Hina Kelana Bab 84. Membela Kehormatan Perguruan

Dalam pada itu Lenghou Tiong telah menjawab lagi, “Siapakah Gak-siansing yang kau maksudkan? O, barangkali kau maksudkan ketua Hoa-san-pay bukan? Kebetulan kedatanganku ini hendak mencari perkara padanya. Dua murid keparat dari Ko-san-pay yang bernama Iblis Kepala Putih Bok Sim dan yang satu lagi bernama Kokokbeluk Gundul Soa Thian-kang sudah kubunuh, kabarnya ada tiga orang Ko-san-pay sekarang juga sembunyi di sini, maka aku minta Gak-siansing lekas menyerahkan mereka padaku dan dia justru menolak. Sungguh aku menjadi keki sekali!”

Lalu ia sengaja berteriak-teriak, “Hai, Gak-siansing, tiga orang Ko-san-pay yang bernama Pedang Rongsokan Ciong Tin, Si Ruyung Setan Ting Pat-kong, dan satu lagi Si Kucing Buduk Ko Kik-sin, lekas kau seret mereka keluar, aku mau bikin perhitungan dengan mereka.”

Gak Put-kun saling pandang dengan istrinya. Mereka tahu teriakan Lenghou Tiong itu dimaksudkan agar Ciong Tin bertiga mendengar sendiri bahwa Hoa-san-pay sama sekali tiada sangkut pautnya dengan terbunuhnya kawan-kawan Ko-san-pay mereka. Cuma Ciong Tin bertiga adalah tokoh Ko-san-pay yang terkenal, dalam keadaan terluka parah, mungkin berdiri lebih lama lagi Lenghou Tiong akan roboh sendiri, mengapa dia begitu berani mati mengolok-olok dan menantang?

Tapi kalau menurut teriakannya tadi, terang dia sudah kenal asal usul Ciong Tin bertiga. Gak Put-kun masih ingat pada pertempuran tengah malam di kelenteng bobrok itu, di mana sekaligus Lenghou Tiong telah membutakan mata lima belas lawan, ilmu pedangnya memang luar biasa. Tapi kemahiran Ciong Tin bertiga terang lebih hebat daripada ke-15 orang itu, apalagi Lenghou Tiong sekarang terluka, cara bagaimana ia sanggup bertempur melawan mereka bertiga?

Dengan gusar saat itu Ko Kik-sin telah melompat bangun, pedang dilolos terus hendak menusuk ke arah Lenghou Tiong. Tapi Ciong Tin lebih licik dan dapat berpikir panjang, cepat ia mencegah temannya itu, lalu tanya kepada Lenghou Tiong, “Siapakah Saudara?”

“Haha, aku kenal kau, sebaliknya kau tidak kenal aku,” sahut Lenghou Tiong tertawa. “Kalian Ko-san-pay bermaksud melebur Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu, Ko-san-pay kalian berniat makan empat aliran yang lain. Kedatangan kalian bertiga ke Hokkian ini pertama bertujuan merebut Pi-sia-kiam-boh milik keluarga Lim, di samping itu kalian hendak menyergap pula tokoh-tokoh penting Hoa-san-pay, Hing-san-pay, dan lain-lain, macam-macam tipu muslihat kalian itu telah kuketahui semua. Hehe, sungguh menggelikan, sungguh menggelikan!”

Kembali Gak Put-kun saling pandang dengan istrinya, mereka pikir ucapan Lenghou Tiong itu bukannya tidak beralasan.

“Dari aliran manakah Saudara?” tanya Ciong Tin pula.

“Kau tanya diriku? Haha, aku sih orang gelandangan biasa, orang yang suka kelayapan secara bebas, sekali-kali aku takkan berebut rezeki dengan Ko-san-pay kalian. Tentu kalian boleh merasa lega bukan sekarang? Hahahaha,” gelak tertawa Lenghou Tiong itu penuh perasaan pilu.

“Jika Saudara bukan orang Hoa-san-pay, maka kita tidak boleh mengganggu Gak-siansing, silakan bicara keluar saja,” kata Ciong Tin dengan nada sewajarnya. Tapi sorot matanya memantulkan nafsu membunuh, terang karena Lenghou Tiong mengungkap rahasia muslihatnya, maka tekadnya Lenghou Tiong harus dibunuh.

Kiranya Ciong Tin juga rada segan terhadap Gak Put-kun, maka dia ingin memancing Lenghou Tiong keluar untuk kemudian baru dilabraknya.

Tentu saja hal ini kebetulan bagi Lenghou Tiong, segera ia berseru, “Gak-siansing, selanjutnya kau harus waspada. Kaucu Mo-kau yang dulu Yim Ngo-heng telah muncul kembali, orang ini memiliki Gip-sing-tay-hoat yang khusus digunakan mengisap tenaga dalam lawan, dia sudah menyatakan akan mencari setori kepada Hoa-san-pay. Selain itu Ko-san-pay ada niat mencaplok Hoa-san-pay-mu. Engkau adalah seorang kesatria berbudi, maka harus hati-hati terhadap pihak lain yang berhati jahat.”

Memang kedatangannya ke Hokkian ini bermaksud menyampaikan peringatan demikian kepada sang guru. Maka habis bicara begitu ia lantas melangkah keluar. Segera Ciong Tin bertiga menyusul keluar.

Setiba di luar Hok-wi-piaukiok, tiba-tiba Lenghou Tiong melihat serombongan nikoh dan wanita biasa bergerombol di luar situ, itulah anak murid Hing-san-pay. The Oh dan Gi-ho berdua tampak jalan di depan dengan membawa kotak penghormatan, agaknya mereka datang ke Hok-wi-piaukiok untuk menjumpai Gak Put-kun.

Lenghou Tiong terkesiap dan lekas-lekas melengos ke arah lain agar tidak dilihat anak murid Hing-san-pay itu. Walaupun begitu toh sudah kepergok oleh The Oh dan lain-lainnya, untung Gi-lim ikut di bagian belakang sehingga tidak melihatnya.

Ketika Ciong Tin bertiga keluar, The Oh lantas mengenali mereka, nona itu terperanjat dan lantas berhenti.

Lenghou Tiong pikir anak murid itu tentu akan dilindungi oleh sang guru dan ibu-gurunya, daripada nanti kepergok Gi-lim, segera ia menyingkir ke samping dan bermaksud mengeluyur pergi.

Tapi Ciong Tin bertiga sudah lantas melolos senjata dan mencegah jalan perginya sambil membentak, “Apa kau ingin lari?”

Dalam pada itu Gak Put-kun, Gak-hujin, dan anak murid Hoa-san-pay juga sudah ikut keluar hendak mengetahui cara bagaimana Lenghou Tiong melayani tiga lawannya.

“Aku tidak punya senjata, cara bagaimana kita harus berkelahi?” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Sret”, Leng-sian lantas lolos pedangnya dan berseru, “Toa ….” segera ia bermaksud melemparkan pedangnya kepada Lenghou Tiong.

Tapi Gak Put-kun sempat mencegah, dua jarinya menahan di atas batang pedang anak perempuannya itu sambil menggeleng.

“Ayah!” seru Leng-sian cemas.

Tapi kembali Gak Put-kun menggeleng kepala.

Semuanya itu dapat dilihat oleh Lenghou Tiong, sungguh hatinya sangat terhibur. Pikirnya, “Betapa pun ternyata siausumoay masih mempunyai perasaan baik padaku.”

Pada saat itulah sekonyong-konyong beberapa orang bersama menjerit khawatir.

Lenghou Tiong tahu tentu ada orang menyerangnya dari belakang, tanpa menoleh, segera ia melompat ke depan malah. Karena tenaga dalamnya sangat kuat, lompatannya menjadi tinggi lagi jauh, namun begitu terasa juga angin tajam menyambar di belakang kepalanya, pedang lawan telah menebas rupanya. Coba kalau lompatannya ke depan itu lambat sedetik saja atau lompatannya kurang kuat, kurang jauh, maka badannya tentu sudah terbelah menjadi dua.

Pada saat yang sama itulah, sekonyong-konyong terdengar suara bentakan nyaring beramai-ramai disertai berkelebatnya sinar pedang, anak murid Hing-san-pay telah bertindak serentak. Tujuh orang menjadi satu regu, masing-masing terbagi dalam tiga regu, tujuh batang pedang berbareng telah menuding kepada satu sasaran sehingga Ciong Tin bertiga masing-masing dikepung oleh satu regu.

Gerakan melolos senjata dan mengepung musuh dari anak murid Hing-san-pay itu benar-benar sangat lincah dan cepat, ditambah gaya mereka sangat indah, terang barisan pedang mereka ini telah terlatih dengan sangat baik. Setiap ujung pedang mereka pun mengancam salah satu tempat yang mematikan di tubuh sasarannya. Dan begitu musuh dalam keadaan terkepung dan terancam, lalu barisan pedang murid-murid Hing-san-pay itu tidak bergerak lebih lanjut.

Yang melakukan serangan gelap kepada Lenghou Tiong tadi adalah Ciong Tin. Dia punya ilmu pedang sangat keji, gerak serangannya juga aneh-aneh sukar diduga, sebab itulah mendapat julukan “Kiu-kiok-kiam” atau Pedang Tekuk Sembilan, bukan karena pedangnya yang bertekuk sembilan, tapi mengiaskan gerak serangannya yang beraneka ragam perubahannya.

Dalam Ko-san-pay boleh dikata Ciong Tin terhitung jago kelas terkemuka, pula punya otak yang encer, cerdik, dan cekatan, maka sangat mendapat kepercayaan ketua Ko-san-pay, yaitu Co Leng-tan. Tadi karena boroknya tentang muslihat akan mencaplok empat aliran yang lain telah dibongkar oleh Lenghou Tiong, maka timbul niatnya untuk membinasakan pemuda itu dan mendadak ia menyerangnya secara keji.

Tak terduga Lenghou Tiong berhasil menghindarkan serangannya dengan baik, bahkan anak murid Hing-san-pay terus balas mengancamnya dengan barisan pedang sehingga dia tak bisa berkutik, sedikit saja ia bergerak, maka salah satu pedang tentu akan menembus tubuhnya.

Gak Put-kun dan lain-lain sudah tentu tidak mengetahui peristiwa di Ji-pek-poh antara Hing-san-pay dengan Ciong Tin dan kawan-kawannya. Mereka menjadi heran ketika mendadak melihat kedua pihak yang merupakan kawan sendiri itu saling labrak, lebih-lebih barisan pedang Hing-san-pay yang amat indah itu sungguh membuatnya sangat kagum.

“Bagus, barisan pedang yang indah!” Lenghou Tiong juga berteriak.

Tokko-kiu-kiam yang dia yakinkan itu intinya justru mengincar titik kelemahan ilmu silat musuh, sebaliknya gerak ilmu pedangnya sendiri tidak ada ketentuan, maka ia menjadi kagum melihat barisan pedang Hing-san-pay yang mempunyai intisari serupa itu. Cuma saja barisan pedang ini harus digunakan bertujuh orang sekaligus untuk mengatasi musuh, kalau ketemu lawan kelas wahid, sekali barisan menjadi kacau tentu akan mengalami kekalahan.

Melihat keadaan pihaknya sudah tak bisa berkutik dan terang sudah kalah, mendadak Ciong Tin bergelak tertawa, katanya, “Kita adalah kawan sendiri, buat apa main-main begini? Biarlah aku mengaku kalah saja.”

Habis itu ia terus membuang pedangnya ke tanah.

Gi-ho adalah kepala daripada tujuh orang yang mengepung Ciong Tin. Melihat lawan sudah melempar senjata dan mengaku kalah, segera ia pun menarik kembali pedangnya.

Tak tersangka ujung kaki kiri Ciong Tin mendadak digunakan menjungkit pedangnya yang jatuh itu, begitu pedang mencelat ke atas, secepat kilat disambarnya terus menusuk pula ke depan.

Gi-ho menjerit kaget, lengan kanan tertusuk, pedangnya terlepas dari cekalan. Di tengah gelak tertawa Ciong Tin pedangnya bekerja dengan gencar. Para murid Hing-san-pay yang lain berturut-turut terluka juga.

Karena kekacauan ini, serentak Ting Pat-kong dan Ko Kik-sin juga bertindak sehingga pertarungan sengit tampaknya akan terjadi pula.

Segera Lenghou Tiong menjemput pedang Gi-ho yang jatuh itu, sekali pedang menyambar, terdengarlah suara “trang” dan jerit kaget beberapa kali. Tahu-tahu pergelangan tangan Ko Kik-sin terluka, senjatanya jatuh ke tanah. Ruyung Ting Pat-kong yang lemas itu pun berputar balik dan melibat lehernya sendiri, tangan Ciong Tin juga terketok oleh pedang Lenghou Tiong sehingga tergetar mundur beberapa tindak, hanya pedang tidak sampai terlepas dari pegangan. Namun begitu seluruh lengannya terasa lemas tak bertenaga lagi.

Pada saat itulah dua nona telah berteriak berbareng, yang satu berseru, “Go-ciangkun!” dan yang lain berseru, “Lenghou-toako!”

Yang memanggil “Go-ciangkun” adalah The Oh, sebab ia mengenali cara Lenghou Tiong menyerang tiga lawannya itu serupa dengan apa yang dilakukannya di Ji-pek-poh tempo hari, begitu juga cara Ciong Tin mengalami kekalahan adalah serupa.

Adapun yang memanggil “Lenghou-toako” adalah Gi-lim. Mestinya bersama Gi-cin dan lain-lain mereka telah mengepung Ting Pat-kong dan mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi musuh. Ketika Ciong Tin mendadak menyerang secara licik, kesempatan mana digunakan oleh Ting Pat-kong untuk melepaskan diri dari kepungan. Dan setelah bobolnya barisan pedang mereka barulah Gi-lim sempat melihat Lenghou Tiong. Seketika seluruh badan Gi-lim tergetar hebat demi melihat pemuda itu setelah berpisah sekian lamanya, hampir-hampir saja ia jatuh kelengar.

Karena keadaan dirinya sudah diketahui dan sukar dirahasiakan lagi, Lenghou Tiong tertawa dan mengomel, “Nenekmu, kalian bertiga kutu busuk ini benar-benar terlalu kurang ajar, para suthay dari Hing-san-pay ini telah mengampuni jiwa kalian, tapi kalian membalas susu dengan air tuba. Terpaksa aku … aku ….” sampai di sini mendadak kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang terus roboh.

Cepat Gi-lim memburu maju untuk memayangnya sambil berseru khawatir, “Lenghou-toako! Lenghou-toako!”

Dilihatnya pundak dan lengan Lenghou Tiong mengucurkan darah, lekas-lekas ia menyingsing lengan baju, ia mengeluarkan obat mujarab perguruannya dan dijejalkan ke dalam mulut pemuda itu.

The Oh dan Gi-cin juga mengeluarkan obat salep “Thian-hiang-toan-siok-ko” untuk memolesi luka-luka itu. Karena sudah kenal siapa Lenghou Tiong, para murid Hing-san-pay sama merasa utang budi padanya, kalau tempo hari tak ditolong olehnya tentu mereka akan mengalami macam-macam hinaan pihak musuh, bahkan besar kemungkinan mereka sudah mati semua. Sebab itulah mereka menaruh perhatian sangat kepada keselamatan Lenghou Tiong, di tengah jalan kota itulah mereka sibuk memberi obat dan membalut lukanya.

Pada umumnya kaum wanita di dunia ini memang ceriwis, terutama di kala terjadi sesuatu peristiwa, demikian pula tidak terkecuali anak murid Hing-san-pay itu. Mereka saling bisik-bisik, ada yang gegetun, ada yang gelisah kenapa tuan penolong mereka sampai terluka, siapakah musuh yang keji itu, bahkan di tengah berisik mereka itu terseling pula ucapan “Omitohud”.

Melihat keadaan demikian, orang-orang Hoa-san-pay menjadi terheran-heran. Pikir Gak Put-kun, “Selamanya tata tertib Hing-san-pay sangat keras, tapi entah mengapa anak murid perempuan ini sampai tergoda sedemikian rupa oleh bergajul macam Lenghou Tiong ini, sampai-sampai di depan umum mereka tidak segan-segan memanggil toako padanya dengan mesra. Anehnya ada pula yang memanggilnya ciangkun, sejak kapan bangsat cilik ini menjadi perwira? Sungguh tidak genah, mengapa pimpinan Hing-san-pay tidak melakukan pengawasan?”

Dalam pada itu Ciong Tin bertiga juga tidak tinggal diam, ia memberi isyarat kepada kedua sutenya, serentak mereka menerjang maju dengan senjata masing-masing. Mereka tahu bila Lenghou Tiong tidak dibikin tamat tentu kelak akan banyak mendatangkan bahaya. Sekarang mumpung pemuda itu dalam keadaan tidak sadarkan diri, inilah kesempatan bagus untuk membinasakannya.

Tapi dengan tanda aba-aba Gi-ho, serentak ada empat belas kawannya bergerak maju menjadi satu barisan sehingga Ciong Tin bertiga terkepung. Ilmu silat tiap-tiap murid Hing-san-pay itu secara perorangan memang tidak tinggi, tapi sekali membentuk barisan pedang, baik menyerang maupun bertahan, kekuatan 14 orang cukup untuk menghadapi empat-lima orang tokoh kelas satu.

Semula Gak Put-kun ada maksud melerai persengketaan kedua pihak itu, cuma macam-macam soal itu sama sekali di luar dugaannya, entah cara bagaimana kedua pihak sampai bermusuhan, apalagi timbul juga rasa kurang senangnya terhadap kelakuan orang-orang Ko-san dan Hing-san itu, ia pikir sementara melihat perkembangan selanjutnya saja.

Ternyata barisan pedang Hing-san-pay bertahan dengan amat rapat, meski Ciong Tin bertiga ganti serangan bermacam-macam tetap tak bisa mendekat. Malahan sedikit meleng saja Ko Kik-sin tertusuk pahanya oleh pedang Gi-jing. Meski tidak parah lukanya, namun darah sudah bercucuran, keadaan rada runyam.

Dalam keadaan sadar-tak-sadar Lenghou Tiong dapat mendengar suara mendering beradunya senjata. Ketika matanya sedikit dipentang, tertampak wajah Gi-lim penuh rasa cemas dan kedengaran sedang membaca doa. Seketika teringat olehnya kejadian di luar Kota Heng-san dahulu waktu dirinya terluka, juga begitu Gi-lim telah merawat dan berdoa baginya. Cuma saja waktu itu hanya mereka berdua saja berada di hutan sunyi, sekarang di sekitarnya tidak sedikit pula anak murid Hing-san-pay yang lain, mengapa Gi-lim Siausumoay menjadi begini berani.

Waktu ia memandang pula muka Gi-lim, mendadak ia merasa paham, “Ya, lantaran dia melulu memikirkan keselamatanku sehingga dia lupa dirinya sendiri, dia sudah lupa akan orang-orang di sekitarnya sehingga sama sekali tak terpikir olehnya tentang pantangan berdekatan antara kaum laki-laki dan perempuan segala.”

Dengan rasa terima kasih, ketika mendadak ia mengangkat kepalanya, dilihatnya Gak Leng-sian dan Lim Peng-ci berdiri berjajar di sebelah sana, entah mengapa secara jelas sekali ia dapat melihat tangan kedua muda-mudi itu saling berpegangan dengan erat. Tiba-tiba Lenghou Tiong tertawa panjang terus berbangkit, katanya perlahan kepada Gi-lim, “Siausumoay, terima kasih atas pertolonganmu. Berikan pedangmu padaku!”

“Kau … kau jangan ….” Gi-lim bermaksud mencegah.

Lenghou Tiong tersenyum, senyuman yang halus dan hangat, ia ambil pedang dari tangan Gi-lim, dengan sebelah tangan menyangga di bahu Gi-lim, dengan langkah sempoyongan ia lantas berjalan ke depan.

Sebenarnya Gi-lim mengkhawatirkan keadaan luka Lenghou Tiong, tapi demi merasa pundak sendiri sedang menahan beban tubuh pemuda itu, seketika timbul keberaniannya, ia kerahkan tenaga sekuatnya untuk menyangga Lenghou Tiong.

Dengan perlahan Lenghou Tiong menerobos ke depan murid-murid Hing-san-pay sehingga berhadapan dengan Ciong Tin bertiga. Sekali pedangnya menyambar, kontan pedang Ko Kik-sin jatuh ke tanah. Ketika pedang bergerak untuk kedua kalinya, tanpa ampun ruyung lemas Ting Pat-kong melilit lagi di lehernya sendiri. Dan gerakan pedang ketiga kalinya dengan tepat senjata Ciong Tin terketok.

Ciong Tin sadar dirinya bukan tandingan ilmu pedang Lenghou Tiong yang aneh itu, cuma ia melihat langkah Lenghou Tiong terhuyung-huyung, ia pikir harus mengadu senjata dan bikin pedang lawan tergetar jatuh. Sebab itulah ketika kedua pedang beradu ia telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya.

Tapi celaka baginya, begitu kedua pedang kebentur, terasa tenaga dalam sendiri sekonyong-konyong merembes ke luar dengan cepat melalui batang pedangnya dan sukar dikekang lagi. Sebaliknya semangat Lenghou Tiong lantas terbangkit malah.

Kiranya tanpa terasa Gip-sing-tay-hoat yang pernah diyakinkannya itu makin hari makin sempurna, tidak perlu tubuh menyentuh tubuh, asalkan pihak lawan mengerahkan tenaga, maka tenaga dalam itu akan terus mengalir melalui senjatanya.

Ciong Tin terperanjat, cepat ia menarik pedangnya dan menusuk lagi untuk kedua kalinya. Melihat di bawah ketiak lawan dalam keadaan kosong tak terjaga, asalkan membalas dengan satu tusukan saja tentu akan dapat membereskannya. Namun tangan sendiri terasa lemas, pikiran ada, tenaga kurang, terpaksa ia hanya menangkis saja serangan Ciong Tin itu.

Pedang masing-masing kebentur lagi dan kembali Ciong Tin merasakan tenaga dalamnya mencurah keluar, jantungnya berdebar dengan hebat.

Di sebelah lain Gi-ho lantas mengolok-olok, “Huh, tidak tahu malu apa-apaan begitu?”

Ciong Tin menjadi gusar dan nekat. Kembali ia kerahkan segenap tenaganya untuk menusuk, sampai di tengah jalan tiba-tiba berganti arah, yang ditusuk adalah dada Gi-lim yang berada di samping Lenghou Tiong.

Serangan Ciong Tin ini sangat keji, seperti pura-pura, tapi sungguh-sungguh pula, kalau Lenghou Tiong melintangkan pedang untuk menolong Gi-lim, maka Ciong Tin segera memutar balik pedangnya untuk menusuk perut Lenghou Tiong, jika Lenghou Tiong tidak menolong Gi-lim, maka tusukannya akan benar-benar mengenai Gi-lim, hal ini pasti akan membikin kacau pikiran Lenghou Tiong dan kesempatan lain dapat digunakan untuk menyerang secara lebih ganas.

Di tengah jerit khawatir orang banyak, tampaknya ujung pedang Ciong Tin sudah mengenai baju di dada Gi-lim. Sekonyong-konyong pedang Lenghou Tiong menyambar tiba dan tepat menindih di atas batang pedang Ciong Tin. Kontan pedang Ciong Tin terlengket berhenti di tengah jalan dan tak bisa bergerak lagi laksana dijepit oleh beberapa tanggam yang amat kuat.

Sekuatnya Ciong Tin mendorong, tapi sedikit pun ujung pedangnya tidak mampu menggeser lagi ke depan. Karena itu pedang yang ditolak dan ditahan dari atas itu mulai melengkung berbareng itu Ciong Tin merasakan tenaga dalamnya membanjir ke luar dengan cepat luar biasa.

Untung dia tahu gelagat jelek dan cepat membuang pedangnya terus melompat mundur. Walaupun begitu karena tenaga yang dikerahkan mendadak lenyap sirna, untuk mengerahkan tenaga cadangan tidak keburu lagi, maka ketika badannya masih terapung di atas rasanya sudah lemas lunglai “bluk”, ia jatuh terbanting dengan keras dengan punggung menyentuh tanah lebih dulu seperti orang yang sama sekali tidak mahir ilmu silat.

Dengan meringis Ciong Tin bermaksud merangkak bangun dengan kedua tangan menyangga tanah, tapi baru saja badannya terangkat mendadak ia terbanting jatuh lagi. Melihat keadaannya itu orang pasti akan menduga dia terluka parah kalau bukan kehilangan tenaga dalamnya sama sekali

Ting Pat-kong dan Ko Kik-sin cepat memburu maju untuk membangunkan dia, tanya mereka, “Suko, ada apa?”

“Kiranya dia … dia adalah Yim … Yim Ngo-heng!” seru Ciong Tin terputus-putus, suaranya serak penuh rasa takut

Ia menatap Lenghou Tiong dengan perasaan waswas, tapi lantas teringat olehnya umur Lenghou Tiong tidak cocok dengan umur Yim Ngo-heng, itu Kaucu Mo-kau yang malang melintang di dunia persilatan pada masa beberapa puluh tahun yang lalu mustahil berwujud seorang pemuda berusia likuran.

Maka dengan suara tak lancar ia tanya pula, “Apakah kau mu … muridnya Yim Ngo-heng? Kau mahir Gip … Gip-sing-tay-hoat!”

“Suko, jadi kau punya tenaga dalam telah disedot olehnya?” tanya Ko Kik-sin kaget.

“Ya,” sahut Ciong Tin lesu. Tapi ketika ia menggerakkan tubuh, tiba-tiba terasa tenaganya sudah mulai pulih.

Rupanya Gip-sing-tay-hoat yang diyakinkan Lenghou Tiong itu belum terlatih sempurna benar, ia hanya memunahkan tenaga dalam yang dikerahkan oleh Ciong Tin melalui batang pedang dan belum sungguh-sungguh mengisap seluruh tenaga murninya. Hanya Ciong Tin sendiri yang menjadi kaget dan takut ketika merasa tenaganya mendadak mencurah ke luar tanpa bisa dibendung lagi sehingga ia terbanting jatuh dalam keadaan runyam.

“Marilah kita pergi saja, Suko,” bisik Ting Pat-kong.

Segera Ciong Tin memberi tanda kepada kedua temannya, lalu berseru, “Iblis Mo-kau, hari ini orang she Ciong mengaku bukan tandingan ilmu silumanmu yang keji ini. Tapi beribu-ribu kesatria gagah kaum cing-pay kami pasti takkan tekuk lutut di bawah ancaman ilmu silumanmu ini. Ting-sute dan Ko-sute, gembong iblis Mo-kau telah muncul kembali, marilah kita pulang melaporkan kepada ciangbunjin.”

Habis itu ia memutar ke arah Gak Put-kun, katanya sambil memberi hormat, “Gak-siansing, adakah iblis Mo-kau ini mempunyai hubungan dengan engkau?”

Gak Put-kun hanya mendengus saja dan tidak menjawab. Sesungguhnya Ciong Tin juga tidak berani mencari perkara kepada Gak Put-kun, ia berkata pula, “Bagaimana urusan yang sebenarnya kelak pasti akan dibikin terang. Sampai berjumpa pula!”

Segera ia melangkah pergi bersama kedua sutenya.

Kemudian Gak Put-kun mendekati Lenghou Tiong, katanya dengan suara kereng, “Bagus kau, Lenghou Tiong, kiranya kau telah berhasil meyakinkan Gip-sing-tay-hoat dari Yim Ngo-heng.”

Memangnya Lenghou Tiong telah meyakinkan ilmu kemahiran Yim Ngo-heng itu walaupun secara tidak sengaja, tapi buktinya memang demikian sehingga tak bisa membantah.

Dengan suara bengis Gak Put-kun lantas membentak pula, “Betul tidak, jawab pertanyaanku?”

“Benar,” jawab Lenghou Tiong.

“Sejak kini kau adalah musuh besar kaum cing-pay,” kata Put-kun. “Sekarang kau terluka parah, aku tidak sudi membunuh orang yang sedang menderita. Tapi kelak jika ketemu lagi, kalau bukan aku membunuh kau biarlah kau yang membunuh aku.”

Kemudian ia berpaling kepada anak muridnya dan berkata, “Mulai sekarang orang ini adalah musuh bebuyutan kalian, siapa-siapa lagi yang menaruh perasaan saudara seperguruan dengan dia berarti mengkhianati kaum cing-pay. Dengar tidak kalian?”

Para muridnya sama mengiakan.

Ketika melihat bibir anak perempuannya bergerak seakan-akan omong sesuatu, segera Gak Put-kun menambahkan, “Anak Sian, biarpun kau adalah putriku juga tidak terkecuali akan laranganku tadi. Dengar tidak?”

Leng-sian menunduk dan menyahut lirih, “Dengar!”

Lenghou Tiong mestinya sudah lemas sekali, demi mendengar perkataan-perkataan itu ia tambah lemas, “trang”, pedang jatuh ke tanah, badan juga terkulai lunglai.

Gi-ho yang berdiri di sampingnya cepat menyangga bahu kanannya, ia berseru, “Gak-siansing, di dalam urusan ini tentu ada salah paham, tanpa tanya lebih jelas dan menyelidiki lebih dulu engkau lantas ambil keputusan seketus ini, rasanya terlalu sembrono.”

“Salah paham apa?” tanya Gak Put-kun.

“Yang jelas ketika orang-orang Hing-san-pay kami mengalami serangan dari iblis-iblis Mo-kau, maka berkat bantuan Lenghou … Go-ciangkun inilah sehingga kami diselamatkan. Jika dia adalah sekomplotan dengan Mo-kau mana mungkin mau membantu kami dan berbalik menggempur orang Mo-kau?”

Lantaran mendengar Gi-lim memanggil “Lenghou-toako”, Gak Put-kun juga memanggil “Lenghou Tiong”, tapi dirinya sendiri hanya mengenalnya sebagai “Go-ciangkun”, agar tidak kepalang tanggung, maka ia telah menyebut dua nama sekaligus.

“Orang Mo-kau memang banyak tipu muslihatnya, hendaklah kalian jangan sampai terjebak olehnya,” ujar Gak Put-kun. “Kunjungan kalian ke selatan ini dipimpin oleh suthay yang manakah?”

Menurut dugaan Put-kun, nikoh-nikoh dan nona-nona muda ini tentu telah terpikat oleh Lenghou Tiong yang pintar putar lidah dengan kata-kata manis itu, hanya suthay dari angkatan tua Hing-san-pay yang berpengalaman luas yang dapat menyelami tipu keji musuh.

Gi-ho lantas menjawab, “Supek Ting-cing Suthay yang memimpin rombongan kami. Sungguh malang, beliau telah dicelakai oleh iblis Mo-kau.”

“Haaah!” Gak Put-kun dan istrinya berseru kaget.

Pada saat itulah dari ujung jalan raya sana sedang berlari mendatang seorang nikoh setengah umur sembari berseru, “Ada surat merpati dari Pek-in-am!”

Nikoh setengah umur itu mendekati Ih-soh, lalu mengeluarkan sebuah bumbung bambu kecil dan diangsurkan padanya. Ketika Ih-soh membuka sumbat ujung bumbung itu dan diambil ke luar sepulung kecil kertas, waktu dibentang dan dibaca, tiba-tiba ia berseru khawatir, “Wah, celaka!”

Ketika mendengar ada kiriman surat dari Pek-in-am tadi, para murid Hing-san-pay sudah lantas merubung maju, demi tampak wajah Ih-soh yang cemas khawatir itu, beramai-ramai mereka lantas tanya, “Ada apa?”

“Bagaimana bunyi surat suhu itu?”

“Cobalah baca sendiri, Sumoay!” sahut Ih-soh sembari mengangsurkan surat itu kepada Gi-jing.

Gi-jing menerimanya dan membaca, “Aku dan Ting-yat Sumoay terkurung di Liong-coan To-kiam-kok.”

Lalu ia berkata sendiri, “Ini adalah surat darah dari … dari ciangbun-suhu. Beliau mengapa sampai berada di Liong-coan?”

“Hayo, lekas kita pergi ke sana!” seru Gi-cin.

“Entah siapakah pihak musuh?” kata Gi-jing.

“Peduli apakah dia setan belang, yang penting lekaslah kita berangkat ke sana,” ujar Gi-ho. “Sekalipun harus mati, biarlah mati bersama suhu saja.”

Gi-jing mempunyai pikiran panjang dan dapat menimbang sesuatu urusan, ia pikir betapa hebat ilmu silat suhu dan susiok dan mereka toh kena dikurung musuh, andaikan rombongan kita ini memburu ke sana mungkin juga tiada gunanya.

Maka dengan membawa surat berdarah itu ia coba mendekati Gak Put-kun, ia memberi hormat, lalu berkata, “Gak-supek, menurut surat dari suhu kami, katanya beliau terkurung oleh musuh di Liong-coan To-kiam-kok. Mohon Gak-supek mengingat hubungan kekal sesama Ngo-gak-kiam-pay dan sudilah berdaya untuk menolongnya.”

Gak Put-kun coba membaca sekilas surat itu, katanya kemudian setelah merenung sejenak, “Bagaimana suhumu dan Ting-yat Suthay bisa datang ke Ciatkang Selatan situ? Ilmu silat mereka berdua sangat hebat, mengapa sampai terkurung oleh musuh, inilah sangat aneh. Apakah surat ini adalah tulisan tangan gurumu?”

“Memang betul tulisan tangan suhu kami,” sahut Gi-jing. “Cuma mungkin sekali beliau sudah terluka, dalam keadaan tergesa-gesa surat ini ditulis dengan darah.”

“Entah siapakah musuhnya?” tanya Put-kun.

“Besar kemungkinan orang-orang Mo-kau, sebab golongan kami tiada banyak mempunyai musuh lain,” ujar Gi-jing.

Gak Put-kun melirik sekejap ke arah Lenghou Tiong, lalu berkata dengan perlahan, “Bisa jadi pihak Mo-kau sengaja membuat surat palsu untuk memancing kalian masuk perangkap mereka. Biasanya kaum iblis itu banyak tipu muslihatnya, untuk ini kalian harus waspada.”

Watak Gi-ho paling tidak sabaran, segera ia berteriak, “Suhu dalam bahaya, urusan teramat gawat, marilah kita lekas berangkat untuk membantu beliau. Gi-jing Sumoay, marilah kita lekas pergi ke sana. Gak-supek tidak ada tempo, tiada gunanya kita memohon-mohon padanya.”

“Benar, jika kita terlambat mungkin akan menyesal selamanya,” seru Gi-cin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: