Hina Kelana: Bab 15. Si Gadis Cilik Berbaju Hijau

“Akal bulus apa?” semprot Ting-yat Suthay dengan gusar. “Seorang jantan boleh adu kecerdikan dan tidak perlu adu kekuatan. Selama ini juga tidak pernah terlihat di dalam Jing-sia-pay kalian ada seorang kesatria muda budiman seperti dia?”

Semula dia menyalahkan Lenghou Tiong, tapi sesudah mendengar cerita Gi-lim bahwa yang telah membela kehormatan Hing-san-pay mereka tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri, ia menjadi merasa terima kasih malah.

Kembali Ih Jong-hay mendengus, “Hm, hebat benar kesatria muda tukang merangkak.”

Khawatir kalau Ting-yat Suthay mengamuk lagi, cepat Lau Cing-hong menyela, tanyanya kepada Gi-lim, “Lalu bagaimana, Gi-lim Sutit, Dian Pek-kong mengaku kalah atau tidak?”

“Untuk sejenak Dian Pek-kong termangu-mangu dan ragu-ragu,” tutur Gi-lim. “Mendadak Lenghou-toako berseru, ‘Sumoay dari Hing-san-pay, bolehlah kau turun ke sini, terimalah ucapan selamat dariku karena penerimaan muridmu yang baru ini!’

“Kiranya jejakku mengintip di atas atap rumah telah diketahui olehnya. Dalam keadaan terluka parah mestinya Lenghou-toako mudah dibinasakan, tapi meski Dian Pek-kong itu orangnya busuk namun dapat pegang janji, dia tidak mengganggu Lenghou-toako lagi, sebaliknya berteriak kepadaku, ‘Nikoh cilik, dengarkan yang terang, bila lain kali kulihat kau lagi, sekali bacok segera kumampuskan kau!’

“Habis berkata ia terus simpan kembali goloknya dan melangkah pergi dari restoran itu.

“Memangnya aku pun tak sudi mempunyai murid sebagai dia, sudah tentu ucapannya itu kebetulan bagiku. Segera aku melompat turun dan membangunkan Lenghou-toako, aku membubuhi lukanya dengan Thian-hiang-toan-siok-ko. Ternyata di atas tubuhnya tidak kurang dari 13 tempat luka ….”

“Ting-yat Suthay, selamat! Selamat!” mendadak Ih Jong-hay menyela.

“Selamat apa?” tanya Ting-yat dengan melotot dan heran.

“Selamat karena kau telah mempunyai seorang cucu murid yang berilmu silat tinggi dan termasyhur namanya,” demikian Ih Jong-hay sengaja mengolok-olok.

Keruan Ting-yat menjadi murka, ia menggebrak meja dan berbangkit hendak melabrak Ih Jong-hay. Untunglah Thian-bun Tojin lantas bersuara, “Ih-koancu, ini teranglah kau yang salah. Sebagai kaum ibadat kita mana boleh sembarangan berguyon dengan kata-kata demikian?”

Karena merasa dirinya memang salah, pula jeri kepada Thian-bun Tojin, maka Ih Jong-hay tidak berani bersuara lagi.

Lalu Gi-lim menyambung ceritanya, “Setelah aku membubuhi obat pada lukanya Lenghou-toako, baru saja aku hendak memberi obat pula kepada Te-coat Susiok, sekonyong-konyong dari bawah loteng datang lagi dua orang Jing-sia-pay, seorang di antaranya adalah jahanam Lo Jin-kiat itu. Dia pandang-pandang Lenghou-toako, lalu pandang-pandang diriku pula dengan sikap yang kurang ajar. Melihat jahanam she Lo itu, tiba-tiba Lenghou-toako bertanya padaku, ‘Sumoay, apakah kau tahu kepandaian apa yang paling diandalkan oleh orang Jing-sia-pay?’

“Aku menjawab, ‘Entah, kabarnya ilmu silat Jing-sia-pay memang bagus-bagus.’

“‘Ya, memang bagus-bagus ilmu silat Jing-sia-pay. Tapi ada sejurus di antaranya yang paling bagus. Tapi, ah, lebih baik tak kukatakan supaya tidak menimbulkan percekcokan,’ demikian kata Lenghou-toako sambil melirik sekejap kepada Lo Jin-kiat.

“Rupanya Lo Jin-kiat itu menjadi gusar, ia melangkah maju dan membentak, ‘Apa jurus yang paling bagus itu? Hayo, coba katakan!’

“Dengan tertawa Lenghou-toako menjawab, ‘Sebetulnya aku tidak ingin bicara, tapi kau paksa aku mengatakan, bukan? Baiklah, jurus itu adalah ‘gaya belibis jatuh pantat menghadap belakang.’

“Lo Jin-kiat menjadi gusar, ia membentak pula, ‘Ngaco-belo, apa itu ‘gaya belibis jatuh pantat menghadap belakang’? Aku sendiri tak pernah dengar!’

“Dengan tertawa Lenghou-toako berkata, ‘Kau tidak pernah mendengar? Sungguh aneh! Padahal jurus itu adalah ilmu silat yang paling diandalkan dari Jing-sia-pay kalian. Eh, coba kau berdiri mungkur, biar kupertunjukkan padamu!’

“Lo Jin-kiat tahu Lenghou-toako sengaja hendak mengolok-oloknya, kontan ia terus menjotos. Mestinya Lenghou-toako hendak berdiri untuk melawannya, cuma sayang dia terlalu banyak keluar darah, tenaganya sudah habis, dia bergeliat dan jatuh terduduk pula, jotosan jahanam Lo Jin-kiat itu tepat mengenai hidungnya sehingga darah pun bercucuran.

“Menyusul Lo Jin-kiat hendak memukul pula, cepat aku menangkisnya dan berseru, ‘Jangan! Dia terluka parah, masakah kau tidak lihat? Terhitung orang gagah macam apa menyerang seseorang yang terluka?’

“Jahanam she Lo itu bahkan memaki aku, ‘Hm, Nikoh cilik kepincut kepada maling cilik yang tampan ini ya? Lekas enyah, kalau tidak tentu aku hantam kau sekalian!’

“Aku mengancamnya, ‘Kau berani memukul aku, biar kulapor kepada gurumu, Ih-koancu!’

“Dia malah tertawa menggoda dan mencolek pipiku. Saking gemas dan gugup aku menyerangnya beberapa kali, tapi dapat dielakkannya semua.

“Dalam pada itu Lenghou-toako telah berseru padaku, ‘Sumoay, tak perlu kau labrak dia. Asal tenagaku pulih sedikit saja sudah jadi.’

“Waktu aku menoleh, melihat dia pucat pasi. Pada saat itulah mendadak Lo Jin-kiat menubruk maju hendak menyerangnya pula. Tapi sekonyong-konyong Lenghou-toako mengayun sebelah kakinya, dengan tepat bokong Lo Jin-kiat kena didepak. Depakan itu sungguh sangat cepat lagi jitu, kontan Lo Jin-kiat itu terguling ke belakang dan menggelinding ke bawah loteng.

“Lalu Lenghou-toako berkata kepadaku, ‘Itulah, Sumoay, yang disebut ‘gaya belibis jatuh pantat menghadap belakang’ yang paling dibanggakan oleh Jing-sia-pay mereka.’

“Mestinya aku ingin tertawa geli atas nama jurus yang lucu itu, tapi melihat air muka Lenghou-toako semakin pucat, aku menjadi khawatir dan berkata, ‘Engkau jangan bicara, mengaso saja sebentar.’

“Kulihat darah merembes keluar pula dari lukanya, terang karena depakannya tadi terlalu kuat menggunakan tenaga, maka lukanya pecah lagi.

“Siapa menduga Lo Jin-kiat yang sudah didepak terguling ke bawah loteng itu mendadak berlari ke atas pula, sekarang tangannya sudah menghunus pedang. Ia membentak, ‘Kau ini Lenghou Tiong dari Hoa-san-pay, bukan?’

“Lenghou-toako menjawab dengan tertawa, ‘Jago-jago Jing-sia-pay kalian yang menyerang diriku dengan gaya ‘pantat menghadap ke belakang’ ini termasuk engkau su … sudah ada tiga orang, pan … pantas ….’ sambil berkata Lenghou-toako terbatuk-batuk pula. Khawatir kalau Lo Jin-kiat menyerang lagi, segera aku melolos pedang dan menjaga di samping.

“Tapi Lo Jin-kiat lantas berkata kepada kawannya, ‘Le-sute, layanilah Nikoh cilik itu.’

“Kawannya mengiakan dan segera melolos pedang serta menyerang padaku. Terpaksa aku menangkis dan balas menyerang. Di sebelah lain, Lo Jin-kiat juga sudah mulai menyerang Lenghou-toako, kulihat Lenghou-toako menangkis sekuatnya, keadaannya sangat payah. Pada saat itu kudengar Te-coat Susiok juga sedang berseru, ‘Berhenti, berhenti dulu! Kawan sendiri semua!’

“Akan tetapi Lo Jin-kiat tidak ambil pusing dan masih menyerang dengan lebih gencar.

“Hanya beberapa jurus saja Lenghou-toako sudah kehabisan tenaga, pedangnya tersampuk jatuh. Ujung pedang Lo Jin-kiat lantas mengancam di depan dadanya, katanya dengan tertawa, ‘Asal kau panggil kakek tiga kali padaku, jiwamu lantas kuampuni.’

“‘Baik, aku akan panggil, sesudah itu apakah kau akan mengajarkan padaku jurus ‘jatuh dengan pantat menghadap ke belakang itu’ ….’ Belum lagi selesai ucapannya, keparat Lo Jin-kiat itu sudah menusukkan pedangnya ke dada Lenghou-toako. Sungguh kejam sekali jahanam she Lo ini ….”

Sampai di sini air mata Gi-lim sudah bercucuran, dengan terguguk-guguk ia menyambung pula, “Me … melihat keadaan begitu, cepat aku menubruk ke sana hendak mencegahnya, namun pedang Lo Jin-kiat itu sudah menancap di dada Lenghou-toako.”

Seketika suasana di ruangan tamu itu menjadi sunyi senyap. Ih Jong-hay merasa berpuluh-puluh sinar mata menyorot semua ke arahnya dengan penuh hina dan kebencian. Selang sejenak ia coba membuka suara, “Apa yang kau katakan ini terang tidak jujur dan tidak lengkap. Kau bilang Jin-kiat berhasil membunuh Lenghou Tiong, tapi mengapa Jin-kiat tewas pula di bawah pedangnya Lenghou Tiong?”

“Lenghou-toako tidak lantas meninggal meski dadanya tertusuk pedang,” tutur Gi-lim pula. “Dia malah tertawa dan tiba-tiba berkata padaku dengan suara perlahan, ‘Siausumoay, ada … ada suatu rahasia besar yang ingin kuberi tahukan padamu. Tentang … tentang Pi-sia-kiam-boh milik … milik Hok-wi-piaukiok itu tersimpan di ….’ makin lama suara Lenghou-toako makin lirih sehingga akhirnya aku sendiri tak dengar apa yang dia ucapkan ….”

Hati Ih Jong-hay tergetar juga demi mendengar Gi-lim menyinggung tentang Pi-sia-kiam-boh milik Hok-wi-piaukiok yang memang sedang dicarinya itu. Seketika ia berubah tegang dan cepat bertanya, “Tersimpan di mana …?”

Tapi mendadak ia merasa pertanyaannya itu tidak pantas diajukan sehingga “di mana” itu sangat lirih ucapannya. Hatinya menjadi berdebar-debar. Dia berharap Gi-lim yang masih hijau pelonco itu akan bercerita terus terang.

Terdengar Gi-lim sedang melanjutkan, “Rupanya Lo Jin-kiat sangat tertarik kepada Kiam-boh apa itu, ia lantas melangkah maju dan membungkukkan tubuh ingin ikut mendengarkan di tempat mana Kiam-boh itu tersimpan. Di luar dugaan, sekonyong-konyong Lenghou-toako menyambar pedangnya yang terjatuh di lantai itu terus ditubleskan ke dalam perut jahanam she Lo itu. Kontan jahanam itu jatuh terjengkang, kaki dan tangannya berkelojotan beberapa kali, lalu tidak bisa bergerak lagi. Suhu, kiranya … kiranya Lenghou-toako sengaja memancing supaya dia mendekat, lalu balas membunuhnya.”

Setelah bercerita pengalamannya yang panjang lebar itu, semangat Gi-lim tidak tahan lagi, ia sempoyongan dan jatuh pingsan. Cepat Ting-yat Suthay merangkul bahu sang murid dan memayangnya ke pinggir sambil melotot murka kepada Ih Jong-hay.

Untuk sejenak semua orang terdiam dan membayangkan pertarungan sengit di Cui-sian-lau itu. Bagi tokoh-tokoh seperti Thian-bun, Ho Sam-jit, Bun-siansing dan yang lain-lain, ilmu silat Lenghou Tiong, Lo Jin-kiat dan lain-lain tidaklah mengherankan mereka, tapi pertarungan yang berakhir dengan perubahan di luar dugaan serta mengenaskan itu adalah adegan yang jarang terlihat dan terdengar di dunia Kangouw.

“Sute, apa yang terjadi itu telah kau saksikan juga?” tanya Thian-bun kepada Te-coat Tojin.

“Ya,” sahut Te-coat. “Lenghou Tiong dan Lo Jin-kiat memang sama-sama kejamnya, akhirnya gugur berbareng.”

Dengan menahan gusar Ih Jong-hay berpaling kepada Lo Tek-nau dan bertanya, “Lo-hiantit, sebenarnya di mana letak kesalahan Jing-sia-pay kami terhadap Hoa-san-pay kalian sehingga berulang-ulang Suhengmu mencari gara-gara kepada murid Jing-sia-pay?”

“Tecu tidak tahu,” sahut Lo Tek-nau. “Mungkin ada percekcokan pribadi antara Lenghou-suheng dengan para Suheng murid Ih-koancu, tapi sekali-kali tidak ada sangkut paut dengan hubungan baik Jing-sia-pay dan Hoa-san-pay.”

Ih Jong-hay menjengek, “Hm, tiada sangkut paut, enak saja kau bicara ….” belum habis ucapannya, sekonyong-konyong jendela sebelah kiri didobrak orang, dari situ melayang masuk sesosok tubuh manusia.

Yang hadir di situ adalah tokoh-tokoh terkemuka semua, dengan cepat mereka sempat menyingkir ke samping sambil siap siaga. Belum lagi mereka sempat membedakan tubuh siapakah itu, menyusul dari luar melayang masuk lagi seorang. Kedua orang itu jatuh bertiarap tanpa bergerak. Hanya kelihatan mereka berjubah warna hijau, itulah seragam anak murid Jing-sia-pay. Pada jubah bagian bokong mereka jelas kelihatan terdapat sebuah bekas tapak kaki yang masih basah kotor.

Dalam pada itu terdengar di luar jendela ada orang yang berseru lantang, “Inilah gaya belibis jatuh dengan pantat menghadap ke belakang!”

Serentak Ih Jong-hay bergerak, sambil melompat keluar jendela berbareng kedua tangannya terus menghantam. Dan baru saja menongol keluar, sebelah tangannya terus menahan di atas sayap jendela, tubuhnya terus melayang ke atas atap rumah. Dengan berdiri di atas wuwungan, beberapa puluh meter di sekelilingnya dapatlah diawasinya dengan jelas.

Akan tetapi keadaan sunyi senyap. Suasana malam tetap kelam dengan hujan rintik-rintik tanpa bayangan seorang pun. Ia tahu orang itu pasti seorang lawan tangguh, tapi tentu masih sembunyi di sekitar situ. Segera ia lolos pedang dan berlari mengelilingi gedung yang megah itu.

Tatkala mana kecuali Thian-bun Tojin yang menjaga kehormatannya sendiri dan tetap duduk di tempatnya, tokoh-tokoh lain sudah melompat ke atas rumah. Mereka melihat seorang Tojin berperawakan pendek kecil dengan menghunus pedang yang bersinar gemerlapan di malam gelap sedang ‘ngebut’ di sekitar rumah, diam-diam mereka kagum terhadap Ginkang Ih Jong-hay yang tinggi.

Walaupun berlari cepat, namun tiada suatu tempat pun di sekitar gedung keluarga Lau itu terlalui dari incaran Ih Jong-hay. Setelah berkeliling satu kali, kemudian ia melompat kembali ke ruangan tamu tadi, dilihatnya kedua muridnya masih tiarap di atas lantai, kedua bekas tapak kaki masih jelas kelihatan di atas pantat, sungguh suatu sindiran yang memalukan bagi Jing-sia-pay.

Cepat Ih Jong-hay membalikkan tubuh seorang muridnya itu, kiranya adalah muridnya yang bernama Sin Jin-cun. Murid yang lain tidak perlu diperiksa, sudah dikenalnya karena dari belakang tampak jenggotnya yang pendek kaku, terang adalah Kiat Jin-thong yang biasanya berhubungan paling dekat dengan Sin Jin-cun.

Ia tepuk-tepuk dua kali Hiat-to di bawah iga Sin Jin-cun dan bertanya, “Kau diserang siapa?”

Jin-cun tampak membuka mulut hendak bicara, tapi sukar mengeluarkan suara.

Keruan Ih Jong-hay terkejut. Tepukannya tadi tampaknya perlahan tapi sebenarnya telah menggunakan Lwekang tertinggi dari Jing-sia-pay, dan ternyata masih tidak dapat membuka Hiat-to yang tertutuk itu, terang kepandaian lawan masih lebih tinggi daripadanya. Walaupun kecil orangnya, tapi semangat tempur Ih Jong-hay sangatlah besar. Bukannya jeri, sebaliknya dia tergugah malah, segera ia salurkan tenaga dalam lebih kuat ke “Leng-tay-hiat” di punggung Sin Jin-cun.

Selang sejenak barulah terdengar Jin-cun mulai bersuara dengan tergagap-gagap, “Su … Suhu, Tecu ti … tidak tahu … siapa … siapa lawan itu.”

“Di mana kalian diserang?” tanya Jong-hay.

“Tadi Tecu dan Kiat-sute baru saja keluar buang air, mendadak terasa punggung kesemutan ditutuk orang, tahu-tahu sudah kena dikerjai anak kura-kura itu,” tutur Jin-cun.

Seketika Ih Jong-hay tidak dapat meraba dari golongan manakah penyerang itu. Kelihatannya air mukanya dingin-dingin saja, terhadap kejadian itu seperti acuh tak acuh. Namun diam-diam ia membatin, “Ngo-gak-kiam-pay mereka senapas dan sehaluan, karena Jin-kiat telah membinasakan Lenghou Tiong, tampaknya Thian-bun menjadi tidak senang padaku.”

Tiba-tiba teringat olehnya, boleh jadi penyerang gelap itu masih berada di ruangan pendopo depan. Segera ia mengajak Jin-cun menuju ke ruangan depan dengan cepat. Di ruangan besar itu tampak semua orang ramai membicarakan tentang terbunuhnya murid Thay-san-pay dan murid Jing-sia-pay itu. Demi melihat datangnya Ih Jong-hay yang bertubuh kecil tapi berwibawa itu, serentak pandangan semua orang dialihkan kepadanya.

Begitu berada di tengah ruangan, sinar mata Ih Jong-hay yang tajam lantas menyoroti muka setiap orang. Yang hadir di situ adalah angkatan kedua dari berbagai aliran persilatan. Walaupun yang dikenalnya tidak banyak, tapi dari dandanan dan air muka mereka dapatlah diketahui berasal dari golongan dan aliran mana dan apakah mereka memiliki kepandaian tinggi.

Satu per satu Ih Jong-hay meneliti. Mendadak sinar matanya yang tajam itu berhenti pada diri seorang. Macam orang itu sangatlah jelek, mukanya berkerut dan berlekuk, bahkan ditempeli beberapa potong koyok, punggungnya menonjol tinggi ke atas, terang seorang bungkuk.

Tiba-tiba Ih Jong-hay teringat kepada satu orang, ia terkesiap, “Jangan-jangan adalah dia? Kabarnya orang ini mengasingkan diri jauh di daerah utara yang dingin, selamanya jarang datang ke Tionggoan, pula tiada hubungan baik dengan Ngo-gak-kiam-pay, mengapa bisa ikut hadir dalam perjamuan Lau Cing-hong ini? Tapi kalau bukan dia, di dunia persilatan tiada terdapat tokoh bungkuk kedua yang bermuka buruk seperti dia ini. Jika betul-betul dia, wah, urusan menjadi ruwet.”

Ketika pandangan semua orang ikut beralih kepada si bungkuk yang diperhatikan Ih Jong-hay itu, beberapa orang yang mengetahui kejadian-kejadian Bu-lim di masa dahulu menjadi terperanjat juga. Segera Lau Cing-hong tampil ke depan dan memberi hormat, “Cayhe tidak mengetahui kedatangan saudara yang terhormat sehingga terlambat menyambut, haraplah dimaafkan.”

Padahal si bungkuk itu sama sekali bukanlah orang kosen dunia persilatan. Dia tak lain tak bukan adalah Lim Peng-ci, itu juragan muda yang lagi apes dari Hok-wi-piaukiok. Dia telah menyamar sebagai orang bungkuk yang bermuka jelek, khawatir kalau dikenali orang, maka sejak tadi dia duduk di tempat pojok dengan kepala menunduk. Coba kalau Ih Jong-hay tidak kebetulan ingin mencari penyerang muridnya, tentu tiada seorang pun yang memerhatikan dia.

Sekarang perhatian semua orang dipusatkan padanya, keruan Peng-ci serbarunyam. Lekas-lekas ia berbangkit dan balas menghormat, sahutnya, “Ah, jangan, jangan sungkan-sungkan!”

Lau Cing-hong tahu tokoh bungkuk yang termasyhur itu adalah orang utara, tapi suara orang di depannya itu terang adalah logat daerah selatan, usianya juga berbeda jauh, diam-diam ia merasa curiga. Tapi diketahui pula tingkah laku tokoh bungkuk itu memang sukar diduga dan diukur, maka ia tetap bersikap hormat dan berkata, “Cayhe Lau Cing-hong, apakah boleh tanya nama tuan yang terhormat?”

Sama sekali Peng-ci tidak menduga orang akan tanya namanya, keruan ia gelagapan dan menjawab secara ngawur saja, “Cayhe she … she Bok.”

Dia mengaku she “Bok” karena huruf “Lim” terdiri dari dua huruf “Bok”, maka sekenanya saja ia katakan. Di luar dugaan menjadi kebetulan malah, segera terdengar semua orang bersuara kejut.

Kiranya tokoh bungkuk dari daerah utara itu sesungguhnya memang she Bok. Pada umumnya sangatlah langka orang she Bok, apalagi seorang bungkuk yang bermuka jelek.

Maka dengan hormat Lau Cing-hong berkata pula, “Sungguh suatu kehormatan besar bagiku atas kunjungan Bok-siansing ini. Entah pernah apa dengan ‘Say-pak-beng-tho’ Bok Ko-hong, Bok-tayhiap yang mulia?”

Dia melihat usia Peng-ci masih sangat muda, pula koyok di mukanya itu terang sengaja ditempelkan saja untuk menutupi wajahnya yang asli dan sekali-kali bukan tokoh bungkuk yang termasyhur berpuluh tahun yang lalu, “Say-pak-beng-tho” Bok Ko-hong.

Peng-ci sendiri juga tak pernah dengar tentang si bungkuk she Bok dari utara yang sangat disegani itu, tapi dia adalah pemuda cerdik, begitu mendengar nada Lau Cing-hong sangat hormat dan segan kepada orang she Bok, sebaliknya sikap Ih Jong-hay yang mengawasi di sebelahnya itu tampak tak bersahabat, bila dirinya sampai dikenali tentu bisa celaka. Dalam keadaan kepepet terpaksa dia menjawab sebisanya untuk mencari selamat, “O, kau tanya Say-pak-beng-tho Bok-tayhiap? Beliau … beliau adalah angkatan tua Cayhe.”

Dia pikir, orang she Bok itu disebut sebagai “Tayhiap”, maka dengan sendirinya boleh diaku sebagai angkatan tua dirinya.

Karena tiada melihat orang mencurigakan lagi di ruangan itu, Ih Jong-hay menduga penyerang Jin-cun dan Jin-thong pastilah si bungkuk muda ini. Jika Bok Ko-hong datang sendiri mungkin dirinya mesti berpikir dulu sebelum bertindak, sekarang orang ini hanya anak murid Bok Ko-hong, kenapa mesti takut? Apalagi dia yang cari perkara lebih dulu kepada Jing-sia-pay, selamanya Ih Jong-hay tidak pernah tunduk kepada siapa pun, mana dia rela menerima hinaan itu. Segera ia menegur dengan suara dingin, “Selamanya Jing-sia-pay tiada percekcokan apa-apa dengan Bok-siansing dari Say-pak, entah di manakah kami berbuat salah kepada saudara?”

Berhadapan dengan Tojin yang bertubuh kerdil ini, Peng-ci menjadi teringat kepada nasib dirinya pada masa terakhir ini, perusahaannya bangkrut, orang tua tertawan musuh dan tak diketahui nasibnya. Biang keladi kesemuanya itu adalah Tojin kerdil ini. Seketika darahnya lantas mendidih, walaupun tahu kepandaian lawan sangat tinggi, sungguh ia ingin sekali melabrak musuhnya itu.

Syukurlah sesudah mengalami gemblengan selama beberapa bulan ini dia sudah bukan lagi seorang pemuda yang hidupnya mewah dan royal itu. Dengan menahan gusar ia pun menjawab, “Jing-sia-pay suka cari gara-gara, melihat ketidakadilan dengan sendirinya Bok-tayhiap ingin ikut campur. Beliau paling suka membantu kaum lemah dan melawan penindasan, tidak peduli apakah salah atau tidak salah.”

Mendengar itu, diam-diam Lau Cing-hong dan lain-lain merasa geli. Mereka tahu ilmu silat Say-pak-beng-tho Bok Ko-hong, si bungkuk dari daerah utara, memang tinggi, tapi kelakuannya tidaklah dapat dipuji, apalagi disebut sebagai “Tayhiap” (pendekar besar), malahan Bok Ko-hong itu adalah manusia yang paling licin, paling pintar melihat arah angin.

Soalnya ilmu silatnya sangat tinggi, orangnya pun cerdik, bila sampai bermusuhan dengan dia tentu akan banyak menimbulkan kesukaran, maka semua orang lebih suka menjauhinya, tapi tidak berarti menghormat padanya.

Begitulah maka Lau Cing-hong menjadi lebih percaya bahwa Lim Peng-ci tentu adalah muridnya Bok Ko-hong, mengingat ucapannya yang terbalik tadi. Ia khawatir kalau Ih Jong-hay menyerang Peng-ci, bila terjadi apa-apa tentu dirinya harus bertanggung jawab selaku tuan rumah. Maka cepat ia menyela dengan tertawa, “Ih-koancu dan Bok-heng, kalian adalah tamu terhormat, betapa pun sudilah mengingat diriku dan marilah saling angkat cawan sebagai tanda damai saja. Hayolah, bawakan arak!”

Segera seorang pelayan mengiakan dan menuangkan arak.

Meski Ih Jong-hay tidak gentar terhadap si “bungkuk” muda di depannya ini, tapi menurut cerita orang Kangouw tentang kekejaman Say-pak-beng-tho Bok Ko-hong, mau tak mau ia mesti hati-hati juga.

Sebaliknya Lim Peng-ci merasa dendam dan takut-takut pula. Namun tetap rasa dendamnya lebih kuat, pikirnya, “Boleh jadi saat ini ayah dan ibu sudah mengalami apa-apa di tangan Tojin keji ini. Aku lebih suka binasa dihantam olehmu daripada menyatakan damai padamu.”

Karena pikiran demikian, segera matanya melotot, ia pandang Ih Jong-hay dengan sorot mata berapi.

Melihat sikap Peng-ci yang penuh permusuhan itu, Ih Jong-hay menjadi naik darah juga. Mendadak ia mengulurkan tangan, dengan Kim-na-jiu-hoat ia pegang tangan Lim Peng-ci sambil berkata, “Baik, baik! Ucapan Lau-samya memang tidak salah, kita adalah tetamu, mana boleh sembrono di tempat tuan rumah ini. Saudara Bok, marilah kita bersahabat saja.”

Semula Peng-ci telah meronta, tapi tidak terlepas, akhirnya pergelangan tangan lantas terasa sakit luar biasa, ruas tulangnya sampai bunyi berkeriutan. Diam-diam ia mengeluh, tulang tangannya tentu akan remuk diremas oleh Ih Jong-hay.

Tapi Ih Jong-hay ternyata tidak meremas lebih keras lagi, maksudnya hendak memaksa Peng-ci bersuara minta ampun. Tak terduga dendam Peng-ci kepadanya sudah terlalu mendalam, biarpun tulang pergelangan tangan kesakitan tidak kepalang, tapi dia tetap bertahan tanpa merintih sedikit pun, bahkan matanya melotot semakin lebar.

Lau Cing-hong berdiri di sebelahnya melihat butiran keringat sebesar kedelai mulai merembes keluar di jidatnya, tapi pemuda itu tetap bersikap gagah pantang menyerah, diam-diam ia merasa kagum terhadap jiwa Peng-ci yang keras itu. Segera ia bermaksud melerai.

Tapi sebelum ia bertindak, tiba-tiba terdengar seorang yang tajam melengking sedang berseru, “Ih-koancu, gembira betul tampaknya kau ini sehingga cucu Bok Ko-hong juga kau ajak berkelakar!”

Waktu semua orang menoleh, terlihat di depan ruangan situ sudah berdiri seorang pendek gemuk dan bungkuk pula. Muka si bungkuk ini belang-belang bonteng dan benjal-benjol, jeleknya tak terkatakan. Badannya gembung dan pendek sekali, ditambah lagi punggungnya menonjol ke atas, dipandang dari jauh mirip segumpal bola daging.

Para hadirin belum ada yang kenal Bok Ko-hong, sekarang mendengar dia mengaku sendiri siapa dirinya, pula melihat wajahnya yang aneh itu, semuanya menjadi terperanjat.

Yang luar biasa adalah badan yang bungkuk dan buntak itu gerak-geriknya ternyata sangat cepat dan gesit, tanpa kelihatan menggeser langkah tahu-tahu bola daging itu sudah “menggelinding” sampai di samping Peng-ci, pundak pemuda itu ditepuknya satu kali sambil berkata, “Cucu yang baik, cucu yang bagus! Kau telah memuji dan menyanjung kakek sebagai pendekar budiman yang suka bantu kaum lemah dan melawan penindasan segala, sungguh kakek sangat senang.”

Habis berkata kembali ia tepuk sekali lagi pundak Peng-ci.

Waktu pundaknya ditepuk pertama kali tadi, Peng-ci merasa badannya tergetar, tangan Ih Jong-hay yang mencengkeram pergelangan tangan Peng-ci juga terasa panas dan hampir-hampir terlepas. Tapi segera ia kerahkan tenaga dan memegang lebih kencang lagi.

Bok Ko-hong agak terkejut juga melihat tepukannya itu tidak mampu melepaskan cengkeraman Ih Jong-hay itu. Maka sambil bicara tadi ia lantas mengerahkan segenap tenaganya untuk menepuk lagi.

Peng-ci tak tahan lagi atas tepukan kedua itu, matanya terasa gelap, tenggorokannya terasa anyir, sekumur darah sudah naik sampai di mulutnya, tapi sekuatnya ia bertahan dan telan kembali mentah-mentah darahnya sendiri.

Genggaman Ih Jong-hay juga terasa panas pedas dan tak tertahankan pula, terpaksa ia lepas tangan sambil mundur selangkah. Pikirnya, “Si bungkuk ini benar-benar licin dan keji, demi untuk menggetar lepas tanganku dia tidak segan-segan membuat cucunya terluka dalam.”

Dalam pada itu Peng-ci masih berlagak tertawa, katanya kepada Ih Jong-hay, “Ih-koancu, ilmu silat Jing-sia-pay kalian ternyata juga cuma begini saja. Kukira kau lebih baik ganti perguruan dan mohon Bok-tayhiap untuk menerima kau sebagai murid saja, dengan demikian mungkin kau akan … akan tambah maju.”

Dalam keadaan terluka Peng-ci mengucapkan kata-kata itu dengan perasaan bergolak, namun badannya terasa lemas, hampir-hampir tak sanggup berdiri lagi.

“Baik, sudah tentu aku sangat girang dapat menjadi murid Bok-siansing,” kata Ih Jong-hay. “Kau sendiri adalah murid Bok-siansing, kepandaianmu tentu sangat hebat, biarlah aku belajar kenal dulu dengan kau.”

Demikianlah secara licin Ih Jong-hay telah menantang Peng-ci, tapi Bok Ko-hong terpaksa tak dapat ikut campur kecuali menonton saja.

Sudah tentu Bok Ko-hong tahu maksudnya, dengan tertawa katanya terhadap Peng-ci, “Cucu yang baik, dengan kepandaianmu yang rendah ini bukan mustahil sekali hantam saja kau akan dibinasakan oleh Ih-koancu. Sayanglah cucu yang tampan dan bungkuk seperti kau ini bila sampai dibunuh orang. Ada lebih baik jika kau menyembah kepada kakek dan minta kakek mewakilkan kau saja?”

Peng-ci melotot sekali ke arah Ih Jong-hay, ia pikir kepandaian sendiri terlalu rendah, kalau terima tantangan itu bukan mustahil sekali hantam saja dirinya sudah mati konyol, bahkan sakit hati ayah-bunda sukar terbalas pula. Tapi sebagai seorang laki-laki mana boleh terima terhina dan sembarangan menyembah dan mengaku seorang bungkuk sebagai kakek? Perbuatan yang memalukan bagi dirinya dan leluhur ini mana boleh dilakukan?

Karena pikirannya bimbang, tubuhnya menjadi rada gemetar dan kaki terasa lemas, dengan sebelah tangan ia menahan di atas meja.

Segera Ih Jong-hay mengejeknya, “Kulihat kau memang pengecut! Supaya orang lain mau membela kau, apa halangannya kau menyembah dan memanggil kakek?”

Rupanya dia sudah dapat menduga hubungan antara Peng-ci dan Bok Ko-hong itu rada janggal, terang Bok Ko-hong bukan kakek pemuda itu, kalau tidak mengapa Peng-ci masih diharuskan menyembah dan memanggil kakek pula? Sebab itulah ia sengaja memancing dengan kata-kata menghina agar Peng-ci naik darah dan terima tantangannya, dengan demikian akan mudahlah baginya untuk menyelesaikan perkara ini.

Dalam pada itu terlintas di dalam benak Peng-ci adegan-adegan kejadian akhir-akhir ini, Hok-wi-piaukiok bangkrut, rumah tangganya hancur, semuanya gara-gara perbuatan Jing-sia-pay. Kepandaian dirinya terlalu rendah, untuk membalas dendam sekarang terang sukar. Teringat olehnya di zaman dinasti Han dahulu pernah ada terjadi Han Sin terima dihina dengan merangkak melalui selangkangan musuh, tapi akhirnya Han Sin menjadi panglima dan berkuasa sehingga sangat terkenal di dalam sejarah. Seorang laki-laki sejati harus tahan hinaan kecil supaya tidak menggagalkan usaha besar. Asal kelak aku benar-benar dapat membalas dendam, apa artinya kalau sekarang aku terima hinaan sedikit?

Berpikir demikian, segera ia berpaling dan berlutut ke hadapan Bok Ko-hong, katanya sambil menyembah, “Kakek, dosa jahanam Ih Jong-hay sudah kelewat takaran dan setiap orang Bu-lim wajib membunuhnya. Hendaklah kakek menegakkan keadilan dan tumpaskan penyakit besar ini bagi dunia Kangouw.”

Tindakan Peng-ci ini benar-benar sama sekali di luar dugaan Bok Ko-hong dan Ih Jong-hay. Pada umumnya orang Bu-lim paling menjaga martabat dan ingin menang, lebih suka menerima siksaan daripada tunduk merendahkan diri, apalagi di depan umum.

Para hadirin kebanyakan memang mengira si bungkuk muda adalah cucu kandung atau cucu murid Bok Ko-hong. Hanya Bok Ko-hong sendiri yang tahu sama sekali Peng-ci tiada hubungan apa-apa dengan dirinya, Ih Jong-hay sendiri walaupun curiga tapi juga tidak tahu persis ada hubungan apa antara bungkuk tua dan bungkuk muda itu. Hanya didengarnya panggilan “kakek” yang diucapkan oleh Peng-ci itu terdengar sangat kaku dan kikuk, mungkin pemuda itu memang seorang pengecut.

Bok Ko-hong lantas bergelak tertawa, katanya, “Wah cucu baik, cucu bagus! Bagaimana? Apakah kita benar-benar akan main-main?”

Dia bicara seperti memuji Peng-ci, tapi mukanya menghadap Ih Jong-hay sehingga kata-kata “cucu baik dan cucu bagus” itu seakan-akan ditujukan kepada ketua Jing-sia-pay itu. Keruan Ih Jong-hay tambah gusar.

Tapi ia pun sadar bila sampai terjadi pertarungan, maka soalnya tidak cuma menyangkut mati-hidupnya sendiri saja, tapi juga berhubungan dengan turun atau naiknya gengsi Jing-sia-pay pada umumnya. Maka diam-diam ia pun siap siaga, katanya dengan tersenyum tawar, “Jika Bok-siansing ada maksud memamerkan ilmu sakti yang hebat di depan para kawan supaya kita bertambah pengalaman, maka terpaksa Cayhe mesti menerima ajakanmu.”

Dari dua kali tepukan Bok Ko-hong tadi dapatlah Ih Jong-hay menilai bahwa tenaga dalam si bungkuk tua itu memang lebih lihai daripada dirinya. Bahkan sangat keras, sekali menyerang sukar dibendung pula. Paling baik kalau bertahan saja tanpa menyerang, jika musuh mulai gelisah dan tak sabar mungkin akan ada lubang kelemahannya, asal dapat menandingi bungkuk tua ini dengan sama kuat, tentu Jing-sia-pay sudah mendapat nama baik di depan orang banyak.

Sebaliknya Bok Ko-hong juga ragu-ragu, dilihatnya perawakan Tojin yang berdiri di depannya ini pendek kecil seperti bocah cilik, bobotnya paling-paling cuma dua-tiga puluh kati saja, tapi sikapnya tampak kereng berwibawa, terang bukanlah kaum keroco yang bernama kosong. Jika dirinya sampai kalah tentu hanyutlah nama baiknya yang dipupuknya selama ini. Dasar orangnya memang licin, maka seketika Bok Ko-hong tidak berani sembarangan menyerang lebih dulu.

Sedangkan para hadirin yang menyaksikan dua orang kerdil berdiri berhadapan dan saling melotot, mereka tahu setiap saat akan terjadilah pertarungan sengit yang tidak kenal ampun. Banyak di antara mereka seperti Ting-yat, Thian-bun dan lain-lain tidak suka kepada Ih Jong-hay, sebab Jing-sia-pay tidak termasuk di dalam Ngo-gak-kiam-pay. Biasanya anak murid Jing-sia-pay sengaja atau tidak sengaja juga suka mencemoohkan Ngo-gak-kiam-pay, walaupun tidak berani terang-terangan. Mereka tidak suka kepada Bok Ko-hong yang punya nama buruk di dunia persilatan, mereka merasa malu untuk berkawan dengan manusia rendah itu.

Sebab itulah, tak peduli siapa yang akan menang atau kalah di antara kedua orang adalah tidak diambil pusing oleh Thian-bun dan lain-lain, bahkan kalau mereka sama-sama mampus malah akan dianggap kebetulan.

Hanya Lau Cing-hong saja sebagai tuan rumah masih coba mencegah pertarungan itu. Akan tetapi Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong adalah tokoh-tokoh terkemuka semua, siapa yang mundur lebih dulu berarti akan kehilangan muka. Maka walaupun dalam hati mereka juga ingin batalkan pertandingan itu, namun keadaan sudah sama-sama ngotot dan sukar dilerai.

Pada saat kedua orang sudah siap akan bergebrak itulah, sekonyong-konyong terdengar suara “bluk-bluk” dua kali, dua sosok tubuh manusia mendadak melayang dari belakang dan jatuh tersungkur tanpa bergerak lagi. Tampak kedua orang itu berjubah hijau, pantat mereka yang menghadap ke atas itu terdapat bekas tapak kaki. Pada saat yang hampir sama terdengarlah suara seorang anak perempuan telah berseru, “Ini adalah kepandaian andalan Jing-sia-pay yang disebut ‘gaya belibis jatuh dengan pantat menghadap ke belakang’!”

Ih Jong-hay menjadi murka, begitu putar tubuh, tanpa melihat jelas siapakah pembicara itu, dengan menurutkan arah suara segera ia melompat ke sana. Dilihatnya seorang gadis cilik berbaju hijau pupus berdiri di samping meja, tanpa pikir segera ia pegang tangan dara cilik itu.

“Aduh, mak!” mendadak dara cilik itu menjerit terus menangis.

Ih Jong-hay menjadi terkejut. Ia dengar dara cilik itu mengeluarkan ucapan olok-olok, saking gusarnya tanpa pikir lagi ia anggap kedua muridnya yang kecundang itu tentu ada hubungannya dengan dia, maka pegangannya agak keras. Demi dara cilik menjerit dan menangis barulah teringat olehnya adalah tidak pantas memperlakukan seorang anak kecil sekasar itu. Maka cepat-cepat ia lepaskan tangannya.

Tak disangka dara cilik itu makin menangis makin keras, ia menjerit pula, “Kau telah patahkan tulang tanganku! O, ibu, tanganku patah! Aduh, sakitnya! Uh-uh-uh, sakit sekali!”

Biarpun Ih Jong-hay sudah berpengalaman, tapi menghadapi seorang anak kecil mau tak mau ia menjadi serbarunyam juga. Apalagi berpuluh pasang mata seketika telah terarah kepadanya, banyak di antaranya memandangnya dengan hina dan menganggapnya seorang tua beraninya cuma sama anak kecil tapi tidak berani melawan Bok Ko-hong. Keruan muka Ih Jong-hay menjadi merah, dengan bingung ia coba membujuk gadis cilik itu dengan suara perlahan, “Jangan menangis, jangan menangis! Tanganmu tidak apa-apa, tidak patah, tidak sakit lagi!”

“Aku tak mau!” teriak dara cilik itu malah sambil menangis. “Tanganku sudah patah! Aduh mak! Sakitnya! U-u-uuuh! Kau orang tua hanya berani pada anak kecil! U-uuh! Tanganku sakit, Ibu! Ibu!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: