Hina Kelana: Bab 98. Ketua Hoa-san-pay yang Tidak Tahu Malu

Segera ia pun bicara lagi, “Mohon para Cianpwe sudi memberi maaf bilamana aku tidak sejak tadi turun memberi hormat, sebab merasa berdosa.”

“Kau merasa berdosa, hendak mencuri apakah kau datang ke Siau-lim-si sini?” tanya Kay Hong.

“Lantaran kudengar Yim-siocia ditahan di sini, maka maksudku hendak memapaknya pulang,” sahut Lenghou Tiong.

“Haha, kiranya kedatanganmu ini hendak mencuri bini,” kata Kay Hong dengan tertawa.

“Aku sudah utang budi kepada Yim-siocia, biarpun hancur lebur badanku juga rela baginya,” ujar Lenghou Tiong.

“Sayang, sungguh sayang,” kata Kay Hong dengan menghela napas. “Seorang muda baik-baik dan punya hari depan gemilang ternyata menjadi korban wanita. Bila kau tidak terjerumus, kelak jabatan ketua Hoa-san-pay masakah bisa lari dari tanganmu?”

“Hm, hanya ketua Hoa-san-pay saja kenapa mesti diherankan?” tiba-tiba Yim Ngo-heng menyela. “Kelak kalau aku sudah pulang ke dunia nirwana, jabatan ketua Tiau-yang-sin-kau kami ini masakah bisa lari dari tangan menantu kesayanganku ini?”

Lenghou Tiong terkejut katanya dengan suara gemetar, “O, ti… tidak… ti….”

“Sudahlah, tidak perlu banyak bicara lagi,” kata Yim Ngo-heng dengan tertawa. “Nah, Anak Tiong, boleh kau coba belajar kenal ilmu pedang sakti ketua Bu-tong-pay ini. Hendaklah kau hati-hati.”

Dia menyebut Lenghou Tiong sebagai “Anak Tiong”, tampaknya dia benar-benar sudah menganggapnya sebagai menantu. Keruan Lenghou Tiong serbakikuk.

Lenghou Tiong coba menimbang suasana sekitarnya, masing-masing pihak sementara itu sudah menang satu babak, jadi babak ketiga inilah yang menentukan Ing-ing bisa diselamatkan atau tidak. Ia sudah pernah bertanding pedang dengan Tiong-hi Totiang dan dapat mengalahkannya, maka untuk menolong Ing-ing mau tak mau dirinya harus maju.

Segera ia putar ke arah Tiong-hi Tojin dan menyembah beberapa kali padanya. Tiong-hi terkejut dan cepat membangunkannya dan berkata, “Kenapa Adik cilik memakai kehormatan setinggi ini?”

“Hatiku tidak tenteram karena harus minta pengajaran kepada Totiang yang sangat kuhormati,” sahut Lenghou Tiong.

“Ah, kau ini terlalu banyak adat,” ujar Tiong-hi sambil tertawa.

Waktu Lenghou Tiong berbangkit, Yim Ngo-heng lantas menyodorkan pedang kepadanya. Lenghou Tiong menerima pedang itu, lalu siap berdiri di sudut kiri dengan ujung pedang mengarah ke bawah.

Tiong-hi Totiang memandangnya sekejap, lalu berpaling dan memandang jauh ke angkasa luar dan termenung-menung sambil menimbang-nimbang akan ilmu pedang Lenghou Tiong yang telah dikenalnya tempo hari.

Melihat Tiong-hi termenung-menung dan tidak siap bertanding, semua orang menjadi heran, tadi tiada seorang pun yang berani menegur.

Agak lama kemudian, tiba-tiba Tiong-hi menghela napas panjang, lalu berkata, “Pertandingan babak ini tidak perlu dilangsungkan, kalian berempat boleh turun gunung saja.”

Keruan semua orang terperanjat mendengar ucapannya ini. “Apa artinya ucapanmu ini, Totiang?” tanya Kay Hong.

“Aku tidak menemukan cara mematahkan ilmu pedangnya, maka babak ini aku mengaku kalah saja,” sahut Tiong-hi.

“Tapi kalian kan belum bertanding?” ujar Kay Hong terheran-heran.

“Setengah bulan yang lalu di kaki Bu-tong-san sudah pernah kucoba lebih tiga ratus jurus dengannya, waktu itu aku kalah. Maka kalau bertanding lagi sekarang tetap aku tak bisa menang.”

“Benarkah telah terjadi demikian?” tanya Hong-ting dan lain-lain.

“Ya, adik cilik Lenghou Tiong sudah mendapat ajaran ilmu pedang Hong Jing-yang, Hong-locianpwe, maka sekali-kali aku bukan tandingannya,” sahut Tiong-hi, lalu ia pun mengundurkan diri ke pinggir.

“Jiwa kesatria Tiong-hi Totiang sungguh membikin aku sangat kagum. Mestinya aku cuma kagum separuh saja kepadamu, tapi sekarang telah bertambah menjadi kagum tiga per empat,” kata Yim Ngo-heng. Lalu ia memberi hormat kepada Hong-ting dan menyambung, “Hongtiang Taysu sampai berjumpa pula lain kali.”

Lenghou Tiong mendekati Gak Put-kun dan istrinya, ia berlutut dan menyembah.

“Aku tak berani terima,” kata Gak Put-kun dengan sikap dingin. Sebaliknya Gak-hujin menjadi pilu, air matanya berlinang-linang.

“Marilah kita pergi,” kata Yim Ngo-heng sembari sebelah tangan menggandeng Ing-ing sebelah tangan lain menggandeng Lenghou Tiong.

Kay Hong, Thian-bun Tojin, dan lain-lain menyadari kepandaian mereka tidak lebih tinggi daripada Tiong-hi Tojin, kalau Tiong-hi saja mengaku bukan tandingan Lenghou Tiong, sudah tentu mereka tidak berani mencari penyakit walaupun merasa sangsi.

Saat itu Yim Ngo-heng sudah mau melangkah keluar, tiba-tiba Gak Put-kun membentak, “Nanti dulu!”

“Ada apa?” tanpa Yim Ngo-heng sambil menoleh.

“Tiong-hi Totiang tidak sudi berurusan dengan manusia rendah, maka babak ketiga toh belum pernah terjadi,” kata Gak Put-kun. “Nah, majulah Lenghou Tiong, biar aku yang melayani kau.”

Sungguh kejut Lenghou Tiong tak terkatakan sehingga badannya gemetar, sahutnya dengan tergagap-gagap, “Suhu, aku… aku….”

Namun sikap Gak Put-kun biasa saja, katanya, “Katanya kau mendapat ajaran tokoh angkatan tua perguruan sendiri, Hong-susiok, ilmu pedangmu sudah mencapai intisari Hoa-san-pay yang tiada taranya, tampaknya aku bukan lagi tandinganmu. Meski kau sudah dipecat dari perguruan, tapi petualanganmu di dunia Kangouw masih tetap menggunakan ilmu pedang perguruan kita. Memangnya aku yang salah mengajar sehingga para sahabat dari cing-pay ikut kepala pusing bagi murid murtad seperti kau ini. Maka kalau sekarang aku tidak turun tangan, masakah mesti minta orang lain yang menanggung tugas berat ini? Pendek kata, bila hari ini aku tidak membinasakan kau, biar kau saja yang membunuh diriku.”

Ucapan Gak Put-kun itu makin lama makin bengis, akhirnya ia terus lolos pedang dan membentak, “Nah, kau dan aku sudah putus hubungan sebagai murid dan guru. Lekas keluarkan pedangmu!”

“Tecu tidak berani!” sahut Lenghou Tiong sambil mundur selangkah.

“Sret”, Gak Put-kun terus mendahului menusuk lurus ke depan, itulah jurus “Jong-siong-ging-khik”, itulah salah satu jurus Hoa-san-kiam-hoat yang lihai.

Cepat Lenghou Tiong mengelak ke samping dan tetap tidak mengeluarkan pedangnya. Berturut-turut Gak Put-kun menusuk lagi dua kali dan tetap dihindarkan oleh Lenghou Tiong.

“Kau sudah mengalah tiga jurus padaku dan boleh dianggap sebagai menghormati aku sebagai bekas gurumu, sekarang lekas lolos pedangmu!” kata Put-kun.

Yim Ngo-heng juga berseru, “Tiong-ji, jika kau tidak balas menyerang, apakah jiwamu sengaja kau korbankan di sini?”

“Baik,” sahut Lenghou Tiong sambil melolos pedangnya.

Dengan senjata di tangan pikiran Lenghou Tiong menjadi lebih mantap. Ia tahu kalau melulu mengandalkan ilmu pedangnya saja sekali-kali sang suhu tidak mampu membunuhnya, sebaliknya dirinya juga tidak nanti mengganggu seujung rambut pun gurunya itu. Tapi pertandingan ini harus dimenangkan oleh sang suhu saja atau mesti mengalahkan dia? Bila dirinya mengalah, maka akibatnya Yim Ngo-heng, Hiang Bun-thian, dan Ing-ing harus menderita terkurung sepuluh tahun di Siau-sit-san sini. Sebaliknya kalau tidak mengalah akan berarti membikin malu gurunya itu di hadapan orang banyak, padahal budi kebaikan sang guru dan ibu-gurunya yang telah mendidik dan membesarkannya selama ini belum pernah dibalasnya.

Persoalan mahasulit ini benar-benar membuatnya bingung dan sukar memilih. Dalam keadaan bimbang itulah ia sudah diserang beberapa jurus lagi oleh Gak Put-kun. Tapi Lenghou Tiong hanya menangkis dengan ilmu pedang ajaran sang guru dahulu. Maklumlah “Tokko-kiu-kiam” tidak boleh dibuat main-main, setiap jurusnya selalu mengincar tempat mematikan musuh, sebab itu ia tidak berani sembarangan menggunakan. Sejak dia meyakinkan Tokko-kiu-kiam, pengetahuannya boleh dikata mencapai puncaknya, biarpun cuma Hoa-san-kiam-hoat yang dimainkan, namun tenaga yang timbul dari pedangnya sudah tentu lain daripada dahulu. Meski berulang-ulang Gak Put-kun menyerang dengan segala kemahirannya masih tetap tak bisa menembus penjagaan Lenghou Tiong.

Para penonton itu tergolong jago kelas wahid semua, melihat cara bertempur Lenghou Tiong itu mereka lantas tahu anak muda itu sengaja mengalah dan tidak menempur Gak Put-kun dengan sesungguh hati.

Yim Ngo-heng saling pandang dengan Hiang Bun-thian dan sorot matanya memancarkan rasa khawatir. Sebab mereka sama-sama teringat kepada kejadian di Bwe-cheng di tepi danau Hangciu tempo dulu. Waktu itu Yim Ngo-heng mengajak Lenghou Tiong masuk Tiau-yang-sin-kau dan menjadikan kedudukan Kong-beng-yusu baginya, kedudukan itu berarti ahli waris kaucu di kemudian hari. Juga disanggupi akan mengajarkan ilmu caranya memunahkan tenaga balik yang timbul dari Gip-sing-tay-hoat. Namun semua janji itu ternyata tidak mengguncangkan iman anak muda itu, ini memperlihatkan betapa setianya kepada perguruannya sendiri. Sekarang dilihatnya lagi betapa sikap menghormat anak muda itu kepada bekas gurunya, hakikatnya biar tertusuk mati oleh bekas sang guru itu pun takkan membuatnya menyesal, apalagi melancarkan serangan balasan, terang tiada harapan buat menang.

Sesungguhnya Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian adalah tokoh-tokoh yang cerdik pandai, tapi melihat situasi yang berbahaya itu ternyata mati kutu juga dan tak berdaya. Soalnya sekarang bukan kepandaian Lenghou Tiong lebih rendah daripada lawannya, lagi urusan itu menyangkut kekeluargaan. Kalau berdasarkan watak Lenghou Tiong pasti dia tak mau mengalahkan sang guru, lebih-lebih tidak mau membikin malu sang guru di hadapan orang lain. Begitu Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian kembali saling pandang dengan bingung. Sorot mata mereka hanya saling bertanya, “Apa daya?”

Tiba-tiba Yim Ngo-heng berpaling dan membisiki Ing-ing, “Coba kau berdiri di sebelah depan sana.”

Ing-ing tahu maksud sang ayah yang mengkhawatirkan Lenghou Tiong lebih berat kepada budi perguruan dan sengaja mengalah kepada Gak Put-kun, dirinya disuruh berdiri di depan sana maksudnya agar Lenghou Tiong dapat melihatnya, sehingga teringat kepada kebaikannya, lalu bertempur dengan sungguh-sungguh dan mencapai kemenangan.

Maka Ing-ing hanya mengiakan perlahan, tapi tidak melangkah.

Sebentar kemudian Yim Ngo-heng melihat Lenghou Tiong terus main mundur dan tetap tidak mau balas menyerang, keruan ia tambah gelisah dan kembali membisiki Ing-ing, “Lekas ke depan sana!”

Tapi Ing-ing tetap tidak melangkah ke sana, bahkan menjawab saja tidak. Menurut jalan pikiran si nona, “Bagaimana perasaanku kepadamu (Lenghou Tiong) tentunya sudah kau (Lenghou Tiong) ketahui. Bila hatimu memberatkan diriku dan bertekad menyelamatkan aku, tentu kau akan mengalahkan lawanmu. Tapi kalau kau lebih berat pada pihak gurumu, sekalipun aku menarik-narik lengan bajumu dan memohon-mohon belas kasihanmu juga tak berguna. Maka buat apa aku mesti berdiri di depanmu sana untuk mengingatkan kau?”

Sifat Ing-ing juga angkuh, tinggi hati, ia merasa tak berharga sama sekali bila untuk menyelamatkan dirinya mesti meminta-minta dan mengingatkan kebaikannya kepada Lenghou Tiong.

Dalam pada itu Lenghou Tiong masih terus menangkis setiap serangan gurunya. Kalau ia mau balas menyerang sejak tadi Gak Put-kun sudah pasti keok. Sudah tentu Gak Put-kun juga tahu Lenghou Tiong sengaja tidak mau balas menyerang, maka ia pun tidak perlu pikir buat menjaga diri, sebaliknya terus melancarkan serangan-serangan maut.

Melihat serangan-serangan lihai Gak Put-kun itu tetap tak bisa mengenai sasarannya, sebaliknya Lenghou Tiong hanya menangkis dengan seenaknya saja, setiap serangan lawan selalu dipatahkan secara gampang, makin lama makin kagum semua orang terhadap anak muda itu.

Lama-lama Gak Put-kun menjadi kelabakan sendiri. Mendadak ia sadar bila pertempuran yang bertele-tele itu diteruskan, nanti yang mendapat nama baik justru adalah bangsat cilik ini, sebab penonton-penonton yang merupakan tokoh-tokoh kelas wahid ini tentu sudah melihat bahwa bangsat cilik ini sengaja mengalah padaku, sebaliknya aku masih terus menyerang dengan ngotot, ketua Hoa-san-pay macam apakah ini? Jelas bangsat cilik ini sengaja hendak membikin aku kewalahan sendiri dan terpaksa menyerah kalah. Berpikir sampai di sini Gak Put-kun menjadi nekat. Ia kumpulkan segenap tenaganya, Ci-he-sin-kang dikerahkan kepada pedangnya, sekuatnya ia terus menebas kepala Lenghou Tiong.

Cepat Lenghou Tiong mengegos ke samping sehingga tebasan Gak Put-kun itu meleset, tapi segera Gak Put-kun putar balik pedangnya terus menyabet ke pinggang lawan. Sekali loncat dapatlah Lenghou Tiong melangkahi pedang yang menyambar tiba itu. Mendadak Gak Put-kun putar lagi pedangnya, secepat kilat ia tusuk punggung Lenghou Tiong, perubahan serangan yang cepat luar biasa ini tampaknya sukar dielakkan oleh anak muda itu, apalagi dia masih terapung di atas.

Semua orang sampai menjerit khawatir. Memang untuk menghindar atau menangkis pun tidak keburu lagi. Tapi sekonyong-konyong Lenghou Tiong menjulurkan pedangnya ke depan sehingga menempel batang tiang di depannya sana, dengan tenaga loncatan ini dapatlah dia melayang ke belakang tiang sana. “Cret”, tusukan Gak Put-kun menjadi mengenai tiang kayu itu sampai tembus. Ujung pedang hanya selisih beberapa senti saja dengan badan Lenghou Tiong.

Kembali semua orang berteriak riuh. Teriakan ini bernada merasa syukur dan kagum terhadap Lenghou Tiong, kagum atas kepandaiannya dan bersyukur karena dia terhindar dari serangan maut itu. Bahkan Gak-hujin, Thian-bun Tojin, dan lain-lain juga punya perasaan demikian.

Betapa dongkol dan gusarnya Gak Put-kun tak terkatakan, berturut-turut ia melancarkan “Tiga Jurus Ilmu Pedang Pencabut Nyawa” yang merupakan ilmu pedang sekte Kiam-cong Hoa-san-pay mereka, tapi Lenghou Tiong, sebaliknya para penonton malahan bersimpati pula kepada anak muda itu.

Dahulu setelah perang saudara antara Khi-cong (sekte lwekang) dan Kiam-cong (sekte pedang) dalam Hoa-san-pay mereka berakhir dengan pihak Kiam-cong ditumpas oleh pihak Khi-cong, kemudian Gak Put-kun dan tokoh-tokoh Hoa-san-pay yang lain sama menimbang kembali ilmu pedang sakti yang diyakinkan pihak Kiam-cong, di antaranya adalah “Tiga Jurus Pencabut Nyawa” itu.

Maka Gak-hujin menjadi terkejut melihat sang suami mendadak mengeluarkan tiga jurus ilmu pedang maut itu. Pikirnya, “Dia adalah murid pihak Khi-cong, mengapa mendadak menggunakan ilmu pedang pihak Kiam-cong? Kalau hal ini diketahui orang luar tentu akan dihina dan diejek. Ai, sebabnya dia menggunakan tiga jurus itu tentunya juga lantaran terpaksa. Padahal sudah jelas dia bukanlah tandingan Tiong-ji, buat apa mesti ngotot terus?”

Sebenarnya ada maksud Gak-hujin hendak maju memisah, tapi urusannya sekarang tidak sederhana, bukan melulu menyangkut kepentingan Hoa-san-pay sendiri, maka ia menjadi serbasusah dan sedih.

Ketika itu Gak Put-kun telah mencabut kembali pedangnya yang menancap tiang tadi. Tapi Lenghou Tiong tetap berdiri di balik tiang dan tidak putar keluar. Gak Put-kun berharap anak muda itu akan terus sembunyi di balik tiang dan tidak menempurnya lagi sebagai tanda takut padanya, dengan demikian kehormatannya dapat ditegakkan.

Begitulah kedua orang saling memandang berhadapan, dengan rendah hati Lenghou Tiong berkata, “Suhu, Tecu bukan tandinganmu. Kita tak usah meneruskan pertandingan ini.”

Gak Put-kun hanya mendengus dan tidak menjawab.

Yim Ngo-heng juga lantas bicara, “Pertarungan mereka berdua sukar ditentukan siapa yang menang dan kalah. Bahwasanya Lenghou Tiong sengaja mengalah kepada gurunya, setiap orang asalkan bukan orang buta tentu dapat melihatnya. Nah, Hongtiang Taysu, maukah pertandingan tiga babak ini kita anggap seri saja. Lohu bersedia minta maaf kepadamu, lalu kita menyudahi pertikaian ini dan kami akan angkat kaki.”

Mendengar ucapan Yim Ngo-heng ini, diam-diam Gak-hujin merasa senang dan lega. Padahal sudah jelas mereka berada di pihak pemenang, namun ucapan Yim-kaucu itu dapat dianggap mau mengalah, cara menyudahi pertarungan ini benar-benar paling baik. Demikian pikir Gak-hujin.

“Omitohud!” kata Hong-ting Taysu. “Usul Yim-kaucu yang bijaksana itu sudah tentu aku sependa….”

Belum selesai kata-kata “sependapat” diucapkan, tiba-tiba Co Leng-tan menyela, “Lalu keempat orang ini apa mesti kita biarkan mereka pergi begitu saja? Dan selanjutnya Gak-suheng masih terhitung ketua Hoa-san-pay tidak?”

“Hal ini….” belum lanjut kata-kata Hong-ting, tiba-tiba “sret”, Gak Put-kun memutar ke belakang tiang dan mulai menyerang pula.

Dengan gesit Lenghou Tiong mengegos. Maka beberapa gebrakan saja kembali mereka sudah berada di tengah kalangan lagi. Segera Gak Put-kun melancarkan serangan-serangan kilat, tapi selalu dapat dihindar atau ditangkis oleh Lenghou Tiong dengan mudah. Pertarungan bertele-tele kembali berlangsung pula.

Diam-diam Yim Ngo-heng sangat mendongkol. Pikirnya, “Jika tua bangka she Gak ini tetap bermuka tebal dan terus ngotot secara demikian, maka jelas dia takkan kalah, sebaliknya kalau Tiong-ji sedikit meleng saja tentu akan celaka. Kalau pertempuran diteruskan tentu menguntungkan orang she Gak. Maka aku harus mengolok-oloknya dengan kata-kata menusuk, supaya dia tahu malu.”

Segera ia berkata kepada Hiang Bun-thian, “Eh, Hiang-hiante, kedatangan kita ke Siau-lim-si ini benar-benar banyak bertambah pengalaman.”

“Benar,” jawab Hiang Bun-thian. “Di sini telah berkumpul tokoh-tokoh bu-lim dari tingkat puncak….”

“Satu di antaranya benar-benar tokoh mahahebat,” sambung Yim Ngo-heng.

“Siapakah beliau?” tanya Hiang Bun-thian.

“Orang ini telah berhasil meyakinkan sejenis ilmu sakti yang luar biasa,” kata Ngo-heng.

“Ilmu sakti apakah itu?” tanya Bun-thian.

“Ilmu sakti orang ini disebut Kim-bian-tok, Tiat-bin-bwe-sin-kang (kulit muka besi)!” jawab Ngo-heng.

“Wah, sungguh hebat!” ujar Bun-thian. “Selamanya hamba cuma dengar adanya ilmu kebal Kim-ciong-tok dan Tiat-poh-sam, tapi tidak pernah dengar tentang Kim-bian-tok dan Tiat-bin-bwe segala. Entah ilmu sakti demikian ini berasal dari aliran mana?”

“Kim-ciong-tok dan Tiat-poh-sam adalah ilmu kebal yang tidak mempan senjata pada seluruh badan, tapi ilmu sakti Tiat-bin-bwe orang ini khusus kebal pada kulit muka karena memang kulit mukanya setebal badak,” kata Yim Ngo-heng. “Tentang asal usul ilmu sakti ini sungguh luar biasa, dia adalah ciptaan Gak Put-kun, Gak-siansing, itu ketua Hoa-san-pay yang termasyhur di dunia Kangouw pada masa ini.”

“Wah, jika demikian, sejak kini Gak-siansing pasti akan lebih terkenal dan lebih termasyhur di seluruh jagat, namanya akan tetap terkumandang abadi sepanjang masa,” kata Bun-thian.

“Itu sudah tentu,” sambung Yim Ngo-heng. “Hidup Gak-siansing! Hidup Hoa-san-pay!”

Begitulah seperti dagelan saja mereka terus tanya-jawab untuk mengolok-olok Gak Put-kun. Keruan muka Gak-hujin merah padam. Sebaliknya Gak Put-kun seperti tidak tahu dan tidak dengar saja, ia masih terus melancarkan serangan kepada Lenghou Tiong.

Tiba-tiba Gak Put-kun menusuk, ketika Lenghou Tiong mengelak ke kiri, mendadak Gak Put-kun menoleh sambil memutar balik ujung pedangnya terus menusuk pula. Inilah suatu jurus ilmu pedang Hoa-san-pay yang terkenal dengan nama “Long-cu-hwe-tau” (Si Anak Hilang Berpaling Kembali).

Waktu Lenghou Tiong menangkis, cepat Gak Put-kun putar pedangnya lagi dan menebas dari atas ke bawah, yaitu jurus “Jong-siong-ging-khik” (Pohon Siong Tua Menyambut Tamu). Jurus ini sudah pernah dilihat Lenghou Tiong pada macam-macam jurus serangan dari berbagai aliran yang terukir di dinding gua di puncak Hoa-san dahulu. Maka dengan gampang saja pedangnya bergerak, ia menangkis sesuai dengan gaya ukiran di dinding gua itu.

Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian sama bersuara heran dari mana anak muda itu pun paham menggunakan jurus demikian?

Tiba-tiba Gak Put-kun ganti diurus serangan, “sret-sret” dua tusukan telah membikin Lenghou Tiong terkesiap dan terpaksa mundur dua tindak dengan wajah merah jengah dan berseru, “Suhu!”

Gak Put-kun mendengus dan kembali menusuk lagi. Kembali Lenghou Tiong mundur satu tindak.

Melihat kelakuan Lenghou Tiong yang kikuk dan serbasusah, semua orang menjadi heran, “Serangan-serangan gurunya itu hanya biasa saja, kenapa pemuda itu berbalik merasa jeri dan tidak mampu menangkis?”

Mereka tidak tahu bahwa ketiga jurus serangan Gak Put-kun terakhir itu adalah ilmu pedang ciptaan Lenghou Tiong dan Gak Leng-sian di waktu latihan bersama dahulu, yaitu yang diberi nama “Tiong-leng-kiam-hoat”, singkatan dari nama kedua muda-mudi itu.

Terciptanya ilmu pedang gabungan itu sebenarnya cuma terdorong oleh hubungan baik mereka berdua yang masih kekanak-kanakan, mereka pikir Tiong-leng-kiam-hoat itu kelak hanya mereka berdua saja yang mampu memainkan, maka di kala menggunakan ilmu pedang itu dalam lubuk hati mereka selalu timbul rasa bahagia yang tak terkatakan. Sudah tentu mereka tidak berani menceritakan rahasia kepada para saudara seperguruan, lebih-lebih tidak berani dikatakan kepada Gak Put-kun.

Siapa duga mendadak Gak Put-kun telah memainkan tiga jurus ilmu pedang itu pada saat demikian, keruan Lenghou Tiong menjadi serbarunyam, merasa malu dan berduka pula. Padahal hubungannya dengan sumoay sudah putus, sekarang sang guru sengaja mengeluarkan tiga jurus ilmu pedang itu agar dia tersinggung perasaannya dan berduka sehingga pikirannya menjadi kacau. “Ya, kalau mau bunuh aku biarlah kau bunuh saja!” demikian katanya di dalam hati.

Sesaat itu Lenghou Tiong merasa daripada hidup merana di dunia ini ada lebih baik mati saja dan habis perkara.

Menyusul Gak Put-kun menusuk lagi dengan satu jurus Hoa-san-kiam-hoat yang disebut “Long-giok-ji-siau” (Long-giok Meniup Seruling), habis itu satu jurus lagi “Siau-su-seng-liong” (Siau-su Menunggang Naga).

Kedua jurus itu mengungkap suatu dongeng kuno tentang percintaan antara si gadis Long-giok dan jejaka Siau-su. Si gadis sangat gemar meniup seruling, si jejaka sangat mahir meniup seruling, dia datang dengan menunggang naga dan mengajar seni musik itu kepada si gadis, akhirnya dia dipungut mantu oleh orang tua si gadis dan keduanya sama-sama naik surga.

Kini Gak Put-kun mengeluarkan lagi jurus serangan itu sehingga pikiran Lenghou Tiong menjadi kacau. Ia menangkis sebisanya sambil berpikir, “Kenapa suhu menggunakan jurus ini? Apakah dia sengaja hendak membikin kacau pikiranku, kemudian membunuh aku?”

Dilihatnya Gak Put-kun lantas menyerang lagi dengan tiga jurus Tiong-leng-kiam-hoat, lalu sejurus “Long-cu-hwe-tau” dan sejurus “Jong-siong-ging-khik”, kemudian tiga jurus Tiong-leng-kiam-hoat lagi, menyusul jurus-jurus “Long-giok-ji-siau” dan “Siau-su-seng-liong”, dan begitu seterusnya diselang-seling dan berulang kembali.

Semula Lenghou Tiong merasa bingung, tapi kemudian ia menjadi paham, rupanya sang guru sengaja menyadarkan dia dengan ilmu pedangnya itu, maksudnya supaya dia berpaling kembali ke jalan yang benar, maka dia masih akan disambut dengan baik ke dalam Hoa-san-pay. Bahkan dengan Tiong-leng-kiam-hoat itu jelas sang guru memberi isyarat bahwa beliau akan menjadikan siausumoay sebagai istrinya.

Masuk kembali ke Hoa-san-pay dan memperistrikan siausumoaynya adalah cita-cita yang selalu diharapkannya. Merasa paham akan maksud yang terkandung dalam jurus-jurus serangan sang guru itu, seketika hati Lenghou Tiong kegirangan dan dengan sendirinya wajahnya lantas berseri-seri.

Tapi kembali Gak Put-kun menyerang lagi dengan jurus-jurus tadi dengan lebih gencar. Mendadak Lenghou Tiong sadar, “Suhu suruh aku berpaling kembali ke jalan yang benar, sudah tentu maksudnya suruh aku membuang senjata dan mengaku kalah, dengan demikian aku baru bisa diterima kembali ke dalam Hoa-san-pay. Apa yang kuharapkan lagi bilamana aku bisa kembali ke Hoa-san-pay dan menikah dengan siausumoay? Akan tetapi, lantas bagaimana dengan Ing-ing, Yim-kaucu, dan Hiang-toako? Bila pertandingan ini aku kalah, mereka bertiga harus tinggal di Siau-sit-san sini, bukan mustahil jiwa mereka pun akan melayang. Yang kupikir hanya kesenangan dan kebahagiaanku sendiri dengan mengorbankan orang-orang yang telah berbudi baik kepadaku, apakah perbuatanku ini pantas?”

Terpikir sampai di sini, tanpa terasa keringat dingin membasahi punggungnya, pandangannya terasa kabur juga, sekilas hanya kelihatan pedang Gak Put-kun berkelebat dan kembali menyerangnya pula dengan jurus “Si Gadis Long-giok Meniup Seruling”.

Hati Lenghou Tiong terkutik lagi, pikirnya, “Waktu mula-mula kenal Ing-ing maksudku hendak belajar memetik kecapi padanya. Dia sangat menyukai lagu ‘Hina Kelana’ yang dibawakan dengan seruling dan kecapi. Kemudian dia mengajarkan aku lagu ‘Jing-sim-ciu’. Bila kelak aku sudah mahir memetik kecapi, lalu bersama dia membawakan lagi ‘Hina Kelana’, bukankah dia yang akan meniup serulingnya? Padahal siausumoay tidak pernah memikirkan diriku, sebaliknya aku selalu terkenang padanya, malahan terhadap Ing-ing yang rela berkorban bagiku justru aku tidak memikirkannya, manusia tak berperasaan di dunia ini rasanya tiada yang lebih rendah daripada diriku.”

Begitulah seketika yang terpikir olehnya adalah, “Betapa pun juga aku tidak boleh mengingkari kebaikan Ing-ing.”

Dalam keadaan samar-samar itu mendadak terdengar “creng” satu kali, sebatang pedang telah jatuh ke tanah, terdengar pula teriakan orang banyak di samping.

Tubuh Lenghou Tiong terhuyung ke belakang, ketika dia pentang mata, dilihatnya Gak Put-kun juga sedang melompat mundur dengan wajah gusar, pergelangan kanannya tampak mengucurkan darah. Waktu Lenghou Tiong memeriksa pedangnya sendiri, ujung pedang itu memang berlepotan darah segar.

Keruan ia terkejut. Baru sekarang ia menyadari ketika pikirannya kacau tadi dan menangkis serangan Gak Put-kun sekenanya, tanpa terasa ia telah mengeluarkan “Tokko-kiam-hoat” sehingga pergelangan tangan Gak Put-kun tertusuk.

Cepat Lenghou Tiong membuang senjatanya, ia mendekat dan berlutut di depan Gak Put-kun, katanya, “Suhu, dosa Tecu pantas dihukum mati.”

Mendadak Gak Put-kun angkat sebelah kakinya, dengan tepat dada Lenghou Tiong kena ditendang. Betapa hebat tenaga tendangan itu, kontan tubuh Lenghou Tiong mencelat ke atas dengan darah segar menyembur keluar dari mulutnya. Seketika pandangan Lenghou Tiong menjadi gelap, dengan kaku ia terbanting ke bawah. Namun ia sudah tidak tahu sakit lagi, ia sudah tidak sadar.

Entah lewat berapa lamanya, ketika merasa badannya rada dingin, perlahan-lahan Lenghou Tiong membuka mata, terasa sinar api menyilaukan, kembali ia pejamkan mata lagi.

Terdengar Ing-ing berseru gembira, “Ayah, dia… dia sudah siuman.”

Tapi tidak terdengar suara jawaban Yim Ngo-heng.

Ketika Lenghou Tiong membuka mata lagi, dilihatnya sepasang mata Ing-ing yang jeli sedang menatap kesima kepadanya, wajahnya penuh rasa girang dan bersyukur. Segera Lenghou Tiong bermaksud bangun, tapi Ing-ing telah mencegahnya dan berkata, “Jangan bangun, mengasolah sebentar lagi.”

Lenghou Tiong memandang sekitarnya, ternyata dirinya berada di dalam sebuah gua, di luar gua menyala suatu gundukan api unggun. Baru sekarang ia ingat pertandingannya dengan sang guru dan tertendang satu kali. Segera ia tanya, “Di manakah suhu dan sunioku?”

“Masakah kau masih memanggil suhu padanya?” ujar Ing-ing. “Di dunia ini mungkin cuma ada seorang suhu yang tidak tahu malu seperti dia. Kau terus mengalah padanya, tapi dia tetap tidak tahu diri sehingga akhirnya sukar diselesaikan, malahan dia masih tega menendang kau. Syukur juga tulang kakinya tergetar patah.”

“Hah, tulang kaki suhuku patah?” seru Lenghou Tiong kaget.

“Masih untung dia tidak tergetar mati,” sahut Ing-ing tertawa. “Kata ayah, lantaran kau belum bisa menggunakan Gip-sing-tay-hoat, bila tidak tentu kau takkan terluka.”

“Jadi aku telah melukai pergelangan suhu, lalu menggetar patah tulang kakinya, ai, aku ini….” demikian Lenghou Tiong menggumam.

“Apakah kau menyesal?” tanya Ing-ing.

“Perbuatanku benar-benar tidak pantas,” sahut Lenghou Tiong. “Dahulu kalau suhu dan sunio tidak merawat dan membesarkan aku, bukan mustahil aku sudah mati sejak dulu. Aku telah membalas budi dengan badi, sungguh lebih rendah daripada binatang.”

“Berulang kali dia bermaksud membunuh kau, masakah kau tidak tahu? Kau telah mengalah padanya sedemikian rupa dan boleh dikata sudah membalas budi kebaikannya. Orang macam kau ke mana pun takkan mati. Seumpama keluarga Gak tidak memiara kau, biarpun kau menjadi pengemis juga takkan mati kelaparan. Dia sudah mengusir kau dari Hoa-san-pay, hubungan antara guru dan murid sudah lama putus, buat apa lagi kau memikirkan dia?”

Sampai di sini Ing-ing menahan suaranya dan menyambung lagi, “Engkoh Tiong, demi diriku kau terpaksa berlawanan dengan suhu dan suniomu, sungguh hatiku merasa….” tiba-tiba ia tidak meneruskan melainkan terus tertunduk dengan kedua pipi bersemu merah jengah.

Sejak kenal Ing-ing, yang timbul dalam hati Lenghou Tiong melulu rasa hormat dan takut pada wibawa si nona. Kini melihat Ing-ing menunjukkan sikap kikuk dan malu-malu kucing sebagaimana anak gadis umumnya, wajah si nona yang tersorot oleh sinar api unggun menjadi tambah cantik luar biasa. Seketika perasaan Lenghou Tiong terguncang, ia mengulur tangan untuk memegangi tangan kiri si nona, tapi sampai sekian lamanya ia hanya bisa menghela napas saja, ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya.

“Kenapa kau menghela napas?” tanya Ing-ing dengan suara halus. “Apakah kau menyesal karena berkenalan dengan aku?”

“Tidak, tidak!” sahut Lenghou Tiong cepat. “Mana bisa aku menyesal? Demi diriku kau rela mengorbankan jiwamu di Siau-lim-si, selanjutnya biarpun badanku han… hancur lebur juga tidak cukup untuk membalas budimu.”

“Kenapa kau bicara begini?” kata Ing-ing sambil menatap tajam. “Jadi sampai detik ini dalam hatimu masih tetap anggap aku sebagai orang luar.”

Terasa malu juga dalam hati kecil Lenghou Tiong, memang selama ini dia merasa masih terpisah oleh sesuatu dengan Ing-ing. Segera ia berkata, “Ya, akulah yang salah omong. Sejak kini aku akan berbaik kepadamu dengan sesungguh hati.”

Sorot mata Ing-ing memancarkan rasa bahagia, katanya, “Engkoh Tiong, apakah ucapanmu ini sungguh-sungguh atau cuma buat bohongi aku?”

“Jika aku membohongi kau, biarlah aku mati disambar geledek,” sahut Lenghou Tiong.

Perlahan-lahan Ing-ing menggenggam tangan Lenghou Tiong dengan kencang, ia merasa sejak lahir sampai sekarang detik inilah paling berharga. Sekujur badan terasa hangat, ia berharap keadaan demikian akan kekal abadi sepanjang masa.

Selang agak lama barulah ia membuka suara, “Orang persilatan seperti kita mungkin ditakdirkan akan mati dengan cara kurang baik. Kelak kalau kau ingkar janji padaku, aku pun tidak menginginkan kau mati disambar geledek, tapi aku lebih suka… lebih suka menusuk mati kau dengan pedangku sendiri.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: