Hina Kelana: Bab 10. Jing-sia-pay Ternyata Pernah Dikalahkan Pi-sia-kiam-hoat

“Lak-kau-ji, ingin kutanya kau, pada waktu Toasuko berteriak-teriak tentang ‘empat binatang dari Jing-sia’, tatkala itu kau ikut-ikut berteriak atau tidak?” demikian tanya seorang Suhengnya yang berbadan gede.

“Haha, jika begitu cara teriakan Toasuko, sudah tentu aku ikut-ikut memberi suara,” sahut Liok Tay-yu. “Memangnya kau malah ingin aku membantu pihak Jing-sia-pay dan memaki Toasuko?”

“Jika begitu hukuman rangket Suhu atas dirimu itu sedikit pun tidak keliru,” ujar si badan gede.

“Ya, peringatan Suhu terhadap Toasuko itu memang perlu juga diingat baik-baik oleh kita semua,” kata si kakek pula. “Menurut Suhu, banyak orang persilatan memang suka memakai julukan yang muluk-muluk dan berlebihan, tapi masakah kita dapat mengurusnya satu per satu? Orang mau menyebut dirinya sebagai ‘kesatria’ atau ‘pahlawan’ boleh biarkan saja, buat apa ambil pusing. Tentang perbuatannya, tingkah lakunya, apakah betul-betul kesatria atau pahlawan atau cuma ‘jual kecap’ melulu, tentu orang persilatan umumnya akan memberi penilaian sendiri, kita tidak perlu ambil tindakan sendiri-sendiri.”

Semua orang mengiakan uraian sang Jisuko. Maka dengan tersenyum kakek itu meneruskan, “Setelah kejadian Hau-Jin-eng dan Ang Jin-hiong dihajar oleh Toasuko, tentu saja hal mana bagi Jing-sia-pay merupakan suatu hinaan besar dan sangat memalukan, maka sama sekali mereka tidak berani membicarakannya, bahkan anak murid mereka sendiri jarang yang mengetahui kejadian itu. Suhu juga wanti-wanti memperingatkan kita agar jangan menyiarkan kejadian itu keluar untuk menghindari percekcokan kedua pihak. Maka selanjutnya kita pun jangan membicarakannya lagi, awas kalau didengar orang luar dan disiarkan.”

“Ah, padahal kepandaian Jing-sia-pay kukira juga cuma membual belaka,” ujar Liok Tay-yu. “Biar kita menyalahi mereka juga tidak menjadi soal ….”

“Laksute,” bentak si kakek, “jika kau sembarangan omong lagi, awas kalau kulaporkan kepada Suhu, tentu kau akan terima rangketan lagi. Dapatnya Toasuko menggulingkan kedua lawan dengan gerakan ‘Pah-bwe-kah’, pertama adalah karena pihak mereka sama sekali tidak siap, kedua, Toasuko adalah jago muda yang paling menonjol dari golongan kita yang sukar dibandingi orang lain. Coba kau sendiri saja, apakah kau mampu menendang orang sehingga terguling ke bawah loteng?”

Liok Tay-yu melelet-lelet lidah, jawabnya, “Ya, jangan bandingkan Toasuko dengan aku, dong!”

“Maka dari itu janganlah kita tinggi hati. Ih-koancu, ketua Jing-sia-pay, sesungguhnya adalah tokoh pilihan di dunia persilatan pada zaman ini, siapa berani memandang enteng padanya tentu akan merasakan akibatnya,” kata si kakek dengan sungguh-sungguh. “Kau, Siausumoay, kau sudah pernah melihat Ih-koancu, coba bagaimana pendapatmu tentang dia?”

“Tentang Ih-koancu maksudmu?” si nona menegas. “Aku … aku menjadi takut bila melihatnya. Lain … lain kali aku tidak ingin melihat dia lagi.”

“Bagaimana sih macamnya Ih-koancu itu sehingga Siausumoay kita sampai ketakutan padanya? Apakah mukanya sangat bengis dan jahat?” tanya Liok Tay-yu.

Anak dara itu agaknya masih merasa ngeri, maka badannya agak mengkeret dan tidak menjawab pertanyaannya.

Si kakek lantas menyambung ceritanya, “Karena Toasuko masih belum juga datang, daripada iseng biarlah kuceritakan sekalian dari awal mula. Sesudah kita mengetahui seluk-beluk urusan ini, kelak bila bertemu dengan orang-orang Jing-sia-pay dapatlah kita dapat berjaga-jaga sebelumnya dan tahu bagaimana cara bagaimana menghadapi mereka. Hari itu sesudah Suhu terima suratnya Ih-koancu, dengan marah beliau lantas memberi hukuman rangket kepada Toasuko dan Laksute. Besoknya beliau lantas menulis surat balasan dan menyuruh aku mengantarkannya ke Jing-sia-san ….”

“O, makanya hari itu kau turun gunung dengan tergesa-gesa, kiranya kau diutus pergi ke Jing-sia?” seru beberapa Sutenya.

“Benar,” sahut si kakek. “Suhu suruh aku jangan mengatakan kepada kalian supaya tidak timbul hal-hal yang tak diinginkan.”

“Hal-hal yang tak diinginkan apa sih? Itu kan cuma pikiran Suhu yang biasanya memang sangat hati-hati,” ujar Liok Tay-yu.

“Kau tahu apa?” omel Samsuhengnya. “Bila Jisuko mengatakan padamu, tentu kau akan usil mulut dan menyampaikannya pula kepada Toasuko. Andaikan Toasuko tidak berani membangkang perintah Suhu, tapi dia tentu akan menggunakan akal aneh-aneh untuk mengacau pihak Jing-sia-pay.”

“Benar juga ucapan Samte,” kata si kakek. “Toasuko mempunyai banyak sekali sahabat Kangouw, untuk melakukan sesuatu tidak perlu mesti dia sendiri yang melaksanakannya. Menurut Suhu, dalam surat mengatakan kedua murid yang nakal telah diberi hukuman yang setimpal, mestinya akan dipecat dari perguruan, tapi khawatir hal ini akan menimbulkan salah sangka orang Kangouw seakan-akan kedua aliran kita telah terjadi keretakan, maka sekarang kedua murid nakal itu sudah diberi hukum rangket sehingga tidak mampu berjalan, sebab itulah sengaja menyuruh Jitecu bernama Lo Tek-nau untuk minta maaf. Urusan yang ditimbulkan oleh murid nakal ini hendaklah Ih-koancu mengingat hubungan baik kedua pihak dan janganlah marah dan macam-macam ucapan merendah lagi.”

Mendengar uraian isi surat itu, diam-diam Peng-ci membatin, “Hubungan Hoa-san-pay kalian dan Jing-sia-pay ternyata sangat akrab, pantas nona burik itu tidak mau menyalahi mereka hanya untuk membela aku dan ayah saja.”

Dalam pada itu si kakek yang bernama Lo Tek-nau telah meneruskan ceritanya, “Sesampainya aku di Jing-sia-san, masih mendingan si Hau Jin-eng itu, yang kurang ajar adalah si Ang Jin-hiong, beberapa kali dia mengejek dan mencemooh, bahkan menantang aku untuk berkelahi ….”

“Keparat! Labrak saja, takut apa, Jisuko? Masakah keparat she Ang itu mampu menandingi kau?” seru Liok Tay-yu dengan gemas.

“Tapi Suhu menyuruh aku ke Jing-sia-san untuk meminta maaf dan bukan untuk mencari perkara,” sahut Lo Tek-nau. “Maka sedapat mungkin aku hanya bersabar saja. Aku menunggu enam hari di sana, sampai hari ketujuh barulah Ih-koancu menemui aku.”

“Hm, lagaknya!” omel Liok Tay-yu. “Selama enam hari enam malam itu tentu engkau sangat tersiksa, Jisuko.”

“Ya, sudah tentu aku kenyang disindir dan diejek,” sahut Lo Tek-nau. “Syukurlah aku cukup sadar akan tugas yang dibebankan Suhu kepadaku, bahwasanya aku yang diutus ke Jing-sia bukan lantaran ilmu silatku melebihi orang lain, beliau tahu usiaku paling tua dan jauh lebih sabar daripada para Sute. Sesudah menemui aku, Ih-koancu juga tidak bilang apa-apa, dia hanya menghibur aku beberapa patah, malamnya lantas mengadakan perjamuan untukku. Besok paginya dia sendiri yang mengantar keberangkatanku, sedikit pun tidak kurang adat. Tapi mereka tidak menduga bahwa selama enam hari aku dibiarkan tinggal di Siong-hong-koan mereka tanpa digubris sesungguhnya malah merugikan mereka sendiri.

“Karena aku belum dapat bertemu dengan Ih-koancu, dengan sendirinya aku menjadi menganggur saja. Hari ketiga pagi-pagi sekali aku telah bangun dan keluar jalan-jalan, sampai di lapangan berlatih di belakang kuil mereka itu, terlihat ada beberapa puluh murid Jing-sia-pay sedang latihan. Kita mengetahui orang Bu-lim paling pantang kalau mengintip orang lain yang sedang berlatih, maka cepat-cepat aku memutar balik ke kamar. Akan tetapi hanya sekilas pandang itu saja aku sudah lantas timbul rasa curiga. Kulihat beberapa puluh murid Jing-sia-pay itu semuanya menggunakan pedang dan sedang berlatih sesuatu ilmu pedang baru, sebab tampaknya gerakan mereka masih kaku. Cuma sekilas saja aku pun tidak jelas ilmu pedang apa yang mereka latih itu.

“Sepulangnya di kamar, hatiku semakin curiga. Aku tidak habis mengerti mengapa murid-murid Jing-sia-pay itu tanpa kecuali sekaligus telah latihan bersama sebuah ilmu pedang. Apalagi di antara mereka juga termasuk empat tokoh muda yang terkenal sebagai Jing-sia-su-siu, yaitu Hau Jin-eng, Ang Jin-hiong, Uh Jin-ho dan Lo Jin-kiat. Coba para Sute, jika kalian yang memergoki keadaan begitu, bagaimana dugaan kalian?”

“Mungkin Jing-sia-pay baru menciptakan semacam ilmu pedang,” ujar orang pembawa Swipoa.

“Semula aku pun berpikir begitu,” sahut Lo Tek-nau. “Tapi setelah kupikir lagi kukira tidak tepat. Ilmu pedang Ih-koancu sudah cukup terkenal, jika dia berhasil menciptakan ilmu pedang baru, maka ilmu pedang ini pasti luar biasa dan tidaklah mungkin serentak diajarkan kepada semua muridnya tanpa membedakan tingkatan. Paling-paling dia cuma pilih dua-tiga muridnya yang paling pandai untuk melatihnya. Maka pagi hari berikutnya kembali aku memutar ke belakang kuil lagi, lewat di lapangan berlatih, kembali kulihat mereka masih latihan ilmu pedang. Sekilas pandang pula aku dapat mengingat baik-baik dua jurus di antaranya dengan maksud sepulangnya di Hoa-san akan kuminta keterangan kepada Suhu. Maklumlah aku menjadi curiga jangan-jangan Jing-sia-pay hendak memusuhi Hoa-san-pay kita, bukan mustahil ilmu pedang mereka yang baru itu khusus akan ditujukan untuk mengalahkan kita, untuk mana kita harus siap siaga sebelumnya.”

“Jisuko, apakah tidak mungkin mereka sedang berlatih semacam Kiam-tin (barisan pedang)?” tiba-tiba si badan gede ikut tanya.

“Hal ini pun sangat mungkin. Cuma dari cara latihan mereka itu kukira bukanlah sebuah Kiam-tin apa-apa,” sahut Lo Tek-nau. “Ketika esok paginya aku pura-pura lalu di lapangan latihan itu, namun keadaan sunyi senyap tiada seorang pun. Kutahu mereka sengaja menghindari aku, maka rasa curigaku semakin menjadi. Malamnya selagi aku hampir pulas, tiba-tiba dari jauh terdengar suara saling benturnya senjata. Aku terkejut, apakah Siong-hong-koan mereka telah kedatangan musuh? Pikiranku yang timbul pertama adalah: jangan-jangan Toasuko yang sengaja menyatroni mereka karena merasa dendam habis dimarahi Suhu? Jika demikian halnya, seorang diri tentu Toasuko sukar melawan orang banyak, aku harus keluar untuk membantunya. Karena aku tidak membawa senjata, terpaksa dengan bertangan kosong aku lantas keluar ….”

“Wah, tabah benar, Jisuko,” puji Liok Tay-yu alias Lak-kau-ji. “Jika aku tentu tidaklah berani melawan Ih Jong-hay, ketua Jing-sia-pay itu dengan bertangan kosong”.

“Kau omong melantur saja, monyet,” semprot Lo Tek-nau. “Aku toh tidak mengatakan akan menempur Ih-koancu. Aku cuma khawatirkan keselamatan Toasuko, biarpun berbahaya juga terpaksa ikut maju. Memangnya kau suruh aku enak-enak tidur dan mengkeret di dalam selimut seperti kura-kura?”

Mendengar itu, para Sutenya lantas bergelak tertawa.

Liok Tay-yu menyengir, sahutnya, “Aku kan memuji kau, kenapa kau marah malah?”

“Terima kasih saja, pujianmu itu tidak enak didengar,” ujar Lo Tek-nau.

“Sudahlah Jisuko, lanjutkan saja ceritamu, jangan gubris Lak-kau-ji yang mengacau melulu itu,” kata Sute-sutenya yang lain.

“Ya, maka diam-diam aku lantas keluar dari kamar, kudengar suara senjata itu makin lama makin ramai, hatiku semakin berdebar juga. Kedengaran suara senjata itu datang dari ruangan belakang, terlihat pula di balik jendela ruangan belakang itu memang terang benderang, segera aku menuju ke sana. Waktu kuintip ke dalam ruangan melalui celah-celah jendela, maka legalah hatiku. Kiranya curigaku itu tidaklah beralasan, hanya lantaran Ih-koancu tidak menemui aku sampai beberapa hari, maka aku selalu berpikir hal-hal yang buruk. Ternyata di dalam ruangan pendopo belakang itu ada dua pasangan sedang bertanding pedang, yang satu partai adalah Hau Jin-eng melawan Ang Jin-hiong, partai lain adalah Pui Jin-ti melawan Uh Jin-ho.”

“Wah, giat amat anak murid Jing-sia-pay itu, sampai malam hari juga berlatih,” Liok Tay-yu mengolok-olok.

Lok Tek-nau melototinya sekali, lalu menyambung dengan tersenyum, “Kulihat di tengah ruangan itu duduk seorang Tojin pendek kecil berjubah hijau, usianya sekitar 50-an tahun, mukanya kurus ciut, melihat macamnya itu bobot badannya paling-paling cuma 60-70 kati saja. Orang-orang Bu-lim memang mengetahui ketua Jing-sia-pay adalah seorang Tojin yang pendek dan kecil, tapi kalau tidak menyaksikan sendiri tentu tidak tahu sampai begitulah pendek dan kecilnya, apalagi percaya bahwa dia adalah Ih-koancu yang namanya termasyhur.

“Di sekeliling ruangan itu berdiri beberapa puluh anak muridnya, semuanya sedang mengikuti pertandingan ilmu pedang di tengah kalangan itu. Sesudah mengintip beberapa jurus saja aku lantas tahu bahwa ilmu pedang yang dimainkan mereka itu tak lain dan tak bukan adalah ilmu pedang yang pernah kulihat di lapangan latihan itu.

“Kutahu keadaanku waktu itu sangat berbahaya, jika sampai ketahuan orang Jing-sia-pay, bukan saja aku akan mengalami hinaan, bahkan akan merugikan nama baik perguruan kita. Peristiwa Toasuko menendang terguling kedua jago muda Jing-sia-pay itu walaupun mengakibatkan Suhu menghukum Toasuko, tapi di dalam hati Suhu mungkin juga ada perasaan senang. Sebab apa pun juga Toasuko toh sudah menonjolkan namanya, apa yang disebut Jing-sia-su-siu itu ternyata tidak tahan oleh sekali tendang murid utama Hoa-san-pay kita. Akan tetapi lain soalnya jika aku ketangkap basah selagi mengintip orang lain berlatih, maka dosaku pastilah tak terampunkan, bukan mustahil aku akan diusir keluar dari perguruan kita.

“Namun menghadapi pertandingan orang yang menarik itu, boleh jadi ada sangkut pautnya pula dengan kepentingan Hoa-san-pay kita, masakah aku mau tinggal pergi begitu saja? Diam-diam aku berjanji hanya akan melihat beberapa jurus saja, lalu pergi. Tapi beberapa jurus ditambah beberapa jurus lagi, makin melihat makin tertarik sehingga aku tetap mengintip terus. Kulihat ilmu pedang yang dimainkan mereka itu agak aneh, tapi toh tiada sesuatu yang lihai, mengapa orang Jing-sia-pay sedemikian tekun melatihnya?

“Sesudah mengintip beberapa jurus lagi, aku tidak berani mengintip terus, perlahan-lahan aku pulang ke kamar. Kukhawatir bila pertandingan mereka sudah berhenti, dalam keadaan sunyi, asal sedikit aku bergerak saja pasti akan diketahui oleh Ih-koancu. Maka untuk dua malam selanjutnya aku tidak berani pergi mengintip lagi. Padahal jika sebelumnya aku tahu mereka berlatih di hadapan Ih-koancu betapa pun aku tidak berani mengintipnya. Soalnya cuma secara kebetulan saja aku memergoki mereka. Maka dari itu pujian Laksute tentang ketabahanku sebenarnya aku tidak berani terima. Malam itu bila Laksute melihat mukaku yang pucat takut itu mustahil takkan mengatakan Jisukomu ini sebagai seorang pengecut nomor satu yang takut mati.”

“Ah, mana berani aku berkata begitu,” ujar Liok Tay-yu dengan tertawa. “Paling-paling Jisuko adalah penakut yang nomor dua. Sebab bila aku yang mengintip waktu itu, aku sih tidak takut dipergoki Ih-koancu, karena saking takutnya aku tentu menjadi kaku dan tak bisa bergerak, bernapas pun tak dapat, maka tak perlu khawatir diketahui oleh Ih-koancu, tidak nanti Ih-koancu mengetahui di luar jendela ada ‘tokoh’ nomor satu sebagai diriku ini sedang mengintip.”

Serentak tertawalah semua orang mendengar ucapan Lak-kau-ji yang lucu itu.

Lalu Lo Tek-nau melanjutkan lagi, “Akhirnya Ih-koancu menerima aku juga. Dia bicara dengan sangat sungkan, katanya hubungan Hoa-san-pay dan Jing-sia-pay biasanya sangat baik, kalau anak murid bertengkar adalah seperti anak kecil berkelahi saja, buat apa orang tua ambil pusing. Malamnya aku lantas dijamu, besoknya waktu berangkat Ih-koancu mengantar sendiri keluar Siong-hong-koan. Sebagai kaum muda waktu mohon diri sudah seharusnya aku berlutut untuk menjura padanya. Tapi baru sebelah kakiku berlutut, tangan kanan Ih-koancu sudah lantas menyanggah perlahan sehingga aku terangkat bangun.

“Tenaga Ih-koancu benar-benar luar biasa, seketika badanku terasa enteng, sedikit pun tak bisa mengeluarkan tenagaku, kalau dia mau melemparkan aku, tentu aku akan terguling-guling beberapa meter jauhnya. Dengan tersenyum dia tanya padaku, ‘Toasukomu masuk perguruan lebih dahulu beberapa tahun daripadamu? Apakah kau berguru sudah memiliki ilmu silat?’

“Aku mengiakan dan mengatakan Toasuko masuk perguruan 12 tahun lebih dulu. Maka Ih-koancu tertawa lagi, katanya, ‘O, jadi lebih dulu 12 tahun!’”

“Apa maksudnya dia menanyakan hal itu?” tanya si nona burik.

“Aku pun tidak tahu, cuma wajahnya sangat aneh ketika menanyakan hal itu padaku,” sahut Lo Tek-nau. “Kukira dia hendak mengatakan kepandaianku toh tidak tinggi, biarpun Toasuko belajar lebih lama 12 tahun rasanya juga tidak berbeda banyak.”

“Hm!” si nona mendengus, lalu tidak tanya pula.

Lo Tek-nau lantas melanjutkan, “Sepulangnya di rumah aku lalu mengaturkan surat balasan Ih-koancu kepada Suhu. Isi suratnya ternyata sangat ramah dan merendah hati. Suhu sangat senang sesudah membaca. Beliau lantas tanya padaku tentang pengalamanku di Siong-hong-koan. Kuceritakan tentang ilmu pedang yang dilatih anak murid Jing-sia-pay itu, segera Suhu suruh aku untuk mempertunjukkan jurus-jurus yang kulihat itu. Karena aku cuma ingat lima-enam jurus saja, aku lantas memainkan apa yang kuketahui itu. Sesudah melihat, Suhu lantas berkata, ‘Ilmu pedang ini adalah Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim dari Hok-wi-piaukiok!’”

Hati Peng-ci tergetar mendengar ucapan terakhir itu. Untunglah orang-orang Hoa-san-pay itu lagi asyik mendengar cerita Jisuko mereka sehingga tidak memerhatikan orang-orang di sekitarnya.

Dalam pada itu terdengar Lo Tek-nau lagi menyambung, “Waktu itu aku lantas tanya Suhu, ‘Apakah Pi-sia-kiam-hoat ini sangat hebat? Mengapa Jing-sia-pay mempelajarinya sedemikian tekun?’

“Namun Suhu tidak menjawab, sesudah merenung sejenak barulah beliau berkata, ‘Tek-nau, sebelum berguru padaku kau sudah pernah berkelana beberapa tahun di Kangouw, apakah kau pernah mendengar orang Bu-lim memberi komentar tentang ilmu silatnya Lim Cin-lam, itu pemimpin Hok-wi-piaukiok di Hokkian itu?’

“Aku menjawab, ‘Ya, menurut cerita kawan-kawan Bu-lim, katanya tangan Lim Cin-lam sangat terbuka dan suka menolong, maka setiap orang suka memberi muka padanya tanpa mengganggu barang kawalannya. Adapun mengenai kepandaiannya yang sejati sebaliknya tidak terlalu jelas.’

“Lalu Suhu berkata pula, ‘Memang perkembangan Hok-wi-piaukiok beberapa tahun terakhir ini sebagian besar adalah berkat bantuan kawan-kawan Kangouw. Tapi kau tidak tahu bahwa Ih-koancu punya Suhu, yaitu Tiang-jing-cu, pada waktu mudanya pernah terjungkal di bawah Pi-sia-kiam-hoatnya Lim Wan-tho.’

“Aku tanya siapakah Lim Wan-tho itu, apakah ayahnya Lim Cin-lam. Tapi Suhu menjawab, ‘Bukan, Lim Wan-tho adalah kakeknya Lim-Cin-lam. Dialah yang mendirikan Hok-wi-piaukiok. Dia punya 72 jurus Pi-sia-kiam-hoat, 108 gerakan Hoan-thian-ciang, dan 18 batang panah yang boleh dikata tiada tandingannya di kalangan Hek-to pada masa itu. Lantaran melihat Lim Wan-tho terlalu menonjol di kalangan Kangouw, ada juga kawan kalangan Pek-to yang sengaja pergi mencari dia untuk minta bertanding, lantaran itulah Tiang-jing-cu telah dikalahkan oleh Pi-sia-kiam-hoat.’

“‘Jika begitu, jadi Pi-sia-kiam-hoat memang sangat lihai?’ demikian tanyaku.

“Suhu menjawab, ‘Tentang kalahnya Tiang-jing-cu itu kedua pihak telah tutup mulut rapat-rapat, maka orang Bu-lim tiada yang tahu. Kakek gurumu adalah sobat kentalnya Tiang-jing-cu, pada waktu bertemu Tiang-jing-cu telah menceritakan kekalahannya itu kepada beliau, katanya hal itu merupakan hinaan terbesar selama hidupnya, tapi dia pun merasa tidak dapat melawan Lim Wan-tho, dendam itu tentu sukar dibalas. Kakek gurumu pernah coba-coba mengikuti permainan Pi-sia-kiam-hoat yang diperlihatkan Tiang-jing-cu dengan maksud akan membantu dia menemukan kelemahan ilmu pedang itu.’

“Akan tetapi ke-72 jurus ilmu pedang itu memang luar biasa, tampaknya saja tiada sesuatu yang aneh, tapi di dalamnya ternyata mengandung kemukjizatan yang sukar diraba orang. Kedua orang tua itu menyelaminya sampai beberapa bulan dan tetap tidak dapat memecahkan cara mengalahkan Pi-sia-kiam-hoat. Tatkala mana aku pun menunggui mereka di samping, aku ingat betul gerakan Pi-sia-kiam-hoat itu, maka begitu kau memainkannya tadi aku lantas tahu ilmu pedang apa. Ai, sang tempo lalu dengan cepat sekali, peristiwa itu sudah terjadi beberapa puluh tahun yang lampau!”

Sebenarnya sejak Lim Peng-ci dihajar habis-habisan oleh anak murid Jing-sia-pay, dia sudah kehilangan kepercayaan atas ilmu silat warisan leluhurnya sendiri, maka diam-diam ia berharap akan dapat mencari guru pandai untuk menuntut balas.

Tapi sekarang demi mendengar cerita Lo Tek-nau tentang betapa gagah perwira kakek besarnya, Lim Wan-tho itu, tanpa merasa semangatnya lantas terbangkit. Katanya di dalam hati, “Kiranya Pi-sia-kiam-hoat leluhurku sedemikian hebat, sampai-sampai gembong-gembong Hoa-san-pay di masa dulu juga tidak mampu menandingi. Tapi mengapa ayah sekarang malah tidak mampu melawan anak murid Jing-sia-pay yang masih hijau pelonco itu? Ai, besar kemungkinan ayah belum lagi berhasil menyelami saripati dan kelihaian ilmu pedang kakek-besar itu.”

Ia dengar Lo Tek-nau sedang berkata pula, “Waktu itu aku telah tanya Suhu, ‘Lalu Tiang-jing-cu dapat menuntut balas atau tidak?’

“Kata Suhu, ‘Sebenarnya kalah menang dalam pertandingan ilmu silat juga tak dapat dianggap sebagai permusuhan sehingga mesti merasa dendam segala, apalagi Lim Wan-tho pada masa itu sudah lama termasyhur, dia adalah Locianpwe yang dikagumi kawan-kawan Bu-lim, sebaliknya Tiang-jing-cu adalah Tosu muda yang baru saja mulai menonjol. Seorang muda dikalahkan kaum tua sebenarnya tidaklah menjadi soal. Sebab itulah kakek-gurumu telah menghibur dengan menasihati dia supaya persoalan itu jangan dipikirkan lagi. Kemudian Tiang-jing-cu telah meninggal dalam usia cuma 36 tahun, boleh jadi soal kekalahannya itu masih tetap menjadi ganjalan hatinya sehingga dia mati dengan kurang tenteram. Kejadian yang sudah berselang beberapa puluh tahun, kini mendadak Ih Jong-hay giat melatih Pi-sia-kiam-hoat bersama murid-muridnya, sebenarnya apakah sebabnya? Ya, apa sebabnya!’

“Aku coba mengemukakan pendapatku, apakah tak mungkin Ih-koancu hendak mencari perkara kepada Hok-wi-piaukiok secara besar-besaran untuk menuntut balas sakit hati gurunya? Suhu tampak mengangguk, katanya, ‘Aku pun berpikir demikian. Agaknya jiwa Tiang-jing-cu itu sangat sempit, orangnya tinggi hati pula, soal kekalahannya tentu membuatnya dendam sampai saat ajalnya, besar kemungkinan dia telah meninggalkan pesan apa-apa kepada Ih Jong-hay. Namun Lim Wan-tho sudah wafat lebih dulu daripada Tiang-jing-cu, jika Ih Jong-hay mau menuntut balas terpaksa mesti mencari keturunan Lim Wan-tho. Tapi entah mengapa tertunda hingga sekarang baru mau bertindak. Ih Jong-hay itu sangat licin, tentu dia sudah mengatur rencana dulu baru mulai bergerak. Sekali ini Jing-sia-pay dan Hok-wi-piaukiok tentu akan berhadapan dengan sengit.’

“Waktu aku tanya Suhu bagaimana pendapatnya atas perselisihan itu, pihak mana yang akan menang? Dengan tertawa Suhu menjawab, ‘Ilmu silat Ih Jong-hay sudah jauh melebihi gurunya, yaitu Tiang-jing-cu, sebaliknya kepandaian Lim Cin-lam walaupun orang luar tidak tahu persis, tapi jelas tidak dapat memadai kakeknya. Yang satu maju dan yang lain mundur, ditambah lagi Jing-sia-pay di pihak yang gelap sedangkan Hok-wi-piaukiok berada di pihak yang terang, sebelum mulai bertarung Hok-wi-piaukiok sudah kalah separuh. Apabila sebelumnya Lim Cin-lam mendapat kabar dan dapat meminta bantuan Kim-to-bu-tek Ong Goan-pa dari Lokyang, yaitu ayah-mertuanya, mungkin dia masih dapat melawan Jing-sia-pay. Tek-nau, apakah kau tidak ingin pergi melihat keramaian itu?’

“Sudah tentu aku mau saja. Tapi Suhu suruh aku diam-diam saja, jangan sampai diketahui oleh para Sute. Dasar Siausumoay memang setan cerdik, akhirnya diketahui olehnya, dia merengek dan minta Suhu mengizinkan dia ikut padaku. Begitulah kami berdua lantas berangkat ke Hokkian, kami menyamar sebagai kakek dan cucu, dan membuka warung arak di luar kota Hokciu. Setiap hari kami tentu pergi menyelidiki keadaan Hok-wi-piaukiok. Kami tidak melihat apa-apa yang menarik, hanya sering melihat Lim Cin-lam sedang mengajar ilmu pedang kepada putranya yang bernama Lim Peng-ci. Melihat ilmu pedang mereka itu Siausumoay geleng-geleng kepala terus, katanya padaku, ‘Apakah begitu itu namanya Pi-sia-kiam-hoat (ilmu pedang penghalau iblis), haha, jika iblis benar-benar datang, mungkin Lim-kongcu itu sudah lebih dulu terhalau! ….’”

Di tengah gelak tertawa orang-orang Hoa-san-pay itu, muka Peng-ci juga merah jengah, malunya tak terlukiskan. Pikirnya, “Kiranya mereka berdua lebih dahulu mengintai ke rumahku, tapi kami sekeluarga tidak tahu sama sekali, sungguh tidak becus.”

Terdengar Lo Tek-nau lagi menyambung, “Tidak seberapa hari kami tinggal di luar kota Hokciu lantas datanglah anak murid Jing-sia-pay berturut-turut. Yang datang paling dulu adalah Hau Jin-eng dan Ang Jin-hiong, setiap hari mereka pasti mondar-mandir di sekitar Hok-wi-piaukiok. Khawatir kepergok, aku dan Siausumoay lantas tidak pergi ke sana lagi.

“Pada hari itu benar-benar sangat kebetulan, tiba-tiba Lim-kongcu itu berkunjung ke warung yang kubuka bersama Siausumoay itu. Terpaksa Siausumoay mengantar arak yang mereka minta. Tadinya aku menyangsikan jangan-jangan penyamaran kami telah diketahui, maka dia sengaja datang untuk membongkar rahasia kami. Tapi sesudah ajak bicara barulah diketahui Lim-kongcu itu sama sekali tidak sadar, pemuda perlente yang hidupnya aman tenteram itu ternyata tidak paham apa-apa, tiada ubahnya seperti anak tolol. Pada saat itulah tiba-tiba kedua orang Jing-sia-pay yang paling berengsek, yaitu Ih Jin-gan dan Keh Jin-tat, juga berkunjung ke tempat kami ….”

“Haha, Jisuko, perusahaan yang kau buka bersama Siausumoay itu benar-benar subur dan makmur, laris sebagai menjual pisang goreng. Wah, tentu kalian telah kaya mendadak di Hokkian!” demikian Liok Tay-yu alias Lak-kau-ji bersorak.

“Tentu saja, masakah masih perlu tanya?” sela si nona dengan tertawa. “Sudah lama Jisuko menjadi hartawan, berkat rezekinya aku pun ikut-ikut memperoleh bagian.”

Maka tertawalah semua orang.

Dengan tertawa Lo Tek-nau lantas melanjutkan, “Ilmu silat Lim-siaupiauthau itu teramat rendah, menjadi muridnya Siausumoay saja tidak memenuhi syarat, tapi jiwanya ternyata kesatria. Dasar putra mestika Ih Jong-hay itu sudah buta, dia berani main gila dan mengganggu Siausumoay, eh, Lim-kongcu itu ternyata tidak tinggal diam, ia terus tampil ke muka untuk membela Siausumoay ….”

Diam-diam perasaan Peng-ci bergolak, pikirnya dengan gusar, “Kurang ajar, rupanya secara berencana Jing-sia-pay sengaja mencari perkara dengan Hok-wi-piaukiok kami untuk menuntut balas angkatan tua mereka yang dikalahkan kakek-besarku. Jika demikian yang datang ke Hokciu tentu tidak cuma Pui Jin-ti berempat saja. Andaikan aku tidak membunuh Ih Jin-gan juga mereka akan merecoki aku.”

Karena pikirannya melayang, maka apa yang diceritakan Lo Tek-nau tentang caranya dia membunuh Ih Jin-gan menjadi tidak jelas baginya, hanya saja cerita Lo Tek-nau itu diselingi dengan suara tertawa semua orang, terang mereka menertawakan kepandaiannya yang rendah itu.

Kemudian terdengar Lo Tek-nau lagi berkata, “Sesudah kusaksikan cara Lim-siaupiauthau itu membunuh Ih Jin-gan, diam-diam aku tukar pikiran dengan Siausumoay tentang Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim, andaikan ilmu pedang itu benar-benar lihai, paling sedikit Lim-siaupiauthau itu terang belum mempelajarinya. Malamnya aku beserta Siausumoay lantas pergi lagi ke Hok-wi-piaukiok, tertampak Hau Jin-eng, Ang Jin-hiong, Uh Jin-ho, Pui Jin-ti dan belasan kawannya sudah datang semua.

“Khawatir dipergoki mereka, kami menonton saja dari jauh. Kami menyaksikan mereka menghabisi para Piauthau dan petugas-petugas Piaukiok yang lain seorang demi seorang, setiap Piauthau yang keluar Piaukiok selalu dibinasakan oleh mereka dan mayat mereka dikirim kembali, cara mereka benar-benar sangat keji. Kupikir permusuhan antara Jing-sia-pay dan Hok-wi-piaukiok hanya disebabkan Tiang-jing-cu dikalahkan oleh Lim Wan-tho, jika mau membalas sakit hati leluhur itu cukuplah Ih-koancu merobohkan keturunan keluarga Lim saja, mengapa mesti menggunakan cara sekejam itu? Aku menduga, mungkin karena tewasnya Ih Jin-gan, anak murid Jing-sia-pay itu terpaksa mesti main bunuh secara besar-besaran supaya bisa bertanggung jawab kepada guru mereka. Akan tetapi mereka justru membiarkan hidup Lim Cin-lam dan istrinya beserta Lim Peng-ci bertiga, mereka dipaksa kabur dari Hok-wi-piaukiok mereka.”

“Tentang kepandaian, Lim-congpiauthau itu memang jauh lebih tinggi daripada Lim-siaupiauthau, tapi juga belum terhitung jago pilihan,” ujar si nona. “Menurut Jisuko, Jing-sia-pay persiapkan diri dengan giat berlatih di waktu malam segala, sesungguhnya jerih payah mereka juga terlalu berlebihan.”

“Tapi kalau mengingat mendiang Tiang-jing-cu dikalahkan Pi-sia-kiam-hoat, dengan sendirinya Ih Jong-hay tidak berani memandang enteng ilmu pedang itu, maka tidaklah heran jika mereka giat berlatih dan mempersiapkan diri dengan baik,” kata Lo Tek-nau. “Hanya saja sesudah Lim Cin-lam dan anak istrinya dipaksa kabur, akhirnya toh Ih-koancu masih datang pula ke Piaukiok itu, bahkan tinggal selama tiga hari di sana, hal inilah yang kurasakan agak luar biasa.”

Peng-ci terkejut juga, tanyanya di dalam hati, “Aneh, mengapa bangsat tua Ih Jong-hay itu mendatangi Piaukiok kami? Untuk apa maksudnya?”

Ternyata pertanyaannya itu pun segera telah diucapkan oleh beberapa murid Hoa-san-pay itu.

Maka terdengar Lo Tek-nau telah menjawab, “Cerita ini cukup panjang. Sesudah Lim Cin-lam dan anak istrinya melarikan diri, Pui Jin-ti dan lain-lain lantas membayangi mereka. Karena Siausumoay ingin mengetahui apa yang akan terjadi, segera kami membayangi di belakang murid Jing-sia-pay pula. Sampai di sebuah warung nasi di daerah pegunungan selatan Hokciu, di situlah Pui Jin-ti, Uh Jin-ho dan Keh Jin-tat bertiga lantas muncul dan dapat menawan ketiga anggota keluarga Lim itu. Karena Siausumoay merasa terbunuhnya Ih Jin-gan oleh Lim-kongcu adalah disebabkan gara-gara Siausumoay sendiri, maka mau tak mau ia hendak menolong Lim-kongcu untuk sekadar membalas budi. Aku mencegahnya sedapat mungkin, kukatakan jika kita ikut campur tentu akan mengganggu hubungan baik antara Jing-sia-pay dan Hoa-san-pay kita, apalagi orang-orang Jing-sia-pay boleh dikata berkumpul semua di Hokciu, kami berdua tentu sukar melawan mereka, kalau ikut makan getahnya kan bisa runyam malah.”

“Dasar usia Jisuko lebih lanjut, segala apa selalu berpikir secara panjang, tentu saja sangat mengecewakan keinginan Siausumoay,” ujar Liok Tay-yu.

“Tapi sekali Siausumoay sudah mau begitu, betapa pun aku hendak mencegahnya juga tidak dapat lagi,” kata Lo Tek-nau. “Segera Siausumoay tampil ke muka dengan tetap berdandan sebagai gadis penjual arak. Sudah tentu Keh Jin-tat lantas mengenalnya, maka belum banyak bicara kontan dia sudah dijungkalbalikkan oleh Siausumoay, malahan yang terakhir Siausumoay telah melemparkan dia ke dalam kolam lumpur sehingga manusia she Keh itu kenyang menyedot air kencing dan ampas perut.”

“Haha, bagus, bagus!” sorak Liok Tay-yu dengan tertawa. “Kutahu maksud Siausumoay itu bukanlah hendak menolong bocah she Lim itu, tapi dalam hati kecilnya mempunyai tujuan lain. Hm, bagus, bagus!”

“Aku mempunyai tujuan lain apa? Kembali kau ngaco-belo lagi!” semprot si nona.

“Bukankah lantaran aku dihukum rangket oleh Suhu, maka Siausumoay ikut penasaran dan melampiaskannya bagiku dengan menghajar orang Jing-sia-pay itu? Nah, terima kasih, ya ….” sambil berkata Liok Tay-yu terus berbangkit dan memberi hormat.

Si nona melotot dengan tersenyum, omelnya, “Huh, kan kau tidak percuma merasakan rangketan itu. Sesudah dirangket, bukankah kau telah terima ganti rugi dari Toasuko?”

“Aneh, sudah dirangket, cara bagaimana memberikan ganti rugi?” ujar Liok Tay-yu dengan heran.

“Ala, pura-pura dungu, tapi jangan kau kira dapat mengelabui aku,” kata si nona. “Hari itu secara sembunyi-sembunyi kau berlatih gaya tendangan itu di belakang gunung sampai beberapa pohon Tho roboh malang melintang, bukankah tendangan itu adalah ajaran Toasuko?”

Muka Lak-kau-ji menjadi merah, sahutnya, “Ya, saking kagumnya atas tendangan Toasuheng yang sekaligus dapat membikin Hau Jin-eng dan Ang Jin-hiong terguling, maka aku telah tanya dia cara bagaimana menggunakan tendangan itu. Hal ini juga tak dapat dikatakan Toasuko mengajarkan padaku.”

“Dan sekarang kau sudah pandai tendangan itu atau belum?” tanya si nona dengan tertawa.

Muka Liok Tay-yu kembali merah jengah, sahutnya, “Wah, masakah begitu cepat? Jika Sumoay juga ingin belajar, tentu Toasuko akan memberi petunjuk padamu.”

“Kau sudah belajar lebih dulu, buat apa aku mengekor kau?” kata si nona.

“Lalu bagaimana Jisuko, sesudah Siausumoay menghajar orang she Keh itu?” tanya Samsuhengnya.

Maka Lo Tek-nau menyambung lagi ceritanya, “Mata Pui Jin-ti itu ternyata sangat lihai, segera ia mengenali gerakan Siausumoay adalah orang kita, tutur katanya menjadi agak jeri. Tetapi waktu Siausumoay membuka Hiat-to pemuda she Lim dan hendak melepaskan dia, namun Pui Jin-ti dan Uh Jin-ho menyatakan keberatan. Maka Siausumoay lantas berguyon dengan mereka, ia campur arak dengan bedak dan gincu dan menyatakan arak itu berbisa, lalu paksa mereka minum. Ternyata orang she Pui dan Uh itu tidak berani, di luar dugaan, Lim-siaupiauthau itu ternyata sangat gagah perwira, sekaligus ia lantas habiskan arak Siausumoay itu.”

Kembali Peng-ci merasa malu, pikirnya, “Nona burik itu benar-benar telah mempermainkan aku. Kiranya arak itu dicampur bedak, pantas berbau pupur. Sungguh sial aku kena dibohongi dan kenyang minum arak begitu!”

“Pui Jin-ti tidak berani minum arak itu anggaplah tidak menjadi soal, tapi dia justru membual, katanya dia memiliki obat penawar yang tidak takut segala macam racun,” demikian Lo Tek-nau melanjutkan. “Dasar Siausumoay juga jahil, segera ia keluarkan ‘Hang-liong-hok-hou-wan’ (pil penakluk naga dan harimau) dan dicampurkan ke dalam arak, lalu suruh orang she Pui dan Uh itu minum. Coba kalian pikir betapa lihainya Hang-liong-hok-hou-wan itu, biasanya kalau kita campur dengan air dan mencekoki babi atau kambing, lalu dibuang di tanah pegunungan, makan betapa pun buasnya harimau maupun ular raksasa jika makan babi atau kambing itu juga akan roboh oleh obat itu selama sehari semalam tak bisa berkutik. Maka kalau orang-orang Jing-sia-pay itu berani meminumnya, pasti celakalah mereka dan akan dibikin malu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: