Hina Kelana: Bab 89. Beramai-ramai Menolong Ing-ing

Lenghou Tiong menjadi teringat kepada kejadian di Ngo-pah-kang tempo hari ketika berbagai golongan orang Kangouw sama menyanjung Ing-ing, lalu teringat pula waktu si nona menjadi marah, kontan tiga orang lantas mencukil biji matanya sendiri. Sekarang diketahui Ing-ing terkurung di Siau-lim-si, sudah tentu semua orang ingin pergi menolongnya tanpa menghiraukan dirinya sendiri.

“Bok-supek,” tanya Lenghou Tiong, “tadi engkau mengatakan bahwa beramai-ramai mereka berebut menjadi kepala dan bertengkar sendiri, sebenarnya bagaimana duduknya perkara?”

Bok-taysiansing menghela napas, katanya, “Dasar petualang dan orang-orang tersesat, selain mereka mau tunduk di bawah perintah Yim-taysiocia, biasanya mereka sama sombong dan takabur, suka berkelahi dan ingin menang sendiri, satu sama lain tidak mau saling mengalah. Sekarang yang dihadapi adalah Siau-lim-pay, mereka bersepakat untuk mengumpulkan kawan sebanyak mungkin dan menuju ke sana dengan berserikat. Untuk berserikat dengan sendirinya harus ada seorang pemimpin. Kabarnya lantaran berebut menjadi pemimpin perserikatan, selama beberapa hari ini mereka telah saling bergebrak, banyak yang terluka dan bahkan ada yang mati. Lenghou-laute, kukira kau perlu lekas-lekas ke sana, hanya kau saja yang dapat mengatasi mereka, apa yang kau katakan tentu tiada satu pun yang berani membangkang. Hahaha!”

Lenghou Tiong tahu apa yang dikatakan Bok-taysiansing itu memang tidak salah, tapi ia pun tahu sebabnya gembong-gembong Kangouw itu mau tunduk padanya hanya karena pengaruh Ing-ing saja. Kelak kalau hal ini diketahui si nona tentu dia akan marah-marah lagi. Memang diketahuinya si nona sangat mendalam cinta padanya, hanya saja perasaan cinta itu malu untuk ditonjolkan secara terang-terangan, terutama kalau ada orang mengatakan si nona cuma bertepuk sebelah tangan saja karena cintanya tak terbalas.

“Aku harus membalas maksud baik Ing-ing,” demikian pikir Lenghou Tiong. “Aku harus membuat semua orang Kangouw sama mengetahui bahwa aku pun sangat mencintai Yim-siocia dan tidak segan mengorbankan jiwa baginya. Aku harus pergi ke Siau-lim-si seorang diri, paling baik kalau aku dapat menyelamatkan dia, kalau tidak sedikitnya aku harus membikin gempar agar setiap orang tahu akan usahaku untuk menyelamatkan dia ini.”

Begitulah kemudian ia berkata kepada Bok-taysiansing, “Ting-sian dan Ting-yat Supek dari Hing-san-pay sudah menuju ke Siau-lim-si untuk meminta Hongtiang Siau-lim-si sudi melepaskan Yim-siocia agar tidak mengakibatkan banjir darah.”

“O, pantas, pantas!” ujar Bok-taysiansing. “Makanya aku sangat heran orang yang begitu prihatin seperti Ting-sian bisa memercayai kau mendampingi anak muridnya yang masih muda belia itu dan dia sendiri berangkat ke lain tempat, kiranya dia hendak menjadi juru damai bagimu.”

“Bok-supek, setelah mengetahui hal ini Siautit menjadi sangat gelisah dan ingin terbang ke Siau-lim-si kalau bisa untuk menyaksikan bagaimana hasil usaha kedua suthay yang baik hati itu,” kata Lenghou Tiong. “Cuma para suci dan sumoay Hing-san-pay ini adalah kaum wanita semua, bila di tengah jalan nanti mengalami apa-apa, hal ini menjadi serbasalah bagiku.”

“Jangan khawatir, boleh kau pergi saja,” kata Bok-taysiansing.

“Siautit boleh berangkat dulu, tidak berhalangan?” Lenghou Tiong menegas dengan girang.

Bok-taysiansing tidak menjawab lagi, ia ambil rebab yang disandarkan di tepi bangku, lalu mulai memetiknya.

Lenghou Tiong tahu, sekali Bok-taysiansing menyuruhnya berangkat, itu berarti menyanggupi akan menjaga anak murid Hing-san-pay. Maka cepat ia memberi hormat dan mengucapkan terima kasih.

“Sesama Ngo-gak-kiam-pay adalah layak kalau aku membantu Hing-san-pay, perlu apa kau mengucapkan terima kasih segala?” ujar Bok-taysiansing dengan tertawa. “Kalau kelakuanmu ini diketahui Yim-siocia itu mungkin dia akan cemburu.”

Setelah mengucapkan terima kasih lagi, segera Lenghou Tiong melangkah pergi dengan cepat menuju ke utara, suara rebab Bok-taysiansing makin lama makin sayup-sayup, sangat memilukan kedengarannya di malam sunyi.

Tanpa berhenti Lenghou Tiong berjalan cepat sejauh beberapa puluh li, terasa tenaga dalam timbul tak terputus, sedikit pun tidak terasa lelah. Paginya sampailah dia di suatu kota, ia masuk suatu rumah makan, sekaligus ia menghabiskan tiga mangkuk bakmi.

Keluar dari rumah makan itu, tiba-tiba dilihatnya dari depan datang suatu rombongan orang, seorang di antaranya pendek gemuk, jelas dikenalnya sebagai satu di antara “Hongho Lo-coh”, yaitu Lo Thau-cu.

Dengan girang Lenghou Tiong terus berteriak, “Hei, Lo Thau-cu, apa kabar!”

Melihat Lenghou Tiong, seketika air muka Lo Thau-cu berubah aneh, setelah ragu-ragu sejenak, mendadak ia lolos goloknya.

Tanpa curiga Lenghou Tiong mendekati dan bertanya lagi, “Bagaimana dengan Coh Jian-jiu ….” belum habis ucapannya, kontan golok Lo Thau-cu membacok ke arahnya, serangannya sangat kuat, hanya incarannya sangat tidak tepat, sedikitnya selisih satu depa dari bahu Lenghou Tiong.

Tentu saja Lenghou Tiong kaget. Cepat ia melompat mundur sambil berseru, “He, Lo-siansing, aku … aku ini Lenghou Tiong!”

“Sudah tentu aku tahu kau Lenghou Tiong,” kata Lo Thau-cu. “Wahai dengarkan kawan-kawan! Tempo hari Seng-koh pernah memberi perintah, siapa saja yang memergoki Lenghou Tiong harus membunuhnya. Apakah perintah Seng-koh itu masih kalian ingat?”

“Ya, tahu!” seru semua orang beramai-ramai. Walaupun begitu mereka berkata, tapi mereka hanya pandang-memandang saja satu sama lain, air muka mereka sangat aneh, tiada seorang pun yang lolos senjata dan maju menyerang, bahkan ada di antaranya hanya tersenyum-senyum saja, sedikit pun tidak bersikap memusuhi.

Muka Lenghou Tiong menjadi merah, teringat olehnya perintah Ing-ing kepada Lo Thau-cu dahulu itu agar disiarkan ke dunia Kangouw agar setiap orang membunuh Lenghou Tiong bila melihatnya. Maksud perintah itu pertama-tama agar Lenghou Tiong terpaksa mesti mendampinginya senantiasa, kedua, supaya setiap orang Kangouw mengetahui bahwa Ing-ing tidak kesengsem kepada Lenghou Tiong, sebaliknya sangat benci padanya.

Rupanya perintah yang disiarkan Lo Thau-cu itu agaknya tidak dipercayai oleh orang-orang Kangouw itu. Kemudian berita tentang dikurungnya Ing-ing di Siau-lim-si dalam usahanya menyelamatkan jiwa Lenghou Tiong dibocorkan pula tanpa disengaja oleh anak murid Siau-lim-pay, seketika dunia Kangouw menjadi gempar. Setiap orang memuji cinta murni Ing-ing itu, tapi juga tertawa geli akan sifat tinggi hatinya itu, sudah terang jatuh cinta, tapi tidak mau mengaku dan malahan sengaja menutup-nutupi perasaannya. Hal ini tidak cuma diketahui oleh orang-orang Kangouw yang tunduk di bawah perintah Ing-ing, bahkan orang-orang yang golongan cing-pay juga mendengar berita itu dan sering dibuat bahan percakapan yang menarik. Sekarang munculnya Lenghou Tiong secara mendadak mau tak mau membikin Lo Thau-cu dan kawan-kawannya itu melengak.

“Lenghou-kongcu,” demikian kata Lo Thau-cu pula, “meski Seng-koh ada perintah agar aku membunuh kau tapi ilmu silatmu teramat tinggi, bacokanku tadi tidak mengenai kau, malahan engkau yang telah mengampuni jiwaku karena tidak balas menyerang, sungguh aku harus berterima kasih padamu. Nah, para kawan telah ikut menyaksikan, bukan kita tidak mau membunuh Lenghou-kongcu, yang benar adalah karena tidak mampu membunuhnya. Aku Lo Thau-cu tidak mampu, tentu saja kalian lebih-lebih tidak mampu, betul tidak?”

“Betul!” jawab orang banyak yang gelak tertawa. “Kita telah bertempur mati-matian dan kehabisan tenaga, tapi siapa pun tidak mampu membunuh Lenghou-kongcu, terpaksa kita akhiri bertempur. Sekarang boleh kita coba bertempur minum arak saja, coba saja siapa yang mampu membinasakan Lenghou-kongcu dengan arak agar kelak dapat dipertanggungjawabkan kepada Seng-koh.”

“Bagus, usul yang bagus!” teriak orang banyak sambil tertawa terpingkal-pingkal. Sebagian lantas menyambung pula, “Seng-koh hanya menyuruh kita membunuh Lenghou-kongcu dan tidak menentukan apa harus pakai senjata atau tidak. Kalau kita bikin dia mati mabuk dengan arak kan juga boleh? Ini namanya tidak dapat melawan dengan tenaga harus dilawan dengan akal.”

Riuh ramailah sorak-sorai mereka, berbondong-bondong mereka mengiring Lenghou Tiong menuju suatu restoran yang paling besar di kota ini, 40 orang lebih memenuhi empat meja besar. Belum mereka berduduk semua sudah ada beberapa orang di antaranya berteriak-teriak minta dibawakan arak.

Sejak minum arak enak keluaran Turfan bersama Tan-jing-sing di Hangciu tempo hari, sebegitu jauh Lenghou Tiong tidak sempat minum arak lagi sepuas-puasnya, terkadang ia pun suka minum sendiri, tapi rasanya hampa karena tak berteman. Sekarang ia benar-benar gembira menghadapi gembong-gembong Kangouw yang berjiwa tulus, begitu ambil tempat duduk segera ia bertanya, “Sebenarnya bagaimana keadaan Seng-koh? Sungguh aku sangat cemas baginya.”

Mendengarkan Lenghou Tiong memerhatikan keselamatan Ing-ing, orang-orang itu menjadi girang, Lo Thau-cu lantas menjawab, “Kawan-kawan telah menetapkan tanggal 15 bulan 12 yang akan datang ini akan berangkat ke Siau-lim-si untuk menyambut pulangnya Seng-koh. Akhir-akhir ini berhubung berebut menjadi bengcu (pemimpin atau ketua serikat), para kawan telah bertengkar tidak habis-habis. Sekarang semuanya akan menjadi beres dengan datangnya Lenghou-kongcu. Siapa lagi yang cocok menjadi bengcu jika bukan engkau?”

“Tepat,” seru seorang tua ubanan. “Asalkan Lenghou-kongcu yang memimpin, andaikan ada kesulitan dan Seng-koh tak dapat disambut pulang untuk sementara, asal beliau mendapat kabar tentang usaha Lenghou-kongcu ini tentu juga beliau sangat girang. Maka jabatan bengcu ini benar-benar sudah ditakdirkan harus diduduki oleh Lenghou-kongcu.”

“Siapa yang menjabat bengcu adalah soal kecil,” kata Lenghou Tiong. “Yang penting adalah Seng-koh harus diselamatkan. Untuk mana sekalipun badanku harus hancur lebur juga aku siap saja.”

Ucapan Lenghou Tiong ini bukan bualan belaka. Ia benar-benar berterima kasih atas pengorbanan Ing-ing, kalau dia diharuskan mati bagi Ing-ing memang tidak perlu disangsikan lagi akan segera dilakukannya. Sekarang perasaannya ini sengaja diucapkannya di hadapan orang banyak, Ing-ing tidak lagi ditertawai orang karena si nona hanya bertepuk sebelah tangan alias cinta tak terbalas.

Maka senang dan legalah semua orang mendengar pernyataan Lenghou Tiong itu, mereka sama mengakui pandangan Seng-koh ternyata tidak meleset terhadap pemuda pilihannya.

Si orang tua beruban tadi she Jik bernama Ko, dengan tertawa ia berkata lagi, “Kiranya Lenghou-kongcu memang seorang kesatria yang berbudi luhur dan bukan manusia berhati dingin sebagaimana disiarkan orang dahulu.”

“Selama beberapa bulan Cayhe terjebak oleh perangkap orang jahat dan terkurung, maka hampir tidak mengetahui segala sesuatu kejadian di dunia Kangouw. Namun rasa rinduku kepada Seng-koh siang dan malam membikin rambutku hampir ubanan,” kota Lenghou Tiong. “Marilah mari, terimalah rasa terima kasihku atas bantuan dan perjuangan saudara-saudara sekalian atas keselamatan Seng-koh.”

Menyusul ia terus berbangkit dan sama menghabiskan satu cawan arak bersama orang banyak. Lalu ia berkata lagi, “Lo-siansing, kau bilang para kawan sedang bertengkar rebutan jabatan bengcu, rupanya urusan ini tidak boleh ditunda, marilah kita lekas berangkat ke sana untuk menghentikan persengketaan mereka. Entah sekarang mereka berkumpul di mana?”

“Mereka berkumpul di Hong-po-peng,” jawab Lo Thau-cu.

“Hong-po-peng? Di mana letak tempat itu?” tanya Lenghou Tiong.

“Di lereng pegunungan di barat Kota Siangyang,” tutur Lo Thau-cu.

“Jika demikian, marilah kita lekas makan minum, lalu cepat menyusul ke sana.”

Begitulah di tengah perjalanan mereka bertemu pula dengan dua rombongan orang-orang gagah yang juga sedang menuju ke Hong-po-peng, gabungan tiga rombongan jumlahnya sudah ada 100 orang lebih.

Lenghou Tiong jalan berendeng dengan Lo Thau-cu, ia tanya orang tua itu, “Bagaimana keadaan putrimu si Siau Ih? Apakah sudah baik?”

“Banyak terima kasih atas perhatian Kongcu,” sahut Lo Thau-cu. “Dia belum baik sama sekali, tapi juga tidak terlalu buruk.”

Ada suatu pertanyaan yang selalu menggoda pikiran Lenghou Tiong selama ini, melihat orang-orang lain rada ketinggalan jauh di belakang, segera ia tanya pula, “Semua kawan sama mengatakan utang budi kebaikan kepada Seng-koh. Cayhe sungguh-sungguh tidak mengerti, usia Seng-koh masih muda belia, cara bagaimana dia bisa menanam budi kebaikan kepada kawan-kawan Kangouw sebanyak ini?”

“Kongcu benar-benar tidak tahu seluk-beluk soal ini?” tanya Lo Thau-cu sambil berpaling ke arahnya.

“Tidak tahu,” jawab Lenghou Tiong.

“Kongcu bukan orang luar, mestinya tidak perlu dirahasiakan. Cuma setiap orang sudah pernah bersumpah kepada Seng-koh bahwa rahasia ini takkan dibocorkan. Maka terpaksa mohon Kongcu sudi memaafkan.”

“Jika demikian, baiklah jangan kau ceritakan.”

“Kelak Seng-koh yang menceritakan sendiri kepada Kongcu kan jauh lebih baik?”

“Ya, semoga selekasnya akan tiba hari yang diharapkan ini,” kata Lenghou Tiong.

Ketika rombongan besar mereka sampai di Hong-po-peng, sementara itu sudah jauh malam. Dari jauh sudah terdengar hiruk-pikuk orang saling caci maki diseling suitan dan teriakan. Sesudah dekat, di bawah sinar bulan Lenghou Tiong melihat di suatu tanah lapang yang dikelilingi lereng-lereng bukit itu berkumpul orang sedemikian banyaknya, sedikitnya ada ribuan.

“Jabatan bengcu selamanya hanya dipangku oleh satu orang saja,” demikian terdengar seorang berteriak dengan marah, “sekarang kalian berenam ingin menjadi bengcu sekaligus, lalu bengcu macam apakah ini?”

“Kami berenam merupakan satu orang dan satu orang sama dengan enam orang, asal kalian sama tunduk kepada kami berenam saudara, maka berarti kami sudah menjadi bengcu. Nah, jangan kau banyak bacot lagi, kalau rewel lagi bukan mustahil kami akan membeset tubuhmu menjadi empat potong,” demikian teriak seorang lain.

Tanpa melihat orangnya segera Lenghou Tiong dapat mengetahui pembicara terakhir itu adalah satu di antara “Tho-kok-lak-sian”. Hanya suara mereka berenam saudara itu satu sama lain hampir mirip, maka sukar dibedakan siapa yang berbicara.

Rupanya pembicara pertama tadi menjadi ketakutan oleh ancaman itu dan tidak berani buka suara lagi. Tapi orang-orang banyak itu jelas tidak mau tunduk kepada Tho-kok-lak-sian, ada yang berteriak-teriak mengejek dari jauh, ada yang mencaci maki secara sembunyi-sembunyi di pelosok yang gelap. Bahkan ada melemparkan batu dan menaburkan pasir ke tengah kalangan. Suasana menjadi kacau.

“Siapa yang melempar batu padaku?” teriak Tho-yap-sian.

“Ayahmu!” jawab satu orang dari tempat yang tak kelihatan.

“Apa? Kau adalah ayah kakakku?” seru Tho-hoa-sian dengan gusar.

“Belum tentu!” sahut seorang lagi.

Serentak gemuruhlah gelak tertawa beberapa ratus orang.

“Kenapa belum tentu?” tanya Tho-hoa-sian bingung.

“Aku pun tidak tahu, sebab aku cuma punya seorang anak,” sahut lagi seorang lain.

“Anakmu hanya satu, apa sangkut pautnya dengan aku?” kata Tho-hoa-sian.

“Tidak ada sangkut pautnya dengan kau, besar sangkut pautnya dengan saudaramu,” seru seorang dengan gelak tertawa.

“Apa barangkali ada sangkut pautnya dengan aku?” tanya Tho-kan-sian.

“Mungkin, harus lihat wajahmu mirip tidak!” kata orang tadi dengan tertawa.

“Apa maksudmu mirip wajahku?” tanya Tho-sit-sian. “Coba kau maju.”

“Buat apa maju, kau sendiri boleh bercermin saja,” sahut orang itu tertawa.

Mendadak empat sosok bayangan melayang ke arahnya dengan cepat luar biasa, kontan orang yang bicara itu dicomot dari tempat yang gelap. Ternyata orang itu tinggi besar, sedikitnya ada 200 kati. Tapi kaki-tangannya kena dipegang oleh Tho-kok-si-sian, sedikit pun dia tidak bisa berkutik.

Setelah diseret keluar, di bawah sinar bulan dapatlah muka orang itu terlihat jelas. Tho-sit-sian lantas berkata, “Tidak mirip, masakah wajahku seburuk ini? Losam, mungkin mirip kau.”

“Cis, memangnya kau lebih cakap daripadaku?” semprot Tho-ki-sian. “Sedemikian banyak yang hadir di sini boleh suruh mereka menjadi juri.”

Sebenarnya semua orang merasa geli melihat wajah Tho-kok-lak-sian yang lebih buruk daripada siluman itu, tapi mengaku cakap sendiri. Namun demi melihat laki-laki tinggi besar itu setiap saat dapat dirobek menjadi empat potong oleh Si-sian itu, mereka menjadi kebat-kebit dan tidak dapat tertawa lagi.

Lenghou Tiong kenal watak Tho-kok-lak-sian, bukan mustahil tawanan mereka itu akan dibeset, maka cepat ia berseru, “Tho-kok-lak-sian, bagaimana kalau aku Lenghou Tiong yang menjadi juri bagi kalian?”

Sembari bicara ia terus muncul dari tempat sembunyinya.

Mendengar nama “Lenghou Tiong”, seketika gemparlah semua orang. Beribu pasang mata terpusat kepadanya. Tapi Lenghou Tiong tanpa berkedip terus menatap ke arah Tho-kok-lak-sian, katanya pula, “Silakan kalian lepaskan dulu kawan itu, dengan demikian barulah aku dapat menilai wajah kalian dengan jelas.”

Terhadap Lenghou Tiong memang Tho-kok-lak-sian mempunyai kesan baik, segera mereka melepaskan tawanan itu. Ternyata perawakan laki-laki itu benar-benar sangat kekar. Namun begitu mukanya tampak pucat seperti mayat, maklum ia pun insaf bahwa jiwanya seakan-akan baru saja lolos dari pintu akhirat, badannya menjadi gemetar meski ia coba tabahkan diri sekuatnya. Maksudnya hendak mengucapkan terima kasih, tapi giginya sampai ikut gemerutuk dan suaranya terputus-putus.

Melihat laki-laki itu cukup cakap, tapi dalam keadaan ketakutan, segera Lenghou Tiong berkata kepada Tho-kok-lak-sian, “Keenam Tho-heng, menurut pendapatku, wajah kalian sama sekali berbeda daripada wajah kawan ini, kalian jauh lebih cakap, lebih bagus, lebih gagah, lebih ganteng. Siapa saja yang melihat kalian tentu akan jatuh cinta.”

Maka terdengarlah gelak tertawa orang banyak.

“Ya, benar,” timbrung Lo Thau-cu. “Menurut pendapatku, kesatria di seluruh jagat ini, bicara tentang ilmu silat memang banyak yang lihai, tapi bicara kecakapan muka, wah, siapa pun tiada mampu melebihi Tho-kok-lak-sian.”

Mendengar diri mereka dipuji oleh Lenghou Tiong dan Lo Thau-cu, keruan Tho-kok-lak-sian sangat senang. Mereka tidak tahu gelak tertawa orang banyak itu adalah ejekan, sebaliknya mengira mereka benar-benar mengagumi kebagusannya.

Kemudian Lo Thau-cu berseru, “Wah, nasib kawan-kawan benar-benar sangat mujur. Tadi di tengah jalan kami telah ketemukan Lenghou-kongcu seorang diri sedang menuju ke Siau-lim-si buat menyambut pulangnya Seng-koh, ketika mendengar kita sedang berkumpul di sini, beliau lantas mampir ke sini untuk berundingan dengan kita. Menurut pikiranku, bicara tentang kecakapan muka memang benar Tho-kok-lak-sian nomor satu …” seketika ramai pula gelak tawa orang banyak. Cepat Lo Thau-cu memberi tanda berhenti, lalu sambungnya, “Tapi kepergian kita ini harus menghadapi Siau-lim-pay, urusan Seng-koh yang mahapenting ini rasanya tidak terlalu erat hubungannya dengan soal kecakapan. Maka menurut pendapatku, marilah kita mendukung Lenghou-kongcu sebagai bengcu kita, mohon beliau mengatur siasat dan memberi perintah kepada kita, entah bagaimana pendapat kawan-kawan sekalian?”

Semua orang mengetahui terkurungnya Seng-koh di Siau-lim-si itu adalah karena ingin menyembuhkan penyakit Lenghou Tiong dahulu, jangankan ilmu silat Lenghou Tiong memang sangat tinggi, hal ini sudah didengar mereka tentang pertarungannya melawan para kesatria di daerah Holam dahulu ketika dia membantu Hiang Bun-thian, sekalipun Lenghou Tiong tidak paham silat, mengingat dia adalah kekasih Seng-koh juga semua orang akan mengangkatnya menjadi bengcu. Lantaran ini mereka lantas bersorak gembira demi mendengar usul Lo Thau-cu tadi.

Tapi mendadak Tho-hoa-sian berseru dengan suara aneh, “Kita akan pergi menyambut pulangnya Yim-siocia, jika berhasil, apakah beliau akan dijadikan bini kepada Lenghou Tiong?”

Semua orang sangat hormat dan segan kepada Yim-siocia alias Ing-ing, maka tiada seorang pun yang berani mengiakan meski apa yang dikatakan Tho-hoa-sian tidaklah salah. Lenghou Tiong sendiri lebih-lebih kikuk, ia pun tidak dapat menyangkal cinta Ing-ing padanya yang bukan rahasia lagi bagi orang-orang Kangouw itu. Kalau menyangkal tentu juga akan membikin malu Ing-ing, sebaliknya kalau terang-terangan mengaku akan memperistrikan si nona, rasanya kelak masih akan banyak menghadapi rintangan, apalagi juga tidak layak mengaku terang-terangan begitu. Maka terpaksa ia bungkam saja.

Tiba-tiba Tho-yap-sian menimbrung, “Wah, dia mendapat bini, menjadi bengcu pula, sungguh terlalu enak baginya. Kalau kita pergi membantu dia menolong bininya, maka jabatan bengcu ini harus diserahkan kepada kami berenam saudara.”

“Betul!” seru Tho-kin-sian. “Kecuali kepandaiannya bisa lebih hebat daripada kami, inilah lain soalnya.”

Habis itu, sekonyong-konyong empat di antara Lak-sian itu terus menubruk maju, sekali cengkeram, seketika Lenghou Tiong terpegang dan terangkat ke atas.

Begitu cepat gerakan keempat orang itu, sebelumnya juga tiada tanda-tanda akan menyerang. Keruan Lenghou Tiong tidak sempat menghindar, tahu-tahu kedua tangan dan kedua kaki sudah dipegang erat-erat oleh empat orang.

“He, he, jangan! Lekas lepaskan!” teriak orang banyak.

“Jangan khawatir!” sahut Tho-yap-sian dengan tertawa. “Kami pasti takkan mencelakai dia, asalkan dia berjanji akan menyerahkan jabatan bengcu kepada kami ….”

Tapi belum habis ucapannya, sekonyong-konyong Tho-kin-sian, Tho-kan-sian, Tho-ki-sian, dan Tho-sit-sian yang memegangi Lenghou Tiong itu sama menjerit aneh dan terburu-buru melepaskan pemuda itu sambil berteriak-teriak, “He, he! Kau … kau memakai ilmu sihir apa?”

Rupanya Lenghou Tiong juga khawatir keempat manusia dogol itu benar-benar melakukan sesuatu di luar dugaan dan benar-benar menyobek badannya, maka cepat ia mengerahkan “Gip-sing-tay-hoat” yang telah diyakinkan itu. Seketika Tho-kok-si-sian itu merasa tenaga dalam mereka bocor keluar, semakin mereka hendak mengerem semakin cepat tenaga mereka mengalir keluar melalui telapak tangan. Karena itu, saking kagetnya mereka lantas lepaskan Lenghou Tiong yang mereka pegang.

Lenghou Tiong juga lantas menghentikan ilmu saktinya itu, sekali loncat ia berdiri tegak di tengah kalangan.

“Ada apa?” tanya Tho-yap-sian.

“Ilmu … ilmunya benar-benar sangat aneh, kami tidak sanggup memegang dia,” seru Tho-ki-sian berempat.

Serentak bersoraklah orang banyak, semuanya berseru, “Nah, Tho-kok-lak-sian, sekarang kalian sudah tunduk bukan?”

“Kami tidak mampu memegang dia, sudah tentu kami tunduk, biarlah Lenghou Tiong yang menjadi bengcu saja,” seru Tho-kin-sian berempat.

Melihat Tho-kok-lak-sian mau tunduk kepada Lenghou Tiong secara sukarela, meski tidak tahu sebab musababnya, tapi semua orang lantas tertawa gembira.

“Kawan-kawan,” kata Lenghou Tiong kemudian, “keberangkatan kita untuk menyambut pulangnya Seng-koh ini sekalian kita usahakan untuk menyelamatkan saudara-saudara kita yang telah ikut tertawan di sana. Tapi Siau-lim-si adalah puncak tertinggi dari dunia persilatan yang telah diakui oleh siapa pun juga, ke-72 ilmu sakti mereka yang khas selama ini tiada tandingannya. Namun jumlah kita sangat banyak, di sini saja sekarang sudah ada ribuan orang, belum lagi orang-orang gagah yang akan menggabungkan diri pula dalam waktu singkat. Seumpama ilmu silat kita tidak dapat menandingi murid Siau-lim-si, asalkan main kerubut saja sepuluh lawan satu juga akhirnya kita akan menang.”

“Benar, benar!” seru gemuruh orang banyak. “Memangnya hwesio-hwesio Siau-lim-si itu punya tiga kepala dan enam tangan sehingga sanggup melawan keroyokan kita?”

“Akan tetapi perlu diingat, meski para taysu Siau-lim-si itu menahan Seng-koh sekian lamanya, namun beliau tidak dibikin susah. Taysu-taysu itu adalah orang alim semua dan mengutamakan welas asih, sungguh harus dikagumi. Maka kalau kita sampai merusak Siau-lim-si, tentu juga teman-teman Kangouw akan mencela perbuatan kita yang menang dengan main kerubut, ini kan bukan perbuatan kaum kesatria sejati? Sebab itulah, menurut pendapatku, kita harus pakai siasat ramah tamah dahulu dan kemudian kekerasan. Jika kita dapat membujuk pihak Siau-lim-si membebaskan Seng-koh serta kawan-kawan yang lain untuk menghindarkan pertempuran berdarah, jalan inilah paling baik.”

“Ucapan Lenghou-kongcu cocok dengan pikiranku,” seru Coh Jian-jiu. “Jika benar-benar bertempur, tentu akan banyak jatuh korban dari kedua pihak.”

“Tapi ucapan Lenghou-kongcu justru tidak cocok dengan seleraku,” tiba-tiba Tho-ki-sian menimbrung. “Kalau kedua pihak tidak bertempur, tentu takkan jatuh korban, lalu apanya lagi yang menarik?”

“Lenghou-kongcu sudah kita angkat menjadi bengcu, maka segala perintah petunjuknya harus kita turut,” seru Coh Jian-jiu.

“Kami hanya menyatakan mengangkat dia sebagai bengcu, tapi tidak pernah mengatakan akan tunduk kepada perintahnya,” kata Tho-kin-sian.

“Benar, urusan memberi perintah segala ini biarlah kami Tho-kok-lak-sian yang melaksanakan saja,” sambung Tho-kan-sian.

Semua orang menjadi gemas melihat kedogolan Tho-kok-lak-sian itu, banyak yang siap memegang senjata, asalkan Lenghou Tiong memberi isyarat sedikit saja serentak mereka akan menerjang maju untuk mencincang keenam orang itu. Betapa pun tinggi kepandaian mereka rasanya juga takkan mampu melawan kerubutan orang banyak.

Maka Coh Jian-jiu berkata pula, “Apa yang harus dilakukan seorang bengcu, dengan sendirinya dia harus memberi perintah dan mengatur sesuatu. Kalau dia tidak dapat memerintah, lalu namanya bukan bengcu lagi.”

“Kalau dia mau perintah boleh perintah saja, kenapa mesti ribut!” ujar Tho-ki-sian dengan menyengir.

Lenghou Tiong tidak ambil pusing lagi pada keenam orang dogol itu, segera ia berseru, “Dengarkan kawan-kawan, kalau dihitung, masih ada 17 hari lagi dari waktu yang kita rencanakan, yaitu tanggal 15 bulan 12, karena temponya cukup, maka perjalanan kita ke sana tidak perlu tergesa-gesa. Pula gerakan kita ini dilakukan secara terang-terangan, maka segala tindakan kita juga tidak perlu ditutupi. Besok juga kita boleh beli kain untuk dibikin menjadi panji-panji dengan tulisan yang jelas menyatakan tujuan kita ke Siau-lim-si buat menyambut Seng-koh. Boleh pula beli beberapa genderang dan bunyikan sepanjang jalan agar didengar oleh orang-orang Siau-lim-pay, bukan mustahil mereka sudah ketakutan lebih dulu sebelum kita tiba di sana.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: