Hina Kelana: Bab 22. Ketua Mo-kau Tonghong Put-pay

Segera ia balas menghormat dan menjawab, “Jauh-jauh Hui-suheng datang kemari, mengapa tidak sudi ikut minum barang secawan arak, tapi malah sembunyi di atas rumah merasakan terik sinar matahari? Rasanya Ting-suheng dan Liok-suheng tentu juga sudah datang, boleh silakan keluar saja sekalian. Melulu menghadapi orang she Lau, seorang Hui-suheng saja sudah jauh lebih dari cukup. Tapi untuk melayani para kesatria sebanyak yang hadir di sini mungkin kawan Ko-san-pay yang datang ini masih kurang cukup.” Hui Pin tersenyum, katanya, “Buat apa Lau-suheng mengeluarkan kata-kata mengadu domba demikian? Seumpama mesti berlawanan dengan Lau-suheng sendiri, Cayhe juga tidak mampu menahan gerakan ‘Siau-lok-gan-sik’ Lau-suheng barusan ini. Ko-san-pay sekali-kali tidak berani merecoki Heng-san-pay, lebih-lebih tak berani memusuhi setiap kesatria mana pun yang hadir di sini ini. Soalnya urusan ini menyangkut keselamatan jiwa beribu kawan-kawan Bu-lim, maka terpaksa kami harus minta agar Lau-suheng membatalkan maksud akan ‘cuci tangan di baskom emas’ ini.” Kata-kata itu membuat para kesatria melengak heran semua. Mereka tidak habis mengerti ada hubungan apakah antara acara “cuci tangan” yang dilakukan Lau Cing-hong dengan para orang Kangouw? Mengapa dikatakan menyangkut keselamatan jiwa beribu kawan Bu-lim? Benar juga. Lantas terdengar Lau Cing-hong menjawab, “Ucapan Hui-suheng tadi sungguh terlalu menjunjung tinggi padaku. Padahal orang she Lau ini hanya seorang anggota Heng-san-pay biasa saja, sebaliknya tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay tak terhitung banyaknya, apa artinya bertambah atau berkurang dengan seorang Lau Cing-hong saja? Mengapa tindakanku ini dikatakan menyangkut jiwa ribuan orang kawan Bu-lim?” “Ya, betul,” demikian Ting-yat Suthay menyambung. “Soal Lau-hiante ingin Kim-bun-swe-jiu dan mau menjadi pembesar tergolong keroco itu, untuk bicara terus terang sesungguhnya aku pun merasa hina. Cuma setiap manusia mempunyai cita-citanya sendiri-sendiri, dia suka menjadi pembesar dan ingin rezeki nomplok, asalkan tidak merugikan rakyat jelata, tidak merusak kesetiakawanan sesama orang Bu-lim, maka siapa pun tidak dapat merintangi kebebasannya. Kukira Lau-hiante juga tidak mempunyai kemampuan sebesar itu sehingga dapat membikin celaka kawan Bu-lim sedemikian banyaknya.” “Ting-yat Suthay,” ujar Hui Pin, “engkau adalah orang beribadat, sudah tentu kurang paham akan tipu muslihat orang luar. Hendak maklum, bilamana intrik besar ini sampai terlaksana, bukan saja banyak kawan Bu-lim yang akan menjadi korban, bahkan juga rakyat jelata yang tak berdosa akan ikut mengalami bencana besar. Coba kalian pikir sendiri. Lau-samya dari Heng-san-pay adalah seorang tokoh termasyhur, seorang kesatria yang terkenal di Kangouw, masakah beliau sudi merendahkan diri untuk mengekor kepada kawanan pembesar anjing yang korup itu? Harta benda Lau-samya sendiri sudah cukup kaya raya, masakan beliau masih kemaruk harta dan ingin kedudukan segala? Sebab itulah sudah lama kami merasa sangsi, bahwasanya seorang tokoh sebagai Lau-samya hanya sudi menjabat pangkat sedemikian kecilnya, hal ini benar-benar terlalu aneh dan mencurigakan.” “Hahaha! Bagus, bagus!” demikian Lau Cing-hong tidak marah, berbalik ia tertawa. “Kiranya di balik persoalan ini dikatakan masih mengandung suatu intrik besar yang maharahasia. Hm, Hui-suheng, jika kau mau memfitnah hendaklah juga perlu mencari alasan yang masuk di akal. Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan urusan ini, sebab kalau kukatakan sesungguhnya akan membikin malu Heng-san-pay sendiri. Tapi karena urusan sudah telanjur begini, terpaksa aku tidak dapat mengelakkan lagi, biarlah para kawan yang hadir di sini sukalah menimbang dengan adil. Nah, Ting-suheng dan Liok-suheng boleh silakan keluar saja sekalian!” “Baik!” berbareng terdengar dari sebelah timur dan barat di atas rumah ada dua orang berseru. Bayangan kuning berkelebat, tahu-tahu dua orang sudah berdiri di depan ruangan. Ginkang kedua orang ini serupa benar dengan cara Hui Pin melompat turun tadi. Yang berdiri di sebelah timur adalah seorang botak, botak dalam arti kata gundul kelimis tanpa seujung rambut pun, sampai-sampai batok kepalanya kelihatan mengilap. Dia adalah tokoh kedua dari Ko-san-pay, namanya Ting Tiong. Sedangkan orang yang berdiri di sebelah barat adalah seorang kurus kering seperti orang sakit TBC, agak bungkuk lagi pucat seperti orang yang sudah lebih seminggu kelaparan. Para kesatria mengenalnya sebagai tokoh ketiga dalam Ko-san-pay yang terkenal, namanya Liok Pek, berjuluk Wi-bin Cukat atau si Cukat Liang (Khong Beng) bermuka pucat, yaitu lantaran dia sangat banyak tipu akalnya. Ting Tiong dan Liok Pek sangat termasyhur di dunia persilatan, maka para kesatria serentak berbangkit menyambut kedatangan mereka berbareng saling mengucapkan salam hormat masing-masing. Tampaknya tokoh Ko-san-pay yang datang ini makin lama makin banyak dan makin jempolan, agaknya urusan hari ini sangat penting, rasanya Lau Cing-hong pasti akan menghadapi kesukaran. “Lau-hiante,” demikian Ting-yat Suthay telah membuka suara, “kau jangan khawatir. Segala urusan di dunia ini tak terlepas dari satu kata, yakni ‘kebenaran’. Janganlah kau anggap orang lain berjumlah banyak, memangnya para kawan kita dari Thay-san-pay, Hoa-san-pay dan Hing-san-pay hanya datang untuk gegares saja tanpa bekerja?” Di balik ucapannya itu, secara terang-terangan ia hendak menyatakan bilamana Ko-san-pay berani main kekerasan dan mengandalkan orang banyak, maka Hing-san-pay yang dipimpinnya adalah pihak pertama yang akan membela keadilan. Sedangkan Thian-bun Tojin, Gak Put-kun dan lain-lain juga takkan tinggal diam. Tapi Lau Cing-hong hanya tersenyum getir saja. Katanya, “Sungguh memalukan kalau urusan ini diceritakan. Sebenarnya persoalannya mengenai urusan dalam Heng-san-pay kami, tapi sekarang para kawan mesti ikut-ikut khawatir, sungguh aku merasa tidak enak. Sekarang aku pun dapat memahami duduknya perkara. Tentulah Bok-suheng kami juga telah mengadu biru kepada Co-suheng Bengcu tentang macam-macam kesalahanku sehingga para Suheng dari Ko-san-pay lantas dikerahkan kemari untuk merecoki aku. Ya, ya, apa mau dikata lagi, biarlah aku mengaku salah saja kepada Bok-suko.” Sorot mata Hui Pin yang tajam menyapu sekeliling kepada para hadirin. Kemudian ia berkata, “Kau bilang urusan ini ada sangkut pautnya dengan Bok-taysiansing? Jika demikian silakan Bok-taysiansing keluar saja, biar kita bicara secara terus terang.” Habis ucapannya, suasana di tengah sidang menjadi hening senyap. Sampai agak lama tetap tidak tertampak munculnya “Siau-siang-ya-uh” Bok-taysiansing, ketua Heng-san-pay atau Suheng Lau Cing-hong yang termasyhur itu. Dengan tersenyum getir Lau Cing-hong lantas membuka suara pula, “Tentang pertengkaran antara kami bersaudara seperguruan cukup diketahui oleh para kawan dari Bu-lim dan tidak perlu kututup-tutupi lagi. Para sahabat tentu maklum bahwa dari warisan leluhur, maka keluargaku boleh dikata cukup berada, sebaliknya Bok-suko kami adalah orang yang miskin. Sebenarnya saling membantu antarkawan adalah lazim, apalagi antarsesama Suheng dan Sute. Namun berhubung urusan ini Bok-suko lantas sirik dan selamanya tak mau menginjak lagi ke rumahku, sudah ada beberapa tahun kami Suheng dan Sute tidak berbicara dan tidak bertemu, maka dengan sendirinya hari ini Bok-suko juga tidak mungkin hadir di sini. Adapun yang membuat aku merasa penasaran adalah Co-bengcu hanya percaya kepada pengaduan sepihak saja lalu mengirimkan para Suheng kemari untuk menghadapi aku, sampai-sampai anak-istriku juga ikut ditawan, bukankah hal ini agak … agak keterlaluan?” “Angkat panjimu!” seru Hui Pin kepada Su Ting-tat. Su Ting-tat mengiakan dan segera mengangkat panjinya dan berdiri di samping Hui Pin. “Lau-suheng,” kata Hui Pin dengan keren, “urusan hari ini sama sekali tiada hubungannya dengan Bok-taysiansing, ketua Heng-san-pay kalian, maka kau tidak perlu menyinggung tentang dirinya. Menurut perintah Bengcu, kami diharuskan menyelidiki dan menanya kau dengan jelas, yaitu bagaimana persekongkolanmu dengan Tonghong Put-pay dari Mo-kau, intrik apa yang telah kalian atur untuk menghadapi Ngo-gak-kiam-pay kita dan para kawan dari Bu-lim?” Kata-kata itu telah mengguncangkan perasaan setiap hadirin. Hendaklah maklum bahwa Mo-kau (agama sesat) selalu memusuhi para kesatria dari kalangan Pek-to, permusuhan demikian sudah berlangsung selama ratusan tahun dan tidak habis-habis, kedua belah pihak sama-sama banyak jatuh korban. Dari ribuan hadirin sekarang paling sedikit ada separuhnya yang pernah diganggu oleh pihak Mo-kau, ada yang ayah-bundanya terbunuh, ada gurunya terbinasa, maka bila menyebut agama iblis itu semuanya merasa dendam dan benci. Sebabnya Ngo-gak, yaitu aliran lima gunung (Ko-san, Thay-san, Hoa-san, Heng-san dan Hing-san) berserikat justru tujuan utamanya adalah untuk menghadapi Mo-kau. Ilmu silat Mo-kau baik Lwekang maupun Gwakang mempunyai caranya yang khas, betapa pun hebat ilmu silat pihak Ngo-gak sering juga kewalahan melawannya. Lebih-lebih ketua Mo-kau yang bernama Tonghong Put-pay, bahkan oleh orang diberi julukan sebagai “jago nomor satu selama seabad ini”. Sesuai dengan namanya: Put-pay (tidak terkalahkan), maka sejak dia mengetuai Mo-kau memang belum pernah dikalahkan oleh siapa pun juga. Lantaran itulah demi para kesatria mendengar Hui Pin membongkar hubungan antara Lau Cing-hong dengan pihak Mo-kau, apakah hal ini betul atau tidak, yang jelas setiap kesatria itu ikut berkepentingan dan menyangkut keselamatan mereka pula. Maka dari itu rasa simpatik mereka kepada Lau Cing-hong semula lantas lenyap seketika. Maka terdengar Lau Cing-hong telah menjawab tuduhan Hui Pin tadi, “Selamanya Cayhe belum pernah melihat, apalagi kenal kepada ketua Mo-kau Tonghong Put-pay, entah dengan dasar apa aku dituduh bersekongkol dan berintrik dengan pihak Mo-kau?” Hui Pin tidak menjawabnya, ia hanya melirik Samsuhengnya, yaitu Liok Pek. Maka dengan suara perlahan-lahan, Liok Pek telah bicara, “Lau-suheng, apa yang kau katakan rasanya masih banyak yang ketinggalan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Di dalam Mo-kau ada seorang Hou-hoat-tianglo (sesepuh pembela agama) yang bernama Kik Yang. Entah Lau-suheng kenal atau tidak?” Sejak mula Lau Cing-hong sebenarnya sangat tenang, tapi demi mendengar nama “Kik Yang”, seketika air mukanya berubah hebat. Namun bibirnya terkatup rapat-rapat dan tidak menjawab. Ting Tiong, tokoh kedua Ko-san-pay yang berkepala botak kelimis itu sejak datang tadi belum bersuara sepatah pun. Sekarang mendadak ia bertanya dengan suara bengis, “Kau kenal tidak kepada Kik Yang?” Sedemikian keras dan lantang suaranya sehingga anak telinga setiap orang sampai mendenging. Dalam pandangan semua orang jejak Ting Tiong seakan-akan bertambah tinggi besar secara mendadak dan penuh wibawa. Namun Lau Cing-hong masih tetap tidak menjawab. Seketika perhatian beribu orang terpusat kepadanya, dalam hati setiap orang sama merasa sikap Lau Cing-hong yang bungkam itu serupa saja dengan mengakui pertanyaan Ting-Tiong secara diam-diam. Selang agak lama barulah Lau Cing-hong mengangguk dan berkata, “Betul! Kik Yang, Kik-toako memang kenalanku. Malahan bukan cuma kenalan sekadar kenalan, bahkan dia adalah sahabatku yang baik. Sahabatku yang paling kental selama hidupku ini.” Seketika suasana sidang menjadi gempar. Para kesatria ramai membicarakan pengakuan Lau Cing-hong yang terus terang dan di luar dugaan itu. Semula mereka menyangka paling-paling Lau Cing-hong hanya akan mengaku bahwa Kik Yang memang betul pernah dikenalnya dan sekali-kali tidak menduga bahwa dia berani menyatakan bahwa gembong Mo-kau itu justru adalah sahabatnya yang paling kental. Hui Pin tampak tersenyum, katanya, “Baik sekali karena kau sendiri sudah mengaku. Seorang laki-laki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Nah, Lau Cing-hong, sekarang Co-bengcu telah menentukan dua jalan, bolehlah kau pilih sendiri.” Akan tetapi Lau Cing-hong seperti tidak mendengar apa yang dikatakan Hui Pin itu, dengan tenang saja ia duduk kembali, ia menuang secawan arak dan ditenggaknya habis. Diam-diam para hadirin memuji dan merasa kagum terhadap sikap Lau Cing-hong yang tabah dan tenang itu. Menghadapi saat segawat ini ternyata dia masih sanggup bersikap tenang tanpa sedikit memperlihatkan tanda-tanda kecemasan. Dengan suara lantang Hui Pin lantas berseru pula, “Menurut Co-bengcu, katanya Lau Cing-hong adalah tokoh yang jarang terdapat di dalam Heng-san-pay, hanya karena sedikit kekhilafannya sehingga salah bergaul dengan orang jahat, apabila mau insaf kembali, sudah tentu kaum kita akan suka memberi kesempatan padanya untuk memperbaiki kesalahannya. Jikalau jalan ini yang kau pilih, maka Co-bengcu memberi batas waktu sebulan agar kau membunuh gembong Mo-kau yang bernama Kik Yang itu, bawalah buah kepalanya sebagai bukti, dengan demikian segala kesalahan yang lain takkan diusut lebih lanjut dan kita masih tetap sahabat baik dan saudara dalam Ngo-gak-kiam-pay.” Para kesatria berpikir bahwa selamanya antara yang baik dan yang jahat tidak pernah hidup bersama. Orang-orang Mo-kau bilamana kepergok oleh tokoh-tokoh dari kalangan pendekar tentu lantas saling labrak mati-matian. Kalau sekarang Co-bengcu mengharuskan Lau Cing-hong membunuh dulu Kik-Yang untuk membuktikan kesetiaannya, hal ini pun dapat dimengerti dan bukan sesuatu permintaan yang berlebihan. Sekilas air muka Lau Cing-hong bersenyum sedih, sahutnya kemudian, “Kik-toako dan aku begitu bertemu lantas seperti sobat lama, lalu berhubungan dengan sangat akrab. Dia telah bertemu belasan kali dengan aku, kami tidur satu ranjang dan bicara sepanjang malam, terkadang bila kami menyinggung tentang persengketaan di antara berbagai golongan, Kik-toako selalu menghela napas dan merasa menyesal, beliau anggap pertengkaran antara kedua pihak sesungguhnya tidak ada gunanya. Persahabatanku dengan Kik-toako hanya mengutamakan saling bertukar pikiran tentang seni musik. Beliau adalah ahli menabuh kecapi dan aku suka meniup seruling. Di kala bertemu sebagian besar waktu kami gunakan untuk menabuh musik kesukaan masing-masing. Tentang ilmu silat selamanya kami tidak pernah membicarakannya.” Sampai di sini Lau Cing-hong tertampak tersenyum puas, lalu menyambung, “Boleh jadi para hadirin tidak percaya, tapi aku anggap pada zaman ini dalam hal menabuh kecapi rasanya tiada orang lain yang sanggup melebihi Kik-toako, sedangkan dalam hal meniup seruling rasanya juga tiada orang kedua yang melebihi Lau Cing-hong. Meski Kik-toako adalah orang Mo-kau, tapi dari suara kecapinya aku cukup mengenal wataknya yang baik dan budinya yang luhur, beliau benar-benar seorang manusia yang berperasaan. Sebab itulah Lau Cing-hong benar-benar sangat kagum padanya dan biarpun bagaimana jadinya tidak nanti aku mau mencelakai seorang jantan sebagai Kik-toako.” Para kesatria bertambah heran. Sama sekali mereka tidak menduga bahwa persahabatan Lau Cing-hong dengan Kik Yang itu dimulai dari seni musik. Melihat ucapan Lau Cing-hong yang sungguh-sungguh dan jujur itu, mau tak mau mereka harus percaya kepada ceritanya itu. Di dunia Kangouw memang banyak orang-orang kosen yang aneh-aneh tingkah lakunya, jika Lau Cing-hong keranjingan dalam hal musik juga tidak perlu diherankan. Bagi orang yang tahu akan seluk-beluk Heng-san-pay lantas teringat pula bahwa di antara tokoh-tokoh Heng-san-pay dari dulu sampai sekarang memang banyak yang suka kepada seni musik. Misalnya pejabat ketua mereka sekarang, yaitu Bok-taysiansing yang berjuluk “Siau-siang-ya-uh”, beliau juga paling suka menabuh rebab sehingga diberikan gelar “di dalam rebab tersimpan pedang, di tengah pedang bersuarakan rebab”. Dari itu bila persahabatan Lau Cing-hong dengan Kik Yang itu diawali dengan main musik, hal ini memang cukup masuk di akal. Hui Pin lantas berkata pula, “Tentang persahabatanmu dengan gembong Mo-kau itu dalam seni musik, hal ini sudah diselidiki Co-bengcu dengan jelas. Kata Bengcu kita, setiap orang Mo-kau mempunyai tipu muslihat tertentu. Mereka tahu sesudah perserikatan Ngo-gak-kiam-pay kita, pasti kekuatan kita akan bertambah besar dan sukar dilawan oleh Mo-kau. Sebab itulah dengan segala daya upaya pihak Mo-kau berusaha hendak memecah belah dan mengadu domba kita, segala akal licik dapat pula dijalankan oleh mereka. Terhadap kaum muda kita sering pula mereka pancing dengan wanita cantik. Terhadap tokoh sebagai Lau-suheng yang hidupnya serbakecukupan, mereka lantas berusaha mendekati kegemaranmu dalam hal seni musik dan tugas ini telah diserahkan kepada Kik Yang. Untuk ini hendaklah Lau-suheng suka menggunakan pikiran secara dingin, sudah berapa banyak saudara-saudara kita yang telah menjadi korban keganasan pihak Mo-kau? Mengapa engkau kena dikelabui mereka dengan akal-akal licik itu dan tanpa sadar sedikit pun?” “Benar, apa yang dikatakan Hui-sute memang tidak salah,” demikian Ting-yat Suthay menimbrung. “Ditakutinya Mo-kau bukanlah lantaran ilmu silat mereka yang keji, tapi adalah macam-macam tipu muslihat mereka yang licik dan sukar diterka itu. Lau-sute, engkau adalah orang baik-baik, kalau tanpa sadar kena ditipu juga tidak menjadi soal. Biarlah kita bersama-sama turun tangan dan membunuh gembong Mo-kau yang bernama Kik Yang itu, maka segala urusan akan menjadi beres. Ngo-gak-kiam-pay kita selamanya senapas dan sehaluan, jangan sekali-kali kena diadudombakan oleh Mo-kau sehingga saling bertengkar sendiri.” “Ya, Lau-sute, seorang laki-laki sejati bila tahu akan kesalahan sendiri dan mau memperbaiki, hal ini bukanlah sesuatu yang mesti diributkan,” ujar Thian-bun Tojin. “Asalkan sekali tebas kau binasakan gembong Mo-kau she Kik itu, maka kawan-kawan dari dunia persilatan akan tetap memuji ketegasanmu sebagai seorang kesatria yang bijaksana. Sebagai kawanmu kami pun akan ikut merasa bangga.” Lau Cing-hong ternyata tidak menjawabnya, sinar matanya beralih ke arah Gak Put-kun. Katanya, “Gak-toako, engkau adalah seorang laki-laki yang bijaksana, para kawan-kawan terhormat dari Bu-lim yang hadir di sini sama mendesak aku menjual kawan, kalau menurut pendapatmu bagaimana baiknya?” “Lau-hiante,” sahut Gak Put-kun, “jika benar-benar demi sahabat, sebagai kaum Bu-lim kita ini biarpun leher putus demi membela kawan juga tidak menjadi soal. Namun gembong Mo-kau she Kik itu terang adalah manusia palsu mulutnya, tapi hatinya berbisa. Dia sengaja mendekati Lau-hiante dan mengikuti kegemaranmu dalam seni musik untuk melaksanakan tipu muslihatnya yang keji. Bila manusia demikian juga kau anggap sebagai sahabat, bukankah kata-kata ’sahabat’ akan ternoda? Manusia iblis demikian masakah kau anggap sebagai sahabat karib segala?” “Itu dia, apa yang diucapkan Gak-siansing memang tegas dan tepat,” demikian orang banyak menanggapi. “Kita harus dapat membedakan antara kawan dan lawan. Terhadap kawan kita memang harus setia, tapi terhadap lawan kita tidak kenal ampun, apalagi bicara tentang setia kawan pula?” Lau Cing-hong menghela napas. Ia tunggu sesudah suara orang banyak rada tenang kembali barulah bicara dengan perlahan, “Sejak mulai bersahabat dengan Kik-toako sudah kuduga akan terjadi seperti hari ini. Melihat gelagatnya akhir-akhir ini, kutaksir tidak lama lagi Ngo-gak-kiam-pay kita tentu akan terjadi suatu pertarungan habis-habisan dengan Mo-kau. Di satu pihak adalah para saudara serikat sendiri, di lain pihak adalah sahabat karib pula sehingga sukar bagiku untuk menentukan pihak mana harus dibantu. Lantaran itulah aku mencari jalan dengan mengadakan upacara ‘cuci tangan’ seperti sekarang ini, maksudku adalah untuk mengumumkan kepada para kawan kaum kita bahwa orang she Lau sejak kini telah mengundurkan diri dari dunia persilatan dan tidak ikut campur kepada segala persengketaan orang Kangouw, harapanku adalah supaya dapat hidup bebas tenteram dan tidak tersangkut di dalam permusuhan dan bunuh-membunuh. Tujuanku membeli suatu pangkat sekecil ini juga hanya untuk menghindarkan diri dari kesukaran, padahal pangkat sekecil ini sesungguhnya cuma membikin cemar namaku saja. Siapa duga Co-bengcu memang benar-benar mahasakti, langkah yang kuambil ini toh tetap susah mengelabui dia.” Mendengar keterangannya ini barulah para kesatria mengerti duduknya perkara. Kiranya dia mengadakan upacara “cuci tangan di baskom emas” ini sebenarnya mempunyai maksud tujuan sejauh ini. Pantas orang heran masakah seorang tokoh terkemuka dari Heng-san-pay sudi menjabat pangkat sekecil itu. Hui Pin juga saling pandang sekejap dengan kedua Suhengnya, yaitu Ting Tiong dan Liok Pek, mereka merasa puas karena Ciangbun-suheng mereka telah berhasil mengetahui maksud tujuan Lau Cing-hong itu dan keburu merintangi tepat pada waktunya. Maka terdengar Lau Cing-hong sedang menyambung pula, “Tentang permusuhan antara Mo-kau dan golongan kita memang sudah sangat lama dan berlarut-larut, siapa yang benar dan siapa yang salah juga sukar untuk diceritakan. Yang kuharap hanyalah melepaskan diri dari persengketaan berdarah ini, selanjutnya biar hidup tenteram sebagai rakyat yang patuh kepada undang-undang negara dan menghibur diri dengan meniup seruling. Kurasa cita-citaku ini toh tidak sampai melanggar peraturan perguruan sendiri atau perjanjian antara Ngo-gak-kiam-pay kita.” “Huh, enak saja kau bicara,” demikian Hui Pin mendengus. “Jika setiap orang meniru kau, melarikan diri di saat akan menghadapi musuh, maka dunia ini pasti akan celaka dan dikuasai oleh kaum iblis. Kau sendiri ingin melepaskan diri dari segala persoalan, tapi gembong Mo-kau she Kik itu apakah juga mau berlaku seperti kau?” Cing-hong tersenyum, jawabnya, “Di hadapanku Kik-toako sudah bersumpah kepada cikal bakal Mo-kau mereka untuk selanjutnya biarpun apa yang terjadi antara Mo-kau dengan kaum persilatan kita, maka Kik-toako sama sekali tak mau ikut campur lagi. Asal orang tidak mengusiknya, maka dia pun takkan mengganggu orang.” “Hahaha! Bagus amat istilah ‘asal orang tidak mengusiknya, maka dia pun takkan mengganggu orang’,” dengus Hui Pin dengan tertawa. “Lalu bagaimana apabila kaum kita yang mengganggunya?” “Kik-toako sudah menyatakan bahwa beliau akan mengalah sedapat mungkin,” sahut Lau Cing-hong, “sekali-kali beliau takkan main menang-menangan dan bertempur dengan orang, bahkan akan berusaha sekuatnya untuk menghindarkan salah paham kedua pihak. Kemarin juga Kik-toako telah mengirim berita padaku bahwa murid Hoa-san-pay yang bernama Lenghou Tiong telah dilukai orang, jiwanya dalam keadaan bahaya, tapi beliau telah memberi pertolongan seperlunya.” Ucapan ini kembali membikin gempar para hadirin, lebih-lebih bagi orang-orang Hoa-san-pay, Hing-san-pay, dan Jing-sia-pay. Dengan cepat Gak Leng-sian, itu putri Gak Put-kun, lantas bertanya, “Lau-susiok, di manakah Lenghou-suko berada sekarang? Apakah … apakah benar dia telah ditolong oleh …oleh Locianpwe she Kik itu?” “Jika begitu ucapan Kik-toako, rasanya tentu benar adanya,” sahut Lau Cing-hong. “Untuk jelasnya boleh kau tanya Lenghou-hiantit sendiri bila kelak kau bertemu dengan dia.” “Huh, buat apa mesti mengherankan hal-hal begitu?” ejek Hui Pin. “Orang-orang Mo-kau memang paling pandai memecah belah dan mengadu domba, segala tipu akal yang licik dapat dilakukan oleh mereka. Dengan segala daya upaya ia telah memelet murid Hoa-san-pay. Boleh jadi lantaran itu Lenghou Tiong menjadi merasa terima kasih dan ingin membalas budi pertolongannya itu. Bukan mustahil sejak kini Ngo-gak-kiam-pay kita telah bertambah lagi seorang pengkhianat.” Mendadak alis Lau Cing-hong menegak, tanyanya dengan angkuh, “Hui-suheng, kau mengatakan sejak kini telah ‘bertambah lagi’ seorang pengkhianat. Apa maksudmu dengan kata-kata ‘bertambah lagi’ itu?” “Siapa yang berbuat, dia harus tahu sendiri, apa perlu aku jelaskan pula?” sahut Hui Pin. “Hm, jadi secara langsung kau menuduh orang she Lau ini telah menjadi pengkhianat?” tanya Lau Cing-hong. “Aku berkawan dengan siapa saja adalah urusan pribadiku, orang luar tidak berhak untuk ikut campur. Selamanya Lau Cing-hong tidak merasa mengkhianati kawan dan mendurhakai perguruan, maka istilah ‘pengkhianat’ itu biarlah aku aturkan kembali kepadamu.” Tadinya sikap Lau Cing-hong tampaknya ramah tamah sebagaimana layaknya seorang hartawan terhadap tamunya, tapi sekarang mendadak sorot matanya memancarkan sinar yang tajam, sikapnya gagah berani. Walaupun berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan toh dia tetap mengadu mulut dengan tidak kalah tajamnya dengan Hui Pin, mau tak mau para hadirin merasa kagum juga terhadap ketabahannya. “Jika demikian, jadi sudah terang Lau-suheng tidak mau memilih jalan pertama dan tegas-tegas tidak mau membinasakan gembong she Kik dari Mo-kau itu?” Hui Pin menegas. “Bila memang sudah ada perintah dari Co-bengcu, tiada halangannya sekarang juga Hui-suheng turun tangan untuk membunuh segenap keluargaku,” sahut Lau Cing-hong. “Huh, jangan kau mentang-mentang ada sekian banyak kesatria-kesatria dari segenap penjuru sedang bertamu di rumahmu ini dan mengira Ngo-gak-kiam-pay kami akan merasa jeri, lalu tidak berani mengadakan pembersihan kepada kaum pengkhianat?” demikian jengek Hui Pin. Mendadak ia memberi tanda kepada Su Ting-tat dan berseru, “Coba kemari!” Su Ting-tat mengiakan sambil melangkah maju. Hui Pin mengambil panji pancawarna itu dari tangan Su Ting-tat, lalu diangkat tinggi-tinggi ke atas sambil berseru, “Dengarkanlah Lau Cing-hong! Atas perintah Co-bengcu, jika kau tidak mau berjanji untuk membunuh Kik Yang di dalam waktu sebulan, maka terpaksa Ngo-gak-kiam-pay harus segera mengadakan pembersihan di antara anggota-anggotanya sendiri untuk menghindarkan bencana di kemudian hari. Babat rumput harus sampai akar-akarnya, sedikit pun tidak kenal ampun. Untuk ini hendaklah kau pikirkan lagi semasak-masaknya!” Lau Cing-hong tersenyum pedih, jawabnya, “Orang she Lau ini mencari sahabat, yang diutamakan adalah kecocokan lahir batin satu sama lain, mana boleh sahabat sendiri dibunuh demi untuk menyelamatkan diri sendiri? Jikalau Co-bengcu sudah pasti tidak dapat memaafkan, apa mau dikata lagi, terserahlah kepada kebijaksanaan Co-bengcu saja, masakah orang she Lau yang tidak punya pengaruh apa-apa berani melawannya? Memangnya segala apa sudah diatur oleh Ko-san-pay kalian, boleh jadi peti mati bagiku mungkin juga sudah kalian sediakan. Kalau mau turun tangan boleh silakan saja, mau tunggu kapan lagi?” Mendadak Hui Pin mengebaskan panji kebesarannya, serunya dengan suara lantang, “Para Suheng dan Sute dari Thay-san-pay, Hoa-san-pay, Hing-san-pay dan Heng-san-pay, menurut pesan dari Co-bengcu, selamanya antara Cing-pay dan Sia-pay (golongan baik dan jahat) tidak pernah hidup bersama. Mo-kau dan Ngo-gak-kiam-pay kita telah mengikat permusuhan sedalam lautan. Sekarang Lau Cing-hong dari Heng-san-pay bersahabat dengan kaum penjahat dan menggabungkan diri kepada musuh, setiap anggota Ngo-gak-kiam-pay kita harus membunuhnya bersama-sama. Siapa yang tunduk kepada perintah Co-bengcu ini hendaklah berdiri ke sisi kiri.” Tertampaklah Thian-bun Tojin yang pertama-tama berbangkit dan berjalan ke sebelah kiri dengan langkah lebar tanpa menoleh sekejap pun kepada Lau Cing-hong. Kiranya gurunya Thian-bun Tojin dahulu telah ditewaskan oleh seorang gembong wanita dari Mo-kau. Sebab itulah bencinya terhadap Mo-kau boleh dikata merasuk tulang sumsum. Maka begitu dia menyisihkan diri ke sebelah kiri, segera anak muridnya juga ikut ke sebelah sana. Orang kedua yang berbangkit adalah Gak Put-kun, katanya, “Lau-hiante, asal kau manggut saja, maka orang she Gak ini akan mewakilkan kau membereskan Kik Yang itu. Kau bilang seorang jantan jangan sekali-kali mengkhianati sahabat. Apakah di dunia ini hanya Kik Yang seorang saja adalah sahabatmu? Apakah orang-orang Ngo-gak-kiam-pay kita dan para kesatria yang hadir di sini bukanlah sahabatmu? Ratusan, ribuan sahabat dari kalangan persilatan ini begitu mendengar engkau hendak mengundurkan diri dari dunia persilatan, serentak mereka lantas datang dari tempat jauh untuk mengucapkan selamat kepadamu dengan segala ketulusan hati. Apakah tindakan mereka ini belum dapat dianggap sebagai sahabat? Sekalipun Kik Yang itu mahir memetik kecapi, apa karena itu lalu jiwa segenap keluargamu serta persahabatan antara Ngo-gak-kiam-pay kita dan kawan-kawan yang hadir di sini ini kurang berharga daripada persahabatan dengan Kik Yang seorang?” Perlahan-lahan Lau Cing-hong menggeleng kepala, sahutnya, “Gak-suheng, engkau adalah orang terpelajar dan tentu tahu apa yang pantas dilakukan seorang laki-laki sejati dan apa yang tidak patut diperbuat. Nasihatmu yang baik ini kuterima juga dengan rasa terima kasih. Akan tetapi orang lain memaksa aku membunuh Kik-toako, hal ini sekali-kali tidak dapat kulakukan, sama halnya bila ada orang yang memaksa aku membunuh engkau Gak-suheng atau salah seorang sahabat yang hadir ini, biarpun seluruh anggota keluargaku tertimpa bencana juga takkan kulakukan. Kik-toako adalah sahabatku yang paling karib, hal ini sudah terang, tapi Gak-suheng juga sahabat baikku. Dan bila Kik-toako sampai membuka suara bermaksud mencelakai salah seorang sahabatku dari Ngo-gak-kiam-pay, maka perbuatannya itu tentu akan kupandang hina dan takkan menganggapnya sebagai sahabat lagi.” Karena ucapan Lau Cing-hong ini sangat sungguh-sungguh dan tulus kedengarannya, mau tak mau tergerak juga perasaan para kesatria. Maklumlah orang-orang persilatan paling mengutamakan budi setia antarkawan. Sedemikian tegas Lau Cing-hong membela Kik Yang, diam-diam para kesatria merasa gegetun juga akan jiwa luhur tokoh Heng-san-pay itu. “Lau-hiante,” ujar Gak Put-kun, “ucapanmu ini terang tidak betul. Lau-hiante mengutamakan setia kawan, hal ini memang mengagumkan. Tapi untuk itu juga harus dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, antara yang betul dan yang salah. Selama ini Mo-kau telah banyak berbuat kejahatan, tidak sedikit orang Kangouw yang baik-baik telah menjadi korban keganasannya, begitu pula rakyat jelata yang tak berdosa. Lau-hiante sendiri hanya karena merasa cocok dan sepaham dalam hal main musik lantas segenap jiwa anggota keluargamu juga kau pertaruhkan untuknya. Rasanya engkau telah salah mengartikan ’setia kawan’ yang kau junjung tinggi itu.” Lau Cing-hong tersenyum hambar, katanya, “Gak-toako, engkau tidak suka seni suara, makanya tidak paham maksudku yang mendalam. Hendaklah maklum bahwa dalam ucapan dan kata-kata, orang dapat berdusta dan membohong, tapi suara musik, suara kecapi dan seruling adalah suara hati yang tidak dapat dipalsukan atau dibikin-bikin. Kik-toako bersahabat dengan aku berdasarkan perpaduan suara kecapi dan seruling, jiwa kami telah saling mengikat, aku bersedia menanggungnya dengan segenap jiwa anggota keluargaku bahwa Kik-toako meski betul adalah orang Mo-kau, tapi beliau sedikit pun tidak berbau jahat seperti orang Mo-kau yang lain.” Gak Put-kun menghela napas panjang, dia tidak bicara lagi terus berjalan ke sebelah Thian-bun Tojin. Segera Lo Tek-nau, Gak Leng-sian, Liok Tay-yu dan lain-lain mengikuti jejak sang guru. Sekarang bergilir atas diri Ting-yat Suthay, dengan tajam ia menatap Lau Cing-hong. Katanya, “Selanjutnya aku tetap memanggil Lau-hiante padamu atau menyebut Lau Cing-hong saja?” Lau Cing-hong tersenyum getir, sahutnya, “Jiwa orang she Lau ini hanya tergantung sekejap lagi, selanjutnya Suthay tiada sempat memanggil padaku pula.” Ting-yat Suthay merangkap tangannya dan menyebut Buddha, lalu perlahan-lahan berjalan ke sebelah Gak Put-kun dengan diikuti oleh anak muridnya. “Urusan ini hanya menyangkut Lau Cing-hong seorang,” sahut Hui Pin kemudian, “maka tiada sangkut pautnya dengan murid-murid Heng-san-pay yang lain-lain. Para murid Heng-san-pay yang tidak ikut membantu kejahatan dan mau sadar kembali boleh berdiri semua ke sebelah kiri.” Suasana di ruangan sidang menjadi sunyi senyap. Selang sejenak, seorang laki-laki setengah umur telah berseru, “Lau-supek, maafkanlah kepada kami!” Lalu ada belasan murid Heng-san-pay menyingkir dan berdiri di sebelah Ting-yat Suthay. Mereka adalah murid keponakan Lau Cing-hong. Sedangkan tokoh Heng-san-pay angkatan tua yang sebaya dengan Lau Cing-hong kali ini tidak ada yang datang. “Murid keluarga Lau sendiri disilakan juga berdiri ke sisi kiri!” seru Hui Pin pula. Tapi Hiang Tay-lian lantas berseru lantang, “Kami telah menerima budi besar dari perguruan, bilamana Suhu ada kesukaran, sudah seharusnya kami ikut memikul tanggung jawab. Kini para murid keluarga Lau bertekad sehidup semati dengan Suhu.” “Bagus! Bagus!” kata Lau Cing-hong dengan air mata bercucuran saking terharunya. “Tay-lian, dengan ucapanmu ini kau sudah cukup berbakti kepada gurumu. Bolehlah kalian berdiri ke sebelah sana saja. Suhu sendiri yang berbuat, sedikit pun tiada sangkut pautnya dengan kalian.” “Sret”, mendadak Bi Wi-gi melolos pedang. Serunya, “Para murid keluarga Lau sudah tentu bukan tandingan Ngo-gak-kiam-pay. Tapi urusan hari ini tiada pilihan lain kecuali menghadapi dengan kematian. Siapa yang berani mengganggu guru kami boleh silakan membunuh dulu orang she Bi ini!” Habis berkata ia terus berdiri di depan Lau Cing-hong dengan gagah berani. “Huh, mutiara sebesar beras juga mau coba-coba bersinar?” ejek Hui Pin. Mendadak tangan kirinya bergerak, “crit”, sejalur sinar perak yang kecil terus menyambar ke depan secepat kilat. Lau Cing-hong terkejut, cepat ia tolak lengan kanan Bi Wi-gi sehingga murid itu terlempar ke samping dengan sempoyongan, sedangkan sinar perak itu terus menyambar ke dada Lau Cing-hong. Lantaran ingin melindungi sang guru, tanpa pikir Hiang Tay-lian terus menubruk maju. Maka terdengarlah jeritannya yang ngeri, sinar perak yang berwujud jarum itu tepat menancap di tengah ulu hatinya. Kontan ia roboh dan binasa. Dengan tangan kirinya, Lau Cing-hong masih sempat merangkul tubuh muridnya itu. Ia coba periksa pernapasannya dan ternyata sudah putus. Ia menoleh dan berkata kepada Ting Tiong, “Lo-loji, adalah Ko-san-pay kalian yang lebih dulu membunuh muridku!” “Benar,” sahut Ting Tiong. “Memang kami yang turun tangan lebih dulu. Lalu kau mau apa?” Mendadak Lau Cing-hong angkat jenazah Hiang Tay-lian terus dilemparkan ke arah Ting Tiong. Melihat tenaga lemparannya itu, Ting Tiong tahu Lwekang Heng-san-pay memang mempunyai keistimewaannya sendiri, apalagi Lau Cing-hong adalah tokoh terkemuka dari Heng-san-pay, tentu tenaga yang digunakan tidak boleh dipandang enteng. Maka diam-diam ia pun menghimpun tenaga dan siap menyambut datangnya tubuh tak bernyawa itu untuk kemudian akan dilemparkan kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: