Hina Kelana: Bab 08. Harta Karun di Dalam Peti

“Rupanya kau tidak mengetahui persoalan ini,” ujar si orang she Sin dengan tertawa. “Sekali ini Lau Cing-hong merayakan pesta ‘cuci tangan’, tentu tokoh-tokoh terkemuka dari berbagai golongan dan aliran akan ikut hadir. Maka hadiah kita ini bukan untuk mengambil hatinya Lau Cing-hong, tapi lebih tepat adalah untuk menonjolkan nama Jing-sia-pay kita agar mereka lebih kenal siapakah Jing-sia-pay.”

“O, ya, betapa pun memang Sin-suko lebih dapat berpikir panjang,” kata si orang she Kiat. “Hanya saja kalau … kalau kita pulang dengan tangan kosong, walaupun Suhu takkan marah, tapi kita … kita sendiri ….”

“Jangan khawatir,” ujar si orang she Sin. “Biasanya benda-benda begini saja takkan berharga dalam pandangan Suhu. Kukira justru ibu-guru muda yang harus kita persembahi apa-apa. Dan hadiah baginya juga sudah kusediakan. Untuk ini kau pun jangan khawatir, Kiat-sute. Hadiah ini menggunakan atas nama kita berdua, tidak nanti Suhengmu ini melupakan dirimu.”

“Banyak terima kasih, Sin-suko,” sahut si orang she Kiat dengan girang.

“Terima kasih apa? Kita berdua yang telah merebut Piaukiok ini, kita mengeluarkan tenaga bersama, sudah tentu kita menerima pahala bersama pula,” kata orang she Sin.

Maka bergelak tertawalah kedua orang itu.

Habis itu, terdengar si orang she Sin menyambung lagi, “Nah, Kiat-sute, di sini telah kusediakan empat buntal, satu buntal kita persembahkan kepada para Susiok, sebuntal lagi untuk para Suheng dan Sute, dan kedua buntal ini adalah bagian kita berdua. Boleh kau pilih sendiri saja!”

“Barang apakah itu?” tanya si orang she Kiat.

Keadaan lalu sunyi, menyusul hanya terdengar suara keresek-keresek seperti tadi. Habis itu mendadak terdengar orang she Kiat itu berseru kaget. Katanya, “Wah, kiranya emas intan seluruhnya. Waduh, sekali ini kita benar-benar kaya mendadak. Anak kura-kura, selama ini Hok-wi-piaukiok ini ternyata tidak sedikit mengumpulkan harta benda. Sin-suko, dari mana kau menemukannya? Padahal aku sudah mencari belasan kali, sampai-sampai ubin juga hampir kugali, tapi yang kudapatkan hanya ratusan tahil perak saja. Tapi diam-diam kau malah dapat menguras keluar harta pusaka mereka.”

Si orang she Sin sangat senang dan merasa bangga, jawabnya dengan tertawa, “Harta benda perusahaan Piaukiok mana boleh ditaruh di tempat sembarangan? Haha, selama beberapa hari ini diam-diam aku telah mengikuti caramu membongkar lemari, mendongkel dinding, membalik meja dan membobol laci, sibuknya tidak keruan!”

“Ya, kagum, kagum! Sebenarnya dari mana kau menemukannya, Sin-suko?” tanya pula si orang she Kiat.

“Kiat-sute,” jawab si orang she Sin, “kita mengembara Kangouw, ilmu silat memang penting, tapi yang lebih penting adalah ini ….” ia ketok-ketok dahi sendiri dengan jari, lalu menyambung, “Coba kau pikir, adakah sesuatu yang tidak masuk di akal dalam Piaukiok ini?”

“Yang tidak masuk di akal? Hahaha! Kukira banyak sekali hal-hal yang tak masuk di akal dalam Piaukiok ini, mana aku dapat menyelidikinya satu per satu?”

“Sebab itulah, maka kau, Kiat-sute, kukira untuk selanjutnya kau harus lebih banyak menggunakan otak,” ujar si orang she Sin dengan tertawa. “Misalnya, gedung Piaukiok mereka yang megah ini kenapa di ruangan samping ditaruh sebuah peti mati yang besar, apakah ini masuk di akal?”

“Ah, aku tidak punya tempo senggang untuk mengurusnya, apakah mereka suka menaruh peti mati atau menaruh telaga tahi di situ, peduli apa dengan aku?”

“Makanya, sekali lagi kubilang kau harus menggunakan otak, Kiat-sute,” kata orang she Sin. “Coba pikirkan, untuk apa mereka taruh peti mati di kamar sebelah, memangnya dia sayang menguburnya karena yang mati adalah anaknya atau bininya? Haha, kukira tidak. Lalu apakah tiada tersimpan sesuatu di dalam peti mati itu untuk mengelabui orang lain ….”

“Aha, benar!” seru si orang she Kiat sambil melonjak bangun. “Engkau benar-benar lihai, Sin-suko. Tentunya harta yang kau ketemukan itu tersimpan di dalam peti mati itu, bukan? Haha, bagus, bagus! Para Piausu anak kura-kura ini memang macam-macam dan ada-ada saja. Mereka sengaja menyimpan harta karun ini di dalam peti mati, tentu saja sukar diketemukan biarpun Piaukiok ini kedatangan garong. Eh, Sin-suko marilah kita mencuci kaki, lalu tidur saja.”

Habis berkata ia menguap kantuk, lalu membuka pintu dan keluar.

Dengan mendekam di bawah jendela Peng-ci tidak berani bergerak sedikit pun, ia coba melirik ke dalam melalui celah-celah jendela, dari bayangannya kelihatan orang she Kiat itu berperawakan pendek gemuk, besar kemungkinan adalah orang yang mendepaknya siang tadi.

Selang tak lama, si orang she Kiat telah masuk kembali ke kamar dengan membawa satu baskom air panas, katanya, “Sin-suko, kali ini Suhu telah mengutus kita berjumlah 16 orang keluar, tampaknya kita berdua yang mendapatkan rezeki paling banyak, berkat kelihaian Sin-suko aku pun ikut berjasa. Bak-sute bertugas menyerang cabang Kwiciu, Kong-suko menyerang cabang Hangciu, tapi biarpun mereka melihat peti mati juga belum tentu tahu di dalamnya tersimpan harta karun sebanyak ini.”

“Tapi Pui-suko dan Uh-sute yang ditugaskan mengubrak-abrik kantor pusat di Hokciu, hasil mereka tentu jauh lebih besar daripada kita,” sahut orang she Sin dengan tertawa. “Cuma jiwa putra kesayangan ibu-guru itu telah melayang di Hokciu, jasa mereka mungkin dapat menutupi kesalahan mereka di hadapan Suhu, namun ibu-guru muda tentu tak mau mengampuni mereka.”

“Ya, aku pun heran,” demikian kata si orang she Kiat. “Pada waktu Suhu mengirim kita keluar, katanya Hok-wi-piaukiok sudah tiga turunan melakukan usaha pengawalan, orangnya banyak, pengaruhnya besar, kepandaian warisan keluarga Lim berupa 72 jurus Pi-sia-kiam-hoat, 108 gerakan Hoan-thian-ciang dan 18 batang panah tidak boleh dipandang enteng, kita disuruh menyerang secara mendadak dan serentak baik di kantor pusat maupun di kantor cabangnya. Siapa duga Hok-wi-piaukiok hanya punya nama kosong saja, dengan mudah Pui-suko sudah menangkap Lim Cin-lam dan istrinya. Tampaknya sekali ini Suhu sendiri pun salah mata.”

Keringat dingin sampai memenuhi dahi Peng-ci yang mendengarkan di luar jendela itu. Pikirnya, “Jika demikian jadi Jing-sia-pay memang mempunyai rencana untuk mencari perkara kepada Piaukiok kami dan bukanlah lantaran aku salah membunuh orang she Ih itu. Menurut rencana mereka, andaikan aku tidak membunuh keparat she Ih itu juga mereka tetap akan menghancurkan Piaukiok kami. Tapi entah kesalahan apa yang telah kami perbuat terhadap Jing-sia-pay sehingga mereka turun tangan sekeji ini?”

Berpikir sampai di sini, rasa menyesalnya semula atas diri sendiri yang telah menimbulkan malapetaka ini menjadi berkurang, sebaliknya rasa dendam dan gusar lantas bergolak. Kalau tidak sadar bahwa kepandaian sendiri bukan tandingan lawan, sungguh dia ingin menerjang masuk untuk membinasakan kedua jahanam itu.

Sementara itu terdengar suara gemerciknya air di dalam kamar, rupanya kedua orang itu sedang mencuci kaki. Terdengar si orang she Sin lagi berkata, “Bukanlah Suhu salah mata, sesungguhnya Hok-wi-piaukiok memang mempunyai kepandaian sejati, kalau tidak masakah namanya selama ini sedemikian disegani di provinsi-provinsi antarpantai. Besar kemungkinan keturunan mereka yang tidak becus, tidak mampu mewariskan kepandaian leluhur sendiri. Padahal Pi-sia-kiam-hoat dan Hoan-thian-ciang benar-benar sangat ternama di kalangan Bu-lim dan bukanlah omong kosong.”

Muka Peng-ci sampai merah jengah dalam kegelapan demi mendengar orang mencerca “keturunan mereka yang tidak becus dan tidak mampu mewariskan kepandaian leluhur”. Diam-diam ia harus mengakui akan kebenaran ucapan lawan.

Sementara itu orang she Sin telah menyambung, “Waktu kita hendak berangkat Suhu telah mengajarkan cara-cara mematahkan Pi-sia-kiam-hoat dan Hoan-thian-ciang pada kita, walaupun dalam waktu belasan hari saja sukar mempelajarinya dengan sempurna, tapi tampaknya ilmu pedang dan ilmu pukulan itu memang mempunyai kekuatan tersembunyi yang tidak mudah untuk dimainkan. Kau sendiri dapat memahami berapa banyak, Kiat-sute?”

“Ah, Suhu sendiri mengatakan bahwa sampai-sampai Lim Cin-lam sendiri pun tidak memahami intisari ilmu-ilmu pedang dan pukulan leluhurnya itu, maka aku pun malas untuk menyelaminya lebih mendalam,” sahut orang she Kiat. “Eh, Sin-suko, sesudah Pui-suko berhasil menawan Lim Cin-lam dan istrinya, mengapa mereka tidak terus pulang ke Jing-sia, tapi membawanya ke Heng-san malah?”

“Pada waktu Lau Cing-hong mengadakan perayaan ‘cuci tangan’ nanti, tentu banyak tokoh-tokoh terkemuka dari berbagai golongan akan hadir untuk mengucapkan selamat padanya. Sekarang Pui-suheng dan Uh-sute dapat membekuk pemimpin Hok-wi-piaukiok yang termasyhur, dengan sendirinya mereka ingin pamer sedikit di tengah perjamuan besar itu.”

“Pui-suheng dan Uh-sute sih masih boleh, tapi Keh Jin-tat si keparat itu kutu busuk macam apa, masakah dia juga ada harganya untuk membual dan pamer di depan orang banyak?” kata orang she Kiat.

“Ada harganya atau tidak, habis siapa yang suruh kita menjadi saudara seperguruan dengan dia? Sudahlah, tidur saja!” sahut orang she Sin dengan tertawa.

“Dasar anak kura-kura!” terdengar orang she Kiat memaki. Habis itu mendadak daun jendela dibuka olehnya.

Keruan Peng-ci terperanjat dan mengira jejaknya telah dipergoki. Baru saja dia bermaksud lari, sekonyong-konyong “byuurrrr”, kepalanya tersiram sebaskom air hangat, saking kagetnya hampir-hampir Peng-ci menjerit. Syukurlah daun jendela itu lantas tertutup pula. Menyusul pandangannya menjadi gelap, kiranya pelita di dalam kamar telah dipadamkan.

Belum lagi tenang perasaan Peng-ci, terasalah air menetes-netes dari atas kepala dan mukanya, baunya jangan ditanya. Baru sekarang diketahuinya air itu adalah air kotor bekas air cuci kaki yang telah disiramkan oleh orang she Kiat sehingga dia basah kuyup, walaupun tidak disengaja, tapi Peng-ci sudah terhina. Namun begitu ia menjadi girang malah sebab berita tentang ayah-ibunya telah diperoleh, jangankan cuma disiram air bekas cuci kaki, biarpun air kencing sekalipun takkan berhalangan baginya.

Suasana selanjutnya menjadi sunyi senyap, kalau dia lantas pergi saja khawatir didengar oleh kedua orang di dalam kamar. Ia pikir biarlah tunggu sesudah mereka tidur dahulu. Maka ia tetap duduk bersandar di dinding, di bawah jendela.

Selang tak lama, terdengarlah suara mendengkur yang sahut-menyahut di dalam kamar. Perlahan-lahan barulah Peng-ci berdiri. Tapi mendadak ia kaget dan cepat mendak ke bawah lagi ketika melihat sesuatu bayangan orang tersorot di atas jendela oleh cahaya bulan, bahkan daun jendela itu tampak tergoyang-goyang perlahan.

Sesudah ditunggu sejenak dan diperhatikan pula barulah Peng-ci tahu duduknya perkara, rupanya sesudah membuang air kotor tadi si orang she Kiat telah lupa memasang palang jendela sehingga daun jendela itu masih terbuka sedikit.

“Inilah kesempatan bagus untuk menuntut balas!” demikian pikir Peng-ci. Segera ia melolos pedang patah yang terselip di pinggang itu, perlahan-lahan ia menolak daun jendela itu hingga terpentang, dengan gerakan “Leng-niau-hi-tiap” (kucing lincah menggoda kupu-kupu), dengan enteng sekali ia melompat masuk ke dalam kamar. Dari sinar bulan yang remang-remang dapatlah dilihatnya dua dipan di kanan-kiri kamar itu tertidur dua orang.

Tatkala itu baru permulaan musim semi, nyamuk masih jarang-jarang, kelambu tempat tidur tidak terurai, maka dapat tertampak jelas seorang berbaring miring menghadap ke dinding, kepalanya rada botak. Seorang lagi tidur telentang, alisnya tebal dan berewok pendek kaku. Di tengah-tengah tempat tidur terdapat sebuah meja di mana tertaruh lima buntalan, di samping itu ada sebatang golok dan sebatang pedang.

Golok itu lantas dipegang Peng-ci, pikirnya, “Sekali bacok satu nyawa, gampangnya seperti memotong sayur.”

Dan baru saja goloknya hendak membacok ke leher si berewok, tiba-tiba terpikir lagi olehnya, “Cara kubunuh mereka begini apakah perbuatan seorang kesatria? Kelak kalau aku sudah berhasil meyakinkan ilmu silat leluhur sendiri barulah akan kugunakan untuk menumpas kawanan bangsat Jing-sia-pay ini.”

Maka dia batalkan maksudnya membunuh orang, ia kumpulkan golok, pedang dan kelima buntalan itu di atas meja depan jendela. Dilihatnya di atas meja ada alat tulis, segera ia angkat pit (pensil) dan membasahi dengan sedikit tinta, lalu dia menulis di atas meja: “Lim Peng-ci dari Hok-wi-piaukiok baru saja pesiar ke sini.”

Selesai menulis, didengarnya suara mendengkur si berewok semakin keras. Seketika timbul sifat kanak-kanaknya dan bermaksud mencoret-coret muka si berewok. Tapi akhirnya ia dapat menahan maksud jahilnya itu, pikirnya, “Jika dia sampai terjaga bangun, tentu celakalah aku!”

Begitulah perlahan-lahan ia melompat keluar jendela, ia selipkan golok dan pedang di pinggang sendiri, tiga buntalan itu digendongnya, setiap tangan membawa satu buntalan pula, lalu dengan langkah berjinjit-jinjit ia berjalan ke pekarangan belakang.

Sampai di kandang kuda, ia tuntun keluar seekor kuda yang paling tinggi besar, ia membuka pintu belakang dan keluar dari Piaukiok itu. Setelah agak jauh meninggalkan Piaukiok barulah dia mencemplak ke atas kuda dan dilarikan ke pintu selatan.

Tatkala itu masih terlalu pagi, pintu kota belum dibuka. Ia tuntun kudanya ke belakang sebuah gundukan tanah. Di situlah ia pindahkan buntalan-buntalan yang digendongnya untuk digantungkan pada pelana kuda. Khawatir kalau kedua orang Jing-sia-pay itu mengejarnya, hati Peng-ci menjadi berdebar-debar. Syukurlah tidak lama kemudian fajar pun menyingsing, pintu kota telah dibuka, segera ia mencemplak ke atas kuda dan dilarikan keluar kota.

Sekaligus ia melarikan kudanya sejauh belasan li barulah merasa aman. Lalu melambatkan kudanya. Sejak meninggalkan kota Hokciu baru sekarang perasaannya terasa longgar.

Waktu melihat di tepi jalan ada sebuah warung makan, ia berhenti untuk sekadar menangsel perut. Ia tidak berani berhenti terlalu lama, ia hanya makan semangkuk bakmi, lalu merogoh buntalan untuk mengambil uang. Tapi ketika dikeluarkan, ia terperanjat. Ternyata yang dirogoh keluar itu adalah sepotong lantakan emas. Lekas-lekas ia masukkan lagi ke dalam buntalan dan meraba barang lainnya. Akhirnya dapat dikeluarkan sepotong lantakan perak.

Ia gunakan pedang untuk memotong ujung lantakan perak itu guna membayar bakmi. Tapi meski penjual bakmi itu telah mengumpulkan seluruh uang receh hasil jualannya juga masih belum cukup buat mengembalikan uang perak Peng-ci itu.

“Sudahlah, ambil semua!” kata Peng-ci dengan royal. Sepanjang jalan dia telah kenyang dihina orang, baru sekaranglah untuk pertama kalinya dia pulih kembali sebagai juragan muda yang royal.

Setelah melanjutkan perjalanan beberapa puluh li lagi, sampailah dia di suatu kota besar. Ia mencari suatu hotel dengan kamar yang terpilih. Setelah menutup rapat pintu kamar, segera ia membuka kelima buntalan itu dan memeriksa isinya, ternyata seluruhnya terdiri dari emas perak, perhiasan batu permata. Pada buntalan kelima isinya adalah sepasang kuda-kudaan buatan batu yade putih serta sepasang merak zamrud, semuanya sebesar belasan senti tingginya.

Sejak kecil dia sudah biasa melihat benda-benda mestika, namun kedua pasang kuda-kudaan dan merak-merakan itu membuatnya terpesona juga. Ia pikir di kantor cabang Piaukiok tersimpan benda-benda berharga demikian, pantas juga kalau Jing-sia-pay mengincarnya.

Segera ia keluarkan sedikit pecahan perak untuk bekal, isi keempat buntalan tadi dia bungkus lagi menjadi satu dan digendongnya. Ia pikir seekor kuda saja tidak cukup, sebaiknya beli lagi dua ekor kuda bagus agar dapat memburu perjalanan lebih cepat untuk mencari ayah-ibunya.

Begitulah ia lantas pergi ke pasar untuk membeli dua ekor kuda bagus, dengan tiga ekor kuda ia dapat bergantian menunggangnya tanpa berhenti. Setiap hari ia hanya tidur dua-tiga jam saja, siang malam ia menempuh perjalanan secara nonstop.

Hari itu sampailah dia di Heng-san. Begitu masuk kota, lantas melihat banyak sekali orang-orang Kangouw berlalu-lalang di jalanan. Khawatir kalau ketemu dengan Pui Jin-ti dan rombongannya, Peng-ci berjalan dengan menunduk untuk mencari rumah penginapan.

Tak terduga beruntun-runtun tiga hotel yang didatangi selalu menyatakan kamar sudah penuh. Terpaksa Peng-ci mencari ke jalan yang agak sepi, setelah mencari lagi beberapa tempat akhirnya barulah mendapatkan sebuah kamar sederhana di suatu hotel kecil.

Ia pikir agar tidak dikenali orang, paling baik kalau menyamar saja. Maka datanglah ia ke rumah obat untuk membeli tiga helai koyok (obat tempel). Dua helai ia tempelkan di ujung dahi sehingga kedua alisnya tertarik ke atas, lalu yang sehelai ditempel di atas pipi sehingga bibirnya tertarik sampai terbuka dan kelihatan giginya yang menyengir. Ia coba bercermin, ia merasa rupanya sendiri jeleknya tak terkatakan, sampai dirinya sendiri juga merasa muak, jangankan orang lain.

Kemudian ia membungkus emas perak dan batu permata itu secara gepeng memanjang, lalu diikat rapat di punggungnya dan ditutup dengan baju luar, sedikit membengkok seketika jadilah dia seorang bungkuk yang punggungnya membungkuk. “Dalam keadaan demikian, sekalipun ayah dan ibu juga takkan mengenali diriku lagi,” demikian ia merasa puas atas penyamarannya sendiri.

Sesudah makan semangkuk bakmi, lalu ia keluar pesiar ke-pelosok-pelosok kota. Pikirnya, “Paling baik kalau bisa memergoki ayah dan ibu, kalau tidak, asalkan bisa memperoleh sedikit kabar tentang orang-orang Jing-sia-pay tentu juga akan berfaedah bagiku.”

Setelah berjalan ke sana kemari sampai setengah harian, tiba-tiba turun hujan gerimis. Memang daerah selatan Oulam paling banyak air hujan, sekarang lagi permulaan musim semi, kalau sudah hujan terkadang sampai beberapa hari tidak berhenti-henti.

Peng-ci membeli sebuah caping bercat minyak di tepi jalan dan dipakai sebagai payung. Hari mendung semakin gelap, tampaknya hujan takkan berhenti. Ia coba membelok ke jalan sebelah sana, tiba-tiba dilihatnya sebuah rumah minum yang banyak berjubel-jubel para tamu.

Pada umumnya kalau rumah makan dan minum sampai penuh tetamu, soalnya cuma ada dua kemungkinan, yakni kalau bukan daharan yang dijualnya terkenal lezat, tentulah karena harganya murah.

Maka Peng-ci lantas masuk juga ke rumah minum itu, ia mencari suatu tempat kosong dan minta dibuatkan suatu poci teh enak, pelayan lantas membawakan pula satu piring kecil kuaci dan satu piring kacang goreng.

Setelah minum satu cangkir teh, selagi Peng-ci menyisil kuaci untuk menghilangkan rasa kesal, tiba-tiba terdengar suara orang berkata, “Bungkuk, kita duduk bersama ya?”

Dan tanpa menunggu jawaban Peng-ci, orang itu lantas duduk di sebelahnya, menyusul ada dua orang berduduk pula di samping.

Semula Peng-ci tidak mengira kalau yang diajak bicara oleh orang itu adalah dirinya. Tapi segera teringat bahwa yang disebut “bungkuk” itu adalah dirinya. Maka cepat ia menjawab dengan ramah, “Boleh, boleh! Silakan!”

Ia lihat ketiga orang itu semuanya berpakaian hitam, pinggang bergantungkan golok. Ketiga laki-laki itu lantas minum teh dan mengobrol sendiri tanpa menggubris Peng-ci lagi.

Terdengar seorang di antaranya yang lebih muda mulai berkata, “Peng-toako, kali ini Lau-samya mengadakan pesta ‘Kim-bun-swe-jiu’, tampaknya tidaklah sederhana cara merayakannya, lihat saja, waktunya masih tiga hari, tapi kota Heng-san ini sudah penuh dengan tamu-tamu yang akan memberi selamat padanya.”

Kim-bun-swe-jiu, cuci tangan di baskom emas, maksudnya sebagai upacara menyatakan dirinya telah cuci tangan dan meninggalkan lapangan kerja yang pernah dilakukannya.

Maka seorang kawannya yang buta sebelah telah menjawab, “Tentu saja. Heng-san-pay sendiri sudah cukup terkenal, ditambah lagi gabungan nama Ngo-gak-kiam-pay, sudah tentu pengaruhnya sangat besar di dunia persilatan, siapa orangnya yang tidak ingin bersahabat dengan mereka? Pula Lau Cing-hong, Lau-samya, sendiri juga seorang tokoh Kangouw terkemuka, dia punya 36 jurus ‘Hwe-hong-lok-gan-kiam’ terkenal sebagai jago kedua dari Heng-san-pay, dia hanya kalah setingkat daripada Ciangbunjin sendiri, yaitu Bok-taysiansing. Biasanya orang ingin bersahabat dengan dia, tapi tiada kesempatan. Sekarang dia mengadakan pesta ‘cuci tangan’, dengan sendirinya orang-orang gagah dari Bu-lim sama berkumpul di sini, kukira besok suasana kota tentu akan lebih ramai daripada sekarang.”

“Tapi jika dikatakan semua orang datang buat menyatakan persahabatan dengan Lau Cing-hong, kukira juga tidak tepat seluruhnya, misalnya tujuan kedatangan kita bertiga kan tidak demikian maksudnya, bukan?” ujar kawannya lagi yang berjenggot putih. “Padahal orang yang menyatakan ‘cuci tangan’, artinya sejak kini di dunia Kangouw takkan terdapat lagi tokoh seperti dia. Jika sudah demikian, biarpun ilmu silatnya setinggi langit juga tiada gunanya lagi. Buat apa orang lain mesti mendekati dia dan menyatakan persahabatan segala?”

“Soalnya bukan begitu, Peng-toako,” kata yang muda. “Walaupun resminya Lau-samya sudah ‘cuci tangan’, tapi apa pun juga, dia adalah tokoh nomor dua dari Heng-san-pay, siapa-siapa yang bersahabat dengan Lau-samya akan berarti bersahabat dengan Heng-san-pay dan berarti pula bersahabat dengan Ngo-gak-kiam-pay!”

“Ngo-gak-kiam-pay? Hm, apakah kau memenuhi syarat?” ejek si jenggot putih she Peng.

“Bukan demikian soalnya, Peng-toako,” si buta juga menyanggah. “Sesama orang Kangouw, apa jeleknya kalau bisa tambah seorang sahabat. Biarpun ilmu silat Ngo-gak-kiam-pay teramat tinggi, tapi rasanya mereka tidak sampai memandang rendah pada pihak lain. Sebab kalau mereka itu merasa angkuh dan sombong, masakan sekarang ada sekian banyak tetamu yang datang memberi selamat padanya?”

“Hm,” si jenggot putih mendengus, selang sejenak barulah ia berkata dengan suara perlahan, “Sebagian besar adalah manusia-manusia penjilat belaka, bila melihat mereka hatiku lantas gemas!”

Mestinya Peng-ci ingin ketiga orang itu mengobrol lebih banyak tentang Ngo-gak-kiam-pay, tak terduga pembicaraan mereka ternyata tidak sepaham sehingga tidak dilanjutkan.

Bila teringat kepada si nona burik yang pernah memaksanya minum arak berbisa itu, diam-diam Peng-ci membatin, “Ya, apa yang dikatakan si jenggot putih ini memang betul juga. Seperti Jing-sia-pay dan Hoa-san-pay, bukankah mereka adalah setali tiga uang? Apalagi Ngo-gak-kiam-pay segala? Huh, gagak sama hitamnya, kukira mereka juga bukan manusia baik-baik.”

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar ada orang bicara dengan suara perlahan di bagian belakang, “Ong-jicek, kabarnya usia Lau-samya dari Heng-san-pay itu baru 50-an tahun, ilmu silatnya seharusnya lagi meningkat ke puncaknya, mengapa mendadak ‘cuci tangan’ segala? Bukankah percuma saja kegiatannya selama ini?”

“Banyak sekali alasannya bagi orang Bu-lim yang cuci tangan pada usia masih muda,” sahut seorang tua. “Jika seorang bandit besar dari kalangan Hek-to merasa sudah terlalu banyak berdosa, setelah ‘cuci tangan’ berarti dia telah meninggalkan perbuatan membegal dan membunuh, ini namanya kembali ke jalan yang bajik, sedikitnya akan meninggalkan nama baik bagi anak-cucunya, pula dapat menghindarkan tuduhan andaikan terjadi lagi sesuatu perkara besar di tempat kediamannya. Tapi keluarga Lau turun-temurun sudah terkenal kaya raya, sudah tentu hal ini tidak ada hubungannya dengan dia. Lain soal lagi adalah untuk menghindari permusuhan lebih jauh, misalnya Lau-samya mengumumkan di depan tamu-tamu undangannya bahwa sejak kini ia telah ‘cuci tangan’ dan tidak main senjata lagi, itu berarti musuh-musuhnya boleh tak usah khawatir akan dituntut balas lagi olehnya, sebaliknya juga diharapkan musuh-musuh itu tidak datang mencari perkara lagi padanya.”

“Ong-jicek, kukira cara demikian akan merugikan dia sendiri,” ujar si orang muda.

“Rugi apa?” Ong-jicek, paman kedua Ong, bertanya.

“Lau-samya boleh menyatakan takkan menuntut balas lagi, tapi orang lain toh setiap saat dapat mencari perkara padanya?” ujar si orang muda. “Jika orang hendak membunuhnya dan karena dia sudah menyatakan takkan bermain senjata lagi bukankah dia akan terima disembelih orang sesukanya?”

“Kau ini memang hijau pelonco,” omel paman Ong itu. “Jika orang hendak membunuh kau, apakah kau terima saja dan takkan membela diri? Padahal tokoh semacam Lau-samya dengan Heng-san-pay yang begitu besar pengaruhnya, kalau dia tidak merecoki orang lain saja sudah untung, masakah ada orang lain berani mencari perkara padanya?”

Tiba-tiba si jenggot putih yang duduk di depan Peng-ci itu menggumam sendiri, “Ah, yang pandai ada yang lebih pandai, siapa yang berani mengaku paling jempolan?”

Karena ucapannya itu perlahan, kedua orang di meja belakang itu tidak mendengarnya. Terdengar orang yang dipanggil Ong-jicek itu berkata pula, “Umpamanya ada pengusaha Piaukiok yang telah cukup mengeduk keuntungan, kalau dia bisa tahu batas dan mengundurkan diri pada waktunya, cuci tangan saja daripada adu nyawa dengan senjata, cara demikian boleh dikata cukup cerdik. Cuma Lau-samya sendiri toh bukan Piausu, pula tidak menjadi bandit. Sudah tentu lain soalnya.”

Hati Peng-ci tergetar mendengar ucapan orang itu. Pikirnya, “Apa yang dia maksudkan ialah kakek-besarku? Jika kakek-besarku tahu batas dan mencuci tangan pada waktunya yang tepat, lantas bagaimana jadinya?”

Pada saat itu, sekonyong-konyong seorang laki-laki setengah umur di meja pojok kiri sana telah berkata, “Beberapa hari yang lalu di Bu-han aku telah mendengar cerita dari kawan Bu-lim, katanya sebabnya Lau-samya mencuci tangan dan mengundurkan diri dari Bu-lim sesungguhnya mempunyai alasannya sendiri yang sukar diterangkan.”

“Bagaimana cerita kawan-kawan Bu-lim di sana? Apakah sobat ini dapat memberi penjelasan?” si mata satu bertanya sambil menoleh.

“Ah, penyakit kebanyakan datang dari mulut, urusan begini hanya boleh dibicarakan di kota Bu-han, berada di kota Heng-san sini tidak boleh lagi sembarangan diceritakan,” sahut orang itu dengan tertawa.

Mendadak seorang pendek gemuk dengan suara kasar lantas menanggapi, “Ala, tidak kau katakan juga banyak orang sudah tahu. Kabarnya karena ilmu silat Lau-samya terlalu tinggi, orangnya suka bersahabat, makanya terpaksa Kim-bun-swe-jiu. Mungkin orang lain akan merasa heran, akan tetapi bagi yang tahu latar belakangnya tentu tidak perlu heran lagi.”

Karena suaranya sangat keras, maka pandangan semua orang sama dipusatkan ke arahnya. Beberapa orang di antaranya lantas tanya, “Mengapa ilmu silatnya tinggi dan orangnya suka bersahabat berbalik mesti cuci tangan dan mengundurkan diri dari Bu-lim? Bukankah ini terlalu aneh? Apa sih latar belakangnya?”

Akan tetapi si pendek gemuk hanya tersenyum saja tanpa menjawab.

“Ah, buat apa kalian tanya padanya?” tiba-tiba seorang kurus di meja sebelah menyela dengan nada mengejek. “Padahal dia sendiri pun tidak tahu, dia hanya omong kosong saja.”

Rupanya si pendek gemuk tidak tahan olok-olok itu, teriaknya kasar, “Siapa bilang aku tidak tahu? Sebabnya Lau-samya mengundurkan diri adalah demi kebaikan orang banyak agar tidak terjadi pertengkaran di dalam Heng-san-pay sendiri.”

“Pertengkaran apa?”

“Masakan di antara saudara seperguruan Heng-san-pay mereka juga terjadi percekcokan?” demikian beramai-ramai orang banyak menegas.

Si pendek gemuk sengaja jual mahal, ia melirik hina kepada si kurus tadi. Kemudian menjawab, “Meski orang luar mengatakan Lau-samya adalah jago nomor dua dari Heng-san-pay, tapi setiap orang Heng-san-pay sendiri cukup tahu bahwa ke-36 jurus ‘Hwe-hong-lok-gan-kiam’ (ilmu pedang angin puyuh menjatuhkan belibis) Lau-samya sebenarnya sudah jauh lebih tinggi daripada Ciangbunjin mereka, yaitu Bok-taysiansing. Bahwasanya sekali tusuk pedang Bok-taysiansing dapat menjatuhkan 3 ekor belibis, tapi pedang Lau-samya sekali tusuk dapat menjatuhkan 5 ekor. Malahan anak murid Lau-samya rata-rata juga lebih pandai daripada murid Bok-taysiansing. Keadaan sekarang saja sudah begitu, lewat beberapa tahun lagi pengaruh Bok-taysiansing tentu akan kalah besar daripada Lau-samya. Konon kedua pihak diam-diam sudah pernah bentrok. Harta milik keluarga Lau cukup besar, Lau-samya tidak sudi berebut nama kosong dengan Suheng sendiri, makanya lebih suka ‘cuci tangan’ saja untuk menikmati hari tua di rumah sendiri.”

“O, kiranya demikian. Sungguh bijaksana sekali Lau-samya itu,” ujar beberapa orang peminum teh. Lantas ada pula yang berkata, “Ya, tindakan ini terang salahnya Bok-taysiansing, setelah Lau-samya mengundurkan diri, bukankah berarti melemahkan kekuatan Heng-san-pay sendiri?”

“Segala urusan di dunia ini mana ada yang sempurna, asalkan kedudukanku sebagai Ciangbunjin aman tenteram, peduli apa dengan lemah atau kuat golongannya sendiri?” jengek laki-laki setengah umur berbaju sutera tadi.

Dalam pada itu si pendek gemuk telah menghabiskan tehnya, lalu ketok-ketok poci di atas meja sambil berseru, “Tambah air lagi! Lekas!”

Lalu ia menyambung uraiannya, “Maka dari itu, peristiwa ini terang adalah urusan penting Heng-san-pay sendiri, dari golongan lain sudah banyak yang datang buat mengucapkan selamat, sebaliknya orang Heng-san-pay sendiri ….”

Baru sampai di sini, tiba-tiba di ambang pintu bergemalah suara orang bernyanyi dalam lakon drama opera diiringi suara rebab yang digesek dengan nada yang panjang. Lagunya sedih mengharukan.

Waktu semua orang berpaling, tertampaklah di samping meja tempel panjang dekat pintu itu berduduk seorang tua tinggi kurus, mukanya cekung, berbaju hijau panjang yang sudah luntur, jelas seorang tua miskin tukang minta-minta.

“Hus, membisingkan telinga seperti jeritan setan. Mengganggu orang bicara saja!” bentak si pendek gemuk.

Seketika orang tua itu merendahkan suara rebabnya, tapi masih bernyanyi-nyanyi kecil meneruskan lagu dramanya yang mengharukan itu.

“Sobat, tadi kau bilang orang-orang Heng-san-pay bagaimana?” demikian seorang lantas bertanya kepada si pendek gemuk.

“Kumaksudkan selain anak murid Lau-samya sendiri yang sibuk menerima tamu, apakah kalian ada melihat anak murid Heng-san-pay yang lain di kota ini?” jawab si buntak.

Untuk sejenak semua orang saling pandang-memandang lalu berkata, “Ya, memang, seorang pun tidak tampak.”

“Maka dari itu, kubilang kalian ini janganlah takut, biarpun kita membicarakan urusan Heng-san-pay toh takkan didengar oleh mereka,” sela laki-laki setengah umur berbaju sutera tadi.

Pada saat itulah mendadak suara rebab si orang tua tadi digesek keras sehingga nadanya meninggi, lalu orang tua itu pun menyanyi dengan lebih lantang.

“Ah, hanya mengacau saja! Ini, ambillah!” bentak si orang muda sambil mengayun sebelah tangannya. “Plok”, serenceng uang tembaga tepat jatuh di atas meja di depan si orang tua.

Sambil mengucapkan terima kasih orang tua itu memasukkan uang tembaga itu ke dalam bajunya, tapi ternyata tidak berlalu dari situ.

Dalam pada itu si pendek gemuk telah memuji, “Wah, kiranya saudara muda ini adalah ahli senjata rahasia, timpukanmu barusan ini boleh juga!”

Si orang muda tertawa senang, sahutnya, “Ah, permainan kecil saja! Eh, menurut uraian Toako tadi, jadi Bok-taysiansing juga takkan datang ke Heng-san sini?”

“Mana dia mau datang kemari?” sahut si buntak. “Bok-taysiansing dan Lau-samya boleh dikata sudah mirip api dan air, bila bertemu tentu akan main senjata. Jika sekarang Lau-samya mau mengalah padanya, sepantasnya dia harus merasa puas.”

Tiba-tiba si orang tua tadi bangkit, perlahan-lahan ia mendekati si pendek gemuk dan memandangnya dari sisi kanan dan sisi kiri.

“Kurang ajar! Kau mau apa, tua bangka?” bentak si buntak dengan gusar.

“Kau ngaco-belo!” sahut si orang tua sambil geleng-geleng kepala. Lalu putar tubuh hendak menyingkir.

Si buntak menjadi murka, segera punggung orang tua itu hendak dicengkeramnya. Tapi mendadak matanya menjadi silau, sinar hijau berkelebat, sebatang pedang tipis telah menyambar ke permukaan meja, berbareng terdengarlah suara “tring-tring” beberapa kali.

Dengan kaget si buntak lantas melompat mundur, khawatir kalau-kalau pedang orang bersarang di tubuhnya. Tapi lantas tertampak orang tua itu sudah memasukkan kembali pedangnya ke dalam rebabnya sehingga lenyap seluruhnya.

Kiranya pedang orang tua itu tersimpan di dalam rebab, batang pedang menembus melalui badan rebab sehingga dilihat dari luar siapa pun tidak tahu bahwa di dalam rebab yang sudah tua itu tersembunyi senjata yang lihai.

Lalu si orang tua menggeleng kepala dan berkata pula, “Kau ngaco-belo belaka!”

Habis itu perlahan-lahan ia lantas tinggalkan rumah minum diiringi pandangan semua orang sampai bayangannya menghilang di tengah hujan. Menyusul suara rebab yang sedih merawankan hati sayup-sayup terdengar lagi dari jauh.

“Hahh! Lihatlah kalian!” demikian mendadak ada orang berseru kaget.

Waktu semua orang memandang ke arah yang ditunjuk, kiranya tujuh buah cangkir teh yang terletak di atas meja si pendek gemuk tadi, setiap cangkir itu sudah tertebas putus setinggi dua senti. Tujuh buah cincin porselen jatuh di samping cangkir, tapi cangkir teh itu sebuah pun tidak jatuh atau pecah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: