Hina Kelana: Bab 16. Senjata Makan Tuan, Cui-sim-ciang Makan Jing-sia-pay

Para hadirin melihat umur dara cilik itu paling-paling baru 12-13 tahun saja, berbaju hijau pupus, kulit badannya putih bersih, raut mukanya bulat telur, cantik menyenangkan. Maka timbul seketika rasa simpatik semua orang. Beberapa orang di antaranya yang berangasan sudah lantas berteriak-teriak, “Hajar hidung kerbau itu!”

“Ya, mampuskan Tosu kerdil itu!”

Keadaan Ih Jong-hay jadi serbasulit. Ia tahu dirinya telah menimbulkan kemarahan umum, ia menjadi kuncup dan tak berani membantah. Terpaksa ia membujuk si dara cilik lagi, “Adik kecil, maaf ya! Coba kulihat tanganmu apakah terluka?” Lalu ia bermaksud memeriksa tangan dara cilik itu.

“Tidak, tidak mau! Kau nakal, jangan sentuh diriku!” demikian dara cilik itu berkaok-kaok lagi. “O, ibu, ibuuu! Tanganku telah dipatahkan oleh Tosu katai ini.”

Selagi Ih Jong-hay kewalahan, tiba-tiba dari pihaknya muncul seseorang, ialah Pui Jin-ti yang terkenal paling cerdik di antara murid-murid Jing-sia-pay. Ia berkata terhadap anak dara itu, “Nona cilik sengaja pura-pura ya? Tangan Suhuku kan tidak menyentuh bajumu, dari mana bisa mematahkan tanganmu?”

“O, Ibu! Ada seseorang lagi hendak memukul aku!” mendadak gadis cilik itu berteriak pula.

Memang Ting-yat Suthay sudah mendongkol menyaksikan kejadian tadi, segera ia melangkah maju, kontan dia tempeleng muka Pui Jin-ti sambil membentak, “Orang tua beraninya cuma menggertak anak kecil, tidak tahu malu!”

Mestinya Pui Jin-ti hendak menangkis, tak terduga Ting-yat justru sengaja hendak memancing dia untuk angkat tangannya, sekali sambar ia pegang telapak tangan Pui Jin-ti, menyusul tangan lain memotong ke siku. Asal kena, tentu ruas tulang Jin-ti itu akan patah.

Untunglah Ih Jong-hay cepat bertindak, segera ia menutuk ke punggung Ting-yat sehingga mau tak mau Nikoh tua itu harus menarik kembali tangannya untuk menangkis. Karena Ih Jong-hay tidak bermaksud ingin bertempur dengan dia, maka ia lantas melompat mundur tanpa menyerang lagi.

Biasanya Ting-yat Suthay paling suka kepada anak dara yang cantik dan lincah. Segera ia pegang lengan dara cilik tadi dan bertanya dengan suara ramah, “Anak yang baik, mana yang sakit? Coba kulihat, akan kusembuhkan!”

Setelah meraba lengan anak dara itu dan terasa tidak patah, hatinya menjadi lega. Ia menyingsingkan lengan baju, maka tertampaklah lengannya yang kecil dan putih halus terdapat empat garis merah bekas cengkeraman jari.

Dengan gusar ia lantas membentak terhadap Pui Jin-ti, “Ini lihat, bangsat! Katamu gurumu tidak menyentuh tangannya, lalu bekas jari tangan siapa ini?”

“Bekas jari tangan kura-kura itu, kura-kura itu!” demikian mendadak dara cilik itu berseru sambil menuding punggung Ih Jong-hay.

Kura-kura atau Oh-kui adalah sebutan bagi germo. Maka meledaklah gelak tawa orang banyak, sampai-sampai ada yang menyemburkan air teh yang baru saja diminumnya, ada yang terpingkal-pingkal sampai menungging.

Ih Jong-hay sendiri tidak tahu apa yang ditertawakan orang banyak itu. Dia sangka anak dara itu merasa penasaran maka memakinya sebagai kura-kura, mestinya tidak perlu merasa geli. Anehnya semua orang masih terus tertawa sambil memandang padanya, mau tak mau ia merasa kikuk juga.

Mendadak Pui Jin-ti melompat ke belakang sang guru dan menanggalkan sehelai kertas dari bajunya. Lalu kertas itu diremasnya.

Ketika Ih Jong-hay minta kertas itu dan dibentang, tertampaklah di atas kertas itu terlukis seekor kura-kura besar. Terang kertas itu ditempelkan di punggungnya oleh dara cilik itu pada waktu dirinya lena tadi.

Di tengah gusar dan malu Ih Jong-hay terkesiap juga. Ia pikir gambar kura-kura itu tentu sudah disediakan lebih dulu dan sengaja hendak mempermainkan dirinya. Jika demikian di belakang anak dara itu pasti ada orang lain lagi yang menjagoi. Ia berpaling dan memandang sekejap kepada Lau Cing-hong, ia menduga gadis cilik itu tentu anggota keluarga Lau, boleh jadi diam-diam Lau Cing-hong yang sengaja main gila padanya.

Karena dipandang oleh Ih Jong-hay, segera Lau Cing-hong merasa dirinya telah dicurigai, ia coba mendekati dara cilik tadi dan bertanya, “Adik kecil, anak siapakah kau? Di manakah ayah-bundamu?”

Pertanyaannya itu sengaja diajukan supaya didengar Ih Jong-hay, pula ia sendiri pun curiga dan ingin tahu anak dara itu datang bersama siapa.

Maka dara cilik itu menjawab, “Ayah-bundaku sudah pergi, aku disuruh tinggal di sini, katanya sebentar lagi akan ada permainan sulapan, ada dua orang akan melayang dan jatuh tak bergerak, katanya itu adalah kepandaian andalan Jing-sia-pay yang disebut ‘gaya belibis jatuh pantat menghadap ke belakang’! Dan memang sangat menarik sulapan ini!”

Habis berkata ia terus bertepuk tangan dan tertawa riang walaupun air mata masih meleleh di pipinya.

Melihat itu, sebagian hadirin menjadi geli. Teranglah anak dara itu sengaja disuruh oleh seseorang untuk main gila terhadap Jing-sia-pay.

Dalam pada itu kedua murid Jing-sia-pay tadi masih tergeletak tak bergerak di tempatnya. Segera Ih Jong-hay mendekatinya dan menepuk dua kali di tubuh seorang murid itu. Tapi di mana tangannya menyentuh terasa badan murid itu sudah dingin. Keruan Ih Jong-hay terkejut.

Jika kedua muridnya yang ditendang jatuh di ruangan dalam tadi walaupun tak bisa bergerak, tapi tidaklah terluka. Tapi sekarang kedua murid ini badannya sudah kaku dan dingin. Diam-diam Ih Jong-hay mengeluh dan tahu kedua muridnya itu sudah binasa.

Ia coba membalik tubuh murid itu, tertampak air mukanya bersenyum simpul secara aneh. Melihat senyuman aneh itu, seketika Ih Jong-hay terperanjat seperti melihat setan iblis. Betapa pun kuat perasaannya tidak urung jarinya rada gemetar juga.

Maklumlah bahwa senyuman aneh itu telah sangat dikenal olehnya, yaitu senyuman kematian yang menjadi korban “Cui-sim-ciang”, pukulan penghancur hati, ilmu yang menjadi kebanggaan Jing-sia-pay itu.

Senyuman itu bukan senyuman yang wajar, tapi adalah kerutan di waktu kejang kesakitan bila terkena pukulan yang membikin remuk bagian isi perut itu. Di dunia ini hanya Cui-sim-ciang saja yang dapat menimbulkan senyuman aneh itu bagi korbannya. Jadi kalau dipandang dari segi ini ternyata kedua muridnya itu telah binasa di tangan sesama orangnya sendiri.

Untuk sejenak muka Ih Jong-hay sebentar merah sebentar pucat tanpa bisa bersuara.

Sekonyong-konyong Lim Peng-ci berteriak, “Cui-sim-ciang! Cui-sim-ciang! Itu adalah ilmu silat Jing-sia-pay sendiri!”

Karena banyak di antara pegawai Hok-wi-piaukiok telah dibinasakan oleh ilmu pukulan ajaib itu, maka senyuman aneh pada tiap-tiap korbannya telah berkesan mendalam baginya. Sebab itulah dia lantas mendahului berteriak.

Beberapa orang di antara hadirin juga kenal ciri khas “Cui-sim-ciang” itu, serentak mereka pun berseru, “Ya, benar! Korban Cui-sim-ciang!”

“Kiranya anak murid Jing-sia-pay telah saling bunuh-membunuh sendiri!”

Ih Jong-hay menjadi gelisah, katanya pada Pui Jin-ti dengan suara perlahan, “Gotong pergi dulu!”

Segera Pui Jin-ti memberi isyarat, beberapa murid Jing-sia-pay lantas berlari maju dan mengusung keluar jenazah-jenazah saudara seperguruan mereka.

Tiba-tiba si dara cilik berseru, “Wah, orang Jing-sia-pay benar-benar sangat banyak! Mati satu digotong dua, mati dua digotong empat!”

Dengan muka merah padam Ih Jong-hay tanya si dara cilik, “Siapa orang tuamu? Apakah ucapanmu barusan ini adalah ajaran ayah-ibumu?”

Tapi nona cilik itu dengan tertawa masih terus menghitung, “Satu kali dua mendapat dua, dua kali dua mendapat empat, dua kali tiga mendapat enam ….” dan begitu seterusnya dia lantas menghafalkan angka perkalian seperti anak sekolah. Padahal ucapannya sangat menyinggung perasaan Ih Jong-hay.

Dengan mendongkol Ih Jong-hay menegur pula dengan suara bengis, “Aku tanya kau, mengapa kau tidak menjawab?”

Di luar dugaan dara cilik itu lantas mewek-mewek dan kembali menangis lagi sambil menyisipkan kepalanya ke dalam pelukan Ting-yat Suthay.

“Jangan takut, anak baik, jangan takut!” demikian Ting-yat menimangnya sambil tepuk-tepuk bahu si dara. Lalu ia berpaling kepada Ih Jong-hay dan berkata, “Kau tidak becus mengajar murid sendiri sehingga mereka saling bunuh, mengapa kau menjadi marah dan menggertak seorang anak kecil?”

Akan tetapi Ih Jong-hay hanya mendengus dan tidak menggubrisnya.

Mendadak kepala anak dara itu menongol keluar dari pelukan Ting-yat Suthay, lalu berkata dengan tertawa, “Losuthay, betul tidak hitunganku: dua kali dua mendapat empat, dua kali empat mendapat delapan ….” sampai di sini dia lantas tertawa terkikik-kikik.

Semua orang merasa kelakuan dara cilik itu memang aneh, sebentar menangis sebentar tertawa. Kelakuan demikian mestinya adalah kejadian biasa bagi anak kecil umur 7-8 tahun, tapi anak dara ini tampaknya sudah ada 12-13 tahun, perawakannya juga cukup tinggi, apalagi setiap ucapannya selalu menyinggung kehormatan Ih Jong-hay, hal ini terang bukan secara kebetulan, tapi di balik layar pasti ada yang suruh.

Lama-lama Ih Jong-hay juga tidak sabar lagi, ia berseru, “Seorang laki-laki sejati harus berani berbuat secara blak-blakan, kalau ada sahabat yang merasa sirik padaku boleh silakan tampil ke muka saja, kalau main sembunyi-sembunyi dan memperalat seorang anak kecil, cara demikian terhitung orang gagah macam apa?”

Meskipun orangnya kecil, tapi suara Ih Jong-hay sangat keras dan nyaring sehingga anak telinga para hadirin sampai mendenging-denging. Namun keadaan ternyata sunyi senyap saja, tiada seorang pun yang menjawab.

Selang sebentar tiba-tiba nona cilik itu berkata pula, “Losuthay, dia tanya orang gagah macam apa? Apakah Jing-sia-pay mereka adalah orang-orang gagah?”

Walaupun tidak senang terhadap Jing-sia-pay, namun sebagai tokoh angkatan tua tidaklah pantas mengolok-olok golongan lain secara terang-terangan, terpaksa Ting-yat menjawab secara samar-samar, “Ya, leluhur Jing-sia-pay memang … memang banyak kesatria yang gagah.”

“Dan sekarang bagaimana? Apakah masih ada sisa-sisa kesatria gagah itu?” tanya si anak dara pula.

“Entahlah, boleh coba kau tanya kepada Totiang ketua Jing-sia-pay ini,” sahut Ting-yat sambil menuding Ih Jong-hay.

Benar-benar si nona cilik lantas tanya Ih Jong-hay, “Eh, Totiang ketua, jika orang dalam keadaan terluka parah dan tak bisa berkutik, lalu seorang lain menganiayanya pula, kau bilang orang itu terhitung kesatria gagah atau bukan?”

Pertanyaan ini bukan saja membuat hati Ih Jong-hay tergetar, bahkan setiap orang yang mengikuti cerita Gi-lim tadi tentang Lo Jin-kiat membunuh Lenghou Tiong, hati mereka juga terkesiap, pikir mereka, “Jangan-jangan nona cilik ini ada sangkut pautnya dengan Hoa-san-pay?”

Sebaliknya Lo Tek-nau membatin, “Ucapan nona cilik ini terang membela keadilan bagi Toasuko. Siapakah gerangan dia ini?”

Tadi sesudah mendengar berita tentang kematian sang Toasuko di ruangan dalam, karena khawatir membikin duka Siausumoay, sekeluarnya di ruangan tamu depan dia belum sempat memberitahukan berita jelek itu kepada para saudara seperguruannya.

Di antara orang banyak itu mungkin Gi-lim yang paling terguncang perasaannya, ia merasa terima kasih tak terhingga atas pertanyaan anak dara itu, pertanyaan demikian sudah sejak tadi hendak diajukan olehnya, cuma dasar perangainya halus, biasanya suka menghormati orang tua pula, betapa pun ia anggap Ih Jong-hay sebagai angkatan tua, maka sukar untuk mengucapkan pertanyaan itu. Sekarang nona cilik itu telah mewakilkan dia berbicara, tentu saja ia sangat terima kasih, saking terharunya sampai air matanya bercucuran.

“Pertanyaanmu ini siapakah yang suruh kau ajukan padaku?” demikian tanya Ih Jong-hay.

Dara cilik itu ternyata tidak menjawab, sebaliknya berkata, “Jing-sia-pay kalian terdapat seorang yang bernama Lo Jin-kiat, dia adalah murid Totiang, bukan? Dia melihat seorang terluka parah, orang itu adalah seorang baik, tapi Lo Jin-kiat itu tidak menolongnya, sebaliknya malah telah menusuknya dengan pedang. Menurut Totiang, perbuatan Lo Jin-kiat itu terhitung kesatria gagah atau bukan? Apakah kepandaian demikian itu adalah ajaran Totiang?”

Sudah tentu pertanyaan itu membuat Ih Jong-hay serbarunyam dan sukar menjawab. Terpaksa ia tanya pula dengan suara bengis, “Aku tanya kau, sebenarnya siapa yang mendalangi kau untuk mencari perkara padaku? Ayahmu adalah orang Hoa-san-pay, bukan?”

Kembali si anak dara tidak menjawab, ia malah berpaling kepada Ting-yat dan bertanya, “Losuthay, caranya menggertak anak kecil ini apakah terhitung perbuatan seorang laki-laki? Apakah terhitung seorang kesatria?”

“Wah, sukar bagiku untuk menjawabnya,” sahut Ting-yat.

Keruan semua orang tambah heran. Kalau pertanyaan-pertanyaan si anak dara, semula mereka menduga adalah suruhan orang tua, tapi pertanyaannya yang belakangan ini terang sangat tajam dan jitu terhadap sikap Ih Jong-hay yang garang itu. Jadi pertanyaan belakangan ini diucapkan menurut keadaan dan bukanlah karangan sebelumnya, sungguh tidak disangka nona semuda itu ternyata sudah begitu lihai mulutnya.

Dengan pandangan yang samar-samar karena tergenang air mata, tiba-tiba hati Gi-lim tergerak melihat bayangan si nona cilik yang ramping itu. Ia merasa adik cilik itu seperti pernah dilihatnya, tapi entah di mana?

“Ah, benar. Kemarin dia pun berada di Cui-sian-lau,” demikian tiba-tiba teringat oleh Gi-lim. Lalu terbayanglah keadaan kemarin pagi ketika dia dipaksa naik ke atas loteng restoran itu oleh Dian Pek-kong. Semula restoran itu penuh tamu, tapi sesudah terjadi pertempuran, para tamu lantas lari bubar ketakutan, pelayan juga tidak berani mendekat. Namun pada meja yang terletak di pojok dekat jendela justru masih duduk dua orang, sampai akhirnya Lenghou Tiong terbunuh dan dirinya memondong jenazah Lenghou Tiong keluar dari restoran itu, agaknya kedua orang itu masih belum meninggalkan mejanya.

Waktu itu karena pikirannya lagi bingung, banyak kejadian-kejadian yang membuatnya cemas, sudah tentu ia tidak perhatikan siapakah kedua orang yang duduk di pojok itu. Tapi sekarang perawakan anak dara itu rasanya cocok benar dengan bayangan yang masih membekas dalam benaknya. Ia merasa satu di antara dua orang kemarin itu bukan lain adalah si dara cilik ini. Tapi masih ada lagi seorang, siapakah dia? Yang masih teringat olehnya orang itu adalah laki-laki, hal ini tidak perlu disangsikan. Cuma saja bagaimana dandanannya, tua atau muda, inilah yang kurang jelas baginya.

Kalau saat itu perhatian semua orang terpusat kepada Ih Jong-hay dan si dara cilik, adalah pikiran Gi-lim seorang saja yang tenggelam dalam lamunannya. Terbayang pula pemandangan kemarinnya, wajah Lenghou Tiong yang selalu tertawa seakan-akan muncul lagi di depan matanya, terbayang olehnya cara bagaimana sebelum mati Lenghou Tiong memancing Lo Jin-kiat mendekat, lalu pedangnya menubles ke dalam perut musuh itu. Kemudian dirinya memondong jenazah Lenghou Tiong meninggalkan loteng restoran. Dalam keadaan limbung ia sendiri tidak tahu menuju ke mana, samar-samar ia merasa telah keluar kota dan berjalan terus tanpa arah tujuan. Ia merasa tubuh yang dipondongnya itu lambat laun mulai dingin, tanpa merasa berat dan tidak tahu sedih atau duka, lebih-lebih tidak tahu jenazah itu hendak dibawanya ke mana. Tahu-tahu ia sampai di tepi sebuah empang, bunga teratai tampak mekar dengan indahnya. Mendadak dadanya terasa ditumbuk oleh sesuatu, ia tidak tahan lagi, bersama jenazah yang masih dipondongnya itu dia roboh terkapar, lalu tidak ingat apa-apa lagi.

Kemudian waktu siuman kembali, ia merasa cahaya matahari menyilaukan mata. Cepat ia hendak memondong kembali jenazah yang terjatuh. Tapi ia meraba tempat kosong. Ia melompat bangun terkejut. Dilihatnya dirinya masih berada di tepi empang, bunga teratai masih tetap indah, namun jenazah Lenghou-toako sudah menghilang. Ia coba mengelilingi empang itu dan tidak menemukan sesuatu. Dari air empang yang jernih itu terlihat jelas dasar empang yang hijau berlumut. Lantas ke manakah jenazah Lenghou-toako? Mengapa bisa terbang tanpa sayap?

Ia melihat pakaiannya sendiri berlepotan darah, terang bukan dalam mimpi. Tapi jenazah Lenghou-toako benar-benar telah menghilang tanpa bekas. Ia menjadi takut dan berduka, hampir-hampir ia jatuh terkapar lagi. Sesudah tenangkan diri akhirnya ia sampai ke Heng-san dan mendatangi rumah Lau Cing-hong serta bertemu kembali dengan gurunya. Namun di dalam hati senantiasa ia bertanya-tanya, “Ke manakah perginya jenazah Lenghou-toako?”

Teringat olehnya kesatria muda itu telah mengorbankan jiwanya lantaran hendak menolongnya, tapi sekarang jenazah penolong itu saja dirinya tak sanggup menjaganya, sungguh ia tidak ingin hidup lebih lama lagi. Padahal seumpama jenazah Lenghou Tiong tidak kurang suatu apa pun, dia juga tak ingin hidup lagi.

Tiba-tiba timbul sesuatu pikiran dari lubuk hatinya yang dalam, sebuah pikiran yang tak berani dipikirkan olehnya, pikiran yang tidak patut baginya sebagai seorang padri. Tapi pikiran demikian itu toh sukar dihapus dari benaknya. Dengan jelas terbayang olehnya, “Pada waktu aku memondong jenazah Lenghou-toako, yang kuharapkan adalah selama hidupku akan selalu dapat memondong tubuhnya dan berjalan, berjalan terus di tempat yang tiada seorang pun. Betapa pun aku harus menemukan kembali jenazahnya. Tapi apakah sebabnya? Apakah karena khawatir jenazahnya dimakan binatang liar? Tidak, bukan itu maksudnya. Sungguh celaka, mengapa waktu di tepi empang itu aku bisa jatuh pingsan? Padahal ingin sekali jenazah itu akan berada di dalam pangkuannya selama hidup. Ai, mengapa timbul pikiran demikian? Seharusnya aku tidak boleh berpikir demikian, Suhu tidak boleh, Buddha juga melarang. Pikiran demikian adalah pikiran setan iblis, aku tidak boleh kerasukan setan. Akan tetapi bagaimana dengan jenazah Lenghou-toako?”

Begitulah pikirannya terasa buntu, sebentar-sebentar seakan-akan terbayang senyuman Lenghou Tiong yang menawan hati. Lain saat terbayang juga air muka Lenghou Tiong yang mencemoohkan sambil memaki, “Nikoh cilik yang membikin sial” itu ….

Dalam pada itu suara Ih Jong-hay bergema pula, “Lo Tek-nau, nona cilik ini adalah orang Hoa-san-pay kalian atau bukan?”

“Bukan,” sahut Tek-nau. “Bahkan Tecu juga baru kenalnya sekarang ini.”

“Baik, kau tak mau mengaku juga tak mengapa,” kata Ih Jong-hay. Mendadak tangannya bergerak, sinar hijau berkelebat, sebuah Hui-cui (bor terbang) melayang ke arah Gi-lim disertai bentakannya, “Awas, Siausuhu!”

Saat itu Gi-lim masih termenung-menung, sama sekali tak berpikir akan diserang oleh Ih Jong-hay. Menyambarnya bor kecil itu sangat lambat, tapi membawa suara mendenging keras. Tiba-tiba Gi-lim merasa senang malah, pikirnya, “Bagus, memangnya aku tidak ingin hidup lagi, paling baik kalau aku terbunuh saja!”

Karena itu sama sekali ia tidak bermaksud menghindar atau menangkap senjata rahasia itu walaupun orang ramai memperingatkannya. Entah mengapa ia malah merasa senang, ia merasa daripada hidup merana dan kesepian di dunia fana ini, ada lebih baik senjata rahasia itu mengirimkan sukmanya ke surga nirwana.

Sekonyong-konyong Ting-yat bertindak, ia dorong minggir si anak dara tadi lalu melompat maju untuk mengadang di depan Gi-lim. Biarpun usianya sudah lanjut, tapi gerakan Ting-yat itu ternyata amat gesit dan cepat sekali, ia sempat mengulurkan tangannya untuk menangkap senjata rahasia itu.

Di luar dugaan, sebelum Hui-cui itu tertangkap Ting-yat, mendadak senjata rahasia itu anjlok ke bawah dan jatuh di lantai.

Sebenarnya kalau Ting-yat mau mengangsurkan tangannya, maka dengan mudah sekali Hui-cui itu akan tertangkap olehnya. Cuma dia sengaja menunggu bila senjata itu sudah menyambar di depan dadanya barulah akan ditangkapnya secepat kilat. Dengan demikian ia hendak perlihatkan gayanya sebagai jago silat kelas wahid.

Tidak tersangka serangan Ih Jong-hay itu juga sangat aneh, sudah diperhitungkan bila kira-kira Hui-cui itu kira-kira satu meter di depan sasarannya, lalu anjlok dan jatuh ke bawah. Cara demikian bukan saja dalam hal tenaga sambitan telah diatur secara tepat, bahkan maksudnya juga sangat licik.

Benar saja Ting-yat telah kena dikerjai, dia telah menangkap tempat kosong. Senjata rahasia itu telah jatuh lebih dulu. Terang dia telah kalah satu jurus, tanpa merasa mukanya menjadi merah, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Pada saat itulah tertampak Ih Jong-hay kembali mengayun tangannya lagi, sepulung kertas telah ditimpukkan ke muka si dara cilik tadi. Pulungan kertas itu adalah kertas yang berlukiskan kura-kura yang ditempelkan di punggung Ih Jong-hay oleh anak dara itu.

Melihat itu barulah Ting-yat sadar sebabnya imam kerdil itu menyerang Gi-lim sebenarnya hanya untuk memancing saja agar dirinya terpaksa menolong muridnya sendiri.

Tampaknya pulung kertas kecil itu menyambar ke depan dengan lebih cepat, bahkan lebih dahsyat kekuatannya daripada sambaran Hui-cui tadi. Terang pulungan kertas itu disambitkan dengan iringan tenaga dalam yang kuat, jika muka anak dara itu terkena, tentulah akan terluka.

Waktu itu Ting-yat berdiri di depan Gi-lim, hendak menolong juga tidak terburu lagi. Baru saja ia hendak mendamprat kelicikan Ih Jong-hay itu, tiba-tiba tertampak anak dara itu telah mengangkat tangan kanan, jari telunjuknya menyelentik sekali ke arah datangnya pulungan kertas. “Crit”, tahu-tahu gulungan kertas itu hancur menjadi beratus-ratus keping kecil dan bertebaran sebagai kupu-kupu terbang. Serentak bersorak-sorailah beberapa puluh orang.

Sebaliknya tokoh-tokoh sebagai Ting-yat, Ih Jong-hay, Thian-bun Tojin, Lau Cing-hong, Bun-siansing, Ho Sam-jit dan lain-lain sama terperanjat. Segera Ih Jong-hay bertanya, “He, he, nona cilik, hebat benar selentikan ‘Pek-niau-tiau-hong’ yang kau mainkan ini!”

Seketika sorot mata Ting-yat dan lain-lain memaku ke muka si anak dara dan ingin mendengar bagaimana jawabnya. Mereka tahu “Pek-niau-tiau-hong” (beratus burung menghadap burung Hong) adalah semacam ilmu silat Mo-kau (agama iblis, berasal dari agama Mani) yang lihai, bila sudah sempurna melatihnya, sekali bergerak dapat membinasakan beberapa orang sekaligus.

Melihat usia dara cilik itu, sudah tentu kepandaiannya belum sempurna, tapi selang beberapa tahun lagi dan yang dia selentikkan juga bukan lagi pulungan kertas, tapi adalah sebangsa pasir berbisa dan senjata rahasia kecil lain yang jahat, maka betapa pun lihai lawannya juga akan kewalahan menghadapi taburan beratus-ratus dan mungkin beribu-ribu butir pasir dan lain-lain. Terhadap ilmu silat pihak Mo-kau biasanya orang-orang Bu-lim dari kalangan Cing-pay memang merasa pusing kepala dan sukar menghadapinya. Siapa duga hanya seorang anak dara cilik pun mahir menggunakan ilmu silat yang lihai lagi keji itu.

Namun lantas terdengar dara cilik itu mengikik tawa dan menjawab, “Siapa bilang ini adalah ‘Pek-niau-tiau-hong’? Kata ibu, ilmu ini bernama ‘It-ci-tan’. Cuma latihanku belum sempurna, jika dilatih 20 tahun lagi barulah lumayan. Tapi kalau 20 tahun lagi, tatkala mana rambutku sudah ubanan dan gigiku juga sudah ompong, lalu buat apalagi menggunakan ‘It-ci-tan’ apa segala?”

Thian-bun dan Ting-yat saling pandang sekejap, air muka mereka sama-sama mengunjuk rasa heran dan kejut.

Ting-yat lantas menegas, “Kau bilang ini adalah ilmu sakti ‘It-ci-tan’? Jika demikian, apakah ibumu tinggal di Ci-tiok-to di lautan timur?”

“Betul atau tidak boleh kau terka sendiri,” sahut si dara cilik sambil tertawa. “Menurut pesan ibu, asal usul kami sekali-kali tidak boleh diceritakan kepada orang lain.”

Tentang ilmu silat “Pek-niau-tiau-hong” dari Mo-kau memang sudah terkenal, cuma bagaimana caranya tidaklah diketahui oleh Thian-bun Tojin dan lain-lain. Sedangkan “It-ci-tan” (jari tunggal sakti) adalah kepandaian Keng-goat Sin-ni, seorang Nikoh sakti di pulau Ci-tiok-to di lautan timur. Konon ilmu sakti itu tidak diajarkan kepada orang luar, jika anak dara ini mahir menggunakannya, sudah tentu dia mempunyai hubungan keluarga dengan Keng-goat Sin-ni.

Keng-goat Sin-ni adalah tokoh kosen yang sangat terkenal di dunia persilatan, tiada tokoh lain yang dapat membandingi dia. Walaupun pengakuan anak dara ini entah benar atau tidak, tapi lebih baik percaya saja daripada kemungkinan memusuhi seorang tokoh sakti yang teramat lihai itu. Lantaran pikiran demikianlah maka Thian-bun dan lain-lain lantas menaruh hormat kepada si anak dara. Sebaliknya wajah Ih Jong-hay menjadi pucat.

Ting-yat Suthay memang paling suka kepada nona cilik yang berwajah molek, apalagi dara cilik itu ada hubungannya dengan Ci-tiok-to di lautan timur, sebagai sesama murid Buddha, sudah tentu ia tidak membiarkan anak kecil itu dianiaya oleh Ih Jong-hay. Sebaliknya ia pun tahu Ih Jong-hay adalah seorang pemimpin persilatan terkenal yang sukar dilawan, jika terjadi bentrokan tentu tidak menguntungkan juga. Maka ia lantas berkata kepada Gi-lim, “Ayah-ibu adik cilik ini entah pergi ke mana, coba kau bantu dia pergi mencari supaya dia tidak dianiaya orang jahat lagi.”

Gi-lim mengiakan dan segera mendekati dara cilik itu untuk menggandeng tangannya. Anak dara itu tertawa riang dan ikut Gi-lim keluar.

Tahu tiada gunanya lagi jika merintangi, maka Ih Jong-hay hanya menjengek saja tanpa menggubris pula.

Setiba di ruangan depan, Gi-lim lantas tanya anak dara itu, “Adik cilik, kau she apa dan bernama siapa?”

“Aku she Lenghou, bernama Tiong,” demikian dara cilik itu menjawab dengan tertawa.

Seketika perasaan Gi-lim terguncang, ia lantas menarik muka dan mengomel, “Aku tanya sungguh-sungguh padamu, mengapa kau bergurau padaku?”

“Mengapa kau bilang bergurau?” sahut si anak dara. “Memangnya hanya sobatmu boleh bernama Lenghou Tiong dan aku tidak boleh?”

Gi-lim menarik napas, hatinya berduka, air matanya lantas menetes, katanya, “Aku telah utang budi kepada Lenghou-toako yang telah menolong jiwaku, tapi dia telah mati bagiku, aku … aku tidak sesuai untuk menjadi sobatnya.”

Berkata sampai di sini, tertampaklah dua orang bungkuk, seorang lebih tinggi dan seorang katai, bergegas-gegas lalu di serambi sana. Itulah Say-pak-beng-tho Bok Ko-hong dan Lim Peng-ci.

Si anak dara mengikik tawa dan berkata, “Di dunia ini ternyata bisa terjadi secara kebetulan demikian dan benar-benar ada seorang bungkuk tua sejelek itu.”

Mendengar dara cilik itu suka mengolok-olok orang, Gi-lim merasa sebal, katanya, “Adik cilik, maukah kau pergi sendiri mencari ayah-bundamu? Kepalaku sakit, badanku kurang enak.”

“Ala, kau pura-pura saja,” kembali si anak dara mengolok-olok. “Aku tahu, kau merasa tidak senang karena aku menggunakan nama Lenghou Tiong. Cici yang baik, gurumu suruh kau untuk mengawani aku, mana boleh kau tinggalkan diriku? Bila aku dianiaya orang tentu kau akan diomeli gurumu.”

“Kepandaianmu lebih tinggi daripadaku, kau juga sangat cerdik, sampai-sampai tokoh seperti Ih-koancu juga kewalahan padamu. Jika kau tidak mengakali orang saja sudah baik, masakah ada orang lain yang berani main gila padamu?”

“Aduh, Cici yang baik, janganlah kau mengolok-olok diriku,” sahut si dara cilik dengan tertawa. “Tadi kalau Suhumu tidak melindungi aku, tentu aku sudah dihajar babak belur oleh Tojin katai itu. Cici yang baik, aku she Kik, bernama Fi-yan, kakek dan ayah-ibu memanggil aku Fifi, maka kau boleh panggil Fifi padaku.”

Mendengar dara cilik itu sudah mau mengaku namanya yang asli, rasa kurang senang Gi-lim tadi lantas lenyap. Cuma ia heran dari mana anak dara itu tahu dirinya mengenangkan Lenghou Tiong sehingga hal itu digunakan untuk menggodanya.

Segera ia berkata, “Baiklah, Fifi, marilah kita pergi mencari ayah-ibumu. Kau sangka mereka pergi ke mana?”

“Sudah tentu aku tahu mereka ke mana. Jika kau hendak mencari mereka bolehlah silakan. Aku sendiri tidak mau ikut ke sana.”

Gi-lim menjadi heran. “Mengapa kau sendiri malah tidak mau pergi mencari mereka?” tanyanya.

“Habis, usiaku masih begini muda, kan sayang jika aku ikut ke sana. Tapi lain halnya dengan kau, kau teramat berduka, tentu kau ingin lekas-lekas pergi ke sana.”

Gi-lim terkesiap, ia menegas, “Jadi ayah-ibumu ….”

“Ya, ayah-ibuku sudah lama wafat,” sela Fifi. “Jika kau ingin mencari mereka, boleh silakan menyusul ke akhirat.”

Diam-diam Gi-lim kurang senang. Katanya, “Ayah-ibumu sudah wafat, mengapa kau gunakan sebagai bahan kelakar? Sudahlah, aku akan kembali saja, sampai berjumpa pula!”

Tapi sekali pegang segera pergelangan tangan Gi-lim kena dicengkeram Fifi. Dara cilik itu memohon, “O, Cici yang baik, aku sebatang kara tiada teman, harap kau suka mengawani aku.”

Seketika Gi-lim merasa setengah badannya kaku kesemutan terkena cengkeraman tangan anak dara itu. Diam-diam ia terkejut dan tahu ilmu silat anak kecil itu memang benar-benar di atas dirinya. Terpaksa ia menjawab, “Baiklah, aku akan mengawani kau sebentar, tapi kau tidak boleh sembarangan omong lagi.”

“Ada omongan yang kau anggap kurang baik, tapi bagiku adalah omongan baik, soalnya tergantung pendapat masing-masing,” ujar dara cilik itu. “Eh, Enci Gi-lim, sebaiknya kau jangan menjadi Nikoh saja.”

Gi-lim melengak atas perkataan itu, tanpa merasa ia mundur setindak. Fifi juga lantas melepaskan cengkeraman tangannya. Katanya pula dengan tertawa, “Apa enaknya menjadi Nikoh? Tidak boleh makan ikan, dilarang makan daging, apa-apa serbatidak boleh. Padahal Cici sedemikian cantik, kepala dicukur gundul, tentu saja kurang bagus. Bila engkau piara rambut yang indah tentulah akan tambah molek.”

Mendengar ucapan yang kekanak-kanakan itu, dengan tertawa Gi-lim berkata, “Kami adalah orang yang telah meninggalkan rumah, segala apa sudah dianggap hampa, hidup ini laksana orang mimpi saja, peduli apa tentang muka cantik atau tidak segala?”

Tiba-tiba Fifi mendongak dan mengamat-amati wajah Gi-lim. Tatkala itu hujan baru saja berhenti, cahaya sang dewi malam remang-remang menembus gumpalan awan yang mulai merekah, wajah Gi-lim tampaknya jadi makin cantik. Dara cilik itu menarik napas, tiba-tiba menggumam, “Pantas orang sedemikian merindukan kau.”

Muka Gi-lim menjadi merah, omelnya, “Kau bilang apa? Fifi, kau sembarangan omong lagi, aku akan pulang saja.”

“Baiklah, aku tak akan omong apa-apa lagi,” cepat Fifi mengalah. “Eh, Cici yang baik, harap engkau suka memberi sedikit obat Thian-hiang-toan-siok-ko padaku untuk menolong satu orang.”

“Menolong siapa?” tanya Gi-lim dengan heran.

“Orang ini sangat penting, sementara ini tak boleh kukatakan padamu,” sahut Fifi dengan tertawa.

“Sebenarnya boleh saja kuberi obat yang kau minta ini,” kata Gi-lim. “Cuma Suhuku telah memberi peringatan agar obat ini tidak boleh sembarangan dibuat menolong orang jahat.”

“Cici, jika ada orang memaki Suhumu dengan kata-kata yang kasar, orang itu baik atau jahat?” tanya Fifi.

“Dia memaki guruku, sudah tentu jahat,” sahut Gi-lim tanpa pikir.

“Sungguh aneh,” kata Fifi dengan tertawa. “Padahal ada seseorang berteriak-teriak katanya akan sial bilamana melihat Nikoh, asal judi pasti kalah. Bukan saja memaki gurumu, bahkan juga memaki kau, tapi kau justru melumuri badannya dengan obatmu ….”

Tidak menunggu ucapan Fifi habis, segera Gi-lim putar tubuh terus melangkah pergi. Cepat Fifi melompat mengadang di depannya sambil pentang tangan dengan tertawa.

Sekonyong-konyong pikiran Gi-lim tergerak, “Ah, kalau tidak salah kemarin dia dan seorang lagi tetap berduduk di dalam restoran itu sampai aku membawa pergi jenazah Lenghou-toako. Jadi semua itu sudah dilihat olehnya, jangan-jangan kemudian dia … dia terus ikut … ikut pula di belakangku?”

Sebenarnya ia ingin mengajukan suatu pertanyaan tapi mukanya menjadi merah dan tak sanggup bicara.

Fifi lantas berkata, “Cici, aku tahu, kau ingin tanya padaku ke mana perginya jenazah Lenghou-toako, bukan?”

“Ya, be … benar,” sahut Gi-lim tergagap-gagap. “Jika adik memberi tahu, tentu aku akan … akan sangat berterima kasih.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: