Hina Kelana: Bab 23. Keluarga Lau Cing-hong Dibabat Habis oleh Ko-san-pay

Tak terduga gerakan Lau Cing-hong itu ternyata hanya pancingan belaka. Tampaknya jenazah itu dia sorongkan ke depan tapi mendadak ia melompat ke samping, jenazah itu diangkat dan disodorkan kepada Hui Pin.

Karena datangnya terlalu cepat lagi tak tersangka-sangka, terpaksa Hui Pin mengerahkan tenaga pada kedua tangannya untuk menahan di depan dada. Tapi pada saat yang hampir bersamaan, tahu-tahu bawah iga terasa kesemutan. Nyata Hiat-to bagian iga telah kena ditutuk oleh Lau Cing-hong.

Sekali serangannya berhasil, secepat kilat tangan kirinya lantas digunakan untuk merampas panji pancawarna dari tangan lawan, tangan kanan berbareng melolos pedang terus dipalangkan di depan tenggorokan Hui Pin. Jenazah Hiang Tay-lian dibiarkannya jatuh ke lantai.

Beberapa gerakan dan perubahan yang teramat cepat ini, Hui Pin kena dibekuk dan panji kebesarannya kena dirampas, setelah semuanya ini terjadi barulah para hadirin sadar akan apa yang sudah terjadi. Yang digunakan Lau Cing-hong itu adalah kepandaian Heng-san-pay yang hebat, namanya “Pek-pian-jian-yu-cap-sah-sik” (tiga belas gerakan dengan beratus macam perubahan).

Sudah lama Thian-bun Tojin, Gak Put-kun dan tokoh-tokoh lain mendengar tentang ilmu silat andalan Heng-san-pay itu, ada juga di antaranya pernah menyaksikan anak murid Heng-san-pay menggunakan kepandaian itu, tapi kalau dibandingkan caranya Lau Cing-hong yang hebat tadi sungguh bedanya seperti langit dan bumi.

Kiranya ilmu “Pek-pian-jian-yu-cap-sah-sik” itu adalah ciptaan tokoh seorang angkatan tua Heng-san-pay di masa yang lalu. Tokoh ini hidupnya dari main sulap di samping memiliki ilmu silat yang amat tinggi. Sampai hari tuanya, kepandaiannya main sulap makin tinggi, kepandaian ilmu silatnya juga makin lihai. Akhirnya dia telah mencampurkan kedua macam ilmu kepandaiannya itu sehingga ilmu silatnya itu sedemikian lihainya seakan-akan orang main sulap saja. Dasar sifat tokoh angkatan tua itu memang jenaka, maksudnya menciptakan ilmu silat bergaya sulap itu sebenarnya hanya sekadar untuk permainan saja, tak tersangka akhirnya ilmu silat yang hebat itu telah menjadi satu di antara tiga jenis ilmu andalan Heng-san-pay.

Sejak Lau Cing-hong mempelajari ilmu silat yang hebat itu belum pernah dia gunakan terhadap lawan. Siapa duga sekarang untuk pertama kalinya dipraktikkan terhadap jago Ko-san-pay seperti Hui Pin yang sesungguhnya tidak kalah lihai daripada Lau Cing-hong, tahu-tahu telah berhasil menawan musuh secara menakjubkan.

Maka sambil tangan kiri mengangkat panji pancawarna ke atas, tangan kanan dengan pedang melintang di depan tenggorokan Hui Pin, segera Lau Cing-hong berseru, “Ting-suheng dan Liok-suheng, secara sembrono aku telah merampas panji pimpinan Ngo-gak kita, sesungguhnya aku pun tidak berani mengancam apa-apa kepada kalian, maksudku hanya ingin mohon pengertian kalian saja.”

Ting Tiong saling pandang sekejap dengan Liok Pek. Pikir mereka, “Hui-sute telah jatuh di bawah cengkeramannya, terpaksa kita harus menurut kepada apa yang dia inginkan.”

Segera Ting Tiong menjawab, “Apa yang hendak kau katakan lagi?”

“Mohon Ting-suheng berdua suka menyampaikan kepada Co-bengcu agar aku diperbolehkan mengasingkan diri bersama segenap anggota keluargaku, selanjutnya aku takkan ikut sesuatu urusan dalam Bu-lim lagi,” demikian kata Lau Cing-hong. “Adapun hubunganku dengan Kik-toako juga terbatas sampai di sini saja, selanjutnya kami takkan bertemu pula, begitu pula dengan para sahabat yang hadir di sini ini. Aku akan membawa segenap keluargaku pergi jauh dari sini, selama hidup ini takkan menginjak kembali ke tanah Tionggoan sini.”

Ting Tiong tampak ragu-ragu. Sahutnya kemudian, “Permintaanmu ini aku dan Liok-sute tidak berani mengambil keputusan sendiri, tapi harus dilaporkan dulu kepada Co-bengcu dan minta petunjuknya.”

“Di sini sudah hadir juga para Ciangbun dari Thay-san-pay dan Hoa-san-pay, Hing-san-pay juga diwakili oleh Ting-yat Suthay, selain itu para kesatria yang terhormat juga boleh ikut menjadi saksi,” ujar Lau Cing-hong sambil memandang sekeliling kepada para hadirin, lalu menyambung, “Untuk ini aku pun ingin mohon bantuan para sahabat agar suka mengingat rasa setia kawan, dapatlah kiranya menyelamatkan anggota keluargaku.”

Ting-yat Suthay adalah seorang yang keras di luar tapi lunak di dalam. Meski wataknya berangasan, tapi hatinya sebenarnya welas asih. Dia yang membuka suara lebih dulu, “Cara demikian memang paling baik supaya tidak membuat susah kedua pihak. Ting-suheng, Liok-suheng, bolehlah kita menerima saja permintaan Lau-hiante ini. Dia sudah berjanji takkan bergaul dengan orang Mo-kau, juga akan jauh meninggalkan Tionggoan, itu berarti di dunia ini sudah tak terdapat lagi seorang Lau Cing-hong, buat apa kita mesti berkeras akan melakukan pembunuhan pula?”

Thian-bun Tojin juga mengangguk, “Ya, cara demikian juga ada baiknya. Bagaimana pendapatmu, Gak-hiante?”

“Jika Lau-hiante sudah menyatakan kesediaannya, sudah tentu kita dapat memercayainya,” kata Gak Put-kun. “Marilah, biarlah kita ubah pertengkaran ini menjadi pertemuan yang menggembirakan. Lau-hiante, silakan kau melepaskan Hui-suheng, marilah kita minum bersama satu cawan perdamaian. Besok pagi-pagi kau boleh membawa anggota keluargamu dan meninggalkan Heng-san.”

Tapi Liok Pek lantas menanggapi dengan suara dingin, “Jika ketua-ketua dari Thay-san dan Hoa-san-pay sudah bicara demikian, apalagi Ting-yat Suthay juga menyokongnya dengan kuat, masakah kami berani membantah kemauan orang banyak? Cuma saja Hui-sute kami saat ini berada di bawah ancaman Lau Cing-hong, jika kami lantas menerima permintaannya begini saja, kelak orang Kangouw tentu akan mengatakan Ko-san-pay terpaksa tunduk kepada Lau Cing-hong lantaran diancam dan tak berdaya. Jika hal ini tersiar, lalu ke mana muka Ko-san-pay harus disembunyikan?”

“Lau-sute kan minta kemurahan hati kepada Ko-san-pay dan bukannya mengancam, dari mana alasan untuk mengatakan Ko-san-pay terpaksa tunduk karena diancam?” ujar Ting-yat.

Liok Pek tidak membantah lagi, ia hanya mendengus. Lalu berseru, “Siap sedia, Tik Siu!”

Tik Siu, seorang murid Ko-san-pay yang berdiri di belakang putra sulung Lau Cing-hong lantas mengiakan sambil menyodorkan pedangnya sehingga menempel di punggung Lau-kongcu.

Lalu dengan suara dingin Liok Pek berkata pula, “Lau Cing-hong, jika ada sesuatu permintaanmu, bolehlah kau ikut kami ke Ko-san dan menemui Co-bengcu sendiri. Kami hanya bertindak berdasarkan perintah beliau dan tidak dapat mengambil keputusan apa-apa. Yang penting sekarang lekas kau kembalikan panji kebesaran itu dan melepaskan Hui-sute!”

Lau Cing-hong tersenyum pedih, katanya kepada putranya, “Nak, kau takut mati atau tidak?”

“Anak taat kepada kata-kata ayah, anak tidak takut!” sahut Lau-kongcu.

“Anak yang baik,” kata Lau Cing-hong.

Mendadak Liok Pek membentak, “Bunuh saja!”

Segera Tik Siu mendorong pedangnya ke depan sehingga menembus punggung Lau-kongcu. Waktu pedang dicabut kembali, kontan Lau-kongcu jatuh tersungkur, darah segar muncrat keluar dari lubang lukanya.

Nyonya Lau menjerit sambil menubruk ke atas mayat putranya.

“Bunuh!” bentak pula Liok Pek.

Kembali Tik Siu mengayun pedangnya, sekali tusuk, punggung Lau-hujin tertembus pula.

Ting-yat Suthay menjadi gusar. “Binatang!” dampratnya sambil melontarkan pukulan ke arah Tik Siu.

Namun Ting Tiong keburu mengadang di depannya dan melontarkan pukulan juga. Kedua telapak tangan beradu. Rupanya tenaga Ting-yat kalah kuat, dia tergetar mundur dua-tiga tindak. Dada terasa sesak, darah hampir-hampir menyembur keluar dari mulutnya. Namun sedapat mungkin ia tahan sehingga darah itu tersurut kembali ke dalam perut.

“Maaf!” kata Ting Tiong sembari tersenyum.

Sebenarnya Ting-yat memang tidak mahir dalam hal tenaga pukulan, apalagi yang ia serang tadi adalah Tik Siu yang terhitung kaum muda sehingga dia tidak mengeluarkan tenaga sepenuhnya. Tak terduga Ting Tiong mendadak menyambut pukulannya itu dengan sepenuh tenaga. Keruan Ting-yat tidak keburu mengerahkan tenaga lagi ketika kedua tangan beradu sehingga dia kecundang. Saking gusarnya ia bermaksud menyerang pula. Tapi waktu coba mengerahkan tenaga, terasalah tenaga dalam sukar dikerahkan lagi, perut rasanya disayat-sayat. Ia tahu sudah terluka dalam dan tidak mungkin bertempur pula. Segera ia memberi tanda kepada anak muridnya sambil berseru dengan gusar, “Kita berangkat semua!”

Lalu dengan langkah lebar ia mendahului berjalan pergi. Para Nikoh beramai-ramai lantas mengikuti jejak Ting-yat.

“Bunuh pula!” tiba-tiba Liok Pek membentak lagi.

Segera dua murid Ko-san-pay menyorong pedang masing-masing yang memang sudah mengancam di punggung tawanannya, kontan dua murid Lau Cing-hong terbinasa lagi.

“Dengarkanlah para murid keluarga Lau!” seru Liok Pek, “jika kalian ingin hidup, lekas kalian berlutut dan minta ampun, kalian harus mencela perbuatan Lau Cing-hong yang salah. Dengan demikian kalian akan bebas dari kematian!”

“Bangsat keparat! Kalian jauh lebih ganas daripada orang-orang Mo-kau!” damprat putri Lau Cing-hong yang bernama Lau Jing.

“Bunuh!” bentak Liok Pek.

Tanpa bicara lagi Ban Tay-peng lantas angkat pedangnya terus membacok. Kontan tubuh Lau Jing tertebas menjadi dua dari bahu kanan menurun ke pinggang sebelah kiri.

Dalam pada itu murid-murid Ko-san-pay yang lain seperti Su Ting-tat dan lain-lain juga tidak tinggal diam. Satu per satu mereka pun membunuh murid-murid Heng-san-pay yang berada di dalam cengkeraman mereka tadi.

Melihat pembunuhan secara tak kenal ampun demikian, biarpun para hadirin yang hidupnya juga selalu bergelimangan di ujung senjata juga merasa ngeri. Ada beberapa orang tokoh angkatan tua mestinya bermaksud melerai, namun cara turun tangan jago-jago Ko-san-pay itu benar-benar teramat cepat. Baru sekejap saja di ruangan sidang itu mayat sudah bergelimpangan.

Bila diingat bahwa selamanya antara golongan yang baik dan yang jahat tidak pernah berdiri bersama, walaupun tindakan Ko-san-pay ini dirasakan agak terlalu ganas, namun tujuannya bukanlah menuntut balas kepada Lau Cing-hong, tapi adalah terhadap Mo-kau yang merupakan musuh bebuyutan, maka apa yang dilakukan orang-orang Ko-san-pay itu pun dapatlah dimengerti. Pula waktu itu Ko-san-pay sudah menguasai keadaan, sampai-sampai Ting-yat Suthay dari Hing-san-pay juga terpaksa tinggal pergi tanpa bisa berbuat apa-apa. Tokoh lain seperti Thian-bun Tojin, Gak Put-kun juga tinggal diam saja, dengan sendirinya orang luar lebih-lebih tidak berani ikut campur mengenai urusan dalam Ngo-gak-kiam-pay mereka itu.

Dalam pada itu, sesudah terjadi penyembelihan demikian, anak murid Lau Cing-hong sudah terbunuh semua dan hanya tinggal seorang putra kesayangan Lau Cing-hong yang paling kecil. Namanya Lau Kin.

Usia Lau Kin baru saja 15 tahun. Wajahnya cakap otaknya cerdas. Sebelumnya Liok Pek sudah menyelidiki keluarga Lau Cing-hong dengan jelas bahwa bocah ini paling disayang oleh ayahnya. Maka sekarang ia pun hendak menundukkan Lau Cing-hong melalui bocah itu. Segera ia berkata kepada Su Ting-tat, “Coba kau tanya bocah itu mau minta ampun atau tidak? Jika tidak, potong saja hidungnya, lalu daun kupingnya, kemudian cungkil biji matanya, biarkan dia tahu rasa.”

Su Ting-tat mengiakan. Lalu berpaling kepada Lau Kin, tanyanya, “Hayo, kau mau minta ampun atau tidak!”

Wajah Lau Kin tampak pucat dan badannya gemetaran.

“Anak yang baik,” kata Lau Cing-hong. “Kakak-kakakmu telah mati dengan gagah berani. Kalau mati biar mati, kenapa mesti takut?”

“Akan tetapi … akan tetapi mereka … mereka hen … hendak memotong hidungku dan … dan mencungkil mataku, Ayah ….” sahut Lau Kin dengan gemetar.

“Hahahaha!” Lau Cing-hong tertawa. “Keadaan sudah begini, masakah kau masih berharap akan diampuni oleh mereka?”

“Ayah, kau … kau boleh me … menyanggupi akan mem … membunuh paman Kik ….”

“Kentut!” damprat Lau Cing-hong sebelum putranya bicara lebih lanjut. “Kau bilang apa, binatang?”

Dalam pada itu Su Ting-tat sengaja mengangkat pedangnya dan dibolak-balik di depan hidung Lau Kin sambil mengancam, “Lekas berlutut dan minta ampun, cah! Kalau tidak segera kupotong hidungmu! Satu … dua ….”

Belum lagi dia mengucapkan “tiga”, cepat sekali Lau Kin sudah tekuk lutut dan memohon, “Jang … jangan membunuh aku ….”

“Hahahaha! Untuk mengampuni kau juga boleh asalkan kau mesti mencela kesalahan Lau Cing-hong di depan para kesatria yang hadir di sini,” seru Liok Pek dengan tertawa.

Dengan ketakutan Lau Kin berpaling ke arah ayahnya, sinar matanya penuh rasa mohon dikasihani. Lau Cing-hong tetap tenang-tenang saja sejak tadi walaupun menyaksikan anak istrinya terbunuh. Tapi sekarang dia benar-benar sudah teramat gusar. Bentaknya, “Binatang cilik, apakah kau tidak punya perasaan? Lihatlah bagaimana keadaan ibumu dan kakak-kakakmu!”

Tapi bukannya menjadi tabah, sebaliknya Lau Kin tambah takut demi memandang jenazah ibu dan para kakaknya yang bergelimangan darah itu. Apalagi pedang Su Ting-tat masih terus berkelebatan di depan hidungnya. Segera ia memohon kepada Liok Pek, “Aku mohon … mohon dengan sangat, sudilah kau meng … mengampuni ayahku.”

“Ayahmu telah bersekongkol dengan orang jahat dari Mo-kau, kau bilang betul tidak perbuatannya itu?” tanya Liok Pek.

“Ti … tidak betul!” sahut Lau Kin dengan suara lemah.

“Orang demikian pantas dibunuh atau tidak?” tanya Liok Pek lagi.

Lau Kin tidak berani menjawab, kepalanya menunduk ke bawah.

“Bocah ini tidak mau bicara, boleh kau bunuh dia saja,” kata Liok Pek.

Su Ting-tat mengiakan. Ia tahu apa yang dikatakan sang paman guru itu hanya untuk menggertak saja, maka ia pun pura-pura angkat pedangnya seperti akan menebas ke bawah.

Lau Kin menjadi ketakutan dan cepat-cepat menjawab, “Ya, pan … pantas dibunuh!”

“Bagus!” kata Liok Pek dengan tertawa. “Sejak kini kau bukan lagi orang Heng-san-pay dan juga bukan putranya Lau Cing-hong. Aku mengampuni jiwamu.”

Rupanya saking takutnya sehingga kedua kaki Lau Kin terasa lemas semua dan tidak kuat berbangkit.

Melihat tingkah laku bocah itu, para kesatria merasa gemas dan memandang hina padanya. Bahkan ada yang terus berpaling ke arah lain dan tidak sudi memandangnya.

Tiba-tiba Lau Cing-hong menghela napas panjang, katanya, “Orang she Liok, kaulah yang menang!”

Mendadak ia lemparkan panji pancawarna itu kepada Liok Pek, berbareng kaki kiri mendepak sehingga Hui Pin jatuh terguling. Lalu serunya pula, “Seorang she Lau sudah mengaku kalah, rasanya juga tidak perlu banyak menimbulkan korban lagi.”

Segera ia palangkan pedang sendiri terus hendak menggorok leher untuk membunuh diri.

Pada saat itulah sekonyong-konyong dari atas emper rumah melayang turun sesosok bayangan hitam dengan gerakan secepat kilat. Sekali tangannya menjulur, tahu-tahu pergelangan tangan Lau Cing-hong sudah terpegang. Terdengar orang itu membentak, “Seorang laki-laki harus membalas dendam, untuk mana sepuluh tahun lagi juga belum terlambat. Pergi!”

Berbareng orang itu terus menyeret Lau Cing-hong dan berlari ke luar.

“Kik-toako!” seru Lau Cing-hong.

Kiranya orang berbaju hitam itu memang betul adalah Kik Yang, gembong Mo-kau yang lihai.

“Ya, jangan banyak bicara dulu!” sahut Kik Yang sambil mempercepat langkahnya.

Tapi baru beberapa tindak saja Ting Tiong, Liok Pek dan Hui Pin bertiga sudah lantas menyerang serentak. Enam tangan mereka telah memukul sekaligus ke punggung Kik Yang dan Lau Cing-hong berdua.

Kik Yang tahu lawan terlalu banyak, jika sampai terlibat dalam pertempuran tentu sukar lagi untuk meloloskan diri. Segera ia membentak kepada Lau Cing-hong, “Lekas lari!”

Sekuatnya ia mendorong Lau Cing-hong, berbareng ia himpun segenap tenaga ke bagian punggung untuk menahan pukulan Ting Tiong, Liok Pek dan Hui Pin bertiga. Tanpa ampun lagi, “blang”, mencelatlah ia keluar dengan muntah darah. Namun dia masih sempat mengayun tangannya ke belakang, secomot jarum hitam bertaburan sebagai hujan menghambur ke arah musuh.

“Awas, Hek-hiat-sin-ciam!” seru Ting Tiong. Cepat ia sendiri berkelit ke samping.

Para kesatria menjadi kaget juga demi mendengar nama Hek-hiat-sin-ciam (jarum sakti darah hitam). Beramai-ramai mereka berusaha menghindarkan diri dari sasaran jarum berbisa yang lihai itu. Walaupun demikian tidak urung terdengar juga jeritan belasan orang yang sudah terkena jarum sakti itu.

Rupanya ruangan sidang itu terlalu penuh sesak dengan hadirin, datangnya hujan jarum hitam itu terlalu cepat juga sehingga tidak sedikit orang yang terkena jarum itu. Di tengah ribut-ribut itulah Kik Yang dan Lau Cing-hong sudah melarikan diri.

Kembali mengenai Lenghou Tiong yang terluka parah itu. Sesudah dibubuhi obat mujarab dari Hing-san-pay yang diberikan oleh Gi-lim, ditambah usianya yang muda dan tenaga kuat, Lwekangnya memang juga tinggi, maka sesudah sehari dua malam mengaso di tepi air terjun itu, lambat laun lukanya sudah dapat rapat kembali. Selama sehari dua malam itu, bila perutnya lapar selalu menggunakan semangka sebagai makanan.

Pernah juga Lenghou Tiong minta Gi-lim pergi berburu kelinci atau menangkap ikan untuk bahan makanan. Tapi betapa pun juga Gi-lim tidak mau. Dia adalah seorang Nikoh yang alim dan taat kepada agamanya, disuruh melanggar pantangan membunuh makhluk berjiwa sudah tentu dia tidak mau. Apalagi dia menganggap Lenghou Tiong yang sudah payah itu kini dapat diselamatkan adalah berkat lindungan Buddha, kalau bisa dia ingin bayar kaul untuk menyatakan terima kasihnya kepada Buddha.

Malam hari itu mereka duduk termenung sambil bersandarkan tebing, di udara banyak kunang-kunang yang berkelip-kelip terbang kian kemari.

Tiba-tiba Lenghou Tiong berkata, “Musim panas tahun yang lalu aku pernah menangkap beribu-ribu kunang-kunang itu, kumasukkan di dalam beberapa kantongan dan kugantung di dalam kamar. Sinarnya yang berkelip-kelip itu sungguh sangat menarik.”

“Sumoaymu yang suruh kau tangkap kunang-kunang itu, bukan?” tanya Gi-lim.

“Kau sungguh pintar, sekali tebak lantas kena,” sahut Lenghou Tiong. “Dari mana kau mendapat tahu Sumoay yang suruh aku menangkap kunang-kunang itu?”

“Watakmu tidak sabaran, juga kau bukan anak kecil, masakah kau sedemikian tekun mau menangkap beribu-ribu kunang-kunang untuk mainan?” ujar Gi-lim dengan tersenyum. Sesudah merandek sejenak, lalu ia tanya pula, “Digantung di dalam kamar untuk apa?”

“Sumoay bilang dengan sinar kunang-kunang yang berkelap-kelip itu menjadi mirip beribu-ribu bintang di langit,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa. “Cuma sayang, kunang-kunang itu pada esok paginya sudah mati semua.”

“Hah? Beribu-ribu kunang-kunang itu telah mati semua? Wah, mengapa kalian … kalian sedemikian ….”

“Sedemikian kejam bukan, katamu?” Lenghou Tiong memotong dengan tertawa. “Ai, kau memang berhati welas asih. Padahal tanpa diganggu juga dua-tiga hari kemudian kunang-kunang itu akan mati sendiri.”

Gi-lim terdiam, sampai agak lama ia tidak tahu apa yang harus dibicarakan lagi.

Pada saat itulah tiba-tiba di angkasa sebelah kiri sana melayang lewat sebuah bintang beralih sehingga menimbulkan sejalur sinar yang panjang.

Kata Gi-lim, “Menurut cerita Enci Gi-ceng, bila ada orang melihat bintang jatuh, jika segera membuat satu ikatan di tali pinggang sendiri sambil memikirkan suatu nazar, maka nazarnya ini tentu akan terkabul. Apakah betul cerita demikian ini?”

“Entahlah, aku pun tak tahu,” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. “Tapi tiada jeleknya kita coba-coba. Hayolah lekas siap. Mungkin tangan kita kalah cepat daripada melayangnya sinar bintang beralih itu.”

Habis berkata ia terus pegang tali pinggangnya sendiri dan siap untuk membikin ikatan.

Gi-lim juga lantas memegang tali pinggang sendiri. Tapi ia terus memandangi langit dengan termenung-menung. Ia tidak tahu nazar apa yang diharapkannya. Ia coba memandang sekejap pada Lenghou Tiong. Mendadak mukanya bersemu merah dan lekas-lekas berpaling pula ke arah lain.

Pada saat itu mendadak ada bintang beralih lagi, jalur sinar bintang jatuh itu lebih panjang daripada tadi. “Itu dia, lekas mengikat tali pinggangmu!” seru Lenghou Tiong.

Akan tetapi pikiran Gi-lim terasa kusut. Dalam lubuk hatinya yang dalam lapat-lapat ia memang mempunyai suatu keinginan, suatu harapan. Akan tetapi harapan ini sesungguhnya tidak berani diharapkan olehnya, jangankan lagi dikemukakan sebagai suatu permohonan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Seketika itu ia merasa takut tak terkatakan, tapi juga merasa girang dan bahagia tak terlukiskan.

Ia dengar Lenghou Tiong sedang bertanya pula, “Bagaimana, sudah kau pikirkan nazarmu belum?”

Diam-diam Gi-lim bertanya kepada dirinya sendiri, “Ya, nazar apa yang kuinginkan?”

Dalam pada itu sebuah bintang beralih kembali melayang lewat pula di angkasa raya yang luas. Tapi dia hanya mendongak menyaksikannya dengan termangu-mangu.

“Eh, mengapa kau tidak menyatakan nazarmu?” tanya Lenghou Tiong dengan tertawa. “Ah, biarpun tak kau katakan juga aku dapat menerkanya. Coba ya kukatakan?”

“Jangan kau katakan,” cepat Gi-lim mencegah.

“Apa sih halangannya? Biar kutebak tiga kali saja, coba tepat atau tidak.”

“Tidak, jangan kau katakan. Jika kau bilang begitu lagi segera kutinggal pergi!” seru Gi-lim sambil berbangkit berdiri.

“Hahaha!” Lenghou Tiong tertawa. “Baiklah, aku takkan mengatakan. Seumpama dalam batinmu ingin menjadi ketua Hing-san-pay kalian toh juga tidak perlu malu.”

Gi-lim melengak, “Mengapa dia mengira aku ingin menjadi ketua Hing-san-pay? Padahal selamanya aku tak pernah berpikir demikian.”

Tiba-tiba dari jauh terdengar suara “crang-cring”, seperti suara orang memetik kecapi.

Lenghou Tiong saling pandang dengan Gi-lim, mereka sama-sama heran mengapa di tengah pegunungan sunyi demikian ada orang main musik.

Suara kecapi itu sangat enak didengar. Selang sejenak, tiba-tiba di tengah suara kecapi itu terseling pula beberapa kali suara seruling yang halus sehingga paduan suara kedua jenis alat musik itu semakin menarik. Terdengar pula suara kecapi dan seruling itu seakan-akan sedang sahut-menyahut, yang satu tanya dan yang lain menjawab. Berbareng suara itu pun makin mendekat.

Lenghou Tiong membisiki Gi-lim, “Suara musik ini sangat aneh. Mungkin takkan menguntungkan kita. Bila terjadi apa-apa, betapa pun juga kau janganlah bersuara.”

Gi-lim mengangguk tanda mengerti.

Dalam pada itu suara kecapi terdengar semakin meninggi nadanya, sebaliknya suara seruling lantas rendah malah. Namun suara seruling yang rendah itu tidak terputus, hanya lirih dan sayup tertiup angin, bahkan makin mengikat sukma yang mendengar.

Tertampaklah dari balik batu gunung sana telah muncul tiga sosok bayangan orang. Waktu itu sang dewi malam kebetulan teraling-aling oleh gunung yang menjulang tinggi sehingga samar-samar saja. Hanya kelihatan dua orang di antaranya lebih tinggi dan seorang jauh lebih pendek. Yang tinggi itu adalah dua orang laki-laki dan yang pendek adalah wanita. Kedua orang laki-laki itu lantas duduk bersandarkan batu, yang seorang memetik kecapi dan yang lain meniup seruling. Wanita itu tampak berdiri di sebelah orang yang menabuh kecapi.

Lekas-lekas Lenghou Tiong mengerutkan kembali kepalanya, ia tidak berani mengintip lagi, khawatir kalau diketahui ketiga orang itu. Didengarnya paduan suara kecapi dan seruling itu sangat merdu dengan irama yang cocok satu sama lain.

Diam-diam Lenghou Tiong berpikir, “Suara air terjun di sebelah gunung ini sangat gemuruh, tapi toh tidak menghanyutkan suara kecapi dan seruling yang halus ini. Agaknya kedua orang yang membunyikan kecapi dan seruling ini memiliki Lwekang yang amat kuat.”

Sejenak kemudian, tiba-tiba irama kecapi itu berubah keras dan cepat seperti lagu mars di medan perang. Terkadang diseling sekali dua kali suara yang melengking tinggi sehingga membikin hati yang mendengar ikut terguncang. Sebaliknya suara seruling itu tetap kalem dan halus saja.

Lewat sebentar pula, tiba-tiba irama kecapi juga berubah kalem, suara seruling terkadang tinggi dan terkadang rendah. Sekonyong-konyong suara kecapi dan seruling berubah serentak, seakan-akan ada beberapa orang sedang memetik kecapi dan meniup seruling berbareng.

Lenghou Tiong terheran-heran. “Mengapa mendadak datang orang sebanyak ini?”

Waktu ia mengintip pula ke sana, dilihatnya di samping batu itu tetap ketiga orang saja. Kiranya pemain kecapi dan seruling itulah yang luar biasa kepandaiannya sehingga suara musik mereka berubah sedemikian rupa seakan-akan beberapa orang memainkan sejenis alat musik sekaligus, tapi mengeluarkan nada yang berbeda-beda.

Rupanya suara kecapi dan seruling itu mempunyai daya pengaruh begitu besar sehingga Lenghou Tiong tidak bisa tenang lagi, darahnya terasa bergolak, tanpa merasa ia lantas hendak berbangkit.

Setelah mendengarkan pula sejenak, kembali suara kecapi dan seruling itu berubah. Sekarang irama seruling itu berubah menjadi nada dasar, sedangkan suara kecapi hanya sebagai pengiring saja, cuma suara kecapi makin lama makin tinggi.

Entah mengapa, suara seruling itu tiba-tiba menimbulkan semacam perasaan pilu pada Lenghou Tiong, apa sebabnya ia sendiri tidak tahu. Waktu ia melirik Gi-lim, tertampak Nikoh jelita itu bahkan sedang meneteskan air mata.

Sekonyong-konyong terdengar suara “cring” yang mengagetkan, senar kecapi telah putus beberapa jalur. Suara kecapi seketika berhenti, begitu pula suara seruling juga lantas lenyap. Suasana pegunungan itu kembali sunyi senyap, hanya sang dewi malam menghias di angkasa raya nan biru kelam.

Lalu terdengar suara seorang sedang berkata, “Lau-hiante, kalau hari ini kita harus tewas di sini, rupanya ini pun sudah takdir Ilahi. Hanya saja tadi aku tidak lekas-lekas turun tangan sehingga membikin segenap anggota keluargamu menjadi korban, sungguh aku merasa tidak enak hati.”

“Kita adalah sahabat yang sama-sama kenal akan perasaan masing-masing, buat apa mesti omong tentang hal-hal demikian,” sahut seorang yang lain.

Dari suaranya segera Gi-lim dapat mengenal siapa dia. Ia membisiki Lenghou Tiong, “Itulah Lau-susiok, Lau Cing-hong.”

Karena mereka tidak tahu peristiwa berdarah yang terjadi di rumah Lau Cing-hong, maka mereka menjadi heran melihat malam-malam begini Lau Cing-hong datang ke tempat demikian. Lebih-lebih tentang “kita akan tewas hari ini” dan “segenap anggota keluargamu ikut menjadi korban” yang diucapkan kedua orang itu, sungguh membuat Lenghou Tiong dan Gi-lim merasa terperanjat dan bingung.

Dalam pada itu terdengar orang pertama tadi telah berkata pula, “Lau-hiante, dari suara serulingmu tadi, agaknya kau masih menyesal. Apa barangkali menyesali putramu si Lau Kin yang takut mati dan membikin malu nama baikmu itu?”

“Ya, dugaan Kik-toako memang tidak salah,” sahut Lau Cing-hong. “Akulah yang salah karena biasanya terlalu memanjakan anak itu dan kurang memberi bimbingan. Sungguh tak terduga bocah itu ternyata tidak punya tulang dan berjiwa pengecut.”

Orang pertama tadi memang betul adalah Kik Yang, itu gembong Mo-kau yang telah dapat menyelamatkan Lau Cing-hong. Katanya pula, “Berjiwa jantan atau pengecut, akhirnya toh mesti masuk liang kubur juga, apa sih bedanya? Sejak tadi aku sudah mengawasi di atas rumah dan seharusnya turun tangan secepatnya. Cuma aku menduga Lau-hiante mungkin tidak sudi membela diriku dengan risiko bermusuhan dengan Ngo-gak-kiam-pay sendiri, makanya aku tidak lantas turun tangan. Siapa duga Bengcu dari Ngo-gak-kiam-pay yang tersohor itu ternyata sedemikian keji caranya.”

Untuk sejenak Lau Cing-hong termenung, kemudian menghela napas panjang dan berkata, “Orang seperti mereka itu masakah tahu betapa akrab dan luhurnya persahabatan kita melalui seni musik? Mereka menduga secara umum dan menyangka persahabatan kita pasti takkan menguntungkan para kesatria dari Ngo-gak-kiam-pay. Tapi, ya, tak dapat menyalahkan mereka juga kalau mereka kurang paham akan persahabatan kita. Kik-toako, apakah kau punya Tay-cui-hiat terluka sehingga urat jantungmu tergetar luka?”

“Betul,” kata Kik Yang. “Tay-ko-yang-jiu dari Ko-san-pay memang benar sangat lihai, sama sekali tak terduga bahwa selain punggungku merasa gempuran mereka tadi, ternyata tenaga dalam mereka yang hebat itu masih menggetar urat jantungku juga sehingga putus. Tahu begini, secomot Hek-hiat-sin-ciam tadi tidak perlu kutaburkan lagi agar tidak banyak melukai orang tak berdosa.”

Mendengar kata-kata “Hek-hiat-sin-ciam”, hati Lenghou Tiong tergetar. Pikirnya, “Apa barangkali orang ini adalah gembong Mo-kau? Mengapa Lau-susiok bisa bersahabat dengan dia?”

Dalam pada itu terdengar Lau Cing-hong telah menjawab dengan tersenyum, “Orang tak berdosa ikut menjadi korban memang tidak perlu. Tapi lantaran itu kita berdua menjadi ada kesempatan untuk membawakan suatu lagu bersama, selanjutnya di dunia ini takkan terdapat lagi paduan suara kecapi dan seruling seperti kita ini.”

“Benar,” kata Kik Yang. “Dari zaman dahulu kala sampai kini boleh jadi tiada yang dapat membandingi lagu ‘Siau-go-kangouw’ (Hina Kelana) kita ini.”

Dan sejenak kemudian tiba-tiba ia menghela napas pula.

Segera Lau Cing-hong bertanya, “Sebab apalagi Kik-toako menghela napas? Ah, tahulah aku, tentu engkau merasa khawatir bagi Fifi.”

Hati Gi-lim tergerak, “Fifi? Apakah Fifi si dara cilik itu?”

Benar juga lantas terdengar suara Kik Fi-yan sedang berkata, “Kakek, harap engkau merawat luka bersama Lau-kongkong dengan tenang. Kelak biarlah kita mendatangi mereka, setiap jahanam Ko-san-pay itu kita bunuh habis-habisan untuk membalas sakit hati nenek dan para kakak keluarga Lau.”

Pada saat itulah tiba-tiba dari balik batu pegunungan sana berkumandang suara orang tertawa panjang. Belum lenyap suara tertawa itu lantas tertampak muncul sesosok bayangan hitam. Dengan cepat sekali tahu-tahu seorang dengan pedang terhunus sudah berdiri di depan Kik Yang dan Lau Cing-hong. Kiranya adalah Hui Pin, yang berjuluk Ko-yang-jiu dari Ko-san-pay.

“Hehe, anak dara ingusan saja bersuara begitu besar,” demikian Hui Pin lantas mengolok-olok. “Jago-jago Ko-san-pay hendak kau bunuh habis-habisan, memangnya di dunia ini ada urusan segampang itu?”

Mendadak Lau Cing-hong berbangkit, teriaknya dengan murka, “Hui Pin, kalian sudah membunuh segenap keluargaku, aku pun terkena pukulan yang dilontarkan kalian bertiga saudara seperguruan dan jiwaku juga tinggal tunggu ajalnya saja. Sekarang apalagi yang kau kehendaki?”

“Hahahaha! Anak dara ini tadi bilang hendak membunuh habis-habisan, maka kedatanganku ini adalah untuk membunuh habis-habisan,” seru Hui Pin dengan bergelak tertawa.

Mendengar itu, diam-diam Gi-lim ikut khawatir. Ia membisiki Lenghou Tiong, “Fifi dan kakeknya adalah orang yang telah menolong jiwamu, kita harus mencari suatu akal yang dapat balas menolong mereka.”

Sebelum Gi-lim membuka suara, Lenghou Tiong sendiri memang sedang menimbang-nimbang cara bagaimana untuk bisa menolong mereka itu untuk membalas budi kakek dan cucu perempuan yang pernah menyelamatkan jiwanya itu. Soalnya Hui Pin itu adalah tokoh terkemuka Ko-san-pay, seumpama dirinya sendiri tidak terluka juga bukan tandingannya, apalagi sekarang dirinya dalam keadaan lemah. Pula Kik Yang adalah gembong Mo-kau yang merupakan musuh bebuyutan dari Ngo-gak-kiam-pay, mana boleh dirinya sekarang berbalik membantunya malah? Sebab itulah ia merasa ragu-ragu dan serbasusah.

Dalam pada itu terdengar Lau Cing-hong sedang berkata, “Orang she Hui, kau pun terhitung seorang tokoh terhormat dari Beng-bun-cing-pay (perguruan ternama dan golongan baik). Sekarang Kik Yang dan Lau Cing-hong jatuh di tanganmu, mati pun kami tidak menyesal dibunuh olehmu. Tapi kau telah menganiaya pula seorang anak kecil, cara demikian terhitung perbuatan kesatria macam apa? Sudahlah, Fifi, boleh kau pergi saja dari sini.”

“Tidak, aku akan mati bersama kakek dan Lau-kongkong, aku tidak mau hidup sendirian,” sahut Fifi.

“Lekas pergi, lekas! Urusan orang tua tiada sangkut pautnya dengan anak kecil seperti kau,” kata Lau Cing-hong.

“Tidak, aku tidak mau pergi!” sahut Fifi dengan tegas. “Sret”, segera ia melolos keluar dua batang pedang pendek, sekali lompat ia sudah mengadang di depan Lau Cing-hong dan kakeknya.

Melihat anak dara itu melolos pedang, hal ini kebetulan malah bagi Hui Pin. Dengan tertawa ia lantas berkata, “Dara cilik ini katanya hendak membunuh habis orang-orang Ko-san-pay kami, sekarang dia benar-benar akan melaksanakan maksudnya itu. Memangnya orang she Hui ini harus terima saja disembelih olehnya atau mesti lari terbirit-birit?”

“Fifi, lekas pergi saja, lekas!” demikian Lau Cing-hong menarik tangan anak dara itu dengan khawatir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: