Hina Kelana: Bab 83. Orang Ko-san-pay Ternyata Anggota Mo-kau

Dengan cepat si rambut putih menangkap kasa itu dan diperiksa di bawah sinar lilin, serunya kemudian dengan kegirangan, “Ini dia … ini dia!” Rupanya saking girangnya sampai suaranya ikut gemetar.

“Apa … apa itu?” tanya si botak.

“Sembilan bagian tentu inilah kiam-bohnya,” ujar si rambut putih. “Haha, hari ini kita berdua benar-benar berjasa besar. Lekas simpan baik-baik kasa itu, Saudaraku.”

Si botak juga kegirangan setengah mati, dengan hati-hati ia lipat jubah itu dan disimpan dalam bajunya. Lalu ia tuding Peng-ci dan Leng-sian, katanya, “Mampuskan mereka tidak?”

Lenghou Tiong sudah siapkan senjatanya, asalkan si rambut putih memperlihatkan niat membunuh Leng-sian berdua, segera ia bermaksud menerjang ke dalam untuk membinasakan kedua kakek itu.

Tak terduga si rambut putih hanya menjawab, “Kiam-boh sudah kita temukan, tidak perlu kita mengikat permusuhan dengan Hoa-san-pay, biarkan mereka begini saja.”

Kedua orang lantas melangkah keluar dan meninggalkan rumah itu.

Dengan enteng Lenghou Tiong juga melompat ke luar pagar tembok dan menguntit di belakang kedua orang itu. Langkah kedua kakek itu sangat cepat. Khawatir kehilangan jejak mereka dalam kegelapan malam, segera Lenghou Tiong perkencang langkahnya juga sehingga jaraknya hanya beberapa meter saja.

Setiap kali kedua kakek itu mempercepat langkahnya, maka Lenghou Tiong lantas ikut dengan langkah yang tidak kalah cepatnya. Tapi mendadak kedua kakek di depan itu berhenti terus membalik tubuh. Tahu-tahu sinar tajam berkelebat, kontan Lenghou Tiong merasa pangkal lengan kanan menjadi kesakitan, ternyata telah kena ditebas oleh senjata lawan.

Gerakan berhenti mendadak, membalik tubuh mendadak, dan menyerang mendadak benar-benar terjadi secepat kilat. Lenghou Tiong sendiri hanya kuat dalam hal tenaga dalam dan ilmu pedangnya lihai, tapi pengalaman menghadapi serangan kilat dan perubahan yang aneh itu sesungguhnya masih sangat cetek, masih selisih jauh kalau dibandingkan jago silat kelas wahid. Maka ia benar-benar tidak berdaya menghadapi serangan kilat lawan, sedikit pun ia tidak sempat menyentuh senjatanya dan tahu-tahu sudah terluka.

Ilmu golok kedua kakek itu sungguh luar biasa, sekali serangan berhasil, segera serangan kedua dilancarkan lagi.

Sungguh kejut Lenghou Tiong tak terkatakan, lekas-lekas ia melompat ke belakang, syukur tenaga dalamnya teramat kuat, lompatan ke belakang itu sudah beberapa meter jauhnya, menyusul sekali lompat lagi kembali beberapa meter jauhnya.

Kedua kakek terkejut juga menyaksikan ketangkasan Lenghou Tiong yang sudah terluka, tapi masih sanggup melompat sedemikian gesit dan cepat. Tanpa bicara mereka lantas menubruk maju lagi.

Lenghou Tiong putar tubuh terus melarikan diri. Pundaknya yang terluka itu semula tidak terasa sakit, sekarang sesudah kena angin rasa sakitnya menjadi-jadi, hampir-hampir saja kelengar saking sakitnya. Pikirnya, “Kasa yang dirampas kedua orang ini besar kemungkinan bertuliskan Pi-sia-kiam-boh di atasnya. Aku sendiri difitnah karena kiam-boh tersebut, betapa pun harus kurebut kembali untuk diserahkan kepada Lim-sute.”

Begitulah ia menahan rasa sakitnya sebisanya dan berusaha mencabut goloknya.

Tapi sudah ditarik-tarik, golok hanya setengahnya saja terlolos dari sarungnya, selanjutnya sukar lagi ditarik. Kiranya sesudah pangkal lengan kanan terluka, tenaganya sedikit pun sukar dikerahkan. Tiba-tiba didengarnya angin menyambar dari belakang, golok musuh kembali membacok lagi ke atas kepalanya, cepat ia melompat ke depan sebisanya, berbareng tangan kiri menarik sekuatnya sehingga ikat pinggang terbetot putus, dengan demikian barulah golok dapat dipegang. Sekuatnya ia menyendal sehingga sarung golok terlempar ke tanah. Tapi baru saja hendak balik tubuh, mendadak angin tajam menyambar ke mukanya, kedua golok musuh telah menyerang sekaligus.

Lagi-lagi Lenghou Tiong melompat mundur, sementara itu subuh sudah hampir tiba. Tapi cuaca menjelang subuh biasanya paling gelap. Selain berkelebatnya sinar golok boleh dikata sukar melihat sesuatu benda lain di depannya. Padahal Tokko-kiu-kiam yang diyakinkan Lenghou Tiong gunanya untuk mematahkan setiap jurus serangan musuh, di mana ada lubang segera dimasuki. Kini gerak serangan musuh sama sekali tak kelihatan, dengan sendirinya ilmu pedangnya tak dapat dimainkan. Tiba-tiba lengan kiri kesakitan lagi, kembali tergores luka oleh golok musuh.

Ia tahu malam ini sukar mengalahkan lawan, kalau tidak lekas lari mungkin jiwanya bisa melayang malah. Terpaksa ia angkat langkah seribu menuju ke jalan besar sana dengan sebelah tangan memegang golok sembari mendekap luka di pundak agar darah tidak mengucur terlalu banyak dan roboh lemas.

Setelah mengudak sekian lamanya, melihat langkah Lenghou Tiong sedemikian cepatnya, terang sukar menyusulnya, kedua kakek itu pikir kiam-boh yang dicari toh sudah diperoleh, buat apa mencari perkara lain. Maka mereka lantas berhenti tidak mengejar lagi, mereka putar balik ke arah tadi.

Tapi Lenghou Tiong lantas berteriak-teriak, “Hei, kawanan bangsat, habis mencuri lantas mau lari ya?”

Habis itu ia lantas mengejar balik malah.

Keruan kedua kakek menjadi gusar, mereka putar balik terus membacok dengan golok. Lenghou Tiong tidak mau bertempur lagi, ia putar tubuh untuk lari pula sembari berharap-harap ada orang lalu di situ dengan membawa lentera, dengan sedikit cahaya saja ia sudah sanggup melayani ilmu golok lawan-lawannya.

Tiba-tiba hatinya tergerak, cepat ia melompat ke atas rumah, sekilas terlihat di sebelah kiri sana ada sinar lampu, segera ia berlari menuju ke rumah yang berlampu itu. Tapi kedua kakek itu tidak mau mengejarnya lagi ke atas rumah.

Lenghou Tiong tidak kurang akal, segera ia menghujani kedua lawan dengan genting sambil berteriak, “He, kalian berdua maling yang telah mencuri Pi-sia-kiam-boh keluarga Lim, yang satu botak, yang lain ubanan, biarpun lari ke ujung langit juga akan dibekuk.”

Mendengar nama Pi-sia-kiam-boh disebut dengan tepat, kedua kakek sependapat kalau orang ini tidak dibunuh tentu akan mendatangkan kesukaran di kemudian hari. Jika orang ini sudah terbunuh, kedua muda-mudi yang masih ketinggalan di ruangan pemujaan itu pun perlu dibinasakan agar tidak membocorkan perbuatan mereka. Karena pikiran demikian, segera mereka melompat ke atas rumah dan mengejar pula ke arah Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong merasa kakinya sudah lemas, tenaganya makin lama makin lemah. Sekuat sisa tenaganya ia berlari terus ke arah sinar lentera tadi. Sekonyong-konyong ia terhuyung dan terjungkal dari atas rumah. Lekas-lekas ia menggunakan gerakan “Le-hi-tah-ting” (Ikan Lele Melejit), sekali jumpalitan dapatlah ia berbangkit, lalu berdiri bersandarkan tembok.

Kedua kakek itu pun melompat turun, lalu mendesak maju dari kanan dan kiri.

“Hehe, telah kuberi jalan hidup padamu, tapi kau justru tidak mau,” ejek si botak dengan menyeringai.

Melihat mulut si botak yang menyeringai itu tinggal tiga biji giginya, tampaknya sangat jelek dan seram. Terkesiap hati Lenghou Tiong, kiranya fajar sudah menyingsing, dapatlah ia melihat benda-benda di hadapannya dengan cukup jelas.

“Sebenarnya kalian berdua berasal dari aliran mana, kenapa kalian ingin membunuh aku?” tanya Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Tidak perlu banyak omong dengan dia,” bisik si rambut putih kepada si botak. Goloknya diangkat terus menebas ke leher Lenghou Tiong.

Agaknya si botak merasa tidak sepadan untuk main keroyok, maka ia tidak ikut menyerang.

Di luar dugaan, ketika mendadak Lenghou Tiong melolos golok terus ditusukkan ke depan sebagai pedang, hanya tusukan sekenanya saja, tahu-tahu tenggorokan si rambut putih telah tertusuk dengan tepat.

Keruan si botak terkejut, cepat ia putar goloknya menubruk maju. Kembali golok Lenghou Tiong menebas dan dengan tepat mengenai pergelangan tangan lawan, kontan tangan berikut golok yang masih tergenggam tertebas kutung. Menyusul ujung golok Lenghou Tiong mengancam di tenggorokan si botak dan membentak, “Dari mana asal usul kalian berdua ini? Lekas mengaku terus terang dan jiwamu dapat kuampuni!”

“Hehe,” si botak mengekek, lalu menjawab dengan putus asa, “selama kami bersaudara malang melintang di Kangouw jarang sekali ketemu tandingan, tapi hari ini ternyata harus mati di bawah golokmu, sungguh aku sangat kagum. Cuma belum tahu siapakah namamu, sampai mati pun aku … aku masih penasaran.”

Meski sebelah tangan sudah buntung, tapi lagaknya tetap gagah tak mau menyerah, mau tak mau Lenghou Tiong merasa kagum juga terhadap tekad lawan itu. Katanya kemudian, “Aku terpaksa harus membela diri, sesungguhnya aku tidak pernah kenal kalian berdua, maafkan jika aku mencelakai kalian tanpa sengaja. Asalkan jubah itu kau serahkan padaku, maka bolehlah kita berpisah dengan baik.”

Tapi dengan tegas si botak menjawab, “Biarpun Tut-eng tidak becus juga tidak sudi menyerah kepada musuh.”

Mendadak tangan kirinya bergerak, sebilah belati telah menancap di ulu hatinya sendiri.

“Sampai mati pun tidak mau takluk, orang ini benar-benar suatu tokoh pilihan,” demikian pikir Lenghou Tiong. Segera ia bermaksud mengambil jubah di dalam baju orang itu. Mendadak kepalanya terasa pening, ia tahu darahnya sendiri keluar terlalu banyak. Lekas-lekas ia merobek kain lengan baju untuk membalut luka di bagian pundak itu, habis itu barulah jubah di baju si botak diambilnya.

“Kletak”, mendadak sepotong kayu jatuh di atas tanah. Waktu ia jemput dan diperiksa, ternyata panjang kayu itu hanya belasan sentimeter saja, sebagian terbakar hangus, di atasnya banyak terukir huruf-huruf dan garis-garis yang aneh.

Ia kenal potongan kayu ini adalah leng-pay (lencana kebesaran) ketua Mo-kau yang disebut “Hek-bok-leng-pay” (Lencana Kayu Hitam). Tempo hari waktu di tempat kediaman Ui Ciong-kong, begitu Pau Tay-coh mengeluarkan leng-pay ini, seketika Ui Ciong-kong dan lain-lain tunduk perintah tanpa membangkang sedikit pun. Maka dapat diketahui leng-pay ini mewakili kekuasaan kaucu sepenuhnya.

Baru sekarang ia tahu kedua kakek ini kiranya juga orang Mo-kau, jika mereka dibunuh juga setimpal dengan kejahatan yang telah mereka lakukan. Segera ia menyimpan jubah dan leng-pay itu dalam bajunya, ia pikir orang-orang Mo-kau sedang mengacau wilayah Hokkian dan sekitarnya, leng-pay demikian mungkin ada gunanya kelak.

Dalam pada itu kepala terasa pening lagi, ia menarik napas panjang-panjang, membedakan arah, lalu melangkah ke rumah Lim Peng-ci di Jalan Hiang-yang-kang itu.

Tapi baru belasan meter jauhnya ia sudah merasa payah, pikirnya, “Jika aku roboh di sini, bukan saja jiwaku akan melayang, bahkan setelah mati masih akan didakwa orang sebagai pencuri Pi-sia-kiam-boh, barang bukti berada padaku, betapa pun aku tak bisa menghindarkan tuduhan demikian.”

Ia coba bertahan sekuatnya, akhirnya selangkah demi selangkah ia mendekati Hiang-yang-kang. Tapi pintu rumah tampak tertutup rapat, Peng-ci dan Leng-sian jelas tak bisa berkutik di dalam karena kena ditutuk kedua kakek tadi, tiada orang lain lagi yang bisa membukakan pintu. Suruh dia melompat ke dalam dengan melintasi pagar tembok jelas tidak mampu dalam keadaan kehabisan tenaga. Terpaksa ia menggedor pintu beberapa kali, menyusul sebelah kakinya mendepak sekuatnya.

Tapi bukannya daun pintu terbuka, sebaliknya guncangan keras itu membuatnya roboh sendiri dan tak sadar lagi ….

Ketika siuman kembali, terasa dirinya berbaring di suatu tempat tidur. Begitu membuka mata lantas melihat Gak Put-kun dan istri berdiri di depan ranjang. Keruan Lenghou Tiong sangat girang serunya, “Suhu, Sunio, aku … aku ….” saking terharunya air matanya lantas bercucuran, ia meronta-ronta bangun berduduk.

Gak Put-kun tidak menjawabnya, sebaliknya lantas tanya, “Sebenarnya apa yang terjadi ini?”

“Bagaimana dengan siausumoay? Dia … dia selamat tak apa-apa bukan?” tanya Lenghou Tiong.

“Tidak apa-apa, kenapa kau berada di … di Hokciu sini?” sahut Gak-hujin. Betapa pun perasaan wanita memang lebih halus dan lemah, dia yang telah membesarkan Lenghou Tiong sejak kecil dan menganggapnya seperti anak kandung sendiri, sekarang berjumpa kembali setelah berpisah sekian lamanya, selain terharu girang juga hatinya.

“Lim-sute punya Pi-sia-kiam-boh telah direbut oleh orang Mo-kau,” tutur Lenghou Tiong. “Aku telah membunuh kedua orang itu dan dapat merebut kembali kiam-bohnya.”

Tapi ketika meraba bajunya sendiri dan tidak terdapat lagi jubah yang penuh tulisan kecil-kecil itu, cepat ia bertanya, “Ke … ke mana kasa itu?”

“Itu adalah milik Peng-ci, sudah seharusnya diserahkan kembali padanya,” kata Gak-hujin.

“Benar,” sahut Lenghou Tiong tanpa ragu-ragu. Lalu tanyanya lagi kepada Gak-hujin, “Sunio, baik-baikkah engkau bersama suhu? Para sute dan sumoay tentunya juga baik-baik.”

“Ya, semuanya baik-baik,” sahut Gak-hujin dengan mengusap air mata saking terharu.

“Bagaimana aku bisa sampai di sini? Apakah Suhu dan Sunio yang telah menolongku ke sini?” tanya Lenghou Tiong.

“Pagi tadi ketika aku pergi ke rumah Peng-ci di Hiang-yang-kang, di luar pintu aku melihat kau menggeletak tak sadarkan diri,” kata Gak-hujin.

“O, untung Sunio yang datang, kalau dilihat lebih dulu oleh iblis dari Mo-kau tentu jiwa anak sudah melayang,” ujar Lenghou Tiong. Ia tahu pasti pagi-pagi ibu-gurunya sengaja mencari Leng-sian yang tidak pulang semalaman itu, tempat yang dituju adalah rumah di Hiang-yang-kang. Hanya saja hal ini tidak enak untuk diceritakan. Maka ia pun tidak tanya lebih jelas

Tiba-tiba Gak Put-kun membuka suara, “Kau bilang sudah membunuh dua orang Mo-kau, cara bagaimana kau mengetahui mereka adalah anggota Mo-kau?”

“Tecu menemukan sebuah Hek-bok-leng-pay tanda kebesaran Kaucu Mo-kau di dalam baju mereka,” tutur Lenghou Tiong. Diam-diam ia merasa girang karena telah berhasil merebut kembali Pi-sia-kiam-boh, tentu Lim-sute, siausumoay, dan gurunya takkan menaruh curiga lagi padanya. Malahan dengan membunuh dua iblis dari Mo-kau ini tentu suhu takkan menuduhnya bersekongkol lagi dengan orang-orang Mo-kau.

Tak terduga wajah Gak Put-kun malahan membesi, katanya sambil mendengus, “Hm, sampai saat ini kau masih berani mengoceh tak keruan, memangnya kau anggap aku ini mudah dibohongi.”

Lenghou Tiong terkesiap, serunya cepat, “Tecu sekali-kali tidak berani membohongi Suhu.”

“Siapa mengaku suhumu? Orang she Gak sudah lama tiada hubungan sebagai guru dan murid lagi dengan kau.”

Lenghou Tiong menjatuhkan diri ke lantai terus berlutut dan menyembah, katanya, “Tecu telah banyak berbuat salah dan rela menerima hukuman apa pun dari Suhu. Hanya … hanya hukuman pemecatan dari perguruan mohon dengan sangat sudilah Suhu menariknya kembali.”

Gak Put-kun mengelak ke samping, ia tidak mau menerima penghormatan Lenghou Tiong itu, katanya dengan ketus, “Alangkah besar perhatiannya putri Yim-kaucu dari Mo-kau itu kepadamu, sudah lama kau berkomplot dengan mereka, untuk apa lagi menginginkan guru semacam aku?”

“Putri Yim-kaucu dari Mo-kau?” Lenghou Tiong menegas. “Entah bagaimana maksud ucapan Suhu ini? Walaupun Tecu pernah dengar bahwa Yim … Yim Ngo-heng itu punya anak perempuan, tapi … tapi Tecu belum pernah melihatnya.”

“Anak Tiong, sampai saat ini kenapa kau masih berdusta lagi?” sela Gak-hujin. “Yim-siocia itu telah mengumpulkan orang-orang Kangouw tak tertentu di atas Ngo-pah-kang di Soatang untuk mengobati penyakitmu, setiap orang bu-lim mengetahui ….”

“Hah, nona di Ngo-pah-kang itu, dia … dia … Ing-ing, dia … dia adalah putrinya Yim-kaucu?” seru Lenghou Tiong dengan heran dan tidak habis paham.

“Kau bangun saja,” kata Gak-hujin.

Perlahan-lahan Lenghou Tiong berdiri, ia menggumam dengan bingung, “Ing-ing, dia … dia adalah putrinya Yim-kaucu? Ini … ini mana bisa jadi?”

“Terhadap Suhu dan Sunio kenapa kau masih berdusta?” kata Gak-hujin dengan kurang senang.

“Siapa sudi menjadi suhunya?” bentak Gak Put-kun dengan gusar. “Brak”, mendadak telapak tangannya menggebrak meja sehingga ujung meja sempal sebagian.

“Tapi … tapi Tecu sekali-kali tidak berani berdusta kepada Suhu ….”

“Sekali lagi kau panggil suhu, seketika aku binasakan kau!” hardik Gak Put-kun dengan bengis.

Terpaksa Lenghou Tiong mengiakan. Dengan pucat ia pegang tepian ranjang, badannya terasa lemas dan sempoyongan. Katanya lemah, “Mereka … mereka memang berusaha mengobati penyakitku, tetapi … tetapi tiada seorang pun yang mengatakan padaku bahwa … bahwa dia adalah putri Yim-kaucu.”

“Biasanya kau sangat pintar dan cerdik, kenapa tidak menduga akan hal demikian? Seorang nona muda belia seperti dia, hanya satu ucapan saja sudah dapat mengerahkan orang-orang Kangouw sebanyak itu, semuanya berebut menyembuhkan penyakitmu. Coba, selain Yim-siocia dari Mo-kau, siapakah yang memiliki kekuasaan sebesar itu?” kata Gak-hujin.

“Tatkala itu Te … aku mengira dia seorang nenek-nenek reyot,” ujar Lenghou Tiong.

“Apakah dia telah menyamar dan ganti rupa?” tanya Gak-hujin.

“Tidak, cuma … cuma selama itu aku tidak … tidak pernah melihat mukanya,” sahut Lenghou Tiong.

“Hah!” mendadak Gak Put-kun mengakak, tapi tiada sedikit pun rasa tertawa pada air mukanya.

Pikiran Lenghou Tiong menjadi kusut tak keruan, pikirnya, “Apakah benar Ing-ing adalah putrinya Yim Ngo-heng? Bukankah waktu itu Yim Ngo-heng berada dalam penjara Ui Ciong-kong, cara bagaimana putrinya masih memegang kekuasaan sebesar itu?”

Gak-hujin menghela napas, kemudian berkata, “Anak Tiong, umurmu sudah semakin menanjak, watakmu juga sudah berubah. Apa yang sering kukatakan sudah tidak kau perhatikan lagi.”

“Su … Su … apa yang pernah engkau katakan sungguh tidak ….” mestinya ia hendak menyatakan “tidak berani membangkang terhadap apa yang pernah dikatakan sang sunio”, tapi kenyataannya adalah larangan sang suhu dan sunio agar jangan bergaul dengan orang Mo-kau tidak pernah ditaatinya.

Maka Gak-hujin berkata lagi, “Seumpama Yim-siocia itu sangat baik padamu, demi menyelamatkan jiwamu terpaksa kau membiarkan dia mengumpulkan orang mengobati kau, hal ini mungkin dapat dimengerti ….”

“Dapat dimengerti apa?” sela Put-kun dengan gusar. “Untuk mencari hidup apakah lantas boleh berbuat sesukanya?”

Biasanya Gak Put-kun sangat ramah terhadap sang sumoay merangkap istri ini, tapi sekarang ia bicara dengan kasar dan bengis, terang gusarnya sudah memuncak.

Gak-hujin dapat memahami perasaan sang suami, maka ia pun tidak marah dan tetap menyambung bicaranya, “Tapi mengapa kau berkomplot lagi dengan gembong Mo-kau Hiang Bun-thian dan telah banyak membunuh orang-orang cing-pay? Kedua tanganmu telah berlumuran darah kesatria-kesatria cing-pay, maka le … lekas kau pergi saja!”

Lenghou Tiong merinding sendiri teringat kepada kejadian di gardu sunyi, di mana dia bersama Hiang Bun-thian telah bertempur melawan kerubutan beratus-ratus orang. Walaupun tangan sendiri tidak pernah membunuh, tapi memang tidak sedikit orang cing-pay yang menjadi korbannya ketika tiba di jurang yang berbahaya itu. Sekalipun waktu itu dalam keadaan kepepet, hanya ada pilihan antara membunuh atau terbunuh, tapi peristiwa berdarah itu betapa pun dirinya ikut bertanggung jawab.

Gak-hujin menyambung lagi, “Di atas Ngo-pah-kang juga tidak sedikit orang cing-pay yang telah kau salahi. Anak Tiong, dahulu aku sayang padamu seperti anak kandungku sendiri, tapi urusan sudah begini, i … ibu-gurumu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tidak sanggup membela kau lagi.”

Bicara sampai di sini air matanya lantas berlinang-linang.

“Anak telah berbuat salah, seorang laki-laki berani berbuat berani bertanggung jawab, Anak pasti tidak membiarkan nama baik Hoa-san-pay ikut ternoda,” kata Lenghou Tiong. “Maka silakan kedua orang tua mengadakan sidang dan mengundang berbagai kesatria dari aliran-aliran lain untuk menjatuhkan hukuman atas diri Anak, dengan demikian hukum Hoa-san-pay dapatlah ditegakkan.”

Gak Put-kun menghela napas panjang, katanya, “Lenghou-tayhiap, jika hari ini kau masih murid Hoa-san-pay, tentu saranmu dapat dilaksanakan dan biarpun jiwamu tamat juga nama baik Hoa-san-pay takkan tercemar, pula hubungan guru dan murid antara kita masih terpupuk. Namun kini sudah telanjur kusiarkan pemecatanku padamu, setiap tindak tandukmu sudah lama tiada sangkut pautnya dengan Hoa-san-pay, maka berdasarkan apa aku berhak menghukum kau? Ya, kecuali … hehe, memang antara cing-pay dan sia-pay tidak pernah ada persesuaian, maka lain kali kalau kau berbuat kejahatan dan kepergok olehku, tentunya aku pun tidak segan-segan untuk membinasakan kau.”

Bicara sampai di sini, tiba-tiba di luar ada orang berseru, “Suhu, Sunio!”

Itulah suaranya Lo Tek-nau, murid Hoa-san-pay yang kedua.

“Ada apa?” sahut Gak Put-kun.

“Di luar ada orang mencari Suhu dan Sunio, katanya Ciong Tin dari Ko-san-pay, ada pula dua orang sutenya,” lapor Tek-nau.

“Kiu-kiok-kiam Ciong Tin juga datang ke Hokkian sini?” kata Put-kun rada heran. “Baiklah, segera aku keluar.”

Lalu ia meninggalkan kamar. Gak-hujin memandang sekejap kepada Lenghou Tiong dengan penuh rasa kasihan seakan-akan suruh dia menunggu sementara, nanti masih akan bicara lagi. Habis itu ia pun keluar.

Terhadap ibu gurunya yang membesarkannya sejak kecil, selama ini Lenghou Tiong menganggapnya seperti ibu kandung sendiri. Melihat betapa kasih sayang ibu gurunya itu, timbul rasa menyesalnya atas perbuatannya sendiri selama ini. Sudah jelas Hiang-toako bukanlah orang baik-baik dari kalangan sia-pay, tapi tanpa pikir aku lantas membantu dia? Kematianku tidak menjadi soal, tapi nama baik suhu dan sunio lantas ikut ternoda.

Lalu terpikir pula olehnya, “Kiranya Ing-ing adalah putrinya Yim Ngo-heng, pantas Lo Thau-cu, Coh Jian-jiu, dan lain-lain sedemikian hormat padanya. Hanya satu ucapannya saja sudah cukup untuk menjatuhkan hukuman berat kepada jago-jago Kangouw yang tidak sedikit jumlahnya. Ai, seharusnya dapat kupikirkan bahwa selain gembong utama Mo-kau, siapa lagi di dunia persilatan yang mempunyai kekuasaan sebesar ini? Tapi sewaktu aku berada bersama Ing-ing, selain perangainya memang rada aneh, sifat-sifat kewanitaannya toh tiada ubahnya dengan anak gadis umumnya.”

Tengah terbenam oleh macam-macam pikiran itu, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang yang cepat, seorang telah menyelinap ke dalam kamar. Siapa lagi kalau bukan siausumoay yang dirindukannya siang dan malam selama ini.

Terus saja Lenghou Tiong berseru, “Siausumoay, kau ….”

Ternyata ucapan selanjutnya tak sanggup dicetuskan lagi.

“Toasuko,” kata Leng-sian, “lekas … lekas kau meninggalkan tempat ini, orang Ko-san-pay telah datang mencari setori padamu.”

Dari suara si nona dapatlah diketahui rasa khawatirnya. Bagi Lenghou Tiong sendiri, sekali melihat siausumoaynya, maka biarpun langit akan ambruk juga tak dipusingkan olehnya, apalagi soal Ko-san-pay segala, hakikatnya tak terpikir olehnya. Ia memandang Leng-sian dengan termangu-mangu, segala macam perasaan, manis, kecut, getir, semuanya timbul.

Muka Leng-sian menjadi merah melihat Lenghou Tiong memandangnya dengan mata tak berkedip, katanya pula, “Ada seorang she Ciong dengan dua orang sutenya, katanya kau telah membunuh orang Ko-san-pay mereka, dengan mengikuti darah yang tercecer sepanjang jalan mereka telah menyusul jejakmu ke sini.”

Lenghou Tiong melengak, “Aku telah membunuh orang Ko-san-pay? Mana bisa jadi?”

“Blang”, sekonyong-konyong pintu kamar didobrak, Gak Put-kun telah melangkah masuk dengan air muka penuh rasa gusar. Katanya dengan bengis, “Lenghou Tiong, bagus benar perbuatanmu! Tokoh bu-lim angkatan tua dari Ko-san-pay yang telah kau bunuh, tapi kau membohongi aku sebagai kawanan iblis Mo-kau.”

“Aku … aku membunuh orang Ko-san-pay? Bagaimana … bagaimana hal ini bisa terjadi?” sahut Lenghou Tiong dengan bingung. Dilihatnya Gak-hujin sudah ikut masuk di belakang Gak Put-kun, ia lantas tanya, “Su … Su … aku tidak pernah membunuh anak murid Ko-san-pay.”

Dengan gusar Gak Put-kun berkata, “Pek-thau-sian-ong Bok Sim dan Tut-eng Soa Thian-kang, kedua orang ini kau yang membunuh atau bukan?”

“Pek-thau-sian-ong”, Si Dewa Berambut Putih dan “Tut-eng”, Si Elang Gundul, dua julukan ini mengingatkan Lenghou Tiong kepada apa yang diucapkan oleh si kakek botak ketika akan membunuh diri semalam, bahwa biarpun Tut-eng tidak becus juga tidak sudi menyerah kepada musuh. Jadi kakek botak itulah Tut-eng yang dimaksudkan sang guru, dengan sendirinya seorang lagi yang ubanan tentulah “Pek-thau-sian-ong” adanya.

“Ya, seorang kakek berambut putih dan seorang kakek kepala botak memang betul aku yang membunuh,” kata Lenghou Tiong kemudian. “Tapi … tapi aku tidak tahu mereka adalah orang Ko-san-pay, mereka menggunakan golok, jelas bukan ilmu sifat Ko-san-pay.”

“Jadi kedua orang itu benar-benar kau yang membunuh?” Gak Put-kun menegas dengan lebih bengis.

“Benar,” diawali Lenghou Tiong.

Tiba-tiba Leng-sian menimbrung, “Ayah, kedua kakek ubanan dan botak itu ….”

“Keluar kau! Siapa suruh kau masuk ke sini? Aku sedang bicara perlu apa kau ikut menyela?” bentak Gak Put-kun.

Dengan tunduk kepala Leng-sian lantas keluar kamar. Hati Lenghou Tiong menjadi pilu dan senang pula, meski sumoay sangat baik kepada Lim-sute toh masih tetap punya perasaan baik padaku. Ia berani menghadapi omelan sang ayah untuk datang memberi peringatan padaku agar lekas-lekas menyingkiri bahaya.

Dalam pada itu Gak Put-kun telah berkata pula, “Ilmu silat dari Ko-san-pay apa dapat kau kenal semuanya? Bok Sim dan Soa Thian-kang berasal dari cabang luar Ko-san-pay, entah dengan cara rendah apa kau telah membunuh mereka, tapi bekas darahnya kau cecerkan sehingga sampai di Hok-wi-piaukiok ini. Sekarang Ciong-suheng dari Ko-san-pay berada di luar dan minta kepada tanggung jawabku, apa yang dapat kau katakan lagi?”

“Suko,” sela Gak-hujin, “mereka toh tidak menyaksikan sendiri Anak Tiong yang membunuh kawan-kawannya, hanya bekas-bekas darah itu saja masakah dapat dipakai sebagai bukti? Kita tolak saja tuduhan mereka dan habis perkara.”

“Sumoay, sampai sekarang kau masih mau membela bergajul yang jahat ini. Sebagai ketua Hoa-san-pay masakah aku harus berdusta bagi binatang kecil seperti dia? Jika begini tindakan kita, maka akibatnya pasti akan hancur Hoa-san-pay kita.”

Selama ini Lenghou Tiong sangat mengagumi kebahagiaan guru dan ibu-gurunya yang berasal dari kakak beradik seperguruan. Ia pikir kalau dirinya dengan siausumoay juga bisa menjadi suami-istri, maka puaslah hidupnya ini. Sekarang melihat sang guru bicara secara bengis kepada ibu-guru, tiba-tiba timbul pikirannya, jika siausumoay menjadi istriku, maka segala apa yang hendak diperbuatnya tentu akan kuturuti keinginannya. Biarpun aku disuruh melakukan apa pun juga takkan kutolak.

Kedua mata Gak Put-kun menatap tajam ke muka Lenghou Tiong, ketika tiba-tiba wajah pemuda itu menampilkan senyuman mesra sambil memandang ke arah anak perempuannya yang masih berdiri di ambang pintu sana, sungguh gusarnya tak terkatakan, bentaknya, “Binatang, pada saat demikian masih berani timbul pikiranmu yang jahat?”

Bentakan Gak Put-kun membuat Lenghou Tiong sadar dari lamunannya. Waktu ia berpaling, dilihatnya sang guru sangat murka, sebelah tangannya sudah terangkat dan akan menghantam ke batok kepalanya. Seketika itu tiba-tiba timbal rasa girangnya, ia merasa teramat getir menjadi manusia di dunia ini, kalau bisa mati di bawah tangan sang guru akan berarti terbebas dari derita sengsara, lebih-lebih siausumoay ikut menyaksikan kematiannya, justru inilah yang sangat diharapkannya.

Karena itu ia malah tersenyum lagi, sorot matanya kembali beralih kepada Gak Leng-sian, ditunggunya pukulan sang guru itu dijatuhkan atas kepalanya.

Terasa angin pukulan menyambar tiba, mendadak Gak-hujin menjerit, “Jangan!”

Ia terus memburu maju, jarinya lantas menutuk “giok-cim-hiat” di belakang kepala sang suami.

Sebagai kakak beradik seperguruan yang berlatih sejak kecil bersama-sama, ia cukup kenal di mana letak ciri sang suheng. Hiat-to yang ditutuknya itu memaksa Gak Put-kun harus menyelamatkan diri dulu. Maka ketika Gak Put-kun membalik tangannya untuk menangkis, dengan cepat Gak-hujin lantas menyelip dan mengadang pedang di depan Lenghou Tiong.

Dengan muka merah padam Gak Put-kun membentak, “Kau … kau mau apa?”

Tapi Gak-hujin lantas berseru kepada Lenghou Tiong, “Tiong-ji, lekas … lekas lari!”

“Tidak, aku takkan lari,” sahut Lenghou Tiong menggeleng. “Suhu mau membunuh aku, biarkan saja aku dibunuh. Memang dosaku setimpal dihukum mati.”

“Ada aku di sini, dia takkan membunuh kau,” seru Gak-hujin pula. “Lekas, lekas pergi! Pergilah sejauh-jauhnya dan selamanya jangan pulang lagi.”

“Hm, dia boleh pergi dengan enak-enak, tapi tiga orang Ko-san-pay di depan itu cara bagaimana harus kita layani?” kata Put-kun.

Kiranya suhu merasa khawatir menghadapi Ciong Tin bertiga, biarlah aku membereskan mereka dulu, demikian pikir Lenghou Tiong. Segera ia berseru lantang, “Baik, aku akan menemui mereka!”

Habis berkata segera ia menuju ke ruang depan dengan langkah lebar.

“Jangan, mereka akan membunuh kau!” seru Gak-hujin khawatir. Namun langkah Lenghou Tiong teramat cepat, sekejap saja ia sudah memasuki ruangan tamu.

Benar juga tampak tiga tokoh Ko-san-pay, yaitu Kiu-kiok-kiam Ciong Tin, Sin-pian Ting Pat-kong, dan Kim-mo-say Ko Kik-sin sedang duduk di sebelah kiri.

Di lain keadaan sudah ganti samaran, yaitu memakai baju pelayan hotel, pula noda darahnya sudah dibersihkan oleh Gak-hujin sehingga polesan mukanya yang kuning-kuning bengkak itu sudah lenyap pula, jadi wajahnya sekarang sudah berubah sama sekali daripada waktu bertemu malam-malam di hotel Ji-pek-poh tempo hari, sebab itulah Ciong Tin bertiga tidak mengenalnya lagi.

Dengan lagak tuan besar Lenghou Tiong terus duduk di kursi besar bagian tengah, lalu berkata dengan nada dingin, “Untuk urusan apa kalian bertiga datang ke sini?”

Melihat seorang pemuda bermuka pucat dan berpakaian kotor sedemikian kasar terhadap mereka, keruan Ciong Tin bertiga menjadi gusar.

Kim-mo-say Ko Kik-sin, Singa Berbulu Emas, wataknya paling berangasan, segera ia membentak, “Kurang ajar, kau ini kutu macam apa?”

“Dan kalian bertiga ini macam kutu apa?” balas Lenghou Tiong dengan tertawa.

Ko Kik-sin melengak karena pertanyaannya dikembalikan dengan terbalik. Dengan gusar ia lantas berteriak, “Suruh Gak-siansing keluar! Keroco macam kau masakah sesuai untuk bicara dengan kami.”

Saat itu Gak Put-kun, Gak-hujin, Leng-sian, dan anak murid Hoa-san-pay yang lain sudah berada di belakang pintu angin dan ikut mendengarkan pembicaraan itu. Leng-sian merasa geli ketika mendengar Lenghou Tiong menjawab dengan nada yang kocak. Ia tahu ketiga jago Ko-san-pay itu sangat lihai. Toasuhengnya sudah membunuh kawan mereka, sekarang bersikap sedemikian kasar, sebentar lagi tentu akan terjadi pertarungan dan besar kemungkinan ayah-ibunya terpaksa tidak dapat ikut campur. Ia menjadi khawatir sehingga tidak sanggup tertawa walaupun geli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: