Hina Kelana: Bab 97. Pertarungan Tiga Babak

Cara Yim Ngo-heng ini sesungguhnya teramat berbahaya. Sebab kedua tangan Hong-ting yang menghantam belakang kepalanya itu tidak perlu kena dengan tepat, cukup angin pukulannya saja sudah bisa membikin otaknya menjadi kopyor. Namun di waktu Yim Ngo-heng menangkap Ih Jong-hay secara mendadak memang sudah mempertaruhkan jiwanya sendiri sebagai taruhan terakhir, yang dia pertaruhkan adalah hati welas asih padri saleh itu, jika pukulannya yang bisa bikin kepalanya pecah itu ternyata tidak ditangkis tentu dia akan menarik kembali tenaga pukulannya secara mendadak. Sebaliknya di kala itu tubuh Hong-ting tentu masih terapung di udara, pada saat menarik kembali tenaga pukulannya sebisa mungkin tentu bagian dada dan perut tak terjaga, maka sekali cengkeram dan sekali tusuk Yim Ngo-heng benar-benar berhasil merobohkan Hong-ting Taysu.

Namun demikian betapa dahsyatnya tenaga pukulan Hong-ting yang mendadak ditarik kembali itu toh masih kena menyambar batok kepala Yim Ngo-heng, seketika Yim Ngo-heng merasa kepalanya sakit seakan-akan pecah, napas terasa sesak dan mata berkunang-kunang pula….

Bahwa Yim Ngo-heng menang dengan cara licik telah dapat dilihat dengan jelas oleh orang-orang yang menyaksikan di luar gelanggang. Cepat Tiong-hi Tojin membangunkan Hong-ting Taysu dan membuka hiat-to yang tertutuk, katanya dengan gegetun, “Pikiran Hongtiang Suheng yang baik malah kena diakali oleh lawan secara licik.”

“Omitohud!” ujar Hong-ting. “Pikiran Yim-sicu memang cerdik, adu akal dan tidak adu tenaga, sungguh Lolap sangat kagum dan mengaku kalah.”

“Yim-kaucu memakai akal licik, kemenangannya tidak gemilang, caranya bukan perbuatan seorang laki-laki sejati,” seru Gak Put-kun.

“Memangnya orang Tiau-yang-sin-kau kami ada laki-laki sejati?” sahut Hiang Bun-thian dengan tertawa. “Jika Yim-kaucu adalah laki-laki sejati tentunya sedari dulu sudah berkomplot dengan kau, buat apa pakai bertanding lagi sekarang?”

Gak Put-kun menjadi bungkam oleh debatan Hiang Bun-thian.

Dalam pada itu Yim Ngo-heng sedang melancarkan pukulannya dengan perlahan sambil bersandar pada tiang kayu di belakangnya, ia dapat menangkis setiap serangan Co Leng-tan.

Sebagai kepala perserikatan Ngo-gak-kiam-pay, biasanya Co Leng-tan sangat angkuh. Di waktu biasa tentu dia tidak mau menempur Yim Ngo-heng di kala lawannya itu baru saja bertempur melawan tokoh nomor satu dari Siau-lim-pay, sebab cara demikian tentu akan dianggap licik dan pengecut serta diejek orang. Tapi tadi caranya Yim Ngo-heng merobohkan Hong-ting Taysu juga memakai cara licik dan membikin marah tokoh-tokoh yang menyaksikan. Sekarang Co Leng-tan mendadak maju melabrak Yim Ngo-heng, hal ini malahan menimbulkan pujian orang karena setia kawannya.

Begitulah ketika Hiang Bun-thian melihat gerak-gerik Yim Ngo-heng rada lamban dan sukar mengganti napas di bawah berondongan serangan Co Leng-tan, cepat ia mendekati sang kaucu, katanya, “Co-tayciangbun, kau tahu malu tidak, masakan melawan orang yang habis bertempur? Biarlah aku saja yang melayani kau!”

“Sesudah kurobohkan orang she Yim baru kutempur kau, masakan aku takut padamu bertempur secara bergiliran?” sahut Co Leng-tan. Berbareng sebelah tangannya menghantam pula ke arah Yim Ngo-heng.

Sambil menangkis, hati Yim Ngo-heng menjadi panas juga oleh kata-kata Co Leng-tan itu. Katanya dengan nada dingin, “Hm, hanya sedikit kepandaianmu ini saja bisa merobohkan Yim Ngo-heng? Kau minggir saja, Hiang-hiante!”

Hiang Bun-thian kenal watak sang kaucu yang tinggi hati dan suka menang, ia tidak berani membangkang, terpaksa berkata, “Baiklah, biarlah aku menyingkir sementara. Tapi orang she Co ini terlalu pengecut dan tidak kenal malu, akan kutendang sekali pantatnya!”

Berbareng ia angkat sebelah kakinya buat menendang bokong Co Leng-tan.

“Apa kau akan main kerubut?” teriak Co Leng-tan dengan gusar sambil mengelak ke samping.

Tak terduga gerak kaki Hiang Bun-thian itu ternyata cuma pura-pura saja. Melihat Co Leng-tan tertipu, Hiang Bun-thian terbahak-bahak geli dan menjawab, “Hm, hanya anak haram yang sudi main kerubut!”

Lalu ia melompat mundur dan berdiri di sebelah Ing-ing.

Lantaran diledek oleh Hiang Bun-thian, serangan Co Leng-tan menjadi terhalang satu jurus. Kesempatan ini segera digunakan oleh Yim Ngo-heng untuk menarik napas panjang-panjang, seketika semangatnya terbangkit kembali. Kontan ia lantas balas menghantam tiga kali berturut-turut.

Sekuatnya Co Leng-tan mematahkan serangan Yim Ngo-heng itu, diam-diam ia terkesiap atas tenaga seteru lama yang jauh lebih hebat daripada dulu ini.

Pertarungan Co Leng-tan dan Yim Ngo-heng ini adalah ulangan dari pertandingan di masa dahulu. Yang satu adalah tokoh terkemuka dari golongan cing-pay, yang lain adalah gembong Mo-kau yang tiada bandingannya. Pertarungan di hadapan tokoh-tokoh tertinggi dunia persilatan sekarang ini benar-benar pertarungan yang menentukan. Karena itu mereka sangat mementingkan soal kemenangan, sama sekali berbeda daripada pertandingan Yim Ngo-heng melawan Hong-ting Taysu tadi yang dilangsungkan dengan ramah tamah. Sekarang keduanya sama-sama melancarkan serangan maut tanpa kenal ampun.

Makin lama semakin cepat pertarungan kedua orang itu, Lenghou Tiong sampai sukar membedakan siapa di antara mereka. Ia coba melirik ke arah Ing-ing, muka si nona yang putih bersih itu tiada menunjukkan sesuatu perasaan cemas atau khawatir, seakan-akan dia sangat yakin atas kemenangan sang ayah.

Rada lega hati Lenghou Tiong melihat sikap tenang Ing-ing itu. Ia coba memandang Hiang Bun-thian, tampak air mukanya sebentar lagi kelihatan dongkol dan kesal, seakan-akan jauh lebih gawat daripada dia sendiri yang bertempur.

“Pengalaman dan pengetahuan Hiang-toako dengan sendirinya jauh lebih luas daripada Ing-ing, melihat ketegangannya ini, mungkin sekali pertarungan Yim-siansing ini sukar mendapat kemenangan,” demikian pikir Lenghou Tiong.

Waktu pandangannya beralih lagi ke sebelah sana, tertampak sang guru berdiri sejajar dengan ibu-gurunya, di sebelahnya adalah Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin.

Di belakang mereka berdiri ketua Thay-san-pay Thian-bun Tojin dan ketua Heng-san-pay Bok-taysiansing. Sejak datang tadi sama sekali Bok-taysiansing tidak membuka suara sehingga Lenghou Tiong tidak tahu bahwa tokoh utama Heng-san-pay itu pun berada di Siau-lim-si.

Di sebelah lain tampak ketua Jing-sia-pay Ih Jong-hay berdiri sendirian di pojokan dengan memegang gagang pedang dan tampak merasa gusar sekali.

Orang yang berdiri di sebelah lain lagi adalah seorang pengemis tua, tentunya ketua Kay-pang yang bernama Kay Hong. Di sebelahnya ada pula seorang dengan perawakan yang gagah, tentunya dia adalah ketua Kun-lun-pay Cin-san-cu. Ketua Kun-lun-pay ini berjuluk “Kian-kun-it-kiam” atau Si Pedang Tunggal, tapi di punggungnya memanggul dua batang pedang.

Diam-diam Lenghou Tiong juga merasa tidak sopan dengan sembunyi di situ mendengarkan pembicaraan tokoh-tokoh terhormat itu. Kalau sampai ketahuan sungguh dirinya akan malu besar. Maka dia mengharap selekasnya Yim Ngo-heng akan menang satu babak lagi, dengan demikian dapatlah mereka bertiga pergi dengan bebas. Dan nanti kalau Hong-ting Taysu dan lain-lain sudah mengundurkan diri dari ruangan belakang itu segera dia akan lekas menyusul dan menemui Ing-ing.

Terpikir akan bicara berhadapan dengan Ing-ing, seketika dadanya terasa hangat. Pikirnya, “Apakah benar-benar seterusnya aku akan menjadi suami istri dengan Ing-ing? Bahwa dia sangat setia dan cinta padaku sudah tidak perlu disangsikan lagi. Akan tetapi aku… aku….”

Lapat-lapat ia merasa selama ini bilamana dia teringat kepada Ing-ing, maka yang terpikir adalah ingin membalas kebaikannya, akan membantunya lolos dari kurungan Siau-lim-pay, akan menyiarkan di dunia Kangouw bahwa dirinya yang jatuh hati kepada si nona dan bukan sebaliknya agar orang-orang Kangouw tidak mencemoohkan Ing-ing dan membuatnya malu. Anehnya setiap bayangan Ing-ing yang cantik itu timbul dalam benaknya, hatinya tidak merasakan kebahagiaan dan kemesraan, hal ini sama sekali berbeda bilamana dia terkenang kepada siausumoaynya, yaitu Gak Leng-sian, yang sangat dicintainya itu. Terhadap Ing-ing pada lubuk hatinya yang dalam seakan-akan ada rasa rada-rada takut.

Ketika dia bertemu dengan Ing-ing semula, senantiasa dia menyangkanya sebagai seorang nenek tua. Maka yang timbul dalam hatinya adalah rasa hormat. Kemudian dilihatnya cara si nona yang gapah tangan, membunuh orang dengan gampang, memerintah orang secara tegas, maka dari rasa hormatnya telah meresap pula tiga bagian rasa muak dan tiga bagian pula rasa takut. Rasa muak itu perlahan-lahan menjadi tawar sesudah mengetahui si nona jatuh hati padanya.

Kemudian diketahui si nona mengorbankan diri dan terkurung di Siau-lim-si, maka timbul rasa terima kasih Lenghou Tiong yang tak terhingga. Namun rasa terima kasih yang dalam itu tidak menimbulkan pikiran ingin berhubungan lebih akrab, yang diharapkan hanya membalas budi kebaikan si nona saja. Maka ketika mendengar Yim Ngo-heng mengatakan dia adalah calon menantunya, entah mengapa perasaannya menjadi serbasusah, sedikit pun tidak membuatnya merasa senang. Padahal bicara soal kecantikan sungguh Ing-ing jauh melebihi Gak Leng-sian, tapi semakin melihat kecantikan Ing-ing itu, semakin dirasakan jarak yang jauh di antara mereka berdua.

Hanya sekejap saja Lenghou Tiong memandang Ing-ing dan tidak berani memandangnya lagi, dilihatnya kedua tangan Hiang Bun-thian mengepal, kedua matanya melotot besar. Ketika Lenghou Tiong memandang ke sana lagi, ternyata Co Leng-tan sudah terpojok, sebaliknya Yim Ngo-heng masih terus melancarkan pukulan demi pukulan dengan dahsyat.

Tampaknya Co Leng-tan sudah kewalahan, tangkisannya lemah, serangannya selalu gagal, jelas lebih banyak bertahan daripada menyerang.

Sekonyong-konyong terdengar Yim Ngo-heng membentak, kedua tangannya menyodok sekaligus ke dada lawan. Lekas-lekas Co Leng-tan menyambut, empat tangan beradu, “blang”, Co Leng-tan terdesak mundur dengan punggung menumbuk tembok sehingga debu pasir jatuh bertebaran dari atap.

Lenghou Tiong merasa badannya ikut terguncang, pigura besar yang dibuat sembunyi olehnya seakan-akan rontok ke bawah. Ia terkejut dan berpikir, “Sekali ini Co-supek tentu celaka. Mereka mengadu tenaga dalam, Yim-siansing menggunakan ‘Gip-sing-tay-hoat’ untuk menyedot tenaga Co-supek, lama-kelamaan tentu beliau akan kalah.”

Tapi lantas dilihatnya Co Leng-tan menarik kembali tangan kanan, hanya dengan sebelah tangan saja ia menahan kekuatan musuh, menyusul menggunakan dua jari tangan kanan menusuk ke arah Yim Ngo-heng.

Mendadak Yim Ngo-heng menjerit aneh dan lekas-lekas menghindar dengan melompat mundur. Segera Co Leng-tan menutuk lagi dengan jari tangan lain, berturut-turut ia menutuk tiga kali dan Yim Ngo-heng pun terdesak mundur tiga langkah.

Menyaksikan tiga kali serangan Co Leng-tan itu, Lenghou Tiong merasa heran, “Beberapa jurus serangan Co-supek ini sungguh aneh, entah ilmu pukulan apa?”

Tiba-tiba terdengar Hiang Bun-thian berseru lantang, “Bagus! Kiranya Pi-sia-kiam-boh telah jatuh di tangan Ko-san-pay.”

Lenghou Tiong semakin heran, “Aneh, apakah yang digunakan Co-supek adalah Pi-sia-kiam-hoat? Padahal dia toh tidak pakai pedang?”

Setelah ditunjukkan oleh Hiang Bun-thian, segera Lenghou Tiong dapat mengikuti gerak serangan Co Leng-tan itu memang benar adalah jurus-jurus serangan ilmu pedang. Hanya saja caranya sama sekali berbeda daripada ilmu pedang umumnya, sebab tangan orang dapat bergerak sesukanya, bisa lempeng, bisa melengkung, karena itu serangannya mirip tusukan pedang, tapi mendadak bisa berubah menjadi pukulan dan sukar diraba.

Sebagai seorang ahli silat, begitu serangan lawan dilontarkan, segera Yim Ngo-heng sudah melihat letak keanehan ilmu silat lawan itu. Cuma dalam keadaan terdesak seketika sukar baginya untuk menemukan cara mematahkannya. Bilamana lawan terdiri dari dua orang yang memakai pedang dan yang seorang menyerang dengan tangan kosong akan lebih gampang dilayani, tapi sekarang tangan Co Leng-tan dimanfaatkan secara dwiguna, dipakai menusuk sebagai pedang, digunakan memukul dan menghantam sebagai tangan biasa menurut keinginannya.

Gabungan ilmu silat antara pedang dan pukulan seperti Co Leng-tan sekarang ini, sekalipun Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang yang merupakan tokoh top persilatan juga merasa terheran-heran karena selamanya tidak pernah menyaksikan hal demikian. Mereka terkesiap, padahal Yim Ngo-heng terkenal dengan Gip-sing-tay-hoat yang mampu menyedot tenaga lawan, kenapa ketika empat tangan beradu tadi tampaknya Co Leng-tan tidak berkurang suatu apa pun. Apa mungkin lwekang pihak Ko-san-pay sudah kebal dan tidak takut kepada Gip-sing-tay-hoat? Demikian mereka tidak habis heran.

Jika para penonton terkesiap heran, sesungguhnya yang paling heran dan terkejut ialah Yim Ngo-heng. Teringat olehnya ketika bertarung dengan Co Leng-tan pada belasan tahun yang lalu, sebelum dirinya sempat menggunakan Gip-sing-tay-hoat pihak lawan sudah terdesak di bawah angin. Waktu itu ia sungkan menggunakan Gip-sing-tay-hoat sebab tanpa memakai ilmu itu pun musuh sudah kewalahan, pula pemakaian ilmu itu berarti sangat merugikan tenaga dalam sendiri yang terbuang, maka sedapat mungkin ia menghindari pemakaian Gip-sing-tay-hoat. Tapi ketika ratusan jurus kemudian dan tampaknya Co Leng-tan segera bisa dirobohkan, mendadak jantung sendiri terasa sakit dan tenaga sukar dikerahkan. Ia terkejut, ia tahu hal itu adalah akibat latihan Gip-sing-tay-hoat yang belum sempurna. Jika di waktu biasa tentu dia bisa lekas duduk semadi dan perlahan-lahan memunahkan rasa sakit itu. Tapi saat mana sedang menghadapi lawan tangguh, dari mana dia ada kesempatan merawat jantung yang sakit?

Selagi merasa cemas, tiba-tiba dilihatnya di belakang Co Leng-tan muncul dua orang, yang satu adalah sute Co Leng-tan sendiri, seorang lagi ialah ketua Thay-san-pay Thian-bun Tojin. Dengan cerdik Yim Ngo-heng lantas melompat keluar kalangan dan berseru dengan tertawa, “Haha, katanya kita satu lawan satu, tapi secara licik kau menyembunyikan pembantu. Hm, seorang laki-laki tidak sudi diakali, biarlah kita bertemu lagi lain kali, sekarang kakekmu tidak mau meladeni kau.”

Sebaliknya Co Leng-tan juga sadar akan kepastian kekalahannya, sekarang pihak lawan mendadak mau menyudahi pertandingan, tentu saja hal ini sangat kebetulan. Maka ia pun tidak berani mengejek dengan kata-kata yang bisa menimbulkan marah lawan dan memancing pertarungan lebih jauh, ia hanya menjawab, “Salahmu sendiri, kenapa kau pun tidak membawa beberapa orang begundalmu?”

Yim Ngo-heng mendengus, lalu putar tubuh dan tinggal pergi. Begitulah pertarungan di masa dahulu itu telah diakhiri tanpa ada yang kalah atau menang, tapi dalam batin masing-masing sudah cukup menginsafi kelemahan ilmu silatnya sendiri-sendiri. Sejak itulah mereka sama-sama meyakinkan ilmu masing-masing dengan lebih tekun.

Lebih-lebih Yim Ngo-heng yang mengetahui penyakit Gip-sing-tay-hoat yang dilatihnya itu, dengan Gip-sing-tay-hoat dia dapat menyedot tenaga lawan, tapi tenaga lawan yang disedot itu berbeda-beda golongan dan tidak sama pula kekuatannya. Campuran macam-macam tenaga itu kalau tidak segera dipunahkan pada saat yang tepat, akibatnya tentu akan timbul pada saat-saat yang tak terduga dan akan melawan tenaga dalam yang dimilikinya sendiri. Dengan lwekang Yim Ngo-heng yang tinggi dengan gampang ia dapat mengatasi pengacauan tenaga dalam dari orang lain itu. Tapi adalah sangat berbahaya bila tenaga liar itu mendadak mengacau pada saat dia sedang menghadapi lawan tangguh sebagaimana waktu dia bertempur melawan Co Leng-tan itu.

Sebabnya dia terjebak oleh Tonghong Put-pay dahulu, pokok utamanya juga lantaran dia terlalu asyik berlatih untuk menemukan sesuatu cara mengatasi pengacauan lwekang liar yang sering bergolak di dalam tubuhnya itu, pada saat memusatkan pikiran itulah, seorang tokoh mahacerdik sebagai dia sampai lengah terhadap perangkap yang diatur oleh Tonghong Put-pay. Akibatnya dia harus mendekam selama sepuluh tahun di dasar Se-ouw. Tapi di situ pula dia berhasil menemukan cara memunahkan lwekang liar yang bergolak di dalam tubuh itu sehingga Gip-sing-tay-hoat takkan menimbulkan penyakit “senjata makan tuan” lagi.

Sekarang dia ketemu lagi dengan Co Leng-tan, pihak lawan menggunakan tangan sebagai pedang dan melancarkan ilmu silat aneh, ketika dengar teriakan Hiang Bun-thian, ternyata gerak ilmu pedang yang dimainkan Co Leng-tan adalah Pi-sia-kiam-hoat yang sudah lama lenyap dari dunia persilatan, maka sadarlah Yim Ngo-heng sukar mematahkan ilmu silat lawan itu. Segera ia mengeluarkan Gip-sing-tay-hoat dan mengadu pukulan dengan lawan, tak terduga begitu ia bekerja untuk menyedot tenaga lawan ternyata pihak lawan tidak punya kekuatan apa-apa, sedikit pun tak bertenaga. Keruan kejutnya tak terkatakan, hal ini benar-benar tak pernah dijumpainya, bahkan tak pernah terpikir olehnya.

Setelah beberapa kali menggunakan Gip-sing-tay-hoat dan tetap tak bisa menyedot tenaga lawan, ia tidak berani menggunakan ilmu itu lagi, segera ia gunakan pukulan silat untuk menghujani pukulan-pukulan dahsyat kepada lawan. Terpaksa Co Leng-tan ganti siasat dengan bertahan saja.

Setelah berlangsung beberapa puluh jurus lagi, ketika Yim Ngo-heng melancarkan suatu pukulan tapak tangan, cepat Co Leng-tan menangkis dengan tangan kiri, sedang tangan kanan bergaya sebagai pedang terus menusuk ke iga kiri lawan.

Melihat gerak tusukan lawan sangat ganas, Yim Ngo-heng menimbang-nimbang dalam hati, apa mungkin seranganmu ini tidak bertenaga pula? Maka ia hanya sedikit miringkan tubuh, seperti menghindar, tapi sebenarnya sengaja memberi peluang agar tusukan lawan itu kena sasarannya.

Dengan demikian Yim Ngo-heng sengaja berikan peluang di bagian dadanya, tapi Gip-sing-tay-hoat sudah dikerahkan pada bagian itu dengan perhitungan, “Bila tusukan jarimu ini tak bertenaga, kan percuma saja seranganmu ini, sebaliknya kalau mengerahkan tenaga, maka sekaligus tenagamu pasti akan kusedot habis.”

Pertarungan di antara dua tokoh silat hanya ditentukan dalam gerak sekilas saja, sedikit dadanya memberi peluang, “cret”, kontan tusukan tapak tangan Co Leng-tan sudah mencapai sasarannya, dua jarinya telah tepat menikam pada thian-ti-hiat di bagian dada Yim Ngo-heng itu.

Para penonton sama berseru kaget. Terlihat jari Co Leng-tan rada merandek di atas dada Yim Ngo-heng yang tertutuk itu. Tanpa ayal Yim Ngo-heng telah mengerahkan Gip-sing-tay-hoat. Benar juga tenaga dalam Co Leng-tan lantas bocor, hanya sejenak saja tenaga dalam itu sudah membanjir bagai tanggul yang bobol terus tersedot oleh Yim Ngo-heng melalui thian-ti-hiat.

Dalam keadaan demikian ternyata Co Leng-tan tidak menjadi kaget atau khawatir, sebaliknya ia girang di dalam hati, bahkan ia kerahkan tenaganya.

Begitu pula Yim Ngo-heng merasa girang, ia menyedot semakin kuat, terasa tenaga dalam lawan makin membanjir, tapi mendadak badan Yim Ngo-heng tergeliat, dari pusarnya tiba-tiba suatu arus hawa dingin menerjang ke atas, seketika kaki dan tangan tak bisa berkutik, seluruh urat nadi serasa mogok dan tak bekerja lagi.

Pada saat itulah perlahan-lahan Co Leng-tan menarik kembali tangannya dan selangkah demi selangkah menyingkir ke pinggir sambil menatap Yim Ngo-heng tanpa bicara.

Waktu semua orang memandang Yim Ngo-heng, tertampak badannya rada gemetar, tangan dan kakinya kaku tak bergerak, keadaannya mirip orang yang tertutuk hiat-to tertentu.

“Ayah!” teriak Ing-ing sambil menubruk maju dan memegang badan sang ayah, terasa lengan ayahnya dingin luar biasa, cepat ia menoleh dan memanggil, “Hiang-sioksiok!”

Segera Hiang Bun-thian memburu maju, ia urut-urut beberapa kali di bagian dada Yim Ngo-heng, habis itu barulah Yim Ngo-heng bisa bersuara dan lancar kembali pernapasannya.

“Hm, bagus, bagus!” kata Yim Ngo-heng dengan muka merah padam. “Tak terpikir olehku akan langkahmu ini. Marilah kita ulangi lagi!”

Tapi Co Leng-tan tidak menjawab, dia hanya menggeleng perlahan saja.

“Kalah-menang sudah jelas, mau ulangi apa lagi?” ujar Gak Put-kun. “Bukankah thian-ti-hiat Yim-siansing tadi sudah tertutuk oleh Co-ciangbun?”

“Cis!” jengek Yim Ngo-heng dengan gusar. “Ya, memang benar. Aku sendiri yang tertipu, baiklah babak ini anggap aku yang kalah.”

Kiranya tipu serangan Co Leng-tan tadi benar-benar sangat berbahaya dan dilakukan dengan untung-untungan. Ia telah mengerahkan seluruh “Han-giok-cin-gi” (Hawa Murni Mahadingin) yang dilatihnya selama belasan tahun ini dan sengaja dibiarkan disedot oleh Yim Ngo-heng, bahkan sengaja lawan menguras seluruh tenaga mahadingin itu ke dalam hiat-to. Memangnya lwekang kedua ini selisih tidak terlalu jauh, ketika mendadak tenaga sebanyak itu meresap ke dalam tubuh Yim Ngo-heng, pula tenaga itu mahadingin, maka dalam sekejap sekujur badan Yim Ngo-heng menjadi kaku terbeku. Pada detik Gip-sing-tay-hoat lawan itu mogok itulah Co Leng-tan lantas kerahkan tenaga dalamnya lagi dan menutup hiat-to lawan. Namun demikian lwekang Co Leng-tan sendiri juga sudah terkuras habis, untuk memulihkan kekuatannya sedikitnya juga perlu waktu dua-tiga bulan lagi.

Segera Hiang Bun-thian dapat melihat kelemahan Co Leng-tan itu, katanya, “Tadi Co-ciangbun sudah menyatakan akan melayani aku bila mengalahkan Yim-kaucu. Sekarang silakan mulai saja.”

Keadaan Co Leng-tan yang payah itu sudah tentu diketahui pula oleh Hong-ting Taysu, Tiong-hi Tojin, dan lain-lain, mereka tahu bila kedua orang benar-benar bertarung lagi, maka pasti Co Leng-tan akan kalah, bahkan cukup beberapa gebrakan saja Hiang Bun-thian dapat membinasakan Co Leng-tan. Tapi tadi Co Leng-tan memang pernah mengatakan demikian, kan berarti dia pengecut bila tidak terima tantangan Hiang Bun-thian itu.

Selagi semua orang serbaingin-tahu, tiba-tiba Gak Put-kun menyela, “Sejak mula kita sudah sepakat mengadakan tiga babak pertandingan, siapa jago-jago yang akan diajukan tergantung kepada pilihan pihak masing-masing dan tidak boleh main tunjuk oleh pihak lawan. Hal ini Yim-kaucu sendiri sudah setuju bukan? Bila Yim-kaucu benar seorang kesatria sejati, apakah mau mengingkari persetujuan ini?”

“Gak-siansing memang pintar bicara dan pandai berdebat, sungguh aku sangat kagum,” kata Hiang Bun-thian. “Tapi kau masih terlalu jauh untuk bisa disebut sebagai ‘laki-laki sejati’. Caramu mendebat seperti pokrol bambu lebih mirip seorang pengecut yang tidak pegang janji.”

“Laki-laki sejati atau pengecut kan tergantung kepada orangnya,” sahut Gak Put-kun. “Di mata kaum laki-laki sejati tentunya berbeda cara penilaiannya daripada pandangan kaum pengecut.”

Di sini mereka berdebat, tapi di sebelah sana Co Leng-tan bersandar pada tiang dalam keadaan lemah, untuk berdiri saja sukar, jangankan bertempur lagi.

Ketua Bu-tong-pay Tiong-hi Tojin lantas tampil ke muka, katanya, “Sudah lama Hiang-cosu terkenal dengan julukan ‘Thian-ong-lo-cu’ (Datuk Maharaja), tentunya mempunyai kemahiran yang lain daripada yang lain. Sebelum aku mengasingkan diri pada waktu tidak lama lagi bisa lebih dulu menjadi lawan ‘Thian-ong-lo-cu’, sungguh hal ini merupakan kehormatan terbesar bagiku.”

Sebagai ketua Bu-tong-pay yang termasyhur, dengan ucapannya terhadap Hiang Bun-thian ini benar-benar dia telah menunjukkan penghargaan yang tinggi terhadap lawannya itu.

Karena itu menjadi sukar bagi Hiang Bun-thian untuk menolak tantangan halus itu. Katanya, “Hormat lebih baik menurut. Sudah lama kukagumi ‘Thay-kek-kiam-hoat’ Bu-tong-pay, terpaksa aku harus mengiringi Tiong-hi Totiang untuk beberapa gebrak.”

Habis berkata ia terus mengangkat kepalan sebagai tanda hormat sambil melangkah mundur beberapa tindak.

Tiong-hi Totiang membalas hormat. Kedua orang berdiri berhadapan dan saling menatap dengan tajam, tapi kedua orang tidak lantas melolos senjata.

Tiba-tiba Yim Ngo-heng berseru, “Nanti dulu! Silakan mundur dulu, Hiang-hiante!”

Habis itu ia lantas mengeluarkan pedangnya sendiri.

Keruan semua orang terperanjat melihat Yim Ngo-heng menghunus pedangnya. Mereka sangsi apakah benar Yim Ngo-heng berani menempur Tiong-hi Tojin lagi, padahal dia sudah bertanding dua babak sebelumnya.

Co Leng-tan lebih-lebih terkejut, tadi thian-ti-hiat lawan telah dibanjiri hawa dingin yang dilatihnya selama belasan tahun, untuk itu sekalipun dewa sakti juga perlu waktu beberapa hari baru bisa memulihkan tenaganya. Tapi mengapa hanya sebentar saja Yim Ngo-heng sudah kuat dan siap bertempur lagi?

Padahal saat itu di dalam perut Yim Ngo-heng terasa sakit seperti ditusuk-tusuk oleh berpuluh-puluh pisau, untuk bicara saja sangat dipaksakan jangankan lagi bertempur.

Tiong-hi Tojin berkata dengan tersenyum, “Apakah Yim-kaucu bermaksud memberi petunjuk padaku? Cuma, kurasa terlalu tidak adil dan sangat menguntungkan aku jika Yim-kaucu lagi yang maju pada babak ketiga ini.”

“Cayhe telah bertempur dua babak, jika bergebrak lagi dengan Totiang kan berarti terlalu memandang rendah kepada ilmu pedang Bu-tong-pay yang termasyhur, betapa pun takabur Cayhe juga tidak sedemikian rupa,” kata Yim Ngo-heng. “Soalnya Tiong-hi Totiang adalah tenaga baru dari pihak kalian, maka di pihak kami juga perlu diajukan seorang tenaga baru. Nah, adik cilik Lenghou Tiong, silakan turun kemari!”

Kata-kata ini benar-benar membikin kaget semua orang dan serentak ikut memandang ke arah yang dituju oleh sinar mata Yim Ngo-heng.

Lenghou Tiong terkejut juga dan serbasusah seketika. Ia pikir toh tidak bisa menyembunyikan diri lagi, terpaksa ia melompat ke bawah. Lebih dulu ia menyembah kepada Hong-ting Taysu dan berkata, “Secara sembrono aku telah menyusup ke kuil agung ini, mohon Taysu memberi maaf.”

“Hahahaha, kiranya kau,” kata Hong-ting sambil tertawa. “Kudengar pernapasanmu sangat perlahan dan merata, benar-benar ilmu pernapasan yang hebat, memangnya aku sedang heran tokoh kosen manakah yang telah berkunjung ke sini, tak tahunya adalah kau. Silakan bangun, jangan memakai peradatan setinggi ini.”

“Kiranya dia sudah mengetahui aku bersembunyi di balik pigura itu,” pikir Lenghou Tiong.

“Lenghou Tiong,” tiba-tiba ketua Kay-pang, Kay Hong berseru, “coba lihat tulisan apakah ini?”

Lenghou Tiong berbangkit dan memandang kepada tiang yang ditunjuk, ternyata di atas tiang kayu itu terukir tiga baris tulisan, baris pertama tertulis: “Di balik pigura ada orang”. Lalu baris kedua tertulis: “Akan kuseret dia keluar”. Baris ketiga tertulis: “Nanti dulu. Lwekang orang ini seperti cing juga seperti sia, entah lawan atau lawan”.

Setiap huruf itu melekuk cukup dalam dan tampaknya masih baru, terang diukir dengan tenaga jari oleh Hong-ting Taysu dan Kay Hong.

Kagum dan kejut Lenghou Tiong, pikirnya, “Dari pernapasanku yang perlahan saja Hong-ting Taysu sudah mampu membedakan asal usul ilmu lwekangku, sungguh seorang tokoh sakti.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: