Hina Kelana: Bab 79. Jatuh ke Sumur Ditimpa Batu Pula

Waktu ia memandang keluar dari hotel itu, dilihatnya rumah-rumah penduduk itu satu per satu mulai memancarkan cahaya lampu. Tidak lama kemudian hampir sekeliling sudah rata terpasang lampunya, hanya saja keadaan tetap sunyi. Di atas langit bulan sabit tampak memancarkan sinarnya yang remang redup.

Meski Ting-cing pernah malang melintang di dunia Kangouw, tapi pertempuran sengit di atas Sian-he-nia semalam benar-benar sangat berbahaya, bila dibayangkan kembali rasanya masih mengerikan. Jika seorang diri, biarpun keadaan lebih buruk sepuluh kali juga Ting-cing tidak gentar, tapi sekarang ia memimpin berpuluh anak murid Hing-san-pay, mau tak mau ia harus memikirkan keselamatan mereka. Diam-diam ia berdoa semoga Buddha memberkahi kekuatan baginya sehingga para murid yang dipimpinnya itu tidak mengalami cedera apa-apa. Kalau perlu biarlah ia sendiri yang menjadi korban, yang lain semoga selamat pulang sampai di Hing-san.

Pada saat itulah tiba-tiba dari arah timur laut sana berkumandang suara jeritan orang perempuan, “Tolong, tolooong!”

Di tengah malam sunyi senyap itu, suara jeritan tajam itu kedengaran menjadi tambah ngeri. Ting-cing rada terkesiap, suara itu terang bukan suara anak murid Hing-san-pay. Ia coba mengawasi jurusan datangnya suara itu, tapi tidak tampak sesuatu. Segera terlihat Gi-jing bertujuh berlari ke timur laut, tentunya mereka sengaja memeriksa ke sana. Tapi sampai lama kelompok Gi-jing itu tidak tampak muncul kembali.

“Supek, coba Tecu dan enam sumoay lain pergi melihat ke sana,” mohon Gi-ho.

Ting-cing mengangguk. Segera Gi-ho memimpin kelompoknya berlari ke timur laut sana. Sinar pedang gemilapan di tengah malam sunyi, tidak lama kemudian lantas menghilang dalam kegelapan.

Selang sebentar lagi tiba-tiba suara jerit tajam wanita tadi berkumandang pula, “Tolong, ada orang terbunuh, toloong!”

Anak murid Hing-san-pay saling pandang dengan bingung karena tidak tahu apa yang terjadi di sana. Anehnya kelompok-kelompok Gi-jing dan Gi-ho itu sampai sekian lamanya masih belum tampak kembali. Jika ketemu musuh mengapa tiada terdengar suara pertempuran?

Mendengar suara wanita yang minta tolong itu para murid Hing-san-pay yang berhati luhur itu sama memandangi Ting-cing Suthay untuk menunggu perintah pergi memberi pertolongan.

“Ih-soh,” kata Ting-cing kemudian, “kau lebih tua dan lebih pengalaman, boleh kau bawa enam sumoay, tak peduli apa yang terjadi hendaklah segera kirim orang kembali melapor padaku.”

Ih-soh yang disebut adalah seorang wanita setengah umur, asalnya adalah babu yang melayani Ting-sian Suthay di Pek-in-am, Hing-san. Kemudian karena dia memperlihatkan kerajinan kerja dan keluhuran jiwa, akhirnya Ting-sian Suthay telah menerimanya sebagai murid.

Begitulah Ih-soh lantas mengiakan dan membawa enam temannya berlari ke arah timur laut sana. Akan tetapi aneh bin ajaib, kepergian ketujuh orang ini pun seperti batu dilemparkan ke laut, ditunggu sekian lamanya tetap tidak kembali.

Keruan Ting-cing tambah gelisah, ia pikir mungkin musuh telah pasang perangkap sehingga ke-21 muridnya itu terpancing ke sana dan kena ditangkap satu per satu. Ia coba tunggu lagi sejenak, ternyata suara jerit permintaan tolong tadi tidak berjangkit lagi, suasana juga tetap sunyi.

Kata Ting-cing kemudian, “Gi-cit dan Gi-cin, kalian 14 orang tinggal saja di sini, rawatlah teman-teman yang terluka itu. Tak peduli apa yang terjadi jangan sekali-kali meninggalkan hotel agar tidak terjebak akal pancingan musuh.”

Gi-cit dan Gi-cin berdua mengiakan dengan memberi hormat.

Di arah timur laut situ adalah sederetan rumah, keadaan gelap gulita, tiada penerangan juga tiada sesuatu suara. Dengan suara bengis Ting-cing membentak, “Kaum iblis Mo-kau, kalau berani hayolah keluar untuk bertempur, macam orang gagah apa main sembunyi-sembunyi seperti tikus?”

Sampai sekian lamanya tiada jawaban apa-apa dari dalam rumah. Tanpa pikir lagi Ting-cing mendepak pintu rumah di depannya, “krak”, palang pintu patah dan daun pintu terpentang lebar. Tapi di dalam rumah gelap gulita entah ada penghuninya atau tidak.

Ting-cing tidak berani menerobos masuk begitu saja, ia berseru, “Gi-ho, Gi-jing, Ih-soh, apakah kalian mendengar suaraku?”

Namun di tengah malam sunyi itu hanya kumandang suaranya yang terdengar, habis itu keadaan kembali hening lagi.

“Kalian bertiga ikut rapat di belakangku, jangan sembarangan berpisah,” kata Ting-cing sambil menoleh kepada Gi-lim bertiga.

Segera ia mengitari rumah-rumah itu satu keliling, tapi tiada tampak sesuatu yang mencurigakan. Ia coba melompat ke atas rumah, dari situ dipandang sekelilingnya. Keadaan juga tenang tenteram. Percuma saja Ting-cing memiliki ilmu silat tinggi, kalau musuh tetap tidak muncul benar-benar dia mati kutu. Ia menjadi gelisah dan menyesal pula telah mengirim kelompok-kelompok muridnya keluar sehingga masuk perangkap musuh.

Mendadak hatinya tergetar, cepat ia melompat turun terus berlari kembali ke hotel tadi dengan ginkang yang tinggi, sebelum masuk hotel ia sudah berseru, “Gi-cit, Gi-cin, adakah kalian melihat sesuatu?”

Akan tetapi tiada jawaban seorang pun dari dalam hotel. Cepat ia menerjang ke dalam, namun hotel itu sudah kosong, beberapa muridnya yang terluka dan terbaring di situ juga sudah menghilang entah ke mana.

Dalam keadaan demikian, betapa pun tenang dan sabarnya Ting-cing juga tak bisa menguasai perasaannya lagi. Tangan yang memegang pedang sampai gemetar.

Jika sekaligus Ting-cing dikepung berpuluh jago musuh dan dirinya pasti akan binasa, rasanya satu jari pun Ting-cing takkan gemetar. Tapi sekarang berpuluh anak murid Hing-san-pay mendadak telah lenyap begitu saja tanpa menimbulkan sesuatu suara apa pun, mau tak mau Ting-cing merasa cemas, tenggorokan serasa kering, otot tulang sekujur badan serasa lemas semua.

Namun rasa lemas begitu hanya terjadi sekejap saja, segera ia menarik napas dalam-dalam, seketika semangatnya terbangkit lagi. Ia coba periksa seluruh pelosok hotel itu, ketika sampai di pekarangan depan di bawah pohon mendadak ditemukannya sebuah sepatu. Cepat ia menjemputnya, itulah sebuah sepatu kain wanita, jelas adalah sepatu orang Hing-san-pay sendiri. Bahkan sepatu itu rasanya masih hangat-hangat, terang sepatu itu baru saja terlepas dari anak muridnya yang tertawan musuh. Anehnya jarak tempat itu tidak terlalu jauh, mengapa tiada terdengar apa-apa.

Ting-cing tenangkan diri sebisanya, lalu berseru, “Oh-ji, Koan-ji, Gi-lim, lekas kalian ke sini, lihatlah ini sepatu siapa?”

Namun di tengah malam buta itu hanya terdengar kumandang suaranya sendiri, sedikit pun tiada jawaban The Oh bertiga.

Diam-diam Ting-cing mengeluh di dalam hati, cepat ia menerjang keluar lagi dan-berteriak, “Oh-ji, Koan-ji, Gi-lim, di mana kalian berada?”

Nyata benar, bayangan ketiga murid kecil itu pun sudah lenyap. Menghadapi peristiwa luar biasa ini, dari cemas Ting-cing menjadi murka malah, ia terus melompat ke atas rumah dan berteriak sekerasnya, “Kawanan iblis Mo-kau, kalau berani keluarlah bertempur mati-matian, main sembunyi dan pura-pura seperti setan terhitung orang gagah macam apa?”

Ia mengulangi teriakannya beberapa kali, tapi sekelilingnya tetap sunyi senyap. Ia coba mencaci maki, namun di tengah kota yang berpenduduk ratusan rumah itu seperti cuma tinggal dia sendiri saja. Sebagai seorang nikoh suci, meski mencaci maki juga pakai kata-kata yang sopan, kata-kata yang kasar tidaklah diucapkannya.

Selagi kehabisan akal, tiba-tiba tergerak pikirannya, segera ia berseru lantang, “Wahai kaum iblis Mo-kau! Jika kalian tetap tidak unjuk diri, itu berarti membuktikan Tonghong Put-pay adalah kaum pengecut yang tidak tahu malu dan tidak berani menghadapi kaum cing-pay kami secara terang-terangan. Huh, Tonghong Put-pay apa? Yang benar adalah Tonghong Pit-pay. Hayo, Tonghong Pit-pay, kalau berani keluarlah menghadapi nikoh tua. Hah, dasar Pit-pay, sudah kuduga kau pasti tidak berani.”

Ia tahu segenap anggota Mo-kau paling hormat kepada kaucu mereka, sang kaucu dipuja sebagai malaikat dewata yang diagungkan. Jika nama sang kaucu dihina, maka para anggota Mo-kau pasti akan membela mati-matian nama baik kaucu mereka jika tidak mau dianggap sebagai pengkhianat.

Akal Ting-cing itu ternyata membawa hasil, lenyap suaranya tadi, mendadak dari rumah-rumah itu telah membanjir keluar tujuh orang, tanpa mengeluarkan suara serentak mereka melompat ke atas rumah sehingga Ting-cing terkepung di tengah.

Munculnya musuh-musuh itu membikin senang hati Ting-cing. Pikirnya, “Akhirnya kaum iblis kalian ini kena kumaki keluar juga. Biarpun aku harus mati juga lebih senang daripada aku kehilangan sasaran seperti dipermainkan setan.”

Ketujuh orang itu ternyata tidak membawa senjata, mulut mereka pun bungkam, mereka hanya berdiri mengelilingi Ting-cing.

“Di manakah anak murid kami? Mereka telah diculik ke mana?” bentak Ting-cing dengan gusar.

Namun ketujuh orang itu tetap bungkam.

Kedua orang yang berdiri di sebelah kirinya berusia 50-an, air muka mereka tampak kaku seperti mayat. “Baik, lihat serangan!” bentak Ting-cing sambil terus menusuk ke dada salah seorang itu.

Di tengah kepungan musuh, sudah tentu Ting-cing mengetahui serangannya sukar mencapai sasarannya. Maka tusukannya itu hanya percobaan belaka, sampai di tengah jalan segera ia menarik kembali pedangnya.

Tapi orang yang berada di depannya sungguh lihai, rupanya ia pun menduga serangan Ting-cing itu cuma percobaan saja, maka terhadap tusukan Ting-cing itu sama sekali ia tidak menggubris, tidak ambil pusing dan tidak mengelak.

Namun setiap jago silat kelas wahid, setiap gerak serangannya selalu bisa berubah, dari sungguh-sungguh bisa menjadi pura-pura, dari pura-pura mendadak bisa menjadi sungguh-sungguh pula. Maka waktu melihat sasarannya diam saja, tusukan yang mestinya akan ditarik kembali itu mendadak tidak jadi, sebaliknya ia terus mengerahkan tenaga dan ditusukkan ke depan dengan lebih cepat.

Pada saat itulah sekonyong-konyong dua sosok bayangan orang menyelinap maju, kedua tangan masing-masing sama mencengkeram ke pundak kanan-kiri Ting-cing. Cepat Ting-cing menggeser ke samping, seperti kitiran pedangnya memutar balik untuk menebas tubuh lawan yang berperawakan tinggi besar.

Dengan gesit orang itu pun melangkah mundur, dengan mengeluarkan suara nyaring ia pun sudah bersenjata sekarang, itulah sebuah perisai yang berat. Perisai itu terus dihantamkan ke batang pedang Ting-cing.

Namun pedang Ting-cing sudah keburu berputar ke arah lain, seorang kakek di sebelah kiri lantas ditusuk pula. Ternyata kakek itu tidak gentar terhadap senjata tajam, dengan sebelah tangan segera ia hendak mencengkeram pedang Ting-cing. Di bawah sinar bulan yang remang-remang terlihat tangannya, seperti memakai sarung tangan hitam, dapat diduga tentu sarung tangan yang tidak mempan senjata, makanya berani merebut pedang dengan bertangan kosong.

Dalam sekejap saja Ting-cing sudah bergebrak beberapa jurus dengan lima di antara tujuh musuh. Dirasakan semuanya adalah lawan-lawan tangguh, jika satu lawan satu atau satu lawan dua tentu Ting-cing tidak gentar, bahkan yakin bisa menang. Tapi sekarang tujuh musuh maju sekaligus dan bekerja sama dengan rapat, terpaksa Ting-cing hanya bisa bertahan saja dan sukar balas menyerang lagi.

Makin lama makin gelisah juga Ting-cing akan cara bertempur ketujuh musuh, jelas mereka menggunakan semacam barisan yang sangat rapi dan teratur. Pikirnya, “Tokoh-tokoh Mo-kau yang ternama hampir semuanya kukenal namanya, senjata dan ilmu silat yang dimainkan iblis-iblis itu cukup diketahui Ngo-gak-kiam-pay kami. Tapi ketujuh orang ini ternyata belum dikenal dan tak pernah terdengar pula nama mereka. Nyata akhir-akhir ini pengaruh Mo-kau sudah maju sepesat ini sehingga banyak jago-jago kelas tinggi yang sudi diperalat dengan merahasiakan asal usul mereka.”

Beberapa puluh jurus lagi, keadaan Ting-cing tambah payah, napasnya sudah mulai terengah-engah. Ia menduga jiwanya hari ini tentu akan melayang di kota mati Ji-pek-poh ini. Sekilas dilihatnya di atas genting rumah telah bertambah beberapa sosok bayangan orang yang mendekam di situ, jumlahnya ada belasan orang. Jelas orang-orang itu sejak tadi sudah sembunyi di situ, semula Ting-cing tidak mengetahui, tapi sesudah bertempur sekian lamanya, setelah sang dewi malam rada mendoyong ke barat, bayangan orang-orang itu makin memanjang dan akhirnya dapatlah dilihat sekarang.

Diam-diam Ting-cing mengeluh, “Celaka, tujuh orang saja aku kewalahan, apalagi di samping masih sembunyi musuh sebanyak itu. Daripada nanti tertawan musuh dan menderita siksaan, lebih baik aku membunuh diri saja. Meski agama Buddha melarang bunuh diri, tapi ini adalah bunuh diri di medan perang dan bukan aku ingin membunuh diri. Kematianku tidak perlu disayangkan, hanya saja berpuluh murid yang kubawa seluruhnya juga menjadi korban, di alam baka nanti cara bagaimana aku harus menghadapi para leluhur Hing-san-pay?”

Sesudah ambil kebulatan tekad, mendadak ia menyerang tiga kali untuk mendesak mundur musuh, habis itu cepat ia membalikkan pedang terus menikam ke ulu hati sendiri.

Ketika ujung pedang sudah hampir menancap di dada, tiba-tiba terdengar “trang” yang keras, tangan Ting-cing tergetar, pedang juga terbentur ke samping. Tertampaklah seorang laki-laki dengan pedang terhunus sudah berdiri di sebelahnya sambil berseru, “Jangan membunuh diri Ting-cing Suthay, kawan Ko-san-pay berada di sini!”

Maka terdengarlah suara beradunya senjata dengan ramai, belasan orang yang sembunyi di situ telah melompat keluar serentak dan melabrak ketujuh jago Mo-kau tadi.

Lolos dari elmaut, semangat Ting-cing lantas terbangkit, segera ia putar pedang melabrak musuh pula. Tentu saja ketujuh jago Mo-kau tidak mampu melawan kerubutan belasan jago Ko-san-pay, apalagi ditambah Ting-cing Suthay, sekali bersuit, beramai-ramai mereka lantas mengundurkan diri ke sebelah selatan.

Ting-cing bermaksud mengejar, tapi dari tempat gelap di bawah emper sana seketika senjata rahasia berhamburan ke arahnya. Teringat oleh senjata rahasia berbisa Mo-kau yang lihai dan telah melukai beberapa anak muridnya di Sian-he-nia kemarin, Ting-cing tidak berani sembrono, cepat ia putar kencang pedangnya untuk menyampuk senjata-senjata rahasia itu. Karena rintangan itu, ketujuh musuh pun sudah menghilang dalam kegelapan.

“Ban-hoa-kiam-hoat (Ilmu Pedang Berlaksa Bunga) Hing-san-pay benar-benar sangat hebat, baru hari ini kami dapat menyaksikannya!” terdengar pujian seorang di belakang Ting-cing.

Sambil memasukkan pedang ke sarungnya, perlahan-lahan Ting-cing membalik tubuh, dalam sekejap saja dari seorang tokoh bu-lim yang tangkas dan cekatan telah berubah menjadi seorang nikoh tua yang alim dan ramah. Lalu ia merangkap tangan memberi hormat sambil menyapa, “Banyak terima kasih atas bantuan Ciong-suheng.”

Ia kenal orang yang berdiri di depannya itu adalah adik seperguruan ketua Ko-san-pay, she Ciong bernama Tin dan berjuluk “Kiu-kiok-kiam” atau Pedang Bertekuk Sembilan. Julukan ini bukan menggambarkan senjata yang dia pakai adalah pedang lengkung sembilan, tapi adalah karena ilmu pedangnya banyak ragam perubahannya.

Ting-cing Suthay mengenal Ciong Tin ketika dahulu di antara Ngo-gak-kiam-pay diadakan pertemuan besar di puncak Thay-san. Selain Ciong Tin, di antara belasan orang itu ada lima orang lagi yang dikenalnya.

Begitulah Ciong Tin lantas membalas hormat, jawabnya dengan tersenyum, “Dengan sendirian Ting-cing Suthay melawan ‘Chit-sing-sucia’ dari Mo-kau dengan ilmu pedang yang mahatinggi, sungguh kami merasa amat kagum.”

Baru sekarang Ting-cing mengetahui bahwa ketujuh lawannya tadi disebut “Chit-sing-sucia” (Rasul Tujuh Bintang) segala. Agar tidak memperlihatkan pengalamannya sendiri yang cetek, maka Ting-cing tidak menegas lebih jauh, ia pikir setelah mengetahui siapa nama musuh-musuh itu, tentu kelak akan gampang mencari keterangan lagi.

Dalam pada itu orang-orang Ko-san-pay telah maju memberi hormat berturut-turut, dua orang di antaranya adalah sute Ciong Tin, selebihnya adalah angkatan muda, yaitu anak murid.

Selesai membalas hormat, lalu Ting-cing berkata, “Sungguh memalukan, perjalanan kami ke Hokkian ini bersama beberapa puluh anak murid, tapi di kota inilah mendadak puluhan anak murid itu lenyap semua. Ciong-suheng, kapan kalian sampai di sini, apakah melihat sesuatu tanda-tanda yang dapat kugunakan sebagai bahan penyelidikan?”

Ting-cing Suthay adalah suci ketua Hing-san-pay, kedudukannya tinggi, wataknya juga angkuh. Ia pikir orang-orang Ko-san-pay ini sejak tadi sudah sembunyi di situ, tapi sengaja menunggu dirinya sudah payah, sudah mau bunuh diri barulah mereka muncul membantunya. Cara demikian jelas sengaja hendak membikin malu padanya untuk kemudian memperlihatkan kebesaran Ko-san-pay mereka. Tentu saja Ting-cing kurang senang. Cuma saja berpuluh anak muridnya lenyap mendadak, persoalannya teramat gawat, terpaksa ia mencari tahu kepada mereka. Coba kalau urusannya mengenai dia sendiri, biarpun mati juga dia tidak sudi mengeluarkan kata-kata memohon kepada mereka.

Maka Ciong Tin telah menjawab dengan tersenyum, “Kawanan iblis Mo-kau memang banyak tipu muslihatnya, kedatangan mereka ini terang direncanakan lebih dulu. Mereka tahu kelihaian Suthay, maka mereka sengaja pasang perangkap untuk menjebak anak murid kalian. Tapi Suthay tidak perlu khawatir, betapa pun kurang ajarnya Mo-kau rasanya tidak berani mencelakakan jiwa para sumoay itu. Marilah kita turun ke bawah dulu untuk berunding cara-cara yang baik untuk menolongnya.”

Memangnya Ting-cing tidak mengetahui anak muridnya telah diculik ke mana, apalagi dengan tenaganya sendiri melulu juga sukar untuk menolong mereka. Terpaksa ia harus bersabar dan menerima olok-olok orang she Ciong ini. Maka ia lantas mendahului melompat ke bawah.

Menyusul Ciong Tin dan rombongannya juga melompat turun, ia mendahului jalan ke sebelah barat, katanya, “Marilah ikut padaku, Suthay.”

Kiranya yang dituju adalah Hotel Sian-an-khek-tiam, setiba di situ, Ciong Tin lantas mendorong pintu dan masuk ke dalam, katanya, “Suthay, marilah kita berunding saja di sini.”

Kedua sutenya Ciong Tin masing-masing bernama “Sin-pian” Ting Pat-kong, Si Ruyung Sakti, dan yang lain bernama “Kim-mo-say” Ko Kik-sin, Si Singa Berbulu Emas.

Mereka bertiga membawa Ting-cing ke suatu kamar yang luas dan terpajang indah. Sesudah mengambil tempat duduk masing-masing, anak muridnya menyuguhkan teh, lalu mengundurkan diri. Habis itu Ko Kik-sin lantas menutup rapat pintu kamar.

Maka Ciong Tin lantas mulai berkata, “Ting-sute dan Ko-sute sudah lama mengagumi ilmu pedang Suthay sebagai jago nomor satu dari Hing-san-pay, maka ….”

“Tidak,” sela Ting-cing sambil menggeleng. “Ilmu pedangku tidak bisa menandingi Ciangbun-sumoay, juga lebih rendah daripada Ting-yat Sumoay.”

“Ah, Suthay terlalu rendah hati saja,” ujar Ciong Tin tersenyum. “Soalnya kedua sute ingin melihat kehebatan ilmu pedang Suthay sehingga tadi terlambat memberi bantuan, padahal kami tidak punya maksud jelek, untuk mana kami minta Suthay sudi memberi maaf.”

“Ah, tak apa-apa,” sahut Ting-cing dengan membalas hormat ketika melihat mereka bertiga memberi hormat padanya, rasa dongkolnya tadi menjadi rada buyar.

Lalu Ciong Tin menyambung lagi, “Sejak Ngo-gak-kiam-pay kita berserikat, selamanya kita anggap seperti pancatunggal dan tidak membeda-bedakan situ dan sini. Cuma akhir-akhir ini kita jarang bertemu, banyak urusan penting tidak dikerjakan bersama pula sehingga membikin Mo-kau semakin ganas dan meluaskan pengaruh.”

Ting-cing mendengus, katanya di dalam hati, “Hm, ucapanmu ini bukankah ingin menyindir Hing-san-pay kami?”

Kiranya keberangkatan orang-orang Hing-san-pay ke Hokkian ini adalah di luar tahu ketua Ko-san-pay sebagai ketua perserikatan Ngo-gak-kiam-pay. Tapi hal ini pun bukan diperbuat oleh Hing-san-pay sendiri, juga Hoa-san-pay, Thay-san-pay juga melakukan hal yang serupa. Sebenarnya di kala menghadapi urusan mahapenting barulah Ngo-gak-kiam-pay perlu bergabung dan bertindak bersama, jika cuma mengenai urusan-urusan dalam golongan sendiri-sendiri memangnya tiada peraturan yang mengharuskan lapor dulu kepada Co-bengcu.

Tapi Ciong Tin lantas menambahkan pula, “Co-ciangbun sering mengatakan, bersatu teguh, berpisah lemah. Jika Ngo-gak-kiam-pay kita senantiasa bersatu padu, jangankan cuma Mo-kau, sekalipun Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay yang termasyhur sebagai aliran besar bu-lim tentu pula takkan mampu menandingi kita. Maka beliau mempunyai suatu cita-cita ingin mempersatukan Ngo-gak-kiam-pay yang mirip sepiring pasir yang tercerai-berai ini untuk digabung menjadi suatu ‘Ngo-gak-pay’ yang mahakuat. Entah bagaimana pendapat Suthay mengenai cita-cita Co-ciangbun kami ini?”

Ting-cing mengerut alis, jawabnya kemudian, “Nikoh tua seperti aku adalah orang bebas di dalam Hing-san-pay, selamanya aku tidak ikut campur urusan ke luar maupun ke dalam. Maka urusan penting yang Ciong-suheng kemukakan ini sebaiknya dibicarakan saja dengan Ciangbun-sumoay-ku. Yang paling penting sekarang adalah berdaya menyelamatkan anak murid kami yang hilang itu. Urusan yang lain-lain bolehlah dirundingkan lain hari.”

“Suthay jangan khawatir,” ujar Ciong Tin. “Sekali kejadian ini sudah kepergok Ko-san-pay, urusan Hing-san-pay adalah urusan Ko-san-pay kami pula, betapa pun kami pasti tidak membiarkan para sumoay menderita.”

“Terima kasihlah kalau begitu,” kata Ting-cing. “Tapi entah apa rencana Ciong-suheng sehingga yakin untuk berkata demikian.”

“Suthay sendiri sudah berada di sini, masakan tokoh nomor dua Hing-san-pay mesti takut kepada beberapa iblis Mo-kau? Lagi pula kami tentu juga akan membantu dengan sepenuh tenaga, jika toh masih tak bisa melayani beberapa iblis Mo-kau dari kelas rendahan, hehe, benar-benar keterlaluan, bukan?”

Karena ucapan orang pergi-datang tetap tiada sesuatu yang baru, Ting-cing sangat mendongkol dan gelisah pula. Segera ia berbangkit dan berseru, “Jika demikian ucapan Ciong-suheng, itulah bagus, marilah sekarang juga kita lantas berangkat!”

“Suthay hendak berangkat ke mana?” tanya Ciong Tin.

“Pergi menolong mereka!” sahut Ting-cing.

“Menolong mereka? Ke mana tempatnya?” tanya Ciong Tin pula.

Pertanyaan ini membikin Ting-cing tertegun bungkam. Sesudah merandek sejenak barulah ia berkata, “Anak murid kami itu belum lama hilangnya, tentu mereka masih berada di sekitar sini, semakin lama tertunda tentu akan semakin sulit diketemukan.”

“Setahuku, tidak jauh dari kota ini Mo-kau mempunyai suatu sarang persembunyian, besar kemungkinan para sumoay juga dikurung di sana, maka menurut pendapatku ….”

“Di mana letak sarang mereka itu? Marilah sekarang juga berangkat ke sana,” tukas Ting-cing cepat.

“Pihak Mo-kau terang bertindak dengan rencana yang sudah teratur, jika kita pergi begitu saja, sedikit lengah bukan mustahil kita sudah terjebak lagi sebelum kita berhasil menolong keluar orang-orang kita. Maka menurut pendapatku hendaklah kita berunding secara masak-masak barulah kita mulai bertindak.”

Terpaksa Ting-cing duduk kembali dan berkata, “Baiklah, bagaimana pendapat Ciong-suheng yang sempurna itu?”

“Kedatanganku ke Hokkian atas perintah Ciangbun-suheng sebenarnya memang ada suatu urusan penting yang harus dirundingkan dengan Suthay,” kata Ciong Tin dengan perlahan-lahan. “Urusan ini menyangkut masa depan dunia persilatan Tionggoan dan menyangkut jaya atau runtuhnya Ngo-gak-kiam-pay kita, maka bukanlah soal sepele. Jika urusan penting ini sudah ditetapkan, maka soal menolong orang segala boleh dikata sangat mudah diselesaikan.”

“Urusan penting apa yang kau maksudkan?” Ting-cing menegas.

“Yaitu seperti apa yang kukatakan, tentang penggabungan Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu aliran itu,” jawab Ciong Tin.

Serentak Ting-cing berbangkit dari tempat duduknya dengan muka merah padam, katanya, “Bukankah kau … kau ….”

“Harap Suthay jangan salah paham dan anggap Cayhe mendesak orang di saat kepepet serta memaksa Suthay menyanggupi urusan ini,” kata Ciong Tin dengan tersenyum.

“Bagus, jadi kau sudah bicara sendiri dan tidak perlu kukatakan lagi,” sahut Ting-cing dengan gusar. “Apa namanya perbuatanmu ini jika bukan mendesak orang di kala aku sedang kepepet?”

“Hing-san-pay bukan Ko-san-pay, begitu pula sebaliknya, urusan Hing-san-pay kalian sudah tentu mendapat perhatian kami, tapi soalnya mengenai adu senjata dan adu nyawa, sekalipun Cayhe bersedia bantu Suthay, tapi belum diketahui bagaimana pikiran para sute dan sutit, apakah mereka pun sudi berkorban bagimu? Namun bila kedua aliran sudah tergabung menjadi satu, maka urusanmu adalah urusanku pula, betapa pun harus dikerjakan sepenuh tenaga.”

“Jadi tegasnya kalau Hing-san-pay kami tidak mau bergabung dengan Ko-san-pay kalian, maka terhadap hilangnya anak murid kami yang diculik Mo-kau itu kalian tidak mau ikut campur?” Ting-cing menegas.

“Juga tak bisa dikatakan begitu,” sahut Ciong Tin. “Cayhe hanya diperintahkan Ciangbun-suheng untuk berunding urusan penting tadi dengan Suthay, mengenai urusan lain, sebelum mendapat perintah Ciangbun-suheng terpaksa Cayhe tidak berani sembarangan bertindak, untuk ini harap Suthay jangan marah.”

Saking gusarnya muka Ting-cing sampai pucat, katanya dengan mendengus, “Hm, urusan penggabungan kedua aliran, nikoh tua tidak bisa memberi keputusan. Sekalipun aku menyanggupi, percuma juga kalau nanti Ciangbun-sumoay kami menolak.”

Ciong Tin menggeser kursinya lebih dekat, lalu bicara setengah berbisik, “Asalkan Suthay sudah menyanggupi, sampai waktunya nanti mau tak mau Ting-sian Suthay pasti akan terima juga. Biasanya, setiap ciangbun (ketua) dari satu aliran atau golongan selalu dijabat oleh murid tertua. Bicara tentang luhur budi, tentang ilmu silat, tentang tingkatan, seharusnya Suthay sendirilah yang mesti mengetuai Hing-san-pay ….”

“Brak”, mendadak Ting-cing menggebrak meja sehingga ujung meja sempal seketika. Selanya dengan suara bengis, “Apakah kau sengaja hendak memecah belah? Diangkatnya sumoayku menjadi ketua justru adalah atas usulku kepada mendiang guruku. Jika aku mau menjadi ketua tentu sudah jadi waktu dahulu dan tidak perlu orang luar ikut-ikut mengusik seperti kau sekarang?”

“Ai, apa yang dikatakan Ciangbun-suheng memang tidak salah,” tiba-tiba Ciong Tin berkata sambil menghela napas.

“Apa yang dia katakan?” hardik Ting-cing.

“Sebelum aku berangkat ke selatan sini Ciangbun-suheng memang sudah berkata kepadaku bahwa perangai Ting-cing Suthay dari Hing-san-pay memang baik, ilmu silatnya juga sangat tinggi, hanya saja kurang bijaksana. Aku telah tanya beliau mengapa Suthay dikatakan kurang bijaksana. Beliau mengatakan cukup mengenal pribadi Suthay yang suka kepada ketenteraman, tidak suka nama kosong, juga tidak suka ikut campur urusan sehari-hari. Jika soal penggabungan kedua aliran dibicarakan kepada Suthay tentu akan sia-sia belaka. Namun karena soalnya sangat penting, biarpun tahu akan gagal toh tetap kubicarakan dengan Suthay. Jika Suthay tetap tidak menghiraukan keselamatan beribu-ribu anggota cing-pay kita, maka apa mau dikata lagi, terpaksa kita anggap saja hal itu sudah takdir Ilahi yang tak terelakkan lagi.”

Mendadak Ting-cing berbangkit dan berkata, “Percuma saja biarpun kau putar lidah dengan macam-macam obrolanmu. Perbuatan Ko-san-pay kalian ini bukan saja mendesak orang di kala orang sedang kepepet, bahkan boleh dikatakan orang kejeblos ke dalam sumur malah kau timpa batu pula.”

“Salahlah ucapan Suthay,” bantah Ciong Tin. “Bila Suthay mau terima ajakan kami, kemudian membujuk lagi pihak Thay-san-pay, Hoa-san-pay, dan ….”

“Sudahlah, tidak perlu kau teruskan, hanya bikin kotor telingaku saja,” seru Ting-cing sambil goyang-goyang kedua tangan. Mendadak ia memukul, “blang”, daun pintu terpentang seketika, secepat terbang ia melayang ke luar, dengan langkah cepat ia lantas meninggalkan hotel itu.

Setiba di luar, Ting-cing merasa mukanya yang panas tadi menjadi segar terembus angin malam yang silir. Pikirnya, “Orang she Ciong itu mengatakan Mo-kau mempunyai sarang tidak jauh dari Ji-pek-poh ini. Entah ucapannya itu betul atau bohong?”

Di tengah malam sunyi itulah ia berjalan sendirian sambil termenung-menung. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, pikirnya pula, “Ya, hanya tenagaku sendiri betapa pun tidak mampu menolong berpuluh anak murid itu. Apa jeleknya jika untuk sementara aku menyanggupi permintaan orang she Ciong itu. Nanti kalau para murid sudah diselamatkan segera aku akan membunuh diri untuk menebus kesalahanku, dengan demikian Ko-san-pay akan tertipu dan tidak punya saksi hidup lagi. Seumpama dia menuduh aku ingkar janji, maka biarlah semua kejelekan akulah yang pikul sendiri.”

Begitulah ia menghela napas panjang, lalu putar balik menuju ke Sian-an-khek-tiam lagi.

Pada saat itulah mendadak di ujung jalan besar sana ada suara seorang laki-laki sedang membentak, “Hei, pelayan, lekas buka pintu, jenderalmu sudah kecapekan dalam perjalanan, sekarang ingin bermalam dan minum arak.”

Dari suaranya Ting-cing lantas tahu orang itu adalah Go Thian-tik, itu komandan militer Kota Coanciu yang diketemukan di Sian-he-nia kemarin. Seketika Ting-cing seperti seorang yang hampir mati tenggelam mendadak mendapatkan suatu benda pegangan. Sungguh girangnya tak terkatakan.

Pendatang itu memang betul Lenghou Tiong adanya. Di Bukit Sian-he-nia kemarin dia telah membantu Gi-lim, hatinya sangat senang, bahkan Gi-lim tidak mengenali dia, ia menjadi tambah ria. Walaupun gojekan semalaman, ia tidak merasakan letih, segera ia melanjutkan perjalanan dan sampailah di Ji-pek-poh paginya.

Kebetulan toko-toko sudah sama membuka pintu, segera ia memasuki sebuah restoran dan berteriak, “Sediakan arak!”

Melihat tamunya adalah seorang jenderal, sudah tentu si pelayan tidak berani ayal, cepat membawakan arak dan menyiapkan daharan dan meladeni dengan sangat hormat.

Memangnya Lenghou Tiong sudah ketagihan arak, ia lantas minum sepuas-puasnya sehingga rada-rada mabuk. Ia pikir sesudah mengalami kegagalan serangannya kali ini, tentu pihak Mo-kau akan mencari perkara lagi kepada Hing-san-pay. Ting-cing Suthay itu kelihatannya cuma tangkas saja tanpa akal, tentu bukan lawan Mo-kau, maka aku harus melindungi mereka secara diam-diam.

Begitulah habis makan dan membereskan rekening, lalu ia mencari kamar ke Hotel Sian-an-khek-tiam untuk tidur. Sampai petangnya, baru saja bangun dan selesai cuci muka, tiba-tiba terdengar ramai-ramai di luar.

Dalam sekejap saja terdengar suara bentakan berjangkit di sana-sini, ada orang berteriak-teriak pula, “Kawanan bandit dari Loan-ciok-kang malam ini akan datang merampok Ji-pek-poh ini, setiap orang yang diketemukan akan dibunuh, harta benda yang dilihat akan dirampas, lekaslah lari menyelamatkan diri!”

Sekejap kemudian datanglah si pelayan menggedor pintu kamarnya sambil berteriak-teriak, “Tuan komandan! Kawanan bandit Loan-ciok-kang malam ini akan menggerayangi kota, setiap orang sekarang lagi kabur menyelamatkan diri.”

Lenghou Tiong membuka pintu kamar dan memaki, “Nenekmu, ada apa ribut-ribut?”

Maka pelayan lantas mengulangi lagi seruannya tadi.

“Nenekmu, siang hari bolong di mana ada bandit? Ada jenderalmu di sini, mereka berani main gila?” Lenghou Tiong memaki pula.

“Tapi … tapi gerombolan itu teramat jahat, mereka juga … juga tidak tahu beradanya engkau di sini,” sahut pelayan dengan sedih.

“Boleh kau beri tahukan kepada mereka,” ujar Lenghou Tiong.

“Wah, mana hamba be … rani, bisa-bisa buah kepalaku akan dipotong oleh mereka,” sahut si pelayan dengan takut.

“Di mana letak Loan-ciok-kang itu?” tanya Lenghou Tiong.

“Kira-kira dua ratusan li dari sini,” tutur si pelayan. “Dua tahun yang lalu kota ini pernah dirampok bersih, berpuluh orang menjadi korban, puluhan rumah dibakar, sungguh menyedihkan. Meski kepandaian Jenderal cukup tinggi, tetapi sendirian sukar melawan jumlah banyak, selain pemimpin-pemimpin kaum bandit yang jahat itu, anak buahnya paling sedikit juga ada tiga ratus orang lebih.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: