Hina Kelana: Bab 80. Muslihat Keji Orang Ko-san-pay

“Nenekmu, biarpun lebih tiga ratus orang lantas mau apa? Jenderalmu sudah biasa terjang kian-kemari di tengah pasukan musuh yang berpuluh ribu jumlahnya. Cuma beberapa orang saja apa artinya bagiku?”

Si pelayan cuma mengiakan saja beberapa kali, lalu tinggal pergi dengan cepat.

Terdengar suara kacau-balau di seluruh kota. Waktu Lenghou Tiong berjalan keluar, dilihatnya berpuluh-puluh orang beramai-ramai menuju ke selatan dengan harta benda masing-masing yang bisa dibawa.

“Tempat ini adalah perbatasan antara Ciatkang dan Hokkian, agaknya pembesar-pembesar di Hangciu dan Hokciu tidak mampu mengamankan gangguan kaum bandit ini sehingga rakyat kecil menjadi korban. Sebagai komandan militer Kota Coanciu, mana boleh aku Go Thian-tik tinggal diam saja, aku harus tumpas kawanan bandit itu sebagai jasaku kepada raja. Ya, nenekmu, mana boleh aku tinggal diam. Hahaha!” begitulah ia berpikir, sampai akhirnya ia tertawa geli sendiri. Lalu berteriak-teriak pula, “Hei, pelayan, bawakan arak, selesai makan minum kenyang jenderalmu akan menumpas bandit.”

Tapi waktu itu segenap penghuni hotel itu, dari tauke restoran, istri dan gundik-gundiknya, koki dan pelayan-pelayannya, semuanya sudah kabur pergi. Maka biarpun Lenghou Tiong berteriak-teriak sampai kerongkongannya kering juga tidak ada orang menggubrisnya.

Terpaksa Lenghou Tiong pergi dapur sendiri untuk mengambil arak, lalu duduk di ruangan depan untuk minum sendirian. Suara hiruk-pikuk di tengah kota itu lambat laun mulai mereda dan akhirnya menjadi sepi.

Lenghou Tiong merasa heran mengapa berita akan datangnya kaum bandit Loan-ciok-kang itu sampai bocor lebih dulu sehingga tujuan mereka terang nanti akan gagal total. Sebuah kota berpenduduk ratusan keluarga itu kini tertinggal dia seorang diri, hal ini benar-benar peristiwa luar biasa yang baru dialaminya sekarang.

Di tengah heningnya suasana itu, tiba-tiba dari jauh ada kumandang suara derapan kaki kuda, ada empat ekor kuda sedang dipacu ke Ji-pek-poh ini dari arah barat daya. “Hah, tentu itulah pemimpin kawanan bandit, tapi mengapa jumlahnya cuma sekian, mana anak buahnya?” demikian pikir Lenghou Tiong.

Setiba penunggang-penunggang kuda itu sampai di tengah kota, seorang di antaranya lantas berteriak, “Wahai dengarkanlah kambing-kambing Ji-pek-poh ini, atas perintah Tay-ong (kepala), semuanya supaya berdiri di luar rumah masing-masing, yang berdiri di luar takkan dibunuh, kalau tidak keluar semuanya akan dipenggal kepala.”

Sembari berteriak kudanya terus dilarikan kian-kemari di jalan-jalan kota.

Waktu Lenghou Tiong mengintip ke luar, terlihat empat orang itu semuanya berbaju singsat warna kuning. Kuda mereka telah dilarikan secepat terbang sehingga yang kelihatan hanya bayangan belakang mereka.

Tergerak pikiran Lenghou Tiong, “Aneh, dari sikap menunggang kuda mereka itu tampaknya mereka berilmu silat sangat tinggi, kalau cuma anak buah kaum bandit mana bisa ada tokoh sehebat ini?”

Perlahan-lahan ia membuka pintu, lalu merunduk ke pinggir sana melalui emper rumah. Belasan meter kemudian, dilihatnya di sebelah kelenteng toapekong ada pohon beringin yang rindang. Jika panjat ke pucuk pohon, maka segala kejadian di dalam kota hampir-hampir dapat terlihat semua. Segera ia melompat ke atas, dari satu dahan ia melompat ke dahan yang lain sehingga mencapai cabang dahan yang tertinggi. Suasana sekeliling dalam keadaan sunyi senyap. Semakin lama menunggu semakin dirasakan oleh Lenghou Tiong akan ketidakberesan keadaan itu. Ia heran mengapa gerombolan bandit itu masih belum muncul, mana mungkin kaum bandit sengaja mengirim beberapa anak buah untuk memberi peringatan kepada kaum penduduk agar mereka sempat melarikan diri lebih dulu?

Sesudah ditunggu lagi rada lama, akhirnya sayup-sayup baru terdengar suara manusia, tapi bukan suara manusia biasa, melainkan suara kaum wanita yang sedang bicara bisik-bisik.

Sedikit memasang telinga saja Lenghou Tiong lantas mengenali suara-suara itu adalah anak murid Hing-san-pay. Pikirnya, “Mengapa mereka baru sekarang sampai di sini? Ya, tentunya siang tadi mereka telah mengaso di tengah jalan.”

Dari percakapan rombongan Hing-san-pay itu dapat didengar mereka tidak jadi masuk Sian-an-khek-tiam, lalu menuju ke hotel yang lain, yaitu Lam-an-khek-tiam yang jaraknya rada jauh dari kelenteng toapekong. Apa yang dilakukan dan dibicarakan orang-orang Hing-san-pay itu sesudah masuk hotel dengan sendirinya tidak diketahui lagi oleh Lenghou Tiong. Lapat-lapat hati kecilnya merasa orang-orang Mo-kau yang telah sengaja memasang perangkap itu untuk menjebak rombongan Hing-san-pay. Maka ia tetap menyembunyikan diri di atas pohon untuk melihat perkembangan selanjutnya.

Agak lama kemudian, tertampak Gi-jing bertujuh keluar dari hotel untuk menyalakan lampu, banyak rumah penduduk dan toko memancarkan sinar lampu dalam waktu singkat.

Selang sebentar lagi, sekonyong-konyong di sebelah timur laut sana ada suara jeritan wanita yang minta tolong. Lenghou Tiong terkejut dan mengira anak murid Hing-san-pay ada yang dicelakai orang Mo-kau. Segera ia melompat turun dari pucuk pohon dan hinggap di atas wuwungan kelenteng, dengan ginkang ia berlari ke arah timur laut dengan melompati wuwungan rumah satu ke rumah yang lain.

Betapa hebat tenaga dalam Lenghou Tiong sekarang, maka larinya di atas wuwungan rumah itu bukan saja sangat cepat, bahkan sangat ringan dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Hanya sekejap saja ia sudah berada di luar rumah tempat suara jeritan wanita tadi.

Perlahan-lahan ia turun ke bawah dengan merembet dinding tembok, lalu mengintip ke dalam rumah melalui celah-celah jendela. Keadaan di dalam ternyata gelap gulita dan tiada sinar lampu. Tapi selang sejenak lantas dapat dilihat ada tujuh atau delapan laki-laki berdiri tegak mepet dinding, seorang wanita berdiri di tengah rumah lantas berteriak-teriak, “Tolong, ada orang terbunuh, toloong!”

Lenghou Tiong hanya melihat wanita itu dari samping, tetapi air mukanya tampaknya sangat seram, melihat gelagatnya jelas ada orang yang sengaja hendak dipancing datang.

Benar juga, belum lama ia menjerit, di luar lantas ada seorang wanita membentaknya, “Siapa yang mengganas di sini?”

Rupanya pintu rumah itu memang tidak dipalang, maka sekali tolak saja daun pintu lantas terpentang, serentak ada tujuh wanita bersenjata pedang menerjang ke dalam. Orang pertama bukan lain adalah Gi-jing.

Sekonyong-konyong wanita yang menjerit minta tolong tadi mengayun sebelah tangannya, sepotong kain hijau selebar kira-kira satu meter persegi lantas terbentang ke depan, kontan Gi-jing bertujuh lantas kelihatan gemetar, seperti pusing kepala dan berkunang-kunang matanya. Sesudah terhuyung-huyung, lalu roboh terguling semua.

Keruan Lenghou Tiong terkejut, sekilas terpikir olehnya, “Kain yang dibentangkan wanita itu pasti mengandung racun pembius yang amat lihai. Jika aku menyerbu ke dalam untuk menolong Gi-jing bertujuh tentu aku pun akan mengalami nasib yang sama, terpaksa aku harus bersabar.”

Begitulah beberapa laki-laki yang berdiri mepet dinding tadi beramai-ramai lantas lari maju, mereka mengeluarkan tali untuk meringkus kencang kaki dan tangan Gi-jing bertujuh.

Tidak lama kemudian, di luar ada suara lagi, seorang wanita telah membentak, “Siapa yang berada di dalam?”

Karena pernah berbicara ketika bertemu di Sian-he-nia kemarin, maka segera Lenghou Tiong mengenali pembicara itu adalah Gi-ho yang berwatak berangasan. Ia pikir nikoh cilik yang kasar ini tentu juga akan diringkus musuh.

Terdengar Gi-ho berseru lagi di luar, “Gi-jing Sumoay, apakah kalian berada di dalam?”

Menyusul pintu lantas didepak orang dan terpentang lebar. Gi-ho dan kawan-kawannya berturut-turut lantas menerobos ke dalam dengan berdua-duaan.

Begitu melangkah ke dalam rumah segera mereka memutar pedang masing-masing untuk melindungi diri dari sergapan musuh. Dapat diduga tentu itulah sejenis barisan pedang Hing-san-pay yang khusus diajarkan untuk menjaga diri, betapa rapat pertahanan mereka sehingga tidak memungkinkan musuh menyerang.

Musuh-musuh di dalam rumah itu ternyata diam saja, mereka menunggu sesudah Gi-ho bertujuh masuk ke dalam rumah barulah wanita itu membentang lagi kainnya, tanpa ampun lagi Gi-ho bertujuh kena dirobohkan pula dan tertawan.

Habis itu adalah giliran Ih-soh dengan enam kawannya, mereka pun mengalami nasib yang sama. Jadi berturut-turut ada 21 murid Hing-san-pay dirobohkan dalam keadaan tak sadar, semuanya diringkus kaki dan tangannya dan ditaruh di pojokan rumah.

Sejenak lagi, kembali wanita tadi menjerit minta tolong. Tapi orang Hing-san-pay tidak tampak datang pula. Segera seorang tua yang berdiri di sudut rumah sana memberi tanda, beramai-ramai orang-orang itu lantas keluar melalui pintu belakang.

Cepat Lenghou Tiong melompat ke atas rumah, dengan merunduk ia mengikuti jejak orang-orang itu. Sekonyong-konyong di sebelah sana ada suara berkesiurnya angin, ia mendekam di tepi emper rumah, dilihatnya belasan laki-laki sedang saling memberi tanda, lalu terpencar dan sembunyi di bawah serambi rumah besar di sebelah itu, jaraknya hanya beberapa meter saja dari tempat Lenghou Tiong.

Dengan enteng Lenghou Tiong merosot ke bawah, pada saat itulah dilihatnya Ting-cing Suthay dan tiga orang muridnya sedang memburu ke arahnya.

Segera Lenghou Tiong menduga Ting-cing pasti sudah terkena tipu pancingan musuh, anak muridnya yang tertinggal di Hotel Lam-an-khek-tiam itu pasti akan celaka. Dan dari jauh memang dilihatnya beberapa sosok bayangan orang sedang berlari cepat ke hotel itu.

Baru saja Lenghou Tiong bermaksud memburu ke arah hotel sana, tiba-tiba di atas rumah ada orang berkata dengan suara tertahan, “Sebentar bila nikoh tua itu sudah datang, kalian bertujuh hendaklah melibatkan dia di sini.”

Suara orang itu tepat berada di atasnya, asal sedikit bergerak saja tentu jejak Lenghou Tiong akan ketahuan, terpaksa ia diam saja dengan berdiri mepet tembok.

Dalam pada itu terdengar Ting-cing Suthay telah mendepak pintu rumah hingga terpentang sambil berseru, “Gi-ho, Gi-jing, Ih-soh, apakah kalian dengar suaraku?”

Menyusul kelihatan Ting-cing mengelilingi rumah itu, lalu melompat ke atas rumah, tapi tidak memeriksa ke dalam rumah. Lenghou Tiong heran mengapa Ting-cing tidak mau masuk ke dalam rumah, padahal begitu masuk tentu akan mengetahui ke-21 anak muridnya meringkuk di situ. Tapi segera ia pun merasa bersyukur Ting-cing tidak masuk ke dalam rumah, sebab pihak Mo-kau sudah siap menantikan kedatangannya, jika Ting-cing masuk ke dalam rumah, sekali kena kain berbisa orang Mo-kau itu tentu nikoh tua itu pun akan tertawan seperti nasib anak muridnya yang lain.

Dilihatnya Ting-cing Suthay berlari kian-kemari seperti orang bingung, mendadak nikoh tua itu lari kembali ke Lam-an-khek-tiam dengan cepat sekali sehingga tak tersusulkan oleh Gi-lim bertiga. Maka ketika mendadak dari ujung pengkolan jalan sana muncul beberapa orang, sekali membentangkan sepotong kain, seketika Gi-lim bertiga roboh terkapar dan diseret orang-orang itu ke dalam rumah.

Dalam keadaan samar-samar Lenghou Tiong melihat di antara ketiga orang itu seperti terdapat pula Gi-lim, seketika timbul maksudnya hendak segera pergi menolong nikoh jelita itu. Tapi segera terpikir lagi olehnya, “Jika saat ini aku perlihatkan diri tentu akan terjadi pertempuran sengit. Padahal anak murid Hing-san-pay sudah tertawan musuh dan mungkin akan dibunuh bila musuh kepepet. Maka tidak boleh bertempur terang-terangan, lebih baik bertindak menurut gelagat secara gelap saja.”

Tidak lama kemudian dilihatnya Ting-cing keluar lagi dari hotelnya, lalu berteriak dan mencaci maki di tengah jalanan, kemudian melompat ke atas rumah dan memaki-maki Tonghong Put-pay. Benar juga, pihak Mo-kau menjadi tidak tahan oleh caci makian itu, segera ada tujuh orang menampakkan diri dan menempurnya.

Sesudah mengikuti beberapa jurus pertempuran itu, Lenghou Tiong yakin dengan ilmu pedang Ting-cing yang hebat untuk sementara tentu takkan kalah melawan ketujuh musuhnya. Maka biarlah lebih dulu aku pergi menolong Gi-lim Sumoay saja. Demikianlah ia ambil keputusan.

Segera ia menyelinap ke dalam rumah tadi, dilihatnya di tengah ruangan ada seorang penjaga dengan golok terhunus, Gi-lim bertiga tampak menggeletak di samping kakinya dalam keadaan teringkus.

Tanpa bicara lagi Lenghou Tiong lantas melompat maju, sekali bergerak pedangnya langsung menusuk tenggorokan orang itu. Belum lagi orang itu menyadari apa yang terjadi, kontan jiwanya sudah melayang.

Lenghou Tiong menjadi melongo malah, sama sekali tak tersangka olehnya gerak pedangnya bisa begitu cepat, bahkan sekali menusuk saja tahu-tahu sudah kena sasarannya.

Ia tidak menyadari bahwa sejak dia berhasil meyakinkan “Gip-sing-tay-hoat” ajaran Yim Ngo-heng ditambah dengan hawa murni Tho-kok-lak-sian, Put-kay Hwesio, dan Hek-pek-cu yang terhimpun di dalam tubuhnya, maka betapa tinggi tenaga dalamnya sekarang bahkan dia sendiri pun tidak pernah membayangkannya. Maka sekali ia memainkan “Tokko-kiam-hoat” dengan tenaga dalam selihai itu, sudah tentu tak terperikan daya tempurnya.

Semula Lenghou Tiong mengira musuh tentu akan menangkis, maka dia sudah merencanakan serangan susulan yang lain untuk merobohkan musuh, habis itu barulah menolong Gi-lim bertiga. Tak terduga musuh sama sekali tidak sempat menangkis dan tahu-tahu sudah binasa kena tusukannya.

Lenghou Tiong menjadi rada menyesal, ia singkirkan mayat itu, waktu diperiksa, memang benar Gi-lim berada di antara ketiga wanita itu. Pernapasannya terasa baik, selain dalam keadaan tak sadar agaknya tidak terluka apa-apa. Segera ia pergi ke dapur di belakang untuk mengambil satu ciduk air dingin dan dicipratkan sedikit di atas muka Gi-lim.

Selang sejenak mulailah Gi-lim bersuara dan menggeliat seperti orang baru bangun tidur. Semula ia tidak tahu dirinya berada di mana, waktu matanya perlahan-lahan dibuka barulah mendadak ia ingat apa yang sudah terjadi. Cepat ia melompat bangun dan bermaksud melolos pedang, tapi segera mengetahui kaki dan tangannya dalam keadaan teringkus, hampir saja ia terbanting jatuh lagi.

“Jangan takut, Siausuthay, orang jahat itu sudah kubunuh,” kata Lenghou Tiong sembari memutuskan tali pengikat tangan dan kaki Gi-lim itu dengan pedang.

Mendengar suaranya dalam keadaan gelap gulita, samar-samar seperti suara “Lenghou-toako” yang senantiasa dirindukannya itu, Gi-lim menjadi kejut dan girang pula, segera ia berseru, “He, engkau Lenghou ….” tapi belum terucapkan panggilan “toako” lantas terasa tidak tepat olehnya, mukanya menjadi merah jengah dan cepat ganti suara, “Engkau ini siapa?”

Lenghou Tiong tahu Gi-lim hampir mengenalinya dan mendadak ganti ucapan, dengan suara perlahan ia menjawab, “Jenderal ada di sini, kawanan bandit itu pasti tidak berani mengganggu kalian lagi.”

“Ah, kiranya Go-ciangkun adanya,” seru Gi-lim. “Di … di manakah Supek?”

“Dia sedang bertempur dengan musuh di luar sana, marilah kita pergi melihatnya,” ajak Lenghou Tiong.

Gi-lim lantas berseru pula, “The-suci, Cin-sumoay …” ia lantas mengeluarkan ketikan api, maka tertampaklah kedua temannya masih menggeletak di lantai, segera ia berkata, “O, mereka pun berada di sini semua.”

Lalu ia bermaksud memotong tali pengikat mereka.

Namun Lenghou Tiong telah mencegahnya, “Nanti dulu, paling penting marilah pergi membantu supekmu dahulu.”

“Betul juga,” ucap Gi-lim sambil mengikut di belakang Lenghou Tiong yang sudah mendahului melangkah keluar.

Belum berapa jauh keluar, terlihat tujuh sosok bayangan orang secepat terbang melayang ke sana, menyusul lantas terdengar suara nyaring tersampuk jatuhnya senjata rahasia, lalu ada suara orang memuji ilmu pedang Ting-cing yang tinggi, sebaliknya Ting-cing juga lantas mengenali pihak lain adalah tokoh Ko-san-pay. Tidak lama kemudian terlihat Ting-cing Suthay ikut belasan orang laki-laki itu menuju ke Sian-an-khek-tiam. Lenghou Tiong lantas menggandeng tangan Gi-lim dan diajak menyusup ke dalam hotel itu untuk mengintip dari balik jendela.

Sebelah tangan Gi-lim dipegang Lenghou Tiong, ia bermaksud melepaskan tangannya, tapi mengingat orang telah menolongnya dari tawanan musuh, agaknya tidak bermaksud jahat hanya memegangi tangannya saja. Kemudian didengarnya Ting-cing sedang bicara dengan Ciong Tin di dalam kamar, orang she Ciong itu mendesak agar Ting-cing Suthay berjanji untuk melebur Hing-san-pay ke dalam Ko-san-pay, habis itu barulah dia mau membantu menolong anak muridnya yang tertawan musuh.

Meski masih hijau juga Gi-lim dapat merasakan ucapan Ciong Tin yang tidak kesatria itu, orang lagi kepepet juga dipaksa lagi untuk menuruti maksud jahatnya. Didengarnya Ting-cing menjadi marah dan akhirnya meninggalkan hotel.

Sesudah Ting-cing pergi rada jauh barulah Lenghou Tiong ikut keluar dan pura-pura berteriak-teriak memanggil pengurus hotel itu seperti apa yang diceritakan di depan. Dalam keadaan kehilangan akal, keruan Ting-cing kegirangan setengah mati dan segera putar balik.

Gi-lim lantas menyongsongnya sambil berseru, “Supek!”

Ting-cing menjadi girang pula dan cepat bertanya, “Di manakah kau tadi?”

“Tecu telah ditawan kawanan iblis Mo-kau,” sahut Gi-lim. “Ciangkun inilah yang telah menolong aku ….”

Dalam pada itu Lenghou Tiong sudah mendorong pintu hotel dan masuk ke dalam. Dilihatnya di ruangan tengah tersulut dua batang lilin besar dengan sinarnya yang cukup terang. Dengan suara garang Ciong Tin lantas membentak, “Siapa kau main gembar-gembor di sini, lekas enyah!”

Lenghou Tiong balas memaki, “Nenekmu, kau berani kurang ajar terhadap seorang jenderal? Apa kau minta digantung? Hai, juragan hotel, mana pelayan, lekas keluar semua!”

Orang-orang Ko-san-pay menjadi geli-geli dongkol. Hanya mencaci maki sepatah dua saja, lalu memanggil-manggil juragan hotel dan pelayan, terang lahirnya saja ciangkun itu galak, tapi hatinya sebenarnya takut.

Tapi Ciong Tin pikir sedang melaksanakan tugas penting, buat apa melayani seorang perwira dogol begitu? Maka dengan suara perlahan ia memerintahkan, “Tutuk roboh dia, tapi jangan mencelakai jiwanya.”

Kim-mo-say Ko Kik-sin manggut, dengan tertawa ia lantas mendekati Lenghou Tiong sambil menyapa, “Eh, kiranya adalah Tuan besar yang datang, maaf jika kami kurang hormat.”

“Asal tahu saja,” sahut Lenghou Tiong. “Memang kalian rakyat jembel ini sok tidak tahu aturan ….”

Dengan tertawa Ko Kik-sin mengiakan, mendadak ia menubruk maju, dengan jari telunjuk ia terus menutuk pinggang Lenghou Tiong. Ilmu tiam-hiat Ko-san-pay terhitung suatu kepandaian tersendiri di dalam dunia persilatan, caranya aneh dan jitu, sekali “siau-yau-hiat” di pinggang tertutuk seketika sasarannya akan bergelak tertawa untuk kemudian jatuh pingsan dan baru dapat siuman kembali 12 jam kemudian.

Tak terduga tutukan Ko Kik-sin itu ternyata hanya membikin Lenghou Tiong mengikik tawa geli saja, bahkan ia masih berkata, “He, kau ini benar-benar tidak tahu aturan, mengapa main kitik-kitik segala, memangnya kau ingin bercanda dengan jenderalmu?”

Sementara itu Ting-cing dan Gi-lim sudah kembali di depan pintu hotel dan menyaksikan tutukan Ko Kik-sin yang lihai itu ternyata tidak mempan terhadap Lenghou Tiong, keruan Ting-cing terkejut dan girang pula. Ia pikir ilmu silat perwira gadungan ini sedemikian tinggi, sekali ini orang-orang Ko-san-pay yang pengecut itu pasti akan kecundang.

Ko Kik-sin juga heran karena tutukannya tidak membawa hasil sebagaimana dugaannya. Segera tutukan kedua kalinya dilontarkan. Sekarang dia menggunakan segenap tenaganya.

Namun Lenghou Tiong lantas mengakak sambil melonjak seperti orang kegelian lantaran dikilik-kilik. Ia memaki pula sambil tertawa, “Nenekmu, mengapa main raba-raba segala di pinggang tuanmu? Memangnya kau ingin mencuri dompetku ya? Potonganmu sih gagah, kenapa jadi copet?”

Ko Kik-sin pikir orang ini mengapa begini aneh? Tanpa pikir tangan kirinya lantas menyambar sehingga pergelangan kanan Lenghou Tiong terpegang, sekali telikung, ia bermaksud merobohkan Lenghou Tiong.

Tak tersangka, baru saja tangan menempel pergelangan tangan lawan, seketika tenaga dalam sendiri terasa mencurah keluar melalui telapak tangan dan sukar dikendalikan lagi. Saking kaget dan takutnya sampai mulutnya ternganga, hendak berteriak pun sukar mengeluarkan suara lagi.

Sejak Lenghou Tiong berhasil meyakinkan “Gip-sing-tay-hoat”, meski dia tidak sengaja menggunakan ilmu sakti itu, tapi dengan sendirinya mempunyai keampuhan daya sedot tenaga dalam lawan. Jika lawan tidak mengerahkan tenaga dalam, seperti tadi dia menggandeng tangan Gi-lim secara biasa, maka takkan timbul daya sedotnya yang lihai. Tapi kalau lawan mengerahkan tenaga dalam, semakin besar tenaga yang dikerahkan, semakin cepat pula tenaga dalamnya akan terkuras dan disedot olehnya. Jalan satu-satunya adalah segera menghentikan curahan tenaga dalam itu, kecuali Lenghou Tiong memang sengaja hendak menyedot tenaganya.

Begitulah Lenghou Tiong juga kaget ketika merasakan tenaga dalam lawan sedang mengalir ke dalam tubuhnya seperti apa yang terjadi atas diri Hek-pek-cu tempo hari. Padahal ia sendiri sudah berjanji takkan menggunakan Gip-sing-tay-hoat. Maka cepat ia mengebaskan tangan sekuatnya sehingga pegangan Ko Kik-sin terlepas.

Ko Kik-sin terlongong-longong sejenak, rasanya seperti pesakitan yang sudah dijatuhi hukum gantung mendadak diampuni, cepat ia melompat mundur, tapi seluruh badan rasanya lemas lunglai seakan-akan habis sakit berat. Ia berteriak-teriak dengan suara serak dan rasa seram, “Gip-sing … Gip-sing-tay-hoat!”

Ciong Tin, Ting Pat-kong, dan anak murid Ko-san-pay yang lain serentak melonjak kaget dan tanya berbareng, “Apa katamu?”

“Orang … orang ini mahir menggunakan Gip-sing-tay-hoat,” sahut Ko Kik-sin.

Serentak sinar pedang berkelebat dengan suara nyaring mendering, semua orang Ko-san-pay telah melolos pedang, hanya Ting Pat-kong yang memakai senjata ruyung panjang lemas. Ilmu pedang Ciong Tin paling lihai dan cepat, sekali sinar pedang berkelebat, secepat kilat ia menusuk ke leher Lenghou Tiong.

Waktu Ko Kik-sin berteriak-teriak lagi Lenghou Tiong sudah menduga orang-orang Ko-san-pay pasti akan mengerubut maju, maka begitu melihat mereka melolos senjata, segera ia pun siapkan goloknya yang masih terselubung sarung golok itu, sebelum tusukan Ciong Tin mencapai sasarannya, dengan cepat luar biasa ujung golok bersarung itu sudah menutuk ke punggung tangan lawan masing-masing.

Maka terdengarlah suara gemerantang nyaring memekak telinga, pedang lawan jatuh berserakan. Hanya kepandaian Ciong Tin yang paling tinggi itu tidak mengalami nasib sama, meski punggung tangannya juga terketok, tapi pedangnya tidak sampai terlepas dari cekalan. Saking kagetnya segera ia melompat mundur.

Yang paling runyam adalah Ting Pat-kong, gagang ruyungnya terlepas dari cekalan, tapi ruyungnya yang lemas itu sempat melibat balik ke lehernya sendiri sehingga tercekik dan hampir-hampir tak bisa bernapas.

Muka Ciong Tin menjadi pucat, katanya, “Di dunia Kangouw tersiar berita Yim-kaucu, ketua Mo-kau yang dulu, telah muncul kembali, apakah engkau … engkau, inilah Yim … Yim-kaucu Yim Ngo-heng adanya?”

“Keparat, peduli apakah Yim Ngo-heng atau Yim Kuping neneknya, yang pasti jenderalmu ini she Go bernama Thian-tik, tahu?” maki Lenghou Tiong dengan tertawa. “Nah, kalian ini kawanan bandit dari mana, di hadapan jenderalmu kenapa tidak lekas lari pulang ke tempat nenekmu?”

Ciong Tin merangkap kedua tangannya sebagai hormat, katanya, “Munculnya kembali engkau di bu-lim, Ciong Tin merasa bukan tandinganmu, selamat tinggal, sampai bertemu kelak.”

Habis berkata, mendadak ia meloncat ke luar dengan membobol jendela. Menyusul Ko Kik-sin dan lain-lain juga ikut melompat pergi, pedang yang berserakan memenuhi lantai itu tiada seorang pun yang berani menjemputnya kembali.

Sembari memegangi goloknya yang masih lengket dengan sarungnya, Lenghou Tiong pura-pura hendak melolosnya, tapi tetap tidak terlorot keluar. Katanya dengan menggumam sendiri, “Golok ini benar-benar sudah berkarat, besok perlu cari tukang asah gunting membersihkan karatnya.”

“Go-ciangkun,” Ting-cing Suthay menegurnya, “sudilah kiranya pergi menolong beberapa anak murid wanita kami itu?”

Lenghou Tiong menduga dengan kepergian rombongan Ciong Tin itu sudah tidak ada orang yang mampu lagi melawan kepandaian Ting-cing Suthay. Katanya, “Aku masih ingin minum arak lagi di sini, apakah Losuthay mau mengiringi aku?”

Melihat “perwira” ini berulang-ulang bicara tentang minum arak, diam-diam Gi-lim merasa mirip benar dengan kegemaran Lenghou-toako. Tanpa merasa ia melirik ke arahnya, tak terduga sang jenderal itu pun sedang membuang pandang ke arahnya, seketika muka Gi-lim menjadi merah dan cepat menunduk.

“Aku tidak bisa minum arak, maafkan aku tidak dapat mengiringi Ciangkun,” sahut Ting-cing sembari memberi hormat dan mengundurkan diri.

Gi-lim cepat ikut keluar, sampai di luar pintu, ia masih menoleh memandang sekejap lagi kepada Lenghou Tiong, terlihat dia sedang berbangkit mencari arak sambil mengomel, “Neneknya, apakah orang di hotel ini sudah mampus semua, mengapa sampai sekarang tiada seorang pun yang keluar.”

Pikir Gi-lim, “Dalam kegelapan tadi samar-samar suaranya kusangka sebagai suaranya Lenghou-toako, memang mirip benar suara mereka. Cuma ciangkun ini bermulut kotor, selalu memaki kalang kabut, berbeda sekali dengan Lenghou-toako yang sopan santun. Ai, mengapa aku menjadi berpikir yang tidak-tidak, ah, dasar ….”

Dalam pada itu Lenghou Tiong telah mendapatkan arak, tanpa pakai cawan segala, terus saja ia menghirupnya langsung dari poci arak dan sekaligus menghabiskan setengah poci.

Sembari minum benaknya juga bekerja, pikirnya, “Para nikoh dan perempuan tua muda itu sebentar akan kembali lagi ke sini, dalam keadaan ceriwis tak habis-habis bisa jadi aku kurang hati-hati sehingga dikenali mereka kan bisa runyam, maka lebih baik aku tinggal pergi saja. Tapi untuk menolong kawan-kawan mereka yang banyak itu tentu juga makan tempo, sementara ini perutku yang lapar perlu diisi dulu.”

Begitulah selesai menghabiskan isi poci arak segera ia menuju ke dapur. Dilihatnya dalam wajan sedang mengepul nasi liwet yang berbau rada sangit, agaknya rombongan Ciong Tin tadi yang menanak nasi itu dan belum sempat diangkat sehingga hangus. Segera ia mengisi satu mangkuk penuh, sembari dimakan ia coba mencari lauk-pauk.

Tapi baru beberapa suap nasi disumpit ke dalam mulut, tiba-tiba dari jauh berkumandang suara Gi-lim, “Supek, Supek! Di mana kau?”

Dari suaranya yang tajam melengking itu agaknya nikoh muda itu sangat cemas dan khawatir.

Sambil memegangi mangkuk nasi itu Lenghou Tiong lantas memburu ke luar ke arah suara itu. Maka tertampaklah Gi-lim dan kedua nona muda tadi berada di jalanan sana dan sedang berteriak-teriak, “Supek! Suhu!”

“Ada apa?” tanya Lenghou Tiong sesudah dekat.

“Aku yang telah menolong The-suci dan Cin-sumoay sehingga mereka siuman kembali,” tutur Gi-lim. “Tapi Supek mengkhawatirkan para suci yang lain, beliau buru-buru pergi sendiri untuk mencari mereka. Ketika kami bertiga keluar ternyata sudah … sudah kehilangan jejak beliau.”

Melihat usia The Oh paling-paling baru 20-an, bahkan umur Cin Koan cuma belasan tahun saja, Lenghou Tiong merasa tidak mengerti untuk apa Hing-san-pay mengirim nona-nona muda belia begitu ke dunia ramai? Segera ia berkata dengan tertawa, “Jangan khawatir, aku tahu tempat mereka, coba kalian ikut padaku.”

Segera ia mendahului melangkah ke gedung yang besar di sebelah timur laut itu. Sampai di depan pintu, sekali depak ia bikin daun pintu terpentang. Khawatir kalau wanita Mo-kau masih sembunyi di dalam dan mungkin akan membiusnya dengan racun lagi, maka lebih dulu ia pesan Gi-lim bertiga, “Tutup rapat mulut dan hidung kalian dengan saputangan, awas di dalam ada seorang perempuan keparat suka menebarkan racun.”

Habis itu ia lantas pencet hidung dan menahan napas terus menerjang ke dalam rumah. Tapi ia menjadi melengak begitu berada di dalam ruangan. Di dalam ruangan yang tadinya penuh bergelimpangan anak murid Hing-san-pay yang diringkus dan tak sadarkan diri itu sekarang sudah kosong melompong, hilang tanpa bekas.

Ia bersuara heran. Dilihatnya di atas meja ada sebuah tatakan lilin dengan api yang masih menyala, tapi ruangan itu benar-benar sudah kosong. Dengan cepat sekali ia memeriksa sekeliling rumah itu, namun tiada menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan. Sungguh herannya tak terkatakan.

Gi-lim bertiga juga menatap Lenghou Tiong dengan penuh rasa sangsi dan tanda tanya.

“Neneknya, para suci kalian sudah jelas dibius roboh oleh seorang perempuan keparat dan teringkus semua di sini, mengapa hanya sebentar saja mereka sudah lenyap semua?” demikian omel Lenghou Tiong.

“Go-ciangkun, benar kau melihat para suci kami dibius roboh di sini?” The Oh menegas.

“Ya, semalam aku telah mimpi dan menyaksikan sendiri banyak sekali kawanan nikoh dan orang perempuan bergelimpangan di ruangan ini, mana bisa salah lagi,” sahut Lenghou Tiong.

“Masa kau ….” mestinya The Oh hendak membantah mustahil impian dapat dibuat patokan. Tapi lantas teringat olehnya perwira ini memang suka mengoceh tak keruan, katanya mimpi, tapi sebenarnya menyaksikan kejadian yang sungguh, maka cepat ia ganti suara, “Go-ciangkun, menurut dugaanmu ke manakah mereka semua?”

“O, bisa jadi mereka sudah lapar dan pergi mencari daging dan arak, atau mungkin di mana ada tontonan dan mereka telah pergi ke sana,” kata Lenghou Tiong. Lalu ia menggapai mereka dan menyambung pula, “Marilah sini, kalian bertiga anak dara ini sebaiknya ikut kencang di belakangku, jangan ketinggalan. Mau makan daging dan minum arak juga dapat kusediakan nanti.”

Walau umur Cin Koan masih kecil, tapi ia pun menyadari keadaan sangat membahayakan mereka dan tahu para suci sudah jatuh dalam perangkap musuh. Ocehan ciangkun sinting ini tidak perlu dianggap sungguh-sungguh. Namun berpuluh kawan mereka kini tinggal mereka bertiga saja, selain menurutkan segala perintah sang ciangkun boleh dikata tiada jalan lain yang lebih baik. Terpaksa mereka bertiga ikut keluar di belakang Lenghou Tiong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: