Hina Kelana: Bab 82. Terbongkarnya Rahasia Kiam-boh

“Masakah jalan-jalan saja tidak boleh? Apalagi sudah sekian lama tiada seseorang tokoh bu-lim yang kulihat. Seumpama ada jago-jago Kangouw yang berdatangan di kota ini, asalkan kita tidak saling mengganggu, peduli apa?”

Begitulah sembari bicara kedua orang lambat laun sudah pergi jauh.

Mendadak Lenghou Tiong membalik tubuh, dilihatnya bayangan Gak Leng-sian yang langsing itu berada di sisi kiri dan bayangan Lim Peng-ci yang kekar berada di sisi kanan, kedua muda-mudi itu berjalan berendeng. Si nona memakai baju hijau tua dengan kain warna hijau pupus. Peng-ci sendiri memakai jubah panjang warna kuning. Dipandang dari belakang mereka benar-benar merupakan suatu pasangan yang setimpal.

Seketika dada Lenghou Tiong serasa tersumbat oleh sesuatu sehingga bernapas pun rasanya sukar. Dia sudah berpisah beberapa bulan dengan Gak Leng-sian, walaupun selama ini senantiasa terkenang, tapi baru sekarang ia merasakan dirinya sedemikian mencintai sang sumoay. Tanpa terasa ia memegang gagang golok, rasanya ingin sekali gorok leher sendiri untuk menghabiskan hidupnya yang merana ini.

Sekonyong-konyong matanya menjadi gelap, langit seperti berputar dan bumi terbalik, seketika ia jatuh terduduk.

Di tengah jalan kota itu ramai sekali orang berlalu-lalang, ketika mendadak melihat seorang perwira jatuh terduduk di tengah jalan, serentak khalayak ramai itu merubungnya dan menanyakan apa sebabnya. Sebisanya Lenghou Tiong menenangkan diri, lalu berbangkit perlahan-lahan, kepalanya masih terasa pusing, tapi dalam hati ia sudah ambil keputusan, “Selamanya aku tak dapat bertemu dengan mereka lagi. Hanya mencari susah sendiri saja, apa gunanya bagiku? Malam nanti aku akan meninggalkan sepucuk surat untuk memberitahukan suhu dan sunio, setelah melihat wajah beliau-beliau itu secara diam-diam, lalu aku akan jauh menuju ke negeri asing dan takkan menginjak kembali tanah air.”

Cepat ia lantas keluar dari rubungan orang banyak itu, ia tidak jadi membeli baju lagi, tapi terus kembali ke hotel dan pesan arak untuk minum sepuas-puasnya. Kekuatan minumnya memang hebat, tapi kalau pikiran lagi sedih, arak yang masuk perutnya mengakibatkan dia lekas mabuk. Maka cuma tiga kati arak saja sudah membuatnya terpulas di tempat tidurnya.

Sampai tengah malam, ketika mendadak ia mendusin, segera ia memanggil pelayan, ia tanya di mana letaknya Hok-wi-piaukiok, lalu minta disediakan alat tulis. Ia tulis sepucuk surat untuk Gak Put-kun dan istri. Pada sampul surat hanya ditulisnya: “Diaturkan kepada ketua Hoa-san-pay Gak-tayhiap dan nyonya”. Isi surat memberitahukan tentang munculnya kembali Yim Ngo-heng di dunia Kangouw dan sengaja hendak memusuhi Hoa-san-pay, diberi tahu bahwa ilmu silat Yim Ngo-heng teramat tinggi, maka diharapkan waspada. Surat itu tidak dibubuhi tanda tangan, hanya ditulis “tanpa nama”.

Ia sengaja menulis dengan goresan yang menceng dan miring seperti cakar ayam agar tidak dikenali Gak Put-kun, cuma nada surat yang menghormat itu jelas ditulis oleh seorang angkatan muda.

Selesai tulis surat, ia panggil lagi si pelayan hotel. Begitu pelayan itu masuk kamar, segera ia menutuknya roboh, lalu membelejeti pakaiannya.

Keruan pelayan itu terbelalak tak bisa berkutik, hanya rasa cemas dan takut yang tertampil pada air mukanya.

Sesudah membelejeti pakaian si pelayan dan dikenakan pada badan sendiri, lalu Lenghou Tiong membungkus pakaian kebesaran perwira menjadi suatu buntelan dan dikempit di bawah ketiaknya, ia lemparkan tiga tahil perak di samping si pelayan dan membentaknya, “Ciangkun datang kemari hendak menangkap penjahat, maka perlu pinjam pakaianmu ini. Jika kau membocorkan rahasia tugasku ini sehingga bandit yang akan kubekuk itu lolos, maka aku akan datang kembali ke sini untuk bikin perhitungan dengan kau. Sebagai ganti kerugianmu kutinggalkan tiga tahil perak ini, tentu jauh daripada cukup.”

Si pelayan tak bisa membuka mulut, hanya kepalanya saja manggut-manggut.

Dengan melompati pagar tembok Lenghou Tiong meninggalkan hotel itu terus menuju ke Hok-wi-piaukiok.

Gedung perusahaan pengawalan itu sangat megah dan luas bangunannya, maka sangat mudah dikenali, pula tidak jauh dari hotelnya. Hanya sebentar saja dua tiang bendera piaukiok yang dicari itu sudah kelihatan menjulang tinggi di depan gedung. Tiang bendera itu tidak terpancang panji apa-apa, mungkin sejak ayah-bundanya meninggal dunia, perhatian Lim Peng-ci lantas dicurahkan dalam hal belajar silat dan tidak mengurus usaha orang tua lagi.

Lenghou Tiong memutar ke belakang gedung piaukiok, pikirnya, “Entah suhu dan sunio tinggal di mana? Mungkin saat ini beliau-beliau itu sudah tidur, biarlah malam ini kusampaikan dulu suratku ini, malam besok akan kudatang lagi melihat wajah mereka untuk penghabisan kalinya.”

Gedung piaukiok yang megah itu tiada penerangan sama sekali, suasana juga sunyi senyap. Pada saat itulah tiba-tiba di pojok kiri sana ada berkelebatnya bayangan orang. Sesosok bayangan hitam melayang ke luar dengan melompati pagar tembok gedung piaukiok. Dari bangun tubuh bayangan orang itu dapat diketahui adalah seorang perempuan.

Dengan beberapa kali lompatan cepat Lenghou Tiong sudah mengitar lagi ke depan piaukiok, tertampak perempuan itu berlari ke arah tenggara, ginkang yang digunakan jelas adalah dari golongan Hoa-san-pay. Segera ia mengejar lebih kencang, melihat bayangan belakang orang perempuan itu agaknya bukan lain Gak Leng-sian adanya. Ia menjadi heran, di tengah malam buta hendak ke manakah siausumoaynya itu?

Dilihatnya Gak Leng-sian berlari dengan menyelisir dinding rumah. Heran dan ingin tahu pula Lenghou Tiong, segera ia mengintil di belakang sang sumoay.

Kini tenaga dalam Lenghou Tiong entah sudah berapa kali lebih tinggi daripada siausumoay itu, meski Leng-sian tampak berlari secepat terbang, tapi Lenghou Tiong tidak perlu banyak membuang tenaga sudah dapat mempertahankan jaraknya dalam belasan meter di belakang Leng-sian, langkahnya enteng dan gesit, sedikit pun tidak diketahui oleh si nona.

Sesudah berlari-lari sebentar, Leng-sian lantas menoleh untuk melihat di belakangnya ada orang menguntit tidak. Tapi di kala dia mau berpaling selalu bahunya bergerak lebih dulu, maka sebelumnya Lenghou Tiong sempat sembunyi dulu di lekukan dinding sehingga tidak dilihat si nona.

Jalanan Kota Hokciu simpang-siur cukup banyak dengan rumah penduduk yang tak terhitung banyaknya, Gak Leng-sian terus berlari ke depan, sebentar membelok ke kanan, lain saat menikung ke kiri, seakan-akan jalanan-jalanan itu sudah sangat hafal baginya.

Kira-kira ada dua li jauhnya nona itu berlari-lari, akhirnya ia membelok ke suatu gang yang kecil di samping sebuah jembatan batu.

Lenghou Tiong tidak menguntit dari belakang lagi, ia melompat ke atas rumah dan memburu ke depan. Dilihatnya setiba di ujung gang itu Leng-sian lantas melompat masuk ke dalam pekarangan sebuah gedung.

Gedung itu berpintu hitam dengan dinding dikapur putih, di atas pagar tembok melingkar tumbuh-tumbuhan sebangsa akar-akaran yang sudah tua sekali. Dari balik jendela-jendela beberapa sudut rumah itu kelihatan memancarkan sinar lampu.

Dengan hati-hati dan berjengket-jengket Leng-sian tampak menyusur ke bawah jendela di kamar sebelah timur, lalu mengintip ke dalam melalui celah-celah jendela. Tiba-tiba ia mengeluarkan suara lengking seram seperti bunyi setan.

Tadinya Lenghou Tiong menduga cara si nona mendatangi tempat ini dengan penuh rahasia, tentu rumah ini adalah tempat kediaman musuh. Tapi sekarang demi mendengar si nona mendadak mengeluarkan suara aneh, ia menjadi melongo heran. Tapi begitu terdengar suara seorang berbicara di dalam kamar, maka ia pun paham duduknya perkara.

Terdengar orang di bagian dalam sedang berkata, “Suci, apa kau ingin membikin aku mati kaget? Jika aku mati kaget dan menjadi setan, paling-paling akan serupa dengan kau sekarang.”

“Siau-lim-cu busuk, Siau-lim-cu mampus, kau berani memaki aku sebagai setan, awas sebentar kukorek jantung hatimu,” omel Leng-sian dengan tertawa.

“Tidak perlu kau korek, akan kukorek sendiri untuk dilihatkan padamu,” sahut Peng-ci.

“Bagus, kau berani bicara melantur padaku secara gila-gilaan, sebentar akan kulaporkan kepada ibu,” omel Leng-sian lagi.

“Tapi kalau sunio tanya kau bilakah aku bicara demikian dan di mana aku mengatakannya, lalu bagaimana kau akan menjawab?” ujar Peng-ci tertawa.

“Akan kukatakan kau bicara demikian pada waktu berlatih pedang di tempat latihan, kau tidak mau latihan sungguh-sungguh, tapi selalu bicara hal-hal yang tidak genah.”

“Ya, dan bila sunio marah, tentu aku akan dikerangkeng, selama tiga bulan tidak dapat bertemu dengan kau.”

“Cis! Memangnya siapa yang kepingin? Tidak bertemu biarlah tidak bertemu!” kata Leng-sian. “He, Siau-lim-cu busuk, kenapa kau tidak lekas membuka jendela, apa-apaan kau di dalam?”

Di tengah gelak tawa Lim Peng-ci disertai suara berkeriutnya daun jendela dibuka, Peng-ci telah melongok keluar. Tapi cepat Leng-sian mendekam sembunyi di sebelah sehingga Peng-ci tidak melihatnya.

Terdengar Peng-ci menggumam sendiri, “He, kenapa tidak ada orang? Kukira Suci yang datang?”

Lalu daun jendela perlahan-lahan dirapatkan kembali. Namun sebelum daun jendela tertutup, cepat Leng-sian melompat ke dalam.

Lenghou Tiong sampai linglung mendengarkan senda gurau mereka yang mesra itu. Dari atas rumah melalui jendela yang setengah tertutup itu bayangan Gak Leng-sian dan Lim Peng-ci dapat terlihat dengan jelas, bayangan kepala kedua muda-mudi itu tampak merapat satu sama lain, suara tawa tadi pun perlahan-lahan lenyap.

Dengan rasa pedih mestinya Lenghou Tiong hendak tinggal pergi, tapi mendadak terdengar Leng-sian berkata, “Sudah jauh malam begini mengapa kau belum tidur?”

Terdengar Peng-ci menjawab dengan tertawa, “Aku kan sedang menunggu kau.”

“Cis, dasar pembohong! Dari mana kau tahu akan kedatanganku ini?”

“Menurut firasatku, menurut perasaanku, jelas suciku yang baik malam ini akan berkunjung kemari.”

“Ah, tahulah aku. Melihat keadaan kamarmu yang morat-marit ini, terang kau lagi mencari kiam-boh itu, betul tidak?”

Lenghou Tiong sudah melangkah pergi beberapa tindak, ketika mendadak mendengar lagi kata “kiam-boh”, seketika hatinya tergerak lagi dan putar balik.

Didengarnya Peng-ci lagi berkata, “Selama beberapa bulan ini entah sudah berapa kali aku telah memeriksa dan menggeledah seluruh rumah ini, sampai genting rumah juga satu per satu kuteliti, hanya saja ubinnya yang belum kubongkar … Ah, Suci, toh rumah ini sudah tidak terpakai, apa salahnya jika kita benar-benar membongkar ubinnya untuk diperiksa. Bagaimana pendapatmu?”

“Rumah ini adalah milik keluarga Lim kalian, dibongkar atau tidak adalah urusanmu, buat apa kau tanya padaku?” sahut Leng-sian.

“Tidak tanya kau, lalu tanya siapa? Memangnya kelak … kelak kau bukan anggota keluarga Lim kami ini, heeh?”

Maka terdengarlah omelan Leng-sian dengan tertawa, berbareng terdengar pula suara plak-plok beberapa kali, mungkin tangan si nona sedang menggaploki Lim Peng-ci.

Begitulah kedua muda-mudi itu bersenda-gurau di dalam rumah, sebaliknya perasaan Lenghou Tiong seperti disayat-sayat. Pikirnya hendak tinggal pergi saja, tapi teringat kepada persoalan Pi-sia-kiam-boh itu, waktu ayah-ibu Peng-ci meninggal dunia hanya dirinya yang menjaga di samping mereka, sialnya karena beberapa kata pesan kedua orang tua itu yang minta disampaikan kepada Peng-ci malahan mendatangkan fitnah. Lebih-lebih sesudah mendapat ajaran Hong-susiokco, setelah mahir Tokko-kiu-kiam yang hebat, maka setiap orang Hoa-san-pay sendiri juga mengira dirinya telah menggelapkan Pi-sia-kiam-boh, sampai-sampai siausumoay yang biasa paling kenal wataknya itu juga menaruh curiga.

Kalau dipikir secara jujur, soal ini memangnya tak bisa menyalahkan orang lain, sebab pada hari dirinya dihukum menyepi di atas puncak Hoa-san pernah sang ibu-guru menjajal ilmu pedangnya dan sedikit pun tidak mampu menandingi jurus ilmu pedang ibu-gurunya yang tiada bandingannya itu, namun sesudah tinggal beberapa bulan di atas puncak gunung mendadak ilmu pedangnya maju pesat, bahkan ilmu pedang ini berbeda dengan ilmu pedang perguruannya sendiri, padahal di atas puncak gunung itu tidak pernah didatangi orang luar, kalau bukan dirinya mendapat kitab rahasia ilmu pedang dari aliran lain, dari mana ilmu pedang lihai itu diperolehnya. Dan kitab rahasia ilmu pedang itu kalau bukan Pi-sia-kiam-boh milik keluarga Lim, lalu kitab apa lagi?

Dalam keadaan memang pantas dicurigai, celakanya dirinya telah berjanji kepada Hong-susiokco untuk tidak membocorkan tempat sembunyinya itu, karenanya sukar baginya untuk memberi penjelasan dan membela diri. Ia merasa sebabnya sang guru begitu tegas memecatnya jelas lebih condong pada alasan karena dirinya telah menggelapkan Pi-sia-kiam-boh daripada alasan pergaulannya dengan orang Mo-kau. Sekarang demi mendengar Peng-ci dan Leng-sian menyinggung tentang kiam-boh, biarpun hatinya pedih karena suara senda gurau mereka itu sangat menusuk perasaannya, terpaksa ia menahan perasaannya dan ingin mendengarkan terus.

Begitulah terdengar Leng-sian sedang bicara pula, “Kau sudah mencari selama beberapa bulan dan tetap tidak ketemu, maka jelas kiam-boh itu tidak berada di sini, buat apa kita mesti susah-susah membongkar ubin segala. Hanya satu kata Toa … Toasuko saja kenapa kau menganggapnya sungguh-sungguh?”

Kembali perasaan Lenghou Tiong merasa pedih, pikirnya, “Ternyata dia masih mau menyebut aku ‘toasuko’.”

Terdengar Peng-ci menjawab, “Toasuko telah menyampaikan pesan ayahku, katanya barang tinggalan leluhur di rumah kediaman lama di Hiang-yang-kang (Gang Matahari) sini tidak boleh sembarangan diperiksa. Kupikir seumpama kiam-boh itu telah dipinjam oleh Toasuko dan untuk sementara tidak dikembalikan ….”

Lenghou Tiong mendengus di dalam hati, “Hm, baik hati benar ucapanmu, kalau tidak mengatakan aku menggelapkan barangmu, tapi mengatakan aku pinjam sementara. Hm, buat apa kau bicara sehalus ini?”

Dalam pada itu terdengar Peng-ci lagi menyambung, “Tapi mengingat kata-kata kediaman lama di Hiang-yang-kang sekali-kali tidak dapat dikarang oleh Toasuko sendiri, maka aku yakin apa yang disampaikan padaku benar-benar adalah pesan ayah-bundaku. Selamanya Toasuko juga tidak kenal keluarga kami, selamanya juga tak pernah datang ke Hokciu sini, sekali-kali dia takkan tahu di kota ini adalah sebuah jalan bernama Hiang-yang-kang, lebih-lebih takkan tahu kediaman lama leluhur kami berada di jalan ini. Malahan orang-orang Hokciu asli juga jarang yang tahu akan hal ini.”

“Ya, seumpama betul adalah pesan peninggalan ayah-ibumu, lantas bagaimana?” tanya Leng-sian.

“Pesan tinggalan ayahku yang disampaikan Toasuko itu menyebut pula jangan memeriksa atau membaca kitab atau benda apa segala, setelah kupikir sekian lamanya, kuyakin pasti ada sangkut pautnya dengan soal kiam-boh. Siausuci, kupikir jika pesan ayah menyebut jalan dan rumah lama ini, seumpama kiam-boh tidak berada di sini lagi, mungkin di sini akan diperoleh sedikit tanda-tanda tertentu.”

“Benar juga uraianmu. Selama beberapa hari ini kulihat semangatmu rada lesu, malam hari juga tidak mau tinggal di piaukiok dan mesti pulang ke sini. Aku menjadi khawatir, maka sengaja datang menjenguk kau. Di waktu siang hari kau berlatih pedang, harus mengawani aku pula, dan kalau malam masih harus membongkar rumah lagi di sini.”

Peng-ci tersenyum ewa, lalu menghela napas dan berkata, “Kupikir kematian ayah-ibuku sangatlah menyedihkan, jika aku dapat menemukan kiam-boh dan dapat membunuh musuh dengan tangan sendiri dengan ilmu pedang warisan leluhur, dengan demikian barulah ayah-ibu akan terhibur di alam baka.”

“Entah saat ini Toasuko berada di mana?” ujar Leng-sian. “Jika aku dapat bertemu dia tentu akan memintakan kiam-boh itu bagimu. Ilmu pedangnya sekarang sudah sangat tinggi, sudah seharusnya kiam-boh itu dikembalikan kepada yang empunya. Menurut aku, Siau-lim-cu, sebaiknya akhiri khayalanmu, tidak perlu lagi membongkar seisi rumah ini. Seandainya tidak ada kiam-boh keluargamu, asalkan berhasil meyakinkan Ci-he-sin-kang ayah juga mampu membalas sakit hatimu.”

“Sudah tentu,” kata Peng-ci. “Cuma kematian ayah-ibuku sedemikian mengenaskan, sebelum ajal banyak disiksa dan dihina pula, bila aku dapat menuntut balas dengan ilmu pedang keluarga sendiri akan dapat melampiaskan dendam ayah-ibu. Pula, Ci-he-sin-kang perguruan kita selamanya hanya diajarkan kepada seorang murid yang terpilih sebagai ahli waris. Aku sendiri adalah murid buncit, meski suhu dan sunio sangat sayang padaku, tapi para suheng dan suci tentu takkan terima dan menyangka hal-hal yang tidak baik.”

“Ah, peduli bagaimana anggapan mereka, asalkan kau berbuat tulus dan sejujurnya sudah cukup,” ujar Leng-sian.

“Cara bagaimana kau mengetahui aku akan tulus dan jujur?” tanya Peng-ci tertawa.

Mendadak terdengar suara gaplokan Leng-sian di atas badan Peng-ci, omelnya, “Ya, aku tahu kau cuma pura-pura saja, kau adalah manusia berhati serigala.”

“Sudahlah, sudah sekian lamanya kita di sini, marilah kita pulang,” terdengar Peng-ci berkata dengan tertawa. “Tapi kalau kuantar kau pulang piaukiok, bila diketahui suhu dan sunio tentu bisa celaka.”

“Maksudmu mengusir aku, bukan? Baiklah, kau mengusir aku, segera juga aku akan pergi, tidak perlu kau mengantar,” kata Leng-sian. Nadanya kedengaran tidak senang.

Sejak kecil Lenghou Tiong dibesarkan bersama si nona, ia tahu saat ini Leng-sian tentu menjengkit mulut, anak dara di waktu marah-marah kecil memang mempunyai daya pikat tersendiri. Ia pikir Lim-sute ini sungguh aneh, kalau siausumoay datang menjenguk aku, biarpun langit ambruk juga aku mengharapkan dia tetap tinggal bersama aku. Tapi sekarang ia justru ingin perginya siausumoay, seakan-akan siausumoay sedemikian melengket padanya, sebaliknya dia anggap sepi saja.

Sementara itu Peng-ci sedang bicara lagi, “Menurut kata suhu, ketua Mo-kau yang dulu Yim Ngo-heng telah muncul di Kangouw lagi, kabarnya sudah berada di wilayah Hokkian. Ilmu silat bekas ketua Mo-kau ini sangat tinggi dan sukar dijajaki, tindak tanduknya keji dan ganas pula. Jika tengah malam kau pulang sendiri dan kebetulan kepergok olehnya, lantas … lantas bagaimana?”

“Hm, andaikan kau mengantar aku pulang, kalau kebetulan kepergok dia, apakah kau lantas mampu membekuk dia atau membunuh dia?” sahut Leng-sian.

“Ya, sudah tahu ilmu silatku tidak becus, kau sengaja mengejek aku ya?” sahut Peng-ci. “Sudah tentu aku bukan tandingannya, tapi asal berada bersama kau, biarpun mati juga boleh mati bersama.”

Seketika hati Leng-sian menjadi lemas, katanya dengan suara halus, “Siau-lim-cu, bukan maksudku mengatakan ilmu silatmu tidak becus. Asalkan kau berlatih segiat ini, kelak tentu lebih hebat daripadaku. Padahal selain ilmu pedang yang belum kau kuasai, jika berkelahi sungguh-sungguh mana aku sanggup melayani kau.”

Peng-ci tertawa, katanya, “Ah, dengan sebelah tangan saja kau sudah dapat merobohkan aku.”

Rupanya Gak Leng-sian belum mau pergi dan ingin membikin senang Lim Peng-ci, ia berkata pula, “Siau-lim-cu, marilah kubantu kau mencari lagi. Benda-benda di rumahmu sendiri sudah teramat hafal bagimu sehingga tidak menarik perhatian, mungkin sekali aku dapat menemukan sesuatu benda yang mencolok.”

“Baiklah, boleh coba kau mencari sesuatu yang dirasakan aneh,” ujar Peng-ci.

Menyusul lantas terdengar suara gedubrakan, suara ditariknya laci dan bergesernya meja-kursi. Selang sejenak, terdengar Leng-sian berkata, “Semuanya biasa saja, tiada apa-apa yang menarik. Apakah rumahmu ini ada tempat-tempat yang luar biasa?”

Peng-ci terdiam sejenak, jawabnya kemudian, “Tempat yang luar biasa? Tidak ada. Menurut pesan ayahku, di antaranya ada kata-kata jangan memeriksa segala, apa ada tempat luar biasa yang harus diperiksa?”

“Ya, umpamanya kita bisa memeriksanya ke kamar baca,” ujar Leng-sian.

“Keluarga kami turun-temurun menjadi jago pengawal, hanya ada ruangan kantor, tidak ada kamar baca. Kantor juga cuma ada di piaukiok sana.”

“Jika begitu menjadi sulit untuk mencarinya. Apakah isi rumah ini ada sesuatu yang dapat dibuka dan diperiksa?”

“Dari pesan ayah yang disampaikan Toasuko itu, katanya aku dilarang membongkar dan memeriksa barang-barang tinggalan leluhur. Padahal besar kemungkinan aku justru disuruh membongkar dan memeriksa benda-benda tinggalan leluhurku. Tapi di sini toh tidak ada benda-benda kuno apa? Setelah kupikir-pikir lagi, yang ada cuma sedikit kitab-kitab agama Buddha tinggalan leluhur saja.”

Mendadak Leng-sian melonjak girang, serunya, “Bagus! Kitab Buddha katamu? Sungguh tepat. Tat-mo Cosu adalah cikal bakal ilmu silat, adalah bukan sesuatu yang aneh jika di dalam kitab Buddha tersembunyi kiam-boh segala.”

Mendengar kata-kata Leng-sian itu, semangat Lenghou Tiong seketika ikut terbangkit. Katanya di dalam hati, “Jika Lim-sute dapat menemukan kiam-boh di dalam kitab Buddha yang dikatakan itu, tentu segala urusan akan menjadi beres dan aku takkan dicurigai menggelapkan kiam-bohnya.”

Tapi lantas terdengar Peng-ci menjawab, “Kitab-kitab itu sudah kuperiksa semua, bahkan sudah kuperiksa beberapa kali. Malahan sudah kucocokkan dengan kitab-kitab yang serupa yang kupinjam dari perpustakaan, isi kitab-kitab di sini ternyata tiada sesuatu yang mencurigakan. Jadi kitab-kitab Buddha di sini hanya kitab-kitab biasa.”

“Jika demikian apa daya kita?” ujar Leng-sian. Setelah termenung sebentar, mendadak ia bertanya, “Tapi lapisan dalam halaman kitab-kitab itu apa sudah kau periksa juga?”

“Lapisan dalam? Hal ini tak terlintas dalam pikiranku,” sahut Peng-ci. “Marilah sekarang juga kita memeriksanya lagi.”

Begitulah masing-masing lantas membawa sebuah tatakan lilin, dengan tangan bergandengan tangan mereka keluar dari kamar itu dan menuju ke ruangan belakang.

Lenghou Tiong mengikuti jurusan mereka dari atas rumah. Tertampak sinar lampu itu menembus keluar dari balik jendela sebuah kamar, lalu kamar yang lain pula. Akhirnya sampai di kamar di sudut barat laut sana. Dengan enteng Lenghou Tiong melompat turun dan mengintip ke dalam melalui celah-celah jendela. Kiranya kamar itu adalah sebuah ruangan pemujaan Buddha.

Di tengah ruangan itu tergantung sebuah lukisan cat air Tat-mo Cosu (Buddhatama) itu cikal bakal Siau-lim-pay yang terkenal. Anehnya lukisan Tat-mo Cosu itu dilukis dalam posisi mungkur. Agaknya melukiskan sewaktu Tat-mo Cosu sedang semadi selama sembilan tahun menurut kisahnya. Di sebelah kiri ruangan ada sebuah kasuran yang tampaknya sudah sangat tua, di atas meja sembahyang ada bok-hi (kentungan berbentuk ikan laut), genta kecil, dan setumpuk kitab.

Melihat keadaan ruangan itu, Lenghou Tiong menduga leluhur Hok-wi-piaukiok yang pernah menjagoi dunia Kangouw itu tentu dahulunya banyak membinasakan kawanan bandit yang menjadi seterunya, tapi pada akhir hayatnya dia telah bersujud menjadi seorang yang alim.

Tertampak Gak Leng-sian mengambil sebuah kitab dan berkata, “Kita bongkar kitab ini, coba periksa lapisan dalam tiap-tiap halamannya apa ada terselip sesuatu benda. Jika tidak ada, kitab ini dapat kita jilid kembali.”

“Baiklah,” sahut Peng-ci, ia pun ambil satu jilid kitab itu dan memutuskan jahitan benang jilidan, lalu halaman-halaman kitab itu dibentang, begitu pula Leng-sian juga lantas membuka satu jilid yang lain serta diangkat di depan lilin untuk menyorotnya kalau-kalau di tengah halaman kitab itu ada tulisan lain.

Lenghou Tiong dapat menyaksikan potongan badan si nona dari belakang, tangan Leng-sian kelihatan putih bersih, pergelangan tangan kiri masih memakai gelang pualam hijau seperti dulu. Terkadang mukanya miring sedikit dan saling pandang dengan Peng-ci, keduanya lantas tersenyum penuh arti, lalu keduanya memeriksa lagi halaman-halaman kitab itu. Entah karena sorotan api lilin atau pipi si nona memang bersemu merah, tapi tampaknya wajah si nona memang alangkah moleknya. Lenghou Tiong sampai kesima di luar jendela.

Satu per satu kitab-kitab di atas meja telah dibongkar oleh Leng-sian dan Peng-ci, ketika kitab-kitab itu hampir habis diperiksa, sekonyong-konyong Lenghou Tiong mendengar di belakangnya ada suara mendesirnya angin yang sangat lirih. Waktu menoleh, dilihatnya ada dua sosok bayangan melayang ke arahnya dari tembok rumah sebelah kanan, keduanya saling memberi isyarat dengan tangan, lalu melompat ke dalam pekarangan dengan sangat enteng, jelas sekali ginkang mereka sangat tinggi.

Tatkala itu Lenghou Tiong sudah menyelinap ke pojok lain, dilihatnya kedua orang itu mendekati ruangan di mana Peng-ci berdua berada, mereka juga mengintip ke dalam.

Selang tak lama, terdengar Leng-sian berkata di dalam, “Sudah habis, tiada menemukan sesuatu.”

Nadanya kedengaran sangat kecewa. Tapi mendadak ia menyambung lagi, “Eh, Siau-lim-cu, aku ingat sesuatu, coba kita ambil satu baskom air.”

“Untuk apa?” terdengar Peng-ci bertanya.

“Sering kali kudengar cerita ayah bahwa orang kuno suka menggunakan semacam obat untuk menulis, sesudah kering huruf yang tertulis akan hilang, tapi kalau kertas tulis dibasahi dengan air, maka hurufnya akan timbul lagi.”

Lenghou Tiong juga ingat memang dulu pernah mendengar sang guru bercerita tentang hal ini, tatkala itu Leng-sian baru berumur sepuluhan, sebaliknya dirinya sudah jejaka tanggung. Terkenang kepada masa silam yang menyenangkan, kembali matanya berkaca-kaca mengembeng air mata.

Terdengar Peng-ci lagi menyahut, “Benar, kita harus mencobanya.”

Begitulah kedua muda-mudi lantas keluar untuk mengambil air. Dua orang yang mengintip di luar jendela itu tampak menahan napas dan tidak berani bergerak. Tidak lama kemudian Peng-ci dan Leng-sian masing-masing membawa satu baskom air dan masuk lagi ke ruangan Buddha itu, beberapa halaman kitab yang sudah terbuka itu mereka rendam di dalam air.

Hanya sebentar saja rupanya Peng-ci sudah tidak sabar lagi, segera ia mengambil satu halaman kitab rendaman itu dan disorot di bawah cahaya lilin, namun tidak kelihatan bekas tulisan apa-apa. Belasan halaman kitab rendaman itu telah mereka periksa dan tetap tidak tampak sesuatu yang aneh.

Maka terdengar Peng-ci menghela napas dan berkata, “Sudahlah, tidak perlu dicoba lagi, tidak ada tulisan apa-apa yang aneh.”

Baru selesai Peng-ci berkata demikian, kedua orang yang mengintip di luar jendela itu sudah lantas memutar ke muka pintu dengan gesit sekali, lalu mendorong pintu dan menerobos ke dalam.

“Siapa?” bentak Peng-ci kaget

Tapi cepat luar biasa gerakan kedua orang itu, begitu menerobos masuk segera mereka menerjang maju. Baru saja Peng-ci hendak melawan, tahu-tahu iganya sudah kena tertutuk.

Begitu pula Gak Leng-sian, baru saja pedangnya terlolos setengah, tahu-tahu jari musuh menuju ke arah matanya, terpaksa Leng-sian mengurungkan menarik pedang dan angkat tangannya untuk menangkis.

Berturut-turut lawan itu mencakar tiga kali, semuanya mengarah ke tenggorokan Leng-sian secara keji. Keruan Leng-sian terperanjat dan mundur dua tindak sehingga punggungnya sudah mepet meja sembahyang dan tidak dapat mundur lagi.

Mendadak sebelah tangan orang itu menggaplok ke batok kepalanya, terpaksa Leng-sian menangkis sekuatnya dengan kedua tangan. Tak terduga serangan musuh ini hanya pancingan belaka, jari tangan yang lain mendadak menutuk sehingga pinggang Leng-sian tertutuk dengan jitu dan tak bisa berkutik lagi.

Semua itu telah disaksikan oleh Lenghou Tiong, tapi dilihatnya jiwa Peng-ci dan Leng-sian untuk sementara tak terancam, maka ia pikir tidak perlu buru-buru menolong mereka. Ia ingin tahu apa kehendak dan asal usul kedua orang penyergap itu.

Dilihatnya kedua orang itu celingukan dan melongak-longok di ruangan pemujaan itu, mendadak seorang di antaranya memegang kasuran di lantai terus dirobek menjadi dua, seorang lagi menghantam bok-hi di atas meja sehingga pecah.

Peng-ci dan Leng-sian tak bisa bicara dan juga tak bisa bergerak, tapi melihat tenaga kedua orang itu sedemikian lihai, merusak kasuran dan menghancurkan bok-hi, terang tujuan mereka juga hendak mencari Pi-sia-kiam-boh. Namun mereka merasa lega juga karena di dalam kasuran serta bok-hi itu tiada tersimpan sesuatu benda.

Usia kedua orang itu sama-sama sudah tua, sedikitnya sudah mendekati 60-an, seorang kepalanya botak, seorang lagi rambutnya ubanan semua. Gerak-gerik kedua orang sama-sama cepat luar biasa, hanya sebentar saja mereka telah menghancurkan segala benda yang berada di dalam ruangan pemujaan itu, tapi tidak menemukan apa-apa.

Tiba-tiba pandangan kedua orang itu sama-sama terpusat ke arah lukisan Tat-mo Cosu yang tergantung di dinding itu. Mendadak si botak hendak menjambret lukisan itu, tapi kawannya telah mencegahnya dan berseru, “Nanti dulu, coba kau lihat jarinya?”

Berbareng pandangan Peng-ci, Leng-sian, dan Lenghou Tiong juga ikut tercurah kepada lukisan itu. Tertampak Tat-mo Cosu dalam lukisan itu digambarkan dalam keadaan tangan kiri menelikung ke belakang, sebaliknya jari telunjuk tangan kanan teracung ke atas atap rumah.

“Apakah kau maksudkan jarinya yang tidak beres?” tanya si botak.

“Aku belum tahu pasti, tapi harus kita coba dulu,” sahut si rambut putih. Mendadak ia meloncat ke atas, kedua tapak tangan memukul sekaligus menuju tempat yang dituding jari Tat-mo Cosu dalam lukisan itu. Tempat itu adalah atap rumah.

Maka berhamburlah debu pasir. Kata si botak, “Mana ada barang ….” belum habis ucapannya, sekonyong-konyong segulung benda merah jatuh dari lubang atap rumah yang terpukul tadi. Kiranya adalah sebuah kasa (jubah) yang biasa dipakai kaum hwesio.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: