Hina Kelana: Bab 94. Lolos dari Lubang Bumi

Keh Bu-si menarik Lenghou Tiong ke samping dan berkata lirih padanya, “Lenghou-kongcu, betapa pun kita sukar untuk menerjang keluar kepungan. Adapun cita-cita kita yang diharapkan siang dan malam, yaitu menyelamatkan Seng-koh, tugas mahabesar ini terpaksa mohon Lenghou-kongcu memikulnya sendirian kelak.”

“Ap … apa maksud … maksudmu ini?” Lenghou Tiong menegas.

“Kutahu Kongcu sangat berbudi dan punya jiwa setia kawan sejati, betapa pun engkau tidak sudi menyelamatkan diri sendiri dengan meninggalkan kawan-kawan di sini,” kata Keh Bu-si. “Tapi kalau semuanya gugur di sini, lalu kelak siapa yang akan menuntut balas bagi kita? Siapa pula yang bertugas menyelamatkan Seng-koh dari kurungan musuh?”

“Hehe, kiranya Keh-heng suruh aku melarikan diri sendiri,” Lenghou Tiong tertawa ewa. “Sudahlah, soal ini jangan kau sebut-sebut lagi. Kalau mau mati biarlah kita mati bersama saja. Manusia mana yang takkan mati? Sekarang kita mati semua, nanti Seng-koh juga akan mati di penjara musuh. Orang-orang cing-pay yang mendapat kemenangan sekarang, kelak entah setahun entah sepuluh tahun lagi toh satu per satu juga akan mati? Soal kalah atau menang paling-paling juga cuma soal mati sekarang atau mati kelak saja.”

Melihat sukar membujuknya, Keh Bu-si merasa tiada gunanya banyak omong lagi. Tapi kalau malam gelap ini tidak berusaha lari, besok pagi bila musuh mulai menyerang secara besar-besaran tentu tidak sempat lolos lagi. Terpikir demikian, ia menghela napas panjang.

Tiba-tiba terdengar suara gelak tertawa beberapa orang, makin lama makin gembira suara tawa mereka itu. Padahal setelah mengalami kekalahan dan terkurung di dalam Siau-lim-si, setiap orang boleh dikata sedang membayangkan bagaimana mereka akan menerima ajal. Tapi ternyata ada orang sempat tertawa sedemikian gembira.

Dari suara mereka itu segera Lenghou Tiong dan Keh Bu-si mengenali mereka adalah Tho-kok-lak-sian, pikir mereka, “Ya, hanya makhluk-makhluk dogol semacam mereka inilah masih bisa tertawa meski kematian sudah di depan mata.”

Sementara itu gelak tawa Tho-kok-lak-sian bertambah menjadi, rupanya mereka merasa geli melihat orang-orang yang terluka itu. Terdengar Tho-ki-sian berkata, “Hahaha, di dunia ini ternyata ada orang bodoh seperti kalian ini! Masakah kaki sendiri diinjakkan pada paku. Hahahaha, sungguh menggelikan!”

“Huhuuh! Mungkin kalian kaum tolol ini sengaja mau coba tapak kaki kalian lebih keras daripada paku barangkali? Hahaha! Enak ya rasanya tapak kaki ditembus paku?” demikian Tho-yap-sian menambahkan.

“Kalau mau merasakan enaknya paku, kan lebih baik kalian memukul pakunya dengan palu dari atas tapak kaki saja? Hehehe, benar-benar geli, hahaaah!” Tho-hoa-sian ikut menggoda.

Begitulah keenam bersaudara itu terus tertawa geli dengan macam-macam ocehan yang mencemoohkan, seakan-akan tiada sesuatu yang lebih jenaka daripada apa yang mereka lihat sekarang.

Padahal orang-orang yang terluka itu sedang merintih kesakitan, sebaliknya Tho-kok-lak-sian malah mencemoohkan. Keruan mereka menjadi gusar dan mencaci maki, bahkan ada beberapa orang lantas melolos senjata hendak melabrak Tho-kok-lak-sian.

Lenghou Tiong khawatir urusan bisa runyam, mendadak ia berteriak, “He, he! Apa, itu? Hahaah, sungguh lucu! Sungguh aneh!”

Mendengar teriakan itu, Tho-kok-lak-sian ketarik, beramai-ramai mereka lari mendekat dan bertanya, “Apa yang lucu?”

“Apa yang aneh?”

“Itu dia! Kulihat enam ekor tikus menyeret seekor kucing dan lari ke sana!” sahut Lenghou Tiong.

Tho-kok-lak-sian menjadi senang, seru mereka, “Aha, tikus makan kucing, inilah luar biasa! Ke mana larinya?”

“Ke sana!” kata Lenghou Tiong sambil menuding sekenanya.

“Ayo! Mari kita melihatnya ke sana!” seru Tho-kin-sian sambil menarik tangan Lenghou Tiong.

Semua orang tahu bahwa apa yang dikatakan Lenghou Tiong itu secara tidak langsung hendak mendamprat Tho-kok-lak-sian sebagai enam ekor tikus, tapi dasar orang dogol, sedikit pun mereka tidak tahu, bahkan percaya penuh. Keruan semua orang terbahak-bahak geli.

Sebaliknya Tho-kok-lak-sian tetap menyeret Lenghou Tiong berlari ke arah yang ditunjuk tadi untuk melihat “tikus makan kucing”.

Setiba di ruang belakang, Lenghou Tiong berseru pula dengan tertawa, “Nah, nah! Itu dia!”

“Di mana, di mana? Kenapa aku tidak lihat?” Tho-sit-sian berkaok penasaran.

Lenghou Tiong sengaja hendak memancing Tho-kok-lak-sian berpisah sejauh mungkin dengan orang lain agar tidak menimbulkan cekcok, maka dia sengaja menuding ke sana ke sini, maka makin jauhlah mereka ke belakang.

Mendadak Tho-kan-sian menolak sebuah pintu ruangan samping, di dalamnya ternyata gelap gulita. Segera Lenghou Tiong berseru dengan tertawa, “Itu dia! Kucing itu telah diseret tikus-tikus itu ke dalam liang!”

“Mana ada liang? Kau jangan mengapusi orang!” ujar Tho-kin-sian. Ia lantas menyalakan geretan api, ternyata di kamar itu kosong melompong, hanya sebuah patung Buddha tampak bersila menghadap dinding.

Tho-kin-sian menyulut pelita minyak yang menempel di dinding, katanya kemudian, “Mana ada liang? Hayolah kita gebah tikusnya biar keluar!”

Dengan lampu itu ia coba periksa sekeliling kamar, tapi tiada sebuah liang dinding yang diketemukan.

“Mungkin di belakang patung sana?” ujar Tho-ki-sian.

“Di belakang patung adalah kita bertujuh, memangnya kita ini tikus?” kata Tho-kan-sian.

“Patung menghadapi dinding, belakang patung adalah depannya sana,” sahut Tho-kin-sian tak mau menyerah.

“Sudah salah omong masih ngotot! Masakah belakang sama dengan depan?” bantah Tho-kan-sian.

“Peduli depan atau belakang, yang penting kita singkirkan patung ini dan periksa saja sebelah sana,” kata Tho-hoa-sian.

“Benar!” seru Tho-yap-sian dan Tho-sit-sian berbareng. Segera mereka bertiga memegang patung itu terus ditarik.

“He, jangan! Itulah patung Tat-mo Loco!” seru Lenghou Tiong.

Tat-mo Loco (Buddhatama) adalah cikal bakal Siau-lim-si, juga cikal bakal ilmu silat aliran yang termasyhur itu. Tat-mo Loco dahulu pernah bersemadi menghadap dinding selama sembilan tahun dan mencapai kesempurnaan, makanya patung yang dipuja di dalam kuil agung itu pun menghadapi dinding.

Namun sekali Tho-hoa-sian bertiga sudah bertindak sukar lagi dikendalikan, seruan Lenghou Tiong tidak digubris, mereka masih terus menarik sekuatnya. Maka terdengarlah suara keriang-keriut yang mengilukan, patung Buddha itu telah ditarik berputar. Sekonyong-konyong mereka berteriak kaget. Ternyata sepotong papan besi di depan mereka perlahan-lahan menggeser ke atas dan berwujud sebuah liang lebar.

“Haha, benar ada liang di sini!” seru Tho-ki-sian senang.

“Akan kutangkap tikus-tikus itu!” kata Tho-kin-sian, segera ia mendahului menerobos ke dalam lubang itu. Tentu saja Tho-kan-sian berlima juga tidak mau ketinggalan, berturut-turut mereka pun menyusup ke dalam.

Rupanya liang itu sangat luas di dalam, masuknya enam orang itu sekejap lantas lenyap, hanya terdengar suara langkah mereka terus ke depan. Tapi mendadak mereka berkaok-kaok dan berlari keluar lagi.

“Di dalam teramat gelap, dalamnya sukar dijajaki,” kata Tho-ki-sian.

“Katanya gelap, dari mana kau mengetahui dalamnya sukar dijajaki?” bantah Tho-yap-sian. “Bisa jadi beberapa langkah lagi akan mencapai ujungnya.”

“Jika kau tahu hampir capai ujungnya, kenapa kau tidak melangkah terus tadi?” sahut Tho-ki-sian.

“Aku kan cuma bilang ‘bisa jadi’ dan tidak mengatakan ‘pasti’, bisa jadi dan pasti banyak bedanya,” jawab Tho-yap-sian.

“Jika cuma main-main terka ‘bisa jadi’ saja buat apa banyak omong?” omel Tho-ki-sian.

“Sudahlah, tak perlu ribut. Lekas menyalakan obor dan coba periksa lagi ke dalam,” kata Tho-kin-sian.

Begitulah mereka suka usilan, tapi kerjanya juga cepat. Beramai-ramai mereka lantas mematahkan empat kaki meja dan dinyalakan sebagai obor. Seperti anak kecil saja mereka berebut obor yang cuma empat itu, lalu menyusup lagi ke dalam liang tadi.

Lenghou Tiong pikir lubang itu tentulah sebuah jalan rahasia Siau-lim-si seperti dahulu dia juga mengalami hal yang sama ketika terkurung di Bwe-cheng di tepi danau di Hangciu dahulu. Agaknya di dalam situlah Ing-ing disekap. Terpikir demikian hatinya lantas berdebar-debar dan cepat ia pun ikut menyusup ke dalam.

Ternyata jalan di bagian dalam lubang itu sangat luas dan tidak lembap, hanya bau apak di dalam gua sangat menyesak napas dan memuakkan. Dengan langkah lebar sekejap saja ia sudah dapat menyusul Tho-kok-lak-sian. Terdengar Tho-sit-sian sedang berkata, “Kenapa tikus-tikus itu tidak tampak? Mungkin tidak lari ke lubang ini.”

“Jika begitu marilah kita keluar saja dan mencari ke lain tempat,” tukas Tho-ki-sian.

“Kembali nanti saja bila sudah mencapai ujung sana,” ujar Tho-kan-sian.

Mereka melanjutkan pula ke depan, sekonyong-konyong sebuah siantheng (tongkat) mengemplang dari atas.

Tho-hoa-sian berjalan paling depan, untung dia sempat melompat mundur sehingga kemplangan tongkat tadi meleset. Namun begitu ia telah menumbuk Tho-sit-sian yang jalan di belakangnya. Dilihatnya seorang hwesio dengan memegang tongkat cepat menghilang ke dinding di sebelah kanan sana.

Dengan gusar ia memaki, “Bangsat gundul, kau berani sembunyi di sini dan menyergap tuanmu?”

Berbareng ia terus menubruk maju dan mencengkeram ke dinding itu.

Tapi mendadak dari dinding sebelah kiri kembali sebuah tongkat mengemplang lagi. Serangan ini telah menutup rapat jalan mundur Tho-hoa-sian. Karena tidak bisa menghindar, terpaksa ia melompat maju. Tapi baru sebelah kakinya menginjak tanah, lagi-lagi sebuah tongkat menyambar dari sisi kanan.

Dalam pada itu Lenghou Tiong sudah melihat jelas bahwa hwesio yang memainkan tongkat itu bukanlah manusia tulen, tapi adalah orang-orangan yang digerakkan dengan pesawat rahasia. Rupanya cara pemasangannya sangat bagus, asal pesawat yang terpasang di lantai tersentuh orang segera sebuah tongkat memukul, bahkan maju dan mundur bisa bergiliran secara rapi, setiap serangan tongkat adalah gerakan yang sangat lihai.

Begitulah Tho-hoa-sian terpaksa mencabut golok untuk menangkis, terdengar suara “trang” yang keras, goloknya menjadi bengkok, kiranya bobot tongkat itu sangat berat, daya kemplangannya lebih-lebih hebat pula. Keruan Tho-hoa-sian mati kutu, ia menjerit dan menjatuhkan diri ke lantai terus menggelinding minggir. Tapi sebuah tongkat lain kembali menghantam pula.

Cepat Tho-kin-sian dan Tho-ki-sian melolos senjata dan melompat maju untuk menolong saudaranya, dengan tenaga tangkisan mereka berdua, pula daya kemplang tongkat waktu itu sudah rada kendur, maka dapatlah mereka menahannya sehingga Tho-hoa-sian tidak sampai remuk kepalanya.

Tapi satu kemplangan selesai kembali kemplangan tongkat yang lain tiba pula. Tho-kan-sian, Tho-yap-sian, dan Tho-sit-sian tidak bisa tinggal diam lagi, mereka pun memburu maju untuk membantu. Dengan lima golok mereka menandingi serangan-serangan tongkat dari dinding kanan-kiri itu.

Meski hwesio-hwesio besi yang memainkan tongkat itu adalah benda mati, tapi penciptanya ternyata adalah ahli teknik yang mahapintar. Agaknya kalau bukan ahli itu sendiri mahir ilmu silat Siau-lim-si tentu juga ada hwesio agung Siau-lim-si yang memberi petunjuk-petunjuk waktu orang-orangan besi itu dipasang, makanya setiap gerakan tongkat adalah jurus-jurus serangan yang sangat lihai. Masih ada lagi sesuatu yang luar biasa, yaitu lengan dan tongkat yang digunakan patung besi itu semuanya terbuat dari baja murni, benda seberat beberapa ratus kati digerakkan dengan pesawat, keruan daya kemplangannya menjadi jauh lebih kuat daripada manusia.

Walaupun ilmu silat Tho-kok-lak-sian cukup tinggi, tapi golok mereka sama sekali tidak berdaya bila kebentur tongkat baja, bahkan terus bengkok. Keruan mereka mengeluh dan gelisah, pikirnya hendak mundur, namun di belakang mereka sudah tertutup oleh bayangan tongkat yang terus menghantam silih berganti. Sebaliknya setiap melangkah maju juga mengakibatkan tambahan serangan beberapa hwesio besi yang tadinya belum bergerak.

Melihat keadaan yang gawat itu, cepat Lenghou Tiong bertindak. Dari jurus-jurus serangan patung-patung besi itu ia sudah melihat adanya titik-titik kelemahan setiap jurus mereka. Segera pedangnya bekerja, “sret-sret” dua kali, pergelangan kedua patung ditusuknya. Terdengarlah suara nyaring dua kali, pergelangan patung-patung yang diincar itu kena dengan tepat dan meletakkan lelatu api, tapi pedangnya sendiri berbalik terpental balik.

Pada saat itulah mendadak terdengar jeritan Tho-sit-sian dan roboh terkena pukulan tongkat. Memangnya Lenghou Tiong sudah gelisah, sekarang tambah cemas. Pedangnya bergerak lagi, kembali dua patung tertusuk, tapi patung-patung besi itu tetap bergeming, sebaliknya sebuah tongkat tahu-tahu menyambar dari atas. Dengan khawatir, cepat Lenghou Tiong menghindari sambil melangkah maju, tapi kembali sebuah tongkat mengemplang pula.

Mendadak pandangan menjadi gelap, lalu tidak tampak apa-apa lagi. Kiranya obor-obor yang dibawa Tho-kok-lak-sian tadi terpaksa dibuang ke lantai karena harus bertempur melawan robot-robot bertongkat, sekarang obor-obor itu telah padam semua. Padahal keistimewaan Lenghou Tiong adalah mematahkan setiap serangan lawan melalui titik kelemahan yang dilihatnya, sekarang keadaan gelap gulita, keruan ia menjadi mati kutu dan kelabakan. Menyusul bahu kiri terasa sakit, tubuhnya jatuh terjerembap ke depan. Berbareng itu terdengar pula suara jeritan dan keluhan berulang-ulang, terang Tho-kok-lak-sian juga telah dihantam roboh satu per satu.

Sambil mendekam di lantai Lenghou Tiong mendengar suara angin menderu-deru menyambar lewat di atasnya, seketika ia merasa dirinya seperti di alam mimpi buruk, tubuh tak bisa berkutik, hatinya merasa ngeri, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Sambaran tongkat yang membawa deruan angin keras itu lambat laun mulai mereda, lalu terdengar suara keriang-keriut ramai, agaknya hwesio-hwesio robot tadi telah kembali ke tempatnya semula dan tidak bergerak lagi.

Tiba-tiba pandangan terbeliak, menyusul ada orang berseru, “Lenghou-kongcu, apakah engkau di sini?”

Lenghou Tiong sangat girang, sahutnya, “Aku … aku di sini ….” ia merasa suaranya sendiri teramat lemah, hampir-hampir ia tidak percaya atas telinga sendiri.

Ia tetap mendekam tak berani bergerak. Terdengar suara langkah beberapa orang memasuki gua itu, lalu terdengar Keh Bu-si berseru kaget dan heran.

“Jang … jangan maju, pe … pesawat rahasianya sangat … sangat lihai,” seru Lenghou Tiong.

Rupanya Keh Bu-si dan lain-lain menjadi tidak sabar terlalu lama menunggu Lenghou Tiong dan Tho-kok-lak-sian, kemudian mereka menyusul ke belakang dan di ruang Tat-mo-tong itu menemukan lubang gua di bawah tanah, cepat mereka mencari ke dalam dan menemukan Lenghou Tiong dan Tho-kok-lak-sian menggeletak di situ dalam keadaan berlumuran darah, mereka menjadi kaget dan khawatir.

“Bagaimana kau, Lenghou-kongcu?” tanya Coh Jian-jiu.

“Tak apa-apa. Diam saja di situ, jangan maju, nanti menggerakkan pesawat rahasia lagi,” seru Lenghou Tiong.

“Baiklah,” sahut Coh Jian-jiu. “Bagaimana kalau aku menyeret keluar kau dengan cambuk panjang.”

“Ya, bagus,” kata Lenghou Tiong.

Segera Coh Jian-jiu menggunakan cambuk, lebih dulu kaki kiri Tho-hoa-sian dibelitnya dengan ujung cambuk dan diseret keluar. Maklumlah Tho-hoa-sian menggeletak paling ujung luar, maka habis itu barulah Coh Jian-jiu menyeret keluar Lenghou Tiong dengan cara yang sama. Berturut-turut Tho-kok-ngo-sian dapat pula ditarik keluar tanpa menyentuh pesawat rahasia.

Dengan cepat Lenghou Tiong lantas berbangkit, ia coba periksa keadaan Tho-kok-lak-sian. Ternyata pundak keenam orang itu sama terluka kena hantaman tongkat baja, untung mereka punya kulit tebal dan kuat tenaga dalamnya, meski lukanya tidak ringan, namun tidak membahayakan jiwanya. Tidak lama kemudian satu per satu lantas siuman kembali.

Begitu membuka mata dan tidak tampak hwesio robot lagi, segera Tho-kin-sian mengoceh, “Lihai amat hwesio besi tadi, tapi toh semuanya dihancurkan oleh Tho-kok-lak-sian.”

Rupanya Tho-hoa-sian lebih tahu diri, katanya, “Lenghou-kongcu juga berjasa, cuma jasa kami berenam saudara lebih besar.”

Dengan menahan rasa sakit bahunya Lenghou Tiong berkata dengan tertawa, “Sudah tentu, siapa mampu menandingi Tho-kok-lak-sian.”

“Sebenarnya apa yang terjadi, Lenghou-kongcu?” tanya Coh Jian-jiu.

Dengan ringkas Lenghou Tiong menuturkan pengalamannya tadi, lalu sambungnya, “Besar kemungkinan Seng-koh terkurung di dalam situ, kita harus mencari akal untuk memusnahkan kawanan hwesio robot penjaga ini.”

Coh Jian-jiu melirik sekejap ke arah Tho-kok-lak-sian, katanya, “Kiranya hwesio-hwesio robot itu belum dihancurkan.”

“Apa sulitnya untuk menghancurkan hwesio-hwesio mati itu? Hanya sementara ini kami tidak mau,” sahut Tho-kan-sian.

“Entah bagaimana cara bekerja hwesio-hwesio robot itu, harap Tho-kok-lak-sian maju lagi untuk memancing serangannya, biar kita sama menyaksikan,” kata Keh Bu-si.

Tapi Tho-kok-lak-sian rupanya sudah kapok, mana mau lagi mereka disuruh rasakan kemplangan tongkat baja. Tho-kan-sian lantas berkata, “He, kucing makan tikus adalah biasa, tapi tikus makan kucing adakah yang pernah lihat?”

“Baru saja kami bertujuh telah menyaksikan tikus makan kucing, sungguh luar biasa!” sambung Tho-yap-sian.

Ternyata Tho-kok-lak-sian masih mempunyai suatu kepandaian simpanan, yaitu bila kepepet dan tak bisa menjawab, lalu mereka menyimpangkan pokok pembicaraan ke hal-hal lain.

Lenghou Tiong lantas berkata, “Siapakah salah seorang kawan ambilkan beberapa potong batu besar?”

Segera dua-tiga orang berlari keluar dan membawakan tiga potong batu besar, masing-masing sedikitnya ada 100 kati beratnya.

Segera Lenghou Tiong angkat sepotong batu besar itu terus digelindingkan ke sana. Terdengarlah suara gemuruh, batu besar itu telah menyentuh pesawat dan terdengar suara keriang-keriut, hwesio-hwesio robot yang sembunyi di lekukan dinding lantas bergerak, tongkat baja bersambaran dengan kencang. Agak lama kemudian barulah hwesio-hwesio robot itu menyelinap kembali ke dalam dinding.

Semua orang sama melongo kesima menyaksikan peristiwa ajaib itu.

“Lenghou-kongcu,” kata Keh Bu-si, “hwesio-hwesio robot itu digerakkan oleh pesawat rahasia. Menurut pendapatku, tenaga pesawat itu adakalanya akan habis, untuk bisa bergerak lagi harus memutar kencang pegasnya. Maka bila kita pancing dengan beberapa potong batu berulang-ulang, kalau tenaga pegas sekarang sudah habis, tentu hwesio-hwesio robot itu takkan bergerak lagi.”

Tapi Lenghou Tiong ingin selekasnya menolong Ing-ing, katanya. “Kulihat gerak tongkat robot-robot ini sedikit pun tidak menjadi kendur, kalau mesti menunggu mungkin bisa sampai besok pagi. Adakah di antara Saudara-saudara yang membawa senjata pusaka, coba pinjamkan sebentar.”

Segera ada seorang tampil ke muka dan melolos golok, katanya, “Bengcu, senjata Cayhe ini rada tajam.”

Lenghou Tiong mengangguk dan menyatakan terima kasih, lalu melangkah ke depan.

“Hati-hati!” seru Tho-kok-lak-sian.

Ketika Lenghou Tiong melangkah lagi dua-tiga tindak, mendadak sebuah tongkat mengemplang dari atas. Jurus serangan ini sudah beberapa kali dilihatnya sejak tadi, maka tanpa pikir ia mengayun golok, “trang”, kontan pergelangan tangan robot itu tertebas kutung bersama tongkatnya jatuh ke tanah.

“Golok bagus!” puji Lenghou Tiong. Semula ia khawatir golok pinjaman itu kurang tajam, sekarang hasilnya ternyata luar biasa, benar-benar sebuah golok mestika, seketika semangatnya terbangkit, “sret-sret” dua kali, kembali ia mengutungi pergelangan tangan dua hwesio robot yang menyerang lagi.

Ia gunakan golok sebagai pedang, yang dimainkan adalah jurus serangan Tokko-kiu-kiam. Dari kedua sisi dinding hwesio-hwesio robot itu berturut-turut menyerang lagi, tapi lantaran pergelangan tangan putus, tongkat jatuh, dengan sendirinya kedua tangannya yang bergerak naik-turun dan tidak membahayakan.

Lenghou Tiong terus maju ke depan, dilihatnya jurus serangan hwesio-hwesio robot itu bertambah lihai, diam-diam ia sangat kagum, namun satu per satu kena dipatahkan semua.

Semua orang mengikuti Lenghou Tiong dengan membawa obor, setelah ratusan tangan besi terkutung, dinding-dinding batu itu tidak muncul lagi robot yang lain. Ada orang menghitungnya, ternyata hwesio-hwesio robot itu seluruhnya ada 108. Maka bersorak gembiralah para jago di jalanan gua itu.

Karena ingin lekas-lekas menemukan Ing-ing, Lenghou Tiong lantas minta sebuah obor dan mendahului jalan pula ke depan. Jalanan itu terus menurun ke bawah makin lama makin rendah, namun tiada terdapat perangkap-perangkap lagi walaupun ia berlaku sangat hati-hati. Panjang jalan di bawah tanah itu ada beberapa li dan menembus beberapa gua alam. Tiba-tiba di depan tampak cahaya remang-remang. Lenghou Tiong percepat langkahnya, ketika sebelah kakinya menginjak tanah yang lunak, ternyata sudah berada di atas lapisan salju, berbareng itu hawa dingin terasa merasuk, hawa dingin yang segar. Nyata dia sudah berada di tempat yang terbuka.

Ia coba memandang sekelilingnya, suasana sunyi di tengah malam gelap, bunga salju masih berhamburan, terdengar pula suara gemerciknya air, kiranya tempat itu terletak di tepi sebuah kali. Sekejapan itu Lenghou Tiong sangat kecewa karena jalan di bawah tanah itu tidak menembus ke tempat tahanan Ing-ing.

Tiba-tiba terdengar Keh Bu-si berkata di belakangnya, “Teruskan pesan ini kepada kawan-kawan agar jangan bersuara, besar kemungkinan kita sudah berada di bawah gunung.”

“Apakah mungkin kita sudah lolos dari kepungan musuh?” pikir Lenghou Tiong.

Dalam pada itu Keh Bu-si sedang berkata padanya, “Kongcu, di musim dingin di atas gunung tidak mungkin ada aliran air. Tampaknya melalui jalan di bawah tanah tadi kita sekarang sudah berada di kaki gunung.”

“Benar,” tukas Coh Jian-jiu. “Secara tidak sengaja kita telah menemukan jalan rahasia Siau-lim-si yang menembus ke sini.”

“Jika demikian lekas suruh semua kawan keluar dari jalanan rahasia ini,” kata Lenghou Tiong.

Keh Bu-si meneruskan perintah itu. Ia suruh beberapa orang menyelidiki lagi jalan di sekitar situ, beberapa puluh orang diperintahkan menjaga ujung jalan rahasia itu agar tidak diserang musuh sehingga jalan keluar tersumbat.

Tidak lama kemudian datanglah laporan bahwa tempat itu memang betul kaki gunung Siau-sit-san bagian belakang, kalau mendongak dapat tampak bangunan kuil agung di atas gunung. Karena banyak teman-teman belum keluar, maka semua orang tidak berani bersuara keras. Sementara itu orang-orang yang keluar dari jalan rahasia itu makin banyak, menyusul yang luka dan yang mati juga sudah digotong keluar. Bisa lolos dari ancaman elmaut, meski tidak bersorak gembira, namun ramai juga mereka berbisik-bisik dengan penuh kegirangan.

“Bengcu,” kata Si Beruang Hitam, satu di antara Boh-pak-siang-him yang gemar makan daging manusia itu, “tentu kawanan kura-kura itu mengira kita masih terkurung di atas sana. Hayolah kita gempur mereka dari belakang, putuskan ekor kawanan anjing itu untuk melampiaskan rasa dongkol kita.”

Akan tetapi Lenghou Tiong tidak setuju, katanya, “Tujuan kita ke sini adalah untuk menolong Seng-koh, maka tidak perlu saling bunuh lebih banyak. Harap Saudara-saudara meneruskan perintah agar kita memencarkan diri saja, bila ketemukan orang cing-pay sebaiknya menghindari pertarungan. Bilamana ada yang mendapat kabar tentang Seng-koh harus disiarkan secara cepat dan luas. Selama aku masih bernapas, betapa pun sukar dan bahaya juga akan kuselamatkan Seng-koh. Apakah semua teman sudah keluar sekarang?”

Keh Bu-si coba mendekati ujung jalan rahasia itu dan berteriak-teriak beberapa kali ke dalam, namun tiada jawaban seorang pun. Ia memberi lapor bahwa semua kawan sudah keluar.

Tiba-tiba timbul pikiran Lenghou Tiong yang kekanak-kanakan, katanya, “Ayo kita berteriak tiga kali biar orang-orang cing-pay di atas itu kaget.”

“Bagus!” seru Coh Jian-jiu tertawa. “Marilah kita beramai-ramai ikut Bengcu berteriak.”

Segera Lenghou Tiong mulai, “Hai dengarkan, kami sudah berada di bawah gunung!”

Beberapa ribu orang serentak ikut berteriak, “Hai dengarkan, kami sudah berada di bawah gunung!”

Lalu Lenghou Tiong berteriak pula, “Silakan kalian makan angin di atas gunung!”

Beribu-ribu orang menirukan pula teriakan itu.

Akhirnya Lenghou Tiong berteriak, “Selamat tinggal, sampai berjumpa!”

“Marilah kita pergi,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

Tapi mendadak ada seorang menggembor sekeras-kerasnya, “Kalian kawanan anjing, anak kura-kura, persetan dengan nenek moyang delapan belas keturunanmu!”

Serentak beribu-ribu orang itu menirukan teriakan itu. Kata-kata makian yang kasar itu diteriakkan oleh orang sebanyak itu, keruan suaranya menggema ke angkasa dan menggetar lembah.

“Sudahlah, tak perlu berteriak lagi, marilah kita pergi saja,” seru Lenghou Tiong.

Setelah berteriak-teriak, dari atas gunung ternyata tiada reaksi apa-apa. Sementara itu subuh tiba, tapi salju masih turun dengan lebatnya. Ada beberapa kelompok sudah mulai berangkat pergi.

Lenghou Tiong pikir urusan paling penting sekarang adalah menemukan tempatnya Ing-ing, selanjutnya menyelidiki siapakah yang membunuh Ting-sian dan Ting-yat Suthay. Untuk menunaikan kedua tugas ini ke mana harus dituju?

Tiba-tiba terkilas suatu pikiran dalam benaknya, “Bila hwesio-hwesio Siau-lim-pay dan orang-orang cing-pay itu mengetahui kami sudah lolos, tentu mereka akan kembali ke Siau-lim-si. Bisa jadi Ing-ing dibawa di tengah mereka. Untuk menyelesaikan dua soal tadi rasanya aku harus kembali ke Siau-lim-si. Untuk ke sana sebaiknya kulakukan sendirian saja.”

Begitulah ia lantas mengembalikan golok mestika kepada pemiliknya. Lalu katanya kepada Keh Bu-si dan lain-lain, “Marilah kita berusaha mencari Seng-koh menurut kemampuan masing-masing, selekasnya kalau Seng-koh sudah diketemukan barulah kita berkumpul untuk merayakannya.”

“Engkau sendiri hendak ke mana, Lenghou-kongcu?” tanya Keh Bu-si.

“Maafkan sekarang tak bisa kukatakan, kelak tentu akan kuberi tahu,” sahut Lenghou Tiong.

Semua orang tidak berani banyak tanya lagi, terpaksa mereka memberi hormat dan mohon diri. Lenghou Tiong sendiri lantas menggunakan ginkangnya yang tinggi menyusup ke tengah hutan terus meloncat ke atas pohon agar tidak meninggalkan jejak di tanah bersalju. Ia sembunyi di situ sekian lamanya, didengarnya suara berisik orang banyak tadi makin berkurang dan akhirnya sunyi senyap. Ia menduga semua orang tentu sudah pergi, lalu perlahan-lahan ia kembali ke ujung jalan rahasia di bawah tanah itu. Memang sudah tiada seorang pun yang tertinggal di situ.

Ujung jalan itu teraling-aling oleh dua potong batu besar dan tertutup oleh tumbuhan rumput yang tinggi, kalau tidak tahu seluk-beluknya biarpun berada di depannya juga tidak mengetahui adanya jalan rahasia itu. Karena tak bersenjata lagi, Lenghou Tiong menjemput sepotong ranting kayu sepanjang satu meteran, lalu ia memasuki lagi jalan di bawah tanah itu.

Dengan jalan cepat ia kembali ke ruangan patung Buddhatama tadi, ia coba pasang kuping, sayup-sayup di ruang depan sudah ada suara orang. Sekuatnya Lenghou Tiong mendorong patung itu menggeser kembali ke tempatnya semula, dalam hati ia menimbang-nimbang, “Aku harus sembunyi di mana agar bisa mendengarkan pembicaraan-pembicaraan para pemimpin cing-pay itu? Tapi tak terhitungnya ruangan dan kamar di dalam Siau-lim-si ini, dari mana bisa mengetahui tempat yang akan mereka gunakan untuk bicara?”

Tiba-tiba teringat olehnya kamar semadi Hong-ting Taysu ketika dahulu ia diajak menemuinya oleh Hong-sing Taysu, samar-samar ia masih ingat letak kamar itu. Segera ia lari ke luar terus menuju ke belakang.

Akan tetapi sudah berlari ke sana ke sini, ruangan dan kamar di Siau-lim-si itu terlalu luas dan banyak, kamar pribadi ketua Siau-lim-pay tak bisa ditemukan. Dalam pada itu terdengar suara tindakan orang banyak sedang mendatangi. Waktu itu Lenghou Tiong berada di suatu ruangan samping, di atas ruangan luas itu tergantung sebuah pigura besar. Karena tiada tempat sembunyi yang cocok, terpaksa ia melompat ke atas dan mendekam di balik pigura itu.

Suara tindakan orang banyak itu terdengar semakin mendekat, lalu masuklah tujuh atau delapan orang. Seorang di antaranya sedang berkata, “Kawanan sia-pay itu pun lihai benar, kita telah kepung pegunungan ini dengan rapat, tapi mereka toh masih bisa lolos.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: