Hina Kelana: Bab 96. Yim Ngo-heng Menang dengan Akal Licik

“Betul juga pembahasanmu,” ujar Hong-ting sambil mengangguk.

“Dan orang ketiga yang kukagumi adalah tokoh puncak dari Hoa-san-pay pada masa kini,” kata lagi Yim Ngo-heng.

Kembali semua orang merasa di luar dugaan. Padahal tadi dia sengaja mengolok-olok Gak Put-kun, siapa tahu di dalam hati dia mengagumi ketua Hoa-san-pay itu.

Mendadak Gak-hujin buka suara, “Kau tidak perlu pakai kata-kata demikian untuk menyindir orang.”

“Haha, Gak-hujin, apakah kau mengira suamimu yang kumaksudkan?” Yim Ngo-heng tertawa. “Huh, dia … dia masih selisih terlalu jauh. Yang kukagumi adalah Hong Jing-yang Hong-losiansing, ilmu pedangnya mahasakti dan jauh lebih mahir daripadaku. Maka aku mengagumi dia setulus hati tiada tara.”

“Apakah Hong-losiansing masih hidup di dunia ini?” tanya Hong-ting sambil memandang Yim Ngo-heng, lalu berpaling pula ke arah Gak Put-kun dan istrinya.

“Hong-susiok sudah mengasingkan diri pada beberapa puluh tahun yang lalu, selama ini tiada pernah ada kabar beritanya,” kata Gak Put-kun. “Adalah beruntung sekali bagi Hoa-san-pay kami bilamana beliau masih hidup.”

“Hm, Hong-losiansing adalah orang Kiam-cong dan kau sendiri orang pihak Khi-cong, kedua sekte Hoa-san-pay kalian biasanya saling bermusuhan, keuntungan apa bagimu jika Hong-losiansing benar-benar masih hidup?” jengek Yim Ngo-heng.

Wajah Gak Put-kun sebentar pucat sebentar merah karena olok-olok itu, hatinya menjadi kebat-kebit pula, pikirnya, “Iblis ini meski terkenal jahat, tapi kabarnya sangat menilai tinggi dirinya dan tidak mau omong kosong. Jangan-jangan Hong Jing-yang memang benar masih hidup di dunia ini?”

Biasanya dia sangat sabar dan tenang menghadapi segala soal, tapi sekarang urusannya menyangkut kepentingan Hoa-san-pay sendiri, perasaannya yang bergolak menjadi sukar ditutupi.

Maka dengan tertawa Yim Ngo-heng berkata pula, “Kau jangan khawatir. Hong-losiansing adalah tokoh dunia luar, masakah kau menyangka beliau mengincar kedudukan ciangbunmu ini?”

Dengan tegas Gak Put-kun berkata, “Cayhe tidak punya kepandaian apa-apa, bila Hong-susiok sudi menggantikan diriku sungguh suatu hal yang menggirangkan. Apakah Yim-siansing dapat memberi tahu tempat kediaman Hong-susiok agar Cayhe dapat mengunjungi beliau. Untuk mana segenap orang Hoa-san-pay akan sangat berterima kasih padamu.”

“Pertama aku tidak tahu di mana beradanya Hong-losiansing,” jawab Yim Ngo-heng sambil goyang kepala. “Kedua, seumpama tahu juga takkan kukatakan padamu. Tusukan tombak dari depan mudah dielakkan, serangan senjata rahasia dari belakang sukar dijaga. Gampang sekali menghadapi pengecut tulen, tapi laki-laki palsu benar-benar membikin kepala pusing.”

Gak Put-kun terdiam atas olok-olok itu. Sebagai seorang kesatria yang ramah tamah sudah tentu ia tidak dapat bertengkar hanya urusan kata-kata saja.

Kemudian Yim Ngo-heng berpaling kepada ketua Bu-tong-pay, yaitu Tiong-hi Totiang, katanya, “Orang keempat yang kukagumi adalah tosu tua kau ini. Thay-kek-kiam-hoat Bu-tong-pay kalian mempunyai keistimewaan tersendiri, kau imam tua ini bisa pula menjaga kepribadian sendiri dan tidak suka banyak ikut campur urusan Kangouw. Cuma kau tidak mahir mendidik murid, di antara anak murid Bu-tong-pay tiada sesuatu bibit muda yang menonjol, nanti kalau kau tua bangka ini sudah pulang ke dunia nirwana, mungkin Thay-kek-kiam-hoat kalian akan ikut lenyap. Lagi pula meski kau punya ilmu pedang cukup tinggi, namun belum tentu mampu menangkan diriku. Maka dari itu aku hanya kagum padamu setengah saja, tidak satu penuh.”

“Haha, bisa mendapat setengah kagum dari Yim-siansing sudah cukup menaikkan harga diriku, terima kasih ya,” seru Tiong-hi Tojin dengan tertawa.

“Tidak perlu sungkan,” sahut Yim Ngo-heng. Lalu ia berpaling kepada Co Leng-tan dan berkata pula, “Co-tayciangbun, kau tidak perlu tertawa di muka, tapi marah di dalam perut. Meski kau tidak termasuk di dalam orang-orang yang kukagumi, tapi di antara tiga setengah orang yang tidak kusukai justru kau menduduki tempat pertama.”

“Haha, aku benar-benar kaget tercampur girang,” sahut Co Leng-tan.

“Ilmu silatmu hebat, jalan pikiranmu juga mendalam, sangat cocok dengan seleraku,” kata Yim Ngo-heng. “Kau bermaksud melebur Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu aliran besar untuk mengimbangi Siau-lim dan Bu-tong-pay, cita-citamu setinggi langit, sungguh harus dipuji. Cuma kau suka main selundap-selundup dengan macam-macam tipu keji, hal ini bukan perbuatan seorang kesatria sejati dan tidak bisa dikagumi.”

“Hm, di antara tiga setengah tokoh di zaman ini yang tidak kusukai, kau justru cuma masuk yang setengah saja,” jengek Co Leng-tan.

“Hah, bisanya meniru saja, sama sekali tidak punya pendirian sendiri, makanya kau tak bisa dikagumi, lebih-lebih tidak kusukai,” kata Yim-Ngo-heng sambil menggeleng.

“Kau sengaja mengobrol ke timur dan ke barat, apakah kau ingin mengulur waktu atau lagi menunggu bala bantuan?” jengek Co Leng-tan lagi.

“Apakah kau bermaksud mengerubut kami bertiga dengan jumlah kalian yang jauh lebih banyak?” ejek Yim Ngo-heng.

“Kau datang ke Siau-lim-si sini dan main membunuh sesukamu, lalu mau pergi secara aman, memangnya kau anggap kami ini patung semua?” kata Co Leng-tan. “Pendeknya, apa kau akan menuduh kami main kerubut atau bilang kami tidak mengutamakan tata tertib bu-lim, yang pasti kau telah membunuh anak murid Ko-san-pay kami, sekarang aku Co Leng-tan berada di sini, betapa pun aku ingin minta petunjuk beberapa jurus padamu.”

Tiba-tiba Yim Ngo-heng berkata kepada Hong-ting Taysu, “Hongtiang Taysu, di sini ini Siau-lim-si atau cabang Ko-san-pay?”

“Ai, Sicu ini sudah tahu sengaja tanya, sudah tentu di sini adalah Siau-lim-si,” sahut Hong-ting.

“Jika demikian, urusan di sini diputuskan oleh ketua Siau-lim-pay atau ketua Ko-san-pay?” tanya Yim Ngo-heng.

“Meski Lolap yang menjadi tuan rumah, tapi kalau para kawan ada saran-saran juga akan kuterima,” kata Hong-ting.

“Hahaha, memang benar ada saran yang bagus,” seru Yim Ngo-heng sambil terbahak. “Sudah tahu kalau bertempur satu lawan satu pasti akan kalah, maka sekarang ingin main kerubut. Eh, orang she Co, hari ini kalau kau mampu merintangi kepergianku, tidak perlu turun tangan segera aku akan menggorok leher sendiri di depanmu.”

“Sekarang kami bersepuluh orang di sini, untuk merintangi kau mungkin tidak sanggup, tapi untuk membunuh anak perempuanmu kukira tidaklah sukar,” sahut Co Leng-tan.

“Omitohud! Janganlah main bunuh-membunuh!” sela Hong-ting.

Hati Lenghou Tiong juga ikut berdebar. Ia tahu apa yang dikatakan Co Leng-tan itu memang bukan gertakan belaka. Di antara kesepuluh orang yang dikatakan itu kalau bukan ketua sesuatu aliran persilatan ternama tentulah jago kelas wahid. Betapa pun tinggi ilmu silat Yim Ngo-heng paling-paling hanya bisa menyelamatkan diri sendiri saja. Dapatkah Hiang Bun-thian menyelamatkan diri sudah sukar dikatakan, apalagi Ing-ing, terang tiada harapan.

Tapi Yim Ngo-heng ternyata tidak kurang akal, jawabnya kontan, “Pikiran Co-tayciangbun memang cerdik. Tapi Co-tayciangbun sendiri punya anak laki-laki, Gak-siansing punya seorang anak perempuan. Ih-koancu seperti punya beberapa gundik kesayangan. Thian-bun Totiang tidak punya anak, tapi banyak murid yang dicintainya. Bok-taysiansing masih punya ayah-bunda di rumah. Kian-kun-it-kiam Cin San-cu dari Kun-lun-pay punya seorang cucu tunggal. Ada pula Kay-taypangcu dari Kay-pang ini, eh, Hiang-cosu, adakah orang kesayangan Kay-pangcu di rumahnya?”

“Kudengar Jing-lian Sucia dan Pek-lian Sucia yang terkenal dari Kay-pang itu sebenarnya adalah anak haram Kay-pangcu,” sahut Hiang Bun-thian.

“Apakah kau tidak keliru, janganlah kita salah membunuh orang baik-baik,” ujar Yim Ngo-heng.

“Tidak bisa salah, hamba sudah menyelidikinya dengan jelas,” sahut Hiang Bun-thian.

“Ya, apa mau dikata, andaikan salah membunuh juga tak bisa dihindarkan,” kata Yim Ngo-heng. “Terpaksa kita bunuh saja beberapa puluh orang Kay-pang, paling tidak dua orang di antaranya adalah sasaran yang tepat.”

“Pendapat Kaucu memang benar,” ujar Hiang Bun-thian.

Setiap kali Yim Ngo-heng menyebut sanak keluarga masing-masing, baik Co Leng-tan maupun yang lain-lain sama merasa ngeri. Mereka tahu setiap kata gembong Mo-kau itu bukan bualan belaka, selamanya dia berani berkata dan berani berbuat. Jika benar-benar anak perempuannya dibunuh, maka dia pasti akan membalas dengan cara yang lebih keji terhadap sanak keluarga mereka. Kalau dipikir sungguh mendirikan bulu roma orang. Maka seketika suasana ruangan menjadi sunyi, wajah semua orang berubah pucat.

Selang sejenak barulah Hong-ting berkata, “Balas-membalas tentu tiada akhirnya. Yim-sicu, kami takkan mengganggu Yim-siocia, cuma kalian bertiga diminta tinggal di sini selama sepuluh tahun saja.”

“Tidak bisa, nafsu membunuhku sudah tergerak, sekali mulai ingin kubunuh keempat gundik cantik kesayangan Ih-koancu itu,” kata Yim Ngo-heng. “Begitu pula anak perempuan Gak-siansing tidak boleh dibiarkan hidup di dunia ini.”

Keruan Lenghou Tiong terperanjat di tempat sembunyinya, ia tidak tahu ucapan Yim Ngo-heng itu hanya untuk menakut-nakuti saja atau benar-benar akan mengadakan penyembelihan secara besar-besaran.

“Eh, Yim-siansing, bagaimana kalau kita mengadakan taruhan?” tiba-tiba Tiong-hi Tojin berkata.

“Tidak, dalam hal taruhan aku lagi sial, tidak punya angin. Tapi membunuh orang aku yakin akan berhasil,” kata Ngo-heng. “Membunuh jago-jago kelas tinggi mungkin juga gagal, tapi membunuh anak istri atau ayah ibu tokoh bersangkutan aku cukup yakin akan terlaksana.”

“Membunuh orang-orang yang tidak tahu ilmu silat bukan perbuatan seorang gagah,” kata Tiong-hi.

“Biarpun tidak gagah, sedikitnya akan membikin lawanku yang menyesal selama hidup dan aku sendirilah yang senang,” kata Ngo-heng.

“Kau pun akan kehilangan anak perempuan, apanya yang menyenangkan?” ujar Tiong-hi Tojin. “Kehilangan anak perempuan berarti takkan punya menantu pula. Dan menantumu tentunya akan dipungut menantu oleh orang lain, untuk mana rasanya kau pun tidak mendapat pamor apa-apa.”

“Ya, apa boleh buat,” kata Yim Ngo-heng. “Terpaksa aku pun membunuh mereka seluruhnya. Habis siapa suruh bakal menantuku itu tidak setia kepada anak perempuanku?”

“Begini saja, kami takkan main kerubut dan kau pun jangan sembarangan membunuh,” kata Tiong-hi. “Kita boleh bertanding secara adil. Kalian bertiga boleh bertanding tiga babak dengan tiga orang di antara kami. Dua-satu adalah pihak yang menang.”

“Benar, usul Tiong-hi Totiang memang lain daripada yang lain,” cepat Hong-ting menyetujui. “Kita boleh bertanding secara bersahabat, tidak perlu sampai binasa.”

“Jika kami bertiga kalah, maka diharuskan tinggal sepuluh tahun lamanya di sini, bukan?” tanya Yim Ngo-heng.

“Benar,” jawab Tiong-hi Tojin. “Bila kalian bertiga menangkan dua dari tiga babak, dengan sendirinya kami mengaku kalah dan kalian bebas buat pergi. Kematian kedelapan murid kami ini pun anggap saja sia-sia.”

“Aku memang setengah kagum padamu, maka aku pun merasa kata-katamu ada setengahnya masuk di akal,” kata Ngo-heng. “Siapa di antara kalian yang akan maju tiga orang? Bolehkah aku yang memilih?”

“Hong-ting Taysu adalah tuan rumah, sudah pasti dia akan turun kalangan,” sela Co Leng-tan. “Kepandaianku sudah terlena belasan tahun, maka sekarang aku pun ingin coba-coba tenagaku. Mengenai babak ketiga, karena usul ini dikemukakan oleh Tiong-hi Totiang, kan aneh jika dia hanya berpeluk tangan menonton saja, mau tak mau dia harus perlihatkan, juga kelihaian Thay-kek-kiam-hoatnya.”

Di antara sepuluh orang di pihak mereka itu memang Co Leng-tan sendiri dan Hong-ting Taysu serta Tiong-hi Tojin merupakan tiga jago paling tinggi, sekaligus dia menonjolkan mereka bertiga boleh dikata pasti akan menang. Yang jelas Ing-ing yang kepandaiannya masih terbatas itu pasti akan kalah menghadapi salah satu di antara mereka. Sedangkan Hong-ting, Tiong-hi, dan Co Leng-tan adalah tiga tokoh puncak tertinggi di pihak cing-pay, kepandaian mereka masing-masing rasanya tidak di bawah Yim Ngo-heng, dibandingkan Hiang Bun-thian mungkin lebih tinggi sedikit, jadi untuk menangkan dua dari tiga babak terang 80% sudah dipegang mereka. Bahkan tiga babak dimenangkan seluruhnya juga ada harapan. Yang dikhawatirkan pihak cing-pay hanyalah kalau Yim Ngo-heng sampai lolos, maka bukan mustahil segala tipu muslihat keji akan dipakai olehnya untuk mencelakai sanak keluarga mereka.

Ternyata Yim Ngo-heng tak bisa menerima usul Tiong-hi tadi, ia menggeleng dan berkata, “Pertandingan tiga babak kurasa tidak baik, marilah kita hanya bertanding satu babak saja. Kalian boleh pilih seorang jago, pihak kami juga tampilkan satu orang, dengan demikian urusan menjadi sederhana.”

“Yim-heng, hari ini kalian bertiga sudah terpencil di tengah kami, jangankan kami bersepuluh ini sudah tiga kali lebih kuat daripada pihakmu, asalkan Hongtiang Taysu mengeluarkan perintah, melulu jago Siau-lim-si saja seketika akan muncul beberapa puluh orang, belum lagi jago-jago pilihan dari golongan lain.”

“Makanya kalian ingin menang dengan mengerubut bukan?” jengek Yim Ngo-heng.

“Memang,” sahut Co Leng-tan.

“Huh, tidak tahu malu,” Yim Ngo-heng mengolok-olok lagi.

“Membunuh orang tanpa alasan itulah perbuatan yang tidak tahu malu,” balas Co Leng-tan.

“Apakah membunuh orang harus pakai alasan? Coba jawab Co-tayciangbun, alasan apa yang kau pakai untuk membunuh orang-orang yang telah menjadi korban keganasanmu selama ini?”

“Kenapa Yim-heng melantur tak keruan, apakah kau sengaja mengulur waktu dan tidak berani bertempur?” jengek Co Leng-tan.

Mendadak Yim Ngo-heng bersuit panjang, suaranya menggetar dinding, api beberapa lilin besar yang menerangi ruangan itu sampai guram, setelah suara suitannya reda barulah cahaya lilin menyala kembali. Hati semua orang pun berdebar-debar terpengaruh oleh suaranya itu, air muka mereka sama berubah.

“Baiklah,” kata Yim Ngo-heng kemudian, “marilah kita mulai bertanding, orang she Co.”

“Seorang laki-laki sejati sekali bicara harus pegang janji,” sahut Co Leng-tan. “Jika dua di antara kalian bertiga kalah, maka kalian harus tinggal sepuluh tahun di Siau-sit-san sini.”

“Baik,” sahut Yim Ngo-heng. “Marilah kita mulai, aku lawan kau, nanti Hiang-cosu melawan si cebol she Ih, anak perempuanku mencari lawan perempuan pula, bolehlah dia melayani Gak-hujin, Ling-lihiap.”

“Tidak bisa,” sahut Co Leng-tan. “Siapa-siapa di pihak kami yang harus maju adalah kami sendiri yang pilih, mana boleh kau main tunjuk sesukanya.”

“Jago masing-masing harus dipilih pihak sendiri, pihak lain tidak boleh pilih?” tanya Yim Ngo-heng.

“Ya,” jawab Leng-tan. “Pihak kami yang akan maju adalah kedua ketua Siau-lim dan Bu-tong ditambah lagi Cayhe.”

“Dengan kedudukan dan namamu masakah dapat disejajarkan dengan ketua-ketua Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay?” kembali Yim Ngo-heng mengolok-olok.

Muka Co Leng-tan menjadi merah, kata-kata Yim Ngo-heng ini memang tepat mengenai boroknya. Terpaksa ia menjawab, “Sudah tentu Cayhe tidak berani disejajarkan dengan ketua-ketua Siau-lim dan Bu-tong, tapi untuk melayani kau rasanya masih sanggup.”

“Hahaha! Bila aku minta belajar kenal dengan ilmu pukulan Siau-lim-pay kalian boleh tidak, Hong-ting Taysu?” kata Yim Ngo-heng terhadap Hong-ting.

“Omitohud! Sudah lama Lolap tidak latihan, terang bukan tandingan Yim-sicu,” sahut Hong-ting. “Cuma Lolap berharap dapat menahan Yim-sicu di sini, terpaksa beberapa kerat tulangku yang sudah lapuk ini kusiapkan buat menerima pukulanmu.”

Meski Co Leng-tan menantang Yim Ngo-heng, tapi sesungguhnya ia tidak yakin akan dapat menang, ia cukup kenal “Gip-sing-tay-hoat” musuh yang lihai, meski sekarang dia sudah meyakinkan ilmu yang khusus dipakai melawan ilmu musuh itu, kalau tidak terpaksa ia pun tidak berani sembarangan mencobanya. Sekarang Yim Ngo-heng mengalihkan tantangannya kepada Hong-ting Taysu, sikap ini terang sengaja memandang hina padanya, namun di dalam hati Co Leng-tan berbalik senang. Pikirnya, “Memangnya aku khawatir jika kau terima tantanganku, lalu kau ajukan Hiang Bun-thian untuk menghadapi Tiong-hi Totiang, sedangkan anak perempuanmu kau suruh menempur Hong-ting Taysu. Dalam keadaan demikian bila Tiong-hi Totiang mengalami apa-apa, lalu aku tak bisa menangkan kau pula, tentu urusan bisa menjadi runyam.”

Hendaklah maklum bahwa tokoh-tokoh puncak seperti Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin hanya diketahui sangat hebat kepandaian masing-masing, tapi selama ini kebanyakan orang belum pernah menyaksikan sendiri sampai di mana lihainya mereka. Sebaliknya dahulu Hiang Bun-thian sudah pernah melabrak orang cing-pay serta anak buah Mo-kau, banyak jago-jago Ko-san-pay, Kun-lun-pay, dan lain-lain menjadi korban keganasannya waktu itu, yang berhasil lari kembali sama melaporkan peristiwa itu kepada perguruan masing-masing dengan gambaran yang menakutkan, maka Co Leng-tan rada kenal kelihaian Hiang Bun-thian.

Bilamana Yim Ngo-heng menggunakan tipu “prajurit diadu dengan jenderal”, dia sengaja suruh putrinya melawan Hong-ting Taysu dan menyerah kalah, kemudian kalau Tiong-hi Tojin yang sudah tua itu juga dikalahkan Hiang Bun-thian yang lebih muda dan tangkas, maka pertarungan antara Co Leng-tan sendiri melawan Yim Ngo-heng menjadi sukar dipastikan. Sebab itulah Co Leng-tan merasa kebetulan ketika Hong-ting Taysu ditantang oleh Yim Ngo-heng, tanpa bicara lagi ia lantas melangkah ke pinggir.

“Silakan Hongtiang,” kata Yim Ngo-heng kemudian sambil soja sebagai tanda pembukaan.

“Yim-sicu silakan buka serangan lebih dulu,” sahut Hong-ting sambil rangkap tangan membalas hormat.

“Yang Cayhe mainkan adalah kepandaian ajaran murni Tiau-yang-sin-kau, sebaliknya yang akan Taysu mainkan adalah ilmu silat murni Siau-lim-pay. Babak pertandingan kita ini menjadi murni melawan murni,” kata Yim Ngo-heng.

“Huh, ajaran murni apa? Tidak tahu malu!” mendadak Ih Jong-hay mengejek.

“Hongtiang Taysu, harap kau tunggu dulu, akan kubunuh dulu si cebol itu, kita bertempur sebentar lagi,” kata Yim Ngo-heng kepada Hong-ting.

“Jangan! Terimalah pukulanku ini, Yim-sicu!” cepat Hong-ting berseru sambil melancarkan serangan pertama. Ia tahu watak Yim Ngo-heng yang berani berkata dan berani berbuat, bukan mustahil secepat kilat Ih Jong-hay akan terus dibunuh olehnya. Maka segera ia mendahului membuka serangan.

Pukulan Hong-ting tampaknya sangat enteng dan biasa, tapi sampai di tengah jalan mendadak pukulannya bergerak-gerak, satu tapak tangan berubah menjadi dua bayangan tangan, dua berubah menjadi empat dan berubah lagi menjadi delapan.

“Jian-jiu-ji-lay-ciang!” teriak Yim Ngo-heng mengenali ilmu pukulan “Buddha Seribu Tangan” itu. Ia tahu bila terlambat sekejap saja delapan tangan musuh akan terus berubah menjadi 16 tangan, lalu 32 tangan dan 64 tangan, dan begitu seterusnya. Maka cepat ia pun balas memukul ke bahu kanan Hong-ting.

Segera Hong-ting menarik kembali pukulannya, tangan lain bergantian menyerang dengan cara yang sama, bergoyang-goyang, satu berubah dua, dua berubah empat, dan seterusnya. Tapi Yim Ngo-heng lantas melompat ke atas, berturut-turut ia pun balas pukul dua kali.

Dari atas Lenghou Tiong mengikuti pertarungan itu, dilihatnya pukulan Hong-ting sukar diduga perubahannya setiap kali, belum lanjut pukulannya segera berubah beberapa kali. Sungguh ilmu pukulan mahaaneh yang belum pernah dilihatnya.

Sebaliknya ilmu pukulan Yim Ngo-heng sangat sederhana, tangannya hanya menjulur dan ditarik kembali secara biasa, tampaknya rada kaku. Tapi biarpun Hong-ting Taysu melancarkan pukulan-pukulan yang sukar dijajaki itu, namun setiap kali Yim Ngo-heng menyambut serangannya itu, tentu Hong-ting cepat ganti serangan lain. Tampaknya kedua orang sama kuat dan sama lihainya.

Dalam hal ilmu pukulan dan sebagainya Lenghou Tiong tidak begitu mahir, maka ia menjadi bingung menyaksikan ilmu pukulan kedua tokoh puncak dari dunia persilatan sekarang ini. Yang dia perhatikan hanyalah kalah menang kedua orang itu, maka ia terus mengikutinya dengan asyiknya.

Selang sebentar, tertampak Yim Ngo-heng menyodokkan kedua tangannya ke depan secara mendadak. Kontan Hong-ting Taysu terdesak mundur dua-tiga tindak berturut-turut. Lenghou Tiong terkesiap, hatinya menjerit, “Wah, celaka, tampaknya Hong-ting Taysu bisa kalah.”

Tapi segera kelihatan padri tua itu memukulkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah, menyusul Yim Ngo-heng berbalik mundur selangkah dan mundur lagi.

Dalam hati Lenghou Tiong merasa bersyukur dan menghela napas lega. Tiba-tiba ia berpikir, “Aneh, kenapa aku menjadi khawatir ketika melihat Hong-ting Taysu mau kalah, sebaliknya merasa senang setelah dia bisa merebut kembali posisinya. Ya, betapa pun Hong-ting Taysu adalah padri saleh, sedangkan Yim-kaucu adalah gembong Mo-kau, hati nuraniku tetap bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk.”

Tapi lantas terpikir lagi, “Namun bila Yim-kaucu kalah, Ing-ing tentu akan terkurung lagi selama sepuluh tahun di Siau-sit-san sini, hal ini pun bukan keinginanku.”

Seketika ia menjadi bingung. Hanya dalam hati kecilnya terasa serbasusah. Karena tidak paham intisari ilmu pukulan Hong-ting Taysu dan Yim Ngo-heng yang luar biasa itu, perlahan-lahan ia alihkan pandangannya ke arah lain. Dilihatnya Ing-ing berdiri bersandar di sebuah tiang, tampaknya lemah gemulai, alisnya yang lentik rada terkerut seperti sedang sedih mengenai sesuatu urusan.

Serentak rasa kasihan Lenghou Tiong berkobar, ia pikir gadis selemah itu mana boleh terkurung lagi sepuluh tahun di sini, dia mana sanggup menerima penderitaan demikian? Padahal dia pernah berusaha menolong aku tanpa menghiraukan jiwanya sendiri.

Watak Lenghou Tiong memang penuh perasaan, teringat akan pengorbanan si nona untuk dirinya itu, jangankan Ing-ing hanya putri seorang kaucu dari Mo-kau, sekalipun dia adalah perempuan jahat yang terkutuk juga dirinya tak bisa mengingkari budi kebaikannya.

Dalam pada itu pandangan belasan orang di tengah ruangan itu sama terpusatkan ke tengah kalangan pertempuran yang hebat itu. Co Leng-tan merasa bersyukur Yim Ngo-heng telah memilih lawan Hong-ting Taysu, kalau babak pertama dirinya yang dipilih rasanya sukar menghadapi ilmu pukulan aneh gembong Mo-kau itu.

Sebaliknya Hiang Bun-thian juga sedang berpikir, “Ilmu silat Siau-lim-pay yang tersohor selama beratus-ratus tahun ternyata memang bukan omong kosong belaka. Bila aku harus menghadapi jago Siau-lim-pay, terpaksa aku harus mengadu tenaga dalam dengan dia, untuk bertanding ilmu pukulan terang aku tak bisa menang.”

Di sebelah lain diam-diam Gak Put-kun, Thian-bun Tojin, dan lain-lain juga sama menilai ilmu pukulan kedua jago yang sedang bertempur itu dengan mengukur kepandaian sendiri-sendiri.

Sesudah sekian lamanya pertempuran sengit itu berlangsung, lambat laun Yim Ngo-heng merasa ilmu pukulan Hong-ting Taysu mulai kendur, diam-diam ia bergirang, pikirnya.

Segera ia pergencar serangannya, setelah beberapa kali memukul lagi, mendadak waktu menarik tangan kanan dirasakan nadi pergelangan rada kaku, tenaga dalam rada macet jalannya, sungguh kejutnya bukan buatan. Ia tahu itulah gangguan pada tenaga dalamnya sendiri yang disebabkan oleh lwekang lawan. Sungguh tak terduga olehnya bahwa Ih-kin-keng hwesio tua itu ternyata begini lihai, meski tenaga pukulan masing-masing tidak pernah beradu secara keras lawan keras, tapi tenaga dalam sendiri sudah terkekang olehnya.

Yim Ngo-heng sadar bilamana pertarungan diteruskan, bilamana tenaga dalam lawan mulai dikerahkan dengan hebat tentu dirinya akan kewalahan. Saat itu pukulan kiri Hong-ting sudah tiba, tanpa pikir Yim Ngo-heng menggertak sambil memapak dengan sebelah tangan pula, “plak”, kedua tangan beradu, kedua orang sama-sama mundur setindak.

Terasa tenaga dalam hwesio tua itu sangat lunak, tapi luar biasa kuatnya. Meski Yim Ngo-heng sudah mengeluarkan “Gip-sing-tay-hoat” toh sedikit pun tak bisa menyedot tenaga lawan, keruan ia tambah kaget.

“Siancay, Siancay!” Hong-ting menyebut Buddha, menyusul tangan kanan menghantam lagi. Kembali Yim Ngo-heng memapak pukulan lawan.

Kedua tangan beradu lagi dan tubuh masing-masing sama tergeliat. Yim Ngo-heng merasa darah seluruh badan seakan-akan tersirap. Cepat ia melangkah mundur dua tindak, mendadak ia putar tubuh sambil mencengkeram dengan tangan kanan, tahu-tahu dada Ih Jong-hay kena terpegang, tangan kiri terus menabok ke batok kepala ketua Jing-sia-pay itu.

Serangan kilat yang amat aneh dan cepat luar biasa ini benar-benar di luar dugaan siapa pun juga. Sudah jelas Yim Ngo-heng kewalahan menghadapi pukulan-pukulan Hong-ting Taysu tadi, siapa duga mendadak ia ganti sasaran dan menyerang Ih Jong-hay.

Jelek-jelek Ih Jong-hay sebenarnya juga seorang tokoh silat, kalau terang-terangan berhadapan dengan Yim Ngo-heng, sekalipun dia pasti kalah, tapi tidak mungkin hanya satu gebrak saja lantas keok, apalagi tertangkap mentah-mentah.

Begitulah di tengah jerit kaget orang banyak, mendadak Hong-ting Taysu melompat tiba pula, sebagai burung terbang saja ia menubruk sambil memukul belakang kepala Yim Ngo-heng dengan kekuatan dua tangan. Ini adalah tipu “serang sini buat tolong sana” yang terkenal dalam ilmu silat, serangan lihai yang memaksa lawan harus menyelamatkan diri lebih dulu dan melepaskan tawanannya.

Melihat serangan Hong-ting Taysu yang dilancarkan secara kilat itu, semua orang tergerak hatinya dan amat kagum pada tindakannya yang cepat itu. Mereka tidak sempat bersorak memuji, tapi mereka tahu jiwa Ih Jong-hay dapatlah diselamatkan.

Dan memang betul juga Yim Ngo-heng terpaksa harus urungkan tabokannya ke atas kepala Ih Jong-hay tadi, tapi tidak digunakan menangkis serangan Hong-ting, sebaliknya ia mencengkeram “tan-tiong-hiat” di dada Hong-ting, menyusul tangan kanan ikut bekerja pula, dengan tepat ulu hati hwesio tua itu kena tertutuk.

Tanpa ampun lagi tubuh Hong-ting Taysu menjadi lemas dan roboh terkulai. Keruan semua orang terperanjat, beramai-ramai mereka lantas menerjang maju.

Segera Co Leng-tan mendahului menghantam ke punggung Yim Ngo-heng. Tapi Yim Ngo-heng sempat menangkis. Bentaknya, “Bagus, anggaplah ini babak kedua.”

Co Leng-tan melancarkan serangan kilat, kadang-kadang menjotos, lain saat pakai telapak tangan, tiba-tiba menutuk dengan jari, mendadak mencengkeram pula, dalam sekejap saja ia sudah menggunakan belasan macam gelak tipu yang lihai.

Karena serangan kilat lawan ini, seketika Yim Ngo-heng hanya bisa bertahan saja dan tak mampu balas menyerang. Kiranya beberapa jurus serangannya yang terakhir sehingga dapat mengakali Hong-ting Taysu dan merobohkan padri itu, namun untuk mana terpaksa ia harus mengerahkan segenap tenaganya, kalau tidak masakah ketua Siau-lim-pay yang memiliki lwekang setinggi itu begitu gampang lantas kena dicengkeram “tan-tiong-hiat” di dada dan tertutuk roboh? Serangan-serangan ini boleh dikata merupakan taruhan terakhir bagi Yim Ngo-heng.

Betapa tajam pandangan Co Leng-tan, apa yang dilakukan Yim Ngo-heng itu ternyata tidak terluput dari penglihatannya, ia pikir inilah kesempatan yang susah dicari, maka tanpa pedulikan nanti akan dituduh sebagai pengecut yang menyerang orang secara bergiliran, cepat ia menerjang Yim Ngo-heng.

Hendaklah maklum bahwa kemenangan Yim Ngo-heng atas Hong-ting Taysu itu semata-mata juga karena akal licik saja. Ia sudah tahu benar bahwa lawannya berhati welas asih, maka ia memperhitungkan jika dirinya mendadak hendak membinasakan Ih Jong-hay, pertama orang-orang lain tidak keburu menolong ketua Jing-sia-pay itu karena jarak mereka agak jauh, kedua, mereka itu sama tidak menyukai pribadi Ih Jong-hay, tentu mereka tak mau ambil risiko buat menolong orang yang tidak disukai. Dalam keadaan demikian ia yakin hanya Hong-ting Taysu-lah yang akan menolong Ih Jong-hay.

Yim Ngo-heng juga sudah memperhitungkan cara ketua Siau-lim-pay itu menolong Ih Jong-hay tentulah akan menyerang dia, tapi dia justru tidak menangkis serangan Hong-ting itu, tapi berbalik mencengkeram dan menutuk hiat-to penting hwesio tua itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: