Hina Kelana: Bab 86. Hing-san-pay Hampir Musnah

Setelah ambil keputusan demikian segera ia berkata, “Sejak berangkat dari Hokciu, senantiasa aku berada bersama para suci dan sumoay Hing-san-pay ini, cara bagaimana aku dapat pergi membunuh patsute dan Lo Tek-nau? Jika perlu boleh kau tanya keterangan mereka.”

“Hm, kau suruh aku tanya mereka?” dengan Leng-sian. “Mereka telah bersekongkol dengan kau, masakah mereka takkan berdusta bagimu?”

Mendengar itu, kembali sebagian murid Hing-san-pay berteriak-teriak marah lagi, beberapa murid preman di antaranya lantas batas memaki dengan tajam.

Leng-sian menarik mundur kudanya, katanya, “Lenghou Tiong, Siau-lim-cu terluka sangat parah, dalam keadaan setengah tak sadar masih terus menyebut kiam-boh, jika kau masih punya hati nurani sebagai manusia seharusnya kau mengembalikan kiam-boh padanya. Kalau tidak ….”

“Apa kau yakin aku benar-benar manusia serendah ini?”

“Jika kau bukan manusia rendah, maka di dunia ini tiada manusia rendah lagi,” seru Leng-sian dengan murka.

Sejak tadi perasaan Gi-lim sangat terguncang mengikuti percakapan mereka, sekarang ia tidak tahan lagi, selanya, “Nona Gak, Lenghou-toako teramat baik kepadamu, dengan tulus hati dia benar-benar sangat baik terhadap kau, mengapa kau memakinya secara demikian galak?”

“Dia baik-tidak padaku, sebagai seorang beragama, dari mana kau mendapat tahu?” tanya Leng-sian dengan tertawa dingin.

Seketika Gi-lim merasa bangga, ia merasa apa pun akibatnya juga mesti membela Lenghou Tiong yang difitnah orang secara demikian keji, soal kelak akan diomeli oleh gurunya tentang pelanggarannya atas peraturan perguruan sudah tak terpikir lagi. Dengan suara lantang ia lantas berkata pula, “Lenghou-toako sendiri yang omong padaku.”

“Hm, hal ini pun dia katakan padamu?” jengek Leng-sian. “Justru karena dia ingin membaiki aku, maka Lim-sute telah dicelakai olehnya.”

Lenghou Tiong menghela napas, katanya, “Gi-lim Sumoay, tidak usah bicara panjang lebar lagi. Aku hanya minta sedikit obat luka Hing-san-pay kalian yang sangat mujarab itu untuk Nona Gak.”

Namun Leng-sian lantas memutar kudanya ke sana dan berkata, “Sekali bacok kau tidak jadi membinasakan dia, sekarang kau hendak pakai racun bukan? Mana aku dapat kau tipu? Lenghou Tiong, bila Siau-lim-cu tidak sembuh, tentu aku … aku ….” sembari bicara ia telah mencambuk kudanya dan dilarikan secepat terbang ke selatan.

Mengikuti suara derapan kuda yang makin lama makin menjauh, hati Lenghou Tiong menjadi bimbang seakan-akan kehilangan sesuatu.

“Benar-benar perempuan bawel, biarkan mati saja Siau-lim-cu yang dia sebut-sebut tadi,” kata Cin Koan gemas.

“Cin-sumoay, sebagai murid Buddha kita harus mengutamakan welas asih, meski nona tadi sikapnya tidak benar juga kita tidak boleh menyumpahi kematian orang,” kata Gi-cin.

Tiba-tiba timbul pikiran Lenghou Tiong, katanya, “Gi-cin Sumoay, aku ingin mohon sesuatu, sudilah kau melelahkan diri sedikit.”

“Asal Lenghou-suheng yang memberi perintah pasti akan kuturuti,” sahut Gi-cin.

“Mana aku berani memerintah,” ujar Lenghou Tiong. “Soalnya orang she Lim yang disebut tadi adalah suteku, menurut Nona Gak, katanya dia terluka parah. Kupikir obat Hing-san-pay kalian sangat manjur, jika ….”

“Apa kau minta aku mengantar obat untuk dia? Baik, segera aku kembali ke Hokciu sana. Gi-leng Sumoay, harap kau menemani aku ke sana.”

“Banyak terima kasih atas kesudian kedua sumoay,” kata Lenghou Tiong sambil memberi hormat.

“Selama ini Lenghou-suheng terus berada bersama kami, mana bisa dituduh membunuh orang?” ujar Gi-cin. “Fitnah yang tak berdasar ini perlu juga kujelaskan kepada Gak-siansing.”

Lenghou Tiong hanya menggeleng sambil tersenyum getir.

Dilihatnya Gi-cin dan Gi-leng telah melarikan kudanya ke arah Hokciu, pikirnya pula, “Sedemikian simpatik mereka terhadap urusanku, jika aku meninggalkan mereka dan kembali ke Hokciu, rasanya tidaklah pantas. Apalagi Ting-sian Suthay dan orang-orangnya benar-benar terkurung oleh musuh, sedangkan betul-tidak Yim Ngo-heng berada di Hokciu belum lagi diketahui dengan pasti ….”

Perlahan-lahan ia mendekati pohon yang tumbang tadi dan menjemput kembali pedangnya. Tiba-tiba teringat olehnya, “Aku telah menyatakan bila ingin bunuh Lim Peng-ci, buat apa menyerangnya dari belakang dan mana mungkin sekali tebas tidak membinasakan dia? Tapi kalau yang menyerang itu adalah Yim Ngo-heng, lebih-lebih tidak mungkin sekali tebas tidak membuat matinya Lim Peng-ci? Pasti ada lagi orang lain. Ya, asalkan bukan Yim Ngo-heng saja tentu suhu tidak perlu takut padanya.”

Berpikir demikian hatinya lantas merasa lega. Didengarnya sayup-sayup derapan kuda yang ramai dari jauh, dari suara yang riuh itu ia menduga pasti rombongan Ih-soh yang telah kembali.

Benar juga, tidak lama kemudian 15 penunggang kuda sudah mendekat. Ih-soh lantas berkata, “Lenghou-siauhiap, banyak juga hasil … hasil derma kita, cuma kita tidak akan menghabiskan uang sebanyak ini.”

“Tidak habis pakai sendiri boleh kita sumbangkan kepada kaum fakir miskin,” sela Gi-ho dengan tertawa. Lalu ia menoleh kepada Gi-jing dan berkata, “Tadi di tengah jalan kami memergoki seorang perempuan muda, kalian di sini melihat dia tidak? Entah dari mana dia, tapi telah bergebrak dengan kami.”

“Telah bergebrak dengan kalian?” seru Lenghou Tiong khawatir.

“Benar,” sahut Gi-ho. “Dalam kegelapan kuda perempuan itu telah dipacu begitu cepat, begitu melihat kami lantas mencaci maki, katanya nikoh tidak genah, tidak tahu malu segala.”

Diam-diam Lenghou Tiong mengeluh, tanyanya cepat, “Parah tidak lukanya?”

“Eh, dari mana kau mengetahui dia terluka?” sahut Gi-ho heran.

Dalam hati Lenghou Tiong berkata, dia memaki kalian demikian, watakmu juga berangasan, dia sendirian mana mampu melawan kalian, tentu saja akan terluka. Ia tanya lagi, “Bagian mana lukanya itu?”

“Mula-mula aku tanya dia mengapa datang-datang lantas mencaci maki orang, padahal kita belum kenal,” tutur Gi-ho. “Tapi kembali dia memaki lagi sambil mengayun cambuknya ke arahku dan membentak agar kami minggir. Tentu saja kami menjadi gusar, kutangkap cambuknya dan mulailah kami melabraknya.”

“Begitu dia melolos pedang kami lantas tahu dia adalah orang Hoa-san-pay, meski dalam kegelapan wajahnya tidak jelas kelihatan, kemudian dapat kami mengenali dia sebagai putrinya Gak-siansing,” sambung Ih-soh. “Cepat kami berteriak mencegah serangan para sumoay, tapi lengannya sudah telanjur terluka dua tempat, hanya tidak begitu parah.”

“Sebenarnya aku sudah kenal dia,” kata Gi-ho dengan tertawa. “Cuma Hoa-san-pay mereka terlalu kasar terhadap Lenghou Tiong ketika di Kota Hokciu kemarin, mereka pun tidak mau membantu kesulitan Hing-san-pay kita, maka aku sengaja membikin nona galak itu tahu rasa.”

“Sesungguhnya Gi-ho Suci telah bermurah tangan terhadap Nona Gak itu,” tutur The Oh. “Pedangnya hanya menggores perlahan di lengannya lantas ditarik kembali, jika berkelahi sungguh-sungguh, mustahil kalau sebelah lengannya itu tidak berpisah dengan tubuhnya?”

Lenghou Tiong menjadi serbasusah, suatu peristiwa belum diselesaikan, lain peristiwa sudah timbul lagi. Ia kenal perangai sumoay cilik yang tinggi hati dan tidak mau kalah itu, kejadian malam ini pasti akan dianggapnya sebagai penghinaan besar dan besar kemungkinan akan diperhitungkan atas kesalahan Lenghou Tiong. Tapi semuanya sudah terjadi, terpaksa ia tak bisa berbuat apa-apa. Untungnya luka siausumoay itu tidak berat.

Sebagai anak dara yang cerdik, The Oh dapat mengetahui perhatian Lenghou Tiong terhadap nona Gak itu, segera ia berkata, “Jika sebelumnya kami mengetahui dia adalah sumoaynya Lenghou-suheng, tentu kami akan mengalah biarpun dia mencaci maki kami lebih banyak pula. Soalnya dalam kegelapan, kami tidak tahu jelas siapa dia. Biarlah kelak kalau bertemu lagi akan kami minta maaf padanya.”

“Minta maaf apa? Apa salah kita terhadap dia? Sebaliknya begitu bertemu dia lantas memaki kita. Seluruh dunia juga tiada orang macam dia,” ujar Gi-ho mendongkol.

“Kalian sudah berhasil mendapatkan sedekah, marilah kita berangkat,” kata Lenghou Tiong. “Bagaimana dengan Pek-pak-bwe yang kalian kunjungi itu?”

Karena sedih hatinya, ia tidak ingin mempersoalkan Gak Leng-sian lagi dan segera membelokkan pokok pembicaraan.

Bicara tentang “minta derma”, Gi-ho dan kawan-kawannya menjadi bersemangat. Segera ia menyerocos menceritakan pengalamannya, “Haha, sungguh menyenangkan. Biasanya adalah sangat sulit minta derma setahil dua perak kepada hartawan macam begitu, tapi malam ini sekali sedekah dapatlah beberapa ribu tahil.”

“Sungguh lucu, Pek-pak-bwe itu merangkak-rangkak sambil menangis, katanya jerih payahnya selama berpuluh tahun telah amblas dalam waktu semalam saja,” sambung The Oh dengan tertawa.

“Habis namanya saja Pek-pak-bwe, dia tukang menguliti rakyat kecil, sekarang dia juga harus dikuliti,” Cin Koan menambahkan.

Setelah tertawa ramai, segera murid-murid Hing-san-pay itu terkenang pula kepada suhu dan supek mereka yang sedang terkurung musuh, kembali perasaan mereka tertekan dan tanpa disuruh lagi mereka lantas memacu kuda secepatnya.

“Lenghou-toako, jangan terlalu cepat, hati-hati dengan lukamu,” kata Gi-lim.

“Hanya sedikit luka luar saja tidak menjadi soal, dengan obat pemberianmu tentu tidak lama akan sembuh,” sahut Lenghou Tiong.

Gi-lim berkata di dalam hati, “Ya, aku tahu lukamu yang paling parah adalah di dalam batin.”

Tiada terjadi apa-apa sepanjang jalan, beberapa hari kemudian sampailah mereka di Liong-coan yang terletak di Ciatkang Selatan. Luka yang diderita Lenghou Tiong walaupun banyak mengeluarkan darah, tapi luka itu cuma luka luar saja, dengan lwekangnya yang tinggi, ditambah obat mujarab Hing-san-pay, sampai di wilayah Liong-coan lukanya sudah sembuh separuh.

Para murid Hing-san-pay sangat gelisah, baru memasuki wilayah Ciatkang mereka lantas mencari tahu di mana letaknya To-kiam-kok. Tapi sepanjang jalan tiada orang yang bisa memberi petunjuk. Sampai di Kota Liong-coan, tertampak banyak sekali toko-toko senjata, tapi tetap tiada satu toko pun yang mengetahui di mana letaknya To-kiam-kok (Lembah Tempa Pedang).

Keruan semua orang tambah cemas. Ketika mereka tanya adakah terlihat dua nikoh tua atau pernah terjadi pertempuran di sekitar kota situ, para pandai besi dan pemilik toko senjata juga tidak dapat memberi keterangan. Tentang nikoh hanya ditunjukkan bahwa di barat kota, di Biara Cui-gwe-am memang dihuni oleh kaum padri perempuan, cuma nikoh-nikoh di sana rata-rata belum terlalu tua.

Setelah tanya jelas letak Cui-gwe-am, rombongan mereka lantas dipacu ke sana. Setiba di depan biara itu, pintu biara tampak tertutup rapat. The Oh yang menggedor pintu, tapi sampai lama sekali tetap tiada sambutan apa-apa dari dalam.

Gi-ho menjadi tidak sabar menunggu lagi, ia melolos pedang terus melompat ke dalam biara dengan melintasi pagar tembok. Khawatir sang sumoay mengalami apa-apa, cepat Gi-jing ikut melompat masuk.

“Coba lihat apa ini?” kata Gi-ho sambil menunjuk tanah di depannya.

Ternyata di pelataran biara itu ada tujuh-delapan potong ujung pedang, jelas bekas ditebas kutung oleh senjata tajam.

“Adakah orang di dalam?” teriak Gi-ho sembari mencari ke ruangan belakang.

Gi-jing sendiri lantas membukakan pintu agar Lenghou Tiong dan lain-lain masuk ke dalam. Ia jemput sepotong ujung pedang yang kutung di atas tanah dan diberikan kepada Lenghou Tiong, katanya, “Lenghou-suheng, di sini pernah terjadi pertempuran.”

Lenghou Tiong terima kutungan pedang itu, dilihatnya bagian yang terkutung itu sangat licin dan mengilap. Tanyanya, “Apakah Ting-sian dan Ting-yat Suthay menggunakan senjata pedang?”

“Beliau berdua tidak memakai pedang,” sahut Gi-jing. “Suhu menyatakan, asalkan dapat meyakinkan ilmu pedang dengan sempurna, sekalipun yang dipakai adalah pedang kayu atau pedang bambu juga cukup untuk mengalahkan musuh. Beliau menyatakan pula bahwa pedang atau golok terlalu keras, sedikit kurang hati-hati sudah menghabiskan nyawa orang atau mencacatkan badan lawan ….”

“Maksud beliau harus mengutamakan welas asih bukan?” sela Lenghou Tiong.

Gi-jing manggut. Dalam pada itu tiba-tiba terdengar seruan Gi-ho dari ruangan belakang, “He, di sini juga ada kutungan ujung pedang.”

Beramai-ramai mereka lantas menyusul ke belakang, tertampak lantai maupun meja pada tiap-tiap ruangan biara itu penuh tertimbun debu. Pada umumnya biara pasti selalu terawat dengan sangat bersih, melihat debu yang memenuhi biara itu dapat diperkirakan sudah sekian lamanya ditinggalkan oleh penghuninya.

Setiba di pekarangan belakang, Lenghou Tiong dan lain-lain dapat menyaksikan beberapa pohon juga telah tumbang oleh tebasan senjata tajam. Dari bagian yang putus itu dapat diduga waktunya sudah beberapa hari yang lalu. Pintu belakang biara itu kelihatan terpentang lebar, daun pintu mencelat beberapa meter jauhnya, tampaknya didobrak orang secara paksa. Di luar pintu belakang ada sebuah jalanan kecil yang menuju ke lereng-lereng bukit, beberapa meter jauhnya ke sana jalan itu lantas bercabang dua arah.

“Kita membagi diri dalam dua kelompok, coba periksa adakah sesuatu yang mencurigakan?” seru Gi-jing.

Tidak lama kemudian Cin Koan yang ikut mencari ke arah sebelah kanan telah berteriak, “Di sini adalah sebuah panah kecil!”

“Ya, di sini juga ada sebuah paku!” seru pula yang lain.

Jalanan itu menjurus ke arah lereng-lereng bukit, segera mereka berlari cepat ke sana. Sepanjang jalan banyak pula ditemukan senjata rahasia serta kutungan pedang dan golok.

Sekonyong-konyong Gi-jing berseru kaget. Dari semak-semak rumput dijemputnya sebatang pedang, katanya terhadap Lenghou Tiong, “Inilah senjata golongan kami!”

“Tampaknya Ting-sian dan Ting-yat Suthay terlibat dalam pertempuran sengit dan pasti melalui tempat ini,” ujar Lenghou Tiong.

Walaupun ucapan Lenghou Tiong ini tidak menyatakan kekalahan di pihak Hing-san-pay, tapi Gi-ho dan lain-lain tahu tentu gurunya dan Ting-yat Suthay tidak mampu melawan musuh dan telah lari melalui jalanan ini. Dari senjata yang berserakan sepanjang jalan itu dapat diketahui pertarungan itu pasti sangat dahsyat. Agaknya kejadian sudah lalu beberapa hari, entah masih keburu menolong beliau-beliau atau tidak. Begitulah semua orang dicekam oleh perasaan khawatir, langkah mereka menjadi tambah cepat.

Jalan pegunungan itu makin menanjak makin curam serta melingkar-lingkar ke belakang gunung. Beberapa li kemudian, jalanan penuh batu-batu belaka dan tiada berwujud jalan lagi. Anak murid Hing-san-pay yang ilmu silatnya lebih rendah seperti Gi-lim, Cin Koan, dan lain-lain sudah jauh ketinggalan di belakang.

Jalan lebih jauh keadaan tambah sulit, boleh dikata bukan jalan lagi, juga tiada terdapat tanda-tanda berserakan senjata seperti tadi. Selagi menghadapi jalan buntu tanpa tanda-tanda arah, mendadak tertampak di sisi kiri di balik gunung sana ada asap tebal menjulang tinggi ke langit.

“Lekas kita periksa ke sebelah sana!” seru Lenghou Tiong dan segera mendahului berlari ke depan.

Asap tebal itu makin membubung tinggi. Sesudah mereka mengitari lereng sana, terlihatlah sebuah lembah luas di depan mereka. Api sedang berkobar-kobar dengan hebatnya di tengah lembah situ, terdengar suara peletak-peletok terbakarnya rumput dan kayu.

Dengan sembunyi di balik batu padas, Lenghou Tiong memberi tanda ke belakang agar Gi-ho dan lain-lain jangan bersuara. Pada saat itulah lantas terdengar teriakan seorang laki-laki dengan serak tua, “Ting-sian, Ting-yat, hari ini kami antar kalian menuju ke nirwana dan mendapatkan kesempurnaan, kalian tidak perlu berterima kasih lagi pada kami.”

Lenghou Tiong bergirang, jelas Ting-sian dan Ting-yat Suthay masih hidup, untung kedatangannya ini tidak terlambat.

Lalu terdengar pula seruan seorang laki-laki lain, “Dengan baik-baik kami bujuk kalian meleburkan diri dalam perserikatan kita, tapi kalian justru kepala batu dan membangkang, sejak kini dunia persilatan takkan ada Hing-san-pay lagi.”

“Ya, kalian jangan menyalahkan orang lain berlaku kejam, tapi harus menyalahkan kalian sendiri yang bandel sehingga mengakibatkan banyak anak muridmu yang masih muda usia itu ikut mati konyol, sungguh sayang. Hahahahaha!” demikian teriak orang pertama tadi dengan tertawa penuh kepuasan.

Suara kedua orang itu yang satu timbul dari sebelah barat daya sana dan yang lain dari timur laut. Tampaknya api di tengah lembah itu semakin berkobar, jelas Ting-sian dan Ting-yat terkurung di tengah lautan api.

Segera Lenghou Tiong siapkan pedang, ia menarik napas panjang-panjang, lalu berteriak nyaring, “Kawanan bangsat, berani kalian membikin susah para suthay dari Hing-san-pay, sekarang tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay telah datang membantu, lekas kawanan bangsat menyerahkan diri!”

Sembari berseru ia terus menerjang ke bawah sana.

Sampai di dasar lembah ia lantas terhalang oleh tumpukan kayu dan rumput kering yang meninggi sampai beberapa meter. Tanpa pikir lagi Lenghou Tiong terus meloncat ke tengah gundukan api. Untung rumput dan kayu di tengah lingkaran api itu belum terbakar. Ia memburu maju beberapa langkah, terlihat dua buah rumah pembakaran gamping, tapi tidak tampak seorang pun.

“Ting-sian Suthay, Ting-yat Suthay, bala bantuan Hing-san-pay sudah tiba!” seru Lenghou Tiong.

Dalam pada itu Gi-ho, Gi-jing, dan lain-lain juga berteriak-teriak dari luar lingkaran api, “Suhu, Supek, Tecu sekalian sudah datang!”

Menyusul terdengarlah suara bentakan musuh dibarengi dengan suara benturan senjata yang ramai.

Dari mulut gua pembakaran tiba-tiba muncul sesosok tubuh orang yang tinggi besar, sekujur badannya berlumuran darah. Itulah Ting-yat Suthay, pada tangannya menghunus pedang, meski pakaiannya sudah robek, mukanya juga berlepotan darah, tapi sekali berdiri masih kelihatan gagah berwibawa.

Ketika melihat Lenghou Tiong, Ting-yat tercengang, katanya, “Kau … kau ….”

“Tecu Lenghou Tiong,” sahut Lenghou Tiong.

“Aku memang kenal kau sebagai Lenghou Tiong yang ….”

Tapi Lenghou Tiong lantas memotong, “Tecu akan membuka jalan, silakan kalian ikut menerjang keluar.”

Ia terus menjemput sebatang kayu dan digunakan untuk mengorak-arik gundukan rumput yang terbakar.

“Kau kan sudah masuk Mo-kau …” belum lagi Ting-yat sempat bicara, pada saat itu seorang telah membentak, “Siapa yang berani mengacau di sini?”

Sinar golok tampak berkelebat di tengah cahaya api.

Melihat api berkobar lebih hebat, sedangkan Ting-yat Suthay menaruh prasangka padanya dan tampaknya tidak sudi ikut menerjang keluar, dalam keadaan demikian Lenghou Tiong pikir mesti ambil tindakan kilat dan terpaksa harus melanggar pantangan membunuh baru dapat menyelamatkan tokoh-tokoh Hing-san-pay itu. Maka cepat ia melangkah mundur setindak sehingga serangan golok tadi meleset. Menyusul bacokan golok yang kedua kalinya lantas tiba pula. Tapi sekali pedang Lenghou Tiong bergerak, “cret”, kontan golok lawan berikut lengannya sudah tertebas kutung. Pada saat yang sama terdengar jeritan ngeri seorang wanita di luar lingkaran sana, tentu murid Hing-san-pay yang telah dicelakai musuh.

Lenghou Tiong menjadi khawatir, cepat ia melompat ke luar lingkaran api, dilihatnya di lereng gunung secara berkelompok-kelompok sudah terjadi pertarungan sengit. Setiap tujuh murid Hing-san-pay terjalin menjadi satu barisan pedang sedang melawan musuh, tapi ada juga beberapa orang yang terpisah sendiri-sendiri dan tidak sempat menggabungkan diri, terpaksa bertempur dengan musuh secara nekat.

Barisan pedang yang terbentuk itu meski belum tampak unggul, tapi sementara juga takkan berhalangan, sebaliknya yang bertempur sendiri-sendiri itu kelihatan terdesak, dalam waktu singkat sudah ada dua-tiga murid perempuan yang telah menggeletak binasa.

Lenghou Tiong coba mengawasi medan pertempuran, dilihatnya Gi-lim dan Cin Koan dengan punggung adu punggung sedang menempur tiga laki-laki dengan mati-matian. Cepat ia memburu ke sana, mendadak sinar tajam berkelebat, sebatang pedang telah menusuk ke arah dadanya. Sedikit pun langkah Lenghou Tiong tidak menjadi kendur, berbareng pedangnya menyabet ke depan, leher orang itu tertusuk dan tamat seketika.

Dengan beberapa lompatan lagi Lenghou Tiong sudah sampai di depan Gi-lim, sekali pedangnya bergerak, kontan punggung seorang laki-laki itu tertembus, gerakan pedang berikutnya telah merobek iga seorang musuh yang lain. Laki-laki yang ketiga sedang angkat ruyung baja hendak mengemplang ke batok kepala Cin Koan, cepat pedang Lenghou Tiong memapak ke atas, kontan sebelah lengan laki-laki itu tertebas sebatas bahu.

Wajah Gi-lim tampak pucat pasi, katanya dengan mengulum senyum, “Omitohud, Lenghou-toako!”

“Kalian berdiri saja di sini, jangan pergi,” kata Lenghou Tiong.

Dilihatnya Ih-soh di sebelah sana juga sedang kelabakan karena dicecar oleh dua lawan tangguh. Cepat Lenghou Tiong memburu maju, “sret-sret” dua kali, yang satu kena perutnya, yang lain tangan putus sebatas pergelangan. Kembali dua jago musuh dibereskan. Waktu dia putar ke sana, di mana pedangnya menyambar, tanpa ampun tiga orang yang sedang menempur Gi-ho dan Gi-jing dengan sengit juga menggeletak didahului dengan jeritan ngeri.

Tiba-tiba terdengar suara seorang tua berseru, “Kerubut dia, bereskan keparat ini!”

Menyusul tiga sosok bayangan sekaligus menubruk ke arah Lenghou Tiong, tiga pedang menyambar tiba bersama, masing-masing mengarah leher, dada, dan perutnya.

Gerak serangan ketiga pedang musuh ini sangat lihai, sungguh permainan tokoh kelas satu. Keruan Lenghou Tiong terkejut, katanya di dalam hati, “Ini kan ilmu pedang Ko-san-pay! Apa mungkin mereka ini memang orang Ko-san-pay?

Karena sedikit ayal itulah ujung pedang ketiga lawan sudah lebih dekat mengancam tempat-tempat yang berbahaya itu. Cepat Lenghou Tiong menggunakan “Boh-kiam-sik” (cara mematahkan serangan pedang) dari Tokko-kiu-kiam yang telah diyakinkan itu, pedangnya berputar, sekaligus serangan tiga musuh telah dipatahkan semua, bahkan demikian hebat daya tekanannya sehingga musuh-musuh itu terdesak mundur dua-tiga langkah.

Sekarang dapat dilihatnya dengan jelas, lawan yang di sebelah kiri adalah laki-laki besar gemuk, usianya sekitar 40-an dan berjenggot pendek. Yang tengah adalah seorang kakek kurus kering berkulit hitam, kedua matanya bersinar tajam.

Lenghou Tiong tidak sempat memandang orang ketiga, ia terus menggeser ke samping, pedangnya membalik dan “sret-sret” dua kali, kontan dua musuh yang sedang mengerubut The Oh dirobohkan.

Dalam pada itu ketiga orang tadi telah berteriak-teriak dan membentak-bentak terus mengejar tiba. Namun Lenghou Tiong sudah ambil keputusan untuk tidak terlibat lebih lama dengan mereka mengingat kepandaian mereka sangat lihai, untuk membereskan mereka tentu makan waktu dan sementara itu orang-orang Hing-san-pay pasti akan banyak jatuh korban. Karena itu ia lantas kerahkan tenaga dalam terus berlari-lari tanpa berhenti, di situ ia menusuk satu kali, di sana ia menebas pula, di mana pedangnya menyambar tentu jatuh seorang musuh dengan terluka parah atau terus binasa.

Ketiga orang tadi masih terus mengejar sambil membentak-bentak, tapi jaraknya dengan Lenghou Tiong selalu terpaut beberapa meter jauhnya dan sukar menyusulnya. Hanya dalam waktu singkat saja lebih dari 40 orang musuh telah menjadi korban Tokko-kiu-kiam yang dimainkan Lenghou Tiong, tiada seorang pun yang mampu menangkis atau menghindar.

Karena dalam sekejap saja pihak musuh sudah roboh lebih 40 orang, imbangan kekuatan kedua pihak lantas berubah dengan cepat. Setiap kali ada musuh yang roboh, segera murid Hing-san-pay yang kehilangan lawan itu sempat pergi membantu kawannya. Tadinya jumlah musuh lebih banyak, tapi lambat laun keadaan menjadi terbalik, makin lama pihak Hing-san-pay makin tambah kuat.

Lenghou Tiong sudah ambil ketetapan bahwa pertempuran hari ini sekali-kali tidak boleh menaruh belas kasihan, jika dalam waktu singkat musuh tidak dihancurkan, tentu Ting-sian Suthay dan kawan-kawannya yang terkurung di dalam gua pembakaran itu akan sukar diselamatkan.

Begitulah Lenghou Tiong terus berlari kian-kemari secepat terbang, di mana dia tiba, dalam radius tiga meter tiada seorang musuh pun yang terhindar dari kematian. Tidak lama kemudian kembali ada 20 orang lebih dirobohkan lagi.

Sisa musuh masih ada 60-70 orang, mereka menyaksikan kesaktian Lenghou Tiong seperti setan yang sukar dilawan dengan tenaga manusia, sekonyong-konyong orang-orang itu berteriak terus sebagian berlari-lari ke dalam hutan belukar.

Lenghou Tiong membinasakan lagi beberapa orang, sisanya tambah patah semangat, cepat mereka pun lari sipat kuping. Tinggal ketiga laki-laki tadi masih terus mengudak di belakang Lenghou Tiong, tapi jaraknya makin menjauh, jelas mereka pun mulai jeri.

Tiba-tiba Lenghou Tiong berhenti lari dan putar balik, bentaknya, “Kalian ini orang Ko-san-pay bukan?”

Ketiga orang itu berbalik melompat mundur, seorang di antaranya yang tinggi besar balas membentak, “Siapakah kau?”

Lenghou Tiong tidak menjawab, serunya kepada Ih-soh dan lain-lain, “Lekas kalian membuat jalan untuk menolong teman-teman yang terkurung api itu!”

Segera anak murid Hing-san-pay sama berusaha memadamkan api yang sudah menjilat tumpukan rumput. Gi-ho dan beberapa kawannya sudah melompat masuk ke tengah lingkaran api. Rumput dan kayu kering yang sudah berkobar itu sukar dipadamkan lagi, syukur di bawah usaha belasan orang, lingkaran api itu dapat dibobol menjadi suatu luangan jalan, Gi-ho dan lain-lain sama mendukung keluar beberapa nikoh dalam keadaan payah.

“Bagaimana dengan Ting-sian Suthay?” tanya Lenghou Tiong.

“Banyak terima kasih atas perhatianmu!” tiba-tiba suara seorang tua menanggapi. Menyusul seorang nikoh tua berbadan sedang tampak melangkah ke luar dari lingkaran api dengan tenang. Jubahnya yang putih itu tampak bersih, tangannya juga tidak bersenjata, hanya tangan kiri membawa serenceng biji tasbih, wajahnya welas asih, sikapnya tenang dan kalem.

Diam-diam Lenghou Tiong sangat heran dan kagum akan ketenangan nikoh tua itu meski menghadapi bahaya maut. Segera ia memberi hormat dan berkata, “Tecu Lenghou Tiong menyampaikan salam hormat kepada Suthay.”

Ting-sian Suthay merangkap tangan membalas hormat, tapi ia lantas berkata, “Awas, ada orang menyerang kau!”

“Ya,” sahut Lenghou Tiong, tanpa menoleh pedangnya terus diayun ke belakang. Terdengar “trang” satu kali, tusukan pedang laki-laki tinggi besar tadi telah ditangkis pergi. Lalu katanya pula, “Bantuan Tecu datang terlambat, mohon Suthay memaafkan.”

Berbareng terdengar suara nyaring dua kali, kembali serangan kedua orang yang lain ditangkis lagi.

Dalam pada itu ada belasan nikoh lolos keluar lagi dari lingkaran api, bahkan ada yang menggendong mayat. Ting-yat Suthay juga telah muncul, segera ia memaki dengan geram, “Kawanan bangsat yang tidak tahu malu, kejam amat melebihi binatang ….” saat itu ujung jubahnya tampak terjilat api, tapi ia seperti tidak ambil pusing. Cepat Ih-soh mendekati untuk memadamkan api.

“Kedua Suthay tidak tercedera apa-apa, sungguh menggembirakan sekali,” kata Lenghou Tiong.

Pada saat itu pula tiga pedang telah menusuk sekaligus dari belakang. Tapi sekarang Lenghou Tiong tidak cuma mahir ilmu pedang saja, bahkan kekuatan tenaga dalamnya juga jarang ada bandingannya. Begitu mendengar sambaran angin tajam, secara cepat ia lantas tahu bagaimana serangan musuh itu, segera pedangnya berputar lagi, sekaligus ia balas menusuk pergelangan tangan lawan.

Ilmu silat ketiga orang itu sangat tinggi, gerak perubahannya juga amat cepat. Lekas-lekas mereka menghindar, namun demikian punggung tangan laki-laki tinggi besar tadi tetap tergores luka, darah lantas mengucur.

“Kedua Suthay, Ko-san-pay adalah kepala dari Ngo-gak-kiam-pay, bersama Hing-san-pay biasanya adalah senapas dan setanggungan, mengapa mendadak mereka melakukan sergapan licik, sungguh hal ini sukar dimengerti?” kata Lenghou Tiong.

Mendadak Ting-yat Suthay tanya Gi-ho dan lain-lain, “Di mana Suci? Kenapa beliau tidak ikut datang?”

“Suhu … suhu telah dicelakai kaum jahanam, beliau telah gugur dalam per … pertarungan sengit ….” sahut Cin Koan dengan suara tangis.

“Keparat!” maki Ting-yat Suthay penuh dendam dan murka sambil melangkah maju. Tapi baru dua-tiga tindak tubuhnya lantas terhuyung-huyung dan jatuh terduduk, darah segar menyembur dari mulutnya.

Dalam pada itu ketiga jago Ko-san-pay tadi tetap tak bisa mengenai Lenghou Tiong meskipun mereka telah berganti macam-macam tipu serangan. Padahal pemuda itu melayani mereka dengan mungkur, tangkisannya juga dilakukan dengan membelakangi mereka, namun ilmu pedangnya ternyata demikian hebatnya, apalagi kalau dia berhadapan muka dengan muka, mana mereka bertiga mampu melawannya?

Begitulah ketiga orang sama-sama mengeluh dan gelisah, mereka menyesal mengapa tidak sejak tadi-tadi melarikan diri, tapi malah berkumpul menjadi satu.

Serangan Lenghou Tiong ternyata sangat menarik, terhadap musuh sebelah kiri selalu menyerang sisi kiri, bila menyerang musuh sebelah kanan yang diserang adalah sisi kanan, dengan demikian ketiga orang makin rapat berdesakan sendiri. Berturut-turut Lenghou Tiong menyerang belasan kali dan ketiga orang terpaksa menangkis belasan kali tanpa sanggup balas menyerang sekali pun. Ilmu pedang yang dimainkan ketiga orang itu adalah jurus serangan Ko-san-pay yang paling lihai, tapi menghadapi Tokko-kiu-kiam yang ajaib mereka benar-benar tak berdaya.

Lenghou Tiong sengaja hendak memaksa lawan-lawannya mengeluarkan ilmu pedang Ko-san-pay mereka agar tidak dapat menyangkal asal usul mereka pula. Begitulah makin lama muka ketiga orang sudah makin basah oleh air keringat, sikap mereka juga semakin beringas, ilmu pedang mereka pun belum kacau, nyata mereka memang sangat ulet sebagai jago kawakan.

“Omitohud! Siancay, Siancay!” Ting-sian Suthay menyebut Buddha. “Tio-suheng, Ma-suheng, Thio-suheng, selamanya Hing-san-pay dan Ko-san-pay kalian adalah kawan dan bukan lawan, mengapa kalian bertiga terus memaksa sedemikian rupa, sampai-sampai mau membakar kami secara hidup-hidup. Sungguh aku tidak paham apa sebabnya, silakan kalian memberi penjelasan.”

Jago-jago Ko-san-pay itu memang betul she Tio, Ma, dan Thio. Mereka jarang muncul di Kangouw, mereka menyangka asal usul mereka cukup rahasia, memangnya mereka sudah kelabakan dicecar oleh serangan Lenghou Tiong, mereka tambah kaget lagi oleh kata-kata Ting-sian Suthay yang tepat menyebut she mereka. Tanpa terasa pergelangan tangan dua orang di antaranya tertusuk pedang Lenghou Tiong, pedang mereka jatuh ke tanah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: