Hina Kelana: Bab 24. Ketua Heng-san-pay, Bok-taysiansing

Namun keadaan Lau Cing-hong sendiri sudah sangat payah, dia telah terluka dalam karena getaran pukulan Tay-ko-yang-jiu dari tiga tokoh Ko-san-pay sekaligus, ditambah lagi tenaganya telah dicurahkan seluruhnya untuk melagukan “Hina Kelana” tadi, dia benar-benar telah lemas sehingga tangan yang digunakan untuk menarik lengan Fifi itu sedikit pun tidak bertenaga lagi.

Maka dengan enteng saja Fifi dapat meronta lepas dari cekalan Lau Cing-hong dan malah melangkah maju pula setindak. Tapi pada saat itulah mendadak sinar hijau berkelebat, pedang Hui Pin tahu-tahu sudah menusuk sampai di depan mukanya.

Cepat Fifi menangkis dengan pedang kiri, pedang di tangan kanan menyusul lantas balas menusuk.

Hui Pin mengekek tawa, berbareng pedangnya memutar ke atas terus menyampuk ke bawah sehingga pedang Fifi terpukul. Seketika lengan Fifi tergetar sehingga kesakitan, kontan pedangnya terlepas dari cekalan.

Waktu Hui Pin memutar dan menyungkit pula dengan pedangnya, “plak”, kembali pedang Fifi yang lain tersampuk mencelat hingga beberapa meter jauhnya. Menyusul ujung pedang Hui Pin sudah mengancam di tenggorokannya.

“Kik-tianglo,” kata Hui Pin dengan tertawa kepada Kik Yang, “aku akan membutakan dulu mata cucu perempuanmu ini kemudian memotong hidungnya, lalu mengiris daun telinganya pula ….”

Mendadak Fifi menjerit sekali sambil menubruk maju, ia sodorkan tenggorokan sendiri ke ujung pedang Hui Pin. Rupanya ia menjadi nekat, daripada tersiksa lebih baik lekas mati saja.

Namun Hui Pin sangat gesit, pedang sempat ditarik mundur sehingga tubuh Fifi menumbuk ke arahnya. Cepat ia gunakan tangan kiri untuk menutuk Hiat-to di bahu kanan dara itu sehingga Fifi roboh terjungkal dan tak bisa berkutik lagi.

“Hahaha! Kaum iblis Mo-kau sudah kelewat takaran berbuat kejahatan, ingin mati juga tidak boleh segampang ini,” demikian Hui Pin terbahak-bahak. “Sekarang terimalah ganjaranmu. Biar kubutakan dulu mata kirimu ini!”

Habis berkata segera pedangnya terangkat dan hendak menusuk ke mata kiri Fifi.

“Nanti dulu!” mendadak terdengar suara bentakan orang dari belakang.

Keruan Hui Pin terkejut. Pikirnya, “Sungguh celaka! Mengapa orang sembunyi di belakangku, tapi sedikit pun aku tidak tahu?”

Dia tidak tahu bahwa Lenghou Tiong dan Gi-lim memang sudah berada di balik batu itu sejak tadi. Kalau tidak tentu sudah ketahuan bilamana ada orang yang baru datang.

Cepat ia berpaling sambil memutar pedang, siap untuk bertempur. Di bawah sinar bulan yang cukup terang, tertampak seorang pemuda telah berdiri di situ dengan kedua tangan bertolak pinggang, tapi mukanya pucat sebagai mayat.

“Siapa kau?” bentak Hui Pin.

“Siautit Lenghou Tiong dari Hoa-san menyampaikan salam hormat kepada Hui-susiok,” sahut Lenghou Tiong sambil membungkukkan tubuh. Tapi rupanya dia masih lemas, maka sedikit bergerak saja sudah sempoyongan.

“Ya, sudahlah,” sahut Hui Pin mengangguk. “Kiranya adalah murid pertama Gak-suheng. Apa yang kau kerjakan di sini?”

“Siautit dilukai orang Jing-sia-pay dan terpaksa merawat luka di sini sehingga terlambat memberi hormat kepada Hui-susiok, harap maaf,” kata Lenghou Tiong.

“Hm, kedatanganmu ini sangat kebetulan,” jengek Hui Pin. “Anak dara ini adalah iblis cilik dari Mo-kau yang harus kita tumpas habis-habisan. Jika aku yang turun tangan, rasanya kurang pantas karena angkatan tua beraninya terhadap anak kecil. Maka bolehlah kau saja yang membunuhnya.”

Sambil bicara ia lantas menuding ke arah Kik Fi-yan.

Namun Lenghou Tiong telah menggeleng, jawabnya, “Kakek anak dara itu adalah sahabat karib Lau-susiok, kalau diurutkan dia juga lebih muda satu angkatan daripadaku. Jika Siautit membunuhnya tentu orang Kangouw juga akan menuduh aku orang tua menganiaya anak kecil, kalau tersiar, tentu akan merusak nama baikku. Pula, membikin susah anak kecil sesungguhnya juga bukan perbuatan kaum kesatria gagah. Perbuatan demikian sekali-kali tidak mungkin dilakukan oleh Hoa-san-pay kami.”

Di balik kata-katanya itu jelas sekali Lenghou Tiong seakan-akan hendak menyatakan bahwa apa yang tidak mau diperbuat oleh Hoa-san-pay, jika hal itu toh dilakukan oleh Ko-san-pay, maka teranglah Ko-san-pay adalah golongan yang tak dapat dipuji.

Keruan kedua alis Hui Pin menegak, sorot matanya memancarkan sinar bengis, serunya, “Aha, kiranya diam-diam kau pun bersekongkol dengan iblis Mo-kau. Ya, benar, tadi Lau Cing-hong mengatakan iblis she Kik ini pernah menolong jiwamu. Sungguh tidak nyana bahwa anak murid Hoa-san-pay yang terhormat sebagai kau ini sekarang pun sudah mengekor kepada Mo-kau.”

Berbareng pedangnya tampak bergerak-gerak, ujung pedang memantulkan sinar gemerdep seakan-akan segera akan menusuk ke arah Lenghou Tiong.

“Lenghou-hiantit,” seru Lau Cing-hong, “urusan ini sedikit pun tidak ada sangkut pautnya dengan kau, janganlah kau ikut campur, lekas kau pergi saja agar tidak membikin sulit gurumu kelak.”

Lenghou Tiong bergelak tertawa, jawabnya, “Lau-susiok, kita mengaku sebagai kaum pendekar, selamanya kita tidak dapat hidup berdampingan dengan kaum iblis pengganas, kalau sekarang perbuatan kita tidak ubahnya seperti kaum iblis, beraninya cuma dengan orang dalam keadaan payah, apakah perbuatan demikian dapat dikatakan sebagai pendekar? Hendak membunuh anak kecil yang tak berdosa, apakah perbuatan ini perbuatan seorang kesatria?”

“Perbuatan demikian juga tidak dilakukan oleh orang dari Mo-kau kami,” sela Kik Yang. “Saudara Lenghou, sudahlah silakan engkau meninggalkan tempat ini saja. Ko-san-pay suka melakukan hal-hal begini boleh terserah padanya saja.”

“Tidak, aku justru tak mau pergi, ingin kulihat tokoh terkemuka, kesatria besar, jago Ko-yang-jiu dari Ko-san-pay ini sampai di mana perbuatannya, apakah sesuai dengan namanya atau tidak,” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa.

Hui Pin menjadi murka, nafsu membunuhnya seketika timbul. Jengeknya dengan tertawa iblis, “Hm, kau kira dengan kata-katamu ini lantas dapat memaksa aku mengampuni ketiga iblis jahanam ini? Hehe, janganlah kau mimpi. Bagi orang she Hui membunuh tiga orang atau empat orang adalah sama saja.”

Habis berkata ia lantas melangkah maju beberapa tindak.

Walaupun Lenghou Tiong tampak sempoyongan, berdirinya tidak tegak, tapi murid Hoa-san-pay itu terkenal sebagai murid kesayangan Kun-cu-kiam Gak Put-kun, ilmu silatnya sangat tinggi. Namun urusan sekarang menyangkut nama baik Ko-san-pay, jika Lenghou Tiong sampai lolos, bukan saja namanya sendiri nanti akan runtuh habis-habisan, bahkan di antara Hoa-san-pay dan Ko-san-pay juga pasti akan terjadi pertengkaran besar. Maka jalan satu-satunya sekarang harus membunuh Lenghou Tiong agar tidak menimbulkan bencana di kemudian hari. Demikian pikir Hui Pin.

Lenghou Tiong juga terkejut demi tampak sikap Hui Pin yang beringas itu. Diam-diam ia pun memikirkan tipu untuk melepaskan diri dari bahaya ini. Namun lahirnya dia tenang-tenang saja. Katanya, “Hui-susiok, apakah engkau bermaksud membunuh aku juga untuk melenyapkan saksi perbuatanmu yang kotor itu?”

“Haha, kau memang pintar sekali, ucapanmu ini memang tidak salah,” sahut Hui Pin sambil mendesak maju pula.

Pada saat itulah sekonyong-konyong dari balik batu sana berkumandang suara seorang Nikoh jelita, “Hui-susiok, laut derita tidak ada ujungnya, berpaling kembali ada tepinya. Sekarang kau baru bermaksud melakukan kejahatan, tapi perbuatan yang nyata masih belum lagi kau laksanakan. Hendaklah kau dapat mengekang diri di tepi jurang, untuk mana masih belum terlambat.”

Itulah suaranya Gi-lim. Sebenarnya Lenghou Tiong telah pesan dia sembunyi di belakang batu gunung itu supaya tidak dilihat orang. Tapi demi tampak keadaan Lenghou Tiong terancam bahaya, tanpa pikir lagi ia terus tampil ke muka dengan maksud memberi nasihat kepada Hui Pin untuk mengurungkan niatnya yang jahat.

Rupanya Hui pin juga terkejut ketika mendadak muncul lagi seorang. Tegurnya, “Apakah kau orang Hing-san-pay? Mengapa kau pun main sembunyi-sembunyi di situ?”

Wajah Gi-lim menjadi merah, sahutnya dengan tergagap-gagap, “Aku … aku ….”

Waktu itu Fifi menggeletak tak bisa berkutik karena tertutuk Hiat-tonya, tapi dia masih dapat bersuara. Segera ia berseru, “Enci Gi-lim, aku memang sudah menduga engkau pasti berada bersama Lenghou-toako. Ternyata kau sudah menyembuhkan lukanya. Cuma sayang … sayang kita sudah akan mati semua.”

“Tidak bisa jadi,” ujar Gi-lim sambil geleng kepala. “Hui-susiok adalah seorang pendekar, seorang kesatria ternama di dunia persilatan, mana bisa beliau membikin susah nona cilik seperti dirimu dan orang-orang terluka seperti Lau-susiok?”

“Hehe, apakah betul-betul dia adalah pendekar dan kesatria?” jengek Fifi.

“Ko-san-pay adalah Bengcu (ketua perserikatan) dari Ngo-gak-kiam-pay, pimpinan kaum pendekar di dunia Kangouw, segala apa yang diperbuatnya sudah tentu harus mengutamakan keadilan dan kebenaran,” ujar Gi-lim.

Apa yang diucapkan Gi-lim itu adalah timbul dari lubuk hatinya yang tulus. Maklumlah, dia sama sekali tidak kenal kehidupan manusia, segala apa selalu berpikir dari sudut yang baik bagi orang lain.

Akan tetapi sekarang bagi pendengaran Hui Pin kata-katanya itu terasakan seperti sindiran belaka. Pikirnya, “Sekali mau berbuat harus jangan kepalang tanggung lagi. Hari ini bila ada seorang yang lolos dari sini dengan hidup, untuk seterusnya namaku pasti akan tercemar. Sekalipun yang kubunuh adalah iblis-iblis dari Mo-kau, tapi caraku membunuh mereka bukanlah perbuatan seorang kesatria sejati, tentu aku akan dipandang hina oleh orang Kangouw.”

Setelah ambil keputusan demikian, segera ia acungkan pedangnya ke arah Gi-lim, katanya, “Dan kau sendiri kan tidak terluka, juga bukan nona cilik yang tak mahir ilmu silat, rasanya tidaklah salah bila aku pun membunuh kau.”

Keruan Gi-lim terperanjat. Serunya, “Hah, ak … aku? Meng … mengapa engkau ingin membunuh aku?”

“Kau telah bersekongkol dengan iblis Mo-kau, saling sebut sebagai Cici-adik segala, terang kau pun sudah sepaham dengan kaum iblis ini, sudah tentu aku tak boleh mengampuni kau,” sahut Hui Pin sambil mendesak maju, pedangnya terus menusuk.

Cepat Lenghou Tiong melompat maju mengadang di depan Gi-lim, serunya, “Lekas pergi, Sumoay, pergilah mengundang Suhumu agar datang kemari menolong kita!”

Padahal keadaan tempat itu sangat terpencil, tidaklah mungkin dalam waktu singkat dapat meminta bala bantuan, apalagi Ting-yat Suthay juga tidak diketahui berada di mana saat itu. Kata-katanya itu hanya dipakai sebagai alasan agar Gi-lim mau lekas pergi dari situ supaya jiwanya dapat diselamatkan.

Namun Hui Pin sudah lantas mulai melancarkan serangan, “sret-sret-sret”, berulang-ulang ia menusuk dan menebas tiga kali sehingga Lenghou Tiong terdesak kelabakan.

Melihat itu segera Gi-lim lantas melolos pedangnya yang terkutung sebagian itu terus menyerang Hui Pin sambil berseru, “Lenghou-toako, engkau masih belum sembuh, lekas mundur saja!”

“Hahaha! Rupanya Nikoh cilik sudah penujui pemuda ganteng ini sehingga jiwanya sendiri pun tak terpikir lagi!” goda Hui Pin dengan tertawa. Mendadak pedangnya menebas ke depan. “Trang”, Gi-lim menangkis. Kedua pedang beradu, tapi kontan pedang kutung Gi-lim itu terlepas dari cekalan dan mencelat jatuh. Tanpa berhenti di situ, Hui Pin lantas acungkan pedangnya ke depan, dada Gi-lim segera hendak ditusuknya.

Gerakan serangan yang sangat cepat lagi jitu ini termasuk salah satu kepandaian Ko-san-pay yang lihai. Maklumlah Hui Pin harus menghadapi lima orang lawan, meski hanya Gi-lim saja yang segar bugar dan yang lain-lain dalam keadaan payah, tapi ada lebih baik mengambil jalan yang selamat saja, siapa tahu kalau-kalau Nikoh jelita itu sampai lolos, tentu kelak akan menimbulkan banyak kesukaran. Sebab itulah sekali menyerang segera Hui Pin tidak kenal ampun kepada Gi-lim.

Segera Gi-lim bermaksud menghindar sambil menjerit kaget. Namun ujung pedang musuh tahu-tahu sudah menyambar ke depan ulu hatinya. Syukurlah pada saat itu Lenghou Tiong telah menubruk maju, jari kirinya terus mencolok mata Hui Pin.

Dalam keadaan begitu, bila pedang Hui Pin tetap menusuk ke depan, walaupun seketika Gi-lim dapat dibinasakan, tapi kedua biji matanya sendiri tentu juga akan menjadi korban. Terpaksa Hui Pin melompat mundur, berbareng itu pedangnya juga terus menyabet ke samping sehingga lengan kiri Lenghou Tiong tergores satu luka panjang.

Setelah berhasil menyelamatkan Gi-lim dengan pertaruhan jiwanya sendiri, napas Lenghou Tiong juga sudah tersengal-sengal, tubuhnya terhuyung-huyung lemas. Lekas-lekas Gi-lim memayangnya, katanya dengan suara cemas, “Biarlah dia membunuh kita bersama saja.”

“Kau … kau lekas lari ….” seru Lenghou Tiong dengan terengah-engah.

“Tolol, sampai sekarang masakah masih belum tahu akan isi hati orang?” kata Fifi dengan tertawa. “Dia ingin mati bersama dengan kau.”

Belum habis ucapannya, dengan menyeringai buas Hui Pin telah mendesak maju pula dengan pedang terhunus.

Lenghou Tiong sendiri tidak habis mengerti mengapa Gi-lim ingin mati bersama dia, walaupun dirinya pernah menolong Nikoh jelita itu, tapi ia pun sudah balas menyelamatkan jiwanya. Hubungan mereka hanya sesama orang Ngo-gak-kiam-pay saja, walaupun mesti saling membantu sebagai orang Kangouw, tapi juga tidak perlu membela secara mati-matian. Sungguh Ting-yat Suthay adalah seorang tokoh yang hebat dan guru yang luhur.

Dalam pada itu Hui Pin sudah mendesak maju selangkah lagi, sinar pedangnya yang gemerdepan menyilaukan mata. Pada saat itulah tiba-tiba dari belakang pohon Siong sana berkumandang beberapa kali suara rebab yang halus dan berirama mengibakan hati.

Seketika hati Hui Pin tergetar, “Wah, Siau-siang-ya-uh Bok-taysiansing telah tiba!”

Suara rebab itu makin lama makin perlahan, nadanya semakin sedih. Tapi Bok-taysiansing, itu ketua Heng-san-pay, Suhengnya Lau Cing-hong, tetap tidak muncul.

“Apakah Bok-taysiansing itu? Mengapa tidak keluar saja untuk bertemu?” seru Hui Pin.

Mendadak suara rebab berhenti. Dari belakang pohon menyelinap keluar sesosok bayangan orang yang agak kurus.

Sudah lama juga Lenghou Tiong mendengar nama “Siau-siang-ya-uh” Bok-taysiansing yang termasyhur, tapi belum pernah bertemu muka. Sekarang di bawah sinar bulan dapatlah terlihat dengan jelas, ketua Heng-san-pay itu ternyata kurus kering seperti orang berpenyakit TBC yang sudah parah. Sungguh tak terduga olehnya bahwa tokoh persilatan yang terkenal itu ternyata mempunyai potongan tubuh seburuk itu.

Sambil membawa alat musiknya, yaitu rebab, Bok-taysiansing telah memberi hormat kepada Hui Pin dan menyapa, “Hui-suheng, baik-baikkah Co-bengcu?”

Melihat sikap Bok-taysiansing cukup ramah tamah, pula diketahui hubungannya dengan Lau Cing-hong biasanya kurang baik, segera Hui Pin menjawab, “Banyak terima kasih atas perhatian Bok-taysiansing, Suko kami baik-baik saja. Tokoh golongan kalian yang bernama Lau Cing-hong ini bergaul dengan iblis dari Mo-kau dan ada rencana busuk terhadap Ngo-gak-kiam-pay kita. Untuk itu menurut pendapat Bok-taysiansing cara bagaimana seharusnya diselesaikan?”

Dengan sikap dingin-dingin saja Bok-taysiansing mendekati Lau Cing-hong setindak sambil menjawab, “Harus dibunuh!”

Begitu selesai ucapannya itu, sekonyong-konyong sinar dingin berkelebat, tahu-tahu tangannya sudah memegang sebatang pedang yang tipis dan agak sempit, di mana sinar pedangnya menyambar, kontan ia terus menusuk dada Hui Pin.

Serangan kilat yang tak terduga-duga ini keruan membikin Hui Pin sangat terperanjat. Lekas-lekas ia melompat mundur, namun tidak urung dadanya juga sudah tergores luka sehingga bajunya ikut robek.

Dengan kejut dan gusar pula segera Hui Pin balas menyerang. Namun karena sudah didahului oleh Bok-taysiansing sehingga dia tetap di pihak terserang. Pedang ketua Heng-san-pay itu susul-menyusul menyambar pula ke arahnya sehingga dia berulang-ulang terpaksa harus menghindar mundur.

Kik Yang, Lau Cing-hong dan Lenghou Tiong adalah ahli pedang semua. Mereka menyaksikan ilmu pedang yang dimainkan Bok-taysiansing itu sedemikian hebat perubahannya dan sukar diraba. Sebagai saudara seperguruan yang sama-sama belajar selama puluhan tahun juga Lau Cing-hong tidak menduga ilmu pedang sang Suheng ternyata sedemikian saktinya.

Hanya dalam sekejap saja tertampaklah titik-titik darah bercipratan keluar melalui celah-celah sinar pedang. Hui Pin tampak berkelit ke sana dan menghindar kemari, sekuatnya menangkis dan bertahan, tapi selalu sukar melepaskan diri dari taburan sinar pedang Bok-taysiansing yang rapat itu. Titik-titik darahnya akhirnya berubah menjadi suatu lingkaran di sekeliling orang itu.

Sekonyong-konyong terdengar Hui Pin menjerit sekali sambil meloncat ke atas. Bok-taysiansing tampak menarik kembali pedangnya dan melangkah mundur, pedang dimasukkan kembali ke dalam rebabnya, lalu putar tubuh dan bertindak pergi. Lagu “Siau-siang-ya-uh” lantas bergema pula dengan iramanya yang menyayatkan hati, akhirnya lenyaplah ketua Heng-san-pay itu di tengah pepohonan Siong yang lebat.

Setelah meloncat ke atas, kemudian Hui Pin lantas jatuh terbanting ke atas tanah. Darah tampak menyembur keluar dari dadanya sebagai air mancur.

Kiranya dalam pertempuran tadi Hui Pin telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk bertahan. Ketika dadanya tertusuk pedang Bok-taysiansing, lantaran tenaga dalamnya masih bekerja dengan kuat sehingga darahnya terdesak menyemprot keluar melalui luka di dadanya itu.

Melihat keadaan yang mengerikan itu, Gi-lim sampai memegangi tangan Lenghou Tiong dengan hati berdebar-debar. Meski dia sudah lama belajar silat, tapi belum pernah dia menyaksikan orang terbunuh secara mengerikan demikian.

Dengan menggeletak bermandi darah, sedikit pun Hui Pin tidak dapat bergerak lagi, agaknya sudah binasa. Kik Yang berkata dengan menghela napas, “Lau-hiante, kau pernah mengatakan kalian bersaudara seperguruan tidak cocok satu sama lain, sungguh tak terduga pada saat kau terancam bahaya, Suhengmu itu telah sudi turun tangan menolong engkau.”

“Ya, tingkah laku Suko memang sangat aneh dan sukar diduga orang,” sahut Lau Cing-hong. “Pertentangan kami bukanlah lantaran karena aku kaya dan dia miskin, tapi watak kami masing-masing yang tidak cocok satu sama lain.”

“Ilmu pedangnya begitu hebat, tapi irama rebabnya selalu bernada sedih memilukan, sungguh tidak sesuai sebagai seorang kesatria penegak keadilan,” ujar Kik Yang.

“Benar, bila kudengar suara rebabnya, selalu aku ingin menjauhi dia,” kata Lau Cing-hong. “Tapi bicara tentang ilmu pedang, harus diakui sedikit pun aku tidak bisa membandingi dia. Biasanya aku kurang menghormati dia, kalau dipikir-pikir sekarang sungguh aku merasa menyesal sekali.”

Tiba-tiba Fifi berseru, “Kakek, tolong membukakan Hiat-toku, sudah waktunya kita pergi saja dari sini.”

Kik Yang coba hendak berbangkit, tapi baru sedikit menegakkan tubuhnya kembali dia jatuh terduduk kembali. “Aku tidak sanggup!” katanya dengan lesu. Lalu ia berpaling kepada Lenghou Tiong. “Adik cilik, ada sesuatu permintaanku padamu, entah kau sudi menyanggupi atau tidak?”

“Dengan senang hati Wanpwe akan mengerjakan kehendak Locianpwe,” sahut Lenghou Tiong.

Kik Yang memandang sekejap kepada Lau Cing-hong. Katanya kemudian, “Aku dan Lau-hiante telah keranjingan seni musik, dengan tenaga kami selama puluhan tahun, kami telah dapat menggubah sebuah lagu ‘Hina Kelana’ yang kami yakin belum pernah ada sejak dahulu kala hingga sekarang.”

Sampai di sini ia berhenti sejenak, dari sakunya dikeluarkan sejilid buku kecil, lalu sambungnya, “Buku ini berisi catatan not kecapi dari lagu ‘Hina Kelana’, Lau-hiante sendiri mempunyai buku catatan not seruling. Maksudku ingin mohon adik cilik suka mengingat jerih payah kami selama ini dapatlah menyimpan buku-buku not kecapi dan seruling kami ini untuk mencari ahli waris yang tepat di kemudian hari.”

Segera Lau Cing-hong juga mengeluarkan sejilid buku kecil yang serupa, katanya dengan tertawa, “Apabila lagu ‘Hina Kelana’ ini dapat berkembang di kemudian hari, maka mati pun kami akan merasa tenteram.”

Dengan hormat Lenghou Tiong menerima kedua jilid buku itu dari kedua orang. Sahutnya, “Harap kalian jangan khawatir, Wanpwe tentu akan berusaha melaksanakan cita-cita kalian dengan sepenuh tenaga.”

Semula Lenghou Tiong mengira Kik Yang ingin minta bantuannya mengerjakan sesuatu urusan yang sukar, tak tahunya hanya minta dia mencari orang yang gemar memetik kecapi dan meniup seruling, hal ini boleh dikata sangatlah gampang.

“Adik cilik, kau adalah murid dari golongan yang terpuji dan terhormat, mestinya aku tidak boleh membikin susah padamu, cuma soalnya sudah mendesak, terpaksa kami minta bantuanmu harap maafkan,” kata Kik Yang. Lalu ia berpaling kepada Lau Cing-hong. “Saudaraku, kini bolehlah kita berangkat dengan lega.”

“Benar,” sahut Lau Cing-hong sambil menjulurkan tangannya.

Sambil tangan berpegangan tangan, kedua orang sama-sama bergelak tertawa, lalu menutup mata untuk selama-lamanya.

Lenghou Tiong terkejut, serunya, “Cianpwe, Locianpwe! Lau-susiok!”

Waktu ia periksa pernapasan mereka, ternyata kedua orang tua itu sudah wafat.

Melihat air muka Lenghou Tiong itu, segera Fifi tahu juga apa yang sudah terjadi, ia berteriak-teriak sambil menangis, “Kakek! Kakek! Apakah Kakek sudah meninggal?”

Gi-lim memeluknya dan coba hendak membuka Hiat-to si Fifi yang tertutuk itu. Tapi tenaga jago Ko-san-pay itu sangat hebat, kepandaian Gi-lim sendiri terbatas, maka seketika sukar juga untuk melancarkan jalan darahnya.

Lenghou Tiong jauh lebih berpengalaman dalam dunia Kangouw, segera ia berkata, “Sumoay cilik, marilah kita lekas mengubur jenazah mereka bertiga agar tidak terjadi hal-hal lain bila sebentar lagi ada orang mencari kemari. Tentang terbunuhnya Hui Pin oleh Bok-taysiansing janganlah sekali-kali sampai diketahui oleh orang lain.”

Sampai di sini ia lantas tahan suaranya dan melanjutkan, “Bilamana kejadian ini sampai bocor, tentu Bok-taysiansing akan menuduh kita bertiga yang menyiarkannya dan itu berarti bencana bagi kita.”

“Benar,” kata Gi-lim. “Tapi kalau aku ditanya oleh Suhu, aku harus menerangkan atau tidak?”

“Siapa pun tidak boleh kau beri tahu,” kata Lenghou Tiong. “Bila kau ceritakan, tentu akan celaka kalau Bok-taysiansing mencari gara-gara kepada gurumu.”

Gi-lim sendiri menyaksikan betapa lihainya ilmu pedang Bok-taysiansing, tanpa merasa ia merinding. “Baiklah, takkan kukatakan kepada siapa pun juga,” katanya kemudian.

Lenghou Tiong menjemput pedang tinggalan Hui Pin, segera ia menusuk mayat jago Ko-san-pay itu sehingga bertambah belasan lubang besar.

Gi-lim merasa tidak sampai hati, katanya, “Toako, dia … dia … dia kan sudah mati, kenapa kau sedemikian benci padanya dan merusak jenazahnya?”

“Kau telah menyaksikan pedang Bok-taysiansing sangat tipis lagi sempit, seorang ahli sekali melihat luka Hui-susiok saja akan segera mengetahui siapa yang membunuhnya. Maksudku bukan hendak merusak jenazahnya, tapi adalah untuk mengacaukan tanda luka di tubuhnya ini supaya tidak dapat dikenali orang,” demikian tutur Lenghou Tiong.

“Ai, urusan-urusan dunia Kangouw ini sungguh sukar untuk dibayangkan,” demikian Gi-lim membatin. Ketika dilihatnya Lenghou Tiong mulai mengumpulkan batu-batu untuk menutupi jenazah Hui Pin, cepat ia berkata, “Sudahlah, engkau mengaso saja dahulu, biar aku yang mengerjakan.”

Segera ia mengangkuti batu-batu itu dan diuruk perlahan-lahan ke atas tubuh Hui Pin yang sudah tak bernyawa itu.

Lenghou Tiong memang juga sudah lelah, lukanya terasa sakit pula. Ia lantas duduk bersandar batu sambil membalik-balik buku not kecapi pemberian Kik Yang tadi. Dilihatnya beberapa halaman bagian depan adalah catatan petunjuk-petunjuk tentang orang bersemadi dengan beberapa gambar badan manusia yang penuh garis-garis urat nadi, selanjutnya adalah petunjuk-petunjuk ilmu pukulan dan tutukan. Belasan halaman berikut barulah terdapat catatan mengenai pelajaran memetik kecapi. Sebagian belakang buku kecil itu adalah huruf-huruf aneh yang tidak dikenalnya.

Dalam hal kesusastraan memangnya pengetahuan Lenghou Tiong terbatas, ia tidak tahu bahwa not cara memetik kecapi itu memangnya terdiri dari huruf-huruf yang aneh bentuknya, maka disangkanya huruf-huruf itu adalah tulisan zaman purbakala yang sukar dipahami, tanpa pikir ia lantas masukkan kedua jilid buku kecil itu ke dalam bajunya.

“Sumoay cilik, bolehlah kau mengaso dahulu, sebentar lagi harap kau kubur pula jenazah Kik-tianglo dan Lau-susiok itu,” katanya kemudian.

Gi-lim mengiakan. Sedangkan Fifi kembali menangis demi mendengar tentang jenazah sang kakek.

Melihat anak dara itu menangis dengan sedih, Gi-lim menjadi ikut-ikut meneteskan air mata.

Diam-diam Lenghou Tiong berpikir, “Untuk persahabatan, sampai-sampai Lau-susiok dan segenap anggota keluarganya ikut menjadi korban, walaupun sahabatnya adalah dari Mo-kau, tapi jiwa mereka yang luhur itu harus dipuji.”

Baru berpikir sampai sini, tiba-tiba dilihatnya di arah barat laut sana ada berkelebatnya sinar hijau yang tampaknya sudah dikenalnya. Terang ada jago dari golongannya sendiri yang sedang bertempur dengan orang.

Keruan ia terkesiap. “Sumoay cilik, harap kau dan Fifi menunggu di sini, aku akan ke sana sebentar dan segera akan kembali,” katanya kepada Gi-lim.

Gi-lim tidak melihat berkelebatnya sinar hijau tadi, disangkanya Lenghou Tiong hendak pergi buang air atau keperluan lain, maka ia lantas mengangguk.

Lenghou Tiong menyelipkan pedang tinggalan Hui Pin tadi ke tali pinggangnya, dengan bantuan ranting kayu sebagai tongkat, segera ia menuju ke arah berkelebatnya sinar hijau tadi dengan langkah cepat.

Tidak lama kemudian, sayup-sayup terdengarlah suara benturan senjata yang nyaring dan gencar, nyata pertempuran sedang berlangsung dengan sengit.

Diam-diam Lenghou Tiong heran, entah siapakah tokoh perguruannya sendiri yang sedang bertempur sehingga berlangsung sekian lamanya, terang sekali pihak lawan juga bukan jago sembarangan.

Sesudah dekat, perlahan-lahan ia merunduk ke depan, ia sembunyi di belakang sebatang pohon besar, lalu mengintip. Di bawah sinar bulan yang terang tertampaklah seorang terpelajar dengan bersenjatakan pedang sedang berdiri tenang di tengah lapangan. Itulah Gak Put-kun, guru Lenghou Tiong sendiri.

Dilihatnya pula ada seorang Tojin berbadan pendek kecil sedang berlari secepat terbang mengelilingi sang guru, pedang imam kerdil itu berulang-ulang menusuk dengan cepat, setiap lingkaran sedikitnya dia melancarkan belasan kali serangan. Ternyata imam kerdil itu adalah Ih Jong-hay, ketua Jing-sia-pay.

Mendadak dapat menyaksikan sang guru sedang bertempur dengan orang dan lawannya adalah ketua Jing-sia-pay, seketika Lenghou Tiong sangat tertarik dan bersemangat.

Kelihatan gurunya bersikap sangat tenang dan lamban, setiap kali pedang Ih Jong-hay menusuk tiba, selalu gurunya hanya menangkis seenaknya saja. Waktu Ih Jong-hay memutar ke belakangnya, sang guru tidak ikut memutar tubuh, tapi cuma mengayun pedang ke belakang untuk melindungi punggung sendiri. Semakin lama serangan Ih Jong-hay bertambah gencar, tapi Gak Put-kun tetap hanya bertahan saja tanpa balas menyerang.

Sungguh kagum Lenghou Tiong tak terkatakan. “Orang Bu-lim memberikan julukan ‘Kun-cu-kiam’ (pedang jantan) kepada Suhu, nyatanya beliau memang sangat halus dan sopan, biarpun sedang bertempur juga beliau bersikap tenang-tenang saja,” demikian pikirnya.

Gak Put-kun memang jarang sekali bertanding dengan orang. Biasanya Lenghou Tiong hanya menyaksikan gurunya berlatih dengan ibu guru untuk memberi petunjuk kepada para muridnya, sudah tentu latihan demikian tak bisa dibandingkan dengan pertarungan sengit seperti apa yang terjadi sekarang.

Dilihatnya pula setiap serangan Ih Jong-hay, dari ujung pedangnya selalu menerbitkan suara mencicit, suatu tanda betapa hebat tenaganya. Diam-diam Lenghou Tiong terkesiap, “Selama ini aku suka memandang rendah ilmu silat Jing-sia-pay, siapa tahu imam kerdil ini ternyata begini lihai, biarpun aku dalam keadaan sehat juga sekali-kali bukan tandingannya. Lain kali kalau kepergok dia haruslah hati-hati atau sedapat mungkin harus menghindari kebentrok dengan dia.”

Setelah mengikuti pula pertarungan sengit itu, tertampak Ih Jong-hay berputar semakin cepat sehingga akhirnya berubah menjadi segulungan bayangan hijau yang berkeliling di sekitar Gak Put-kun. Saking gencar pula beradunya kedua batang pedang sehingga suaranya tidak “trang-tring” lagi kedengarannya, tapi berubah menjadi suara mendering nyaring mengilukan.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin bilamana serangan-serangan Ih Jong-hay itu diarahkan kepadanya, maka jangankan hendak melawan, satu kali saja mungkin dirinya tidak mampu menangkis dan bukan mustahil tubuhnya sendiri akan berwujud belasan lubang kena tusukan pedangnya yang gencar itu.

Ketika dilihatnya sang guru masih tetap bertahan dan tidak melancarkan serangan balasan, akhirnya Lenghou Tiong merasa khawatir juga, jangan-jangan sedikit lengah saja nanti gurunya akan kecundang di bawah pedang imam kerdil itu.

Sejenak kemudian, mendadak terdengar suara mendering yang panjang, Ih Jong-hay tampak mencelat ke belakang sampai beberapa meter jauhnya, tapi lantas berdiri tegak di tempatnya. Entah sejak kapan pedangnya sudah dimasukkan ke dalam sarungnya, dia berdiri diam saja seperti patung.

Lenghou Tiong terkejut. Waktu dia memandang sang guru, kelihatan Gak Put-kun juga sudah menyimpan kembali pedangnya dan juga berdiri di tempatnya tanpa membuka suara. Walaupun mata Lenghou Tiong cukup tajam, tapi ia pun tidak dapat membedakan siapakah yang menang dan kalah di dalam pertarungan sengit itu, juga tidak diketahuinya apakah salah seorang di antara mereka itu ada yang terluka atau tidak.

“Suhu!” tanpa merasa Lenghou Tiong berseru.

Belum lagi Gak Put-kun menjawab, terdengarlah Ih Jong-hay telah membuka suara, “Ilmu pedang Gak-heng benar-benar sakti, Siaute mengaku kalah. Baiklah, akan kuberi tahukan, Lim Cin-lam dan istrinya itu sekarang berada di Tho-te-bio (kelenteng Toapekong) di sebelah kiri gunung sana. Sampai berjumpa pula, Gak-heng!”

Habis berkata segera ia putar tubuh dan melangkah pergi.

Gak Put-kun berpaling kepada Lenghou Tiong, katanya, “Tiong-ji, lekas kau pergi ke kelenteng yang disebut itu untuk menjaga Lim Cin-lam, sebentar lagi aku akan menyusul ke sana.”

Sembari bicara tokoh Hoa-san-pay itu pun lantas angkat kaki menguber ke arah Ih Jong-hay tadi.

Melihat gurunya sudah pergi jauh, Lenghou Tiong lantas kembali ke tempat sembunyinya tadi. Dilihatnya Gi-lim sudah selesai mengubur Kik Yang dan Lau Cing-hong, Nikoh jelita itu sedang asyik bicara dengan Fifi di bawah pohon. Melihat datangnya Lenghou Tiong, segera Gi-lim berbangkit.

“Sumoay cilik, Suhu barusan berada di sana, beliau menyuruh aku mengerjakan sesuatu. Maka bolehlah kau membawa Fifi pergi mencari Suhumu di kota Heng-san saja,” kata Lenghou Tiong.

Gi-lim menjadi gugup juga demi mendengar datangnya Gak Put-kun, cepat ia menjawab, “Baiklah, Lenghou-toako. Harap engkau menjaga diri dengan baik-baik.”

Lalu dengan rasa berat ia berangkat dengan menggandeng Fifi.

Setelah Gi-lim dan Fifi pergi, dengan bantuan tongkat Lenghou Tiong lantas berangkat ke sebelah kiri gunung sana. Tidak lama kemudian, benar juga tertampak sebuah kelenteng Toapekong. Khawatir kalau di dalam kelenteng itu ada musuh yang menjaga, segera Lenghou Tiong merunduk ke depan dengan perlahan. Sampai di pinggir kelenteng tiba-tiba terdengar di dalam ada suara orang.

Segera Lenghou Tiong berhenti. Terdengar di dalam kelenteng ada suara seorang tua sedang bicara, “Asalkan kau mengaku di mana adanya Pi-sia-kiam-boh itu, maka aku akan membantu kau untuk menuntut balas, akan kutumpas habis semua orang Jing-sia-pay.”

Suara orang tua ini sudah dikenal oleh Lenghou Tiong ketika dia sembunyi di kamar rumah pelacuran “Kun-giok-ih” tempo hari, yaitu si bungkuk Bok Ko-hong.

Diam-diam Lenghou Tiong mengeluh. “Wah, ternyata aku telah didahului oleh Bok Ko-hong sehingga urusan ini akan tambah sulit dikerjakan. Sekali Lim Cin-lam dan istrinya jatuh ke dalam cengkeramannya tentu akan banyak menimbulkan kesukaran.”

Lalu terdengar suara seorang laki-laki sedang menjawab, “Aku tidak tahu tentang Pi-sia-kiam-boh apa segala. Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim kami turun-temurun hanya diajarkan secara lisan saja, selamanya tidak pakai Kiam-boh.”

Yang bicara itu dengan sendirinya adalah Lim Cin-lam, sang Congpiauthau dari Hok-wi-piaukiok. Sesudah merandek sejenak terdengar ia menyambung pula, “Kesediaan Cianpwe untuk membalaskan sakit hatiku sudah tentu aku merasa sangat berterima kasih. Cuma perbuatan Ih Jong-hay dari Jing-sia-pay yang jahat itu kelak pasti akan menerima ganjarannya, seumpama tidak dibunuh oleh Cianpwe, tentu juga akan binasa di tangan kesatria yang lain.”

“Dengan demikian, jadi kau tetap tidak mau mengaku tentang Pi-sia-kiam-boh?” Bok Ko-hong menegas. “Apakah kau belum pernah dengar akan nama ‘Say-pek-beng-tho’ selama ini?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: