Hina Kelana: Bab 20. Mengambil Tanpa Permisi Namanya kan Mencuri

Ia turun ke sawah dan mendekati buah semangka. Ia menjadi ragu-ragu. Tangannya sudah menjulur, tapi segera ditarik kembali. Terbayang olehnya wajah sang guru yang kereng yang telah memberi pesan tentang pantangan-pantangan bagi orang beribadat, terutama dalam hal mencuri.

Akan tetapi segera timbul pula wajah Lenghou Tiong yang pucat dan cekung dengan bibirnya yang kering. Mendadak ia menjadi nekat, dengan menggigit bibir ia terus betot sebuah semangka sehingga putus dari akarnya. Pikirnya, “Untuk menolong jiwa Lenghou-toako terpaksa aku melanggar pantangan dan biarlah aku rela masuk neraka asalkan Lenghou-toako dapat selamat.”

Lenghou Tiong adalah seorang pemuda yang berpikiran bebas dan berpandangan luas, ia hanya merasa Nikoh cilik Gi-lim itu masih hijau, tidak tahu seluk-beluk kehidupan manusia. Sama sekali tak tersangka olehnya bahwa untuk memetik sebuah semangka saja telah terjadi pertentangan batin sedemikian hebatnya dalam benak Nikoh jelita itu. Maka ia menjadi girang ketika melihat Gi-lim sudah kembali dengan membawa buah semangka. Pujinya, “O, Sumoay yang baik, nona yang manis!”

Keruan Gi-lim tergetar demi mendengar pujian yang demikian itu, hampir-hampir saja semangka itu jatuh dari pangkuannya. Lekas-lekas ia memegangnya dengan lebih kencang.

“He, mengapa kau begini gugup? Apakah kau diuber orang karena kau mencuri semangka ini?” tanya Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Tidak, aku tidak diuber siapa-siapa,” sahut Gi-lim sambil berduduk perlahan-lahan.

Tatkala itu sang surya telah menyingsing di ufuk timur dengan sinarnya yang cerlang-cemerlang, suatu pagi yang cerah dengan hawa yang sejuk.

Gi-lim mencabut pedangnya yang ujungnya sudah patah itu, terpikir olehnya, “Ilmu silat Dian Pek-kong itu benar-benar sangat hebat, kalau Lenghou-toako tidak menolong aku dengan mati-matian, tentu saat ini aku tidak dapat duduk di sini dengan selamat.”

Sekilas dilihatnya kedua mata Lenghou Tiong melekuk cekung, wajahnya pucat. Diam-diam ia membatin, “Demi dia, biarpun aku lebih banyak berdosa juga takkan menyesal.”

Karena pikiran demikian, segera rasa berdosanya lantaran mencuri semangka tadi lantas lenyap semua. Segera ia memotong semangka dengan pedang kutung itu.

Semangka itu rupanya dari jenis yang bagus, begitu terbelah lantas terendus bau yang harum segar.

“Semangka bagus!” puji Lenghou Tiong.

Segera Gi-lim memotong semangka itu menjadi selapis, sesudah dibuang bijinya, lalu sepotong demi sepotong diberikannya kepada Lenghou Tiong yang segera dimakannya dengan nikmat.

Gi-lim merasa senang melihat pemuda itu makan semangka dengan nikmat sekali. Dilihatnya air semangka menetes dan membasahi lehernya karena Lenghou Tiong makan semangka sambil berbaring, maka untuk selanjutnya Gi-lim mengiris semangka itu menjadi potongan kecil-kecil sehingga air semangka tidak sampai mengalir keluar mulut lagi.

Tapi setiap kali Lenghou Tiong mengulurkan tangan buat menerima semangka selalu meringis menahan sakit, tanpa merasa Gi-lim lantas menyuapi.

Setelah makan hampir separuh buah semangka itu, barulah Lenghou Tiong ingat bahwa Gi-lim sama sekali belum makan, segera ia berkata, “Kau sendiri pun silakan makan.”

“Nanti, biar kau makan secukupnya dulu,” sahut Gi-lim.

“Sudah, aku sudah cukup, silakan kau makan saja,” kata Lenghou Tiong.

Sesungguhnya Gi-lim memang juga sangat haus, maka setelah menyuapi satu-dua potong lagi ke mulut Lenghou Tiong, kemudian ia pun masukkan sepotong semangka ke dalam mulut sendiri. Dilihatnya Lenghou Tiong lagi memandang padanya, dengan malu ia lantas duduk membelakangi pemuda itu.

“Ah, sungguh sangat indah,” demikian tiba-tiba Lenghou Tiong memuji.

Gi-lim tambah malu, ia tidak tahu mengapa mendadak pemuda itu memuji keindahannya.

“Coba lihatlah, alangkah bagusnya!” terdengar Lenghou Tiong berkata pula.

Waktu Gi-lim sedikit menoleh, tertampak jari pemuda itu menuding ke arah barat. Ia coba memandang ke arah yang ditunjuk, kiranya di ujung langit di kejauhan sana tertampak lengkung pelangi dengan tata warna yang sangat indah.

Baru sekarang Gi-lim mengetahui bahwa yang dimaksudkan “indah” oleh Lenghou Tiong kiranya adalah pelangi, jadi dirinya sendiri yang telah salah wesel. Kembali ia merasa malu lagi. Cuma rasa malu sekarang berbeda dengan rasa malu tadi yang mengandung girang-girang kikuk.

“Eh, coba kau dengarkan!” kata Lenghou Tiong pula.

Waktu Gi-lim mendengarkan dengan cermat, terdengar di arah pelangi sana sayup-sayup ada suara gemercaknya air. “Ya, seperti suara air terjun,” katanya.

“Betul, sehabis hujan, di tanah pegunungan tentu banyak air terjun,” kata Lenghou Tiong. “Marilah kita coba pergi ke sana untuk melihatnya.”

Gi-lim tidak tega mengecewakan keinginannya, segera ia memayangnya bangun. Mendadak wajahnya bersemu merah pula. Ia menjadi ragu-ragu apakah dirinya sekarang masih harus memondongnya pula? Mengapa pemuda ini tiba-tiba ingin pergi melihat air terjun, jangan-jangan hanya sebagai alasan saja agar dirinya memondong pula? Demikian pikirnya.

Tengah ragu-ragu, tiba-tiba Lenghou Tiong menjemput sebatang kayu di sebelahnya dan digunakan sebagai tongkat, lalu berjalan perlahan-lahan ke depan. Nyata kembali Gi-lim salah wesel lagi. Cepat ia memburu maju untuk memegangi badan pemuda itu sambil mengomeli dirinya sendiri yang suka berpikir tak keruan, padahal Lenghou-toako adalah seorang kesatria sejati, mana boleh disamaratakan dengan kelakuan Dian Pek-kong yang jahat itu?

Lenghou Tiong benar-benar seorang pemuda yang kuat. Lukanya itu baru selang dua hari, tapi sekarang dia sudah dapat berjalan, walaupun langkahnya belum mantap, tapi cukup kuat untuk bertahan.

Tidak seberapa lama, Gi-lim mengajaknya mengaso dan duduk di atas sepotong batu besar. “Di sini juga boleh, apakah kau harus pergi melihat air terjun?” tanyanya.

“Dasar aku memang kepala batu, apa yang kupikir tentu harus kukerjakan,” sahut Lenghou Tiong.

“Baiklah, pemandangan yang indah di sana itu mungkin akan membantu mempercepat sembuhnya lukamu,” ujar Gi-lim.

Lalu mereka melanjutkan perjalanan. Sesudah melintasi sebuah tanjakan, terdengarlah suara gemerujuknya air terjun yang makin keras. Sesudah menyusur pula sebuah hutan akhirnya tertampaklah sebuah air terjun dengan airnya yang putih laksana dituang dari atas langit.

“Di puncak Giok-li-hong di atas Hoa-san kami juga terdapat sebuah air terjun yang hampir sama dengan air terjun ini,” tutur Lenghou Tiong. “Di waktu iseng Sumoayku suka menyeret aku berlatih pedang di depan air terjun itu. Dengan nakal terkadang dia terus menerobos ke balik air terjun. Beberapa kali ia pun minta aku berlatih pedang dengan dia di bawah air terjun itu, katanya tenaga air yang dituang dari atas itu akan dapat memperkuat daya permainan pedang. Kami sering basah kuyup tersiram oleh air terjun, bahkan pernah hampir-hampir terperosok ke dalam kolam air yang dalam itu.”

Mendengar pemuda itu menyinggung Sumoaynya, mendadak Gi-lim sadar sebabnya Lenghou Tiong berkeras ingin datang ke tempat air terjun itu rasanya bukanlah untuk menikmati pemandangannya, tapi adalah untuk mengenangkan sang Sumoay. Segera ia tanya, “Kau mempunyai berapa orang Sumoay?”

“Hoa-san-pay kami seluruhnya ada tujuh orang murid wanita,” tutur Lenghou Tiong. “Leng-sian Sumoay adalah putri Suhu sendiri, enam Sumoay yang lain adalah murid ibu-guru kami.”

“O, kiranya dia adalah putri Gak-supek. Tentu dia … dia sangat baik padamu?”

Perlahan-lahan Lenghou Tiong berduduk, lalu menjawab, “Aku adalah anak yatim piatu, 13 tahun yang lalu aku telah diterima oleh Suhu yang berbudi. Tatkala itu Leng-sian Sumoay baru berumur lima tahun. Aku lebih tua daripada dia, sering kali aku membawanya pergi mencari buah-buahan dan menangkap kelinci. Jadi kami boleh dikata dibesarkan bersama. Suhu tidak punya anak laki-laki sehingga aku dianggap sebagai putranya sendiri dan Leng-sian Sumoay juga sama seperti adikku sendiri.”

“O, kiranya demikian,” kata Gi-lim. Selang sejenak, ia berkata pula, “Aku pun seorang anak yatim piatu, sejak kecil aku sudah menjadi Nikoh di bawah asuhan Suhu.”

“Sayang, sayang! Jika kau tidak menjadi murid Ting-yat Suthay, tentu aku dapat mohon kepada ibu-guru agar suka menerima kau sebagai murid dan Leng-sian Sumoay tentu akan sangat suka pula kepadamu.”

“Cuma sayang aku tidak punya rezeki sebesar itu. Namun aku pun merasa bahagia tinggal di Pek-hun-am, Suhu dan para Suci juga sangat baik padaku.”

“O, ya, ya! Aku yang salah bicara. Ilmu pedang Ting-yat Susiok sangat lihai, Suhu sendiri sering memuji beliau. Masakah Hing-san-pay kalah daripada Hoa-san-pay kami?”

“Lenghou-toako,” tiba-tiba Gi-lim bertanya, “Tempo hari kau bilang kepada Dian Pek-kong, katanya bertempur dengan berdiri Dian Pek-kong terhitung jago nomor 14 dan Gak-supek adalah nomor 6. Lalu Suhuku terhitung nomor berapa?”

“Ah, aku kan cuma menipu Dian Pek-kong saja, masakah kau percaya sungguh-sungguh?” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. “Tinggi atau rendahnya ilmu silat setiap orang selalu mengalami perubahan, ada yang semakin maju, ada yang sudah mundur karena lanjut usianya, mana ada patokan yang menentukan siapa lebih tinggi dan siapa nomor sekian? Ilmu silat Dian Pek-kong itu memang tinggi, tapi belum tentu dia dapat dihitung sebagai jago nomor 14 di dunia ini. Aku hanya sengaja mengumpak dia agar dia senang.”

“O, kiranya kau cuma membohongi dia saja,” kata Gi-lim. Untuk sejenak ia termangu-mangu memandangi air terjun. Kemudian ia bertanya pula, “Lenghou-toako, apakah kau sering membohongi orang?”

“Haha, untuk itu kita harus melihat keadaan,” sahut Lenghou Tiong tertawa. “Yang perlu dibohongi harus dibohongi, yang tidak boleh dibohongi jangan sekali-kali berbohong padanya. Seperti Suhu dan Subo (ibu-guru), biarpun mereka hendak memotong kepalaku juga aku juga tidak berani membohongi mereka.”

“Dan bagaimana dengan Sute atau Sumoaymu? Misalnya … misalnya kau punya Leng-sian Sumoay, apakah kau suka membohongi dia?”

“Ah, itu harus melihat keadaan dan mengenai soal apa? Di antara sesama saudara seperguruan kami sering saling berkelakar. Bergurau tanpa tipu-menipu dan bohong-membohongi tentu akan kurang menarik. Terhadap … terhadap Leng-sian Sumoay, bila mengenai urusan penting, sudah tentu aku takkan membohongi dia. Tapi di waktu bermain dan bergurau sudah tentu tak terhindar dari tipu-menipu.”

Selama Gi-lim tinggal di Pek-hun-am, karena harus taat kepada agama dan tata tertib perguruan, maka hidupnya sangat sederhana dan kaku, di antara para Sucinya juga tak pernah bersenda gurau, walaupun satu sama lain saling mencintai. Maka ia menjadi sangat tertarik dan merasa kagum terhadap sesama murid Hoa-san-pay yang gembira ria sebagaimana yang diceritakan Lenghou Tiong, sungguh ia ingin sekali dapat berkunjung ke Hoa-san dan bergaul dengan mereka. Tapi bila teringat kejadian yang menimpa dirinya sekarang ini, boleh jadi sesudah pulang sang guru takkan mengizinkan keluar kuil lagi, maka hasratnya ingin datang ke Hoa-san hanya menjadi lamunan belaka. Andaikan sudah bergaul, tapi kalau Lenghou-toako senantiasa cuma mendampingi dia punya Leng-sian Sumoay, lalu aku tertinggal sendirian dan siapa yang akan mengawani aku? Berpikir demikian, hatinya menjadi pilu dan hampir-hampir meneteskan air mata.

Rupanya Lenghou Tiong tidak memerhatikan perubahan Gi-lim itu, dia masih memandang ke arah air terjun dan berkata, “Aku dan Leng-sian Sumoay memang sedang meyakinkan semacam Kiam-hoat dengan bantuan tenaga air terjun yang mencurah dari atas itu. Kami anggap tenaga air itu sebagai tenaga dalam serangan musuh, bukan saja kami harus menghalaukan tenaga dalam musuh, bahkan kami harus memperalat kembali tenaga musuh untuk menghantam musuh sendiri. Ilmu pedang kami itu takkan kelihatan daya serangannya terhadap lawan yang berkepandaian rendah, sebaliknya akan besar manfaatnya bila menghadapi musuh yang bertenaga dalam yang mahakuat.”

Melihat pemuda itu bercerita dengan gembira, Gi-lim tidak ingin membuatnya kecewa. Ia hanya tanya, “Dan kalian berhasil meyakinkan ilmu pedang itu belum?”

“Belum, belum!” sahut Lenghou Tiong. “Apa kau sangka gampang untuk menciptakan sesuatu ilmu pedang?”

“Apa namanya ilmu pedang kalian itu?” tanya Gi-lim perlahan.

“Ah, mestinya tak dapat diberi nama apa-apa, tapi Leng-sian Sumoay berkeras ingin memberikan suatu nama, dia menyebutnya ‘Tiong-leng-kiam-hoat’, yaitu diambil dari nama kami masing-masing satu huruf.”

“Tiong-leng-kiam-hoat? Ehm, nama ini mengandung namamu dan namanya, bila diturunkan di kemudian hari setiap orang akan tahu ilmu pedang ini adalah ciptaan kalian … kalian berdua.”

“Ah, hanya gara-gara Leng-sian Sumoay saja, padahal dengan kemampuan kami masakan dapat menciptakan ilmu pedang apa segala? Hendaklah jangan sekali-kali kau katakan kepada orang lain supaya tidak dijadikan bahan lelucon orang Kangouw.”

“Baiklah, tentu takkan kukatakan pada orang lain,” sahut Gi-lim. Sesudah merandek sejenak, tiba-tiba ia berkata pula dengan tersenyum, “Tapi ilmu pedang ciptaanmu sudah lebih dulu diketahui oleh orang lain.”

“Apa ya?” Lenghou Tiong terkesiap. “Apakah Leng-sian Sumoay pernah beri tahukan kepada orang lain?”

Gi-lim tertawa, katanya, “Kau sendirilah yang telah beri tahukan Dian Pek-kong. Bukankah kau mengatakan kau telah menciptakan semacam ilmu pedang penusuk lalat pada saat berjongkok di kakus?”

“Hahahaha! Aku sengaja membual saja padanya, tapi kau ternyata masih terus mengingat-ingatnya … auuuuh!” demikian mendadak Lenghou Tiong mengerut kening, karena tertawa sehingga lukanya kesakitan.

“Ai, semuanya salahku sehingga membikin lukamu kesakitan lagi. Janganlah kau bicara pula, silakan mengaso saja secara tenang,” seru Gi-lim gugup.

Lenghou Tiong lantas pejamkan mata. Tapi hanya sebentar saja kembali ia melek lagi. Katanya, “Tadinya kukira pemandangan di sini tentu sangat indah, tapi setiba di sini malahan tidak dapat menyaksikan pelangi yang bagus tadi.”

“Pelangi mempunyai keindahan sebagai pelangi, air terjun juga mempunyai keindahan air terjun sendiri,” ujar Gi-lim.

“Ya, betul juga ucapanmu. Di dunia ini mana ada sesuatu yang sempurna. Sesuatu yang dicari oleh seseorang dengan susah payah, sesudah diperoleh tentu akan merasakan kiranya juga cuma begini saja. Sebaliknya barang yang dimilikinya semula malah sudah dibuang olehnya.”

“Ucapan ini terasa mengandung filsafat orang hidup, Lenghou-toako,” kata Gi-lim dengan tertawa. “Sayang pengetahuanku terlalu cetek sehingga tidak paham artinya yang dalam.”

“Ah, masakah aku tahu filsafat apa segala?” ujar Lenghou Tiong sambil menghela napas. “Uh, alangkah lelahnya!”

Lalu perlahan-lahan ia pejamkan mata, lambat laun lantas terpulas.

Gi-lim duduk di sampingnya dan menghalaukan lalat atau serangga kecil yang mengganggunya. Kira-kira sejam lamanya, ia pikir sebentar bila Lenghou-toako sudah mendusin tentu akan merasa lapar. Di sini tiada yang dapat dimakan, biarlah kupergi memetik dua buah semangka pula yang dapat dibuat tangsel perut dan mencegah dahaga.

Maka dengan langkah cepat ia mendatangi sawah semangka pula, ia petik dua buah semangka dan buru-buru kembali untuk menjaga di samping Lenghou Tiong.

“Kukira kau sudah pulang,” demikian tiba-tiba Lenghou Tiong membuka mata dengan tersenyum.

“Mengira aku pulang?” Gi-lim menegas heran.

“Ya, bukankah Suhu dan para Sucimu sedang mencari kau? Mereka tentu sangat mengkhawatirkan dirimu.”

Sebenarnya Gi-lim tak teringat akan soal itu, demi mendengar ucapan Lenghou Tiong, ia menjadi gelisah juga. Pikirnya, “Bila ketemu Suhu besok, entah beliau akan marah padaku atau tidak?”

“Siausumoay, sungguh aku sangat berterima kasih, kau yang telah menyelamatkan jiwaku. Sekarang aku sudah tidak berhalangan lagi, kau boleh lekas pulang saja,” kata Lenghou Tiong pula.

“Tidak, mana boleh kutinggalkan kau sendiri di tanah pegunungan sepi begini?” ujar Gi-lim.

“Setiba di rumah Lau-susiok, diam-diam boleh kau beritakan kepada para Suteku dan tentu mereka akan datang kemari untuk menjaga diriku,” kata Lenghou Tiong.

Perasaan Gi-lim menjadi pedih, ia pikir kiranya Lenghou-toako ingin kedatangan Sumoaynya, makanya aku diharapkan lekas pergi saja. Tanpa merasa air matanya lantas bercucuran.

Lenghou Tiong menjadi heran, tanyanya cepat, “He, ken … kenapa kau menangis? Apakah kau takut akan dimarahi Suhumu?”

Gi-lim menggeleng-geleng.

“Ah, barangkali kau khawatir kepergok Dian Pek-kong lagi? Jangan takut, selanjutnya dia pasti tidak berani merecoki kau lagi. Bila melihat kau, tentu dia sendiri yang akan lari terbirit-birit.”

Tapi kembali Gi-lim geleng-geleng kepala.

Lenghou Tiong menjadi bingung. Tiba-tiba dilihatnya semangka yang baru dipetiknya itu, seketika ia sadar dan berkata pula, “O, tentu kau merasa berdosa karena kau telah melanggar larangan agama bagiku, bukan? Tapi itu adalah dosaku dan tiada sangkut pautnya dengan kau.”

Namun Gi-lim tetap menggeleng-geleng saja, air matanya menetes semakin deras.

Melihat tangis Gi-lim yang semakin menjadi itu, Lenghou Tiong tambah tidak mengerti, katanya pula, “Baiklah, mungkin aku telah salah omong. Biarlah aku minta maaf padamu saja, Siausumoay, harap engkau jangan marah.”

Perasaan Gi-lim rada lega mendengar ucapan yang halus itu. Tapi lantas terpikir olehnya, “Rupanya dia sudah biasa merendah diri dan minta maaf kepada Sumoaynya, maka sekarang sekenanya ia pun ucapkan padaku.”

Mendadak ia menangis lebih sedih dan berkata sambil membanting kaki, “Aku … aku toh bukan Sumoaymu ….” tapi lantas teringat olehnya sebagai seorang Nikoh adalah tidak pantas mengomel dengan kata-kata demikian itu. Seketika wajahnya menjadi merah dan lekas-lekas berpaling ke arah lain.

Sekilas Lenghou Tiong melihat muka Gi-lim berubah merah dengan air matanya masih meleleh, dalam sekejap tampaknya menjadi mirip butiran embun yang belum kering di atas kelopak bunga mawar di musim semi, cantiknya sukar dilukiskan.

Untuk sejenak Lenghou Tiong tertegun, ia merasa kecantikan Gi-lim ternyata tidak kalah daripada Sumoaynya, si Leng-sian. Katanya kemudian, “Usiamu jauh lebih muda daripadaku, sesama orang Ngo-gak-kiam-pay kita dengan sendirinya kau adalah Siausumoay. Adakah sesuatu kesalahanku sehingga membikin kau marah, maukah kau katakan padaku?”

“Kau tidak bersalah apa-apa,” sahut Gi-lim. “Kutahu kau ingin aku lekas-lekas pergi dari sini agar tidak membikin muak padamu, supaya tidak membikin sial seperti pernah kau katakan ‘asal melihat Nikoh, bila berjudi tentu kalah ….’” sampai di sini kembali ia menangis lagi.

Lenghou Tiong menjadi geli sendiri, pikirnya, “Kiranya dia merasa tersinggung karena ucapanku yang tak pantas di Cui-sian-lau itu. Ya, untuk ini aku memang harus minta maaf.”

Segera ia pun berkata, “Ya, memang mulutku tidaklah bersih sehingga apa yang kukatakan di Cui-sian-lau tempo hari telah menyinggung kehormatan Hing-san-pay kalian. Aku pantas dihajar, pantas dipukul!”

Lalu ia angkat tangan dan menampar pipinya sendiri beberapa kali.

“Jangan, jangan kau tampar sendiri lagi, aku … aku tidak marah padamu, aku hanya khawatir … khawatir membikin sial padamu,” cepat Gi-lim mencegah.

“Tidak, harus dihajar adat!” seru Lenghou Tiong dan “plak”, kembali ia tampar pipi sendiri satu kali pula.

“Sudahlah, Lenghou-toako, aku tidak … tidak marah lagi,” kata Gi-lim gugup.

“Kau menyatakan tidak marah lagi?” Lenghou Tiong menegas.

Gi-lim manggut-manggut.

“Tapi kau belum tertawa, terang kau masih marah,” ujar Lenghou Tiong.

Terpaksa Gi-lim tertawa. Tapi mendadak teringat kepada nasibnya sendiri, hatinya menjadi pilu, tanpa merasa air matanya berlinang-linang lagi. Cepat ia berpaling ke arah lain.

Melihat Nikoh jelita itu masih menangis, mendadak Lenghou Tiong menghela napas panjang.

Perlahan-lahan Gi-lim berhenti menangis, tanyanya dengan suara lirih, “Ken … kenapa engkau menghela napas?”

Diam-diam Lenghou Tiong geli. Ia pikir dasar nona cilik yang masih hijau sehingga gampang ditipu. Biasanya di kala dia bermain dengan Leng-sian, bila sang Sumoay mengambek dan tak mau gubris padanya, maka Lenghou Tiong lantas mencari akal untuk memancing anak dara itu membuka suara. Bila tetap tak digubris, ia lantas berdaya upaya dan berlagak sesuatu yang dapat menimbulkan rasa ingin tahu sang Sumoay sehingga anak dara itu berbalik menanya lebih dulu padanya.

Selama hidup Gi-lim jarang bergaul dengan orang luar, tak pernah mengambek dan muring-muring, maka dengan gampang saja ia kena dipancing oleh Lenghou Tiong. Namun dengan sengaja Lenghou Tiong menghela napas pula dan berpaling ke arah lain tanpa menjawab.

“Apakah kau marah, Lenghou-toako?” tanya Gi-lim pula.

“Ah, tidak, aku tidak apa-apa,” sahut Lenghou Tiong.

Melihat sikap Lenghou Tiong itu, Gi-lim menjadi gugup. Ia tidak tahu bahwa Lenghou Tiong hanya pura-pura saja dan di dalam perut pemuda itu sedang terpingkal-pingkal geli.

Segera Gi-lim bertanya pula, “Akulah yang salah sehingga kau memukuli dirimu sendiri, biarlah aku … aku membayar kembali pukulanmu itu.”

Habis berkata mendadak ia pun menampar pipinya sendiri.

Waktu ia akan menampar pula, cepat Lenghou Tiong bangun berduduk untuk memegang tangan Gi-lim. Tapi sekali bergerak, seketika ia merintih kesakitan.

“Ai, lekas berbaring, lekas! Jangan sampai lukamu pecah lagi,” kata Gi-lim dengan khawatir sambil membantu merebahkan Lenghou Tiong, lalu ia menyesali dirinya sendiri, “Aku benar-benar sangat bodoh, berbuat segala apa selalu salah. Apakah … apakah engkau masih kesakitan, Lenghou-toako?”

Tempat luka Lenghou Tiong itu memang terasa sakit, jika keadaan biasa tentu dia takkan mengaku. Sekarang mendadak timbul akalnya untuk memancing supaya Gi-lim yang menangis itu berubah menjadi tertawa. Maka sengaja ia mengernyit kening sambil merintih-rintih pula beberapa kali.

Keruan Gi-lim menjadi khawatir. “Apakah sangat sakit?” tanyanya sambil meraba jidat pemuda itu.

“Ya, sakit sekali,” sahut Lenghou Tiong sambil pura-pura meringis. “Alangkah baiknya bila … bila Laksute juga berada di sini.”

“Ada apa? Dia punya obat?” tanya Gi-lim.

“Ya, obatnya adalah dia punya mulut,” sahut Lenghou Tiong. “Dahulu bila aku terluka dan kesakitan, Lak-kau-ji selalu menghibur aku dengan macam-macam lelucon yang menggelikan, dengan demikian aku lantas lupa akan rasa sakit. Sayang dia tidak berada di sini. O, sakit … sungguh sakit sekali!”

Gi-lim menjadi serbasusah. Selama berguru kepada Ting-yat Suthay, tugas yang dilakukannya setiap hari adalah sembahyang dan membaca kitab, semadi dan main pedang, selamanya juga jarang mengobrol, jangankan lagi bergurau dan tertawa. Sekarang Liok Tay-yu alias Lak-kau-ji yang dikatakan pintar mendongeng dan melucu itu tidak berada di sini, bila dirinya yang harus melucu, wah, ini benar-benar mahasulit baginya.

Mendadak pikirannya tergerak, teringat sesuatu olehnya. Segera ia berkata, “Lenghou-toako, aku sih tidak bisa melucu, cuma aku pernah membaca suatu kitab yang isinya sangat menarik, nama kitab itu adalah ‘kitab seratus dongeng’. Di dalamnya banyak cerita-cerita yang lucu.”

“Baiklah, harap engkau menceritakan beberapa bagian yang lucu-lucu itu,” pinta Lenghou Tiong yang memang sengaja memancing agar Nikoh jelita itu berbicara.

Untuk sejenak Gi-lim mengingat-ingat, lalu ia mulai bercerita dengan tersenyum. “Baiklah, lebih dulu aku akan bercerita tentang seorang gundul dan seorang petani. Si gundul itu adalah pembawaan, sejak lahir kepalanya sudah kelimis, jadi bukan dicukur seperti kami di kala menjadi Nikoh. Entah urusan apa si gundul telah cekcok dengan petani itu. Dengan marah petani itu telah mengetok kepala gundul dengan paculnya sehingga berdarah. Akan tetapi si gundul tidak melawan dan tidak menghindar, dia terima dipukul, bahkan tertawa malah. Orang lain merasa heran dan tanya dia mengapa tertawa malah. Si gundul menjawab, ‘Petani itu adalah orang tolol, kepalaku yang gundul ini disangkanya sepotong batu, maka ia menggunakan paculnya untuk mengetok batu. Jika aku menghindar, bukankah akan membikin dia berubah menjadi pintar?’”

Sampai di sini Lenghou Tiong telah bergelak tertawa. Katanya, “Cerita bagus! Si gundul itu benar-benar sangat pintar, biarpun dipukul mampus juga dia takkan menghindar.”

Melihat Lenghou Tiong tertawa senang, segera Gi-lim menyambung pula, “Sekarang akan kuceritakan pula tentang seorang raja dan seorang tabib. Watak raja itu tidak sabaran, dia mempunyai seorang putri kecil, tapi sangat ingin dibesarkan dengan cepat. Maka telah dipanggilnya seorang tabib dan diperintahkan memberi suatu resep obat yang dapat membuat sang putri segera menjadi besar. Tabib itu menyatakan ada obatnya, tapi untuk mengumpulkan bahan-bahan obat dan meraciknya diperlukan waktu yang lama, ia sanggup membawa sang putri ke rumah dan membesarkannya asalkan raja tidak mendesaknya agar resep obat itu harus lekas selesai. Raja menerima baik usul itu. Sang putri lantas dibawa pulang oleh si tabib dan setiap beberapa hari memberi laporan kepada raja bahwa obatnya sudah mulai dikumpulkan dan diracik. Selang 12 tahun kemudian, tabib memberi lapor bahwa obat mukjizat sudah jadi dan hari ini juga sudah diminumkan kepada sang putri. Segera sang putri dibawa menghadap raja. Sungguh senang raja tak terkatakan ketika melihat putrinya yang tadinya masih bayi sekarang sudah sedemikian besarnya. Ia memuji kepandaian tabib itu yang benar-benar telah melaksanakan tugasnya dengan baik, segera raja memberikan hadiah besar kepada sang tabib.”

Kembali Lenghou Tiong tertawa, katanya, “Kau bilang raja itu tidak sabaran, padahal dia sudah menunggu 12 tahun lamanya. Bila aku menjadi tabib itu, cukup satu hari saja aku sudah dapat menjadikan putri bayi itu menjadi putri dewasa yang cantik jelita.”

“Dengan cara bagaimana? Apakah engkau bisa menyulap?” tanya Gi-lim dengan mata membelalak lebar.

“Gampang sekali caranya, asalkan kau mau membantu,” ujar Lenghou Tiong.

“Aku membantu?” Gi-lim menegas.

“Ya, segera aku membawa pulang putri bayi itu dan memanggil empat orang tukang menjahit ….”

“Tukang menjahit? Untuk apa?” Gi-lim bertambah heran.

“Untuk menjahit pakaian secara kilat. Akan kusuruh mereka membuatkan pakaian bagus bagimu. Besoknya pagi-pagi dengan kopiah keputrian berhias mutiara, berbaju sulam yang baru, dengan sepatu berbingkai batu permata, lalu akan kubawa engkau menghadap raja. Tentu raja akan sangat girang melihat putrinya yang cantik laksana bidadari hanya dalam semalam saja sudah berubah sedemikian besarnya sesudah makan obat dari tabib sakti Lenghou Tiong. Saking gembiranya beliau tentu tidak periksa lagi apakah putrinya itu tulen atau palsu dan pasti si tabib sakti Lenghou Tiong akan diberi anugerah besar.”

Gi-lim tertawa geli selesai Lenghou Tiong bicara, saking gelinya ia sampai menungging dan memegangi perut sendiri. Selang sejenak barulah dia dapat bicara, “Kau memang jauh lebih cerdik daripada tabib dalam dongeng itu. Cuma sayang, wajahku sedemikian … sedemikian jelek, sedikit pun tidak mirip seorang putri.”

“Jika kau dianggap jelek, maka di dunia ini tidak ada wanita cantik lagi,” ujar Lenghou Tiong. “Padahal sejak dulu sampai sekarang rasanya tiada seorang putri yang dapat membandingi kecantikanmu. Sungguh aku ….” mendadak ia merasa tidak pantas bicara demikian kepada seorang Nikoh muda belia yang suci bersih itu, padahal mengajaknya bersenda gurau saja sudah melanggar pantangan agama mereka, apalagi sekarang dirinya sembarangan omong. Maka ia urung meneruskan, ia pura-pura menguap mengantuk.

“Ah, engkau sudah lelah, Lenghou-toako,” kata Gi-lim. “Silakan kau mengaso saja.”

“Baiklah,” kata Lenghou Tiong. “Dongenganmu ternyata sangat manjur, sekarang lukaku tidak sakit lagi.”

Karena maksud tujuannya membikin Gi-lim bicara dan tertawa sudah tercapai, maka ia lantas pejamkan mata dan mengumpulkan tenaga.

Saking isengnya menunggui Lenghou Tiong, ditambah suasana yang sunyi dengan angin sayup-sayup, Gi-lim menjadi lelah sendiri dan merasa mengantuk, akhirnya ia terpulas sambil berduduk.

Dalam mimpi ia merasa dirinya benar-benar telah memakai jubah putri raja yang mewah, dengan dituntun oleh seorang pemuda ganteng sebagai Lenghou Tiong mereka masuk ke sebuah istana yang besar dan megah. Mendadak muncul seorang Nikoh tua dengan pedang terhunus dan mata melotot merah, itulah Suhunya, Ting-yat Suthay. Saking takutnya cepat-cepat Gi-lim menarik lengan Lenghou Tiong untuk melarikan diri, tapi tarikannya telah mengenai tempat kosong, seketika suasana menjadi gelap gulita dan dirinya terjatuh. Saking kagetnya Gi-lim sampai berteriak-teriak, “Lenghou-toako!”

Tapi mendadak ia terjaga bangun dan ternyata hanya impian belaka. Dilihatnya Lenghou Tiong lagi memandang padanya dengan mata terbelalak lebar. Gi-lim jadi kikuk sendiri dengan wajah merah.

“Kau bermimpi?” tanya Lenghou Tiong.

Gi-lim merasa serbasalah untuk menjawab. Sekilas air muka Lenghou Tiong tertampak sangat aneh, seperti sedang menahan rasa sakit. Cepat ia tanya, “Apakah lukamu sangat kesakitan?”

“Ya, rada-rada sakit!” sahut Lenghou Tiong, namun suaranya kedengaran agak gemetar. Selang sejenak keringat pun merembes di dahinya. Terang sekali rasa sakitnya pasti tidak kepalang.

Tentu saja Gi-lim sangat khawatir. “Wah, bagaimana ini?” demikian ia menjadi kelabakan sendiri. Ia mengeluarkan saputangan untuk mengusap keringat Lenghou Tiong. Terasa dahi pemuda itu sangat panas sebagai dibakar.

Dari Suhunya, Gi-lim pernah mendengar bila seorang menjadi demam karena terluka senjata, maka keadaannya menjadi berbahaya. Saking cemasnya tanpa merasa Gi-lim terus sembahyang dan berdoa. Semula suaranya agak gemetar, tapi lambat laun perasaannya mulai tenang sehingga suara sembahyangnya kedengaran sangat nyaring dan jelas, penuh kepercayaan.

Semula Lenghou Tiong merasa geli melihat kelakuan Gi-lim itu. Tapi sesudah mengikuti doa khotbah yang khidmat dan mohon Buddha memberi berkah baginya itu, mau tak mau ia menjadi terharu dan mengembeng air mata.

Sejak kecil Lenghou Tiong sudah yatim piatu, walaupun Suhu dan Subo sangat baik padanya, namun dia sendiri kelewat nakal, maka dia lebih sering dihajar daripada mendapatkan belaian kasih sayang. Para Sutenya menghormatinya karena dia adalah Toasuheng. Walaupun Leng-sian sangat baik padanya, tapi tidak begitu memerhatikan dia seperti Gi-lim sekarang ini yang sudi menanggung segala penderitaan di dunia ini asalkan dia selamat dan hidup bahagia.

Sifat Lenghou Tiong sukalah bergurau, kecuali guru dan ibu-gurunya, tiada orang lain lagi yang diindahkan olehnya. Sekarang melihat Gi-lim bersembahyang sedemikian khidmat baginya, sungguh ia tidak tahu betapa terima kasihnya kepada Nikoh jelita itu.

Suara sembahyang Gi-lim itu makin lama makin merdu dan enak didengar, Lenghou Tiong merasa terharu dan terhibur pula. Tanpa merasa demamnya menjadi berkurang, akhirnya dia terpulas di tengah suara doa Gi-lim yang halus itu.

Jika suasana di tanah pegunungan itu aman tenteram, sebaliknya di rumah Lau Cing-hong di kota Heng-san, di mana telah berkumpul berbagai jago silat dari berbagai aliran dan golongan sedang terjadi pertarungan sengit.

Sesudah Gak Put-kun menerima Lim Peng-ci sebagai muridnya, bersama anak muridnya mereka lantas menuju ke Heng-san.

Ketika mendapat kabar, Lau Cing-hong terkejut dan bergirang pula. Tak tersangka olehnya bahwa tokoh yang termasyhur di dunia persilatan sebagai “Kun-cu-kiam” Gak Put-kun itu juga berkunjung sendiri ke tempatnya. Bersama Thian-bun Tojin, Ting-yat Suthay, Ih Jong-hay dan lain-lain, cepat ia menyambut keluar dan berulang-ulang mengucapkan terima kasih.

Gak Put-kun adalah seorang yang ramah tamah, dengan berseri-seri ia pun mengucapkan selamat kepada Lau Cing-hong. Lalu sang tamu disilakan masuk ke dalam rumah.

Sebagai orang yang berdosa, diam-diam Ih Jong-hay merasa tidak enak. Pikirnya, “Rasanya Lau Cing-hong takkan mendapat kehormatan sebesar ini sehingga ketua Hoa-san-pay sudi berkunjung padanya, tentu kedatangannya ini ditujukan kepadaku. Biarpun Ngo-gak-kiam-pay mereka berjumlah lebih banyak, tapi Jing-sia-pay kami juga bukan golongan yang gampang dihina. Bila Gak Put-kun berani mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, biarlah lebih dulu aku akan tanya dia perbuatan macam apa muridnya yang bernama Lenghou Tiong itu masuk rumah pelacuran dan main perempuan? Jika tiada persesuaian paham, kalau perlu biarlah main senjata saja.” Ia turun ke sawah dan mendekati buah semangka. Ia menjadi ragu-ragu. Tangannya sudah menjulur, tapi segera ditarik kembali. Terbayang olehnya wajah sang guru yang kereng yang telah memberi pesan tentang pantangan-pantangan bagi orang beribadat, terutama dalam hal mencuri.

Akan tetapi segera timbul pula wajah Lenghou Tiong yang pucat dan cekung dengan bibirnya yang kering. Mendadak ia menjadi nekat, dengan menggigit bibir ia terus betot sebuah semangka sehingga putus dari akarnya. Pikirnya, “Untuk menolong jiwa Lenghou-toako terpaksa aku melanggar pantangan dan biarlah aku rela masuk neraka asalkan Lenghou-toako dapat selamat.”

Lenghou Tiong adalah seorang pemuda yang berpikiran bebas dan berpandangan luas, ia hanya merasa Nikoh cilik Gi-lim itu masih hijau, tidak tahu seluk-beluk kehidupan manusia. Sama sekali tak tersangka olehnya bahwa untuk memetik sebuah semangka saja telah terjadi pertentangan batin sedemikian hebatnya dalam benak Nikoh jelita itu. Maka ia menjadi girang ketika melihat Gi-lim sudah kembali dengan membawa buah semangka. Pujinya, “O, Sumoay yang baik, nona yang manis!”

Keruan Gi-lim tergetar demi mendengar pujian yang demikian itu, hampir-hampir saja semangka itu jatuh dari pangkuannya. Lekas-lekas ia memegangnya dengan lebih kencang.

“He, mengapa kau begini gugup? Apakah kau diuber orang karena kau mencuri semangka ini?” tanya Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Tidak, aku tidak diuber siapa-siapa,” sahut Gi-lim sambil berduduk perlahan-lahan.

Tatkala itu sang surya telah menyingsing di ufuk timur dengan sinarnya yang cerlang-cemerlang, suatu pagi yang cerah dengan hawa yang sejuk.

Gi-lim mencabut pedangnya yang ujungnya sudah patah itu, terpikir olehnya, “Ilmu silat Dian Pek-kong itu benar-benar sangat hebat, kalau Lenghou-toako tidak menolong aku dengan mati-matian, tentu saat ini aku tidak dapat duduk di sini dengan selamat.”

Sekilas dilihatnya kedua mata Lenghou Tiong melekuk cekung, wajahnya pucat. Diam-diam ia membatin, “Demi dia, biarpun aku lebih banyak berdosa juga takkan menyesal.”

Karena pikiran demikian, segera rasa berdosanya lantaran mencuri semangka tadi lantas lenyap semua. Segera ia memotong semangka dengan pedang kutung itu.

Semangka itu rupanya dari jenis yang bagus, begitu terbelah lantas terendus bau yang harum segar.

“Semangka bagus!” puji Lenghou Tiong.

Segera Gi-lim memotong semangka itu menjadi selapis, sesudah dibuang bijinya, lalu sepotong demi sepotong diberikannya kepada Lenghou Tiong yang segera dimakannya dengan nikmat.

Gi-lim merasa senang melihat pemuda itu makan semangka dengan nikmat sekali. Dilihatnya air semangka menetes dan membasahi lehernya karena Lenghou Tiong makan semangka sambil berbaring, maka untuk selanjutnya Gi-lim mengiris semangka itu menjadi potongan kecil-kecil sehingga air semangka tidak sampai mengalir keluar mulut lagi.

Tapi setiap kali Lenghou Tiong mengulurkan tangan buat menerima semangka selalu meringis menahan sakit, tanpa merasa Gi-lim lantas menyuapi.

Setelah makan hampir separuh buah semangka itu, barulah Lenghou Tiong ingat bahwa Gi-lim sama sekali belum makan, segera ia berkata, “Kau sendiri pun silakan makan.”

“Nanti, biar kau makan secukupnya dulu,” sahut Gi-lim.

“Sudah, aku sudah cukup, silakan kau makan saja,” kata Lenghou Tiong.

Sesungguhnya Gi-lim memang juga sangat haus, maka setelah menyuapi satu-dua potong lagi ke mulut Lenghou Tiong, kemudian ia pun masukkan sepotong semangka ke dalam mulut sendiri. Dilihatnya Lenghou Tiong lagi memandang padanya, dengan malu ia lantas duduk membelakangi pemuda itu.

“Ah, sungguh sangat indah,” demikian tiba-tiba Lenghou Tiong memuji.

Gi-lim tambah malu, ia tidak tahu mengapa mendadak pemuda itu memuji keindahannya.

“Coba lihatlah, alangkah bagusnya!” terdengar Lenghou Tiong berkata pula.

Waktu Gi-lim sedikit menoleh, tertampak jari pemuda itu menuding ke arah barat. Ia coba memandang ke arah yang ditunjuk, kiranya di ujung langit di kejauhan sana tertampak lengkung pelangi dengan tata warna yang sangat indah.

Baru sekarang Gi-lim mengetahui bahwa yang dimaksudkan “indah” oleh Lenghou Tiong kiranya adalah pelangi, jadi dirinya sendiri yang telah salah wesel. Kembali ia merasa malu lagi. Cuma rasa malu sekarang berbeda dengan rasa malu tadi yang mengandung girang-girang kikuk.

“Eh, coba kau dengarkan!” kata Lenghou Tiong pula.

Waktu Gi-lim mendengarkan dengan cermat, terdengar di arah pelangi sana sayup-sayup ada suara gemercaknya air. “Ya, seperti suara air terjun,” katanya.

“Betul, sehabis hujan, di tanah pegunungan tentu banyak air terjun,” kata Lenghou Tiong. “Marilah kita coba pergi ke sana untuk melihatnya.”

Gi-lim tidak tega mengecewakan keinginannya, segera ia memayangnya bangun. Mendadak wajahnya bersemu merah pula. Ia menjadi ragu-ragu apakah dirinya sekarang masih harus memondongnya pula? Mengapa pemuda ini tiba-tiba ingin pergi melihat air terjun, jangan-jangan hanya sebagai alasan saja agar dirinya memondong pula? Demikian pikirnya.

Tengah ragu-ragu, tiba-tiba Lenghou Tiong menjemput sebatang kayu di sebelahnya dan digunakan sebagai tongkat, lalu berjalan perlahan-lahan ke depan. Nyata kembali Gi-lim salah wesel lagi. Cepat ia memburu maju untuk memegangi badan pemuda itu sambil mengomeli dirinya sendiri yang suka berpikir tak keruan, padahal Lenghou-toako adalah seorang kesatria sejati, mana boleh disamaratakan dengan kelakuan Dian Pek-kong yang jahat itu?

Lenghou Tiong benar-benar seorang pemuda yang kuat. Lukanya itu baru selang dua hari, tapi sekarang dia sudah dapat berjalan, walaupun langkahnya belum mantap, tapi cukup kuat untuk bertahan.

Tidak seberapa lama, Gi-lim mengajaknya mengaso dan duduk di atas sepotong batu besar. “Di sini juga boleh, apakah kau harus pergi melihat air terjun?” tanyanya.

“Dasar aku memang kepala batu, apa yang kupikir tentu harus kukerjakan,” sahut Lenghou Tiong.

“Baiklah, pemandangan yang indah di sana itu mungkin akan membantu mempercepat sembuhnya lukamu,” ujar Gi-lim.

Lalu mereka melanjutkan perjalanan. Sesudah melintasi sebuah tanjakan, terdengarlah suara gemerujuknya air terjun yang makin keras. Sesudah menyusur pula sebuah hutan akhirnya tertampaklah sebuah air terjun dengan airnya yang putih laksana dituang dari atas langit.

“Di puncak Giok-li-hong di atas Hoa-san kami juga terdapat sebuah air terjun yang hampir sama dengan air terjun ini,” tutur Lenghou Tiong. “Di waktu iseng Sumoayku suka menyeret aku berlatih pedang di depan air terjun itu. Dengan nakal terkadang dia terus menerobos ke balik air terjun. Beberapa kali ia pun minta aku berlatih pedang dengan dia di bawah air terjun itu, katanya tenaga air yang dituang dari atas itu akan dapat memperkuat daya permainan pedang. Kami sering basah kuyup tersiram oleh air terjun, bahkan pernah hampir-hampir terperosok ke dalam kolam air yang dalam itu.”

Mendengar pemuda itu menyinggung Sumoaynya, mendadak Gi-lim sadar sebabnya Lenghou Tiong berkeras ingin datang ke tempat air terjun itu rasanya bukanlah untuk menikmati pemandangannya, tapi adalah untuk mengenangkan sang Sumoay. Segera ia tanya, “Kau mempunyai berapa orang Sumoay?”

“Hoa-san-pay kami seluruhnya ada tujuh orang murid wanita,” tutur Lenghou Tiong. “Leng-sian Sumoay adalah putri Suhu sendiri, enam Sumoay yang lain adalah murid ibu-guru kami.”

“O, kiranya dia adalah putri Gak-supek. Tentu dia … dia sangat baik padamu?”

Perlahan-lahan Lenghou Tiong berduduk, lalu menjawab, “Aku adalah anak yatim piatu, 13 tahun yang lalu aku telah diterima oleh Suhu yang berbudi. Tatkala itu Leng-sian Sumoay baru berumur lima tahun. Aku lebih tua daripada dia, sering kali aku membawanya pergi mencari buah-buahan dan menangkap kelinci. Jadi kami boleh dikata dibesarkan bersama. Suhu tidak punya anak laki-laki sehingga aku dianggap sebagai putranya sendiri dan Leng-sian Sumoay juga sama seperti adikku sendiri.”

“O, kiranya demikian,” kata Gi-lim. Selang sejenak, ia berkata pula, “Aku pun seorang anak yatim piatu, sejak kecil aku sudah menjadi Nikoh di bawah asuhan Suhu.”

“Sayang, sayang! Jika kau tidak menjadi murid Ting-yat Suthay, tentu aku dapat mohon kepada ibu-guru agar suka menerima kau sebagai murid dan Leng-sian Sumoay tentu akan sangat suka pula kepadamu.”

“Cuma sayang aku tidak punya rezeki sebesar itu. Namun aku pun merasa bahagia tinggal di Pek-hun-am, Suhu dan para Suci juga sangat baik padaku.”

“O, ya, ya! Aku yang salah bicara. Ilmu pedang Ting-yat Susiok sangat lihai, Suhu sendiri sering memuji beliau. Masakah Hing-san-pay kalah daripada Hoa-san-pay kami?”

“Lenghou-toako,” tiba-tiba Gi-lim bertanya, “Tempo hari kau bilang kepada Dian Pek-kong, katanya bertempur dengan berdiri Dian Pek-kong terhitung jago nomor 14 dan Gak-supek adalah nomor 6. Lalu Suhuku terhitung nomor berapa?”

“Ah, aku kan cuma menipu Dian Pek-kong saja, masakah kau percaya sungguh-sungguh?” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. “Tinggi atau rendahnya ilmu silat setiap orang selalu mengalami perubahan, ada yang semakin maju, ada yang sudah mundur karena lanjut usianya, mana ada patokan yang menentukan siapa lebih tinggi dan siapa nomor sekian? Ilmu silat Dian Pek-kong itu memang tinggi, tapi belum tentu dia dapat dihitung sebagai jago nomor 14 di dunia ini. Aku hanya sengaja mengumpak dia agar dia senang.”

“O, kiranya kau cuma membohongi dia saja,” kata Gi-lim. Untuk sejenak ia termangu-mangu memandangi air terjun. Kemudian ia bertanya pula, “Lenghou-toako, apakah kau sering membohongi orang?”

“Haha, untuk itu kita harus melihat keadaan,” sahut Lenghou Tiong tertawa. “Yang perlu dibohongi harus dibohongi, yang tidak boleh dibohongi jangan sekali-kali berbohong padanya. Seperti Suhu dan Subo (ibu-guru), biarpun mereka hendak memotong kepalaku juga aku juga tidak berani membohongi mereka.”

“Dan bagaimana dengan Sute atau Sumoaymu? Misalnya … misalnya kau punya Leng-sian Sumoay, apakah kau suka membohongi dia?”

“Ah, itu harus melihat keadaan dan mengenai soal apa? Di antara sesama saudara seperguruan kami sering saling berkelakar. Bergurau tanpa tipu-menipu dan bohong-membohongi tentu akan kurang menarik. Terhadap … terhadap Leng-sian Sumoay, bila mengenai urusan penting, sudah tentu aku takkan membohongi dia. Tapi di waktu bermain dan bergurau sudah tentu tak terhindar dari tipu-menipu.”

Selama Gi-lim tinggal di Pek-hun-am, karena harus taat kepada agama dan tata tertib perguruan, maka hidupnya sangat sederhana dan kaku, di antara para Sucinya juga tak pernah bersenda gurau, walaupun satu sama lain saling mencintai. Maka ia menjadi sangat tertarik dan merasa kagum terhadap sesama murid Hoa-san-pay yang gembira ria sebagaimana yang diceritakan Lenghou Tiong, sungguh ia ingin sekali dapat berkunjung ke Hoa-san dan bergaul dengan mereka. Tapi bila teringat kejadian yang menimpa dirinya sekarang ini, boleh jadi sesudah pulang sang guru takkan mengizinkan keluar kuil lagi, maka hasratnya ingin datang ke Hoa-san hanya menjadi lamunan belaka. Andaikan sudah bergaul, tapi kalau Lenghou-toako senantiasa cuma mendampingi dia punya Leng-sian Sumoay, lalu aku tertinggal sendirian dan siapa yang akan mengawani aku? Berpikir demikian, hatinya menjadi pilu dan hampir-hampir meneteskan air mata.

Rupanya Lenghou Tiong tidak memerhatikan perubahan Gi-lim itu, dia masih memandang ke arah air terjun dan berkata, “Aku dan Leng-sian Sumoay memang sedang meyakinkan semacam Kiam-hoat dengan bantuan tenaga air terjun yang mencurah dari atas itu. Kami anggap tenaga air itu sebagai tenaga dalam serangan musuh, bukan saja kami harus menghalaukan tenaga dalam musuh, bahkan kami harus memperalat kembali tenaga musuh untuk menghantam musuh sendiri. Ilmu pedang kami itu takkan kelihatan daya serangannya terhadap lawan yang berkepandaian rendah, sebaliknya akan besar manfaatnya bila menghadapi musuh yang bertenaga dalam yang mahakuat.”

Melihat pemuda itu bercerita dengan gembira, Gi-lim tidak ingin membuatnya kecewa. Ia hanya tanya, “Dan kalian berhasil meyakinkan ilmu pedang itu belum?”

“Belum, belum!” sahut Lenghou Tiong. “Apa kau sangka gampang untuk menciptakan sesuatu ilmu pedang?”

“Apa namanya ilmu pedang kalian itu?” tanya Gi-lim perlahan.

“Ah, mestinya tak dapat diberi nama apa-apa, tapi Leng-sian Sumoay berkeras ingin memberikan suatu nama, dia menyebutnya ‘Tiong-leng-kiam-hoat’, yaitu diambil dari nama kami masing-masing satu huruf.”

“Tiong-leng-kiam-hoat? Ehm, nama ini mengandung namamu dan namanya, bila diturunkan di kemudian hari setiap orang akan tahu ilmu pedang ini adalah ciptaan kalian … kalian berdua.”

“Ah, hanya gara-gara Leng-sian Sumoay saja, padahal dengan kemampuan kami masakan dapat menciptakan ilmu pedang apa segala? Hendaklah jangan sekali-kali kau katakan kepada orang lain supaya tidak dijadikan bahan lelucon orang Kangouw.”

“Baiklah, tentu takkan kukatakan pada orang lain,” sahut Gi-lim. Sesudah merandek sejenak, tiba-tiba ia berkata pula dengan tersenyum, “Tapi ilmu pedang ciptaanmu sudah lebih dulu diketahui oleh orang lain.”

“Apa ya?” Lenghou Tiong terkesiap. “Apakah Leng-sian Sumoay pernah beri tahukan kepada orang lain?”

Gi-lim tertawa, katanya, “Kau sendirilah yang telah beri tahukan Dian Pek-kong. Bukankah kau mengatakan kau telah menciptakan semacam ilmu pedang penusuk lalat pada saat berjongkok di kakus?”

“Hahahaha! Aku sengaja membual saja padanya, tapi kau ternyata masih terus mengingat-ingatnya … auuuuh!” demikian mendadak Lenghou Tiong mengerut kening, karena tertawa sehingga lukanya kesakitan.

“Ai, semuanya salahku sehingga membikin lukamu kesakitan lagi. Janganlah kau bicara pula, silakan mengaso saja secara tenang,” seru Gi-lim gugup.

Lenghou Tiong lantas pejamkan mata. Tapi hanya sebentar saja kembali ia melek lagi. Katanya, “Tadinya kukira pemandangan di sini tentu sangat indah, tapi setiba di sini malahan tidak dapat menyaksikan pelangi yang bagus tadi.”

“Pelangi mempunyai keindahan sebagai pelangi, air terjun juga mempunyai keindahan air terjun sendiri,” ujar Gi-lim.

“Ya, betul juga ucapanmu. Di dunia ini mana ada sesuatu yang sempurna. Sesuatu yang dicari oleh seseorang dengan susah payah, sesudah diperoleh tentu akan merasakan kiranya juga cuma begini saja. Sebaliknya barang yang dimilikinya semula malah sudah dibuang olehnya.”

“Ucapan ini terasa mengandung filsafat orang hidup, Lenghou-toako,” kata Gi-lim dengan tertawa. “Sayang pengetahuanku terlalu cetek sehingga tidak paham artinya yang dalam.”

“Ah, masakah aku tahu filsafat apa segala?” ujar Lenghou Tiong sambil menghela napas. “Uh, alangkah lelahnya!”

Lalu perlahan-lahan ia pejamkan mata, lambat laun lantas terpulas.

Gi-lim duduk di sampingnya dan menghalaukan lalat atau serangga kecil yang mengganggunya. Kira-kira sejam lamanya, ia pikir sebentar bila Lenghou-toako sudah mendusin tentu akan merasa lapar. Di sini tiada yang dapat dimakan, biarlah kupergi memetik dua buah semangka pula yang dapat dibuat tangsel perut dan mencegah dahaga.

Maka dengan langkah cepat ia mendatangi sawah semangka pula, ia petik dua buah semangka dan buru-buru kembali untuk menjaga di samping Lenghou Tiong.

“Kukira kau sudah pulang,” demikian tiba-tiba Lenghou Tiong membuka mata dengan tersenyum.

“Mengira aku pulang?” Gi-lim menegas heran.

“Ya, bukankah Suhu dan para Sucimu sedang mencari kau? Mereka tentu sangat mengkhawatirkan dirimu.”

Sebenarnya Gi-lim tak teringat akan soal itu, demi mendengar ucapan Lenghou Tiong, ia menjadi gelisah juga. Pikirnya, “Bila ketemu Suhu besok, entah beliau akan marah padaku atau tidak?”

“Siausumoay, sungguh aku sangat berterima kasih, kau yang telah menyelamatkan jiwaku. Sekarang aku sudah tidak berhalangan lagi, kau boleh lekas pulang saja,” kata Lenghou Tiong pula.

“Tidak, mana boleh kutinggalkan kau sendiri di tanah pegunungan sepi begini?” ujar Gi-lim.

“Setiba di rumah Lau-susiok, diam-diam boleh kau beritakan kepada para Suteku dan tentu mereka akan datang kemari untuk menjaga diriku,” kata Lenghou Tiong.

Perasaan Gi-lim menjadi pedih, ia pikir kiranya Lenghou-toako ingin kedatangan Sumoaynya, makanya aku diharapkan lekas pergi saja. Tanpa merasa air matanya lantas bercucuran.

Lenghou Tiong menjadi heran, tanyanya cepat, “He, ken … kenapa kau menangis? Apakah kau takut akan dimarahi Suhumu?”

Gi-lim menggeleng-geleng.

“Ah, barangkali kau khawatir kepergok Dian Pek-kong lagi? Jangan takut, selanjutnya dia pasti tidak berani merecoki kau lagi. Bila melihat kau, tentu dia sendiri yang akan lari terbirit-birit.”

Tapi kembali Gi-lim geleng-geleng kepala.

Lenghou Tiong menjadi bingung. Tiba-tiba dilihatnya semangka yang baru dipetiknya itu, seketika ia sadar dan berkata pula, “O, tentu kau merasa berdosa karena kau telah melanggar larangan agama bagiku, bukan? Tapi itu adalah dosaku dan tiada sangkut pautnya dengan kau.”

Namun Gi-lim tetap menggeleng-geleng saja, air matanya menetes semakin deras.

Melihat tangis Gi-lim yang semakin menjadi itu, Lenghou Tiong tambah tidak mengerti, katanya pula, “Baiklah, mungkin aku telah salah omong. Biarlah aku minta maaf padamu saja, Siausumoay, harap engkau jangan marah.”

Perasaan Gi-lim rada lega mendengar ucapan yang halus itu. Tapi lantas terpikir olehnya, “Rupanya dia sudah biasa merendah diri dan minta maaf kepada Sumoaynya, maka sekarang sekenanya ia pun ucapkan padaku.”

Mendadak ia menangis lebih sedih dan berkata sambil membanting kaki, “Aku … aku toh bukan Sumoaymu ….” tapi lantas teringat olehnya sebagai seorang Nikoh adalah tidak pantas mengomel dengan kata-kata demikian itu. Seketika wajahnya menjadi merah dan lekas-lekas berpaling ke arah lain.

Sekilas Lenghou Tiong melihat muka Gi-lim berubah merah dengan air matanya masih meleleh, dalam sekejap tampaknya menjadi mirip butiran embun yang belum kering di atas kelopak bunga mawar di musim semi, cantiknya sukar dilukiskan.

Untuk sejenak Lenghou Tiong tertegun, ia merasa kecantikan Gi-lim ternyata tidak kalah daripada Sumoaynya, si Leng-sian. Katanya kemudian, “Usiamu jauh lebih muda daripadaku, sesama orang Ngo-gak-kiam-pay kita dengan sendirinya kau adalah Siausumoay. Adakah sesuatu kesalahanku sehingga membikin kau marah, maukah kau katakan padaku?”

“Kau tidak bersalah apa-apa,” sahut Gi-lim. “Kutahu kau ingin aku lekas-lekas pergi dari sini agar tidak membikin muak padamu, supaya tidak membikin sial seperti pernah kau katakan ‘asal melihat Nikoh, bila berjudi tentu kalah ….’” sampai di sini kembali ia menangis lagi.

Lenghou Tiong menjadi geli sendiri, pikirnya, “Kiranya dia merasa tersinggung karena ucapanku yang tak pantas di Cui-sian-lau itu. Ya, untuk ini aku memang harus minta maaf.”

Segera ia pun berkata, “Ya, memang mulutku tidaklah bersih sehingga apa yang kukatakan di Cui-sian-lau tempo hari telah menyinggung kehormatan Hing-san-pay kalian. Aku pantas dihajar, pantas dipukul!”

Lalu ia angkat tangan dan menampar pipinya sendiri beberapa kali.

“Jangan, jangan kau tampar sendiri lagi, aku … aku tidak marah padamu, aku hanya khawatir … khawatir membikin sial padamu,” cepat Gi-lim mencegah.

“Tidak, harus dihajar adat!” seru Lenghou Tiong dan “plak”, kembali ia tampar pipi sendiri satu kali pula.

“Sudahlah, Lenghou-toako, aku tidak … tidak marah lagi,” kata Gi-lim gugup.

“Kau menyatakan tidak marah lagi?” Lenghou Tiong menegas.

Gi-lim manggut-manggut.

“Tapi kau belum tertawa, terang kau masih marah,” ujar Lenghou Tiong.

Terpaksa Gi-lim tertawa. Tapi mendadak teringat kepada nasibnya sendiri, hatinya menjadi pilu, tanpa merasa air matanya berlinang-linang lagi. Cepat ia berpaling ke arah lain.

Melihat Nikoh jelita itu masih menangis, mendadak Lenghou Tiong menghela napas panjang.

Perlahan-lahan Gi-lim berhenti menangis, tanyanya dengan suara lirih, “Ken … kenapa engkau menghela napas?”

Diam-diam Lenghou Tiong geli. Ia pikir dasar nona cilik yang masih hijau sehingga gampang ditipu. Biasanya di kala dia bermain dengan Leng-sian, bila sang Sumoay mengambek dan tak mau gubris padanya, maka Lenghou Tiong lantas mencari akal untuk memancing anak dara itu membuka suara. Bila tetap tak digubris, ia lantas berdaya upaya dan berlagak sesuatu yang dapat menimbulkan rasa ingin tahu sang Sumoay sehingga anak dara itu berbalik menanya lebih dulu padanya.

Selama hidup Gi-lim jarang bergaul dengan orang luar, tak pernah mengambek dan muring-muring, maka dengan gampang saja ia kena dipancing oleh Lenghou Tiong. Namun dengan sengaja Lenghou Tiong menghela napas pula dan berpaling ke arah lain tanpa menjawab.

“Apakah kau marah, Lenghou-toako?” tanya Gi-lim pula.

“Ah, tidak, aku tidak apa-apa,” sahut Lenghou Tiong.

Melihat sikap Lenghou Tiong itu, Gi-lim menjadi gugup. Ia tidak tahu bahwa Lenghou Tiong hanya pura-pura saja dan di dalam perut pemuda itu sedang terpingkal-pingkal geli.

Segera Gi-lim bertanya pula, “Akulah yang salah sehingga kau memukuli dirimu sendiri, biarlah aku … aku membayar kembali pukulanmu itu.”

Habis berkata mendadak ia pun menampar pipinya sendiri.

Waktu ia akan menampar pula, cepat Lenghou Tiong bangun berduduk untuk memegang tangan Gi-lim. Tapi sekali bergerak, seketika ia merintih kesakitan.

“Ai, lekas berbaring, lekas! Jangan sampai lukamu pecah lagi,” kata Gi-lim dengan khawatir sambil membantu merebahkan Lenghou Tiong, lalu ia menyesali dirinya sendiri, “Aku benar-benar sangat bodoh, berbuat segala apa selalu salah. Apakah … apakah engkau masih kesakitan, Lenghou-toako?”

Tempat luka Lenghou Tiong itu memang terasa sakit, jika keadaan biasa tentu dia takkan mengaku. Sekarang mendadak timbul akalnya untuk memancing supaya Gi-lim yang menangis itu berubah menjadi tertawa. Maka sengaja ia mengernyit kening sambil merintih-rintih pula beberapa kali.

Keruan Gi-lim menjadi khawatir. “Apakah sangat sakit?” tanyanya sambil meraba jidat pemuda itu.

“Ya, sakit sekali,” sahut Lenghou Tiong sambil pura-pura meringis. “Alangkah baiknya bila … bila Laksute juga berada di sini.”

“Ada apa? Dia punya obat?” tanya Gi-lim.

“Ya, obatnya adalah dia punya mulut,” sahut Lenghou Tiong. “Dahulu bila aku terluka dan kesakitan, Lak-kau-ji selalu menghibur aku dengan macam-macam lelucon yang menggelikan, dengan demikian aku lantas lupa akan rasa sakit. Sayang dia tidak berada di sini. O, sakit … sungguh sakit sekali!”

Gi-lim menjadi serbasusah. Selama berguru kepada Ting-yat Suthay, tugas yang dilakukannya setiap hari adalah sembahyang dan membaca kitab, semadi dan main pedang, selamanya juga jarang mengobrol, jangankan lagi bergurau dan tertawa. Sekarang Liok Tay-yu alias Lak-kau-ji yang dikatakan pintar mendongeng dan melucu itu tidak berada di sini, bila dirinya yang harus melucu, wah, ini benar-benar mahasulit baginya.

Mendadak pikirannya tergerak, teringat sesuatu olehnya. Segera ia berkata, “Lenghou-toako, aku sih tidak bisa melucu, cuma aku pernah membaca suatu kitab yang isinya sangat menarik, nama kitab itu adalah ‘kitab seratus dongeng’. Di dalamnya banyak cerita-cerita yang lucu.”

“Baiklah, harap engkau menceritakan beberapa bagian yang lucu-lucu itu,” pinta Lenghou Tiong yang memang sengaja memancing agar Nikoh jelita itu berbicara.

Untuk sejenak Gi-lim mengingat-ingat, lalu ia mulai bercerita dengan tersenyum. “Baiklah, lebih dulu aku akan bercerita tentang seorang gundul dan seorang petani. Si gundul itu adalah pembawaan, sejak lahir kepalanya sudah kelimis, jadi bukan dicukur seperti kami di kala menjadi Nikoh. Entah urusan apa si gundul telah cekcok dengan petani itu. Dengan marah petani itu telah mengetok kepala gundul dengan paculnya sehingga berdarah. Akan tetapi si gundul tidak melawan dan tidak menghindar, dia terima dipukul, bahkan tertawa malah. Orang lain merasa heran dan tanya dia mengapa tertawa malah. Si gundul menjawab, ‘Petani itu adalah orang tolol, kepalaku yang gundul ini disangkanya sepotong batu, maka ia menggunakan paculnya untuk mengetok batu. Jika aku menghindar, bukankah akan membikin dia berubah menjadi pintar?’”

Sampai di sini Lenghou Tiong telah bergelak tertawa. Katanya, “Cerita bagus! Si gundul itu benar-benar sangat pintar, biarpun dipukul mampus juga dia takkan menghindar.”

Melihat Lenghou Tiong tertawa senang, segera Gi-lim menyambung pula, “Sekarang akan kuceritakan pula tentang seorang raja dan seorang tabib. Watak raja itu tidak sabaran, dia mempunyai seorang putri kecil, tapi sangat ingin dibesarkan dengan cepat. Maka telah dipanggilnya seorang tabib dan diperintahkan memberi suatu resep obat yang dapat membuat sang putri segera menjadi besar. Tabib itu menyatakan ada obatnya, tapi untuk mengumpulkan bahan-bahan obat dan meraciknya diperlukan waktu yang lama, ia sanggup membawa sang putri ke rumah dan membesarkannya asalkan raja tidak mendesaknya agar resep obat itu harus lekas selesai. Raja menerima baik usul itu. Sang putri lantas dibawa pulang oleh si tabib dan setiap beberapa hari memberi laporan kepada raja bahwa obatnya sudah mulai dikumpulkan dan diracik. Selang 12 tahun kemudian, tabib memberi lapor bahwa obat mukjizat sudah jadi dan hari ini juga sudah diminumkan kepada sang putri. Segera sang putri dibawa menghadap raja. Sungguh senang raja tak terkatakan ketika melihat putrinya yang tadinya masih bayi sekarang sudah sedemikian besarnya. Ia memuji kepandaian tabib itu yang benar-benar telah melaksanakan tugasnya dengan baik, segera raja memberikan hadiah besar kepada sang tabib.”

Kembali Lenghou Tiong tertawa, katanya, “Kau bilang raja itu tidak sabaran, padahal dia sudah menunggu 12 tahun lamanya. Bila aku menjadi tabib itu, cukup satu hari saja aku sudah dapat menjadikan putri bayi itu menjadi putri dewasa yang cantik jelita.”

“Dengan cara bagaimana? Apakah engkau bisa menyulap?” tanya Gi-lim dengan mata membelalak lebar.

“Gampang sekali caranya, asalkan kau mau membantu,” ujar Lenghou Tiong.

“Aku membantu?” Gi-lim menegas.

“Ya, segera aku membawa pulang putri bayi itu dan memanggil empat orang tukang menjahit ….”

“Tukang menjahit? Untuk apa?” Gi-lim bertambah heran.

“Untuk menjahit pakaian secara kilat. Akan kusuruh mereka membuatkan pakaian bagus bagimu. Besoknya pagi-pagi dengan kopiah keputrian berhias mutiara, berbaju sulam yang baru, dengan sepatu berbingkai batu permata, lalu akan kubawa engkau menghadap raja. Tentu raja akan sangat girang melihat putrinya yang cantik laksana bidadari hanya dalam semalam saja sudah berubah sedemikian besarnya sesudah makan obat dari tabib sakti Lenghou Tiong. Saking gembiranya beliau tentu tidak periksa lagi apakah putrinya itu tulen atau palsu dan pasti si tabib sakti Lenghou Tiong akan diberi anugerah besar.”

Gi-lim tertawa geli selesai Lenghou Tiong bicara, saking gelinya ia sampai menungging dan memegangi perut sendiri. Selang sejenak barulah dia dapat bicara, “Kau memang jauh lebih cerdik daripada tabib dalam dongeng itu. Cuma sayang, wajahku sedemikian … sedemikian jelek, sedikit pun tidak mirip seorang putri.”

“Jika kau dianggap jelek, maka di dunia ini tidak ada wanita cantik lagi,” ujar Lenghou Tiong. “Padahal sejak dulu sampai sekarang rasanya tiada seorang putri yang dapat membandingi kecantikanmu. Sungguh aku ….” mendadak ia merasa tidak pantas bicara demikian kepada seorang Nikoh muda belia yang suci bersih itu, padahal mengajaknya bersenda gurau saja sudah melanggar pantangan agama mereka, apalagi sekarang dirinya sembarangan omong. Maka ia urung meneruskan, ia pura-pura menguap mengantuk.

“Ah, engkau sudah lelah, Lenghou-toako,” kata Gi-lim. “Silakan kau mengaso saja.”

“Baiklah,” kata Lenghou Tiong. “Dongenganmu ternyata sangat manjur, sekarang lukaku tidak sakit lagi.”

Karena maksud tujuannya membikin Gi-lim bicara dan tertawa sudah tercapai, maka ia lantas pejamkan mata dan mengumpulkan tenaga.

Saking isengnya menunggui Lenghou Tiong, ditambah suasana yang sunyi dengan angin sayup-sayup, Gi-lim menjadi lelah sendiri dan merasa mengantuk, akhirnya ia terpulas sambil berduduk.

Dalam mimpi ia merasa dirinya benar-benar telah memakai jubah putri raja yang mewah, dengan dituntun oleh seorang pemuda ganteng sebagai Lenghou Tiong mereka masuk ke sebuah istana yang besar dan megah. Mendadak muncul seorang Nikoh tua dengan pedang terhunus dan mata melotot merah, itulah Suhunya, Ting-yat Suthay. Saking takutnya cepat-cepat Gi-lim menarik lengan Lenghou Tiong untuk melarikan diri, tapi tarikannya telah mengenai tempat kosong, seketika suasana menjadi gelap gulita dan dirinya terjatuh. Saking kagetnya Gi-lim sampai berteriak-teriak, “Lenghou-toako!”

Tapi mendadak ia terjaga bangun dan ternyata hanya impian belaka. Dilihatnya Lenghou Tiong lagi memandang padanya dengan mata terbelalak lebar. Gi-lim jadi kikuk sendiri dengan wajah merah.

“Kau bermimpi?” tanya Lenghou Tiong.

Gi-lim merasa serbasalah untuk menjawab. Sekilas air muka Lenghou Tiong tertampak sangat aneh, seperti sedang menahan rasa sakit. Cepat ia tanya, “Apakah lukamu sangat kesakitan?”

“Ya, rada-rada sakit!” sahut Lenghou Tiong, namun suaranya kedengaran agak gemetar. Selang sejenak keringat pun merembes di dahinya. Terang sekali rasa sakitnya pasti tidak kepalang.

Tentu saja Gi-lim sangat khawatir. “Wah, bagaimana ini?” demikian ia menjadi kelabakan sendiri. Ia mengeluarkan saputangan untuk mengusap keringat Lenghou Tiong. Terasa dahi pemuda itu sangat panas sebagai dibakar.

Dari Suhunya, Gi-lim pernah mendengar bila seorang menjadi demam karena terluka senjata, maka keadaannya menjadi berbahaya. Saking cemasnya tanpa merasa Gi-lim terus sembahyang dan berdoa. Semula suaranya agak gemetar, tapi lambat laun perasaannya mulai tenang sehingga suara sembahyangnya kedengaran sangat nyaring dan jelas, penuh kepercayaan.

Semula Lenghou Tiong merasa geli melihat kelakuan Gi-lim itu. Tapi sesudah mengikuti doa khotbah yang khidmat dan mohon Buddha memberi berkah baginya itu, mau tak mau ia menjadi terharu dan mengembeng air mata.

Sejak kecil Lenghou Tiong sudah yatim piatu, walaupun Suhu dan Subo sangat baik padanya, namun dia sendiri kelewat nakal, maka dia lebih sering dihajar daripada mendapatkan belaian kasih sayang. Para Sutenya menghormatinya karena dia adalah Toasuheng. Walaupun Leng-sian sangat baik padanya, tapi tidak begitu memerhatikan dia seperti Gi-lim sekarang ini yang sudi menanggung segala penderitaan di dunia ini asalkan dia selamat dan hidup bahagia.

Sifat Lenghou Tiong sukalah bergurau, kecuali guru dan ibu-gurunya, tiada orang lain lagi yang diindahkan olehnya. Sekarang melihat Gi-lim bersembahyang sedemikian khidmat baginya, sungguh ia tidak tahu betapa terima kasihnya kepada Nikoh jelita itu.

Suara sembahyang Gi-lim itu makin lama makin merdu dan enak didengar, Lenghou Tiong merasa terharu dan terhibur pula. Tanpa merasa demamnya menjadi berkurang, akhirnya dia terpulas di tengah suara doa Gi-lim yang halus itu.

Jika suasana di tanah pegunungan itu aman tenteram, sebaliknya di rumah Lau Cing-hong di kota Heng-san, di mana telah berkumpul berbagai jago silat dari berbagai aliran dan golongan sedang terjadi pertarungan sengit.

Sesudah Gak Put-kun menerima Lim Peng-ci sebagai muridnya, bersama anak muridnya mereka lantas menuju ke Heng-san.

Ketika mendapat kabar, Lau Cing-hong terkejut dan bergirang pula. Tak tersangka olehnya bahwa tokoh yang termasyhur di dunia persilatan sebagai “Kun-cu-kiam” Gak Put-kun itu juga berkunjung sendiri ke tempatnya. Bersama Thian-bun Tojin, Ting-yat Suthay, Ih Jong-hay dan lain-lain, cepat ia menyambut keluar dan berulang-ulang mengucapkan terima kasih.

Gak Put-kun adalah seorang yang ramah tamah, dengan berseri-seri ia pun mengucapkan selamat kepada Lau Cing-hong. Lalu sang tamu disilakan masuk ke dalam rumah.

Sebagai orang yang berdosa, diam-diam Ih Jong-hay merasa tidak enak. Pikirnya, “Rasanya Lau Cing-hong takkan mendapat kehormatan sebesar ini sehingga ketua Hoa-san-pay sudi berkunjung padanya, tentu kedatangannya ini ditujukan kepadaku. Biarpun Ngo-gak-kiam-pay mereka berjumlah lebih banyak, tapi Jing-sia-pay kami juga bukan golongan yang gampang dihina. Bila Gak Put-kun berani mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, biarlah lebih dulu aku akan tanya dia perbuatan macam apa muridnya yang bernama Lenghou Tiong itu masuk rumah pelacuran dan main perempuan? Jika tiada persesuaian paham, kalau perlu biarlah main senjata saja.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: