Hina Kelana: Bab 88. Yim Ing-ing Disekap Dalam Siau-lim-si

“Apa kalian tidak takut kepada Tiau-yang-sin-kau (nama Mo-kau yang asli)?” tanya Ting-sian.

“Bila teringat kepada budi kebaikan Yim-siocia, betapa pun Tonghong-kaucu akan merintangi juga tak dipikir lagi oleh para kawan,” sahut orang she Ih. “Semua kawan menyatakan, sekalipun badan hancur lebur bagi Yim-siocia juga rela.”

Seketika itu timbul macam-macam pertanyaan dalam benak Lenghou Tiong, “Yim-siocia yang mereka katakan itu apakah benar Ing-ing adanya? Sebab apa dia ditahan oleh padri Siau-lim-si? Jika betul dia orang Mo-kau, mengapa Tonghong-kaucu dari Mo-kau malah akan merintangi orang-orang yang bermaksud menolongnya? Usianya masih muda belia, apa budi kebaikannya terhadap orang-orang lain? Mengapa orang-orang sebanyak ini siap berkorban baginya demi mendengar dia berada dalam bahaya? Melihat gelagatnya Ting-sian Suthay terang mengetahui lebih banyak daripadaku, entah dia akan tinggal diam atau akan pergi membantu pihak Siau-lim-pay?”

Terdengar Ting-sian Suthay berkata, “Kalian khawatir Hing-san-pay kami pergi membantu Siau-lim-pay, sebab itu kalian bermaksud menenggelamkan kapal kami?”

“Ya,” sahut orang she Ce, “sebab kami pikir hwesio dan nikoh sama-sama itu … ini ….”

“Sama-sama ini itu apa?” damprat Ting-yat dengan gusar.

“Ya, ya, ini … itu … hamba tidak berani banyak omong ….” kata orang she Ce dengan gelagapan.

“Sebelum tanggal 15 bulan 12 tiba, tentunya Pek-kau-pang kalian juga akan pergi ke Siau-lim-si bukan?” tanya Ting-sian.

“Hal ini tergantung perintah Su-pangcu,” sahut orang she Ce dan she Ih bersama. Lalu yang she Ce menambahkan, “Karena kelompok-kelompok teman yang lain beramai-ramai akan pergi, rasanya Pek-kau-pang kami juga takkan ketinggalan.”

“Kelompok-kelompok lain? Siapa-siapa saja mereka?” tanya Ting-sian.

“Menurut Dian … Dian Pek-kong, katanya ada Hay-soa-pang dari Ciatkang, Hek-hong-hwe dari Soatang, Thian-ho-pang, Tiang-keng-pang ….” begitulah berturut-turut ia menyebut beberapa puluh gerombolan dan perkumpulan Kangouw.

Ting-yat mengerut kening, katanya, “Semuanya orang-orang sesat yang tidak punya pekerjaan yang baik. Biarpun berjumlah sebanyak itu juga belum tentu mampu melawan Siau-lim-pay.”

Mendengar nama-nama yang disebut orang she Ce tadi ada sebagian pernah dikenalnya ketika di Ngo-pah-kang dahulu, maka Lenghou Tiong tambah yakin bahwa Yim-siocia yang dimaksudkan itu pastilah Ing-ing. Cepat ia ikut tanya, “Sebenarnya apa sebabnya pihak Siau-lim-pay menahan … menahan Yim-siocia itu?”

“Entahlah, mungkin sekali kawanan hwesio Siau-lim-si itu terlalu kenyang makan dan iseng, maka sengaja cari gara-gara,” sahut orang she Ce.

“Baiklah, silakan kalian pulang menyampaikan salam kami kepada Su-pangcu, katakan kami tidak sempat mampir. Perjalanan kami selanjutnya juga diharapkan bantuan kalian, semoga jangan mengirim orang membobol kapal yang kami tumpangi ini.”

Berulang-ulang kedua orang Pek-kau-pang itu mengiakan dan menyatakan tidak berani.

Lalu Ting-sian berkata pula kepada Lenghou Tiong, “Malam yang tenang dan permai ini silakan Lenghou-siauhiap menikmati lebih jauh, maafkan kami tidak mengiringi lagi.”

Habis berkata bersama Ting-yat mereka lantas melangkah kembali ke kapal.

Lenghou Tiong tahu nikoh tua itu sengaja menyingkir agar dirinya dapat tanya lebih jelas terhadap kedua orang Pek-kau-pang itu. Tapi seketika pikirannya menjadi kacau sehingga tidak tahu apa yang harus ditanyakan kepada mereka.

Ia berjalan mondar-mandir di tepi sungai, sebentar-sebentar berdiri termenung, lalu mondar-mandir lagi. Dilihatnya bayangan bulan bergerak-gerak di tengah riak air, mendadak teringat olehnya, “Hari ini sudah tanggal tua bulan 11. Padahal mereka beramai-ramai akan menuju Siau-lim-si pada tanggal 15 bulan 12, jadi waktunya sudah dekat. Hong-ting dan Hong-sing Taysu dari Siau-lim-pay sangat baik padaku, orang-orang yang bermaksud menolong Ing-ing pasti akan bertempur dengan Siau-lim-pay, tak peduli pihak mana yang menang, yang pasti kedua pihak tentu akan jatuh korban. Ada baik sekali jika sekarang aku mendahului pergi memohon Hong-ting Taysu agar suka membebaskan Ing-ing sehingga pertumpahan darah dapat dihindarkan, cara demikian kan sangat bagus? Sementara ini Ting-sian dan Ting-yat Suthay juga sudah pulih semua kesehatannya, meski tampaknya sudah tua dan sangat alim, tapi sesungguhnya Ting-sian Suthay adalah seorang tokoh bu-lim yang hebat, maka perjalanan pulang ke utara rasanya takkan mengalami sesuatu kesulitan. Cuma cara bagaimana aku harus mohon diri kepada mereka?”

Maklumlah, selama beberapa hari ini ia telah hidup berdampingan dengan para nona dan nikoh Hing-san-pay itu, mereka sangat hormat dan menyukainya, meski mereka memanggilnya “Lenghou-suheng”, tapi sebenarnya menganggapnya seperti seorang paman guru mereka. Sekarang mendadak harus berpisah rasanya sukar untuk dikemukakan.

Tiba-tiba terdengar suara tindakan orang yang halus, dua orang perlahan-lahan mendekat. Kiranya adalah Gi-lim dan The Oh. Beberapa meter di hadapan Lenghou Tiong mereka lantas berhenti dan memanggil, “Lenghou-toako.”

Cepat Lenghou Tiong memapak maju, tanyanya, “Rupanya kalian juga terjaga bangun!”

“Lenghou-toako,” kata Gi-lim, “Ciangbun-supek suruh kami mengatakan padamu ….” sampai di sini suaranya menjadi rada tergagap, ia mengutik The Oh dan berkata, “Kau saja yang katakan padanya.”

“Kau yang disuruh ciangbun-susiok untuk mengatakan padanya,” ujar The Oh.

“Kau yang bicara juga sama saja,” sahut Gi-lim.

“Lenghou-toako,” The Oh lantas menyambung, “ciangbun-susiok bilang, budi besar tidak perlu menonjolkan rasa terima kasih, yang pasti selanjutnya segala urusan Hing-san-pay siap di bawah perintahmu. Jika engkau ingin pergi ke Siau-lim-si buat menolong Yim-siocia, maka kami sekalian pasti akan ikut berusaha sepenuh tenaga.”

Lenghou Tiong menjadi heran, pikirnya, “Aku toh tidak menyatakan akan pergi menolong Ing-ing, dari mana Ting-sian Suthay mengetahui? Ai, benarlah! Ketika para pahlawan berkumpul di Ngo-pah-kang, semuanya menyatakan hendak menyembuhkan penyakitku, sudah tentu usaha mereka disebabkan keseganan mereka terhadap Ing-ing. Kejadian itu telah menggegerkan dunia Kangouw dan diketahui setiap orang, sudah tentu Ting-sian Suthay juga mendengar akan peristiwa itu.”

Teringat akan hal ini, tanpa terasa mukanya menjadi merah.

Dalam pada itu The Oh telah menyambung lagi, “Ciangbun-susiok bilang, soal ini paling baik jangan pakai kekerasan. Beliau dan Ting-yat Susiok berdua saat ini sudah menyeberangi sungai terus menuju ke Siau-lim-si untuk memohon Hong-ting Taysu sudi membebaskan Yim-siocia, adapun kami di bawah pimpinan Lenghou-toako boleh menyusul ke sana secara perlahan-lahan.”

Seketika Lenghou Tiong tertegun mendengar cerita itu, untuk sejenak ia tidak sanggup bicara. Ketika memandang ke tengah sungai, benar juga tertampak sebuah sampan kecil dengan layar putih sedang laju ke utara. Tak terkatakan perasaannya saat itu. Ia berterima kasih dan malu pula. Katanya di dalam hati, “Kedua Suthay adalah orang alim di dalam agama, orang kosen pula di dalam bu-lim, jika mereka sudi tampil ke muka untuk mohon kemurahan hati Siau-lim-pay cara ini adalah paling baik memang daripada seorang keroco yang tiada artinya seperti diriku ini. Besar kemungkinan Hong-ting Taysu akan membebaskan Ing-ing atas permohonan Ting-sian dan Ting-yat Suthay.”

Berpikir demikian, hatinya menjadi lega pula. Ia berpaling, dilihatnya orang she Ih dan she Ce tadi masih longak-longok di dalam guci minyak dan tidak berani merangkak ke luar. Mengingat maksud tujuan kedua orang itu pun hendak menolong Ing-ing, sekarang dirinya memperlakukan mereka secara demikian, timbul rasa tidak enak dalam hati Lenghou Tiong. Cepat ia mendekati mereka sambil memberi hormat, katanya, “Lantaran kecerobohanku tadi sehingga membikin susah ‘Tiangkang-siang-hui-hi’ berdua kesatria, soalnya memang aku tidak tahu duduknya perkara, maka diharap kalian sudi memaafkan.”

Sudah tentu Sepasang Ikan Terbang dari Tiangkang itu terheran-heran melihat sikap Lenghou Tiong yang aneh itu, mula-mula garang terhadap mereka, tapi sekarang memberi hormat dan minta maaf segala. Cepat mereka pun merangkap tangan dan membalas hormat. Karena kelakuan mereka yang sibuk itu, minyak sayur yang merendam mereka lantas muncrat sehingga Lenghou Tiong, Gi-lim, dan The Oh kecipratan tetesan minyak.

Dengan tersenyum Lenghou Tiong manggut-manggut, katanya terhadap Gi-lim dan The Oh, “Marilah kita kembali saja.”

Sampai di atas kapal, para murid Hing-san-pay sama sekali tidak menyinggung lagi urusan itu. Sampai Gi-ho dan Cin Koan yang biasanya suka usilan juga tidak tanya satu kata pun kepada Lenghou Tiong. Agaknya sebelum berangkat Ting-sian Suthay telah memberi pesan demikian kepada mereka agar tidak membikin rikuh Lenghou Tiong.

Walaupun dalam hati Lenghou Tiong sangat berterima kasih, tapi demi melihat lagak lagu beberapa murid Hing-san-pay memperlihatkan wajah tersenyum-senyum aneh, mau tak mau ia merasa kikuk juga. Pikirnya, “Dari sikap mereka ini jelas kelihatan mereka yakin Ing-ing adalah kekasihku. Padahal hubunganku dengan Ing-ing boleh dikata suci bersih, selamanya tidak pernah bicara satu patah kata mesra yang menyangkut laki-laki dan perempuan. Tapi mereka tidak tanya, cara bagaimana aku memberi penjelasan?”

Ketika berhadapan dengan Cin Koan dan melihat sorot mata si nona berkedip-kedip penuh arti menggoda, tak tahan lagi Lenghou Tiong lantas berkata, “Sama sekali bukan begitu halnya, kau … kau jangan menduga sembarangan.”

“Aku menduga sembarangan apa?” sahut Cin Koan tertawa.

Dengan muka merah Lenghou Tiong berkata, “Aku dapat terka pikiranmu.”

“Terka apa?” tanya Cin Koan.

Belum Lenghou Tiong menanggapi, tiba-tiba Gi-ho menyela, “Cin-sumoay, jangan banyak bicara lagi, apa kau sudah lupa akan pesan supek?”

“Ya, ya, aku masih ingat,” sahut Cin Koan sambil dekap mulut dan menahan tawa.

Waktu Lenghou Tiong berpaling, dilihatnya Gi-lim duduk menyendiri di pojok sana dengan wajah pucat, sikapnya sangat dingin. Tergerak hati Lenghou Tiong, pikirnya, “Entah apa yang sedang direnungkannya? Mengapa dia tidak mau bicara dengan aku?”

Dengan termangu-mangu Lenghou Tiong memandanginya, tiba-tiba teringat ketika dirinya terluka di luar Kota Heng-san dan dibawa lari dalam pangkuan Gi-lim, tatkala itu betapa perhatian dan mesranya dia terhadapnya, sama sekali berbeda daripada sikapnya yang dingin dan tak acuh seperti sekarang ini. Apa sebabnya?

Begitulah ia memandang dengan kesima, sebaliknya Gi-lim tetap diam saja seperti orang sedang semadi.

“Lenghou-suheng!” tiba-tiba Gi-ho memanggil.

Tapi Lenghou Tiong tidak mendengar, ia tidak menjawab.

“Lenghou-suheng!” kembali Gi-ho memanggil dengan lebih keras.

Dengan terkejut Lenghou Tiong menoleh, sahutnya, “O, ada apa?”

“Ciangbun-supek memberi pesan apakah besok kita akan tetap meneruskan perjalanan dengan kapal atau ganti melalui daratan, katanya terserah kepada keinginan Lenghou-suheng.”

Sesungguhnya di dalam hati Lenghou Tiong sangat ingin meneruskan perjalanan darat agar bisa lekas-lekas mendapat beritanya Ing-ing, tapi ketika melirik, dilihatnya kelopak mata Gi-lim berlinang air mata dan harus dikasihani, terpikir olehnya, “Mereka tentu menyangka aku terburu-buru ingin menjumpai Ing-ing, padahal tiada terkandung pikiranku demikian.”

Maka katanya kemudian, “Ciangbun Suthay suruh kita menyusulnya perlahan-lahan, maka biarlah kita tetap menumpang kapal saja. Rasanya kaum Pek-kau-pang takkan berani mengganggu kita lagi.”

“Apakah kau tidak khawatir lagi?” tanya Cin Koan dengan tertawa.

Muka Lenghou Tiong menjadi merah. Belum dia menjawab, tiba-tiba Gi-ho membentak, “Cin-sumoay, anak perempuan kecil, kenapa selalu usil?”

“Aku sih tidak usil!” sahut Cin Koan dengan tertawa. “Omitohud, aku hanya sedikit khawatir.”

Begitulah besoknya kapal mereka terus menempuh arus ke hulu sungai. Lenghou Tiong memerintahkan juru mudi menjalankan perahu menyusur tepian untuk menjaga kalau-kalau orang Pek-kau-pang mengganggu lagi. Tapi setiba di wilayah Oupak tidak pernah terjadi apa-apa.

Untuk selanjutnya selama beberapa hari Lenghou Tiong tidak banyak pasang omong dengan anak murid Hing-san-pay itu. Setiap malam bila perahu berlabuh ia suka mendarat untuk minum arak, kembalinya tentu dalam keadaan mabuk.

Hari itu perahu mereka membelok ke utara menuju ke hulu Han-sui, malamnya perahu mereka berlabuh di suatu kota kecil Keh-bin-to. Kembali Lenghou Tiong mendarat pula untuk minum arak.

Keh-bin-to itu hanya ada 20-an rumah, dia minum beberapa kati arak di suatu kedai arak yang sepi dan sederhana. Tiba-tiba timbul pikirannya, “Entah bagaimana keadaan luka siausumoay? Agaknya obat yang diantar Gi-cin dan Gi-leng itu akan dapat menyembuhkan lukanya. Dan bagaimana pula luka Lim-sute? Jika Lim-sute tak bisa disembuhkan, lantas bagaimana dengan siausumoay?”

Sampai di sini ia menjadi terkesiap sendiri, pikirnya, “Wahai Lenghou Tiong, kau benar-benar manusia yang rendah. Kau mengharapkan luka siausumoay lekas sembuh, tapi kau menginginkan pula kematian Lim-sute oleh lukanya yang parah. Apa sesudah Lim-sute mati lantas siausumoay akan kawin dengan kau?”

Karena terlalu iseng, berturut-turut ia menghabiskan pula beberapa mangkuk arak. Lalu berpikir lagi, “Entah siapa yang membunuh Lo Tek-nau dan patsute? Mengapa orang itu menyerang Lim-sute pula? Ai, berturut-turut Hoa-san-pay kehilangan beberapa murid, boleh dikata banyak mematahkan kekuatannya. Entah bagaimana pula keadaan suhu dan sunio sekarang ini?”

Ia angkat mangkuk arak, sekali tenggak kembali dihabiskan isinya. Kedai kecil itu tiada penganan-penganan teman arak, yang ada cuma kacang goreng. Maka Lenghou Tiong mencomot beberapa biji kacang goreng ke dalam mulutnya.

Tiba-tiba terdengar suara orang menghela napas di belakangnya sambil berkata, “Ai, laki-laki di dunia ini sembilan dari sepuluh orang berhati palsu.”

Lenghou Tiong menoleh dan memandang ke arah orang yang bicara itu, di bawah cahaya lilin yang rada guram ternyata di dalam kedai arak itu selain dirinya hanya ada seorang lagi yang mendekam di atas meja di pojok sana. Di atas meja tertaruh poci dan cawan arak, pakaian orang itu compang-camping, melihat keadaannya tidak menyerupai orang yang terpelajar.

Kembali Lenghou Tiong menenggak araknya tanpa ambil pusing kepada orang itu. Ketika ia hendak mengisi mangkuknya lagi, ternyata isi poci sudah kosong.

Terdengar orang di belakangnya berkata pula, “Lantaran kau, orang telah dikurung di tempat yang gelap gulita, tapi kau sendiri malah berkecimpung di tengah-tengah pupur dan gincu, baik nona cilik maupun nikoh yang gundul dan nenek-nenek, semuanya jadi. Ai, sungguh kasihan dan harus disesalkan.”

Lenghou Tiong tahu yang dimaksudkan orang itu pasti dirinya, ia tidak menoleh, pikirnya, “Siapakah orang ini? Dia mengatakan ‘lantaran kau orang telah dikurung di tempat gelap gulita’, apa yang dia maksudkan adalah Ing-ing? Mengapa Ing-ing sampai terkurung lantaran diriku?”

Karena sengaja ingin mendengar lebih banyak, maka ia diam saja. Terdengar orang itu berkata pula, “Justru banyak manusia-manusia yang tidak bersangkutan suka ikut campur urusan, katanya siap pergi menolong orang meski jiwa bakal melayang. Tapi mereka justru ingin berebut menjadi kepala, urusan belum dikerjakan sudah saling baku hantam sendiri. Ai, urusan Kangouw ini membuat aku merasa sebal.”

Tanpa menoleh sedikit pun Lenghou Tiong terus melompat ke belakang, dengan tepat ia jatuh ke bawah dan duduk di hadapan orang itu sembari tangan masih memegangi mangkuk arak, katanya, “Cayhe tidak paham urusan-urusan itu, mohon Lauheng (saudara) sudi memberi petunjuk.”

Tapi orang itu tetap berdekap di atas meja tanpa mengangkat kepala, katanya, “Ai, betapa senangnya tentu sebanyak itu pula dosamu. Para nona dan nikoh Hing-san-pay agaknya malam ini akan tertimpa bencana.”

Lenghou Tiong tambah kejut, cepat ia berbangkit dan memberi hormat, katanya, “Harap Cianpwe terima salam hormat Lenghou Tiong ini dan mohon suka memberi petunjuk-petunjuk yang berguna.”

Mendadak dilihatnya di sisi bangku yang diduduki orang itu tertaruh sebuah rebab tua, tiba-tiba hati Lenghou Tiong tergerak, tahulah dia siapa gerangan orang ini. Cepat ia menyembah dan berkata, “Wanpwe Lenghou Tiong beruntung dapat berjumpa dengan Bok-supek dari Heng-san. Maafkan tadi telah kurang hormat.”

Baru sekarang orang itu mengangkat kepalanya, sorot matanya yang tajam menatap sekejap ke arah Lenghou Tiong. Memang betul dia adalah “Siau-siang-ya-uh” Bok-taysiansing, itu ketua Heng-san-pay. Dia mendengus, lalu menjawab, “Aku tidak berani terima panggilan supek. Lenghou-tayhiap, selama beberapa hari ini kau benar-benar senang.”

“Harap Bok-supek maklum,” sahut Lenghou Tiong sambil membungkuk tubuh. “Tecu diperintahkan Ting-sian Supek agar ikut para suci dan sumoay dari Hing-san-pay menuju ke Siau-lim-si. Walaupun Tecu rada sembrono, tapi sedikit pun tidak berani berbuat kurang sopan terhadap para suci dan sumoay Hing-san-pay itu.”

“Ai, sudahlah, silakan duduk saja,” kata Bok-taysiansing sambil menghela napas. “Apakah kau tidak tahu bahwa orang Kangouw telah geger dan ramai membicarakan dirimu.”

“Kelakuan Wanpwe memang rada sinting dan kurang prihatin, sampai-sampai perguruan sendiri juga tidak dapat memberi ampun, maka terhadap omongan iseng di kalangan Kangouw tak dapat Wanpwe ambil pusing lagi,” sahut Lenghou Tiong dengan tersenyum pahit.

“Hm, jika kau rela dianggap sebagai pemuda bangor, tentu orang lain juga takkan peduli,” jengek Bok-taysiansing. “Tapi nama baik Hing-san-pay selama beberapa ratus tahun itu ikut runtuh di tanganmu, apakah sedikit pun kau tidak punya perasaan. Dunia Kangouw telah geger, katanya kau seorang laki-laki telah bercampur baur di tengah gerombolan nona-nona jelita dan nikoh muda Hing-san-pay. Jangankan nama bersih berpuluh nona yang masih perawan itu ternoda, sampai-sampai suthay-suthay tua yang suci bersih itu pun ikut-ikut dibuat bahan tertawaan. Hal ini benar-benar sudah keterlaluan.”

Serentak Lenghou Tiong melompat bangun sambil meraba pedangnya, serunya, “Entah siapa yang sengaja menyiarkan kabar bohong yang tidak berdasar dan memalukan itu? Mohon Bok-supek memberi tahu.”

“Apakah kau bermaksud membunuh mereka?” tanya Bok-taysiansing. “Hm, orang Kangouw yang bicara tentang dirimu sedikitnya beribu-ribu banyaknya, apakah kau sanggup membunuh habis mereka? Padahal semua orang sama kagum atas rezekimu yang nomplok itu, apa sih jeleknya?

Lenghou Tiong duduk kembali dengan lesu, katanya di dalam hati, “Ya, memang perbuatanku suka menuruti jalan pikiranku sendiri tanpa menimbang bahwa nama baik Hing-san-pay akan ikut tercemar. Lantas apa yang harus kulakukan sekarang?”

Terdengar Bok-taysiansing menghela napas, katanya dengan suara ramah, “Selama lima hari ini, setiap malam aku mengintai ke kapal kalian ….”

“Hah!” Lenghou Tiong bersuara kaget. Katanya di dalam hati, “Kiranya berturut-turut lima malam Bok-supek telah mengintai ke atas kapal, tapi sedikit pun aku tidak tahu, sungguh teramat tidak becus aku ini.”

Lalu Bok-taysiansing menyambung pula, “Aku menyaksikan setiap malam kau tidur di buritan kapal tanpa lepas baju, jangankan perbuatan tidak sopan kepada murid-murid Hing-san-pay, bahkan omong-omong iseng juga tidak. Lenghou-laute, kau tidak cuma bukan pemuda bangor, sesungguhnya kau adalah laki-laki yang tahu aturan, sedikit pun hatimu tidak tergoyah oleh nona-nona jelita yang memenuhi kapal itu, bahkan berlangsung sekian lamanya imanmu tetap bertahan, sungguh jarang terdapat laki-laki sejati seperti kau. Aku benar-benar kagum sekali.”

Ia mengacungkan jempolnya, lalu mengetok meja dan berkata pula, “Marilah kusuguh kau satu cawan.”

Segera ia angkat poci arak untuk menuangi mangkuk Lenghou Tiong.

“Ucapan Bok-supek sungguh membikin Siautit merasa gugup,” sahut Lenghou Tiong. “Sebenarnya Siautit juga bukan patung, sekali-kali Siautit juga suka iseng, hanya saja kurasa tidak pantas punya pikiran jahat terhadap para suci dan sumoay dari Hing-san-pay.”

“Kau benar-benar seorang laki-laki sejati,” puji Bok-taysiansing dengan tertawa. “Jika usiaku lebih muda 20 tahun, mana aku sanggup menjaga diri seperti kau tiap malam bersanding dengan nona-nona sebanyak itu. Kau benar-benar hebat. Mari, habiskan semangkuk ini!”

Begitulah kedua orang lantas mengangkat mangkuk masing-masing, sekali tenggak segera habis isinya. Lalu kedua orang bergelak tertawa.

Kalau melihat potongan dan dandanan Bok-taysiansing yang jelek, mana bisa mirip seorang ciangbunjin yang namanya disegani di dunia Kangouw. Tapi terkadang sorot matanya menunjukkan kegagahperwiraannya, hanya saja tanda-tanda demikian itu sekilas saja lantas lenyap dan kembali berwujud seorang yang buruk rupa. Pikir Lenghou Tiong, “Ketua Hing-san-pay Ting-sian Suthay sangat ramah dan welas asih, ketua Thay-san-pay Thian-bun Totiang kereng berwibawa, ketua Ko-san-pay Co Leng-tan suka bicara dan banyak tertawa, guruku adalah seorang kesatria sopan, dan Bok-supek ini luarnya kelihatan jelek, mirip seorang rudin. Tapi ketua-ketua Ngo-gak-kiam-pay sebenarnya adalah tokoh-tokoh yang sukar dijajaki. Sebaliknya aku Lenghou Tiong cuma seorang bodoh, selisih jauh bila dibandingkan dengan mereka.”

Dalam pada itu Bok-taysiansing berkata pula, “Waktu di Oulam sudah kudengar bahwa kau bergalang-gulung bersama kawanan nikoh Hing-san-pay, aku sangat heran, sebab Ting-sian Suthay bukanlah orang sembarangan, mana dia mengizinkan anak muridnya berbuat tidak senonoh. Kemudian kudengar orang Pek-kau-pang membicarakan jejakmu, aku lantas menyusul ke sini. Lenghou-laute, ketika kau membikin rusuh di rumah pelesiran di Heng-san, tatkala mana kuanggap kau adalah seorang pemuda bangor. Sebab itulah waktu kemudian kau membantu Lau Cing-hong, Lau-sute, lantas timbul kesan baikku kepadamu, tujuanku menyusul kemari adalah ingin memberi nasihat kepadamu. Tak terduga kenyataannya sama sekali di luar sangkaanku, ternyata di tengah kesatria muda angkatan kini terdapat seorang laki-laki sejati seperti kau. Sungguh bagus, bagus sekali. Marilah, mari, kita habiskan tiga mangkuk bersama.”

Menyusul ia menuang arak dan ajak menenggak lagi dengan Lenghou Tiong.

Beberapa mangkuk arak masuk perut seketika membuat Bok-taysiansing penuh bersemangat, berulang-ulang ia ajak minum. Cuma kekuatan minumnya jauh dibandingkan Lenghou Tiong, hanya tujuh-delapan mangkuk saja mukanya sudah merah membara. Ia berkata pula, “Lenghou-laute, kutahu kau paling gemar minum arak. Aku tidak punya tanda penghormatan apa-apa kepadamu, terpaksa hanya mengiringi kau minum arak. Hehe, selama ini orang bu-lim yang pernah kuajak minum juga dapat dihitung dengan jari. Seperti pertemuan besar di atas Ko-san dulu, di antara hadirin ada seorang yang bernama Ko-yang-jiu Hui Pin. Orang ini banyak tingkah dan tinggi hati, makin pandang makin gemas rasaku padanya, maka waktu itu satu tetes arak pun aku tidak sudi minum. Tapi mulut orang she Hui masih terus mengoceh tak keruan, keparat, coba katakan, menjengkelkan tidak?”

“Ya, orang yang tidak tahu diri seperti dia, pasti tidak punya hari akhir yang baik,” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Belakangan kabarnya orang itu mendadak menghilang dan tidak tahu ke mana perginya, sungguh heran juga,” kata Bok-taysiansing pula.

Padahal di luar Kota Heng-san dahulu dengan mata sendiri Lenghou Tiong menyaksikan Bok-taysiansing membinasakan Ko-yang-jiu Hui Pin dengan ilmu pedangnya yang hebat. Sudah terang ketua Heng-san-pay itu pun melihat dia hadir di sana, tapi sekarang sengaja bicara demikian, jelas karena Bok-taysiansing tidak ingin kejadian itu tersiar. Maka Lenghou Tiong lantas menanggapi, “Ya, orang Ko-san-pay memang aneh-aneh gerak-geriknya. Orang yang bernama Hui Pin bisa jadi sekarang sedang mengasingkan diri di suatu tempat yang dirahasiakan untuk meyakinkan ilmu lebih sempurna, siapa tahu?”

Sorot mata Bok-taysiansing memantulkan selarik sinar yang licin, ia tersenyum dan berseru, “O, kiranya demikian. Jika bukan Lenghou-laute yang mengingatkan aku, sekalipun kopyor otakku juga sukar memikirkan seluk-beluk hal ini. Lenghou-laute, sebenarnya mengapa kau berada bersama orang-orang Hing-san-pay? Yim-siocia dari Mo-kau itu benar-benar amat cinta padamu, hendaklah jangan kau mengecewakan maksud baiknya.”

Muka Lenghou Tiong menjadi merah, sahutnya, “Harap Bok-supek maklum, Siautit telah gagal di medan cinta, mengenai soal laki-laki dan perempuan sudah bersikap dingin.”

Sampai di sini hatinya menjadi pilu karena teringat akan hubungannya dengan Gak Leng-sian di masa silam, air mata memenuhi kelopak matanya. Mendadak ia bergelak tawa dan berseru lantang, “Sebenarnya Siautit ada maksud meninggalkan dunia ramai ini dan cukur rambut menjadi hwesio, cuma kukhawatir larangan bagi padri terlalu berat antara lain pantang minum arak segala, makanya urung menjadi hwesio. Hahahahaha!”

Walaupun bergelak tertawa, tapi suaranya penuh rasa sedih. Selang sejenak baru dia menceritakan pengalamannya bertemu dengan Ting-cing, Ting-sian, dan Ting-yat Suthay, hanya mengenai cara bagaimana dirinya memberi bantuan selalu ia lukiskan secara singkat dan sekadarnya saja.

Bok-taysiansing melototi poci arak dengan termenung-menung, selang sejenak baru berkata, “Co Leng-tan bermaksud melebur empat pay yang lain untuk menjadi satu pay besar agar menandingi Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay secara segitiga. Muslihatnya ini sudah direncanakan cukup lama, cuma selama ini tidak pernah ditonjolkan, namun aku telah dapat mengetahui sedikit tanda-tanda yang mencurigakan. Neneknya, dia melarang Lau-sute cuci tangan mengundurkan diri, lalu membantu sekte pedang Hoa-san-pay untuk berebut kedudukan ciangbun dengan Gak-siansing, semua gara-gara itu termasuk dalam rencananya yang keji itu, hanya aku tidak menduga bahwa dia ternyata begini berani turun tangan secara terang-terangan terhadap Hing-san-pay.”

“Sebenarnya juga tidak terang-terangan, mereka menyaru sebagai orang Mo-kau untuk memaksa Hing-san-pay menerima rencana peleburan mereka,” kata Lenghou Tiong.

“Benar,” kata Bok-taysiansing sambil mengangguk. “Dan langkah selanjutnya tentu mereka akan menangani Thian-bun Totiang dengan Thay-san-pay-nya. Hm, sekalipun keji orang Mo-kau juga tidak sekeji Co Leng-tan. Lenghou-laute, sekarang kau bukan murid Hoa-san-pay lagi, kau bebas bergerak sesuka hatimu dan tidak peduli apakah dia cing-pay atau Mo-kau, maka aku nasihatkan kau jangan menjadi hwesio, juga tidak perlu berduka, yang penting tolong keluar Yim-siocia yang dikurung Siau-lim-pay itu dan menikahi dia saja. Kalau orang lain tidak mau datang minum arak nikahmu, aku orang she Bok justru akan hadir minum sepuas-puasnya. Neneknya, persetan, takut apa?”

Begitulah terkadang Bok-taysiansing bicara sopan dan ramah, tapi sering diseling pula beberapa kata makian yang kasar. Bilang dia adalah ketua satu pay terkenal tentu orang tak mau percaya.

Pikir Lenghou Tiong, “Bok-supek mengira patah hatiku adalah karena Ing-ing, padahal bukan. Tapi urusan siausumoay rikuh juga untuk kuceritakan padanya.”

Tanyanya kemudian, “Bok-supek, sebenarnya apa sebabnya Siau-lim-pay menawan Yim-siocia?”

Bok-taysiansing menatap tajam dengan melongo penuh kejut dan heran. Sahutnya, “Sebab apa Siau-lim-pay menawan Yim-siocia? Kau benar-benar tidak tahu atau sudah tahu tapi sengaja tanya? Padahal setiap orang Kangouw sama mengetahui, tapi kau … kau malah tanya pula?”

“Beberapa bulan yang baru lalu Siautit berada dalam kurungan orang sehingga apa-apa yang terjadi di Kangouw sama sekali tidak tahu dan tidak mendengar,” sahut Lenghou Tiong. “Bahwa Yim-siocia pernah membunuh empat murid Siau-lim-pay, hal ini memang disebabkan oleh diri Siautit, hanya entah mengapa kemudian Yim-siocia bisa ditawan oleh padri Siau-lim-pay?”

“Jika demikian, jadi kau memang tidak tahu seluk-beluk urusan ini?” ujar Bok-taysiansing. “Waktu kau menderita penyakit dalam yang aneh dan tidak bisa diobati, konon ada beribu orang gagah dari golongan samping yang berkumpul di Ngo-pah-kang, untuk menyanjung Yim-siocia, mereka semuanya berusaha hendak menyembuhkan kau. Tapi hasilnya nihil, semua orang tak berdaya. Begitu bukan kejadian?”

“Ya, memang begitulah,” sahut Lenghou Tiong.

“Peristiwa itu telah menggegerkan Kangouw, semuanya anggap alangkah besar rezekimu sehingga mendapatkan perhatian Yim-siocia dari Hek-bok-keh. Seumpama penyakitmu tetap tak bisa disembuhkan juga hidupmu tidaklah tersia-sia.”

“Ah, Bok-supek suka berkelakar saja,” kata Lenghou Tiong.

“Dan bagaimana kemudian, penyakitmu bisa sembuh, apakah karena meyakinkan ilmu sakti ‘Ih-kin-keng’ Siau-lim-pay?” tanya Bok-taysiansing.

“Bukan,” sahut Lenghou Tiong. “Hong-ting Taysu memang welas asih dan sangat baik padaku, beliau menyanggupi akan mengajarkan ilmu sakti Siau-lim-pay, cuma Siautit tidak ingin masuk Siau-lim-pay, sebaliknya ilmu sakti Siau-lim-pay tak dapat diajarkan kepada orang yang bukan murid Siau-lim-pay, maka terpaksa Siautit telah menyia-nyiakan maksud baik beliau.”

“Siau-lim-pay adalah bintang kejora dunia persilatan, tatkala itu kau sudah dipecat Hoa-san-pay, sebenarnya baik sekali jika kau terus masuk Siau-lim-pay. Itulah kesempatan yang benar-benar sukar dicari, tapi mengapa kau tidak mau yang berarti tidak memikirkan pula akan jiwamu?”

“Sejak kecil Siautit dibesarkan oleh suhu dan sunio, budi kebaikan beliau-beliau belum dibalas, Siautit hanya mengharapkan kelak aku akan diberi ampun oleh suhu dan diterima kembali ke dalam Hoa-san-pay, maka sama sekali Siautit tidak takut mati sehingga mesti masuk perguruan lain.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: