Hina Kelana: Bab 06. Si Budak Bermuka Jelek dari Hoa-san-pay

Diam-diam Cin-lam membatin, “Kabarnya Siong-hong-kiam-hoat (ilmu pedang angin meniup pohon Siong) Jing-sia-pay mereka mengutamakan gesit dan enteng sebagai angin serta ulet sebagai pohon Siong. Untuk bisa menang harapanku hanya mencari kesempatan untuk mendahului saja.”

Karena itu tanpa sungkan-sungkan lagi pedangnya lantas bergerak, kontan ia menebas dari samping dalam jurus “Kun-sia-pi-ih” (kawanan iblis terkocar-kacir) dari Pi-sia-kiam-hoat (ilmu pedang penghalau iblis).

Melihat sergapan Cin-lam yang cukup dahsyat itu, Jin-ho juga tidak berani menangkisnya secara keras lawan keras, cepat ia mengegos untuk menghindarkan diri.

Namun sebelum serangan pertama itu mencapai titik sasarannya, dengan cepat Cin-lam sudah lantas tarik kembali pedangnya dan segera melancarkan jurus kedua “Ciong-Siu-kiap-bok” (Ciong Siu mencolok mata), ujung pedangnya terus menusuk kedua mata lawan.

Tatkala itu sinar sang surya lagi menembus melalui celah-celah hutan bambu, walaupun tidak terlalu terang, namun menyilaukan juga ketika memantul di atas pedang yang gemerlapan itu.

“Celaka,” diam-diam Jin-ho mengeluh, cepat ia melompat mundur. Syukurlah ia dapat lolos dari serangan keji itu namun tidak urung hatinya memukul keras.

Dalam pada itu, serangan Cin-lam yang lain sudah menyusul tiba pula. Terpaksa Jin-ho menangkis. “Trang”, tangan kedua orang sama-sama tergetar. Diam-diam Cin-lam bergirang malah, pikirnya, “Kukira ilmu silat Jing-sia-pay betapa hebatnya, tak tahunya juga cuma begini saja.”

Selama beberapa hari Hok-wi-piaukiok dirongrong oleh pihak lawan secara misterius sehingga timbul rasa jerinya, tapi sekarang setelah diketahui orang yang dibunuh oleh Peng-ci itu adalah putranya Ih Jong-hay, selain menghadapi musuh dengan mati-matian tiada jalan lain lagi, maka Cin-lam menjadi nekat, cara bertempurnya menjadi tidak sungkan-sungkan lagi, serangan-serangannya menjadi lebih hebat.

Sebaliknya Uh Jin-ho berpikir, “Tenaga tua bangka ini ternyata boleh juga.”

Padahal setelah Peng-ci didepak terjungkal dengan mudah olehnya, ia sangka Lim Cin-lam paling-paling juga cuma jago silat gadungan saja, siapa tahu di antara ayah dan anak ternyata mempunyai perbedaan sedemikian jauh. Bahkan dalam hal pengalaman di medan pertempuran Cin-lam malah lebih luas daripada Jin-ho sendiri.

Maka Jin-ho tidak berani ayal lagi, ia putar pedangnya dengan kencang. Mendadak ia menusuk ke depan, seketika bintang-bintang bertaburan, sekaligus ujung pedangnya telah menusuk tujuh tempat.

Karena tidak tahu ke mana pedang lawan hendak menusuk, Cin-lam tidak berani sembarangan menangkis, terpaksa ia mundur satu tindak. Ketika Jin-ho hendak susulkan tusukan lain pula, di luar dugaan perubahan Lim Cin-lam juga amat cepat, hanya sedetik luang saja sudah digunakan dengan baik olehnya untuk balas menyerang.

Begitulah yang satu lebih tua dan lebih ulet, yang lain lebih gesit dan lebih bagus gerak pedangnya. Kedua orang maju dan mundur dengan cepat, meski sudah berlangsung lebih 30 jurus tetap susah menentukan kalah atau menang.

Di sebelah lain, Ong-hujin yang harus menempur si orang berkepala kecil yang bernama Pui Jin-ti itu, berulang-ulang telah menghadapi serangan musuh yang berbahaya. Golok emas yang diputarnya itu beberapa kali terlilit oleh ruyung musuh dan hampir-hampir terbetot lepas dari cekalan.

Melihat ibunya terdesak, cepat Peng-ci berlari masuk ke dalam warung nasi, ia angkat sebuah bangku panjang terus menerjang ke arah Pui Jin-ti, bangku panjang itu lantas disodokkan ke depan.

“E-eh, Lim-siaupiauthau kenapa berkelahi secara ngawur begini?” demikian Jin-ti tertawa mengejek. Sekali ia sendal ruyungnya, sekonyong-konyong senjata itu memutar balik, “plak”, segera pinggang Peng-ci tersabat satu kali.

Keruan Peng-ci meringis kesakitan, hampir-hampir saja ia tak sanggup berdiri tegak. Tapi ia tahu bila dirinya roboh, pastilah mereka ibu dan anak akan mati konyol. Maka dengan mengertak gigi menahan rasa sakit, sekuatnya ia angkat bangku itu terus mengepruk ke atas kepala Pui Jin-ti.

Ketika Jin-ti mengegos ke samping, seperti banteng ketaton segera Peng-ci menerjang maju lagi. Tapi sekonyong-konyong kakinya tersangkut entah tersandung apa, kontan ia jatuh tersungkur, berbareng itu terdengar suara seorang lagi berkata, “Rebahlah!” menyusul sebuah kaki telah menginjak di atas tubuhnya, berbareng ujung sebuah benda tajam juga terasa mengancam di punggungnya.

Sudah tentu Peng-ci tak dapat melihat bagian belakang, yang tertampak hanya debu pasir di depan matanya, hanya terdengar jeritan sang ibu, “Jangan, jangan membunuh anakku!”

Tapi lantas terdengar Pui Jin-ti membentak, “Kau juga merebah saja!”

Kiranya pada saat Peng-ci hendak menerjang maju tadi, mendadak dari belakang ia dijegal oleh kaki seseorang sehingga Peng-ci jatuh tersungkur, menyusul orang itu lantas mencabut belati dan mengancam di punggung pemuda itu.

Ong-hujin sendiri memangnya tak sanggup melawan Pui Jin-ti, melihat keselamatan putranya terancam, keruan ia tambah gugup dan bingung. Pada saat itulah Pui Jin-ti lantas mengayun ruyungnya sehingga sebelah kaki Ong-hujin terlilit, sekali tarik, kontan nyonya itu pun terseret roboh. Menyusul Jin-ti lantas memburu maju untuk menutuk Hiat-to ibu dan anak itu.

Orang yang menjegal Peng-ci dari belakang itu kiranya adalah orang she Keh yang pernah bertempur melawan The dan Su-piauthau di warung arak di luar kota Hokciu tempo hari. Nama lengkapnya adalah Keh Jin-tat.

Bicara tentang ilmu silat, Keh Jin-tat ini memang terhitung nomor satu di antara murid-murid Jing-sia-pay, namun bukan nomor satu dari depan, tapi nomor satu dihitung dari belakang. Cuma sehari-hari Jin-tat selalu mendekati dan menjilat Ih Jin-gan, itu putra bungsu kesayangan Ih-koancu, mereka sama-sama makan-minum, sama-sama berjudi dan cari cewek. Berkat bantuan Ih Jin-gan itulah maka Keh Jin-tat juga ikut-ikut datang ke Hokciu.

Dia bersama Pui Jin-ti telah dapat merobohkan Peng-ci dan ibunya, Perlahan-lahan mereka lantas menggeser ke belakang Lim Cin-lam.

Cin-lam menjadi gugup melihat istri dan putranya tertawan musuh, “sret-sret-sret”, cepat ia menyerang beberapa kali.

“Awas, Uh-sute, kura-kura ini hendak kabur!” seru Pui Jin-ti.

Sekarang Uh Jin-ho sudah mulai dapat meraba jalan ilmu pedang lawan, maka ia telah mainkan Siong-hong-kiam-hoat dengan kencang, sinar pedang gemerlapan membungkus rapat di sekeliling Lim Cin-lam.

Di kala menghadapi ilmu pedang lawan yang hebat itu, sekarang bertambah lagi dua orang lawan yang lain, untuk mundur terang tiada jalan lagi, terpaksa Cin-lam mengerahkan seluruh semangatnya untuk bertahan.

Sekonyong-konyong pandangannya menjadi kabur, serentak seperti berpuluh pedang menyerang berbareng dari berbagai jurusan. Cin-lam terkejut dan cepat ia putar pedangnya untuk melindungi tubuhnya.

“Kena!” mendadak terdengar Jin-ho membentak. Kontan lutut kanan Cin-lam terkena pedang, kakinya lemas dan sampai bertekuk lutut. Cepat ia melompat bangun pula, walaupun begitu, ujung pedang Uh Jin-ho tahu-tahu sudah mengancam di depan dadanya.

“Uh-sute, sungguh suatu jurus ‘Liu-sing-kan-goat’ yang hebat!” memuji Keh Jin-tat. Biarpun jago kelas kambing dari Jing-sia-pay, namun terhadap jurus ilmu pedang golongannya sendiri ia masih dapat membedakannya.

Cin-lam menghela napas, ia melemparkan pedang ke tanah, katanya, “Ya, apa mau dikata lagi. Harap bereskan kami secara cepat dan gampang saja!”

Mendadak punggungnya terasa kesemutan, kiranya telah ditutuk oleh gagang kipasnya Pui Jin-ti.

“Huh, secara gampangan bereskan kalian, masakah di dunia ini ada urusan begini enak? Kau harus ikut ke Jing-sia-san untuk menemui Suhuku!” jengek orang she Pui itu.

Cin-lam pikir yang terbunuh adalah putra guru mereka, sudah tentu mereka ingin meringkus dirinya sekeluarga untuk dibawa ke Sucwan sebagai pertanggungjawaban kepada guru mereka. Perjalanan sejauh ini juga ada baiknya, di tengah jalan boleh jadi ada kesempatan untuk meloloskan diri.

Dalam pada itu Keh Jin-tat tidak membuang kesempatan untuk melampiaskan dendamnya, mendadak ia cengkeram punggung Peng-ci terus diangkat ke atas, “plak-plok”, dua kali ia tempeleng pemuda itu sambil memaki, “Anak kelinci keparat, sejak hari ini aku akan hajar kau setiap hari sehingga sampai di Jing-sia-san, akan kubikin mukamu yang resik ini menjadi belang bonteng!”

Peng-ci tahu sesudah jatuh dalam cengkeraman musuh, untuk selanjutnya pasti akan kenyang dihina dan disiksa. Sekarang dirinya tak bisa berkutik, dengan gusar ia terus meludahi musuh yang bermartabat rendah itu.

Karena jarak dua orang sangat dekat, maka Keh Jin-tat tidak sempat mengelak, “plok”, dengan tepat riak kental yang disemprotkan Peng-ci itu kena di batang hidungnya. Keruan Jin-tat menjadi murka, ia banting pemuda itu ke tanah dan segera sebelah kakinya hendak menendang.

“Sudahlah, sudah cukup! Jika dia mati kau tendang, cara bagaimana kita harus bertanggung jawab kepada Suhu?” ujar Jin-ti dengan tertawa. “Bocah ini mirip seorang nona, mana dapat menahan pukulan dan tendanganmu?”

Sesungguhnya dendam Keh Jin-tat tak terkatakan. Maklumlah dia tidak punya kepandaian yang berarti, biasanya juga tidak disukai sang guru dan saudara-saudara seperguruan, di atas Jing-sia-san hanya Ih Jin-gan seorang yang menjadi sandaran satu-satunya. Sekarang sandaran satu-satunya itu telah “kuik” ditubles belati oleh Peng-ci, keruan bencinya kepada pemuda itu tidak alang kepalang. Tapi demi dicegah oleh Jin-ti, terpaksa ia urungkan maksudnya menghajar Peng-ci lebih jauh, hanya berulang-ulang ia meludahi pemuda itu untuk melampiaskan dendamnya.

“Marilah kita makan dahulu barulah berangkat,” ujar Pui Jin-ti. “Nah, Keh-sute harap kau capaikan diri untuk menanak nasi dan menyediakan daharan.”

Cepat Jin-tat mengiakan. Biasanya ia juga tunduk kepada Pui-suhengnya itu, apalagi sekarang Ih Jin-gan telah dibunuh orang dan hanya dia yang menyaksikan, kalau pulang mustahil gurunya takkan menghukumnya karena tidak melindungi sang Sute, bahkan menyelamatkan diri sendiri secara pengecut. Untuk ini beberapa kali dia telah mohon bantuan Uh Jin-ho dan Pui Jin-ti agar sepulangnya nanti sudi menutupi sedikit dosanya itu di hadapan sang guru. Sekarang Jin-ti hanya menyuruhnya menanak nasi dan menyediakan daharan, sekalipun dia disuruh mengerjakan sesuatu yang berpuluh kali lebih sulit juga pasti akan dilakukannya. Begitulah, maka dengan cepat ia lantas pergi ke belakang untuk melaksanakan tugasnya.

Jin-ho dan Jin-ti lantas menyeret Cin-lam bertiga ke dalam warung dan dilemparkan di pojok sana. Kata Uh Jin-ho, “Pui-suko, perjalanan pulang ke Jing-sia ini akan makan tempo cukup lama, kita harus waspada akan kemungkinan lolosnya mereka ini. Ilmu silat yang tua ini pun boleh juga, kau harus mencari suatu akal yang baik.”

“Apa susahnya?” ujar Jin-ti dengan tertawa. “Sehabis makan nanti kita putuskan saja urat tangan mereka, lalu gunakan ruyungku yang lemas untuk menembus tulang pundak mereka dan diikat menjadi satu seperti ikatan kepiting, tanggung mereka tidak mampu lolos lagi.”

Otak Cin-lam serasa menjadi kopyor mendengar itu, kalau urat tangan diputus dan tulang pundak ditembus, untuk seterusnya tentu akan menjadi cacat selamanya. Dalam keadaan demikian sekalipun berhasil meloloskan diri juga tiada gunanya lagi. Pikiran orang she Pui ini benar-benar teramat keji.

Peng-ci lantas mencaci maki, “Bangsat keparat yang tidak tahu malu! Kalau berani lekas bunuh saja tuan besarmu ini, cara kalian itu tidak lebih adalah perbuatan bajingan yang rendah dan kotor.”

“Uh-sute,” tiba-tiba Jin-ti berkata dengan tertawa, “kalau anak jadah ini memaki satu kali lagi segera aku akan mengambil sedikit kotoran kerbau dan anjing untuk menjejal mulutnya.”

Ancaman ini ternyata sangat manjur. Seketika Peng-ci bungkam, tidak berani memaki lagi walaupun gusarnya tidak kepalang.

Kemudian Pui Jin-ti masih terus membual dengan kata-kata yang lucu-lucu tapi menusuk. Jin-ho hanya mendengarkan saja dengan mengerut kening, terkadang ia pun mengiringi tersenyum. Namun yang terbayang dalam benaknya adalah jurus-jurus pertarungannya dengan Lim Cin-lam tadi.

Tidak lama kemudian Keh Jin-tat keluar dengan membawa daharan. Katanya, “Tempat ini benar-benar terlalu miskin, seekor ayam saja tidak ada. Apakah kalian suka makan kalau kupotong sedikit daging paha anak jadah ini untuk digoreng.”

Jin-ti tahu Sutenya itu cuma bergurau saja, segera ia menanggapi, “Ya, bagus! Anak jadah ini putih lagi halus, dagingnya tentu lebih lezat daripada ayam goreng. Cuma sayang tidak ada arak ….”

“Segala apa ada di sini! Tuan ingin apa, segera kubawakan!” demikian tiba-tiba dari belakang suara seorang wanita muda yang nyaring merdu menukas ucapan Pui Jin-ti itu.

Keruan mereka terperanjat. Berbareng mereka memandang ke belakang, maka tampaklah keluar seorang nona baju hijau dengan membawa sebuah nampan kayu, di tengah nampan ada sebuah poci arak dengan tiga buah cawan.

Meski nona ini menundukkan kepalanya, tapi masih tampak jelas kelihatan mukanya yang benjol-benjol bekas penyakit cacar.

Jin-ti dan Jin-ho menjadi heran dari mana datangnya nona bermuka burik ini. Sebaliknya Keh Jin-tat sangat terkejut, sebab ia kenal nona burik ini tak lain tak bukan adalah si gadis penjual arak di warung arak di luar kota Hokciu itu. Kematian Ih Jin-gan justru disebabkan dia menggoda nona ini, mengapa sekarang nona ini mendadak muncul lagi di warung yang terpencil ini?

Saking kagetnya Jin-tat sampai melonjak bangun, serunya sambil menuding nona itu, “Meng … mengapa kau pun ber … berada di sini?”

Nona itu tidak menjawab, kepalanya tetap menunduk, katanya dengan suara perlahan, “Inilah araknya, cuma tiada sayur apa-apa.”

Berbareng ia terus menaruh nampannya di atas meja.

“Kau dengar tidak? Kutanya kau mengapa kau pun berada di sini?” demikian Jin-tat berteriak pula dan segera lengan si nona hendak dipegangnya.

Tapi sedikit mengegos saja nona itu sudah mengelakkan cengkeraman Keh Jin-tat. Lalu katanya, “Ya, hidup kami ini adalah menjual arak. Di mana pun tuan-tuan ingin minum arak, di situlah kami akan berada untuk melayani.”

Walaupun Keh Jin-tat termasuk kaum keroco, namun jelek-jelek adalah murid Jing-sia-pay. Si nona dapat mengelakkan cengkeramannya itu, teranglah juga mahir ilmu silat.

Jin-ti memandang sekejap kepada Jin-ho, kemudian bertanya, “Bagus sekali! Lantas arak apakah yang nona jual ini?”

“Arak Hong-ting-ang (merah jengger bangau) campur warangan, arak ‘Chit-kang-liu-hiat-ciu’ (tujuh lubang keluar darah),” sahut si nona itu sambil menuangkan arak ke dalam cawan dan disodorkan ke depan Jin-ho bertiga. Warna arak itu memang merah seperti darah dan lain daripada yang lain. (Yang dimaksudkan tujuh lubang adalah mata, hidung, telinga dan mulut).

Keh Jin-tat menjadi gusar, bentaknya, “Kurang ajar! Kiranya kau adalah begundal dan gendak anak kura-kura ini!”

Berbareng sebelah tangannya terus menampar dari samping.

Namun nona itu hanya mundur setindak saja sudah menghindarkan diri dari serangan lawan, Jin-tat merasa malu kepada kedua Suheng dan Sutenya itu, masakah terhadap seorang anak dara saja tidak mampu menang? Sambil menggerung kalap ia menubruk maju, sepuluh jarinya terus mencengkeram ke dada si nona.

Serangan Keh Jin-tat ini benar-benar kotor dan tak bermoral. Sebagai anak murid golongan terhormat mestinya tidak pantas menyerang ala bajingan demikian. Tapi dasarnya dia memang bangor, si nona penjual arak itu tak dipandang sebelah mata pula olehnya, maka cara menyerangnya menjadi tidak sungkan-sungkan dan pakai aturan segala.

Tentu saja nona itu menjadi gusar. Sedikit mengegos ke samping, dengan cepat sekali tangan kirinya terus menolak ke punggung Jin-tat, ia pinjam daya tubrukan Jin-tat itu sekalian didorong ke depan sekuat-kuatnya. Tanpa ampun lagi tubuh Jin-tat lantas melayang ke depan sebagai terbang sambil berkaok-kaok, “bluk”, kepalanya tertumbuk pada tiga batang bambu yang tumbuh di situ.

Pada umumnya batang bambu memang sangat keras daya melentingnya, maka begitu melengkung tertumbuk oleh Jin-tat, kontan tubuh Jin-tat lantas terlempar kembali ke udara. Khawatir kalau terbanting dengan lebih keras dan kehilangan muka disaksikan orang banyak, lekas-lekas Jin-tat menggunakan gerakan “Le-hi-pak-ting” (ikan lele meletik) untuk membalik tubuh di atas dengan maksud menurunkan kakinya dahulu ke bawah.

Tak terduga daya pegas batang bambu itu memang aneh dan susah diraba arahnya, masih mendingan kalau dia diam saja, tapi lantaran membalik tubuh di atas sebagai ikan meletik, maka tubuh Jin-tat berbalik terjungkir, kepala di bawah dan kaki di atas, terus menubruk ke atas tanah. “Prok”, tanpa ampun lagi beberapa gigi Jin-tat rompal. Lekas-lekas ia merangkak bangun, namun muka dan mulutnya sudah penuh berlumuran darah tercampur debu.

Sambil mencaci maki secara kotor, dengan nekat Jin-tat lantas mencabut belati dan menubruk maju pula. Tapi kembali si nona mengegos, sebelah tangannya menolak dan mendorong pula, ia tetap menggunakan pinjam tenaga lawan untuk memukul lawan, sekali ini yang diincar adalah sebuah kolam di samping hutan bambu sana. “Plung”, tanpa ampun lagi Jin-tat tercebur ke dalam kolam sehingga air muncrat ke mana-mana. Belati yang dipegangnya juga ikut mencelat dari cekalannya sehingga mengeluarkan sinar kuning kemilau di atas udara.

Segera si nona meloncat ke sana, sekali sambar belati yang melayang-layang di udara itu kena dirampas olehnya.

Belum kapok juga, Jin-tat masih terus mencaci maki. Tapi sekali mulutnya mengap, seketika air kolam masuk ke tenggorokannya seperti dicekoki, keruan ia gelagapan.

Padahal air kolam itu biasanya oleh si pemilik warung itu digunakan untuk menyiram sayur dan tanaman-tanaman lain, air kolam itu sebagian besar adalah air kotoran dan kencing manusia. Keruan sekali ini Keh Jin-tat benar-benar “tahu rasanya”.

Melihat Sute mereka dihajar orang, Pui Jin-ti dan Jin-ho hanya duduk tenang-tenang saja dan tidak menolongnya. Tunggu setelah si nona jalan kembali dengan belati rampasannya itu, barulah Jin-ti berkata dengan nada dingin, “Selamanya Hoa-san-pay dan Jing-sia-pay kami tiada permusuhan apa-apa, orang tua dari kedua belah pihak selamanya juga bersahabat baik. Apakah nona tidak keterlaluan dengan menyuguhkan kami arak ‘Chit-kang-liu-hiat-ciu’ campuran dari Hong-ting-ang dan warangan ini?”

Nona itu tampak melengak, tapi lantas mengikik tawa. Lalu jawabnya, “Tajam benar penglihatanmu, dari mana kau tahu aku berasal dari Hoa-san-pay?”

“Kedua gerakan ‘Sun-cui-tui-ciu’ (mendorong perahu menurut arus) yang digunakan nona barusan ini terang adalah ajaran asli Gak-tayciangbun dari Hoa-san-pay,” kata Jin-ti. “Nama Hoa-san-pay cukup menggetarkan Kangouw, biarpun picik juga Cayhe masih sanggup membedakannya.”

“Kau tidak perlu menyanjung diriku,” ujar si nona. “Aku pun tahu engkau adalah Pui-toaya, tokoh terkemuka Siong-hong-koan dari Jing-sia-pay dan ini adalah Uh-toaya, satu di antara empat murid utama yang terkenal sebagai “Eng Hiong Ho Kiat”. Nah, silakan kalian mulai saja.”

“Ah, menghadapi nama Hoa-san-pay yang termasyhur betapa pun juga kami harus mengalah sejauh mungkin,” sahut Jin-ti. “Tapi sedikitnya nama nona yang budiman juga perlu kami ketahui, kalau tidak, cara bagaimana kami harus menjawab jika kami ditanya oleh Suhu?”

“Asalkan kau katakan ’si budak jelek dari Hoa-san-pay’ saja sudah cukup, rasanya di dunia ini tiada orang kedua yang bermuka lebih buruk daripada diriku ini,” sahut si nona dengan tertawa.

Dalam pada itu Keh Jin-tat sudah merangkak bangun dari dalam kolam yang berair kotor dan bau itu, ia masih terus mencaci maki sambil tiada hentinya muntah-muntah dan batuk-batuk. Tapi lantaran giginya sudah banyak yang rompal, dalam keadaan ompong suaranya menjadi sangat lucu.

Nona penjual arak itu lantas masuk ke dalam warung dengan langkah yang menggiurkan, katanya dengan tertawa, “Aku pun tahu hubungan Hoa-san-pay dan Jing-sia-pay biasanya cukup baik. Kabarnya ada seorang Suheng kalian yang she Ih telah menggoda wanita baik, kebetulan dilihat orang yang membela keadilan sehingga Suheng kalian itu terbunuh, sungguh kalian harus diberi ucapan selamat atas kejadian yang menggirangkan itu. Hal ini sangat besar manfaatnya bagi penertiban dan penegakan wibawa perguruan kalian, aku percaya Ih-koancu kalian juga pasti akan sangat gembira bila mendapat laporan dan besar kemungkinan kalian bertiga akan mendapatkan ganjaran yang berharga. Sebab itulah aku sengaja menyediakan tiga cawan arak Chit-kang-liu-hiat-ciu ini sekadar sebagai penghargaan dan ucapan selamat kepada kalian.”

Meski wajahnya jelek, tapi suaranya sangat nyaring dan merdu, enak didengar. Hanya saja setiap katanya itu penuh sindiran sehingga bagi pendengaran Pui Jin-ti rasanya sangat menusuk.

“Pui … Pui-suko, kematian … kematian Ih-sute justru lantaran dia!” tiba-tiba Keh Jin-tat berseru.

“Apa katamu?” Jin-ti menegas dengan heran. Ia tahu kelakuan Ih Jin-gan memang bergajul, tapi kalau kematiannya adalah lantaran seorang wanita, maka dapat diduga wanita itu pasti sangat cantik, paling tidak juga cukup cantik, tidaklah mungkin pemuda bajul buntung itu dapat penujui seorang nona burik yang memuakkan bagi orang yang memandangnya ini.

Namun Jin-tat lantas menjawab, “Ya, justru dia inilah, budak burik inilah yang menyebabkan kematian Ih-sute. Lantaran Ih-sute menertawakan dia sebagai muka siluman sehingga bertengkar dengan anak jadah she Lim ini.”

“Oh, kiranya demikian,” kata Jin-ti mengangguk. Ia coba mengamat-amati pula si nona, perawakannya kelihatan langsing dengan garis-garis tubuh yang indah, cuma sayang mukanya saja burik, bahkan benjol-benjol tak keruan, benar-benar muka buruk yang jarang terdapat. Lalu ia manggut-manggut dan berkata pula, “O, kiranya demikian. Jadi orang telah membela nona, makanya nona sekarang juga hendak membela orang?”

Dengan baju basah kuyup saat itu Keh Jin-tat berdiri di luar warung, baunya bacin, berulang-ulang ia menggoyang badannya seperti anjing habis kecemplung ke dalam air, lalu mengguncangkan tubuhnya untuk menghilangkan air yang membasahi tubuhnya. Tiba-tiba ia berseru, “Binatang kecil she Lim itu cantik sebagai wanita, besar kemungkinan budak siluman ini yang telah penujui dia, lalu menguntit sepanjang jalan. Hayolah Pui-suko dan Uh-sute, lekas kalian bereskan saja dia, mau tunggu kapan lagi?”

Dalam pada itu si nona lagi mengamat-amati belati emas yang dirampasnya dari Keh Jin-tat tadi. Tertampak di batang belati itu terdapat ukiran beberapa huruf yang berbunyi “anak Peng genap 10 tahun”. Di samping itu ada beberapa huruf lebih besar yang berarti “banyak rezeki dan panjang umur”. Ia memandang sekejap ke arah Peng-ci yang menggeletak di atas tanah itu dengan tersenyum. Katanya dalam hati, “Kiranya belati ini adalah hadiah ulang tahunmu yang ke-10, tapi kau telah menggunakannya untuk membunuh orang bagiku.”

Sejenak kemudian ia lantas berkata kepada Jin-ti dan Jin-ho, “Sesungguhnya Jing-sia-pay juga terhitung golongan ternama dan terhormat di dunia persilatan, tak tersangka juga terdapat tidak sedikit murid bajingan tengik seperti dia ini.” Sembari berkata ia terus angkat belati dan pura-pura akan menyambit ke arah Keh Jin-tat.

Rupanya Jin-tat sudah kapok benar terhadap nona burik itu, disangkanya belati itu akan ditimpukkan betul-betul, maka cepat ia melompat ke samping dengan cara yang menggelikan.

Tapi nona itu hanya pura-pura mengayunkan belatinya saja, lalu berkata pula, “Manusia rendah begini memangnya sudah dulu-dulu harus dibinasakan, kalau dibiarkan hidup hanya akan membikin malu perguruan saja. Masakah manusia kotor demikian juga ada harganya untuk mengaku sebagai Suheng dan Sute dengan kalian berdua kesatria gagah ini?”

Diam-diam Jin-ti dan Jin-ho mendongkol. Ucapan si nona sesungguhnya memang kena benar pada hati kecil mereka. Biasanya mereka memang suka anggap diri sendiri sebagai kesatria sejati dan merasa malu untuk menjadi saudara seperguruan dengan manusia sebagai Keh Jin-tat itu. Akan tetapi biar bagaimanapun juga Keh Jin-tat memang betul-betul adalah saudara seperguruan dengan mereka, terpaksa mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Maka terdengar si nona telah menyambung pula dengan tertawa, “Aku yakin kalian berdua tentu berharap tidak mempunyai Sute semacam ini bukan? Baiklah, akan kubantu kalian, biarlah bajingan tengik ini kubunuh saja!”

Habis berkata segera ia melangkah ke arah Keh Jin-tat dengan belati terhunus.

Keruan Jin-tat ketakutan dan menjerit, “Haya, kau … apa-apaan kau!”

Dan ketika melihat kedua saudara Suheng dan Sutenya tiada tanda-tanda sudi menolongnya, sebaliknya malah bersikap acuh tak acuh seakan-akan mengharap nona burik itu benar-benar membunuhnya saja, terpaksa lekas-lekas ia putar tubuh terus lari sipat kuping, hanya sekejap saja ia sudah menghilang di tengah hutan bambu.

Si nona mengikik geli, lalu putar balik ke dalam warung. Katanya dengan tertawa, “Nah, aku telah membantu kalian melakukan sesuatu yang menggembirakan, apakah hal ini tidak berharga untuk dirayakan dengan minum secawan arak?”

Berbareng ia pun menunjuk ketiga cawan arak merah di atas meja itu dengan sikap menyilakan minum secara hormat.

Jin-ti saling pandang sekejap dengan Jin-ho, mereka merasa serbasusah dan entah cara bagaimana harus melayani nona aneh yang berada di depan mereka ini. Bahwasanya nona ini tidak bermaksud baik terhadap mereka memang hal ini tidak perlu disangsikan lagi.

Soalnya Hoa-san-pay terkenal sebagai aliran utama dari Ngo-gak-kiam-pay (lima aliran ilmu pedang dari lima gunung), jumlah orang mereka sangat banyak, kekuatan mereka pun sangat hebat, pergaulannya luas dan mempunyai hubungan baik dengan berbagai golongan dan aliran yang lain, betapa pun tidak boleh sembarangan diganggu.

Diam-diam Jin-ti membatin, “Entah apa maksud tujuan wanita ini? Tapi kematian Ih-sute adalah lantaran dia, mungkin dia pun akan ikut campur untuk menolong bocah she Lim ini. Kalau Ih-sute tidak mati sih tidak menjadi soal kami mengalah padanya. Seorang laki-laki tidak berkelahi dengan orang perempuan, andaikan tersiar juga tidak memalukan Jing-sia-pay. Namun sekarang cara bagaimana kami harus bertanggung jawab kepada Suhu atas kematian Ih-sute? Kalau pembunuhnya tidak dapat kami tawan pulang, pastilah aku tiada muka buat tinggal di Siong-hong-koan lagi!”

Begitulah sambil tertawa dingin ia memandangi ketiga cawan arak merah di atas meja itu, tampaknya acuh tak acuh, tapi sesungguhnya dalam hati merasa serbasusah.

“Ketiga cawan arak ini akan kalian minum atau tidak?” demikian si nona menegas pula dengan tersenyum.

“Cret”, mendadak Jin-ho ayun telapak tangannya dan memotong ke ujung meja, kontan ujung meja itu tertebas putus secara rajin bagai ditebas golok tajam. Sambil memandang keluar ia berkata, “Jing-sia-pay kami selamanya sangat menghormati Gak-ciangbun dari Hoa-san-pay kalian, maka kami tidak ingin bertengkar dengan nona. Tapi berulang nona telah mencemooh dan menghina, jika kami dianggap sebagai kaum celurut yang tak becus, maka mungkin nona telah salah mata.”

“Ai, ai, masakah aku begitu sembrono menganggap demikian? Kaum celurut yang tidak becus memangnya sudah kenyang minum air pecomberan dan kini telah kabur,” kata si nona. “Baiklah, biar kutawarkan saja kepada Lim-kongcu ini apakah mau minum arak atau tidak?”

Habis berkata, mendadak sinar kuning berkelebat, belati yang dipegangnya itu tahu-tahu disambitkan ke dada Lim Peng-ci.

Hal ini benar-benar di luar dugaan Uh Jin-ho dan Pui Jin-ti, sama sekali mereka tidak pikir bahwa nona itu bisa mendadak menyambitkan belati untuk membunuh orang. Cin-lam dan istrinya lebih-lebih terkejut, tapi mereka tertutuk dan tak bisa berkutik.

Melihat belati emas itu menyambar tiba, Peng-ci sendiri pun tak berdaya dan terima ajal saja. Siapa duga ketika belati itu melayang sampai di tengah jalan, sekonyong-konyong batang belati lantas membalik sehingga gagang belati di depan dan ujung belati di belakang, dengan demikian maka terdengarlah suara “plok” yang perlahan, gagang belati telah menumbuk di atas dada Peng-ci, tempat yang ditumbuk tepat adalah “Tan-tiong-hiat”, suatu Hiat-to penting di tubuh manusia.

Seketika Peng-ci merasa bagian Hiat-to itu kesakitan, beberapa arus hawa hangat lantas meluas ke bagian tangan dan kaki, segera ia dapat bergerak lagi. Cepat ia lantas melompat bangun. Cuma lututnya terasa masih lemas, untuk berdiri tegak masih belum kuat, ia sempoyongan dan berlutut ke arah si nona, cepat ia menggunakan tangan untuk menahan di tanah, dengan demikian barulah dapat berdiri kembali dengan muka merah jengah.

Pui Jin-ti sudah lama masuk Jing-sia-pay, dalam hal ilmu silat boleh dikata cukup berpengalaman dan pengetahuannya, tapi gerakan “lempar belati membuka Hiat-to” yang dilakukan si nona burik itu benar-benar mengherankannya. Belati itu sudah disambitkan, kemudian membalik di tengah jalan, cara lemparan demikian benar-benar sukar dibayangkan.

Sebenarnya kalau si nona terang-terangan hendak membuka Hiat-to Lim Peng-ci yang tertutuk, tentulah Jin-ti dan Jin-ho akan merintanginya. Tapi dengan cara melempar belati untuk membuka Hiat-to pemuda itu, mereka benar-benar mati kutu dan tidak sempat untuk mencegahnya.

Dan waktu Peng-ci berdiri kembali, belati emas itu telah jatuh ke lantai dan tepat menggelinding ke samping kaki si nona. Dengan enteng sekali si nona mencukit dengan ujung kakinya, belati itu mendadak meloncat ke atas dan segera dipegang kembali oleh nona itu. Katanya kepada Peng-ci, “Nah, Lim-kongcu, biarlah kuperkenalkan, yang ini adalah Pui-tayhiap dan yang itu adalah Uh-tayhiap, mereka adalah tokoh-tokoh Jing-sia-pay yang terkenal, silakan kalian berkenalan.”

Peng-ci menjadi serbarunyam, katanya di dalam hati, “Sudah sejak tadi kami telah berkenalan!”

Tapi ia tahu maksud si nona tentu menguntungkan dirinya, maka terpaksa menjawab secara samar-samar saja.

Lalu si nona berkata pula, “Dengan maksud baik aku telah menyuguhi mereka dengan tiga cawan arak Chit-kang-liu-hiat-ciu. Tapi Pui dan Uh-tayhiap ternyata tidak sudi minum, sebaliknya bicara hal-hal yang mendongkolkan orang. Aku percaya Lim-kongcu pasti lebih bijaksana daripada mereka, jika kau berani boleh silakan minum saja arak itu.”

Tadi walaupun Peng-ci menggeletak tak bisa berkutik di atas tanah, tetapi ia dapat mengikuti pembicaraan mereka tentang nama arak itu. Ia pikir Ho-ting-ang dan warangan adalah racun paling jahat, lebih-lebih Ho-ting-ang, boleh dikata asal menempel mulut saja tentu akan merenggut nyawa. Arak itu kelihatan merah sebagai darah, tentu campuran dari racun yang luar biasa jahatnya, arak demikian mana boleh diminum?

Sekilas dilihatnya air muka kedua murid Jing-sia-pay itu sedang memandang padanya dengan sikap menghina. Tadi dia telah kenyang dianiaya, memangnya rasa dendamnya lagi belum terlampiaskan. Sekarang melihat lagi air muka kedua orang yang mencemoohkannya itu, keruan ia tambah kalap. Seketika timbul suatu pikiran nekat dalam benaknya, “Jika nona ini tidak menolong aku, entah betapa aku akan menderita bila aku ditawan ke Jing-sia-pay, akhirnya aku pun tak terhindar dari kematian. Hm, mereka menganggap dirinya sendiri sebagai kesatria dan memandang hina padaku seperti kaum pengecut. Huh, biar mati kenapa aku mesti takut? Kalau aku tidak minum arak berbisa ini, tentu juga nona ini akan mengatakan aku tidak punya nyali.”

Begitulah serentak semangat bergolak, rasa nekatnya lantas berkobar-kobar, tanpa pikir akibatnya lagi, segera ia angkat secawan arak itu terus ditenggak habis. Begitu habiskan secawan, rasa hatinya terasa pilu, menyusul cawan kedua dan ketiga juga lantas dihabiskannya. Lalu berkata, “Lebih baik aku mati minum arak racun pemberian nona ini daripada binasa di tangan manusia-manusia rendah sebagai kalian ini.”

Habis berkata, tiba-tiba ia merasa sisa arak di dalam mulutnya itu penuh rasa harum pupur, ia menjadi heran, bau Ho-ting-ang dan warangan itu kenapa sama dengan bau pupur yang wangi.

Dalam pada itu, Lim Cin-lam dan Ong-hujin merasa sangat berduka ketika melihat putranya tidak tahan dihina dan sekaligus minum habis tiga cawan arak berbisa.

Sedangkan air muka Pui Jin-ti tampak likat-likat. Sebaliknya, diam-diam Uh Jin-ho merasa kagum kepada Peng-ci, pikirnya, “Ilmu silat orang ini hanya biasa saja, tapi ternyata seorang laki-laki yang gagah berani.”

Si nona burik juga lantas acungkan jempolnya dan memuji, “Bagus, Lim-kongcu memang tidak memalukan sebagai putra pemilik Hok-wi-piaukiok yang termasyhur.”

Lalu katanya kepada Jin-ti berdua, “Nah, Pui-tayhiap dan Uh-tayhiap, tentang Lim-kongcu salah membunuh Ih-tayhiap, hehe, Ih-tayhiap ….” berulang ia menyebut “Ih-tayhiap” dengan nada menghina, lalu sambungnya, “maka sekarang dapatlah kalian pulang ke Jing-sia dan melapor kepada guru kalian bahwa sakit hati itu sudah terbalas dan dapat dipertanggungjawabkan. Nah, silakan berangkat!”

Jin-ho lantas berbangkit. Katanya, “Baik, mengingat diri nona, biarlah urusan ini kita akhiri sampai di sini.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: