Hina Kelana: Bab 11. Murid Pertama Hoa-san-pay Namanya Lenghou Tiong

“Lalu mereka minum atau tidak?” tanya Lak-kau-ji.

“Sudah tentu mereka tidak berani minum,” sahut Lo Tek-nau. “Dengan mengendus bau arak yang sengak menusuk hidung itu, siapa lagi yang berani minum. Tapi, e-e-eh, Lim-siaupiauthau itu benar-benar tidak takut langit dan tidak gentar bumi, sekaligus dia telah menghabiskan tiga cawan arak itu. Para Sute, biarpun ilmu silat Lim-kongcu itu tidak seberapa tingginya, tapi dengan diminumnya tiga cawan arak itu aku lantas menghormati dia sebagai seorang laki-laki sejati. Sikap kesatria begitu benar-benar jarang terdapat di dunia persilatan. Waktu itu jika aku yang dihadapkan kepada ketiga cawan arak itu tentu aku tidak mau juga tidak berani minum.”

Seketika semua orang terdiam, air muka mereka menampilkan rasa kagum kepada keberanian Lim Peng-ci.

“Dan sesudah habiskan tiga cawan arak itu tentu dia lantas menggeletak mabuk?” ujar Lak-kau-ji.

“Tentu saja,” sahut Lo Tek-nau. “Kontan dia roboh terkulai seperti orang mampus. Tapi Pui Jin-ti itu benar-benar sangat licin dan cerdik, dia masih curiga dan coba-coba memeriksa napas dan nadi Lim-kongcu itu barulah mau percaya dia sudah mati. Habis itu barulah mereka berangkat dengan menggiring Lim Cin-lam dan istrinya. Kemudian aku dan Siausumoay lantas menggali sebuah lubang untuk mengubur Lim-kongcu, namun yang kami uruk di atas badannya hanya daun-daun kering, tangkai kayu dan batu saja, agar supaya dia dapat bernapas dengan longgar, bila dia siuman tentu dapat merangkak keluar. Dengan cara kami mengubur dia itu, andaikan orang-orang Jing-sia-pay kembali lagi ke situ juga terpaksa percaya akan kematian Lim-kongcu. Pula kalau dia tak dikubur, tentu akan berbahaya jika dibiarkan menggeletak di situ, bila dia dimakan binatang buas kan percumalah maksud Siausumoay hendak menolongnya.”

Mendengar sampai di sini barulah Peng-ci paham duduknya perkara. Rupanya si nona burik justru bermaksud menyelamatkannya dengan menguburnya di bawah tanah. Diam-diam ia berterima kasih, rasa dongkolnya dulu lantas lenyap seketika.

Dalam pada itu hujan bukannya mereda, sebaliknya malah semakin lebat. Tiba-tiba terlihat ada seorang penjual pangsit berteduh di bawah emper di depan rumah minum itu. Penjual pangsit itu seorang tua, tiada hentinya memukul kedua keping bambu sehingga mengeluarkan suara “tek-tok-tek-tok”.

Memangnya sejak tadi anak murid Hoa-san-pay itu sudah kelaparan, cuma warung minum itu tidak menjual barang daharan, terpaksa mereka menahan lapar. Kebetulan sekarang datang penjual pangsit, tanpa disuruh lagi Liok Tay-yu lantas berseru, “He, pangsit, buatkan beberapa mangkuk, tambahkan telur pada tiap-tiap mangkuk.”

Penjual pangsit itu mengiakan dan segera membuka tutup kuali yang berisi air mendidih itu. Ia masukkan pangsit mentah ke dalam kuali untuk direbus, kemudian diciduklah pangsit itu serta diberi bumbu, selang tak lama lima mangkuk pangsit kuah yang masih panas sudah disuguhkan.

Kali ini Liok Tay-yu ternyata sangat taat pada peraturan, mangkuk pertama ia aturkan kepada Jisuko Lo Tek-nau, mangkuk kedua kepada Samsuko Nio Hoat, lalu berturut-turut kepada Sisuko Si Cay-cu dan Gosuko Ko Kin-beng. Mangkuk kelima mestinya adalah bagiannya sendiri, tapi dia memberikannya kepada si nona burik dan berkata, “Silakan kau makan dulu, Siausumoay.”

Di waktu bergurau si nona suka memanggil “Lak-kau-ji” padanya, tapi sekarang ia lantas berbangkit dan menjawab dengan hormat, “Terima kasih, Laksuko.”

Mungkin tata tertib perguruan mereka sangat keras, di waktu biasa mereka boleh bergurau sesukanya, tapi tidak boleh mengurangi peraturan dan tata krama.

Begitulah Lo Tek-nau lantas mulai makan pangsitnya, sebaliknya si nona sengaja menunggu sampai pangsit bagian Liok Tay-yu diantarkan oleh si penjual pangsit barulah mereka makan berbareng.

“Jisuko,” demikian sambil makan Nio Hoat mulai bertanya pula, “tadi kau bilang Ih-koancu mengunjungi Hok-wi-piaukiok sendiri, sebenarnya apa maksud tujuannya?”

Maka Lo Tek-nau menjawab, “Sesudah Siausumoay berhasil menyelamatkan Lim-kongcu, mestinya ia masih hendak mengintil di belakang rombongan Pui Jin-ti untuk mencari kesempatan buat menolong Lim Cin-lam dan istrinya. Tapi aku telah mencegahnya, kubilang kebaikan Lim-kongcu itu sudah cukup terbalas dengan menyelamatkan jiwanya. Tentang permusuhan Jing-sia-pay dan Hok-wi-piaukiok yang sudah berjalan sejak angkatan tua sebaiknya kita jangan ikut tersangkut. Nasihatku ini telah diturut oleh Siausumoay dan kami lantas kembali ke Hokciu.

“Kami menjadi heran ketika mengetahui belasan murid Jing-sia-pay masih berada di sekitar Hok-wi-piaukiok di kota itu, tampaknya sedang berjaga dengan ketat. Padahal Piaukiok itu sudah kosong, sampai-sampai Lim Cin-lam dan istrinya juga sudah kabur, lalu apa lagi yang dikehendaki oleh pihak Jing-sia-pay? Karena merasa tertarik, malamnya aku dan Siausumoay lantas pergi menyelidiki.

“Kami merasa tidak mudah untuk menyusup ke dalam Piaukiok itu mengingat penjagaan ketat yang diadakan oleh murid-murid Jing-sia-pay. Tapi pada waktu mereka berganti penjaga ketika makan malam, kami berhasil menyelundup ke dalam kebun sayur di belakang, kami sembunyi di situ. Kemudian waktu kami merunduk ke dalam Piaukiok, kami terkejut sekali. Ternyata banyak sekali murid Jing-sia-pay yang sedang mengubrak-abrik seluruh isi Piaukiok itu sampai-sampai dinding juga dikorek dan jubin dibongkar. Hok-wi-piaukiok sebesar itu hampir seluruhnya dijungkirbalikkan. Sudah tentu di dalam Piaukiok itu masih banyak harta benda yang berharga yang tidak sempat dibawa pergi. Tapi orang-orang Jing-sia-pay itu ternyata tidak tamak harta, barang-barang berharga yang diketemukan hanya ditaruh begitu saja. Saat itu juga, aku lantas berpikir bahwa yang dicari oleh mereka tentu adalah suatu barang yang sangat penting dan barang apakah itu?”

“Tentu adalah Kiam-boh (rumus) dari Pi-sia-kiam-hoat!” seru beberapa orang Sutenya serentak.

“Benar, aku dan Siausumoay pun berpendapat begitu,” sahut Lo Tek-nau. “Melihat gelagatnya terang mereka sengaja memaksa orang-orang Hok-wi-piaukiok supaya kabur dari tempat itu, lalu mereka dapat mengubrak-abrik dengan sesuka hati. Tapi meski mereka kelihatan sibuk sekali sehingga mandi keringat toh tetap tiada sesuatu yang diketemukan.”

“Akhirnya mereka berhasil atau tidak?” tanya Liok Tay-yu.

“Aku dan Siausumoay juga ingin tahu akan hal itu, akan tetapi orang-orang Jing-sia-pay itu bongkar sini dan gali sana, sampai-sampai kakus juga hampir-hampir mereka bongkar, khawatir kalau-kalau akhirnya kami kepergok, terpaksa aku dan Siausumoay lekas-lekas meninggalkan tempat itu,” jawab Lo Tek-nau.

“Jisuko, kali ini sampai-sampai Ih Jong-hay juga maju sendiri, menurut pandanganmu apakah tidak berlebihan?” tanya Gosutenya, Ko Kin-beng.

“Soalnya leluhur Jing-sia-pay pernah dikalahkan Pi-sia-kiam-hoatnya Lim Wan-tho, sekarang kepandaian Lim Cin-lam entah lebih tinggi atau lebih tidak becus dari leluhurnya tidaklah diketahui dengan pasti oleh orang luar. Maka rasanya tidak berlebihan jika Ih-koancu merasa perlu tampil ke muka sendiri. Cuma dari gerak-geriknya itu kukira maksud tujuan kedatangannya ke Hokciu itu bukanlah untuk menuntut balas melulu, yang lebih penting adalah dia ingin mendapatkan buku Kiam-boh itu.”

“Jisuko,” kata Sisutenya yang bernama Si Cay-cu, “kau telah menyaksikan mereka berlatih Pi-sia-kiam-hoat di Siong-hong-koan. Jika mereka sudah dapat memainkan ilmu pedang itu buat apa mesti mencari Kiam-boh dari Kiam-hoat itu? Boleh jadi yang hendak mereka cari adalah barang lain.”

“Tidak,” sahut Lo Tek-nau sambil menggeleng. “Tokoh besar sebagai Ih-koancu itu, di dunia ini hanya rumus ilmu silat saja yang dapat menarik perhatiannya. Kemudian waktu di daerah Kangsay aku dan Siausumoay telah memergoki rombongannya lagi. Terdengar Ih-koancu menanyakan kepada anak muridnya yang datang melapor dari Oulam dan Kwitang, tapi dari sikapnya yang lemas dan gelisah itu agaknya barang yang mereka cari itu belum diketemukan.”

“Tapi kau bilang mereka telah mahir memainkan ilmu pedang itu, buat apa lagi mereka mencari Kiam-bohnya? Sungguh aneh bin ajaib!” kata Si Cay-cu dengan tetap tidak mengerti.

Lo Tek-nau tahu otak sang Sisute itu memang agak puntul, suatu urusan yang sederhana terkadang sukar dipahami sampai sekian lamanya. Cuma dia paling giat berlatih, kegiatannya ternyata dapat menambal kekurangan kecerdasannya sehingga dalam ilmu silat dia malah lebih bagus daripada para Suheng dan Sutenya yang lain. Maka jawabnya, “Coba Sisute pikir saja, dahulu Li Wan-tho dapat mengalahkan Tiang-jing-cu, sudah tentu ilmu pedangnya sangat hebat, sebaliknya sekarang Ih-koancu menyaksikan ilmu Lim Cin-lam dan putranya ternyata tidak becus. Bukankah di balik ini pasti ada sesuatu yang tidak beres?”

“Mengapa tidak beres?” tanya Si Cay-cu dengan tetap bingung.

“Sudah tentu karena di dalam Pi-sia-kiam-hoat itu pasti ada rahasianya yang belum diketahui, walaupun gerakan pedangnya begitu-begitu saja, tapi daya tempurnya seharusnya sangat kuat, dan rahasia inilah yang belum sampai dipelajari oleh Lim Cin-lam,” ujar Tek-nau.

Untuk sejenak Si Cay-cu termenung-menung. Katanya kemudian, “O, kiranya begitu. Tapi tentang rumus Kiam-hoat biasanya diajarkan oleh sang guru secara lisan. Padahal Lim Wan-tho sudah mati beberapa puluh tahun yang lalu, andaikan peti matinya dibongkar juga tiada gunanya.”

“Menurut peraturan golongan kita memang rumus ilmu silat diajarkan secara lisan antara guru dan murid tanpa tertulis, tapi ilmu silat golongan lain belum tentu sama,” kata Tek-nau.

“Tapi aku masih tetap tidak jelas, Jisuko,” ujar Si Cay-cu. “Mungkin akan beralasan jika dahulu mereka mencari rumus Pi-sia-kiam-hoat, yaitu supaya mereka dapat mengetahui rahasia ilmu pedang itu dan dapat mengalahkannya. Akan tetapi sekarang Lim Cin-lam dan istrinya juga sudah mereka tawan, Hok-wi-piaukiok dan segenap kantor cabangnya juga sudah diubrak-abrik mereka, lalu mereka mau menuntut balas apa lagi? Andaikan di dalam Pi-sia-kiam-hoat itu betul ada rahasianya, lalu guna apa mereka mencarinya?”

“Coba jawab, Sisute,” tanya Tek-nau dengan tertawa. “Ilmu silat Jing-sia-pay kalau dibanding dengan Ngo-gak-kiam-pay kita, kira-kira bagaimana?”

“Aku tidak tahu,” sahut Si Cay-cu. Tapi lewat sejenak ia menambahkan lagi, “Mungkin belum memadai?”

“Benar, mungkin belum memadai,” tukas Tek-nau. “Tapi Ih-koancu itu adalah orang yang berambisi besar dan tinggi hati, masakah dia mau berdiri di bawah orang untuk selamanya? Bilamana di dalam Pi-sia-kiam-hoat itu memang betul ada sesuatu rumus rahasia yang dapat membikin jurus ilmu pedang yang tampaknya sepele itu menjadi mahalihai, lalu ilmu pedang yang mukjizat itu dikombinasikan di dalam Jing-sia-kiam-hoat, lantas bagaimana akibatnya?”

Si Cay-cu termangu-mangu sejenak, mendadak ia menggebrak meja lalu berbangkit sambil berseru, “Aha, baru sekarang aku paham! Kiranya Ih Jong-hay ingin menjadi ‘Ban-kiam-bengcu’ (raja dari segala ilmu pedang)!”

Karena meja digebrak olehnya, sebuah mangkuk wadah pangsit tadi lantas mencelat dan jatuh ke bawah. Namun cepat Ko Kin-beng mengayun sebelah kakinya, ujung kakinya mencukit perlahan sehingga mangkuk itu mencelat kembali ke atas, maka dengan gampang mangkuk itu kena ditangkapnya kembali.

Pada saat itulah sekonyong-konyong si kakek penjual pangsit berkata kepada mereka dengan suara tertahan, “Awas, lawan kalian telah datang, lekas lari!”

Mendengar kakek penjual pangsit itu mendadak bicara demikian, keruan semua orang terkejut. Cepat Ko Kin-beng menegas, “Apakah Ih Jong-hay telah datang?”

Tapi penjual pangsit itu tidak menjawab, hanya ujung mulutnya mengerot memberi tanda, lalu ia memukul-mukul kepingan bambunya lagi.

Waktu semua orang memandang keluar, tertampaklah di tengah hujan lebat itu ada belasan orang sedang mendatangi dengan langkah cepat. Orang-orang itu semuanya pakai mantel. Sesudah dekat barulah terlihat jelas, kiranya adalah serombongan Nikoh (biksuni).

Yang berjalan paling depan adalah seorang Nikoh tua yang berbadan sangat tinggi. Begitu sampai di depan rumah minum itu ia lantas berhenti dan berseru dengan suara kasar, “Lenghou Tiong, hayo keluar!”

Melihat Nikoh tua itu, serentak Lo Tek-nau dan para Sutenya berbangkit serta memberi hormat. Dengan suara lantang Tek-nau menyapa, “Terimalah sembah bakti kami, Ting-yat Susiok.”

Kiranya Nikoh tua itu bergelar Ting-yat Suthay, dia adalah Sumoaynya Ting-sian Suthay, itu ketua Hing-san-pay yang bersemayam di Pek-hun-am (biara awan putih) di gunung Hing. Nama Ting-yat bukan saja sangat berwibawa di dalam Hing-san-pay, bahkan orang Bu-lim umumnya juga sangat segan padanya.

Terdengar dia berteriak-teriak pula dengan suara kasar, “Di mana Lenghou Tiong bersembunyi, suruh dia keluar!”

“Lapor Susiok, Lenghou-suheng tidak berada di sini,” demikian kata Lo Tek-nau dengan hormat. “Sejak tadi Tecu sekalian telah menunggunya dan tetap belum datang.”

Mendengar percakapan itu, diam-diam Peng-ci membatin, “Kiranya Toasuko yang mereka bicarakan tadi bernama Lenghou Tiong. Orang ini benar-benar suka cari gara-gara, entah mengapa dia telah membuat marah Nikoh tua ini?”

Dalam pada itu Ting-yat telah melangkah ke dalam rumah minum itu. Tapi di antara tamu-tamu itu tiada diketemukan Lenghou Tiong, tiba-tiba ia menatap si nona burik dan bertanya, “Apakah kau ini Ling-ji? Mengapa menyamar begini aneh?”

“Ada orang jahat yang hendak membuat susah Ling-ji, terpaksa menyamar untuk menghindarinya,” sahut si nona.

“Orang jahat macam apa itu? Katakan padanya bahwa segala apa yang kau lakukan adalah suruhanku, jika perlu suruh dia mencari padaku saja,” kata Ting-yat.

“Terima kasih, Susiok,” sahut si nona alias Ling-ji. “Susiok, entah sebab apa Toasuko membikin marah padamu? Biarlah aku menjura dan minta maaf baginya, harap engkau jangan gusar lagi.”

Habis berkata ia lantas berlutut dan menyembah.

“Hm, pengawasan Hoa-san-pay kalian makin lama makin tak keruan dan membiarkan muridnya main gila sesukanya,” jengek Ting-yat. “Sudahlah, jika urusan di sini sudah beres segera aku akan pergi ke Hoa-san untuk mencari bapakmu.”

“Eh, janganlah Susiok ke sana,” cepat Ling-ji mencegah. “Baru saja Toasuko dirangket 30 kali oleh Ayah sehingga berjalan pun tidak dapat. Jika Susiok mengadu lagi pada ayah, tentu Toasuko akan dihajar lebih berat, jangan-jangan akan dirangket sampai mati.”

“Binatang begitu lebih baik dihajar mampus saja daripada hidup lebih lama lagi,” kata Ting-yat. “Hm, kau pun berani berdusta padaku, Ling-ji! Kau bilang Lenghou Tiong tidak dapat berjalan, tapi mengapa dia dapat membawa lari muridku yang terkecil?”

Ucapan ini membuat anak murid Hoa-san-pay itu terperanjat, lebih-lebih Ling-ji, hampir-hampir ia menangis, cepat ia bertanya, “Susiok, rasanya hal itu ti … tidaklah mungkin. Betapa pun binalnya Toasuko juga takkan berani menyalahi para Suci dari golongan kalian. Besar kemungkinan ada orang yang sengaja memfitnah dan mengadu domba.”

“Kau masih coba menyangkal dan membelanya?” semprot Ting-yat. “Coba, Gi-kong, ceritakan apa yang kau saksikan di Hengyang?”

Seorang Nikoh setengah tua lantas tampil ke muka, katanya, “Tecu telah menyaksikan sendiri di kota Hengyang, di mana Lenghou-suheng dan Gi-lim Sumoay berduduk bersama sedang minum arak di Cui-sian-lau. Terang kelihatan Gi-lim Sumoay berada di bawah ancaman Lenghou-suheng sehingga terpaksa menurut saja, sikapnya tampak sangat cemas dan takut-takut.”

Meski sudah mengetahui hal itu, sekarang untuk kedua kalinya Ting-yat mendengar, kembali rasa gusarnya memuncak, mendadak ia menggebrak meja sehingga beberapa mangkuk pangsit sampai mencelat. Sekali ini tiada seorang pun yang berani menangkap kembali mangkuk-mangkuk itu sehingga terjatuh semua ke lantai dan pecah berantakan.

Diam-diam para murid Hoa-san-pay itu menjadi serbasalah, mereka anggap perbuatan sang Suheng sekali ini agak kelewatan, kalau minum arak bersama seorang pengemis sih tidak menjadi soal, tapi mana boleh memaksa seorang Nikoh cilik minum bersama di rumah arak secara terang-terangan di depan umum. Apalagi Nikoh itu adalah murid Hing-san-pay. Sekarang menghadapi Ting-yat Suthay yang wataknya sangat keras, jika dilaporkan, sekalipun Toasuheng tidak dibunuh Suhu juga pasti akan diusir dari perguruan.

Air mata Ling-ji sampai berlinang-linang mendengar hal itu, tanyanya kemudian dengan suara gemetar, “Susiok, apakah … apakah Gi-kong Suci tidak salah lihat?”

“Masakan aku bisa salah lihat?” sahut Gi-kong dengan dingin. “Gi-lim Sumoay adalah saudara seperguruanku, masakah aku keliru mengenalnya? Apalagi macamnya Lenghou-suheng itu juga tidak mungkin aku pangling.”

“Jika … jika begitu, mengapa engkau tidak panggil Gi-lim Sumoay supaya ikut pergi bersama engkau?” tanya Ling-ji.

“Aku tidak berani,” sahut Gi-kong.

“Tidak berani? Apakah engkau takut Toasuko memaksa kau ikut minum sekalian bersama dia?” tanya Ling-ji pula.

Pertanyaan ini membuat para Suhengnya merasa geli, tapi tiada yang berani tertawa. Ting-yat juga lantas membentak, “Ling-ji, jangan sembarangan omong!”

Lalu Gi-kong menjawab, “Sebab di antara mereka terdapat pula seorang lagi dan aku tidak berani menemuinya.”

“Siapakah dia?” tanya Ling-ji.

“Dian Pek-kong!” jawab Gi-kong.

Serentak semua orang bersuara kaget sambil berbangkit.

Rupanya Dian Pek-kong itu dijuluki “Ban-li-tok-heng”, si kelana tunggal berlaksa li, seorang bandit yang sangat memusingkan tokoh-tokoh, baik dari kalangan Pek-to maupun Hek-to. Ilmu silat Dian Pek-kong sangat tinggi, tipu akalnya banyak dan macam-macam, datang pergi selalu seorang diri tanpa bekas. Caranya kejam pula, segala kejahatan dapat diperbuatnya, membunuh, merampok, menculik, memerkosa wanita, semuanya adalah dikerjakannya yang biasa.

Beberapa kali juga jago-jago persilatan secara besar-besaran menggerebeknya, tapi dia selalu menghilang. Bila para pengepungnya sudah bubar, lalu satu per satu dia menyergap mereka, selama ini sudah banyak sekali orang-orang gagah yang menjadi korban keganasannya.

Yang paling celaka adalah Dian Pek-kong ini berjiwa cabul, setiap wanita yang agak lumayan parasnya tentu diincar olehnya. Sebab itulah orang Bu-lim merasa sangat benci padanya dan setiap orang ingin membinasakan dia. Lebih-lebih kaum wanita, bila mendengar namanya sangat ketakutan.

“Gi-kong Sumoay, apakah kau kenal keparat Dian Pek-kong itu?” demikian tiba-tiba Lo Tek-nau bertanya.

“Pada jidat sebelah kiri orang itu ada tembong (toh) hijau serta tumbuh bulu yang panjang,” sahut Gi-kong.

Kiranya tembong hijau berbulu di atas jidat adalah ciri khas Dian Pek-kong sehingga diketahui oleh setiap orang Kangouw.

Maka dengan gusar Ting-yat lantas memaki, “Coba, binatang Lenghou Tiong itu telah bergaul bersama penjahat tak terampunkan sebagai Dian Pek-kong itu, bukankah dia sudah terjeblos ke dalam lumpur sedemikian dalamnya? Biarpun Suhu kalian masih membela muridnya sendiri, jika aku ketemukan dia, pasti tak ampun lagi, aku harus memenggal kepalanya. Hm, orang lain gentar kepada Ban-li-tok-heng Dian Pek-kong, tapi aku justru hendak melabraknya mati-matian. Sayang waktu aku mendapat laporan dan memburu ke sana, sementara itu Dian Pek-kong dan Lenghou Tiong sudah kabur dengan membawa lari Gi-lim. Ai, kasihan Gi-lim anak ini!”

Segera di antara murid-murid Pek-hun-am itu ada yang menangis khawatir. Mereka yakin Gi-lim yang masih muda belia dan lemah lembut itu sekali sudah jatuh di bawah cengkeraman Dian Pek-kong pastilah sukar terhindar dari kecemaran.

Lo Tek-nau dan yang lain juga berdebar-debar khawatir. Pikir mereka, “Sekalipun Toasuko melulu minum arak berduaan bersama Gi-lim di rumah minum, hal ini saja sudah sangat mencemarkan nama baik dan kesucian orang beribadat dan telah melanggar undang-undang perguruan, sekarang dia bergaul pula dengan manusia kotor sebagai Dian Pek-kong ini, benar-benar dosa ditambah dosa lagi.”

Selang sejenak barulah Tek-nau berkata, “Susiok, boleh jadi Lenghou-suheng cuma bertemu secara kebetulan saja dengan Dian Pek-kong dan tiada persahabatan apa-apa. Selama beberapa hari ini Toasuheng selalu minum sampai mabuk, pikirannya menjadi linglung sehingga tindak tanduknya sukar diduga ….”

“Hm, mabuk apa? Mabuk juga ada batasnya!” bentak Ting-yat dengan gusar. “Dia toh bukan anak kecil, masakah tidak bisa membedakan hal-hal yang baik dan yang busuk?”

“Ya, ya,” sahut Tek-nau. “Cuma tidak diketahui Toasuheng sekarang berada di mana. Sutit sekalian juga ingin mencarinya dan menegur perbuatannya yang tidak pantas itu. Sekarang biarlah Sutit menjura dan minta maaf dulu kepada Susiok, nanti akan kami laporkan kepada Suhu agar menghukum Toasuheng secara setimpal.”

“Hm, aku peduli apa dengan Suhengmu?” damprat Ting-yat dengan marah. Sekonyong-konyong tangannya menjulur, kontan pergelangan tangan Ling-ji kena dipegang olehnya.

Seketika Ling-ji merasa tangannya seperti dibelenggu, ia menjerit kaget, “Su … Susiok!”

“Toasuhengmu telah menculik muridku Gi-lim, maka sekarang aku pun hendak menculik kau sebagai sandera,” kata Ting-yat. “Asal kalian mengembalikan Gi-lim, segera aku pun akan melepaskan Ling-ji!”

Habis berkata ia memutar tubuh, Ling-ji diseretnya keluar rumah minum itu.

Tanpa ampun lagi setengah badan bagian atas Ling-ji terasa kesemutan dan tak bertenaga, tanpa kuasa ia ikut berjalan dengan sempoyongan.

Cepat Lo Tek-nau dan Nio Hoat melompat maju dan mengadang di depan Ting-yat Suthay. Kata Tek-nau dengan menghormat, “Ting-yat Susiok, andaikan Toasuko berbuat apa-apa yang tidak pantas juga tidak ada sangkut pautnya dengan Siausumoay, harap Susiok suka mengampuni dia.”

“Baik, akan kuampuni dia!” sahut Ting-yat. Mendadak ia angkat lengan kanan lalu menyampuk ke samping.

Kontan Lo Tek-nau dan Nio Hoat merasa didorong oleh suatu tenaga mahakuat, sampai napas pun terasa sesak, tanpa kuasa lagi tubuh mereka mencelat ke belakang. “Blang” punggung Lo Tek-nau menumbuk daun pintu rumah minum itu, papan pintu itu sampai-sampai pecah. Sedangkan Nio Hoat mencelat ke arah si penjual pangsit, tampaknya pikulan pangsit itu pasti hancur tertumbuk dan bukan mustahil Nio Hoat akan terluka parah terkena air mendidih. Syukurlah mendadak si kakek penjual pangsit telah menjulurkan sebelah tangannya untuk menahan di punggung Nio Hoat sehingga dia dapat berdiri kembali dengan tegak.

“Kiranya kau!” kata Ting-yat Suthay sambil melotot sesudah mengenali siapa kakek penjual pangsit itu.

“Ya, akulah adanya,” sahut si penjual pangsit dengan tertawa. “Perangai Suthay rasanya terlalulah diumbar!”

“Peduli apa dengan kau?” semprot Ting-yat.

Pada saat itu juga tertampak dua orang berpayung dan membawa lentera sedang mendatangi dengan cepat sambil berseru, “Apakah di sini ini adalah Sin-ni dari Hing-san-pay?”

Mendengar dirinya disebut sebagai “Sin-ni” (Nikoh sakti), Ting-yat menjadi senang hatinya. Segera ia menjawab, “Ah, tidak berani terima pujian demikian. Ting-yat dari Hing-san memang berada di sini.”

Sesudah dekat, tertampak kerudung lentera yang dibawa kedua orang itu tertulis huruf “Lau” merah. Seorang di antaranya lantas berkata, “Wanpwe diperintahkan Suhu untuk mengundang Ting-yat Supek dan para Suci supaya mampir dulu, harap dimaafkan keterlambatan penyambutan kami atas kedatangan Supek ke kota Heng-san ini.”

“Ah, tak perlu banyak adat,” sahut Ting-yat. “Apakah kalian adalah murid Lau-samya?”

“Betul,” sahut orang itu. “Wanpwe bernama Hiang Tay-lian, dan ini adalah Bi Wi-gi Sute. Terimalah sembah bakti kami.”

Dasar Ting-yat memang suka dipuji sanjung, maka ia menjadi sangat senang atas sikap Hiang Tay-lian dan Bi Wi-gi yang ramah dan merendah itu. Sahutnya, “Baiklah, kami memang hendak mengunjungi Lau-samya.”

“Dan siapakah saudara-saudara ini?” Hiang Tay-lian lantas tanya Nio Hoat dan lain-lain.

“Cayhe Nio Hoat dari Hoa-san,” sahut Nio Hoat.

“Aha, kiranya adalah ‘Kiu-ting-jiu’ Nio-samko dari Hoa-san,” seru Hiang Tay-lian dengan gembira. “Sudah lama kami mengagumi nama Nio-samko, silakan mampir sekalian. Kami telah dipesan oleh Suhu untuk menyambut kedatangan para tamu, cuma kami kekurangan tenaga sehingga banyak kekurangan dalam penyambutan, untuk mana harap dimaafkan. Marilah silakan mampir semua!”

Dalam pada itu Lo Tek-nau juga sudah mendekati mereka dan berkata, “Sebenarnya kami sedang menunggu datangnya Toasuko baru akan berkunjung dan menyampaikan salam hormat kepada Lau-samya.”

“Yang ini tentulah Lo-jiko adanya?” sahut Hiang Tay-lian. “Suhu sering memuji para murid Gak-supek betapa gagah perwiranya, Lenghou-suheng dan Lo-jiko lebih-lebih adalah kesatria angkatan muda yang jarang ada bandingannya. Jika Lenghou-suheng masih belum tiba, bolehlah saudara-saudara silakan mampir dulu.”

Diam-diam Lo Tek-nau membatin, “Siausumoay sudah dicengkeram oleh Ting-yat, tampaknya dia tak mau melepaskannya. Kami terpaksa mengikut mereka pergi ke sana.”

Maka ia lantas berkata, “Jika begitu terpaksa mesti mengganggu.”

“Ah, kedatangan kalian ke Heng-san sini berarti suatu kehormatan bagi kami, masakah kalian masih mengucapkan kata-kata sungkan demikian?” sahut Hiang Tay-lian.

“Dan dia ini juga kau undang atau tidak?” tiba-tiba Ting-yat bertanya sambil menunjuk si kakek penjual pangsit.

Hiang Tay-lian memandang sejenak kepada penjual pangsit itu, mendadak dia sadar, katanya dengan menghormat, “Ah, kiranya Ho-supek dari Gan-thang-san juga berada di sini, maafkan keteledoran kami. Silakan, silakan Ho-supek juga ikut mampir ke tempat kami.”

Kiranya kakek penjual pangsit ini bernama Ho Sam-jit, seorang tokoh terkemuka dari Gan-thang-san di Ciatkang Selatan. Sejak kecil hidupnya dari menjual pangsit, sesudah berhasil menjadi jago silat dia masih tetap berkelana dengan pikulan pangsitnya, maka pikulan pangsitnya itu boleh dikata adalah “tanda pengenalnya”. Cuma saja di setiap kota banyak sekali terdapat penjual pangsit, dengan sendirinya sukar dikenali. Tapi jika mahir ilmu silat, maka terang penjual pangsit itu pasti Ho Sam-jit adanya.

“Ya, baiklah, aku memang hendak mengganggu ke tempat kalian,” demikian sahut Ho Sam-jit dengan tersenyum sambil mengemasi mangkuk pangsitnya.

Mendengar disebutnya Ho Sam-jit, cepat Lo Tek-nau memberi hormat juga dan berkata, “Wanpwe punya mata tapi tidak bisa melihat, harap Ho-supek jangan marah.”

“Tidak marah, tidak marah!” sahut Ho Sam-jit dengan tertawa. “Kalian telah membeli pangsitku, kalian adalah pemberi sandang pangan padaku, masakah aku berani marah kepada kalian?”

Dalam pada itu hujan ternyata sudah mereda. Segera Hiang Tay-lian berkata pula, “Silakan sekalian berangkat!”

Lalu ia mendahului berjalan di depan sebagai penunjuk jalan dan diikuti orang banyak dari belakang. Peng-ci juga lantas berbangkit dan mengikut di belakang orang-orang Hoa-san-pay.

Tidak lama sampailah mereka di depan sebuah gedung yang megah, di depan pintu gerbang terpajang lampion dan kertas berwarna-warni sehingga menambah semarak sekali. Banyak orang Kangouw tampak masuk keluar dengan ramai.

Hiang Tay-lian membawa para tamunya ke ruangan tengah, tertampak di ruangan yang sangat luas itu sudah penuh tamu. Mereka lantas mencari tempat duduk yang luang. Kemudian Hiang Tay-lian mengundang Ting-yat dan Ho Sam-jit masuk ke ruangan dalam.

Selagi suasana di ruang tamu itu riuh ramai orang berbicara, tiba-tiba Hiang Tay-lian keluar lagi dan mendekati Lo Tek-nau serta mengundangnya ke ruangan dalam. Tek-nau mengiakan dan segera ikut masuk ke belakang. Sesudah menyusur sebuah serambi yang panjang, akhirnya sampailah di sebuah ruangan berjubin kembang.

Di tengah ruangan itu kelihatan berjajar lima buah kursi besar, empat di antaranya kosong, hanya kursi ujung kanan berduduk seorang Tojin bermuka merah dan berbadan kekar. Tek-nau tahu kelima kursi besar itu disediakan bagi kelima Ciangbunjin dari Ngo-gak-kiam-pay, lima aliran ilmu pedang dari lima gunung, yaitu Ko-san, Hing-san, Hoa-san, Heng-san dan Thay-san. Ternyata empat di antara lima aliran itu belum ada yang datang, hanya Ciangbunjin Thay-san-pay saja yang sudah hadir, yaitu Tojin muka merah tadi yang bergelar Thian-bun Tojin.

Di samping kanan-kiri juga sudah banyak tetamu angkatan tua, di antaranya terlihat Ting-yat Suthay dari Hing-san-pay, Ih Jong-hay dari Jing-sia-pay dan Ho Sam-jit, si kakek penjual pangsit. Pada kursi tempat tuan rumah terlihat berduduk seorang setengah umur yang pendek gemuk berjubah sutera warna cokelat. Itulah dia, Lau Cing-hong, tuan rumah yang berpotongan sebagai hartawan.

Lebih dulu Lo Tek-nau mendekati tuan rumah dan memberi hormat, lalu menyembah kepada Thian-bun Tojin sambil menyapa, “Anak murid Hoa-san-pay Lo Tek-nau memberi sembah kepada Thian-bun Supek.”

Air muka Thian-bun Tojin tampak guram, seperti penuh menahan rasa gusar yang setiap saat dapat meledak. Mendadak ia gebrak di atas pegangan kursi dan membentak, “Di manakah Lenghou Tiong?”

Suaranya yang keras mengguntur ini sampai-sampai terdengar juga oleh orang-orang yang berada di ruangan depan. Keruan para murid Hoa-san-pay sama terkejut. Walaupun Peng-ci duduk di tempat paling terpencil, tapi suara Thian-bun Tojin yang mengamuk itu pun dapat didengarnya. Pikirnya, “Kembali mereka mencari si Lenghou Tiong itu. Wah, si tua Lenghou Tiong itu benar-benar suka bikin gara-gara.”

Dalam pada itu Lo Tek-nau juga tergetar oleh suara Thian-bun Tojin tadi, selang sejenak barulah dia dapat menjawab, “Lapor Supek, Lenghou-suheng sementara telah berpisah dengan rombongan Wanpwe di Hengyang dan berjanji untuk berkumpul kembali di Heng-san ini, jika hari ini belum datang tentu besok juga akan tiba.”

“Dia masih berani datang? Berani datang?” demikian Thian-bun mengulangi dengan gusar. “Lenghou Tiong adalah Ciangbun-tay-tecu (murid pewaris) Hoa-san-pay kalian, betapa pun terhitung dari golongan yang baik. Tapi mengapa dia bergaul dengan bangsat keparat Dian Pek-kong yang terkutuk itu?”

“Setahu Tecu selama ini Toasuko tidak mengenal Dian Pek-kong,” sahut Lo Tek-nau. “Hanya Toasuko paling gemar minum arak, boleh jadi Toasuko tidak tahu siapakah Dian Pek-kong itu dan secara kebetulan bertemu dengan dia di rumah minum.”

“Kau masih berani mengoceh untuk membela keparat Lenghou Tiong itu?” bentak Thian-bun dengan gusar sambil berbangkit. “Sute, coba kau ceritakan padanya, cara bagaimana kau sampai terluka dan Lenghou Tiong apakah kenal Dian Pek-kong atau tidak?”

Ternyata di samping kiri terdapat dua papan daun pintu, yang sebuah berbaring sesosok mayat, sebuah lagi merebah seorang Tojin berjenggot panjang. Ialah Te-coat Tojin dari Thay-san-pay, Sutenya Thian-bun.

Keadaan Te-coat tampaknya cukup payah, mukanya pucat, jenggotnya juga penuh berlepotan darah. Cuma tadi dia sudah diberi obat luka oleh Ting-yat Suthay, maka jiwanya tidak menjadi soal lagi. Ketika mendengar pertanyaan sang Suheng, dengan suara lemah ia lantas berkata, “Pagi … pagi tadi waktu aku menemui Tang-sutit di … di rumah makan Cui-sian-lau, kulihat Leng … Lenghou Tiong berada di sana ber … sama Dian Pek-kong dan se … seorang Nikoh kecil ….” sampai di sini napasnya sudah tersengal-sengal dan terpaksa berhenti.

“Sudahlah, Te-coat Toheng, biarlah aku mewakilkan kau menceritakan apa yang kau uraikan tadi,” kata Lau Cing-hong. Lalu ia berpaling kepada Tek-nau dan berkata pula, “Lo-hiantit, kalian jauh-jauh datang untuk mengucapkan selamat padaku, sungguh aku sangat berterima kasih. Cuma entah mengapa Lenghou-hiantit dapat berkenalan dengan keparat Dian Pek-kong, hal ini harus kita selidiki dengan jelas. Jika memang Lenghou-hiantit yang salah, mengingat Ngo-gak-kiam-pay kita adalah orang sekeluarga, maka kita harus menasihati dia dengan baik-baik ….”

“Menasihati apa? Harus membikin pembersihan dan penggal kepalanya!” seru Thian-bun dengan gusar.

Melihat betapa murkanya Thian-bun, diam-diam Lo Tek-nau sangat takut. Dilihatnya Ih Jong-hay dan Ting-yat Suthay sedang mengikuti tanya jawab itu. Ih Jong-hay tampak tersenyum-senyum senang seakan-akan menyukurkan apa yang terjadi, sedangkan Ting-yat tampak ikut-ikut memberi angin dan membakar Thian-bun Tojin.

Diam-diam Tek-nau mendongkol pula. Pikirnya, “Lenghou-suheng tidak ada di sini, sementara aku adalah kepala murid-murid Hoa-san-pay yang hadir di sini, sekali-kali aku tak boleh menurunkan derajat Suhu.”

Maka ia lantas berkata, “Para Supek dan Susiok adalah sahabat karib Suhu kami, terhadap murid yang bersalah biasanya Suhu kami tidak pernah melindungi dan mengampuni begitu saja.”

Sampai di sini ia lantas berpaling ke arah Ih Jong-hay dan bertanya, “Untuk ini Ih-susiok dapat memberi saksi bahwa ucapan Tecu tidaklah dusta.”

Pertanyaan Lo Tek-nau ini benar-benar lihai. Seketika Ih Jong-hay mendengus dan tidak berani menjawab. Ia tahu ucapan Lo Tek-nau ini mengandung ancaman dan pemerasan, maksudnya jika persoalannya ditanyakan terus, tentu akhirnya akan menyinggung tentang kejadian dua orang murid utama Jing-sia-pay yang ditendang terguling ke bawah loteng oleh Lenghou Tiong, hal ini tentu akan membikin malu pihak Jing-sia-pay.

Maka terdengar Lau Cing-hong berkata pula, “Tata tertib Gak-suheng yang keras itu sudah tentu kami cukup tahu. Cuma perbuatan Lenghou-hiantit kali ini harus dianggap keterlaluan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: