Hina Kelana: Bab 87. Ting-sian Suthay yang Bijaksana

Menyusul ujung pedang Lenghou Tiong lantas mengancam di tenggorokan si kakek kurus kering dan membentak, “Lemparkan pedangmu!”

Kakek itu menghela napas panjang, katanya, “Di dunia ini ternyata ada ilmu silat dan ilmu pedang sedemikian hebat, biarpun aku orang she Tio terjungkal di bawah pedangmu juga tidak penasaran.”

Mendadak tangannya menyendal, dengan tenaga dalamnya ia membikin pedang sendiri tergetar putus menjadi beberapa potong dan jatuh berserakan di atas tanah.

Lenghou Tiong lantas melangkah mundur, sebaliknya Gi-ho bertujuh lantas mengacungkan pedang masing-masing dan mengepung ketiga orang itu di tengah.

Dengan perlahan Ting-sian Suthay berkata, “Ko-san-pay kalian bermaksud melebur Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu aliran yang disebut Ngo-gak-pay. Hing-san-pay sendiri sudah bersejarah ratusan tahun, betapa pun aku tidak berani membuatnya tamat di bawah pimpinanku, maka aku telah menolak saran kalian. Mestinya urusan ini dapat dirundingkan lebih jauh, tapi mengapa kalian lantas main kekerasan dan pakai cara keji ketika aku memperlihatkan maksud tidak setuju? Perbuatan kalian ini bukanlah terlalu kasar?”

“Buat apa banyak omong dengan mereka, Suci,” sela Ting-yat Suthay. “Semuanya dibinasakan saja agar tidak mendatangkan bencana di kemudian hari. Hek … huk-huk-huk ….” tiba-tiba ia terbatuk-batuk dan kembali menumpahkan darah.

Laki-laki tinggi besar she Ma itu menjawab, “Kami hanya melakukan tugas atas perintah, seluk-beluk urusan ini sama sekali kami tidak tahu ….”

“Kenapa kau banyak bicara? Mau bunuh mau potong boleh terserah saja kepada mereka,” mendadak si kakek she Tio mendamprat kawannya.

Orang she Ma menjadi mengkeret dan tidak berani bicara lagi, wajahnya menampilkan rasa malu.

“Kalian bertiga 30 tahun yang lampau pernah malang melintang di daerah utara, kemudian mendadak menghilang. Tadinya kukira kalian sudah sadar dan mau kembali ke jalan yang benar, siapa duga kalian malah sudah masuk Ko-san-pay dan mempunyai maksud tujuan tertentu,” demikian Ting-sian berkata. “Ai, Co-ciangbun dari Ko-san-pay adalah seorang tokoh sakti, tapi beliau telah menerima sekian banyak kaum … orang Kangouw yang aneh-aneh untuk mempersulit sesama Ngo-gak-kiam-pay, sungguh sukar dipahami apa maksud tujuannya.”

Dasarnya Ting-sian memang padri yang welas asih, meski menghadapi kejadian luar biasa juga tidak mau menggunakan kata-kata kasar terhadap lawan. Sesudah menghela napas panjang, lalu ia bertanya, “Suci kami Ting-cing Suthay tentunya juga tewas di tangan kawan kalian bukan?”

Rupanya orang she Ma tadi merasa malu, maka sekarang ia ingin memperbaiki pamornya, dengan suara keras ia menjawab, “Benar, itulah perbuatan Ciong Tin Sute ….”

Tapi si kakek she Tio telah mendengus padanya dengan mata melotot. Baru sekarang orang she Ma menyadari ucapannya yang terlepas, namun ia coba membela diri, “Urusan sudah begini, apa gunanya berdusta lagi? Co-ciangbun memerintahkan kami menuju ke dua jurusan, masing-masing melaksanakan tugas di Hokkian dan Ciatkang sini.”

“Omitohud!” kembali Ting-sian menyebut Buddha. “Sebagai bengcu dari Ngo-gak-kiam-pay, kedudukan Co-ciangbun betapa agung dan terhormat, buat apa beliau bertekad akan melebur kelima aliran kita dan diketuai oleh satu orang? Dia sengaja menggunakan kekerasan dan mencelakai sesama kaum, apakah tindakan demikian takkan ditertawai oleh kesatria seluruh jagat?”

“Suci,” Ting-yat menyela dengan suara bengis, “bangsat berhati binatang yang kejam seperti mereka, buat apa ….” sampai di sini kembali darah mancur keluar lagi dari mulutnya.

Ting-sian Suthay mengebaskan tangannya dan berkata kepada ketiga orang itu, “Segala apa telah ditakdirkan dengan baik, banyak berbuat jahat akhirnya pasti akan terima ganjaran setimpal. Pergilah kalian sekarang! Harap kalian menyampaikan kepada Co-ciangbun bahwa sejak kini Hing-san-pay tidak di bawah perintah Co-ciangbun lagi. Meski golongan kami adalah kaum wanita seluruhnya juga tidak nanti bertekuk lutut di bawah ancaman kekerasan. Tentang keinginan Co-ciangbun akan melebur Ngo-gak-kiam-pay, sekali-kali tak bisa diterima oleh Hing-san-pay.”

“Supek, mereka ….” seru Gi-ho.

Tapi Ting-sian Suthay lantas memberi perintah, “Bubarkan barisan pedang!”

Terpaksa Gi-ho mengiakan, pedangnya ditarik kembali diikuti oleh kawan-kawannya.

Ketiga jago Ko-san-pay itu sama sekali tidak menduga mereka akan dibebaskan secara begitu, mau tak mau timbul juga rasa terima kasih mereka kepada Ting-sian. Mereka memberi hormat, lalu putar tubuh dan lari pergi dengan cepat.

Dalam pada itu api berkobar semakin hebat, banyak orang Ko-san-pay yang bergelimpangan, baik yang sudah mati maupun luka parah. Belasan orang di antaranya yang lukanya rada ringan berusaha merangkak bangun untuk menghindari terbakar, tapi yang terluka parah dan tidak mampu bergerak terpaksa berteriak-teriak minta tolong ketika api menjalar mendekati mereka.

“Urusan ini bukan salah mereka, tapi adalah tanggung jawab Co-ciangbun,” ujar Ting-sian Suthay. “Ih-soh, Gi-jing, bolehlah kalian menolong mereka.”

Para murid Hing-san-pay cukup kenal watak sang ketua yang welas asih, mereka tidak berani membantah, segera mereka berusaha memeriksa orang-orang Ko-san-pay, asal yang masih bernapas lantas mereka angkat ke tempat yang aman dan diberi obat.

Ting-sian Suthay menengadah ke selatan, kedua matanya mengembeng air mata, serunya mengharukan, “Suci!” mendadak tubuhnya sempoyongan terus terbanting jatuh.

Semua orang terkejut, cepat mereka mendukungnya bangun, tertampak darah merembes keluar dari mulut nikoh tua itu.

Kiranya Ting-sian Suthay bersama rombongannya telah dikepung musuh, sembari bertahan Ting-sian dan Ting-yat Suthay mengundurkan diri ke dalam gua pembakaran gamping itu di Lembah To-kiam-kok itu, mereka telah bertahan beberapa hari lamanya, tanpa makan minum dan tidak mengaso pula, memangnya mereka sudah payah lahir batin seperti pelita yang kehabisan minyak, sekarang musuh telah dihalau, hatinya berduka pula atas gugurnya Ting-cing Suthay, saking sedihnya ia tak bisa menguasai diri lagi dan jatuh pingsan.

Keruan anak murid Hing-san-pay menjadi ribut, mereka memanggil suhu dan supek dengan khawatir. Luka Ting-yat Suthay juga sangat berat sehingga mereka menjadi bingung.

Lenghou Tiong lantas berkata, “Api berkobar dengan hebat, marilah kita menyingkir ke sebelah sana. The-sumoay, Cin-sumoay, kalian bertujuh boleh pergi mencari buah-buahan atau barang lain yang dapat dimakan. Kukira semua orang sudah sangat kelaparan.”

The Oh dan Cin Koan mengiakan dan masing-masing pergi melaksanakan tugasnya. Tidak lama kemudian mereka sudah kembali dengan membawa kantongan air untuk diminum Ting-sian, Ting-yat Suthay, dan kawan-kawan yang terluka.

Pertempuran dahsyat di Liong-coan ini ternyata memakan korban 37 orang Hing-san-pay. Teringat pula kepada Ting-cing Suthay serta para suci dan sumoay lain yang juga sudah gugur, para murid Hing-san-pay itu menjadi berduka. Mendadak ada di antaranya menangis tergerung-gerung sehingga bergemalah suara tangis sedih di lembah pegunungan itu.

Mendadak Ting-yat Suthay membentak bengis, “Yang mati pun sudah mati, kenapa kalian tak bisa menguasai perasaan?”

Murid-murid Hing-san-pay kenal watak nikoh tua yang keras itu, mereka tidak berani membangkang, serentak suara tangis lantas berhenti, hanya beberapa orang di antaranya masih terguguk-guguk.

Lalu Ting-yat berkata pula, “Bagaimana Ting-cing Suci mengalami celaka? Oh-ji, bicaramu lebih lancar, coba lapor kepada Ciangbunjin sejelas-jelasnya.”

The Oh mengiakan, ia berbangkit, lalu menguraikan apa yang terjadi di Sian-he-nia di Hokkian, di mana mereka masuk perangkap musuh, tapi berkat bantuan Lenghou Tiong mereka dapat selamat. Kemudian mereka tertawan musuh pula di Ji-pek-poh, di situ Ting-cing Suthay diancam dan dipaksa oleh Ciong Tin dari Ko-san-pay, kemudian dikerubut pula oleh orang-orang berkedok, untung Lenghou Tiong keburu datang membantu lagi, tapi lantaran luka Ting-cing Suthay cukup parah, akhirnya wafat dengan tenang.

“Ya, jelas sudah bahwa kawanan bangsat Ko-san-pay telah menyamar sebagai orang Mo-kau untuk memaksa Suci menyetujui peleburan Ngo-gak-kiam-pay,” kata Ting-yat Suthay. “Hm, sungguh keji dan kejam amat rencana mereka. Jika mereka sudah berada dalam cengkeraman musuh, maka sukarlah bagi Suci untuk menolak ancaman mereka.”

Sampai di sini suaranya menjadi lemah, ia terengah-engah sejenak, lalu menyambung, “Ting-cing Suci dikepung musuh di Sian-he-nia, rupanya beliau mengetahui pihak lawan bukan orang-orang yang mudah dihadapi, maka dia telah mengirim merpati pos untuk minta bantuan kepada kami. Tak terduga … tak terduga hal ini pun sudah berada dalam perhitungan musuh dan kita telah dicegat di sini.”

Melihat keadaan Ting-yat yang sudah lemah itu, murid Ting-sian yang bernama Gi-bun membujuknya, “Susiok, harap kau mengaso saja, biar Tecu yang menceritakan pengalaman kita ini.”

“Pengalaman apa? Sudah terang musuh telah menyerbu Cui-gwe-am di malam buta dan pertempuran terus berjalan sampai hari ini,” kata Ting-yat.

Gi-bun mengiakan, namun diuraikan juga secara singkat apa yang sudah terjadi selama beberapa hari akhir-akhir ini.

Kiranya orang-orang Ko-san-pay yang menyerbu Cui-gwe-am di tengah malam buta itu pun pakai kedok dan menyamar sebagai anggota Mo-kau. Diserang secara besar-besaran dan mendadak, rombongan Hing-san-pay hampir-hampir saja mengalami nasib pemusnahan keseluruhannya. Untung para nikoh Cui-gwe-am itu pun terhitung suatu aliran persilatan tersendiri selama beberapa angkatan, di dalam biara itu masih tersimpan lima batang Liong-coan-po-kiam, pedang wasiat gemblengan khas Kota Liong-coan. Ketua Cui-gwe-am, Jing-hiau Suthay, dalam keadaan bahaya telah membagi-bagikan pedang pusakanya kepada Ting-sian dan Ting-yat, dengan pedang pusaka yang sanggup memotong besi seperti merajang sayur itu, banyak sekali senjata pihak musuh telah dikutungi dan tidak sedikit juga melukai pihak lawan. Dengan demikian rombongan Ting-sian dapat bertempur sambil mengundurkan diri sampai di lembah pegunungan ini.

Lembah gunung ini dahulunya terdapat tambang besi, selama beberapa tahun terkenal sebagai “Lembah Tempat Pedang”. Kemudian simpanan baja di lembah itu habis digali, tempat gembleng pedang berpindah tempat, hanya tinggal sisa-sisa tungku dan rumah pembakaran yang pernah dihuni itu. Berkat rumah-rumah pembakaran itu pula orang-orang Hing-san-pay dapat bertahan sekian hari dan tidak sampai musnah. Orang-orang Ko-san-pay sudah mulai mengumpulkan kayu dan rumput kering dan akan membakar hidup-hidup mereka, coba kalau datangnya Lenghou Tiong terlambat setengah hari saja pasti keadaan sudah runyam.

Ting-yat Suthay tidak sabar mendengarkan cerita Gi-bun itu, dia hanya mendelik ke arah Lenghou Tiong. Mendadak ia berkata, “Kau … kau sangat baik. Tapi mengapa kau dipecat oleh gurumu, katanya kau berkomplot dengan pihak Mo-kau?”

“Tecu kurang teliti dalam pergaulan, tatkala itu memang benar berkenalan dengan beberapa tokoh dari Mo-kau,” sahut Lenghou Tiong.

“Hm, binatang-binatang seperti kaum Ko-san-pay ini terang lebih jahat daripada orang Mo-kau,” jengek Ting-yat Suthay. “Huh, apakah orang-orang yang menamakan dirinya beng-bun-cing-pay selalu lebih baik daripada Mo-kau?”

Tiba-tiba Gi-ho menyela, “Lenghou-suheng, bukan maksudku hendak mengolok-olok gurumu, padahal dia mengetahui bahwa Hing-san-pay kami sedang mengalami kesukaran, tapi dia sengaja berpeluk tangan tak mau membantu, di dalam hal ini bukan mustahil … bukan mustahil dia sudah menyetujui peleburan Ngo-gak-kiam-pay sebagaimana disarankan oleh Ko-san-pay.”

Tergerak hati Lenghou Tiong, ia merasa ucapan Gi-ho itu bukannya tidak mungkin. Tapi sejak kecil ia sudah memuja sang guru, dalam hati sedikit pun tidak pernah timbul rasa kurang hormatnya kepada beliau. Maka jawabnya, “Kukira suhu tidak sengaja tinggal diam, besar kemungkinan beliau ada urusan penting lain, maka … maka ….”

Sejak tadi Ting-sian memejamkan mata buat menghimpun semangat, kini perlahan-lahan ia membuka mata dan berkata, “Hing-san-pay mengalami bencana, semuanya berkat bantuan Lenghou-siauhiap, budi kebaikan ini ….”

“Ah, Tecu hanya melakukan kewajiban sekadarnya, ucapan Supek tak berani kuterima,” cepat Lenghou Tiong menjawab.

Ting-sian menggeleng, katanya, “Lenghou-siauhiap tidak perlu merendah diri. Gak-suheng sendiri tidak sempat, maka murid pertamanya yang dikirim ke sini untuk membantu juga sama saja. Gi-ho, kau jangan sembarang omong dan kurang hormat kepada orang tua.”

“Tecu tidak berani,” sahut Gi-ho sambil membungkuk tubuh. “Cuma … cuma Lenghou-suheng sudah diusir dari Hoa-san-pay, Gak-supek tidak mengakui dia lagi sebagai murid. Kedatangannya juga bukan atas suruhan Gak-supek.”

“Kau memang selalu tidak mau kalah dan suka berdebat saja,” ujar Ting-sian dengan tersenyum. Dasar wataknya memang halus, selamanya tidak pernah bersuara bengis kepada anak muridnya.

Mendadak Gi-ho menghela napas dan berkata pula, “Ai, kalau Lenghou-suheng adalah wanita tentu segalanya akan menjadi baik.”

“Sebab apa?” tanya Ting-sian Suthay.

“Dia sudah dipecat oleh Hoa-san-pay dan tidak punya ikatan keluarga lagi, jika dia wanita tentu dapat masuk menjadi anggota Hing-san-pay kita,” sahut Gi-ho. “Dia telah bahu-membahu dengan kita menghadapi segala kesukaran, sudah mirip orang sendiri ….”

“Ngaco-belo! Sudah begini besar, bicaramu masih seperti anak kecil saja,” bentak Ting-yat Suthay.

Sebaliknya Ting-sian tetap tersenyum, katanya, “Gak-suheng hanya salah paham saja, kelak bila sudah jelas duduknya perkara tentu Lenghou-siauhiap akan diterima kembali dan justru tenaga Lenghou-siauhiap akan sangat diandalkan. Seumpama dia tidak mau kembali ke Hoa-san-pay lagi, dengan ilmu silatnya yang tinggi dan keluhuran budinya, andaikan dia mau mendirikan aliran tersendiri juga bukan soal sulit.”

“Tepat sekali ucapan Supek,” The Oh menimbrung. “Lenghou-suheng, begitu jahat orang-orang Hoa-san-pay terhadap kau, kenapa tidak kau dirikan suatu … suatu Lenghou-pay saja? Hm, apa kau mesti kembali lagi ke Hoa-san-pay, memangnya kau kepingin?”

Lenghou Tiong bersenyum getir, katanya, “Dorongan Supek benar-benar sangat membesarkan hati Tecu. Tapi semoga kemudian hari suhu sudi memaafkan kesalahan Tecu dan berkenan kembali ke dalam perguruan, selain itu Tecu tidak punya keinginan lain lagi.”

“Kau tidak punya keinginan lain? Bagaimana dengan siausumoaymu?” tanya Gi-ho yang berwatak lugu dan suka bicara blakblakan itu.

Lenghou Tiong menggeleng, katanya ke pokok persoalan lain, “Marilah kita selesaikan layon para suci dan sumoay yang gugur. Apa mesti dikebumikan atau diperabukan?”

“Ya, kira perabukan saja mereka,” ujar Ting-sian Suthay dengan suara rada parau melihat sekian anak muridnya bergelimpangan menjadi korban keganasan orang. Karena itu beberapa muridnya kembali menangis lagi.

Ada beberapa murid Hing-san-pay sudah tewas beberapa hari yang lalu, ada pula yang menggeletak jauh di sana, beramai-ramai Gi-ho dan lain-lain mengumpulkan jenazah saudara-saudara seperguruan itu sembari mencaci maki kekejaman orang Ko-san-pay.

Selesai mengurusi jenazah hari pun sudah gelap. Malam itu lantas mereka lewatkan di lembah pegunungan sunyi itu. Besok paginya para murid Hing-san-pay mengusung Ting-sian dan Ting-yat Suthay serta saudara-saudara seperguruan yang terluka ke Kota Liong-coan. Dari situ mereka melanjutkan perjalanan melalui sungai, mereka menyewa empat buah perahu berkabin dan menuju ke utara.

Khawatir orang Ko-san-pay menyerang pula di tengah jalan, Lenghou Tiong ikut dalam rombongan Hing-san-pay itu.

Untuk menghindarkan prasangka jelek, Gi-lim sengaja menumpang di perahu lain. Setiap hari Lenghou Tiong omong-omong dengan Gi-ho, The Oh, Cin Koan, dan lain-lain sehingga tidak begitu kesepian. Sementara itu keadaan Ting-sian dan Ting-yat Suthay sudah berangsur baik sesudah perahu mereka lewat Ci-tong-kan.

Sampai di muara Sungai Tiangkang, mereka lantas ganti sewa perahu lain dan berlayar ke mudik, ke hulu sungai di sebelah barat. Perjalanan yang agak lambat itu diperkirakan setiba di Hankau semua orang yang terluka sudah dapat sembuh, di situ mereka dapat mendarat lalu melanjutkan perjalanan ke muara untuk pulang ke Hing-san.

Suatu hari sampailah mereka di muara Danau Hoan-yang-oh, perahu mereka berlabuh di tepi Kota Kiukang. Perahu yang mereka tumpangi sekarang adalah perahu layar yang amat besar, beberapa puluh orang berkumpul menjadi satu kapal. Di waktu malam Lenghou Tiong tidur bersama para kelasi dan juru mudi di buritan.

Tengah malam itu, tiba-tiba Lenghou Tiong mendengar di tepi sungai sana ada suara tepukan tangan yang perlahan, berturut-turut bertepuk tiga kali, berhenti sejenak lalu bertepuk tiga kali pula. Menyusul seorang di atas perahu sebelah barat juga balas tepuk tangan tiga kali berhenti sebentar, lalu bertepuk lagi tiga kali.

Tepuk tangan itu sebenarnya tidak keras, tapi lwekang Lenghou Tiong sekarang sudah amat tinggi, dengan sendirinya daya pendengarannya juga sangat tajam. Begitu mendengar suara yang aneh segera ia terjaga bangun. Ia tahu tepukan tangan itu adalah kode di antara orang-orang Kangouw yang saling memberi isyarat.

Selama beberapa hari Lenghou Tiong selalu waspada dan mengawasi gerak-gerik sepanjang sungai kalau-kalau musuh menyerang secara mendadak. Pikirnya, “Coba kulihat siapa yang datang. Jika mereka bermaksud jahat kepada Hing-san-pay akan kubereskan saja secara diam-diam supaya tidak mengejutkan Ting-sian Suthay dan lain-lain.”

Ia memandang ke perahu di sebelah barat sana, tertampak sesosok bayangan melompat ke daratan. Cepat Lenghou Tiong ikut melompat ke tepi sungai dengan enteng sekali, lalu mengitar di belakang sederetan keranjang yang berisi guci minyak yang siap di tepi sungai itu, terus menyusur lebih dekat ke sana.

Terdengar suara seorang sedang berkata, “Nikoh-nikoh di atas kapal itu memang tenar dari Hing-san-pay.”

Lenghou Tiong berjongkok dengan diam, terdengar seorang lagi menjawab, “Lalu bagaimana baiknya? Apakah kita turun tangan malam ini juga atau tunggu sesudah hari terang? Apakah kau mengetahui tokoh-tokoh Hing-san-pay mana yang ikut datang?”

Yang pertama tadi berkata, “Kudengar para nikoh itu ada yang memanggil suhu dan ada yang memanggil supek, jelas Ting-sian dan Ting-yat kedua nikoh tua itu berada bersama mereka, Ting-cing sudah jelas mati di Hokkian. Menghadapi nikoh-nikoh tua itu kita harus hati-hati. Pernah kusaksikan Ting-cing bertempur dengan orang di Soatang, kedua telapak tangannya yang bekerja naik-turun itu sekaligus pernah merobohkan tiga lawan tangguh terkenal di Soatang. Kabarnya kepandaian Ting-sian lebih tinggi pula daripada Ting-yat.”

“Jika begitu kukira lebih baik kita berunding dulu dengan para kawan kita,” kata temannya tadi.

“Tapi menurut pendapatku, asalkan kita berusaha merintangi keberangkatan kawanan nikoh ini ke barat kan urusan menjadi beres?” kata yang lain. “Jika kita berunding dengan teman-teman kan menandakan kita berdua terlalu bodoh.”

Dalam pada itu Lenghou Tiong telah merunduk lebih dekat, di bawah sinar bulan bintang yang remang-remang dilihatnya seorang berperawakan tegap, muka penuh godek mirip duri landak. Seorang lagi hanya tertampak dari samping, cuma raut mukanya kelihatan panjang lancip, orang ini kedengaran sedang menjawab, “Namun melulu kekuatan Pek-kau-pang kita jelas kita tak mampu melawan mereka. Apalagi kalau bertempur secara terang-terangan.”

“Siapa bilang bertempur secara terang-terangan?” ujar si godek. “Biarpun ilmu silat kawanan nikoh itu sangat tinggi, kalau sudah kecebur di dalam air apa yang bisa mereka lakukan? Besok kita tunggu saja kalau kapal mereka sudah dilepas ke tengah sungai, kita lantas selulup ke dalam sungai untuk membobol perahu mereka, dengan demikian masakah mereka takkan tertawan satu per satu?”

“Akal ini sangat bagus,” seru si muka lancip. “Dengan jasa besar ini nama Pek-kau-pang (Gerombolan Ular Putih) kita tentu akan tambah gemilang di Kangouw. Cuma aku masih mengkhawatirkan sesuatu.”

“Mengkhawatirkan apa?” tanya si godek.

“Ngo-gak-kiam-pay mereka telah berserikat, kukhawatir bila Bok-taysiansing dari Heng-san-pay mengetahui perbuatan kita, mungkin sekali dia akan mencari perkara kepada Pek-kau-pang kita.”

“Hm, selama ini kita pun sudah kenyang dibuat bulan-bulanan oleh Heng-san-pay. Sebaliknya sekali ini kalau kita tidak berusaha mati-matian, kelak kalau kita ada urusan tentu kawan-kawan lain juga takkan membantu. Padahal kalau usaha besar kali ini berhasil, boleh jadi Heng-san-pay akan ikut dihancurkan pula, perlu apa mesti takut kepada seorang Bok-taysiansing segala?”

“Baik, kuterima usulmu,” sahut si muka lancip akhirnya. “Sekarang juga kita kumpulkan anak buah yang mahir menyelam.”

Pada saat itulah Lenghou Tiong lantas melompat ke luar, dengan gagang pedang ia ketok belakang kepala si muka lancip, kontan orang itu jatuh kelengar. Si godek lantas memukul, tapi tahu-tahu thay-yang-hiat di pelipisnya telah kena ditonjok oleh gagang pedang Lenghou Tiong, seperti gasingan saja si godek berputar-putar dan akhirnya jatuh terduduk.

Pedang Lenghou Tiong menebas, dua buah tutup keranjang guci minyak telah dipotong, lalu kedua orang itu diangkatnya untuk dijebloskan ke dalam guci minyak yang penuh berisi minyak sayur. Rupanya guci-guci minyak itu disiapkan untuk esok harinya akan dimuat ke dalam perahu.

Begitu kedua orang itu masuk guci minyak, seketika mulut dan hidung mereka terendam, karena kerendam minyak dingin mereka lantas siuman malah dan kontan gelagapan karena tercekok minyak.

Tiba-tiba ada orang berkata di belakang, “Jangan mengganggu jiwa mereka, Lenghou-siauhiap!”

Itulah suara Ting-sian Suthay.

Lenghou Tiong terperanjat karena datangnya Ting-sian itu ternyata sama sekali tak diketahuinya. Segera ia mengiakan sembari mengendurkan tangannya yang menahan di atas kepala kedua orang itu.

Begitu merasa tekanan di atas kepala sudah kendur, segera kedua orang itu bermaksud melompat ke luar. Tapi Lenghou Tiong keburu berkata dengan tertawa, “Eh, jangan bergerak!”

Berbareng pedangnya mengetok pula batok kepala kedua orang sehingga mereka dipaksa ke dalam guci minyak lagi.

Kedua orang itu meringkuk di dalam guci minyak dan terendam minyak sampai sebatas leher, mata mereka terbelalak bingung karena tidak mengetahui cara bagaimana mereka bisa mengalami nasib demikian.

Dalam pada itu sesosok bayangan tampak melompat dari atas perahu, kiranya Ting-yat Suthay adanya. Dia bertanya, “Suci, apakah ada yang tertangkap?”

“Ternyata dua tongcu dari Pek-kau-pang di Lembah Kiukang sini, Lenghou-siauhiap hanya bercanda saja dengan mereka,” sahut Ting-sian. Lalu ia berpaling kepada si godek dan bertanya, “Saudara she Ih atau she Ce? Apakah Su-pangcu baik-baik saja?”

Si godek memang she Ih, sahutnya dengan heran, “Aku she Ih, dari … dari mana kau tahu? Su-pangcu kami sangat baik.”

Dengan tersenyum Ting-sian berkata, “Ih-tongcu dan Ce-tongcu dari Pek-kau-pang di dunia Kangouw terkenal sebagai ‘Tiangkang-siang-hui-hi’ (Dua Ikan Terbang di Sungai Tiangkang), nama kebesaran kalian sudah lama seperti bunyi guntur memekak telingaku.”

Kiranya Ting-sian Suthay adalah seorang yang sangat teliti dalam segala hal, meski dia jarang berkelana, tapi macam-macam tokoh dari berbagai golongan dan aliran cukup dipahaminya. Si godek she Ih dan si muka lancip she Ce ini sebenarnya cuma jago kelas tiga atau empat di dunia persilatan, tapi begitu melihat raut mukanya tadi ia lantas dapat menduga asal usulnya.

Si muka lancip tampak sangat senang karena pujian Ting-sian, sahutnya, “Ah, mana kami berani terima istilah seperti guntur memekak telinga.”

Mendadak Lenghou Tiong kerahkan tenaga dan menekan kepala kedua orang itu ke dalam minyak, lalu dikendurkan lagi, katanya dengan tertawa, “Aku pun sudah lama mendengar nama kebesaran kalian seperti minyak menyusup ke dalam telinga.”

Keruan si muka lancip menjadi gusar. “Kau … kau ….” ia bermaksud memaki, tapi tidak berani.

“Setiap pertanyaanku harus kau jawab dengan sejujurnya, jika dusta sedikit saja segera akan kubikin kalian ‘Ikan Terbang Sungai Tiangkang’ menjadi ‘Belut Mati Terendam Minyak’,” habis berkata ia terus tekan pula kepala si godek she Ih ke dalam minyak.

Ting-sian dan Ting-yat tersenyum geli, mereka sama pikir, “Pemuda ini menang nakal. Tapi caranya ini juga cara paling bagus untuk memaksa pengakuan dari tawanan.”

Begitulah Lenghou Tiong lantas mulai bertanya, “Pek-kau-pang kalian mulai kapan berkomplot dengan Ko-san-pay? Siapa yang suruh kalian membikin susah Hing-san-pay?”

“Berkomplot lengan Ko-san-pay inilah aneh?” sahut si godek. “Para kesatria Ko-san-pay tiada satu pun yang kami kenal.”

“Haha, pertanyaan pertama saja sudah tidak kau jawab dengan jujur, biar kau minum minyak lebih kenyang,” seru Lenghou Tiong. Habis berkata, kembali ia tekan kepala orang itu sehingga kelabakan pula terendam minyak. Lalu katanya terhadap si muka lancip, “Lekas kau bicara terus terang, apakah kau juga ingin menjadi belut rendaman minyak?”

“Aku tidak ingin menjadi belut,” sahut orang she Ce itu. “Tapi apa yang dikatakan Ih-toako tidaklah dusta, kami benar-benar tidak kenal tokoh Ko-san-pay. Lagi pula Ko-san-pay adalah kawan serikat Hing-san-pay sendiri, hal ini diketahui oleh setiap orang bu-lim, mana mungkin Ko-san-pay menyuruh kami membikin susah Hing-san-pay kalian.”

Lenghou Tiong angkat pedangnya untuk melepaskan kepala she Ih itu, lalu bertanya pula, “Tadi kau mengatakan besok akan menenggelamkan kapal yang ditumpangi Hing-san-pay di tengah sungai, maksud kalian benar-benar keji, sebenarnya apa salahnya Hing-san-pay terhadap kalian?”

Ting-yat Suthay yang datang belakangan belum mengetahui apa sebabnya Lenghou Tiong mengompes kedua orang itu, sekarang demi mendengar keterangan itu, ia menjadi gusar dan membentak, “Bangsat kurang ajar, jadi kau bermaksud menenggelamkan kami.”

Anak murid Hing-san-pay hampir seluruhnya adalah orang utara yang tidak dapat berenang, jika benar kapal mereka tenggelam di tengah sungai, maka sukar untuk menghindarkan diri dari mati tenggelam. Kalau dibayangkan sungguh mengerikan.

Khawatir kalau dibenamkan lagi ke dalam minyak, lekas-lekas orang she Ih itu mendahului menjawab, “Selamanya Hing-san-pay tiada permusuhan apa-apa dengan Pek-kau-pang kami yang tiada artinya ini, mana kami berani pula mencari perkara kepada Hing-san-pay kalian. Hanya saja kami … kami menyangka kalian adalah sesama pemeluk agama Buddha, kepergian kalian ke arah barat besar kemungkinan akan memberikan bantuan, maka … maka secara sembrono timbul maksud jelek kami. Tapi lain kali kami tidak berani lagi.”

Makin mendengar makin bingung Lenghou Tiong, tanyanya, “Apa maksudmu sesama pemeluk agama dan memberi bantuan segala? Bicaralah yang jelas, bikin bingung saja.”

“Ya, ya,” sahut orang she Ih. “Meski Siau-lim-pay bukan satu di antara Ngo-gak-kiam-pay, tapi kami kira hwesio dan nikoh adalah orang satu keluarga ….”

“Kurang ajar!” mendadak Ting-yat membentak.

Orang she Ih itu kaget, tanpa disadari terus mengkeretkan tubuhnya sehingga kelabakan karena mulutnya kemasukan minyak.

Dengan menahan tawa Ting-yat menuding si muka lancip, “Lekas kau yang bicara!”

“Ya, ya,” sahut orang she Ce. “Ada seorang ‘Ban-li-tok-heng’ Dian Pek-kong, entah Suthay kenal baik tidak dengan dia?”

Ting-yat menjadi gusar, pikirnya Dian Pek-kong itu adalah manusia cabul, masakah dirinya seorang padri suci kenal baik dengan dia? Benar-benar suatu penghinaan besar, segera sebelah tangannya melayang, kontan ia hendak menempeleng orang she Ce.

Tapi Ting-sian Suthay keburu mencegah, katanya, “Sumoay jangan gusar, mungkin otak mereka sudah beku karena terendam minyak, maka bicara tak keruan.”

Lalu ia tanya orang she Ce, “Ada apa tentang Dian Pek-kong?”

“Dian Pek-kong, Dian-toaya itu adalah sobat baik Su-pangcu kami,” sambung orang she Ce. “Beberapa hari yang lalu Dian-toaya ….”

“Dian-toaya apa? Manusia kotor begitu sudah lama seharusnya dibunuh, tapi kalian malah berkawan dengan dia, ini menandakan Pek-kau-pang kalian juga bukan manusia baik-baik,” kata Ting-yat dengar gusar.

Orang she Ce menjadi ketakutan, berulang-ulang ia hanya mengiakan saja.

“Kami hanya tanya apa sebabnya Pek-kau-pang kalian memusuhi Hing-san-pay, kenapa kau sebut-sebut pula Dian Pek-kong?” ujar Ting-yat pula. Lantaran dahulu Dian Pek-kong pernah mengganggu muridnya, yaitu Gi-lim, ia pun tidak berhasil membunuhnya, hal ini dianggapnya sebagai kejadian yang memalukan, maka ia merasa risi jika orang menyebut namanya Dian Pek-kong.

Kembali orang she Ce mengiakan, katanya, “Ya, ya. Soalnya kawan-kawan ingin menolong Yim-siocia, tapi khawatir orang-orang cing-pay membantu kaum hwesio, maka kami berdua yang sembrono ini ikut-ikut timbul pikiran baru ….”

Ting-yat tambah bingung mendengar cerita yang tak keruan juntrungannya itu, ia menghela napas dan berkata, “Suci, kedua orang dogol ini harus kau yang tanyai saja.”

Ting-sian tersenyum, katanya kemudian, “Yim-siocia katamu, apakah kau maksudkan putri Yim-kaucu dari Tiau-yang-sin-kau yang dulu?”

Lenghou Tiong tergetar. “Apa yang mereka maksudkan adalah Ing-ing?” wajahnya berubah seketika dan tangan mengeluarkan keringat.

“Ini … inilah kurang jelas,” sahut orang she Ce. “Yang jelas beberapa waktu yang lalu Dian-toaya, eh keliru, Dian Pek-kong telah bertamu kepada Su-pangcu kami, katanya menurut rencana pada tanggal 15 bulan 12 yang akan datang ini para kawan beramai-ramai akan menyerbu Siau-lim-si untuk menyelamatkan Yim-siocia.”

“Menyerbu Siau-lim-si? Apa kepandaian kalian sehingga berani menepuk lalat di atas kepala harimau? Kurang ajar benar keparat Dian Pek-kong itu,” omel Ting-yat.

“Ya, ya, tentu saja kami tak mampu apa-apa,” sahut orang she Ce.

“Kukira Dian Pek-kong itu hanya bertugas sebagai penghubung saja karena kakinya paling cepat,” ujar Ting-sian. “Dalam urusan ini sesungguhnya siapa yang memegang pimpinan?”

Dari tadi orang she Ih diam saja, sekarang ia lantas menyela, “Ketika para kawan mendengar Yim-siocia dikurung oleh kepala gun … eh, maksudku hwesio-hwesio dari Siau-lim-si, serentak semua orang menyatakan siap pergi menolong Yim-siocia, maka sukar dikatakan siapa yang pegang pimpinan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: