Nagasasra dan Sabukinten, Jilid 15

Wulungan menundukkan kepalanya. Dadanya bergolak seperti darah dijantungnya itu mendidih. Perlahan lahan ia mengangkat mukanya dan menoleh ke arah Endang Widuri yang masih berdiri tegak ditepi jalan. Tetapi Wulungan kini tidak memandangnya sebagai seorang gadis yang nakal, yang tidak tahu akan bahaya, tetapi kini ia memandangnya sebagai penyelamat jiwanya. Karena itu sambil berjongkok ia menunduk hormat, “Angger, betapa besar terimakasihku kepada angger yang telah menyelamatkan nyawaku. Aku sama sekali tak menduga angger mampu berbuat sedemikian rupa mengagumkan.”

Wajah Widuri menjadi kemerahan mendengarkan pujian itu, ia hanya berdesis, “ah.”

Tetapi Wulungan masih berdiri diatas lututnya. “Aku tak akan dapat membalas budi angger. Mudah mudahan Tuhan mengaruniakan Kasihnya yang berlimbah.”

Widuri menjadi semakin malu, karena itu tiba-tiba ia memutar tubuhnya berlari ke banjar desa sambil berteriak, “aku akan ke banjar desa paman.”

Wulungan menarik nafas. Perlahan ia berdiri sambil bergumam, “Hem, alangkah bangga orang tuanya.”

Ketika Widuri telah hilang di balik tikungan, kembali Wulungan merenungi mayat Galunggung. Sekali-kali ia menebarkan pandangan berkeliling, tetapi Pamingit benar-benar seperti dicekam kesepian yang mengerikan.

Sebenarnya beberapa perempuan yang tinggal di rumah ditepi jalan itu menjadi ketakutan, dan menutup pintu mereka rapat-rapat. Seorang dua orang yang sempat mendengar teriakan Galunggung menjadi berbimbang hati, “Apakah yang sebenarnya terjadi?” tetapi mereka menunggu sampai suami mereka kembali dari perlayatan.

Ketika sekali lagi Wulungan memandang keujung jalan di kejauhan, dilihatnya orang pertama yang datang dari makam. Kemudian kedua dan seterusnya. Iringan itu berjalan perlahan lahan menuju kearahnya.

Melihat kedatangan mereka, Wulungan menjadi berdebar-debar. Apakah ia tidak berbuat kesalahan? tetapi ia telah berbuat demikian untuk membela dirinya, mempertahankan hidupnya.

Tubuh Galunggung yang terkapar di jalan itu benar-benar telah mengejutkan mereka. Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Lembu Sora dan yang lain-lain.

“Apa yang terjadi Wulungan?” suara Lembu Sora datar.

“kami bertengkar dan inilah akhirnya.”

Lembu Sora melihat luka dipundak Wulungan, karena itulah ia tahu bahwa Wulungan telah bertempur sengit melawan Galunggung. Ia melihat pedang Galunggung masih ditangannya, sedang pedang Wulungan ada belum disarungkan.

“Sarungkan pedangmu Wulungan”

Wulungan menjadi gugup. Cepat-cepat ia menyarungkan pedangnya.

“kami tidak menyalahkan engkau,” terdengan Lembu Sora berkata.

Orang Pamingit menjadi saling berpandangan. Pengikut Galunggung bergumam, “kenapa Galunggung terbunuh?.”

Ki Lembu Sora dapat melihat gelora hati mereka. Mereka memandang Wulungan dengan marah, bahkan ada yang benci dan dendam. Seperti Galunggung yang menggantungkan harapannya kepada Sawung Sariti, maka demikianlah beberapa orang yang telah menerima janji mereka. karena itu kematiannya benar-benar disesalkan.

Tetapi karena itu alangkah sedih Lembu Sora. Kematian anaknya telah memukul jantungnya sedemikian parah. Sekarang ia melihat sinar mata bermusuhan diantara rakyatnya. Karena itu dengan sedih ia berkata, “telah banyak korban jatuh. Daerah perdikan ini telah basah kuyup oleh darah putra terbaik. Sergapan gerombolan liar telah menghancurkan sendi kehidupan kita. Marilah kita jadikan Sawung Sariti korban yang terakhir., dan Galunggung yang lenyap karena kehilangan keseimbangan jiwa, adalah contoh mereka yang kehilangan akal.

Kemudian Lembu Sora mengangkat wajahnya memandang kepada orang Pamingit yang berada disekitarnya, “siapa akan menyusul?”

SUASANA dicengkam oleh kesepian. Tak ada yang terdengar selain desah nafas tegang di antara kemerisik daun-daun yang digerakkan angin. Orang-orang Pamingit yang memandang Wulungan dengan marah, serta orang-orang yang berdiri tegak di belakang Wulungan, menundukkan wajah mereka.

Sesaat kemudian terdengar Ki Ageng Lembu Sora berkata, ”Para pemimpin laskar Pamingit harus menghadap aku sebelum matahari terbenam. Tak seorang pun berhak memberikan tafsiran atas peristiwa ini selain aku sendiri.”

Kemudian kepada Wulungan ia berkata, ”Wulungan, ikut aku.”

Wulungan menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya, ”Baik Ki Ageng.”

Kepada orang-orang Pamingit yang lain, Lembu Sora berkata, ”Selenggarakan pemakamannya baik-baik.”

Kemudian orang-orang yang berdiri berjejal-jejal itu mulai mengalir seperti air di dalam parit. Sebagian menuju ke banjar desa, sedang sebagian lagi ke rumah masing-masing. Perlahan-lahan jalan desa itu menjadi sepi kembali, selain beberapa orang yang sedang merawat tubuh Galunggung dan dibawanya ke pondoknya. Besok, sekali lagi mereka akan menyelenggarakan pemakaman. Galunggung tidak dimakamkan dengan upacara kebesaran seperti Sawung Sariti. Namun pemakaman itu pun akan diselenggarakan sebaik-baiknya.

Dalam perjalanan ke banjar desa, Mahesa Jenar berbisik kepada Kebo Kanigara yang berjalan di sampingnya, ”Kakang, mayat Bugel Kaliki lenyap.”

Kebo Kanigara menoleh, matanya menjadi redup, tetapi kemudian ia tersenyum, ”Aku belum memberitahukan kepadamu.”

”Kenapa?” tanya Mahesa Jenar.

”Ketika aku membawa kembali Sawung Sariti yang terluka aku telah meminta beberapa orang Pamingit untuk mengubur mayat itu,” jawab Kebo Kanigara.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Sambil menggeleng- gelengkan kepalanya ia bergumam, ”Sederhana sekali.”

Sekali lagi Kebo Kanigara tersenyum, ”Ya, sederhana sekali. Apa kau sangka mayat itu hidup kembali? Kalau ia dapat hidup kembali maka mayat-mayat yang lain pun akan hidup pula. Dengan demikian sekali lagi kita harus berjuang melawan mereka.”

Mahesa Jenar tertawa. Menggelikan sekali. Arya Salaka pun kemudian diberitahunya pula.

”Ah,” sahut anak muda itu. ”Aku menjadi gelisah karenanya.”

Ketika mereka sampai di banjar desa, mereka melihat perempuan-perempuan sedang sibuk mengerumuni Rara Wilis dan Endang Widuri yang duduk di samping Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora. Mereka tak habis-habisnya bertanya kenapa mereka dapat menyelamatkan diri mereka dan dengan penuh kekaguman mereka bertanya-tanya, bagaimana mereka dapat memiliki ilmu tata bela diri. Pertanyaan- pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Meskipun demikian Rara Wilis mencoba pula untuk menjawab satu demi satu.

”O,” sahut salah seorang, ”Jadi orang tua berjanggut putih itukah yang bernama Ki Ageng Pandan Alas?”

”Ya, itu kakekku,” sahut Rara Wilis.

”Pantas, pantas Nini menjadi gadis perkasa,” kata yang lain. Ketika orang-orang yang datang dari pemakaman, setelah membasuh kaki mereka, memasuki banjar desa itu, maka perempuan itupun mengundurkan diri mereka untuk mempersiapkan minum serta makanan yang akan mereka hidangkan.

Demikianlah Pamingit dan Banyubiru telah melampaui suatu masa yang menyedihkan. Suatu masa yang tak dapat mereka lupakan. Ketika kemudian malam tiba, dan masing-masing telah terbaring di pembaringan, terbayanglah kembali segala peristiwa yang pernah terjadi. Meskipun gambaran-gambaran yang datang di dalam kenangan masing-masing tidak sama, tergantung dari apa yang pernah mereka lihat, dengar dan alami, namun mereka mempunyai persamaan kesimpulan. Bahkan Lembu Sora sendiri merasakan betapa kelakuannya hampir saja menenggelamkan kedua tanah perdikan itu. Tetapi dengan demikian, akhirnya ia menjadi ikhlas. Ikhlas atas segala kesedihan yang menimpanya. Ikhlas atas kematian anak satu-satunya.

Demikianlah agaknya Tuhan menghendaki, memberinya peringatan dan membawanya kembali ke jalan yang telah digariskan.

Di pondok itu, Mahesa Jenar duduk bersama-sama dengan Paningron, Gajah Alit, Gajah Sora dan Kebo Kanigara. Di bawah cahaya lampu minyak, tampaklah wajah mereka memancarkan kesungguhan pembicaraan yang sedang mereka lakukan.

”Pekerjaanku sudah selesai Kakang Tohjaya,” terdengar Gajah Alit berkata, ”Sultan menghendaki penyelesaian yang sebaik-baiknya antara Banyubiru dan Pamingit. Kini agaknya penyelesaian itu telah ditemukan tanpa pertumpahan darah antara keduanya. Kalau kemudian jatuh korban, itu adalah karena perjuangan mereka mempertahankan tanah mereka dari sergapan setan-setan liar yang ingin memiliki keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, yang seterusnya mereka ingin merampas jalan ke tahta Demak.

Karya Ki SH Mintardja

723

GAJAH ALIT berhenti sejenak, kemudian ia meneruskan, ”Tetapi selain dari itu, aku mempunyai pekerjaan yang lain pula. Aku mendapat perintah untuk membawa Kakang Tohjaya kembali ke Demak.”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Setelah menarik nafasnya dalam-dalam, ia bertanya, ”Sebagai tawanan?”

”Tidak. Sama sekali tidak,” sahut Paningron cepat-cepat. ”Persoalan yang ada beberapa tahun yang lalu di Demak kini telah dilupakan. Tidak saja kini. Sebenarnya sejak semula Sultan tidak pernah mengalami kegoncangan kepercayaan kepada Kakang Tohjaya. Tetapi meskipun demikian, tak apalah kalau Kakang ketahui, bahwa memang Sultan menjadi murka karena Kakang meninggalkan istana. Namun hanya sementara. Akhirnya Sultan mengambil keputusan untuk tidak mencari dan memanggil Kakang kembali, sebab akhirnya Sultan tahu apa yang Kakang lakukan. Disamping pengabdian Kakang kepada sesama, Kakang gigih mencari Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.”

”Hem!” Sekali lagi Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Tak pernah kesetiaannya kepada tanah dan pemerintahannya menjadi goncang, seperti Sultan tak pernah mengalami kegoncangan kepercayaan kepadanya. Tak pernah ia berpikir untuk menolak seandainya Sultan memanggilnya, meskipun sebagai tawanan. Mahesa Jenar menyesal pula, bahwa ia begitu saja pergi meninggalkan istana pada saat itu. Tetapi masa itu telah lampau. Yang penting baginya, bagaimanakah selanjutnya. Dan kini ia harus memberi jawaban, Kanjeng Sultan Trenggana memangilnya.

”Adi…” kata Mahesa Jenar kemudian, ”Aku tidak dapat menolak apa pun yang diperintahkannya kepadaku. Namun aku ingin semaya. Aku ingin mendapat waktu untuk melengkapi saranku menghadap Sultan. Aku telah berjanji untuk menemukan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Karena aku telah berjanji pula pada diri sendiri, bahwa aku tak akan mengakhiri usahaku itu sampai kapanpun, sebelum keris-keris itu dapat diketemukan.”

Gajah Alit tersenyum. Jawabnya, ”Tepat. Kanjeng Sultan pun telah menebak apa yang akan kakang katakan. Dan karena itu Sultan memberi Kakang waktu. Tanpa batas. Kapan pun Kakang kehendaki membawa atau tidak membawa kedua keris itu, kakang akan diterima kembali. Sebab seandainya Kakang tidak dapat menemukan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, itu tidak berarti bahwa apa yang telah Kakang lakukan dapat dilupakan. Sebab berhasil atau tidak, namun Kakang telah berjuang dengan mempertaruhkan jiwa dan raga Kakang.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berkata, ”Sampaikan sembah sujudku kepada Baginda. Aku tetap setia kepada sumpahku. Mudah-mudahan Tuhan berkenan memberi aku jalan untuk menghadapkan kembali pusaka-pusaka yang hilang itu.”

Kemudian ruangan itu menjadi sepi. Masing-masing menundukkan kepalanya sambil merenungkan pembicaraan itu.

Di luar, malam menjadi semakin pekat. Bintang-bintang berhamburan di langit yang biru. Selembar-selembar mega yang putih mengalir dihembus angin.

Malam itu adalah malam terakhir Paningron dan Gajah Alit berada di Pamingit. Mereka pada pagi harinya, terpaksa kembali ke Demak, untuk melaporkan apa yang telah dilakukannya. Mengantarkan kembali Gajah Sora. Penyelesaian yang baik antara Pamingit dan Banyubiru. Tertumpasnya gerombolan-gerombolan liar yang mencoba menyusun kekuatan untuk menghadapi Demak, sehingga karenanya Demak tidak perlu mengirimkan pasukan bantuan kepada Banyubiru dan Pamingit. Rangga Tohjaya yang tidak mau melepaskan kewajiban yang dibebankannya sendiri di atas pundaknya, mencari keris-keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Tetapi tidak saja Paningron dan Gajah Alit yang pergi meninggalkan Pamingit. Gajah Sora dan Arya Salaka pun akhirnya beberapa hari kemudian, merasa bahwa mereka harus kembali ke tanah perdikannya. Mereka harus segera mengatur kembali pemerintahan tanah yang selama ini mengalami kegoncangan. Rakyat Banyubiru harus segera mengetahui bahwa akhirnya Ki Ageng Gajah Sora akan berada kembali di antara mereka. Karena itu, akhirnya mereka pun minta diri. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis dan Endang Widuri tidak pula ketinggalan. Mereka ingin menyaksikan, betapa tanah yang seakan-akan telah kehilangan pamornya itu, kini menemukan kembali dirinya.

Perpisahan itu benar-benar mengharukan. Betapa semedhot-nya orang-orang Pamingit ketika mereka melihat laskar Banyubiru, rampak dalam barisan yang tertib, siap berjalan menempuh jalan yang menghubungkan kedua tanah perdikan yang dikepalai oleh dua orang bersaudara. Kakak-beradik yang hampir saja saling membinasakan. Untunglah bahwa Tuhan berkehendak lain.

Laskar itu akhirnya berjalan mendahului di bawah pimpinan Bantaran, Panjawi dan Jaladri. Laskar yang gagah berani itu berjalan menuruti jalan yang berliku-liku di lereng pegunungan, seperti seekor ular raksasa yang menjalar menuruni tebing, mendaki lereng-lereng bukit kecil menuju ke Rawa Pening.

DALAM perjalanan itu Widuri menjadi gembira. Dilarikannya kudanya di paling depan. Di mukanya terbentang lembah dan dipagari oleh bukit-bukit kecil. Sekali-kali perjalanan itu menurun, namun kadang-kadang harus mendaki lereng-lereng bukit yang berbaris seperti sebuah benteng yang kokoh kuat. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya matahari telah condong. Widuri mengerutkan keningnya. Mereka berangkat terlalu siang. Mereka tidak akan dapat mencapai Banyubiru sebelum matahari terbenam. Sedang perjalanan itu tidak akan dapat cepat, karena Nyai Ageng Gajah Sora belum dapat menunggang kuda dengan baik. Meski demikian Widuri kadang-kadang memacu kudanya jauh ke depan. Kemudian sambil menanti kawan-kawannya ia berhenti diatas sebuah punhtuk yang menjorok. Dari sana ia dapat melihat, betapa luasnya tanah yang terbentang di hadapannya. Betapa besar alam. Dan betapa Maha Besar Sang Pencipta, yang telah mencipta langit dan bumi. Beribu, berjuta kali lipat dari apa yang dilihatnya itu, dari apa yang gumelar di hadapannya. Rombongan itu berjalan terus.

Meskipun perlahan-lahan namun mereka tetap maju, semakin lama semakin dekat dengan Banyubiru. Matahari yang mengapung di langit telah membayanglah punggung-punggung bukit. Sesaat kemudian membayanglah warna kuning tajam di atas pegunungan Candik Ala. Widuri tersenyum memandang warna itu. Tiba-tiba teringatlah olehnya warna-warna Candik Ala beberapa tahun yang lalu di Gedangan. Pada saat tiba-tiba saja mereka disergap oleh sepasang Uling dari Rawa Pening. Tetapi Uling itu telah tak ada lagi. Mereka telah dibinasakan oleh Arya Salaka.

“Hem!” gumamnya, “Alangkah gagahnya anak itu.”

Tiba-tiba wajah Widuri menjadi kemerah-merahan. Segera ia menoleh ke arah rombongannya. “Mudah-mudahan mereka tidak mendengar,” pikirnya. Gadis itu menjadi malu sendiri. Malu kepada pengakuannya, bahwa ia telah mengagumi Arya Salaka. Karena itu sekali lagi ia melarikan kudanya ke punthuk yang lain, sambil berusaha mengusir angan-angannya tentang anak muda dari lereng bukit Telamaya itu. Namun setiap kali ia berusaha melupakan, setiap kali angan-angan itu muncul kembali. Agaknya jauh di belakangnya, berjalanlah dengan kecepatan sedang seluruh rombongan.

Gajah Sora mendampingi istrinya bersama Arya Salaka. Di belakangnya, Ki Ageng Pandan Alas berjajar dengan Kebo Kanigara yang kadang-kadang menjadi cemas melihat kenakalan anaknya yang jauh di depan. Di belakang mereka, berkuda Mahesa Jenar, dan di sampingnya Rara Wilis. Tidak banyak yang mereka percakapkan di perjalanan. Hanya kadang-kadang saja Rara Wilis bertanya-tanya tentang daerah yang mereka lewati. Ketika Candik Ala membayang di langit, bertanyalah Rara Wilis, “Sudahkah kita sampai ke daerah tanah perdikan Banyubiru?”

Mahesa Jenar menggeleng, jawabnya, “Aku tidak tahu pasti, manakah batas antara kedua tanah perdikan itu.”

Rara Wilis mengangguk-anggukan kepalanya. Pandangannya kemudian beredar memandangi hutan-hutan yang masih bertebaran di lembah.

“Tanah itu belum digarap,” katanya.

“Masih cukup dengan sawah-sawah yang sudah ada,” jawab Mahesa Jenar.

“Tetapi perkembangan penduduk Banyubiru demikian pesatnya. Dan hutan-hutan itu menanti tangan-tangan yang akan menggarapnya.”

Rara Wilis terdiam. Di perjalanan antara Pamingit dan Banyubiru, hampir tak dijumpainya pedesaan. Agaknya rakyat Banyubiru dan Pamingit lebih senang dedukuh pada pedukuhan yang tidak terlalu jauh jaraknya satu sama lain. Meskipun demikian sekali-kali mereka melewati pedukuhan pula. Pedukuhan-pedukuhan kecil, yang seakan-akan terpisah dari induk tanah perdikan mereka. Namun mereka pun merupakan sendi-sendi kehidupan yang tak dapat dilupakan.

“Adakah Kakang akan menetap di Banyubiru?”

Mahesa Jenar tersentak mendengar pertanyaan Rara Wilis yang tiba-tiba itu. Untuk sesaat ia tidak tahu bagaimana ia harus menjawabnya. Dipandanginya saja wajah gadis yang duduk di atas punggung kuda di sampingnya itu. Ketika Rara Wilis merasa betapa sepasang mata yang tajam memandanginya, ditundukkannya wajahnya dalam-dalam. Tanpa disengaja, Mahesa Jenar mengamat-amati wajah itu dengan seksama. Sejak semula ia memang mengagumi kecantikan Rara Wilis. Tetapi sejak perjuangannya mencari Nagasasra dan Sabuk Inten meningkat, serta usahanya untuk mengembalikan Arya Salaka hampir sampai pada titik puncaknya, ia tidak mempunyai waktu lagi untuk selalu memperhatikan wajah itu. Sekarang tiba-tiba ia mempunyai waktu itu. Namun hatinya menjadi tergoncang karenanya. Di wajah yang cantik itu, tampaklah beberapa bintik air mata. (Bersambung)

MAHESA JENAR menarik nafas dalam-dalam. Baru sekarang dilihatnya kesayuan yang membayang di wajah yang cantik itu. Betapa gadis itu mengorbankan remajanya untuk memberinya kesempatan melakukan pengabdian mutlak kepada sesama dan kepada Tuhannya. Dua pengabdian yang tak mungkin dipisah-pisahkan. Mungkin pada saat-saat mendatang bukan berarti bahwa ia akan dapat mengabdikan pengabdian itu, namun ia sudah mempunyai waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.

Mahesa Jenar menjadi iba kepada gadis itu. Ia merasa bahwa sudah terlalu lama ia membiarkan gadis itu menahan hatinya, tanpa mendapat perhatiannya sama sekali. Telah terlalu lama ia membiarkan gadis itu merasa betapa sepi hidupnya. Tiba-tiba ia ingin menjelaskan kepada gadis itu, mengapa ia bersikap demikian. Perlahan-lahan terdengar Mahesa Jenar berkata, ”Wilis, kalau sampai sedemikian lama aku berdiam diri, itu karena aku ingin hidup kelak tidak terganggu oleh kesanggupan dan janji diri. Aku ingin hidup tentram setelah aku menyelesaikan pekerjaanku. Aku harap kau dapat mengerti, bahwa apa yang aku lakukan adalah demi kebahagiaan kita kelak, bukan semata-mata aku membiarkan diriku melakukan pekerjaan yang aku senangi tanpa mempertimbangkan pendapatmu. Sebab …”

”Kakang!” potong Rara Wilis. Gadis itu mengangkat wajahnya dan memandang Mahesa Jenar tidak kalah tajamnya. Katanya meneruskan, ”Kenapa Kakang berkata demikian? Apakah aku pernah menyatakan penyesalan atas semua yang pernah terjadi selama ini berjuang untuk suatu pengabdian, untuk memenuhi kewajiban yang Kakang letakkan di pundak Kakang? Sampai sekarang pun aku telah berusaha untuk membantu Kakang, setidak-tidaknya membesarkan hati Kakang agar Kakang dapat melakukan kuwajiban itu dengan tenang. Tentang diriku sendiri? Aku telah lama melupakan kepentingan itu. Aku telah biasa hidup dalam kesepian. Sejak ibuku meninggal dunia.”

Rara Wilis tak dapat meneruskan kata-katanya. Air matanya menjadi semakin deras mengair dan tangannya menjadi sibuk untuk mengusapnya.

”Maafkan aku Wilis,” desis Mahesa Jenar. Ia menyesal telah mengatakan apa yang tersimpan didalam hatinya. Ia menyesal bahwa ia telah mengucapkan kata-kata yang sama sekali tak dikehendaki oleh Rara Wilis.

Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar berkata, ”Wilis, sekarang semua kewajiban itu sudah selesai.”

Rara Wilis terkejut. Ia mengangkat wajahnya yang basah. Seakan-akan ia ingin mendengar kata-kata itu sekali lagi.

”Pekerjaanku telah selesai,” ulang Mahesa Jenar meyakinkan.

”Bagaimana dengan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten?” tanya Rara Wilis.

”Keris itu sudah aku ketemukan,” jawab Mahesa Jenar.

”Sudah Kakang ketemukan?” Wajah Rara Wilis tiba-tiba menjadi cerah. Tetapi tiba-tiba matanya menjadi suram kembali. Katanya, ”Kakang hanya ingin menyenangkan hatiku. Atau hati Kakang menjadi patah dan tidak mau mencari kedua keris itu lagi?”

Cepat-cepat Mahesa Jenar menyahut, ”Tidak, tidak Wilis. Aku sama sekali tidak akan menghentikan usahaku seandainya kedua pusaka itu belum dapat diketemukan. Tetapi kini kedua keris itu benar-benar telah dapat diketemukan.”

Perlahan-lahan wajah Rara Wilis menjadi cerah kembali. Namun dari kedua biji matanya yang hitam bulat masih memancar berbagai pertanyaan. Meskipun pertanyaan-pertanyaan itu tak terucapkan, tetapi Mahesa Jenar dapat mengartikan. Karena itu ia berkata, ”Wilis, kau tak perlu bercemas hati tentang kedua keris itu. Sudah sejak lama aku mengetahui, di mana kedua keris itu berada. Namun sampai saat ini belum tiba masanya kedua pusaka itu kembali ke istana.”

”Di manakah kedua keris itu?” tiba-tiba Rara Wilis bertanya. Mahesa Jenar ragu sejenak. Karena itu maka Rara Wilis segera berkata, ”Maafkan, barangkali aku tidak perlu mengetahuinya.”

”Tidak apa Wilis,” sahut Mahesa Jenar cepat-cepat. ”Kau boleh mengetahui beberapa bagian. Keris itu kini ada dalam simpanan Panembahan Ismaya.”

”Panembahan Ismaya?” Rara Wilis terkejut.

”Ya. Panembahan itulah yang telah mengambil kedua keris itu dari Banyubiru,” sahut Mahesa Jenar, ”Namun apa yang dilakukan itu benar-benar tanpa pamrih. Panembahan hanya ingin menyelamatkannya dari kemungkinan-kemungkinan yang lebih buruk lagi. Kemungkinan kedua pusaka itu jatuh di tangan orang-orang seperti Sima Rodra, Bugel Kaliki dan sebagainya.”

”Darimana Kakang tahu?” tanya Rara Wilis.

”Dari Panembahan Ismaya sendiri,” jawab Mahesa Jenar.

Rara Wilis menarik nafas dalam-dalam. Tiba tiba saja persoalan yang seakan menghimpit dadanya seberat gunung Anakan terasa berguguran. Sebab selama ini kedua keris itu masih menjadi teka teki, iapun ikut serta merasakan betapa berat penanggungan hati Mahesa Jenar. Meskipun ia tidak tahu menhapa Mahesa Jenar tidak segera menyerahkan keris itu ke Demak namun ia tidak bertanya-tanya lagi. Sebab persoalannya telah menjadi jelas dan Mahesa Jenar tidak perlu lagi merantau dan berjuang mati-matian untuk mencarinya.

Rara Wilis kemudian berdiam diri. Namun di dalam hatinya bergolaklah angan- angan seorang gadis. Seorang gadis yang telah berdiri di ambang pintu idaman. Yang berbicara kemudian adalah Mahesa Jenar, ”Karena itu Wilis. Kita telah mempunyai waktu untuk berbicara tentang diri kita.”

Wajah Rara Wilis menjadi merah. Dadanya serasa berdesir. Waktu yang ditunggu- tunggu akhirnya akan datang. Namun ia tidak menjawab. ”Segala kesulitan telah kita lampaui,” Mahesa Jenar meneruskan, ”Mudah-mudahan kita tidak terlalu tua untuk mulai dengan suatu kehidupan baru.”

Betapa menyenangkan kata-kata itu. Namun Rara Wilis telah melampaui masa pergolakan jiwa. Karena itu ia dapat menanggapinya dengan wajar, dengan hati yang mengendap. Katanya, ”Tidak Kakang. Tidak semua kesulitan telah selesai. Dalam hidup yang baru itu, kesulitan-kesulitan lain justru baru akan mulai. Kesulitan-kesulitan yang sekarang belum dapat kita bayangkan.”

Mahesa Jenar tersenyum. Senyum yang memancar dari hatinya yang cerah. ”Kau benar Wilis.”

Kemudian keduanya berdiam diri. Angan-angan mereka terbang mengawang bersama mega-mega putih di langit. Tanpa dirasa, hari telah menjadi gelap. Bintang- bintang telah berhamburan menggantung di sisi bulan yang masih muda. Jarak mereka berdua pun telah menjadi semakin jauh dari Ki Ageng Pandan Alas dan Kebo Kanigara.

Maka berkatalah Mahesa Jenar kemudian, ”Marilah kita susul mereka.”

Mereka mempercepat langkah kuda-kuda mereka. Ketika mereka telah berada tepat di belakang Ki Ageng Pandan Alas dan Kebo Kanigara, mereka melihat Endang Widuri pun telah memperlambat kudanya dan kemudian berhenti di tepi jalan menunggu kawan-kawan seperjuangannya. Angin malam berdesir menggerakkan daun-daun dan ujung batang-batang ilalang. Suara angup dan belalang saling bersahutan, menggores sepi malam. Rombongan itu berjalan dengan tenangnya. Sekali-sekali mendaki dan sekali-kali menurun.

”Kita belum melampaui laskar yang mendahului kita?” tanya Endang Widuri.

”Mereka telah sampai atau setidak-tidaknya hampir memasuki Banyubiru,” jawab Arya Salaka. ”Bukankah kita juga hampir sampai?” tanya gadis itu pula.

”Ya!” jawab Arya, ”Dari balik bukit di hadapan kita itu kita akan dapat melihat dataran di hadapan bukit Telamaya dan Rawa Pening.”

Widuri tidak berkata-kata lagi. Ia mengharap agar perjalanan itu lekas berakhir. Malam nanti ia dapat beristirahat dengan tenang. Dan besok pagi, mulailah masa istirahatnya. Ia akan dapat menikmati lembah di sekitar Rawa Pening dengan tenang tanpa suatu kegelisahan apapun. Ia tidak perlu berpikir tentang Uling Putih dan Uling Kuning, Nagapasa, Lawa Ijo dan sebagainya. Dengan getek ia dapat bermain-main di Rawa itu, sambil mengail. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika rombongan itu sampai di punggung bukit. Sebentar lagi akan tampaklah nyala-nyala lampu yang memancar dari lubang-lubang pintu. Atau obor-obor di simpang-simpang jalan yang gelap.

Karena itu tiba-tiba ia mempercepat jalan kudanya, kembali mendahului rombongan itu. Namun tiba-tiba ketika ia mencapai punggung bukit itu, ia terkejut. Di hadapannya, di lereng bukit Telamaya, dilihatnya api menjilat ke udara. Bukan obor, tetapi seperti beribu-ribu obor. Melihat nyala api itu, Endang Widuri tertegun. Tiba-tiba ia berteriak nyaring, ”Kebakaran!”

Mendengar teriakan Widuri, Arya Salaka terkejut. Tanpa sesadarnya kakinya menyentuh perut kudanya, sehingga kuda itu berlari mendahului kawan-kawannya, menyusul Endang Widuri. Kemudian Arya Salaka pun melihat api itu pula. Sambil mengerutkan keningnya ia berpikir, Aneh. Api itu terlalu besar. Akhirnya yang lain-lain pun sampai ke dekat mereka pula. Mereka pun kemudian melihat api yang menjilat-jilat ke udara seperti akan menggapai bintang-bintang di langit.

Sesaat Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara saling berpandangan. Kemudian terdengar Mahesa Jenar berdesis, “Kebakaran.”

Belum lagi ngiang suara hilang, terdengarlah lamat-lamat suara kentongan dilereng bukit Telamaya. Tiga-tiga ganda.

“Kebakaran?,” Ki Ageng Gajah Sora mengulang.

Tampaklah wajahnya menjadi merah dan giginya gemeretak. Katanya melanjutkan “Inilah sambutan tanah kelahiranku atas kedatanganku? Atau tanah ini sudah tidak mau menerima aku kembali?”

“Jangan berfikir terlalu jauh ngger,” potong Ki Ageng Pandan Alas, “ada bermacam-maca sebab yang menimbulkan kebakaran. Sebaiknya angger melihatnya.”

Ki Ageng GajahSora menoleh kepada isterinya. Ia ingin memacu kudanya, namun bagaimana dengan Nyai Ageng itu.

Ki Ageng Pandan Alas yang sudah tua memaklumi. Katanya “pergilah angger sekalian mendahului . Lihatlah apa yang terjadi. Mungkin ada bahaya yang datang, tetapi mungkin juga karena kelengahan sendiri. Biarlah aku mengawani Nyai Ageng Gajah Sora dalam perjalanan yang tinggal beberapa langkah ini.”

Sekali lagi Gajah Sora memandang isterinya. Ketika isterinya mengangguk, maka berkatalah Gajah Sora, “aku mendahului paman.”

Gajah Sora tidak berkata-kata lagi. Disendalnya kendali kudanya dan sesaat kemudian kudanya menghambur seperti angin, disusul oleh Arya Salaka yang tak terpaut dua langkah dibelakang kuda ayahnya. Kemudian dibelakang mereka Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, Wilis dan Widuri. Bahkan kemudian dengan gembiranya Widuri berpacu meskipun malam menjadi semakin gelap.

“Hati-hatilah Widuri,” ayahnya berteriak memperingatkan Widuri menoleh sambil tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Derap kuda itu seperti akan memecahkan selaput telinga. Berdetak-detak diatas tanah liat yang berbatu-batu. Meskipun jalan itu tidak terlalu lebar dan naik turun menggelombang dilereng bukit, namun kuda-kuda itu berlari seperti dikejar hantu. Untunglah di langit ada bulan sehingga malam tidak terlalu pekat. Hanya kadang pohon-pohonan liar dipinggir jalan melindungi cahayanya yang kuning lemah.

Ketika mereka semakin dekat dengan Banyu Biru, tampaklah dihadapan mereka debu yang mengepul tinggi seperti awan tipis menyaput langit.

“Itulah mereka,” desis Arya Salaka ketika dilihatnya barisan dimuka perjalanannya.

Kuda Gajah Sora berlari kencang sekali. Dibelakang barisan BanyuBiru yang ternyata juga telah hampir sampai itu ia berteriak, “beri aku jalan.”

Barisan itu menepi. Beberapa ekor kuda berlari dengan kencangnya melampaui mereka. Terdengarlah kemudian Gajah Sora berkata, “api. kalian dengar kentongan tiga-tiga ganda?.”

“Ya,” sahut Bantaran berteriak, “kami mempercepat perjalanan kami.”

Ki Ageng Gajah Sora telah lampau. Yang menjawab adalah Arya Salaka, “Bagus. Mungkin orang yang sedang berputus asa mencari bela.”

Aryapun tidak sempat menungu jawaban mereka. Barisan BanyuBiru hanya melihat bayangan yang terbang disamping mereka. Kemudian bersama dengan lenyapnya gema suara telapak kaki kuda mereka, bayangan itupun telah lenyap pula ditelan oleh lindungan batang batang pohon dan ilalang.

Suara kentongan semakin nyaring. Dan penuhlah lembah Telamaya dengan bunyi Tiga-Tiga Ganda. Dan karena itu pula kuda GajahSora berlari semakin kencang menuju ke arah alun-alun Banyu Biru.

BanyuBiru menjadi ribut karena api yang tiba-tiba saja membakar hutan-hutan perdu dan alang-alang. Kalau api tidak segera dikuasai, maka api akan menjalar terus mendaki tebing. Apalagi sekali api menjilat hutan-hutan getah maka hutan itupun akan terbakar, dan lereng Bukit Telamaya akan menjadi lautan api.

Bukit itu sendiri akan segera menyala, dan hancurlah kehidupan diatasnya. Tegal-tegal, sawah sawah dan pohon buah-buahan dihutan-hutan peliharaan akan musnah.

Di alun-alun tampaklah beberapa orang sedang sibuk. Beratus-ratus orang telah keluar dari rumah mereka. Tidak saja orang lelaki, tetapi perempuan dan anak-anak. Mereka telah siap membawa lodong-lodong bambu untuk mencari air serta canting-canting besar dari pelepah batang upih. Namun dengan alat itu, mereka tidak akan dapat menguasai api yang membakar batang ilalang. Angin yang bertiup dari lembah seperti membantu mendorong api itu naik dilereng bukit yang damai itu.

Mantingan dan Wirasaba berusaha membantu Wanamerta yang tua. Mereka telah siap diatas punggung-punggung kuda. Yang terdengar adalah suara Wanamerta yang lantang, “Putuskan daerah ilalang. Tebang semua pohon-pohon perdu. Pisahkan daerah api dengan daerah yang masih selamat. Sekarang !”

Orang-orang itupun berlari-larian. Mereka melemparkan lodong-lodong bambu di tangan mereka. Sedang mereka berlari-lari pulang mengambil sabit, pedang, pacul dan senjata-senjata tajam mereka untuk menebang hutan-hutan perdu dan batang-batang ilalang. Rakyat Banyubiru menjadi kacau seperti gabah dalam tampian. Mantingan, Wirasaba dan Wanamerta berusaha untuk menenangkan mereka. Sambil berteriak-teriak mereka memberi petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan.

“Jangan bingung !” terdengar suara Mantingan gemuruh, “Semua pergi ke lereng. Tebang batang-batang ilalang yang belum termakan api supaya api tidak terus menjalar ke atas.”

Di sebelah lain Wirasaba berteriak tinggi, “Nah, yang sudah bersenjata di tangan masing-masing pergi sekarang juga. Jangan menunggu api api mendatangi kalian. Kalian harus menyerbu ke daerah api itu.” Wirasaba sendiri mendahului pergi ke lereng bukit Telamaya. Dengan kapak raksasanya ia menebas pohon-pohon perdu seperti menebas rumput-rumput saja. Tenaga raksasanya benar-benar dimanfaatkan untuk menyelamatkan hutan ilalang yang masih mungkin di selamatkan demi keselamatan Banyubiru.

Rakyat Banyubiru pun segera menggulung lengan baju mereka atau melepas baju mereka sama sekali. Dengan pedang, cangkul dan apa saja di tangan mereka, mereka berusaha untuk membuat antara yang dapat membatasi menjalarnya api.

Tetapi lereng itu sangat panjang. Api yang menyala-nyala itu tidak saja merambat ke atas, tetapi juga merambat ke samping membuat garis yang panjang, untuk kemudian perlahan-lahan mendaki tebing.

Gajah Sora sampai di alun-alun ketika rakyat Banyubiru sudah mulai berlari-larian meninggalkan alun-alun itu. Dilihatnya Wanamerta tua sedang sibuk memberi aba-aba kepada mereka. Dengan lantang Ki Ageng Gajah Sora berteriak, “Apa yang sudah Paman kerjakan ?”

Wanamerta terkejut. Suara itu telah agak lama tak didengarnya. Kini dalam keributan itu suara didengarnya kembali. Dengan lantang pula ia menjawab “Aku mencoba memisahkan daerah yang terbakar itu dengan yang lain, supaya api dapat di batasi.”

“Bagus,” sahut Gajah Sora. “Aku akan pergi ke lereng.”

Wanamerta tidak sempat berbuat lain. Dan dalam kesibukan itu, seakan-akan kehadiran Gajah Sora adalah kehadiran yang wajar. Seperti waktu lima enam tahun yang lampau itu, hanya sekejap mata saja. Seperti Gajah Sora tak pernah meninggalkan Banyubiru. Seolah-olah Kepala Tanah Perdikan itu baru saja keluar dari rumahnya di samping alun-alun itu. Gajah Sora memacu kudanya ke lereng. Ia melihat rakyat Banyubiru sedang berjuang untuk menyelamatkan tanah dan pedukuhan mereka dari kemusnahan.

Laki-laki, perempuan dan anak-anak. Namun api itu menjalar terus.

Sejenak kemudian datanglah laskar Banyubiru yang lain. Mereka tidak sempat menjenguk keluarga mereka. Mereka tidak sempat menyatakan keselamatan diri mereka kepada keluarga mereka. Karena mereka pun segera ikut serta berjuang menebang pohon-pohon dan ilalang. Alangkah lambatnya pekerjaan itu. Beratus-ratus orang telah bekerja dengan dengan segenap tenaga, namun seakan-akan pekerjaan mereka tidak maju-maju.

Gajah Sora menjadi cemas. Tiba-tiba saja ia berteriak, “Pecahkan tangki yang mengatur air dari Sendang Muncul. Airnya akan tumpah dan mengalir kemari. Bantulah membuat jalur-jalur, supaya airnya segera sampai ke daerah api. Mudah-mudahan ada pengaruhnya.”

Beberapa orang segera berlari-larian ketempat penyimpanan air. Air itu tampak menggenang tenang. Dalam dan cukup luas. Rakyat Banyubiru mempergunakan untuk mengairi sawah-sawah mereka di musim kering yang panjang. Tetapi kini mereka terpaksa memecahkan tangkis blumbang itu, untuk menyelamatkan bukit Telamaya dari kehancuran yang lebih besar, meskipun kemudian mereka membutuhkan waktu untuk memperbaikinya, dan dengan demikian akan berarti pula bahwa mereka kehilangan kesempatan satu panen padi, dan harus menenaminya dengan palawija saja. Namun apa yang harus dilakukan sekarang ternyata tak dapat lain daripada mengalirkan air itu ke daerah yang terbakar.

Dengan cangkul, mereka berusaha memecahkan tangksi batu itu. Satu-satu mereka mendongkelnya dengan linggis dan kapak. Alangkah lambatnya.

Arya menjadi tidak telaten. Segera iapun berlari ke tempat itu, sambil berteriak nyaring ia meloncat di antara mereka yang sedang sibuk menyobek tangkis batu itu. “Semua minggir. Cepat.”

Orang-orang yang sedang sibuk itu menjadi heran. Kenapa harus minggir. Bukankah mereka harus memecahkan tangkis batu itu ?

Tetapi segera mereka berloncatan ketika mereka melihat Arya Salaka berdiri tegak di atas satu kakinya, kakinya yang lain diangkatnya ke depan, satu tangannya menyilang dada, sedang tangan yang lain diangkatnya tinggi-tinggi seperti api yang menjilat-jilat ke udara itu. Dengan penuh tenaga dan kemampuannya, Arya berteriak nyaring sambil meloncat maju. Tangannya itu diayunkankan keras sekali. Dan, terdengarlah sebuah benturan yang dahsyat.

Aji Sasra Birawa menghantam tangkis itu. Maka pecahlah beberapa batu dan terlontar berserakan. Air dalam waduk itu bergolak, kemudian terlontar keluar lewat lubang yang dibuat oleh Arya Salaka. Suaranya bergemuruh seperti pasukan yang berbaris menyerbu musuh. Arya segera meloncat menghindari air itu. Demikian juga beberapa orang yang berdiri keheran-heranan melihat tandang anak muda itu.

Diantara mereka yang menjadi keheran-heranan adalah Ki Ageng Gajah Sora sendiri. Disamping harapannya yang tumbuh karena air yang melimpah itu, sehingga akan dapat mempengaruhi api yang sedang menyala-nyala itu, ia pun menjadi heran melihat tandang anaknya itu. Benar-benar diluar dugaannya. Sasra Birawa itu benar-benar mencengangkan.

Agaknya Arya dapat menerapkan ilmunya tidak saja untuk melawan musuh dan membinasakannya, namun kini mempergunakannya untuk keselamatan daerah Banyubiru dari bahaya api.

Air itu mengalir seperti seekor naga. Dengan cepatnya meluncur ke lerang. Beberapa orang sibuk membuat jalur-jalur untuk mengatur arahnya, sehingga dapat mencapai api yang sedang berkobar itu.

Lereng bukit Telamaya itu menjadi semakin ribut. Orang-orang berlarian kian kemari. Anak-anak yang ikut menebas batang-batang ilalang sudah menjadi ketakutan, karena api seakan siap untuk menerkam mereka. Namun air yang mengalir dari blumbang akan sekedar membantu mereka.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun ikut sibuk pula membantu mereka. Mereka berloncatan dengan pedang ditangan mereka, menebangi pohon-pohon perdu. Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar tertarik pada asap yang mengepul di udara. Dilihatnya asap yang bergulung-gulung kehitam-hitaman. Sesaat ia berdiri tegak mengamat-amati asap itu. Ketika ia menoleh ke arah Kebo Kanigara, maka Kebo Kanigara pun mengangguk. Dengan berlari-lari Mahesa Jenar pergi mendekatinya sambil berbisik, “Kakang, aku melihat asap minyak. Entahlah, apakah minyak kelapa, jarak atau minyak kelenteng. Tetapi aku melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya.”

“Aku berpikir demikian sejak tadi,” jawab Kebo Kanigara.

“Marilah kita lihat.” Jawab Mahesa Jenar.

“Aku ikut !” tiba-tiba suara kecil menyahut dibelakang mereka. Ketika mereka menoleh, mereka melihat Endang Widuri tersenyum. Sedang disampingnya berdiri Rara Wilis.

Sekali lagi Mahesa Jenar memandang berkeliling. Beratus-ratus orang sibuk bekerja dengan penuh tenaga.

“Tenaga kami tak sebrapa membantu disini, kakang.” Kata Mahesa Jenar, “Bagi kami, lebih penting melihat sumber kebakaran ini.”

Kebo Kanigara tidak menjawab. Denga tergesa-gesa ia melangkah ke arah kuda-kuda mereka tertambat. Mahesa Jenar, Endang Widuri dan Rara Wilis segera mengikutinya rapat dibelakangnya.

Sesaat kemudian empat ekor kuda menderu dengan lajunya. Tak seorangpun yang menaruh perhatian atas kuda-kuda itu, karena mereka sedang tenggelam dalam usaha menarik garis pemisah antara api dan tanah mereka.

Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, Rara Wilis dan Endang Widuri segera mencari jalan, melingkari api yang sedang menyala-nyala itu, menuju ke tempat asap hitam yang bergulung di udara.

“Dari tempat itulah aku kira api menyala,” kata Mahesa Jenar.

“Ya,” jawab Kebo Kanigara singkat. Kuda mereka berpacu terus. Semakin lama semakin cepat. Lidah api yang menjilat langit mengatasi sinar bulan muda yang makin condong di arah barat. Sekali-kali mereka harus meloncati jurang-jurang sempit dan dangkal, namun sekali-sekali kuda harus menyusur jalan setapak di lereng bukit. Api yang menyala-nyala itupun menjadi semakin luas.

Di ujung nyala, asap yang hitam masih berputar-putar di langit, meskipun sudah semakin tipis. Seorang yang bertubuh tegap dan berwajah tampan, berdiri bertolak pinggang. Cahaya api yang menyala-nyala di hadapannya agaknya sangat menarik perhatiannya. Bibirnya yang tipis, selalu membayangkan sebuah senyum yang menarik. Dari matanya yang redup memancarlah cahaya yang aneh. Meskipun bibirnya selalu tersenyum, namun betapa matanya membayangkan kebencian dan dendam sebesar bukit. Ketika orang itu melihat api yang semakin besar, maka sambil bertolak pinggang ia tertawa terbahak-bahak. Suaranya gemuruh memukul tebing-tebing pegunungan. Dari suara tertawanya itu terdengarlah ia berkata, “Musnahlah Banyubiru sekarang. Ternyata api itu menjalar terlampau cepat. Melampaui dugaanku semula. Apabila Banyubiru itu sudah menjadi abu, barulah puas hatiku. Dan barulah aku akan kembali ke Nusa Kambangan.”

Kembali suara tertawanya mengguntur. Namun tiba-tiba suara itu terputus, ia mendengar derap beberapa ekor kuda mendekatinya. Telinganya yang tajam segera dapat menduga, bahwa yang datang itu sedikitnya empat ekor kuda.

“Siapakah mereka ?” gumamnya, “Kalau yang datang itu cecurut-cecurut Banyubiru, maka mereka akan aku binasakan di dalam api. Tetapi bagaimana kalau Mahesa Jenar ?”

“Ah !” kata-katanya itu dibantahnya sendiri.

“Mahesa Jenar masih berada di Pimingit.” Meskipun demikian hatinya menjadi tidak enak.

Perlahan-lahan ia berjalan mendekati kudanya. Kemudian orang itupun meloncat ke punggung kudanya. “Lebih baik aku menyingkirkan siapa pun yang datang.” Dan segera kudanya itu pun dilarikannya. Tetapi mata Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang tajam itu bergerak menjauhi api.

“Itulah dia.” desis Mahesa Jenar dan dengan serta merta dengan pangkal kendali, kudanya dilecutnya habis-habisan, sehingga kuda itu berlari seperti gila. Disampingnya Kebo Kanigara pun mempercepat lari kudanya, sedang Endang Widuri menjadi gembira. Ia memang senang berpacu kuda. Tetapi Rara Wilis terpaksa semakin berhati-hati, sebab kudanya pun ikut berlari pula kencang-kencang. Tetapi kuda mereka tidak menjadi semakin dekat.

Tiba-tiba terdengar Widuri, yang berpacu dibelakang Kebo Kanigara berteriak nyaring, “Ayah, aku memotong jalan.”

Kebo Kanigara terkejut.

“Jangan !” jawabnya. Namun Widuri telah membelok, melalui padang ilalang. Ternyata Widuri memang mempunyai kecakapan naik kuda. Dengan lincahnya ia mengendalikan kudanya, memilih jalan yang memotong, meskipun sekali-sekali harus diloncatinya parit, ledokan batu padas dan gerumbul-gerumbul kecil.

Kebo Kanigara tidak tega membiarkan anaknya menempuh lapangan, perdu dan padas yang miring itu. Karena itu pun ia berpacu di belakang anaknya. Sedang Mahesa Jenar dan Rara Wilis tetap menempuh jalan semula, sebab mereka tidak mau buruannya kali ini lepas. Ternyata Widuri cakap memperhitungkan waktu. Ia berhasil memotong kejarannya beberapa langkah. Dengan satu loncatan panjang kudanya menjejakkan kakinya, lima langkah saja dihadapan kuda buruannya. Kuda Widuri itu masih maju lagi beberapa depa sebelum ia berhasil menghentikannya. Namun kehadirannya yang tiba-tiba itu telah mengejutkan kuda buruannya, sehingga kuda itu meloncat berdiri di atas kaki belakangnya dan meringkik-ringkik. Penunggangnya berusaha untuk menguasainya. Ternyata penunggangnya itu benar-benar cakap, sehingga sejenak kemudian kembali ke arah yang dapat dikuasainya dan dipacunya untuk berlari ke arah yang berlawanan.

Namun sekali lagi ia terpaksa menarik kekang kudanya, sebab dilihatnya dekat dibelakangnya dua orang lain yang sudah memperlambat kuda-kuda mereka. Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Akhirnya orang berkuda itu tidak dapat melepaskan dirinya lagi. Di sekelilingnya duduk tegak di atas punggung kuda, Kebo Kanigara, Endang Widuri, Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Namun meskipun demikian, orang itu masih tersenyum, senyum iblis.

Berdirilah segera bulu kuduk Rara Wilis melihat senyum itu. Ia sebenarnya tidak takut menghadapinya, tetapi perasaan aneh selalu menyentuh-nyentuh hatinya apabila melihat wajah itu. Jangankan melihat dan berhadapan muka, sedang mengenang senyum itu saja pun hatinya berdebar-debar. Sesaat suasana menjadi sepi. Nyala api dikejauhan jatuh di atas tubuh-tubuh mereka mewarnai wajah mereka dengan warna-warna merah yang bergerak-gerak. Dan dalam kesepian itu terdengar Mahesa Jenar menggeram,”Kau agaknya Jaka Soka?”

Orang berkuda itu, yang tidak lain adalah Jaka Soka menarik senyumnya lebih lebar lagi. Jawabnya “Ya,kenapa?”

“Kau tahu akibatnya dari perbuatanmu itu?” tanya Mahesa Jenar. Jaka Soka tertawa, katanya, “Aku tahu pasti. Banybiru akan musnah.”

“Orang-orang yang tak tahu apa-apa pun akan menderita karenanya. Perempuan dan anak-anak.” Desak Mahesa Jenar.

“Aku tahu pasti,” sahut Jaka Soka, “Dan itulah tujuanku”.

“Juga perempuan dan anak-anak?” potong Endang Widuri. “Ya. Semua yang hidup diatasnya,” jawab Jaka Soka.

“Setan,” desis Widuri. Sekali lagi Jaka Soka tertawa, katanya, “Apa pedulimu terhadap perempuan dan anak-anak Banyubiru? Aku sama sekali tidak berkepentingan dengan mereka. Dan kini aku telah menyaksikan pertunjukan yang mengasikkkan. Perempuan dan anak-anak Banyubiru menangis melolong-lolong ketakutan”.

Sekali lagi suara tertawa Ular Laut itu menggetarkan udara lembah yang lembab namun panas itu. Panas karena nyala api di lereng bukit Telamaya, panas karena hati yang terbakar oleh kemarahan.

“Kau salah sangka,” terdengar suara Kebo Kanigara datar. “Perempuan dan anak-anak di Banyubiru tidak menangis dan melolong-lolong dan berlari kian kemari. Tetapi mereka sedang bekerja keras menebang batang-batang ilalang untuk menghentikan apimu yang menyala-nyala itu.”

Jaka Soka mengerutkan keningnya. Seleret pandang, tampaklah wajahnya menjadi kecewa. Tetapi kemudian sekali lagi tertawa, “Kau bermimpi agaknya, perempuan dan anak-anak sekarang sedang menangis dan putus asa.”

“Kau sedang berusaha memuaskan hatimu sendiri dengan angan-anganmu,” sahut Kebo Kanigara. Sekali wajah itu menjadi tegang. “Nah, sekarang ikut kami. Mintalah ma’af kepada rakyat Banyubiru,” kata Mahesa Jenar.

Mendengar kata-kata itu tiba-tiba Jaka Soka tertawa nyaring, jawabnya, “Sejak kapan kau menjadi pengecut Mahesa Jenar? Kau tidak berani menangkap sendiri, bahkan berempat. Kau coba membujuk aku nanti beramai-ramai menangkap bersama-sama laskar Banyubiru.”

Mahesa Jenar menarik napas. Kata-kata itu benar-benar menusuk perasaannya. Namun ia sadar, bahwa kata-kata itu terlontar, karena kekerdilan Jaka Soka yang pasti sudah mengakui, ia akan dapat melawan. Jaka Soka sendiri mengetahui bahwa Mahesa Jenar telah berhasil membunuh Sima Rodra.

Belum lagi Mahesa Jenar menjawab, berkatalah Jaka Soka, “Atau kalian ingin menangkap aku hidup-hidup atas permintaan gadis ini?”

Hati Rara Wilis berdesir. Kata-kata itu benar-benar memuakkan. Apalagi ketika Jaka Soka meneruskan sambil tersenyum dengan mata yang redup, “Akhirnya kaulah yang mencari aku, Wilis.” “Jangan membual,” potong Rara Wilis. Suaranya bergetar karena marah.

Namun tiba-tiba terdengar Endang Widuri tertawa pula. Katanya, “Nah, kau benar paman Soka. Hampir tiap hari Bibi Wilis bermimpi tentang kau. Tentang seekor Ular Laut yang berwajah tampan.”

Semua orang menoleh ke arahnya. Dam semua mata memandangnya dengan tajam. Namun Widuri masih tertawa-tawa saja sambil berkata terus, “Adakah kau juga bermimpi tentang bibi Wilis, paman yang baik?”

Jaka Soka kini tidak lagi tersenyum. Ia memandang gadis itu dengan tajamnya, seakan-akan biji matanya hendak melontar keluar. Tetapi kata-kata Widuri meluncur terus, “Alangkah indahnya bulan di awan. Alangkah tampannya Ular Laut dari Nusakambangan. He, paman. Tidak saja bibi Wilis tergila-gila padamu. Akupun juga tidak pernah melupakanmu. Sayang, rakyat Banyubiru sedang mencari tumbal untuk memperbaiki tangkis yang pecah, karena airnya dialirkan untuk memadamkan apimu. Dan tumbal itu adalah Ular Laut yang berwajah tampan. Sehingga mimpi kami berdua tentang Paman Soka tak akan pernah kami alami lagi.”

“Tutup mulutmu !” bentak Jaka Soka marah.

Namun sekarang Widuri lah yang tersenyum. Jawabnya, “Jangan marah, Paman. Paman lebih tampan kalau Paman sedang tersenyum dan memandang Bibi dengan mata yang redup.”

“GILA KAU!” bentak Jaka Soka dengan marahnya. Tetapi ia sadar bahwa ia berada di antara empat kekuatan yang tak akan berlawan. Widuri masih tertawa. Bahkan tertawanya menjadi berkepanjangan. Ternyata Jaka Soka yang mencoba membuat Rara Wilis marah menjadi marah sendiri. Katanya kemudian, “Nah, seharusnya Paman Jaka Soka yang disebut Ular Laut dari Nusakambangan menjadi bergembira. Bukankah akhirnya Bibi Wilis yang mencari Paman?”

Jaka Soka menjadi benar-benar marah, sehingga tubuhnya bergetar. Ia tidak mau mendengar lagi gadis itu berkicau. Karena itu ia berteriak, “Mahesa Jenar, apakah maksudmu menyusul aku?”

“Jawabnya sudah kau ketahui, Jaka Soka,” jawab Mahesa Jenar.

“Ya!” sahut Jaka Soka, “Menangkap aku hidup atau mati.”

“Kurang tepat!” potong Mahesa Jenar, “Kami ingin membawa kau kepada rakyat Banyubiru. Mintalah maaf kepada mereka. Kau akan tetap hidup. Mungkin kau harus menjalani hukumanmu, tetapi kau tidak akan mati seperti seekor tikus di tangan kucing yang ganas.”

“Uh, kalian akan menghukum aku?” kata Jaka Soka, senyumnya tiba-tiba mulai menghias bibirnya kembali.

“Bukan kami,” sahut Mahesa Jenar, “Kami tak memiliki tempat-tempat untuk menghukum orang. Kalau perlu kau dapat kami titipkan ke Demak, dan di sana kau akan mendapat perlakuan yang baik.”

“Kau benar-benar seorang prajurit yang bijaksana, Mahesa Jenar. Kau berusaha menegakkan tatanan pemerintahan sebaik-baiknya,” kata Jaka Soka.

“Tetapi kau akan menyesal, apabila tatanan itu kau terapkan pada diriku. Sebab tak ada tempat untuk menyimpan aku hidup-hidup.”

“Hem!” Mahesa Jenar bergumam, “Jangan keras kepala.”

Kembali Ular Laut itu tertawa, “Sekarang katakan saja, apakah maksud kalian?” “Sudah kami jawab,” jawab Mahesa Jenar.

“O,” desis Jaka Soka, “Sekarang lakukanlah. Tangkaplah aku.”

“Jaka Soka,” kata Mahesa Jenar, “Sebenarnya kau tahu apa yang sedang kau lakukan itu. Bunuh diri. Lebih baik kau ubah putusanmu, sebab kau sekarang tinggal berdiri seorang diri. Tak ada lagi orang-orang dari golonganmu yang masih hidup selain kau. Karena itu kami tak membunuhmu.”

“Persetan dengan sesorah yang tak berarti itu,” potong Jaka Soka, “Ayo mulailah bersama-sama. Kalian akan aku penggal kepala kalian satu demi satu.”

“Ai!” teriak Widuri, “Bagaimana kami hidup tanpa kepala?”

“Kau yang pertama-tama!” teriak Jaka Soka marah.

“Jaka Soka,” kata Mahesa Jenar dengan suara yang datar dan berat. “Adakah itu keputusanmu?”

“Ya,” jawab Jaka Soka, “Aku tantang kalian berempat. Atau adakah di antara kalian yang berhati jantan? Bertempur seorang diri melawan aku untuk mewakili kalian?”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Ia tahu benar maksud Jaka Soka yang sedang berusaha mencari lubang-lubang untuk melepaskan diri. Bahkan kemudian Jaka Soka itu berkata, “Kalau kalian benar-benar jantan dan merasa diri kalian masing-masing berhati kesatria, kalian masing-masing pasti akan menolak untuk bertempur seorang lawan seorang, tidak seperti anak-anak cengeng yang hanya berani bertempur bersama-sama.”

Arah kata-kata Jaka Soka menjadi semakin jelas. Namun Mahesa Jenar membiarkannya berbicara terus. “Kalau demikian, akulah yang akan memilih lawan satu di antara kalian. Kesudahannya akan menjadi keputusan terakhir.”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Matanya kemudian hinggap ke wajah kedua gadis di antara mereka itu berganti-ganti. Jaka Soka ternyata benar-benar licik. Namun usulnya belum merupakan keputusan. Kebo Kanigara pun memaklumi maksudnya. Maksud yang keji. Ia akan menunjuk korbannya. Yang paling lemah di antara mereka berempat. Tetapi selagi mereka menimbang-nimbang, tiba-tiba terdengar Widuri menjawab dengan suaranya yang nyaring, “Adil. Itu sangat adil. Nah, pilihlah satu di antara kami.”

Semua terkejut mendengar jawaban itu. Widuri benar-benar gadis yang nakal. Usianya yang masih sangat muda masih mempengaruhi segala keputusan yang diambilnya. Hati Kebo Kanigara menjadi berdebar-debar. Ia tahu pikiran anak itu. Ia mengharap Jaka Soka akan memilihnya sebagai lawan. Apakah Widuri kini akan mampu melawan Ular Laut dengan tongkat hitamnya?.

Tiba-tiba Kebo Kanigara menarik nafas. Ia melihat Widuri sedang mengaitkan pada kalung rantai Cakra di satu ujung dan sebuah cincin bermata merah menyala-nyala di ujung yang lain, Kelabang Sayuta. (Bersambung)-

Sumbangan naskah dari Budi Brotoseno, E-mail : brotosen@indo.net.id PT.Bharinto Ekatama, E-mail : bharinto@cbn.net.id Phone : 021-527 2849 Fax.021-527 2851

”GILA KAU!” bentak Jaka Soka dengan marahnya. Tetapi ia sadar bahwa ia berada di antara empat kekuatan yang tak akan berlawan.

Widuri masih tertawa. Bahkan tertawanya menjadi berkepanjangan. Ternyata Jaka Soka yang mencoba membuat Rara Wilis marah menjadi marah sendiri. Katanya kemudian, ”Nah, seharusnya Paman Jaka Soka yang disebut Ular Laut dari Nusakambangan menjadi bergembira. Bukankah akhirnya Bibi Wilis yang mencari Paman?”

Jaka Soka menjadi benar-benar marah, sehingga tubuhnya bergetar. Ia tidak mau mendengar lagi gadis itu berkicau. Karena itu ia berteriak, ”Mahesa Jenar, apakah maksudmu menyusul aku?”

”Jawabnya sudah kau ketahui, Jaka Soka,” jawab Mahesa Jenar.

”Ya!” sahut Jaka Soka, ”Menangkap aku hidup atau mati.”

”Kurang tepat!” potong Mahesa Jenar, ”Kami ingin membawa kau kepada rakyat Banyubiru. Mintalah maaf kepada mereka. Kau akan tetap hidup. Mungkin kau harus menjalani hukumanmu, tetapi kau tidak akan mati seperti seekor tikus di tangan kucing yang ganas.”

”Uh, kalian akan menghukum aku?” kata Jaka Soka, senyumnya tiba-tiba mulai menghias bibirnya kembali.

”Bukan kami,” sahut Mahesa Jenar, ”Kami tak memiliki tempat-tempat untuk menghukum orang. Kalau perlu kau dapat kami titipkan ke Demak, dan di sana kau akan mendapat perlakuan yang baik.”

”Kau benar-benar seorang prajurit yang bijaksana, Mahesa Jenar. Kau berusaha menegakkan tatanan pemerintahan sebaik-baiknya,” kata Jaka Soka. ”Tetapi kau akan menyesal, apabila tatanan itu kau terapkan pada diriku. Sebab tak ada tempat untuk menyimpan aku hidup-hidup.”

”Hem!” Mahesa Jenar bergumam, ”Jangan keras kepala.”

Kembali Ular Laut itu tertawa, ”Sekarang katakan saja, apakah maksud kalian?”

”Sudah kami jawab,” jawab Mahesa Jenar.

”O,” desis Jaka Soka, ”Sekarang lakukanlah. Tangkaplah aku.”

”Jaka Soka,” kata Mahesa Jenar, ”Sebenarnya kau tahu apa yang sedang kau lakukan itu. Bunuh diri. Lebih baik kau ubah putusanmu, sebab kau sekarang tinggal berdiri seorang diri. Tak ada lagi orang-orang dari golonganmu yang masih hidup selain kau. Karena itu kami tak membunuhmu.”

”Persetan dengan sesorah yang tak berarti itu,” potong Jaka Soka, ”Ayo mulailah bersama-sama. Kalian akan aku penggal kepala kalian satu demi satu.”

”Ai!” teriak Widuri, ”Bagaimana kami hidup tanpa kepala?”

”Kau yang pertama-tama!” teriak Jaka Soka marah.

”Jaka Soka,” kata Mahesa Jenar dengan suara yang datar dan berat. ”Adakah itu keputusanmu?”

”Ya,” jawab Jaka Soka, ”Aku tantang kalian berempat. Atau adakah di antara kalian yang berhati jantan? Bertempur seorang diri melawan aku untuk mewakili kalian?”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Ia tahu benar maksud Jaka Soka yang sedang berusaha mencari lubang-lubang untuk melepaskan diri. Bahkan kemudian Jaka Soka itu berkata, ”Kalau kalian benar-benar jantan dan merasa diri kalian masing-masing berhati kesatria, kalian masing-masing pasti akan menolak untuk bertempur seorang lawan seorang, tidak seperti anak-anak cengeng yang hanya berani bertempur bersama-sama.”

Arah kata-kata Jaka Soka menjadi semakin jelas. Namun Mahesa Jenar membiarkannya berbicara terus. ”Kalau demikian, akulah yang akan memilih lawan satu di antara kalian. Kesudahannya akan menjadi keputusan terakhir.”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Matanya kemudian hinggap ke wajah kedua gadis di antara mereka itu berganti-ganti. Jaka Soka ternyata benar-benar licik. Namun usulnya belum merupakan keputusan. Kebo Kanigara pun memaklumi maksudnya. Maksud yang keji. Ia akan menunjuk korbannya. Yang paling lemah di antara mereka berempat. Tetapi selagi mereka menimbang-nimbang, tiba-tiba terdengar Widuri menjawab dengan suaranya yang nyaring, ”Adil. Itu sangat adil. Nah, pilihlah satu di antara kami.”

Semua terkejut mendengar jawaban itu. Widuri benar-benar gadis yang nakal. Usianya yang masih sangat muda masih mempengaruhi segala keputusan yang diambilnya. Hati Kebo Kanigara menjadi berdebar-debar. Ia tahu pikiran anak itu. Ia mengharap Jaka Soka akan memilihnya sebagai lawan. Apakah Widuri kini akan mampu melawan Ular Laut dengan tongkat hitamnya?.

Tiba-tiba Kebo Kanigara menarik nafas. Ia melihat Widuri sedang mengaitkan pada kalung rantai Cakra di satu ujung dan sebuah cincin bermata merah menyala-nyala di ujung yang lain, Kelabang Sayuta.

TIBA-TIBA wajah gadis itu menjadi terkejut ketika Jaka Soka menyahut dengan gembira, “Keputusan telah jatuh. Baiklah aku memilih lawanku.”

Dengan lincahnya ia meloncat dari punggung kudanya. Kemudian berdiri tegak menghadap Rara Wilis sambil mengangguk dalam-dalam, “Kau akan mendapat kehormatan.”

“Gila!” teriak Widuri lantang.

“Aku telah memilih,” potong Jaka Soka. “Tetapi kau berkata bahwa akulah yang pertama-tama akan kau penggal lehernya,” bantah Widuri.

“Aku ubah keputusanku,” jawab Jaka Soka.

“Kami ubah keputusan kami,” sahut Widuri sambil meloncat turun dari kudanya pula, “Akulah lawanmu.” “Widuri!” Terdengar kemudian suara Rara Wilis perlahan-lahan, “Biarlah aku menerima pilihannya.” Widuri terhenti. Dipandangnya Rara Wilis dengan tajam. Sekali-kali matanya berkisar kepada Kebo Kanigara, ayahnya, dan kepada Mahesa Jenar. Terasalah betapa ia telah berbuat sesuatu kesalahan. Kalau terjadi sesuatu dengan Rara Wilis, maka dirinyalah sumber dari malapetaka itu. Apalagi ketika dilihatnya wajah-wajah Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar yang menjadi tegang.

“Ayah!” Tiba-tiba ia berteriak dan berlari memeluk kaki ayahnya.

“Bukankah Ayah dapat mencegahnya? Bunuh sajalah Ular Laut yang gila itu.”

Wajah Kebo Kanigara menjadi semakin tegang. Timbul juga di dalam benaknya maksud untuk mengakhiri ketegangan itu dengan membunuh saja Jaka Soka. Namun bagaimanakah tanggapan Rara Wilis? Adakah gadis itu tidak merasa direndahkan? Dalam pada itu terdengar Jaka Soka berkata, “Bagaimana? Apakah kalian akan bertempur bersama?”

“Tidak!” potong Rara Wilis tegas. “Aku akan mewakili.”

“Wilis,” terdengar suara Mahesa Jenar bergetar. Namun ia melihat gadis itu perlahan-lahan turun dari kudanya. Sekali-kali hatinya berdesir melihat senyum iblis di bibir Jaka Soka, namun kemudian bergolaklah darah Pandan Alas yang mengalir di dalam tubuhnya. Darah laki-laki jantan dari Gunung Kidul yang telah menyerahkan hidup matinya bagi ketentraman hidup sesama.

“Ha?” kata Jaka Soka, “Agaknya kau benar-benar gadis berhati jantan. Tetapi benarkah kau mau melawan aku?”

“Jangan banyak bicara,” sahut Rara Wilis, “Aku sudah siap.”

“Ha?” Jaka Soka berkata lagi, “Bagaimana dengan yang lain? Apakah kalian telah ikhlas melepaskan gadis yang cantik ini?” Mahesa Jenar menggeram. Tetapi ia masih duduk di atas punggung kudanya. Kemudian kepada Rara Wilis, Jaka Soka berkata, “Wilis, aku akan menurut perintahmu meskipun aku akan dihukum seumur hidupku atau dibunuh sekali pun asal kau bersedia menjadi istriku.”

“Gila!” teriak Widuri marah, “Kalau kau dihukum mati, apakah Bibi Wilis harus menjadi istri mayatmu?” “Tentu saja aku minta waktu,” sahut Jaka Soka, “Sebulan atau dua bulan sebelum aku naik ke tiang gantungan.”

“Aku sudah bersedia,” potong Wilis, “Jangan mengigau.”

“Sayang,” jawab Jaka Soka, “Setangkai bunga yang betapapun indahnya, apabila aku mendapat kesempatan untuk memiliki, lebih baik aku runtuhkan daun mahkotanya.”

“Mulailah,” potong Rara Wilis tidak sabar. Ia menjadi semakin muak melihat wajah itu. Widuri menjadi semakin berdebar-debar. Digoncang-goncangnya kaki ayahnya yang masih duduk di atas punggung kuda. “Ayah, bunuh sajalah iblis itu.”

Kebo Kanigara tidak bergerak. Ia tidak dapat berbuat sesuatu sedang Mahesa Jenar senditi tak berbuat sesuatu pula. Hanya hatinya sajalah yang seakan-akan meloncat mencekik Ular Laut yang licik itu.

TIBA-TIBA terdengar suara Mahesa Jenar berdesir, “Wilis. Kau dapat menolak pilihan itu.”

“Tidak Kakang,” jawab Rara Wilis, “Aku harus menjunjung tinggi nama perguruan Pandan Alas.”

“Itu semata-mata karena harga diri,” sahut Mahesa Jenar, “Tetapi persoalan Jaka Soka yang telah membakar lereng bukit Telamaya adalah jauh lebih luas dari harga diri seseorang.”

“Terserahlah, kalau ternyata kemudian aku telah dibinasakan olehnya,” jawab Wilis.

Sekali lagi Mahesa Jenar menggeram. Hatinya mengumpat-umpat atas kelicikan Jaka Soka. Yang dapat dilakukan hanyalah berdoa semoga Tuhan melindungi gadis yang telah menjadikan dirinya wakil untuk melawan Jaka Soka itu. Kini Jaka Soka telah berdiri berhadapan dengan Rara Wilis, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun tidak dapat tetap duduk di atas punggung kuda, karena itu segera mereka berloncatan turun. Sesaat kemudian, Jaka Soka dan Rara Wilis telah mencabut senjata masing-masing.

Pedang Jaka Soka yang lentur di tangan kanan, sedang wrangkanya, tongkat hitam di tangan kiri. Adapun di tangan Rara Wilis telah tergenggam sebilah pedang yang tipis.

“Nah, marilah,” desis Jaka Soka sambil tersenyum, “Selamanya aku menghormati perempuan.”

Rara Wilis tidak menjawab. Namun segera ia mulai menggerakkan pedangnya dengan ilmu pedang ajaran Ki Ageng Pandan Alas. Pedang itu seakan-akan selalu bergerak dan bergetar, sehingga untuk sesaat Jaka Soka menjadi bingung. Ia tidak dapat memperhitungkan kemana kira-kira ujung pedang itu akan mengarah.

Namun kemudian Ular Laut yang telah kenyang pahit getir pertempuran dan perkelahian di darat maupun di lautan itu menjadi gembira. Dengan lincahnya ia bergerak menyerang dengan sengitnya. Dan perkelahian itupun berkobar dengan dahsyatnya.

Pedang Jaka Soka bergerak dengan cepatnya, mematuk-matuk seperti beribu-ribu mulut ular yang menyerang dari segala arah, namun Wilis benar-benar seperti bunga Pudak. Bunga pandan yang dikelilingi oleh duri-duri yang tajam, sehingga beribu-ribu ular itu tak dapat mendekatinya. Jaka Soka murid Nagapasa itu kemudian menjadi heran akan keterampilan Rara Wilis. Seperti di Banyubiru beberapa waktu lampau, meksipun ia telah mengerahkan segenap kemampuannya namun murid Ki Ageng Pandan Alas itu dapat mengimbanginya. Sekali-kali bahkan serangan-serangan yang berbahaya hampir saja menyentuh tubuhnya. Tetapi Jaka Soka benar-benar licik. Ia dapat berbuat seperti iblis yang selicik-liciknya. Ketika usahanya tidak juga segera berhasil mendesak lawannya, maka dengan liciknya ia mempengaruhi perasaan lawannya. Ketika mereka terlibat dalam satu pergulatan yang sengit tiba-tiba berbisiklah Jaka Soka dengan tersenyum, “Wilis kau benar-benar gadis yang cantik.”

Hati Rara Wilis berdesir. Cepat ia meloncat surut. Nafasnya mengalir semakin cepat. Pengaruh kata-kata itu lebih dahsyat daripada tusukan pedang lawannya. Karena itu tubuhnya menjadi gemetar.

Meskipun kemarahannya menjadi semakin memuncak, namun ia tidak dapat melenyapkan jiwa kegadisannya. Ia menjadi ngeri mendengar kata-kata itu. Pada saat-saat yang demikian itulah Jaka Soka mengambil kesempatan. Dengan lincahnya ia meloncat menyerang. Untunglah Rara Wilis masih dapat menguasai dirinya sehingga ia masih sempat melihat serangan Ular Laut yang ganas itu. Maka sekali lagi pertempuran berkobar dengan sengitnya.

Tetapi kini Jaka Soka telah memiliki kunci kelemahan perasaan hati seorang gadis. Karena itu Ular Laut yang ganas itu menjadi semakin gembira. Ia ingin melihat betapa hancur hati Mahesa Jenar melihat gadis cantik yang telah merebut hatinya itu menjadi permainannya. Kelicikan hatinya, meyakinkan, bahwa Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Rara Wilis segera berpegang teguh pada sifat-sifat kejantanan mereka. Justru karena itulah, maka sifat-sifat itu merupakan sifat-sifat yang dapat dimanfaatkan oleh iblis yang licin itu.

Tetapi bagaimanakah dengan gadis kecil yang nakal itu? Kalau tiba-tiba ia menyerbunya, maka entahlah apakah ia masih dapat bertahan melawan keduanya. Namun ia mengharap bahwa Rara Wilis lah yang akan mencegahnya. Jaka Soka bertempur terus sambil tersenyum. Kadang-kadang meluncurlah dari bibirnya yang tipis itu, kata-kata lembut untuk meruntuhkan hati lawannya.

Kadang-kadang ia merayu dengan manisnya kadang-kadang memuji dengan mesranya.

Mahesa Jenar akhirnya melihat kelicikan itu. Dengan marahnya ia menggeram, ” Soka, kau telah berbuat curang.”

736

Jaka Soka masih tersenyum sambil menggerakkan pedangnya. Jawabnya “Aku berkata sebenarnya Mahesa Jenar, alangkah indahnya wajah yang bulat ini. Apalagi kau Wilis sedang bersungut-sungut. Benar-benar gila aku dibuatnya.”

Kata-kata itu benar-benar mempengaruhi perasaan Rara Wilis. Kemarahan, kebencian dan muak menjalari otaknya. Namun karena itu ia menjadi bingung. Bingung karena campur baur perasaan yang tak dapat dikendalikan.

“Kalau kau berbuat curang, aku pun tidak akan memperdulikan perjanjian kita lagi – sahut Mahesa Jenar – aku akan terjun dalam pertempuran.”

“Bagus”, jawab Jaka Soka “sejak semula aku telah mempersilahkan. Ternyata dugaanku benar, bahwa ajaran Pandan Alas tidak lebih dari pelajaran tari menari yang hanya dapat menumbuhkan perasaan kagum pada penarinya. Apalagi penari secantik Rara Wilis.”

“Gila”, geram Mahesa Jenar. Dadanya bergelora karena marah. Tetapi ia tidak berani berbuat dengan tergesa-gesa. Rara Wilis ternyata adalah seorang gadis yang mempunyai harga diri. Tetapi Rara Wilis kini benar-benar dipengaruhi oleh sifat-sifat kegadisannya. Karena itu beberapa kali ia terpaksa meloncat surut, menghindar dan menjauhi lawannya. Ia merasa betapa tangannya menjadi gemetar dan tubuhnya menjadi lemah. Berkali-kali berusaha untuk menegakkan kembali tekadnya bertempur mati-matian, namun perasaannya yang aneh selalu kembali membelit hati.

Jaka Soka melihat lawannya menjadi gelisah. Karena itu ia mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Ia mencoba untuk mempermainkan gadis itu, menghinanya dengan sentuhan-sentuhan pada tubuhnya dan kemudian melumpuhkannya.

Mahesa Jenar adalah orang yang terkenal dengan sifat-sifat keperwiraan serta kejantanannya. Ia selalu berusaha untuk menepati perjanjian-perjanjian yang telah dibuatnya langsung atau tidak langsung.

Namun kali ini perasaannya benar-benar diuji. Ia tidak dapat melihat peristiwa yang terjadi di muka hidungnya. Ia tidak dapat menyaksikan Rara Wilis, gadis yang telah mengikat hatinya itu mengalami perlakuan yang tidak adil. Karena itu hampir saja ia lupa diri.

Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu peristiwa yang dapat merubah keadaan itu. Lamat-lamat dibawah angin pegunungan terdengar suara tembang. Mengalun seirama dengan desir angin lembut membelai hati mereka yang sedang dicekam oleh ketegangan.

Tembang Dandang Gula, yang semakin lama menjadi semakin jelas. Segera Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Mula-mula ia tidak tahu apakah maksud suara tembang itu. Suara tembang yang tiba-tiba saja ada diantara keributan api yang membakar lereng pegunungan Telamaya, dan diantara perkelahian antara hidup dan mati.

Tetapi kemudian ia tersenyum dalam hati. Ia kenal suara itu baik-baik. Suara yang telah banyak menolongnya dalam berbagai keadaan. Pada saat-saat ia hampir dibinasakan oleh Pasingsingan di alas Tambak Baja maupun di Banyubiru.

Tiba-tiba terdengarlah Mahesa Jenar berkata lantang, “Kakang Kebo Kanigara, siapakah yang berlagu tembang Dandang Gula itu?”

Terdengar Kebo Kanigara menjawab lantang pula, “Paman Pandan Alas. Ternyata ia hadir disini.”

“Bagus”, sahut Mahesa Jenar, “Orang tua itu tidak terikat pada perjanjian antara kita dengan Ular Laut yang gila itu. Bukankah perguruan Pandan Alas hanya merupakan perguruan yang tak berharga. Tidak lebih dari perguruan tari dari tari-tarian yang menggairahkan. Alangkah lebih menggairahkan kalau gurunya itu yang menari disini.”

“Gila. Setan. Iblis”, tiba-tiba Jaka Soka mengumpat habis-habisan. “Apa kerja kambing tua itu disini?”

“Melihat muridnya menari”, tiba-tiba terdengar suara kecil.

Suara Endang Widuri. Selama ini urat syarafnya menjadi tegang setegang tali busur. Namun tiba-tiba kini telah mengendor dan gadis nakal itu telah dapat tersenyum pula. Karena suara tembang itu pula, maka keseimbangan perkelahian itu terpengaruh.

Tiba-tiba Rara Wilis menjadi seperti seorang yang menerima kekuatan baru. Kehadiran guru serta sekaligus kakeknya itu telah membangkitkan kebulatan tekadnya kembali. Suara tembang itu telah membantunya, menyingkirkan perasaan kegadisannya yang selama ini mengganggunya. Sebaliknya Jaka Sokalah yang kini menjadi gelisah. Ia sadar, bukan tidak sengaja Mahesa Jenar berteriak-teriak, bahwa orang orang tua itu tidak terikat dengan suatu perjanjian apapun. Karena itu, Jaka Soka menjadi cemas. Cemas akan kehadiran Pandan Alas.

PERTEMPURAN pun menjadi berubah.

Rara Wilis telah berhasil menguasai pedangnya dengan baik. Sekali-kali pedang itu menyambar dengan dahsyatnya kearah-arah yang berbahaya. Sedang Jaka Soka yang gelisah itu semakin kehilangan pengamatan atas pedang serta tongkat hitamnya. Demikianlah pertempuran itu berlangsung terus. Setapak demi setapak Rara Wilis mulai mendesak lawannya. Jaka Soka sekali-kali masih mencoba mempengaruhi perasaan lawannya, namun karena hatinya sendiri menjadi gelisah, maka usahanya tidak berhasil.

Kata-katanya menjadi janggal dan justru menjadikan Rara Wilis semakin teguh pada pendiriannya. Bahwa Ular Laut itu harus dibinasakan. Akhirnya terdengar Jaka Soka berteriak, “He, kalau kalian orang-orang jantan, suruh kambing jenggotan itu berhenti mengembik.”

Yang menjawab adalah Mahesa Jenar, “Tak ada sangkut paut antara kita dengan orang tua itu. Kita telah berjanji menyelesaikan persoalan kita sendiri. Sedang Ki Ageng Pandan Alas berdendang untuk melepaskan kegemarannya sendiri. Di tempat lain dan dalam persoalan lain.”

“Bohong,” sahut Jaka Soka yang menjadi semakin gelisah, “Pandan Alas telah mencoba mempengaruhi perasaanku. Menakut-nakuti dan mencoba melemahkan perlawananku.”

“Kenapa kau tiba-tiba menjadi takut?” sela Endang Widuri, “Bukankah kau sedang menonton tari-tarian yang menggairahkan.?”

Jaka Soka menggeretakkan giginya. Dipusatkannya panca inderanya untuk melawan Rara Wilis. Namun suara tembang yang dilontarkan dengan getaran indera yang kuat itu masih saja mengetuk-ngetuk hatinya. Karena itulah akhirnya dengan kemarahan yang meluap-luap Jaka Soka mengamuk sejadi-jadinya. Namun dengan demikian ia telah kehilangan sebagian dari pengamatan diri. Sedang lawannya perlahan-lahan telah berhasil menguasai keseimbangan perasaan sepenuhnya.

Maka akhirnya berlakulah segala kehendak Tuhan. Setiap kejahatan dan pengingkaran kepada firman-Nya pasti akan menerima hukumannya. Kali ini Rara Wilislah yang menjadi lantaran. Betapa dahsyat dan licinnya Ular Laut yang ganas itu, namun karena kegelisahan yang mengoncang-goncang dadanya maka ia telah kehilangan sebagian kegarangannya.

Demikianlah tiba-tiba saja ketika serangannya tak mengenai sasarannya, Rara Wilis meloncat maju. Dengan lincahnya pedang tipisnya terjulur lurus kearah lambung lawannya. Terasa ujung pedangnya menyentuh tubuh lawannya dan kemudian disusul dengan sebuah keluhan tertahan. Dan ketika pedang itu digerakkan mendatar, maka memancarlah darah dari perut Jaka Soka. Sebuah luka telah menganga.

Sesaat Jaka Soka tegak dengan wajah menyeringai menahan sakit. Tangannya menjadi gemetar dan kemudian kedua buah senjata dikedua tangannya itu terjatuh. Namun ia masih berdiri tegak dengan gagahnya. Bahkan akhirnya bibirnya yang tipis itu melukiskan sebuah senyum.

Senyum yang aneh, sedang dari matanya yang redup itu pun memancar sinar yang aneh. Dalam keadaan yang demikian itu ia masih mencoba melangkah maju mendekati Rara Wwilis. Bahkan terdengar dari sela-sela bibirnya yang gemetar kata-kata, “Wilis. Kau memang cantik.”

Rara Wilis menjadi ngeri melihat peristiwa itu, seakan-akan sesosok hantu berdiri di hadapannya, siap untuk menerkamnya. Karena itu tiba-tiba ia berteriak, “Pergi, pergi!”

Tetapi hantu itu tidak pergi. Dengan darah yang memancar dari lukanya, Jaka Soka masih berusaha melangkah maju. Senyumnya masih membayang di bibirnya yang tipis, sedang matanya yang redup masih juga memancarkan sinar yang menggelisahkan hati setiap gadis yang melihatnya. Bahkan ketika kengerian Jaka Soka maju setapak lagi, Rara Wilis tak dapat menahan kengerian hatinya.

Kembali terdengar ia berteriak, “Pergi, pergi. Jangan dekati aku.” Namun hantu itu masih tegak. Dan masih terdengar ia berkata diantara senyumnya, “Marilah Wilis. Jangan takut. Kau sangat cantik.”

Dan ketika setapak lagi Jaka Soka melangkah maju, tiba-tiba Rara Wilis memutar tubuhnya, dan dengan tak diduga oleh siapapun ia meloncat berlari sekencang-kencangnya menjahui hantu yang mengerikan itu. Ia sudah tidak sempat melihat Jaka Soka itu terhuyung-huyung dan kemudian jatuh tertelungkup.

“Wilis, Wilis,” Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang. Dengan suara yang lantang ia berteriak memanggil. Namun Rara Wilis berlari terus dan terus. Karena itu segera Mahesa Jenar berlari mengejarnya, “Wilis!” terdengarlah suara Mahesa Jenar memanggil, namun suara itu seakan-akan hilang ditelan lembah-lembah pegunungan. Sedang Rara Wilis seakan-akan tak mendengarnya. Tetapi langkah Mahesa Jenar lebih panjang daripadanya, sehingga kemudian Rara Wilis itu pun dapat disusulnya. Dengan tangannya yang kokoh kuat, Mahesa Jenar memegang pundaknya. Namun tiba-tiba Rara Wilis itu meronta-ronta sambil berteriak, “Lepaskan, lepaskan aku. Pergi, pergi ke asalmu.”

“Wilis,” bisik Mahesa Jenar.

“Aku tidak mau. Aku tidak mau!” teriak Rara Wilis semakin keras.

MAHESA JENAR sadar, bahwa segala ketakutan, kengerian yang disimpan di dalam dada gadis itu terhadap Jaka Soka kini meledak dengan dahsatnya. Karena itu sekali lagi ia mencoba menenangkannya. “Wilis. Tenanglah. Aku Mahesa Jenar”.

Nama itu benar-benar berpengaruh dihati Rara Wilis. Kini ia tidak meronta-ronta lagi. Dan ketika ia menoleh, dilihatnya laki-laki itu. Mahesa Jenar. Tiba-tiba Rara Wilis memutar tubuhnya dan dijatuhkannya kepalanya didada laki-laki itu. Tangisnya pecah seperti bendungan dihantam banjir. Dari sela-sela isak tangisnya terdengar suaranya gemetar. “Kakang aku takut”.

“Jangan takut.”

Kata-kata Itu bagi Rara Wilis seperti air sejuk yang menyiram tenggorokannya pada saat ia kehausan. Karena itulah maka tangisnya menjadi semakin keras. Dan kembali kata-katanya yang gemetar terdengar.

“Kakang, aku hampir gila dibuatnya”.

“Kini ia tidak akan menakut-nakuti lagi Wilis”, jawab Mahesa Jenar.

“Ia tidak mengejar aku ?” bertanya Rara Wilis.

“Ular Laut itu telah mati”. Jawab Mahesa Jenar.

“Mati ?” ulang Rara Wilis.”Siapakah yang membunuhnya ?”

“Kau. Pedangmu”, jawab Mahesa Jenar.

“Oh..” dan Rara Wilis menekankan kepalanya lebih rapat. Sesat mereka tenggelam ke dalam perasaan yang tidak menentu.

Tiba-tiba dada Rara Wilis menjadi lapang, selapang Rawa Pening yang terbentang jauh di bawah kaki mereka. Kini ia tidak akan dibayangi oleh senyum mengerikan dibibir Jaka Soka. Matanya yang redup tidak akan lagi menghentak-hentak dadanya. Memang sejak pertemuan yang pertama dengan Ular Laut itu dihutan Tambak Baya, ia tidak pernah dapat tenang apabila wajah yang selalu membayangkan senyum dibibir tipisnya serta sinar yang memancar dari matanya yang redup namun penuh nafsu itu membayang didalam angan-angannya. Dan kini orang yang mengerikan itu telah binasa.

Meskipun Lawa Ijo, sepasang Uling Rawa Pening dan segerombolannya nampaknya lebih garang dari Jaka Soka, namun bagi Rara Wilis, lebih baik ia harus berhadapan dengan wajah-wajah yang buas bengis itu, daripada wajah tampan yang memancarkan nafsu yang mengerikan. Lebih baik dadanya terbelah hancur dan mati daripada ia harus jatuh ke tangan Ular Laut dari Nusakambangan itu. Tetapi masa-masa yang mengerikan itu telah lampau. Kini ia berada ditangan laki-laki tempat ia menyangkutkan harapannya dimasa datang. Karena itu alangkah sejuk perasaannya. Tanpa ketakutan, tanpa kengerian dan tanpa dendam.

Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Ketika matanya terdampar ke arah api yang masih menyala-nyala itu, terdengar ia bergumam.”Wilis, meskipun Jaka Soka telah binasa, namun bekas tangannya itu masih membahayakan Banyubiru”.

Rara Wilis kemudian terdampar dibumi kenyataan setelah angan-angannya melambung tinggi setinggi bintang-bintang dilangit. Seperti Mahesa Jenar, iapun dengan tajamnya memandang api yang menyala-nyala itu, “Bagaimana dengan api itu kakang ?”

“Marilah kita kembali”, ajak Mahesa Jenar. Rara Wilis mengangguk. Dan melangkahlah ia mendahului Mahesa Jenar kembali ketempat kuda-kuda. Dari kejauhan dilihatnya Kebo Kanigara dan Endang Widuri berdiri dengan tegang kaku. Disamping mereka, telah berdiri pula seorang lagi, Ki Ageng Pandan Alas. Ketika mereka melihat Rara Wilis berjalan kembali diiringkan oleh Mahesa Jenar, mereka menarik nafas dalam-dalam.

“Tidakkah kau mengalami sesuatu”, terdengar Ki Ageng Pandan Alas bertanya kepada cucunya. Rara Wilis menggelengkan kepalanya. Tetapi ketika terpandang olehnya mayat Jaka Soka yang menelungkup di muka kaki kakeknya. Ia memalingkan wajahnya. “Aku melihat semua yang terjadi disini”, berkata Ki Ageng Pandan Alas.

“Ketika aku datang bersama-sama Nyai Ageng Gajah Sora aku melihat kalian berkuda. Aku sudah mengira apa yang akan kalian lakukan, namun aku tidak segera dapat menyusul. Aku terpaksa menyerahkan Nyai Ageng dahulu kepada suaminya, baru aku menyusul kalian”.

Tetapi ketika aku melihat dikejauhan lima orang berkuda, aku menjadi curiga. Karena itu aku mendekatinya dengan diam-diam. Agaknya persoalan kalian demikian tegangnya, sehingga kalian tidak mendengar kehadiranku. Aku melihat kelicikan Jaka Soka yang mempengaruhi perasaan lawannya.Karena itu aku terpaksa berdendang lagu Dandang Gula.

“Suara eyang merdu sekali”, tiba-tiba Widuri menyela. Ki Ageng Pandan Alas tersenyum. Kemudian katanya”, lalu bagaimana dengan api itu ?

SERENTAK mereka menoleh kearah api dilereng bukit. Api itu masih menyala. Namun agaknya api itu tidak jauh maju. Bahkan dibeberapa bagian tampak, bahwa lidahnya tidak lagi menjilat langit.

“Api itu susut”, gumam Mahesa Jenar. “Mudah-mudahan usaha paman Wanamerta dan rakyat Banyubiru berhasil”, sahut Kebo Kanigara.

“Api itu tidak akan dapat menjalar terus”, sambung Widuri. “Tetapi api itu belum sampai didaerah yang dipisahkan oleh Rakyat Banyubiru itu”, sahut Mahesa Jenar.

“Marilah kita lihat”, berkata Ki Ageng Pandan Alas.

“Aku akan mengambil kudaku.” Sesaat kemudian mereka telah mengambil kuda masing-masing. Ki Ageng Pandan Alas pun kemudian meloncati padas-padas dilereng bukit itu, menyusup beberapa gerumbul untuk mengambil kudanya. Dan sesaat kemudian mereka berlima telah berpencar ke Banyubiru. Tetapi Mahesa Jenar yang berkuda dipaling depan, tiba-tiba berhenti. Katanya, “Paman Pandan Alas, api itu berhenti disini.”

Ki Ageng Pandan Alas dan Kebo Kanigara mengerutkan keningnya, “Ya, api itu berhenti disini.”

“Aneh,” desis mereka hampir bersamaan. Untuk sesaat mereka berhenti termangu-mangu. Api itu tidak menjalar terus keatas. Dikejauhan masih terdengar campur baur dari suara ranting-ranting yang terbakar dengan suara teriakan-teriakan orang-orang Banyubiru yang masih berusaha menarik garis batas antara daerah ilalang dan perdu yang dimakan api dengan pedukuhan mereka, dengan hutan-hutan getah dan hutan-hutan buah-buahan. Sekali-kali mereka masih melihat beberapa ekor kijang, babi hutan dan binatang-binatang lain berlari-lari meninggalkan daerah yang panas itu.

Tiba-tiba dada Mahesa Jenar terguncang dahsyat. Dalam bayangan cahaya api yang kemerah-merahan, ia melihat sesosok tubuh yang berdiri tegak diantara batang-batang ilalang. Demikian terkejutnya sehingga dengan serta merta ia berkata, “Kakang, kau lihat orang itu?”

Kebo Kanigara mengerutkan keningnya. Ia pun melihat bayangan itu. Ki Ageng Pandan Alas dan yang lain-lain pun akhirnya melihat pula.

“Siapakah dia?” Wilis bergumam. Tiba-tiba ia menjadi ngeri. “Pasti bukan Jaka Soka”, sahut kakeknya. Untuk sesaat mereka terdiam. Aneh. Seseorang berdiri diantara batang-batang ilalang yang sedang dimakan api. Kalau api itu menjalar terus, maka orang itu pun pasti akan menjadi abu pula. Namun agaknya api itu berhenti.

“Angin tidak bertiup lagi”, desis Mahesa Jenar. “Batang-batang ilalang itu belum kering benar”, sahut Kebo Kanigara. Tetapi Mahesa Jenar tidak puas dengan sangkaan-sangkaannya saja. Segera ia meloncat turun dari kudanya sambil berkata, “Akan aku dekati orang itu.”

“Tetapi kalau api itu menjalar”, Wilis mencoba untuk mencegahnya. “Tidak. Api itu benar-benar berhenti disini. Kalau tiba-tiba api itu bergerak, aku dapat berlari menjauhinya”, jawab Mahesa Jenar.

“Aku pergi bersamamu”, sahut Kebo Kanigara. “Kita pergi bersama-sama”, sambung Endang Widuri. Mahesa Jenar tidak dapat mencegah mereka. Segera yang lain pun berloncatan pula dari atas kuda mereka. Tetapi demikian mereka menginjakkan kaki mereka, terasa air memercik membasahi pakaian mereka.

“Air”, teriak Widuri. Baru Mahesa Jenar merasa, bahwa kakinya pun terendam air. Maka katanya, “Air dari blumbang yang dijebol.”

MEREKA diam. Perlahan-lahan mereka berjalan mendekati bayangan yang dilindungi oleh batang-batang ilalang. Cahaya yang kemerah-merahan bergerak-gerak dengan garangnya dan pancaran panasnya terasa meraba-raba tubuh mereka. Baru beberapa langkah mereka berjalan, peluh telah mengalir dari lubang-lubang di kulit mereka. Selain panas yang membelai wajah mereka, merekapun harus berhati-hati. Apakah orang itu salah seorang dari kawan Jaka Soka, atau orang lain yang belum mereka kenal. Mereka tidak tahu apakah maksud orang itu, berdiri menghadap api yang sedang marah. Semakin dekat, hati mereka semakin berdebar-debar. Ketika mereka kemudian dapat melihat orang itu, sekali lagi mereka terkejut. Orang itu adalah seorang tua yang berwajah tenang dan dalam dan mengenakan jubah putih.

“Panembahan Ismaya.” Hampir bersamaan kelima orang itu bergumam. “Ya, Panembahan Ismaya,” Kebo Kanigara menegaskan. Mereka menjadi yakin ketika orang tua itu menoleh ke arah mereka. Dan kemudian wajahnya yang dibayangi oleh cahaya api itu memancarkan sebuah senyum.

“Marilah, marilah mendekat,” katanya perlahan-lahan. Perlahan-lahan mereka berlima berjalan mendekati Panembahan Ismaya. Sambil membungkuk hormat Kebo Kanigara menyapanya,”Selamat malam, Panembahan.”

Panembahan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Marilah Datanglah kemari.” Mereka berlima melangkah lebih dekat lagi.

Dan sekali lagi mereka menekan gelora di dalam dada mereka, ketika mereka melihat bahwa Panembahan Ismaya memegang di kedua tangannya sepasang keris yang bercahaya. Bahkan demikian terguncang hati Mahesa Jenar, sehingga tanpa sengaja ia berdesis,

“Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.”

Rara Wilis dan Endang Widuri terkejut. Agaknya itulah keris-keris pusaka Kraton Demak yang menggemparkan itu. Sehingga tiba-tiba terdengarlah Widuri berkata, “Pantas, api itu berhenti disini.”

Panembahan Ismaya tertawa perlahan-lahan. Perlahan-lahan terdengar Panembahan itu berkata, “Aku sedang berusaha membantu rakyat Banyubiru.”

“Panembahan.” Terdengar Kebo Kanigara bertanya, “Apakah karena kedua keris itu maka api berhenti disini ?”

“Aku tidak tahu,” jawab Panembahan Ismaya, “Aku tidak tahu kenapa api itu berhenti. Apakah karena angin tidak bertiup lagi, apakah karena batang-batang ilalang disini masih jauh lebih basah daripada lereng-lereng di bagian bawah, ataukah karena air yang mengalir di bawah kaki kita ini. Atau karena kesaktian keris-keris ini. Atau karena semuanya. Tetapi yang jelas adalah Tuhan telah berkenan memenuhi permintaan rakyat Banyubiru. Api itu tidak membinasakan mereka, pedukuhan mereka dan sumber hidup mereka.”

Yang mendengar kata-kata itu menundukkan wajah mereka. Terasa betapa Maha Kuasanya Yang Maha Agung. Air, keris-keris itu dan segala usaha yang lain adalah pernyataan permohonan kepada Yang Maha Kuasa untuk menyelamatkan mereka. Dan Yang Maha Kuasa telah memenuhinya. “Api itu telah surut.”

Kembali terdengar Panembahan Ismaya berkata, “Mudah-mudahan sebentar lagi api akan dapat dikuasai dan menjadi padam.”

“Mudah-mudahan.” Sahut Kebo Kanigara. Kata-kata itu seperti demikian saja meloncat dari bibirnya. (bersambung)

KEMUDIAN kepada Mahesa Jenar, Panembahan Ismaya berkata, ”Sesudah ini Mahesa Jenar, pekerjaanmu akan segera selesai.”

Dada Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Dipandangnya api yang semakin lama semakin susut. Bahkan diujung lereng, api telah hampir padam sama sekali. Hanya merah-merah baranya yang masih tampak memecah kepekatan malam. Air di bawah kaki mereka masih mengalir terus, meskipun tidak sederas semula. Sejalan dengan itu api menjadi semakin suram. Sekali-kali terdengar suara rakyat Banyubiru berteriak-teriak, ”Api telah susut, api telah susut!” Dan sahut yang lain meninggi, ”Alirkan air dari segenap parit ke mari. Terus, jangan berhenti sebelum padam sama sekali.”

Panembahan Ismaya kemudian mengangkat kedua keris di tangannya, melampaui ubun-ubunnya dan kemudian menyarungkannya di warangkanya masing-masing. Wajahnya yang tenang, dalam, dan penuh ungkapan kedamaian itu masih memandangi sisa api yang memercik ke udara. Sekali masih tampak lidahnya menjilat tinggi, namun kemudian kembali surut. Kemudian Panembahan Ismaya memutar tubuhnya menghadap kepada kelima orang yang berdiri di sampingnya. Ketika ia melihat kehadiran Pandan Alas, Panembahan itu menyapanya, ”Ah, agaknya Ki Ageng Pandan Alas juga melihat api itu.”

Ki Ageng Pandan Alas mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab, ”Api itu benar-benar mengejutkan, Panembahan.”

”Tetapi sebentar lagi api itu akan padam,” jawab Panembahan Ismaya.

”Dan dengan demikian akan selesai pula kisah perantauan Rangga Tohjaya.”

”Apakah pekerjaanku sudah selesai Panembahan?” tanya Mahesa Jenar. ”Sudah, meskipun belum bulat,” jawab Panembahan Ismaya, ”Tetapi sisanya tak dapat kau lakukan sekarang, nanti atau seminggu dua minggu, atau sebulan atau dua bulan lagi.”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Apakah ia masih harus menunggu sampai waktu yang tak tertentu. Namun agaknya Panembahan tua itu mengerti gelora perasaannya, sehingga dengan senyum ia berkata, ”Meskipun demikian Mahesa Jenar, pekerjaan yang tersisa itu adalah pekerjaan yang semudah-mudahnya, sehingga kau tak usaha prihatin karenanya. Selama ini kau dapat melaksanakan segala rencana pribadimu.”

Mahesa Jenar menundukkan wajahnya, dan tiba-tiba wajah Rara Wilis pun menjadi kemerah-merahan. ”Apakah sisa pekerjaan itu, Panembahan?” tanya Mahesa Jenar untuk mengalihkan perhatian mereka. ”Menyerahkan keris-keris ini ke Demak,” jawab Panembahan Ismaya. ”Kenapa tidak besok, lusa bahkan seminggu dua minggu?” tanya Mahesa Jenar pula.

”Sudah aku katakan sebabnya,” sahut Panembahan tua itu. ”Dan sekarang aku menjadi semakin jelas menghadapi persoalan keris-keris ini. Aku telah bertemu dengan seorang Wali yang waskita, yang meramalkan bahwa seorang anak gembala akan merayap naik ke atas tahta. Kepada Wali yang bijaksana itu pun aku telah mengaku bahwa Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten ada padaku. Tetapi Wali itu berkata, ”Simpanlah dan serahkanlah ke Demak bersama-sama anak gembala itu.”

“Dan beruntunglah kau Kebo Kanigara bahwa anak gembala itu adalah kemenakanmu yang nakal itu.”

”Karebet?” sahut Kebo Kanigara.

”Ya,” jawab Panembahan Ismaya. ”Ia berada di sini sekarang, Penembahan,” kata Kebo Kanigara, ”Justru sedang dalam pembuangan karena ia melakukan kesalahan di istana.”

”Anak itu sekarang berada di rumah Ki Buyut,” jawab Panembahan Ismaya, ”Ia sedang membuat suatu rencana permainan yang mengasyikkan.”

”Apakah rencana itu?” desak Kebo Kanigara. Panembahan Ismaya menggeleng lemah, ”Aku tak tahu,” jawabnya. Namun tampak di wajah orang tua itu ia sedang merahasiakan sesuatu. Sesaat kemudian suasana menjadi hening. Yang terdengar adalah sisa-sisa api dan teriakan-teriakan orang-orang Banyubiru yang masih memenuhi lereng. Mereka agaknya belum puas sebelum mereka melihat api itu padam sama sekali.

Kemudian terdengar Panembahan Ismaya berkata, ”Kembalilah kepada mereka. Kalian akan dapat tidur nyenyak untuk seterusnya. Banyubiru akan pulih kembali. Gajah Sora telah berada di tempatnya, dan Lembu Sora telah meyakini kesalahannya. Bahkan anaknya satu-satunya telah menjadi korban.

Sedangkan kau Mahesa Jenar, keris yang kau cari telah kau ketemukan. Bahkan kau telah menemukan pula sebuah hati, hati yang setia dan teguh pada janji.” Sekali lagi wajah Mahesa Jenar terbanting ke tanah. Ketika ia mencuri pandang ke arah Rara Wilis, hatinya menjadi berdebar-debar. Dilihatnya setitik air mata menggantung di pelupuk gadis itu, berkilat-kilat karena cahaya api yang kemerah-merahan.

”KI AGENG,” tiba-tiba terdengar suara Panembahan Ismaya bersungguh- sungguh, ”Sungguh aku tak mengenal kesopanan, namun kesopanan-kesopanan itu akan dipenuhi kelak. Ki, aku tak sabar lagi menunggu saat yang telah sekian lama terendam di dada Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Baiklah aku mendahului segalanya, bahwa pada saatnya aku dan Kanigara akan bersedia mewakili keluarga Mahesa Jenar datang kepada Ki Ageng untuk melamar cucu Ki Ageng.”

”Oh!” Orangtua dari Gunungkidul itu mengangguk-angguk, ”Telah lama aku menyediakan diri untuk menerima lamaran itu.”

Kembali suasana menjadi sepi hening. Sekali lagi wajah Panembahan Ismaya menyapu api yang sudah hampir padam. Kemudian setelah menarik nafas panjang, Panembahan itu berkata, ”Marilah kita sowang-sowangan untuk sementara. Aku akan kembali ke Karang Tumirits. Kalian agaknya sudah ditunggu-tunggu oleh rakyat Banyubiru.”

Kemudian kepada Mahesa Jenar Penambahan berkata, ”Setiap saat kau dapat datang kepadaku bersama-sama dengan Kebo Kanigara. Dan setiap saat kau dapat mengajak aku ke Gunungkidul. Jangan terlalu lama menunggu. Sesudah itu, baru kau pikirkan bagaimana kau akan menyerahkan Karebet bersama Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, yang untuk sementara biarlah aku simpan dahulu.”

Mahesa Jenar mengangguk hormat. Jawabnya dengan penuh perasaan, ”Terimakasih Panembahan.” Kepada Ki Ageng Pandan Alas, Panembahan Ismaya berkata, ”Ki Ageng dapat menyediakan lembu, kambing dan ayam sejak sekarang. Kami akan segera datang.”

”Terimakasih. Terimakasih,” jawab Ki Ageng Pandan Alas sambil tertawa.

Panembahan tua itu akhirnya berjalan perlahan-lahan meninggalkan mereka. Sama sekali tidak menunjukkan kesaktiannya sebagaimana apabila ia sedang mengenakan jubah abu-abu dan rana di wajahnya. Ia tidak lebih dari seorang Panembahan tua yang berjalan tertatih-tatih di antara batang-batang ilalang dan batu-batu yang terendam air. Namun beberapa langkah kemudian Panembahan itu berhenti dan berkata kepada Mahesa Jenar, ”Tak perlu orang-orang lain mengetahui bahwa masalah Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten telah hampir mendapat pemecahan. Tak perlu kau berceritera tentang anak nakal itu kepada siapapun. Keris-keris itu kini tak usah kalian persoalkan lagi. Pada saatnya ia akan muncul kembali bersama-sama dengan Kyai Sangkelat yang kini telah berada di tangan Karebet. Dan kaulah salah seorang yang paling berjasa dalam usaha penemuan keris-keris itu. Satu- satunya orang selain kalian yang berada di sini, hanyalah Ki Ageng Gajah Sora yang boleh mendengarnya.”

Mahesa Jenar mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, ”Baik Panembahan.” ”Seluruh isi istana akan berterimakasih kepadamu.”

Panembahan itu bergumam perlahan-lahan, kemudian ia meneruskan perjalanannya kembali. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan orang-orang lain masih saja berdiri mematung, mengawasi punggung Panembahan Ismaya. Ketika mereka melihat orang tua itu menyusup alang-alang yang lebat, maka hati mereka terguncang. Apalagi mereka yang belum mengenal siapakah sebenarnya Panembahan tua itu.

Bahkan terdengarlah Widuri berbisik, ”Ayah, kasihan Panembahan. Tidakkah ayah mengantarkannya sampai ke Karang Tumaritis?”

Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar tersenyum di dalam hati. Gadis itu tidak akan berkata demikian seandainya ia tahu bahwa Panembahan Ismaya adalah Pasingsingan sepuh yang dahulu pernah bergelar Pangeran Buntara. Sebenarnya Ki Ageng Pandan Alas pun menjadi heran, bahwa Kebo Kanigara yang menjadi salah seorang putut-nya dan bernama Putut Karang Jati itu membiarkan orang setua Panembahan Ismaya menempuh perjalanan sendiri ke Karang Tumaritis. Jarak yang tidak terlalu dekat dari Banyubiru. Tetapi orang tua itu berpikir jauh. Kalau tak ada sesuatu sebab, pastilah Kebo Kanigara tak berbuat demikian. Dan bahkan Panembahan itu pasti akan minta kepada putut-nya untuk mengantarkannya.

”Ayah,” terdengar Endang Widuri mengulangi kata-katanya, ”Apakah Ayah tidak mengantarkannya?” ”Kasihan Panembahan,” desis Kebo Kanigara.

Kemudian kepada Widuri ia berkata, ”Antarkanlah, Widuri. Aku masih mempunyai kepentingan di Banyubiru. Aku akan tinggal di sini.”

Widuri mengerutkan keningnya.

”Kenapa aku?” ”Selain aku, kaulah orang yang terdekat,” jawab Kanigara.

”Emoh,” sahut Widuri sambil menggeleng.

”Kalau begitu, marilah kita pergi bersama mengantarkan Panembahan,” sambung ayahnya.

Widuri kemudian bersungut-sungut sambil menjawab, “Aku belum melihat Banyu Biru dalam suasana yang berbeda seperti kemarin.”

“Apa kepentinganmu disini?,” bertanya ayahnya.

Tiba-tiba Widuri terdiam. Apakah kepentingannya di Banyu Biru?. Terasa betapa beratnya meninggalkan tanah perdikan ini. Apakah karena bukit-bukitnya yang berjajar-jajar seperti benteng raksasa, apakah karena Rawa Pening yang berkilat memantulkan cahaya matahari disiang hari dan memantulkan cahaya bulan dan bintang-bintang dimalam hari?.

Tiba-tiba ia mendengar ayahnya tertawa. Widuri terkejut. Dan tahulah ia bahwa ayahnya tidak bersungguh sungguh menyuruhnya mengantarkan Panembahan Ismaya. Dan tahulah ia bahwa ayahnya sedang menggodanya.

Tiba-tiba wajahnya menjadi merah. Serta merta dicubitnya lengan ayahnya keras-keras
“Jangan Widuri,” ayahnya berdesis. Cubitan Widuri memang sakit. Tetapi justru karena itu, orang-orang lainpun mengetahuinya.
Bahkan kemudian Wilis menggodanya pula, “apakah di BanyuBiru ada yang mengikatmu Widuri?”.
“Ada,” sahut Widuri sambil memiringkan bibirnya.
“Siapa?,” desak Wilis.
“Jaka Soka,” jawabnya. Dan yang lainpun tertawa.
Sesaat kemudian Kebo Kanigara berkata, “Biarkanlah Panembahan Ismaya pulang sendiri. Tak akan ada bahaya yang mengancamnya. Dan kita, marilah kita temui Ki Ageng Gajah Sora.”
Seperti orang tersadar dari mimpi, mereka sekali-kali memandang kearah api yang hampir padam. Sesaat kemudian merekapun segera mendapatkan kuda-kuda mereka lalu meloncat ke punggungnya. Mereka kini tidak perlu berpacu lagi. Meskipun demikian kuda-kuda itupun berlari cukup cepat.
Banyak persoalan yang berputar-putar dikepala Rara Wilis dan bahkan didalam hati Ki Ageng Pandan Alas. Bagaimana kedua keris itu tiba-tiba saja ada di tangan Panembahan Ismaya. Mereka telah pernah mendengar cerita Mahesa Jenar, apalagi Ki Ageng Pandan Alas, sesaat setelah keris itu hilang, Mahesa Jenar dan Gajah Sora segera mendapatkannya di alun-alun Banyu Biru, dan mengatakan bahwa sepasang keris itu diambil oleh seseorang yang mengenakan jubah abu-abu, bahkan pada saat itu, Mahesa Jenar dan GajahSora menyangka bahwa orang itu adalah Pasingsingan.
Meskipun demikian, dengan bijaksana mereka akan menyimpan pertanyaan itu, sampai nanti pada saatnya, Mahesa Jenar pasti akan mengatakannya.
Beberapa saat kemudian, ketika Mahesa Jenar menoleh ke lereng bukit Telamaya, dilihatnya api sudah tidak berdaya lagi untuk merambat ke barat. Asap putih kemerahan masih tampak mengepul tinggi, kemudian pecah berserakan ditiup angin malam yang lemah. Sehelai helai asap itu masih nampak mengalir ke selatan menghantam bukit.
“Api telah padam,” desisnya.
Yang lainpun memandang sesaat ke lereng. Sebuah lapangan hitam merah menganga di kaki bukit Telamaya. Bekas-bekas api itu tampak seperti sebuah luka parah, yang menempel di tebing bukit.
Ketika mereka sudah mendaki lebih tinggi lagi, sampailah mereka ke tempat orang-orang Banyu Biru berkumpul setelah berjuang menebas perdu dan alang-alang serta membuat parit kelereng bukit.
Ketika Mahesa Jenar melihat Wanamerta tua berdiri bersandar tangkai pacul maka segera disapanya, “pekerjaan paman ternyata berhasil.”

Wanamerta menoleh. Sambil mengatur nafasnya ia menjawab, “Ah, bukan pekerjaanku. Pekerjaan kita semua.”
“Ya,” sahut Mahesa Jenar, “pekerjaan kita semua.”
“Dari manakah anakmas tadi?,” Wanamerta bertanya.
“Mengejar kelinci.”
“He,” Wanamerta heran.
“Aku telah menemukan sebab dari kebakaran ini”
“He” “Nanti aku ceritakan, dimana kakang Gajah Sora dan Arya Salaka?”
“Disana, disebelah timur,” jawab Wanamerta.
“Aku ingin menemuinya,” kata Mahesa Jenar sambil melangkah.
“Nanti dulu,” tiba-tiba Wanamerta berteriak, “Siapa?”
”KAKANG Gajah Sora,” jawab Mahesa Jenar.

”Gajah Sora. Gajah Sora?” orangtua yang gemuk itu bergumam, ”O…” tiba-tiba Wanamerta seperti disengat kelabang. ”Ya, tadi aku melihatnya. Tadi aku sudah bercakap-cakap dengan Ki Ageng.” Wanamerta mengingat-ingat, ”Tetapi, bukankah Ki Ageng berada di Demak?”

”Sudah pulang,” jawab Mahesa Jenar pendek. ”Ya, sudah pulang. Aku sudah melihatnya,” ulang Wanamerta. Dan tiba-tiba saja orang tua itu melemparkan paculnya. Dengan meloncat-loncat ia berlari kencang-kencang ke arah timur. Terdengarlah ia berteriak-teriak, ”He, Ki Ageng Gajah Sora telah kembali.”

Laskar Banyubiru yang baru saja datang dari Pamingit tidak terkejut. Mereka telah menemui kepala daerah yang mereka suyudi. Namun bagi mereka yang tinggal di Banyubiru, teriakan itu seakan-akan mengetuk-ngetuk hati mereka keras sekali. Mahesa Jenar dan kawan-kawannya pun segera mengikuti arah Ki Wanamerta. Menyusup di antara orang-orang Banyubiru yang masih berdiri di sana-sini dengan alat-alat di tangan mereka. Ketika Wanamerta melihat Ki Ageng Gajah Sora berdiri di samping Arya Salaka dan Nyai Ageng Gajah Sora, terdengarlah Wanamerta itu berteriak keras-keras, ”Angger, kau telah datang di antara kami.”

Dan sebelum Gajah Sora menjawab, orang tua itu telah menubruknya. Dirangkulnya Gajah Sora seperti memeluk anaknya yang telah hilang, dan kini ditemuinya kembali.

Gajah Sora terkejut, bahkan ia menjadi heran. Wanamerta telah melihatnya tadi. Tetapi ia berdiam diri dan membiarkan orang tua itu menangis terisah-isak. Ya, orang tua yang setia itu menangis. Di sela-sela tangisnya terdengar Wanamerta berkata, ”Aku telah melihat Angger tadi. Tetapi karena ketegangan urat syarafku, maka aku menyangka bahwa Angger sudah lama tidak berada di Banyubiru. Dan kini Angger telah kembali. Kembali seperti apa yang kami harapkan. Bahkan kami yakini, bahwa pada saatnya Angger akan kembali.”

”Terimakasih Paman,” jawab Gajah Sora. Perlahan-lahan Wanamerta melepaskan tangannya. Kemudian Gajah Sora itu pun diperkenalkan dengan Mantingan dan Wirasaba yang selama ini ikut serta membantu mereka, merasakan pahit getir bersama rakyat Banyubiru yang setia. Setia kepada cita-cita mereka, setia pada tanah mereka. Kini semua sudah lalu. Tak ada persoalan lagi antara Pamingit dan Banyubiru.

Tak ada persoalan lagi antara Banyubiru dan gerombolan-gerombolan liar yang dikemudikan oleh orang-orang sakti yang berilmu nasar. Sebab mereka telah dibinasakan oleh kekuatan-kekuatan yang dibenarkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Malam bertambah dalam juga. Api di lereng telah padam. Kini mereka sudah dapat beristirahat. Laskar yang datang dari Pamingit pun segera pulang ke rumah masing-masing. Menemui keluarga mereka untuk menyatakan keselamatan diri. Beberapa orang terpaksa berkabung karena kehilangan sanak kadang mereka. Namun mereka yakin bahwa arwah-arwah mereka itu akan diterima oleh Tuhan Yang Maha Pengasih. Sebab mereka gugur dalam perjuangan untuk menegakkan rasa cinta kasih sesama, rasa cinta kasih kepada Tuhannya. Yang akan datang adalah hari esok yang penuh dengan kerja. Memperbaiki tanggul yang jebol, menanami kembali lereng-lereng bukit yang gundul untuk menahan arus air hujan. Namun kerja itu akan dilakukan dengan hati yang cerah di hari-hari yang cerah pula. Ketika matahari pada keesokan harinya memancarkan cahayanya yang lembut menyentuh permukaan Rawa Pening, sibuklah orang-orang Banyubiru dengan kerja masing-masing. Wajah-wajah mereka yang riang menggambarkan isi hati mereka yang terang. Mereka telah merencanakan untuk menyelenggarakan suatu wiwahan sebagai pernyataan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Pengasih, yang telah melimpahkan cinta kasih-Nya kepada rakyat Banyubiru.

Di pendapa rumah Kepala Daerah Tanah Perdikan Banyubiru, berdirilah seorang anak muda yang gagah, berdada bidang, berwajah jernih. Ia kini tidak lagi mengenakan pakaian yang lungset kumal. Namun kini ia telah pantas disebut sebagai putra Kepala Daerah Perdikan Banyubiru. Dengan wajah yang cerah ia melihat betapa rakyatnya sibuk mempersiapkan hari yang akan mereka rayakan bersama. Beberapa orang memasang janur-janur kuning dan yang lain membuat obor-obor yang besar. Tiba-tiba hatinya bergetar ketika ia melihat seorang gadis duduk di tangga gandhok kulon. Gadis itu pun berwajah cerah secerah matahari. Tanpa disadarinya, selangkah demi selangkah ia pergi menemui gadis itu.

”Bukankah kau ingin melihat Rawa Pening?” ajak Arya Salaka.

GADIS itu tersenyum. Segera ia berdiri. Namun kemudian wajahnya menjadi kemerah-merahan. Sambil duduk kembali ia menggeleng, “Nanti Kakang, Ayah sedang mandi.”

“Kita pergi berdua,” ajak Arya Salaka. Widuri menggeleng. Tiba-tiba, ya tiba-tiba saja timbullah perasaan malu di dalam dadanya. Perasaan yang selama ini tak pernah mengganggu dirinya. Karena itu ia menjawab, “Aku menunggu Ayah.”

Arya Salaka menjadi heran. Gadis itu telah mengalami suatu perubahan di dalam dirinya. Tetapi Arya Salaka tidak mengetahuinya. Ia menyangka bahwa ayah gadis itu pun telah mengajaknya pula. Maka katanya, “Baiklah Widuri. Nanti aku datang kembali.”

Arya Salaka pun perlahan-lahan melangkah pergi. Kembali ia menemani kerja rakyatnya. Tak mengenal lelah. Perlambang dari kemauan mereka di hari-hari yang akan datang. Kerja keras untuk menyongsong hari-hari yang bahagia bagi anak cucu mereka. Gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja.

Sementara itu di gandhok wetan duduklah dalam satu lingkaran, Mahesa Jenar, Rara Wilis dan Ki Ageng Pandan Alas. Mahesa Jenar dalam kesempatan itu telah menceriterakan beberapa persoalan mengenai Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Sehingga akhirnya Ki Ageng Pandan Alas berkata sambil mengangguk- anggukkan kepalanya, “Baru sekarang aku menjadi jelas. Karena itulah Panembahan Ismaya berkata, bahwa pekerjaanmu sudah hampir selesai.”

“Ya, Paman,” jawab Mahesa Jenar.

“Pada suatu saat, Anakmas…” kata Ki Ageng pula, “Aku ingin juga pergi ke balik Gunung Gajah Mungkur itu. Tunjukkan kepadaku rumah orang yang bernama Paniling dan Darba, seperti yang Anakmas ceriterakan. Alangkah lucunya kalau aku melihat wajahnya. Persahabatan kami yang bertahun-tahun di masa lampau seperti persahabatan di dalam mimpi saja. Dan baru sekarang aku tahu bahwa Pasingsingan telah melampaui tiga masa.”

“Baiklah Ki Ageng,” jawab Mahesa Jenar, “Besok aku antarkan Ki Ageng ke Pudak Pungkuran.” Pembicaraan itu akhirnya terputus ketika mereka mendengar hiruk-pikuk di halaman.

“Mereka ingin merayakan hari yang cerah ini,” desis Rara Wilis.

“Aku akan melihat mereka,” kata Ki Ageng Pandan Alas sambil melangkah keluar. Tinggallah di dalam gandok itu Rara Wilis dan Mahesa Jenar. Untuk beberapa saat mereka terbungkam. Tak sepatah kata pun terlontar dari sela-sela bibir masing-masing. Bahkan kemudian terdengar nafas Rara Wilis semakin cepat mengalir. Akhirnya, setelah suasana gandok wetan itu hening sejenak, terdengarlah Mahesa Jenar berkata, “Adakah kau ingin kembali ke Gunung Kidul?”

Rara Wilis mengangguk lemah. Katanya, “Aku mempunyai beberapa keinginan, tetapi bukan akulah yang akan menentukan.”

“Kita tentukan bersama-sama,” jawab Mahesa Jenar. Rara Wilis tersenyum, katanya, “Terserahlah kepada Kakang.”

“Wilis,” tiba-tiba Mahesa Jenar berkata bersungguh-sungguh. “Aku akan selalu mendekati keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Bagaimanakah kalau kami kemudian untuk sementara tinggal bersama-sama Panembahan Ismaya di Karang Tumaritis sebelum aku menyerahkannya kembali ke Demak bersama-sama Jaka Tingkir?”

“Terserahlah kepada Kakang. Tempat itu menyenangkan juga. Tenang dan tentram.”

Kembali mereka terdiam. Namun di angan-angan mereka terancamlah harapan bagi masa depan mereka. Bukan karena mereka akan mendapat hadiah dan kedudukan, namun karena hati mereka yang telah bertemu dan berpadu, setelah sekian lama berjuang untuk mengabdikan diri mereka kepada tugas-tugas mereka.

No.746

MAHESA JENAR sama sekali tak mengharapkan bahwa kelak namanya akan dicantumkan di dalam rontal-rontal atau dipahatkan di dinding-dinding istana dan gapura-gapura.

Ia hanya mengharap, agar Demak kembali menemukan kekuatannya. Menemukan sipat kandel-nya. Sedang apa yang dilakukan adalah kewajiban yang seharusnya dilakukan. Sekali lagi menggemalah tekad di dalam dadanya, bahwa pengabdian tidaklah harus dilakukan di dekat dan sekitar istana. Di antara rakyat pun ia akan dapat melakukan pengabdian. Pengabdian bagi sesama dan pengabadian bagi Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Mahasa Besar yang telah menciptakan bumi, alam dan segenap isinya.

Tetapi Mahesa Jenar tidak dapat segera meninggalkan Banyubiru. Masih ada beberapa persoalan yang harus ditungguinya. Endang Widuri masih ingin tinggal lama lagi, dan

Kebo Kanigara masih harus menemui Mas Karebet. Namun hari-hari yang akan datang adalah hari-hari yang cerah. Hari yang cerah bagi Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Hari yang cerah bagi Banyubiru dan Pamingit. Hari-hari yang cerah pula bagi Arya Salaka dan Endang Widuri. Mahesa Jenar dan Rara Wilis tidak akan menunggu waktu terlalu lama. Sebab umur-umur mereka selalu merayap-rayap meninggalkan usia mereka. Tetapi di Banyubiru terasa menjadi semakin sepi. Mantingan dan Wirasaba harus kembali ke tempat masing-masing. Wirasaba harus kembali ke istrinya yang setia, sedang Mantingan harus kembali ke gurunya dan kepada pekerjaannya, Dalang.

”Kakang Mahesa Jenar,” kata Mantingan pada saat ia minta diri dari Banyubiru, ”Aku akan datang kembali menemui Kakang nanti apabila datang saatnya Kakang memerlukan aku. Mantingan sebagai seorang dalang. Bukankah akan nikmat sekali, apabila aku mendapat kehormatan untuk meramaikan perhelatan perkawinan Kakang? Aku akan membawakan ceritera yang paling menarik, Parta Krama”

Mahesa Jenar hanya dapat tersenyum menanggapi kata-kata Mantingan itu, sedang Rara Wilis menundukkan wajahnya yang kemerah-merahan. Namun Mahesa Jenar berjanji di dalam hatinya, bahwa ia akan menerima sumbangan itu kelak pada saatnya.

Dan Mantingan beserta Wirasaba itu pun kemudian meninggalkan Banyubiru, menuju ke timur, Prambanan. Banyubiru pun kemudian menjadi semakin sepi. Namun kesepian itu kemudian dipecahkan oleh hiruk-pikuk rakyatnya yang rajin. Kerja. Masih banyak yang harus mereka kerjakan untuk tanah perdikan mereka. Hanya dengan kerja, maka tanah mereka akan mencapai nilai-nilai yang mereka cita-citakan. Nilai kehidupan orang-perorang. Nilai kehidupan tanah perdikan keseluruhan. Sehingga karenanya tak ada tempat lagi bagi mereka untuk berselisih, bersitegang dengan kebenaran menurut tafsiran masing-masing, bersikeras hati mempertahankan pendapat-pendapat yang saling bertentangan. Yang ada kemudian adalah kerja, membanting tulang.

Kini mereka bermandi keringat bersama-sama, namun kelak mereka akan menuai bersama-sama. Sementara Mahesa Jenar menunggu di Banyubiru, maka Kebo Kanigara telah mulai dengan persoalannya sendiri.

Persoalan kemenakannya sangat menarik perhatiannya. Ceritera yang didengarnya dari Paningron dan Gajah Alit. Kemudian menurut Panembahan Ismaya, bahwa seorang Wali telah meramalkan hari depan yang gemilang buat anak nakal itu.

Namun kini, anak itu ternyata sedang disingkirkan oleh Sultan, karena pelanggaran-pelanggaran yang telah dibuatnya. Demikianlah maka kemudian Kebo Kanigara itu memerlukan menemui Karebet. Tidak di rumah Ki Buyut, tetapi mereka bersepakat untuk bertemu di ujung hutan perdu di lereng Bukit Telamaya, supaya setiap pembicaraan dapat mereka lakukan dengan tidak bersegan hati terhadap orang-orang lain yang mendengarnya.

Malam itu langit yang cerah ditandai oleh sepotong bulan muda. Kebo Kanigara duduk di atas sebuah batu padas, sedang Karebet dengan wajah yang tunduk duduk di hadapannya, seakan-akan seorang tertuduh yang sedang menunggu keputusan tentang dirinya.

”Karebet,” kata Kebo Kanigara perlahan. Karebet mengangat wajahnya sesaat, namun kemudian ditundukannya lagi.

Yang terdengar adalah suaranya parau, ”Ya, Paman.”

”AKU telah mendengar beberapa ceritera tentang dirimu diistana. Sehingga akhirnya kau terpaksa disingkirkan karenanya. Menurut para perwira yang datang ke Pamingit, kau telah membunuh seorang yang bernama Dadung Ngawuk hanya dengan sadak kinang. Namun, dari pancaran senyumnya aku dapat membaca bahwa bukan itulah yang telah kau lakukan. Nah, sekarang aku ingin tahu, apakah sebabnya kau diusir dari istana?”

Wajah Mas Karebet menjadi semakin dalam. Dadanya berdebar-debar semakin lama semakin cepat, sehingga kemudian mulutnya malahan menjadi serasa terbungkam.

”Katakanlah, Karebet,” desak Kebo Kanigara. Kembali Karebet terdiam. Dan kembali Kebo Kanigara mendesaknya, ”Apa yang terjadi?”

”Sikap putri Sultan terlalu baik kepadaku,” jawab Karebet terbata-bata.

”Lalu?”

”Aku pun bersikap baik kepadanya,” jawab Karebet

”Hanya itu?”

Karebet mengangguk, ”Ya.”

Karebet terkejut ketika pamannya membentaknya, ”Hanya itu?”

”Oh. Tidak Paman,” sahut Karebet cepat-cepat.

”Lalu?”

”Pergaulan kami menjadi semakin baik,” jawab Karebet, ”Mula-mula aku mengharapkan lebih dari itu. Tetapi ternyata perasaan kami masing-masing berkehendak lain. Tetapi ternyata Sultan tidak senang melihat pergaulan itu. Agaknya karena aku tidak lebih dari seorang lurah Tamtama pada waktu itu.”

”Kau tahu bahwa Sultan tidak berkenan di hatinya?”

Karebet mengangguk. ”Tetapi kesalahan itu masih kau lakukan?”

Karebet menjadi bingung. Tetapi ketika Kebo Kanigara mengulangi pertanyaannya, maka jawabnya, ”Ya. Tetapi bukan maksudku. Aku mencoba untuk menjauhinya. Tetapi setiap kali kami selalu bertemu. Aku dalam tugasku sebagai seorang tamtama, sedang putri Sultan itu, entahlah apa saja yang dilakukan di luar keputren.”

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mempercayai sebagai ceritera kemenakannya. Namun ia tahu pula sifat-sifat anak itu. Kemudian terdengar kemenakannya itu berkata pula, ”Kemudian akulah yang menerima akibat dari pergaulan kami itu. Sultan marah kepadaku. Sehingga akhirnya aku dipindahkannya.”

”Kau tidak mengatakan sebenarnya apa yang terjadi kepada Sultan?”

”Aku telah mencoba,” jawab Karebet, ”Tetapi ada orang ketiga yang berkepentingan dengan keputusan Sultan itu.”

Kebo Kanigara mengerutkan keningnya.

”Siapa?”

”Tumenggung Prabasemi.”

Kembali Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,”Apakah kepentingannya?” Pertanyaan itu telah menghanyutkan Mas Karebet itu ke dalam suatu kenangan yang pahit. Sesaat ia tidak dapat menjawab pertanyaan pamannya. Namun kemudian diceriterakannya apa saja yang pernah dialaminya. Satu-satu. Tak ada yang dilampauinya. Bahkan ceritera itu seakan-akan merupakan tuangan kekesalan hatinya, atas peristiwa yang tak diharap-harapkan.

”Aku tidak menyangka bahwa Tumenggung itu akan berbuat sampai sedemikian jauh,” kata Karebet. ”Kau kenal orang itu baik-baik?”

”Ya, aku kenal Tumenggung Prabasemi dengan baik. Seorang Tumenggung yang masih muda. Namun karena kesaktiannya, ia cepat dapat menempati tempatnya yang sekarang. Seorang perwira Tamtama yang gagah perkasa.”

”Apa yang sudah dilakukannya?”

Karebet terdiam sesaat. Dicobanya untuk mengingat-ingat peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi itu. Dan peristiwa-peristiwa itu seakan-akan kini terulang kembali. Peristiwa demi peristiwa. Mulai dari permulaan sekali.

Pada saat itu, pergaulan Karebet dengan putri Sultan itu belum diketahui oleh siapapun. Mereka masih dapat merahasiakan getaran-getaran perasaan mereka. Namun pada suatu ketika, masuklah orang yang bernama Tumenggung Prabasemi itu kedalam lingkaran pergaulan mereka, sejak Tumenggung itu pada suatu saat bertemu dengan puteri Sultan yang cantik itu. Karebet adalah bawahan Tumenggung Prabasemi yang paling menarik perhatiannya. Sehingga lurah Tamtama yang masih sangat muda itu, seakan-akan tak pernah terpisah daripadanya.

No.748

“KAREBET,” kata Tumenggung Prabasemi, “Kau adalah anak muda yang mempunyai kesempatan yang sangat baik. Kau adalah seorang tamtama yang dipungut dari anak-anak muda yang berterbaran disana sini langsung oleh Sultan sendiri. Sehingga dengan demikian, kesempatan yang kau dapat, jauh lebih besar dari setiap kesempatan yang ada pada kami. Hampir tak pernah salah seorang di antara kami yang mendapat panggilan langsung dari Sultan selain dalam tugas-tugas kami. Tetapi kau pernah mendapat kesempatan itu. Kesempatan yang berada di luar tata peraturan para tamtama.”

Karebet masih belum tahu, apakah sebenarnya yang akan dikatakan oleh Tumenggung Prabasemi. Karena itu ia menunggu saja sampai Tumenggung itu berkata, “Karebet. Adalah aneh, kalau aku beberapa hari yang lalu, untuk pertama kalinya melihat wajah putri bungsu Sultan. Sebelumnya aku memang pernah melihatnya. Namun sejak putri itu menginjak usia remajanya, dan kemudian mengalami pingitan, aku tidak pernah melihatnya lagi. Namun tiba-tiba aku mendapat kesempatan untuk memandang wajahnya. Wajah yang betapa cerahnya, sehingga aku menjadi silau karenanya.”

Dada mas Karebet berdesir mendengar kata-kata itu. Memang puteri Sultan itu demikian cantiknya. Namun apabila pujian itu keluar dari mulut seorang laki-laki, maka hati mas Karebet itu terasa seakan-akan meronta.

Ternyata kemudian Tumenggung Prabasemi berkata pula, “Barangkali aku telah menjadi gila, Karebet. Namun aku benar-benar ingin mendapat kesempatan yang lebih banyak untuk dapat memandang wajah itu. Kesempatan yang kedua aku dapat memandang wajahnya, adalah dua hari yang lampau. Ketika putri Sultan itu bermain-main di gerbang keputren.”

Kerebet menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab. Yang berkata seterusnya adalah Tumenggung itu, “Karebet, apakah kau pernah melihat putri itu pula?”

Dengan kaku Karebet menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya Ki Tumenggung. Aku pernah melihatnya.”

Tumenggung Prabasemi mengangguk sambil tersenyum, “Bagaimana menurut pendapatmu?”

“Tak ada kesan apapun padaku, Ki Tumenggung.”

Tumenggung itu tertawa. Katanya, “Alangkah bodohnya kau Karebet. Tetapi tak apalah. Mungkin tangkapanmu lebih baik daripada aku. Atau aku memang sudah betul-betul gila.”

Kemudian setelah diam sesaat ia berkata, “Apakah kau dapat menolong aku?”

Karebet mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah yang harus aku lakukan?”

“Karebet…”, kata Tumenggung itu dengan ragu-ragu, “Kalau sekali waktu kau dipanggil oleh Sultan, dan apabila kau lewat di muka gerbang Kaputren, serta kau lihat putri itu di sana, maka katakanlah, bahwa seorang Tumenggung menyampaikan sembah sujudnya untuk putri.”

Karebet menunggu Tumenggung itu berkata terus, namun kata-kata itu tak dilanjutkannya, sehingga Karebet itu bertanya, “Hanya itu saja?”

“Ya. Hanya itu. Katakan kepada puteri, bahwa Tumenggung Prabasemi sangat mengangumi kecantikan putri itu.”

Karebet mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian jawabnya, “Baik Ki Tumenggung. Tetapi bolehkah aku bertanya, apakah keuntungan Tumenggung dengan pesan itu?”

Tumenggung Prabasemi mengerutkan keningnya, kemudian ia tertawa, “Kau memang bodoh Karebet. Biarlah tak kau ketahui keuntunganku dengan pesan itu. Namun apabila pada suatu ketika kau mendapat pesan dari putri itu, sampaikan pesan itu kepadaku.”

Mas Karebet tersenyum. Katanya, “Aku memang bodoh. Tetapi aku tidak sebodoh seperti yang Ki Tumenggung sangka. Aku tahu maksud Ki Tumenggung. Tetapi, bukankah puteri itu putri Sultan.”

Prabasemi tersenyum, “Itulah. Mungkin aku benar-benar sudah menjadi gila. Tetapi apakah kau sangka bahwa seorang Tumenggung tidak boleh berkenalan dengan putri raja? Aku adalah Tumenggung yang mendapat kepercayaan Sultan dalam bidang keprajuritan. Apa salahnya, apabila pada suatu ketika aku mampu menaklukkan daerah pesisir wetanan, dan aku mendapat triman putri itu?”

“Mudah-mudahan,” jawab Karebet, “Dan Tumenggung akan mendapat gelar Pangeran. Pangeran Prabasemi.”

Prabasemi tertawa. Ia menjadi puas dengan angan-angannya. Ia mengharap Karebet akan memenuhi permintaannya. Dan ia mengharap putri itu pun telah pernah mendengar namanya dari Sultan sendiri, seorang Tumenggung, perwira Tamtama yang sakti. Bukankah dengan demikian, putri itu setidak-tidaknya ingin melihat wajah perwira yang sakti itu?.

TERNYATA yang dipesannya adalah seorang anak muda yang bernama Karebet. Seorang anak muda yang selalu menuruti perasaan sendiri, yang kadang-kadang terlalu aneh.

Demikianlah beberapa hari kemudian, Prabasemi itu berkata kepada Karebet, “Karebet, apakah kau sudah mendapat kesempatan itu?”

Mas Karebet tersenyum, jawabnya, “Sudah, Ki Tumenggung.”

“He…?” Ki Tumenggung sangat tertarik kepada jawaban itu. “Aku telah dipanggil oleh Baginda, kemarin,” kata Karebet. “Untuk apa?” “Memijit kaki Baginda. Bukankah aku pernah belajar memijit?” sahut Karebet. “Oh, pantas. Baginda sering memanggilmu,” kata Prabasemi. “Tetapi apakah kau sempat bertemu dengan putri?” Karebet mengangguk. “Ya, Ki Tumenggung,” jawab Karebet. “Tetapi aku tidak sempat menyampaikan pesan Ki Tumenggung.” “Gila,” gerutu Prabasemi dengan kecewa, “Kenapa?” “Aku tidak dapat mendekatinya,” sahut Karebet, “Putri itu hanya lewat di muka bilik pembaringan Baginda.” Prabasemi mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Karebet, lain kali kau harus berhasil. Kau akan mendapat hadiah yang pasti akan sangat menyenangkan bagimu.” “Apakah hadiah itu?” tanya Karebet. “Lembu, kerbau, uang atau apa?”

“Baik. Baik Ki Tumenggung,” jawab Karebet.

Dan sebenarnyalah beberapa hari kemudian Karebet itu datang kepada Ki Tumenggung Prabasemi. Sambil tersenyum ia berkata, “Ki Tumenggung, aku telah menghadap Sultan pula.”

“Memijit?” tanya Prabasemi.

“Ya. Aku memijit Sultan sehingga Sultan tertidur,” kata Karebet.

“Ah. Biarlah Baginda tertidur. Tetapi bagaimana dengan pesan itu?”

“Itulah yang akan aku katakan. Ketika Sultan tertidur, maka putri itu lewat pula di muka bilik pembaringan Sultan. Ternyata putri baru saja menghadap Ibunda dan akan kembali ke keputren bersama dua orang embannya.”

“Kau sampaikan pesan itu?”

Karebet menggeleng. “Tidak, Ki Tumenggung.”

“Gila!” teriaknya, “Apakah kau juga gila seperti aku, Karebet? Namun kau gila sebenarnya gila, sedang aku gila karena gadis itu.”

Karebet hanya tersenyum saja. Katanya, “Apakah Ki Tumenggung tidak keberatan seandainya kedua embannya itu mendengar?”

“Jangan. Jangan,” potongnya.

“Nah, itulah sebabnya,” sahut Karebet, “Lain kali akan aku coba.”

Tetapi beberapa hari kemudian Karebet menemui Prabasemi dengan wajah yang sedih. Prabasemi terkejut karenanya. Maka dengan tergesa-gesa terdengar ia berkata, “Bagaimanakah dengan pesan itu Karebet?”

Karebet masih tetap tepekur dengan wajah muram. Perlahan-lahan ia berkata, “Ki Tumenggung. Kali ini aku telah benar-benar dapat bertemu dengan putri.”

“Ha?” sahut Prabasemi, “Kau sampaikan pesan itu?”

“Ya,” jawab Karebet.

“Nah, ternyata kau tidak sebodoh yang aku sangka. Tetapi kenapa kau sedih?”

“Aku ditamparnya,” sahut Karebet.

“Siapa yang menampar?”

“Putri.”

“Benar?”

“Ya.”

“Oh!” Tiba-tiba Prabasemi berdesah, “Kau berkata sebenarnya?”

“Ya.”

“Lalu apa yang kau lakukan?”

“Aku hampir saja membalasnya.”

“He?” teriak Prabasemi, “Kau benar-benar gila. Apakah dengan demikian kau tidak menyadari, bahwa kau dapat dihukum, bahkan hukuman mati?”

“Hampir, Ki Tumenggung. Hampir. Tetapi tidak jadi.”

“Lalu apa yang kau lakukan?”

“Aku minta maaf atas kelancanganku, atas pesan yang aku sampaikan itu.”

“Lalu?” Prabasemi menjadi tidak sabar.

“Aku minta maaf atas kelancanganku, atas pesan yang aku sampaikan itu.”

“LALU?” Prabasemi menjadi tidak sabar.

“Putri memaafkan aku, dan putri juga minta maaf kepadaku.”

“He?” Prabasemi semakin terkejut, “Putri minta maaf kepadamu?”

“Ya,” sahut Karebet, “Dan putri memberikan pesan pula untuk Ki Tumenggung.”

“Jadi putri kenal aku?” tanya Prabasemi. Tetapi ia menjadi kecewa ketika Karebet menggeleng.

“Oh,” katanya, “Apakah putri belum pernah mendengar nama Prabasemi, perwira Tamtama yang sakti?”

Sekali lagi Karebet menggeleng. Jawabnya, “Putri menyangka bahwa yang bernama Prabasemi adalah seorang perwira Nara Manggala yang gemuk bulat.”

“Setan!” desis Prabasemi, Katanya, “perwira itu bernama Gajah Alit.”

“Atau yang beberapa tahun yang lampau meninggalkan istana? Tanya putri itu.” Karebet berkata seterusnya. “Ah demit itu. Tohjaya yang dimaksud?”

“Mungkin,” sahut Karebet.

“Apakah kau tidak mengatakan, bahwa Prabasemi dari kesatuan Wira Tamtama, bukan Nara Manggala, atau Manggala Sraja atau yang lain-lain?”

“Sudah, Ki Tumenggung. Aku sudah mengatakannya. Dan putri berpesan, agar Ki Tumenggung melupakannya. Melupakan putri itu. Sebab sebentar lagi putri itu sudah akan menginjak masa perkawinannya.?”

“Bohong!” bentak Tumenggung itu, “Putri itu bohong, atau kau yang bohong?”

“Aku tidak bohong Ki Tumenggung. Aku benar-benar pernah menghadap putri. Dan kalau Ki Tumenggung tidak percaya, inilah, aku dapat membuktikannya.”

Ki Tumenggung Prabasemi menarik keningnya. Ia melihat Karebet mengambil sesuatu dari ikat pinggangnya. Kemudian ditunjukkannya kepada Prabasemi. Dan inilah kesalahan Karebet yang terbesar, yang telah menjerumuskannya pada keadaan yang pahit. Sehingga akhirnya ia terpaksa diusir dari istana. Bahkan hampir saja jiwanya menjadi korban pula karenanya. Prabasemi itu menggigil ketika ia melihat di tangan Karebet tergenggam sekuntum bunga yang telah layu.

Tumenggung itu segera mengetahui maksud mas Karebet. Ia tahu pasti bahwa Karebet berbohong. Ia tahu pasti bahwa Karebet mengatakan kepadanya, bahwa harapannya itu tidak lebih daripada setangkai layoning kembang. Karena itu, Prabasemi itu menjadi marah. Wajahnya segera menjadi merah menyala, dan giginya gemeretak.

Karebet terkejut melihat akibat permainannya. Ia memang ingin bermain-main dengan Tumenggung itu. Tetapi ia tidak menyangka bahwa akibatnya akan sedemikian parahnya. Tumenggung yang marah itu dengan serta merta menarik bajunya sehingga tubuh Karebet hampir terangkat karenanya.

Dengan gemetar Prabasemi berkata, “Kau menghina aku Karebet?”

“Tidak Kiai, tidak,” sahut Karebet.

Tetapi mata Tumenggung Prabasemi benar-benar telah merah, semerah darah. Katanya pula, “Aku sangka kau adalah bawahanku yang paling setia. Tetapi ternyata kaulah yang pertama-tama menghina aku.”

“Bukan maksudku Ki Tumenggung. Aku hanya ingin memperingatkan Ki Tumenggung, bahwa gegayuhan itu terlalu jauh jangkauannya,” jawab Karebet.

“Persetan dengan mulutmu. Kau adalah bawahanku. Pangkatmu lebih rendah dari pangkatku, umur lebih muda dari umurku. Jangan menggurui aku.”

Karebet tidak menjawab. Ia tidak mau membuat Tumenggung itu menjadi semakin marah. Seandainya ia menjawab satu patah kata saja lagi, maka sudah pasti mulutnya akan ditampar oleh Tumenggung yang sudah lupa diri. Dan sudah pasti ia akan membalasnya. Namun untunglah bahwa Karebet berhasil menguasai dirinya.

Sejak saat itu, maka Prabasemi tak memerlukan Karebet lagi. Seandainya Karebet bukan seorang yang langsung diambil oleh Sultan dari pinggir blumbang, dan diserahkan kekesatuannya, maka Karebet itu pasti sudah dipecat, diusir bahkan sudah dibunuhnya. Tetapi Prabasemi itu masih takut, seandainya Sultan memerlukan anak itu.

Namun sejak itu, Prabasemi menjadi semakin gila. Ia ingin membuktikan bahwa suatu ketika ia akan berhasil menemui puteri Sultan itu dan berhasil memikatnya. Tumenggung bukan pangkat yang terlalu rendah. Dalam peperangan ia telah berhak untuk memegang jabatan panglima dalam laskar segelar sepapan. Dan ia yakin kesaktiannya akan ikut menentukan pula keadaan dirinya. Juga akan dapat menentukan apakah puteri Sultan itu akan menaruh perhatian akan dirinya atau tidak.

Prabasemi pernah mendengar juga nama-nama perwira yang pernah menggemparkan Demak. Seorang kawannya dari angkatan yang lebih tua, dari kesatuan Nara Manggala, bernama Gajah Alit tak kurang saktinya. Seorang lain dari panglima pasukan Demak yang berada di Bergota. Arya Palindih, adalah orang yang sakti.

“Tetapi apakah kau tidak dapat menyamai kesaktian mereka?” katanya dalam hati

Tetapi sebagai seorang perwira yang masih muda, ia hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk pergi bersama-sama dengan mereka yang mempunyai nama dalam keprajuritan Demak. Sehingga dengan demikian, maka Prabasemi itu belum pernah mendapat kesempatan untuk melihat atau memperlihatkan kesaktiannya masing-masing angkatan sebelumnya dan dirinya sendiri. Itulah agaknya yang menyebabkan Prabasemi haus pada kesempatan kesempatan demikian.
Perang merupakan lapangan permainan yang digemarinya, sekedar untuk mengukur diri. Tak pernah diperhatikannya, apakah akibat dari peperangan itu. Tak pernah terpikirkan olehnya, berapa orang yang gugur. Ia ingin namanya akan semakin menanjak keatas, merayap kesamping nama-nama yang pernah didengar sebelumnya.

Dengan demikian Prabasemi merupakan Perwira yang namanya dikenal karena tindakannya yang kasar. Setia persoalan yang betapapun kecilnya atas daerah wilayah Demak, bahkan daerah perdikan akan diselesaikan oleh Prabasemi dengan kekerasan. Dengan dalih yang dibuat-buat, Prabasemi selalu mengakhiri tugasnya dengan pertumpahan darah.

Ada anak buah yang senang dengan kebiasaan itu, namun ada yang membencinya. Karebet termasuk orang yang muak dengan perbuatan itu. tetapi sebagai seorang yang patuh pada ketetapan yang berlaku dalam lingkungan Wira Tamtama, maka tak banyak yang dapat ia lakukan. Dan sebenarnya untuk sementara Prabasemi mendapat sambutan baik dari atasannya. Seakan-akan semua tugas yang diserahkannya pasti dapat diselesaikannya.

Dan kini Prabasemi telah sampai pada tangga yang cukup tinggi. Tumenggung. Namun nafsunya yang berlebihan masih belum juga surut.

Bahkan kini ia terdorong dalam satu persoalan yang lebih gila lagi. Wajah puteri bungsu itu tak pernah dilupakannya. Dan ia bertekad untuk suatu ketika bertemu dengan gadis itu. Apa yang dilakukan Karebet ternyata telah mendorongnya ke sudut yang semakin gelap.

Tetapi sementara itu Karebetpun menjadi semakin gila. Sejak ia tahu Prabasemi kasmaran kepada puteri Sultan, sejak itu ia bertambah jauh tenggelam dalam permainan yang berbahaya. Sebenarnya ia mengatakan apa yang diketahuinya tentang Prabasemi kepada puteri itu. Namun puteri berkata kepadanya “terserah kepadamu Karebet.”

“Apakah artinya aku ini puteri,” kata Karebet
“Aku tidak lebih dari seorang Tamtama, sedangkan Prabasemi adalah Tumenggung sakti.”

Karebet hampir menjadi lupa diri ketika melihat puteri itu tersenyum sambil berkata, “Kalau akau mau Karebet, aku tidak hanya sekedar mendapatkan Tumenggung, tetapi aku akan mendapatkan seorang Bupati Nayaka atau seorang Adipati.”

Dada Karebet menjadi semakin berdebar-debar, “Kenapa puteri tidak mau?”

“Apakah kau menghendaki demikian?” bertanya puteri itu.

“Ah,” desah Karebet.
“Aku sedang berfikir, bagaimana cara sebaik-baiknya untuk bunuh diri.”

“Kenapa bunuh diri?”

“Aku tak sanggup melihat Puteri dipersandingkan. Mungkin dengan seorang Adipati, Pangeran dan dengan Tumenggung Prabasemi.”

“Jangan mengigau Karebet,” potong puteri itu.

Karebet tersenyum. Kemudian katanya, “lalu bagaimana aku harus mengatakan kepada Tumenggung yang gagah itu ?”

“Terserah kepadamu. Mungkin kau akan mengatakan kepadanya bahwa aku akan menerima lamarannya.”

Demikianlah Karebet semakin yakin akan dirinya. Ia tidak akan dapat disisihkan oleh Tumenggung yang dipenuhi segala macam nafsu itu.

TETAPI Tumenggung Prabasemipun tidak putus asa. Dihubunginya beberapa emban, disuapnya dengan uang, pakaian dan benda berharga lainnya. Dimintanya mereka menyampaikan beberapa pesan untuk puteri itu.

Namun usaha Tumenggung itupun sia-sia. Puteri Sultan Trenggana tak pernah memperhatikan pesan itu. Dan bahkan puteri selalu berpura-pura belum pernah mendengar nama Prabasemi. Dengan demikian Prabasemi semakin prihatin. Kadang bila pikiran jernih datang, maka disadarinya bahwa yang dilakukannya adalah laku seorang gila. Namun apabila dikenangnya wajah itu, maka pikiran gilanya kembali menguasai kepalanya.

Dan terjadilah suatu peristiwa. Peristiwa tak disangka-sangka oleh Prabasemi. Ketika pada suatu hari, seorang emban yang telah disuapnya berlari kepadanya.

“Ada apa ? Apakah puteri memanggil aku?”

Emban menggeleng, dan Tumenggung menjadi kecewa.

“Ki Tumenggung, aku tidak yakin usaha Ki Tumenggung akan berhasil”

Tumenggung Prabasemi membelalakkan matanya.

“Apa katamu?”

“Ki Tumenggung, seseorang telah mendahului menyentuh hati tuan puteri…”

“He, ” Prabasemi terkejut sekali sehingga terjingkat.

“Seseorang telah mendahului Ki Tumenggung”

“Bohong, aku juga pernah dibohongi demikian,” teriaknya

“Aku tidak bohong,” sahut emban.

“Apakah kau dapat mengatakannya, siapakah yang telah mendahului aku ?”

“Anak muda itu pernah datang ke keputren. Dan kali ini aku melihatnya sendiri.”

“Gila, apakah para prajurit Nara Menggala tidur semua ?”

“Anak muda itu selalu datang ke istana. Baginda sering memanggilnya, sehingga para Nara Manggala selalu melepaskannya untuk masuk ke mana saja yang disukainya.”

“Siapa dia ?”

“Aku tidak kenal namanya. Tetapi ia dari Wira Tamtama seperti Ki Tumenggung.”

“Gila, siapa dia ? He, siapa ?” wajah Tumenggung itu menjadi merah padam. Ia percaya kata-kata emban itu. Karena itu maka dadanya bergetar seperti seratus guntur meledak bersama-sama didalamnya. Emban tidak dapat menjawab. Memang ia tidak tahu siapakah nama anak muda itu. Namun ia dapat mengatakan, bahwa Baginda sering memanggilnya untuk memijat kakinya. Atau kadang-kadang anak muda itu diajak bermain panah, membidik sasaran-sasaran yang aneh-aneh. Dan bahkan bermain kecerdasan. Macanan atau mul-mulan dengan asyiknya. Mendengar keterangan emban itu, menggigilah tubuh Prabasemi. Dengan suara yang parau gemetar ia bertanya,”Apakah anak muda itu masih sangat muda ?”

“Ya,” jawab emban itu.

“Bertubuh tegap, berdada bidang ?”

“Ya.”

“Selalu tersenyum ?”

“ya.”

“Gila. Setan itu bernama Karebet ? Kau dengar ?” bentak Prabasemi.

Kini ia benar-benar kehilangan kesabarannya. Seandainya Karebet ada dihadapannya, maka sudah pasti ia akan berusaha membunuhnya. Tetapi yang ada kini adalah emban itu. Emban yang menggigil ketakutan.

“Kau lihat sekarang orang itu berada di keputren ?”

“Ya.” Emban itu mengangguk.

“Aku akan kesana. Aku bunuh anak itu,” teriak Prabasemi.

“Jangan Tuan,” pinta emban itu.

“Kenapa ?”

“Tuan, apakah Tuan mungkin melampaui penjagaan Nara Manggala seperti anak muda itu ?”

PRABASEMI menggeram. Ia tidak mempunyai wewenang apa pun untuk memasuki bagian dalam istana seperti Karebet. Kalau ia memaksa, maka ia akan berhadapan dengan Nara Manggala. Sedang kalau Nara Manggala itu dimintanya untuk menyergap kaputren beramai-ramai, maka Karebet pasti sempat melarikan diri. Dan apabila tidak ditemui bukti, maka Baginda pasti akan murka. Meskipun perasaan Prabasemi pada waktu itu seolah-olah sedang menyala, namun naluri keprajuritannya telah mencegahnya untuk bertindak. Karena itu, Tumenggung itu hanya bisa menggeram dan menghentak-hentakkan kakinya.

Dengan gemetar ia berdiri dan berjalan mondar-mandir sambil mengumpat, “Setan, Karebet itu. Seharusnya ia dibunuh.” Namun akhirnya Tumenggung itu pun berhenti mondar-mandir. Ditatapnya wajah emban yang ketakutan itu. Dan tiba-tiba Tumenggung Prabasemi tersenyum.

Emban yang ketakutan itu pun terkejut melihat perubahan sikap Prabasemi yang tiba-tiba itu. Namun ia tidak berani bertanya sesuatu. Bahkan ia menjadi semakin gelisah ketika kemudian Prabasemi itu berhenti beberapa langkah dihadapan emban yang duduk sambil menundukkan wajahnya.

“Emban…” katanya, “Sudahlah, biarlah Gusti Putri itu menuruti kehendak sendiri.”

Emban itu menjadi semakin heran. Sekali ia mengangkat wajahnya dengan sorot matanya yang penuh mengandung pertanyaan. “Namun putri itu pun harus mendapat pelajaran. Aku tak akan dapat berbuat apa pun untuknya. Karena itu Emban, apakah tidak sebaiknya melaporkannya kepada ibunda permaisuri apabila kau melihat anak muda itu datang kembali?”

Emban menggeleng, “Aku tidak berani tuan. Dan dengan demikian maka akibatnya pun akan jauh sekali. Mungkin putri akan dihukum didalam istana, dan mungkin anak muda itu dapat dihukum mati.” Prabasemi tertawa. Katanya, “Bukankah itu hukuman yang wajar?”

“Putri akan berduka.”

Prabasemi tertawa. Katanya seterusnya, “Jadi apakah sebaiknya dibiarkan saja perbuatan gila itu? Apakah dengan demikian kau sendiri tidak akan digantung kelak apabila kedua anak-anak muda itu terdorong kedalam keadaan yang makin parah?”

Emban itu terdiam. Kata-kata Prabasemi itu memang benar. Seandainya Gusti Putri itu terperosok dalam perbuatan yang lebih sesat lagi, maka dirinyapun akan mendapat hukuman pula beserta seluruh emban yang lain. Selagi ia sibuk menimbang-nimbang, emban itu terkejut ketika dipangkuannya jatuh sebentuk cincin emas yang berkilat-kilat. Dengan mulut ternganga ia menengadahkan wajahnya menatap wajah Prabasemi. Prabasemi itu masih tersenyum. Katanya, “Pakailah, supaya kau tidak lupa kepadaku. Dan supaya kau tidak lupa nasehatku. Sebaiknya kau laporkan peristiwa-peristiwa semacam itu. Bukankah tugasmu momong Gusti Putri? Dan bagiku Gustri Putri itu sama sekali sudah tidak menarik lagi sejak aku melihat kau.”

“Ah”, desis emban itu. Namun ia pun menjadi berbangga akan kata-kata Prabasemi itu. Bahkan tiba-tiba timbullah keinginan untuk benar-benar dikagumi oleh Tumenggung itu. Sehingga sambil mengerling emban itu berkata, “Tuan jangan berolok-olok.”

Prabasemi tertawa. Jawabnya, “Kenapa aku berolok-olok. Aku baru melihat putri itu dari kejauhan, sedang aku telah melihat kau dari dekat. Bukan baru sekali dua kali, tetapi karena kau sering datang kemari, aku telah melihat hampir seluruhnya yang ada padamu. Tingkah lakumu, sifat-sifatmu, senyummu.”

“Ah”, wajah emban itu menjadi kemerah-merahan. Namun ia menjadi semakin berbangga.

“Nah, lakukanlah pesanku itu”, berkata Prabasemi kemudian perlahan-lahan, “kau akan mendapat hadiah daripadaku. Lebih banyak dari yang sudah aku berikan. Biarlah seandainya putri itu mendapat pingitan yang lebih keras dari ibunda. Aku tidak peduli lagi, asalkan kautidak ikut dipingit pula.”

Emban itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia berjanji untuk melakukannya, “Ya Ki Tumenggung, akan aku beritahukan kepada Permaisuri apabila anak muda itu datang kembali.”

“Bagus, bagus”, sahut Prabasemi, “jangan tanggung-tanggung Rumah ini masih kosong.”

Dan emban itu pun berdesir. Tanpa dikehendakinya ia memandang berkeliling ruangan itu. Dilihatnya rumah Tumenggung yang masih muda itu dipenuhi dengan alat-alat rumah tangga yang bagus. Tempat duduk dari kayu berukir, geledek-geledek berukir dan tirai-tirai sutera dimuka sentong tengah dan kedua sentong samping. Bahkan tiang-tiangnya pun diukir pula dengan bagusnya dengan warna-warna sungging yang indah. Tanpa disadarinya pula emban itu tersenyum.

PRABASEMI membiarkan emban itu berangan-angan. Namun hati Tumenggung itu mengumpat, “Gila pula agaknya emban ini seperti aku. Apa disangkanya ia cukup bernilai untuk bermimpi menjadi istri Tumenggung?” Bibir Tumenggung itu membayangkan sebuah senyum. Dan senyumnya itu telah mendebarkan hati emban yang mabuk kesenangan. Ketika emban itu pergi. Prabasemi masih tersenyum-senyum sendiri. Ia mengharap emban yang telah membawa cincinnya itu memenuhi janjinya. “Apabila benar yang dikatakan itu,” Prabasemi bergumam sendiri, “Maka umur Karebet itu menjadi amat pendeknya. Kasihan. Tetapi ternyata ia lebih gila daripadaku.”

Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

SESAAT kemudian terdengar sapa halus dari dalam bilik itu, “Siapa?”

“Hamba, Gusti.”

“Emban?”

“Hamba, Gusti.”

“Kau mengetuk pintu?”

“Hamba, Gusti.”

“Ada sesuatu?”

“Ya Gusti, emban Gusti Putri ingin menghadap.”

“Oh.”

Dan sesaat kemudian terdengarlah gerit pintu bilik itu. Sebenarnya sinar lampu minyak memercik keluar. Dan Permaisuri itu telah berdiri di ambang pintu. “Siapakah yang ingin menghadap?”

Emban bercincin emas itu menyembah sambil berkata, “Hamba Gusti.” Namun terasa suaranya bergetar.

“Ada apakah? Apakah Putri sakit?”

“Tidak Gusti,” sahut emban itu. Suaranya menjadi semakin gemetar. Dan dengan terbata-bata ia berkata, “Gusti, Putri tidak sedang sakit, tetapi sedang….” Tiba-tiba suaranya seakan-akan tersumbat di kerongkongan.

“Sedang apa?” desak permaisuri.

Keringat dingin mengalir di seluruh wajah kulit emban yang bercincin emas itu. Ia menjadi bertambah gemetar ketika Permaisuri bertanya, “Apakah persoalan ini sangat penting sehingga kau harus menghadap malam ini?”

“Hamba, Gusti,” jawab emban itu.

“Membawa pesan Putri?”

Emban itu menggeleng, “Tidak Gusti.”

Permaisuri menjadi heran. Katanya, “Lalu apakah keperluanmu?”

“Gusti…” jawab emban itu tergagap. Sedang emban permeisuri itu pun tak kalah herannya. Kenapakah kawannya ini? Apakah agaknya ia diganggu oleh hantu-hantu pertamanan?

Dan terdengarlah emban bercincin emas itu meneruskan dengan kata-kata yang patah-patah. “Gusti. Ampunkanlah hamba. Tetapi sesungguhnyalah bahwa hamba mengatakannya yang sebenarnya. Hendaknya dijauhkannya hamba dari bebendhu.”

Emban itu berhenti sesaat, dan nafasnya menjadi semakin terengah-engah, sehingga permaisuri itu pun menjadi semakin heran.

“Tuanku,” kata emban itu pula, “Ampunkanlah hamba. Sebenarnya hamba ingin menghaturkan ketakutan hamba atas Tuan Putri di kaputeren.”

“Apa yang akan kau katakan, Emban” tanya Permaisuri.

“Gusti, betapa kami, para emban berusaha untuk mencegahnya, namun apakah kekuasaan kami?”

“Ya emban, tetapi kau belum mengatakan persoalannya.”

“Oh.” Emban itu menarik nafas. Dicobanya untuk mengatur perasaannya, baru kemudian ia berkata, “Sesungguhnya Gusti, di keputren Putri sedang menerima seorang tamu.”

Permaisuri itu terkejut sekali mendengar kata-kata emban itu. Maka katanya, “Menerima tamu, katamu? Siapakah tamunya?”

“Itulah yang menyedihkan kami, Gusti,” sahut emban itu, “Tamunya adalah seorang pria.”

Kali ini Permaisuri itu pun tersentak seperti disengat kala. Sesaat ia tak dapat berkata apapun. Bahkan tubuhnyalah yang menjadi gemetar, sehingga kemudian dipeganginya tiang-tiang pintu bilik itu.
Sesaat kemudian barulah Permaisuri dapat berkata, “Emban, apakah katamu benar?”

“Ya, Gusti.”

“Kau pernah melihat sendiri?”

“Ya, Gusti. Saat itu, tamu itu ada di petamanan. Karena itu hamba segera menghadap kemari.”

Putri itu kini mengigil seperti orang yang sedang sakit. Kemudian tanpa berkata apa pun lagi, segera ia masuk ke dalam biliknya. Membenahi pakaiannya dan sedikit menyisir rambutnya. Dengan tergesa-gesa pula ia berkata kepada embanya, “Emban, aku akan menghadap Baginda.”

Emban Permaisuri itu pun ikut mengigil pula. Kabar itu tak diduganya. Karena itu ia ragu-ragu sesaat, dan perlahan-lahan ia berbisik, “Apakah kau benar-benar melihatnya?”

Emban bercincin emas itu mengangguk. “Ya,” jawabnya.

Emban Permaisuri itu mengusap dadanya sendiri. Tak pernah terpikirkan, bahwa seorang putri raja akan mengalami masa-masa yang demikian mengerikan. Apakah kata Baginda nanti? Emban Permaisuri itu menjadi semakin mengigil karenanya. Sekali lagi ia berbisik, “Apakah kau pernah memperingatkannya, atau setidak-tidaknya menanyakannya kepada Putri?”

EMBAN bercincin emas itu menggeleng. “Belum, aku tidak berani.”

“Kenapa?” desak emban Permaisuri, “Bukankah kau pemomongnya? Adalah menjadi kewajibanmu untuk memberi peringatan kepada Putri apabila pada suatu saat Putri mengalami kegoncangan keseimbangan. Sebab bagaimanapun juga Putri itu pun manusia yang sering khilaf seperti kita.”

Emban bercincin emas itu terdiam. Dan terdengar emban permaisuri itu berkata, “Sekarang persoalan itu akan menjadikan seisi istana gempar. Mudah-mudahan tak banyak orang yang mengetahuinya.”

Emban Putri itu masih berdiam diri. Bahkan kemudian kepalanya ditundukkannya.

Sesaat kemudian Permaisuri telah selesai. Dengan tergesa-gesa ia berjalan keluar, menutup pintu dan kemudian berkata, “Kalian berdua ikut aku.”

Kedua emban itu pun menyembah. Mereka berjalan mengikuti Permaisuri ke bilik raja.

Di halaman, mereka berhenti, karena seorang peronda Nara Manggala menghentikan mereka. Dengan tombak di tangan, terdengar ia menyapa,

“Siapa?”

Emban Permaisuri menjawab, “Permaisuri.”

“Oh!” Peronda itu pun kemudian membungkukkan badannya dalam-dalam. Namun dari sorot matanya terpancar pula beberapa pertanyaan di dalam dadanya.
Kenapa Permaisuri memerlukan menghadap Baginda di malam yang dingin ini?
Tetapi ia tidak berani bertanya. Namun diikutinya dengan pandangan matanya, Permaisuri itu menuju ke pintu bilik peraduan Baginda.
Seperti Permaisuri, Baginda pun terkejut bukan buatan. Berita itu seakan-akan telah meledakkan seisi dadanya. Namun Baginda adalah seorang yang telah terlalu sering menghadapi bermacam-macam masalah yang sulit, mengejutkan dan bahkan mengkhawatirkan. Karena itu Baginda dapat lebih cepat menguasai perasaannya. Maka dengan tenang Baginda itu bertanya, “Kau melihatnya sendiri, Emban?”

“Hamba, Tuanku.”

Baginda itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Aku ingin membuktikannya.”

Permaisuri mengerutkan keningnya, katanya, “Apakah Baginda akan memerintahkan beberapa orang prajurit untuk menangkap mereka?”

Baginda menggeleng lemah, katanya, “Tidak. Aku ingin menyelesaikannya sendiri. Semakin banyak orang yang ikut serta menyaksikan masalah ini, makin cepat berita ini tersebar di seluruh Demak. Lalu apakah aku masih akan dapat melindungi nama Putri itu?”

“Lalu, bagaimanakah maksud Baginda?” tanya Permaisuri.

“Aku sendiri akan melihatnya.”

“Sendiri?” Permaisuri itu terkejut.

Baginda menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya. Kalau aku dapat menangkapnya sendiri, maka persoalan ini akan menjadi sangat terbatas.”

“Apakah itu tidak berbahaya?” tanya Putri.

“Hanya terhadap para penjahat aku akan menyerahkan persoalan kepada para peronda. Namun persoalan ini sangat berbeda. Aku tidak ingin orang lain mengetahuinya pula.”

“Tetapi apakah anak muda itu tidak berbahaya seperti para penjahat?”
Sultan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin. Karena itu aku bersenjata.”

Ternyata Permaisuri tidak dapat mencegahnya lagi. Baginda tidak bersedia memanggil, meskipun hanya seorang perwira Nara Manggala yang sedang bertugas malam itu. “Aku tidak dapat membayangkan apakah akibatnya seandainya seseorang dari mereka mengetahui peristiwa ini. Aku yakin bahwa peristiwa ini segera akan tersebar.”

“Tetapi Baginda dapat memberinya pesan untuk merahasiakannya.”

“Semakin banyak orang yang mengetahuinya, maka rahasia itu sudah bukan rahasia lagi. Dua orang emban ini sudah cukup banyak. Dan mereka harus menyimpan rahasia ini sekuat-kuatnya.”

Ternyata Permaisuri tidak dapat mencegah lagi. Baginda itu kemudian membenahi pakaiannya. Sebuah pusaka berbentuk keris terselip di pinggangnya. Kemudian katanya sambil tersenyum untuk menenangkan hati Permaisuri, “Aku adalah seorang Senapati Perang. Apakah aku tidak dapat bertempur seandainya keadaan memaksa?”

Permaisuri tidak menjawab. Namun wajahnya menjadi tegang.

“Aku melalui pintu butulan,” desis Baginda. “Kalian bertiga tetap di sini.”

Baginda itu pun kemudian keluar dari bilik peraduannya lewat pintu butulan dengan tidak mengenakan pakaian kerajaan. Dengan hati-hati Baginda menyelinap di antara batang-batang perdu di petanaman menuju ke keputren. Dari emban, Baginda telah mengetahui dimana mereka berdua, putrinya dan laki-laki itu berada.

SEBENARNYA Baginda bukan seorang raja yang hanya dapat duduk di atas Singgasana. Namun Baginda benar-benar seorang Panglima Perang. Baginda sendiri selalu berada di garis paling depan dalam peperangan-peperangan yang besar dan berbahaya. Karena itu, Baginda tidak saja dapat memberikan perintah-perintah untuk bertempur, namun Baginda sendiri selalu mengalaminya.

Demikianlah malam itu Baginda pun mampu melakukan pekerjaannya. Dengan hati-hati Baginda berhasil mendekati tempat putrinya yang sedang bercakap-cakap dengan seorang laki-laki. Ketika Baginda mendengar suara laki-laki itu meskipun perlahan-lahan, maka bergetarlah dada Baginda. “Gila, anak itu,” desahnya did alam hati. Langsung Baginda dapat mengetahuinya, siapakah yang sedang bercakap-cakap dengan putrinya itu.
Karena itu maka segera Baginda mendekati mereka. Setapak demi setapak semakin lama semakin dekat. Tetapi telinga Karebet adalah telinga yang baik. Tiba-tiba ia mengangkat wajahnya, dan tiba-tiba pula ia berbisik, “Seseorang mendekati kami.”

Putri yang belum mendengar sesuatu itu menjadi heran. Dicobanya untuk mendengarkan setiap suara, namun tak ada yang dapat didengarnya.

Meskipun demikian putri itu pun menjadi gelisah. Desisnya, “Kau berkata sebenarnya?”

Karebet mengangguk. Namun telinga Sultan itu pun tidak kalah baiknya dari telinga Karebet. Karena itu Sultan pun mendengar dengan jelas, meskipun betapa lirihnya Karebet berbisik.

Karena itu segera Sultan menyadari bahwa Karebet telah mengetahui kehadirannya. Berkatalah Sultan didalam hatinya, “Luar biasa anak ini. Alangkah tajam pendengarannya.”

Dan sejalan dengan itu, Sultan pun menjadi semakin berhati-hati. Yang dihadapinya adalah seorang anak muda yang sejak dilihatnya untuk pertama kali, telah sangat menarik perhatiannya.

Kemudian Sultan itu mendengar Karebet berbisik, “Masuklah ke keputren, Putri. Biarlah aku pergi dari tempat ini.”

Putri bungsu itu menjadi semakin gelisah. Kalau benar seseorang telah mengetahuinya, maka alangkah aibnya. Dan tiba-tiba Putri itu menjadi ketakutan. Dengan gemetar ia berkata, “Karebet, apakah benar kau mendengar seseorang mendekat kami?”

Karebet mengangguk.

“Apakah kau hanya ingin menakut-nakuti aku?”

“Tidak Putri,” sahut Karebet, “Masuklah. Aku akan pergi ke bilik Sultan.”

“Untuk apa?”

“Aku akan keluar dari arah itu.”

“Aku takut, Karebet,” desah Putri itu.

“Jangan takut,” hibur Karebet, “Biarlah aku sendiri berusaha menyelesaikannya.”

Tetapi putri itu menjadi semakin ketakutan. “Aku takut, Karebet.”

“Jangan Putri,” desak Karebet, “Sekarang masuklah. Biarlah aku melihat, siapakah yang datang itu. Apabila Tuan Putri masih di sini, maka aku tidak akan dapat berbuat sesuatu.”

Jantung Putri itu kemudian serasa berhenti berdenyut. Tetapi Karebet itu mendesaknya, “Pergilah Putri.”

Putri itu pun kemudian beringsut dan perlahan-lahan berdiri. Setapak ia melangkah untuk masuk ke dalam biliknya. Tetapi alangkah terkejutnya putri itu ketika tiba-tiba sesosok tubuh telah meloncat dari dalam gerumbul langsung berdiri di hadapannya, sehingga terdengarlah Putri itu menjerit kecil.

Karebet pun tidak kalah terkejutnya. Dengan serta merta ia meloncat pula berdiri. Dengan tajamnya ia mencoba mengamat-amati siapakah yang telah berani mengintip pertemuannya dengan Putri Sultan itu.

Dan dilihatnya seseorang yang bertubuh tegap, bertolak pinggang di hadapannya. Secarik kain kepala melingkar menutupi sebagian wajahnya, sehingga dalam malam yang gelap itu Karebet tidak segera dapat mengatahuinya, siapakah yang telah mengganggunya itu.
Orang itu masih berdiri bertolak pinggang ketika Karebet melangkah selangkah maju. Dengan lemahnya orang itu tertawa sambil berkata parau, “Apakah yang telah kalian lakukan di sini?”

Putri Sultan itu menggigil ketakutan. Namun Karebet melangkah maju sambil berdesis, “Siapakah kau?”

Orang yang sebagian dari wajahnya tertutup itu menjawab, “Apakah perlumu mengenal namaku?”

Alangkah marahnya Karebet mendengar jawaban itu. Setapak ia maju sambil berkata “jangan berbuat gila. Kutanya siapa engkau dan apa maksudmu?”

Sekali lagi Karebet mendengar orang itu tertawa lirih. Dari balik kain yang menutupi sebagian wajahnya itu Karebet mendengar jawabannya, “Katakanlah juga kepadaku, apakah keperluanmu datang kemari.”

Karebet benar-benar menjadi marah. Ia harus menangkap orang itu. Apa yang akan dilakukan kemudian Karebet sama sekali tidak tahu. Tetapi setidak-tidaknya Karebet harus menghapuskan kesaksian orang itu. Membawanya keluar dari halaman, kemudian apabila orang itu kelak mengigau tentang dirinya, maka ia dapat mengingkarinya. Tetapi dihalaman itu apabila ada orang lain lagi yang mengetahuinya, atau melihat perselisihan itu maka sudah tentu ia tidak akan dapat mengingkari lagi.

Karena itu Karebetpun menggeram, ” Jangan membuat persoalan disini. Ikuti aku supaya kau selamat.”

“Aneh,” desisi orang itu, “kalau aku selamat dengan menuruti perintahmu, alangkah senangnya. Malam ini tidur saja aku dirumah. Aku datang kemari, karena kau ada disini. Sekarang katakan kepadaku, apa yang kau lakukan disini.”

Darah Karebet telah benar-benar mendidih. Selangkah lagi ia maju. Dengan geram ia berkata, “Ikuti aku.”

Namun jawab orang itu mengejutkan pula, “tundukkan kepalamu dan berjongkok dihadapanku. Aku akan menangkapmu.”

“Persetan,” desis Karebet. Kini ia menyadari bahwa orang yang datang itu benar-benar berbahaya baginya. Sudah tentu ia bukan orang kebanyakan. Bahkan tiba-tiba ia menyangka bahwa orang itu Tumenggung Prabasemi. Meskipun Karebet belum yakin benar, namun kemungkinan pertama adalah Tumenggung yang didadanya menyala segala macam nafsu. Karena itu Karebet tidak dapat berbuat lain kecuali melumpuhkannya. Apakah nanti yang dilakukan. Ia tidak sempat memikirkannya lagi. Dengan marahnya Kareber berkata, “Bagus kalau kau berkeras menangkap aku, cobalah.”

Sekali lagi orang itu berkata, “jangan melawan. Sia-sia.”

“Mulailah, ” potong Karebet. “Aku akan mempertahankan diriku. Dan cobalah kau menyelamatkan dirimu.”

“Tidak semua anggota Wira Tamtama dapat melindungi nyawanya sendiri. Menyerahlah.”

“Hem, aku harus menangkap, menyumbat mulutmu dan melemparmu keluar dinding halaman.”

“Cobalah, pecahkan dadaku dan tumpahkan darahku. Baru kau dapat keluar dari halaman istana.”

Kini Karebet tidak dapat menahan diri lagi. Sekali lagi ia menebarkan pandangannya berkeliling. Sepi. Yang dilihatnya hanyalah batang pohon, tiang-tiang teritisan, dan bintang-bintang di langit. Karena itu maka Karebetpun sekali lagi maju melangkah sambil menggeram, “Benar-benar kau menghendaki kekerasan.”

Orang itu mengangguk, katanya, “Ya dengan kekerasan aku ingin menangkapmu apabila kau tidak mau menyerah.”

Karebet tidak menunggu lagi. Secepat kilat ia meloncat menyerang orang itu. Ia ingin melumpuhkannya dengan serangannya yang pertama supaya ia segera dapat menyingkir. namun Karebet menjadi kecewa. Dengan tangkasnya orang itu menghindari serangan Karebet, dan bahkan dengan kecepatan tak terduga orang itu menggeliat dan kaki kirinya berputar setengah lingkaran menyambar lambungnya.

Karebet sama sekali tidak menyangka, bahwa orang itu mampu bergerak secepat itu. Karenanya, maka ia samasekali tak dapat menghindari. Dengan tangannya ia menangkis serangan kaki itu. Namun alangkah terkejutnya ketika sebuah benturan terjadi, maka Karebet terdorong beberapa langkah surut. Sedang orang itu masih saja tegak ditempatnya, bahkan sesaat kemudian meluncurlah serangannya susul menyusul seperti deru ombak dilautan, menyentuh pantai.

Karebet yang juga bernama Jaka Tingkir itu terkejut bukan kepalang. Ternyata orang yang datang kepadanya itu memiliki ilmu yang tinggi. Dengan demikian, maka dugaannya bahwa orang itu adalah Tumenggung Prabasemi lenyap. Ia pernah melihat Tumenggung bertempur. Ia pernah menilai ilmu Tumenggungnya. Dan sudah pasti Tumenggungya itu tidak akan mampu berbuat demikian.

Karena itu Karebet terpaksa meloncat surut beberapa kali. Dengan cemas ia melihat serangan serangan mengalir melanda dirinya. Sehingga karena ingin secepatnya mengakhiri pertempuran, maka segera ia mengetrapkan ilemu tersembunyi didalam dirinya, ilmu yang jarang dimiliki oleh siapapun, apalagi oleh Tumenggung Prabasemi. Aji Lembu Sekilan.

KETIKA serangan berikutnya beruntun mengejarnya, maka Karebet sengaja tidak menghindarinya. Ia ingin menundukkan lawannya segera, setelah lawannya mengetahui, bahwa ia memiliki ilmu yang dahsyat itu.

Demikianlah maka berturut-turut beberapa serangan lawannya mengenai dirinya. Namun Karebet itu seakan-akan telah menjadi kebal, sehingga serangan-serangan lawannya itu tak berdaya melumpuhkannya.

Orang yang bertutup kain di wajahnya itu melontar mundur. Dengan heran ia memandang wajah Karebet dengan tajamnya. Terdengar ia berdesis, “Lembu Sekilan?” Karebet tersenyum. Dengan bangga ia berkata kepada Putri bungsu yang menggigil ketakutan, “Masuklah Putri, orang ini tidak akan mengganggu. Biarlah urusan kami, kami selesaikan tanpa sepengetahuan Putri.”

Putri itupun tidak segera beranjak dari tempatnya. Terasa seluruh tubuhnya bergetar. Dan karena itu maka seakan-akan kakinya tak sanggup lagi untuk melangkah. Sehingga kemudian terdengar Karebet itu mengulangi, “Masuklah Tuan Putri.”

Putri itu pun seolah-olah menjadi sadar dari kecemasannya yang telah memuncak. Dilihatnya lawan Karebet itu masih berdiri di tempatnya, sehingga karena itu ia menjadi ragu-ragu untuk bergerak.

Ketika orang yang berkerudung itu memandang wajah Putri Sultan. Karebet membentaknya, “Jangan menakut-nakuti. Kaulah yang harus berjongkok dan menyerah.”

Tetapi Karebet terkejut ketika kemudian orang itu pun tertawa. Katanya, “Kenapa kau tiba-tiba menganggap aku sebagai tawananmu? Apakah karena Lembu Sekilan itu?”

“Aku bukan anak-anak yang takut melihat hantu,” jawabnya, “Karena itu jangan menakut-nakuti aku dengan ilmu yang dapat dicari di tepi-tepi parit.”

Bukan main marahnya Mas Karebet. Ilmu Lembu Sekilan adalah ilmu yang jarang- jarang dimiliki oleh siapa pun. Bahkan orang-orang dari Karang Tumaritis pernah mengagumi ilmu itu, pada saat ia berkelahi melawan Surayuda, Demang Gunungkidul. Tetapi tiba-tiba orang yang tak dikenalnya itu kini menghinanya. Karena itu, maka kini Mas Karebet itu telah kehilangan segenap pengekangan yang memuncak, maka disergapnya orang yang telah menghinanya.

Kini sekali lagi pertempuran seorang lawan seorang itu berkobar semakin sengit. Dengan Lembu Sekilan, maka Mas Karebet memiliki kesempatan yang lebih luas dari lawannya. Hampir setiap serangan lawannya tak dapat menyentuh tubuhnya, karena lambaran ilmu Lembu Sekilan itu. Namun lawannya itu pun lincah bukan buatan. Betapa pun Karebet mengerahkan segenap kemampuannya, namun orang itu pun sangat sukar untuk dikenainya.

Semakin lama, Karebet pun menjadi semakin marah. Namun kecemasannya pun semakin tebal melingkar-lingkar di hatinya. Seandainya pada saat itu, peronda dari Nara Manggala melihat mereka, maka ia tidak akan dapat menghindarkan diri dari mala petaka. Karena itu selagi sempat ia berkata sambil bertempur, “Tuan Putri masuklah. Tinggalkan tempat ini.”

Namun suaranya itu disahut oleh lawannya, “Tuan Putri apakah Tuan Putri tidak ingin melihat tamu Tuan Puteri ini sampai pada saat terakhir. Mungkin ia masih akan memberikan beberapa pesan sebelum ia mengakhiri hidupnya.”

“Jangan mengigau,” potong Karebet dengan marahnya. Dan darahnya serasa mendidih ketika didengarnya orang itu tertawa berkepanjangan sambil menghindari setiap serangannya. Karena itu, maka Karebet menjadi semakin memperketat geraknya. Serangannya menjadi semakin lama semakin dahsyat. Bergulung-gulung seperti angin prahara dipadang-padang rumput.
No.761

Namun lawannya benar-benar selincah sikatan, selicin belut. Betapapun ia berusaha untuk menyentuhnya, namun sentuhan sentuhan serangannya seolah-olah tidak dapat menyakiti tubuh lawannya, karena serangan itu seakan-akan tergelincir. Tubuh lawannya itu benar-benar licin. Meskipun sekali-kali Karebet berhasil menangkap tangan atau kaki lawannya, namun ia tidak dapat menggenggamnya. Tubuh lawannya itu dengan mudah, meluncur diantara jarinya, betapapun kuatnya ia menggenggam.

Akhirnya Karebet yang memiliki Aji Lembu Sekilan itu menyadari bahwa lawannya itu tidak bertempur dengan tenaganya melulu. Namun iapun semakin benyak berkeringat mengalir dari tubuhnya, tubuhnya itupun menjadi semakin licin. Karena itu dengan geramnya ia mendesis, “Aji Welut Putih.”

Lawannya itu tertawa pendek. Tetapi ia tidak berkata apa-apapun. Namun pertempuran itu semakin dahsyat. Keduanya seakan tidak dapat disentuh oelh serangan lawannya. Dengan demikian maka pertempuran itu tidak dapat dibayangkan kapan berakhir.

Itulah yang sangat mencemaskan Karebet. Betapa ia berusaha memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Kelincahan, kekuatan dan segenap tenaganya. Namun orang itupun selalu mengimbanginya.

Orang itu, yang tidak lain adalah Sultan Trenggana sendiri sebenarnya menjadi heran pula. Karebet, anak yang dipungutnya dari tepi jalan itu ternyata memiliki kemampuan yang dahsyat. Baginda itu menjadis angat terkejut ketika menyadari Karebet memiliki ilmu Lembu Sekilan meskipun belum sempurna. Ilmu yang sudah jarang diketemukan. Namun kini Baginda itu melihat, bahwa ilmu itu tersembunyi didalam tubuh anak itu. Karena itu Baginda menjadi sangat menyesal atas peristiwa itu. Seandainya, Karebet itu tidak mendahuluinya, masuk keputren sebelum diijinkannya, maka kesempatan anak itu didalam jabatan keprajuritan sangat besar. Dengan mengalami sendiri perkelahian dengan Karebet, Baginda segera menilai kemampuannya. Ternyata anak itu, dalam olah kanuragan telah melampau Tumenggung Prabasemi. Sehingga kemungkinan yang akan datang sangatlah luas bagi Karebet. Namun sayang bahwa anak muda itu kini ditemukan di keputren.

Perkelahian itu berlangsung dengan serunya. Masing-masing mampun melakukan perlawanan dan tekanan yang mengagumkan. Masing-masing telah menunjukkan kelebihan dari orang kebanyakan. Dan karena itulah Mas Karebetpun menjadi semakin cemas. Sehingga akhirnya terasa bahwa ia tidak mampu mengalahkannya, meskipun ia menyangka, bahwa dalam keadaan demikian, lawannyapun tidak dapat mengalahkannya pula.

Tetapi akhirnya terasa oleh mas Karebet, bahwa tekanan lawannya menjadi semakin berat. Gerak lawannya semakin lincah, dan keringatnya semakin banyak, sehingga tubuhnya menjadi semakin licin pula.

Sebenarnyalah Baginda[un sedang berusaha untuk mengakhiri pertempuran. Baginda adalah seorang prajurit yang mumpuni. Beberapa macam ilmu tersimpan dalam dirinya, sebagaimanapun ia harus memiliki berbagai macam bekal dalam perjalanannya sebagai seorang raja dan sekaligus Senapati Perang.

Demikianlah akhirnya, maka Karebet merasakan tekanan lawannya semakin tajam. Sejalan dengan itu kecemasan didadanyapun semakin melonjak. Ia menajdi heran, bahwa tiba-tiba saja ia berhadapan dengan seorang sakti yang mampu menghadapi ilmunya, Lembu Sekilan. Karena itupun Karebet mencoba mengingat nama semua yang pernah dikenalnya. Para Perwira Nara Manggala, para Perwira dari Wira Tamtama dan beberapa orang yang lain. Gajah Alit, Prabasemi, Paningron, Danapati, Palindih dan yang lain-lain.

Namun seandainya mereka, apakah dengan mudahnya melawanLembu Sekilan, tanpa melepaskan ilmu-ilmu mereka yang lain? Ternyata orang ini mampu.

Bukan saja dengan ilmu Welut Putih, namun serangan tanpa dilambari ilmupun berhasil mendesaknya pula. Dan Bahkan kemudian terasa bahwa serangan serangannya mampu mengetuk dinding Lembu Sekilannya. Meskipun tidak begitu tajam, namun Karebet merasa, ada kekuatan yang mapu menerobos pertahanan ilmunya.

Karena itupun Karebet menjadi bingung. Orang ini pasti orang luar biasa. Dan tiba-tiba saja Karebet mencoba mencari nama orang sakti diluar istana. Orang-orang golongan hitam hampir semua dikenali cirinya, sehingga orang ini pastilah bukan salah seorang dari mereka. Namun adakah orang sakti dari daerah lain?, atau mungkin justru pamannya yang sedang mencoba mengujinya? Paman Kebo Kanigara? Namun akhirnya Karebetpun pasti bahwa orang itu bukan Kebo Kanigara.

Akhirnya Karebet yang menjadi sedemikian bingungnya. Ia tidak mau tertangkap oleh siapapun. karena itu ia tidak punya pilihan lain daripada melumpuhkan orang itu. Kemudian menyembunyikan puteri di keputren dan membuat cerita yang masuk akal, tentang seseorang memasuki istana berkerudung ikat kepala. Meskipun seandainya orang itu adalah perwira Nara Manggala sekalipun namun ia tidak dalam kelengkapan pakaian Nara Manggala.

Karena itu Karebet yang sudah kehabisan akal itu dengan serta merta meloncat surut. Dengan cepatnya ia mempersiapkan diri dari puncak ilmu yang dimilikinya. Ilmu yang dipelajari dalam suasanya aneh. Ilmu yang disusunya tanpa seorang gurupun. Dan dinamainya sendiri ilmu itu Aji Rog-Rog Asem. Nama yang ditemukan dalam daerah penggembalaan, apabila para gembala sedang berebut asem. Namun Karebet itu tidak pernah berebut dahulu mendahului, namun dengan ilmunya, Karebet mampu menggetarkan pohon asam yang betapapun besarnya, sehingga hampir segenap buahnya rontok karenanya. Meskipun demikian belum pernah seorang temanpun melihat perbuatannya. Mereka hanya menyangka bahwa angin pusaran telah merontokkan pohon asam itu.

Ilmu itupun pada dasarnya berpangkal pada pengungkapan kekuatan. Namun ilmu Karebet tidak saja mendasarkan pada kekuatan yang mampu meremukkan iga, namun juga mampu meremas tulang-tulang lawannya, memutar tubuh lawannya sehingga tulamg belakangnya patah. Itulah keajaiban ilmu Rog-Rog Asem. Ilmu dari seorang anak gembala yang aneh bernama Mas Karebet.

Kali ini, Karebet tidak melihat kemungkinan lain. betapapun licinnya Aji Welut Putih, namun ia yakin bahwa Rog-Rog Asem akan dapat menembusnya. Betapapun kuatnya orang itu apabila tersentuh Aji Rog-Rog Asem, maka sudah pasti bahwa ia akan lumpuh.

Sultan yang telah merasakan tekanan tekanannya berhasil, menjadi heran melihat Karebet meloncat mundur. Ia melihat anak itu menggosokkan kedua telapak tangannya, kemudian dengan garangnya anak muda itu meloncat dengan kaki renggang, menekuk kedua lututnya, siap melontarkan sebuah serangan.

Baginda yang telah kenyang makan garam perkelahian dan pertempuran itupun segera mengenal, bahwa anak muda itu telah siap dalam puncak ilmunya. Karena itu sultanpun menjadi cemas. Ia belum dapat menilai sampai berapa jauh ilmu yang dimiliki Karebet itu. Kalau kemudian baginda melawan ilmu itu dengan ilmunya yang didasari dengan kekuatan dan tenaga, apakah kira-kira yang akan terjadi ? seandainya ilmu itu tidak seimbang, dan ilmu Baginda itu jauh lebih dahsyat dari ilmu lawannya, maka terjadi suatu pembunuhan. Dan Baginda tidak ingin membunuhnya. Meski membunuh anak itu sangat menarik perhatiannya.

Karena itu Baginda tidak segera mengetrapkan ilmunya yang dahsyat yang dinamainya Bajra Geni. tetapi Baginda segera mateg ilmu yang lain. Ilmu Tameng Waja. Menurut perhitungan Baginda, betapapun dahsyatnya ilmu lawannya, namun menilik usianya, maka ilmu itupun belum pasti akan berhasil meruntuhkan oertahanan ilmu Tameng Waja.

Maka dengan demikian, ketika Baginda melihat Karebet meloncat sambil mengayunkan ilmunya, Rog-Rog-Asem, justru baginda berdiri tegak bertolak ilmunya Aji Tameng Waja dalam puncak kekuatannya.

Sesaat kemudian terjadilah benturan dahsyat. Benturan dari Rog-Rog-Asem menghantam benteng pertahanan Baginda dalam ilmu Aji Tameng Waja.

Baginda telah dipenuhi pelbagai pengalaman dan pengetahuan dari pelbagai macam ilmu itupun terkejut mengalami hantaman Aji Rog-Rog-Asem. Aji yang dilontarkan oleh seorang anak muda yang pantas menjadi anaknya. Terasa didada Baginda sebuah benturan yang seakan-akan merontokkan seluruh iganya. Karena itu dengan mata yang berkunang-kunang Baginda terdorong beberapa langkah surut.

Terasa nafasnya menjadi sesak, dan hampir tidak dapat menguasai keseimbangan. Dengan terhuyung-huyung akhirnya Baginda berhasil tegak dalam keadaan keseimbangan yang mantap.

Maka kini Baginda itu berdiri dengan kokohnya di atas kedua kakinya yang merenggang. Meskipun debar di dadanya masih menggetarkan jantungnya, namun Baginda kini sudah mulai tenang kembali setelah mengalami goncangan-goncangan yang tajam. Tetapi goncangan-goncangan tubuh Baginda itu, masih belum menyamai goncangan perasaan Baginda. Hampir Baginda tak percaya, seandainya Baginda sendiri tidak merasakan bahwa isi dadanya seakan-akan menjadi rontok karenanya. Anak muda itu ternyata memiliki kedahsyatan ilmu yang mengagumkan.

No. 763

SEJAK semula Baginda memang telah mengira, bahwa anak yang mampu meloncat mundur melampaui blumbang sambil berjongkok, pasti bukan anak kebanyakan, namun Baginda sama sekali tidak menyangka bahwa anak itu menyimpan ilmu yang sedemikian dahsyatnya. Tetapi alangkah menyesalnya Baginda, bahwa anak itu berada di keputren di malam hari tanpa setahu Baginda.

Pada saat benturan itu terjadi, Karebet pun terkejut bukan kepalang. Aji Rog-rog Asem, yang mampu merontokkan buah-buah asem pada batangnya yang sebesar apapun itu, ternyata hanya mampu mendorong surut lawannya beberapa langkah. Bahkan tangannya itu seakan-akan telah membentur selapis dinding baja yang sama sekali tak tergoyahkan, sehingga kekuatan yang tersalur lewat tangannya itu sebagian telah melontar kembali melemparkan Karebet beberapa langkah mundur. Bahkan kemudian terasa, tangannya itu nyeri dan nafasnya menjadi sesak. Sesaat Karebet itu berdiri kaku. Kepalanya menjadi pening, dan seakan-akan bintang-bintang di langit itu beterbangan turun mengerumuni kepalanya.

Ketika perlahan-lahan kesadarannya telah pulih kembali, dilihatnya lawannya itu masih tegak beberapa langkah dihadapannya. Betapa Karebet menjadi semakin marah, sehingga matanya itu seakan-akan menjadi menyala. Baginda, seorang yang memiliki berbagai pengetahuan, kini sekali lagi terkejut ketika ditatapnya mata Karebet. Mata itu benar-benar seperti mata kucing di malam yang gelap. Seakan-akan cahaya yang biru hijau memancar dari dalamnya. Dan karena itulah maka Baginda menjadi semakin menyesali keadaan.

Anak itu benar-benar anak luar biasa. Dengan demikian Baginda menjadi semakin tertarik kepadanya. Tetapi bagi seorang raja dan sebagai seorang ayah, Baginda tidak dapat membiarkan peristiwa ini terjadi tanpa persoalan. Sebab dengan demikian, maka baik Baginda sebagai raja maupun sebagai ayah, akan kehilangan nilai-nilainya yang wajar, apabila persoalan yang tak pada tempatnya itu dibiarkannya. Seandainya, ya, seandainya pada saat itu Baginda menjumpai orang lain, bukan Karebet dan tidak memiliki ilmu sedahsyat Aji Rog-rog Asem serta Lembu Sekilan, serta dari matanya tidak membayang cahaya yang biru kehijauan, maka Baginda pasti sudah akan bersikap lain. Mungkin Baginda akan memaksa putrinya untuk masuk ke bilik bundanya, dan menangkap anak itu sebagai seorang pencuri atau apapun yang masuk ke dalam istana.

Dengan demikian, maka orang itu akan dapat dihukum berat.

Tetapi kini yang dihadapi adalah seorang anak muda yang jarang-jarang ditemuinya. Alangkah baiknya anak itu dalam kedudukannya dalam pasukan Wira Tamtama. Namun, betapapun ia harus mendapat hukuman dari perbuatannya itu. Baginda tidak sempat berangan-angan. Tiba-tiba ia melihat Karebet meloncat seperti serigala lapar menerkam mangsanya. Namun Baginda bukan sekadar anak kambing yang hanya mampu mengembik. Ketika Baginda menyadari betapa berbahayanya serangan yang masih dilambari dengan Aji Rog-rog Asem itu, maka Baginda segera mengelak. Namun Baginda kini berhasrat untuk segera menyelesaikan perkelahian itu sebelum orang lain melihatnya. Sebab apabila orang lain melihat perkelahian itu, melihat putri dan Karebet, maka Baginda tidak akan menyelamatkan nama putrinya dari aib yang mencoreng kening, dan wajah Baginda pun akan tercoreng karenanya.

Karena itu, segera Baginda mateg aji kebanggaannya, Bajra Geni. Aji yang ampuh bukan buatan. Namun Baginda benar-benar tidak mau membunuh atau melukai Karebet. Karena itu, Baginda mengambil cara yang tidak berbahaya bagi lawannya. Dengan kecepatan yang tak disangka-sangka oleh Karebet, Baginda melontar menyusul arah lawannya yang terbang beberapa jengkal di sampingnya, karena terkamannya dihindari.

Dengan Aji yang dahsyat itu, Baginda memukul Karebet, namun tidak pada tubuhnya. Baginda sengaja mengayunkan tangannya di wajah Karebet, tanpa menyentuhnya.

Tetapi alangkah terkejutnya Karebet. Baginda tidak melepaskan Aji Bajra Geni sepenuhnya, namun getarannya telah cukup kuat untuk menggetarkan tubuh Karebet. Karebet pun terkejut bukan kepalang. Terasa wajahnya seakan-akan disiram api. Karena itu, maka dengan serta merta ia meloncat beberapa langkah surut. Dengan tubuh gemetar ia memandang orang yang sebagian wajahnya terselubung oleh kain ikat kepala itu. Dan didengarnya orang itu tertawa.

“Alangkah dahsyatnya,” geram Karebet di dalam hatinya. “Tangannya sama sekali tidak menyentuh tubuhku. Namun getaran serta panas ilmunya telah mampu menembus Aji Lembu Sekilan.

No. 764

ORANG itu masih tertawa berkepanjangan meskipun tidak terlalu keras. Kemudian terdengar ia berkata, “Bagaimana Aji Lembu Sekilan. Apakah kau masih akan membanggakan Aji Lembu Sekilan yang setengah matang itu. Aku belum menyentuh kulitmu, tetapi agaknya kau telah merasakan akibatnya. Bahwa kekuatan Ajiku mampu menembus pertahanan Lembu Sekilanmu.”

Karebet tidak menjawab. Dengan marahnya ia menggeram. Tetapi ia benar-benar telah dapat mengambil suatu kepastian, bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan orang itu. Karena itu Karebet menjadi semakin cemas. Ia sama sekali tidak mencemaskan nasibnya, bahkan sampai mati sekalipun. Namun bagaimana kemudian dengan putri itu? Belum lagi ia menemukan cara untuk menyelamatkan Putri itu, maka terdengar orang yang berdiri di hadapannya itu berkata, “Nah, apakah kau masih akan melawan.?”

“Jangan menyombongkan diri. Kau lihat aku masih tegak dihadapanmu,” sahut Karebet.

“Hem,” desah orang itu, “Kau memang keras kepala. Meskipun demikian aku beri kau kesempatan hidup. Tetapi serahkan putri itu kepadaku.”

“Apa?” Kata-kata Karebet tersangkut di kerongkongan karena kemarahannya yang meluap-luap.

Sedang Putri Sultan itu menjadi bertambah mengigil ketakutan. Perlahan-lahan wajahnya beredar di antara batang-batang perdu di petamanan. Namun hatinya menjadi bingung. Ia akan dapat berteriak memanggil beberapa peronda. Tetapi apa katanya tentang Karebet dan orang yang berselubung kain itu?

Dalam kebingungan Putri itu mendengar orang berselubung itu berkata, “Apakah Putri akan memanggil Nara Manggala?”

“Ya,” sahut putri itu tiba-tiba.

Kembali orang itu tertawa. Jawabnya, “Mereka akan menangkap Karebet dan orang yang berselubung kain itu?”

Telinga Karebet menjadi merah karenanya. Kemarahannya telah benar-benar sampai kepuncak kepalanya. Apalagi ketika ia mendengar orang itu mengulangi, ?Anak muda. Tak ada gunanya kau melawan. Ajimu kedua-duanya adalah ilmu yang sama sekali tak berarti bagiku. Dengan duduk bertopang dagu aku pasti akan dapat memunahkannya. Tetapi apakah kau mampu bertahan terhadap ilmuku meskipun kau membentengi dirimu dengan Lembu Sekilan?”

Sekali lagi Karebet mencoba melihat siapakah yang berdiri di hadapannya. Pamannya? Mahesa Jenar? Pasti bukan. Mungkin orang-orang sakti yang lain? Di istana tidak banyak dijumpai orang-orang yang pernah menggetarkan hatinya. Beberapa orang sakti dari para prajurit berbagai kesatuan telah dikenalnya. Dan orang ini bukanlah salah seorang dari mereka.

Sebelum Karebet mampu memecahkan teka-teki itu. Karebet mendengar orang yang berdiri dihadapannya itu berkata pula, “Jangan menunggu aku marah. Biarlah putri itu aku bawa.”

Sekali lagi Karebet menggeram. Sahutnya, “Lampaui dahulu mayatku. Baru kau bawa Tuan Putri.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Kau benar-benar keras kepala.”

“Adalah akibat dari perbuatanku. Tebusannya maut,” sahut Karebet, dan diteruskan, “Apakah kau sangka, sesudah aku, kau akan dapat melepaskan diri dari halaman ini? Kau mati dipenggal oleh Nara Manggala.”

“Tak seorang pun mampu menangkap aku,” jawab orang itu. “Karebet tidak. Gajah Alit tidak dan Panji Danapati pun tidak.”

Karebet menarik alisnya. Orang itu dapat menyebut beberapa nama perwira dari Nara Manggala. Karena itu tiba-tiba menjadi bercuriga. Apakah orang itu orang dalam? Gajah Alit pasti bukan. Panji Danapatipun bukan. Siapa? Dalam kebingungan itu kembali Karebet mendengar orang itu berkata, “Ayo Karebet. Katakan kepadaku, siapakah dari seluruh Demak mampu mengalahkan aku?”

Karebet benar-benar mengigil mendengar kata-kata itu. Hampir saja ia menyebut beberapa nama yang pernah dikenalnya di Karang Tumaritis. Namun niatnya diurungkannya. Yang terdengar kemudian hanyalah gemeretak giginya beradu.

Tetapi seperti mendengar seribu guntur meledak bersama di atas kepalanya, kemudian Karebet mendengar orang itu berkata, “Karebet, katakan, siapa yang mampu melawan Aji Bajra Geni?”

“Bajra Geni. Bajra Geni.” Tanpa sadar Karebet mengulangi kata-kata itu.
“Ya,” sahut orang itu pendek.

765

Tubuh Karebetpun kemudian menjadi gemetar. Dengan ragu-ragu ia memandang orang yang berdiri dihadapannya. Bajra Geni adalah nama ilmu yang dahsyat, sedahsyat ilmu pamannya dan Mahesa Jenar. Setingkat pula dengan ilmu-ilmu luar biasa lainnya, Lebur Seketi,Cunda Manik dan lain lainnya. Tetapi lebih daripada itu.

Aji Bajra Geni dikenal sebagai ilmu yang dimiliki oleh Sultan Trenggana. Karena itu betapa debar jantung Karebet seakan-akan terhenti. Bahkan darahnyapun seakan tidak mengalir lagi.

Sebelum Karebet menyadari apa yang terjadi, maka tangan orang yang berdiri dihadapannya itupun kemudian meraih kain yang menutupi wajahnya. Dengan sekali gerak, maka kain itupun telah direnggutkan.

Demikianlah orang yang tegak berdiri dengan gagahnya itu menarik tutup wajahnya, terdengar puteri Sultan itu menjerit kecil. Sesaat ia memandangi wajah itu dengan tajamnya, namun sesaat berikutnya dengan serta merta puteri menjatuhkan dirinya dikaki Baginda sambil menangis sejadi-jadinya. Sedang Karebetpun kemudian berlutut pula pada kedua lututnya sambil menyembah hampir mencium tanah.

“Jangan menangis!,” bentak baginda. “Diam atau kututup mulutmu!”

Dengan sekuat tenaga dan penuh ketakutan, Puteri mencoba meredakan tangisnya. Tetapi karena itu maka tangis itu seakan-akan malahan meledak-ledak.

Baginda masih juga berdiri diatas kakinya yang renggang. Dipandangnya wajah Karebet dengan tajam, setajam ujung pedang. Dan Karebetpun menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Ayahanda,” terdengar puteri berkata diantara sendunya.

“Apakah kau masih berhak menyebut aku sebagai ayahandamu ?,” sahut baginda.

“Ayahanda,” kembali terdengar kata-kata itu meloncat dari bibir Puteri yang sedang menangis itu.

Namun Sultan Trenggana itu tidak menjawab. Bahkan kemudian ia berkata kepada Karebet, “Karebet, apakah aku harus melampaui mayatmu?.”

“Ampun, Baginda,” sahut Karebet gemetar, “aku tidak menyangka bahwa aku berhadapan dengan Baginda.”

“He, jadi kalau tidak ada aku kau dapat berbuat sekehendakmu? Jadi kalau berhadapan dengan orang lain, kau mengagung-agungkan kekuatanmu ? Lembu Sekilan atau Aji apa lagi yang kau miliki itu?”

“Ampun Baginda,” Karebet semakin tertunduk.

Kini harapannya untuk keluar dari kaputren menjadi lenyap. Ia tinggal menunggu besok atau lusa, seorang algojo akan memenggal lehernya, atau menaikkan ke tiang gantungan.

Apalagi ketika didengarnya Baginda berkata, “Karebet itukah tanda terimakasihmu kepadaku. Bukankah kau telah aku pungut dari pinggir jalan, kemudian aku coba untuk menjadikan kau seorang anak muda yang memiliki kebanggaan dengan menyerahkanmu kepada Prabasemi dan kesatuannya. Kini ternyata kau telah menyentuh kehormatanku. Sebagai seorang ayah dan seorang raja.”

Mendengar kata-kata baginda itu tiba-tiba Karebet teringat kepada Tumenggung Prabasemi. Hampir saja ia mengatakan persoalan Tumenggung kepada untuk mengurangi kemarahan baginda kepadanya, tetapi kemudian niat itupun diurungkannya.

“Tak ada gunanya,” katanya dalam hati. Dan kini ia tinggal pasrah kepada nasib yang membawanya kearah maut. Tak ada hukuman lain yang pantas diberikan kepadanya selain hukuman mati. Apalagi telah berani bertempur melawan Baginda.

“Mungkin baginda sendiri yang akan membunuhku.” pikirnya.

Sebenarnya baginda marah sekali kepada Karebet dan Puterinya. Tetapi terasa sesuatu yang aneh menyelip dihati baginda. Justru setelah bertempur melawan Karebet, kesaktian anak itu benar-benar menarik perhatiannya, sehingga bagindapun berkata didalam hatinya, “Sayang, anak ini memiliki kemungkinan dihari depannya. Kemungkinan yang tidak terbatas. Kalau ia mampu mematangkan aji Lembu Sekilan dengan ilmu rangkapannya itu,maka ia menjadi seorang sakti yang pilih tanding.”

Baginda sendiri mempunyai dua orang putera disamping puterinya. Yang sulung, adalah seorang yang sakti pula. Namun sayang, karena sesuatu hal, maka Pangeran itu mempunyai penyakit berat didalam rongga dadanya. Sedang puteranya yang seorang lagi, masih terlalu muda, dan agaknya tidak akan menyamai kakak sulung.

Tetapi Baginda tidak mau terpengaruh oleh perasaannya itu. Tetapi kemudian Baginda berkata lantang kepada puterinya, “Cepat masuk kekeputren. Jangan keluar dari pintu kalau bukan ibunda yang menjemputmu.”

Puteri itupun menyembah sambil menangis. Tetapi ketika akan menjawab, Baginda membentaknya, “Masuk ke keputren!.”

Puteri Baginda itu tidak berani mengangkat wajahnya. Sekali lagi ia menyembah, dan dengan wajah tunduk serta airmata berhamburan, Puteri tertatih-tatih masuk kebiliknya. Langsung direbahkannya dirinya dipembaringan menelungkup. Dan kepada pembaringan serta dinding-dinding biliknya ia mengadukan nasibnya yang malang. Betapa kecewanya dan menyesal hati puteri itu. Tetapi semuanya telah terlanjur dilakukan. Dan ayahanda Baginda sendiri telah melihat langsung apa yang terjadi.

Diluar Keputren Karebet duduk bersila dengan wajah tepekur. Anak muda ini menyesal pula atas semuanya yang telah terjadi. Namun, semuanya telah berlalu. Dan yang dapat dilakukan kini tinggallah menunggu hukuman yang harus disandangnya.

Sesaat kemudian Bagindapun menjadi bimbanmg. Bagaimanapun anak muda itu mempunyai tempat tersendiri didalam hatinya sehingga dengan demikian, mau tidak mau segala keputusan yang akan diambil oleh baginda sangat terpengaruh oleh perasaannya itu.

“Karebet, ikut aku ke Ksatriaan,” berkata Baginda kemudian.

“Hamba tuanku,” sahut Karebet sambil menyembah.

Dan Baginda tidak menunggu apapun lagi ditempat itu. Segera Baginda berjalan diantara rimbunnya daun-daun perdu dihalaman, supaya tidak seorangpun melihatnya. Kepada Karebet, Baginda itu berkata, “ikuti aku. Jangana ada seorangpun yang melihatmu. Apabila demikian, maka nasibmu akan aku serahkan kepada penjaga itu.”

Karebet menyembah sambil menyahut, “Hamba, Baginda.”

Maka keduanyapun berjalan mengendap endap menghindari peronda dari pengawal baginda. Sehingga tak seorangpun yang mengetahuinya, maka berdua telah memasuki Ksatrian dari pintu samping.

“Karebet,” berkata Baginda setelah mereka didalam bilik ksatrian. “Tinggal disini. Jangan coba melarikan diri. Tak ada gunanya. Aku segera dapat menangkapmu kemana saja kau bersembunyi. Sebab setelah ini, akan aku perintahkan segenap peronda Nara Manggala untuk lebih berhati-hati. Tak seorangpun boleh meninggalakan halaman istana. Apapun alasannya.”

“Hamba tuanku,” jawab Karebet. “Hamba tidak akan berani melanggar perintah Baginda.”

Sesaat kemudian Bagindapun mengenakan baju keprajuritan yang berada di Ksatrian. Dengan pakaian itu kemudian baginda pergi meninggalkan bilik. Karebet yang berada didalam bilik itu menjadi bingung. Apakah yang akan dikatakan nanti dipagi hari, jika beberapa orang emban atau jajar masuk kedalam bilik untuk membersihkannya. Dan apapula jawabnya jika Pangeran Timur nanti datang pula kemari ?

Tetapi Karebet lebih takut lagi akan perintah baginda. Karena itu betapapun ia menjadi cemas, namun ia tidak berani beranjak dari biliknya. Dengan lesu dijatuhkannya badannya diatas lantai yang licin bersih dan mengkilap. Dengan berbagai macam perasaan bercampur baur, Karebet memandang kedinding yang kokoh kuat sekuat baja.

“Dengan rogrog Asem aku pasti mampu menjebol pintu ini, ” terdengar suara didalam hatinya.

“Gila,” jawab suara yang lain

Dan kembali Karebet dengan lemahnya duduk bersandar didinding. Namun hatinya meronta-ronta seperti api yang menyala-nyala. Ia tidak tahu apa yang telah dilakukan Baginda setelah itu.

Dan kenapa Baginda tiba-tiba mengenakan pakaian keprajuritan. Apakah nanti malam ini juga Baginda akan melakukan hukuman atas dirinya? dan Sultan sendiri yang akan menanganinya ?

Tetapi ternyata Karebet adalah anak yang aneh. Betapun gelisahnya, namun ia tiba-tiba menguap. Dan setelah menggeliat, ia bergumam, “Persetan dengan segala macam hukuman. Lebih baik aku tidur. Dengan segala macam kegelisahan dan penyesalan, soalku tidak selesai.”

Sesaat kemudian, ia sudah tidur mendekur.

Betapa terkejutnya penjaga dari kesatuan Nara Manggala ketika melihat baginda sendiri lengkap dengan pakaian keprajuritan datang kepada mereka. Dengan tergesa-gesa mereka segera berloncatan menyambut kedatangan baginda.

Beberapa orang menjadi pucat, dan beberapa orang lagi menjadi cemas. Apakah yang akan terjadi sehingga Baginda datang sendiri kepada mereka.

“Atas namaku, panggil Prabasemi dari Wira Tamtama.”

“Hamba tuanku, apakah Tumenggung Prabasemi harus menghadap baginda malam ini?”

“Ya!,”

“Hamba Tuanku.”

Kemudian ketika Baginda melangkah kembali ke Ksatrian, dua dari Nara Manggala segera bersiap untuk mengantarkan. Namun mereka terkejut ketika Baginda berkata, “Aku datang sendiri. Aku kembali sendiri.”

Penjaga menjadi heran. Tidak menjadi kebiasaan Sultan berbuat demikian. Tetapi tak seorangpun berani bertanya. Dan mata mereka dipenuhi beribu-ribu pertanyaan mengiringi Baginda lenyap dalam bayang-bayang pohon Sawo Kecik.”

Sepeninggal Baginda, beberapa orang saling berbisik diantaranya.

“Aneh, kenapa baginda memanggil Prabasemi dimalam hari begini?”

Yang lain menggeleng, “memang aneh.”

“Tadi aku melihat Karebet masuk istana, katanya kaki baginda terkilir.”

“Lalu sekarang Prabasemi dipanggil, kenapa bukan Karebet yang harus memanggilnya? bukankah ia prajurit Wira Tamtama?”

Kawannya hanya dapat mengangkat bahunya sambil berkata, “entahlah. Ada sesuatu yang kurang wajar terjadi.”

“Apaaa?”

Orang itu menggeleng, “kalau aku mengetahuinya kau pasti mengetahuinya juga.”

Mereka kemudian terdiam. Masing-masing berjalan kembali masuk ke gardu peronda. Baru saja mereka duduk, Nara Manggala tertua berteriak, “bodoh kalian, Kenapa kalian tidak berangkat memanggil Prabasemi?”

“Oh, hampir aku lupa kepada perintah.”

Kemudian dengan tergesa-gesa dua orang Nara Manggala segera bersiap untuk berangkat menjemput Prabasemi. Mereka segera memperbaiki pakaian mereka, melengkapi tanda keprajurutan. Dengan pedang dilambung masing-masing berdua segera pergi menjemput Tumenggung Prabasemi.

Meskipun tak seorangpun yang bercakap-cakap, namun sebenarnya mereka saling bertanya didalam hati, apakah yang sebenarnya terjadi ?

Sementara itu, dari Gardu Penjaga, Baginda langsung masuk kedalam biliknya dimana Permaisuri dan dua orang emban sedang menunggu. Ketika permaisuri melihat kedatangan Baginda, maka terdengar sebuah tarikan napas panjang.

“Nah, bukankah aku masih utuh?,” kata Baginda

Sekali lagi Permaisuri menarik napas. Katanya, “Hamba menjadi gelisah.”

Baginda kemudian memandangi kedua emban yang duduk bersimpuh sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sesaat kemudian berkatalah baginda “Kembalilah kebilikmu masing masing emban.”

Kedua emban itu terkejut. Dan bersamaan mereka menyembah sambil membungukkan badan mereka, “Hamba Baginda.”

“Tetapi, ingat, apabila seseorang mendengar tentang puteri itu, kau berdualah yang akan aku pancung di alun-alun.”

Kedua emban menjadi pucat. Dengan gemetar, sekali lagi mereka menyembah dengan takjimnya.

“Nah tinggalkan bilik ini.”

Keduanya tidak menjawab. Namun setelah sekali lagi mereka menyembah, maka segera mereka meninggalkan bilik itu.

768

”ALANGKAH malangnya nasibku,” kata emban Permaisuri, ”Kalau aku tadi tidak berjumpa dengan kau, maka aku tidak akan mengalami bencana ini. Coba, apabila laki-laki itu atau Putri sendiri yang berceritera tentang peristiwa itu, maka apabila ada orang lain yang mendengarnya, kamilah yang akan dipancung. Hi, mengerikan.”

Emban yang lain tidak menjawab. Terbesit pula penyesalan didalam dirinya. Tetapi apabila dibayangkannya rumah yang megah dari Tumenggung Prabasemi serta segala macam penghormatan yang akan didapatnya, maka emban itu sersenyum didalam hati. Putri itu pasti akan mendapat hukumannya. Setidak-tidaknya akan mengalami pingitan yang lebih ketat. Sehingga dengan demikian, maka Prabasemi itu pasti akan melupakannya.

Demikian kedua emban itu meninggalkan bilik Baginda, maka segera Baginda mengatakan apa yang telah dialaminya serta apa yang telah terjadi.

Ketika Permaisuri mendengar, bahwa berita yang dibawa oleh emban itu benar-benar terjadi, maka dengan serta merta, pecahlah tangisnya. Alangkah hinanya. Apabila Putri itu adalah putri seorang raja yang namanya ditakuti oleh lawan dan disegani oleh kawan. Tetapi putrinya sendiri, sama sekali telah mengabaikannya.

”Kenapa hal ini terjadi, Baginda?” tanya Permaisuri. ”Padahal menurut hemat hamba, maka tidak kuranglah cara hamba untuk menjadikannya seorang putri yang berbudi. Justru dalam masa pingitan, serta masa-masa perkembangan jasmaniah dan rohaniah, bencana itu terjadi.”

Baginda tidak menjawab. Bahkan wajahnya ditundukkannya, seakan-akan sedang menghitung jari-jari kakinya. Sebagai seorang ayah, maka hampir-hampir Baginda tak dapat menahan kemarahannya terhadap Karebet. Tetapi, sebagai seorang Senapati Perang, maka Baginda dapat melihat kekuatan yang tersembunyi didalam tubuh Karebet yang telah berani melangkahi pagar kaputren itu. Bahkan sebagai seorang raja, Baginda melihat masa depan dari kerajaannya, Demak, yang sampai kini masih belum diketemukannya seorang sakti yang mempunyai kemungkinan yang tak terbatas dimasa depannya. Pernah juga Baginda mendengar nama-nama, diantaranya Mahesa Jenar yang bergelar Rangga Tahhjaya. Namun orang itu telah lama membuang diri dalam satu pengabdian yang luhur. Berusaha menemukan pusaka-pusaka Keraton yang lolos dari perbendaharaan Istana.

”Tetapi orang itu sama sekali bukan keluarga istana,” desis Baginda didalam hatinya.

”Ah!” Tiba-tiba Baginda terkejut sendiri oleh angan-angannya. Kemudian katanya di dalam hati, ”Apakah Karebet itu juga keluarga istana?”

Baginda tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesuatu bergolak di dalam dadanya. Dicobanya berkali-kali untuk mengusir perasaan yang mengetuk-ngetuk jantungnya. Karebet itu adalah anak yang diketemukan di pinggir jalan. Tidak lebih. Bukan kadang, bukan sentana.

”Tetapi ia putra Ki Kebo Kenanga.” Kembali terdengar kata-kata jauh di dasar hatinya. ”Kebo Kenanga adalah putra Pangeran Handayaningrat. Apakah dengan demikian tidak ada saluran darah Majapahit di dalam tubuhnya?”

”Hem.” Baginda menarik nafas dalam-dalam. Ketika Baginda itu berpaling, dilihatnya Permaisuri masih menyeka kedua belah matanya yang basah.

”Sudahlah,” hibur Baginda, ”Aku akan mencoba mencari cara sebaik-baiknya untuk menolong keadaan.”

”Apakah cara itu?” tanya Permaisuri.

”Aku belum tahu,” sahut Baginda, ”Tetapi mula-mula adalah menutup setiap kemungkinan, Putrimu itu dapat bertemu dengan Karebet.”

Permaisuri menganggukkan kepalanya. ”Besok, Putriku akan aku bawa masuk ke dalam bilikku. Biarlah ia mengalami pingitan yang lebih seksama.”

”Aku sependapat,” sahut Baginda, ”Dan biarlah anak muda yang bernama Karebet itu aku singkirkan pula dari Demak.”

”Akan diapakan?”

”Biarlah anak itu aku ambil dari Prabasemi, dan aku serahkan kepada Palindih di Bergota.”

”Hanya itu?”

Baginda terdiam. Disadarinya, bahwa Pemaisuri itu benar-benar merasa terhina. Namun Baginda tidak akan dapat mengatakan alasan-alasan yang dapat dimengerti oleh Permaisuri secara keseluruhan. Sebab Permaisuri tidak merasakan kedahsyatan ajian anak muda itu, tidak merasakan bahwa di dalam diri anak itu tersimpan Aji Lembu Sekilan dan dari matanya memancarkan cahaya biru kehijauan seperti mata seekor harimau yang garang di malam hari. Permaisuri tidak dapat mengerti bahwa Demak memerlukan orang yang demikian itu. Orang yang mempunyai kemungkinan yang tidak terbatas.

Meskipun di seluruh wilayah Demak, banyak terdapat orang-orang sakti, namun tidak seorang pun dari mereka yang pernah mempengaruhi perasaan Baginda sebegitu dalam seperti Karebet, putra Ki Kebo Kenanga.

Sebelum Sultan Trenggana menemukan jawaban atas pertanyaan Permaisuri itu, maka kembali Permaisuri bertanya, “hukuman apa yang akan baginda berikan terhadap Karebet. Apakah hukuman itu cukup seimbang dengan kesalahannya?.”

Baginda menarik nafas, kemudian jawabnya, “Hukuman itu adalah hukuman sementara. Mungkin aku akan membuat pertimbangan lain. Namun hukuman itu harus sesuai dengan keduanya. Sebab kesalahan itu tidak saja terletak pada Karebet, tetapi pada Puteri juga.”

Tiba-tiba Permaisuri mengangkat wajahnya. Sebagai seorang puteri, terasa kata-kata baginda agak janggal. Karena itu katanya, “Baginda, apakah yang akan dilakukan puteri kalau Karebet tidak memulainya? Aku yakin bahwa anak muda itu memanfaatkan kesempatan. Apabila Baginda memanggilnya, maka dimanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Puteri adalah anak pingitan. Jarang-jarang ia melihat anak muda didalam biliknya yang sempit. Maka ketika dilihatnya Karebet itu maka langsung mempengaruhi hatinya.”

Permaisuri itu berhenti sejenak. Ditatapnya wajah baginda yang tunduk. Kali ini mereka tidak berbicara sebagai Raja terhadap Permaisuri tetapi sebagai ayah dan seorang ibu. Seorang ibu yang merasa tersinggung karena perbuatan seorang anak muda atas puterinya dan seorang ayah yang melihatnya dari cakupan yang luas.

Maka dengan hati-hati Bgainda berkata, “Tetapi apabila puterimu tidak memanggapinya, maka tidak terjadi sesuatu diantara mereka berdua. Setiap hubungan antara anak muda dan gadis-gadis, pasti dimulai dari kedua ujung hati masing-masing. Apabila tidak, maka hubungan itu tidak akan terjadi.”

“Oh,” sahut permaisuri.

“Baginda telah berbicara tentang hati laki-laki, yang melihat perempuan dari sudut seperti Karebet. Tetapi baginda tidak mau mendalami hati perempuan.”

“Mungkin puteri mula-mula sama sekali tidak menanggapi sikap Karebet. tetapi lambat laun, apabila Karebet mulai menyentuh hatinya, maka hati itu pasti cair. Mungkin sikap itu mula-mula tidak lebih dari sikap gadis yang merasa kasihan terhadap seorang anak muda yang terbakar hatinya.”

“Atau mungkin Karebet sengaja membuat dirinya seakan-akan tidak mampu hidup tanpa puteri. Atau apapun yang dilakukannya sebagai suatu cara meruntuhkan hati seorang gadis. Meratap, mengancam, membangkitkan cemburu, bermanja-manja atau merayu.” sahut Permaisuri.

Sekali lagi Baginda menarik nafas. “Kalau gadis itu teguh hati, maka ia akan tetap dalam pendiriannya.”

“Betapapun keras batu karang, namun titik-titik air akan dapat membuat lubang padanya.” Sahut permaisuri.

Kali ini Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Belum pernah Permaisuri bersikap keras kepadanya. Sebagai seorang permaisuri, setiap kali yang dilakukan adalah menghambakan perintah Baginda. Mendengarkan kata-kata baginda dengan wajah tunduk, kemudian tersenyum kalau baginda tersenyum, dan berduka kalau baginda berduka. Namun Baginda bukanlah seorang laki-laki berhati batu.

Baginda dapat mengetahui sepenuhnya perasaan Permaisurinya, dan bahkan berterimakasih pula kepada permaisurinya itu. Namun kali ini Baginda menjumpai sikap yang jauh berbeda. Permaisuri itu menjawab kata dengan kata, kalimat dengan kalimat. Karena itu, maka baginda dapat mengerti, betapa pedih luka dihari permaisurinya sehingga dilupakannya suba sita.

Meskipun demikian, Baginda masih ingin untuk dapat menerangkan apakah sebabnya, maka Karebet itu masih diberinya kesempatan, meskipun dijauhkan dari Demak. Tetapi tidak saat ini, sebab apabila perempuan itu telah dikuasai oleh perasaannya, maka setiap pertimbangan akan tersisihkan. Demikian juga Permaisuri kali ini.

Karena itulah maka dengan tersenyum Baginda berkata, “Baiklah. Biarlah aku pertimbangkan sekali lagi. Tetapi janganlah aku yang dipersalahkan.”

Kata-kata itu tiba-tiba menyadarkan Permaisuri akan dirinya. Ia sedang ebrhadapan dengan seorang raja yang memiliki segala kekuasaan ditangannya. Tiba-tiba Permaisuri menyembah sambil berkata, ” Ampun Baginda. Aku telah berpendapat terlalu jauh. Namun aku hanya sekedar menuangkan perasaan ibu atas bencana yang menimpa puterinya.”

Baginda mengangguk-anggukan kepalanya, “Aku mengerti. Sebab aku bukan saja seorang Raja, Senapati Perang dan segala macam jabatan pemerintahan, tetapi aku adalah seorang ayah pula.”

Permaisuri itupun kemudian berdiam diri. Namun dikedua belah matana masih tampak, betapa ia tidak rela mengalami peristiwa yang sama sekali tidak didangka-sangkanya. Bencana yang menimpa puterinya. Namun kini segala sesuatu telah diserahkannya kepada Baginda. Permaisuri itu dapat mengerti kata-kata Baginda, bahwa Baginda tidak saja seorang Raja tetapi juga seorang ayah, sekaligus seorang Raja yang harus memandang segala persoalan dari berbagai segi.

“Kenapa hal ini terjadi dengan Puteriku, puteri Baginda. Kalau saja itu terjadi atas orang-orang yang tinggal dipondokan kecil maka tidaklah banyak persoalan yang timbul karenanya. Tetapi puteri itu adalah anak seorang Raja yang akan disoroti oleh setiap mata dari seluruh negeri.” Betapapun Permaisuri masih saja meratap dalam hatinya. Namun tidak sepatah katapun diucapkannya.

Yang kemudian berkata adalah Baginda, “Marilah, aku antar kembali ke bilikmu. Aku harus segera ke Kesatrian. Ambilah puterimu besok pagi, dan biarkan ia tinggal dalam istana untuk smeentara.”

Permaisuri menyembah, kemudian meninggalkan Baginda dan kembali ke biliknya sendiri. Dimuka pintu Permaisuri melihat emban tadi duduk bersimpuh menungguinya.

“Kau masih disini?” bertanya Permaisuri.

Emban menjawab, “Ampun Gusti”

Permaisuri itu berhenti sejenak. Ditatapnya wajah emban itu, “kenapa kau menangis?.”

“Hamba Takut”

“Apa yang kau takutkan?”

Emban tidak menjawab. tetapi sesekali ia menyembah dan kepalanya semakin tunduk.

“Jangan takut, kau tidak bersalah. dan kau tidak berbuat apa-apa,” kata permaisuri.

Tetapi emban tidak berani mengangkat wajahnya. Hanya sekali-kali dipandangnya kaki Baginda dan Permaisuri berganti ganti. bagindapun kasihan juga melihatnya.

Setelah permaisuri kembali ke biliknya, baginda segera meninggalkan bilik itu. Kepada emban yang masih bersimpuh, “Kawani Gustimu itu.”

“Hamba Baginda,” sahut emban itu. Tetapi ia tidak berani masuk kedalam bilik karena permaisuri tidak memanggilnya. Karena itu ia masih duduk dimuka pintu. Baru ketika ia terbatuk karena sedannya, maka terdengar Permaisuri memanggilnya, “apakah kau masih dimuka pintu?”

“Ampun gusti, Baginda memerintahkan hamba untuk menemani Gusti.”

“Tidurlah, aku ingin tinggal seorang diri”

Barulah emban itu berdiri dan kembali ke biliknya. teapi begitu ia merebahkan dirinya, ia menangis sejadi-jadinya. Berkali-kali dirabanya lehernya seolah olah sebuah goresan telah melukainya.

“Kenapa kau?,” tanya seorang temannya

Emban itu menggeleng.

“Apakah jajar yang berkumis kecil ingkar janji?”

“Ah,” desah emban yang sedang menangis itu. Namun lehernya menjadi semakin pedih dan napasnya sesak…..

Kawan-kawannya kemudian tidak bertanya apapun lagi. Dibiarkannya ia menangis dan menelungkup. Bahkan beberapa kawan-kawannya saling berbisik dan tertawa tertahan-tahan. Mereka menyangka bahwa emban itu sedang berselisih dengan calon suaminya yang jauh lebih muda daripadanya.

Dalam pada itu Baginda telah berjalan menunju ke Kasatrian. Namun sebelum Baginda sampai, maka Baginda melihat dua orang Nara Manggala membawa Prabasemi menunju ke Kasatrian itu pula. Karena itu segera Baginda berjalan mendahuluinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: