Hina Kelana: Bab 85. Rahasia-rahasia di Dalam Hoa-san-pay

Karena Gak Put-kun enggan memberi bantuan dan tidak setia kawan sebagai sesama orang Kangouw, apalagi sesama orang Ngo-gak-kiam-pay, maka anak murid Hing-san-pay sama mendongkol.

Kata Gi-lim kemudian, “Lenghou-toako, harap kau merawat lukamu di hotel kemarin itu. Setelah kami menyelamatkan suhu dan supek tentu kami akan datang lagi menjenguk kau.”

Mendadak Lenghou Tiong berteriak, “Kembali ada kawanan penjahat mengacau lagi, mana boleh ciangkunmu berpeluk tangan? Hayo kita berangkat bersama untuk menolong orang!”

“Tapi … tapi kau terluka, cara bagaimana kau sanggup menempuh perjalanan jauh?” ujar Gi-lim.

“Seorang ciangkun sudah biasa berkecimpung di medan perang, apa artinya cuma luka kecil begini,” seru Lenghou Tiong. “Hayolah berangkat, lekas!”

Sebenarnya anak murid Hing-san-pay tidak yakin akan mampu menyelamatkan guru mereka, sekarang Lenghou Tiong mau pergi bersama, tentu saja menambah keberanian mereka.

“Jika demikian, Wanpwe sekalian mohon diri,” kata Gi-jing terhadap Gak Put-kun dan istrinya.

Dengan marah-marah Gi-ho mengomel, “Hm, orang begini buat apa sungkan-sungkan dengan dia? Hanya buang-buang waktu saja. Sama sekali tidak punya rasa setia kawan, hanya bernama kosong belaka!”

“Sumoay, jangan banyak omong!” bentak Ih-soh.

Gak Put-kun hanya tersenyum saja dan anggap tidak dengar. Sebaliknya Lo Tek-nau lantas melompat maju karena gurunya dihina, bentaknya, “Mulutmu yang kotor itu bilang apa? Ngo-gak-kiam-pay kita mestinya senapas sehaluan, tapi kalian telah berkomplot dengan iblis Mo-kau seperti Lenghou Tiong ini, perbuatan kalian mencurigakan, sudah tentu setiap tindakan harus dipertimbangkan guruku. Jika kalian mau membunuh dulu iblis Lenghou Tiong itu sebagai tanda kebersihan kalian, kalau tidak Hoa-san-pay kami tidak sudi ikut berkomplot dengan kalian.”

Gi-ho menjadi gusar, ia melangkah maju dengan meraba pedang dan berseru, “Apa maksudmu dengan kata-kata ‘ikut berkomplot’ segala?”

“Kalian bersekongkol dengan Mo-kau, itu berarti berkomplot,” sahut Lo Tek-nau.

“Lenghou-tayhiap ini ada seorang kesatria berbudi, seorang pahlawan sejati, mana dia seperti kalian yang menganggap diri sendiri sebagai kesatria, tapi sesungguhnya adalah manusia-manusia palsu yang berjiwa rendah!” jawab Gi-ho dengan gusar.

Seperti diketahui Gak Put-kun berjuluk “Kun-cu-kiam” (Pedang Laki-laki Sejati), maka anak murid Hoa-san-pay paling sirik jika ada orang mengatakan “laki-laki palsu” atau manusia palsu. Keruan Lo Tek-nau lantas melolos pedang terus menusuk ke leher Gi-ho.

Gi-ho tidak menduga akan diserang secara mendadak, ia tidak sempat melolos pedang buat menangkis, tahu-tahu ujung pedang lawan sudah dekat lehernya. Ia menjerit kaget. Tapi berbareng sinar pedang berkelebat, tujuh pedang sekaligus telah menyerang juga ke arah Lo Tek-nau.

Cepat Lo Tek-nau hendak menangkis, namun hanya pedang yang menusuk ke dadanya itu saja yang kena ditangkis, pada saat yang sama terdengar suara robeknya kain, enam pedang murid Hing-san-pay sudah membuat bajunya robek enam tempat, setiap robekan itu ada belasan senti panjangnya. Untung murid-murid Hing-san-pay itu tidak bermaksud mencabut nyawanya sehingga serangan mereka lantas ditarik kembali ketika menyentuh bajunya. Hanya kepandaian The Oh yang lebih cetek dan kurang jitu gerakannya sehingga sesudah merobek lengan baju kanan Lo Tek-nau, ujung pedangnya masih melukai lengannya.

Sungguh kaget Lo Tek-nau tak terkatakan, lekas-lekas ia melompat mundur. Mendadak dari dalam bajunya terjatuh sejilid buku. Di bawah cahaya matahari yang terang semua orang dapat membaca jelas di sampul buku itu tertulis empat huruf “Ci-he-pit-kip”.

Seketika air muka Lo Tek-nau tampak berubah hebat, buru-buru ia hendak menjemput kembali bukunya yang jatuh itu. Tapi Lenghou Tiong sempat berseru, “Cegah dia!”

Saat itu Gi-ho sudah melolos pedangnya, “sret-sret-sret”, kontan ia menusuk tiga kali sehingga Lo Tek-nau terpaksa menangkis dan tidak mampu maju lagi.

“Ayah, mengapa kitab pusaka kita itu bisa berada pada jisuko?” tanya Gak Leng-sian kepada Gak Put-kun.

Lenghou Tiong lantas berteriak, “Lo Tek-nau, kau yang mencelakai jiwa laksute bukan?”

Seperti diketahui di puncak Hoa-san dahulu, murid keenam. Hoa-san-pay yaitu Liok Tay-yu terbunuh secara misterius, serta hilangnya “Ci-he-pit-kip”, kedua hal itu sampai kini masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan. Tak terduga sesudah baju Lo Tek-nau dirobek-robek oleh tusukan pedang anak murid Hing-san-pay, mendadak kitab pusaka Hoa-san-pay yang hilang itu bisa jatuh ke luar dari baju Lo Tek-nau.

Terdengar Lo Tek-nau menjawab, “Ngaco-belo!”

Habis itu mendadak ia berlari ke kiri terus menyusup masuk sebuah jalan kecil dan menghilang.

Dengan murka Lenghou Tiong lantas mengudak, tapi baru beberapa langkah saja sudah tidak tahan, badannya sempoyongan terus roboh.

Cepat Gi-lim dan The Oh memburu maju untuk memayang bangun.

Gak Leng-sian lantas jemput kitab yang jatuh itu dan diserahkan kepada ayahnya. Katanya, “Ayah, kiranya jisuko yang mencurinya.”

Muka Gak Put-kun tampak membesi, kitab itu dipegangnya dan diperiksa, memang benar adalah kitab pusaka perguruan sendiri, untung halamannya masih baik tanpa kerusakan apa pun. Katanya dengan gemas, “Gara-garamu, kau mengambilnya buat orang lain!”

Gi-ho yang bermulut tajam segera menggunakan kesempatan itu untuk mengolok-olok, “Nah, itu namanya berkomplot dan bersekongkol!”

Dalam pada itu Ih-soh telah mendekati Lenghou Tiong dan bertanya, “Lenghou-tayhiap, bagaimana keada ….?”

“Su … suteku telah dicelakai olehnya, sayang aku tak bisa mengejar dia,” sahut Lenghou Tiong sambil menahan rasa sakit.

Tertampak Gak Put-kun dan anak muridnya telah kembali semua ke dalam rumah, pintu depan gedung piaukiok itu lantas ditutup. Kata Lenghou Tiong, “Gurumu dalam bahaya, urusan tidak boleh tertunda marilah kita lekas pergi menolongnya. Jahanam Lo Tek-nau itu pada suatu ketika pasti akan jatuh di tanganku.”

“Tapi … tapi keadaanmu ….” saking terima kasih dan terharunya sehingga Ih-soh tidak tahu apa yang harus dikatakan.

“Kita lekas pergi ke pasar hewan untuk membeli kuda, tidak perlu tawar-tawar, aku punya cukup uang,” kata Lenghou Tiong sambil mengeluarkan uang emas perak yang dirampasnya dari Go Thian-tik tempo hari.

Begitulah mereka beramai-ramai lantas menuju ke pasar, asal ada kuda lantas mereka beli tanpa tawar. Tapi jumlahnya tetap kurang lima ekor. Terpaksa belasan orang murid yang lebih muda menunggang kuda berduaan dan segera mereka berangkat menuju ke utara.

Kira-kira belasan li di luar Kota Hokciu, tertampak di suatu tanah lapang ada ratusan ekor kuda yang sedang diumbar dengan dijaga oleh beberapa prajurit, agaknya kuda-kuda itu adalah milik tentara.

“Kita rebut saja kuda-kuda itu,” kata Lenghou Tiong.

“Tapi kuda-kuda itu milik tentara, rasanya tidak pantas,” ujar Ih-soh.

“Paling penting menolong orang, biarpun kuda milik raja juga kita rampas, peduli pantas atau tidak,” kata Lenghou Tiong.

Gi-ho yang berwatak lugu itu lantas membenarkan dan segera mendahului maju. Ketika Lenghou Tiong memberi perintah lagi, para murid Hing-san-pay yang sudah kehilangan pimpinan Ting-cing Suthay secara otomatis lantas menuruti aba-aba Lenghou Tiong. Beramai-ramai mereka menutuk roboh prajurit-prajurit penjaga itu dan berhasil merampas beberapa ekor kuda.

Dengan tertawa gembira para murid Hing-san-pay yang sebagian besar masih muda belia itu lantas sama tukar kuda militer yang lebih bagus dengan serep pula beberapa ekor.

Menjelang tengah hari sampailah mereka di suatu kota kecil. Penduduk setempat terheran-heran melihat suatu rombongan nikoh membawa segerombol kuda, di antaranya terdapat pula seorang laki-laki.

Selesai mereka mengisi perut, waktu Gi-jing hendak membayar ternyata uang yang masih ada tidak cukup. Dengan suara perlahan Gi-jing bicara dengan Lenghou Tiong, “Lenghou-suheng, uang kita sudah habis.”

“Tidak apa-apa,” kata Lenghou Tiong. “The-sumoay, harap kau bersama Ih-soh masing-masing membawa seekor kuda untuk dijual.”

The Oh mengiakan, bersama Ih-soh pergilah mereka. Sudah tentu rada menggelikan bahwa seorang nona jelita menjual kuda di pasar. Tapi dasar The Oh memang gadis yang cekatan, tidak lama ia berada di Hokkian sudah dapat mempelajari beberapa puluh suku kata daerah Hokkian sehingga tidak sukar baginya untuk menjual kudanya. Tidak lama kemudian ia sudah kembali dengan membawa uang untuk membayar rekening makan-minum mereka.

Petangnya sampailah mereka di suatu kota pegunungan yang cukup besar. Selesai makan dan membereskan rekeningnya, sisa uang penjualan kuda siang tadi ternyata tinggal sedikit sekali.

Dengan tertawa The Oh berkata, “Besok pagi kita menjual kuda lagi.”

Tapi Lenghou Tiong lantas membisikinya, “Tidak perlu. Coba kau jalan-jalan keluar, carilah keterangan siapa hartawan paling kaya dan siapa yang paling jahat di kota ini.”

The Oh manggut-manggut tanda mengerti, segera ia ajak Cin Koan pergi bersama. Selang tidak lama ia telah kembali dan memberi laporan, “Di kota ini hanya ada seorang hartawan kaya raya she Pek, orang memberi julukan ‘Pek-pak-bwe’ padanya, dia membuka gadai dan punya toko beras dan lain-lain. Dari julukannya Pek-pak-bwe (tukang menguliti) dapat dibayangkan pasti bukan manusia baik-baik.”

“Ya, malam ini juga kita akan minta derma padanya,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Orang demikian pasti sangat pelit, mana bisa dimintai derma?” ujar The Oh.

Tapi Lenghou Tiong hanya tersenyum saja, katanya, “Marilah kita berangkat.”

Sebenarnya hari sudah mulai gelap, tapi mengingat keselamatan guru mereka anak murid Hing-san-pay itu tidak berani ayal, segera mereka melanjutkan perjalanan.

Beberapa li kemudian, tiba-tiba Lenghou Tiong berkata, “Cukup di sini saja kita mengaso.”

Beramai-ramai mereka lantas berduduk-duduk di tepi sebuah sungai kecil pegunungan.

Selama itu Gi-lim selalu berada di samping Lenghou Tiong, terkadang ia suka tersenyum-senyum sendiri, entah apa yang sudah dipikirkan, tapi selama itu ia tidak pernah bicara dengan Lenghou Tiong. Baru sekarang tiba-tiba ia membuka mulut, “Ba … bagaimana keadaan lukamu?”

“Tidak apa-apa,” sahut Lenghou Tiong. Lalu ia pejamkan mata untuk mengumpulkan semangat. Agak lama kemudian barulah ia membuka mata dan berkata kepada Ih-soh dan Gi-ho, “Kalian masing-masing membawa enam orang sumoay pergi minta derma kepada Pek-pak-bwe. The-sumoay akan menjadi petunjuk jalan bagi kalian.”

Ih-soh, Gi-ho, dan lain-lain merasa heran, tapi mereka lantas mengiakan.

“Paling sedikit kalian harus minta sumbangan 500 tahil perak, paling baik kalau bisa 2.000 tahil perak,” kata Lenghou Tiong. “Nanti kita pakai sendiri seribu tahil, selebihnya dapat kita bagi-bagikan kepada orang miskin di kota ini.”

“Maksudmu kita harus merampas milik yang kaya untuk disedekahkan kepada orang miskin?” tanya Gi-ho.

“Begitulah,” sahut Lenghou Tiong. “Kita sendiri kehabisan sangu dan termasuk kaum rudin, kalau yang kaya tidak memberi sekadar sedekah kepada kaum miskin kita ini, cara bagaimana kita dapat mencapai Liong-coan To-kiam-kok?”

Mendengar tempat tujuan mereka, seketika para murid Hing-san-pay itu tidak ragu-ragu lagi, serentak mereka menyatakan setuju.

“Cuma cara minta derma kalian ini lain daripada yang lain,” kata Lenghou Tiong pula. “Setiba di rumah Pek-pak-bwe, kalian harus memakai kedok, di waktu minta derma juga tidak perlu buka suara. Asal melihat emas perak lantas daulat saja.”

“Kalau dia tidak mau memberi?” tanya The Oh dengan tertawa.

“Jika demikian berarti Pek-pak-bwe itu terlalu tidak tahu diri,” ujar Lenghou Tiong. “Padahal kesatria-kesatria Hing-san-pay bukanlah orang sembarangan di dunia persilatan. Biasanya biarpun orang memapak kalian dengan joli digotong delapan orang untuk memberi sedekah kepada kalian toh belum tentu kalian mau datang. Sekarang Pek-pak-bwe telah didatangi sekaligus oleh 15 tokoh Hing-san-pay, bukankah ini merupakan suatu kehormatan besar baginya. Tapi, andaikan dia memang kepala batu dan memandang enteng kepada kalian, maka boleh juga kalian jajal-jajal dia, lihat saja apakah Pek-pak-bwe itu tahan sekali tonjok oleh kepalan halus The-sumoay?”

Semua orang sama tertawa oleh banyolan Lenghou Tiong ini. Walaupun ada di antaranya yang merasa cara minta sedekah seperti dirancangkan ini boleh dikata melanggar peraturan perguruan Hing-san-pay, tapi dalam keadaan kepepet terpaksa mereka tidak dapat berpikir lain lagi. Gi-ho, The Oh, dan lain-lain segera berangkat pergi.

Waktu menoleh, Lenghou Tiong melihat Gi-lim sedang menatap ke arahnya. Ia tersenyum dan menegur, “Siausumoay, apakah kau tidak setuju caraku ini?”

Gi-lim menghindari sorot mata Lenghou Tiong, sahutnya dengan perlahan, “Entahlah. Kukira apa yang kau lakukan tentulah tidak salah lagi.”

“Dahulu ketika aku kepingin makan semangka, bukankah kau pun pernah pergi minta sedekah sebuah?” kata Lenghou Tiong.

Wajah Gi-lim menjadi merah, teringat olehnya waktu mereka berduaan di tengah ladang semangka dahulu itu. Pada saat itu pula di ujung langit sana sebuah bintang meteor berkelebat lewat untuk segera lenyap pula.

“Masih ingatkah kau akan kaul yang pernah kau katakan?” tanya Lenghou Tiong.

“Tentu saja masih ingat,” sahut Gi-lim sambil berpaling kembali. “Lenghou-toako, kaul demikian sungguh manjur.”

“Apakah kaulmu sudah terkabul?” tanya Lenghou Tiong.

Gi-lim menunduk tanpa menjawab. Ia membatin, “Sudah beratus kali aku berkaul semoga dapat bertemu lagi dengan kau, dan akhirnya terkabul juga sekarang.”

Pada saat itulah tiba-tiba dari jauh berkumandang suara derapan lari kuda yang cepat, seorang penunggang kuda tampak datang dari selatan, yaitu arah keberangkatan rombongan Ih-soh dan Gi-ho tadi. Tapi mereka tidak menunggang kuda perginya, apa mungkin terjadi apa-apa dengan mereka?

Serentak semua orang berdiri sambil memandang ke arah datangnya suara derapan kuda itu. Terdengar suara seorang perempuan sedang berseru, “Lenghou Tiong! Lenghou Tiong!”

Terguncang hebat hati Lenghou Tiong mendengar suara yang jelas sudah dikenalnya itu, ialah suaranya Gak Leng-sian. Cepat ia menyahut, “Siausumoay, aku berada di sini!”

Gi-lim tergetar juga, wajahnya pucat dan segera mundur satu-dua langkah ke belakang. Dalam kegelapan seekor kuda putih tampak dipacu tiba. Kira-kira beberapa meter di tempat orang banyak itu mendadak kuda itu meringkik sembari berjingkrak berdiri dengan kedua kaki belakang, habis itu baru berhenti. Hal itu jelas disebabkan Gak Leng-sian menarik tali kekang kudanya.

Melihat datangnya Gak Leng-sian secara tergesa-gesa itu diam-diam Lenghou Tiong merasakan alamat jelek. Serunya, “Siausumoay, apakah suhu dan sunio baik-baik saja?”

Di atas kudanya wajah Leng-sian hanya tampak sebelah saja secara samar-samar, tapi jelas mukanya membesi dingin, ia menjawab dengan suara keras, “Siapa sudi menjadi suhu dan suniomu? Apa hubungannya lagi ayah-ibuku dengan kau?”

Dada Lenghou Tiong serasa digodam orang. Memang Gak Put-kun sangat kereng kepadanya, tapi biasanya Gak-hujin dan Leng-sian sendiri masih selalu ingat hubungan baik di masa lalu dan cukup ramah padanya. Sekarang si nona juga bicara secara demikian kasar, hal ini membuat Lenghou Tiong merasa pedih. Katanya kemudian, “Ya, aku sudah dipecat dan bukan orang Hoa-san-pay lagi, aku tidak berhak memanggil suhu dan sunio pula.”

“Sudah tahu begitu, mengapa mulutmu masih terus mengoceh?” omel Leng-sian.

Lenghou Tiong menunduk dengan lesu, perasaannya seperti disayat-sayat.

“Mana?” mendadak Leng-sian mendengus sambil menyodorkan sebelah tangannya.

Keruan Lenghou Tiong bingung. “Apa?” tanyanya lemah.

“Sampai sekarang kau masih berlagak pilon? Apa kau sangka dapat mengelabui aku?” kata Leng-sian. Mendadak ia perkeras suaranya dan menambahkan, “Serahkan!”

“Aku tidak paham, apa yang kau kehendaki?” tanya Lenghou Tiong sambil menggeleng.

“Apa yang kuhendaki? Pi-sia-kiam-boh milik keluarga Lim!” seru Leng-sian.

“Pi-sia-kiam-boh? Mengapa kau memintanya padaku?” sahut Lenghou Tiong heran.

“Tidak minta padamu, habis minta kepada siapa?” jengek Leng-sian. “Ingin kutanya kau, siapakah yang merampas kasa dari tempat kediaman lama keluarga Lim itu?”

“Itu perbuatan dua orang Ko-san-pay yang disebut Pek-thau-sian-ong Bok Sim dan seorang lagi bernama Tut-eng Soa Thian-kang.”

“Benar. Dan kedua keparat Ko-san-pay itu dibunuh oleh siapa?”

“Aku, aku yang membunuh mereka,” sahut Lenghou Tiong tegas.

“Dan kasa itu kemudian diambil oleh siapa?”

“Aku!”

“Bagus! Sekarang serahkan kasa itu!”

“Tapi se … sesudah aku terluka dan jatuh pingsan, syukur aku telah ditolong oleh su … oleh ibumu. Selanjutnya kasa itu tidak berada padaku lagi.”

“Haha!” tiba-tiba Leng-sian mengakak sambil menengadah, tapi tanpa sedikit pun nada tertawa. “Ucapanmu ini seakan-akan hendak mengatakan ibu telah makan barangmu itu bukan? Huh, bisa saja kau mengucapkan kata-kata yang demikian kotor dan tidak tahu malu.”

“Aku sekali-kali tidak mengatakan ibumu telah menggelapkan kasa itu. Tuhan menjadi saksi, dalam hatiku sedikit pun tiada punya perasaan kurang hormat kepada ibumu. Yang kumaksudkan adalah … adalah ….”

“Apa?” Leng-sian menegas.

“Yang kumaksudkan adalah sesudah ibumu melihat kasa itu dan mengetahuinya sebagai milik keluarga Lim, dengan sendirinya barang itu akan dikembalikan kepada Lim-sute.”

“Mana mungkin ibu akan menggeledah barang bawaanmu? Seumpama akan dikembalikan kepada Lim-sute juga ibu akan menunggu setelah kau siuman supaya kau mengembalikannya sendiri kepada Lim-sute mengingat barang itu adalah hasil perebutanmu secara mati-matian. Mana bisa ibu tidak memikirkan akan hal demikian?”

“Benar juga ucapannya. Apa barangkali kasa itu telah dicuri orang pula?” demikian pikir Lenghou Tiong. Karena khawatirnya, seketika keringat dingin merembes keluar. Katanya kemudian, “Jika begitu, tentu di dalam hal itu ada kejadian lain lagi.”

Lalu ia sengaja mengebas bajunya sendiri dan menambahkan, “Seluruh barangku adalah di sini semua, jika kau tidak percaya boleh kau menggeledah badanku.”

Kembali Leng-sian tertawa dingin, katanya, “Kau ini licin dan licik, barang yang sudah kau ambil masakan akan kau simpan di badanmu sendiri? Lagi pula di sekitarmu ada sedemikian banyak hwesio dan nikoh serta perempuan yang tidak keruan ini, tentu semuanya akan bantu menyembunyikannya bagimu.”

Caranya Gak Leng-sian menanyai Lenghou Tiong seperti hakim tanya terdakwa, memangnya anak murid Hing-san-pay sejak tadi sudah merasa jengkel, sekarang si nona menyinggung mereka dengan kata-kata kasar, keruan mereka serentak membentak-bentak, “Ngaco-belo!”

“Apa maksudmu dengan perempuan tidak keruan?”

“Di sini mana ada hwesio?”

“Kau sendirilah perempuan tidak genah!”

Leng-sian juga tidak gentar, sambil meraba pedangnya ia menjawab, “Kalian adalah orang beragama, tapi siang malam selalu mengelilingi seorang laki-laki, apakah kelakuan demikian bukankah tidak keruan? Cis, tidak tahu malu!”

Murid-murid Hing-san-pay itu menjadi gusar, berbareng tujuh-delapan orang di antaranya lantas melolos pedang.

“Sret”, Leng-sian juga lantas lolos pedangnya, serunya, “Bagaimana? Kalian ingin main kerubut bukan? Hayolah maju! Jika Nona Gak gentar bukanlah murid Hoa-san-pay!”

Cepat Lenghou Tiong memberi tanda untuk mencegah tindakan murid-murid Hing-san-pay lebih lanjut. Ia menghela napas, katanya kepada Leng-sian, “Jika kau telah mencurigai aku, ya, apa yang dapat kukatakan. Tapi bagaimana dengan Lo Tek-nau, mengapa tidak kau tanyakan padanya? Jika dia berani mencuri Ci-he-pit-kip, bisa jadi kasa itu pun dicuri olehnya?”

“O, jadi kau suruh aku pergi tanya kepada Lo Tek-nau?” Leng-sian menegas dengan suara keras.

“Benar!” jawab Lenghou Tiong.

“Baik. Nah silakan kau menghabisi nyawaku. Kau sudah mahir Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim, memangnya aku bukan tandinganmu lagi!”

“Mana … mana bisa aku membunuh kau?” sahut Lenghou Tiong melenggong.

“Habis kau suruh aku pergi menanyai Lo Tek-nau, jika kau tidak membunuh aku, cara bagaimana aku dapat menyusul Lo Tek-nau ke akhirat?”

Kejut dan girang pula Lenghou Tiong. Tanyanya, “Jadi Lo Tek-nau telah … telah dibinasakan oleh su … oleh ayahmu bukan?”

Ia tahu Lo Tek-nau berguru kepada Gak Put-kun sesudah memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi, dalam Hoa-san-pay selain dirinya sendiri adalah kepandaian Lo Tek-nau yang paling lihai, maka untuk membunuhnya kecuali Gak Put-kun rasanya tidak mampu dilakukan oleh orang lain lagi. Lo Tek-nau telah membunuh Liok Tay-yu, jika dia sudah terbunuh pula, hal ini berarti sakit hati Liok-laksute-nya itu sudah terbalas.

Tiba-tiba Gak Leng-sian mendengus lagi, “Hm, seorang laki-laki sejati harus berani berbuat berani bertanggung jawab. Kau telah membunuh Lo Tek-nau, kenapa kau tidak berani mengaku?”

“Kau bilang aku yang membunuh Lo Tek-nau?” Lenghou Tiong menegas dengan heran. “Jika aku yang membunuhnya memangnya aku tidak perlu menyangkal. Dosa Lo Tek-nau lebih daripada dihukum mati, aku memang menyesal tak dapat membunuhnya dengan tanganku sendiri.”

“Dan kenapa kau membunuh pula patsuko (kakak perguruan kedelapan)? Apa salahnya kepadamu? Sungguh … sungguh kejam kau!” teriak Leng-sian.

Lenghou Tiong terperanjat. Ia menegas dengan suara rada gemetar, “Jadi patsute juga terbunuh? Patsute sangat licin dan pintar, selamanya sangat baik dengan aku, mana bisa aku mem … membunuhnya?”

“Hm, sejak kau bergaul dengan iblis Mo-kau, kelakuanmu sudah lain daripada biasanya, siapa tahu apa sebabnya mendadak kau membunuh patsuko. Kau … kau ….” sampai di sini air mata Leng-sian telah menetes.

Lenghou Tiong melangkah maju satu tindak, katanya tegas, “Siausumoay, janganlah kau berpikir tanpa dasar. Usia patsute muda belia, selamanya tiada bermusuhan dengan siapa pun juga. Jangankan aku, orang lain pun tidak mungkin tega membunuhnya.”

Mendadak alis Leng-sian menegak, tanyanya pula dengan suara bengis, “Dan mengapa pula kau tega mencelakai Lim-sute?”

“Hah? Lim-sute … dia … dia juga sudah mati?” Lenghou Tiong menegas dengan terperanjat.

“Saat ini masih belum mati, sekali bacok pedangmu belum membinasakan dia, tetapi siapa … yang tahu dia akan dapat sembuh atau tidak?” sampai di sini suaranya kembali parau dan mulai terguguk-guguk.

Lenghou Tiong menghela napas longgar, katanya, “Apa dia terluka sangat parah? Kuyakin dia pasti mengetahui siapa yang menyerangnya. Bagaimana menurut pengakuannya?”

“Di dunia ini tiada seorang pun yang licin seperti kau. Kau telah membacoknya dari belakang, memangnya punggung Lim-sute punya mata?”

Macam-macam perasaan mencekam hati Lenghou Tiong, saking tak tahan, ia lolos pedangnya, ia kerahkan tenaga terus dilemparkan ke samping sana. Pedang itu meluncur melintang ke depan dan membentur sebatang pohon cemara yang cukup besar, pedang itu menyambar lewat di tengah batang pohon, kontan pohon itu terpotong putus dan rebah sehingga menimbulkan debu pasir yang berhamburan.

“Bagaimana? Sesudah kau mahir ilmu iblis Mo-kau, sekarang kau sengaja pamer keganasanmu di depanku bukan?” jengek Leng-sian.

Lenghou Tiong menggeleng, sahutnya, “Bilamana aku ingin membunuh Lim-sute tidak perlu aku menyerangnya dari belakang, juga tidak mungkin sekali bacok tidak membuatnya binasa.”

“Hm, siapa yang tahu akan maksud tujuanmu yang licik?” jengek pula Leng-sian. “Tentunya patsute telah melihat perbuatanmu yang rendah itu, makanya kau membunuhnya sekalian untuk menghilangkan saksi, bahkan kau telah merusak mukanya, sama halnya seperti apa yang kau lakukan terhadap … terhadap Lo Tek-nau.”

Sedapat mungkin Lenghou Tiong menahan gejolak perasaannya. Ia tahu di balik urusan ini pasti ada suatu intrik, suatu persekongkolan besar, suatu tipu muslihat keji yang saat ini belum dapat dipecahkan olehnya.

“Jadi muka Lo Tek-nau juga telah dirusak orang?” tanyanya kemudian.

“Kau sendiri yang berbuat, mengapa malah tanya padaku?”

“Siapa lagi anak murid Hoa-san-pay yang menjadi korban?”

“Kau sudah membunuh dua orang dan melukaparahkan satu orang, memangnya masih belum cukup?” sahut Leng-sian.

Dari jawaban ini Lenghou Tiong mengetahui tiada orang lain lagi yang menjadi korban, hatinya rada lega. Pikirnya, “Perbuatan keji siapakah ini?”

Sekonyong-konyong timbul rasa ngerinya, teringat olehnya apa yang dikatakan oleh Yim Ngo-heng di Hangciu dahulu, gembong Mo-kau itu mengancam apabila dirinya tidak mau masuk menjadi anggota Mo-kau, maka orang-orang Hoa-san-pay akan dibunuhnya semua. Jangan-jangan Yim Ngo-heng sudah berada di Hokciu dan mulai menyikat Hoa-san-pay?

Cepat ia berkata kepada Leng-sian, “Lekas-lekas kau pulang ke Hokciu dan laporkan kepada ayah-ibumu bahwa mungkin sekali gembong Mo-kau yang telah melakukan pembunuhan secara keji.”

“Ya, memang benar gembong iblis Mo-kau yang telah turun tangan keji terhadap Hoa-san-pay kami,” sahut Leng-sian dengan nada mengejek. “Cuma gembong iblis itu dahulu adalah orang Hoa-san-pay. Memang piara macan akan merupakan penyakit, air susu dibalas dengan air tuba.”

Lenghou Tiong hanya tersenyum getir saja, ia pikir dirinya sudah menyanggupi akan pergi menolong Ting-sian dan Ting-yat Suthay, tapi sekarang suhu dan sunio menghadapi bahaya pula, ini benar-benar serbasusah. Jika yang mengganas itu adalah Yim Ngo-heng, maka sukar juga untuk melawannya, namun bagaimanapun juga kesulitan guru dan ibu-guru yang berbudi padanya itu harus diutamakan lebih dulu, urusan Hing-san-pay terpaksa harus ditunda. Bila nanti Yim Ngo-heng sudah dapat dicegat perbuatannya yang lebih lanjut baru menuju ke Liong-coan untuk membantu Hing-san-pay.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: