah yang rendah dan pengecut.”

Tapi lantas terpikir lagi, “Entah siapakah orang-orang ini? Bila mereka sudah bermusuhan dengan Ngo-gak-kiam-pay tentulah bukan manusia baik-baik. Cuma aneh, entah mengapa mereka masing-masing telah mati dengan diiringi seorang Cianpwe dari Ngo-gak-kiam-pay kami.”

Ia coba memeriksa dinding itu pula, dilihatnya pula ada sebaris huruf yang berbunyi: “Hoan Siong dan Tio Ho mematahkan Hing-san-kiam-hoat di sini.” Di sebelah tulisan ini adalah ukiran-ukiran orang-orangan yang sangat banyak, setiap dua orang-orangan menjadi satu kelompok, yang satu pakai pedang dan yang lain menggunakan kapak. Dari gaya ukiran orang-orangan itu teranglah orang yang berkapak itu sedang menghajar orang yang berpedang.

Waktu ia periksa lagi tulisan di sebelahnya, tiba-tiba ia menjadi gusar. Ternyata tulisan itu berbunyi: “Thio Seng-hong dan Thio Seng-in menghancurkan Hoa-san-kiam-hoat di sini.”

Lenghou Tiong tidak rela ilmu pedang perguruannya dicemoohkan orang. Di dunia ini tokoh yang mampu melawan Hoa-san-kiam-hoat saja dapat dihitung dengan jari, apalagi hendak mengalahkannya, lebih-lebih mengatakan “telah menghancurkan Hoa-san-kiam-hoat”, sungguh besar amat mulut si pembual itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: