Hina Kelana: Bab 90. Pat-kwa-kiam-tin Bu-tong-pay Dibikin Kocar-kacir oleh Lenghou Tiong

Karena orang-orang yang berkumpul ini terdiri dari berbagai golongan dan lapisan, tapi semuanya adalah manusia-manusia yang suka cari gara-gara. Mereka menjadi kegirangan dan bersorak-sorai mendengar perintah Lenghou Tiong itu.

Besok paginya, kembali ada beberapa puluh orang Kangouw yang datang menggabungkan diri. Lenghou Tiong memberi tugas kepada Coh Jian-jiu, Keh Bu-si, dan Lo Thau-cu untuk membikin panji-panji yang diperlukan serta membeli tambur dan sebagainya.

Menjelang tengah hari Coh Jian-jiu bertiga sudah menyelesaikan tugasnya, berpuluh panji putih dengan macam-macam semboyan yang tertulis di atasnya telah disiapkan. Hanya tambur yang kurang, cuma dua buah saja yang dapat dibeli.

“Marilah kita lantas berangkat, kota-kota yang kita lalui sepanjang perjalanan dapat kita singgahi untuk membeli lagi alat-alat yang kita perlukan,” kata Lenghou Tiong.

Semua orang bersorak mengiakan. Segera ada yang mulai membunyikan tambur, lalu berangkatlah mereka menuju ke utara dengan berbaris.

Lenghou Tiong sudah pernah menyaksikan anak murid Hing-san-pay disergap musuh di atas Sian-he-nia, maka sekarang ia lantas mengatur, tujuh kelompok diberi tugas tertentu. Dua kelompok di depan sebagai pelopor jalan, dua kelompok menjaga sayap kiri, dan dua kelompok menjaga sayap kanan. Satu kelompok lagi sebagai bala bantuan di belakang, selebihnya ikut dalam pasukan induk. Selain itu kelompok Sin-oh-pang dari Hansui diberi tugas sebagai kurir yang kian-kemari menyampaikan berita.

Sin-oh-pang adalah gerombolan orang-orang Kangouw setempat, wilayah pengaruhnya cukup luas, maka segala kabar berita yang penting dapat diketahui mereka dengan cepat.

Begitulah semua orang sama kagum dan tunduk melihat cara mengatur Lenghou Tiong yang rapi itu.

Selama beberapa hari dalam perjalanan, berturut-turut bergabung pula kelompok-kelompok dari berbagai tempat. Suatu hari sampailah mereka di kaki gunung Bu-tong-san.

“Lenghou-kongcu, kita harus melalui Bu-tong-san, apakah kita harus menghentikan suara tambur dan menggulung panji atau tetap lalu secara terang-terangan begini?” Coh Jian-jiu minta petunjuk kepada Lenghou Tiong.

Jawab Lenghou Tiong, “Bu-tong-pay adalah aliran persilatan nomor dua di dunia persilatan, pengaruh dan wibawanya cuma di bawah Siau-lim-pay saja. Kepergian kita buat menyambut Seng-koh ini sedapat mungkin menghindari percekcokan dengan Siau-lim-pay, dengan sendirinya lebih baik pula kalau kita pun tidak bersengketa dengan Bu-tong-pay. Maka sebaiknya kita mengitar ke jurusan lain saja sebagai tanda penghormatan dan keseganan kita terhadap Tiong-hi Totiang, itu ketua Bu-tong-pay yang hebat. Demikianlah pendapatku, entah bagaimana pikiran Saudara-saudara?”

“Apa yang dirasakan baik oleh Lenghou-kongcu, sudah tentu kami hanya menurut saja,” kata Lo Thau-cu. “Memangnya tujuan kita hanya menyambut pulang Seng-koh dan tidak ingin menimbulkan perkara lain dan menambah musuh. Apa gunanya kita terhambat oleh urusan yang berlawanan dengan maksud tujuan kita sekalipun Bu-tong-pay dapat kita tumpas umpamanya?”

“Benar, harap siarkan perintahku agar menggulung panji-panji dan menghentikan bunyi tambur, kita membelok dulu ke arah timur untuk kemudian mengitar lagi ke utara,” kata Lenghou Tiong.

Begitulah rombongan mereka lantas mengarah ke timur. Kira-kira beberapa puluh li jauhnya, tiba-tiba dua anggota Sin-oh-pang datang memberi lapor, “Di selat gunung belasan li sana telah menunggu beberapa ratus tosu, mereka mengaku dari Bu-tong-pay dan minta bicara dengan Bengcu.”

Seketika jago-jago di samping Lenghou Tiong menjadi gusar, mereka sama mengomel, “Kurang ajar benar kawanan tosu Bu-tong-pay itu! Kita menghargai mereka, sebaliknya mereka mengira kita takut kepada mereka. Kurang ajar, benar-benar minta diajar!”

“Coba kita maju ke sana untuk melihat apa maksud tujuan mereka,” ujar Lenghou Tiong. Segera ia mendahului melarikan kudanya ke depan dan mencapai selat gunung sana.

Ketika melihat datangnya Lenghou Tiong, kedua kelompok yang menjadi pelopor, yaitu Hong-bwe-pang dan Jing-liong-pang, sama bersorak-sorai.

Lenghou Tiong melompat turun dari kudanya, ia berlari maju dengan cepat, dilihatnya di ujung selat gunung situ berbaris beberapa puluh tojin berjubah hijau, semuanya bersenjata pedang, jalan lewat telah dirintangi mereka.

Lebih dulu Lenghou Tiong berpaling kepada kawan-kawannya dan berteriak nyaring, “Dengarkanlah kawan-kawan, Bu-tong-pay adalah kaum cing-pay terbesar di dunia persilatan, Tiong-hi Tojin malahan adalah orang kosen di zaman ini, maka kawan-kawan jangan sekali-kali bersikap sembrono, ada urusan apa-apa biarlah Cayhe yang menghadapinya sendiri,”

Lenghou Tiong sadar orang-orang yang dipimpinnya itu adalah kumpulan orang-orang Kangouw dari macam-macam lapisan, sudah biasa bertindak sesuka hati dan bebas, kata-kata mereka juga kasar, kalau sebelumnya tidak diperingatkan tentu akan menimbulkan penyakit nanti.

Begitulah para jago-jago itu serentak berseru gemuruh mengiakan. Barisan mereka itu memanjang sampai hitungan li jauhnya, tapi kata-kata Lenghou Tiong itu diucapkan dengan menggunakan tenaga dalam yang kuat, maka betapa pun jauhnya barisan itu dapatlah mendengar semuanya.

Suara mengiakan yang gemuruh dari beberapa ribu orang itu membikin kawanan tojin itu menjadi gentar juga, hal ini tampak dari air muka mereka yang berubah.

Lalu Lenghou Tiong berpaling kembali, katanya sembari memberi hormat kepada kawanan tojin itu, “Cayhe bersama rombongan hendak menuju ke Siau-lim-si untuk menjumpai Hong-ting Taysu dan untuk sesuatu urusan penting, kebetulan kami harus melalui Bu-tong-san sini, agar tidak menimbulkan kegaduhan yang bisa mengganggu ketenteraman para Totiang, maka kami sengaja mengitari jalanan ini. Harap maaf bila kami tidak menyampaikan kabar sebelumnya.”

“Kau inikah murid murtad Hoa-san-pay yang bernama Lenghou Tiong dan sekarang telah masuk Mo-kau bukan?” tegur seorang tojin berjenggot panjang sembari memasukkan pedang ke sarungnya. Sikap bicaranya sangat angkuh, kata-katanya juga kurang ramah.

Sebenarnya Lenghou Tiong adalah pemuda yang tidak tunduk kepada adat istiadat, juga tidak kenal apa artinya takut, kalau dalam keadaan biasa tentu dia kontan menjawab ucapan tojin itu dengan kata-katanya yang sama kasarnya. Tapi sejak dia diangkat menjadi bengcu oleh gembong-gembong Kangouw itu, mulai saat mana ia telah memperingatkan dirinya sendiri agar selanjutnya harus bertindak secara hati-hati dan pakai perhitungan, terutama mengingat kewajibannya dan betapa pentingnya tugas menolong Ing-ing yang terkurung di Siau-lim-si itu. Oleh karena itu walaupun kata-kata tojin jenggot panjang itu sangat menggusarkan hatinya tapi ia tetap menghadapi dengan tersenyum tawar saja, jawabnya, “Ya, Cayhe memang betul adalah Lenghou Tiong, murid buangan Hoa-san-pay. Tapi tuduhan masuk menjadi anggota Mo-kau adalah tidak betul.”

“Jika kau tidak masuk Mo-kau kenapa kau rela menjadi antek Hek-bok-keh dan mau memimpin manusia jahat dan cabul dari Mo-kau ini pergi mencari setori kepada Siau-lim-si?” kata pula tojin berjenggot panjang itu.

Belum Lenghou Tiong menjawab, mendadak Tho-kin-sian menimbrung, “Kau bilang kami adalah manusia jahat dan cabul dari Mo-kau, memangnya kau sendiri manusia baik dan terpuji dari Mo-kau? Kulihat jenggotmu terlalu panjang, betapa pun baiknya juga begitu-begitu saja.”

Baru kata “saja” diucapkan, serentak Tho-kan-sian, Tho-ki-sian, Tho-yap-sian, dan Tho-hoa-sian berempat sudah melompat maju, tahu-tahu tojin jenggot panjang itu telah kena dipegang kedua tangan dan kedua kakinya terus diangkat ke atas.

Pada detik yang hampir sama pula, dalam sekejap itu dari rombongan tojin-tojin itu pun melayang maju delapan sosok bayangan, delapan batang pedang telah menyambar tiba, enam pedang mengancam di punggung Tho-kok-lak-sian dua ujung pedang yang lain masing-masing mengancam tenggorokan dan perut Lenghou Tiong.

Cepat luar biasa menyambar tibanya kedelapan pedang tojin-tojin itu, cara menyerang mereka juga sangat rapat dan saling menutup titik kelemahan masing-masing, delapan orang laksana satu orang saja.

Begitu melihat gerakan pedang mereka segera Lenghou Tiong tahu mereka tidak bermaksud mencelakai lawan, maka Lenghou Tiong juga tidak menangkis dan membiarkan kedua pedang itu mengarah tempat berbahaya di tubuhnya, ia pikir asalkan kedua orang jelas bermaksud mencelakainya, sedikit ujung pedang mereka disodorkan seketika juga dirinya masih sempat melolos pedang dan mematahkan serangan mereka.

Terdengar keempat tosu membentak serentak, “Lepaskan!”

Karena punggung mereka terancam oleh ujung pedang, Tho-kin-sian berempat sadar tak bisa berbuat apa-apa lagi, terpaksa Tho-hoa-sian berkata dengan tertawa, “Lepas ya lepas, memangnya kau kira aku sudi memegangi dia lebih lama. Eh, awas, berdiri yang baik!”

Berbareng Tho-kin-sian berempat terus melemparkan tojin jenggot panjang itu ke atas. Seketika tojin itu merasa tubuhnya melayang ke udara dan entah akan terlempar ke mana, bukan mustahil akan terus melambung ke udara dan kecantol di cabang pohon atau terus terjerumus ke dalam jurang. Maka baru saja tubuhnya sedikit melambung ke atas, cepat ia mengerahkan tenaga “Jian-kin-tui” untuk menekan turun tubuhnya.

Tak terduga tenaga lemparan Tho-kok-si-sian itu ternyata sangat aneh dan nakal, tenaga lemparan semula memang naik ke atas, tapi tenaga pukulannya mendadak berubah menarik turun ke bawah, jadi mirip tenaga empat orang membantingnya ke tanah dengan sekuatnya.

Padahal tenaga gabungan Tho-kok-si-sian sedikitnya sudah ada seribu kati, ditambah lagi tenaga tekanan ke bawah yang dikerahkan sendiri oleh tojin jenggot panjang itu, keruan dia mirip dibanting dengan tenaga gabungan lima orang.

Ketika menyadari gelagat tidak menguntungkan, tojin itu menjerit, hampir berbareng tubuhnya lantas terbanting keras di atas batu padas, ruas tulangnya sampai berbunyi gemerutuk, entah patah entah retak, yang jelas darah lantas tersembur keluar dari mulutnya.

Pada saat itu juga Lenghou Tiong sudah lantas melolos pedang, terdengar suara mendering berulang-ulang, sekaligus ia telah menangkis pergi delapan pedang musuh.

Rupanya begitu melihat si tojin jenggot panjang terbanting begitu hebat dan bisa jadi terus mati, Lenghou Tiong menduga kedelapan tojin yang lain mungkin sekali akan terus menyerang serentak. Dan benar juga, sekaligus ia telah dapat mematahkan serangan mereka.

Gerak perubahan Tho-kok-si-sian juga sangat cepat, begitu pedang lawan tidak mengenai mereka, seketika mereka lantas lompat menyingkir.

“Wah, untung! Hampir saja celaka!” seru Tho-sit-sian.

“Ya, untung Lenghou-kongcu pernah belajar pedang padaku, dengan ilmu pedangku yang lihai itulah dia telah menyelamatkan kita,” ujar Tho-ki-sian.

“Ngaco-belo! Bilakah dia belajar pedang padamu?” semprot Tho-kin-sian.

Dalam pada itu, sesudah Lenghou Tiong sekaligus dapat menangkis serangan kedelapan pedang mereka, serentak kedelapan tojin itu lantas berputar kian kemari dengan cepat luar biasa, begitu berada di belakang Lenghou Tiong mereka lantas menusuk, kena atau tidak tusukan mereka bukan soal, segera mereka terus menggeser lagi ke tempat lain secara bergilir.

“Hati-hati Bengcu, inilah Pat-kwa-kiam-tin dari Bu-tong-pay!” seru Jik Ko.

Ketika di Hoa-san dahulu Lenghou Tiong pernah mendengar cerita gurunya tentang berbagai ilmu pedang terkenal dari macam-macam aliran di zaman ini. Antara lain dikatakan “Pat-kwa-kiam-hoat” Bu-tong-pay dan “Chit-sing-kam-hoat” Hing-san-pay mempunyai kebagusan yang hampir serupa walaupun dasarnya tidak sama.

Begitulah Lenghou Tiong dapat menangkis setiap serangan tojin-tojin itu, dilihatnya gerak pedang kedelapan orang dapat bahu-membahu, bantu-membantu dengan sangat rapat, sedikit pun tidak memperlihatkan lubang kelemahan.

Inti “Tokko-kiu-kiam” yang diyakinkan Lenghou Tiong adalah dalam hal kelihaian mengincar titik kelemahan ilmu silat musuh, jadi tanpa ikatan sesuatu jurus tertentu untuk mengalahkan jurus ilmu silat lawan yang tertentu. Maklum, betapa pun tinggi ilmu silat seorang, betapa bagus jurus serangannya, baik di kala menyerang maupun di waktu mengakhiri serangan biasanya pasti dapat diketemukan lubang kelemahan, sebab itulah tiada sesuatu gerak serangan di dunia ini yang tak dapat dipatahkan.

Cuma sekarang ilmu pedang gabungan kedelapan tojin ini ternyata sangat hebat, ada juga lubang-lubang atau ciri-ciri tertentu pada gerak serangan setiap orang, tapi selalu dapat ditutup oleh bantuan kawan yang lain sehingga sukar dipatahkan.

Untungnya kepandaian kedelapan tojin itu tidak terlalu tinggi, “Pat-kwa-kiam-hoat” itu agaknya baru dipelajari sehingga daya tekanan mereka kurang kuat. Meski seketika Lenghou Tiong tidak dapat membobolkan barisan pedang mereka, tapi serangan-serangan kedelapan tojin juga tidak mampu melukai Lenghou Tiong.

Kedelapan tojin itu berlari semakin kencang mengitari Lenghou Tiong, sampai orang-orang yang menonton di samping merasa pusing, bahkan ada yang merasa khawatir bagi sang bengcu.

“Mereka berdelapan mengerubut satu orang, hayolah kita pun maju lagi tujuh orang!” demikian seru Jik Ko.

“Nanti dulu,” sela Keh Bu-si. “Kedelapan orang itu mengutamakan kecepatan langkah mereka, padahal soal ilmu pedang jelas mereka bukan tandingan Lenghou-kongcu.”

Kata-kata ini seketika menyadarkan Lenghou Tiong, pikirnya, “Benar, ilmu pedang mereka dapat bekerja sama dengan rapat, tapi langkah kaki mereka jelas tak bisa saling membantu.”

Segera Lenghou Tiong berseru, “Setelah berkenalan dengan Pat-kwa-kiam-hoat Bu-tong-pay, ternyata memang benar sangat hebat. Kedelapan Totiang sudah selesai main pedang, sekarang silakan mundur saja.”

Akan tetapi tojin-tojin itu mana mau mengundurkan diri, mereka masih terus berlari cepat mengitari dan serangan demi serangan tetap dilancarkan.

Lenghou Tiong tersenyum, ia tanggalkan sarung pedang yang tergantung di pinggangnya, sarung pedang itu disodorkan miring ke atas tanah. Ketika seorang tojin berlari di sebelah dengan cepat dan tidak keburu mengerem, kakinya lantas kesandung sarung pedang, tubuhnya terhuyung-huyung ke depan, untung kuda-kudanya cukup kuat sehingga tidak sampai jatuh terjerembap.

Namun dengan lepasnya seorang dari barisan pedang, seketika Pat-kwa-kiam-tin itu bobol. Lenghou Tiong terus menggunakan sarung pedang untuk dipasang pada tempat-tempat yang harus dilintasi oleh kaki ketujuh tojin yang lain, maka terdengarlah suara seru kaget dan teriak kejut berulang-ulang. Lima dari ketujuh tojin itu sama kesandung oleh sarung pedang itu, ada yang menyelonong ke sana, ada yang sempoyongan ke sini, dalam sekejap saja tinggal dua orang tojin saja yang masih mampu berdiri menghadapi Lenghou Tiong, pedang mereka masih bergaya hendak menusuk, tapi ragu-ragu apakah serangan mereka diteruskan atau lebih baik disudahi. Melihat adegan demikian, bergemuruhlah tawa orang banyak.

“Para Sute silakan mundur!” teriak tojin jenggot panjang tadi. Ketika ia memberi tanda, kembali ada tiga orang tojin tampil ke muka. Bersama tojin jenggot panjang mereka ambil tempat empat sudut sehingga Lenghou Tiong terkurung di tengah.

“Namamu akhir-akhir ini mengguncangkan Kangouw, nyatanya memang punya beberapa jurus aneh dari golongan iblis dan sia-pay,” kata tojin jenggot panjang. “Cuma pertandingan tadi telah kau selingi dengan cara main jegal, cara demikian rasanya kurang wajar.”

“Numpang tanya siapakah gelaran Totiang dan pernah apa dengan Tiong-hi Totiang?” tanya Lenghou Tiong.

“Asalkan kau mampu mengalahkan kami berempat dan boleh segera lalu, buat apa banyak bicara lagi,” sahut tojin jenggot panjang. Begitu ia berseru memberi tanda, serentak empat pedang menusuk dari empat jurusan. Dari sambaran angin yang dibawa oleh pedang mereka itu terang tenaga keempat tojin itu sangat kuat, jauh lebih lihai daripada kedelapan tojin yang duluan.

Tapi baru bergebrak satu jurus saja Lenghou Tiong lantas merasa heran, “Menurut cerita suhu dahulu, katanya ilmu silat Bu-tong-pay mengutamakan kelunakan dan kesabaran. Tapi permainan pedang keempat tojin ini jelas lebih banyak memakai kekerasan dan menyerang secara bernafsu, hal ini menandakan berita di luar tentang ilmu silat Bu-tong-pay tidak seluruhnya betul.”

Aneh pula bahwa ilmu pedang keempat tojin ini jauh lebih lihai daripada kedelapan tojin yang dahuluan, tapi dalam hal kerja sama ternyata tidak serapi dan sebaik kedelapan tojin itu.

Tidak lama kemudian, dengan gampang Lenghou Tiong lantas melihat titik kelemahan ilmu pedang keempat lawan itu. “Cret”, seketika pedangnya menusuk robek lengan baju salah seorang tojin.

Tojin itu melengak kaget, menyusul serangan Lenghou Tiong telah memapas sepotong kain jubah tojin yang lain. Ketika pedangnya berputar balik, “sret”, tahu-tahu rambut tojin ketiga telah terkupas putus sehingga rambutnya morat-marit tak keruan. Tinggal lagi si tojin jenggot panjang itu, Lenghou Tiong rada mendongkol karena kata-kata tojin berjenggot ini rada kasar, maka ia sengaja hendak membuat malu padanya. “Sret-sret” dua kali, pedangnya menusuk ke perut lawan, lalu menusuk mukanya.

Lekas-lekas tojin itu hendak menangkis, siapa tahu serangan-serangan Lenghou Tiong itu hanya pura-pura saja, ketika pedang si tojin menangkis ke bawah untuk menjaga perutnya, sekonyong-konyong jenggotnya sudah terpapas sebagian oleh pedang Lenghou Tiong. Waktu tojin itu kerepotan hendak mengangkat pedangnya buat menjaga mukanya lagi, “sret”, tahu-tahu pedang Lenghou Tiong sudah menyambar ke bawah, ikat pinggang jubahnya dan bahkan ikat celananya juga ikut terpotong putus.

Berturut-turut empat kali serangan Lenghou Tiong itu telah membikin si tojin berjenggot menjadi kelabakan, sudah sadar bahwa celananya telah kedodoran dan merosot ke bawah, tapi dia tidak sempat menggunakan tangannya untuk menarik celana, walaupun sebelah tangan menganggur, namun setiap serangan Lenghou Tiong yang menyusul selalu mengancam tangan kiri yang menganggur itu sehingga dia terpaksa mesti menyelamatkan tangannya dan membiarkan celananya melorot.

Keruan semua orang yang menyaksikan itu bergelak tertawa geli.

Ketiga tojin yang lain tahu bahwa Lenghou Tiong sengaja mengampuni jiwa mereka, maka mereka tidak berani bertempur lagi dan terus mengundurkan diri.

Sementara itu tojin jenggot panjang itu hampir-hampir jatuh terjerembap karena tersangkut oleh celananya sendiri yang melorot ke betis itu, keruan kelakuannya menjadi sangat lucu. Untung jubahnya sangat panjang sehingga bagian bawah badannya masih tertutup, kalau tidak tentu dia sangat malu lantaran tak bercelana lagi.

“Maaf!” Lenghou Tiong tidak mendesak lebih jauh, ia memasukkan pedang ke sarungnya dan melangkah mundur.

Sebaliknya tojin jenggot panjang menjadi tambah gusar, pedangnya lantas menusuk lagi ke dada Lenghou Tiong. Namun Lenghou Tiong hanya tersenyum saja tanpa berkelit. Ketika ujung pedang tojin itu hanya beberapa senti di depan dada sasarannya, sekonyong-konyong ia tertegun dan tidak meneruskan tusukannya, ia pikir ilmu silat lawan selisih sangat jauh di atasnya, jika tusukannya itu diteruskan, bukan mustahil pihak lawan menjadi murka dan tidak memberi ampun lagi, sekali balas menyerang pasti jiwanya sendiri akan melayang. Maka setelah tertegun sejenak, akhirnya ia melemparkan pedang sendiri dan berjongkok untuk membetulkan celananya.

Keruan suara tertawa para jago bertambah riuh. Para tosu yang berdiri di sebelah sana ada yang merasa malu, ada yang merasa gusar pula. Tojin jenggot panjang itu lantas putar tubuh, dengan tangan kiri masih memegangi celana yang putus tali kolornya, ia memberi tanda kepada anak buahnya, lalu mundur teratur bersama kawanan tosu itu.

Di tengah bergelak tertawa para jago-jago itu, beramai-ramai mereka pun memuji kelihaian ilmu pedang Lenghou Tiong. Tapi Lenghou Tiong sendiri justru lagi menyesal akan kejadian tadi, pikirnya, “Tindak tandukku selalu terburu nafsu tanpa memikirkan kemungkinan akibatnya. Meski aku mendapat kemenangan, tapi nama baik Bu-tong-pay telah tersapu bersih, ini berarti telah menanam bibit permusuhan, sebenarnya apa gunanya?”

Terdengar Coh Jian-jiu sedang berkata, “Ilmu pedang Lenghou-kongcu sungguh sakti, baru hari ini kita dapat menyaksikannya. Sayang di sini tidak ada arak, kalau tidak kita harus minum sepuas-puasnya sebagai tanda memberi selamat.”

Seketika Lenghou Tiong merasa ketagihan mendengar disebutnya arak, katanya, “Baiklah, mari kita pergi ke kota di depan sana untuk minum sepuasnya.”

Namun jumlah mereka terlalu banyak, kota-kota yang dilalui mereka tiada cukup banyak hotel dan restoran yang sanggup menampung mereka. Terpaksa mereka harus berkemah di tanah pegunungan yang sunyi di luar kota.

Besoknya mereka melanjutkan perjalanan ke utara, kira-kira belasan li jauhnya, pengintai bagian depan datang melapor bahwa di jalan pegunungan di depan sana diketemukan beberapa puluh sosok mayat kaum tosu, agaknya rombongan tosu yang mencegat mereka kemarin itu.

Lenghou Tiong terkejut oleh laporan itu, cepat ia melarikan kudanya ke depan, benar juga, di suatu simpang jalan bergelimpangan beberapa puluh mayat, di antaranya terdapat pula tojin berjenggot panjang.

“He, lihatlah, Bengcu!” seru Keh Bu-si sambil menunjuk sebatang pohon besar.

Ternyata di batang pohon itu sebagian kulit pohon terkupas, di situ terukir beberapa huruf dengan ujung senjata, bunyinya: “Kawanan penjahat memalsukan nama, dosanya tidak boleh diampuni.”

“O, kiranya kawanan tojin ini bukan orang Bu-tong-pay,” ujar Coh Jian-jiu. “Tampaknya mereka telah dibunuh oleh pihak Bu-tong-pay.”

“Buat apa mereka menyaru sebagai orang Bu-tong-pay? Entah dari mana pula asal usul mereka ini? Sungguh aneh bin heran!” kata Lo Thau-cu.

Mendadak pikiran Lenghou Tiong tergerak, katanya, “Cobalah kawan-kawan periksa mereka, apakah kedelapan tojin yang bertempur dengan aku kemarin juga terdapat di antara mereka?”

Segera Keh Bu-si, Coh Jian-jiu, Lo Thau-cu, dan lain-lain memeriksa mayat-mayat kawanan tosu itu, benar juga kedelapan tojin yang main Pat-kwa-kiam-tin kemarin itu tidak diketemukan.

“Mengapa bisa demikian?” ujar Coh Jian-jiu dengan heran. “Lenghou-kongcu tentu tahu duduknya perkara.”

“Aku juga cuma menerka secara ngawur saja,” sahut Lenghou Tiong. “Meskipun ilmu pedang kedelapan tojin itu tidak terlalu tinggi, tapi permainan mereka sangat rapi dan teratur, kalau orang yang meniru dan baru belajar tentu takkan mencapai tingkatan seperti mereka itu.”

“Jika begitu, jadi kedelapan tojin itulah benar-benar orang dari Bu-tong-pay?” tanya Coh Jian-jiu.

“Pengalamanku sendiri sangat cetek dan tidak tahu persis bagaimana sesungguhnya ilmu pedang Bu-tong-pay yang tersohor itu,” sahut Lenghou Tiong. “Cuma dari ilmu pedang keempat tosu yang mati ini, jelas kepandaian mereka tidak sama, mereka masing-masing memiliki kepandaian yang tinggi, tampaknya mereka bukan berasal dari suatu aliran atau perguruan. Kemarin hatiku sudah rada curiga, hanya tidak terpikir olehku bahwa mereka adalah orang Bu-tong-pay gadungan.”

“Orang Bu-tong-pay tulen bercampur dengan orang Bu-tong-pay gadungan, hal ini sungguh sukar dimengerti,” kata Coh Jian-jiu.

“Menurut pendapatku, besar kemungkinan kedelapan tosu Bu-tong-pay tulen sengaja dipaksa ke sini oleh kawanan pemalsu itu,” ujar Keh Bu-si.

“Benar, memang Si Kucing Malam lebih tajam otaknya,” seru Lo Thau-cu sambil tepuk paha. “Rupanya kawanan pemalsu ini khawatir terbongkar rahasianya, maka mereka telah mencari beberapa orang Bu-tong-pay tulen untuk dijadikan tameng, dengan demikian kita akan dikelabui.”

“Jangan-jangan kawanan pemalsu ini adalah orang-orang yang dikirim Kaucu dari Hek-bok-keh?” ujar Keh Bu-si.

Mendengar disebutnya “Kaucu dari Hek-bok-keh”, seketika air muka semua orang berubah takut.

Dengan tertawa Lenghou Tiong lantas berkata, “Tak peduli mereka dari mana asalnya, yang jelas bukan kita yang membunuh mereka. Jika benar Bu-tong-pay yang membunuh mereka, itu berarti Bu-tong-pay berada di pihak kita, lalu apa lagi yang kita khawatirkan?”

Beberapa hari kemudian, sudah jauh mereka meninggalkan lereng Bu-tong-san, sepanjang jalan ternyata tiada terjadi apa-apa lagi. Petang itu, ketika barisan mereka sedang berjalan, tiba-tiba terdengar suara “keteprak-keteprak”, suatu telapak kaki binatang tunggangan. Tertampaklah dari depan mendatangi seorang penunggang keledai, di belakang keledai mengikut pula dua orang, semuanya berdandan sebagai petani, yang satu memikul sayuran, yang lain memikul kayu bakar.

Keledai itu tampak sudah tua lagi kurus, badannya penuh kudisan, rupanya sangat jelek. Penunggangnya juga seorang tua dengan pakaian rombeng penuh tambalan, badannya membungkuk-bungkuk sambil terbatuk-batuk.

Sepanjang perjalanan rombongan jago-jago Kangouw itu selalu bergembar-gembor riuh ramai, setiap orang di jalanan tentu ketakutan dan lekas-lekas menyingkir bila bertemu dengan barisan besar ini jika tidak ingin menghadapi malapetaka. Tapi ketiga orang ini ternyata lain daripada yang lain, terang mereka melihat barisan besar itu, tapi mereka anggap seperti tidak tahu dan masih terus menerjang ke depan.

“He, kau cari mampus?” bentak Tho-kan-sian sembari mendorong ke depan. Kontan keledai kurus itu meringkik terus terbanting ke tengah sawah di tepi jalan dengan tulang patah.

Si kakek yang menunggang keledai itu juga ikut terbanting jatuh ke atas tanah, ia merintih kesakitan dan sampai sekian lamanya tidak sanggup berbangkit.

Dari kecil Lenghou Tiong sering mendapat petuah dari sang guru agar membantu yang lemah dan memberantas kezaliman, menolong yang miskin dan membantu orang tua. Sekarang menyaksikan si kakek didorong jatuh oleh Tho-kan-sian, ia menjadi tidak enak perasaannya, cepat ia melompat untuk membangunkannya dan berkata, “Apakah kau terbanting sakit, Bapak Tua?”

“Ini … ini apa-apaan, aku … aku ….” orang tua itu tergagap-gagap sambil meringis.

Dalam pada itu kedua petani tadi sudah menaruh pikulan mereka, lalu berdiri tegak di tengah jalan. Laki-laki yang memikul sayur itu berseru, “Di sini adalah lereng Pegunungan Bu-tong, kalian ini orang-orang macam apa, berani sembarangan mengganggu dan memukul orang di sini?”

“Kalau di lereng Pegunungan Bu-tong, lalu ada apa?” sahut Tho-kan-sian tertawa.

“Di kaki Bu-tong-san sini setiap orangnya bisa main silat, kalian orang dari daerah lain berani main gila ke sini, bukankah itu berarti kalian tidak tahu gelagat dan ingin cari penyakit?” kata orang itu.

Usia kedua laki-laki petani itu rata-rata sudah 50-an, semuanya telanjang kaki dan cuma memakai sepatu sandal dari rumput kering, muka mereka pucat dan badan kurus, waktu bicara pemikul sayur ini malahan tampak terengah-engah napasnya, tapi ternyata mengaku mahir silat. Keruan tertawalah orang banyak.

“Apakah kau sendiri mahir ilmu silat?” demikian Tho-hoa-sian bertanya dengan tertawa.

“Di kaki Bu-tong-san sini anak umur tiga tahun sudah bisa main pukulan, anak umur lima tahun sudah mahir main pedang, kenapa mesti heran?” sahut pemikul sayur.

“Dan dia, apakah dia juga mahir main pukulan?” tanya Tho-hoa-sian pula sambil menuding laki-laki pemikul kayu tadi.

“Aku … aku … di waktu kecil aku memang pernah belajar beberapa bulan lamanya,” kata laki-laki pemikul kayu itu. “Tapi sudah berpuluh tahun aku tidak pernah berlatih, mungkin … mungkin sekali sekarang sudah kaku.”

Si tukang pikul sayur lantas menyambung, “Ilmu silat Bu-tong-pay nomor satu di dunia ini, cukup berlatih beberapa bulan saja pasti kau tidak mampu melawannya.”

“Bagus, jika begitu cobalah kau pertunjukkan beberapa jurus kepadaku,” ujar Tho-hoa-sian dengan tertawa.

“Beberapa jurus bagaimana? Biar kumainkan juga kalian tidak paham,” ujar si tukang pikul kayu.

Kembali bergemuruhlah gelak tawa orang banyak, sebagian berseru, “Kami tidak paham, kami hanya ingin tahu!”

“Ai, jika demikian terpaksa akan kumainkan beberapa jurus saja, cuma entah terlupa tidak,” kata pemikul kayu itu. “Eh, tuan besar mana yang sudi meminjamkan pedang padaku.”

Segera seorang mengangsurkan pedang kepadanya dan diterima oleh laki-laki itu, ia melangkah ke tengah sawah yang tanahnya sudah kering itu, lalu pedangnya menusuk ke kanan dan menebas ke kiri, begitulah ia mulai main, tapi baru tiga-empat kali, mendadak ia berhenti karena lupa lanjutannya, ia garuk-garuk kepala dan cakar-cakar kuping sembari mengingat-ingat, lalu main lagi beberapa jurus.

Melihat permainannya itu sama sekali tidak keruan, gerak-geriknya juga lamban dan ketolol-tololan, semua orang sama tertawa terpingkal-pingkal.

“Apanya yang lucu, kenapa kalian tertawa?” ujar laki-laki pemikul sayur. “Coba pinjami pedang, aku pun akan main beberapa jurus.”

Setelah pegang pedang segera ia pun membacok dan menusuk serabutan, gerakannya sangat cepat dan caranya seperti orang gila, keruan orang banyak tambah geli menertawakannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: