Hina Kelana: Bab 18. Pertarungan Sengit di Rumah Pelacuran

Sekonyong-konyong di atas rumah di depan sana ada suara seorang bertanya dengan nada dingin, “Dian Pek-kong, muridku Peng Jin-ki apakah kau yang membunuhnya?”

Itulah suaranya Ih Jong-hay, ketua Jing-sia-pay.

“E-eh, kiranya ketua Jing-sia-pay Ih-koancu juga berkunjung kemari! Wah, hari ini Kun-giok-ih ini benar-benar sangat laris, tentu sebentar saja namanya akan termasyhur di seluruh dunia dan tambah ramai dikunjungi tetamu,” demikian seru Dian Pek-kong. “Ya, tadi aku memang telah membunuh seorang bocah yang ilmu pedangnya sangat rendah, tampaknya memang mirip dengan ilmu silat Jing-sia-pay. Cuma namanya apakah betul Peng Jin-ki atau bukan, aku tidak sempat bertanya padanya.”

“Bagus!” seru Ih Jong-hay. Hampir bersamaan, terdengarlah suara mendesus, dia sudah melayang masuk ke dalam kamar. Menyusul terdengar suara gemerantang beradunya senjata. Nyata ketua Jing-sia-pay itu sudah mulai bergebrak dengan Dian Pek-kong di dalam kamar.

Sambil berdiri di atas atap rumah Ting-yat dapat mengikuti suasana pertempuran kedua orang itu. Diam-diam ia merasa kagum, “Keparat Dian Pek-kong itu memang benar-benar memiliki kepandaian sejati. Cara bertempurnya dengan cepat ini ternyata tidak kalah kuat daripada ketua Jing-sia-pay.”

“Blang”, mendadak terdengar suara keras satu kali, suara benturan senjata lantas berhenti seketika.

Tangan Gi-lim yang memegangi tangan Fifi itu sampai berkeringat dingin, ia tidak tahu pertarungan antara Ih Jong-hay dan Dian Pek-kong itu dimenangkan oleh siapa. Pantasnya, karena Dian Pek-kong pernah main gila padanya, tentulah dia mengharapkan Ih Jong-hay yang menang. Tapi dalam lubuk hatinya dia berbalik mengharapkan Ih Jong-hay yang dikalahkan oleh Dian Pek-kong, paling baik Ih Jong-hay lekas digebah pergi, begitu pula gurunya juga lekas-lekas pergi, dengan demikian barulah Lenghou Tiong dapat merawat lukanya dengan tenang.

Dalam pada itu terdengar suara Dian Pek-kong bergema di tempat yang jauh, serunya, “Ih-koancu, kamar itu terlalu sempit dan kurang leluasa, marilah kita coba-coba lagi di tempat yang lapang untuk beberapa ratus jurus pula, marilah kita ukur siapa yang lebih lihai. Jika kau menang, biarlah si ‘Kemala Ayu’ ini akan kuserahkan padamu, bila kau kalah, maka Kemala Ayu ini adalah milikku dan kau tidak boleh mengincarnya lagi.”

Dengan ucapannya itu, Dian Pek-kong seakan-akan menuduh Ih Jong-hay telah bertempur dengan dia lantaran berebut perempuan pelacur yang bernama Kemala Ayu itu. Bagi Dian Pek-kong yang namanya memang sudah busuk, masuk-keluar rumah “P” baginya boleh dikata seperti masuk-keluar rumahnya sendiri. Sebaliknya Ih Jong-hay adalah seorang sarjana ilmu silat yang termasyhur, mana dia sudi dipersamakan dengan bajingan tengik yang tidak terhormat itu? Tapi dalam pertarungan beberapa puluh jurus di dalam kamar tadi telah diketahui bahwa ilmu golok Dian Pek-kong memang sangat bagus, diam-diam Ih Jong-hay menaksir ilmu silat lawan sesungguhnya tidaklah di bawahnya, jika bertempur lagi beberapa ratus jurus juga tiada punya keyakinan akan dapat menang.

Begitulah untuk sejenak suasana menjadi hening lelap. Gi-lim seakan-akan dapat mendengar berdebarnya jantungnya sendiri. Ia mencoba bisik-bisik di tepi telinga Fifi, “Apakah … apakah mereka akan masuk kemari?”

Walaupun Fifi adalah anak dara yang jauh lebih kecil daripada Gi-lim, tapi dalam keadaan demikian Gi-lim sudah bingung dan kehabisan akal, dan seolah-olah anak kecil yang lebih hijau daripada Fifi.

Tetapi Fifi tidak menjawabnya, bahkan mulut Gi-lim lantas ditekapnya agar jangan bersuara.

Tiba-tiba terdengar suaranya Lau Cing-hong sedang berkata, “Ih-koancu, kejahatan jahanam Dian Pek-kong itu sudah kelewat takaran, bila kita akan membereskan dia juga tidak perlu repot pada waktu sekarang. Rumah pelacur yang kotor begini sudah lama ada maksudku akan membersihkannya. Sekarang biarlah kucari keterangan dahulu. Coba, Tay-lian, kalian masuk ke sana untuk menggeledahnya, seorang pun tidak boleh lolos keluar.”

Hiang Tay-lian dan beberapa murid lainnya sama mengiakan. Menyusul lantas terdengar pula suara Ting-yat Suthay yang memberi perintah kepada murid-muridnya agar mengepung rapat seluruh rumah “P” yang luas itu. Sebagai Nikoh, memangnya mereka tidak leluasa keluar-masuk di rumah pelacuran itu untuk mencari Gi-lim, sekarang ada anak murid Lau Cing-hong yang akan menggeledah, sudah tentu hal ini sangat kebetulan bagi Ting-yat.

Keruan Gi-lim semakin khawatir dan bingung. Dalam pada itu terdengar suara bentakan anak murid Lau Cing-hong yang sedang menggeledah dan memeriksa setiap ruangan dan kamar, makin lama makin dekat. Sedang Lau Cing-hong sendiri dan Ih Jong-hay hanya mengawasi di luar rumah. Menyusul terdengarlah suara jerit tangis germo rumah pelacuran itu, rupanya mereka telah diberi hajaran setimpal oleh Hiang Tay-lian dan kawan-kawannya.

Murid-murid Jing-sia-pay juga tidak tinggal diam. Seorang kawan mereka telah menjadi korban keganasan Dian Pek-kong pula, walaupun sang guru telah tampil ke muka sendiri toh belum berhasil juga membunuh musuh itu, paling-paling juga cuma dapat mengusirnya pergi. Untuk melampiaskan dendam, anak murid Jing-sia-pay itu lantas ikut-ikut mengubrak-abrik rumah pelacuran itu, semua alat perabotan dihancurkan hingga berantakan.

Lambat laun suara muridnya Lau Cing-hong terdengar semakin mendekat, agaknya tidak lama lagi sudah akan menggeledah ke kamar belakang itu. Saking gelisahnya hampir-hampir saja Gi-lim jatuh pingsan. Ia membatin, “Tadi Suhu telah memanggil aku, tapi aku tidak menjawabnya, bahkan aku berada satu kamar dengan seorang laki-laki di rumah hina demikian. Jika sebentar orang-orang Jing-sia-pay, Hing-san-pay dan lain-lain itu menerjang ke sini, biarpun aku punya seribu mulut juga sukar membela diri dan memberi keterangan. Dan aku tentu akan membikin noda nama baik Hing-san-pay. Sungguh aku berdosa kepada … kepada Suhu dan para Suci.”

Berpikir demikian, mendadak ia lolos pedangnya sendiri terus hendak ditebaskan ke lehernya sendiri.

Syukur Fifi keburu memegang tangannya dan membentak dengan suara tertahan, “Jangan! Biarlah kita menerjang keluar saja!”

Tapi mendadak terdengar suara keresekan, tahu-tahu Lenghou Tiong sudah berbangkit dan berduduk di tepi ranjang, katanya perlahan, “Nyalakan api lilin!”

“Untuk apa?” tanya Fifi.

“Aku bilang nyalakan api lilin!” Lenghou Tiong mengulangi. Nadanya kereng. Terpaksa Fifi tidak berani tanya pula dan segera mengetik api dan menyalakan lilin tadi.

Di bawah cahaya lilin, Gi-lim dapat melihat air muka Lenghou Tiong pucat pasi sebagai mayat, tanpa terasa ia sampai menjerit kaget tertahan.

“Coba, tutupkan di atas … di atas tubuhku,” kata Lenghou Tiong sambil menunjuk selimut yang terletak di ujung ranjang itu.

Dengan gemetar Gi-lim melakukan permintaan itu.

Dengan tangan kanan Lenghou Tiong memegangi ujung selimut yang menutupi luka di bagian dada itu. Katanya pula, “Kalian berdua lekas tiduran di atas ranjang.”

Fifi mengikik tawa dan menganggap hal itu sebagai permainan yang menarik. Segera ia menarik Gi-lim menyusup ke tempat tidur.

Dalam pada itu orang-orang di luar sudah melihat cahaya lilin di dalam kamar dan beramai-ramai sedang berseru, “Coba geledah kamar itu.”

Lalu berbondong-bondong mereka mendatangi kamarnya.

Dengan menahan sakit Lenghou Tiong cepat merapatkan pintu kamar dan dipalang sekalian. Waktu ia berpaling dan kembali ke tempat tidur, segera ia berkata pula, “Sembunyi semua ke dalam kolong selimut!”

“Kau … kau hati-hati lukamu itu,” ujar Gi-lim.

Lenghou Tiong cepat mendorong Gi-lim ke dalam selimut sehingga tertutup seluruh badannya, begitu pula Fifi. Hanya rambut Fifi yang panjang itu ditarik keluar sehingga terurai di atas bantal. Karena banyak bergerak, Lenghou Tiong merasa lukanya pecah dan darah mengucur keluar lagi. Dengan lemas ia duduk di tepi ranjang.

Sementara itu pintu kamar sudah mulai digedor orang. Ada lagi yang mencaci maki, “Buka pintu! Bedebah, lekas buka pintu!”

Menyusul terdengarlah suara gedubrakan, pintu kamar telah didobrak orang hingga terpentang, beberapa orang lantas menerjang masuk sekaligus. Seorang paling depan adalah Ang Jin-hiong, murid Jing-sia-pay. Demi tampak Lenghou Tiong, kejut Ang Jin-hiong bukan main. “Kau, Lenghou … Lenghou Tiong!” teriaknya sambil melangkah mundur.

Hiang Tay-lian dan yang lain-lain tidak kenal Lenghou Tiong. Tapi mereka pun mendengar katanya Lenghou Tiong sudah dibunuh oleh Lo Jin-kiat, mengapa sekarang berada di sini? Dengan waswas mereka pun ikut melangkah mundur.

Perlahan-lahan Lenghou Tiong berdiri, katanya, “Kalian … kalian mau ….”

“Lenghou Tiong, kiranya kau … kau belum mati?” sela Ang Jin-hiong dengan terputus-putus.

“Masakah begitu gampang orang disuruh mati?” sahut Lenghou Tiong dengan dingin.

Tiba-tiba Ih Jong-hay tampil ke muka, katanya, “Kiranya kau inilah Lenghou Tiong? Bagus, bagus!”

Lenghou Tiong memandang sekejap kepada ketua Jing-sia-pay itu dan tidak menjawab.

“Untuk apa kau berada di rumah pelacuran ini?” tanya Ih Jong-hay.

“Hahahaha! Ini namanya sudah tahu sengaja tanya!” sahut Lenghou Tiong dengan terbahak-bahak. “Masakah kau tidak tahu orang mau apa berada di rumah pelacuran?”

“Hm, biasanya tata tertib Hoa-san-pay terkenal sangat keras, sebagai murid pertama Hoa-san-pay, bahkan sebagai ahli waris Gak-siansing, si ‘pedang jantan’, mengapa diam-diam juga main perempuan? Haha, sungguh menertawakan!”

“Tata tertib Hoa-san-pay kami adalah urusan kami sendiri, rasanya orang luar tidak perlu ikut ribut,” sahut Lenghou Tiong.

Sebagai seorang yang berpengalaman, Ih Jong-hay dapat melihat air muka Lenghou Tiong pucat lesi dan badan rada gemetar, terang pemuda itu dalam keadaan terluka parah, jangan-jangan sikapnya itu hanya tipu belaka. Cepat terpikir olehnya, “Nikoh cilik dari Hing-san-pay itu mengatakan dia telah dibunuh oleh Jin-kiat, padahal anak jadah ini tidak mampus, teranglah Nikoh cilik itu sengaja berdusta untuk menipu aku. Malahan dari nadanya yang memanggil-manggil ‘Lenghou-toako’ terus-menerus dengan mesra, boleh jadi di antara mereka berdua telah ada hubungan gelap tertentu. Tadi Nikoh cilik itu terlihat masuk ke rumah pelacuran ini, sekarang mendadak menghilang tanpa bekas, bukan mustahil Lenghou Tiong telah sengaja menyembunyikan dia. Hm, mereka Ngo-gak-kiam-pay selalu memandang rendah kepada Jing-sia-pay kami, jika sekarang aku dapat menyeret keluar Nikoh cilik itu dari tempat sembunyinya, bukan saja hal ini akan membikin malu Hoa-san-pay dan Hing-san-pay, bahkan segenap Ngo-gak-kiam-pay itu juga akan kehilangan muka dan selanjutnya takkan berani sombong lagi di dunia Kangouw.”

Sinar matanya lantas berkeliaran, tapi di dalam kamar itu tak tertampak orang lain. Ia pikir jangan-jangan Nikoh cilik itu sembunyi di atas ranjang. Segera ia berkata, “Jin-hiong, coba singkap kelambu itu, periksalah apakah di atas ranjang ada tontonan bagus atau tidak?”

Ang Jin-hiong mengiakan. Segera ia melangkah maju. Tapi ia sudah pernah telan pil pahit dari Lenghou Tiong, maka ia menjadi waswas dan memandang dulu kepada jago muda Hoa-san-pay itu.

“Apakah kau sudah bosan hidup, ya?” kata Lenghou Tiong.

Nyali Ang Jin-hiong mengkeret seketika. Tapi mengingat di belakangnya ada sang guru, segera timbul pula keberaniannya. “Sret”, pedang lantas dilolosnya.

“Kau mau apa?” tiba-tiba Lenghou Tiong menegur Ih Jong-hay.

“Hing-san-pay kehilangan seorang murid perempuan, ada orang melihatnya masuk ke rumah pelacuran ini, maka kami hendak mencarinya,” sahut Ih Jong-hay.

“Urusan Ngo-gak-kiam-pay sendiri buat apa Jing-sia-pay kalian ikut-ikut campur?” semprot Lenghou Tiong.

“Hari ini tidak ada persoalan Ngo-gak-kiam-pay apa segala, pendek kata harus diselidiki sampai terang urusan ini,” ujar Ih Jong-hay. “Nah, Jin-hiong, periksa terus!”

Ang Jin-hiong mengiakan, segera ia gunakan pedangnya untuk menyingkap kelambu.

Saat itu Gi-lim dan Fifi saling rangkul dan sembunyi di dalam selimut, mereka dapat mendengar tanya jawab antara Lenghou Tiong dan Ih Jong-hay itu, keruan mereka mengeluh, bahkan Gi-lim sampai gemetar. Apalagi demi mendengar Ang Jin-hiong sudah mulai membuka kelambu, semangat Gi-lim seakan-akan melayang ke awang-awang saking takutnya.

Ketika kelambu tersingkap, pandangan semua orang segera terpusatkan ke atas tempat tidur itu. Tertampak di bawah selimut yang bersulaman indah itu terbungkus tubuh manusia yang sedang gemetar dengan rambut panjang terurai di atas bantal, terang orang yang sembunyi di dalam selimut itu sangat ketakutan.

Melihat rambut yang panjang di atas bantal itu, alangkah kecewanya Ih Jong-hay. Jelas sekali orang yang sembunyi di dalam selimut itu bukanlah Nikoh cilik yang gundul yang hendak dicarinya itu. Tampaknya Lenghou Tiong memang benar-benar lagi main-main dengan perempuan pelacur di rumah “P” ini.

Dalam pada itu terdengar Lenghou Tiong telah berkata dengan nada dingin, “Ih-koancu, kabarnya engkau mulai mengasingkan diri sejak masih jejaka, selama hidupmu tentu belum pernah melihat wanita telanjang, kau sendiri tidak berani keluyuran ke rumah pelacuran, apakah sekarang kau tidak ingin menambah pengalaman dengan menyuruh muridmu menyingkap selimut ini?”

Apa yang diucapkan oleh Lenghou Tiong ini sebenarnya sangat berbahaya. Ia menduga Ih Jong-hay adalah seorang guru besar suatu cabang persilatan terkemuka, dengan kedudukannya yang terhormat itu rasanya tak mungkin sudi melihat seorang perempuan pelacur yang telanjang bulat di depan orang banyak.

Benar juga, Ih Jong-hay menjadi gusar. “Ngaco-belo, bedebah!” dampratnya. Berbareng sebelah tangannya terus menghantam ke depan.

Cepat Lenghou Tiong mengegos untuk menghindarkan angin pukulan itu. Tapi sayang, karena dia terluka parah, gerak-geriknya menjadi kurang gesit, apalagi pukulan Ih Jong-hay itu mahadahsyat, hanya sedikit keserempet angin pukulannya saja Lenghou Tiong tidak sanggup berdiri tegak lagi. Ia terhuyung dan jatuh terduduk di atas ranjang.

Setelah tenangkan diri, sekuatnya Lenghou Tiong berdiri lagi, tapi darah segar lantas menyembur keluar dari mulutnya, tubuhnya terhuyung-huyung dan lagi-lagi memuntahkan darah.

Baru saja Ih Jong-hay hendak menambahi serangan lain lagi, tiba-tiba di luar jendela sana ada orang berseru, “Huh, orang tua menganiaya anak muda, tidak tahu malu!”

Gerakan Ih Jong-hay benar-benar sangat cepat. Belum lenyap suara kalimat terakhir itu, mendadak pukulan Ih Jong-hay telah berganti arah dan menghantam ke jurusan jendela, menyusul orangnya juga lantas melompat keluar.

Dari cahaya api lilin yang remang-remang menembus keluar dari dalam kamar, terlihat seorang bungkuk yang bermuka jelek sedang berlari ke pojok rumah sana.

“Berhenti!” bentak Ih Jong-hay.

Bungkuk itu bukan lain adalah samaran Lim Peng-ci.

Ketika di rumah Lau Cing-hong, sesudah munculnya Kik Fi-yan alias Fifi, selagi perhatian Ih Jong-hay lagi dicurahkan untuk menghadapi anak dara itu, diam-diam Peng-ci lantas mengeluyur pergi. Di luar ia dipergoki oleh Bok Ko-hong yang telah menepuk perlahan bahunya sambil menegur, “Bungkuk palsu, apa sih enaknya menjadi orang bungkuk, mengapa kau sengaja mengaku sebagai anak muridku?”

Peng-ci tahu watak orang ini sangat aneh, ilmu silatnya sangat tinggi pula, bila mana jawabannya tidak memuaskan mungkin akan mendatangkan malapetaka bagi dirinya sendiri. Di tengah ruangan tamu tadi dirinya telah menyebutnya sebagai “Bok-tayhiap” dan memberi puji sanjung padanya, sekarang dirinya meneruskan pujian demikian itu rasanya dia akan tambah senang pula.

Maka Peng-ci lantas menjawab, “Wanpwe pernah mendengar orang berkata tentang kemasyhuran Bok-tayhiap yang suka membantu kesukaran orang dan membela keadilan. Selama ini Wanpwe sangat mengagumi, sebab itulah tanpa sadar Wanpwe lantas menyaru sebagai Bok-tayhiap, atas kelancangan Wanpwe ini harap sudi dimaafkan.”

“Hahaha! Tentang membantu kesukaran orang dan membela keadilan apa segala, sungguh ngaco-belo belaka!” seru Bok Ko-hong dengan tertawa.

Dia tahu Peng-ci sengaja berdusta dan sengaja mengumpak untuk menyenangkan hatinya. Pada umumnya manusia memang suka dipuji, apalagi Bok Ko-hong yang biasanya tidak disukai oleh sesama kaum Bu-lim, belum pernah ia mendengar orang memujinya seperti Peng-ci itu. Maka tidak heran ia pun merasa senang, ia coba mengamat-amati Peng-ci sejenak. Kemudian bertanya, “Kau bernama siapa?”

“Sebenarnya Wanpwe she Lim, hanya tanpa sengaja telah memalsukan she yang sama dengan Cianpwe,” sahut Peng-ci.

“Huh, tanpa sengaja apa?” jengek Bok Ko-hong. “Kau kan ingin menggunakan nama kakekmu ini sebagai jimat untuk menggertak orang. Ih Jong-hay itu adalah seorang guru besar persilatan, satu jarinya saja sudah cukup untuk membinasakan kau, tapi kau ternyata berani main gila padanya, nyalimu benar-benar tidak kecil.”

Mendengar nama Ih Jong-hay disebut, kontan darah Peng-ci bergolak pula, teriaknya dengan gemas, “Asal Wanpwe masih dapat bernapas, aku bersumpah pasti akan membunuh bangsat itu dengan tanganku sendiri.”

“Memangnya ada apa kau bermusuhan dengan Ih Jong-hay?” tanya Bok Ko-hong dengan heran.

Peng-ci ragu-ragu sejenak, ia pikir kalau melulu mengandalkan kekuatannya sendiri terang sukar untuk menolong ayah-bundanya. Mumpung ada kesempatan mengapa tidak minta bantuannya lagi? Berpikir demikian, segera ia berlutut dan menyembah, katanya, “Ayah-ibu Wanpwe berada di dalam cengkeraman bangsat she Ih itu, mohon Cianpwe suka membela keadilan dan memberi pertolongan.”

Bok Ko-hong mengeryitkan kening dan geleng-geleng kepala, sahutnya, “Urusan yang tidak enak begini selamanya aku enggan mengerjakannya. Siapakah ayahmu, sesudah menolong dia apa untungnya bagiku?”

Tengah bicara, tiba-tiba di samping pintu sana ada suara orang bicara dengan suara tertahan, nadanya sangat tegang. Seorang di antaranya terdengar berkata, “Lekas lapor kepada Suhu bahwa ada seorang Jing-sia-pay terbunuh lagi. Orang Hing-san-pay juga ada yang lari pulang dengan terluka.”

Hati Bok Ko-hong tergerak, katanya kepada Peng-ci, “Urusanmu biarlah kita bicarakan nanti. Sekarang ada tontonan menarik, bila kau ingin menambah pengalaman hendaklah ikut padaku.”

Karena ingin mohon bantuannya, segera Peng-ci menjawab, “Baiklah. Ke mana pun Cianpwe pergi tentu akan kuikuti.”

“Tapi kita harus bicara di muka,” demikian Bok Ko-hong berkata pula, “dalam segala hal si Bungkuk hanya memandangnya dari untung dan rugi. Hanya pekerjaan yang menguntungkan saja yang akan kulaksanakan. Jika kau melulu menyanjung aku dengan beberapa panggilan kakek, lalu mengharapkan bantuanku, cara demikian janganlah kau harapkan akan hasilnya.”

Peng-ci terpaksa mengiakan secara samar-samar saja.

“Itu dia, mereka sudah berangkat, marilah ikut padaku,” tiba-tiba Bok Ko-hong menjawil Peng-ci. Menyusul terasalah lengan kanan telah dipegang olehnya, tanpa merasa tubuhnya lantas ikut melayang naik terus berlari secepat terbang.

Setiba di rumah pelacuran “Kun-giok-ih” itu, dengan suara perlahan Bok Ko-hong membisiki Peng-ci, “Awas, jangan bersuara!”

Lalu mereka bersembunyi di belakang pohon untuk mengawasi apa yang terjadi di dalam rumah “P” itu. Maka segala kejadian waktu Ih Jong-hay bergebrak dengan Dian Pek-kong, lalu anak murid Lau Cing-hong dan Jing-sia-pay melakukan penggeledahan, kemudian Lenghou Tiong menampakkan diri, semuanya itu dapat diikuti oleh mereka dengan jelas.

Akhirnya ketika untuk kedua kalinya Ih Jong-hay hendak menyerang Lenghou Tiong pula, Peng-ci tidak tahan lagi, segera ia bersuara dan meneriakkan, “Orang tua menganiaya anak muda, sungguh tidak tahu malu!”

Tapi begitu bersuara segera Peng-ci sadar akan kesembronoannya. Segera ia putar tubuh hendak lari. Namun datangnya Ih Jong-hay teramat cepat, baru saja membentak “Berhenti!” menyusul orangnya sudah memburu maju dan tenaga pukulannya sudah mengancam jalan lari pemuda itu. Asal serangan itu diteruskan, seketika Peng-ci akan binasa.

Cuma saja sekilas Ih Jong-hay melihat perawakan Peng-ci yang buruk itu, karena jerinya kepada Bok Ko-hong, maka tenaga pukulannya itu tidak lantas dilancarkan, ia menjengek pula, “Hm, kiranya kau!”

Habis itu pandangannya lantas melirik ke arah Bok Ko-hong dan berkata, “Bok-thocu, berulang-ulang kau suruh kaum muda mencari perkara padaku, sebenarnya apa maksud tujuanmu?”

Bok Ko-hong terbahak-bahak, jawabnya, “Bocah ini mengaku sebagai anak-cucuku tapi Bungkuk sendiri tidaklah kenal dia. Dia mengaku she Lim dan aku she Bok, apa sangkut pautnya bocah ini dengan aku? Ih-koancu, si Bungkuk takut padamu, soalnya aku merasa tiada gunanya dijadikan tameng oleh seorang pemuda keroco begini. Jika ada untungnya bagiku memang tidak menjadi soal biarpun dijadikan tameng. Tapi sekarang urusan ini hanya akan membikin rugi melulu padaku, buat apa aku mengambil risiko ini?”

Ih Jong-hay bergirang atas jawaban itu. Katanya, “Jika bocah ini tiada sangkut paut apa-apa dengan Bok-heng, maka aku pun tidak perlu sungkan-sungkan lagi.”

Dan baru saja tenaga pukulan yang tertahan tadi hendak dilancarkan, tiba-tiba terdengar jengekan orang di arah jendela, “Huh, orang tua menganiaya anak muda, sungguh tidak tahu malu!”

Waktu Ih Jong-hay menoleh, tertampak seorang berdiri di ambang jendela. Kiranya dia adalah Lenghou Tiong.

Keruan ketua Jing-sia-pay itu tambah murka. “Tua menganiaya muda, sungguh tidak tahu malu”, ucapan ini benar-benar kena sasarannya. Memang tidak salah, ilmu silat kedua pemuda yang dihadapinya sekarang ini jauh di bawahnya, jika mau membunuh mereka adalah terlalu gampang, tapi sindiran “tua menganiaya muda” menjadi sukar dihindarkan dan dengan sendirinya menjadi “tidak tahu malu” pula.

Sebaliknya kalau kedua pemuda itu diampuni begitu saja, rasa Ih Jong-hay masih penasaran. Segera ia berkata kepada Lenghou Tiong dengan tertawa dingin, “Urusanmu biarlah nanti kuperhitungkan dengan gurumu!”

Lalu ia berpaling dan membentak Peng-ci, “Anak jadah, anak murid siapakah kau ini?”

“Bangsat tua bangka,” damprat Peng-ci. “Kau telah membikin keluargaku berantakan dan hidupku merana, sekarang kau masih tanya padaku lagi?”

Ih Jong-hay menjadi heran bilakah dirinya membikin berantakan keluarga orang, sedangkan kenal saja belum kepada bungkuk muda itu. Karena di hadapan orang banyak rasanya tidak enak untuk tanya lebih jelas, segera ia menoleh dan berkata kepada muridnya, “Jin-hiong, boleh kau bunuh dulu bocah kurang ajar itu, habis itu baru tangkap pula Lenghou Tiong.”

Dengan menyuruh muridnya yang turun tangan, cara demikian dapat menghindarkan tuduhan “tua menganiaya muda”.

Maka Jin-hiong telah mengiakan, segera siap melangkah maju dengan pedang terhunus.

Cepat Peng-ci juga akan melolos pedang, tapi baru saja tangannya bergerak, tahu-tahu sinar pedang Ang Jin-hiong yang berkilauan itu sudah menyambar tiba, dadanya sudah terancam ujung pedang.

Peng-ci berteriak murka, “Ih Jong-hay, betapa pun aku Lim Peng-ci ….”

Mendengar anak bungkuk yang bermuka buruk itu mengaku bernama “Lim Peng-ci”, dengan terkejut cepat Ih Jong-hay melontarkan pukulan dari jauh sehingga pedang Ang Jin-hiong tersampuk menceng oleh angin pukulannya dan menyambar lewat di samping lengan Peng-ci.

“Kau bilang apa?” seru Ih Jong-hay.

“Aku Lim Peng-ci biarpun menjadi setan juga akan menagih nyawa padamu!” teriak Peng-ci dengan murka.

“Kau … kau adalah Lim Peng-ci dari Hok-wi-piaukiok?” Ih Jong-hay menegas.

Peng-ci sudah nekat dan tidak menghiraukan jiwanya sendiri lagi. Tanpa pikir ia terus membuang koyok yang melengket di mukanya serta melepaskan bantalan yang mengganjal di punggung itu. Lalu berseru lantang, “Benar, aku adalah Lim Peng-ci dari Hok-wi-piaukiok di Hokciu. Akulah yang membunuh putramu sewaktu dia menggoda wanita baik-baik. Kau telah mengubrak-abrik keluarga kami sehingga hancur, sekarang ayah-ibuku telah kau bawa ke mana?”

Mendadak Lenghou Tiong yang berdiri sambil berpegangan jendela itu menyela, “Ih-koancu, kiranya kau juga punya istri dan punya anak, tadinya kukira kau tirakat sejak jejaka sehingga terlalu tinggi aku menilai dirimu. Bok-cianpwe, keluarga Lim dari Hok-wi-piaukiok yang disebut itu memiliki sejilid Kiam-boh untuk ilmu pedang Pi-sia-kiam-hoat, siapa yang memperolehnya tentu akan menjagoi dunia persilatan, sebab itulah maka Ih-koancu telah mengincarnya ….” sampai di sini ia tidak tahan lagi, darah terasa hendak menyembur keluar lagi dari kerongkongannya. Sekuatnya ia tahan, ia terhuyung-huyung mundur dan jatuh terduduk kembali di tepi ranjang.

Mendengar keterangan tentang Pi-sia-kiam-hoat milik Hok-wi-piaukiok di Hokciu, yang mendapatkan kitab pelajaran ilmu pedang itu dapat merajai dunia persilatan, keruan hati Bok Ko-hong tergetar juga. Ia tidak tahu apakah Hok-wi-piaukiok betul-betul mempunyai kitab pusaka itu, tapi nama Hok-wi-piaukiok itu memang sangat terkenal, mendiang Lim Wan-tho juga sangat disegani orang Kangouw karena Pi-sia-kiam-hoat, Hoan-thian-ciang dan 18 batang panahnya, hal ini pun pernah didengarnya.

Cuma pemuda yang menyaru sebagai bungkuk di depannya sekarang ini jelas sangat rendah ilmu silatnya, namun ketika Ih Jong-hay mendengar pemuda itu mengaku bernama Lim Peng-ci, cepat ketua Jing-sia-pay itu lantas menyampuk pedang muridnya yang sedang menusuk ke depan tadi, sikapnya lantas berubah tegang. Kesemuanya itu menandakan pada diri pemuda she Lim itu ada sesuatu yang penting, andaikan Kiam-boh yang dimaksudkan itu tidak mengandung pelajaran ilmu pedang yang benar-benar tiada tandingannya di dunia ini, tapi seorang ketua Jing-sia-pay telah begitu menaruh perhatian, tak boleh tidak benda itu pasti bukan sembarangan Kiam-boh. Seumpama bukanlah Kiam-boh tentu juga sesuatu barang yang amat berharga.

Pribadi Bok Ko-hong sebenarnya bukanlah orang yang terlalu jahat, cuma sifatnya paling tamak dan dengki, asal ada keuntungan, segala apa pun dapat dilakukan olehnya. Tadi dia anggap tiada berguna membela Lim Peng-ci, tapi sekarang demi mengetahui pada diri pemuda itu ada sesuatu yang menguntungkan, segera berubah pikirannya dan tidak mau kehilangan kesempatan itu.

Saat itu Ih Jong-hay sudah menjulurkan tangannya dan sudah mengancam di atas bahu Peng-ci, sekali cengkeram tentu akan diseretnya pemuda itu.

Cepat Bok Ko-hong membentak, “Nanti dulu!”

Berbareng ia terus melompat maju, secepat kilat sebelah bahu Peng-ci yang lain keburu ditariknya lebih dulu dan diseret mundur.

Jangan dikira potongan tubuh Bok Ko-hong itu pendek buntak lagi bungkuk, tapi gerakannya ternyata sangat gesit dan cepat laksana kucing. Namun Ih Jong-hay juga tidak kalah cepatnya, hampir pada saat yang sama pundak Peng-ci juga sudah dipegang dan ditarik maju. Keruan yang payah adalah Peng-ci, badannya seakan-akan terbeset, sakitnya tidak kepalang, hampir-hampir saja kelengar.

Melihat Bok Ko-hong sudah turun tangan, Ih Jong-hay tahu urusan tidak mudah diselesaikan lagi. Jika dirinya menarik lebih keras tentu Peng-ci akan binasa. Segera ia ayun pedang dan menusuk ke arah Bok Ko-hong sambil membentak, “Lepaskan tangan, Bok-heng!”

Tapi ketika tangan kiri Bok Ko-hong bergerak, “trang”, pedang Ih Jong-hay tertangkis, tangan si Bungkuk tahu-tahu sudah bertambah sebuah senjata yang memancarkan sinar kuning kemilauan, kiranya adalah sebuah roda besar. Roda itu terus berputar, di sekeliling roda itu terpasang delapan buah pisau kecil.

Lengan Ih Jong-hay sampai kesemutan karena tangkisan tadi. Ia tahu tenaga dalam lawan amat kuat. Segera ia keluarkan ilmu pedangnya, beruntun-runtun ia melancarkan belasan kali serangan lagi. Katanya pula, “Bok-heng, kita selamanya tiada permusuhan apa-apa, buat apa kau membela seorang anak keroco sehingga kita bercekcok?”

Sambil memutar rodanya dan menangkis setiap serangan Ih Jong-hay, Bok Ko-hong menjawab, “Ih-koancu, di hadapan orang banyak tadi bocah ini telah menyembah dan memanggil kakek padaku. Meskipun Cayhe dan Ih-koancu selamanya tiada permusuhan apa-apa, tapi kalau seorang yang telah sudi memanggil aku sebagai kakek dibiarkan kau tangkap dan dibunuh begitu saja, bukankah kau terlalu menghina aku? Jika sang kakek tidak mampu membela cucunya, kelak siapa lagi yang sudi memanggil aku sebagai kakek?”

Sambil bicara serang-menyerang kedua orang semakin cepat dan suara gemerantangnya senjata juga tak berhenti-henti.

Ih Jong-hay menjadi gusar. “Bok-heng,” serunya. “Orang ini telah membunuh putraku, sakit hati putraku masakah aku tidak boleh membalas?”

“Hahahaha!” Bok Ko-hong bergelak tertawa. “Baik, mengingat kehormatan Ih-koancu, jika kau ingin membalas dendam boleh silakan balas. Nah, Ih-koancu, marilah kita sama-sama tarik. Satu, dua, tiga. Kau tarik, aku pun tarik, kita tarik mampus saja bocah ini! Nah, mulailah! Satu … dua … tiga!”

Habis berkata, mendadak tenaganya tambah kuat terus menarik. Keruan tulang Peng-ci berkeriutan seakan-akan copot.

Ih Jong-hay menjadi khawatir jika tidak lepas tangan tentulah pemuda itu akan terbeset mati. Baginya soal balas dendam adalah urusan kecil, tapi mendapatkan Kiam-boh adalah urusan besar. Sebelum Kiam-boh ditemukan tidaklah mungkin dia membunuh Lim Peng-ci. Karena itu ia lantas mengendurkan pegangannya sehingga Peng-ci kena ditarik Bok Ko-hong ke sebelah sana.

Kembali Bok Ko-hong terbahak-bahak, katanya, “Terima kasih, banyak terima kasih! Ih-koancu benar-benar seorang sobat sejati, mengingat si Bungkuk, Ih-koancu ternyata sudi mengalah, sampai-sampai sakit hati terbunuhnya putramu juga tak jadi dibalas. Orang yang mengutamakan setia kawan demikian sungguh Ih-koancu terhitung nomor satu.”

“Hm, asal kau tahu saja,” jengek Ih Jong-hay. “Hanya satu kali saja Cayhe dapat mengalah, tapi tidak mungkin ada kedua kalinya.”

“Juga belum tentu,” ujar Bok Ko-hong dengan menyengir. “Boleh jadi Ih-koancu memang seorang yang berbudi dan bermurah hati, maka untuk kedua kalinya kelak kau akan sudi mengalah pula padaku.”

Ih Jong-hay hanya mendengus saja dan tidak menggubrisnya. Ia memberi tanda kepada anak muridnya dan berkata, “Kita pergi saja!”

Lalu bersama rombongannya mereka meninggalkan tempat itu.

Ting-yat Suthay dan murid-muridnya karena buru-buru ingin menemukan Gi-lim, maka sejak tadi mereka sudah mencari ke lain tempat.

Lau Cing-hong anggap setiap keselamatan tamunya adalah tanggung jawabnya, hilangnya Gi-lim betapa pun dia tidak boleh tinggal diam. Maka bersama orang-orangnya segera mereka pun mencari ke jurusan lain. Hanya dalam sekejap saja di luar rumah pelacuran itu cuma tinggal Bok Ko-hong dan Lim Peng-ci berdua saja.

“Wah, bukan saja kau cuma menyaru sebagai bungkuk, bahkan sebenarnya kau adalah bocah yang tampan,” demikian kata Bok Ko-hong dengan tertawa, “Nak, kau tak perlu panggil kakek lagi padaku. Biarlah si Bungkuk menerima kau sebagai murid saja.”

Peng-ci sendiri masih kesakitan karena ditarik dan diseret oleh kedua tokoh itu dengan tenaga dalam. Sekarang mendengar ucapan Bok Ko-hong itu, diam-diam ia membatin, “Ilmu silat Bungkuk ini berpuluh kali lebih tinggi daripada ayahku, sampai Ih Jong-hay juga merasa jeri padanya. Jika aku ingin menuntut balas kepada Ih Jong-hay, terpaksa aku harus berguru pada si Bungkuk barulah ada harapan. Akan tetapi waktu murid Jing-sia-pay tadi hendak membunuh aku, sedikit pun dia tidak ambil pusing, ketika mendengar Pi-sia-kiam-boh dari keluargaku barulah dia mau turun tangan. Sekarang secara sukarela dia menyatakan mau menerima aku sebagai murid, terang dia tidak mengandung maksud baik.”

Melihat pemuda itu tidak menjawab, sebaliknya tampak ragu-ragu, segera Bok Ko-hong membujuk pula, “Ilmu silat dan kemasyhuran jago Bungkuk dari utara tentu sudah kau ketahui. Sampai saat ini seorang murid pun aku belum pernah terima. Di dunia ini bukanlah tidak ada pemuda yang bagus, cuma sudah lama aku pilih ke sana kemari tiada seorang pun yang cocok bagiku. Jika kau mau berguru padaku, si Bungkuk tentu akan mengajarkan segenap kepandaiannya kepadamu. Dengan demikian, jangankan orang-orang Jing-sia-pay, bahkan Ih Jong-hay sendiri kelak juga bukan tandinganmu. Nah, mengapa kau tidak lekas menyembah dan mengangkat guru padaku?”

Tapi semakin dia membujuk, Peng-ci tambah sangsi malah. Pikirnya, “Jika Bungkuk ini benar-benar suka kepadaku, mengapa tadi dia telah mencengkeram pundakku dengan sekeras-kerasnya, bahkan katanya akan saling betot dengan Ih Jong-hay supaya aku lekas mati. Rupanya dia telah menduga Ih Jong-hay sedang mengincar Pi-sia-kiam-boh keluargaku dan sekali-kali tak mungkin membinasakan aku pada waktu sekarang, maka dia sengaja merebut diriku ke pihaknya. Orang yang berhati keji dan licin begini, jika aku mengangkat guru padanya tentu kelak akan banyak mendatangkan kesukaran bagi diriku sendiri. Di antara Ngo-gak-kiam-pay tidak sedikit orang-orang cerdik pandai, bila aku ingin mencari guru yang baik, aku harus mencari di antara mereka, betapa pun aku tidak boleh mempunyai seorang guru seperti si Bungkuk ini.”

Melihat Peng-ci masih tetap ragu-ragu, lambat laun Bok Ko-hong menjadi gusar. Pikirnya, “Entah berapa banyak orang Kangouw yang berusaha dengan segala daya upaya kepingin menjadi muridku, tapi tiada seorang pun yang sudi kuterima. Sekarang aku sendiri yang menyatakan mau menerima kau sebagai murid, hal ini boleh dikata sangat diharapkan oleh setiap orang Bu-lim, sebaliknya kau malah berlagak dan jual mahal di hadapan si Bungkuk. Huh, kalau bukan lantaran Pi-sia-kiam-boh itu, tentu sekali gaplok saja sudah kumampuskan kau!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: