Hina Kelana: Bab 21. Rahasia Lau Cing-hong Mengundurkan Diri dari Dunia Persilatan

Tak terduga, begitu bertemu, Gak Put-kun terus memberi salam padanya dan berkata, “Ih-koancu, sudah lama tak bertemu, tampaknya menjadi makin gagah. Kabarnya Ih-koancu sudah berhasil meyakinkan ‘Ho-lui-kiu-siau-sin-kang’ yang tiada taranya, sungguh harus diberi selamat dan dipuji.” Ih Jong-hay terkejut, pikirnya, “Aku memang betul sudah selesai meyakinkan Ho-lui-kiu-siau-sin-kang, cuma kurang sedikit saja dalam hal keuletan. Jaringan berita tua bangka she Gak ini benar-benar sangat luas.” Tapi ia pun merasa bangga karena orang lain mengetahui kepandaiannya itu, segera ia menjawab, “Ah, memang sudah lama aku melatih Kiu-siau-sin-kang, tapi masih belum dapat dikatakan sudah matang.” Thian-bun Tojin, Ting-yat Suthay dan lain-lain ikut terkesiap. Mereka tahu Kiu-siau-sin-kang yang disebut itu adalah ilmu silat yang sangat dibanggakan Jing-sia-pay, selama ratusan tahun ini belum pernah terdengar ada tokoh Jing-sia-pay yang berhasil meyakinkan ilmu silat itu, siapa duga Tojin kerdil ini diam-diam telah berhasil melatihnya, pantas selama beberapa hari ini dia sangat garang dan takabur, kiranya memang mempunyai andalan. Di tengah pembicaraan mereka, berturut-turut banyak tamu telah datang pula dari berbagai tempat. Hari ini adalah hari resmi Lau Cing-hong akan mengadakan upacara “Kim-bun-swe-jiu” atau cuci tangan di baskom emas, maka mendekati tengah hari, lebih dulu Lau Cing-hong telah mengundurkan diri untuk bersiap-siap, hanya anak muridnya saja yang bertugas menyambut tamu. Menjelang tengah hari, kembali ada ratusan tamu yang membanjir pula, di antaranya terdapat Thio Kim-gok, wakil ketua Kay-pang; He-kolunsu bersama tiga orang menantunya dari Liok-hap-bun di The-ciu; Thi-lolo, si nenek besi yang tinggal di Sin-li-hong, puncak dewi di daerah Sucwan; Phoa Kong, pemimpin Hay-soa-pang, gerombolan bajak di lautan timur; Sin-to Pek Khik dan Sin Pit Lo Se-su, dua sekawan dari Tiamjong yang terkenal dengan julukan golok sakti dan potlot sakti itu. Kebanyakan di antara jago-jago dan gembong-gembong itu belum saling mengenal, kedatangan mereka hanya ingin melihat ramai-ramai saja. Thian-bun Tojin dan Ting-yat Suthay enggan bergaul dengan orang lain, mereka berdiam saja di kamarnya masing-masing. Mereka anggap Lau Cing-hong terlalu tidak tahu diri, masakah orang Ngo-gak-kiam-pay bergaul dengan orang-orang Kangouw yang tak keruan itu? Hanya Gak Put-kun saja meski namanya “Put-kun” (tidak suka bergaul), tapi sifatnya sebenarnya suka bersahabat. Banyak di antara tetamu itu mendekati dan ajak bicara padanya, tanpa pandang bulu sedikit pun Gak Put-kun melayani mereka dengan baik, sama sekali tidak berlagak sebagai seorang ketua Hoa-san-pay yang angkuh. Sementara itu para murid Lau Cing-hong sudah menyiapkan 200-an meja perjamuan. Ipar Lau Cing-hong yang bernama Pui Jian-ki dan murid Lau Cing-hong sendiri seperti Hiang Tay-lian, Bi Wi-gi dan lain-lain sibuk menyilakan para tamu mengambil tempat duduk sendiri-sendiri. Menurut peraturan Bu-lim, tokoh yang mempunyai nama dan kedudukan tertinggi sebagai ketua Thay-san-pay, Thian-bun Tojin yang pantas duduk di tempat utama. Cuma di antara Ngo-gak-kiam-pay sudah berserikat, Thian-bun merasa sungkan terhadap Gak Put-kun, Ting-yat dan lain-lain, maka mereka saling mengalah untuk tempat duduk yang terhormat itu. Selagi mereka sama sungkan menduduki tempat utama itu, tiba-tiba terdengar suara gembreng dan tambur ditabuh ramai, dari jauh terdengar pula suara bentakan-bentakan minta jalan, terang ada kaum pembesar yang akan lewat. Sedang para hadirin terheran-heran, tertampak Lau Cing-hong bergegas-gegas keluar dengan memakai jubah sulam baru. Selang tak lama tertampak tuan rumah itu sudah masuk kembali mengiringi seorang pembesar. Diam-diam para kesatria heran. “Apakah barangkali pembesar ini juga seorang tokoh Bu-lim?” Tapi dari mukanya yang pucat dan jalannya yang lemah jelas tertampak bukanlah seorang yang mahir ilmu silat. Gak Put-kun dan sebagian tamu lain mengira pembesar ini adalah penguasa setempat yang sengaja datang mengucapkan selamat kepada Lau Cing-hong yang terkenal sebagai seorang hartawan di kota Heng-san. Maka mereka tidak terlalu heran. Di luar dugaan, pembesar itu tampak melangkah masuk dengan angkuhnya, segera ia berdiri di tengah-tengah ruangan. Seorang pengawalnya lantas berlutut di sebelahnya dengan kedua tangannya menyanggah sebuah nampan beralaskan sutera kuning, di tengah nampan itu terletak segulungan kertas. Pembesar itu lantas mengambil gulungan kertas itu dan berseru, “Ada titah dari Sri Baginda, hendaklah Lau Cing-hong menyambut segera!” Para kesatria terperanjat. Mereka tidak tahu ada hubungan apa antara maksud Lau Cing-hong hendak “cuci tangan” dan mengasingkan diri itu dengan pihak pemerintah? Mengapa mendadak datang titah raja? Apa barangkali Lau Cing-hong bermaksud memberontak dan telah diketahui? Jika demikian halnya tentu dosanya tak terampunkan lagi. Terpikir demikian, serentak para hadirin berbangkit sambil meraba senjata masing-masing. Mereka menduga dengan kedatangan pembesar yang membawa titah raja itu tentu pula membawa serta pasukan dan suatu pertempuran besar pasti sukar dihindarkan lagi. Daripada mati konyol mau tak mau mereka harus ikut bertempur mati-matian. Asal Lau Cing-hong memberi tanda, segera mereka akan bergerak dan lebih dulu membereskan pembesar itu. Siapa tahu Lau Cing-hong ternyata tenang-tenang saja, bahkan tampak sangat senang. Malahan tuan rumah itu lantas tekuk lutut dan menyembah ke arah pembesar itu sambil berseru, “Hamba Lau Cing-hong siap menerima titah dengan hormat dari Sri Baginda!” Melihat keadaan demikian, semua orang menjadi melenggong. Sementara itu pembesar tadi sudah membentang gulungan kertas dan membaca, “Berdasarkan laporan dan usul gubernur Oulam, bahwa penduduk Heng-san-koan bernama Lau Cing-hong banyak berjasa bagi kesejahteraan dan mahir ilmu silat pula, maka dengan ini dianugerahi dengan pangkat Canciang (perwira setingkat letnan).” Segera Lau Cing-hong menyembah pula beberapa kali sambil mengucapkan terima kasih kepada Sri Baginda. Setelah bangun kembali, tidak lupa ia pun memberi hormat kepada pembesar itu. “Selamat, selamat! Untuk selanjutnya Lau-ciangkun adalah sesama pejabat, maka tidak perlu saling sungkan lagi,” demikian pembesar itu tertawa. “Untuk selanjutnya masih diharapkan bantuan Thio-tayjin,” ujar Lau Cing-hong. Lalu ia berpaling kepada Pui Jian-ki, “Pui-hiante, di manakah oleh-oleh untuk Thio-tayjin?” Pui Jian-ki mengiakan terus membawakan sebuah nampan bundar, di tengah nampan terdapat sebuah bungkusan dari kain sutera. Lau Cing-hong ambil bungkusan itu dan diangsurkan dengan hormat kepada pembesar she Thio itu, katanya dengan tertawa, “Sedikit oleh-oleh ini harap Thio-tayjin sudi menerima dengan suka hati.” “Ah, saudara sendiri, buat apa Lau-tayjin mesti banyak adat segala,” ujar pembesar she Thio itu dengan tertawa-tawa. Lalu ia mengedipi seorang pengiringnya yang segera mewakilkan menerima bungkusan itu. Dari cara mengangkat bungkusan itu yang tampaknya agak antap bobotnya itu, si pembesar Thio lantas tahu isinya tentu bukan perak, tapi adalah emas murni. Ia merasa puas, dengan berseri-seri ia berkata pula, “Untuk urusan dinas Siaute tak dapat tinggal lama-lama di sini. Marilah kita minum tiga cawan, semoga Lau-ciangkun lekas naik pangkat pula.” Dalam pada itu para pelayan sudah lantas menuang arak. Thio-tayjin mengangkat cawan tiga kali dengan tuan rumah, lalu mohon diri. Dengan muka berseri-seri Lau Cing-hong mengantar tamu keluar. Maka terdengarlah suara tambur dan gembreng berbunyi pula bergemuruh, iring-iringan pembesar itu sudah berangkat. Adegan yang terjadi itu benar-benar di luar dugaan setiap hadirin. Keruan banyak di antaranya saling pandang tanpa bicara, ada yang heran dan ada yang mencemoohkan. Maklum, para tamu yang hadir di rumah Lau Cing-hong itu meski bukan golongan penjahat dan juga kaum pemberontak, tapi pada umumnya mereka cukup mempunyai nama baik di dunia persilatan, semuanya adalah tokoh-tokoh yang tinggi hati, biasanya tidak pandang sebelah mata kepada kaum pembesar negeri. Sekarang melihat Lau Cing-hong terima menghambakan diri kepada kerajaan dan mendapatkan suatu pangkat kecil sebagai “Canciang”, lalu sikap orang she Lau yang kelihatan sangat senang dan amat terima kasih, maka para kesatria lantas mencemoohkan martabatnya yang rendah itu. Bahkan banyak di antara hadirin itu anggap pangkat itu pasti diperoleh Lau Cing-hong dengan membeli. Padahal mereka kenal Lau Cing-hong sebagai orang yang jujur, sungguh tidak nyana sampai hari tuanya lantas timbul rasa kemaruk akan kedudukan dan pangkat segala. Begitulah, lalu Lau Cing-hong mendekati para tamunya pula, dengan riang gembira ia minta para tamu ke tempat duduknya masing-masing. Tapi tiada seorang pun yang mau menduduki tempat utama sehingga kursi besar di tengah-tengah itu tetap kosong. Tempat kedua sebelah kiri diduduki oleh wakil Pangcu dari Kay-pang, Thio Kim-gok. Tamu-tamu yang lain juga lantas mengambil tempat duduk masing-masing, para pelayan segera menyuguhkan minuman. Sejenak kemudian Hiang Thay-lian telah menaruh sebuah meja kecil di tengah ruangan dengan taplak meja kain sutera sulam. Pui Jian-ki juga membawa keluar sebuah baskom emas yang gemilapan dan ditaruh di atas meja. Baskom itu sudah penuh terisi air bersih. Menyusul di luar pintu terdengar tiga kali suara petasan yang keras, lalu ramai pula suara petasan lain yang lebih kecil. Dengan tertawa-tawa Lau Cing-hong lantas maju ke tengah, ia memberi salam hormat kepada sekalian tamu. Para kesatria cepat berbangkit untuk membalas hormat. “Para kesatria angkatan tua, para sahabat, para hadirin yang terhormat,” demikian Lau Cing-hong mulai dengan kata sambutannya. “Sungguh aku merasa sangat berterima kasih atas kunjungan kalian ini. Hari ini aku mengadakan upacara cuci tangan di baskom emas dan untuk selanjutnya takkan ikut campur pula mengenai urusan orang Kangouw, untuk ini tentu para hadirin sudah tahu akan sebab musababnya. Sebagai pejabat pemerintah sebagaimana para hadirin telah saksikan tadi, terpaksa aku harus taat kepada undang-undang dan pegang teguh disiplin. Sebaliknya orang Kangouw biasanya bicara tentang setia kawan. Jika di antara kedua pihak terjadi persengketaan, sebagai pejabat pemerintah tentu aku akan serbasulit. Maka sejak kini aku menyatakan mengundurkan diri dari dunia persilatan, bilamana murid-muridku ada yang mau masuk ke perguruan lain boleh silakan dengan bebas. “Adapun maksudku mengundang kalian kemari adalah untuk ikut bantu menjadi saksi. Kelak bila para sahabat datang ke kota Heng-san sini sudah tentu masih tetap menjadi sahabatku, hanya saja mengenai seluk-beluk dan persengketaan orang Bu-lim aku tidak ikut campur lagi.” Habis berkata kembali ia memberi hormat kepada para tamunya. Apa yang diuraikan Lau Cing-hong itu memang sudah diduga oleh semua orang. Pikir mereka, “Jika dia sudah kemaruk menjadi pembesar, ya apa mau dikata lagi. Setiap orang mempunyai cita-citanya sendiri dan tidak dapat dipaksakan oleh orang lain. Biarlah anggap dunia persilatan selanjutnya tiada terdapat tokoh sebagai dia dan masa bodohlah urusannya.” Namun ada juga yang berpendapat perbuatan Lau Cing-hong ini benar-benar sangat membikin malu Heng-san-pay, tentu ketua mereka, yaitu Bok-taysiansing, sangat marah makanya tidak tampak hadir. Ada pula yang berpikir tindakan Lau Cing-hong ini tentu juga akan merendahkan martabat Ngo-gak-kiam-pay yang biasanya tidak pernah tunduk kepada pihak pemerintah, mustahil tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay yang hadir di sini ini takkan menggugatnya? Begitulah, karena tiap-tiap orang sama tenggelam dalam pikiran sendiri-sendiri, maka suasana di ruangan itu menjadi sunyi senyap. Menghadapi kejadian tadi seharusnya para tamu beramai-ramai akan mengucapkan selamat bahagia kepada Lau Cing-hong dan memberi puji sanjung yang tinggi. Akan tetapi sekarang ribuan hadirin itu ternyata tiada seorang pun yang membuka suara. Lau Cing-hong juga tidak ambil pusing, segera ia berdiri menghadap keluar dan berseru lantang, “Tecu Lau Cing-hong telah banyak menerima budi kebaikan Suhu, selama ini tidak pernah berjasa dan ikut mengembangkan kebesaran Heng-san-pay kita, sungguh Tecu merasa sangat malu. Syukurlah perguruan sekarang ada di bawah pimpinan Bok-suko yang bijaksana sehingga berada atau berkurangnya seorang Lau Cing-hong tentu tidaklah berarti apa-apa. Sejak kini Lau Cing-hong menyatakan cuci tangan dan melepaskan diri dari pergaulan Kangouw, selanjutnya hanya mencurahkan pikiran dan tenaganya dalam jabatannya yang baru. Jika melanggar pernyataan ini biarlah pedang ini sebagai contoh.” Mendadak ia melolos pedang, sekali tekuk, “krak”, pedang itu patah menjadi dua. Ketika kedua potong pedang patah itu dibuangnya, “cret-cret” dua kali, potongan-potongan pedang patah menancap ke dalam jubin. Melihat itu terkejutlah semua orang. Dari suara menancapnya potongan pedang itu teranglah pedang itu adalah senjata tajam yang luar biasa. Adalah tidak mengherankan jika seorang tokoh sebagai Lau Cing-hong memiliki pedang pusaka sebagus itu. Tapi secara mudah saja ia telah patahkan pedang pusakanya, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat tenaga jarinya itu. “Wah, sayang, sayang!” demikian Bun-siansing sampai berseru. Entah yang dia sayangkan adalah pedangnya ataukah Lau Cing-hong yang rela menghambakan diri kepada kerajaan itu. Dengan tersenyum Lau Cing-hong lantas menyingsing lengan bajunya, segera tangannya hendak dimasukkan ke dalam baskom yang berisi air bersih itu. Tapi belum lagi tangannya menyentuh air, tiba-tiba di luar pintu ada suara orang membentak, “Nanti dulu!” Lau Cing-hong terkejut. Waktu berpaling, terlihatlah empat orang laki-laki berbaju kuning muncul dari luar. Begitu masuk keempat orang itu lantas berdiri di samping kanan dan kiri, menyusul seorang laki-laki lain yang bertubuh tinggi besar dan juga berbaju kuning melangkah masuk dengan bersitegang leher melalui barisan keempat kawannya itu. Pada tangan orang itu membawa sebuah panji pancawarna dengan penuh terhias mutiara dan batu permata sehingga mengeluarkan sinar gemilapan. Banyak di antara hadirin mengenal panji pancawarna itu, semuanya terkesiap dan membatin, “Panji kebesaran Ngo-gak-kiam-pay sudah datang juga!” Orang yang membawa panji itu langsung menghampiri Lau Cing-hong, sambil angkat tinggi-tinggi panjinya orang itu berseru, “Upacara ‘cuci tangan’ Lau-susiok ini diharap ditunda untuk sementara!” “Perintah Bengcu berdasarkan panji pimpinan sudah seharusnya akan kutaati,” sahut Lau Cing-hong sambil membungkuk. Tapi sejenak kemudian ia lantas menambahkan, “Tapi entah apa maksud Bengcu dengan menyampaikan perintah panji ini?” “Tecu cuma melaksanakan tugas belaka dan tidak tahu apa maksud perintah Bengcu ini, harap Lau-susiok sudi memaafkan,” sahut laki-laki itu. “Tidak perlu sungkan-sungkan,” kata Lau Cing-hong dengan tersenyum. “Kau ini adalah Jian-tiang-siong Su-hiantit bukan?” Walaupun sambil bersenyum, tapi suaranya juga rada gemetar. Terang kejadian ini datangnya terlalu mendadak sehingga membuat perasaannya terguncang. Laki-laki itu memang betul she Su bernama Ting-tat, murid Ko-san-pay yang berjuluk Jian-tiang-siong (pohon Siong seribu depa). Ia menjadi senang juga karena Lau Cing-hong mengenal nama dan julukannya. Dengan hormat ia menjawab pula, “Betul, Tecu Su Ting-tat menyampaikan sembah bakti kepada Lau-susiok.” Lalu ia pun berpaling dan memberi hormat kepada Thian-bun, Gak Put-kun, Ting-yat Suthay dan lain-lain dan berkata, “Anak murid dari Ko-san menyampaikan salam hormat kepada para Supek dan Susiok!” Serentak keempat kawannya tadi juga lantas memberi hormat. Ting-yat Suthay sangat senang, sambil membalas hormat ia berkata, “Gurumu telah tampil ke muka untuk merintangi persoalan ini, kurasa memang paling tepat. Menurut pendapatku, orang belajar silat sebagai kita harus hidup bebas merdeka dan mengutamakan setia kawan, buat apa mesti kemaruk menjadi pembesar negeri segala? Cuma tadi kulihat segala apa sudah diatur beres oleh Lau-hiante, biarpun kunasihatkan juga akan percuma, maka aku pun tidak suka banyak omong.” Lau Cing-hong merasa kehilangan muka juga. Segera ia berkata, “Dahulu Ngo-gak-kiam-pay kita telah berserikat untuk bantu-membantu dan menegakkan kebenaran dunia persilatan, bila terjadi sesuatu yang menyangkut kepentingan kelima aliran kita, maka kita harus tunduk kepada perintah Bengcu. Panji pimpinan pancawarna ini adalah simbol kelima aliran kita, melihat panji ini seperti melihat Bengcu, hal ini tidak boleh dibantah. Cuma urusan hari ini adalah urusan pribadiku, aku tidak melanggar iktikad kalangan persilatan, juga tiada sangkut pautnya dengan persoalan Ngo-gak-kiam-pay kita. Sekarang para sahabat yang hadir di sini boleh menjadi saksi, segala urusan di dunia ini tentu tak terlepas dari kebenaran, maka aku ingin minta keadilan kalian, urusan pribadiku tentunya tidak terikat di bawah perintah panji kebesaran Bengcu ini. Dari itu harap Su-hiantit suka melaporkan kepada gurumu bahwa aku tidak dapat menurut perintahnya ini, diharap Toasuheng suka memaafkan.” Habis berkata ia lantas mendekati baskom emas pula sambil menjulurkan tangannya. Tapi dengan cepat Su Ting-tat telah melompat maju dan mengadang di depan Lau Cing-hong, sambil mengangkat panji ke atas ia berkata, “Lau-susiok, Suhuku telah memberi pesan wanti-wanti agar Lau-susiok harus menunda maksud ‘Kim-bun-swe-jiu’ ini. Kata Suhu, ‘Ngo-gak-kiam-pay kita adalah senapas dan sehaluan laksana saudara sekandung’. Maksud Suhu mengirimkan panji pimpinan ini adalah untuk menjaga persahabatan Ngo-gak-kiam-pay kita yang kekal, juga demi menegakkan kebenaran dunia persilatan, berbareng juga demi kebaikan Lau-susiok sendiri.” “Hahaha! Aku menjadi kurang mengerti akan hal ini,” Lau Cing-hong tertawa. “Bila Toasuheng benar-benar mempunyai maksud baik demikian, mengapa sebelumnya tidak memberi nasihat dan mencegah, tapi menunggu pada saat aku menjamu tetamu barulah mengirimkan panji kebesarannya untuk merintangi maksudku, bukankah hal ini terang-terangan ingin membikin malu diriku di depan para kesatria?” “Menurut pesan Suhu, katanya Lau-susiok adalah seorang laki-laki sejati dari Heng-san-pay yang terkenal dan dihormati oleh setiap kaum kita, Suhu sendiri biasanya juga sangat kagum, maka Tecu dipesan jangan sekali-kali kurang sopan, kalau tidak tentu akan diberi hukuman setimpal. Maka dari itu, mengingat nama baik Lau-susiok di dunia Kangouw, rasanya tidaklah perlu mengkhawatirkan akan kemungkinan ditertawai orang segala,” demikian kata Su Ting-tat. “Ah, itu hanya pujian Bengcu yang berlebih-lebihan saja, dari mana aku mempunyai nama baik setinggi itu?” ujar Lau Cing-hong dengan tersenyum. Melihat pembicaraan kedua orang itu bertele-tele dan tiada kecocokan satu sama lain, dengan tak sabar Ting-yat Suthay lantas menyela, “Lau-hiante, urusanmu ini bagaimana kalau kau tunda saja sementara? Yang hadir sekarang ini adalah kawan baik semua, siapa lagi yang hendak menertawai kau? Andaikan ada seorang dua orang keparat yang tidak tahu diri berani olok-olok padamu, sekalipun Lau-hiante tidak sudi mengurusnya, biarlah dia menghadapi dulu padaku ini!” Habis bicara sinar matanya lantas menyapu sekeliling kepada para hadirin dengan sikap menantang. “Jika demikian juga pendapat Ting-yat Suthay, maka bolehlah urusan Cayhe ini kutunda sampai besok tengah hari,” kata Lau Cing-hong kemudian. “Para sahabat diharap jangan berangkat dulu, silakan menginap lagi semalam di sini, biarlah Cayhe berunding dulu lebih mendalam dengan para Hiantit dari Ko-san-pay.” “Banyak terima kasih kepada Lau-susiok,” kata Su Ting-tat sambil menurunkan panji kebesarannya dan memberi hormat. Tapi pada saat itu juga mendadak di ruangan belakang ada suara teriakan seorang wanita, “He, hei! Kau ini apa-apaan? Aku suka bermain dengan siapa kan urusanku sendiri, kenapa kau ikut-ikut campur?” Para hadirin sama melengak. Mereka kenal suara itu tak-lain tak-bukan adalah anak dara cilik yang bernama Kik Fi-yan alias Fifi yang kemarin baru saja mengocok Ih Jong-hay di depan orang banyak. Dalam pada itu terdengar pula suara seorang laki-laki sedang berkata, “Aku bilang kau harus tetap duduk di situ dan tak boleh sembarangan bicara dan bergerak. Sebentar lagi tentu akan melepaskan kau pergi.” “Hah, kan aneh! Memangnya apakah ini rumahmu?” demikian terdengar Fifi membantah. “Aku suka menangkap kupu-kupu bersama dengan Taci keluarga Lau, mengapa kau berani merintangi dan melarang kami?” Terdengar orang tadi menjawab, “Baiklah, jika kau mau pergi boleh silakan pergi sendiri, tapi nona Lau harus tunggu dulu di sini.” “Melihat kau saja Enci Lau lantas muak, maka sebaiknya kau lekas enyah saja dari sini,” demikian kata Fifi. “Selamanya Enci Lau tidak kenal kau, mengapa kau mengacau di sini?” Lantas terdengar suara seorang wanita lain berkata, “Sudahlah, jangan pedulikan dia, adik Fifi. Marilah kita berangkat saja.” Tapi mendadak laki-laki itu berkata, “Nona Lau, silakan kau tunggu sementara di sini dan jangan sembarangan bergerak.” Lau Cing-hong menjadi gusar mendengar percakapan itu, pikirnya, “Dari manakah datangnya bangsat yang kurang ajar itu dan berani main gila di rumahku, bahkan berani merecoki putriku si Cing-ji?” Dalam pada itu muridnya, yaitu Bi Wi-gi sudah memburu ke ruangan belakang. Maka tertampaklah Sumoaynya yang bernama Lau Cing itu bersama Kik Fi-yan sedang berdiri berendeng di depan pintu, seorang laki-laki berbaju hijau dengan pentang kedua tangan sedang merintangi jalan lalu mereka. Dari warna pakaiannya, Bi Wi-gi lantas kenal orang itu adalah murid Ko-san-pay. Keruan ia mendongkol. Ia mendehem satu kali, lalu berseru, “Suheng ini tentunya adalah kawan dari Ko-san-pay? Mengapa tidak duduk saja di ruangan tamu sana?” Waktu orang itu berpaling, kiranya adalah seorang pemuda berusia antara 27-28 tahun, tampaknya sangat tangkas dan kuat. Dia telah menjawab, “Terima kasih atas undanganmu. Atas perintah Bengcu, segenap keluarga Lau harus diawasi dan tidak boleh lolos seorang pun.” Kata-kata itu tidak terlalu keras ucapannya, tapi bernada sangat angkuh dan tegas. Keruan semua orang ikut terkesiap. Lau Cing-hong menjadi murka. Segera ia tanya Su Ting-tat, “Sebenarnya apa-apaan ini?” “Ban-sute,” segera Su Ting-tat berseru kepada laki-laki di ruangan dalam itu, “silakan keluar saja. Kalau bicara hendaklah hati-hati. Lau-susiok sudah menyanggupi akan menunda upacaranya.” “Ya, itulah yang paling baik,” sahut orang di dalam itu. Lalu muncul dari ruang belakang, ia membungkuk tubuh kepada Lau Cing-hong dan berkata, “Murid Ko-san-pay bernama Ban Tay-peng menyampaikan salam hormat kepada Lau-susiok.” Saking gusarnya badan Lau Cing-hong sampai gemetar. Dengan suara keras ia berseru, “Seluruhnya murid Ko-san-pay telah datang berapa banyak, boleh keluar saja semuanya!” Baru habis kata-katanya, mendadak terdengar suara berpuluh orang dari atas rumah, di luar pintu, di pojok ruangan, di samping rumah, semuanya bergema menyatakan, “Baik, para murid Ko-san-pay menyampaikan hormat kepada Lau-susiok.” Karena berpuluh orang berteriak sekaligus, suaranya keras dan di luar dugaan sehingga para kesatria ikut terkejut. Maka tertampaklah berpuluh orang telah maju ke depan, sebagian besar berbaju kuning, sebagian pula dalam keadaan menyamar, terang sejak tadi mereka sudah menyelundup ke tengah perjamuan itu dan diam-diam mengawasi gerak-gerik Lau Cing-hong. Ting-yat Suthay adalah orang pertama yang merasa penasaran, dengan suara keras ia berteriak, “Apakah artinya ini? Sungguh terlalu … terlalu menghina orang!” “Maafkan, Supek,” ujar Su Ting-tat. “Menurut perintah Suhu, katanya betapa pun Lau-susiok harus dicegah supaya jangan melangsungkan ‘cuci tangan’ ini. Karena khawatir Lau-susiok tidak mau tunduk kepada perintah, makanya telah banyak mengambil tindakan-tindakan yang kurang pantas.” Pada saat itu dari ruangan belakang muncul pula belasan orang. Mereka adalah istri Lau Cing-hong dan dua orang putranya yang masih muda serta beberapa orang murid keluarga Lau, di belakang setiap orang diikuti pula oleh seorang murid Ko-san-pay. Murid-murid Ko-san-pay itu semuanya membawa senjata dan mengancam di belakang nyonya Lau dan lain-lain. Kiranya anak murid Ko-san-pay itu diam-diam sudah menyusup ke ruangan belakang rumah Lau Cing-hong dan telah membikin nyonya Lau dan beberapa muridnya tak bisa berkutik dengan ancaman kekerasan. Malahan sikap Ban Tay-peng tadi terhadap putri Lau Cing-hong jauh lebih sopan, dia hanya memerintahkan nona Lau jangan sembarangan bergerak, tapi tidak mengancamnya dengan kekerasan. Dengan suara lantang Lau Cing-hong lantas berseru, “Para hadirin yang terhormat, bukanlah aku sengaja berkepala batu, soalnya Co-suheng telah mengancam diriku sedemikian rupa, jika orang she Lau lantas tunduk di bawah kekerasan, lalu ke mana lagi mukaku ini akan kutaruh? Co-suheng melarang aku ‘cuci tangan’, untuk ini, hehe, kepalaku boleh dipotong, tapi cita-citaku tidak nanti dipatahkan.” Habis bicara segera ia melangkah maju dan kedua tangannya hendak dimasukkan pula ke dalam baskom. “Tunggu dulu!” seru Su Ting-tat sambil mengebaskan panjinya serta mengadang di depan Lau Cing-hong. Mendadak tangan Lau Cing-hong menjulur ke depan, kedua jarinya lantas mencolok mata lawan. Lekas-lekas Su Ting-tat menangkis ke atas dengan kedua tangannya. Tapi Lau Cing-hong sudah menarik kembali tangannya, menyusul tangan yang lain kembali mencolok lagi kedua mata Su Ting-tat. Dalam keadaan sukar untuk menangkis lagi, terpaksa Su Ting-tat melangkah mundur. Kesempatan itu segera digunakan oleh Lau Cing-hong untuk mengangsurkan kedua tangannya ke dalam baskom. Pada saat itu terdengarlah suara angin berkesiur dari belakang, ada dua orang telah menubruk maju. Tanpa menoleh lagi kaki kiri Lau Cing-hong lantas mendepak ke belakang. “Bluk”, seorang murid Ko-san-pay telah didepak terguling, berbareng tangan kanan terus menyambar juga ke belakang sehingga dada seorang murid Ko-san-pay yang lain kena dijambret, sekali seret dan angkat, kontan Lau Cing-hong melemparkan tawanan itu ke arah Su Ting-tat. Serangan mendepak dan mencengkeram ke belakang itu dilakukan dengan sangat cepat dan tepat, benar-benar hebat dan membikin murid-murid Ko-san-pay yang lain menjadi kuncup dan tidak berani maju lagi. “Lau-susiok,” tiba-tiba murid Ko-san-pay yang berdiri di belakang putra Lau Cing-hong berseru, “jika kau tidak menghentikan maksudmu terpaksa aku akan membunuh putramu.” Lau Cing-hong menoleh, ia pandang sekejap kepada putranya yang sulung itu, lalu menjawab dengan dingin, “Para kesatria berkumpul semua di sini, jika kau berani mengganggu seujung rambut anakku, tentu berpuluh murid Ko-san-pay kalian akan dicincang menjadi perkedel.” Ucapan Lau Cing-hong ini bukanlah sengaja menggertak. Kalau murid Ko-san-pay itu benar-benar mengganggu putranya itu, hal ini tentu akan menimbulkan kemarahan orang banyak dan mengerubutnya beramai-ramai, pasti murid-murid Ko-san pay yang berada di situ sukar menghindarkan tuntutan keadilan orang banyak. Begitulah, setelah mengucapkan kata-kata tadi segera Lau Cing-hong hendak menjulurkan kedua tangannya ke dalam baskom pula. Tampaknya sekali ini tiada seorang pun yang dapat merintanginya lagi. Di luar dugaan, sekonyong-konyong sinar perak berkelebatan, sebentuk senjata rahasia yang kecil telah menyambar tiba. Cepat Lau Cing-hong melangkah mundur. Maka terdengarlah suara “cring” yang nyaring, senjata rahasia itu tepat mengenai tepi baskom emas itu. Rupanya timpukan senjata rahasia kecil itu membawa tenaga yang amat besar. Kontan baskom itu lantas bergelimpang dan jatuh ke lantai dengan menerbitkan suara gemerantang. Baskom itu jatuh terbalik, air tertumpah semua di lantai. Berbareng itu terlihat berkelebatnya bayangan kuning, dari atap rumah telah melompat turun satu orang. Tahu-tahu sebelah kaki orang itu menginjak ke atas baskom yang terbalik itu, kontan baskom itu menjadi gepeng terinjak. Pendatang ini berusia antara 40-an, berbadan sedang, tapi sangat kurus. Bibirnya memiara kumis seperti kumis tikus, ia lantas merangkap tangannya memberi hormat dan menyapa, “Lau-suheng, atas perintah Bengcu, engkau dilarang Kim-bun-swe-jiu.” Lau Cing-hong kenal orang ini adalah Sute keempat dari ketua Ko-san-pay, she Hui bernama Pin, terkenal dengan ilmu pukulan Tay-ko-yang-jiu. Melihat gelagatnya, agaknya hari ini Ko-san-pay telah mengerahkan segenap jago-jagonya untuk melayaninya. Apalagi sekarang baskom emas itu sudah terinjak rusak, upacara “cuci tangan di baskom emas” terang sudah gagal. Urusan sekarang hanya ada dua jalan: bertempur sekuat tenaga atau menerima semua hinaan itu? Sekilas itu timbul macam-macam pikiran dalam benak Lau Cing-hong, “Ko-san-pay mereka walaupun dipilih menjadi Bengcu dan memegang panji pimpinan, tapi caranya menekan orang yang keterlaluan ini masakah dapat diterima oleh para kesatria yang menyaksikan ini, apakah mereka tiada yang berani tampil ke muka untuk membela keadilan?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: