Hina Kelana: Bab 19. Gak Put-kun, Ketua Hoa-san-pay, Guru Lim Peng-ci yang Baru

Tapi dasar Bok Ko-hong memang seorang yang culas dan licin, walaupun batinnya mendongkol, tapi lahirnya dia masih tertawa-tawa dan berkata, “Bagaimana? Apakah kau anggap kepandaian si Bungkuk belum cukup untuk menjadi gurumu?” Sekilas Peng-ci melihat air muka si Bungkuk berubah menjadi bengis dan murka, walaupun perasaan demikian itu segera lenyap, tapi tanpa merasa Peng-ci sudah bergidik. Ia merasa keadaannya serbasulit dan serbasalah, jika menolak menjadi muridnya, boleh jadi dia lantas mengamuk dan bukan mustahil dirinya akan terus dibinasakan olehnya. Terpaksa ia menjawab, “Bok-tayhiap, kau sudi menerima aku sebagai murid, sungguh hal ini adalah jauh di luar harapanku. Cuma yang kupelajari adalah ilmu silat keluarga kami sendiri, jika perlu berguru pada orang luar harus mendapatkan izin dahulu dari ayah. Cara demikian adalah hukum keluarga dan hukum Bu-lim yang telah sama-sama kita ketahui pula.” Bok Ko-hong manggut-manggut, katanya, “Ya, beralasan juga ucapanmu ini. Cuma sedikit permainanmu ini hakikatnya belum dapat dimasukkan dalam hitungan ilmu silat. Pasti kepandaian ayahmu juga sangat terbatas. Untung bagimu hari ini hatiku lagi senang dan mendadak suka menerima kau sebagai murid, lewat sebentar lagi mungkin pikiranku ini akan segera berubah. Jadi kesempatan ini hanya dapat kau ketemukan secara kebetulan dan tidak dapat dicari. Tampaknya kau cukup cerdik, mengapa justru begini tolol? Sudahlah, kau boleh menyembah dan mengangkat guru dulu padaku, kelak aku sendiri yang akan bicara dengan ayahmu, rasanya dia pun takkan berani menolak.” Tiba-tiba pikiran Peng-ci tergerak. Segera ia berkata pula, “Bok-tayhiap, saat ini ayah-ibuku berada di dalam cengkeraman orang-orang Jing-sia-pay dan tidak jelas mati-hidupnya. Untuk mana kuharap Bok-tayhiap sukalah pergi menolong mereka, bila berhasil, untuk membalas budi kebaikanmu, apa pun yang Bok-tayhiap inginkan pasti akan kupenuhi.” “Apa? Kurang ajar! Jadi kau berani main tawar-menawar dengan aku?” semprot Bok Ko-hong dengan gusar. “Huh, kau bocah ingusan ini, memangnya anggap dirimu sebagai apa sehingga kau kira kakek harus menerima kau sebagai murid dan berani main tawar-menawar padaku? Hm, kurang ajar!” Cepat Peng-ci berlutut dan berkata, “Tentang Pi-sia-kiam-boh apa segala sebenarnya Wanpwe sama sekali tidak tahu. Andaikan Bok-tayhiap telah menerima aku sebagai murid juga tidak ada gunanya. Tapi ayah-ibuku tentu tahu akan Kiam-boh yang dimaksud itu. Bila Bok-tayhiap dapat menyelamatkan ayah-ibuku, barulah dapat mencegah jatuhnya Kiam-boh itu ke dalam tangan Ih Jong-hay.” Sesungguhnya Peng-ci sendiri memang tidak tahu Pi-sia-kiam-boh itu benda macam apa. Tapi mengingat Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong sedemikian menghargai barang itu, tentulah Kiam-boh itu menyangkut sesuatu yang mahapenting. Segera ia berkata pula, “Jika Ih Jong-hay berhasil mendapatkan Kiam-boh, boleh jadi ilmu silatnya akan jauh lebih lihai daripada Bok-tayhiap, bilamana dia mencari perkara padamu, tentu Bok-tayhiap yang terpaksa harus sembunyi ke sana ke mari untuk menghindari.” “Kentut, kentut! Mana bisa jadi!” semprot Bok Ko-hong. “Bila memang Kiam-boh milik keluargamu itu memiliki mukjizat demikian, mengapa ayah-ibumu kena ditawan oleh Ih Jong-hay?” Walaupun demikian mulutnya berkata, tapi diam-diam ia pun percaya Pi-sia-kiam-boh tentu bukan sembarangan kitab pelajaran ilmu pedang, hal ini dapat dilihat dari sikap Ih Jong-hay yang lebih mementingkan Kiam-boh itu daripada sakit hati kematian putranya. Ia lihat Peng-ci masih terus berlutut di hadapannya, segera ia berkata, “Jika begitu, hayo lekaslah menjura padaku. Asal kau menjura tiga kali saja kau sudah terhitung muridku. Ayah-ibu muridku sendiri sudah tentu akan kuperhatikan dan Ih Jong-hay tentu takkan berani main gila kepada kedua orang tua muridku.” Karena memikirkan keselamatan ayah-bundanya, Peng-ci merasa biarpun terpaksa harus mengangkat guru kepada seorang yang mestinya tidak disukai, asal dapat menolong kedua orang tuanya, apa artinya menahan sedikit perasaan. Dan baru saja ia bermaksud menjura, sekonyong-konyong Bok Ko-hong telah menggunakan tangannya untuk menekan kepalanya ke bawah agar menjura. Rupanya si Bungkuk khawatir Peng-ci tidak jadi menjura padanya, maka sengaja main paksa. Seharusnya Peng-ci sudah akan menjura, tapi karena kepalanya ditekan ke bawah secara paksa, kontan timbul perlawanannya, ia justru bikin kaku lehernya dan enggan menunduk ke bawah. “He, apakah kau tidak mau menjura?” bentak Bok Ko-hong dengan gusar. Segera ia tambahkan tenaga tekanannya. Dasar watak Peng-ci memang tidak doyan kekerasan. Dalam usahanya menolong ayah-ibunya mestinya ia sudah mau telan segala perasaan dan penderitaan dan akan menjura kepada Bok Ko-hong. Tapi sekali Bok Ko-hong main paksa, bukannya Peng-ci menurut, sebaliknya ia malah melawan. Dengan suara keras ia menjawab, “Jika kau berjanji akan menolong ayah-ibu, maka aku pun akan berjanji berguru padamu. Tapi saat ini tidak mungkin suruh aku menjura padamu.” “Hah, tidak mungkin?” jengek Bok Ko-hong. “Baik, ingin kulihat apakah benar-benar kau takkan menjura padaku!” Habis berkata, kembali tenaganya bertambah kuat untuk menahan kepala Peng-ci ke bawah. Sekuatnya Peng-ci bermaksud menegakkan kepala dan berdiri, tapi tenaga tekanan Bok Ko-hong terlalu kuat baginya sehingga mirip tertindih batu yang beribu kati beratnya, sampai-sampai kedua tangannya dipakai menahan di atas tanah, tapi tulang leher terasa berkeretekan seakan-akan patah dan tetap tak dapat berbangkit. Bok Ko-hong terbahak-bahak, katanya, “Kau mau menjura atau tidak? Jika tanganku tambahi tenaga pula, tentu lehermu ini bisa patah.” “Tidak, aku justru tidak mau menjura!” teriak Peng-ci dengan merah padam. “Betul-betul tidak mau?” jengek Bok Ko-hong sambil menahan lebih kuat, makin tekan makin ke bawah sehingga batok kepala Peng-ci hampir-hampir menyentuh tanah. Pada saat itulah sekonyong-konyong Peng-ci merasa punggungnya menjadi panas, ada suatu arus hawa hangat menyalur masuk ke dalam tubuhnya. Tiba-tiba daya tekanan di atas tengkuknya menjadi kendur, begitu kedua tangannya menahan tanah, seketika dia dapatlah berdiri. Kejadian ini benar-benar di luar dugaan Peng-ci, bahkan Bok Ko-hong juga terkejut. Sekilas itu si Bungkuk itu lantas tahu bahwa tenaga hangat yang mematahkan daya tekanannya itu adalah “Kun-goan-kang”, semacam Lwekang berasal dari Hoa-san-pay. Walaupun datangnya arus Lwekang itu sangat mendadak, dalam keadaan belum siap sehingga dirinya tergetar dan Peng-ci sempat meronta berbangkit, tapi Kun-goan-kang itu jelas sudah sangat sempurna, bahkan tenaga susulannya masih terus membanjir tiba. Dalam kagetnya dengan cepat sekali tangan Bok Ko-hong lantas menahan pula ke atas kepala Peng-ci, bahkan sekali ini ia pun menggunakan semacam Lwekang yang mahalihai. Tapi begitu tenaganya membentur kepala Peng-ci, tiba-tiba terasa Kun-goan-kang seperti tadi timbul pula dari ubun-ubun pemuda itu. Begitu kedua arus tenaga saling bentur, seketika tangan Bok Ko-hong kesemutan, dada pun terasa sakit. Cepat si Bungkuk mundur dua langkah, serunya sambil tertawa, “Haha! Gak-heng, mengapa diam-diam kau sembunyi di pojok sana dan bergurau dengan si Bungkuk?” Tiba-tiba terdengar suara tertawa orang di balik pojok rumah sana, seorang Susing (kaum terpelajar) berbaju hijau dan berjubah ringan telah muncul. Sambil tangan kanan menggoyang-goyangkan kipas lempit, orang itu berkata, “Engkoh Bungkuk, sudah lama tak bertemu, ternyata ketangkasanmu tidak berkurang dari dahulu, sungguh harus diberi selamat.” Susing berbaju hijau yang baru muncul ini memang betul adalah Kun-cu-kiam, si pedang jantan, Gak Put-kun, ketua Hoa-san-pay yang termasyhur. Biasanya Bok Ko-hong memang rada jeri terhadap ketua Hoa-san-pay itu. Apalagi sekarang dia kepergok sedang memaksa seorang anak muda, keruan ia serbarunyam. Tapi dasar dia memang orang yang licin dan tidak kenal malu, dengan cengar-cengir ia lantas menyapa, “Gak-heng, makin lama makin muda kau ini, sungguh si Bungkuk ingin mengangkat guru padamu untuk belajar ilmu awet muda itu.” “Hus, kau makin tua makin tak genah,” semprot Gak Put-kun. “Kenalan lama baru saja bertemu dan kau sudah mengoceh tak keruan.” “Habis, usiamu mestinya sudah 60-70 tahun, mengapa mendadak muda kembali dan kelihatannya malah seperti cucu si Bungkuk saja,” ujar Bok Ko-hong dengan tertawa. Ketika Bok Ko-hong mengendurkan tangannya tadi, dengan cepat Peng-ci sudah lantas melompat bangun. Dilihatnya Susing baju hijau itu berjenggot cabang lima, mukanya putih bersih dan berwibawa, seketika timbul rasa kagum dan hormatnya. Ia tahu orang inilah yang tadi telah menolongnya dari paksaan Bok Ko-hong. Setelah mendengar si Bungkuk itu memanggilnya sebagai “Gak-heng” (saudara Gak), seketika pikirannya tergerak, “Apakah tokoh yang mirip dewa ini jangan-jangan adalah Gak-siansing, ketua Hoa-san-pay yang sering disebut-sebut oleh orang banyak selama beberapa hari ini? Cuma usianya kelihatannya baru 40 tahun, entah betul atau tidak?” Tapi kemudian sesudah mendengar Bok Ko-hong memuji orang she Gak itu awet muda, segera Peng-ci teringat kepada cerita ibunya dahulu bahwa tokoh-tokoh Bu-lim yang memiliki Lwekang tinggi bukan saja bisa panjang umur, bahkan mukanya juga awet muda. Maka ketua Hoa-san-pay ini mungkin juga memiliki ilmu Lwekang yang tinggi itu. Keruan ia tambah kagum tak terkatakan. Dalam pada itu Gak Put-kun telah berkata dengan tersenyum, “Bok-heng, pemuda ini adalah seorang anak berbakti, juga punya jiwa kesatria, sungguh suatu bakat yang sukar dicari, pantas Bok-heng jatuh hati padanya. Padahal semua penderitaan yang menimpa dia itu adalah lantaran tempo hari dia telah membela keadilan dan menolong putriku si Leng-sian, maka sekarang terpaksa aku harus turun tangan juga, diharap suka memandang diriku, sukalah Bok-heng membebaskan dia saja.” “Apa katamu?” Bok Ko-hong menegas dengan keheran-heranan. “Hanya dengan sedikit kepandaian bocah ini saja dia mampu menolong keponakan perempuan si Leng-sian? Aha, kukira ucapanmu itu harus dibalik, mungkin si dara jelita itulah yang telah ….” Gak Put-kun tahu ucapan si Bungkuk selanjutnya tentu adalah ocehan yang tidak enak didengar, maka cepat ia menyela, “Sesama orang Kangouw adalah jamak saling memberi pertolongan, membantu dengan bertempur mati-matian termasuk menolong, membantu dengan ucapan saja juga menolong, maka tak dapat memandangnya dari soal ilmu silatnya tinggi atau rendah. Bok-heng, bila kau berkeras ingin mengambil pemuda ini sebagai murid, memang paling baik kalau membiarkan dia minta izin dulu kepada ayah-ibunya, dengan demikian kedua pihak menjadi sama-sama baiknya.” Bok Ko-hong sadar urusan hari ini bila Gak Put-kun sudah ikut campur, maka terang sukar terlaksanalah keinginannya. Segera ia geleng-geleng kepala dan menjawab, “Tidak. Hanya seketika timbul maksud si Bungkuk ingin menerimanya sebagai murid, tapi sekarang hasratku itu sudah hilang, biarpun sekarang bocah ini menjura seribu kali padaku juga aku tidak sudi menerimanya.” Setelah berkata begitu, mendadak “plok”, kontan Lim Peng-ci ditendangnya hingga terpental dan terguling sampai beberapa meter jauhnya. Serangan Bok Ko-hong ini benar-benar di luar dugaan Gak Put-kun sehingga ingin mencegah juga tidak keburu lagi. Apalagi gerakan kaki si Bungkuk juga sangat cepat, caranya juga sangat aneh dan sukar dibayangkan orang sebelumnya. Untunglah sesudah terguling, seketika Peng-ci dapat melompat bangun, tampaknya tidaklah terluka. “Bok-heng, mengapa sifatmu seperti anak kecil saja, barang yang tidak dapat kau peroleh lantas kau buang. Kubilang kaulah yang telah kembali muda dan bukan aku,” demikian Gak Put-kun balas mengolok-olok. Bok Ko-hong tertawa. Jawabnya, “Jangan khawatir, Gak-heng. Betapa pun besarnya nyaliku juga tak berani menyalahi kau punya … kau punya … kau punya apa ya? Ah, sudahlah, sampai berjumpa pula. Sungguh tidak nyana Hoa-san-pay yang sudah begini ternama juga menaruh perhatian juga terhadap ‘Pi-sia-kiam-boh’ itu.” Sembari bicara ia terus memberi hormat dan mundur teratur. “Kau mengoceh apa, Bok-heng?” teriak Gak Put-kun sambil mendesak maju selangkah. Seketika air mukanya bersemu ungu, tapi air muka demikian hanya timbul sekilas saja lantas hilang. Melihat air muka bersemu ungu itu, hati Bok Ko-hong tergetar. Pikirnya, “Wah, itu adalah ‘Ci-he-kang’ (ilmu pelangi ungu) yang merupakan Lwekang tertinggi. Selama ratusan tahun ini kabarnya belum pernah ada tokoh Hoa-san-pay yang mampu meyakinkannya. Tapi Gak Put-kun ternyata berhasil melatih ilmu sakti itu. Wah, si Bungkuk tidak boleh membikin marah padanya.” Tapi lahirnya dia tenang-tenang saja, ia masih cengar-cengir dan menjawab, “Entahlah, aku pun tidak tahu Pi-sia-kiam-boh itu benda macam apa. Cuma kulihat Ih Jong-hay telah mengincar Kiam-boh itu dengan mati-matian, maka tanpa sengaja aku telah sembarangan mengoceh, harap Gak-heng jangan pikirkan.” Habis berkata, ia putar tubuh terus melangkah pergi. Setelah si Bungkuk lenyap dalam kegelapan, Gak Put-kun menghela napas dan berkata, “Tokoh berbakat kelas tinggi dunia persilatan seperti dia ini justru berkelakuan tidak genah.” Sekonyong-konyong Peng-ci berlari maju terus berlutut dan menyembah tak berhenti-henti kepada Gak Put-kun, katanya, “Mohon Suhu mau menerima diriku sebagai murid. Tecu pasti akan taat kepada tata tertib perguruan dan giat belajar, sedikit pun tidak berani membantah titah guru.” Gak Put-kun tertawa, katanya, “Jika aku menerima kau sebagai murid, tentu kelak akan diolok-olok si Bungkuk bahwa aku berebutan murid dengan dia.” “Begitu melihat Suhu, seketika Tecu merasa sangat kagum, permohonan ini adalah timbul dari ketekadan Tecu sendiri,” kata Peng-ci sambil terus menyembah. “Baiklah,” sahut Gak Put-kun dengan tertawa. “Untuk menerima kau adalah tidak sulit, cuma kau belum memberitahukan kepada ayah-ibumu, entah mereka mengizinkan atau tidak.” “Asal Tecu dapat diterima, tentu ayah dan ibu akan kegirangan, mustahil beliau-beliau itu takkan meluluskan,” ujar Peng-ci. Put-kun manggut-manggut. “Baiklah, lekas bangun saja!” katanya kemudian. Lalu ia menoleh dan berseru, “Tek-nau, A Hoat, Sian-ji, keluarlah semua!” Maka muncul segera satu rombongan orang dari balik rumah sana. Kiranya adalah anak murid Hoa-san-pay yang sejak tadi sudah sembunyi di sana. Rupanya Gak Put-kun sengaja suruh mereka jangan tampakkan diri agar tidak membikin malu kepada Bok Ko-hong. Sesudah berhadapan, segera Lo Tek-nau berkata dengan girang, “Terimalah ucapan selamatku, Suhu. Engkau telah menerima seorang Sute baru yang mempunyai hari depan yang gilang-gemilang.” “Peng-ci,” kata Gak Put-kun kemudian. “Para Sukomu ini sudah pernah kau lihat di rumah minum itu. Sekarang kalian boleh berkenalan secara resmi.” Memang sebagian besar anak murid Hoa-san-pay itu sudah dikenal Peng-ci. Yaitu, yang tua adalah Jisuko Lo Tek-nau, yang bertubuh tegap adalah Samsuko Nio Hoat. Yang berdandan sebagai kuli adalah Sisuko Si Cay-cu. Yang selalu membawa Swipoa (alat hitung) adalah Gosuko Ko Kin-beng. Laksuko Liok Tay-yu alias Lak-kau-ji adalah tokoh yang paling gampang diingat, karena dia selalu membawa seekor monyet kecil. Selain mereka terdapat lagi Citsuko To Kun dan Patsuko Eng Pek-lo yang masih muda-muda. Sesudah satu per satu Peng-ci memberikan hormat, tiba-tiba dari belakang Gak Put-kun ada suara mengikik tawa yang nyaring genit. Lalu berkata, “Dan aku terhitung Suci atau Sumoay, Ayah?” Untuk sejenak Peng-ci melengak. Ia kenal suara itu adalah si gadis penjual arak yang pernah dijumpainya di luar kota Hokciu itu, para murid Hoa-san-pay sama memanggilnya sebagai “Siausumoay” (Sumoay cilik), kiranya dia adalah putri sang guru sendiri. Sekilas Peng-ci melihat sebagian roman muka yang putih bersih dengan sebelah mata yang tampak hitam jeli sedang mengintipnya sekejap, lalu mengkeret kembali ke belakang Gak Put-kun. Keruan Peng-ci terheran-heran, “Nona penjual arak itu berwajah burik dan sangat buruk, mengapa sekarang telah ganti rupa?” Nona itu hanya melongok sedikit saja, lalu mengkeret kembali, dalam kegelapan tidaklah jelas. Tapi bahwasanya wajahnya pasti sangat cantik adalah tidak perlu disangsikan lagi. Maka terdengar Gak Put-kun telah menjawab dengan tertawa, “Setiap Sukomu yang hadir di sini semuanya masuk perguruan lebih lambat daripadamu, tapi semuanya juga memanggil kau Siausumoay. Rupanya nasibmu menjadi Sumoay sudah ditakdirkan. Maka sekali menjadi Siausumoay, tentu saja kau tetap adalah Siausumoay.” “Tidak, tidak bisa! Sejak kini aku harus menjadi Suci juga,” ujar nona itu dengan tertawa. “Ayah, Lim-sute harus panggil aku sebagai Suci. Selanjutnya bila ayah menerima seratus atau dua ratus murid lagi juga harus memanggil Suci padaku.” Sambil bicara dan tertawa nona itu lantas muncul dari belakang Gak Put-kun. Di malam gelap, samar-samar Peng-ci hanya melihat raut muka yang bulat telur itu agaknya sangat cantik. Sinar mata si nona yang tajam terasa sedang menatap ke arahnya. Cepat Peng-ci memberi hormat dan menyapa, “Gak-sumoay, hari ini Siaute telah diterima sebagai murid oleh Suhu yang berbudi. Yang masuk perguruan dulu adalah lebih tua, Siaute sudah sepantasnya mengaku sebagai Sute.” Putri Gak Put-kun itu bernama Gak Leng-sian, dengan girang ia lantas berkata kepada sang ayah, “Nah, kau dengar sendiri, Ayah. Dia sendirilah yang suka memanggil aku sebagai Suci, tapi bukan aku yang memaksa dia, lho!” “Orang baru saja masuk perguruan kita dan kau sudah bicara tentang ‘paksa’ apa segala, jangan-jangan nanti dia akan menyangka setiap muridku akan sama seperti kau, yang tua suka memaksa yang muda, apakah kau takkan membikin takut padanya?” demikian kata Put-kun. Maka bergelak tertawalah para muridnya. Gak Leng-sian lantas berkata pula, “Ayah, Toasuko sembunyi di sini untuk menyembuhkan lukanya, tadi kena dihantam sekali pula oleh Ih Jong-hay, keadaannya tentu tambah payah. Hayolah lekas kita menjenguknya.” Dengan mengerut kening Gak Put-kun menggeleng kepala, katanya, “Bolehlah Kin-beng dan Cay-cu saja, kalian menggotong keluar Toasukomu.” Ko Kin-beng dan Si Cay-cu mengiakan berbareng, lalu melompat masuk ke dalam kamar melalui jendela. Tapi lantas terdengar seruan mereka, “Suhu, Toasuko tidak berada di sini, di dalam kamar juga … juga tidak ada orang.” Menyusul tertampaklah cahaya api, mereka sudah menyalakan lilin di dalam kamar. Dahi Gak Put-kun terkerut makin kencang. Dia tidak sudi masuk ke rumah pelacuran yang kotor dan hina itu. Maka katanya kepada Lo Tek-nau, “Coba kau masuk ke sana untuk memeriksanya.” Tek-nau mengiakan dan mendekati jendela. “Biar aku juga masuk ke sana untuk melihatnya,” kata Leng-sian. Namun Gak Put-kun lantas menarik tangan putrinya itu sambil membentak, “Hus! Tempat begini mana boleh sembarangan kau datangi?” Karena cemasnya hampir-hampir Leng-sian menangis. Serunya khawatir, “Tapi … tapi Toasuko terluka parah, mungkin dia … dalam keadaan payah.” “Jangan khawatir,” bisik Gak Put-kun. “Dia telah dibubuhi obat Thian-hiang-toan-siok-ko dari Hing-san-pay, tidak nanti jiwanya berbahaya.” Leng-sian menjadi girang-girang khawatir, katanya, “Da … dari mana engkau tahu, Ayah?” “Ssst, jangan ceriwis!” Put-kun mendesis. Kiranya dalam keadaan terluka parah dan kesakitan, namun pikiran Lenghou Tiong masih cukup sadar. Ia dapat mengikuti suara pertengkaran antara Bok Ko-hong dan Ih Jong-hay dan kemudian orang-orang itu pergi satu per satu dan akhirnya didengarnya Suhunya sendiri telah datang. Lenghou Tiong adalah seorang yang tidak gentar kepada siapa pun juga, di dunia ini hanya ada seorang yang disegani olehnya, yaitu sang guru. Maka ketika mendengar Suhunya sedang berbicara dengan Bok Ko-hong, ia pikir daripada nanti dipergoki sang guru di tempat yang tak senonoh itu, lebih baik menyingkir dulu dari situ. Maka sambil menahan rasa sakit cepat ia menyingkap selimut dan berbisik kepada Fifi dan Gi-lim, “Wah, celaka! Guruku sudah datang, kita lekas lari!” Segera ia mendahului keluar dari kamar itu dengan berpegangan dinding. Cepat si Fifi juga lantas menarik bangun Gi-lim dan lari keluar. Tertampak Lenghou Tiong sedang sempoyongan dan tidak kuat berjalan, lekas-lekas ia berlari maju untuk memayangnya. Dengan menahan sakit Lenghou Tiong berjalan sekuatnya ke depan, sesudah menyusur sebuah serambi panjang, ia tahu mata-telinga Suhunya sangat tajam, bila keluar seketika akan ketahuan. Dilihatnya di sebelah kanan ada sebuah kamar, tanpa pikir ia terus masuk ke kamar itu diikuti Fifi dan Gi-lim. “Lekas tutup pintu dan jendela,” kata Lenghou Tiong dengan suara lemah. Fifi melaksanakan permintaan itu. Lenghou Tiong sendiri sudah sangat lemas, sambil merebah di atas ranjang, napasnya tersengal-sengal. Ketiga orang itu tidak berani bersuara sedikit pun. Mereka pasang kuping setajam mungkin. Selang agak lama barulah terdengar suaranya Gak Put-kun berkumandang dari jauh, “Rupanya dia sudah pergi dari sini. Sudahlah, kita pun pergi saja!” Lenghou Tiong menghela napas lega. Selang tak lama, tiba-tiba terdengar suara orang berjalan dengan langkah perlahan sedang mendatangi, “Toasuko! Toasuko!” demikian terdengar orang itu memanggil dengan suara tertahan. Itu suaranya Liok Tay-yu. Kiranya dia mengkhawatirkan keselamatan Lenghou Tiong, maka sesudah sang guru dan para saudara seperguruannya berangkat, diam-diam ia putar balik untuk mencari sang Toasuko. Diam-diam Lenghou Tiong merasa Lak-kau-ji, si monyet, memang lebih setia kawan daripada saudara-saudara seperguruannya yang lain. Segera ia bermaksud menjawabnya. Tapi mendadak terasa kain kelambu bergetaran, kiranya Gi-lim yang duduk di tepi ranjang itu merasa ketakutan dan gemetar. “Ya, bilamana aku bersuara menjawab tentu akan merusak nama baik Siausuhu ini,” pikir Lenghou Tiong. Maka urunglah dia menjawab panggilan Lak-kau-ji tadi. Terdengar Liok Tay-yu berjalan lewat di luar jendela sambil memanggil terus dan makin lama makin menjauh dan akhirnya suaranya tak terdengar lagi. “He, Lenghou Tiong, kau akan mati atau tidak?” tiba-tiba Fifi bertanya. “Masa aku akan mati? Jika aku mati kan akan membikin rusak nama baik Hing-san-pay.” sahut Lenghou Tiong. “Sebab apa?” tanya Fifi heran. “Lukaku telah dibubuhi obat mujarab keluaran Hing-san-pay, jika tak bisa sembuh, bukankah aku Lenghou Tiong akan merasa sangat menyesal terhadap … terhadap Siausuhu dari Hing-san-pay ini?” kata Lenghou Tiong. Dalam keadaan terluka toh pendekar muda itu masih sempat berkelakar, diam-diam Gi-lim kagum kepada ketabahannya. Segera ia pun berkata, “Lenghou-toako, kau telah kena dipukul pula satu kali oleh Ih-koancu itu. Coba kulihat keadaan lukamu.” Mestinya Lenghou Tiong hendak bangun, tapi telah dicegah Fifi. Melihat pakaiannya berlepotan darah, Gi-lim tidak sempat memikirkan lagi pantangan antara laki-laki dan perempuan, segera ia membuka baju Lenghou Tiong, lalu mengambil sebuah baskom di samping sana, dengan sepotong handuk untuk membersihkan darah di tempat luka itu, lalu membubuhi pula dengan obat Thian-hiang-toan-siok-ko. “Wah, obat sebaik ini kan sayang dihabiskan untuk lukaku ini,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa. “Ah, janganlah Lenghou-toako berkata demikian,” sahut Gi-lim dengan malu-malu. “Atas pertolonganmu, sampai-sampai Suhuku juga memuji akan jiwa kesatriamu.” “Puji sih tidak perlu, asal beliau tidak mendamprat aku saja aku sudah banyak terima kasih,” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa. “Mana bisa beliau mendamprat padamu?” kata Gi-lim. “Lenghou-toako, engkau harus istirahat dulu supaya lukamu tidak pecah pula, dengan demikian tentu akan cepat sembuhnya.” “Enci Gi-lim,” tiba-tiba Fifi menyela, “silakan engkau menjaganya kalau-kalau ada orang jahat datang lagi. Kakek tentu sedang menunggu, aku harus lekas-lekas pulang.” “Tidak, tidak jangan! Mana boleh aku tinggal sendirian di sini!” seru Gi-lim. “Bukankah Lenghou Tiong juga berada di sini? Masakah kau bilang sendirian?” ujar Fifi dengan tertawa. Lalu ia putar tubuh dan hendak melangkah pergi. “Jangan pergi!” cepat Gi-lim berseru pula. Namun Fifi sudah lantas melayang keluar jendela sambil mengikik tawa. Ginkang dara cilik itu sangat hebat, Gi-lim merasa tak mampu mengejarnya. Dengan cemas dan gelisah ia putar balik ke depan ranjang dan berkata, “Wah, Lenghou-toako, dia … dia sudah pergi!” Tapi waktu itu kekuatan obat sedang bekerja, Lenghou Tiong dalam keadaan sadar tak-sadar sehingga tidak menjawabnya. Saking bingungnya Gi-lim menjadi gemetar. Selang agak lama barulah ia dapat tenang kembali, cepat ia menutup jendela. Pikirnya, “Aku harus lekas-lekas pergi dari sini atau tidak? Apa jadinya bila ada orang melihat aku berada di sini berduaan dengan Lenghou-toako? Tapi … tapi lukanya begini parah, biarpun seorang anak kecil saja sudah cukup untuk membunuhnya, mana boleh aku meninggalkan dia di sini?” Dalam kegelapan hanya terdengar di lorong yang sunyi itu terkadang ada suara anjing menggonggong, selain itu keadaan hening lelap. Penghuni rumah pelacuran itu sudah kabur semua, ia merasa di dunia ini seakan-akan tertinggal Lenghou Tiong seorang saja yang berada di atas ranjang, lain tidak. Sambil duduk di atas kursi, sedikit pun Gi-lim tidak berani sembarangan bergerak. Selang agak lama, mulai terdengarlah suara ayam berkokok, fajar sudah hampir tiba. Gi-lim menjadi kelabakan, pikirnya, “Jika hari sudah terang, tentu akan ada orang datang ke sini. Wah, lantas bagaimana baiknya?” Sejak kecil dia sudah cukur rambut dan menjadi Nikoh di bawah asuhan Ting-yat Suthay, maka sedikit pun tiada pengalaman apa-apa. Dalam keadaan bingung sekarang ia tambah tak berdaya. Tiba-tiba terdengar suara orang berjalan, ada tiga-empat orang sedang mendatangi dari ujung gang sana. Dalam keadaan sunyi senyap suara langkah orang-orang itu menjadi terdengar sangat jelas. Sampai di depan rumah pelacuran itu, orang-orang itu lantas berhenti. Terdengar seorang di antaranya berkata dengan suara perlahan, “Kalian berdua periksa sebelah timur sana, kalian berdua akan menggeledah sebelah barat. Jika ketemukan Lenghou Tiong harus ditangkap hidup-hidup. Dia terluka parah, tidak nanti bisa melawan kita.” Memangnya Gi-lim sudah khawatir, didengar pula kedatangan orang-orang itu hendak menangkap Lenghou Tiong, keruan ia tambah takut. Sekilas timbul suatu pikirannya, “Betapa pun aku harus menyelamatkan Lenghou-toako.” Dengan tekad demikian itu, rasa takutnya lantas lenyap, pikirannya menjadi jernih kembali. Cepat ia mendekati ranjang, ia gunakan selimut untuk membungkus rapat tubuh Lenghou Tiong dan dipondongnya, lalu perlahan-lahan membuka pintu dan menyelinap keluar. Dalam keadaan demikian ia tidak dapat membedakan arah lagi, yang dituju adalah jurusan yang berlawanan dengan suara orang-orang tadi. Dalam sekejap saja ia sudah tiba di sebuah kebun sayur dan sampai di pintu belakang. Dilihatnya pintu itu setengah terbuka, rupanya orang-orang Kun-giok-ih tadi buru-buru melarikan diri dan tidak sempat menutup kembali pintu itu. Sambil memondong Lenghou Tiong cepat Gi-lim berlari keluar terus menyusur gang yang kecil dan sepi. Terdengar suara ayam berkokok dan anjing menggonggong tambah ramai, namun tanpa pikir ia berlari terus. Sampai di pinggir benteng kota, ia pikir harus keluar dari kota saja, di dalam kota musuh Lenghou-toako terlalu banyak. Segera ia menyusur dinding benteng, tidak lama kemudian, tertampak belasan orang desa bergegas-gegas lalu dengan memikul sayur, rupanya adalah tukang-tukang sayur di sekitar kota yang tiap hari berjualan di pasar. Sambil menunduk Gi-lim bersimpang jalan dengan tukang-tukang sayur itu. Sampai di pintu kota, cepat sekali ia berlari keluar. Tatkala itu hari masih remang-remang, prajurit penjaga tidak sempat bertanya, tahu-tahu Gi-lim sudah berlari pergi cukup jauh. Sekaligus Gi-lim berlari-lari sampai beberapa li jauhnya, yang dituju selalu tanah pegunungan yang sepi. Sampai akhirnya ia telah berada di suatu gua. Setelah perasaannya agak tenang, ia coba menunduk memandang Lenghou Tiong. Ternyata pemuda itu sudah sadar dan sedang tersenyum padanya. Melihat wajah yang tersenyum-senyum itu, Gi-lim menjadi gugup, tangannya menjadi lemas, hampir-hampir saja ia lepaskan tubuh yang dipondongnya itu. Namun tidak urung ia pun terhuyung-huyung ke depan. “Kau sudah lelah, Siausumoay! Silakan mengaso saja dulu,” kata Lenghou Tiong. Gi-lim mengiakan. Perlahan-lahan ia menaruh Lenghou Tiong di atas tanah. Ia sendiri pun tidak sanggup berdiri lagi, terus saja ia menjatuhkan diri berduduk dengan napas terengah-engah. Selang sejenak barulah ia bertanya, “Bagaimana keadaan lukamu, Lenghou-toako?” “Sekarang sudah tidak terasa sakit lagi, semuanya ini berkat obatmu yang mustajab itu,” puji Lenghou Tiong. Habis ini mendadak ia menghela napas, katanya pula dengan menyesal, “Cuma sayang aku terluka parah sehingga kena dihina oleh kaum keroco, bahkan hampir-hampir saja kenyang disiksa oleh kawanan keparat dari Jing-sia-pay itu bila aku kena diketemukan mereka tadi.” “Kiranya engkau telah mengikuti semua kejadian tadi?” Gi-lim menegas. Demi teringat dirinya tadi memondongnya sambil berlari-lari sekian lamanya, entah sejak kapan pemuda itu sudah sadar dan telah memandang padanya, tanpa merasa wajah Gi-lim menjadi merah. Lenghou Tiong tidak tahu mengapa Nikoh jelita itu mendadak merasa malu. Disangkanya mungkin terlalu lelah. Maka katanya, “Sumoay, harap kau duduk tenang dan menjalankan pernapasan secara teratur supaya tidak terluka dalam.” Gi-lim mengiakan. Lalu ia duduk bersila dan mengatur pernapasan sambil pejamkan mata. Akan tetapi perasaannya menjadi gelisah, betapa pun sukar tenang lagi. Hanya sebentar saja ia lantas membuka mata dan melirik ke arah Lenghou Tiong. Begitulah sebentar-sebentar ia membuka mata dan memandang pemuda itu untuk melihat apakah lukanya ada perubahan atau pemuda itu apakah sedang mengintip padanya. Ketika pandangan ketiga, kebetulan Lenghou Tiong juga lagi menatap padanya. Keruan ia terkejut. Sebaliknya Lenghou Tiong lantas terbahak-bahak. “Ada … ada apa kau tertawa?” tanya Gi-lim dengan kikuk. “Kau masih terlalu muda, belum sempurna latihanmu bersemadi sehingga sukar memusatkan pikiran,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa. “Sudahlah, kau jangan khawatir. Tenagaku sudah mulai pulih kembali. Andaikan orang-orang Jing-sia-pay itu menyusul kemari juga kita tak perlu takut lagi. Tentu aku akan suruh mereka merasakan … merasakan gaya belibis jatuh dengan pantat menghadap ke belakang.” “Sudahlah, engkau jangan banyak bicara lagi, silakan mengaso saja,” kata Gi-lim. “Wah, sesungguhnya aku ingin sekali bisa segera berbangkit dan berkunjung ke rumah Lau-susiok untuk melihat keramaian,” kata Lenghou Tiong. “Guruku sampai datang sendiri, kuyakin pasti akan terjadi sesuatu yang gawat.” Melihat bibir pemuda itu sampai kering, matanya cekung, Gi-lim tahu dia tidak sedikit kehilangan darah dan perlu diberi minum sebanyak mungkin. Maka ia lantas berkata, “Biarlah kupergi mencari air. Tentu kau sangat haus, bukan?” “Waktu datang tadi kulihat di tepi jalan sebelah timur sana di tengah sawah banyak tumbuh semangka yang sudah masak, silakan kau pergi memetiknya beberapa buah,” kata Lenghou Tiong. “Baiklah,” sahut Gi-lim sambil berbangkit. Tapi ketika meraba saku, ternyata tiada sepeser pun. Segera katanya pula, “Apakah engkau ada uang, Lenghou-toako?” “Untuk apa?” tanya Lenghou Tiong heran. “Buat beli semangka!” “Buat apa beli? Petik saja. Toh tiada penduduk di sekitar sini. Penanam semangka itu tentu tinggal sangat jauh dari sini. Kepada siapa kau akan membeli?” “Mengambil tanpa permisi, itu kan men … mencuri namanya. Suhu bilang sekali-kali tidak boleh mencuri. Jika tidak punya uang boleh minta sedekah saja. Hanya minta sebuah semangka rasanya mereka pun akan memberi.” “Ai, kau ini ….” mestinya Lenghou Tiong hendak mengomelinya, tapi mengingat dia masih terlalu muda, pula telah menolong dirinya dengan mati-matian, maka urunglah mengucapkan omelannya.

One Response to “Hina Kelana: Bab 19. Gak Put-kun, Ketua Hoa-san-pay, Guru Lim Peng-ci yang Baru”

  1. Supariyo Says:

    Saya ucapkan banyak terima kasih atas kesempatannya, sehingga kami bisa terhibur dengan ceritanya. Semoga situs Anda eksis selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: