Hina Kelana: Bab 81. Gugurnya Ting-cing Suthay

Lenghou Tiong menggumam sendiri, “Aneh, apa impianku semalam tidak betul, apa yang kulihat hanya khayalan belaka? Ah, malam nanti aku harus mimpi yang betul-betul terjadi.”

Dalam hati ia merasa heran ke mana menghilangnya anak murid Hing-san-pay yang tadinya ditawan musuh itu? Mengapa mendadak Ting-cing Suthay juga menghilang? Apa barangkali nikoh tua itu pun masuk perangkap musuh? Jika demikian harus lekas-lekas dicari. Tapi Gi-lim bertiga anak dara ini akan kurang aman jika ditinggalkan di kota kecil ini, terpaksa mereka harus dibawa serta pergi mencari Ting-cing dan lain-lain.

Katanya kemudian, “Daripada menganggur, marilah kita pergi mencari supek kalian dan teman-temanmu, mungkin mereka sedang main-main di suatu tempat.”

“Baik sekali,” seru The Oh cepat. “Ilmu silat Ciangkun amat tinggi, pengalaman luas pula, jika engkau mau membawa kami pergi mencari supek tentu akan dapat ditemukan kembali.”

“Ilmu silat tinggi dan pengalaman luas, ucapanmu ini memang tidak salah,” ujar Lenghou Tiong tertawa. “Kelak kalau jenderalmu ini naik pangkat dan berkuasa lebih besar, tentu aku akan mengirim seratus tahil perak kepada kalian untuk beli baju baru dan jajan sepuas-puasnya.”

Begitulah sambil membual, ketika sampai di ujung kota, ia melompat ke atas wuwungan rumah untuk memandang sekeliling situ. Sementara itu fajar baru menyingsing, pepohonan masih diliputi kabut tebal, suasana sunyi senyap tiada suatu bayangan pun yang tertampak.

Sekonyong-konyong Lenghou Tiong melihat di tepi jalan sebelah selatan sana ada sesuatu benda hijau. Cuma jaraknya rada jauh sehingga tidak jelas benda apakah itu. Namun di tengah jalan raya yang kosong itu sebuah benda demikian tampaknya sangat mencolok.

Cepat ia melompat turun dan berlari ke sana. Waktu benda dijemput, kiranya adalah sebuah sepatu kain wanita. Tampaknya sangat mirip dengan sepatu yang dipakai Gi-lim.

Ia menunggu sebentar di tempatnya, kemudian Gi-lim bertiga juga sudah menyusul tiba. Ia serahkan sepatu wanita itu kepada Gi-lim dan bertanya, “Apakah ini sepatumu? Mengapa jatuh di sini?”

Walaupun sadar dirinya masih lengkap bersepatu, tapi Gi-lim masih memandang sekejap pula ke kakinya sendiri dan tertampak sepasang sepatunya sendiri masih terpakai dengan baik.

“Ah, ini adalah … adalah sepatu suci atau sumoay kami, mengapa bisa jatuh di sini?” ujar The Oh.

“Tentu salah seorang suci yang diculik musuh itu telah meronta-ronta di sini sehingga sepatunya tertanggal,” kata Cin Koan.

“Ya, mungkin juga sepatu ini sengaja dilepaskan di sini agar kita dapat menemukan jejaknya,” ujar The Oh.

“Benar, pengetahuanmu memang luas, ilmu silatmu juga tinggi,” kata Lenghou Tiong. “Sekarang kita harus menguber ke selatan atau ke utara?”

“Sudah tentu ke selatan saja,” sahut The Oh.

Segera Lenghou Tiong berlari cepat ke arah selatan, hanya sebentar saja sudah beberapa puluh meter jauhnya, semula jarak Gi-lim bertiga tidak terlalu jauh ketinggalan, tapi lama-lama bayangan Lenghou Tiong lantas berubah menjadi suatu titik hitam saja.

Sembari berlari Lenghou Tiong memeriksa keadaan jalan yang dilaluinya itu, sering pula ia menoleh mengawasi Gi-lim bertiga, ia khawatir mereka tertinggal terlalu jauh dan mungkin tidak keburu ditolong lagi jika mendadak mereka dicegat musuh. Maka sesudah beberapa li jauhnya berlari ia lantas berhenti untuk menunggu.

Sesudah Gi-lim bertiga menyusul tiba, lalu Lenghou Tiong lari ke depan lagi dan begitu seterusnya sampai beberapa kali, maka belasan li jauhnya sudah dilalui. Jalanan di depan kelihatan mulai berliku-liku tidak rata, pepohonan sangat banyak di tepi jalan. Jika musuh bersembunyi di suatu pengkolan dan menyergap mendadak tentu tidak keburu lagi untuk menolong Gi-lim bertiga. Apalagi Cin Koan sudah kelihatan letih, keringatnya memenuhi dahinya dan mukanya merah. Lenghou Tiong tahu dara cilik itu terlalu muda dan tidak tahan lari jauh, segera ia perlambat langkahnya sambil sengaja berteriak, “Neneknya, cepat benar lari jenderalmu ini, jangan-jangan sepatu kulitku ini nanti akan tergosok tipis, kukira sepatuku ini perlu dihemat. Biarlah kita jalan perlahan-lahan saja.”

Setelah berjalan beberapa li lagi, tiba-tiba Cin Koan berseru heran, “He!”

Ia berlari ke pinggir semak-semak sana dan menjemput sebuah kopiah kain hijau, itulah kopiah yang biasa dipakai nikoh-nikoh Hing-san-pay.

“Ciangkun, para suci dan sumoay kami benar-benar telah diculik oleh musuh dan melalui jalanan ini,” seru The Oh.

Karena jurusan yang mereka tempuh tepat menuju sasarannya, segera mereka mencepatkan langkah sehingga Lenghou Tiong berbalik ditinggal di belakang malah.

Menjelang tengah hari mereka berempat berhenti di suatu warung nasi untuk mengisi perut. Melihat seorang perwira membawa serta seorang nikoh jelita dan dua nona muda dalam perjalanan, si pemilik warung nasi terheran-heran sehingga berulang-ulang ia mengamat-amati mereka.

“Neneknya!” Lenghou Tiong memaki sambil menggebrak meja. “Apa yang kau lihat? Memangnya tidak pernah melihat nikoh atau hwesio?”

“Ya, ya, hamba tidak berani!” sahut pemilik warung dengan ketakutan.

Tergerak hati The Oh, ia tunjuk Gi-lim dan bertanya kepada si pemilik warung, “Paman, apakah kau melihat beberapa orang-orang beragama seperti siausuthay ini lalu di sini?”

“Beberapa orang sih tidak, kalau cuma seorang saja memang ada,” sahut laki-laki itu. “Tadi ada seorang losuthay, usianya jauh lebih tua daripada Siausuthay ini ….”

“Ngaco-belo belaka,” damprat Lenghou Tiong. “Sudah tentu seorang losuthay umurnya jauh lebih tua daripada siausuthay, memangnya kau anggap kami ini orang tolol semua?”

“Ya, ya,” sahut laki-laki itu dengan ketakutan.

“Lalu bagaimana dengan losuthay itu?” The Oh menegas dengan tertawa.

“Dengan tergesa-gesa losuthay itu tanya kepadaku apakah melihat beberapa orang beragama seperti beliau lalu di jalanan sini. Kujawab tidak ada, lantas beliau berlari ke sana. Wah, sudah begitu tua, tapi larinya sungguh amat cepat, malahan tangannya memegang pedang yang mengilap.”

“Beliau tentulah suhu adanya, marilah kita lekas menyusul ke sana,” seru Cin Koan.

“Jangan terburu-buru, makan dulu, urusan belakang,” ujar Lenghou Tiong.

Cepat mereka berempat mengisi perut, pada akhirnya Cin Koan membeli pula empat buah kue mangkuk, katanya untuk makan gurunya.

Mendadak hati Lenghou Tiong terasa pedih, pikirnya, “Sedemikian dia berbakti kepada gurunya, aku sendiri meski ingin berbakti kepada suhu juga tidak dapat lagi.”

Saat itu mereka sudah berada di wilayah Provinsi Hokkian, jaraknya sudah berdekatan dengan tempat beradanya sang guru dan ibu-guru, ia pikir dengan penyamarannya itu tentu sang guru dan ibu-gurunya takkan mengenalinya, jika kutemui beliau-beliau itu tentulah mereka akan pangling dan takkan marah-marah lagi padaku.

Akan tetap, sampai hari sudah gelap lagi mereka tetap belum menemukan jejaknya Ting-cing Suthay. Sepanjang jalan hanya hutan belaka, jalanan makin lama makin sempit. Tidak lama kemudian, sekitar jalan rumput alang-alang tumbuh setinggi manusia, untuk melalui jalanan menjadi tambah sukar.

Lenghou Tiong berharap akan menemukan rumah penduduk di situ, dengan demikian akan ada tempat meneduh daripada berkeliaran di hutan belukar itu.

Ketika dilihatnya di depan ada pohon besar, segera ia berlari ke sana dan meloncat ke atas, dari pucuk pohon ia coba mengintai sekitarnya, ternyata tiada sebuah rumah pun yang kelihatan. Sekonyong-konyong dari arah barat laut sana sayup-sayup ada suara nyaring beradunya senjata.

Cepat ia melompat turun dan berkata, “Lekas ikut padaku, di sana ada orang sedang berkelahi, kita akan menonton keramaian.”

“Ai, jangan-jangan adalah guruku?” ujar Cin Koan.

Lenghou Tiong lantas berlari ke arah datangnya suara dengan menyusur rumput alang-alang yang lebat. Kiranya beberapa puluh meter jauhnya mendadak matanya terbeliak, suasana terang benderang oleh sinar api berpuluh obor, suara benturan senjata juga tambah nyaring.

Ia percepat langkahnya, sesudah dekat, terlihat beberapa puluh orang memegangi obor melingkari suatu kalangan pertempuran, di tengah kalangan seorang berpedang sedang menempur tujuh orang lain dengan sengit. Siapa lagi dia kalau bukan Ting-cing Suthay adanya.

Di luar lingkaran orang-orang itu tampak menggeletak beberapa puluh orang pula, dari pakaian mereka segera diketahui mereka adalah anak murid Hing-san-pay.

Orang-orang itu semuanya memakai kedok. Dengan perlahan-lahan Lenghou Tiong mendekati mereka. Karena semua orang sedang mencurahkan perhatian kepada pertarungan sengit di tengah kalangan, maka tiada seorang pun yang mengetahui kedatangan Lenghou Tiong.

Mendadak Lenghou Tiong bergelak tertawa dan berkata, “Hahahaha! Tujuh orang mengerubut satu orang, sungguh hebat!”

Munculnya Lenghou Tiong secara mendadak membikin orang-orang berkedok itu terkejut dan serentak berpaling. Hanya ketujuh orang yang sedang menempur Ting-cing Suthay itu seperti tidak peduli terhadap apa yang terjadi, mereka tetap melingkari Ting-cing dan menyerang dengan gencar dengan berbagai senjata mereka.

Lenghou Tiong melihat jubah Ting-cing sudah berlepotan darah, mukanya juga kecipratan air darah, malahan yang memegang pedang adalah tangan kiri, terang tangan kanan sudah terluka. Jika dirinya datang terlambat sedikit saja mungkin nikoh tua itu sudah binasa dicincang musuh-musuhnya.

Dalam pada itu di antara gerombolan orang-orang itu sudah ada yang membentak, “Siapa kau?”

Berbareng dua orang bergolok lantas melompat ke depan Lenghou Tiong.

“Kawanan bangsat, lekas menyerahkan diri jika kalian tidak ingin kujewer satu per satu,” bentak Lenghou Tiong.

“Haha, kiranya seorang dogol!” kata seorang di antaranya dengan tertawa geli. Berbareng goloknya lantas membacok kepada Lenghou Tiong.

“Ai, kau sungguh-sungguh memakai senjata?” teriak Lenghou Tiong sambil menggeliat ke samping, serentak ia pun menyerbu ke tengah kalangan, goloknya yang bersarung itu bergerak cepat, “plak-plok” berulang tujuh kali, dengan tepat pergelangan tangan ketujuh orang kena diketok, tujuh bentuk senjata terjatuh semua ke tanah. Menyusul terdengar suara “cret” satu kali, pedang Ting-cing Suthay telah menancap di dada seorang lawan.

Rupanya orang itu menjadi terperanjat ketika mendadak senjatanya diketok jatuh oleh Lenghou Tiong, maka tidak sempat mengelak serangan kilat Ting-cing Suthay yang lihai itu. Saking kerasnya tusukan Ting-cing itu sehingga badan lawan seakan-akan terpantek di atas tanah. Habis itu Ting-cing sendiri tidak tahan lagi, ia terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh terduduk.

“Suhu! Suhu!” seru Cin Koan khawatir sembari memburu maju dan memeluk badan sang guru.

Salah seorang berkedok itu mengacungkan goloknya mengancam di tengkuk seorang murid Hing-san-pay sambil berteriak, “Mundur semua! Kalau tidak segera kubinasakan perempuan ini!”

“Baik, baik! Mundur ya mundur, kenapa begini galak!” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa. Tapi mendadak goloknya disodokkan ke depan, ujung golok bersarung itu tepat mengenai dada orang itu. Kontan orang itu menjerit dan mencelat hingga beberapa meter jauhnya.

Sebenarnya jarak Lenghou Tiong dengan orang itu ada dua-tiga meter jauhnya, tapi aneh juga, begitu tangannya menjulurkan goloknya seketika dada orang itu tersodok. Di mana tenaga dalamnya tiba, seketika orang itu terpental.

Lenghou Tiong menduga sodokannya pasti dapat merobohkan lawan agar ancamannya kepada murid Hing-san-pay itu digagalkan, tapi tidak menyangka bahwa tenaga dalam sendiri bisa sedemikian hebatnya, hanya sedikit menyodok saja orang itu lantas mencelat begitu jauh. Ia sendiri menjadi melongo malah, menyusul goloknya lantas diputar lagi, “plak-plok” berulang, kembali tiga laki-laki berkedok dirobohkan lagi.

“Nah, kalian mau enyah atau tidak? Jika tidak, sebentar kubekuk batang leher kalian satu per satu dan kukirim ke penjara, paling tidak pantat kalian akan dirangket 30 kali setiap orang!” bentak Lenghou Tiong.

Melihat kepandaian Lenghou Tiong begitu tinggi dan sukar diukur, pemimpin orang-orang berkedok itu menyadari bukan tandingannya lagi, segera ia memberi hormat dan berkata, “Menghadapi Yim-kaucu, biarlah kami mengalah saja.”

Lalu ia memberi tanda kepada kawan-kawannya dan membentak, “Yim-kaucu dari Mo-kau berada di sini, kalian harus tahu diri sedikit dan lekas pergi bersamaku!”

Beramai-ramai mereka lantas mengusung sesosok mayat dan tiga teman mereka yang tertutuk roboh itu, melemparkan obor, lalu menuju ke jurusan barat laut. Dalam sekejap saja sudah menghilang di balik semak-semak rumput yang lebat.

Cepat Gi-lim dan The Oh membuka ringkusan para suci mereka, dalam pada itu Cin Koan sudah memberi minum obat luka perguruannya kepada Ting-cing Suthay. Empat murid perempuan yang sudah bebas dari ringkusan itu lantas menjemput obor dan mengelilingi Ting-cing. Melihat luka Ting-cing cukup parah, semuanya termangu diam.

Dada Ting-cing tampak berombak, napasnya memburu, perlahan-lahan ia membuka mata dan bertanya kepada Lenghou Tiong, “Jadi kau … kau ini Mo-kau-kaucu Yim … Yim Ngo-heng di masa dahulu itu?”

“Bukan,” sahut Lenghou Tiong sambil menggeleng.

Ting-cing memejamkan mata pula, napasnya tambah lemah, tampaknya keadaannya semakin payah. Ia mengembuskan napas beberapa kali, habis itu mendadak berkata dengan nada bengis, “Jika kau adalah Yim Ngo-heng, maka biarpun Hing-san-pay kami kalah ha … habis-habisan dan ter … terbinasa semua juga … juga tidak sudi … tidak sudi ….” sampai di sini napasnya sudah sukar menyambung lagi.

Melihat ajal nikoh tua itu sudah di depan mata, Lenghou Tiong tidak berani sembarangan omong lagi, katanya, “Dengan usiaku yang masih sedikit ini masakah mungkin Yim Ngo-heng adanya?”

Sekuatnya Ting-cing membuka mata lagi dan memandang sekejap, dilihatnya meski kumis jenggot Lenghou Tiong awut-awutan tak terawat, tapi umurnya ditaksir paling-paling baru 30-an saja. Dengan suara lemah ia berkata, pula, “Jika demikian mengapa kau … kau mahir menggunakan Gip … Gip-sing-tay-hoat? Apakah kau mu … muridnya Yim Ngo-heng?”

Lenghou Tiong menjadi teringat kepada macam-macam kejahatan yang sering diceritakan oleh guru dan ibu-gurunya dahulu. Beberapa hari terakhir ini disaksikannya pula cara-cara licik kawanan Mo-kau menyergap orang-orang Hing-san-pay, maka dengan tegas ia lantas menjawab, “Mo-kau berbuat kejahatan dan tak terampunkan, mana Cayhe sudi berkomplot dengan mereka? Yim Ngo-heng itu pasti bukan guruku, harap Suthay jangan khawatir, guru Cayhe adalah seorang kesatria sejati, seorang tokoh bu-lim dari kalangan suci yang dihormat dan disegani akan budi pekertinya.”

Wajah Ting-cing terkilas senyuman puas dan lega, dengan suara terputus-putus ia berkata pula, “Keadaanku sudah … sudah payah dan tak tertolong lagi, harap ban … harap bantuanmu agar suka mem … membawa anak murid Hing-san-pay ini ke …” sampai di sini ia lantas berhenti karena napasnya memburu hebat. Selang sejenak baru ia menyambung pula, “Membawa mereka ke Bu-siang-am di … di Hokciu. Aku punya Ciangbun-sumoay dalam be … berapa hari ini tentu akan menyusul tiba.”

“Harap Suthay jangan khawatir, silakan istirahat beberapa hari, tentu kau akan lekas sembuh kembali,” ujar Lenghou Tiong.

“Apakah kau sudah menyanggupi per … permintaanku?” tanya Ting-cing pula.

Melihat nikoh tua itu menatapnya dengan rasa penuh harapan dan khawatir kalau-kalau dirinya menolak permintaannya, Lenghou Tiong lantas menjawab, “Jika demikian kehendak Suthay sudah tentu akan kulaksanakan dengan baik.”

Ting-cing tersenyum puas, katanya, “Omitohud! Memangnya tugas berat ini sebenarnya tidak cocok bagiku. Siauhiap, se … sesungguhnya siapakah engkau?”

Melihat sinar mata nikoh tua itu sudah guram, suaranya lemah dan napasnya sangat pendek, jiwanya terang sukar dipertahankan lagi. Lenghou Tiong tidak tega untuk merahasiakan dirinya sendiri lagi, perlahan ia membisiki telinga nikoh tua itu, “Ting-cing Supek, Wanpwe adalah murid Hoa-san-pay yang telah dipecat, Lenghou Tiong adanya.”

“Aaah, kau … kau ….” Ting-cing hanya sempat berseru demikian lalu putus napasnya.

Serentak ramailah jerit tangis anak murid Hing-san-pay, hutan belukar yang sunyi itu diliputi suasana sedih, obor-obor yang terpegang tadi sama terbuang di atas tanah, berturut-turut api obor itu padam, keadaan menjadi gelap gulita dan menambah seramnya suasana.

“Jelek-jelek Ting-cing Suthay terhitung seorang tokoh terkemuka, tapi dia telah ditewaskan lawan secara licik dan pengecut di tempat sunyi ini. Sebenarnya dia adalah seorang nikoh tua yang tidak punya ambisi apa-apa, kenapa Mo-kau merecoki dia dan tidak memberi ampun padanya?” demikian pikir Lenghou Tiong. Mendadak tergerak hatinya, “Sebelum pergi tadi pemimpin orang-orang berkedok itu telah menyebut tentang Mo-kau-kaucu Yim Ngo-heng. Padahal orang Mo-kau menyebut agamanya sendiri sebagai Tiau-yang-sin-kau, istilah Mo-kau dianggap sebagai suatu penghinaan, mengapa orang itu malah mengucapkan istilah Mo-kau? Jika dia berani mengucapkan kata-kata Mo-kau, maka jelas dia pasti bukan anggota Mo-kau. Lalu, dari manakah asal usul rombongan orang-orang berkedok itu?”

Dilihatnya anak murid Hing-san-pay masih terus menangis dengan sedihnya, ia pun tidak mau mengganggu mereka, ia sendiri lantas duduk bersandar pada batang pohon, sebentar saja sudah tertidur.

Besok paginya waktu mendusin, dilihatnya beberapa murid Hing-san-pay berjaga di sekitar jenazah Ting-cing Suthay. Beberapa murid kecil yang lain tampak tidur melingkar di samping Ting-cing yang sudah tak bernyawa itu.

Diam-diam Lenghou Tiong menimbang sendiri, “Jika seorang perwira seperti aku diharuskan membawa sepasukan perempuan seperti ini ke Hokciu, maka tampaknya benar-benar sangat lucu dan aneh. Baiknya aku memang hendak menuju ke Hokciu, maka tak perlu aku memimpin rombongan mereka, cukup asalkan aku melindungi mereka sepanjang jalan saja.”

Dengan mendahului berdehem, Lenghou Tiong lantas mendekati anak murid Hing-san-pay itu, Ih-soh, Gi-ho, Gi-cin, Gi-jing, dan beberapa murid yang memimpin regu masing-masing sama merangkap tangan memberi hormat padanya dan menyapa, “Kami telah mendapat pertolongan Tayhiap, budi kebaikan ini sukar kami batas. Sungguh malang supek kami mengalami bencana, sebelum wafat beliau telah memintakan bantuan kepada Tayhiap, maka untuk selanjutnya segala perintah Tayhiap tentu akan kami taati.”

Mereka tidak memanggil “ciangkun” lagi padanya, tentunya karena sudah tahu dia cuma seorang perwira gadungan.

“Ah, pakai tayhiap apa segala, aku menjadi risi rasanya, jika kalian mengindahkan aku, maka boleh tetap panggil ciangkun padaku,” ujar Lenghou Tiong.

Ih-soh saling pandang dengan Gi-jing, Gi-cin, dan lain-lain, akhirnya mereka manggut semua tanda setuju.

“Kemarin malam jelas aku mimpi kalian telah dirobohkan dengan obat tidur oleh seorang perempuan keparat dan dikumpulkan di suatu rumah besar, mengapa kalian bisa berada di sini sekarang?” tanya Lenghou Tiong.

“Kami pun tidak tahu apa yang terjadi sesudah dibius oleh musuh,” tutur Gi-ho. “Kemudian kawanan bangsat itu telah menyadarkan kami dengan air dingin dan mengendurkan tali pengikat kami. Kami digiring ke dalam sebuah lorong di bawah tanah, waktu keluar tahu-tahu sudah jauh berada di luar kota. Kami diseret supaya berjalan secepat mungkin. Jika ayal sedikit langkah kami lantas dipersen dengan cambukan. Sampai hari sudah gelap kami masih terus digiring seperti hewan. Syukur akhirnya supek memburu tiba, mereka lantas mengepung supek dan memaksa beliau menyerah ….” bicara sampai di sini tenggorokannya seakan-akan tersumbat, lalu menangis lagi.

“Kawanan bangsat itu tampaknya bukan orang-orang Mo-kau, apakah di tengah jalan kalian ada mendengar sesuatu yang mencurigakan?” tanya Lenghou Tiong.

“Tentu mereka adalah kawanan iblis Mo-kau, kalau tidak mana bisa begitu kejam dan pengecut?” ujar Gi-ho. Ia anggap di dunia ini selain orang-orang Mo-kau tiada orang jahat lagi.

Tapi Gi-jing lantas menambahkan, “Ciangkun, aku telah mendengar suatu kalimat ucapan mereka yang mencurigakan.”

“Ucapan apa?” cepat Lenghou Tiong menegas.

“Kudengar salah seorang berkedok itu berkata, ‘Menurut pesan Gu-suheng, kita harus percepat perjalanan, di tengah jalan tidak boleh minum arak agar tidak membikin runyam tugas kita. Nanti setiba di Hokciu baru boleh kita minum sepuas-puasnya.’”

“Ya, ucapan mereka ini memang aneh, kenapa di tengah jalan tidak boleh minum arak dan mesti tunggu setibanya di Hokciu?” ujar Lenghou Tiong.

Gi-jing tidak peduli timbrungannya dan meneruskan, “Kupikir orang-orang Mo-kau pada umumnya tidak saling sebut suheng atau sute segala, juga biasanya mereka pantang minum arak dan tidak makan daging, kata-kata minum sepuas-puasnya yang mereka ucapkan itu menjadi rada-rada janggal.”

Diam-diam Lenghou Tiong mengakui ketelitian nikoh cilik itu dan dapat menggunakan otak, tapi di mulut ia sengaja berkata, “Pantang minum arak dan makan daging paling bodoh. Jika setiap orang tidak minum arak, lalu untuk apa orang membikin arak? Lalu untuk apa lagi hewan-hewan sebangsa babi, sapi, ayam, dan itik itu hidup di dunia ini?”

Gi-jing tidak peduli lagi akan persoalan pantang minum arak dan makanan daging segala, ia bicara lagi, “Ciangkun, bagaimana urusan selanjutnya, mohon engkau sudi memberi petunjuk seperlunya.”

Lenghou Tiong menggeleng, katanya, “Urusan hwesio dan nikoh segala sedikit pun ciangkunmu ini tidak paham, jadi aku hanya bisa garuk-garuk kepala jika aku dimintai petunjuk apa. Paling penting bagi ciangkunmu ini adalah lekas naik pangkat dan cepat kaya, lain tidak. Maka biarlah sekarang juga aku akan pergi saja.”

Habis berkata, dengan langkah lebar ia lantas tinggal pergi menuju ke selatan.

“Ciangkun! Ciangkun!” para murid Hing-san-pay itu berteriak-teriak.

Lenghou Tiong tidak menggubris mereka. Tapi sesudah membelok pada pengkolan bukit sana ia lantas sembunyi di atas pohon. Kira-kira menunggu setengah jam lamanya, terlihatlah anak murid Hing-san-pay mengusung jenazah Ting-cing Suthay sedang mendatang dengan bertangisan. Sesudah rombongan Hing-san-pay itu lewat, lalu dari jauh Lenghou Tiong menguntit untuk melindungi mereka bila perlu.

Untung tiada terjadi apa-apa sepanjang jalan. Anak murid Hing-san-pay itu telah membeli peti mati untuk jenazah Ting-cing Suthay, lalu menyewa kuli memikul peti mati itu ke Hokciu. Dengan demikian, perjalanan mereka menjadi tambah lambat.

Lenghou Tiong terus mengawasi mereka memasuki Kota Hokciu dan sampai di suatu kuil nikoh dan kuil itu jelas tertulis sebagai “Bu-siang-am”, dengan begitu barulah ia merasa lega karena kewajiban yang dipasrahkan Ting-cing kepadanya itu sudah dilaksanakan dengan baik. Pikirnya, “Seorang ciangkun memimpin pasukan nikoh, kejadian benar-benar belum pernah ada di dunia ini. Untung bebanku sudah selesai sekarang, kesanggupanku kepada Ting-cing Suthay sudah kupenuhi.”

Ia putar haluan menuju ke jalan raya kota yang lain, maksudnya hendak mencari tahu di mana letaknya “Hok-wi-piaukiok”. Mendadak di antara orang berlalu-lalang ramai itu dilihatnya seorang laki-laki berbaju hijau dengan air muka yang aneh buru-buru memalingkan mukanya ke arah lain, lalu menyingkir pergi dengan langkah cepat.

Tergerak hati Lenghou Tiong, ia heran mengapa orang itu buru-buru menyingkir pergi begitu melihatnya? Sebagai seorang cerdik segera ia paham duduknya perkara, “Ya, dengan dandananku ini sudah dua kali aku melabrak musuh di luar dan di dalam kota Ji-pek-poh, mungkin sekali kabar tentang diriku sudah tersiar luas, tentang Kaucu Mo-kau yang dulu Yim Ngo-heng sudah muncul kembali di Kangouw dengan dandanan begini-begini. Tampaknya laki-laki ini adalah orang bu-lim, bisa jadi termasuk salah satu orang berkedok pada malam itu sehingga aku dikenal olehnya. Maka aku harus mencari ganti pakaian lain, kalau tidak tentu gerak-gerikku takkan bebas.”

Begitulah ia lantas mencari suatu hotel, lalu keluar lagi hendak beli pakaian. Ia melintasi beberapa jalan kota, tapi tiada menemukan sesuatu toko pakaian bekas. Sekonyong-konyong suara seorang yang sudah sangat dikenalnya berkumandang ke dalam telinganya, “Siau-lim-cu, katakan terus terang, kau mau mengawani aku pergi minum arak atau tidak?”

Begitu mendengar suara itu, seketika dada Lenghou Tiong terasa panas, benaknya menjadi kacau pusing. Jauh-jauh ia datang ke Hokkian tujuannya justru ingin mendengar suara ini, ingin melihat wajah pemilik suara ini. Sekarang benar-benar dia telah mendengar suara itu, namun dia justru tidak berani menoleh untuk memandangnya.

Padahal dalam keadaan menyamar tentunya siausumoaynya takkan mengenalnya lagi, entah mengapa, seketika ia termangu seperti patung, tanpa terasa air mata memenuhi kelopak matanya hingga pandangannya menjadi samar. Maklum, hanya dengan satu kalimat saja, dengan panggilan tadi saja segera diketahuinya bahwa sang siausumoay sudah sedemikian mesranya dengan Lim-sute, maka dapat dibayangkan pula entah betapa senangnya dan bahagianya selama dalam perjalanan jauh ini.

Dalam pada itu terdengar Lim Peng-ci sedang menjawab, “Aku tidak ada tempo. Pelajaran yang diberikan suhu sampai sekarang belum lagi kulatih dengan baik.”

“Tiga jurus ilmu pedang itu kan teramat gampang,” ujar Leng-sian. “Sesudah kau mengiringi aku minum arak segera kuajarkan padamu di mana letak rahasia ketiga jurus ilmu pedang itu. Mau tidak?”

“Tapi suhu dan sunio sudah pesan agar dalam beberapa hari ini kita jangan sembarangan berkeliaran di kota agar tidak menimbulkan gara-gara. Maka menurut pendapatku lebih baik kita pulang saja.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: