Hina Kelana: Bab 95. Cara Yim Ngo-heng Menilai Kawan dan Lawan

Seorang lagi menanggapi, “Agaknya di Siau-sit-san ini ada jalan rahasia yang menembus ke bawah gunung, kalau tidak masakan mereka mampu lari?”

“Kukira tiada sesuatu jalan rahasia apa-apa,” ujar seorang lagi. “Sudah berpuluh tahun aku tirakat di sini, tapi belum pernah kudengar tentang jalan rahasia segala yang menembus ke bawah gunung.”

“Namanya jalan rahasia, dengan sendirinya tak dapat diketahui oleh setiap orang,” kata orang yang pertama tadi.

Dari percakapan mereka itu Lenghou Tiong dapat menduga satu di antaranya tentu hwesio Siau-lim-si dan selebihnya adalah jago-jago yang diundang membantu. Terdengar hwesio Siau-lim tadi berkata pula, “Seumpama aku tidak tahu masakah hongtiang kami juga tidak tahu? Bilamana ada jalan rahasia demikian tentu sebelumnya hongtiang kami memberitahukan kepada semua kawan untuk menjaga jalan keluarnya.”

Pada saat itulah sekonyong-konyong di antaranya membentak, “Siapa itu? Keluar sini!”

Keruan Lenghou Tiong terkejut karena mengira tempat sembunyinya telah diketahui. Baru saja ia bermaksud melompat keluar, tiba-tiba di balik pigura di sebelah sana berkumandang suara gelak tertawa seorang dan berkata, “Haha, sedikit aku menghela napas dan membikin jatuh beberapa titik debu, ternyata lantas dilihat kalian, tajam juga mata kalian ya!”

Dari suaranya yang lantang itu segera Lenghou Tiong mengenalnya sebagai suaranya Hiang Bun-thian. Keruan ia terkejut dan bergirang, katanya di dalam hati, “Kiranya sejak tadi Hiang-toako sudah sembunyi di sini, caranya menahan napas sungguh hebat, sekian lamanya aku mendekam di sini toh tidak mengetahuinya. Kalau tiada debu yang jatuh tentu orang-orang di bawah itu pun takkan tahu ….”

Belum rampung pikirnya tiba-tiba terdengar suara berdetak di balik pigura-pigura sebelah kanan dan kiri, menyusul melompat turunlah dua orang. Berbareng orang-orang di bawah itu lantas membentak-bentak. Namun belum lagi mereka sempat bersuara lebih banyak, mendadak mereka bungkam lagi.

Tanpa terasa Lenghou Tiong melongok ke bawah, terlihatlah dua sosok bayangan sedang beterbangan kian-kemari, seorang jelas adalah Hiang Bun-thian, seorang lagi bertubuh tinggi besar, ternyata Yim Ngo-heng adanya.

Gerak serangan kedua orang hampir-hampir tak bersuara, tapi setiap pukulan mereka tentu menimbulkan seorang korban yang roboh. Hanya sekejap saja di ruangan itu sudah menggeletak delapan orang. Lima orang di antaranya terkapar tengkurap, yang tiga lagi telentang dengan mata melotot menyeramkan. Nyata semuanya telah dihantam mati oleh Hiang Bun-thian dan Yim Ngo-heng.

Dengan tersenyum tampak Yim Ngo-heng berkata, “Anak Ing, turunlah sini!”

Dari pigura sebelah kiri lantas melayang turun dengan gaya yang lemah gemulai, siapa lagi kalau bukan Ing-ing yang sedang dicari Lenghou Tiong itu.

Terguncanglah hati Lenghou Tiong, dilihatnya Ing-ing memakai baju kain kasar, wajahnya rada pucat. Baru saja ia bermaksud melompat turun untuk menemui si nona, tiba-tiba Yim Ngo-heng berpaling ke arahnya dan menggoyangkan tangan.

Lenghou Tiong tidak tahu maksudnya, pikirnya, “Mereka sembunyi di sini lebih dulu, sudah tentu kedatanganku dilihat jelas oleh mereka. Apa maksudnya Yim-losiansing suruh aku jangan keluar?”

Tapi sekejap saja ia lantas paham apa maksud tujuan Yim Ngo-heng itu, ternyata dari depan sana telah berlari masuk beberapa orang. Sekilas dilihatnya sang guru dan ibu-guru, yaitu Gak Put-kun dan istrinya beserta ketua Siau-lim-pay, Hong-ting Taysu, selain itu masih ada lagi tokoh-tokoh terkemuka.

Ia tidak berani mengintip, cepat ia sembunyi kembali di tempatnya dengan hati berdebar. Pikirnya, “Ing-ing bertiga berada di dalam kepungan musuh, betapa pun aku … akan menyelamatkan dia sekalipun aku yang harus binasa.”

Dalam pada itu terdengar Hong-ting Taysu sedang berkata, “Omitohud! Lihai amat ilmu pukulan ketiga Sicu. Eh, Lisicu (nona budiman) sudah pergi kenapa kembali lagi?”

“Aku justru ingin minta penjelasan kepada Hongtiang Taysu sebabnya aku sudah pergi kok kembali lagi,” sahut Ing-ing.

“Sungguh Lolap tidak paham ucapan ini,” kata Hong-ting Taysu. “Kedua Sicu ini tentulah tokoh dari Hek-bok-keh. Maafkan Lolap tidak sempat berkenalan. Namun setiap orang yang datang ke Siau-lim-si adalah tamuku, silakan duduk buat bicara.”

Diam-diam Lenghou Tiong sangat mengagumi kepribadian Hong-ting Taysu, pikirnya, “Benar-benar seorang padri saleh, walaupun melihat anak muridnya menggeletak tak bernyawa lagi toh sedikit pun tidak terpengaruh dan masih tetap sopan santun terhadap pihak lawan.”

Maka terdengar Hiang Bun-thian menjawab, “Ini adalah Yim-kaucu dari Tiau-yang-sin-kau. Cayhe sendiri Hiang Bun-thian.”

Nama mereka berdua di dunia persilatan sungguh gilang-gemilang, cuma mereka sudah lama mengasingkan diri, maka tidak dikenal oleh Hong-ting Taysu, Gak Put-kun, dan lain-lain. Mereka sama tergetar juga setelah mengetahui siapa-siapa yang berhadapan dengan mereka itu, namun lahirnya mereka berlaku tenang sedapat mungkin.

“Kiranya Yim-kaucu dan Hiang-cosu sudi berkunjung kemari, sungguh Lolap merasa sangat bahagia,” kata Hong-ting Taysu. “Entah adakah sesuatu petunjuk yang hendak kalian kemukakan?”

“Sudah terlalu lama aku tidak berkecimpung di dunia ramai, maka banyak tokoh-tokoh angkatan baru tak kukenal, entah siapa-siapa para sobat-sobat cilik ini?” kata Yim Ngo-heng dengan lagak orang tua.

“Jika demikian baiklah Lolap memperkenalkan kalian,” ujar Hong-ting Taysu. “Yang ini adakah ketua Bu-tong-pay, Tiong-hi Totiang adanya.”

Maka terdengar suara seorang tua serak berkata, “Bicara tentang umur bisa jadi aku lebih tua sedikit daripada Yim-siansing, tapi waktu mengetuai Bu-tong-pay memang terjadi sesudah Yim-siansing mengasingkan diri. Angkatan baru memang betul juga bagiku, cuma istilah ‘tokoh’ tak berani kuterima. Haha!”

Lenghou Tiong merasa suara ketua Bu-tong-pay itu seperti sudah dikenalnya. Tiba-tiba tergerak pikirannya, “Ai, kiranya si kakek penunggang keledai bersama si tukang kayu dan tukang sayur yang kutemukan di kaki Gunung Bu-tong-san itulah ketua Bu-tong-pay.”

Seketika timbul rasa bangga dan besar hatinya. Maklumlah nama Bu-tong-pay sejajar dengan Siau-lim-pay. Betapa pun termasyhur Ngo-gak-kiam-pay tetap kalah setingkat kalau dibandingkan Siau-lim dan Bu-tong. Sebabnya Co Leng-tan, itu ketua Ko-san-pay dengan segala tipu dayanya ingin melebur Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu aliran besar, tujuannya tak-lain tak-bukan ialah ingin menandingi Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay. Kini setelah mengetahui dirinya pernah mengalahkan Tiong-hi Totiang yang ilmu pedangnya tiada bandingannya itu, sungguh rasa senang Lenghou Tiong tak terperikan.

Sementara itu Yim Ngo-heng lagi berkata, “Co-tayciangbun ini dahulu kita kan sudah pernah bertemu. Akhir-akhir ini kau punya ilmu pukulan ‘Tay-ko-yang-jiu’ tentu banyak maju bukan, Co-ciangbun?”

Kembali Lenghou Tiong terkesiap, “Kiranya Co-supek, ketua Ko-san-pay juga hadir.”

Maka terdengar suara seorang yang halus sedang menjawab, “Kabarnya Yim-siansing terkurung oleh anak buah sendiri dan menghilang selama beberapa tahun. Kini muncul kembali sungguh harus diberi selamat. Tentang ‘Tay-ko-yang-jiu’ sudah belasan tahun tidak terpakai, mungkin sebagian besar sudah terlupa.”

“Wah, jika begitu dunia Kangouw tentu menjadi sepi,” kata Yim Ngo-heng dengan tertawa. “Begitu aku menghilang lantas tiada orang yang dapat mengukur tenaga dengan Co-heng, sungguh sayang, sungguh gegetun.”

“Orang yang sanggup bertanding dengan Yim-siansing sesungguhnya juga tidak sedikit, cuma orang-orang alim seperti Hong-ting Taysu atau Tiong-hi Totiang tentunya tidak sudi sembarangan mengajar Cayhe tanpa alasan,” jawab Co Leng-tan.

“Baiklah, kapan-kapan kalau sempat tentu akan kucoba lagi kau punya kepandaian baru,” kata Yim Ngo-heng.

“Setiap saat akan kulayani,” sahut Co Leng-tan.

Dari tanya-jawab mereka itu jelas dahulu mereka pernah saling gebrak, cuma siapa yang menang dan siapa yang kalah tak bisa dibedakan dari pembicaraan mereka tadi.

Lalu Hong-ting Taysu melanjutkan, “Yang ini adalah Thian-bun Totiang, ketua Thay-san-pay dan yang itu Gak-siansing, ciangbunjin dari Hoa-san-pay, di sebelahnya adalah Gak-hujin, Ling-lihiap yang termasyhur di masa lampau tentu pula pernah didengar Yim-losiansing.”

“Ya, Ling-lihiap sih aku tahu, tapi Gak-siansing apa segala tidak pernah kudengar,” sahut Yim Ngo-heng tertawa.

Lenghou Tiong menjadi kurang senang, pikirnya, “Nama suhuku menonjol lebih dulu daripada ibu-guruku, jika dia sama sekali tidak kenal keduanya sih dapat dimengerti, sekarang dia mengatakan cuma tahu Ling-lihiap, tapi tidak tahu Gak-siansing, hal ini tidaklah masuk di akal. Jelas dia sengaja hendak mengolok-olok suhuku.”

Gak Put-kun ternyata acuh tak acuh, katanya, “Namaku yang rendah memangnya tidak ada nilainya untuk dikenal Yim-siansing.”

“Eh, Gak-siansing, aku ingin mencari tahu kabar seseorang, entah kau mengetahui jejaknya tidak?” tiba-tiba Yim Ngo-heng bertanya kepada Gak Put-kun.

“Entah siapa yang ingin ditanyakan Yim-losiansing?” jawab Put-kun.

“Orang ini sangat berbudi, cerdik dan pandai lagi, orangnya juga cakap,” kata Yim Ngo-heng. “Tapi ada manusia-manusia buta yang iri padanya dan ingin memencilkan dia, maka banyak dilontarkan fitnah-fitnah keji kepadanya. Aku orang she Yim ini justru sangat cocok dengan dia, sudah kuputuskan akan kujodohkan anak perempuanku ini kepadanya ….”

Mendengar sampai di sini, seketika jantung Lenghou Tiong berdetak keras. Lapat-lapat ia merasa timbulnya sesuatu soal yang serbasulit.

Terdengar Yim Ngo-heng sedang melanjutkan, “Pemuda itu baik hati lagi berbudi, ketika dia dengar anak perempuanku ini dikurung di dalam Siau-lim-si, ia lantas membawa beribu-ribu kesatria ke sini hendak memapak bakal istrinya ini. Tapi dalam sekejap saja dia entah menghilang ke mana, calon mertua seperti aku ini menjadi gelisah dan kelabakan mencarinya, makanya aku ingin tanya jejaknya padamu.”

“Hahaha!” Gak Put-kun menengadah dan terbahak. “Kepandaian Yim-losiansing mahasakti, kenapa bakal mantu sendiri sampai lenyap? Kemarin di kaki gunung aku memang memergoki seorang muda dengan sebelah tangan memegang pedang, tangan yang lain mengempit seorang perempuan cantik, kabarnya ialah Na-kaucu dari apa yang disebut Ngo-tok-kau segala. Nah, Yim-losiansing, kukira kau harus hati-hati, janganlah calon mantumu itu sampai dibawa lari oleh perempuan lain.”

Lenghou Tiong merasa bingung apa sebabnya sang guru bicara demikian? Padahal dia mengetahui Na Hong-hong terluka kena panah, sebabnya dia mengempit nona Na itu adalah karena ingin menyelamatkan jiwanya, mengapa aku dituduh berbuat tidak baik? Ya, tentu disebabkan suhu teramat benci kepada Mo-kau, beliau sengaja berkata demikian agar aku batal dipungut menantu oleh ketua Mo-kau ini.

Sebaliknya Yim Ngo-heng, Hiang Bun-thian, dan Ing-ing sudah tentu tidak percaya kepada cerita Gak Put-kun tadi karena mereka melihat sendiri Lenghou Tiong datang sendiri dan sekarang sembunyi di balik pigura di atas sana.

Maka dengan gelak tertawa Yim Ngo-heng telah menjawab, “Pemuda ini memang sangat romantis dan gemar main cinta, di mana-mana dia mempunyai kekasih. Sungguh kacang tidak meninggalkan lanjarannya, benar-benar sudah memperoleh ajaran seluruhnya dari sang guru.”

Tanpa terasa Gak Put-kun melirik ke arah sang istri. Tapi Gak-hujin cukup kenal pribadi sang suami yang prihatin dan alim, terhadap anak murid perempuan sendiri saja biasanya juga tidak banyak memandang tanpa perlu, sudah tentu apa yang dikatakan Yim Ngo-heng sekarang hanya ocehan bualan belaka. Maka ia hanya ganda tersenyum saja terhadap lirikan sang suami.

Gak Put-kun lantas menjawab, “Apakah pemuda yang dimaksudkan Yim-losiansing adalah si bangsat cilik Lenghou Tiong, murid buangan dari Hoa-san-pay kami itu?”

“Haha, jelas dia adalah emas murni, tapi kau justru anggap loyang, pandanganmu sungguh teramat picik,” kata Yim Ngo-heng. “Ya, pemuda yang kukatakan memang betul Lenghou Tiong adanya. Hehe, kau memaki dia sebagai bangsat cilik, bukankah berarti kau memaki aku sebagai bangsat tua?”

Gak Put-kun menjawab, “Bangsat cilik itu tergila-gila kepada seorang perempuan, sampai-sampai mengerahkan sedemikian banyak kawanan anjing dan serigala dari dunia Kangouw untuk mengubrak-abrik Siau-lim-si yang merupakan sumbernya ilmu silat sejagat. Coba kalau Co-suheng tidak mengatur tipu daya yang jitu, tentu kuil agung bersejarah ini sudah dihanguskan menjadi puing oleh mereka dan bukankah dosanya tak terampunkan biarpun seribu kali dihukum mati.”

“Ucapan Gak-siansing ini kurang tepat,” sela Hiang Bun-thian. “Jangankan tujuan Lenghou-kongcu ke sini hanya ingin memapak nona Yim dan tiada maksud hendak merusak. Seumpama para kawan Kangouw yang dia pimpin kemari ini hendak berbuat sesuatu yang melanggar aturan, masakah jago-jago Siau-lim-pay yang beribu-ribu banyaknya tak mampu membela tempat sendiri? Sekarang boleh kau periksa, selama sehari semalam para kawan tinggal di Siau-lim-si sini adakah suatu genting atau satu piring yang dirusak, bahkan satu butir beras dan setetes air juga tidak mereka makan.”

“Ya, memang! Dengan datangnya para kawan Siau-lim-si berbalik bertambah banyak benda karun,” demikian tiba-tiba seorang menimbrung.

“Kiranya dia juga hadir!” dari suaranya yang melengking tajam segera Lenghou Tiong mengenali pembicara itu adalah Ih Jong-hay, itu ketua Jing-sia-pay.

“Coba Ih-koancu jelaskan, benda karun apa yang bertambah?” tanya Hiang Bun-thian.

“Itu, banyak emas kuning dan air raksa berserakan di sembarang tempat,” kata Ih Jong-hay. Maka tertawalah beberapa orang yang merasa geli.

Mendengar itu, hati Lenghou Tiong rada menyesal. Pikirnya, “Ya, aku memang telah melarang semua kawan merusak setiap benda di kuil ini, tapi lupa melarang mereka membuang hajat besar-kecil di sembarang tempat. Dasar mereka itu orang-orang kasar, kalau sudah kebelet, setiap tempat bisa buka celana dan buang hajat, bikin kotor saja tempat suci ini.”

“Tadinya Lolap memang khawatir menyaksikan kuil bersejarah kami ini terbakar menjadi puing oleh kawan-kawan yang dipimpin Lenghou-kongcu, tapi sekarang ternyata tiada suatu benda pun yang berkurang, hal ini benar-benar berkat jasa pimpinan Lenghou-kongcu yang bijaksana, sungguh kami merasa sangat berterima kasih. Kelak bila bertemu dengan Lenghou-kongcu, Lolap tentu akan mengaturkan terima kasih padanya. Tentang kata-kata kelakar Ih-koancu tadi harap Hiang-siansing jangan anggap sungguh-sungguh.”

“Betapa pun padri saleh memang berbeda jauh daripada jiwa kerdil manusia-manusia palsu,” kata Hiang Bun-thian.

Hong-ting lantas berkata pula, “Ada suatu hal yang Lolap merasa tidak paham, yakni mengapa kedua suthay dari Hing-san-pay bisa wafat di dalam kuil kami ini?”

“Hah? Ap … apa katamu?” seru Ing-ing kaget. “Ting-sian dan Ting-yat Suthay telah … telah meninggal?”

“Ya,” sahut Hong-ting Taysu. “Jenazah mereka ditemukan di dalam kuil sini, ditaksir waktu meninggalnya bersamaan dengan waktu masuknya para kawan Kangouw ke sini. Apa barangkali Lenghou-kongcu tidak keburu mencegah bawahannya sehingga kedua suthay tewas dikerubut mereka?”

“Ini … ini sungguh aneh,” kata Ing-ing. “Tempo hari waktu aku bertemu di ruangan belakang dengan kedua suthay, atas kemurahan hati Hongtiang berkat permohonan kedua suthay itu, maka aku telah dilepaskan ….”

Terima kasih dan terharu pula Lenghou Tiong mendengar itu, katanya di dalam hati, “Kiranya atas permohonan kedua suthay itu Hongtiang Taysu benar-benar telah membebaskan Ing-ing. Sebaliknya beliau-beliau itu malah tewas di sini sebagai korban kepentinganku dan Ing-ing. Sebenarnya siapakah pembunuh mereka? Aku … aku harus menuntut balas bagi mereka.”

Dalam pada itu terdengar Ing-ing lagi berkata, “Sesudah kedua suthay membawa aku meninggalkan pegunungan ini, hari ketiga di tengah jalan lantas mendapat berita bahwa Lenghou … Lenghou-kongcu memimpin para kawan Kangouw hendak memapak diriku ke Siau-lim-si. Ting-sian Suthay mengajak lekas mencegat Lenghou-kongcu dengan rombongannya agar tidak menimbulkan keonaran lagi terhadap Siau-lim-pay. Tapi malamnya kami ketemu lagi seorang teman Kangouw, katanya para kawan Kangouw terbagi dalam beberapa jurusan dan menentukan tanggal 15 bulan 12 berkumpul di tempat sasaran. Kedua suthay menjadi khawatir Siau-lim-si telanjur diserang, hal ini berarti mengingkari kebaikan Hongtiang Taysu yang telah membebaskan diriku tanpa syarat. Maka Ting-sian Suthay lantas suruh aku berangkat sendiri untuk menemui … menemui Lenghou-kongcu dan membubarkan rombongannya, kedua suthay lantas balik kembali ke Siau-lim-si untuk bantu menjaga segala kemungkinan dikacaunya tempat suci itu.”

Perasaan Lenghou Tiong terguncang lagi mendengarkan cerita Ing-ing yang mengharukan dan terkadang rada malu-malu bila menyebut dirinya.

Hong-ting Taysu lantas berkata pula, “Omitohud! Lolap sangat berterima kasih atas maksud baik kedua suthay. Memang banyak kawan-kawan dari berbagai golongan dan aliran, baik kenal maupun tidak, mereka berbondong-bondong datang kemari hendak membantu, sungguh Lolap tidak tahu cara bagaimana harus membalas budi mereka. Untung berkat lindungan Buddha, kedua pihak tidak sampai bertempur sungguh-sungguh sehingga terhindarlah malapetaka banjir darah. Ai, dengan wafatnya kedua suthay, selanjutnya Hing-san-pay menjadi kehilangan dua pemimpin yang bijaksana dan dunia persilatan juga berkurang dengan dua tokoh ternama. Sungguh sayang dan menyesalkan.”

Lalu Ing-ing berkata pula, “Setelah berpisah dengan kedua suthay, malamnya aku lantas kepergok musuh, di bawah kerubutan musuh yang banyak aku telah tertawan selama beberapa hari, ketika aku diselamatkan ayah dan Hiang-sioksiok, sementara itu para kawan Kangouw sudah masuk Siau-lim-si. Kami bertiga masuk ke sini belum ada setengah jam, maka kami tidak mengetahui cara bagaimana kawan-kawan Kangouw itu lolos dari sini, pula tidak tahu meninggalnya kedua suthay.”

“Jika demikian, jadi kedua suthay bukan tewas di tangan Yim-siansing dan Hiang-cosu?” Hong-ting menegas.

“Kedua suthay telah menyelamatkan diriku, sudah seharusnya aku membalas budi mereka, mana bisa aku tinggal diam apabila ayah dan Hiang-sioksiok bergebrak dengan kedua suthay?” ujar Ing-ing.

“Benar juga ucapanmu,” kata Hong-ting.

Tiba-tiba Ih Jong-hay menimbrung lagi, “Tapi kelakuan orang Mo-kau sering kali terbalik daripada orang biasa, jika umumnya membalas budi dengan kebaikan, sebaliknya manusia sesat itu justru membalas air susu dengan air tuba!”

“He, aneh, sungguh aneh! Sejak kapankah Ih-koancu masuk Tiau-yang-sin-kau kami?” tanya Hiang Bun-thian.

“Apa? Ngaco-belo! Siapa yang mengatakan aku masuk Mo-kau?” sahut Ih Jong-hay dengan gusar.

“Habis kau bilang orang Sin-kau kami suka membalas air susu dengan air tuba, padahal Ih-koancu sendiri termasyhur karena ahli membalas susu dengan air tuba. Bukankah Ih-koancu telah menjadi kawan anggota kami? Bagus, bagus sekali. Kusambut dengan segala senang hati.”

“Huh, ngaco-belo! Kentut busuk!” teriak Ih Jong-hay dengan gusar.

“Nah! Betul tidak kataku? Ucapanku bermaksud baik, sebaliknya Ih-koancu memaki aku, bukankah ini membalas susu dengan air tuba? Ya, dasar memang wataknya demikian, baik kelakuan maupun pada tutur katanya juga kelihatan akan wataknya yang suka membalas susu dengan tuba.”

Supaya kedua orang tidak bertengkar soal yang tidak penting, cepat Hong-ting Taysu menyela, “Sebenarnya siapa yang membunuh kedua suthay, kelak kita tentu akan mengetahui setelah tanya kepada Lenghou-kongcu. Tapi sekarang begitu kalian datang, sekaligus lantas membinasakan delapan orang cing-pay kami, coba katakan apa sebabnya?”

Yim Ngo-heng menjawab, “Sudah biasa aku pergi-datang sendiri di dunia Kangouw tanpa seorang pun yang berani kurang ajar padaku. Tapi kedelapan orang ini berani membentak-bentak padaku dan suruh aku keluar dari tempat sembunyi, bukankah dosa mereka ini pantas dihukum mati?”

“Omitohud!” kata Hong-ting. “Mereka hanya membentak beberapa kali, Yim-siansing lantas ambil tindakan sekeji ini, apakah caramu ini tidak keterlaluan?”

“Hahaha! Jika Hongtiang Taysu anggap keterlaluan ya bolehlah katakan demikian,” sahut Yim Ngo-heng. “Kau tidak bikin susah anak perempuanku, aku terima kebaikanmu. Maka sekali ini aku tidak ingin banyak berdebat dengan kau, kedua pihak anggap selesai sudah.”

“Kau … kau ….” tiba-tiba Ih Jong-hay hendak menyela lagi, tapi demi melihat sorot mata Yim Ngo-heng yang tajam itu, teringatlah kelihaian tokoh Mo-kau di masa lampau itu, seketika timbul rasa jerinya dan urung meneruskan kata-katanya.

Hong-ting lantas menyambung, “Jika Yim-siansing anggap sudah beres ya bereslah sudah. Cuma kedelapan orang yang kalian bunuh ini cara bagaimana menyelesaikannya?”

“Penyelesaian apa lagi?” sahut Yim Ngo-heng. “Anggota Tiau-yang-sin-kau kami teramat banyak, jika kalian mampu boleh silakan bunuh delapan orang di antara mereka sebagai imbalannya sudah.”

“Omitohud! Sembarangan membunuh orang kan cuma menambah dosa saja,” kata Hong-ting. “Eh, Co-sicu, dua di antara delapan orang yang terbunuh ini adalah anak murid kalian, menurut kau cara bagaimana penyelesaiannya?”

Belum sempat Co Leng-tan menanggapi, cepat Yim Ngo-heng mendahului, “Akulah yang membunuh mereka, kenapa kau tanya cara penyelesaiannya kepada orang lain? Kenapa tidak tanya saja padaku? Dari nadamu ini rupanya kalian hendak main kerubut terhadap kami bertiga bukan?”

“Bukan begitu maksudku,” kata Hong-ting. “Cuma Yim-siansing sekarang muncul kembali, dunia Kangouw selanjutnya tentu akan banyak urusan, mungkin banyak orang yang akan dibinasakan oleh Sicu, maka Lolap ada maksud minta kalian sudi tinggal di kuil ini untuk sembahyang dan baca kitab, dengan demikian barulah dunia Kangouw akan aman sentosa. Entah bagaimana pendapat kalian?”

“Bagus, bagus! Usul ini sangat menarik,” seru Yim Ngo-heng sambil bergelak tertawa.

Hong-ting menyambung lagi, “Ketika putrimu tinggal di belakang gunung ini, setiap anak murid Siau-lim-si sama menghormat padanya, segala pelayanan tidak pernah kurang. Sebabnya Lolap menahan putrimu di sini bukanlah bermaksud menuntut balas bagi anak murid kami yang menjadi korban keganasan putrimu, ai, mungkin kematian anak murid kami itu adalah karma atas perbuatan mereka di jelmaan hidup yang lalu. Sebenarnya balas-membalas tanpa akhir juga bukan kehendak murid Buddha kami. Cuma kemudian persoalan ini telah menimbulkan huru-hara di dunia Kangouw, hal ini adalah di luar dugaanku. Lagi pula dahulu ketika putrimu datang ke sini minta pertolongan bagi Lenghou-kongcu, dengan tegas dikatakan bahwa asalkan Lolap sudi menyelamatkan jiwa Lenghou-kongcu, maka putrimu ini rela mengganti jiwa bagi anak murid kami yang dibunuh olehnya. Lolap menjawab ganti jiwa sih tidak perlu, tetapi dia harus tinggal tirakat di atas Siau-sit-san sini, tanpa izin Lolap tidak boleh sembarangan meninggalkan gunung ini. Dia terus mengiakan tanpa ragu-ragu. Betul tidak kataku ini, Yim-siocia?”

Wajah Ing-ing tampak bersemu merah, sahutnya perlahan, “Ya, benar.”

“Hehe, setia dan berbudi juga,” jengek Ih Jong-hay. “Cuma sayang kelakuan Lenghou Tiong itu tidak senonoh, dahulu pernah kupergoki olehku ketika dia bermalam di rumah pelacuran di Kota Heng-san. Kukira cinta Yim-siocia akan disia-siakan olehnya.”

“Ih-koancu sendiri memergoki dia di rumah pelacuran, kau melihatnya dengan mata kepala sendiri? Tidak keliru?” Hiang Bun-thian menegas.

“Ya, mana bisa aku salah lihat?” sahut Ih Jong-hay.

Tiba-tiba Hiang Bun-thian dengan suara setengah tertahan, “He, Ih-koancu, kiranya kau juga suka cari cewek, kau adalah kawan sepahamku. Eh, siapakah anak dara kegemaranmu di rumah ‘P’ itu? Cantik tentunya?”

Keruan muka Ih Jong-hay merah padam dan belingsatan, ia mencaci-maki habis-habisan saking gusar. Sebaliknya Hiang Bun-thian bergelak tertawa puas.

Dasar pribadi Ih Jong-hay memang tidak disukai oleh kebanyakan orang-orang cing-pay, maka banyak di antaranya ikut tertawa geli dan merasa syukur dia diolok-olok oleh pihak Mo-kau yang tidak pantang omong dalam segala hal.

Lenghou Tiong yang sembunyi di balik pigura itu menjadi sangat berterima kasih kepada Ing-ing setelah mendengar penuturan Hong-ting Taysu tentang kejadian dahulu itu.

Terdengar Hong-ting berkata pula, “Yim-siansing, silakan kalian tirakat saja di Siau-sit-san sini, selanjutnya kita mengubah lawan menjadi kawan, asalkan kalian bertiga tidak meninggalkan pegunungan ini, Lolap berani tanggung takkan ada orang yang berani mencari perkara kepada kalian bertiga. Seterusnya kita akan sama-sama hidup tenteram sejahtera, semuanya kan sama bahagia.”

Melihat Hong-ting Taysu bicara dengan sungguh-sungguh dan setulus hati, diam-diam Co Leng-tan, Gak Put-kun, dan lain-lain merasa padri agung ini terlalu naif cara berpikirnya. Masakan tiga gembong iblis Mo-kau yang biasanya membunuh orang tanpa kenal ampun mau dikurung begitu saja secara sukarela?

Maka dengan tersenyum Yim Ngo-heng telah menjawab, “Maksud baik Hong-ting Taysu benar-benar harus dipuji, sebenarnya Cayhe seharusnya menurut.”

“Jadi Sicu sudah mau tinggal di Siau-sit-san sini?” Hong-ting menegas dengan girang.

“Benar,” sahut Yim Ngo-heng. “Cuma paling lama aku hanya akan tinggal dua jam saja di sini, lebih lama lagi aku tidak sanggup.”

Hong-ting tampak sangat kecewa, katanya, “Hanya tiga jam saja? Apa gunanya waktu sesingkat ini?”

“Memangnya Cayhe ingin tinggal beberapa hari lebih lama agar bisa bercengkerama dengan para sobat di sini, cuma sayang nama Cayhe sudah telanjur kurang baik, ya, apa boleh buat?”

“Lolap menjadi tidak paham,” kata Hong-ting bingung. “Apa hubungannya dengan nama Sicu yang terhormat?”

“Ya, she Cayhe kurang baik, namaku juga kurang baik,” sahut Yim Ngo-heng. “Aku she Yim pakai nama Ngo-heng pula (yim-ngo-heng berbuat semaunya). Tahu begini tentu sejak mula aku akan mencari nama yang lebih bagus. Sekarang sudah telanjur pakai nama begini, ya apa boleh buat, terpaksa aku berbuat sesukaku, ke mana aku ingin pergi, di situlah aku tiba.”

“O, kiranya Yim-siansing sengaja permainkan Lolap,” kata Hong-ting kurang senang.

“Mana aku berani,” sahut Yim Ngo-heng. “Di antara tokoh-tokoh terkemuka pada zaman ini yang kukagumi boleh dikata sangat terbatas, paling-paling cuma tiga setengah saja. Taysu termasuk satu di antaranya. Selain itu masih ada tiga setengah orang yang tidak kusukai.”

Ucapan Yim Ngo-heng itu sangat sungguh-sungguh, sedikit pun tiada nada mengolok-olok. Maka dengan merangkap kedua tangan Hong-ting berkata, “Omitohud! Banyak terima kasih atas pujianmu.”

Semua orang, termasuk Lenghou Tiong yang sembunyi di balik pigura, merasa heran dan ingin tahu siapa-siapa tiga setengah orang tokoh zaman ini yang dikatakan dikagumi oleh gembong Mo-kau ini dan siapa-siapa lagi tiga setengah orang yang tak disukainya itu?

Tiba-tiba seorang yang bersuara nyaring berseru, “Yim-siansing, siapa-siapa lagi yang kau kagumi?”

“Maaf, Saudara tidak termasuk di antaranya,” sahut Yim Ngo-heng dengan tertawa.

“Cayhe mana berani disejajarkan dengan Hong-ting Taysu,” kata orang itu. “Sudah tentu aku adalah orang yang tak disukai Yim-siansing.”

“Kau pun tidak termasuk di antara tiga setengah orang yang tidak kusukai,” kata Yim Ngo-heng. “Kau boleh berlatih 30 tahun lagi, mungkin kelak akan membikin aku menjadi tidak suka.”

Orang itu menjadi bungkam. Semua orang pun berpikir, “Kiranya juga tidak mudah untuk menjadi orang yang tidak kau sukai.”

“Apa yang dikatakan Yim-siansing benar-benar sesuatu yang serbamenarik,” kata Hong-ting.

“Hwesio besar, apakah kau ingin tahu siapa-siapa lagi yang kukagumi dan siapa-siapa pula yang tidak kusukai?” tanya Yim Ngo-heng.

“Memang ingin minta penjelasan Sicu,” sahut Hong-ting.

“Hwesio besar, seperti kukatakan tadi, padri saleh macam kau adalah tokoh utama yang kukagumi. Adapun orang kedua yang kukagumi adalah Tonghong Put-pay, orang yang telah merebut kedudukan kaucu dari tanganku itu.”

Semua orang sama bersuara heran karena hal ini sama sekali di luar dugaan. Semua orang mengetahui Yim Ngo-heng kena dijebak oleh Tonghong Put-pay dan dikerangkeng sekian lamanya, tentu dia akan sangat benci dan dendam kepada seterunya itu. Siapa tahu Tonghong Put-pay malah termasuk seorang yang dikaguminya.

“Kekagumanku kepada Tonghong Put-pay bukannya tidak beralasan,” sambung lagi Yim Ngo-heng. “Selamanya aku merasa tiada tandingannya di dunia ini baik dalam hal ketinggian ilmu silat maupun dalam hal kecerdasan. Tak terduga, aku bisa masuk perangkapnya Tonghong Put-pay dan hampir-hampir terkubur selamanya di dasar danau. Tokoh selihai Tonghong Put-pay masakah tidak pantas dikagumi?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: