Hina Kelana: Bab 25. Tewasnya Lin Cin-lam dan Istri

“Nama Bok-cianpwe telah mengguncangkan Kangouw, siapa yang tidak tahu, siapa yang tidak dengar?” sahut Lim Cin-lam.

“Bagus, bagus, bagus!” berulang-ulang Bok Ko-hong menyebut “bagus”, lalu ia bergelak tertawa, katanya, “Haha, namaku mengguncangkan Kangouw, rasanya belumlah sehebat itu. Cuma cara turun tangan orang she Bok ini biasanya cukup ganas, selamanya aku tidak kenal belas kasihan, untuk ini tentunya kau pun sudah tahu.”

Dengan angkuh Lim Cin-lam menjawab, “Bahwa Bok-cianpwe akan menggunakan kekerasan terhadap diriku, hal ini pun sudah kuduga sebelumnya. Jangankan keluarga Lim kami memang tidak ada Pi-sia-kiam-boh apa segala, andaikan ada juga takkan kukatakan lantaran digertak dan dipancing oleh siapa pun. Sesudah ditawan oleh orang Jing-sia-pay, setiap hari kami sudah kenyang disiksa. Biarpun ilmu silat kami rendah, tapi beberapa kerat tulangku ini masih cukup keras.”

“Ya, ya, ya,” kata Bok Ko-hong sambil manggut-manggut. “Kau menganggap tulangmu cukup keras, tahan disiksa, kuat dianiaya, itu berarti keluarga Lim kalian memang benar ada sejilid Pi-sia-kiam-boh yang betapa pun takkan kau katakan biarpun dipaksa cara bagaimana juga oleh imam kerdil dari Jing-sia-pay itu. Hm, kukira kau ini terlalu bodoh, Lim-congpiauthau, mengapa kau tidak mau menyerahkan Pi-sia-kiam-boh padaku? Padahal Kiam-boh itu tiada gunanya sedikit pun bagimu. Menurut perkiraanku ilmu pedang yang tertera di dalam Kiam-boh itu pun tiada artinya apabila kita menilai ilmu silatmu sendiri, sedangkan beberapa murid Jing-sia-pay saja kau tak mampu menandingi. Maka sebaiknya ilmu pedang keluargamu itu tak perlu dirahasiakan lagi segala.”

“Memang betul,” sahut Lim Cin-lam. “Jangankan memangnya aku tidak punya Pi-sia-kiam-boh apa segala, andaikan ada, mengapa Kiam-boh yang isinya cuma sedikit kepandaian yang tiada nilainya itu dapat menarik perhatian Bok-cianpwe? Sungguh aneh!”

“Aku kan cuma merasa heran dan ingin tahu saja,” ujar Bok Ko-hong dengan tertawa. “Kulihat imam kerdil dari Jing-sia-pay itu sedemikian bernafsu mencari Kiam-boh itu dengan mengerahkan segenap begundal dari sarangnya, tampaknya di dalam hal ini tentu ada sesuatu yang menarik. Ya, boleh jadi makna ilmu pedang yang tercatat di dalam Kiam-boh itu terlalu tinggi, lantaran bakatmu kurang, otakmu bebal sehingga tidak mampu menyelaminya. Jika demikian bukankah sangat sayang karena nama baik leluhurmu telah ikut kau kubur begitu saja? Bukan mustahil sesudah kau perlihatkan Kiam-boh itu padaku, lalu akan kuberi petunjuk di mana letak intisari pelajaran ilmu pedangnya dan kelak namamu akan berkumandang harum pula di dunia Kangouw, bukankah ini akan sangat menguntungkan kau pula?”

“Maksud baik Bok-cianpwe itu biarlah kuterima di dalam hati saja,” sahut Cin-lam dengan tersenyum getir. “Jika tidak percaya, boleh silakan kau menggeledah badanku, aku benar-benar tidak mempunyai Pi-sia-kiam-boh apa segala.”

“Geledah sih tidak perlu, andaikan bisa ketemu di badanmu tentunya juga Kiam-boh itu sudah diambil oleh orang Jing-sia-pay yang telah menawan kau selama ini,” kata Bok Ko-hong. “Lim-congpiauthau, aku merasa kau ini sangat bodoh, kau paham atau tidak?”

“Ya, Cayhe memang amat bodoh, tidak perlu diberi tahu Bok-cianpwe juga Cayhe sudah cukup paham akan dirinya sendiri,” sahut Cin-lam.

Tapi Bok Ko-hong menggeleng-geleng malah, katanya, “Tidak, salah! Kau belum paham!” Tiba-tiba ia berpaling kepada nyonya Lim dan menyambung pula, “Boleh jadi Lim-hujin yang dapat memahami. Cinta kasih seorang ibu kepada putra kesayangannya biasanya melebihi sang ayah.”

“Apa katamu? Kau maksudkan anakku si Peng-ci? Apa sangkut pautnya dengan urusan ini? Di … di mana dia sekarang?” jerit Lim-hujin.

“Anak itu sangat pintar dan cerdik, begitu melihat dia aku lantas merasa suka,” kata Bok Ko-hong. “Bocah itu ternyata bisa melihat gelagat juga, rupanya dia tahu kepandaianku cukup lihai, maka dia lantas minta menjadi muridku.”

Apa yang diucapkan Bok Ko-hong itu dapat didengar dengan jelas oleh Lenghou Tiong di luar kelenteng, diam-diam ia mencaci maki tua bangka bungkuk yang tidak tahu malu itu, sudah memaksa dengan kekerasan dan tidak berhasil, sekarang mengoceh tak keruan untuk menipu Lim Cin-lam suami istri.

Namun sebagai seorang ayah yang cukup kenal watak putranya, Lim Cin-lam tahu sifat Peng-ci yang keras dan tentu tidak mau tekuk lutut di bawah ocehan si bungkuk, betapa pun tinggi kepandaian si bungkuk tidak nanti putranya itu sudi mengangkatnya sebagai guru. Tapi ia pura-pura menjawab, “O, kiranya anakku telah mengangkat Bok-cianpwe sebagai guru. Wah, jika begitu bocah itu benar-benar sangat besar rezekinya. Kami suami istri telah banyak dianiaya dan terluka parah, jiwa kami tinggal menanti ajal saja. Diharap Bok-cianpwe sukalah memanggilkan anak kami ke sini agar kami dapat bertemu untuk penghabisan kalinya sebelum kami mengembuskan napas terakhir.”

“Kalian ingin didampingi anak di saat terakhir, hal ini adalah soal lumrah dan tidak sulit untuk dipenuhi,” sahut Bok Ko-hong.

“Di manakah anak Peng kami?” tanya Lim-hujin. “Bok-cianpwe, kumohon dengan sangat, sudilah kau memanggilnya kemari. Budi kebaikanmu tentu takkan kami lupakan.”

“Baik, segera aku akan pergi memanggilnya,” sahut Bok Ko-hong. “Tapi selamanya orang she Bok tidak sudi disuruh orang secara percuma. Untuk memanggil putramu kemari adalah sangat mudah. Tapi kalian harus memberitahukan dulu di mana tersimpannya Pi-sia-kiam-boh itu.”

Sebagai seorang yang sudah kenyang makan asam garam dunia Kangouw, sebagai seorang pemimpin Piaukiok termasyhur, sudah tentu Lim Cin-lam tahu si bungkuk tua itu hanya dusta belaka.

Maka dengan menghela napas ia berkata, “Rupanya Bok-cianpwe tetap tidak percaya kepada keteranganku. Padahal kalau betul-betul kami mempunyai Kiam-boh segala, tentu juga kami akan mohon Locianpwe menyampaikannya kepada putraku itu mengingat jiwa kami hanya tinggal sekejap lagi. Agaknya harapan kami untuk bisa bertemu muka dengan putra kami sukar untuk terkabul.”

“Benar juga, makanya aku bilang kau ini sangat bodoh,” ujar Bok Ko-hong. “Sebab apakah mati pun kau tidak mau mengatakan di mana Kiam-boh itu disimpan? Tentu karena kau ingin mempertahankan ilmu leluhur kalian itu. Akan tetapi kau lupa, bila kau sudah mati, keluarga Lim kalian hanya tinggal Peng-ci seorang saja. Bila dia juga mati, di dunia ini menjadi sia-sia terdapat sejilid Kiam-boh yang tiada gunanya lagi.”

“Bagaimana dengan putraku? Dia … dia baik-baik bukan?” seru Lim-hujin khawatir.

“Saat ini sudah tentu masih baik-baik,” sahut Bok Ko-hong. “Asalkan kalian mengatakan di mana beradanya Kiam-boh itu, sesudah kuperoleh lantas kuserahkan kepada putramu. Bila dia kurang paham akan isinya, aku yang akan memberi petunjuk padanya agar tidak seperti Lim-congpiauthau sendiri yang tidak becus apa-apa meski memiliki sejilid Kiam-boh bagus.”

Habis berkata, mendadak ia menghantam ke arah patung Toapekong yang terletak beberapa meter jauhnya. “Brak”, kontan patung itu roboh terkena angin pukulannya yang dahsyat.

Lim-hujin tambah khawatir, serunya, “Kau … kau telah mengapakan putraku?”

“Hahaha!” Bok Ko-hong tertawa. “Peng-ci adalah muridku, mati atau hidupnya sekarang tergantung padaku. Bila aku ingin membinasakan dia, sekali hantam saja kontan dia akan mampus.”

Sembari bicara kembali ia menebas pula dengan telapak tangannya sehingga ujung meja sempal sebagian.

Selagi Lim-hujin hendak bertanya pula, cepat Cin-lam menyela, “Jangan banyak bicara lagi, istriku. Putra kita pasti tidak berada padanya. Kalau tidak, mustahil dia takkan menyeretnya ke sini untuk mengancam kita.”

“Hahaha! Kubilang kau ini bodoh, nyatanya memang kelewat tolol!” seru Bok Ko-hong dengan tertawa. “Katakan saja putramu itu memang tidak berada padaku, tapi bila si bungkuk berniat membinasakan anakmu itu, apa sih susahnya bagiku? Sahabatku penuh tersebar di seluruh jagat, untuk membekuk putramu itu boleh dikata terlalu mudah.”

Habis berkata, kembali ia menghantam pula sehingga sebuah meja hancur berkeping-keping.

Melihat begitu hebat tenaga pukulan si bungkuk, Lim-hujin tambah khawatir.

Namun Cin-lam sudah lantas bergelak tertawa, katanya, “Istriku, seumpama kita mengaku tentang Pi-sia-kiam-boh, maka hal pertama yang akan dilakukan bungkuk ini adalah mengambil Kiam-boh itu, hal kedua yang akan diperbuatnya adalah membunuh putra kita. Tapi kalau kita tidak mengaku apa-apa, demi untuk memperoleh Kiam-boh tentu si bungkuk ini akan tetap mempertahankan keselamatan anak Peng.”

Karena dia sudah bertekad takkan menggubris tekanan Bok Ko-hong, maka secara terang-terangan ia menyebutnya sebagai si bungkuk tanpa sungkan-sungkan lagi.

Seketika Lim-hujin sadar juga, katanya, “Benar. Hai, bungkuk, bila perlu boleh kau membunuh kami saja.”

Lenghou Tiong dapat membayangkan saat itu Bok Ko-hong pasti sudah sangat murka, kalau tidak lekas-lekas mencari akal untuk mengenyahkan dia, tentu jiwa Lim Cin-lam dan istrinya bisa celaka. Tanpa pikir lagi segera ia berseru, “Bok-cianpwe, murid Hoa-san-pay bernama Lenghou Tiong diperintahkan oleh Suhu untuk mengundang Bok-cianpwe agar suka keluar sebentar, ada urusan penting yang perlu dirundingkan.”

Saat itu Bok Ko-hong memang sudah angkat sebelah tangannya dan siap menghantam Lim Cin-lam. Ia menjadi kaget ketika mendadak suara Lenghou Tiong bergema di luar kelenteng. Selama hidupnya jarang sekali Bok Ko-hong mengalah kepada orang lain. Tapi terhadap Gak Put-kun, ketua Hoa-san-pay, biasanya dia memang rada jeri, lebih-lebih sesudah merasakan betapa lihainya Gak Put-kun ketika kebentrok di luar rumah pelacuran Kun-giok-ih tempo hari, ia tambah gentar terhadap ketua Hoa-san-pay yang tampaknya lemah gemulai, tapi sesungguhnya memiliki Lwekang yang tak terkirakan dalamnya.

Perbuatannya menggertak dan mengancam Lim Cin-lam suami istri ini justru paling dibenci oleh Beng-bun-cing-pay, golongan baik seperti Hoa-san-pay dan lain-lain. Ia menduga besar kemungkinan sudah sejak tadi Gak Put-kun dan muridnya telah mengintip dan mendengarkan di luar kelenteng. Resminya Gak Put-kun minta dia keluar untuk berunding sesuatu, tapi sebenarnya adalah menyindir secara halus. Ia pikir daripada nanti telan pil pahit, adalah lebih baik angkat langkah seribu saja paling selamat. Maka ia lantas berseru, “Orang she Bok sendiri ada urusan penting dan tidak sempat memenuhi undangan gurumu. Harap kau sampaikan semoga gurumu kelak sudi pesiar ke daerah utara dan mampir di rumah orang she Bok!”

Habis berkata demikian, sekali loncat ia melayang ke pelataran tengah, lalu dengan perlahan ia melompat ke atas wuwungan, menyusul terus melayang ke belakang kelenteng. Ia khawatir kalau dicegat oleh Gak Put-kun, maka buru-buru melarikan diri.

Lenghou Tiong sangat girang mendengar si bungkuk sudah pergi. Pikirnya, “Kiranya bungkuk tua itu demikian takut kepada guruku. Padahal kalau dia benar-benar keluar dan main kekerasan padaku, tentu aku akan celaka.”

Perlahan-lahan ia masuk ke dalam kelenteng yang gelap gulita itu. Samar-samar dilihatnya ada dua bayangan orang duduk saling bersandar di pojok sana. Segera ia memberi hormat dan berkata, “Siautit adalah murid Hoa-san-pay, Lenghou Tiong. Sekarang kami sudah ada hubungan saudara seperguruan dengan Peng-ci Sute, maka terimalah hormatku, Paman dan Bibi Lim.”

“Tak perlu banyak adat, anak muda,” sahut Cin-lam dengan girang. “Kami terluka parah dan tak dapat membalas hormat, harap maaf. Apakah anak Peng kami itu benar-benar telah diterima sebagai murid di bawah pimpinan Gak-tayhiap?”

Hendaklah maklum bahwa nama Gak Put-kun di dunia persilatan jauh lebih kumandang daripada Ih Jong-hay. Padahal Lim Cin-lam sendiri demi untuk mengikat persahabatan dengan Ih Jong-hay dari Jing-sia-pay setiap tahun mesti mengirim orang mengantar oleh-oleh dan menyampaikan salam hormat segala. Sebaliknya terhadap orang-orang Ngo-gak-kiam-pay seperti Gak Put-kun dan lain-lain, karena merasa tidak sesuai untuk bersahabat dengan mereka, maka Lim Cin-lam tidak berani coba-coba mengirim sumbangan dan oleh-oleh.

Sekarang disaksikannya pula Bok Ko-hong yang bengis dan garang itu, demi mendengar namanya Gak Put-kun, tanpa bicara lagi terus angkat langkah seribu alias kabur. Dengan sendirinya Cin-lam merasa sangat senang dan beruntung karena putranya dapat diterima sebagai murid Gak Put-kun.

Begitulah Lenghou Tiong telah menjawab, “Benar, Peng-ci Sute memang sudah diterima sebagai murid Suhuku. Semula si bungkuk Bok Ko-hong itu bermaksud memaksa putra paman itu agar mengangkat guru padanya, tapi Peng-ci Sute berkeras tidak mau. Ketika si bungkuk hendak membikin susah padanya, kebetulan Suhuku lewat di situ dan telah berhasil menolongnya. Dengan sangat putramu lantas mohon Suhu menerimanya sebagai murid. Melihat kesungguhan hatinya, pula memang berbakat baik, maka Suhu lantas menerimanya. Tadi Suhu baru saja bertanding dengan Ih Jong-hay dan telah menghajarnya sehingga mengaku kalah. Imam kerdil itu terpaksa mengaku tentang keadaan Paman dan Bibi yang tinggal di sini. Suhu memerintahkan Siautit datang kemari lebih dahulu, sebentar lagi Suhu dan Peng-ci Sute tentu dapat menyusul kemari.”

Mendengar bahwa sebentar lagi akan dapat berjumpa dengan putranya, sungguh girang Lim-hujin tak terkatakan. Lim Cin-lam lantas berkata, “Semoga … semoga anak Peng dapat segera datang, kalau tidak … mungkin … mungkin sudah tidak keburu lagi.”

Melihat suara Lim Cin-lam sangat lemah, terang keadaannya sangat payah. Mestinya Lenghou Tiong dapat membantunya dengan menyalurkan tenaga murni untuk bertahan sampai datangnya sang guru. Tapi Lenghou Tiong sendiri juga terluka sehingga terpaksa tak berdaya apa-apa.

“Paman Lim,” kata Lenghou Tiong, “hendaklah engkau jangan bicara. Sebentar lagi Suhu tentu dapat datang kemari. Beliau tentu dapat menyembuhkan kalian.”

Lim Cin-lam tersenyum getir. Ia pejamkan mata sejenak. Kemudian berkata lagi dengan suara lemah, “Lenghou-hiantit, aku … aku tidak … tidak tahan lagi. Sung … sungguh aku sangat girang karena anak … anak Peng bisa menjadi murid Hoa-san-pay. Kumohon selanjutnya engkau … engkau suka banyak memberi … memberi petunjuk padanya.”

“Hendaklah paman jangan khawatir,” sahut Lenghou Tiong. “Sebagai saudara seperguruan, sudah tentu akan kupandang dia sebagai saudara sekandung sendiri. Apalagi sekarang Paman memberi pesan pula, sudah tentu akan lebih kuperhatikan diri Peng-ci Sute.”

“Budi kebaikan Lenghou-siauhiap ini sungguh kami … kami suami istri takkan melupakannya biarpun berada di alam baka nanti,” sela Lim-hujin.

“Harap Paman dan Bibi mengaso saja dengan tenang, jangan bicara lagi,” kata Lenghou Tiong.

Napas Lim Cin-lam sangat lemah dan memburu, katanya pula dengan terputus-putus, “Harap kau memberitahukan kepada putraku bahwa … bahwa benda yang terdapat di … di kamar bawah tanah di rumah Hokciu itu adalah … adalah benda pusaka warisan leluhur keluarga Lim kita, maka … maka benda itu harus … harus dijaga sebaik-baiknya. Tapi … menurut pesan leluhur kita bahwa setiap … setiap anak cucu sendiri janganlah membuka dan memeriksa benda … benda itu, kalau … kalau melanggar pesan ini tentu akan … akan mendatangkan bencana. Untuk ini diharap dia … suka mengingatnya dengan baik.”

“Baiklah, tentu akan kuteruskan pesan ini kepada Peng-ci Sute,” kata Lenghou Tiong.

“Terima … terima ….” belum lagi kata-kata “kasih” terucapkan ternyata napas Lim Cin-lam sudah berhenti dan meninggal dunia.

“Lenghou-siauhiap, harap engkau menyampaikan kepada putraku agar jangan melupakan sakit hati ayah-bundanya,” seru Lim-hujin. Mendadak ia tumbukkan kepalanya ke pilar batu di dekatnya. Memangnya dia pun terluka parah, karena benturan kepalanya itu, seketika ia pun lantas binasa.

Lenghou Tiong menghela napas menyaksikan kejadian sedih itu. Pikirnya, “Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong telah memaksa dia mengaku di mana beradanya Pi-sia-kiam-boh, tapi biarpun mati dia tetap tidak mau mengaku. Sampai saat ajalnya terpaksa ia minta aku menyampaikan pesannya itu kepada putranya. Tapi rupanya dia khawatir aku menggelapkan Kiam-boh yang merupakan pusaka keluarga Lim mereka, maka bicara tentang ‘dilarang membuka dan memeriksa benda itu supaya tidak mendatangkan bencana’ segala. Hehe, memangnya kau sangka Lenghou Tiong ini manusia apa sehingga mau mengincar benda milik keluarga Lim kalian? Sedangkan kepandaian Hoa-san-pay sendiri tidak dapat kupelajari seluruhnya selama hidup ini, masakah ada maksud untuk mengurus ilmu silat dari golongan lain? Lagi pula jika memang betul ilmu pedang keluarga Lim kalian ada sesuatu yang luar biasa, mengapa suami istri kalian mengalami nasib celaka begini?”

Begitulah ia lantas berduduk bersandar dinding untuk mengaso sendiri.

Selang tidak lama, terdengarlah suara Gak Put-kun berseru di luar kelenteng, “Anak Tiong, apakah kau berada di dalam?”

Cepat Lenghou Tiong bangkit dan berseru mengiakan. Tampak fajar sudah mulai menyingsing, Gak Put-kun sedang melangkah masuk ke dalam kelenteng.

“Mati?” tanya Gak Put-kun demi tampak jenazah Lim Cin-lam dan istrinya menggeletak tak berkutik.

“Ya,” sahut Lenghou Tiong. Lalu ia pun menceritakan apa yang telah terjadi dan cara bagaimana dirinya telah menggertak lari Bok Ko-hong dengan nama sang guru serta pesan tinggalan Lim Cin-lam sebelum mengembuskan napas penghabisan.

“Dengan kematian Lim Cin-lam ini, nyata usaha Ih Jong-hay hendak mencari Pi-sia-kiam-boh telah mengalami kegagalan dan sia-sia belaka, sebaliknya dosa yang telah dia lakukan tidaklah kecil,” ujar Gak Put-kun setelah merenung sejenak.

“Suhu, apakah si kerdil itu telah minta maaf padamu?” tanya Lenghou Tiong.

“Kepandaian lari Ih-koancu benar-benar sangat cepat, aku telah mengubernya sampai sekian lamanya, tapi tak dapat menyusulnya,” sahut Gak Put-kun. “Nyata, dalam hal Ginkang memang Jing-sia-pay mereka lebih unggul daripada Hoa-san-pay kita.”

Sebagai seorang kesatria sejati, kalau menang ya menang, kalau kalah ia pun mengaku kalah secara terang-terangan.

Lenghou Tiong tertawa, katanya, “Kepandaian Jing-sia-pay mereka yang mahir lari dengan pantat menghadap ke belakang memang jauh lebih tinggi daripada golongan lain.”

Tiba-tiba Gak Put-kun menarik muka, semprotnya, “Tiong-ji, mulutmu selalu bicara tak genah, mana boleh menjadi teladan para Sute dan Sumoaymu?”

Seketika Lenghou Tiong kuncup. Sambil mengiakan ia berpaling dan meleletkan lidahnya.

“Hm, kau suka usilan dan senang cari gara-gara, sekali ini tentu kau sudah kenyang menderita, biar tahu rasa!” omel Gak Put-kun pula.

Lenghou Tiong menyengir dan tidak berani menjawab lagi.

Gak Put-kun lantas mengeluarkan sebuah mercon roket. Ia menuju ke pelataran kelenteng dan menyalakan mercon itu dan dilepaskan ke udara. Dengan suara yang mendesis-desis, mercon itu menjulang tinggi ke angkasa untuk kemudian meletus di udara. Api mercon berubah menjadi sebentuk pedang berwarna putih perak, sejenak kemudian kembang api bentuk pedang itu barulah perlahan-lahan jatuh ke bawah untuk kemudian berubah menjadi titik terang yang bertaburan di angkasa.

Kiranya kembang api ini adalah tanda pengenal ketua Hoa-san-pay, pedang perak itu melukiskan julukan Gak Put-kun sebagai “Kun-cu-kiam”, si pedang jantan.

Tidak terlalu lama kemudian dari jauh lantas terdengar ada suara tindakan orang sedang datang menuju ke arah kelenteng sini.

“Ini adalah Kin-beng, langkahnya enteng, tapi kurang kuat,” kata Gak Put-kun. “Di antara kalian kecepatan larinya terhitung paling tinggi, tapi tidak tahan jauh.”

Benar juga, tidak lama kemudian tertampak Ko Kin-beng telah mendekat dengan membawa Swipoanya yang berbunyi keletak-keletik. Setiba di depan kelenteng ia lantas berseru, “Suhu, apakah engkau berada di dalam?”

“Ya, aku berada di sini!” sahut Put-kun.

Sesudah masuk ke dalam kelenteng, segera Ko Kin-beng memberi hormat sambil menyapa, “Suhu!”

Dan ketika melihat Lenghou Tiong juga berada di situ, ia menjadi girang dan berseru, “Toasuko, kiranya engkau baik-baik saja. Sungguh kami sangat mengkhawatirkan dirimu.”

Lenghou Tiong terharu juga melihat rasa senang dan perhatian sang Sute terhadap dirinya. Sahutnya dengan tersenyum, “Ya, aku baik-baik saja. Berkat lindungan Thian, sekali ini aku tidak jadi mati.”

Tengah bicara, sayup-sayup terdengar pula dari jauh ada suara orang mendatangi. Sekali ini ada dua orang.

“Siapakah mereka?” tanya Gak Put-kun.

“Yang satu langkahnya kuat, yang lain gesit, tentu adalah Jisute dan Laksute,” ujar Lenghou Tiong.

Gak Put-kun mengangguk senang, katanya, “Tiong-ji, kau memang cerdik, sekali diberi petunjuk lantas tahu. Kapan-kapan bila kau sudah sesabar Tek-nau tentu aku pun akan dapat merasa puas.”

Kedua orang yang datang itu memang betul adalah Lo Tek-nau dan Liok Tay-yu. Sebelum mereka masuk kelenteng, menyusul suara tindakan murid ketiga Nio Hoat dan murid keempat, Si Tay-cu juga sudah kedengaran. Selang sejenak kembali murid ketujuh To Kun, putri kesayangan Gak Put-kun sendiri, yaitu Gak Leng-sian, serta muridnya yang baru, Lim Peng-ci, juga sudah tiba semua.

Begitu melihat mayat ayah-bundanya, Peng-ci lantas menubruk dan mendekap di atas sosok tubuh tak bernyawa itu sambil menangis.

Melihat Peng-ci menangis dengan sedih, para saudara seperguruannya ikut merasa pilu.

Gak Leng-sian sendiri merasa sangat senang demi tampak Lenghou Tiong dalam keadaan sehat walafiat. Perlahan-lahan ia mendekatinya, ia menjawil lengan Toasuheng itu dan bertanya, “Kiranya engkau baik-baik saja, engkau tidak mati!”

“Ya, aku memang tidak mati!” sahut Lenghou Tiong.

“Ah, kiranya Nikoh cilik dari Hing-san-pay yang berdusta, saking khawatirnya sampai aku … aku ….” mestinya ia hendak mengatakan “sampai aku pun tidak ingin hidup lagi”. Tapi demi mengingat ayah dan para Suhengnya juga berada di situ, maka kata-kata yang mencerminkan isi hatinya saking khawatirnya itu urung diucapkannya. Bila teringat selama beberapa hari terakhirnya ini ia benar-benar sangat khawatir dan sedih, tanpa merasa air matanya lantas menetes.

Lenghou Tiong lantas berkata, “Sumoay dari Hing-san-pay itu sebenarnya tidak sengaja berdusta, tatkala itu dia memang menyangka aku benar-benar sudah mati.”

Leng-sian menengadah dan memandang Lenghou Tiong dengan sorot matanya yang sayu basah. Dilihatnya wajah sang Suko putih pucat, diam-diam ia merasa kasihan. Katanya, “Toasuko, lukamu sekali ini tentu … tentu tidak ringan. Engkau harus pulang ke gunung untuk mengaso.”

Melihat Peng-ci masih terus menangis, Gak Put-kun berkata, “Anak Peng, janganlah menangis lagi, urus dulu layon ayah-bundamu lebih penting.”

Peng-ci mengiakan sambil berbangkit. Tapi demi tampak wajah kedua orang tua yang penuh menunjukkan rasa derita itu, tanpa merasa air matanya bercucuran lagi. Katanya dengan parau, “O, Ayah dan Ibu, untuk penghabisan kalinya saja kita tidak sempat berjumpa pula, sampai tiada sepatah kata pun pesan kalian yang dapat kudengarkan.”

“Lim-sute,” tiba-tiba Lenghou Tiong menyela, “sebelum ayah-bundamu wafat, akulah yang menunggunya di sini. Beliau berdua telah minta aku menjaga dirimu, hal ini memang menjadi tugas kewajibanku. Selain itu ayahmu meninggalkan sesuatu pesan pula agar kusampaikan padamu.”

“O, Toasuko, jadi … jadi engkaulah yang telah mendampingi ayah-bundaku ketika mereka meninggal. Sungguh Siaute merasa terima kasih tak terhingga,” kata Peng-ci dengan terharu.

“Rupanya Paman dan Bibi Lim tidak mau mengaku di mana disimpannya Pi-sia-kiam-boh sehingga para keparat dari Jing-sia-pay itu telah melakukan siksaan badan kepada mereka,” kata Lenghou Tiong. “Sebagai seorang pemimpin suatu cabang persilatan ternyata sedemikian rendah perbuatan Ih Jong-hay, tentu dia akan dipandang hina oleh setiap kesatria di dunia ini.”

“Sakit hati ini tak kubalas, maka Lim Peng-ci bukan manusia lagi,” seru Peng-ci dengan mengertak gigi. Mendadak ia mengepal tinju terus menghantam pilar di sebelahnya.

Biarpun ilmu silat Peng-ci masih rendah, tapi saking bergolaknya perasaannya sehingga hantamannya itu cukup keras, debu pasir seketika berhamburan dari atap kelenteng tua itu.

“Lim-sute,” Leng-sian ikut bicara, “urusan ini adalah gara-garaku, bila kau menuntut balas kelak, sebagai Sucimu tentu aku takkan tinggal diam.”

“Banyak terima kasih, Suci,” sahut Peng-ci.

Diam-diam Gak Put-kun menghela napas, pikirnya, “Hoa-san-pay selamanya memegang teguh pendirian: orang tidak mengganggu aku, aku pun tidak mengganggu orang. Maka dari itu biasanya Hoa-san-pay tidak punya permusuhan dengan berbagai golongan dunia persilatan. Tapi sejak kini orang-orang Hoa-san-pay tidak dapat hidup tenang lagi. Ai, sekali sudah ikut berkecimpung di dunia Kangouw, sukarlah untuk menjauhi persengketaan satu sama lain.”

Seperti Lau Cing-hong, maksud tujuannya hendak mengundurkan diri dari Bu-lim, tapi akhirnya toh cita-citanya itu tidak terkabul, bahkan jiwanya malah melayang. Bila teringat kepada tokoh she Lau itu, tanpa merasa Gak Put-kun menjadi masygul.

“Siausumoay, Lim-sute,” sela Lo Tek-nau, “urusan ini bukan salahnya siapa-siapa, tapi biang keladinya adalah Ih Jong-hay sendiri karena dia memang mengincar Pi-sia-kiam-boh milik keluarga Lim-sute. Tokoh angkatan tua Jing-sia-pay yang bernama Tiang-jing-cu dahulu pernah dikalahkan oleh leluhurnya Lim-sute dengan Pi-sia-kiam-hoat, dari situlah mulainya bibit bencana yang terjadi hari ini.”

“Ya, benar,” kata Gak Put-kun. “Orang Bu-lim biasanya memang sukar terhindar dari keinginan berebut menang dan unggul. Bila mendengar di mana ada kitab rahasia ilmu silat, tak peduli apakah berita itu benar atau tidak, tentu setiap orang berusaha mati-matian untuk mendapatkannya. Padahal tokoh-tokoh semacam Ih-koancu dan Bok Ko-hong mestinya tidak perlu mengincar Kiam-boh dari keluarga Lim kalian.”

“Suhu, sesungguhnya di rumahku tiada Pi-sia-kiam-boh apa segala, ke-72 jurus ilmu pedang Pi-sia-kiam-hoat adalah ajaran dari ayah secara lisan. Seumpama betul ada Kiam-boh yang dimaksudkan, mustahil ayah tidak memberitahukan kepadaku yang merupakan putranya yang tunggal,” demikian kata Peng-ci.

Gak Put-kun mengangguk. Katanya, “Ya, memangnya aku pun tidak percaya ada Pi-sia-kiam-boh apa segala, kalau ada, tentu Ih Jong-hay bukanlah tandingan ayahmu. Bukti ini bukankah sudah cukup menjelaskan segalanya?”

Lenghou Tiong lantas teringat kepada pesan peninggalan Lim Cin-lam, ia pikir Kiam-boh yang dimaksud itu pastilah ada. Segera ia berkata, “Lim-sute, menurut pesan ayahmu, katanya di rumah Hokciu ….”

Mendadak Gak Put-kun menyela, “Pesan ayahnya itu boleh kau beri tahukan kepada anak Peng di bawah empat mata saja, orang lain tidak perlu ikut mendengarkan.”

Lenghou Tiong mengiakan.

Lalu Put-kun berkata pula, “Tek-nau dan Kin-beng, kalian berdua boleh ke kota untuk membeli dua buah peti mati.”

Begitulah, jenazah Lim Cin-lam dan istrinya itu baru dapat diselesaikan sampai petang harinya. Tek-nau telah mengupah beberapa orang kuli untuk menggotong peti-peti mati itu ke tepi sungai, rombongan mereka telah menyewa sebuah kapal terus berlayar ke hulu di arah barat.

Tidak seberapa hari sampailah mereka di bawah Giok-li-hong, puncak bidadari, pegunungan Hoa-san. Ko Kin-beng dan Liok Tay-yu mendahului pulang ke atas gunung untuk menyampaikan berita.

Hanya sebentar saja segenap murid-murid Hoa-san-pay yang lain berjumlah lebih 20 orang sudah sama menyambut ke bawah gunung. Di antara murid-murid Hoa-san-pay itu ada yang baru berusia 12-13 tahun, mereka lantas tanya ini dan itu begitu melihat Gak Leng-sian sudah pulang.

Satu per satu Lo Tek-nau memperkenalkan Peng-ci kepada mereka. Sesuai dengan peraturan Hoa-san-pay yang mengutamakan siapa lebih dulu masuk perguruan, maka biarpun murid terkecil yang bernama Su Ki yang baru berusia 12 tahun juga terhitung Suhengnya Peng-ci. Hanya Gak Leng-sian yang dikecualikan dari peraturan itu. Karena dia adalah putrinya Gak Put-kun dan tidak dapat diatur menurut baru atau lamanya menjadi murid Hoa-san-pay, terpaksa dibedakan menurut umur masing-masing. Yang lebih tua adalah Suhengnya dan yang lebih muda menjadi Sutenya.

Sebenarnya Leng-sian juga lebih muda daripada Peng-ci, tapi sekali ini dia berkeras ingin menjadi Suci. Karena Gak Put-kun tidak melarang keinginannya itu, maka Peng-ci lantas menyebutnya sebagai Suci.

Sesudah rombongan besar mereka sampai di atas puncak gunung, tertampaklah pepohonan rindang menghijau, suara burung berkicau. Bangunan-bangunan yang megah berderet-deret tersebar menurut tinggi rendahnya tanah pegunungan. Di tengah-tengah adalah sebuah gedung yang besar dengan dinding terkapur putih bersih. Seorang wanita cantik setengah umur tampak muncul. Secepat terbang Gak Leng-sian lantas berlari dan menubruk ke dalam pangkuan wanita itu sambil berseru, “Ibu, aku telah bertambah lagi seorang Sute!”

Sebelumnya Peng-ci sudah mendengar cerita dari para Suhengnya bahwa ibu-gurunya yang bernama Ling Tiong-cik sebenarnya adalah Sumoay sang guru sendiri. Ilmu pedangnya juga tidak di bawah sang suami. Maka cepat ia melangkah maju dan memberi hormat, “Terimalah hormat murid baru Lim Peng-ci, Sunio!”

One Response to “Hina Kelana: Bab 25. Tewasnya Lin Cin-lam dan Istri”

  1. budidaya burung Says:

    This is very interesting, You’re an overly skilled blogger. I’ve joined your rss feed and look forward to looking for extra of your excellent post. Also, I have shared your web site in my social networks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: