Hina Kelana: Bab 93. Setia Kawan Sejati

“Nanti dulu!” cepat Lenghou Tiong mencegah. “Panah musuh terlalu lihai, kita harus mencari jalan yang baik untuk menghadapi mereka agar tidak jatuh korban cuma-cuma.”

“Cayhe ada suatu usul,” sela Keh Bu-si. “Di dalam kuil ini tiada terdapat benda apa-apa, tapi poh-toan (bantal bundar untuk duduk semadi) ada beberapa ribu biji, kita kan dapat manfaatkan benda ini?”

Kata-kata ini menyadarkan orang banyak, serentak mereka berseru, “Benar dapat kita gunakan sebagai perisai, memang sangat tepat dijadikan tameng.”

Seketika ada beberapa ratus orang menerobos ke dalam Siau-lim-si dan mengusung keluar bantal-bantal itu.

“Gunakan bantal ini sebagai tameng, marilah kita menerjang ke bawah,” seru Lenghou Tiong.

“Bengcu, sesudah itu di mana lagi kita harus berkumpul dan bagaimana tindakan kita selanjutnya, terutama cara bagaimana harus berdaya menolong Seng-koh, untuk itu sekarang juga mesti diatur lebih dulu,” kata Keh Bu-si.

“Benar,” sahut Lenghou Tiong. “Aku memang bodoh, segala urusan tak bisa mengatur, mana aku bisa menjadi bengcu. Kupikir sesudah menerjang ke luar kepungan musuh, untuk sementara kita pencarkan diri saja ke tempat masing-masing dan berusaha sendiri-sendiri mencari tahu di mana beradanya Seng-koh, lalu saling memberi kabar, kemudian dapat kita atur tindakan selanjutnya.”

“Baiklah, terpaksa harus demikian,” kata Keh Bu-si. Segera ia meneruskan garis besar keputusan Lenghou Tiong itu.

“Dan cara bagaimana kita harus menyerbu ke bawah, silakan Keh-heng mengatur sekalian,” kata Lenghou Tiong lebih jauh.

Melihat Lenghou Tiong benar-benar tidak punya bakat pimpinan, terutama pada saat gawat menghadapi musuh demikian, maka Keh Bu-si juga tidak sungkan-sungkan lagi, segera ia berseru lantang, “Dengarkan para kawan, Bengcu memerintahkan agar kawan-kawan membagi diri dalam delapan jurusan dan menerjang ke bawah serentak. Yang kita harapkan hanya menerjang ke luar kepungan musuh dan tidak perlu banyak membunuh.”

Begitulah pembagian-pembagian kelompok ke delapan jurusan itu lantas dilakukan, sesudah ditentukan pula jurusan masing-masing yang terdiri hampir ribuan orang, lalu Lenghou Tiong berkata, “Jurusan selatan adalah jalan besar, tentu pula paling banyak dan paling kuat dijaga oleh musuh. Marilah Coh-heng, Lo-heng, Keh-heng, kita mendahului menerjang dari jalan utama ini untuk memengaruhi perhatian musuh, dengan demikian kawan-kawan yang lain akan lebih leluasa menyerbu ke jurusan lain.”

Setelah mengatur seperlunya, segera Lenghou Tiong menghunus pedang, tanpa membawa tameng apa-apa ia terus bertindak ke bawah gunung dengan langkah lebar. Rombongannya diikuti oleh Keh Bu-si, Na Hong-hong, dan lain-lain.

Melihat sang bengcu mendahului menerjang ke bawah, semua orang menjadi berani, mereka berteriak-teriak dan beramai-ramai menerjang ke bawah dari delapan jurusan. Sudah tentu pegunungan itu tiada delapan jalur jalan, ketika menyerbu maju mula-mula mereka terbagi dalam delapan barisan, tapi setelah bergerak seluruh gunung menjadi penuh dengan orang tanpa teratur lagi.

Lenghou Tiong berlari satu-dua li ke bawah lantas disambut dengan serangan. Mula-mula terdengar suara gembreng berbunyi, menyusul dari hutan di depan berhamburan anak panah bagai hujan. Namun ia sudah siap siaga, ia mainkan “Boh-gi-sik” dari Tokko-kiu-kiam yang lihai, yaitu cara memunahkan serangan senjata rahasia, pedangnya berputar cepat, semua anak panah yang menyambar tiba kena disampuk atau ditangkis jatuh, kakinya tidak pernah berhenti, ia terus menerjang ke depan.

Sekonyong-konyong terdengar seorang menjerit di belakangnya, rupanya kaki kiri dan dada kanan Na Hong-hong berbareng terkena panah dan roboh. Lekas-lekas Lenghou Tiong putar balik dan memayangnya bangun, katanya, “Kulindungi kau ke bawah!”

“Jangan kau urus diriku, kau sen … diri menerjang ke bawah saja!” sahut Na Hong-hong. Sementara hujan panah masih terus berlangsung, tapi semuanya dapat ditangkis oleh pedang Lenghou Tiong.

Dengan tangan kiri merangkul pinggang Na Hong-hong segera Lenghou Tiong membawanya lari ke bawah gunung pula. Mendadak terdengar bentakan orang, berbareng macam-macam senjata menyerang dari kanan dan kiri.

Tanpa pikir Lenghou Tiong putar pedangnya, terdengar suara mendering nyaring berulang-ulang, tiga macam senjata musuh jatuh ke tanah, berbareng Lenghou Tiong telah menerjang belasan meter jauhnya ke bawah. Pada saat itulah terdengar sambaran angin, tiga tombak musuh menusuk lagi dari belakang dan samping.

Karena sebelah tangan merangkul tubuh Na Hong-hong, gerak-gerik Lenghou Tiong menjadi kurang leluasa, terpaksa ia menangkis lagi dengan pedang. Tiba-tiba terdengar seruan Lo Thau-cu di belakang, agaknya seperti terluka. Waktu Lenghou Tiong menoleh, dilihatnya Keh Bu-si, Coh Jian-jiu sedang membalik ke atas untuk menolong Lo Thau-cu tentunya.

Seketika Lenghou Tiong menjadi ragu-ragu apakah terus menerjang ke bawah atau kembali ke atas membantu teman-temannya itu. Saat itulah mendadak suara seorang perempuan membentaknya, “Lenghou Tiong, makin lama kelakuanmu makin tidak genah!”

Lenghou Tiong terkejut mengenali suara perempuan itu, cepat ia berpaling kembali dan benarlah, yang bersuara itu memang betul siausumoaynya, Gak Leng-sian. Wajah sumoay itu tampak membesi, di sebelahnya berdiri seorang pemuda cakap, siapa lagi kalau bukan Lim Peng-ci.

Kejut dan girang pula Lenghou Tiong, segera tercetus dari mulutnya, “Siausumoay, kau sehat-sehat saja bukan? Lim-sute ternyata juga sudah baik.”

“Hm, siapa sudi menjadi sute dan sumoaymu?” jengek Gak Leng-sian. “Kau memimpin pasukan siluman ini menyerbu Siau-lim-si yang suci, apakah kau ini terhitung manusia?”

Dada Lenghou Tiong serasa digodam oleh cercaan Leng-sian itu, ia pikir urusan hari ini terang sukar dijelaskan, sebenarnya juga tidak perlu penjelasan, sebab dalam pandangan orang-orang Hoa-san-pay sekarang setiap perbuatannya sudah dianggap pasti salah.

Dalam pada itu Gak Leng-sian telah membentak lagi sambil mengacungkan pedangnya, “Lenghou Tiong, hari ini kawan-kawan dari aliran-aliran cing-pay sudah mengadakan pengepungan rapat terhadap Siau-sit-san ini, kalian kaum siluman ini satu pun jangan harap bisa lolos dengan hidup. Kau sendiri kalau ingin lari, lalui dulu rintanganku ini.”

Ketika Lenghou Tiong menoleh, dilihatnya pengikut-pengikut di belakangnya hanya 50-60 orang saja, seluruh gunung bergemuruh dengan suara-suara pertempuran sengit, pihak lawan berombongan atau berkelompok dalam seragam tertentu, ada warna biru atau warna kuning, ada yang pakai tanda kain merah terbalut di lengan, barisan mereka teratur. Sebaliknya anak buah pihak sendiri adalah gabungan dari macam-macam gerombolan yang tidak kompak, masing-masing bertempur sendiri-sendiri, menerjang ke sana kemari semaunya, tidak perlu dipikir juga jelas terbayang pihak mana yang bakal menang atau kalah.

Sekilas terpikir dalam benak Lenghou Tiong, “Ternyata Siau-lim-si sudah menyiapkan pertahanan yang kuat dengan menghimpun tenaga dari berbagai golongan dan aliran, tujuannya tentu hendak mengurung dan menumpas kami di atas Siau-sit-san ini. Jika memang nasib sudah ditakdirkan demikian, biarlah aku mati bersama para kawan saja.”

Tapi lantas teringat olehnya, “Matiku tidak menjadi soal, tapi Ing-ing belum lagi diselamatkan, betapa pun aku harus berusaha menyelamatkan dulu Ing-ing yang belum diketahui di mana beradanya itu.”

Dalam pada itu suara pertempuran, suara menderingnya senjata, suara teriakan dan jeritan ngeri terdengar di mana-mana. Sambil mengertak gigi akhirnya Lenghou Tiong berkata, “Nona Gak, jika kau tetap merintangi aku terpaksa aku tidak sungkan-sungkan lagi.”

“Apakah kau benar-benar mau bergebrak dengan aku?” tanya Leng-sian dengan gusar.

“Aku hanya mau turun ke bawah dan tidak ingin bergebrak dengan kau,” sahut Lenghou Tiong.

“Tokoh-tokoh terkemuka Ko-san, Thay-san, Heng-san, dan Hoa-san-pay sudah datang semua, ditambah lagi jago-jago undangan Siau-lim-pay, sukarlah bagimu untuk lolos,” kata Leng-sian. “Lebih baik kau menyerah saja, nanti akan kumintakan ampun kepada ayah ….”

Pada saat itulah tiba-tiba di belakang Leng-sian sana muncul seorang dan membentak dengan suara bengis, “Lenghou Tiong, tidak lekas buang senjatamu dan menyerah?”

Siapa lagi dia kalau bukan ketua Hoa-san-pay, Kun-cu-kiam Gak Put-kun.

Tergetar hati Lenghou Tiong melihat sang guru yang berwibawa itu, ia tidak berani bicara lagi. Sembari tetap merangkul tubuh Na Hong-hong segera ia putar tubuh bermaksud naik ke atas gunung lagi.

Mendadak Gak Put-kun menusuk dengan pedangnya ke punggung Lenghou Tiong. Tapi pemuda itu keburu mengerahkan tenaga dalam yang kuat dan melompat ke atas. Berulang-ulang Gak Put-kun menusuk tiga kali, ujung pedangnya selalu berjarak dua-tiga senti di punggung Lenghou Tiong.

Meski sebelah tangannya membawa Na Hong-hong, tapi tenaga dalam Lenghou Tiong sangat kuat sehingga Gak Put-kun tidak mampu mencandaknya.

Keruan Gak Put-kun menjadi gusar, ia menarik napas panjang-panjang dan mengerahkan Ci-he-sin-kang, tubuhnya mengapung ke atas, pedangnya sebagai kelebatan sinar kilat terus menusuk pula ke punggung Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong tidak ingin menangkis dengan pedang, ia pun mengerahkan tenaga murni dan meloncat tinggi ke atas, dirasakannya angin dingin sudah menyambar tiba di belakangnya, terkilas pikirannya, “Entah dapat lolos dari tusukan ini atau tidak? Jika memang harus mati, biarlah mati di bawah pedang suhu daripada dibunuh oleh orang lain.”

Pada saat itulah sebelah kakinya telah menginjak tanah, berbareng terdengar suara “trang” yang nyaring di belakangnya. Tanpa menoleh Lenghou Tiong juga lantas mengetahui bahwa Na Hong-hong yang berada di kempitannya itulah yang telah menangkiskan tusukan sang guru itu. Segera Lenghou Tiong menggenjot tubuh dan meloncat belasan meter lagi ke atas depan, habis itu barulah berpaling.

Tapi Gak Put-kun benar-benar seperti bayangan yang melekat tubuh saja, tahu-tahu sudah menyusul tiba, ujung pedang tinggal sejengkal lagi di depan dada Lenghou Tiong. Tapi kembali Na Hong-hong memutar senjatanya yang berbentuk bundar seperti roda dengan bulatan tengah 20-an senti, entah senjata apa namanya. “Trang”, pedang Gak Put-kun tertangkis lagi.

Waktu Gak Put-kun bermaksud mengejar dan menggempur lagi, tahu-tahu seorang telah mengejeknya di belakang, “Taruh saja pedangmu!”

Menyusul punggung Put-kun terasa sakit sedikit, ia insaf punggungnya telah terancam di bawah senjata lawan, keruan ia terkejut dan menyesalnya tak terkatakan.

Hendaklah maklum bahwa tindak tanduk Gak Put-kun selamanya sangat hati-hati, tidak pernah ia berlaku ceroboh, maka selama hidupnya belum pernah ia dijebak musuh. Sekarang lantaran saking gemasnya menyaksikan murid didiknya yang pernah disayang itu ternyata berkomplot dengan kaum sia-pay, malahan sebelah tangannya merangkul seorang perempuan, maka dengan penuh kebencian sekali tusuk ia ingin membinasakan murid yang dianggapnya murtad itu.

Menurut teori seharusnya tusukan-tusukan pedangnya tadi tak bisa meleset, ia tidak tahu bahwa tenaga dalam Lenghou Tiong sekarang sudah sukar dibayangkan hebatnya, serangannya selalu berselisih beberapa senti saja dari sasarannya, betapa pun sukar mengenainya. Karena terburu nafsu itulah ia terus mengejar dan akibatnya terjebak di tengah kepungan musuh tanpa sadar. Waktu ia mengangkat kepalanya, tertampaklah papan kuil Siau-lim-si yang terpampang di depan pintu. Baru sekarang ia mengetahui telah berada di depan kuil agung yang termasyhur itu.

Selagi ia melenggong itulah di sekitarnya sudah mengepung tujuh-delapan orang, semuanya bersenjata, asal dirinya sedikit bergerak saja bukan mustahil akan dicincang oleh mereka. Terpaksa ia lepas tangan, pedang dibuangnya ke tanah.

Orang yang mengancamkan senjata di punggung Gak Put-kun itu bukan lain dari “Si Kucing Malam” Keh Bu-si. Segera ia berseru, “Bengcu, kita tidak mampu menerjang lagi ke bawah, korban kita sudah banyak, lebih baik suruh kawan-kawan mundur dahulu!”

Sekilas pandang Lenghou Tiong juga mengetahui gelagat pertempuran yang tidak menguntungkan itu, kalau pihak lawan sempat menyerbu ke atas gunung tentu akan lebih runyam lagi. Maka cepat ia berseru lantang, “Semuanya mundur kembali ke Siau-lim-si!”

Karena tenaga dalamnya yang mahakuat, beberapa kali teriakannya itu dapat didengar oleh beribu-ribu orang yang sedang bertempur sengit itu. Keh Bu-si, Coh Jian-jiu, dan lain-lain juga berteriak-teriak, “Bengcu ada perintah, hendaklah semua kawan mundur kembali ke Siau-lim-si!”

Kemudian Lenghou Tiong mendekati Gak Put-kun, katanya, “Maaf Suhu, banyak mengganggu. Silakan kembali ke bawah saja!”

Tiba-tiba terdengar suara orang menjerit ngeri, dua-tiga orang tampak roboh terluka. Ternyata dua tojin Thay-san-pay telah menerjang naik. Cepat Lenghou Tiong memburu ke sana, sinar pedang berkelebat, hampir berbareng pergelangan kedua tojin itu kena pedang dan senjata terlepas dari cekalan. Keruan kedua tojin itu ketakutan dan lari kembali ke bawah.

Sementara itu karena seruan mundur tadi, beramai-ramai para jago sudah berlari kembali, orang-orang pihak cing-pay ada yang berusaha mengejar ke atas, tapi mereka menjadi celaka sendiri, tidak dilabrak oleh Lenghou Tiong tentu dikerubut oleh jago-jago lain.

Tidak lama kemudian terdengar pula suara gembreng di bawah gunung, pihak cing-pay juga membunyikan tanda mundur dan mencegah anak buah mengejar ke atas gunung.

Di depan Siau-lim-si tidak menjadi sunyi, sebaliknya masih ramai dengan suara caci maki diseling suara merintih sakit, di mana-mana berceceran darah. Keh Bu-si memberi perintah 800 orang yang tidak terluka untuk menjaga delapan jurusan agar tidak disergap pihak musuh.

“Bengcu,” kata Keh Bu-si kepada Lenghou Tiong, “sekali ini walaupun kita gagal menerjang ke bawah, untung telah berhasil menawan ketua Hoa-san-pay, sedikitnya kita sudah punya sandera ….”

“Apa katamu?” seru Lenghou Tiong kaget. “Suhuku masih belum pergi?”

Ketika ia mendatangi tempat tadi, ternyata Gak Put-kun malah sedang duduk di atas tanah dengan lemas, agaknya hiat-to tertutuk orang. Cepat Lenghou Tiong berkata, “Keh-toako, harap kau membuka hiat-to guruku yang tertutuk.”

Dengan suara perlahan Keh Bu-si mengisiki Lenghou Tiong, “Bengcu, keadaan kita sangat berbahaya, padahal Bengcu sekarang bukan lagi murid Hoa-san-pay, kukira tidak perlu memikirkan urusan guru dan murid segala.”

Mendadak Lenghou Tiong berseru, “Satu hari menjadi guru, selama hidup seperti ayah. Harap Keh-toako mengingat diriku, janganlah membikin susah kepada guruku.”

“Cis, kalau mau bunuh lekas bunuh, mau gantung boleh lekas gantung, siapa lagi yang sudi menjadi guru manusia cabul semacam kau?” jengek Gak Put-kun penuh menghina.

“Coba dengarkan?” kata Keh Bu-si. “Dia tidak sudi mengaku kau sebagai murid, buat apa lagi kau mengakui dia sebagai guru?”

Namun Lenghou Tiong menggeleng, ia menjemput pedang yang terbuang di tanah tadi, dimasukkannya ke sarung pedang yang tergantung di pinggang Gak Put-kun, lalu berkata, “Dosa murid mahabesar, mohon maaf.”

Rasa gusar dan gemas Gak Put-kun sungguh tak terkatakan, sekali tusuk ia ingin menembusi ulu hati Lenghou Tiong. Tapi ia tahu kepandaian Lenghou Tiong sekarang teramat lihai, serangannya belum tentu bisa membinasakan lawan, andaikan bisa membunuhnya tentu dirinya sendiri juga sukar meloloskan diri dari kepungan musuh yang sedemikian banyak. Maka dengan mata melotot ia menatap Lenghou Tiong, wajahnya penuh rasa murka.

Melihat sikap sang suhu yang penuh kebencian, jauh lebih benci daripada ketika mereka bertemu di pinggang gunung tadi, mendadak perasaan Lenghou Tiong terguncang, katanya dengan perlahan, “Suhu, jika engkau mau membunuh aku silakan laksanakan sekarang, sama sekali aku takkan menghindar.”

Namun Gak Put-kun lantas mendengus, lalu putar tubuh dan melangkah pergi.

“Lenghou-kongcu,” kata Coh-Jian-jiu sambil geleng kepala, “engkau berbudi padanya, sebaliknya dia tidak tahu kebaikanmu. Kulihat dia bertekad akan membunuh kau, kelak bila bertemu lagi engkau harus waspada.”

Lenghou Tiong hanya menghela napas, katanya kemudian, “Marilah kita menolong dulu saudara-saudara yang terluka.”

Dalam kesibukan memberi obat kepada teman-teman yang luka itu, terpikir oleh Lenghou Tiong, “Sayang anak murid perempuan Hing-san-pay tidak berada di sini sehingga kurang obat luka yang mujarab. Tapi kalau orang-orang Hing-san-pay itu berada di sini, apakah mereka akan membantu aku atau membela pihak cing-pay mereka? Hal ini sukar untuk dipastikan.”

Menghadapi kegaduhan orang banyak, mau tak mau bingung juga pikiran Lenghou Tiong. Kalau dia sendirian tentu sejak tadi sudah menerjang ke bawah, apakah akibatnya akan mati atau tetap hidup bukan soal lagi baginya. Beratnya sekarang dia telah diangkat menjadi pemimpin orang-orang Kangouw ini, jiwa beribu-ribu orang ini tergantung kepada setiap keputusannya, hal inilah yang membuatnya serbasusah.

Sementara itu subuh sudah tiba, mendadak di bawah bergema suara tambur yang bergemuruh disertai suara teriakan-teriakan gegap gempita. Cepat Lenghou Tiong melolos pedang dan memburu ke ujung jalan. Para jago juga siap dengan senjatanya untuk bertempur mati-matian dengan musuh. Suara tambur itu makin lama makin keras dan gencar, tapi musuh ternyata tidak menyerbu ke atas.

Selang sejenak, mendadak suara tambur berhenti serentak. Maka timbul macam-macam pendapat. Ada yang mengatakan, “Suara tambur sudah berhenti, tentu mereka mulai menyerbu!”

Yang lain menanggapi, “Kebetulan jika mereka berani menyerbu ke sini, kita akan labrak mereka hingga kocar-kacir daripada tetap bercokol di sini.”

“Kurang ajar! Rupanya kawanan kura-kura itu hendak membikin kita mati kehausan dan kelaparan di sini. Andaikan mereka tidak menyerbu ke sini juga kita akan menerjang ke bawah!” demikian seru yang lain lagi.

Dengan perlahan Keh Bu-si berkata kepada Lenghou Tiong, “Tampaknya musuh memang sengaja pakai tipu muslihat hendak mengepung kita di sini sehingga mati kutu sendiri. Kalau malam ini kita tidak bisa lolos, bila kelaparan lagi sehari semalam tentu kita tidak kuat bertempur.”

“Benar,” sahut Lenghou Tiong. “Marilah kita memilih dua-tiga ratus teman yang berkepandaian tinggi sebagai pembuka jalan, mumpung malam gelap gulita kita serbu ke bawah untuk membikin kacau penjagaan musuh, kemudian kawan-kawan yang lain lantas ikut menerjang ke bawah.”

“Ya, terpaksa harus demikian,” ujar Keh Bu-si.

Pada saat itu juga suara tambur di bawah gunung mendadak berbunyi lagi, menyusul ada ratusan orang menyerbu ke atas. Cepat para jago menyambut serbuan itu sambil membentak-bentak. Tapi serbuan itu ternyata tidak sungguh-sungguh, hanya beberapa kali gebrak saja mereka lantas saling memberi tanda dan mengundurkan diri ke bawah.

Baru saja para jagoan menaruh senjata, belum ada lima menit mengaso, kembali suara tambur bergema, kembali suatu rombongan musuh pakai ikat kepala menyerbu ke atas lagi, setelah bertempur sebentar kembali mereka mundur.

“Bengcu, rupanya musuh sengaja menggunakan ‘Bing-peng-ci-keh’ (tipu melelahkan lawan) untuk mengganggu kita sehingga tidak bisa istirahat,” kata Keh Bu-si.

“Benar,” sahut Lenghou Tiong. “Silakan Keh-toako mengatur tipu perlawanan.”

Keh Bu-si lantas memberikan perintah bilamana musuh menyerbu lagi ke atas, cukup dilayani saja oleh barisan-barisan penjaga, yang lain-lain boleh tetap mengaso tanpa gubris.

Coh Jian-jiu mengajukan usul, “Cayhe punya akal begini, dua-tiga ratus orang yang telah kita pilih nanti ikut menyerbu ke bawah apabila musuh datang lagi di tengah malam buta.”

“Bagus,” ujar Lenghou Tiong. “Silakan Coh-heng pergi memilih kawan-kawan yang dapat diandalkan. Pesan pula kawan-kawan lain, bila nanti pertahanan musuh sudah kacau lantas ikut menyerbu serentak.”

Lenghou Tiong coba mengadakan pemeriksaan keliling gunung, dilihatnya pula keadaan luka teman-temannya. Luka panah Lo Thau-cu dan Na Hong-hong ternyata tidak ringan, untung tidak membahayakan jiwa.

Tidak lama kemudian Coh Jian-jiu kembali lapor bahwa 300 orang pilihan sudah siap, semuanya terdiri dari jagoan kelas wahid. Dengan tenaga pilihan ini, sekalipun barisan musuh cukup kuat juga tidak sanggup menahan terjangan hebat 300 ekor harimau lapar.

Semangat Lenghou Tiong terbangkit, ia suruh pasukan penyerbu itu mengaso dulu tunggu perintah untuk bertempur.

Sementara itu salju turun dengan lebatnya, bunga salju bertebaran laksana kapas, di atas tanah sudah tertimbun suatu lapis tipis salju. Pakaian dan kepala semua orang juga sudah penuh berhias bunga salju.

Karena seharian tidak minum satu tetes air pun, semua orang menjejal salju ke mulut sekadar penawar dahaga.

Cuaca makin gelap, lambat laun tambah gelap gulita, sampai dua orang berhadapan saja tak bisa jelas lagi. Di tengah kegelapan terdengar Coh Jian-jiu berkata, “Untung hujan salju malam ini, kalau tidak, malam tanggal 15 ini tentu terang benderang oleh cahaya rembulan.”

Sekonyong-konyong suasana menjadi sunyi senyap. Di atas gunung, di luar, maupun dalam Siau-lim-si berkumpul beberapa ribu orang, di pinggang gunung pihak cing-pay sedikitnya juga ada lebih dari lima ribu orang, tapi kebetulan kedua pihak sama-sama tidak mengeluarkan suara. Hanya terkadang kadang terdengar suara keresekan perlahan yang aneh, mungkin suara daun pohon atau semak rumput yang kejatuhan bunga salju.

“Saat ini entah apa yang sedang dilakukan oleh siausumoay?” demikian Lenghou Tiong teringat kepada Gak Leng-sian.

Tiba-tiba dari pinggang gunung berkumandang suara tiupan trompet, menyusul dari segenap penjuru bergemuruh dengan suara teriakan serbu. Sekali ini rupanya musuh hendak menyerbu sungguh-sungguh di tengah malam gelap.

“Kita pun serbu ke bawah!” kata Lenghou Tiong dengan suara tertahan sambil acungkan pedangnya. Segera ia mendahului lari ke bawah melalui jalanan yang paling terjal di sebelah barat. Segera 300 jago pilihan yang telah siap itu ikut menerjang ke bawah di belakang Lenghou Tiong.

Sejauh serbuan Lenghou Tiong dan pasukannya ternyata tidak mendapat rintangan. Kira-kira satu-dua li jauhnya, Coh Jian-jiu menyulut hwe-ci-bau (mercon roket), dengan semburan cahaya api hwe-ci-bau itu melayang tinggi ke udara, lalu meletus. Inilah kode kepada jago-jago yang masih menunggu di atas gunung agar segera ikut menerjang ke bawah.

Selagi lari, tiba-tiba Lenghou Tiong merasa tapak kakinya kesakitan, seperti menginjak benda tajam sebangsa paku. Ia tahu gelagat jelek, cepat ia meloncat ke atas dan hinggap di atas pohon. Pada saat yang sama terdengar Coh Jian-jiu dan lain-lain juga berteriak kesakitan, tapak kaki mereka juga menginjak paku lancip, bahkan ada yang tapak kakinya tertembus, keruan sakitnya bukan buatan.

Beberapa puluh orang lagi berusaha menerjang ke bawah dengan gagah berani, tapi mendadak mereka pun menjerit, semuanya kejeblos ke dalam lubang jebakan, dari semak-semak pohon di samping lantas menjulur keluar belasan tombak dan menusuk ke dalam liang jebakan itu. Seketika bergemalah jerit ngeri memenuhi pegunungan itu.

“Lekas Bengcu memberi perintah agar semuanya mundur kembali ke atas!” seru Keh Bu-si.

Melihat gelagat jelek, terang pihak cing-pay telah mengatur penjagaan rapi di bawah gunung, kalau sembarangan menerjang ke bawah pasti akan kalah habis-habisan, cepat Lenghou Tiong berseru lantang, “Semua orang mundur kembali ke Siau-lim-si!”

Berbareng itu Lenghou Tiong melompat dari satu pohon ke pohon yang lain untuk mendekati lubang perangkap, dari atas ia menubruk ke bawah sambil putar pedangnya, kontan ia robohkan tiga orang bertombak. Ia menancapkan kaki di tempat bekas lawan, ia yakin di situ pasti tiada dipasang paku-paku yang lancip itu. Menyusul pedangnya bekerja lagi, dalam sekejap belasan orang telah dirobohkan pula. Keruan yang lain-lain menjadi takut, sambil berteriak-teriak mereka lantas kabur.

Beberapa puluh orang yang kejeblos ke dalam liang itu satu per satu lantas melompat keluar, namun belasan orang sudah tewas.

Dalam keadaan gelap gulita tiada seorang pun yang mengetahui di mana terpasang lubang perangkap lagi, maka mereka tidak berani menerjang pula ke bawah, terpaksa mereka kembali ke atas gunung dengan kaki pincang. Untung musuh tidak mengejar.

Setiba kembali di Siau-lim-si, di bawah cahaya lampu mereka coba memeriksa luka masing-masing, ternyata sebagian besar tapak kaki berdarah dan ada yang tembus tercocok paku tajam itu. Banyak yang mencaci maki. Nyata suara-suara tambur yang dibunyikan serta serbuan-serbuan pancingan tadi hanya untuk menutupi suara galian lubang perangkap serta pemasangan paku di pinggang gunung itu. Paku-paku itu panjangnya belasan senti, dua pertiga ditanam dan satu pertiga menonjol di permukaan tanah, tajamnya bukan main, kalau seluruh gunung dipasangi paku demikian, sukarlah untuk lolos. Jelas paku-paku tajam itu sebelumnya sudah disiapkan. Hal ini membayangkan betapa cermat cara pengaturan pihak musuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: