Hina Kelana: Bab 91. Tokoh Bu-tong-pay yang Kosen

Semula Lenghou Tiong juga cuma tersenyum saja sambil berpangku tangan, tapi hanya melihat beberapa jurus saja ia menjadi terkejut. Dilihatnya gerak pedang kedua laki-laki itu berbeda, yang satu lamban dan yang lain cepat, tapi dalam permainan pedang mereka itu ternyata tiada sedikit pun diketemukan lubang kelemahan.

Memang gerak-gerik kedua orang itu sangat kaku, bahkan lucu dan menimbulkan tawa penonton, tapi yang satu menjaga dan yang lain menyerang, sukar bagi pihak lawan untuk melayaninya. Lebih-lebih laki-laki pemikul kayu itu, ilmu pedangnya sederhana saja, tapi daya tekanan pedangnya agaknya baru dilancarkan satu bagian saja, sembilan bagian selebihnya masih tersimpan dan siap untuk dikerahkan.

Di tengah gelak tertawa orang banyak itulah Lenghou Tiong lantas melangkah maju, katanya sambil memberi hormat, “Sungguh beruntung sekali hari ini dapat menyaksikan ilmu pedang mahahebat dari kedua Cianpwe. Kepandaian sehebat ini sungguh sukar diketemukan sekalipun menjelajahi seluruh dunia.”

Kata-kata Lenghou Tiong ini diucapkan dengan nada yang sungguh-sungguh dan setulus hati, sama sekali berbeda daripada kata-kata para jago tadi yang bernada mengejek.

Kedua laki-laki tadi lantas menghentikan permainan mereka. Si tukang pikul kayu menjawab dengan mata melotot, “Kau bocah ini, kau paham ilmu pedang kami?”

“Paham sih tidak,” sahut Lenghou Tiong. “Ilmu pedang kedua Cianpwe mahahebat dan sangat luas, untuk ‘memahaminya’ masakah begitu gampang? Yang jelas ilmu pedang Bu-tong-pay yang termasyhur ternyata memang benar sangat mengagumkan.”

“Kau bocah ini bernama siapa?” tanya si tukang sayur.

Belum Lenghou Tiong menjawab, di tengah orang banyak sudah ada yang berteriak, “Bocah apa segala, mulutmu perlu dicuci dulu. Dia adalah bengcu kami, Lenghou-kongcu adanya.”

“Lenghou-kuaci?” si tukang kain menegas seperti orang heran. “Kenapa tidak pakai nama oncom atau keripik, lha kok pakai nama kuaci atau kacang segala?”

Lenghou Tiong tidak menghiraukan olok-olok orang, ia memberi hormat pula dan berkata, “Hari ini Lenghou Tiong dapat menyaksikan ilmu pedang sakti Bu-tong-pay, sungguh sangat beruntung dan kagum. Lain hari bila sempat tentu akan berkunjung untuk memberi salam hormat kepada Tiong-hi Totiang. Tentang nama kedua Cianpwe yang mulia apakah dapat diberi tahu?”

Kedua orang itu tidak menjawab, sebaliknya si tukang kayu terus meludah ke tanah, katanya, “Hei, kalian sebanyak ini main berbaris dan membunyikan tambur segala dengan riuh ramai, apakah kalian sedang arak-arakan atau sedang mengantar jenazah?”

Lenghou Tiong tahu kedua orang itu pasti tokoh Bu-tong-pay, dengan penuh hormat dijawabnya, “Kami ada seorang teman telah ditahan oleh Siau-lim-pay, kami sekarang hendak menuju ke sana untuk mohon kemurahan hati Hong-ting Taysu agar sudi mengampuni teman kami itu dan membebaskannya.”

“O, kiranya bukan mengantar jenazah!” ujar si tukang sayur. “Tapi kalian telah memukul mati keledai paman kami, kalian mau ganti atau tidak?”

Segera Lenghou Tiong menuntun maju tiga ekor kuda, katanya, “Kuda-kuda ini sudah tentu tak bisa dibandingkan dengan keledai Cianpwe itu, terpaksa Cianpwe diharap menerima seadanya. Tentang kecerobohan teman tadi, mohon pula para Cianpwe sudi memaafkan.”

Melihat sikap Lenghou Tiong yang makin lama makin hormat dan rendah diri terhadap petani-petani itu, tampaknya bukanlah sengaja pura-pura. Keruan para jago menjadi melongo heran.

“Setelah kau mengetahui kehebatan ilmu pedang kami, apakah kau tidak ingin menjajalnya?” tanya si tukang sayur.

“Wanpwe pasti bukan tandingan kedua Cianpwe,” sahut Lenghou Tiong.

“Rupanya kau enggan menjajal kami, sebaliknya aku menjadi ingin menjajal kau,” kata si tukang kayu. Berbareng pedangnya terus menusuk ke arah Lenghou Tiong dengan rada miring dan menceng.

“Bagus!” seru Lenghou Tiong ketika melihat serangan orang mencakup sembilan tempat berbahaya di atas tubuhnya, sungguh suatu jurus serangan yang amat indah. Cepat ia pun lolos pedang dan balas menusuk.

Ketika laki-laki itu menusuk suatu kali ke tempat yang kosong, Lenghou Tiong juga putar pedangnya dan menebas ke tempat yang kosong. Berturut-turut kedua orang sama-sama menyerang beberapa kali, tapi yang diarah semuanya tempat yang kosong. Kedua pedang belum pernah beradu. Namun begitu laki-laki itu selangkah demi selangkah terus mundur.

“Kuaci kacang ternyata rada aneh juga,” ujar laki-laki tukang sayur. Segera ia pun angkat pedangnya dan menusuk dan menebas serabutan, dalam sekejap saja ia sudah main belasan jurus. Tapi tiap-tiap jurus tidak ditujukan kepada Lenghou Tiong, di mana ujung pedangnya tiba selalu berselisih satu-dua meter jauhnya dari Lenghou Tiong. Begitu pula Lenghou Tiong juga terkadang menusuk dari jauh ke arah si tukang kayu, lain saat menusuk si tukang sayur dari jarak jauh.

Anehnya tiap-tiap kali Lenghou Tiong menyerang, seketika kedua laki-laki itu tampak tegang dan cepat putar pedang buat menangkis atau melompat menghindar.

Keruan para penonton terheran-heran, padahal jarak ujung pedang Lenghou Tiong cukup jauh dari sasarannya, sekali menyerang juga tidak terasa sesuatu kekuatan yang menyambar ke depan, tapi mengapa kedua orang itu berusaha menghindar sebisanya?

Sampai di sini barulah para jago itu mengetahui kedua orang petani itu sekali-kali bukan orang desa, tapi adalah tokoh silat yang memiliki kepandaian tinggi. Di waktu menyerang mereka tetap kelihatan lambat dan yang lain seperti orang gila, tapi ketika menghindar serangan gerak-gerik mereka amat gesit dan lincah, kalau bukan terlatih berpuluh tahun pasti tidak memiliki tingkatan sedemikian tingginya.

Tiba-tiba terdengar kedua orang itu bersuit serentak, ilmu pedang mereka berubah sama sekali, si tukang kayu bergerak secara keras, tenaganya kuat, sebaliknya si tukang sayur meloncat ke sana-sini dengan cepat, ujung pedang mereka bergetar memantulkan titik-titik sinar perak.

Namun pedang di tangan Lenghou Tiong tampak mengacung miring ke atas tanpa bergerak lagi, hanya sorot matanya yang tajam terkadang melotot ke arah si tukang kayu, lain saat melirik si tukang sayur. Di mana sorot matanya sampai, seketika kedua laki-laki itu berganti gaya, terkadang mereka berteriak dan cepat melompat mundur, tiba-tiba mereka lantas melancarkan serangan, tapi mendadak mereka bertahan lagi seperti kerepotan.

Beberapa jago kelas tinggi seperti Keh Bu-si, Lo Thau-cu, dan lain-lain, setelah mereka mengikuti sekian lamanya pertarungan aneh itu, akhirnya dapatlah mereka melihat apa-apa yang terjadi sebenarnya. Dilihatnya bagian-bagian yang dihindari oleh kedua laki-laki itu selalu adalah tempat yang disorot oleh tatapan mata Lenghou Tiong, tapi juga hiat-to yang penting di tubuh mereka.

Suatu ketika dilihatnya mata Lenghou Tiong menatap ke “siang-kiok-hiat” di bagian perut si tukang kayu, padahal waktu itu si tukang kayu baru hendak membacok dengan pedangnya, mendadak ia urungkan serangannya dan lekas-lekas menarik kembali pedangnya untuk mengadang di depan perut.

Pada saat hampir sama si tukang sayur bergaya hendak menusuk ke arah Lenghou Tiong, tiba-tiba sorot mata Lenghou Tiong mengarah ke “thian-ting-hiat” di bagian lehernya, lekas-lekas tukang sayur itu mendak ke bawah sehingga tusukan pedangnya menancap tanah sawah yang sudah mengeras kering itu.

Begitulah untuk sekian lamanya kedua laki-laki itu terus berkutatan sehingga basah kuyup oleh keringat mereka sendiri laksana habis kecebur sungai.

Si kakek penunggang keledai tadi juga terus mengikuti pertandingan aneh itu di samping dan tidak membuka suara, kini mendadak ia berdehem, lalu berkata, “Hebat, sungguh sangat mengagumkan. Kalian mundur saja!”

Kedua orang itu mengiakan berbareng, tapi sorot mata Lenghou Tiong yang tajam laksana kilat itu masih terus berkisar di bagian hiat-to penting di tubuh mereka. Meski mereka memutar pedang sembari mundur masih sukar melepaskan diri dari incaran sinar mata Lenghou Tiong.

“Kiam-hoat bagus!” seru si kakek. “Lenghou-kongcu, biarlah aku yang minta petunjuk beberapa jurus padamu.”

“Terima kasih!” sahut Lenghou Tiong sambit berpaling dan memberi hormat kepada si kakek.

Baru sekarang kedua laki-laki itu dapat membebaskan diri dari incaran sinar mata Lenghou Tiong, berbareng mereka melompat mundur dengan enteng sebagai burung terbang.

Si kakek terbatuk-batuk beberapa kali, lalu berkata pula, “Lenghou-kongcu telah sengaja bermurah hati kepada kalian, jika bertempur sungguh-sungguh tentu tubuh kalian sudah penuh dengan lubang tusukan, masakan kalian mampu menyelesaikan permainan ilmu pedang. Lekas kalian maju mengucapkan terima kasih.”

Segera kedua laki-laki itu melompat maju terus membungkuk tubuh di hadapan Lenghou Tiong. Kata si tukang sayur, “Hari ini barulah aku mengetahui di luar langit masih ada langit, orang pandai masih ada yang lebih pandai. Kepandaian Kongcu jarang ada bandingannya di dunia ini, harap sudi memaafkan atas ucapan kami yang kurang hormat tadi.”

Lenghou Tiong membalas hormat mereka, katanya, “Bu-tong-kiam-hoat benar-benar mahasakti. Permainan pedang kalian tadi yang satu yang (positif) dan yang lain im (negatif), satu keras satu lunak, apakah itu Thay-kek-kiam-hoat adanya?”

“Hanya membikin malu saja, yang kami mainkan tadi adalah ‘Liang-gi-kiam-hoat’, memang terdiri dari im dan yang, tapi belum dapat terlebur menjadi satu,” sahut si tukang sayur.

“Karena Cayhe telah menyaksikan sebelumnya sehingga sedikit dapat mengetahui letak intisari ilmu pedang kalian,” ujar Lenghou Tiong. “Tapi kalau benar-benar bertempur sungguhan jelas tak sanggup aku melawan.”

“Lenghou-kongcu teramat rendah hati,” ujar si kakek. “Padahal di mana sorot mata Kongcu menatap, di situ pula terletak titik kelemahan dari setiap jurus Liang-gi-kiam-hoat. Ai, kiam-hoat ini ternyata …” sampai di sini ia geleng-geleng kepala, sejenak kemudian barulah ia menyambung, “lima puluh tahun yang lalu Bu-tong-pay ada dua totiang yang sengaja mendalami Liang-gi-kiam-hoat ini secara tekun, beliau-beliau itu merasa di dalam ilmu pedang ini ada im ada yang, juga keras juga lunak. Tapi ai!” ia menghela napas seakan-akan hendak mengatakan, “Ternyata ilmu pedang yang dianggap sudah sempurna itu tidak tahan sekali gempur oleh ahli pedang yang diketemukan sekarang.”

Kiranya dalam pertandingan pedang tadi, mula-mula Lenghou Tiong menggunakan ujung pedang untuk menyerang tempat-tempat berbahaya di tubuh kedua lawannya dari jarak jauh, tempat yang diarah adalah lubang-lubang kelemahan permainan pedang mereka. Tapi kemudian ia tidak perlu menggerakkan lagi pedangnya, hanya sorot matanya saja yang mengincar ke titik kelemahan lawan-lawan itu. Setiap kali salah seorang lawannya menyerang, selalu merasakan titik kelemahan serangannya itu sudah kena diincar oleh Lenghou Tiong sehingga terpaksa ia harus menarik kembali serangan dan begitu seterusnya. Makin lama mereka semakin gelisah, meski Lenghou Tiong hanya berdiri di tempatnya tanpa bergerak, tapi kedua orang itu sudah kelabakan sendiri dengan mandi keringat dan kehabisan tenaga.

Begitulah Lenghou Tiong lantas berkata dengan penuh hormat, “Tadi kedua paman ini rasanya tidak terlalu tinggi tingkatannya di dalam Bu-tong-pay, namun ilmu pedang mereka sudah sedemikian bagusnya. Apalagi kepandaian Tiong-hi Totiang serta tokoh-tokoh kelas wahid yang lain, tentu jauh lebih mengagumkan. Wanpwe dan para kawan kebetulan harus lalu di kaki Bu-tong-san sini, soalnya ada urusan penting sehingga tidak sempat berkunjung dan memberi hormat kepada Tiong-hi Totiang, kelak bila urusan sudah selesai tentu Cayhe akan berkunjung ke Cin-bu-koan (nama kuil) untuk sembahyang di hadapan Cin-bu-tayte serta menjura kepada Tiong-hi Totiang.”

Sebenarnya watak Lenghou Tiong sangat angkuh, tapi terhadap ilmu pedang kedua lawannya yang luar biasa dan ajaib tadi, meski dia dapat mengalahkan mereka, tapi dia memang benar-benar sangat kagum. Apalagi ia buru-buru ingin pergi menolong Ing-ing dan sedapat mungkin harus menghindari permusuhan dengan Bu-tong-pay yang sukar dilawan itu, samar-samar dalam perasaannya ia menduga si kakek pasti tokoh terkemuka di dalam Bu-tong-pay, maka apa yang diucapkannya itu benar-benar sangat tulus dan sungguh-sungguh.

Si kakek tampak manggut-manggut, katanya, “Orang muda memiliki kepandaian tinggi, tapi tidak sombong, sungguh harus dipuji. Lenghou-kongcu, apakah kau pernah mendapat didikan langsung dari Hong Jing-yang Locianpwe dari Hoa-san?”

Lenghou Tiong terkesiap dan mengakui ketajaman mata si kakek yang bisa mengetahui asal usul ilmu pedangnya tadi. Cepat ia membungkuk tubuh dan menjawab, “Ah, secara beruntung Wanpwe hanya pernah mempelajari sedikit bulu kulit kepandaian Hong-thaysusiokco.”

“Bulu kulit saja katamu dan ternyata sudah begitu hebat?” kata si kakek dengan tersenyum. Ia berpaling dan mengambil pedang yang dipegang si pemikul kayu. Lalu katanya pula, “Sekarang aku ingin coba belajar kenal dengan sedikit bulu kulit ilmu pedang ajaran Hong-locianpwe itu.”

“Ah, mana Wanpwe berani bergebrak dengan Cianpwe?” ujar Lenghou Tiong dengan rendah hati.

Kembali si kakek tersenyum, dengan tetap terbungkuk-bungkuk, tubuhnya memutar ke kanan dengan perlahan-lahan, pedang yang terpegang di tangan kiri itu diangkatnya ke atas terus melintang di depan dada.

Melihat gaya orang tua itu, Lenghou Tiong tidak berani sembrono, ia pun mengikuti gerak-geriknya dengan penuh perhatian. Tiba-tiba pedang si kakek menggores ke depan dengan perlahan dalam bentuk setengah lingkaran.

Seketika Lenghou Tiong merasa suatu arus hawa dingin menyambar ke arahnya, kalau tidak balas menyerang rasanya sukar ditahan. Terpaksa ia berkata, “Maaf!” Karena tidak melihat titik kelemahan dari jurus pedang si kakek, terpaksa pedangnya menutul sekenanya ke depan.

Sekonyong-konyong si kakek memindahkan pedang ke tangan kanan, sinar dingin berkelebat, mendadak ia menebas ke leher Lenghou Tiong. Karena gerakan yang teramat cepat ini, para jago yang menonton di samping sampai menjerit kaget dan khawatir.

Tapi karena serangan si kakek yang keras mendadak itu, segera Lenghou Tiong melihat titik kelemahan di bawah ketiak lawan. Segera pedangnya membarengi menusuk ke yan-ek-hiat di bawah iga si kakek.

Terpaksa si kakek menegakkan pedangnya. “Trang”, kedua pedang kebentur, kedua orang sama-sama mundur selangkah, Lenghou Tiong merasakan tenaga lawan seakan-akan melengket di atas pedangnya sehingga batang pedang tergetar mendenging. Sebaliknya si kakek juga bersuara heran, air mukanya menunjukkan rasa kejut dan tidak percaya.

Setelah satu gebrak, kembali pedang si kakek berpindah ke tangan kiri, ujung pedang menggores pula ke depan menjadi dua lingkaran.

Melihat gerakan pedang orang yang bertenaga dan rapat melindungi seluruh tubuhnya tanpa lubang sedikit pun, diam-diam Lenghou Tiong kejut dan heran, “Sejak menghadapi musuh belum pernah kulihat permainan silat lawan yang begini rapat penjagaannya. Bila dia menyerang cara demikian, lalu cara bagaimana aku harus mematahkannya?”

Lantaran timbul rasa sangsinya, tanpa terasa butiran keringat lantas merembes di dahinya.

Dalam pada itu pedang si kakek lantas bergetar, mendadak menusuk ke depan secara lempeng, ujung pedang bergemetar cepat sehingga tidak diketahui arah mana sebenarnya yang hendak diserang. Yang pasti beberapa hiat-to penting di tubuh Lenghou Tiong sudah terancam semua oleh gerakan pedangnya.

Tapi karena serangan cepat si kakek itulah Lenghou Tiong dapat melihat tiga lubang kelemahan di tubuh lawannya, asal salah satu lubang kelemahan diserang sudah cukup menamatkan jiwanya. Segera pedang Lenghou Tiong juga ditusukkan ke depan, ke ujung alis kiri si kakek.

Dalam keadaan demikian bila si kakek tetap mengayun pedangnya ke depan, maka lebih dulu pelipis kirinya pasti akan tertusuk pedang Lenghou Tiong.

Pertarungan di antara jago kelas tinggi kalah-menang memang cuma tergantung pada satu-dua detik itu saja, siapa yang lebih dulu dia yang menang.

Menurut keadaan itu, meski Lenghou Tiong tak bisa menghindarkan diri dari serangan si kakek, tapi kesempatan menyelamatkan diri sedikitnya ada separuh, sebaliknya pihak lawan pasti akan binasa oleh tusukannya.

Ternyata si kakek cukup menyadari hal itu, mendadak ia putar balik pedangnya, sekonyong-konyong pandangan Lenghou Tiong menjadi silau oleh lingkaran-lingkaran sinar perak besar-kecil tak terhitung banyaknya. Karena matanya silau, terpaksa ia pun menarik kembali pedangnya, lalu menusuk lagi ke tengah lingkaran sinar pedang lawan. “Trang”, kedua pedang kebentur lagi, lengan Lenghou Tiong terasa kesemutan.

Lingkaran sinar yang dipantulkan oleh pedang si kakek makin lama makin banyak, hanya sebentar saja seluruh badannya seakan-akan menghilang di balik lingkaran sinar yang tak terhitung banyaknya itu. Lingkaran sinar itu satu disusul yang lain, yang duluan belum buyar sudah timbul lingkaran lagi.

Lenghou Tiong tidak sanggup mengincar lubang kelemahan di tengah ilmu pedang si kakek, hanya dirasakan lawan seakan-akan dibungkus oleh beratus atau beribu batang pedang sehingga sukar ditembus.

Jantung Lenghou Tiong mulai berdebar keras. Sejak berhasil meyakinkan “Tokko-kiu-kiam” untuk pertama kalinya sekarang ia merasakan takut. Bahwasanya gerak serangan musuh ternyata tidak diketemukan titik kelemahannya barulah sekarang terjadi.

Selagi Lenghou Tiong merasa bimbang, saat itulah beribu-ribu lingkaran sinar laksana ombak samudra saja telah membanjir ke arahnya. Karena tidak sanggup bertahan, terpaksa ia melangkah mundur. Setiap kali ia mundur satu langkah, lingkaran-lingkaran sinar itu lantas mendesak maju selangkah pula. Dalam sekejap saja, ia sudah mundur hampir sepuluh langkah dan tampaknya masih akan terdesak mundur lagi.

Melihat bengcu mereka terdesak di bawah angin, para jago ikut prihatin dan sama menahan napas mengikuti pertarungan hebat itu. Mendadak Tho-kin-sian berseru, “He, ilmu pedang apakah itu, seperti permainan anak kecil saja yang menggores-gores lingkaran, aku pun bisa kalau cuma begitu!”

“Kalau aku yang menggores tanggung akan lebih bulat daripada dia,” timbrung Tho-hoa-sian.

“Jangan takut Lenghou-hengte, jika kau kalah, sebentar kami akan membeset si tua bangka itu menjadi empat potong untuk melampiaskan rasa dongkolmu,” seru Tho-ki-sian.

“Salah besar ucapanmu itu!” debat Tho-yap-sian. “Pertama dia adalah Lenghou-bengcu dan bukan Lenghou-hengte segala. Kedua, dari mana kau mengetahui dia takut?”

“Meski Lenghou Tiong sudah menjadi bengcu, tapi umurnya lebih muda daripada diriku. Memangnya sudah menjadi bengcu lantas harus dipanggil Lenghou-koko, Lenghou-pepek, atau dipanggil tuan besar segala?” sahut Tho-ki-sian.

Saat itu Lenghou Tiong tampak terdesak mundur lagi, para jago menjadi ikut cemas, keruan mereka tambah gusar mendengar Tho-kok-lak-sian mengoceh tak keruan.

Dalam pada itu Lenghou Tiong sedang mundur lagi satu langkah, “byur”, tiba-tiba sebelah kakinya menginjak air pecomberan. Kejadian ini mendadak menimbulkan pikirannya, “Dahulu Hong-thaysusiokco telah memberi pesan wanti-wanti bahwa ilmu silat di dunia ini sangat banyak aneka ragamnya, tapi pada dasarnya hanya ada satu patokan, tak peduli bagaimana bagusnya gerak serangan lawan, asalkan ada jurus serangan tentu ada lubang kelemahannya. Sebabnya ilmu pedang yang diturunkan oleh Tokko-tayhiap ini dapat merajai dunia persilatan tanpa tandingan adalah karena dapat mencapai titik kelemahan di antara jurus serangan musuh. Sekarang ilmu pedang si kakek berputar begini cepat, sedikit pun tiada lubang kelemahannya. Hanya saja mungkin aku sendiri yang tidak mampu mencari titik kelemahannya dan bukan ilmu pedangnya benar-benar tanpa titik kelemahan.”

Dalam pada itu kembali Lenghou Tiong terdesak mundur beberapa tindak lagi, ia coba memerhatikan lingkaran-lingkaran yang dijangkitkan sinar pedang lawan itu, tiba-tiba terpikir olehnya, “Jangan-jangan di tengah lingkaran-lingkaran inilah titik kelemahannya. Tapi kalau keliru dan pedangku menusuk ke tengah lingkaran itu, sekali digiling pedangnya seketika tanganku bisa kutung.”

Tiba-tiba timbul tekadnya, “Jelas aku tidak sanggup melawan locianpwe ini, jika aku menyerah kalah, sebagai orang tua mungkin dia takkan mengusik diriku, tapi kekalahanku akan berarti mengguncangkan semangat para kawan, mana mereka berani lagi pergi menyerbu Siau-lim-si dan menolong Ing-ing?”

Teringat kepada budi kebaikan Ing-ing terhadapnya, kalau cuma mengorbankan sebelah lengan saja apa halangannya? Tiba-tiba dalam lubuk hatinya merasa sangat terhibur dan puas jika dapat mengorbankan sebelah lengan bagi Ing-ing, dirasakan pula dirinya terlalu banyak utang budi kepada si nona, kalau benar-benar mengalami cacat badan secara parah demi si nona barulah sekadar dapat membalas budi kebaikannya itu.

Berpikir begitu, tanpa sangsi lagi ia lantas angkat tangannya, pedang lantas menusuk ke tengah lingkaran sinar pedang si kakek. “Trang”, terdengar suara nyaring mendering, Lenghou Tiong merasa dadanya tergetar keras, napas sesak dan darah bergolak, tapi lengannya ternyata baik-baik saja tak terluka sedikit pun.

Si kakek tampak mundur selangkah, pedang ditarik kembali dan berdiri tegak, air mukanya menampilkan rasa aneh seperti orang terheran-heran, juga ada perasaan malu-malu, malahan menampilkan rasa penuh kesayangan. Selang cukup lama barulah ia membuka suara, “Ilmu pedang Lenghou-kongcu benar-benar hebat, pengetahuan dan keberanianmu juga melebihi orang biasa, sungguh hebat, sungguh kagum!”

Baru sekarang Lenghou Tiong menyadari gempuran yang penuh risiko tadi sesungguhnya telah menemukan titik kelemahan ilmu pedang lawan, hanya saja ilmu pedang si kakek terlalu tinggi, mungkin di antara sepuluh ribu orang tiada satu orang yang berani mengambil risiko seperti dia untuk menjajal titik kelemahan si kakek yang ternyata disembunyikan di balik titik kekuatannya, yaitu di tengah lingkaran sinar pedangnya yang terus mendesak lawan itu. Keruan Lenghou Tiong merasa sangat beruntung dan bersyukur, cepat ia membungkuk tubuh dan menjawab, “Ilmu pedang Locianpwe mahasakti, sungguh Wanpwe banyak memperoleh manfaatnya setelah mendapat petunjuk-petunjuk tadi.”

Ucapan Lenghou Tiong ini bukan kata-kata yang sengaja dibuat, tapi timbul dari lubuk hatinya yang tulus, sebab pertandingan ini memang benar banyak memberi ilham kepadanya sehingga dia mengetahui bahwa titik kekuatan serangan musuh justru adalah titik paling lemah pula. Kalau titik yang paling kuat dapat digempur, maka bagian-bagian lain tidak perlu diterangkan lagi.

Pertandingan di antara jago-jago kelas tinggi cukup ditentukan dalam satu jurus saja. Melihat Lenghou Tiong berani balas menyerang melalui lingkaran sinar pedangnya, maka si kakek merasa tidak perlu melanjutkan lagi pertarungan itu. Ia menatap tajam sejenak kepada Lenghou Tiong. Kemudian menghela napas dan berkata, “Lenghou-kongcu, aku ingin bicara sebentar padamu.”

“Baik, mohon petuah-petuah Locianpwe yang berharga,” sahut Lenghou Tiong.

Si kakek mengembalikan pedang kepada si tukang sayur tadi, lalu tangan Lenghou Tiong digandengnya dan diajak menuju ke bawah pohon besar di sebelah timur sana. Lenghou Tiong lantas melemparkan pula pedangnya dan mengikuti kehendak si kakek.

Sampai di bawah pohon, jarak dengan rombongan orang banyak sudah ada berpuluh meter jauhnya, suara pembicaraan mereka sukar lagi didengar dari jarak sejauh itu. Lebih dulu si kakek duduk di bawah pohon, lalu katanya, “Silakan duduk juga untuk bicara.”

Sesudah Lenghou Tiong berduduk barulah orang tua itu mulai bicara dengan perlahan, “Lenghou-kongcu, tokoh muda seangkatan yang memiliki kepandaian seperti kau boleh dikata jarang terdapat.”

“Ah, terima kasih atas pujian Locianpwe,” sahut Lenghou Tiong. “Tingkah laku Wanpwe terkenal buruk sehingga tidak diberi tempat oleh perguruan, mana aku berani menerima pujian Locianpwe itu.”

“Kaum persilatan kita harus mengutamakan perbuatan yang terang-terangan, asalkan sesuai dengan hati nurani,” kata si kakek. “Tindak tandukmu meski terkadang terlalu berani dan tidak tunduk kepada adat kebiasaan, tapi masih harus diakui adalah perbuatan seorang laki-laki sejati. Secara diam-diam aku telah mengutus orang buat menyelidiki kelakuanmu yang sebenarnya dan ternyata tidak diketemukan sesuatu yang buruk sebagaimana disiarkan secara luas di kalangan Kangouw.”

Alangkah terharu dan terima kasih Lenghou Tiong atas pembelaan si kakek terhadap pribadinya itu, setiap katanya benar-benar kena lubuk hatinya. Ia yakin si kakek pasti tokoh yang amat penting di dalam Bu-tong-pay, kalau tidak masakah diam-diam mengutus orang buat menyelidiki perbuatan dan tingkah lakunya?

Dalam pada itu si kakek telah menyambung lagi, “Bahwasanya orang muda suka menonjolkan sesuatu adalah lazim. Gak Put-kun sendiri lahirnya tampak ramah, tapi sebenarnya jiwanya sangat sempit ….”

Mendengar kritikan terhadap gurunya, seketika Lenghou Tiong berbangkit dan berkata, “Wanpwe anggap Insu (guru berbudi) seperti orang tua sendiri, maka Wanpwe tidak berani bicara tentang kekurangannya.”

Kakek itu tersenyum, katanya, “Kau tidak melupakan sumbermu, sungguh sangat baik.”

Tiba-tiba air mukanya berubah serius dan menambahkan, “Sudah berapa lama kau meyakinkan ‘Gip-sing-tay-hoat’ itu?”

“Wanpwe mempelajarinya secara kebetulan kira-kira setengah tahun yang lalu,” sahut Lenghou Tiong. “Mula-mula Wanpwe benar-benar tidak tahu ilmu yang kulatih ini adalah Gip-sing-tay-hoat.”

“Benarlah kalau begitu,” ujar si kakek. “Tadi kita telah tiga kali mengadu senjata, tenaga dalamku telah kau sedot, tapi rasanya kau masih belum mahir memanfaatkan ilmu iblis yang celaka itu. Untuk mana aku ingin memberi nasihat, entah Lenghou-siauhiap sudi mendengarkan tidak?”

Lenghou Tiong menjadi gugup, cepat ia menjawab, “Kata-kata emas Locianpwe sudah tentu akan kuterima dengan segala kerelaan hati.”

“Gip-sing-tay-hoat ini walaupun sangat lihai di waktu pertempuran, tapi bagi orang yang melatihnya sendiri akan menimbulkan banyak kerugian, semakin mendalam keyakinannya semakin besar pula bahayanya. Lenghou-siauhiap harus menyadarinya dan sebisanya menghentikan pelajaranmu. Setahuku, akhir dari latihan ilmu iblis itu akan mengubah seluruh watak dan pikiran orang yang meyakinkannya itu, jiwanya tertekan dan akan melakukan macam-macam perbuatan yang bertentangan dengan hati nuraninya tanpa disadari olehnya sendiri. Tatkala mana sukarlah untuk membersihkan diri.”

Ketika di Bwe-cheng tempo hari Lenghou Tiong memang pernah mendengar sendiri dari ucapan Yim Ngo-heng bahwa setelah mempelajari “Gip-sing-tay-hoat” itu, maka kelak akan banyak mendatangkan bencana, maka dirinya diminta berjanji akan masuk menjadi anggota Mo-kau, bahkan akan diangkat sebagai tangan kiri ketua Mo-kau itu, dengan demikian Yim Ngo-heng baru akan mengajarkan cara memunahkan gangguan penyakit yang ditimbulkan oleh Gip-sing-tay-hoat itu.

Sekarang apa yang dikatakan si kakek ternyata cocok dengan ucapan Yim Ngo-heng dahulu, keruan Lenghou Tiong tambah percaya sehingga keluar keringat dingin. Katanya kemudian, “Petunjuk-petunjuk Locianpwe takkan kulupakan selama hidup ini. Wanpwe juga tahu ilmu ini tidak baik, juga pernah bertekad takkan menggunakannya untuk membikin celaka sesamanya. Cuma setelah ilmu ini meresap di dalam tubuh, sekalipun tidak ingin memakainya toh sukar rasanya.”

“Ada suatu hal yang mungkin sangat sukar untuk minta Siauhiap melakukannya,” kata si kakek. “Tapi seorang pahlawan, seorang kesatria harus berani berbuat apa yang tak bisa diperbuat orang lain. Siau-lim-pay ada semacam ilmu khas yang disebut ‘Ih-kin-keng’, mungkin Siauhiap sudah pernah mendengarnya.”

“Ya, kabarnya itu adalah lwekang tertinggi yang tak diajarkan sembarangan orang sekalipun kepada padri-padri sakti angkatan utama Siau-lim-pay pada saat ini,” kata Lenghou Tiong.

“Sekarang Siauhiap memimpin orang banyak ini menuju ke Siau-lim-si, kukira persoalannya tidak mudah untuk diselesaikan. Tak peduli pihak mana yang menang pasti akan banyak menimbulkan korban, hal ini sesungguhnya merupakan malapetaka bagi dunia persilatan kita. Walaupun sudah tua bangka, namun aku bersedia mendamaikan kalian dan akan mohon ketua Siau-lim-pay mengutamakan welas asih dan mengajarkan ‘Ih-kin-keng’ kepada Siauhiap, sebaliknya Siauhiap hendaklah memberi penjelasan kepada orang banyak agar menyudahi urusan ini dan bubar saja, dengan demikian buyar pula bencana yang setiap saat dapat timbul. Entah bagaimana pendapat Siauhiap akan usulku ini?”

“Lalu bagaimana dengan Yim-siocia yang masih terkurung di Siau-lim-si itu?” tanya Lenghou Tiong.

“Yim-siocia telah membunuh empat tokoh Siau-lim-pay, banyak menimbulkan huru-hara pula di dunia Kangouw. Kalau Hong-ting Taysu mengurung dia kukira bukan karena ingin membalas dendam Siau-lim-pay sendiri, tapi timbul dari jiwanya yang welas asih demi keselamatan sesama orang Kangouw. Dengan pribadi Siauhiap yang baik ini masakah khawatir tidak mendapatkan jodoh yang setimpal dari keluarga yang baik? Buat apa mesti tergoda oleh perempuan siluman dari Mo-kau itu sehingga merusak nama baikmu dan menghancurkan masa depanmu.”

Serentak Lenghou Tiong berbangkit, katanya lantang, “Lenghou Tiong telah terima budi orang dan sudah pasti akan kubalas. Adapun maksud baik Cianpwe sungguh sayang sekali tak bisa kuterima.”

Si kakek menghela napas, katanya pula, “Orang muda tenggelam oleh kecantikan, terjebak oleh nona ayu, rasanya memang sukar menghindarkan diri.”

“Wanpwe mohon diri,” kata Lenghou Tiong sambil membungkuk tubuh.

“Nanti dulu!” seru si kakek. “Meski aku jarang berhubungan dengan Hoa-san-pay, tapi sedikit banyak kuyakin Gak-siansing masih menghormati diriku. Jika kau mau terima nasihatku tadi, aku dan ketua Siau-lim-pay berani tepuk dada memberi jaminan akan mengembalikan kau ke Hoa-san-pay, untuk ini apakah kau percaya padaku?”

Tergerak juga hati Lenghou Tiong oleh tawaran menarik itu. Diterima kembali ke dalam Hoa-san-pay memang cita-citanya yang paling utama. Kakek ini begini tinggi ilmu silatnya, nada bicaranya juga meyakinkan pasti seorang tokoh terkemuka dari Bu-tong-pay, dia menjanjikan akan menjamin kembalinya Lenghou Tiong ke Hoa-san-pay, maka dapat dipercaya urusan ini pasti akan berhasil. Selamanya sang guru sangat mementingkan hubungan baik sesama orang cing-pay, apalagi Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay adalah dua aliran tertinggi dari dunia persilatan, kalau kedua tokoh utama dari kedua aliran itu tampil ke muka untuk menjaminnya, tentu sang guru akan terpaksa menerimanya kembali.

Tapi sesudah kembali ke Hoa-san, setiap hari ia akan bertemu dengan sumoaynya yang jelita itu, apakah lantas membiarkan Ing-ing terkurung di gua Siau-lim-si yang dingin dan sunyi? Berpikir sampai di sini, seketika darah bergolak pula di rongga dadanya, serunya segera, “Percumalah menjadi manusia jika Wanpwe tidak dapat menolong Yim-siocia keluar dari Siau-lim-si. Tak peduli bagaimana hasil dari urusan ini, asalkan Wanpwe masih hidup kelak, Wanpwe pasti akan berkunjung ke Bu-tong-san untuk mengaturkan terima kasih kepada Cianpwe serta Tiong-hi Totiang.”

Kembali si kakek menghela napas, katanya, “Kau tidak mementingkan jiwamu, tidak mementingkan perguruanmu, tidak mementingkan nama baik dan hari depanmu, tapi lebih suka berbuat menuruti bisikan hatimu demi membela seorang perempuan dari Mo-kau, kelak kalau dia mengingkari kau dan berbalik membikin celaka kau, apakah kau takkan menyesal.”

“Jiwa Wanpwe ini diselamatkan oleh Yim-siocia, maka akan kukembalikan jiwaku ini untuknya, buat apa mesti merasa sayang dan menyesal?” sahut Lenghou Tiong.

“Baiklah, boleh kau pergi,” kata si kakek mengangguk.

Lenghou Tiong memberi hormat pula, lalu putar kembali ke tempat kawan-kawannya, katanya kepada Lo Thau-cu dan lain-lain. “Marilah berangkat!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: