Hina Kelana: Bab 92. Terkurung di Siau-lim-si

“Lenghou-kongcu,” kata Tho-sit-sian, “tua bangka tadi bertanding pedang dengan kau, kenapa belum jelas kalah atau menang sudah diakhiri?”

Pertandingan tadi sesungguhnya memang belum berakhir dengan kalah dan menang. Soalnya si kakek menyadari tidak mampu mengalahkan Lenghou Tiong dan segera ia menyudahi pertandingan, sudah tentu orang-orang lain tidak tahu di mana letak seluk-beluk persoalannya.

Maka Lenghou Tiong menjawab, “Ilmu pedang locianpwe tadi sangat tinggi, kalau pertandingan itu diteruskan rasanya aku pun tak bisa mendapat keuntungan apa-apa, maka lebih baik dihentikan saja.”

“Lenghou-kongcu, bodohlah kau kalau begitu,” ujar Tho-sit-sian. “Jika belum dapat ditentukan kalah dan menang, bila pertarungan diteruskan akhirnya kau pasti menang.”

“Haha, juga belum tentu,” sahut Lenghou Tiong tertawa.

“Kenapa belum tentu?” Tho-sit-sian ngotot. “Umur tua bangka itu jauh lebih tua daripadamu, tenaganya dengan sendirinya tidak mampu menandingi kau. Jika pertandingan dilanjutkan, lama-lama pasti kau akan berada di atas angin.”

Dalam hati Lenghou Tiong mengakui akan kebenaran ucapan Tho-sit-sian yang kelihatannya ngawur, tapi cukup beralasan.

Belum dia menanggapi, tiba-tiba Tho-kin-sian menyela, “Mengapa usianya lebih tua lantas tenaganya pasti kalah kuat?”

Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli. Ia tahu di antaranya Tho-kok-lak-sian itu, Tho-kin-sian adalah toako, sudah tentu tidak terima dikatakan lebih tua umurnya lebih lemah pula tenaganya.

Tho-kan-sian juga lantas menimbrung, “Tidak tepat! Jika umur lebih sedikit dan tenaga semakin besar, maka anak umur tiga kan jauh lebih kuat dari kita?”

Begitulah Tho-kok-lak-sian terus mengoceh tak keruan.

Rombongan besar mereka melanjutkan perjalanan menuju ke utara, sampai di wilayah Holam, mendadak dari timur dan barat datang bergabung pula dua rombongan besar sehingga jumlah mereka seluruhnya sudah lebih empat ribu orang.

Sudah tentu semakin besar semakin sukar pula cara pengurusan mereka, terutama dalam hal perbekalan. Soal tempat tidur sih tidak sukar, tak peduli tanah pegunungan atau hutan belukar mereka dapat merebah dan molor sesukanya, tapi mengenai hal makan minum inilah soal sulit. Selama beberapa hari mereka benar-benar telah menyapu bersih segala makanan dan minuman restoran atau rumah makan sepanjang jalan yang mereka lalui, bahkan tidak sedikit yang porak-poranda diubrak-abrik mereka.

Maklumlah, mereka adalah orang-orang gabungan dari macam-macam golongan dan lapisan, biasanya mereka suka makan minum sepuasnya, sekarang mereka makan tidak kenyang, minum kepalang tanggung, keruan ada yang naik pitam dan yang sial adalah rumah-rumah makan yang dihancurkan mereka.

Lenghou Tiong menyadari juga akan tingkah laku kawan-kawannya yang banyak menimbulkan kerugian penduduk sepanjang jalan yang mereka lalui itu. Tapi ia pun memuji akan rasa setia kawan mereka. Jika Siau-lim-si nanti tidak mau membebaskan Ing-ing, maka pertarungan sengit pasti sukar dihindarkan dan apa yang akan terjadi tentu mengerikan.

Selama beberapa hari ini selalu diharapkan berita dari Ting-sian dan Ting-yat Suthay, bila berkat permohonan kedua suthay itu ketua Siau-lim-si sudi membebaskan Ing-ing, maka bencana banjir darah sekiranya dapat dihindari.

Akan tetapi kini tinggal tiga hari lagi sudah akan tiba tanggal 15 bulan 12, jarak dari Siau-lim-si juga tinggal seratusan li saja dan berita yang diharap-harapkan dari Ting-sian dan Ting-yat itu ternyata belum kunjung datang.

Gerakan mereka ke utara untuk menyerbu Siau-lim-si ini memangnya dilakukan secara terbuka dan secara besar-besaran, maka sudah diketahui secara meluas ke berbagai pelosok, namun pihak lawan ternyata tenang-tenang saja tidak memberi reaksi apa-apa, seakan-akan mereka sudah siap siaga tanpa gentar. Membicarakan hal ini, Lenghou Tiong, Lo Thau-cu, Coh Jian-jiu, dan lain-lain juga merasa heran dan waswas.

Malam ini rombongan besar mereka berkemah di lapangan terbuka, sekeliling dipasang pos-pos peronda untuk menjaga kalau diserang musuh secara mendadak di waktu malam.

Hawa malam cukup dingin, angin meniup kencang, awan memenuhi angkasa seperti akan turun salju. Untuk menghangatkan badan, bergunduk-gunduk api unggun telah dinyalakan di sekitar mereka.

Dasar jago-jago Kangouw ini memang tidak punya disiplin, maklum gabungan mereka itu terjadi secara kebetulan dan secara mendadak tanpa teratur, maka di mana mereka berada suasana juga menjadi gaduh, ada yang menyanyi dan bertengkar, ada yang mengasah senjata dan bertanding gulat segala, ributnya tidak kepalang.

Lenghou Tiong berpikir sendiri, “Paling baik kalau orang-orang banyak ini jangan sampai ikut pergi ke Siau-lim-si. Kenapa aku sendiri tidak mendahului pergi memohon kepada Hong-ting dan Hong-sing Taysu agar sudi membebaskan Ing-ing? Jika hal ini bisa terlaksana kan jauh lebih menggembirakan daripada mesti terjadi huru-hara?”

Tapi lantas terpikir pula, “Bila padri-padri Siau-lim-si itu meluluskan permintaanku, mungkin aku akan ditawan dan dibunuh. Kematianku tidak perlu disayangkan, namun kawan-kawan ini menjadi kehilangan pimpinan dan pasti akan terjadi kekacauan, bukan mustahil Ing-ing tidak berhasil diselamatkan, sebaliknya beribu kawan ini akan binasa semua di Siau-sit-san. Mana boleh aku bertindak menuruti hawa nafsu sendiri sehingga membikin susah orang banyak?”

Ia berbangkit, dilihatnya bara api unggun berkobar-kobar dikelilingi oleh berpuluh-puluh orang setiap gundukan. Pikirnya kemudian, “Mereka setia kepada Ing-ing, aku juga harus setia kepada mereka.”

Dua hari kemudian, sampailah barisan mereka di luar Siau-lim-si di atas Siau-sit-san, jumlah mereka sekarang sedikitnya ada enam atau tujuh ribu orang sesudah bergabung lagi beberapa rombongan, tokoh-tokoh yang pernah berkumpul di Ngo-pah-kang dahulu seperti Ui Pek-liu, Na Hong-hong, dan lain-lain semuanya juga datang, banyak pula jago-jago yang belum dikenal oleh Lenghou Tiong. Beribu-ribu tambur dibunyikan serentak, suaranya benar-benar menggetar bumi.

Meski tambur mereka dipukul sedemikian keras dan gemuruh, tapi sampai sekian lamanya masih tidak tampak seorang padri Siau-lim-si yang keluar.

“Berhenti!” Lenghou Tiong memerintahkan bunyi tambur dihentikan, secara berturut-turut perintah itu diteruskan, suara tambur menjadi makin perlahan dan akhirnya berhenti semuanya.

Segera Lenghou Tiong berseru lantang ke arah Siau-lim-si, “Wanpwe Lenghou Tiong bersama para kawan Kangouw datang kemari untuk menemui Hongtiang Taysu Siau-lim-si. Mohon sudi menerima kunjungan kami ini.”

Suara Lenghou Tiong itu dikumandangkan dengan tenaga yang mahakuat sekali, di tempat beberapa li jauhnya cukup terdengar. Bila Hong-ting Taysu berada di dalam kuilnya seharusnya dia pun mendengar.

Namun kuil agung itu tetap sunyi senyap tanpa jawaban sedikit pun. Lenghou Tiong mengulangi teriakannya lagi sekali dan tetap tiada jawaban apa-apa.

“Silakan Coh-heng menyampaikan kartu kehormatan,” perintah Lenghou Tiong.

Coh Jian-jiu mengiakan dan melangkah pergi dengan membawa kotak berisi kartu nama Lenghou Tiong beserta gembong-gembong bawahannya itu. Sampai di depan pintu gerbang, Coh Jian-jiu mengetok beberapa kali, ternyata di dalam kuil tetap sunyi sepi, ia coba tolak daun pintu, ternyata pintu tidak dipalang dari dalam dan terus terbuka.

Waktu Coh Jian-jiu memandang ke dalam, keadaan tetap sunyi seperti rumah kosong saja. Ia tidak berani sembarangan masuk, segera putar balik memberi lapor kepada Lenghou Tiong.

Mesti tinggi ilmu silatnya, namun dalam hal pengalaman orang hidup boleh dikata masih cetek bagi Lenghou Tiong, lebih-lebih dia pun tidak punya bakat memimpin orang sebanyak itu. Keruan ia menjadi bingung juga menghadapi keadaan yang sama sekali di luar dugaan itu.

“Hwesio-hwesio di dalam kuil itu agaknya sudah lari semua?” kata Tho-kin-sian. “Marilah kita lekas menyerbu ke dalam, setiap kepala gundul yang kita ketemukan lantas kita bunuh.”

“Kau bilang hwesio-hwesio itu sudah lari semua, dari mana ada lagi kepala gundul yang bisa kau bunuh?” kata Tho-kan-sian.

“Nikoh kan juga kepala gundul?” sahut Tho-kin-sian.

“Di kuil kaum hwesio mana ada nikoh?” sela Tho-hoa-sian.

“Marilah kita coba lihat-lihat ke dalam,” ajak Keh Bu-si.

“Baik,” kata Lenghou Tiong. “Harap Keh-heng, Lo-heng, Coh-heng, dan Ui-pangcu berempat mengiringi Cayhe masuk ke sana. Harap sampaikan perintah agar anak buah masing-masing diawasi, tanpa perintahku lebih lanjut siapa pun dilarang bertindak sendiri-sendiri, tidak boleh berbuat kasar terhadap padri Siau-lim-si, dilarang juga mengganggu setiap benda di atas Siau-sit-san ini.”

“Apakah kentut juga tidak boleh?” tanya Tho-ki-sian.

Lenghou Tiong tidak gubris padanya, yang dia khawatirkan justru keadaan Ing-ing yang tidak diketahui itu. Dengan langkah lebar segera ia menuju ke dalam kuil dengan diikuti oleh Keh Bu-si berempat.

Sesudah masuk pintu gerbang dan menaiki undak-undakan batu, lewat ruangan pendopo depan, sampailah di Tay-hiong-po-tian. Kelihatan patung Buddha yang angker di tengah ruangan, tapi lantai dan meja tampak penuh berdebu.

“Apakah benar-benar para padri di sini telah lari semua?” ujar Coh Jian-jiu.

“Janganlah Coh-heng mengatakan mereka ‘lari’,” ujar Lenghou Tiong.

Mereka coba berhenti dan menahan napas untuk mendengarkan dengan cermat, tapi yang terdengar hanya suara riuh ramai di luar, di dalam kuil benar-benar tiada suara sedikit pun.

“Kita harus waspada akan kemungkinan dijebak oleh perangkap yang dipasang padri-padri Siau-lim-si ini,” bisik Keh Bu-si.

Namun Lenghou Tiong tidak sependapat, ia anggap Hong-ting Taysu adalah padri yang saleh, mana dia mau memakai cara-cara licik. Cuma menghadapi serangan orang banyak dari macam-macam golongan liar itu bukan mustahil pihak Siau-lim-si sengaja menggunakan akal dan tidak mau mengadu kekuatan.

Menghadapi Siau-lim-si sebesar itu tanpa seorang penghuni, lapat-lapat Lenghou Tiong merasakan kekhawatiran yang tak terkatakan, entah bagaimana nasib Ing-ing pada saat itu.

Dengan penuh waspada mereka berlima terus memeriksa ke bagian dalam. Sesudah menyusuri pekarangan tengah, sampailah mereka di ruangan belakang. Sekonyong-konyong Lenghou Tiong dan Keh Bu-si berhenti dan memberi isyarat. Serentak Lo Thau-cu bertiga juga lantas berhenti.

Lenghou Tiong menuding sebuah kamar samping di sebelah kiri sana, lalu mendekatinya dengan perlahan-lahan. Lo Thau-cu dan lain-lain ikut maju ke sana. Maka terdengarlah suara rintihan orang yang amat lirih.

Lebih dulu Lenghou Tiong menyiapkan pedang di tangan, lalu pintu kamar itu ditolak, berbareng ia menggeser ke samping untuk menjaga diserang dari dalam dengan senjata rahasia. Terdengar suara kerutan daun pintu yang terpentang itu, lalu dari dalam kamar terdengar lagi suara orang merintih perlahan.

Waktu Lenghou Tiong melongok ke dalam, ia menjadi kaget. Ternyata dua orang nikoh tua menggeletak di lantai, seorang menghadap ke luar dan dikenalnya sebagai Ting-yat Suthay. Wajah nikoh tua itu tampak pucat pasi, kedua matanya terkatup rapat, agaknya sudah tak bernyawa lagi.

Tanpa pikir Lenghou Tiong terus menerobos ke dalam. “Awas, Bengcu!” seru Coh Jian-jiu. Menyusul ia pun melangkah ke dalam.

Lenghou Tiong mengitar dua sosok tubuh yang menggeletak di lantai itu, waktu ia periksa lagi nikoh yang lain, memang benar ketua Hing-san-pay Ting-sian Suthay adanya.

“Ting-sian Suthay! Ting-sian Suthay!” seru Lenghou Tiong sambil berjongkok.

Perlahan-lahan Ting-sian Suthay membuka matanya, semula sinar matanya guram, tapi lambat laun mulai terang dan terkilas rasa girang, bibirnya tampak bergerak-gerak, namun sukar mengeluarkan suara.

“Wanpwe Lenghou Tiong,” demikian Lenghou Tiong berjongkok lebih dekat.

Bibir Ting-sian tampak bergerak-gerak lagi, akhirnya tercetus beberapa kata yang amat lemah dan hampir-hampir tak terdengar, sayup-sayup Lenghou Tiong hanya dengar kata-kata, “Kau … kau ….”

Bingung juga Lenghou Tiong, terutama melihat keadaan ketua Hing-san-pay yang sudah sangat payah itu.

Sejenak kemudian, sekuat tenaga Ting-sian Suthay mengeluarkan kata-kata, “Kau … kau berjanjilah padaku ….”

Cepat Lenghou Tiong menjawab, “Baik, baik. Apa pun pesan Suthay, sekalipun hancur lebur badanku ini juga akan kulakukan.”

Teringat bahwa Ting-sian dan Ting-yat berdua datang ke Siau-lim-si demi untuk kepentingannya dan sekarang keduanya ternyata tewas semua di sini, tanpa terasa air mata Lenghou Tiong ikut berlinang-linang.

“Kau … kau pasti menyanggupi … menyanggupi aku?” Ting-sian berdesis pula dengan lemah.

“Ya, pasti,” sahut Lenghou Tiong tanpa ragu-ragu.

Sinar mata Ting-sian terkilas rasa girang pula, lalu katanya dengan sangat lirih, “Kau … kau menyanggupi menge … mengetuai Hing-san-pay ….” habis bicara ini napasnya sudah hampir-hampir putus.

Keruan Lenghou Tiong kaget, cepat ia menjawab, “Tapi Wanpwe adalah orang lelaki, mana boleh menjadi ketua Hing-san-pay kalian? Cuma Suthay jangan khawatir, tak peduli ada urusan atau kesulitan apa yang menyangkut golongan kalian tentu akan kubela sekuat tenaga.”

Perlahan-lahan Ting-sian Suthay menggeleng kepala, katanya, “Ti … tidak. Aku … aku mengangkat kau men … menjadi ciangbunjin … Ciangbunjin Hing-san-pay, jika … jika kau menolak, mati … mati pun aku tidak rela.”

Keruan Lenghou Tiong menjadi bingung dan serbasusah, mustahil dirinya sebagai seorang laki-laki, apalagi pemuda, disuruh menjadi ketua Hing-san-pay yang anak buahnya terdiri dari kaum nikoh dan seluruhnya wanita melulu. Namun jiwa Ting-sian Suthay jelas tinggal sekejap saja, mendadak darahnya menggelora, tanpa pikir lagi ia menjawab, “Baik, Wanpwe menerima permintaan Suthay.”

Maka tersenyumlah Ting-sian Suthay, katanya lirih, “Teri … terima kasih! Nasib beberapa ratus murid Hing … Hing-san-pay selanjutnya mesti mem … membikin susah padamu.”

“Kenapa pihak Siau-lim-si tidak kenal persahabatan dan tega turun tangan keji terhadap kedua Suthay, Wanpwe ….” tapi sampai di sini saja ucapan Lenghou Tiong ketika dilihatnya Ting-sian Suthay telah pejamkan mata, kepalanya miring ke sebelah, lalu tidak bergerak lagi.

Terkejut juga Lenghou Tiong, cepat ia memeriksa napas nikoh tua itu, ternyata sudah meninggal. Sungguh tak terkatakan rasa dukanya, ia coba pegang pula tangan Ting-yat Suthay, ternyata sudah dingin, terang meninggalnya jauh lebih dulu. Dasar watak Lenghou Tiong memang keras di luar lunak di dalam, tak tertahan lagi ia menangis sedih.

“Lenghou-kongcu, kita harus membalas sakit hati kedua suthay,” kata Lo Thau-cu. “Kepala gundul Siau-lim-si ini telah lari bersih, marilah kita bakar ludes saja kuil ini.”

Terdorong oleh rasa gusar, tanpa pikir Lenghou Tiong lantas menjawab, “Benar! Bakar saja Siau-lim-si ini menjadi puing!”

“Jangan, jangan!” cepat Keh Bu-si mencegah. “Kita belum menemukan Seng-koh, bila Seng-koh masih terkurung di dalam kuil ini kan beliau akan ikut terbakar?”

Seketika Lenghou Tiong sadar dan mengeluarkan keringat dingin, katanya, “Ya, aku memang bodoh dan kasar, jika tidak diperingatkan Keh-heng tentu urusan bisa runyam. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Kompleks Siau-lim-si ini terdiri dari beratus-ratus ruangan, kalau cuma kita berlima saja sukar menyelidikinya secara merata, maka mohon Bengcu memberi perintah untuk memanggil 200 saudara kita masuk ke sini untuk ikut menggeledah.”

“Baiklah, silakan Keh-heng menyampaikan perintahku itu,” kata Lenghou Tiong.

Keh Bu-si mengiakan terus melangkah keluar. “Jangan sekali-kali mengizinkan Tho-kok-lak-sian ikut masuk,” seru Coh Jian-jiu.

Segera Lenghou Tiong mengusung jenazah-jenazah kedua suthay dan ditaruh di atas dipan semadi. Ia menjura beberapa kali sambil berdoa di dalam hati, “Tecu pasti akan berusaha sepenuh tenaga untuk membalas sakit hati kedua Suthay dan mengembangkan Hing-san-pay, semoga arwah kedua Suthay melindungi Tecu.”

Lalu ia berbangkit untuk memeriksa bekas-bekas luka di atas jenazah kedua suthay itu, namun tidak tampak sesuatu luka apa pun, juga tiada noda darah. Hanya ia tidak leluasa membuka baju suthay-suthay itu, ia menduga pasti terkena pukulan musuh yang dahsyat dan meninggal karena luka dalam yang parah.

Dalam pada itu terdengarlah suara ramai orang mendatangi, ke-200 orang telah membanjir masuk ke Siau-lim-si terus menggeledah ke segala pelosok.

Tiba-tiba terdengar orang berseru di luar, “Lenghou Tiong melarang kita masuk, kita justru mau masuk, coba dia bisa berbuat apa?”

Itulah suaranya Tho-ki-sian. Keruan Lenghou Tiong mengerut dahi, tapi pura-pura tidak mendengar.

Terdengar lagi Tho-kan-sian berkata, “Sampai di Siau-lim-si yang termasyhur, kalau kita tidak melihat-lihatnya ke dalam kan penasaran?”

“Dan kalau sudah masuk, tanpa menemui hwesio Siau-lim-si yang terkenal kan lebih-lebih penasaran?” timbrung Tho-hoa-sian.

“Dan kalau sudah bertemu hwesio Siau-lim-si, bila tidak ukur-ukur ilmu silat dengan hwesio yang tersohor di seluruh jagat itu kan lebih-lebih amat penasaran?” sambung Tho-ki-sian.

Begitulah terdengar keenam orang dungu itu mengoceh tak keruan sembari menuju ke ruangan belakang.

Lenghou Tiong berlima lantas keluar dari kamar samping itu, pintu kamar itu mereka rapatkan sekalian. Terlihat para jago berseliweran kian-kemari menggeledahi segenap sudut Siau-lim-si itu. Tidak lama kemudian susul-menyusul orang-orang itu datang melapor bahwa tidak ditemukan seorang hwesio pun, bahkan tukang kebun, tukang kayu, dan sebagainya juga tidak ditemukan seorang pun. Lalu ada yang memberi laporan bahwa segala isi di dalam kuil, baik kitab-kitab maupun alat perabot sudah disingkirkan semua, bahkan mangkuk piring juga tiada sebuah pun.

Menyusul laporan datang lagi, katanya di dalam kuil tak tertinggal sebutir beras, garam, dan setetes minyak pun, semuanya kosong melompong, sampai-sampai sayur yang biasanya ditanam di kebun juga sudah dibabat bersih.

Setiap kali dapat laporan, perasaan Lenghou Tiong setiap kali tambah cemas. Pikirnya, “Sedemikian rapi cara mengatur padri-padri Siau-lim-si ini, sampai-sampai sayur juga tidak ditinggalkan satu tangkai pun, maka jelas sudah lama mengetahui akan kedatanganku dan tentu Ing-ing telah dipindahkan ke tempat lain. Dunia seluas ini, lalu ke mana harus mencarinya?”

Satu-dua jam kemudian, ke-200 orang tadi sudah memeriksa semua tempat kuil itu, bahkan satu lubang pun tidak luput dari pemeriksaan mereka, namun tetap tidak ditemukan suatu benda apa pun.

Ada juga yang senang dan berkata, “Siau-lim-pay adalah aliran nomor satu dunia persilatan, tapi demi mendengar akan kedatangan kita mereka lantas lari terbirit-birit dan menghilang tak keruan juntrungannya, ini benar-benar peristiwa yang belum pernah terjadi selama sejarah Siau-lim-pay.”

“Sekali bergerak saja kita telah memperlihatkan kekuatan kita yang demikian hebatnya, sampai-sampai Siau-lim-pay juga ketakutan, maka sejak kini orang bu-lim mana pun tidak berani memandang enteng lagi kepada kita,” ujar yang lain.

“Memang hebat dan gagah juga kita dapat bikin hwesio Siau-lim-si lari ketakutan, akan tetapi bagaimana dengan Seng-koh? Di mana beliau sekarang? Kedatangan kita ini kan untuk menyambut pulangnya Seng-koh dan bukan untuk mengusir hwesio,” demikian kata yang lain lagi.

Mendengar ucapan orang ini, semua orang menjadi lesu, beramai-ramai mereka memandang Lenghou Tiong untuk menantikan petunjuknya.

“Hal ini benar-benar di luar dugaan,” kata Lenghou Tiong, “siapa pun tidak tahu bahwa padri-padri Siau-lim-si di sini ternyata rela meninggalkan kuilnya. Cara bagaimana kita harus bertindak sekarang, sesungguhnya aku pun merasa bingung. Pikiran seorang cekak, pikir dua orang panjang, maka diharapkan usul-usul dan pendapat-pendapat dari kalian semua.”

“Menurut pendapat Siokhe (hamba), menemukan Seng-koh lebih sukar daripada mencari padri-padri Siau-lim-si,” demikian Ui Pek-liu membuka suara pertama. “Padri-padri Siau-lim-si berjumlah ribuan, orang sebanyak ini tentu tidak dapat bersembunyi selamanya tanpa muncul di depan umum. Asalkan kita dapat menemukan hwesio Siau-lim-si tentu kita dapat memaksa mereka mengakui di mana beradanya Seng-koh.”

“Benar juga ucapan Ui-heng,” kata Coh Jian-jiu. “Marilah kita tinggal saja di Siau-lim-si ini, mustahil anak murid Siau-lim-pay rela meninggalkan kuilnya yang sudah bersejarah ribuan tahun ini dan membiarkan orang lain mendudukinya? Asalkan mereka datang buat merebut kembali kuil ini tentu kita dapat mencari tahu kepada mereka di mana Seng-koh berada.”

“Mencari tahu di mana beradanya Seng-koh kepada mereka? Mana mereka mau mengatakan?” ujar seorang.

“Mencari tahu kepada mereka kan cuma kata-kata halusnya, yang tegas adalah paksa mereka mengaku,” sela Lo Thau-cu. “Sebab itu, bila kita ketemu padri Siau-lim-pay, kita harus menawannya hidup-hidup dan jangan membunuhnya. Jika kita dapat menawan sepuluh atau dua puluh hwesio mereka, memangnya mereka tidak takut mati dan berani tidak mengaku?”

“Tapi kalau hwesio-hwesio itu benar-benar kepala batu dan tidak mau mengaku, lalu bagaimana?” tanya seorang lagi.

“Apa susahnya?” sahut Lo Thau-cu. “Kita bisa minta Na-kaucu melepaskan beberapa ekor naga sakti dan makhluk sakti lainnya di atas tubuh mereka, coba saja mereka tahan tidak?”

Semua orang sama mengangguk setuju. Mereka tahu “naga sakti dan makhluk-makhluk sakti lain” yang dimaksudkan itu adalah ular berbisa dan serangga-serangga beracun lain yang dipiara Na Hong-hong, itu wanita ketua Ngo-tok-kau yang terkenal. Gigitan makhluk berbisa itu jauh lebih menderita daripada disiksa dengan alat apa pun juga.

Terlihat Na Hong-hong hanya tersenyum saja, katanya, “Hwesio-hwesio Siau-lim-pay sudah gemblengan, mungkin sekali mereka sukar ditaklukkan dengan naga sakti dan sebagainya piaraanku.”

Di dalam hati Lenghou Tiong menganggap tidaklah perlu cara menyiksa secara keji begitu. Cukup asalkan dapat menawan padri-padri Siau-lim-si sebanyak mungkin, lalu dipakai sebagai barang tukar, rasanya Ing-ing akhirnya dapat dibebaskan.

Dalam pada itu terdengar teriakan seorang yang bersuara nyaring, “Wah, sudah hampir seharian tidak makan minum, aku menjadi kelaparan setengah mati. Celakanya di dalam kuil ini tiada hwesio seekor pun, kalau ada, wah, daging hwesio panggang yang gemuk lagi putih itu tentu enak.”

Yang bicara ini adalah seorang laki-laki tinggi besar, ialah si gede Pek-him (Beruang Putih), satu di antara “Boh-pak-siang-him” (Dua Beruang dari Gurun Utara).

Para jago kenal Pek-him dan pasangannya si Oh-him (Beruang Hitam) adalah manusia-manusia yang gemar makan daging manusia, meski kedengaran ngeri dan seram, tapi mereka memang juga merasa lapar dan haus setelah beberapa jam berada di Siau-lim-si tanpa makan minum.

“Rupanya Siau-lim-pay sengaja menggunakan politik ’sapu bersih’, mereka sengaja membikin kita tidak sanggup bercokol terus di sini sehingga terpaksa pergi lagi, tapi di dunia mana ada persoalan yang begini sederhana,” ujar Ui Pek-liu.

“Betul,” kata Lenghou Tiong. “Apakah Ui-pangcu ada pendapat-pendapat atau saran-saran yang baik?”

“Kukira kita bisa mengirim saudara-saudara kita ke bawah gunung untuk mencari berita ke mana menghilangnya hwesio-hwesio Siau-lim-si ini,” kata Ui Pek-liu. “Lalu kita dapat mengirim orang pula pergi belanja bahan makanan, kawan-kawan yang lain biarlah ikut berjaga di sini untuk menunggu kawanan hwesio itu masuk perangkap sendiri.”

“Boleh juga usul Ui-pangcu,” ujar Lenghou Tiong. “Sekarang juga silakan Ui-pangcu menyampaikan perintah, kirimlah 500 saudara-saudara yang sudah terlatih dan berpengalaman, sebar luaskan di seluruh Kangouw untuk mencari jejak padri-padri Siau-lim-si itu. Tentang persediaan perbekalan dan lain-lain juga kuserahkan Ui-pangcu untuk mengaturnya.”

Ui Pek-liu mengiakan dan melangkah ke luar.

“Hendaklah Ui-pangcu bekerja cepat, kalau tidak, saking laparnya, segala apa dapat dimakan oleh kedua saudara kita Pek-him dan Oh-him,” kata Na Hong-hong dengan tertawa.

“Jangan khawatir,” sahut Ui Pek-liu sambil menoleh. “Biarpun perut Boh-pak-siang-him sudah berkeroncongan juga tidak nanti berani mengganggu seujung jari Na-kaucu.”

Melihat ke-200 orang yang menggeledah Siau-lim-si sudah kumpul kembali, Coh Jian-jiu berkata, “Kuil ini sudah tiada penghuninya lagi, sekarang diharap Saudara-saudara buang sedikit tenaga lagi, silakan periksa ke segala sudut, coba lihatlah kalau-kalau ada sesuatu tanda yang aneh, bisa jadi nanti akan menemukan sesuatu jejak yang menarik.”

Ke-200 orang itu mengiakan serentak dan beramai-ramai pergi memeriksa. Sekali ini bukan manusia yang mereka cari, tapi mencari sesuatu benda atau tempat yang ada tanda-tanda mencurigakan, maka sibuklah mereka, ada yang gali tanah, ada yang cungkil jubin, hampir saja dinding juga mereka bongkar, hanya patung-patung Buddha saja tidak mereka sentuh.

Lenghou Tiong duduk di atas sebuah kasuran semadi di tengah Tay-hiong-po-tian yang megah itu, dilihatnya patung Buddha dengan wajah yang angker dan menampilkan perasaan penuh welas asih. Ia berpikir, “Hong-ting Taysu benar-benar seorang padri saleh, ia mengetahui kedatangan kami secara besar-besaran, ia lebih suka mengorbankan nama baik Siau-lim-pay dan tidak mau menyambut pertempuran dengan kami, akhirnya bencana pembunuhan besar-besaran ini dapat terhindar. Tapi mengapa mereka membunuh Ting-sian dan Ting-yat Suthay? Tampaknya yang membunuh kedua suthay ini adalah padri murtad kuil ini dan bukan kehendak Hong-ting Taysu. Ya, aku harus maklum akan maksud baik Hong-ting Taysu dan tidak mengerahkan orang banyak untuk pergi mencari padri-padri Siau-lim-pay dan mempersulit mereka, tapi harus berdaya dengan jalan lain untuk menyelamatkan Ing-ing.”

Sekonyong-konyong angin meniup masuk dengan kencang sehingga debu dupa bertebaran, Lenghou Tiong melangkah ke depan ruangan, dilihatnya awan tebal memenuhi udara, angin utara meniup kencang, ia pikir sebentar lagi tentu akan turun salju lebat.

Baru terkilas pikiran demikian, benar juga dari langit sudah mulai mengambang turun bunga salju, pikirnya pula, “Hawa sedingin ini, entah Ing-ing memakai baju hangat atau tidak? Siau-lim-pay mempunyai orang yang banyak dan besar kekuatannya, pengaturan mereka pun begini rapi, sebaliknya rombonganku ini adalah kumpulan dari orang-orang pribadi yang gagah melulu, untuk bisa menolong keluar Ing-ing rasanya teramat sukar.”

Ia berjalan mondar-mandir di serambi depan, bunga salju yang bertebaran di atas kepalanya, mukanya, dan tangannya dengan cepat lantas cair. Ia pikir sebelum mengembuskan napas penghabisan, meski lukanya sangat parah, tapi pikiran Ting-sian Suthay masih cukup jernih, sedikit pun tidak kelihatan kurang sadar, tapi mengapa dia mengharuskan aku menjabat ketua Hing-san-paynya? Padahal Hing-san-pay terdiri dari kaum wanita seluruhnya tanpa seorang laki-laki pun, hal ini sudah turun-temurun sejak dahulu kala, setiap pejabat ketuanya juga nikoh, seorang laki-laki seperti aku mana boleh menjadi ketua Hing-san-pay mereka? Kalau hal ini tersiar bukanlah akan ditertawai oleh orang-orang Kangouw? Tapi, ai, aku sudah menyanggupi beliau, aku tidak boleh ingkar janji. Ya, asalkan aku berbuat menurut aturan yang lurus, peduli apa dengan tertawa orang lain. Selamanya kaisar juga dijabat oleh kaum lelaki, tapi ketika Bu Cek-thian ingin menjadi kaisar, bukankah juga sudah jadi, padahal dia wanita.

Berpikir sampai di sini, seketika semangat keperwiraannya bergolak.

Pada saat itu pula tiba-tiba dari pinggang gunung sana sayup-sayup terdengar suara orang menjerit-jerit, tidak lama kemudian terdengarlah suara berisik di luar Siau-lim-si.

Dengan perasaan khawatir Lenghou Tiong berlari ke luar, dilihatnya Ui Pek-liu sedang berlari kembali dengan badan berlumuran darah. Pundaknya tampak menancap sebatang panah.

“Beng … Bengcu, musuh telah menutup jalan turun ke bawah gunung, sekali ini kita … kita benar-benar masuk jaring sendiri,” seru Ui Pek-liu dengan suara terputus-putus.

“Apakah padri-padri Siau-lim-pay?” tanya Lenghou Tiong khawatir.

“Bukan hwesio, tapi orang preman biasa,” sahut Ui Pek-liu. “Neneknya, belum ada satu-dua li kami turun ke sana sudah lantas disambut dengan hujan anak panah, belasan saudara kita tewas, yang terluka sedikitnya ada beberapa puluh orang.”

Sementara itu beberapa ratus orang yang diutus turun gunung bersama Ui Pek-liu juga sudah berlari kembali dalam keadaan morat-marit, yang terkena panah memang benar tidak sedikit. Seketika di luar kuil itu menjadi kacau, para jago yang gusar itu bermaksud menyerbu ke bawah gunung.

“Dari golongan apakah pihak musuh, apakah Ui-pangcu dapat membedakannya?” tanya Lenghou Tiong pula.

“Kami tidak sempat mendekati musuh dan sudah dihujani panah sehingga bagaimana corak anak kura-kura itu sama sekali tidak tahu,” tutur Ui Pek-liu.

“Agaknya Siau-lim-pay sengaja memasang perangkap untuk menjebak kita, mereka menggunakan tipu ‘menangkap bulus di dalam guci’,” kata Coh Jian-jiu.

“Menangkap bulus di dalam guci apa? Kata-katamu ini kan lebih membesarkan kehebatan musuh dan menilai rendah pihak sendiri,” bantah Lo Thau-cu. “Kalau mau katakan tipu musuh itu paling-paling dapat disebut ‘memancing harimau masuk ke sarangnya’.”

“Baiklah, anggap benar tipu ‘memancing harimau masuk sarang’, dan sekarang harimau-harimau kita ini pun sudah masuk sarangnya, lalu apa mau dikata? Barangkali kawanan kepala gundul itu hendak membikin kita mati kelaparan di atas Siau-sit-san sini?” ujar Coh Jian-jiu.

“Masakah kita terima mati kelaparan di sini?” teriak Pek-him, Si Beruang Putih yang gemar daging manusia itu. “Hayolah, siapa yang berani ikut aku menerjang ke bawah?”

Serentak ada ribuan orang bersorak gemuruh menyokong dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: