Hina Kelana: Bab 14. Ilmu Pedang Kakus Ciptaan Lenghou Tiong

Sampai di sini ia pandang Te-coat Tojin, lalu menyambung pula, “Dan Supek dari Thay-san-pay ini lantas melompat ke depan Dian Pek-kong sambil membentak, pedangnya menyerang dengan cepat dan bertubi-tubi. Sudah tentu ilmu pedang Supek ini sangat hebat, tapi Dian Pek-kong tidak berdiri lagi, ia hanya duduk di kursinya sambil cabut golok dan menangkis setiap serangan. Supek ini telah menyerang belasan kali dan Dian Pek-kong juga menangkis belasan kali, selama itu dia tetap duduk saja tanpa berbangkit.”

Air muka Thian-bun Tojin tampak membesi, katanya, “Sute, apakah ilmu silat bangsat itu benar-benar begitu lihai?”

Mendadak Te-coat menarik napas panjang, wajahnya yang pucat sekarang tambah putih seperti mayat. Perlahan-lahan ia berpaling ke arah lain.

Semua orang tahu itu adalah jawaban secara diam-diam yang mengakui ilmu silat Dian Pek-kong memang lihai. Maka pandangan semua orang lantas berpindah lagi kepada Gi-lim untuk mendengarkan ceritanya lebih lanjut.

“Saat itulah Lenghou-toako lantas putar pedangnya dan menusuk ke arah Dian Pek-kong,” demikian Gi-lim menyambung. “Cepat Dian Pek-kong menangkis dengan goloknya, dia tergeliat dan akhirnya berdirilah.”

“Apakah kau tidak salah omong?” ujar Ting-yat. “Masakah belasan kali serangan Te-coat Totiang tak mampu memaksa dia berdiri, sebaliknya hanya sekali serangan Lenghou Tiong saja sudah membuatnya berbangkit?”

“Untuk itu Dian Pek-kong telah memberi penjelasan,” jawab Gi-lim. “Dia bilang, ‘Lenghou-heng, aku anggap kau sebagai sahabat, kau menyerang aku dengan senjata, jika aku tetap berduduk saja berarti memandang hina padamu. Meski ilmu silatku lebih tinggi daripadamu, tapi hatiku menghormati kau sebagai seorang kesatria sejati. Sebab itulah tak peduli menang atau kalah aku akan berdiri untuk menyambut seranganmu. Lain halnya terhadap hidung kerbau ini.’

“Lenghou-toako mendengus sekali, katanya, ‘Terima kasih atas pujianmu!’

“Sret-sret-sret, beruntun-runtun ia terus menyerang lagi tiga kali. Suhu, tiga kali serangan itu benar-benar sangat lihai, sinar pedang telah membungkus rapat tubuh Dian Pek-kong -.”

“Itu adalah karya kebanggaan Gak-loji yang disebut ‘Tiang-kang-sam-tiap-lang’ (gelombang ombak susun tiga),” kata Ting-yat. “Kabarnya serangan kedua lebih kuat daripada serangan pertama dan serangan ketiga tambah kuat lagi daripada serangan kedua. Dan cara bagaimana Dian Pek-kong itu mematahkan serangan-serangan itu?”

Para hadirin juga tahu serangan berantai ilmu pedang Hoa-san-pay yang disebut “Tiang-kang-sam-tiap-lang” itu sangat hebat, maka mereka pun ingin tahu cara bagaimana Dian Pek-kong mematahkan serangan lihai itu.

Terdengar Gi-lim menyambung lagi, “Setiap kali Dian Pek-kong menangkis, tiap kali pula dia mundur satu tindak, berturut-turut ia mundur tiga tindak, lalu berseru memuji, ‘Bagus! Ilmu pedang bagus!’

“Tiba-tiba ia berpaling kepada Te-coat Susiok dan bertanya, ‘Hidung kerbau, kenapa kau tidak ikut mengerubut maju?’ Kiranya pada waktu Lenghou-toako mengeluarkan serangan lihai tadi, Te-coat Susiok hanya berdiri di samping saja tanpa membantu.

“Dengan mencemoohkan Te-coat Susiok menjawab, ‘Huh, Thay-san-pay adalah kaum jantan sejati, masakah sudi bergabung dengan kaum bajingan tengik dan cabul sebagai kalian?’

“Aku menjadi tidak tahan dan berseru, ‘Te-coat Susiok, janganlah engkau salah sangka terhadap Lenghou-suheng, dia adalah seorang baik!’

“Tapi Te-coat Susiok menjengek, ‘Dia adalah orang baik? Hehe, ya, memang orang baik, orang paling baik dari begundalnya Dian Pek-kong yang kotor dan hina ini!’

“Sekonyong-konyong terdengar Te-coat Susiok menjerit sekali, kedua tangannya mendekap dadanya sendiri, air mukanya meringis aneh. Sedangkan Dian Pek-kong lantas menyimpan kembali goloknya dan berkata, ‘Duduklah, silakan duduk, marilah minum!’

“Kulihat dari celah-celah jari Te-coat Susiok yang menutupi dada itu merembes keluar darah segar, entah dengan cara bagaimana dadanya telah kena dilukai Dian Pek-kong. Serangan itu benar-benar aneh dan secepat kilat sampai-sampai aku tidak tahu kapan terjadinya. Saking ketakutan aku hanya mampu berseru, ‘Jang … jangan membunuhnya!’

“Dengan cengar-cengir Dian Pek-kong berkata, ‘Baik, si jelita bilang jangan membunuhnya, tentu aku takkan membunuhnya!’

“Segera Te-coat Susiok lari pergi dari restoran itu sambil menahan lukanya. Mestinya Lenghou-toako hendak menyusul dan menolong Te-coat Susiok, tapi Dian Pek-kong telah berkata, ‘Lenghou-heng, lebih baik duduklah dan minum saja. Hidung kerbau itu terlalu angkuh, biarpun mati juga takkan terima pertolonganmu, buat apa kau mesti mencari malu sendiri?’

“Lenghou-toako tersenyum getir saja sambil geleng-geleng kepala, beruntun-runtun ia minum arak beberapa mangkuk lagi.

“Kemudian Dian Pek-kong berkata pula, ‘Imam hidung kerbau itu juga terhitung jago kelas satu di dalam Thay-san-pay mereka, bacokan golokku tadi tidak lambat, tapi dia ternyata sempat mengkeret mundur beberapa senti sehingga dia tidak sampai mati. Jago silat di dunia ini yang mampu terhindar dari kematian seranganku ini barulah dia orang satu-satunya. Bagus, bagus, ilmu silat Thay-san-pay ternyata masih boleh juga. Tapi bagimu, Lenghou-heng, karena hidung kerbau itu tidak jadi mati, tentu kesukaranmu di kemudian hari akan tambah banyak.’

“Lenghou-toako menjawab dengan tertawa, ‘Selama hidupku setiap hari selalu menghadapi kesukaran, pusing apa? Hayolah minum, silakan minum! Dian-heng, jika seranganmu ditujukan padaku tentu aku tidak mampu mengelakkan diri.’

“Dian Pek-kong berkata, ‘Ya, tadi aku memang bertangan ringan padamu sebagai balas kebaikanmu semalam tidak membunuh aku di dalam gua sana.’

“Mendengar itu, aku menjadi heran sekali. Jika demikian, jadi pertarungan sengit di dalam gua semalam itu bukannya Dian Pek-kong yang menang, sebaliknya Lenghou-toako yang telah mengampuni jiwanya malah.”

Mendengar sampai di sini, air muka semua orang mengunjuk rasa kurang senang pula. Mereka anggap Lenghou Tiong tidak pantas bergaul dan main sungkan-sungkan terhadap maling cabul yang terkutuk sebagai Dian Pek-kong itu.

Lalu Gi-lim melanjutkan, “Lenghou-toako telah berkata, ‘Pertarungan di dalam gua semalam aku sudah berbuat sepenuh tenaga, tapi apa mau dikata, kepandaianku memang kalah tinggi, masakah aku berani mengaku telah bermurah hati padamu?’

“Dian Pek-kong bergelak tertawa, katanya, ‘Tatkala itu kau dan Nikoh cilik ini bersembunyi di dalam gua, Nikoh cilik ini mengeluarkan suara sehingga ketahuan, sebaliknya kau menahan napas sehingga aku sama sekali tidak menduga kau juga bersembunyi di situ. Waktu aku memegang Nikoh ini dan akan melanggar kesuciannya, dalam keadaan begitu bila kau menunggu lagi sejenak, di kala aku sedang lupa daratan lalu kau menyerang, tentu dengan gampang kau dapat membinasakan aku. Kau toh bukan anak kecil, Lenghou-heng, masakah kau tidak tahu seluk-beluk orang hidup? Tapi aku tahu kau adalah seorang laki-laki sejati, seorang kesatria tulen yang tidak sudi menyerang orang secara menggelap. Sebab itulah, hehe, pedangmu hanya menusuk perlahan saja di atas pundakku.’

“Tapi Lenghou-toako menjawab, ‘Tidak, waktu itu aku tidak dapat menunggu lagi sehingga Nikoh cilik ini dinodai olehmu. Biarlah kukatakan padamu, walaupun merasa sial bila melihat Nikoh, tapi Hing-san-pay jelek-jelek adalah satu di antara Ngo-gak-kiam-pay kami, kau berani main gila kepada kami, sudah tentu aku tak dapat tinggal diam.’

“‘Walaupun begitu, bila tusukan pedangmu itu didorong lagi dua-tiga senti ke depan, tentu lenganku ini sudah tamat riwayatnya. Tapi mengapa tusukanmu yang sudah mengenai sasarannya mendadak ditarik kembali?’

“Lenghou-toako menjawab, ‘Sebagai murid Hoa-san-pay mana boleh aku menyerang orang secara pengecut? Lebih dulu kau telah menebas luka bahuku, maka aku pun balas melukai pundakmu. Kita sama-sama tidak utang. Jika mesti bertempur lagi kita pun tak perlu sungkan-sungkan lagi.’

“‘Hahaha, bagus! Aku ingin bersahabat dengan kau. Marilah, mari, kita habiskan semangkuk arak ini,’ jawab Dian Pek-kong dengan terbahak-bahak. Lenghou-toako berkata, ‘Ilmu silatku kalah kuat daripada kau, tapi kekuatan minum arak, kaulah yang kalah dariku.’

“Dian Pek-kong menjawab, ‘Kekuatan minum arak aku kalah? Juga belum tentu. Hayolah kita coba-coba bertanding. Marilah kita minum 16 mangkuk bersama!’

“Mendadak Lenghou-toako mengerut kening, katanya, ‘Dian-heng, kukira engkau adalah seorang adil, makanya aku mau berlomba minum dengan kau, siapa tahu tidak begitu halnya, sungguh sangat mengecewakan aku.’

“Dian Pek-kong meliriknya dan bertanya, ‘Mengapa aku kurang adil?’

“‘Habis kau kan tahu aku paling jemu kepada Nikoh, bila melihat Nikoh tentu badanku menjadi tidak enak, seleraku menjadi muak, cara bagaimana lagi dapat berlomba minum dengan kau?’ demikian sahut Lenghou-toako.

“Dian Pek-kong terbahak-bahak, katanya, ‘Ya, Lenghou-heng, aku tahu dengan segala daya upayamu kau ingin menolong Nikoh cilik ini. Akan tetapi dasar aku Dian Pek-kong memang suka pada perempuan melebihi jiwanya sendiri, sekali aku sudah penujui Nikoh cilik jelita ini tidak nanti kulepaskan dia lagi. Apabila kau ingin aku melepaskan dia juga boleh, tapi ada satu syarat!’

“Jawab Lenghou-toako, ‘Baik, coba katakan. Naik gunung berapi atau masuk ke laut mendidih, jika aku Lenghou Tiong mengerut kening sedikit saja bukanlah laki-laki sejati.’

“Dengan tertawa, Dian Pek-kong menuang dua mangkuk arak lalu berkata, ‘Silakan minum dulu, akan kukatakan padamu.’

“Tanpa pikir lagi Lenghou-toako lantas angkat mangkuk itu, sekali tenggak ia habiskan isinya dan memperlihatkan mangkuk yang kosong sambil berkata, ‘Habis!’

“Segera Dian Pek-kong juga menghabiskan semangkuk arak, kemudian berkata, ‘Lenghou-heng, bila aku sudah anggap kau sebagai sahabat, maka kita harus tunduk kepada hukum Kangouw. Istri kawan tidak boleh digoda. Asal kau menyanggupi akan mengawini Nikoh cilik ini .-’” bercerita sampai di sini air muka Gi-lim menjadi merah jengah, suaranya makin lirih sampai akhirnya tidak kedengaran lagi.

“Ngaco-belo! Makin omong makin kotor!” teriak Ting-yat sambil gebrak meja. “Lalu bagaimana?”

Dengan suara perlahan Gi-lim menutur pula, “Dian Pek-kong itu masih mengoceh terus, dengan cengar-cengir ia berkata, ‘Seorang laki-laki sejati sekali omong harus bisa pegang janji. Asal kau menyanggupi akan menikahi dia sebagai istri, segera juga aku akan membebaskan dia, bahkan aku akan memberi hormat dan minta maaf padanya. Selain jalan ini jangan lagi mengharap.’

“Lenghou-toako menyemprotnya, ‘Cis, memangnya kau ingin membikin aku sial selama hidup? Sudahlah, urusan ini jangan dibicarakan lagi.’

“Tapi keparat Dian Pek-kong itu masih terus mengoceh tak keruan, katanya Nikoh kalau piara rambut tentu bukan Nikoh lagi dan macam-macam omongan gila lainnya. Aku menutup telinga sendiri tidak sudi mendengarkan. ‘Tutup mulut!’ bentak Lenghou-toako. ‘Jika kau sembarangan mengoceh lagi seketika ini juga aku bisa mati kaku. Kau tidak mau membebaskan dia, bolehlah kita bertempur lagi mati-matian. Dian-heng, sesungguhnya kalau bertempur dengan berdiri aku memang bukan tandinganmu, tapi kalau bertempur sambil berduduk kau pasti bukan lawanku.’”

Tadi semua orang telah mendengar cerita Gi-lim tentang Dian Pek-kong menangkis belasan kali serangan Te-coat Tojin tanpa berbangkit dari tempat duduknya, maka dapat dibayangkan betapa hebat kepandaian bertempur Dian Pek-kong sambil berduduk itu. Tapi sekarang Lenghou Tiong berani mengatakan kepandaian Dian Pek-kong kalah tinggi daripadanya, terang ucapan ini hanya untuk membuat marah lawan saja.

“Ya, terhadap bangsat keparat cabul begitu memang harus memancingnya supaya murka, habis itu barulah mencari kesempatan untuk membinasakan dia,” kata Ho Sam-jit.

“Akan tetapi Dian Pek-kong itu ternyata tidak marah atas tantangan Lenghou-toako itu,” tutur Gi-lim lebih lanjut. “Dengan tertawa dia berkata, ‘Lenghou-heng, yang kukagumi adalah jiwa kesatria dan keberanianmu, tapi bukanlah ilmu silatmu.’

“Kontan Lenghou-toako menjawab, ‘Dan yang kukagumi adalah ilmu golokmu dengan berdiri dan bukan ilmu golok yang dimainkan sambil berduduk.’

“Dian Pek-kong terbahak-bahak, jawabnya, ‘Dalam hal ini rupanya kau tidak tahu bahwa dahulu aku pernah sakit lumpuh, lebih dari dua tahun aku terpaksa berlatih ilmu golok sambil berduduk. Maka bertempur sambil berduduk adalah kemahiranku yang khas. Ini sudah terbukti dalam pertarunganku dengan Tojin hidung kerbau tadi. Maka dari itu Lenghou-heng, dalam hal kepandaian bertempur sambil berduduk sudah terang kau bukan tandinganku.’

“Tapi Lenghou-toako lantas mendebat, ‘Dian-heng, rupanya kau pun tidak tahu. Kau cuma dua tahun saja berlatih ilmu golokmu sambil berduduk lantaran kena penyakit lumpuh, terang ilmu pedangku sambil berduduk jauh lebih lihai daripadamu, sebab setiap hari aku senantiasa berlatih sambil berduduk.’”

Bercerita sampai di sini, sorot mata semua orang lantas beralih ke arah Lo Tek-nau dengan maksud ingin tahu apa yang dikatakan oleh Lenghou Tiong itu apakah memang sungguh-sungguh, mereka tidak tahu apakah di dalam ilmu silat Hoa-san-pay memang betul ada cara latihan sambil berduduk.

Maka dengan tertawa Lo Tek-nau telah menjawab, “Toasuko hanya membohongi dia saja, golongan kami tiada terdapat kepandaian cara demikian.”

“Ya, Dian Pek-kong juga merasa heran,” sambung Gi-lim. “Katanya, ‘Apakah betul demikian? Wah, rupanya pengetahuanku yang dangkal dan kurang luas pengalamanku. Aku menjadi ingin sekali belajar kenal dengan ilmu pedang Hoa-san-pay … eh, apakah namanya?’

“Lenghou-toako menjawab dengan tertawa, ‘Ilmu pedang ini bukan ajaran guruku, tapi adalah ciptaanku sendiri.’

“Mendengar itu, seketika air muka Dian Pek-kong berubah, katanya, ‘O, kiranya demikian. Bakat Lenghou-heng yang tinggi sungguh sangat mengagumkan.’”

Semua orang dapat mengerti sebab apa air muka Dian Pek-kong berubah. Maklumlah, untuk menciptakan sejurus ilmu pukulan atau ilmu pedang bukanlah soal mudah di dunia persilatan. Kalau bukan ilmu silatnya sudah kelewat tinggi dan mempunyai bakat serta pengetahuan yang luas, tidaklah mungkin dapat menciptakan sendiri ilmu silat baru.

Maka diam-diam Lo Tek-nau juga heran, pikirnya, “Kiranya Toasuko telah berhasil menciptakan ilmu pedang baru, mengapa dia tidak lapor kepada Suhu? Apa barangkali dia merasa sirik karena telah dihajar oleh Suhu gara-gara percekcokannya dengan orang-orang Jing-sia-pay, lalu ingin keluar dari Hoa-san-pay untuk berdiri sendiri?”

Dalam pada itu terdengar Gi-lim telah melanjutkan, “Tatkala itu Lenghou-toako hanya tertawa saja, katanya, ‘Haha, ilmu pedangku ini berbau busuk, apanya yang perlu dikagumkan?’

“Dian Pek-kong menjadi heran, ia tanya, ‘Mengapa kau bilang berbau busuk?’

“Aku sendiri juga terheran-heran atas keterangan Lenghou-toako itu. Ilmu pedang hanya dibedakan antara bagus dan tidak, masakah pakai bau harum dan bau busuk segala?

“Kudengar Lenghou-toako telah menjawab, ‘Biarlah kuceritakan terus terang padamu, Dian-heng. Terciptanya ilmu pedangku ini adalah demikian jalannya: Setiap pagi hari aku tentu masuk kakus, di kala berduduk di tempat buangan kotoran selalu aku diganggu oleh lalat yang terbang kian kemari dan menjemukan. Saking isengnya aku lantas membawa pedang untuk menyampuk dan menusuk kawanan lalat yang mengganggu itu. Semula memang sukar untuk menusuk lalat-lalat itu, tapi lama-kelamaan menjadi jitu, setiap kali menusuk tentu kena sasarannya, lambat laun timbul juga ilhamku untuk menggubah gerakan menusuk lalat dengan pedang itu dalam sejurus Kiam-hoat. Karena di waktu memainkan ilmu pedang itu selalu duduk di dalam kakus, bukankah baunya menjadi rada-rada busuk?’

“Mendengar uraian Lenghou-toako itu, saking gelinya, aku sampai tertawa. Kuanggap Lenghou-toako itu benar-benar sangat jenaka, di dunia ini masakah ada orang berlatih ilmu pedang cara demikian? Sebaliknya air muka Dian Pek-kong berubah kurang senang, katanya, ‘Lenghou-heng, aku anggap kau sebagai seorang sahabat, tapi dengan ucapanmu itu tidakkah terlalu menghina diriku? Masakah kau anggap aku Dian Pek-kong sebagai lalat-lalat di dalam kakus itu? Bagus, biarlah sekarang juga aku akan belajar kenal dengan ilmu yang … yang ….’”

Mendengar sampai di sini, diam-diam semua orang manggut-manggut mengakui kecerdikan Lenghou Tiong. Hendaklah maklum bahwa pertandingan antara jago silat kelas wahid paling pantang marah, sekali marah berarti sudah kalah beberapa bagian. Sekarang Lenghou Tiong sengaja mengarang kata-kata yang menghina dan Dian Pek-kong benar-benar telah dibikin marah, ini berarti langkah pertama Lenghou Tiong sudah berhasil. Dian Pek-kong sudah masuk ke perangkapnya.

“Kemudian bagaimana?” segera Ting-yat tanya.

“Lenghou-toako masih tetap tertawa saja,” tutur Gi-lim. “Katanya, ‘Tidak, tidak ada maksud Cayhe ingin menghina Dian-heng. Di waktu melatih ilmu pedangku ini sesungguhnya hanya terdorong oleh rasa iseng saja, sekali-kali tiada maksud tujuan akan digunakan untuk bertempur dengan orang. Maka dari itu harap Dian-heng jangan salah paham, betapa pun kurang ajarnya Cayhe juga tak berani menyamakan Dian-heng dengan lalat di kakus.’

“Aku tambah geli mendengar Lenghou-toako menekankan nadanya pada menyamakan Dian-heng dengan lalat di kakus, tanpa merasa aku tertawa pula. Keruan Dian Pek-kong tambah gusar, segera ia cabut goloknya dan ditaruh di atas meja. Katanya, ‘Baik, kita boleh coba-coba bertanding sambil berduduk.’

“Melihat sorot mata Dian Pek-kong memancarkan sinar beringas aku jadi khawatir. Terang kini Dian Pek-kong sudah tidak kenal ampun lagi dan akan membunuh Lenghou-toako.

“Tapi Lenghou-toako tetap tenang-tenang saja, katanya dengan tertawa, ‘Kita bertanding sambil berduduk, terang kau kalah mahir daripadaku dan pasti bukan tandinganku. Hari ini Lenghou Tiong baru saja mendapatkan seorang sahabat sebagai Dian-heng, buat apa mesti saling cekcok pula? Lagi pula Lenghou Tiong adalah seorang laki-laki sejati, tidak nanti aku sudi mengakali kawannya sendiri dengan kepandaian yang paling diandalkannya!’

“Dian Pek-kong menjawab, ‘Tidak, pertandingan ini berlangsung dengan sukarela dan tak dapat dianggap kau mengakali aku.’

“Lenghou-toako menegas, ‘Jika demikian, jadi Dian-heng berkeras ingin bertanding?’

“‘Ya, harus bertanding!’ jawab Dian Pek-kong. ‘Bertanding sambil berduduk?’ Lenghou-toako menegas pula. ‘Betul, bertanding sambil berduduk,’ jawab Dian Pek-kong.

“‘Baik, jika demikian, kita harus menentukan suatu peraturan, siapa yang berdiri sebelum menang atau kalah diketahui dianggap kalah,’ kata Lenghou-toako.

“‘Akur! Siapa yang berdiri lebih dulu dianggap kalah!’

“Lalu Lenghou-toako berkata pula, ‘Dan bagaimana bagi yang kalah?’

“‘Terserah padamu bagaimana baiknya?’ jawab Dian Pek-kong. Kata Lenghou-toako, ‘Tunggu sebentar, biar kupikir dulu. Ah, adalah! Pertama, siapa yang kalah selanjutnya tidak boleh bersikap kurang ajar kepada Nikoh cilik ini, bila melihat dia harus memberi hormat dan menyapa, ‘Siausuhu, Tecu Dian Pek-kong menyampaikan salam bakti.’

“Dian Pek-kong menyemprot, ‘Cis, dari mana kau mengetahui aku yang akan kalah? Jika kau yang kalah lantas bagaimana?’

“Dengan tertawa Lenghou-toako menjawab, ‘Sama juga, pendek kata siapa saja yang kalah harus ganti perguruan dan mengangkat Nikoh cilik ini sebagai guru, menjadi cucu murid Ting-yat Losuthay dari Hing-san-pay!’

“Coba Suhu, ucapan Lenghou-toako itu sangat lucu bukan? Mereka berdua akan bertanding, masakah kalau kalah harus menjadi murid Hing-san-pay? Padahal aku mana boleh menerima mereka sebagai murid?”

Sampai di sini, wajah Gi-lim yang sejak tadi muram durja itu lantas menampilkan senyuman manis sehingga makin menambah kecantikannya.

“Ucapan orang Kangouw begitu buat apa kau anggap sungguh-sungguh? Lenghou Tiong hanya sengaja membuat marah Dian Pek-kong saja,” kata Ting-yat Suthay. “Kemudian bagaimana?”

“Dian Pek-kong menjadi ragu-ragu mendengar ucapan Lenghou-toako yang tegas dan pasti itu. Aku menduga dia mulai khawatir jangan-jangan kepandaian main pedang sambil berduduk Lenghou-toako benar-benar luar biasa. Karena itu Lenghou-toako telah membikin panas lagi hatinya, ‘Jika kau sudah pasti tidak ingin menjadi murid Hing-san-pay, maka bolehlah kita batalkan pertandingan ini.’

“Dian Pek-kong menjadi marah, sahutnya, ‘Baiklah, kita tetapkan demikian, siapa yang kalah harus mengangkat Nikoh cilik ini sebagai guru.’

“Tapi aku lantas berseru, ‘Tidak, aku tidak ingin menerima kalian sebagai murid. Kepandaianku rendah, pula Suhuku juga tidak akan mengizinkan. Setiap orang Hing-san-pay kami adalah Nikoh, mana boleh … mana boleh ….’

“Mendadak Lenghou-toako memutus ucapanku, ‘Aku berunding sendiri dengan Dian-heng, mau tidak mau kau harus menurut, kau tidak ada hak buat ikut campur.’

“Lalu ia berpaling kepada Dian Pek-kong dan melanjutkan, ‘Kedua, siapa yang kalah harus segera ayun senjata atas diri sendiri dan menjadi Thaykam.’

“Sungguh aku tidak paham, Suhu, entah apa maksudnya ayun senjata atas diri sendiri dan menjadi Thaykam?”

Karena pertanyaan Gi-lim ini, seketika tertawalah semua orang. Thaykam adalah dayang raja yang sudah dikebiri. Ayun senjata atas diri sendiri dan menjadi Thaykam berarti mengebiri dirinya sendiri.

Ting-yat ikut geli juga atas kepolosan muridnya yang hijau itu. Jawabnya, “Kata-kata itu adalah ucapan kasar kaum bajingan, tidak perlu kau cari tahu.”

“O, kiranya adalah kata-kata kasar,” tukas Gi-lim. “Tapi demi mendengar ucapan itu, Dian Pek-kong lantas melirik Lenghou-toako, katanya, ‘Lenghou-heng, apakah kau betul-betul sudah yakin akan menang?’

“Lenghou-toako menjawab, ‘Sudah tentu! Jika bertempur sambil berdiri, di seluruh dunia ini aku terhitung jago nomor 39, tapi kalau bertempur sambil berduduk, aku adalah tokoh nomor dua!’

“Dian Pek-kong tampak terheran-heran mendengar keterangan itu, ia tanya, ‘Bertempur sambil berduduk kau adalah tokoh nomor dua? Lalu siapa itu yang nomor satu?’

“Lenghou-toako menjawab, ‘Yang nomor satu ialah Mo-kau Kaucu (ketua Mo-kau) Tonghong Put-pay!’”

Mendengar nama “Mo-kau Kaucu Tonghong Put-pay” itu, seketika air muka semua orang berubah.

Gi-lim merasakan juga keadaan yang tegang itu, ia merasa heran dan takut pula sebab mengira ucapannya salah. Ia coba tanya, “Suhu, apakah aku salah omong?”

“Tak perlu kau sebut nama itu lagi,” sahut Ting-yat. “Lalu bagaimana kata Dian Pek-kong?”

“Waktu itu Dian Pek-kong hanya manggut-manggut saja,” tutur Gi-lim pula. “Katanya, ‘Ya, kau bilang Tonghong-kaucu yang nomor satu, ini dapat aku setujui. Tapi Lenghou-heng mengaku nomor dua, hal ini rasanya terlalu sombong dan membual belaka. Memangnya kau dapat melebihi gurumu sendiri?’

“‘Aku kan bilang bertempur sambil berduduk. Kalau bertempur dengan berdiri, Suhuku adalah nomor enam, sedangkan aku cuma nomor 39, sudah tentu aku selisih sangat jauh dengan beliau,’ demikian jawab Lenghou-toako.

“Dian Pek-kong angguk-angguk, katanya, ‘O, kiranya begitu! Lalu jika bertempur sambil berdiri aku terhitung nomor berapa? Siapa sih yang menentukan urut-urutan nomor ini?’

“Lenghou-toako menjawab, ‘Sebenarnya ini merupakan suatu rahasia besar. Tapi kita berdua rupanya sangat cocok satu sama lain, biarlah kuceritakan pada Dian-heng, tapi jangan sekali-kali kau ceritakan lagi kepada orang lain. Kalau tidak tentu akan mengakibatkan pergolakan besar dalam dunia persilatan. Tiga bulan yang lalu, kelima guru besar Ngo-gak-kiam-pay kami telah berkumpul di Hoa-san untuk membicarakan tokoh-tokoh terkemuka Bu-lim pada zaman ini, pada waktu itulah telah ditentukan urut-urutan jago-jago silat di seluruh jagat. Dian-heng, terus terang saja kukatakan padamu, kelima guru besar kami telah memaki kelakuanmu yang tidak ada harganya sepeser pun, tapi mengenai ilmu silatmu masih boleh juga, dalam hal bertempur sambil berdiri, kau dapat dihitung nomor 14 di dunia ini.’”

“Lenghou Tiong omong kosong, bilakah terjadi pertemuan demikian?” seru Thian-bun dan Ting-yat berbareng.

“Kiranya Lenghou-toako sengaja membohongi dia,” kata Gi-lim. “Makanya Dian Pek-kong juga ragu-ragu, setengah percaya, setengah tidak, katanya, ‘Hahaha, aku Dian Pek-kong dapat dihitung nomor 14 di antara para Ciangbunjin Ngo-gak-kiam-pay dan para tokoh Bu-lim yang lain, sungguh bahagialah aku. Dan waktu itu, Lenghou-heng apakah juga telah pertunjukkan ilmu pedang kakus yang berbau busuk itu di depan kelima guru besar kalian? Kalau tidak masakah beliau-beliau itu meluluskan gelarmu sebagai jago nomor dua di dunia ini?’

“Dengan tertawa Lenghou-toako menjawab, ‘Ilmu pedang kakus itu adalah tidak pantas dipertunjukkan di depan umum, apalagi di depan kelima guru besar kami. Aku memainkannya jika aku merasa kebelet dan cepat-cepat pergi ke kakus, dengan sendirinya gaya permainan ilmu pedang ini sangatlah menertawakan. Aku pernah tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkemuka dari Mo-kau, mereka menganggap ilmu pedangku ini tiada tandingannya kecuali Tonghong-kaucu mereka. Cuma saja, Dian-heng, ilmu pedangku ini meski lihai, tapi kecuali kugunakan menusuk lalat di waktu berak sesungguhnya tiada gunanya lagi. Coba kau pikir, bila benar-benar aku bergebrak dengan orang, siapa yang mau bertanding dengan aku sambil berduduk? Memang kau sekarang sudah berjanji akan bertanding dengan aku sambil berduduk. Tapi bila nanti kau sudah kalah, tentu dari malu kau akan menjadi gusar dan mendadak berbangkit untuk menyerang diriku. Padahal kau adalah jago nomor 14 jika bertempur sambil berdiri, tentu saja dengan gampang kau dapat membunuh aku yang cuma nomor 39 ini. Jadi, jago nomor 14 bagimu adalah tulen, tapi jago nomor 2 bagiku sebenarnya percuma saja.’

“Dian Pek-kong lantas mendengus dan berkata, ‘Lenghou-heng, mulutmu ini memang pintar putar lidah. Dari mana kau tahu pasti aku akan kalah jika bertempur dengan kau sambil berduduk dan dari mana mengetahui pula aku akan malu berubah menjadi gusar, lalu berbangkit dan membunuh kau?’

“Lenghou-toako menjawab, ‘Dian-heng, jika kau berjanji takkan membunuh aku bilamana kau nanti kalah, maka syarat menjadi Thaykam tadi bolehlah dihapuskan supaya kau tidak sampai putus keturunan. Nah, tidak perlu banyak omong lagi, marilah mulai!”

“Habis berkata ia terus jungkirkan meja bersama mangkuk dan poci arak sehingga mencelat, maka berhadapanlah kedua orang sekarang sambil berduduk, yang satu bergolok dan yang lain menghunus pedang. Kata Lenghou-toako pula, ‘Silakan mulai! Siapa yang berbangkit lebih dulu, pantat siapa yang lebih dulu meninggalkan kursi, dianggap kalah.’

“‘Baik, ingin kulihat siapa yang lebih dulu berbangkit!’ sahut Dian Pek-kong.

“Baru saja mereka hendak mulai bergebrak, sekilas Dian Pek-kong memandang ke arahku, mendadak ia bergelak tertawa dan berkata, ‘Lenghou-heng, aku menyerah padamu saja. Kiranya kau memang sengaja hendak membuat gara-gara padaku. Sekarang kita bertempur sambil berduduk dan tidak boleh meninggalkan kursi, jangan-jangan kau telah menyembunyikan pembantu, atau Nikoh cilik ini nanti akan mengganggu aku dari belakang sehingga terpaksa aku akan berbangkit.’

“Tapi Lenghou-toako juga terbahak-bahak, jawabnya, ‘Aku tidak perlu dibantu oleh siapa-siapa, bila ada yang membantu, anggaplah aku yang kalah. Eh, Nikoh cilik, kau mengharapkan aku menang atau kalah?’

“Aku menjawab, ‘Sudah tentu mengharapkan kau menang. Kau adalah jago nomor dua di dunia ini bila bertempur sambil berduduk, kau pasti takkan kalah.’

“‘Baik, jika begitu lekas enyah! Makin cepat makin baik, makin jauh makin bagus. Tanpa bertempur juga aku sudah kalah bila seorang wanita gundul macammu selalu berdiri di depanku,’ demikian kata Lenghou-toako, dan tanpa menunggu Dian Pek-kong bersuara lagi, kontan ia mendahului menusuk.

“Cepat Dian Pek-kong menangkis dan balas menyerang satu kali, katanya dengan tertawa, ‘Lenghou-heng, sungguh aku sangat kagum kepada tipu akalmu yang hendak menyelamatkan Nikoh cilik ini. Lenghou-heng, kau benar-benar seorang pencinta besar. Cuma risiko ini juga teramat besar bagimu.’

“Pada waktu itu barulah aku tahu bahwa sebabnya Lenghou-toako berulang-ulang menegaskan siapa yang berdiri lebih dulu dianggap kalah adalah supaya aku ada kesempatan untuk melarikan diri. Jika Dian Pek-kong tidak mau dianggap kalah, dengan sendirinya ia tidak boleh meninggalkan kursinya dan dengan sendirinya tak dapat menangkap aku lagi.”

Semua orang ikut merasa gegetun atas usaha Lenghou Tiong yang ingin menolong Gi-lim itu. Dalam keadaan ilmu silatnya kalah tinggi memang tiada jalan lain kecuali adu tipu daya.

“Tentang ‘cinta’ apa segala selanjutnya jangan kau sebut-sebut lagi dan tidak boleh kau pikirkan,” kata Ting-yat. “Lalu bagaimana, waktu itu seharusnya kau dapat melarikan diri. Kalau tidak, sesudah Lenghou Tiong dibunuh oleh Dian Pek-kong, tentu kau akan dibekuk pula olehnya.”

“Ya, Lenghou-toako berulang-ulang juga mendesak pula, terpaksa aku menyembah padanya dan berkata, ‘Banyak terima kasih atas pertolongan Lenghou-suheng!’

“Habis itu aku lantas hendak turun ke bawah loteng. Tapi baru saja sampai di ujung tangga, sekonyong-konyong terdengar suara bentakan Dian Pek-kong, ‘Kena!’

“Waktu aku menoleh, dua titik darah menciprat di atas mukaku. Kiranya pundak Lenghou-toako telah terluka.

“Terdengar Dian Pek-kong bertanya dengan tertawa, ‘Bagaimana? Jago ilmu pedang nomor dua di dunia ini kukira juga biasa saja!’

“Lenghou-toako menjawab, ‘Nanti dulu! Nikoh cilik itu belum pergi, sudah tentu aku tak dapat menangkan kau. Rupanya aku sudah ditakdirkan sial begini.’

“Kupikir Lenghou-toako jemu kepada Nikoh, jika aku tetap tinggal di situ jangan-jangan akan benar-benar membikin celaka dia, terpaksa aku lekas-lekas turun dari loteng restoran itu. Sampai di bawah, kudengar suara benturan senjata di atas loteng bertambah ramai, mendadak Dian Pek-kong membentak pula, ‘Kena!’

“Keruan aku terperanjat, kupikir Lenghou-toako tentu terluka lagi. Tapi aku tak berani naik ke atas loteng, terpaksa mencari jalan di luar dan memanjat ke atas atap restoran itu, aku mendekam di atas genting dan mengintip ke bawah melalui jendela. Kulihat Lenghou-toako masih terus bertempur dengan tangkas walaupun badannya sudah berlumuran darah, sebaliknya Dian Pek-kong sama sekali tidak terluka.

“Setelah bertempur sekian lamanya lagi, kembali Dian Pek-kong membentak, ‘Kena!’

“Tahu-tahu lengan kiri Lenghou-toako telah terbacok. Tapi Dian Pek-kong lantas tarik kembali goloknya, katanya dengan tertawa, ‘Lenghou-heng, seranganku ini sengaja kulakukan dengan setengah-setengah saja.’

“Lenghou-toako menjawab dengan tertawa, ‘Sudah tentu aku tahu. Jika kau membacok sedikit lebih keras tentu lenganku ini sudah berpisah dengan tubuhku!’

“Coba Suhu, dalam keadaan demikian dia masih tertawa-tawa malah.

“Lalu Dian Pek-kong bertanya, ‘Dan pertempuran ini apakah perlu diteruskan?’

“Lenghou-toako menjawab, ‘Sudah tentu diteruskan. Aku toh belum sampai berdiri.’ Kata Dian Pek-kong, ‘Aku menganjurkan sebaiknya kau mengaku kalah dan berdiri saja. Apa yang sudah kita janjikan boleh dianggap gugur saja, kau tidak perlu mengangkat Nikoh cilik itu sebagai guru.’ Tapi Lenghou-toako menjawab, ‘Tidak, laki-laki sejati, sekali sudah berjanji mana boleh ditarik kembali?’

“Dian Pek-kong berkata, ‘Sudah banyak aku melihat laki-laki pemberani di dunia ini, tapi orang seperti Lenghou-heng ini baru hari ini aku melihatnya. Baiklah, anggap saja kita seri, marilah kita sudahi pertandingan ini.’

“Tapi Lenghou-toako memandangnya sambil tertawa-tawa tanpa menjawab. Darah menetes dari berbagai lukanya. Dian Pek-kong lantas menyimpan goloknya dan baru saja hendak berbangkit, mendadak teringat olehnya, bila meninggalkan kursinya akan berarti kalah, maka tubuhnya baru menggeliat sedikit saja ia lantas berduduk tegak lagi sehingga tidak sampai meninggalkan kursinya. ‘Dian-heng, cerdik sekali kau ini!’ kata Lenghou-toako dengan tertawa.”

Mendengar sampai di sini, tanpa merasa semua orang menarik napas panjang dan merasa sayang bagi Lenghou-Tiong.

Lalu Gi-lim menyambung lagi, “Segera Dian Pek-kong mengangkat goloknya lagi dan berkata, ‘Aku akan main dengan cepat, jika terlambat mungkin aku tak dapat menyusul dan membekuk Nikoh cilik itu.’

“Mendengar diriku akan diuber pula, aku menjadi gemetar ketakutan, tapi khawatir pula kalau-kalau Lenghou-toako akan mengalami cedera apa-apa. Aku jadi bingung. Tiba-tiba timbul pikiranku bahwa sebabnya Lenghou-toako bertempur mati-matian dengan dia adalah lantaran ingin menolong diriku. Jalan satu-satunya asal aku bunuh diri di depan mereka barulah Lenghou-toako akan terhindar dari kematian.

“Segera aku bersiap-siap untuk melompat ke dalam loteng restoran itu, tapi mendadak kulihat Lenghou-toako sempoyongan, tubuhnya berikut kursinya terperosot roboh ke samping, tapi kedua tangannya menahan di lantai sambil merangkak-rangkak sehingga kursi itu tetap menindih di atas bokongnya. Rupanya lukanya cukup parah sehingga sukar untuk berdiri kembali. Dian Pek-kong sangat senang, dengan tertawa ia bertanya, ‘Bagaimana? Kalau bertempur sambil duduk adalah jago nomor dua, kalau sambil merangkak jago nomor berapa?’

“Sambil bicara tanpa merasa ia terus berbangkit.

“Mendadak Lenghou-toako bergelak tertawa dan berkata, ‘Hahahaha! Kau sudah kalah!’

“Dian Pek-kong menjawab, ‘Kau yang kalah sampai jatuh terperosot, masakah masih menuduh aku yang kalah?’

“Sambil tengkurap di atas lantai, Lenghou-toako menjawab, ‘Coba katakan, bagaimana perjanjian kita?’

“‘Kita berjanji bertempur sambil berduduk, siapa yang berdiri lebih dulu, yang pantatnya meninggalkan kursi lebih dulu, dianggap ka … ka ….’ berkata sampai di sini, Dian Pek-kong tidak dapat meneruskan lagi. Sambil menuding Lenghou-toako ia pun sadar bahwa dirinya telah tertipu. Dia sudah berdiri lebih dulu, sebaliknya Lenghou-toako masih belum berbangkit, pantatnya juga belum pernah berpisah dengan kursinya, walaupun keadaan Lenghou-toako rada runyam, tapi sesuai dengan perjanjian, terang dia yang keluar sebagai pemenang.”

Mendengar sampai di sini, serentak semua orang bertepuk tangan dan tertawa puas. Hanya Ih Jong-hay saja yang mendengus, katanya, “Huh, hanya bajingan tengik saja yang sudi main akal bulus dengan maling cabul sebagai Dian Pek-kong itu, sungguh membikin malu kaum Beng-bun-cing-pay saja.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: