Hina Kelana: Bab 17. Laki-laki Boleh Mengapa Wanita Tak Boleh?

“Aku sendiri sih tidak tahu, tapi ada seorang lain yang mengetahui,” kata Fifi. “Orang itu terluka parah, jiwanya dalam bahaya. Jika Cici mau menolongnya dengan Thian-hiang-toan-siok-ko, tentu Cici juga akan diberi tahu di mana beradanya jenazah Lenghou-toako.”

“Kau sendiri tidak tahu?” Gi-lim menegas.

“Tidak, jika aku Kik Fi-yan mengetahui di mana beradanya jenazah Lenghou-toako, biarlah besok juga aku akan ditubles belasan kali oleh pedang Ih Jong-hay.”

“Sudahlah, aku percaya padamu,” cepat Gi-lim mendekap mulut si anak dara. “Siapakah orang itu?”

“Orang itu adalah orang baik, tergantung kau akan menolongnya atau tidak,” kata Fifi. “Tempat yang akan kita datangi juga bukanlah tempat yang baik.”

Karena tujuannya ingin mencari jenazah Lenghou Tiong, biarpun menerobos rimba pedang juga akan dilakukannya, jangan cuma masalah tempat baik atau tidak. Segera ia berkata, “Marilah, sekarang juga kita pergi ke sana.”

Segera mereka keluar dari gedung keluarga Lau itu. Ternyata hujan gerimis turun lagi. Namun di samping pintu terletak belasan buah payung, mereka lantas ambil payung masing-masing sebuah terus berjalan menuju ke arah tenggara. Waktu itu sudah jauh malam, orang berlalu-lalang hampir tak ada lagi, di sana-sini hanya terdengar suara anjing menggonggong.

Gi-lim melihat Fifi membawanya menyusur gang-gang yang kecil, karena yang terpikir adalah jenazah Lenghou Tiong, maka ia pun tidak ambil pusing dirinya hendak dibawa ke mana oleh dara cilik itu. Akhirnya mereka masuk ke sebuah lorong yang sempit dan panjang. Sampai di depan sebuah rumah yang di atas pintu tergantung sebuah lentera merah kecil, Fifi lantas berhenti di situ dan mengetok pintu.

Tidak lama kemudian terdengar ada orang mendatangi dari pekarangan dalam, pintu terbuka sedikit, kepala orang itu menongol ke luar.

Fifi bisik-bisik di tepi telinga orang itu, lalu menyodorkan sesuatu pula ke tangan orang itu. Akhirnya orang itu manggut-manggut dan berkata, “Ya, ya, silakan Siocia masuk!”

Fifi menoleh dan menggapai, Gi-lim lantas ikut masuk ke rumah itu. Waktu berlalu di sisi laki-laki itu, terlihat orang itu memakai baju sutera, rambutnya tersisir licin dan tampak keheran-heranan demi melihat Gi-lim.

Segera orang itu mendahului berjalan di depan dan membawa mereka ke serambi kanan, sampai di depan sebuah kamar, ia menyingkap tirai kamar itu dan berkata, “Siocia, Suhu, silakan duduk di dalam.”

Begitu masuk ke dalam kamar, Gi-lim lantas mengendus bau harum pupur sebagaimana lazimnya kamar kaum wanita. Di tengah kamar ada sebuah ranjang besar dengan seprai dan sarung bantal bersulam indah. Begitu pula selimutnya.

Sejak kecil Gi-lim hidup sederhana sebagai seorang padri, sudah tentu tak pernah melihat selimut dan sarung kasur-bantal sebagus itu. Ia lihat di atas meja menyala sebatang lilin merah, di samping sana ada sebuah kaca dan sebuah kotak rias. Di depan ranjang ada dua pasang sepatu, sepasang sepatu pria dan sepasang lain adalah sepatu wanita.

Jantung Gi-lim berdebur-debur, waktu ia berpaling, tertampak sebuah wajah yang bulat telur dan kemerah-merahan, itulah roman muka sendiri yang tercermin pada kaca itu.

Pada saat itulah tirai kamar tersingkap, seorang pelayan wanita melangkah masuk dengan tersenyum-senyum dan menyuguhkan teh. Pakaian pelayan wanita ini sangat ketat, jalannya juga bergoyang pantat seperti sengaja dibuat-buat.

Melihat keadaan demikian Gi-lim menjadi semakin takut. Dengan suara perlahan ia tanya Fifi, “Sebenarnya ini tempat apa?”

Fifi hanya tertawa dan tidak menjawab. Tiba-tiba ia membisiki apa-apa kepada pelayan itu. Terdengar pelayan itu mengiakan, lalu sambil mengikik genit lantas berjalan pergi dengan tingkah laku yang dibikin-bikin.

Diam-diam Gi-lim pikir wanita itu pasti bukan orang baik-baik, selagi dia hendak tanya lebih jauh kepada Fifi, tiba-tiba terdengar ada suara orang lelaki bergelak tertawa di luar kamar. Suaranya seperti sudah dikenalnya.

Dalam kejutnya Gi-lim terus berbangkit dan hendak lolos pedang, tapi tangannya telah meraba tempat kosong. Kiranya pedangnya sudah hilang, entah sejak kapan senjatanya telah dicuri orang.

Di tengah gelak tertawa, orang itu pun telah menyingkap tirai pintu kamar dan melangkah masuk. Tapi begitu melihat Gi-lim berada di dalam kamar, seketika suara tertawa orang itu lenyap, air mukanya tampak serbarunyam.

Gi-lim sendiri juga serbasusah, jantungnya memukul semakin keras. Kiranya orang itu tak lain tak bukan adalah “Ban-li-tok-heng” Dian Pek-kong.

Keruan Gi-lim mengeluh dan menganggap telah ditipu Fifi. Pantas dara cilik itu mengatakan ada seorang sangat merindukan dia.

Setelah tertegun sejenak, segera Dian Pek-kong berputar tubuh hendak pergi.

Tapi Fifi cepat menahannya, “Nanti dulu! Mengapa melihat aku lantas hendak lari?”

Namun Dian Pek-kong sudah lantas menyelinap keluar, sahutnya, “Aku tidak … tidak ingin bertemu dengan Siausuhu ini.”

Fifi bergelak tertawa, katanya, “Dian Pek-kong, kau ini orang yang tidak dapat dipercaya. Kau sudah bertaruh dengan Lenghou Tiong dan akhirnya kau kalah, seharusnya kau menyembah kepada Siausuhu ini dan panggil Suhu padanya. Sekarang bertemu dengan Suhu mengapa tidak memberi hormat dan menyapa, sebaliknya malah mengeluyur pergi?”

“Soal itu jangan diungkat-ungkat lagi, aku memang telah ditipu Lenghou Tiong,” kata Dian Pek-kong. “Fifi, mengapa kau datang ke tempat demikian ini? Hayo, lekas pergi, lekas! Anak perempuan masakah sembarangan datang ke rumah pelacuran begini?”

Jantung Gi-lim kembali memukul keras demi mendengar kata-kata “rumah pelacuran”, hampir-hampir saja ia jatuh pingsan.

Memang, sejak melihat keadaan kamar yang luar biasa itu dia sudah merasa curiga, tapi sekali-kali tak tersangka olehnya bahwa tempat ini adalah rumah pelacur. Pernah dia mendengar cerita orang bahwa pelacur adalah wanita yang paling hina di dunia ini. Setiap lelaki, asal punya duit, tentu dapat memanggil wanita pelacur. Sekarang Fifi membawa dirinya ke tempat demikian, bukankah seakan-akan dirinya hendak disuruh jadi pelacur? Saking cemasnya hampir-hampir saja Gi-lim menangis. Untunglah begitu melihat dirinya Dian Pek-kong lantas angkat kaki dan tidak berani main gila lagi padanya, jika demikian rasanya masih ada harapan untuk meninggalkan tempat kotor ini.

Dalam pada itu terdengar Fifi lagi berkata dengan tertawa, “Laki-laki adalah manusia, wanita juga manusia. Kau boleh datang ke rumah pelacur ini, mengapa aku tidak boleh?”

Keruan Dian Pek-kong serbarunyam, ia tidak tahu cara bagaimana mendekat dan beri penjelasan kepada anak dara itu. Terpaksa dengan membanting-banting kaki ia berkata di luar kamar, “Ai, jika kakekmu mengetahui kau berada di sini, tentu aku akan dibunuhnya. Fifi yang baik, Fifi yang manis, kumohon engkau jangan bergurau lagi dan lekas pergi bersama Siausuhu itu. Asal kau segera pergi dari sini, apa pun yang kau minta tentu akan kulakukan bagimu.”

“Aku justru tidak mau pergi, malam ini juga aku ingin tidur bersama Enci Gi-lim di kamar yang paling indah di seluruh kota Heng-san ini,” sahut Fifi dengan tertawa.

“Hayo, kau mau pergi atau tidak?” desak Dian Pek-kong dengan tak sabar.

“Tidak, sekali tidak tetap tidak!” sahut Fifi dengan tertawa.

“Fifi, O, Fifi yang manis, lekas kau pergi saja dari sini!” pinta Dian Pek-kong dengan nada halus. “Biarlah besok juga akan kucarikan tiga macam barang mainan yang bagus untukmu.”

“Cis, memangnya aku kepingin barang mainanmu?” semprot Fifi. “Akan kukatakan kepada kakek bahwa Dian Pek-kong yang mengajak aku ke tempat ini.”

“Heh, mana boleh kau berkata demikian?” seru Dian Pek-kong dengan gugup. “Aku kan tidak berbuat sesuatu yang salah padamu, mana boleh kau berbohong demikian? Apakah kau sengaja membikin celaka padaku? Apakah kau tidak punya perasaan?”

“Kau sendiri punya perasaan atau tidak, Dian Pek-kong?” tanya Fifi. “Mengapa berhadapan dengan Suhumu kau tidak memberi hormat malah terus hendak mengeluyur pergi?”

“Ya sudah, anggap aku yang salah,” ujar Dian Pek-kong. “O, Fifi, sebenarnya apa yang kau kehendaki dariku?”

“Aku kan ingin menjadikan kau seorang laki-laki sejati yang harus pegang janji,” kata Fifi. “Nah, lekas menggelinding masuk kemari dan menjura kepada Suhumu.”

“Wah, ini … ini ….” sahut Dian Pek-kong dengan tergagap-gagap.

“Tidak, tidak! Aku tak mau bertemu dengan dia, juga tidak ingin dia menjura padaku, dia … dia bukan muridku,” cepat Gi-lim menyela.

“Nah, Fifi, kau dengar sendiri. Siausuhu itu pun tidak mau bertemu dengan aku,” kata Dian Pek-kong.

“Baiklah, anggap kau yang beruntung,” kata Fifi. “Tapi dengarkan dulu! Waktu aku datang kemari tadi, dari belakang kulihat ada dua bangsat keroco telah mengikuti kami, hendaklah membereskan mereka dulu. Nanti kau harus menjaga pula di luar rumah dan siapa pun dilarang mengganggu kami. Jika segalanya kau kerjakan dengan baik, besok aku pun takkan bilang apa-apa kepada kakek.”

Rupanya Dian Pek-kong sangat jeri kepada kakek si Fifi, terpaksa ia menjawab, “Baiklah. Tapi kau harus pegang janji!”

“Aku toh bukan laki-laki sejati, pegang janji atau tidak, peduli apa?” ujar Fifi dengan tertawa.

Habis itu, mendadak Dian Pek-kong membentak, “Bangsat, mau apa kalian main sembunyi-sembunyi di situ?”

Menyusul terdengarlah suara gemerantang jatuhnya senjata di atas genting. Lalu ada suara jeritan seseorang, berbareng terdengar juga suara orang berlari.

“Wah, hanya terbunuh satu, adalah bangsat dari Jing-sia-pay. Yang seorang lagi telah lari,” demikian kata Dian Pek-kong di luar rumah.

“Sungguh tidak becus, masakah sampai dia sempat lolos?” omel Fifi.

“Aku tak dapat membunuh orang itu, dia … dia adalah Nikoh dari Hing-san-pay,” kata Pek-kong.

“O, kiranya paman-gurumu, sudah tentu tak boleh dibunuh,” Fifi mengolok-olok dengan tertawa.

Sebaliknya Gi-lim menjadi terkejut, “Ha, kiranya adalah Suciku! Wah, bagaimana baiknya ini?”

Namun Fifi lantas berkata, “Marilah sekarang juga kita pergi menjenguk orang yang terluka itu. Jika kau khawatir didamprat gurumu, sekarang boleh silakan pulang saja.”

Gi-lim menjadi ragu-ragu malah. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia berkata, “Sudahlah. Toh sudah telanjur datang ke sini, marilah kita pergi menjenguk orang itu.”

Fifi mengikik tawa. Ia lantas mendekati ujung tempat tidur dan mendorong perlahan dinding sebelahnya, maka terbukalah sebuah pintu rahasia. Anak dara itu melambaikan tangannya kepada Gi-lim, lalu mendahului masuk ke sana.

Diam-diam Gi-lim merasa rumah pelacuran itu benar-benar sangat aneh dan penuh rahasia, dengan tabahkan hati ia lantas ikut masuk ke dalam. Kiranya di sebelah sana adalah sebuah kamar pula. Tapi tiada lampu, hanya cahaya lilin yang tembus dari kamar sebelah tadi dapatlah diketahui bahwa kamar ini sangat kecil, terdapat juga sebuah ranjang dengan kelambu tertutup, samar-samar seperti ada orang tidur di situ.

Baru melangkah masuk ke dalam pintu Gi-lim lantas berhenti dan tidak berani maju lagi.

“Inilah orang yang terluka, silakan Cici memberikan Thian-hiang-toan-siok-ko pada lukanya,” kata Fifi.

“Apakah … apakah dia benar-benar mengetahui di mana jenazah Lenghou-toako berada?” tanya Gi-lim dengan sangsi.

“Mungkin tahu, mungkin tidak, aku tidak berani tanggung.” sahut Fifi.

“Tadi … tadi kau bilang dia tahu,” kata Gi-lim dengan gugup.

“Aku toh bukan laki-laki sejati, ucapanku kan boleh sesukaku?” sahut Fifi dengan tertawa. “Jika kau suka mencoba, bolehlah kau mengobati lukanya. Kalau tidak, boleh silakan angkat kaki saja dari sini dan tentu tiada seorang pun yang akan merintangi kau.”

Mengingat jenazah Lenghou Tiong harus diketemukan, terpaksa Gi-lim menjawab, “Baiklah, akan kuobati lukanya.”

Ia balik ke kamar pertama untuk mengambil lilin, lalu mendekati tempat tidur orang yang luka itu. Sesudah kelambu disingkap, tertampaklah orang itu tidur telentang. Mukanya tertutup sepotong saputangan sutera warna hijau dan bergerak naik-turun bila orang itu bernapas.

Gi-lim agak tenang karena tidak tahu muka orang. Ia berpaling dan tanya Fifi, “Di bagian mana lukanya?”

“Di dada,” sahut Fifi. “Lukanya sangat dalam, hampir saja mengenai jantung.”

Perlahan-lahan Gi-lim membuka selimut tipis yang menutupi tubuh orang itu. Terlihatlah dada orang yang terbuka itu ada sebuah luka yang cukup lebar, darah sudah berhenti, tapi jelas sangat parah dan berbahaya.

Diam-diam Gi-lim membatin, “Lukanya memang berat, betapa pun aku harus menolong jiwanya.”

Ia lantas menyerahkan tatakan lilin kepada Fifi, lalu memeriksa luka orang itu dan menutuk tiga Hiat-to di sekitar lukanya, tapi lantas diketahuinya tempat-tempat Hiat-to itu ternyata sudah tertutuk lebih dulu. Makanya tidak mengeluarkan darah.

Tapi ketika perlahan-lahan ia membuka kapas yang menempel di tempat luka itu, segera darah mengalir keluar pula. Cepat sebelah tangannya menahan tempat luka itu dan tangan lain lantas membubuhkan salep Thian-hiang-toan-siok-ko, lalu kapas ditempelkan pula ke mulut luka.

Thian-hiang-toan-siok-ko itu memang obat yang sangat manjur, hanya sekejap saja darah sudah terhenti. Dari pernapasan orang itu Gi-lim mengetahui keadaannya sudah agak mendingan. Dengan tak sabar ia lantas tanya, “Numpang tanya kesatria ini, apakah engkau sudi memberitahukan sesuatu padaku?”

Terdengar orang itu bersuara perlahan, tapi mendadak – entah disengaja atau tidak – tatakan lilin yang dipegangi oleh Fifi itu menjadi miring, api lilin lantas padam, keadaan menjadi gelap gulita.

“Wah, lilinnya padam!” seru Fifi.

Dalam keadaan gelap Gi-lim menjadi gugup. Pikirnya, “Tempat yang tak senonoh ini tidaklah layak bagiku. Aku harus lekas tanya keterangan tentang jenazah Lenghou-toako, lalu tinggal pergi dengan segera.”

Maka ia lantas tanya pula, “Apakah engkau masih sakit, kesatria?”

Orang itu hanya mengerang perlahan dan tidak menjawab.

“Rupanya ia lagi demam, coba kau pegang dahinya, panasnya tak kepalang,” kata Fifi.

Dan belum lagi Gi-lim menjawab, tahu-tahu Fifi sudah pegang tangannya untuk meraba dahi orang itu. Rupanya, saputangan yang menutupi muka orang itu sekarang sudah disingkirkan oleh Fifi. Gi-lim merasa dahi orang itu sangat panas sebagai dibakar. Mau tak mau timbul juga rasa kasihannya. Katanya, “Aku masih ada obat lain, boleh minumkan padanya. Fifi, silakan menyalakan lilin dahulu.”

“Baiklah, harap kau tunggu di sini, akan kupergi mencari api,” kata Fifi.

Gi-lim menjadi gugup karena hendak ditinggal pergi. Cepat ia tarik lengan baju anak dara itu dan berkata, “Jangan, kau jangan pergi! Aku tak mau ditinggalkan sendirian di sini.”

Fifi tertawa, katanya, “Jika demikian, boleh kau keluarkan obatmu saja.”

Gi-lim lantas mengeluarkan sebuah botol porselen kecil, ia menuangkan keluar tiga biji obat pil dan berkata, “Ini obatnya, boleh kau minumkan padanya.”

“Dalam keadaan gelap, jangan-jangan obatmu akan jatuh, wah, kan sayang,” ujar Fifi. “Enci yang baik, kau tidak berani tinggal sendirian di sini, silakan kau yang pergi mencari api, biar aku yang menunggu di sini saja.”

Disuruh keluyuran di rumah pelacuran, sudah tentu Gi-lim tambah tidak berani. Cepat ia menjawab, “Tidak, tidak, aku tidak mau!”

“Ai, lalu bagaimana baiknya?” kata Fifi. “Ya sudahlah, boleh kau jejalkan obatmu ke dalam mulutnya dan beri minum padanya, kan jadi sudah? Dalam keadaan gelap dia toh takkan tahu siapa kau, kenapa mesti takut? Nah inilah cangkirnya, hati-hati, jangan sampai tumpah.”

Dengan hati-hati Gi-lim menerima cangkir teh itu. Untuk sejenak ia menjadi ragu-ragu. Pikirnya, “Suhu sering mengajar padaku untuk mengutamakan welas asih kepada sesamanya, menolong jiwa seorang laksana membuat candi tujuh tingkat. Seumpama orang ini tidak tahu di mana beradanya jenazah Lenghou-toako, namun karena lukanya yang sangat parah ini, betapa pun aku harus menolongnya.”

Perlahan-lahan ia lantas menjulurkan tangan, lebih dulu menyentuh dahi orang itu, lalu menurun dan menjejalkan ketiga biji pil “Pek-in-him-tah-wan”, obat penyembuh luka dalam, ke dalam mulut orang itu.

Rupanya orang itu masih punya daya rasa, ia membuka mulut dan telan obat itu. Ketika Gi-lim mencekoki dia dengan beberapa cegukan teh, samar-samar ia seperti bersuara mengucapkan “terima kasih”.

“Kesatria ini, mestinya aku tidak boleh mengganggu seorang yang terluka parah,” demikian Gi-lim berkata pula. “Cuma terpaksa aku harus buru-buru tanya suatu urusan padamu. Ada seorang pendekar bernama Lenghou Tiong, dia telah dibunuh orang dan jenazahnya ….”

“O, kau … kau tanya Lenghou Tiong ….” terdengar orang itu menyela dengan suara lemah.

“Benar!” kata Gi-lim. “Apakah tuan mengetahui di mana beradanya jenazah kesatria Lenghou Tiong itu?”

“Jena … jenazah apa?” terdengar orang itu seperti menggumam dengan samar-samar.

“Ya, apakah engkau mengetahui jenazahnya Lenghou Tiong?” Gi-lim mengulangi.

Orang itu samar-samar mengucapkan apa-apa, tapi suaranya sangat perlahan sehingga tak jelas. Gi-lim mengulangi pertanyaannya lagi dan mendekatkan telinganya ke mulut orang itu. Tapi didengarnya napas orang itu agak memburu, agaknya ingin mengatakan sesuatu, tapi sukar diucapkan.

Tiba-tiba Gi-lim teringat tentang obat yang baru saja diminumkan itu, khasiatnya memang sangat cepat dan keras bekerjanya. Setelah minum obat sering kali si sakit akan tak sadarkan diri sampai setengah harian. Dalam keadaan demikian sudah tentu sukar untuk dimintai keterangan.

Dasar hati Gi-lim memang welas asih, perlahan-lahan ia menghela napas dan menyingkir dari tempat tidur itu dan berduduk di atas kursi yang berada di depan ranjang. Katanya, “Biarlah dia mengaso dulu, nanti kutanya dia lagi.”

“Apakah jiwa orang ini tidak berbahaya, Cici?” tanya Fifi.

“Semoga demikian adanya,” ujar Gi-lim. “Hanya luka di dadanya itu yang sangat parah. Fifi, sebenarnya siapakah dia ini?”

Fifi tidak menjawab. Sejenak kemudian dia malah berkata, “Kata kakekku, kau masih belum dapat kesampingkan segala urusan kehidupan manusia, sukar untuk menjadi Nikoh yang baik.”

Gi-lim terheran-heran. Tanyanya, “Kakekmu kenal padaku? Dari mana … dari mana beliau mengetahui tentang diriku?”

“Di atas Cui-sian-lau kemarin, kakek bersama aku telah menyaksikan kalian berkelahi dengan Dian Pek-kong,” jawab Fifi.

“O, jadi yang bersama kau kemarin itu adalah kakekmu?” Gi-lim menegas.

“Benar,” sahut Fifi. “Kemarin kami telah menyamar, sebab itulah keparat Dian Pek-kong tidak kenal kami. Dia paling takut kepada kakek, jika tahu kakekku berada di situ tentu siang-siang dia sudah lari sipat kuping.”

Mendengar itu, diam-diam Gi-lim membatin, jika waktu itu kakeknya tampil ke muka tentu Dian Pek-kong akan kabur ketakutan dan Lenghou-toako tentu tidak akan terbunuh. Tapi dasar perangainya memang halus, rasa penyesalannya kepada orang lain itu betapa pun sukar diucapkan olehnya.

Tapi Fifi lantas berkata, “Dalam hatimu tentu kau menyalahkan kakek mengapa kemarin tak mau menggebah lari Dian Pek-kong sehingga mengakibatkan Lenghou-toakomu dibunuh oleh musuh, bukan?”

Gi-lim tidak dapat berdusta, perasaannya menjadi pilu, katanya dengan terguguk-guguk, “Akulah yang bersalah. Jika kemarin aku tidak cuci kaki segala di kali, tentu takkan dipergoki Dian Pek-kong dan tentu pula takkan menimbulkan urusan sejauh ini, mana aku berani menyesali kakekmu?”

“Itulah paling baik jika kau tidak menyesali kakek, biasanya dia paling tidak suka disalahkan orang,” kata Fifi. “Menurut kakek, beliau ingin tahu sampai seberapa jahatnya Dian Pek-kong itu, ingin diketahuinya apakah Dian Pek-kong akan main akal bulus jika tak dapat menang dari lawannya.”

Sampai di sini mendadak ia tertawa dan menyambung lagi, “Hihi, Lenghou-toakomu itu pun sangat pintar putar lidah, dia bilang kalau berkelahi sambil berduduk adalah jago nomor dua di dunia ini. Kakekku merasa tertarik dan rada-rada percaya, bahkan menyangka dia benar-benar telah menciptakan sejenis ilmu pedang yang dilatihnya di waktu berak dan yakin Dian Pek-kong pasti bukan tandingannya. Tak tahunya, hihihi!”

Dalam kegelapan Gi-lim tak bisa melihat wajah anak dara itu, tapi dapat dibayangkan dara cilik itu tentu sangat geli dan gembira. Sebaliknya perasaan Gi-lim sendiri bertambah pedih.

“Kemudian Dian Pek-kong telah melarikan diri dan kakek menganggapnya sebagai orang yang tak dapat dipercaya, sudah berjanji bila kalah dia harus menyembah dan mengangkat kau sebagai guru, mana boleh main belit dan kabur begitu saja?” demikian Fifi menyambung.

“Ah, Lenghou-toako juga cuma menang dengan akal saja, kan bukan kemenangan yang sungguh-sungguh,” ujar Gi-lim.

“Engkau benar-benar seorang baik, Cici,” kata Fifi. “Begitu jahatnya Dian Pek-kong, tapi kau malah membelanya. Sesudah Lenghou-toakomu ditusuk mati oleh orang, kau telah membawa jenazahnya dan berjalan tanpa arah tujuan. Kakek bilang, ‘Nikoh cilik ini mudah jatuh cinta, kematian Lenghou Tiong bisa membuatnya menjadi gila. Marilah kita mencoba mengikuti dia.’

“Maka kami lantas mengikuti dari belakang. Tertampak kau merasa berat untuk melepaskan jenazah yang kau pondong. Kakek berkata pula, ‘Lihatlah Fifi, jika Lenghou Tiong itu tidak mati, rasanya tidak boleh tidak Nikoh cilik itu harus piara rambut kembali dan menjadi bininya.’”

Muka Gi-lim menjadi merah jengah, untunglah dalam kegelapan keadaannya itu tak kelihatan.

Sebaliknya Fifi mendadak tanya pula, “Cici, apa yang dikatakan kakek itu betul atau tidak?”

“Ai, aku hanya merasa tidak enak karena telah mengakibatkan kematian orang, sungguh aku berharap aku sendirilah yang mati dan bukanlah dia,” demikian jawab Gi-lim. “Jika Buddha mahakasih dapat membuat aku mati untuk menggantikan Lenghou-toako, biarpun masuk neraka juga aku … aku rela.”

Ucapan itu dengan nada yang sungguh-sungguh dan mengharukan. Pada saat itulah orang di atas ranjang itu mendadak merintih perlahan.

“Dia … dia sudah siuman,” seru Gi-lim dengan girang. “Fifi, coba kau tanya dia, apakah keadaannya sudah baikan atau tidak?”

“Kenapa aku yang disuruh tanya, apakah kau sendiri tidak bisa?” ujar Fifi.

Gi-lim ragu-ragu sejenak, akhirnya ia mendekati ranjang pula dan menanya dari balik kelambu, “Kesatria ini, apakah engkau ….” belum selesai ucapannya, terdengar orang itu telah merintih pula. Hal ini membuat Gi-lim merasa tidak enak untuk mengganggu orang yang sedang menderita. Ia tertegun sejenak dan mendengar napas orang itu telah tenang kembali, agaknya merintihnya tadi karena pengaruh bekerjanya obat dan sekarang sudah terpulas pula.

Tiba-tiba Fifi bertanya dengan suara perlahan, “Cici, sebab apa kau rela mati bagi Lenghou Tiong? Apakah kau benar-benar suka padanya?”

“Tidak, tidak!” sahut Gi-lim. “Aku adalah orang beragama yang telah meninggalkan hidup kekeluargaan, janganlah kau mengucapkan kata-kata yang menodai Buddha itu. Selamanya aku tak kenal kepada Lenghou-toako, tapi dia telah mati lantaran menolong diriku, sungguh … sungguh aku merasa sangat menyesalkan kemalangannya.”

“Dan asal dia dapat hidup kembali, maka segala apa pun kau bersedia untuk melakukan baginya?” tanya Fifi.

“Betul, biarpun aku mati seribu kali juga takkan menyesal,” sahut Gi-lim.

Mendadak Fifi berseru dengan suara keras sambil tertawa, “Nah, dengarkanlah Lenghou-toako, Enci Gi-lim sendiri telah menyatakan ….”

“Kau berkelakar apa ini?” sela Gi-lim dengan gusar.

Namun Fifi tak peduli, ia meneruskan seruannya, “Dia telah menyatakan asal kau tidak mati, maka segala apa pun dia akan melakukannya bagimu.”

Karena kedengarannya seruan Fifi itu seperti sungguh-sungguh dan bukan bergurau, seketika Gi-lim merasa gugup dan berdebar-debar jantungnya.

Pada saat itulah mendadak pandangan Gi-lim terasa silau, kiranya Fifi telah menyalakan api lilin. Kelambu lalu disingkap dan Gi-lim digapai agar mendekati.

Dengan ragu-ragu Gi-lim melangkah maju. Tapi mendadak telinganya terasa mendengung, pandangan menjadi gelap, ia terhuyung-huyung dan hampir-hampir saja jatuh kelengar.

“Aku memang sudah menduga kau akan terperanjat,” kata Fifi dengan tertawa. “Coba lihat Cici, siapakah dia ini?”

“Dia … jadi dia tidak … tidak mati?” seru Gi-lim dengan suara lemah dan agak gemetar sambil memegangi lengan Fifi.

Kiranya orang yang berbaring di atas ranjang dengan mata tertutup dan bermuka lonjong, alis lentik dan bibir tipis itu tak lain tak bukan adalah Lenghou Tiong yang telah menolongnya di Cui-sian-lau itu.

“Ya, dia sekarang belum mati, tapi kalau obatmu tidak manjur tentu ia akan lantas mati,” kata Fifi dengan tersenyum.

“Tidak, dia takkan mati, pasti takkan mati,” seru Gi-lim cepat. Saking kejut dan girangnya mendadak ia menjadi menangis.

“He, dia tidak mati, mengapa kau malah menangis?” ujar Fifi dengan heran.

Kedua kaki Gi-lim terasa lemas, ia tidak tahan lagi dan terkulai di depan tempat tidur sambil menangis terguguk-guguk. Katanya, “O, sungguh aku sangat girang. Fifi, aku harus berterima kasih padamu. Kiranya … kiranya kau yang telah menyelamatkan Lenghou-toako.”

“Engkau sendirilah yang menolong dia, dari mana aku mampu menyelamatkan dia, aku toh tidak punya obat apa-apa,” sahut Fifi.

Tiba-tiba Gi-lim sadar, perlahan-lahan ia berbangkit dan menarik tangan Fifi, katanya, “Ya, aku tahu kakekmu yang telah menolong dia, kakekmu yang menolong dia!”

Pada saat itu juga sekonyong-konyong terdengar di tempat yang tinggi di luar kamar ada orang berseru, “Gi-lim! Gi-lim!”

Itulah suaranya Ting-yat Suthay. Keruan Gi-lim terkejut, segera ia bermaksud menjawab. Tapi Fifi sudah lantas bertindak, api lilin ditiup padam, mulut Gi-lim juga lantas didekap olehnya sambil berbisik, “Ssst, jangan bersuara. Ingat, tempat apakah ini?”

Sesaat Gi-lim jadi bingung. Ia tahu dirinya berada di rumah pelacuran, keadaannya serbasalah. Namun jelas didengarnya suara panggilan sang guru dan dirinya tidak menjawab, hal ini sungguh tidak pernah terjadi selama hidupnya ini.

Dalam pada itu terdengar Ting-yat berteriak lagi, “Dian Pek-kong, lekas keluar! Kau harus lepaskan Gi-lim!”

Maka terdengar suara bergelak tertawa Dian Pek-kong di kamar depan sana. Sesudah tertawa, lalu berkata, “Apakah yang datang adalah Ting-yat Suthay dari Pek-hun-am, Hing-san-pay? Seharusnya Wanpwe keluar memberi salam hormat, cuma di sampingku sekarang ada beberapa teman yang cantik-cantik dan ayu-ayu sehingga aku tidak sempat keluar. Maka bolehlah kita tak perlu saling membikin repot. Hahahaha!”

Menyusul terdengar pula suara terkikik-kikik dan terkekek-kekek beberapa wanita yang genit, terang mereka adalah perempuan-perempuan pelacur di rumah “P” itu. Bahkan ada di antaranya lantas mengeluarkan kata-kata yang kotor dan cabul.

Apa yang dilakukan Dian Pek-kong dan pelacur-pelacur itu makin menjadi-jadi, rupanya mereka sengaja hendak membikin marah Ting-yat.

Keruan Ting-yat menjadi murka. Ia membentak, “Dian Pek-kong, jika kau tidak lantas menggelinding keluar, aku akan cincang tubuhmu hingga hancur luluh.”

“Hahaha! Kalau aku menggelinding keluar akan kau bunuh, jika tidak keluar juga akan kau cincang hingga hancur luluh. Jika begitu, hahaha, lebih baik aku mengeram di dalam kamar dengan temanku yang manis-manis ini saja,” demikian Dian Pek-kong berolok-olok dengan tertawa. “Ting-yat Suthay, tempat seperti ini tidaklah pantas didatangi oleh orang beragama seperti kau, ada lebih baik kau lekas pulang saja. Muridmu itu tidak berada di sini, dia adalah seorang Nikoh cilik yang alim dan taat kepada agamanya, mana mungkin dia datang ke sini? Hahaha, sungguh heran bin ajaib!”

Ting-yat tambah murka. Teriaknya kepada anak buahnya, “Bakar, bakar saja sarang anjingnya ini! Coba lihat apakah dia akan menggelinding keluar atau tidak?”

“Ting-yat Suthay,” kata Dian Pek-kong dengan tertawa. “Tempat ini bernama ‘Kun-giok-ih’ (rumah bunga rampai kemala) dan sangat terkenal di kota Heng-san ini. Jika kau membakarnya, sebentar saja di dunia Kangouw pasti akan tersiar cerita tentang Ting-yat Suthay dari Hing-san-pay telah membakar rumah pelesir yang terkenal di daerah provinsi Oulam ini dan tentu setiap orang akan bertanya-tanya, orang beragama tinggi sebagai Ting-yat Suthay mengapa bisa mendatangi tempat demikian? Apakah berita begini akan baik bagi kehormatan Hing-san-pay kalian? Biarlah kukatakan terus terang padamu, aku Dian Pek-kong selamanya tidak takut kepada langit tidak gentar terhadap bumi, tapi sekarang justru jeri kepada muridmu itu saja. Bila melihat dia, untuk menyingkir saja aku khawatir tidak sempat, masa aku berani lagi membikin susah padanya?”

Ting-yat pikir apa yang dikatakan Dian Pek-kong ada benarnya juga. Tapi menurut laporan muridnya yang kembali tadi, dengan jelas Gi-lim terlihat masuk ke rumah ini, bahkan muridnya itu pun kena dilukai oleh Dian Pek-kong, masa laporannya itu palsu? Meskipun demikian dia toh tak bisa berbuat apa-apa. Saking mendongkolnya ia telah menginjak-injak hancur genting rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: