Hina Kelana: Bab 99. Empat Manusia Salju

Tergetar hati Lenghou Tiong, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa si nona akan bicara demikian, ia tercengang sejenak, katanya kemudian dengan tertawa, “Memangnya jiwaku ini diselamatkan oleh kau dan sejak itu sudah menjadi milikmu. Maka setiap saat bila kau mau ambil boleh kau laksanakan saja.”

“Semua orang mengatakan kau adalah pemuda bangor, nyatanya kata-katamu memang nakal. Entah mengapa, aku justru menyukai pemuda bangor seperti kau.”

“Bilakah aku pernah berbuat bangor padamu? Karena kau berkata demikian, aku menjadi mau berbuat bangor padamu.”

Mendadak Ing-ing meloncat mundur, katanya dengan muka cemberut, “Aku menyukai kau, tapi kita harus pakai aturan. Jika kau anggap aku sebagai perempuan murahan, maka salahlah pandanganmu.”

“Mana aku berani anggap kau sebagai perempuan murahan?” sahut Lenghou Tiong. “Kau adalah seorang nenek agung yang melarang aku berpaling memandang padamu.”

Ing-ing tertawa, ia teringat pada permulaan berkenalan dengar Lenghou Tiong memang pemuda itu selalu memanggil “nenek” padanya dengan penuh hormat. Dengan tertawa geli ia lantas duduk kembali dalam jarak rada jauh.

“Kau melarang aku nakal padamu, biarlah selanjutnya aku tetap memanggil nenek saja padamu,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Baik, cucu manis,” sahut Ing-ing tertawa geli.

“Nenek, aku….”

“Sudahlah, jangan panggil nenek lagi, nanti saja kalau 60 tahun lagi baru boleh panggil demikian.”

“Jika dipanggil mulai sekarang sampai 60 tahun lagi, maka tidak sia-sia hidupku ini,” ujar Lenghou Tiong.

Terguncang juga perasaan Ing-ing. Ia pikir kalau betul bisa hidup bersanding pemuda itu selama 60 tahun, maka bahagialah hidupnya.

Dari sebelah samping Lenghou Tiong melihat hidung si nona yang mancung, alisnya panjang, mukanya sangat halus. Pikirnya, “Nona secantik ini kenapa ditakuti dan dihormati oleh tokoh-tokoh Kangouw yang kasar-kasar itu, pula rela berbuat apa pun baginya?”

Mestinya ia bermaksud tanya si nona, tapi urung.

“Kau ingin bicara apa, silakan berkata saja,” ujar Ing-ing.

“Selama ini aku tidak habis heran, mengapa Lo Thau-cu, Coh Jian-jiu, dan lain sedemikian takut kepadamu?”

“Ya, aku tahu bila persoalan ini tidak kujelaskan tentu hatimu tetap tidak tenteram. Mungkin dalam batinmu akan mengira aku adalah jin atau siluman.”

“Tidak, tidak, aku anggap kau sebagai malaikat dewata yang berilmu mahasakti.”

“Dasar mulutmu memang suka omong tak keruan, pantas orang mengatakan kau pemuda nakal.”

“Jika kau anggap mulutku nakal, biarlah selamanya kau menanak nasi dan masak sayur yang enak-enak untuk menyumbat mulutku saja.”

“Aku tidak pintar masak, panggang kodok saja sampai hangus.”

Lenghou Tiong menjadi teringat kepada waktu memanggang kodok di tepi kali tempo dahulu. Ia merasa saat ini seakan-akan kembali pada suasana masa lampau itu.

Begitulah kedua muda-mudi itu saling pandang penuh arti, sampai agak lama mereka terdiam. Sejenak pula barulah Ing-ing bicara lagi, “Ayahku sebenarnya adalah Kaucu Tiau-yang-sin-kau, hal ini sudah diketahui olehmu. Kemudian ayah telah masuk perangkap Tonghong Put-pay yang licik itu dan disekap di tempat yang dirahasiakan. Tonghong Put-pay berdusta, katanya ayah meninggal di tempat yang jauh dan meninggalkan pesan agar dia menjabat kaucu baru.

“Waktu itu usiaku masih terlalu muda, Tonghong Put-pay juga teramat cerdik dan licin, apa yang dia lakukan sama sekali tidak mencurigakan aku. Untuk mengelabui orang luar, Tonghong Put-pay sengaja memperlakukan aku dengan sangat baik, apa yang kukatakan selalu dia laksanakan. Sebab itulah kedudukanku di dalam agama kami sangat diagungkan.”

“Apakah orang-orang Kangouw itu semuanya anggota Tiau-yang-sin-kau kalian?” tanya Lenghou Tiong.

“Tidak seluruhnya menjadi anggota, hanya mereka selamanya di bawah pengaruh kami, sebagian besar pimpinan mereka pun sudah makan Sam-si-nau-sin-tan (Pil Pengganggu Saraf) kami.”

Lenghou Tiong mendengus mendengar nama obat itu.

“Sesudah makan obat itu,” sambung Ing-ing, “setiap tahun satu kali mereka harus makan obat penawarnya, kalau tidak mereka tentu akan mati konyol bila racun yang terkandung dalam obat itu mulai bekerja. Tonghong Put-pay memperlakukan orang-orang Kangouw itu secara sangat bengis, sedikit tidak menyenangkan dia lantas tidak diberinya obat penawar. Selalu aku yang mesti mintakan ampun bagi mereka dan memintakan obat penawarnya.”

“O, kiranya demikian, jadi kau adalah penyelamat jiwa mereka,” ujar Lenghou Tiong.

“Sebenarnya juga bukan penyelamat apa-apa, soalnya mereka menyembah-nyembah dan minta-minta padaku, terpaksa aku tidak tega dan tak bisa tinggal diam. Lama-lama aku menjadi bosan karena selalu meminta pengampunan kepada Tonghong Put-pay, musim semi tahun lalu aku suruh keponakan Lik-tiok-ong mengiringi aku keluar pesiar, tak terduga aku malah menemui kejadian aneh. Tak peduli ke mana aku pergi selalu jejakku diketahui orang, selalu masih ada orang yang datang minta pertolongan padaku untuk mohon obat penawar. Semula aku sangat heran, sebab ke mana aku pergi tak kukatakan kepada siapa-siapa melainkan Tonghong Put-pay saja yang tahu. Maka, pastilah Tonghong Put-pay sendiri yang telah membocorkan jejakku yang sangat dirahasiakan. Rupanya itu pun akalnya yang licin, dia sengaja membiarkan orang luar mendapat kesan seakan-akan dia sangat menghormati aku dan segan padaku. Dengan demikian tentu tiada seorang pun yang menyangsikan kedudukannya itu adalah hasil ‘kudeta’ secara keji.

“Sudah tentu beribu orang yang datang ke Siau-lim-si ini tidak semua pernah minum obat penawar yang kumintakan. Tapi bila salah seorang pimpinan mereka pernah terima bantuanku, tentu anak buahnya merasa utang budi juga padaku. Pula kedatangan mereka ke Siau-sit-san ini juga belum tentu demi diriku, besar kemungkinan mereka datang atas panggilan Lenghou-tayhiap, mereka tidak berani mangkir.”

“Wah, baru setengah hari kau bergaul dengan aku sudah mahir putar lidah,” kata Lenghou Tiong.

Ing-ing mengikik tawa riang. Selama hidupnya di dalam Tiau-yang-sin-kau hanya menghadapi puji sanjung belaka, siapa pun tidak berani membangkang perintahnya, lebih-lebih tiada seorang pun yang berani bergurau padanya. Sekarang Lenghou Tiong bisa membanyol padanya, tentu saja sangat menggembirakan hatinya.

Selang sejenak Ing-ing berkata lagi dengan tersenyum, “Kau pimpin orang sebanyak itu datang ke sini memapak aku, sudah tentu aku sangat senang. Tadinya orang-orang Kangouw itu suka merasani diriku, katanya aku jatuh hati padamu, sebaliknya kau adalah pemuda romantis yang suka main cinta di sembarang tempat, hakikatnya tidak menaruh perhatian padaku…” sampai di sini suaranya menjadi perlahan, katanya pula dengan perasaan hampa, “tapi setelah geger-geger ini, sedikitnya kau telah mengembalikan kehormatanku bagi pandangan mereka itu. Seumpama aku mati juga takkan… takkan menanggung sangkaan jelek lagi.”

“Kau yang membawa aku ke Siau-lim-si dan minta pengobatan bagiku, waktu itu aku benar-benar tidak mengetahui sama sekali. Kemudian aku terkurung di bawah Danau Se-ouw, setelah lepas dan mengetahui duduknya perkara, lalu datang memapak dikau, namun engkau sudah cukup banyak menderita.”

“Sebenarnya aku pun tidak menderita kesukaran apa-apa selama dikurung di belakang gunung Siau-lim-si. Aku disekap sendirian di suatu rumah batu, setiap sepuluh hari tentu datang seorang hwesio tua mengantarkan perbekalan bagiku. Selain itu aku tidak pernah melihat siapa-siapa lagi. Sampai akhirnya Ting-sian dan Ting-yat Suthay datang ke Siau-lim-si, aku telah dikeluarkan untuk menemui mereka, di situ aku baru mengetahui ketua Siau-lim-si itu hakikatnya tidak pernah mengajarkan Ih-kin-keng padamu, juga tidak pernah mengobati penyakitmu. Aku menjadi marah demi mengetahui aku tertipu, aku mencaci maki hwesio tua Siau-lim-si itu. Ting-sian Suthay lantas menghibur aku, katanya kau sehat walafiat, katanya pula engkau yang suruh kedua suthay itu datang ke Siau-lim-si buat memintakan pembebasanku.”

“Sesudah mendengar demikian barulah kau tidak mencaci maki dia lagi?” tanya Lenghou Tiong.

“Ketua Siau-lim-si itu hanya tersenyum saja meski aku telah mencaci maki dia. Katanya, ‘Lisicu, waktu itu Lolap berjanji akan mengajarkan Ih-kin-keng kepada Lenghou-siauhiap untuk memunahkan macam-macam hawa murni yang mengacau di dalam tubuhnya itu, apabila Lenghou-siauhiap mau masuk Siau-lim-si dan dapat kuterima sebagai muridku. Namun Lenghou-siauhiap menolak anjuranku itu, maka aku pun tidak dapat memaksa dia. Pula waktu kau memanggul dia ke sini, tatkala itu keadaannya sangat payah, tapi ketika dia meninggalkan pegunungan ini, biarpun penyakitnya belum sembuh, namun sudah bisa berjalan seperti biasa, untuk mana sedikit-banyak Siau-lim-si juga berjasa baginya.’

“Kupikir ucapannya juga benar, aku lantas berkata, ‘Habis kenapa kau menahan aku di sini? Bukankah kau sengaja menipu aku?’”

“Ya, memangnya dia tidak pantas mendustai kau,” ujar Lenghou Tiong.

“Tapi ada juga alasannya yang masuk akal. Hwesio tua itu mengatakan bahwa aku ditahan di Siau-lim-si justru dia berharap akan dapat melenyapkan rasa congkakku. Huh, benar-benar ngaco-belo belaka,” Aku lantas menjawab, ‘Kau sudah begini tua, tapi suka mengakali anak kecil seperti kami, kau tahu malu tidak?’

“Hwesio tua itu tertawa dan berkata, ‘Waktu itu kau sendiri yang rela berkorban bagi keselamatan Lenghou-siauhiap. Meski kami tidak jadi menyembuhkan Lenghou-siauhiap, tapi jiwamu juga tidak kami ganggu. Sekarang mengingat kehormatan Ting-sian dan Ting-yat Suthay, bolehlah kau pergi dari sini.’

“Begitulah aku lantas dibebaskan dan turun gunung bersama kedua tokoh Hing-san-pay itu. Di bawah gunung kami ketemu Ban-li-tok-heng Dian Pek-kong, dia memberi tahu bahwa kau sedang dalam perjalanan bersama ribuan orang akan memapak aku ke Siau-lim-si.

“Kedua suthay menjadi khawatir dan tak bisa tinggal diam, segera mereka menyusul lagi ke atas gunung dengan maksud mencari kau untuk menghindarkan pertumpahan darah kedua pihak. Tak terduga maksud luhur kedua suthay yang berkepandaian tinggi itu justru bisa tewas di dalam Siau-lim-si.”

Habis berkata Ing-ing menghela napas panjang penuh penyesalan.

“Ya, entah siapakah yang menurunkan tangan keji kepada beliau-beliau itu,” kata Lenghou Tiong gegetun. “Pada tubuh kedua suthay itu tiada tanda-tanda luka, cara bagaimana tewasnya juga tidak diketahui.”

“Tanda luka jelas ada, siapa yang bilang tidak ada?” sahut Ing-ing. “Ketika ayah, Hiang-sioksiok, dan aku melihat jenazah kedua suthay itu menggeletak di dalam Siau-lim-si, aku telah coba membuka baju mereka dan memeriksa badannya, kulihat bagian ulu hati masing-masing ada suatu titik merah bekas tusukan jarum. Jelas mereka tewas tertusuk oleh jarum berbisa.”

“Hahhh!” Lenghou Tiong melonjak kaget. “Jarum berbisa? Di dunia persilatan sekarang siapakah yang memakai jarum berbisa?”

“Ayah dan Hiang-sioksiok yang berpengalaman luas juga tidak tahu. Menurut ayah, katanya itu bukan jarum berbisa, tapi adalah sejenis senjata yang ditusukkan kepada bagian fatal sehingga korbannya mati seketika. Cuma tusukan kepada ulu hati Ting-sian Suthay itu rada menceng sedikit.”

“Benar. Waktu aku menemukan Ting-sian Suthay, beliau belum meninggal. Jika tusukan jarum itu mengarah ulu hati, maka jelas bukan serangan gelap, tapi pertarungan berhadapan. Tentunya pembunuh kedua suthay itu pasti orang kosen yang mahalihai.”

“Ya, ayahku pun berkata demikian. Dengan sedikit data-data itu rasanya takkan sulit menemukan pembunuhnya kelak.”

Mendadak Lenghou Tiong menggaplok dinding gua, katanya, “Ing-ing, selama kita masih bernapas, kita harus menuntut balas bagi kedua suthay yang baik hati itu.”

“Benar,” sahut Ing-ing mantap.

Sambil duduk bersandar dinding gua, Lenghou Tiong merasa kaki dan tangannya dapat bergerak leluasa, dada juga tidak merasa sakit, ia menjadi heran, katanya, “Aneh, aku telah ditendang begitu keras oleh suhuku, kenapa seperti tidak terluka apa-apa dadaku.”

“Kata ayah kau telah mempelajari Gip-sing-tay-hoat-nya, dalam badanmu sudah tidak sedikit menyedot tenaga dalam orang lain. Maka kekuatan lwekangmu sesungguhnya sudah beberapa kali lebih kuat daripada gurumu. Tatkala itu kau sampai muntah darah, soalnya kau tidak mau mengerahkan tenaga untuk melawan tendangan gurumu. Namun lwekangmu yang mahakuat itu telah melindungi tubuhnya sehingga lukamu teramat ringan. Setelah ayah mengurut-urut tubuhmu, sementara ini kesehatanmu sudah pulih kembali. Cuma patahnya tulang kaki gurumu itu sebaliknya adalah kejadian aneh. Sudah setengah hari ayah memikirkan hal itu dan tetap tidak tahu sebab musababnya.”

“Kekuatan lwekangku yang menggetar kembali tendangan suhu itu sehingga mematahkan tulang kakinya, kenapa hal ini mesti diherankan?” ujar Lenghou Tiong.

“Bukan begitu halnya,” sahut Ing-ing. “Kata ayah, tenaga dalam berasal dari orang lain itu harus bisa digunakan dengan lancar barulah bisa dipakai menyerang lawan. Tapi tetap kalah setingkat bila dibandingkan lwekang yang berhasil diyakinkan oleh dirimu sendiri.”

“Kiranya demikian,” kata Lenghou Tiong. Karena tidak paham persoalannya, maka ia pun tidak mau banyak pikir lagi. Ia hanya merasa tidak enak karena telah membikin patah tulang kaki sang guru. Pikirnya, “Lantaran diriku siausumoay sampai dilukai oleh Gi-ho Sumoay. Sekarang bukan saja suhu juga terluka, bahkan aku telah membuatnya malu di depan orang banyak. Dosaku ini betapa pun sukar ditebus lagi.”

Untuk sekian lamanya mereka terdiam, suasana sunyi, hanya terkadang terdengar suara letikan kayu api yang terbakar di luar gua itu. Tertampak salju bertebaran dengan lebatnya, jauh lebih lebat daripada hujan salju di atas Siau-sit-san kemarin.

Dalam keadaan sunyi senyap itu, tiba-tiba Lenghou Tiong mendengar di sebelah barat gua sana ada suara orang bernapas dengan berat. Segera ia pasang telinga buat mendengarkan lebih cermat.

Lwekang Ing-ing tidak setinggi Lenghou Tiong, ia tidak dapat mendengar suara itu, tapi melihat gerak-gerik pemuda itu ia lantas tanya, “Kau mendengar suara apa?”

“Seperti orang bernapas, entah siapa yang datang,” sahut Lenghou Tiong. “Di mana ayahmu?”

“Ayah dan Hiang-sioksiok bilang mau jalan-jalan keluar,” kata Ing-ing dengan wajah merah. Ia tahu maksud ayahnya mengatakan begitu adalah sengaja memberi kesempatan padanya agar bisa bicara lebih asyik dan mesra melipur perasaan rindu selama berpisah ini.

Sementara itu Lenghou Tiong mendengar lagi suara orang bernapas, katanya segera, “Marilah kita keluar melihatnya.”

Mereka keluar gua, terlihat bekas kaki Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian sudah hampir lenyap tertutup oleh salju.

“Dari situlah datangnya suara napas orang itu,” kata Lenghou Tiong sambil menunjuk ke arah bekas-bekas kaki. Segera mereka mengikuti jejak kaki itu, kira-kira satu-dua li jauhnya, setelah membelok suatu lintasan bukit, mendadak di tanah salju sana kelihatan Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian berdiri sejajar tanpa bergerak.

Mereka terkejut dan cepat memburu ke sana. “Ayah!” seru Ing-ing, segera ia pegang sebelah tangan Yim Ngo-heng.

Tak terduga, begitu menempel tangan sang ayah, seketika seluruh badan Ing-ing tergetar, terasa suatu arus hawa mahadingin menyalur tiba dari tangan ayahnya sehingga dia kedinginan.

“Ayah, kau… kau kenapa….” belum habis ucapannya badan sudah gemetar, gigi berkertukan. Tapi ia lantas paham duduknya perkara, tentu keadaan ayahnya itu adalah akibat tutukan maut Co Leng-tan dan sekarang Hiang Bun-thian sedang membantu sang ayah melawan serangan hawa dingin dengan segenap lwekangnya.

Mula-mula Lenghou Tiong juga tidak paham, dilihatnya wajah Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian sangat prihatin, menyusul Yim Ngo-heng bernapas lagi beberapa kali dengan berat, baru sekarang ia tahu suara napas yang didengarnya tadi kiranya berasal dari Yim Ngo-heng.

Ketika dilihatnya badan Ing-ing juga menggigil kedinginan, tanpa pikir ia lantas pegang tangan si nona. Sekejap saja hawa dingin itu pun menyusup ke dalam tubuhnya. Seketika pahamlah Lenghou Tiong bahwa Yim Ngo-heng telah terserang oleh hawa dingin musuh dan sekarang sedang mengerahkan tenaga untuk membuyarkan hawa dingin itu. Segera ia menggunakan cara yang pernah dipelajari dari ilmu yang terukir di atas papan besi di penjara bawah Se-ouw dahulu itu, perlahan-lahan ia membuyarkan hawa dingin yang menyusup ke dalam tubuhnya.

Mendapat bantuan Lenghou Tiong itu, seketika hati Yim Ngo-heng merasa lega. Maklumlah, biarpun lwekang Hiang Bun-thian dan Ing-ing cukup tinggi, tapi tidaklah sama dengan lwekang yang diyakinkan Yim Ngo-heng, mereka hanya bisa membantu lawan hawa dingin dengan lwekang, tapi tak bisa membuyarkan hawa dinginnya. Dengan bantuan Lenghou Tiong yang tepat itu, sedikit demi sedikit Lenghou Tiong menarik “Han-giok-cin-gi” yang dicurahkan Co Leng-tan ke tubuh Yim Ngo-heng itu, lalu dibuyarkan keluar sehingga racun dingin yang mengeram di tubuh Yim Ngo-heng semakin berkurang.

Begitulah mereka berempat tangan bergandengan tangan berdiri kaku di tanah salju itu seperti patung, bunga salju masih terus turun dengan lebatnya sehingga lambat laun dari kepala sampai kaki mereka tertutup semua oleh salju.

Sambil mengerahkan tenaga Lenghou Tiong merasa heran pula kenapa bunga salju yang menimpa mukanya tidak mencair? Sebaliknya malah terus menempel dan membeku dan makin tebal.

Ia tidak tahu bahwa “Han-giok-cin-gi” yang diyakinkan Co Leng-tan itu sangat lihai, hawa dingin yang dipancarkan itu jauh lebih dingin daripada salju. Kini kulit badan mereka berempat sudah sedingin es, hanya dalam badan saja yang masih hangat. Sebab itulah bunga salju yang menimpa mereka tidak mencair, sebaliknya makin tertimbun dan makin keras.

Selang agak lama, cuaca mulai terang, tapi salju masih turun dengan lebatnya. Lenghou Tiong khawatir badan Ing-ing yang lemah itu tidak tahan serangan hawa dingin dalam waktu lama, tapi ia merasa racun dingin di tubuh Yim Ngo-heng itu belum terkuras bersih, meski suara napasnya yang berat sudah tidak terdengar lagi, entah boleh berhenti tidak pertolongannya itu, kalau berhenti apakah akan terjadi akibat lain tidak?

Karena ragu-ragu, terpaksa ia meneruskan bantuan lwekangnya kepada Yim Ngo-heng. Syukurlah dari tapak tangan Ing-ing yang digenggamnya itu dapat dirasakan badan si nona sudah tidak menggigil lagi, dapat pula dirasakan denyut nadi di tapak si nona.

Dalam keadaan terbungkus oleh salju yang tebal, bagian mata juga terlapis salju beberapa senti tebalnya, lapat-lapat Lenghou Tiong cuma bisa merasakan cuaca sudah terang, tapi tak bisa melihat apa-apa.

Tanpa menghiraukan urusan lain Lenghou Tiong terus mengerahkan tenaganya, ia berharap selekasnya racun dingin di tubuh Yim Ngo-heng akan dapat dipunahkan seluruhnya.

Entah berapa lama lagi, tiba-tiba dari jurusan timur laut yang jauh sana terdengar suara derapan kaki kuda dan makin lama makin mendekat. Kemudian terdengar jelas yang datang ada dua penunggang kuda, yang satu di depan dan yang lain di belakang. Menyusul lantas terdengar seruan seorang, “Sumoay, Sumoay, dengarkan aku dulu!”

Meski kedua telinga juga tertutup oleh salju tebal, tapi dapat didengarnya dengan jelas bahwa suara itu bukan lain adalah suara bekas gurunya, yaitu Gak Put-kun.

Terdengar suara berdetak-detak kaki kuda yang tidak berhenti, lalu suara Gak Put-kun berseru lagi, “Kau tidak paham seluk-beluknya lantas uring-uringan, hendaklah kau dengarkan ceritaku dulu.”

Lalu terdengar Gak-hujin berseru, “Aku merasa kesal sendiri, peduli apa dengan urusanmu? Apa lagi yang perlu diceritakan?”

Dari suara seruan mereka serta suara kaki kuda, terang Gak-hujin berada di depan dan disusul oleh Gak Put-kun dari belakang.

Lenghou Tiong menjadi heran, pikirnya, “Perangai sunio biasanya sangat halus dan tidak pernah ribut mulut dengan suhu, entah apa sebabnya sekali ini suhu telah membikin marah padanya?”

Terdengar kuda tunggangan Gak-hujin semakin mendekat, mendadak terdengar dia bersuara heran, menyusul kudanya meringkik panjang, mungkin karena mendadak dia menahan tali kendali sehingga kudanya berhenti mendadak dengan kedua kaki depan terangkat.

Selang sejenak Gak Put-kun telah menyusul tiba, katanya, “Di tanah pegunungan ini ternyata ada orang menimbun empat orang-orangan salju. Sumoay, bagus dan mirip sekali orang-orang salju itu, bukan?”

Gak-hujin hanya mendengus saja tanpa menjawab. Mungkin rasa marahnya belum reda, tapi jelas ia pun sangat tertarik oleh empat orang-orangan salju yang dikatakan itu.

Baru saja Lenghou Tiong merasa heran dari manakah di tanah pegunungan luas ini ada empat orang-orangan salju, tapi segera ia menjadi paham, “Ya, kami berempat tertimbun salju sedemikian tebalnya sehingga suhu dan sunio menyangka kami sebagai orang-orangan salju.”

Lalu terdengar Gak Put-kun berkata, “Di sini tiada tanda-tanda bekas kaki, kukira orang-orangan salju ini sudah dibuat beberapa hari yang lalu. Sumoay, bukankah tiga di antaranya seperti lelaki dan satu perempuan?”

“Tampaknya hampir sama saja, masakah ada perbedaannya?” ujar Gak-hujin, lalu ia membentak kudanya hendak dilarikan.

Cepat Gak Put-kun menahan tali kendali kuda istrinya dan berkata, “Sumoay, kenapa kau terburu-buru? Di sini tiada orang lain, marilah kita berunding secara panjang.”

“Terburu-buru apa, aku hanya mau pulang ke Hoa-san, kau suka mengekor kepada Co Leng-tan boleh pergi sendiri saja ke Ko-san,” sahut Gak-hujin.

“Siapa bilang aku mau mengekor Co Leng-tan? Sebagai ketua Hoa-san-pay yang terhormat buat apa aku mesti tunduk kepada Ko-san-pay?”

“Itulah, justru aku tidak paham mengapa sebagai ketua Hoa-san-pay kau justru mau tunduk kepada Co Leng-tan dan terima perintahnya? Sekalipun dia adalah bengcu dari Ngo-gak-kiam-pay, tapi juga tidak boleh mencampuri urusan dalam Hoa-san-pay kita. Bila kelima golongan dilebur menjadi satu, lalu nama Hoa-san-pay dapatkah dipertahankan lagi di dunia persilatan? Dahulu waktu suhu menyerahkan jabatan ciangbun kepadamu, pesan apa saja yang beliau tinggalkan kepadamu?!”

“Suhu menghendaki aku mengembangkan kejayaan Hoa-san-pay,” sahut Gak Put-kun.

“Nah, itu dia. Sekarang bila kau menggabungkan Hoa-san-pay ke dalam Ko-san-pay, cara bagaimana kau akan bertanggung jawab kepada mendiang guru kita? Biarpun kecil Hoa-san-pay harus berdiri sendiri daripada bersandar kepada orang lain.”

Gak Put-kun menghela napas, katanya, “Sumoay, menurut pendapatmu, bagaimana kepandaian Ting-sian dan Ting-yat Suthay dari Hing-san-pay jika dibandingkan kita?”

“Tidak pernah bertanding, tapi kukira juga sembabat. Buat apa kau tanya soal ini?”

“Aku pun berpendapat demikian. Kedua suthay itu tewas di Siau-lim-si, jelas Co Leng-tan yang membunuh mereka,” kata Put-kun.

Mendengar sampai di sini, hati Lenghou Tiong tergetar. Memangnya ia pun mencurigai Co Leng-tan yang membunuh pimpinan-pimpinan Hing-san-pay itu, orang lain rasanya juga tidak memiliki kepandaian setinggi itu.

“Lantas bagaimana jika itu perbuatan Co Leng-tan? Bila kau ada bukti nyata, seharusnya kau undang seluruh kesatria sejagat dan sama-sama mendatangi Co Leng-tan untuk membalas sakit hati kedua suthay.”

Kembali Gak Put-kun menghela napas, katanya, “Pertama memang tidak ada bukti. Kedua, kekuatan kita tak bisa melawannya.”

“Mengapa tidak bisa melawannya? Kita dapat menampilkan Hong-ting Taysu dari Siau-lim-si dan Tiong-hi dari Bu-tong-pay, apakah Co Leng-tan berani?”

“Tapi sebelum beliau-beliau itu dapat kita undang, kukhawatir kita suami istri sudah mengalami nasib seperti kedua suthay itu,” ujar Put-kun menghela napas.

“Kau maksudkan kita akan dibunuh juga oleh Co Leng-tan? Hm, sebagai orang persilatan masakah kita harus takut menghadapi risiko demikian? Kalau takut ini dan takut itu, cara bagaimana kau akan berkecimpung di dunia Kangouw?”

Alangkah kagumnya Lenghou Tiong terhadap sang ibu-guru itu. Pikirnya, “Biarpun kaum wanita, tapi jiwa kesatria sunio harus dipuji.”

“Kita tidak takut mati, tapi apa faedahnya pengorbanan kita?” ujar Put-kun. “Kalau Co Leng-tan membunuh kita secara menggelap, kita mati dengan tidak terang seluk-beluknya, akhirnya dia toh tetap mendirikan Ngo-gak-kiam-pay-nya, bukan mustahil dia malah akan menjatuhkan sesuatu fitnah keji atas diri kita.”

Gak-hujin terdiam.

Gak Put-kun lantas menyambung pula, “Bila kita mati, maka anak murid Hoa-san-pay tentu juga akan menjadi mangsa empuk Co Leng-tan, masakah mereka sanggup melawannya? Pendek kata, betapa pun kita harus memikirkan diri Leng-sian.”

Gak-hujin berdehem perlahan, agaknya hatinya terpengaruh juga oleh kata-kata sang suami. Selang sejenak baru berkata, “Seumpama sementara ini kita tidak perlu membongkar tipu muslihat Co Leng-tan, tapi kenapa kau malah memberikan Pi-sia-kiam-boh milik keluarga Peng-ci kepada orang she Co itu? Bukankah itu berarti membantu kejahatannya sehingga mirip harimau tumbuh sayap?”

“Itu pun merupakan rencanaku dalam jangka panjang,” kata Gak Put-kun. “Jika aku tidak memberikan kitab pusaka yang menjadi impian setiap orang bu-lim, tentu sukar membikin dia percaya akan kesungguhan hatiku untuk bekerja sama dengan dia. Semakin dia tidak menaruh curiga padaku, semakin bebaslah tindak tanduk kita. Nanti kalau waktunya sudah masak barulah kita membongkar kedoknya dan bersama para kesatria seluruh jagat membinasakan dia.”

Pada saat itulah mendadak Lenghou Tiong merasa kepalanya tergetar seperti ditabok oleh tangan orang, keruan ia terkejut, “Wah, celaka, mungkin penyamaran kami ini ketahuan mereka. Selagi racun dingin Yim-kaucu belum punah sama sekali, apa yang harus kulakukan jika suhu dan sunio menyerang aku?”

Ia merasa tenaga dalam yang tersalur dari tangan Ing-ing juga tergetar beberapa kali, diduganya tentu perasaan Yim Ngo-heng juga tidak tenteram. Tapi sesudah kepalanya ditabok orang, lalu tiada sesuatu kejadian lagi.

Terdengar Gak-hujin bicara pula, “Kemarin waktu kau bertanding dengan Tiong-ji, berulang-ulang kau telah memainkan jurus-jurus Long-cu-hwe-tau, Jong-siong-ging-khik, dan sebagainya, apa artinya itu?”

“Hehe, meski kelakuan bangsat cilik itu tidak senonoh, betapa pun dia adalah anak yang kita piara sejak kecil, rasanya sayang jika melihat dia sampai tersesat, maka bila dia mau berpaling kembali ke jalan yang benar, aku pun bersedia menerima dia kembali ke dalam Hoa-san-pay.”

“Bahkan maksudmu akan menjodohkan Anak Sian kepadanya, bukan?” tanya Gak-hujin.

“Ya, memang,” sahut Gak Put-kun.

“Isyarat yang kau berikan waktu itu hanya sebagai siasat saja atau memang benar-benar berniat begitu?” tanya pula Gak-hujin.

Gak Put-kun terdiam. Segera Lenghou Tiong merasa kepalanya diketok-ketok perlahan lagi oleh orang. Maka tahulah dia pasti sembari berpikir Gak Put-kun menggunakan tangannya menabok-nabok perlahan di atas kepala orang-orangan salju, jadi penyamaran Lenghou Tiong berempat belum lagi diketahui olehnya.

Sejenak baru terdengar Gak Put-kun menjawab, “Seorang laki-laki harus pegang janji, sekali aku sudah menyanggupi dia tentu tidak boleh ingkar janji.”

“Dia sangat kesengsem kepada perempuan siluman Mo-kau itu, masakah kau tidak tahu?” ujar Gak-hujin.

“Tidak, terhadap perempuan siluman Mo-kau itu dia hanya segan dan takut, kesengsem sih belum tentu,” ujar Put-kun. “Masakah kau tidak dapat membedakan bagaimana sikap biasanya terhadap Anak Sian daripada terhadap perempuan siluman itu?”

“Sudah tentu aku dapat melihatnya. Jadi kau yakin dia masih belum melupakan Anak Sian?”

“Bukan saja tidak lupa, bahkan boleh dikata sangat rindu,” kata Gak Put-kun. “Tidakkah kau menyaksikan betapa senangnya dia waktu mengetahui arti dari jurus-jurus seranganku itu?”

“Justru karena itu, maka kau telah menggunakan Anak Sian sebagai umpan untuk memancing dia agar sengaja mengalah padamu, bukan?”

Meski kupingnya tertutup oleh salju, tapi dapat pula Lenghou Tiong mendengar kata-kata sang sunio yang bernada marah dan menyindir itu. Padahal nada demikian selamanya tak pernah diucapkan oleh sang sunio terhadap suaminya. Betapa pun ibu guru itu selalu menghormati kedudukan sang suami sebagai ketua suatu aliran persilatan yang disegani. Tapi sekarang dia sampai mengucapkan kata-kata bernada menyindir, hal ini menandakan betapa tidak senang hatinya terhadap sang suami.

Terdengar Gak Put-kun menghela napas panjang, katanya, “Sampai kau pun tidak paham maksud tujuanku, apalagi orang luar. Padahal bukan untuk kepentingan diriku pribadi, tapi adalah demi kehormatan Hoa-san-pay kita. Jika aku dapat menyadarkan Lenghou Tiong sehingga dia masuk kembali Hoa-san-pay, maka ini berarti satu usaha empat keuntungan, suatu kejadian yang sangat bagus.”

“Satu usaha empat keuntungan apa?” tanya Gak-hujin.

“Seperti kau mengetahui, entah dari mana mendadak Lenghou Tiong mendapat ajaran ilmu pedang ajaib dari Hong-susiok. Jika dia kembali ke dalam Hoa-san-pay, itu berarti wibawa Hoa-san-pay kita akan tambah cemerlang, ini adalah keuntungan pertama. Dengan demikian tipu muslihat Co Leng-tan akan mencaplok Hoa-san-pay tentu sukar terlaksana, bahkan Thay-san-pay, Heng-san-pay, dan Hing-san-pay juga bisa diselamatkan, ini adalah keuntungan kedua. Jika dia masuk kembali Hoa-san-pay, itu berarti pihak cing-pay kita bertambah suatu jago kelas wahid, sebaliknya pihak sia-pay akan menjadi lemah kehilangan seorang pembantu yang diandalkan, ini adalah keuntungan ketiga. Betul tidak, Sumoay?”

Agaknya Gak-hujin merasa tertarik juga oleh uraian sang suami itu, lalu ia bertanya, “Dan keuntungan yang keempat?”

“Keuntungan keempat ini lebih meyakinkan lagi. Tiong-ji adalah kita yang membesarkan, kita sendiri tidak punya putra, selama ini kita anggap dia sebagai putra kandung kira sendiri. Bahwa dia tersesat ke jalan yang tidak baik sesungguhnya aku pun sangat sedih. Usiaku sudah lanjut, apa artinya nama kosong bagiku di dunia fana ini? Asalkan dia bisa kembali ke jalan yang baik, sekeluarga kita dapat berkumpul kembali dengan bahagia, bukankah ini suatu peristiwa yang menggembirakan?”

Mendengar sampai di sini, alangkah terharunya Lenghou Tiong sehingga air matanya berlinang-linang di kelopak matanya, hampir-hampir ia berteriak, “Suhu, Sunio!”

Syukur terasa olehnya tangan Ing-ing yang digenggamnya itu rada tergetar sehingga seruannya itu urung dikeluarkan.

“Peng-ci dan Anak Sian berdua sangat cocok satu sama lain, masakah kau tega memisahkan mereka dan membikin Anak Sian menyesal selama hidup?” tanya Gak-hujin.

“Apa yang kulakukan ini adalah demi kebaikan Anak Sian pula,” sahut Put-kun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: