Hina Kelana: Bab 26. Ilmu Pedang Tunggal Keluarga Ling yang Tiada

“Sudahlah, tidak perlu banyak adat lagi,” kata Gak-hujin. Lalu ia berpaling kepada sang suami dengan tersenyum, “Setiap kali turun gunung tentu kau membawa pulang beberapa orang. Kali ini aku menduga sedikitnya kau akan terima tiga atau empat murid baru. Kenapa cuma satu orang saja?”

“Kau sering mengatakan satu yang baik lebih berguna daripada sepuluh yang jelek,” sahut Gak Put-kun dengan tertawa. “Dan yang ini bagaimana menurut pandanganmu?”

“Kukira mukanya terlalu tampan, tidak pantas sebagai orang persilatan. Ada lebih tepat kalau dia belajar Su-si-ngo-keng (empat buku dan lima kitab) padamu saja, boleh jadi kelak dia akan lulus menjadi Conggoan (gelar kesusastraan),” demikian kata Gak-hujin dengan tertawa.

Wajah Peng-ci menjadi merah. Pikirnya, “Agaknya badanku yang lemah ini dipandang rendah oleh ibu-guru. Selanjutnya aku harus giat belajar agar tidak ketinggalan dari para Suheng.”

Tiba-tiba Gak-hujin melirik Lenghou Tiong sekejap dan menegur, “Hm, kembali berkelahi lagi dengan orang ya? Tentu terluka bukan? Mengapa air mukamu begitu pucat?”

Selama dalam perjalanan luka Lenghou Tiong sebenarnya sudah sembuh, hanya air mukanya memang masih pucat. Sejak kecil ia dibesarkan oleh Gak-hujin, maka nyonya Gak itu menganggapnya seperti putranya sendiri, meski nadanya seperti mengomeli, tapi sebenarnya penuh perhatian.

Lenghou Tiong tersenyum dan menjawab, “Kesehatanku sudah hampir pulih kembali. Sekali ini memang hampir-hampir saja tidak dapat bertemu lagi dengan Sunio.”

“Ya, supaya kau tahu di atas langit masih ada langit, di atas orang pandai masih ada yang lebih pandai. Apakah kau kalah dengan penasaran?” ujar Gak-hujin sambil melototi pula sekali.

“Golok Dian Pek-kong itu benar-benar sangat cepat sehingga murid tidak mampu menangkisnya, untuk mana justru ingin minta petunjuk kepada Sunio,” kata Lenghou Tiong.

Nama Dian Pek-kong yang jahat memang sudah lama terkenal. Setiap orang tahu dia adalah maling cabul. Sekarang Gak-hujin mendengar Lenghou Tiong terluka karena bertempur dengan Dian Pek-kong, seketika air mukanya berubah ramah kembali. Katanya sambil mengangguk, “Kiranya kau bertempur dengan keparat seperti Dian Pek-kong, itulah sangat bagus. Kusangka kau telah cari gara-gara dan bikin onar lagi. Bagaimana ilmu goloknya yang cepat itu? Coba terangkan, biar kita mempelajarinya dengan baik supaya lain kali dapat melabraknya lagi.”

Meski lemah lembut tampaknya nyonya Gak ini, tapi bila mendengar soal berkelahi seketika timbul lagi semangat kesatrianya di masa dahulu.

Gak Put-kun hanya tersenyum saja tanpa ikut bicara. Dalam perjalanan pulang memang beberapa kali Lenghou Tiong telah tanya padanya tentang cara bagaimana mematahkan ilmu golok Dian Pek-kong yang cepat itu. Namun Gak Put-kun sengaja tak mau mengatakan, biar sesudah tiba di rumah boleh Lenghou Tiong minta petunjuk kepada istrinya. Dan benar juga, begitu mendengar tentang ilmu golok yang cepat itu, seketika Gak-hujin sangat tertarik.

Sesudah masuk ke ruangan dalam, ramailah para murid Hoa-san-pay itu saling menanyakan keadaan masing-masing. Keenam murid wanita merasa sangat tertarik oleh cerita Gak Leng-sian tentang apa yang dilihatnya di kota Hokciu dan Heng-san. Sedangkan Liok Tay-yu asyik mengobrol kepada para Sutenya tentang pertarungan sengit antara Toasuko mereka melawan Dian Pek-kong, tentang terbunuhnya Lo Jin-kiat dari Jing-sia-pay. Sudah tentu apa yang terjadi itu sengaja dibumbu-bumbui oleh Liok Tay-yu sehingga seakan-akan bukan Toasuko mereka yang dikalahkan Dian Pek-kong, sebaliknya sepertinya Dian Pek-kong yang dihajar oleh Lenghou Tiong.

Gak-hujin sendiri duduk pada sebuah kursi di sudut sana dan sedang memerhatikan Lenghou Tiong memainkan ilmu golok kilat dari Dian Pek-kong itu. Rupanya ilmu golok itu memang sangat hebat dan sukar dibayangkan sebelumnya, diam-diam nyonya Gak kaget dan sangat heran.

Ketika Lenghou Tiong menggunakan tangan kanan dengan gaya membacok kian kemari sampai tiga belas kali, lalu menarik diri dan berhenti main, perlahan-lahan Gak-hujin menghela napas longgar. “Sungguh lihai!” pujinya sambil menggeleng kepala.

Sesudah merenung sejenak, kemudian nyonya Gak itu bertanya, “Ilmu golok Dian Pek-kong yang menyerang 13 kali secara berantai ini cara bagaimana dapat kau patahkan?”

“Dia punya ilmu golok ini memang mahasakti, pandangan Tecu sendiri sampai berkunang-kunang dan bingung, masakah mampu mematahkannya?” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Benar,” kata Gak-hujin. “Kukira biarpun tokoh kelas satu dari dunia persilatan zaman ini yang mampu menyelamatkan jiwa di bawah serangan kilat 13 kali ini, mungkin jumlahnya dapat dihitung dengan jari, apalagi bocah ingusan semacam kau. Tentu kau telah main licik dan dengan akal bulus dapat mengelabui keparat Dian Pek-kong itu.”

Sejak kecil Lenghou Tiong sudah ikut keluarga Gak, maka wataknya dan kepandaiannya sudah tentu cukup dikenal oleh Gak-hujin.

Muka Lenghou Tiong menjadi merah, sahutnya dengan tersenyum, “Tecu memang mengeluh dan kelabakan ketika dia baru saja memainkan dua-tiga jurus ilmu goloknya itu. Tapi Tecu lantas bergelak tertawa. Untuk ini Dian Pek-kong menjadi melongo heran. Ia tanya, ‘Apa yang kau tertawakan? Apakah kau kira mampu menangkis 13 kali serangan golokku ini?’ Dengan tertawa Tecu telah menjawab, ‘Kiranya Dian Pek-kong yang namanya termasyhur asalnya adalah murid buangan Hoa-san-pay kami. Sungguh tidak nyana, sungguh tak terduga. Ya, ya, tentulah disebabkan tingkah lakumu yang buruk, makanya kau telah diusir keluar dari golongan kami.’

“Dian Pek-kong menjadi marah-marah, katanya, ‘Murid buangan Hoa-san-pay apa segala, kau ngaco-belo belaka. Ilmu silatku mempunyai gayanya sendiri, ada sangkut paut apa dengan Hoa-san-pay kalian?’ Dengan tertawa Tecu menjawab, ‘Kau punya ilmu golok ini meliputi 13 gerakan bukan? Aku sendiri pernah menyaksikan permainan ilmu golok ini dari ibu-guruku. Beliau telah menciptakan ilmu golok yang lemah gemulai ini di kala beliau lagi menyulam. Sungguh tidak nyana seorang laki-laki seperti dirimu juga dapat menirukan gayanya kaum wanita ….’” belum habis ucapannya, Leng-sian dan para Sumoaynya sudah lantas mengikik geli.

Gak Put-kun juga tersenyum sambil mengomel, “Ngaco! Ngaco belaka!”

Sedangkan Gak-hujin juga lantas menyemprotnya, “Kau sembarangan mengoceh tak keruan. Segala apa boleh kau katakan, mengapa ibu-gurumu ikut-ikut kau sebut?”

“Hendaklah Sunio maklum, Dian Pek-kong itu sangat sombong. Bila dia mendengar ilmu goloknya yang lihai itu kukatakan berasal dari ciptaan Sunio serta mempersamakan dia dengan kaum wanita, maka dia pasti akan membantah dan pasti tak jadi membunuh Tecu pada waktu itu. Dan benar juga, dia lantas memainkan pula ilmu goloknya dengan perlahan, setiap jurus selalu ia tanya, ‘Apakah betul ini ciptaan ibu-gurumu?’ Tecu sengaja diam saja untuk makin membikin panas hatinya, berbareng Tecu lantas ingat baik-baik setiap jurus permainannya itu. Akhirnya barulah Tecu berkata, ‘Maaf, Dian-heng, boleh jadi Siaute salah sangka. Tampaknya ilmu golok Dian-heng ini mirip dengan ilmu pedang ciptaan ibu-guruku, tapi di dalamnya ternyata ada perbedaan-perbedaannya. Agaknya Dian-heng tidaklah mencuri belajar dari perguruanku.’ Rupanya dia mengetahui maksud Tecu, dengan gusar ia berkata, ‘Hm, karena kau tidak mampu melawan ilmu golokku ini, lantas kau mengoceh tak keruan untuk mengulur tempo, memangnya kau sangka aku bodoh dan tidak tahu tujuanmu? Pendek kata, Lenghou Tiong, kau sudah mengatakan Hoa-san-pay kalian juga punya ilmu golok yang sama, maka kau harus coba memainkan sekarang biar aku bertambah pengalaman juga.’

“Tecu lantas menjawab, ‘Hoa-san-pay kami hanya menggunakan pedang dan tidak main golok. Ilmu pedang ciptaan ibu-guruku itu hanya diajarkan kepada murid wanita. Kita sebagai kaum laki-laki masakah ikut-ikut megal-megol memainkan ilmu pedang yang menertawakan itu?’ Dengan gusar Dian Pek-kong berkata, ‘Menertawakan atau tidak, pendek kata kau harus mengaku terus terang bahwa Hoa-san-pay sesungguhnya tak ada ilmu silat seperti ilmu golokku ini. Lenghou-heng, sebenarnya orang she Dian kagum kepada jiwa kesatriamu, seharusnya kau tidak … tidak pantas sembarangan mengoceh mempermainkan aku.’”

“Siapa sudi dikagumi oleh manusia rendah macam dia itu?” sela Gak Leng-sian. “Memang seharusnya Toasuko mempermainkan dia biar kapok.”

“Tapi waktu itu kurasa mau tidak mau aku harus memainkan beberapa jurus yang telah kukatakan itu,” ujar Lenghou Tiong.

“Dan apakah kau benar-benar megal-megol menirukan gaya kaum wanita?” tanya Leng-sian dengan tertawa.

“Biasanya aku sudah sering melihat kau berlatih sehingga untuk menirukan megal-megol kaum wanita adalah tidak sukar bagiku,” sahut Lenghou Tiong.

“Ha, jadi kau menganggap aku suka megal-megol? Awas, nanti kujewer kupingmu!” omel Leng-sian dengan manja.

Sejak tadi Gak-hujin diam saja, baru sekarang ia membuka suara, “Anak Sian, coba kau berikan pedangmu kepada Toasuko.”

Leng-sian menurut, ia melolos pedangnya dan diberikan kepada Lenghou Tiong. Katanya, “Nah, ibu ingin melihat cara kau memainkan pedang dengan gaya megal-megol!”

“Hus!” sentak Gak-hujin. “Jangan kau gubris dia, anak Tiong. Coba kau pertunjukkan permainanmu waktu itu.”

Lenghou Tiong maklum bahwa ibu-gurunya ingin tahu ilmu silat andalan Dian Pek-kong. Segera ia memberi hormat lebih dulu, katanya, “Baiklah, Tecu akan coba mainkan ilmu golok Dian Pek-kong itu, Sunio dan Suhu!”

Menurut peraturan Hoa-san-pay, bila kaum muda hendak “main” di depan kaum tua, maka harus permisi lebih dulu.

Sesudah Gak Put-kun mengangguk, mulailah Lenghou Tiong mengacungkan pedangnya. Sekonyong-konyong, tanpa ada suatu tanda lebih dulu, tahu-tahu pedangnya membacok beruntun-runtun tiga kali dengan secepat kilat sehingga mengeluarkan suara mendengung-dengung.

Para murid Hoa-san-pay sampai terkejut, beberapa murid wanita bahkan sampai menjerit kaget.

Dalam pada itu Lenghou Tiong telah memainkan pedangnya sedemikian cepatnya, tampaknya seperti kacau tak teratur, tapi dalam pandangan tokoh-tokoh seperti Gak Put-kun dan istrinya, setiap bacokan atau tebasan Lenghou Tiong itu dapat dilihat dengan jelas, serangan-serangannya jitu lagi ganas. Hanya sekejap saja Lenghou Tiong sudah lantas menarik kembali pedangnya dan berdiri tegak, lalu memberi hormat pula kepada guru dan ibu-gurunya.

Leng-sian rada kecewa, tanyanya, “Hanya begini saja sudah selesai?”

“Lebih cepat justru lebih bagus,” ujar Gak-hujin. “Ke-13 jurus golok kilat ini setiap jurusnya membawa tiga-empat gerakan perubahan sehingga dalam sekejap ini dapat bermain lebih dari 40 gerakan, ilmu golok kilat ini benar-benar jarang ada bandingannya di dunia ini.”

“Bila dimainkan oleh keparat Dian Pek-kong sendiri, kecepatannya dua-tiga kali lebih cepat lagi daripada Tecu,” ujar Lenghou Tiong.

Gak-hujin saling pandang sekejap dengan Gak Put-kun, keduanya sama-sama merasa gegetun dan kagum akan ilmu golok kilat itu.

Tiba-tiba Gak-hujin melolos sebatang pedang dari pinggang seorang murid wanita dan berseru kepada Lenghou Tiong, “Gunakan golok kilat!”

Lenghou Tiong mengiakan dan “sret”, ia gunakan pedang sebagai golok terus membacok ke arah Gak-hujin.

Tempat yang diarah oleh serangan ini aneh luar biasa. Kelihatannya pedang itu sudah meleset melampaui badan Gak-hujin, tapi mendadak ujung pedang bisa melengkung balik ke pinggang nyonya Gak itu.

Keruan Leng-sian terkejut, dia sampai menjerit, “Awas, Ibu!”

Namun dengan cepat Gak-hujin telah meloncat maju, tanpa peduli tusukan dari belakang itu, dia lantas balas menusuk dada Lenghou Tiong dengan tidak kalah cepatnya.

Kembali Leng-sian menjerit, “Awas, Toasuko!”

Lenghou Tiong ternyata juga tidak menangkis, sebaliknya ia balas membacok pula satu kali sambil berseru, “Dian Pek-kong jauh lebih cepat daripada ini, Sunio!”

“Sret-sret-sret”, kembali Gak-hujin menusuk tiga kali pula dan Lenghou Tiong juga balas menyerang tiga kali. Makin lama makin cepat serang-menyerang kedua orang, yang digunakan selalu serangan berbahaya, tapi tiada seorang pun yang main menangkis, hanya menggunakan cara mengelak dan menyerang.

Dalam sekejap saja kedua orang sudah bergebrak 20 jurus lebih. Peng-ci sampai kesima menyaksikan pertarungan hebat itu. Pikirnya, “Tingkah laku Toasuko tampaknya angin-anginan, tapi ilmu silatnya sesungguhnya sedemikian lihai. Untuk selanjutnya aku harus giat berlatih supaya kelak tidak dipandang hina oleh orang lain.”

Pada saat itulah sekonyong-konyong pedang Gak-hujin menusuk ke depan pula, sekali ini tepat mengancam di depan tenggorokan Lenghou Tiong sehingga tak sempat mengelak lagi.

Tapi Lenghou Tiong telah berkata, “Percuma, dia dapat menangkisnya.”

“Baik!” seru Gak-hujin sambil tarik kembali pedangnya untuk mengulangi serangan-serangan lain pula.

Beberapa jurus kemudian, “sret”, kembali ujung pedang nyonya Gak itu mengancam di depan tenggorokan Lenghou Tiong.

Namun pemuda itu tetap berkata, “Dia dapat menangkisnya!”

Dengan ucapan ini Lenghou Tiong hendak mengatakan bahwa dirinya memang tidak mampu mengelakkan serangan sang ibu-guru, tapi ilmu golok Dian Pek-kong yang jauh lebih cepat itu dapat menangkis serangan-serangan ibu-gurunya itu.

Segera kedua orang mengulangi pula, makin lama makin cepat. Sampai akhirnya Lenghou Tiong tidak sempat mengatakan “dia dapat menangkis” lagi, sebagai gantinya dia hanya menggeleng saja bila dia terancam oleh setiap gerakan Gak-hujin, dengan begitu maksudnya hendak mengatakan serangan ibu-gurunya itu tetap belum dapat mengalahkan Dian Pek-kong.

Permainan Gak-hujin bertambah semangat, mendadak ia membentak nyaring, sinar pedangnya gemerdep menyilaukan, sekeliling tubuh Lenghou Tiong seakan-akan berbungkuskan sinar perak.

Sekonyong-konyong nyonya Gak menusuk ke depan, tahu-tahu ulu hati Lenghou Tiong terancam, cepatnya benar-benar secepat kilat. Bahkan tertampak Gak-hujin terus sorong pedangnya ke depan sehingga tubuh Lenghou Tiong benar-benar kelihatan tertembus sebab gagang pedang Gak-hujin sampai mepet di dada anak muridnya itu.

“Ibu!” Leng-sian menjerit khawatir.

Tapi lantas terdengarlah suara “trang-tring” berulang-ulang, beberapa potong pedang kutung sepanjang beberapa senti telah jatuh semua di samping kaki Lenghou Tiong. Gak-hujin bergelak tertawa dan menarik kembali tangannya, ternyata pedangnya yang panjang tadi kini hanya tertinggal bagian gagang saja.

“Sumoay, sedemikian hebat tenaga dalammu, sampai aku pun tidak mengetahuinya,” ujar Gak Put-kun dengan tertawa.

Meski mereka adalah suami istri, tapi asalnya mereka memang saudara seperguruan, maka panggilan yang sudah biasa itu tetap digunakan meski mereka sudah menikah dan sekarang pun sudah tua.

Maka dengan tersenyum Gak-hujin menjawab, “Ah, Suko terlalu memuji saja. Hanya sedikit kepandaian tak berarti saja kenapa mesti dipersoalkan.”

Alangkah kejutnya Lenghou Tiong ketika melihat potongan-potongan pedang kutung yang berserakan itu. Baru sekarang dia tahu bahwa waktu ibu-gurunya menusukkan pedangnya tadi benar-benar telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya. Akan tetapi begitu ujung pedang menyentuh bajunya, seketika ia memutar kembali tenaga dalam yang mahadahsyat itu, dari tenaga yang mendampar lurus ke depan itu berubah menjadi putaran kembali, maka seketika pedangnya tergetar patah menjadi beberapa potong. Sudah tentu cara menguasai Lwekangnya itu benar-benar sudah mencapai puncak kesempurnaannya.

Keruan tidak kepalang kagumnya Lenghou Tiong. Katanya dengan gegetun, “Dengan kepandaian Sunio ini, betapa pun cepat ilmu golok Dian Pek-kong itu juga tidak mampu menghindarkan diri dari serangan Sunio ini.”

Melihat baju sang Toasuko itu penuh lubang di muka dan di belakang, seluruhnya adalah bekas tusukan pedang Gak-hujin, diam-diam Peng-ci membatin, “Di dunia ini ternyata ada ilmu pedang sehebat ini. Asal aku dapat mempelajari beberapa bagiannya saja sudah cukup untuk membalas sakit hati ayah-bundaku.”

Lalu terpikir pula, “Jing-sia-pay dan Bok Ko-hong sama-sama mengincar Pi-sia-kiam-boh keluargaku, padahal Pi-sia-kiam-hoat kami itu kalau dibandingkan dengan ilmu pedang Sunio barusan ini bedanya seperti langit dan bumi.”

Dalam pada itu Gak-hujin tampak sangat puas, katanya, “Anak Tiong, kau bilang seranganku yang terakhir tadi dapat membinasakan Dian Pek-kong. Maka hendaklah kau berlatih yang giat, biar kuajarkan jurus ilmu pedang tadi padamu.”

“Banyak terima kasih, Sunio,” sahut Lenghou Tiong.

“Aku juga ingin belajar, Ibu!” seru Leng-sian.

Gak-hujin menggeleng, katanya, “Lwekangmu belum cukup sempurna, jurus serangan tadi tak dapat kau pelajari dengan baik.”

“Lwekang Toasuko juga selisih tidak jauh dengan Lwekangku, kalau dia dapat mengapa aku tidak?” ujar Leng-sian dengan penasaran.

Gak-hujin tersenyum tanpa bicara lagi.

Dengan manja Leng-sian lantas menarik tangan sang ayah dan berkata, “Ayah, harap engkau mengajarkan padaku sejurus ilmu pedang yang dapat mematahkan serangan itu, agar kelak aku tidak selalu dihina oleh Toasuheng.”

“Ilmu pedang ibumu itu bernama ‘pedang tunggal keluarga Ling tiada bandingan’, di dunia ini tiada tandingannya, dari mana aku mampu menciptakan cara untuk mematahkannya?” ujar Gak Put-kun sambil menggeleng kepala dan tertawa.

“Kau membual apa?” omel Gak-hujin dengan tersenyum, “bila ucapanmu itu tersiar, bukankah akan ditertawai oleh sesama kawan Bu-lim?”

Jurus ilmu pedang tadi memang diciptakan oleh Gak-hujin secara mendadak dan menurut keadaan, di dalamnya mengandung intisari Lwekang dan ilmu pedang Hoa-san-pay yang paling murni, ditambah lagi kecekatan berpikir Gak-hujin yang tajam, maka jurus serangannya tadi memang amat lihai. Dan dengan sendirinya ilmu pedang baru itu belum ada sesuatu nama sebutan. Gak Put-kun cukup kenal watak sang istri yang tinggi hati, biarpun sudah menikah juga lebih suka orang memanggilnya sebagai “Ling-lihiap” (pendekar Ling) daripada disebut Gak-hujin (nyonya Gak). Artinya menghormati kepandaian yang sejati dan bukan karena mengandalkan nama suaminya yang termasyhur itu.

Walaupun mulutnya mengomeli sang suami, tapi sebenarnya dia merasa suka dengan nama ilmu pedangnya yang diberikan Gak Put-kun tadi.

Begitulah Gak Leng-sian lantas mengusik lagi, “Ayah, kapan-kapan engkau juga boleh ciptakan sepuluh jurus ilmu pedang keluarga Gak yang tiada tandingannya di kolong langit ini, lalu ajarkan padaku agar aku dapat melabrak Toasuko.”

“Tidak bisa, kecerdikan ayahmu kalah jauh daripada ibumu, aku tidak mampu menciptakan apa-apa,” sahut Put-kun dengan tertawa.

Tapi Leng-sian yang nakal itu lantas membisiki sang ayah, “Bukannya engkau tak mampu menciptakan, soalnya engkau takut bini, tidak berani menciptakan.”

“Hus, ngaco-belo!” omel Put-kun dengan terbahak-bahak sambil mencubit perlahan pipi putrinya itu.

“Sudahlah, anak Sian, jangan usilan lagi,” kata Gak-hujin. “Coba Tek-nau, aturlah meja sembahyangan agar Lim-sutemu dapat melakukan upacara sembahyang kepada para leluhur perguruan kita.”

Tek-nau mengiakan terus pergi melaksanakan tugasnya. Tidak lama kemudian segala sesuatu sudah disiapkan dengan baik.

Gak Put-kun mendahului menuju ke ruangan sembahyang dengan diikuti Gak-hujin dan para muridnya termasuk Lim Peng-ci.

Setiba di ruangan itu, Peng-ci melihat suasana ruangan itu cukup angker, kedua sisi dinding masing-masing tergantung sebatang pedang kuno. Mungkin pedang-pedang itu adalah milik tokoh-tokoh angkatan tua di masa lampau. Diam-diam Peng-ci berpikir, “Nama Hoa-san-pay sedemikian termasyhur sekarang, dapat diduga pedang-pedang tinggalan para leluhur Hoa-san-pay itu entah sudah berapa banyak membinasakan kawanan penjahat.”

Sementara itu Gak Put-kun sudah tekuk lutut lebih dulu di depan meja sembahyang dan menjura beberapa kali, lalu berdoa, “Tecu Gak Put-kun hari ini telah menerima Lim Peng-ci dari Hokciu sebagai murid, semoga arwah para Cosu (leluhur) suka memberi berkah, supaya Lim Peng-ci giat belajar, menjaga kehormatan diri sendiri, taat kepada tata tertib perguruan dan takkan meruntuhkan nama baik Hoa-san-pay kita.”

Mendengar begitu, segera Peng-ci ikut berlutut dan menjura dengan khidmat.

Gak Put-kun lantas berdiri, lalu katanya dengan tegas, “Lim Peng-ci, hari ini kau telah diterima menjadi murid Hoa-san-pay, kau harus patuh kepada peraturan perguruan, bila melanggar tentu akan mendapat hukuman sesuai dengan perbuatanmu. Perguruan kita sudah terkenal selama beberapa ratus tahun, maka setiap murid wajib menjaga nama baik perguruan, kesemuanya hendaklah kau ingat-ingat betul.”

“Ya, Tecu akan ingat dan taat kepada ajaran Suhu,” sahut Peng-ci.

“Lenghou Tiong!” tiba-tiba Gak Put-kun berkata lagi, “coba kau uraikan tata tertib perguruan kita agar diketahui oleh Lim Peng-ci.”

Lenghou Tiong mengiakan. Lalu berseru, “Lim-sute, hendaklah engkau dengarkan dengan baik. Pertama, dilarang mengkhianati perguruan dan mendurhakai orang tua. Kedua, dilarang menindas kaum lemah. Ketiga, dilarang main perempuan dan menggoda wanita baik-baik. Keempat, dilarang saling iri dengan sesama saudara seperguruan dan bunuh-membunuh. Kelima, dilarang mencuri dan tamak harta benda. Keenam, dilarang sombong dan menyalahi sesama kaum persilatan. Ketujuh, dilarang bergaul dengan kaum penjahat dan bersekongkol dengan kawanan iblis. Inilah tujuh larangan Hoa-san-pay kita yang harus ditaati bersama oleh segenap anak murid kita.”

“Baik, Siaute akan patuh kepada ketujuh larangan perguruan tersebut dan tidak berani melanggarnya,” sahut Peng-ci.

“Bagus, hanya sekian saja peraturan dari perguruan kita,” ujar Gak Put-kun dengan tersenyum. “Hendaklah kau taat kepada ketujuh larangan itu, setiap saat harus ingat mengutamakan budi kebajikan, jadilah seorang kesatria sejati, dengan demikian dapatlah guru dan ibu-gurumu merasa senang.”

Peng-ci mengiakan dan memberi hormat kepada guru dan ibu-guru serta para Suheng.

“Anak Peng, sekarang bolehlah kau urus penguburan layon kedua orang tuamu untuk memenuhi kewajibanmu sebagai putra orang, habis itu barulah nanti mulai belajar dasar-dasar ilmu silat perguruan kita,” kata Gak Put-kun.

Dengan air mata bercucuran Peng-ci mengucapkan terima kasih.

Kemudian Gak Put-kun berpaling dan mengamat-amati Lenghou Tiong sejenak, lalu berkata, “Anak Tiong, kepergianmu kali ini telah melanggar berapa banyak dari tujuh larangan perguruan kita?”

Lenghou Tiong terkesiap. Ia tahu biasanya sang guru sangat sayang kepada anak muridnya, tapi bila ada yang melanggar undang-undang perguruan, maka pasti dihukum tanpa pandang bulu. Segera ia berlutut dan menjawab, “Tecu tahu sudah bersalah, karena tidak patuh kepada ajaran guru dan ibu-guru, maka telah melanggar larangan keenam. Di Cui-sian-lau Tecu telah membunuh Lo Jin-kiat dari Jing-sia-pay.”

Gak Put-kun mendengus dengan wajah kereng.

“Ayah,” tiba-tiba Leng-sian menimbrung, “kejadian itu adalah salahnya Lo Jin-kiat karena dia hendak menganiaya Toasuko pada saat dia sudah terluka parah sehabis bertempur mati-matian dengan Dian Pek-kong.”

“Tidak perlu kau ikut campur urusan orang lain,” kata Put-kun. “Peristiwa itu diawali ketika anak Tiong menendang jatuh kedua murid terkemuka dari Jing-sia-pay, kalau tidak ada percekcokan itu tentu Lo Jin-kiat takkan mengganggu anak Tiong di saat dia terluka parah.”

“Tentang Toasuko menendang murid Jing-sia-pay itu, bukankah ayah sudah menghukum rangket kepada Toasuko, kesalahan yang sudah diberi hukuman mana boleh diperhitungkan kembali?” demikian kembali Leng-sian menyela lagi. “Apalagi Toasuko masih belum sembuh dari lukanya yang parah, janganlah ayah merangketnya lagi.”

Gak Put-kun melotot sekali kepada putrinya itu, katanya dengan bengis, “Saat ini harus bicara tentang tata tertib perguruan kita. Kau juga murid Hoa-san-pay, kau dilarang sembarangan ikut bicara!”

Jarang Leng-sian diperlakukan oleh ayahnya dengan sikap begitu bengis. Keruan ia merasa penasaran dan hendak menangis.

Dalam keadaan biasa seumpama Gak Put-kun tidak ambil pusing padanya juga ibunya tentu akan menghiburnya dengan kata-kata membujuk. Tapi sekarang Gak Put-kun bertindak sebagai Ciangbunjin serta mengusut tentang pelanggaran undang-undang perguruan sendiri, maka segera ia bicara lagi kepada Lenghou Tiong, “Lo Jin-kiat telah menganiaya kau pada saat kau dalam keadaan payah, tapi kau pantang menyerah, ini adalah sikap seorang laki-laki sejati. Akan tetapi mengapa kau mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh sehingga menyinggung nama baik Hing-san-pay, mengapa kau bilang ‘asal melihat Nikoh pasti kalah judi’ segala, katanya aku juga takut menjumpai Nikoh?”

Tiba-tiba Leng-sian tertawa geli. Tapi ia lantas diam lagi setelah dipelototi oleh sang ayah.

Maka terdengarlah Lenghou Tiong telah menjawab, “Tatkala itu yang dipikirkan Tecu adalah menyelamatkan Sumoay dari Hing-san-pay itu. Karena Tecu sadar bukan tandingan Dian Pek-kong dan tidak mampu menolong Sumoay dari Hing-san-pay itu, namun Sumoay itu malah tidak mau melarikan diri dan mau membela diriku. Untuk menyingkirkan dia dari tempat bahaya terpaksa Tecu sembarangan mengoceh, kata-kata demikian itu memang sangat menyinggung nama baik para Supek dan Susiok dari Hing-san-pay.”

“Maksudmu hendak menyingkirkan Gi-lim Sutit dari tempat berbahaya, hal ini memang tidak salah, tapi segala apa boleh kau katakan, mengapa justru menggunakan ucapan yang tidak senonoh itu? Sekarang urusan ini sudah diketahui semua oleh Ngo-gak-kiam-pay, mereka tentu akan mengatakan kau bukan orang baik-baik dan anggap aku tak bisa mengajar murid.”

Lenghou Tiong mengiakan dengan membungkuk dan mengaku salah.

Lalu Gak Put-kun meneruskan, “Kau mengeram di rumah pelacuran untuk merawat lukamu boleh dikata karena terpaksa. Tapi kau telah menyembunyikan Gi-lim Sutit dan iblis cilik dari Mo-kau itu di dalam selimut, lalu mengatakan kepada Ih-koancu dari Jing-sia-pay bahwa mereka adalah perempuan pelacur, hal ini membawa bahaya yang amat besar bilamana akalmu itu terbongkar, bukan saja nama baik Hoa-san-pay kita akan runtuh, bahkan nama baik Hing-san-pay yang bersejarah ratusan tahun itu pun akan ikut tercemar.”

Lenghou Tiong sampai berkeringat dingin mendengarkan omelan sang guru, katanya dengan suara gemetar, “Kejadian itu memang mendebarkan hati bila Tecu pikirkan kembali. Kiranya Suhu sendiri pun telah mengetahui.”

“Tentang kau dikirim ke Kun-giok-ih untuk merawat lukamu oleh gembong Mo-kau yang bernama Kik Yang itu baru kuketahui kemudian, tapi waktu kau suruh kedua anak dara itu sembunyi di kolong selimut, saat itu aku sudah berada di luar jendela,” kata Put-kun.

“Untung Suhu telah mengetahui bahwa Tecu bukanlah orang yang berkelakuan tak senonoh,” ujar Lenghou Tiong.

“Hm, jika benar-benar kau main gila di rumah pelacuran itu, tentu sudah lama kupenggal kepalamu, masakah kau dapat hidup sampai hari ini?” kata Gak Put-kun dengan kereng.

Lenghou Tiong mengiakan dengan kikuk-kikuk.

Air muka Gak Put-kun semakin kereng, selang sejenak baru dia menyambung pula, “Kau sudah tahu bahwa anak dara she Kik itu adalah orang Mo-kau, mengapa kau tidak lantas membunuhnya saja? Biarpun kakeknya telah menolong jiwamu, tapi cara demikian adalah akal licik biasa dari orang Mo-kau yang hendak memecah belah Ngo-gak-kiam-pay kita. Kau toh bukan orang tolol, masakah tidak tahu? Orang sengaja menolong jiwamu, tapi sebenarnya mengandung tipu muslihat yang mendalam. Coba lihat saja, betapa cerdik pandainya Lau Cing-hong, akhirnya dia juga masuk perangkap musuh sehingga dirinya sendiri binasa dan keluarganya hancur berantakan. Tipu muslihat Mo-kau yang keji itu telah kau saksikan sendiri. Namun sedari Oulam kita pulang ke Hoa-san sini, sepanjang jalan belum pernah kudengar kau mengeluarkan sepatah kata pun yang namanya mencela perbuatan Mo-kau. Anak Tiong, agaknya sesudah jiwamu ditolong orang, lalu dalam hal baik dan buruk kau pun mulai kabur membedakannya. Persoalan ini menyangkut kepentingan hari depanmu sendiri, hendaklah kau mempunyai pendirian yang tegas.”

Lenghou Tiong menjadi terkenang kembali kepada paduan suara kecapi dan seruling yang dibunyikan Kik Yang dan Lau Cing-hong pada malam di pegunungan sunyi itu. Jika Kik Yang dikatakan mempunyai tipu muslihat tertentu dan sengaja membikin celaka, rasanya hal ini tidaklah mungkin.

Melihat air muka muridnya mengunjuk rasa sangsi, segera Gak Put-kun bertanya pula, “Anak Tiong, urusan ini bukan saja menyangkut kepentingan dirimu, bahkan juga menyangkut jaya runtuhnya Hoa-san-pay kita. Maka dari itu janganlah kau menyembunyikan sesuatu rahasia padaku. Aku hanya ingin tanya padamu, bila kau bertemu dengan orang Mo-kau, apakah kau akan memandangnya sebagai musuh dan membunuhnya tanpa ampun?”

Seketika Lenghou Tiong sukar menjawab, ia hanya memandangi sang guru dengan termangu-mangu. Dalam benaknya tiada henti-hentinya berputar suatu pikiran, “Kelak bila aku ketemu dengan orang Mo-kau, apakah tanpa tanya benar atau salah lantas kubunuh begitu saja?”

Sungguh ia tidak tahu cara bagaimana harus menjawab pertanyaan gurunya itu.

Gak Put-kun menatap sang murid sampai sekian lamanya dan tetap tidak mendapat jawaban, akhirnya ia menghela napas panjang dan berkata, “Rasanya percuma juga bila saat ini kau dipaksa menjawab pertanyaanku ini. Kepergianmu kali ini telah banyak merosotkan nama baik Hoa-san-pay kita, maka aku menghukum kau semadi menghadap tembok selama satu tahun, hendaklah kau memikirkan dan merenungkan kembali kejadian ini dari awal sampai akhir.”

“Ya, Tecu menerima hukuman Suhu ini,” sahut Lenghou Tiong sambil memberi hormat.

“Hah, menghadap tembok selama setahun?” Leng-sian menegas. “Lalu selama setahun ini setiap hari mesti menghadap tembok selama berapa jam?”

“Berapa jam apa? Harus setiap saat, dari pagi sampai malam, kecuali makan dan tidur, setiap waktu harus duduk menghadap tembok,” sahut Put-kun.

“Wah, mana boleh jadi demikian? Apakah Toasuko takkan kesal setiap hari harus menghadapi tembok melulu?” ujar Leng-sian.

“Kesal apa?” omel Gak Put-kun. “Dahulu kakek-gurumu pernah bersalah dan dihukum menghadap tembok selama tiga setengah tahun di puncak Giok-li-hong ini tanpa boleh turun selangkah pun dari situ.”

“O, kalau demikian hukuman Toasuko ini masih terhitung ringan?” kata Leng-sian sambil meleletkan lidah. “Padahal Toasuko mengatakan ‘asal ketemu Nikoh pasti kalah judi’ hanya timbul dari maksud baiknya hendak menyelamatkan orang dan bukan sengaja hendak memaki orang Hing-san-pay.”

“Justru karena dia bermaksud baik, maka hukumannya cuma satu tahun,” kata Put-kun. “Coba kalau maksudnya jahat, mustahil aku tidak cabut semua giginya dan potong lidahnya.”

“Sudahlah, anak Sian, jangan ceriwis lagi,” sela Gak-hujin. “Toasuko harus menghadapi tembok di puncak Giok-li-hong, untuk itu kau jangan pergi ke sana untuk mengganggunya. Kalau tidak, tentu maksud baik ayahmu agar Toasuko merenung kesalahannya akan sia-sia belaka.”

“Tapi Toasuko kan kesepian bila aku dilarang menjenguknya dan mengajak mengobrol padanya,” ujar Leng-sian. “Pula, selama setahun ini siapa lagi yang dapat mengiringi latihanku?”

“Jika kau mengajaknya mengobrol, lalu apa lagi artinya dia merenung kesalahannya dengan menghadapi tembok?” kata Gak-hujin. “Untuk latihanmu setiap Suhengmu dapat mengawani kau.”

Begitulah, petangnya Lenghou Tiong lantas mohon diri kepada guru dan ibu-gurunya, dengan membawa pedang, dia lantas berangkat ke puncak tertinggi dari Giok-li-hong. Di puncak yang curam itu terdapat sebuah gua yang biasanya digunakan oleh pimpinan Hoa-san-pay untuk menghukum kurungan kepada murid-muridnya yang berdosa.

Di puncak tertinggi itu hanya batu-batu karang yang tandus, tiada sesuatu tumbuhan apa-apa, hanya sebuah gua melulu, lain tidak ada. Gua ini merupakan suatu tempat istimewa sebab pada umumnya pemandangan Hoa-san itu senantiasa menghijau permai.

Waktu Lenghou Tiong melangkah ke dalam gua, terlihat sepotong batu besar di dalam gua itu halus licin, rupanya batu itulah yang biasa digunakan sebagai tempat duduk bagi orang yang diharuskan menghadapi tembok dan merenungkan dosanya itu. Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Selama berapa ratus tahun entah betapa banyak tokoh Hoa-san-pay yang telah mencicipi rasanya hidup sendirian di dalam gua dan duduk di atas batu ini sehingga batu ini sampai kelimis licin. Sekarang Lenghou Tiong adalah murid yang paling ugal-ugalan dari Hoa-san-pay, adalah lebih daripada pantas bila aku pun diberi kesempatan untuk duduk di atas batu halus ini.”

Lalu ia tepuk-tepuk batu besar itu sambil berkata, “Wahai batu, kau sudah kesepian sekian tahun, hari ini Lenghou Tiong akan menjadi kawanmu.”

Hendaklah maklum bahwa perangai Gak Put-kun itu sangat ramah, sehingga jarang sekali ia mendamprat dan menghajar muridnya, bila muridnya berbuat suatu kesalahan paling-paling hanya diomeli atau dihukum rangket bokong. Tapi dihukum kurung seperti Lenghou Tiong sekarang hanya baru terjadi pertama kali ini.

Dengan duduk di atas batu besar itu, pandangan Lenghou Tiong hanya berjarak kira-kira setengah meter saja dari dinding batu gua. Bila matanya terpentang lantas terasa seakan-akan dinding batu itu hendak menindih ke arahnya. Segera ia pejamkan mata dan merenung petuah sang guru, “Kelak bilamana bertemu dengan orang Mo-kau, apakah tanpa tanya salah atau tidak salah lantas kulolos pedang dan membunuh mereka? Apakah di dalam Mo-kau benar-benar ada seorang baik? Tapi kalau dia memang orang baik-baik, mengapa dia masuk menjadi anggota Mo-kau? Andaikan karena tersesat, seharusnya dapat juga lantas keluar lagi. Dan kalau tidak mau keluar dari Mo-kau, itu berarti rela berkawan dengan kaum jahat dan membikin celaka manusia umumnya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: