Hina Kelana: Bab 78. Orang Hing-san-pay Masuk Perangkap Musuh

Ting-cing coba tenangkan diri, ia merasa musuh yang menjaga di atas itu ilmu silatnya lebih lemah dan lebih mudah dilayani. Maka cepat ia menerjang ke atas lagi dengan melompati murid-murid Hing-san-pay.

Ketika Lenghou Tiong dilompati pula, ia lantas berteriak-teriak, “Ai, macam apa ini? Memangnya lompat tinggi atau lompat jauh? Sudah tua begini masih suka main-main lompat segala? Kepalaku kau lompati ke sana ke sini, sungguh sial, kalau judi tentu kalah!”

Lantaran ingin buru-buru menerjang musuh, maka Ting-cing tidak memerhatikan apa yang diucapkannya. Sebaliknya Gi-lim lantas berkata kepadanya, “Maaf, Supek kami tidak sengaja melompati kau!”

Tapi Lenghou Tiong pura-pura masih mengomel, “Sudah sejak tadi aku bilang di sini banyak pencoleng, tapi kalian tidak mau percaya.”

Dalam hati ia pun merasa tidak terduga bahwa di bawah bukit itu ternyata ada sembunyi orang-orang Mo-kau pula. Tergencet di tengah jalan sedemikian sempit, biarpun berjumlah banyak juga terpaksa orang-orang Hing-san-pay tidak mampu berkutik, untuk membantu mereka dirasakan serbasusah juga.

Waktu Ting-cing hampir tiba di atas bukit lagi, sekonyong-konyong bayangan toya berkelebat, sebatang pentung padri telah mengemplang ke atas kepalanya. Kiranya musuh telah siap di situ pula dengan jago pilihan.

Diam-diam Ting-cing gelisah, ia pikir kalau rintangan ini tidak bisa dibobolkan, besar kemungkinan anak murid Hing-san-pay yang dipimpinnya ini akan musnah seluruhnya di bukit ini.

Cepat ia mengegos, pedangnya menusuk dari samping, dari jarak beberapa senti saja jauhnya ia berhasil menghindarkan diri dari hantaman pentung musuh. Berbareng itu ia sudah menubruk maju bersama pedangnya terus menusuk musuh bersenjata pentung, yaitu seorang thauto (hwesio berambut) besar gemuk.

Serangan Ting-cing ini boleh dikata sangat bahaya, tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri, jika perlu gugur bersama musuh. Karena tidak terduga-duga akan kenekatan Ting-cing, thauto itu menjadi tidak keburu menarik kembali pentungnya untuk menangkis. “Cret”, tusukan pedang itu tepat menancap di bawah iganya.

Thauto itu benar-benar sangat tangkas dan kuat, meski terluka parah ia masih berteriak sembari menghantam sehingga pedang Ting-cing terpukul patah menjadi dua, sudah tentu kepalanya juga berlumuran darah.

“Lekas, berikan pedangmu!” seru Ting-cing.

Secepat terbang Gi-ho melompat ke atas sembari mengangsurkan pedangnya dan berseru, “Ini, Supek!”

Baru saja Ting-cing putar tubuh hendak memegang pedang itu, sekonyong-konyong dari sebelah sebuah tombak menyerang ke arah Gi-ho, tombak yang lain terus menusuk pula ke pinggang Ting-cing Suthay.

Terpaksa Gi-ho menarik kembali pedangnya untuk menangkis. Tapi orang bertombak itu lantas menyerang lebih gencar sehingga Gi-ho didesak mundur ke bawah lagi. Maka gagallah usahanya mengangsurkan pedangnya kepada Ting-cing.

Menyusul dari sana menubruk maju lagi tiga orang. Dua orang bergolok, seorang pakai sepasang boan-koan-pit, Ting-cing lantas terkepung di tengah. Namun sedikit pun nikoh tua itu tidak gentar, dengan bertangan kosong ia keluarkan “Thian-tiang-ciang-hoat” yang lihai dari Hing-san-pay, ia layani empat senjata musuh dengan sama lihainya.

“Ai, bagaimana baiknya ini?” demikian seru Gi-lim perlahan karena khawatir.

Segera Lenghou Tiong berteriak, “He, kawanan berandal kurang ajar! Minggir, minggir, biar aku lewat ke sana untuk membekuk berandal-berandal itu.”

“Eh, jangan, mereka bukan berandal biasa, tapi adalah jago silat semua, begitu maju tentu kau akan dibunuh mereka,” cegah Gi-lim.

Tapi Lenghou Tiong lantas membusungkan dada dan berkata, “Sungguh terlalu kawanan bandit ini, apa mereka tidak kenal undang-undang kerajaan?”

Habis itu ia lantas melangkah maju dan mendesak lewat di samping murid-murid wanita Hing-san-pay itu. Terpaksa murid-murid itu menempel rapat di dinding untuk memberi jalan padanya.

Setiba di atas bukit, segera Lenghou Tiong bermaksud melolos goloknya, tapi sudah ditarik-tarik sekian lamanya golok tidak tertarik keluar. Ia pura-pura memaki, “Neneknya, golok ini juga main gila padaku. Pada detik segawat ini mengapa dia berkarat di dalam sarungnya dan tidak mau keluar!”

Gi-ho yang sedang bertempur sengit melawan dua anggota Mo-kau dapat mendengar omelan Lenghou Tiong di belakangnya itu, ia menjadi dongkol dan geli pula, segera ia berteriak, “Lekas kau menyingkir, di sini terlalu bahaya bagimu!”

Karena berbicara, sedikit meleng saja tombak musuh telah menusuk ke pundaknya dan hampir saja terluka. Lekas-lekas Gi-ho melompat mundur, sudah tentu lawannya lantas memburu maju.

Lenghou Tiong lantas berteriak-teriak, “Wah, wah! Apa macam ini? Berandal kurang ajar, apa kalian tidak melihat jenderalmu berada di sini?”

Sekali menyelinap, tahu-tahu ia telah mengadang di depan Gi-ho.

Musuh yang bertombak itu menjadi melengak ketika mendadak muncul seorang perwira tentara di hadapannya. Saat itu cuaca sudah mulai remang-remang sehingga dapat terlihat jelas dandanan Lenghou Tiong yang terang adalah perwira tinggi kerajaan. Maka tombak orang itu tidak jadi ditusukkan terus, hanya diacungkan ke dada Lenghou Tiong sambil membentak, “Siapa kau? Apakah orang yang berkaok-kaok di bawah tadi adalah pembesar anjing kau ini?”

“Nenekmu, kau sebut aku pembesar anjing? Kau sendirilah berandal anjing!” balas Lenghou Tiong dengan lagak tuan besar. “Kalian berani merampok di sini, aku sudah datang masih juga kalian tidak lekas kabur, sungguh besar amat nyali kalian! Nanti kalau jenderalmu ini sudah bekuk batang leher kalian dan dimasukkan penjara baru kalian tahu rasa.”

Dia sengaja mengoceh tak keruan, sebaliknya murid-murid Hing-san-pay yang berada di belakangnya sama geleng-geleng kepala.

Sekilas Lenghou Tiong melihat Ting-cing Suthay belum ada tanda-tanda akan kalah, kawanan Mo-kau juga tidak menghujani senjata rahasia lagi ke bawah, maka ia lantas membentak, “Bandit kurang ajar, mengapa kalian tidak lekas berlutut dan menyembah minta ampun padaku? Memangnya kalian ingin kupenggal kepala kalian satu per satu ….”

Mendengar ucapan itu, murid-murid Hing-san-pay sama mengerut kening dan berkata di dalam hati, “Orang gila!”

Gi-ho lantas melangkah maju dengan pedang terhunus, ia siap melindungi Lenghou Tiong jika musuh mulai menyerangnya.

Lenghou Tiong pura-pura tarik-tarik goloknya lagi sekuat tenaga dan tetap tak terlolos dari sarungnya, kembali ia mengumpat, “Neneknya, di garis depan golok pusaka ini justru berkarat. Hm, jika golok ini tidak berkarat, biarpun seribu kepala kawanan berandal macam kalian juga sudah kupenggal.”

Musuh bersenjata tombak itu terbahak-bahak geli, lalu membentak, “Persetan kau!”

Berbareng itu batang tombaknya terus digunakan menyabet pinggang Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong menjerit takut sembari menarik goloknya sekuat tenaga sehingga golok itu terbetot berikut sarungnya, lalu tubuhnya menyelonong ke depan pura-pura terbanting jatuh.

“Hati-hati!” seru Gi-ho.

Tapi di waktu terbanting jatuh tadi Lenghou Tiong sudah menggunakan satu jurus dari “Tokko-kiu-kiam”, ujung sarung goloknya dengan tepat menutuk hiat-to penting di pinggang musuh bertombak. Tanpa berkutik sedikit pun musuh itu lantas menggeletak tak berkutik lagi.

Sesudah “bluk” terbanting jatuh, seperti orang kelabakan, lekas-lekas Lenghou Tiong merangkak bangun. Lalu ia pura-pura heran, “He? Aha, kau juga terguling! Kita menjadi seri, marilah kita coba-coba lagi.”

Gi-ho cukup cerdik dan cekatan, tanpa disuruh ia terus cengkeram laki-laki itu dan dilemparkan ke belakang. Ia pikir dengan seorang tawanan tentu urusan akan lebih mudah diselesaikan.

Dalam pada itu dari pihak Mo-kau telah menerjang maju lagi tiga orang dengan maksud hendak menolong kawan mereka.

Lenghou Tiong berteriak pula, “Aha, kawanan berandal benar-benar kurang ajar!”

Segera goloknya memukul ke kanan dan menyabet ke kiri, caranya sama sekali tidak teratur.

Memang Tokko-kiu-kiam yang ajaib itu tidak punya jurus serangan tertentu, apakah dimainkan dengan indah atau dimainkan secara bodoh tiada beda daya gempurnya dan sama-sama dapat mengalahkan musuh dengan ajaib. Sebab titik pokoknya adalah terletak pada tujuannya dan bukan gayanya.

Langkah Lenghou Tiong tertampak sempoyongan kian-kemari, goloknya yang masih berselubung sarung itu diputarnya serabutan tak keruan. Tiba-tiba ia seperti kesandung dan menubruk ke arah seorang anggota Mo-kau. “Bluk”, kebetulan ujung sarung golok tepat mengenai pula “ki-hay-hiat” di bagian perut orang itu. Orang itu cuma sempat menarik napas panjang-panjang, lalu jatuh terkapar.

Sambil menjerit kaget, Lenghou Tiong melompat mundur, tahu-tahu gagang goloknya membentur pula “sin-tong-hiat” di bagian punggung seorang lawan. Kontan orang itu terguling.

Mendadak kaki Lenghou Tiong seperti kesandung badan musuh yang terguling itu. Ia memaki, “Nenekmu!”

Tapi tubuhnya lantas terhuyung-huyung ke depan dan kembali sarung goloknya tepat mengarah di atas tubuh seorang Mo-kau bergolok.

Orang ini adalah satu di antara jago pilihan yang mengeroyok Ting-cing Suthay. Lantaran punggungnya tertumbuk, golok yang dia pegang lantas mencelat dari cekalan. Kesempatan itu tidak diabaikan Ting-cing, kontan ia melancarkan pukulannya di dada musuh. Tanpa ampun lagi orang itu muntah darah dan tampaknya jiwanya tak tertolong lagi.

“Eh, awas, awas!” demikian Lenghou Tiong berkaok-kaok sambil mundur-mundur beberapa tindak ke arah musuh yang pakai senjata boan-koan-pit.

Tanpa pikir orang itu lantas menutuk “sin-tong-hiat” di punggung Lenghou Tiong dengan senjata pensilnya. Namun Lenghou Tiong sempat menggeliat dan menyelonong ke depan lagi, di mana ujung sarung goloknya membentur, kembali dua anggota Mo-kau kena dirobohkan lagi.

Musuh bersenjata boan-koan-pit itu sangat gesit, secepat terbang ia lantas menubruk maju. Lenghou Tiong menjerit, “Tolooong!” sambil terus lari ke depan. Sudah tentu orang itu lantas mengejar.

Di luar dugaan mendadak Lenghou Tiong menghentikan langkah dan berdiri tegak, gagang goloknya menongol ke belakang melalui bawah ketiak. Karena tidak pernah menduga Lenghou Tiong akan berhenti mendadak, keruan musuh yang mengejar itu menjadi kelabakan, betapa pun tinggi ilmu silatnya juga tidak sempat untuk ganti haluan lagi, saling nafsunya dia mengudak sehingga “tong-kok-hiat” di antara dada dan perutnya seperti sengaja ditumbukkan sendiri ke gagang golok Lenghou Tiong. Air muka orang itu memperlihatkan sikap yang sangat aneh, seakan-akan terhadap apa yang terjadi sekali-kali tidak mau percaya. Namun perlahan-lahan badannya lantas terkulai lemas.

Kemudian Lenghou Tiong baru memutar tubuh, dilihatnya pertempuran di atas bukit sudah berakhir, sebagian murid-murid Hing-san-pay sudah naik ke situ dan sedang berdiri berhadapan dengan kawanan Mo-kau, teman-temannya berturut-turut juga sedang naik ke atas bukit dengan cepat.

Lenghou Tiong lantas berteriak-teriak pula, “He, kawanan bandit kurang ajar, melihat sang jenderal di sini mengapa kalian tidak takluk dan menyembah minta ampun padaku? Apa kalian minta mampus semua!”

Habis itu dengan memutar goloknya yang bersarung itu ia terus menyerbu ke tengah-tengah gerombolan Mo-kau.

Karena tidak kenal asal usulnya, anggota-anggota Mo-kau itu tidak berani sembrono, beramai-ramai senjata mereka memapak terjangan Lenghou Tiong.

Murid-murid Hing-san-pay segera bermaksud maju untuk membantu, tapi kelihatan Lenghou Tiong sudah berlari ke luar dari gerombolan musuh sambil berteriak-teriak, “Wah, lihai amat kawanan bandit kurang ajar ini!”

Lenghou Tiong berlari dengan langkah yang berat dan setengah diseret, sedikit ayal mendadak ia jatuh terbanting, goloknya yang bersarung itu terpental balik dan tepat mengetok keningnya, seketika ia jatuh kelengar. Tapi dalam serbuannya ke tengah gerombolan Mo-kau itu ternyata ada lima jago musuh yang telah digulingkan lagi.

Habis serbu musuh mendadak jatuh sendiri tak sadarkan diri, keruan hal ini membuat kedua pihak sama-sama tertegun heran.

Cepat Gi-ho dan Gi-jing memburu maju sambil berseru, “Kenapa kau, Jenderal?”

Tapi Lenghou Tiong memejamkan mata dengan rapat dan pura-pura tidak sadar.

Seorang tua yang menjadi pemimpin gerombolan Mo-kau mau tak mau harus berpikir dulu sebelum bertindak lagi. Hanya dalam sekejap saja pihaknya sudah mati seorang, bahkan ada sebelas orang yang ditutuk roboh secara aneh oleh perwira sinting itu. Baru saja perwira itu pun menyerbu ke tengah barisannya, ketika dia menyerang dua kali dan bermaksud menangkapnya tapi gagal, bahkan hiat-to sendiri yang penting hampir-hampir tertutuk oleh sarung goloknya.

Nyata benar betapa tinggi ilmu silat “perwira sinting” benar-benar sukar diukur. Apalagi pihak sendiri sudah tertutuk roboh sebelas orang, lima orang di antaranya kena ditawan pula oleh Hing-san-pay, jelas urusan hari ini tidaklah menguntungkan.

Maka dengan suara lantang orang tua itu lantas berkata, “Ting-cing Suthay, orang-orangmu yang terkena senjata rahasia itu perlu obat pemunah racun tidak?”

Melihat di pihak sendiri juga ada beberapa orang yang tak sadarkan diri karena terkena senjata rahasia berbisa musuh, maka tahulah Ting-cing Suthay akan maksud lawan, ia lantas menjawab, “Berikan obat pemunah untuk tukar orang!”

Orang itu manggut-manggut, lalu bisik-bisik bicara dengan seorang anak buahnya, kemudian majulah anak buahnya itu dengan membawa sebuah botol porselen kecil ke hadapan Ting-cing Suthay dengan hormat.

Ting-cing terima botol obat itu, lalu berkata dengan suara tegas, “Jika obat pemunahnya manjur betul tentu akan kubebaskan orang-orangmu.”

“Baik,” sahut orang itu. “Ting-cing Suthay dari Hing-san-pay tentu bukan seorang yang suka menjilat kembali ludahnya sendiri.”

Habis itu ia lantas memberi tanda, dua anak buahnya lantas berlari maju untuk menggotong mayat kawan mereka yang sudah mati, dua orang lagi mendekati orang bersenjata boan-koan-pit tadi untuk memayangnya. Lalu mereka turun ke bawah bukit dari sebelah barat. Dalam sekejap saja mereka sudah menghilang.

Perlahan-lahan Lenghou Tiong pura-pura siuman sambil merintih, “Aduh, sakit benar!”

Diraba-rabanya dahi sendiri yang benjut itu. Lalu menyambung, “He, ke mana kawanan berandal itu? Ke mana mereka?”

Gi-ho mengikik geli, sahutnya, “Jenderal benar-benar sangat aneh bin lucu, untung tadi kau menyerbu ke tengah musuh dan menyerang mereka serabutan, ternyata kawanan berandal itu dapat kau halau lari.”

“Hahahaha! Bagus, bagus! Sekali jenderalmu maju, seketika kawanan berandal kabur semua,” demikian ia berkaok dengan tepuk-tepuk dada. Tapi mendadak ia memegang dahi sambil menjerit, “Aduh ….”

“Apakah lukamu sakit, Jenderal?” tanya Gi-ho. “Ini, kami ada obat luka.”

“O, tidak apa-apa, aku hanya-pusing kepala!” sahut Lenghou Tiong dengan menyengir.

Ting-cing Suthay menyerahkan obat pemunah kepada seorang muridnya dan menyuruhnya mengobati kawan-kawan yang terluka. Lalu ia mendekati Lenghou Tiong dan memberi hormat, katanya, “Nikoh tua Ting-cing dari Hing-san mohon tanya siapakah nama Siauhiap (pendekar muda) yang mulia?”

Hati Lenghou Tiong terkesiap dan diam-diam mengakui tokoh Hing-san-pay itu benar-benar bermata tajam karena dapat mengetahui usianya yang masih muda, bahkan tahu dia adalah jenderal gadungan. Maka cepat ia membalas hormat dan menjawab, “Hormatku Suthay. Jenderal she Go bernama Thian-tik, jabatanku adalah panglima militer daerah kota besar Coanciu, sekarang juga aku akan menuju ke tempat jabatanku itu.”

Sudah tentu Ting-cing merasa sangsi, sudah jelas orang ini memiliki ilmu silat mahatinggi, tidak nanti sudi menjadi kaki tangan kerajaan. Tapi dengan jawabannya itu jelas dia tidak mau mengaku terus terang asal usulnya. Padahal Hing-san-pay telah utang budi padanya, entah bagaimana cara membalasnya kelak. Katanya kemudian, “Kiranya Ciangkun (jenderal) adalah seorang tokoh yang tirakat dalam jabatan resmi. Ilmu silat Ciangkun sukar diukur, meski nikoh tua sudah berpengalaman, tapi sedikit pun tidak dapat menerka asal usul perguruanmu, sungguh aku sangat kagum.”

Lenghou Tiong bergelak tertawa, katanya, “Sesungguhnya ilmu silatku memang sangat lihai. Banyak terima kasih atas pujianmu. Harap kau berdoa saja agar aku lekas naik pangkat dan banyak rezeki, setiap kali judi pasti menang, istri muda tambah sepuluh lagi, putra-putri berbaris seperti antre. Hahahahahaha!”

Di tengah suara gelak tawanya itulah ia lantas melangkah pergi.

Melihat kelakuan Lenghou Tiong yang sinting itu, anak murid Hing-san-pay lantas mengelilingi Ting-cing Suthay, dan tanya beramai-ramai, “Supek, orang macam apakah dia itu?”

“Dia benar-benar sinting atau pura-pura saja?”

Ting-cing hanya menghela napas dan tidak menjawab. Ia coba memandang anak murid yang terluka itu, ternyata keadaan mereka sudah tidak berbahaya setelah dibubuhi obat pemunah dari Mo-kau tadi. Untuk penyembuhan selanjutnya Hing-san-pay sendiri juga punya obat luka yang manjur. Maka ia lantas membuka hiat-to kelima anggota Mo-kau yang tertutuk itu dan menyuruhnya pergi.

Kemudian ia memerintahkan rombongannya mengaso dulu di bawah pohon. Ia sendiri duduk di atas batu dan merenungkan kejadian tadi. Ia masih ingat ketika Lenghou Tiong menerjang ke tengah musuh, orang tua pimpinan Mo-kau itu telah menyerangnya, tapi dalam sekejap saja Lenghou Tiong masih mampu merobohkan lima orang lawan, jurus yang dipakai tiada sedikit pun memperlihatkan gaya perguruannya yang sebenarnya. Di dunia persilatan sekarang ternyata ada jago muda selihai ini, sepantasnya dia anak murid orang kosen yang mana? Jago sehebat ini ternyata adalah kawan dan bukan lawan, sungguh harus bersyukur bagi Hing-san-pay. Demikian pikirnya.

Selang sejenak, ia suruh muridnya mengeluarkan alat tulis dan sehelai sutra tipis, ia menulis sebuah surat, lalu berkata, “Gi-cit, ambilkan merpati pos!”

Gi-cit adalah murid Ting-cing sendiri, sambil mengiakan segera ia mengeluarkan seekor merpati pos putih dari sebuah sangkar bambu yang digendongnya.

Ting-cing melipat sutra tipis itu menjadi suatu pulungan kecil, lalu dimasukkan ke dalam sebuah bumbung bambu yang amat kecil pula, diberi tutup, lalu lak. Kemudian diikat dengan benang di kaki kiri merpati. Dalam hati ia berdoa semoga merpati itu mencapai tempat tujuannya dengan selamat. Habis itu ia mengaburkan merpati itu ke udara. Makin lama makin tinggi terbang merpati itu dan akhirnya menghilang dari pandangan.

Dari menulis surat sampai melepaskan merpati, setiap gerakan Ting-cing Suthay dilakukan dengan sangat lamban, berbeda sama sekali daripada ketangkasannya melabrak musuh tadi. Dengan menengadah ia mengikuti terbang merpati pos itu sampai burung itu menghilang. Selama itu anak murid Hing-san-pay tiada seorang pun berani bersuara, mereka tahu pertempuran tadi sesungguhnya sangat berbahaya meski beruntung mendapat bantuan seorang perwira yang sinting dan lucu. Tentu Ting-cing Suthay telah menguraikan peristiwa tadi dalam suratnya untuk dilaporkan kepada Ciangbunjin Hing-san-pay mereka, yaitu Ting-sian Suthay.

Selang agak lama, tiba-tiba Ting-cing menggapai kepada seorang nona cilik berumur 15-16 tahun. Dara cilik itu berbangkit dan mendekatnya sembari menyapa, “Suhu!”

Perlahan-lahan Ting-cing membelai rambut anak dara itu dan bertanya, “Anak Koan, tadi kau takut tidak?”

Nona cilik itu manggut, jawabnya, “Takut. Untung jenderal itu sangat gagah berani sehingga kawanan penjahat dapat dihalau lari.”

Ting-cing tersenyum, katanya, “Jenderal itu bukannya gagah berani, tapi ilmu silatnya memang sangat bagus.”

“Kau katakan ilmu silatnya sangat bagus, Suhu?” nona itu menegas. “Tapi kulihat serangannya tak keruan macam, malahan jidatnya sendiri terketok golok, bahkan goloknya berkarat di dalam sarungnya dan tak bisa dilorot keluar.”

Melihat Ting-cing Suthay bercakap dengan sumoay kecil mereka, beramai-ramai anak murid Hing-san-pay yang lain juga lantas merubung maju.

Kiranya nona cilik itu bernama Cin Koan, dia adalah murid Ting-cing yang paling kecil, pintar dan cerdik, maka sangat disayang oleh sang guru.

Anak murid Hing-san-pay enam bagian adalah nikoh, empat bagian lain adalah murid preman, ada wanita setengah umur yang sudah menikah, ada pula nenek-nenek yang sudah lanjut usia. Cin Koan adalah murid Hing-san-pay yang paling muda.

Begitulah Gi-ho lantas ikut bicara, “Kau bilang serangannya tak keruan, kukira ia sengaja pura-pura saja. Ia dapat mengelabui orang dengan ilmu silatnya yang tinggi, itu namanya orang pintar. Supek, apakah engkau dapat menerka jenderal itu berasal dari aliran dan golongan mana?”

Perlahan-lahan Ting-cing menggeleng, sahutnya, “Jika aku bisa menerkanya sedikit saja tentu aku tidak perlu merasa khawatir lagi. Ilmu silat orang itu hanya dilukiskan dengan kata-kata ’sukar diukur’, selebihnya aku sendiri tidak tahu.”

Cin Koan menarik-narik lengan bajunya dan bertanya pula, “Suhu, apa sih yang kau khawatirkan? Bukankah jenderal itu sudah membantu kita menghalau musuh?”

“Bukan begitulah soalnya,” tutur Ting-cing. “Jika musuh menghadapi kita secara terang-terangan, maka setitik pun kita takkan takut sekalipun kita akan terbunuh jika kalah. Tapi sekarang kita seakan-akan diselubungi selapis kain, kita seperti orang buta yang tidak tahu apa yang sedang kita hadapi, entah langkah selanjutnya adalah tanah datar atau jurang, coba bayangkan, mengkhawatirkan atau tidak?”

Cin Koan manggut-manggut, tanyanya pula, “Surat Suhu tadi ditujukan kepada Ciangbun-susiok bukan? Apakah bisa segera sampai?”

“Burung merpati itu akan menuju ke Pek-in-am di Sohciu untuk diganti merpati yang lain, dari Pek-in-am ke Biau-siang-am di Celam adalah satu pos lagi, kemudian satu pos lagi di Jing-cing-am di Lau-ho-kau, jadi berturut-turut disambung oleh empat merpati, akhirnya tentu akan mencapai Hing-san.”

“Syukur rombongan kita tidak ada korban jiwa, beberapa suci dan sumoay yang terluka itu satu-dua hari lagi juga akan sembuh,” ujar Gi-ho.

Ting-cing Suthay seperti tidak menghiraukan ucapan Gi-ho itu, ia menengadah dan termangu-mangu, tiba-tiba ia berseru kepada Gi-lim yang berdiri di luar kerumun orang banyak sana, “Gi-lim, kau pernah bilang ilmu silat Lenghou Tiong jauh di bawah Dian Pek-kong, beberapa kali dia dikalahkan, betul tidak?”

Gi-lim tampak melengak, kedua pipinya perlahan-lahan bersemu merah. Sungguh aneh, setiap kali orang menyebut namanya Lenghou Tiong tentu hatinya lantas berdebar seakan-akan sesuatu perbuatannya yang salah telah diketahui orang. Tapi di dalam lubuk hatinya juga lantas merasa senang dan bahagia, kalau bisa biarkan setiap saat orang lain selalu menyebut namanya Lenghou Tiong di tepi telinganya.

Melihat kedua pipi Gi-lim semu merah, sikapnya kikuk-kikuk pula, diam-diam Ting-cing membatin, “Begitu mendengar nama Lenghou Tiong, seketika sikapnya berubah aneh, jangan-jangan telah timbul pikiran keduniawiannya?” Segera ia mengulangi pertanyaannya dan menegas, “Kutanya kau betul tidak apa yang kau ceritakan itu?”

“Betul,” jawab Gi-lim rada terkejut dari lamunannya. “Ilmu silat Lenghou-suheng memang tidak dapat menandingi Dian Pek-kong, waktu dia menolong aku, dia telah kena bacokan-bacokan golok Dian Pek-kong dan hampir-hampir jiwanya melayang.”

Ting-cing manggut-manggut, lalu menggumam, “Lenghou Tiong cukup mengetahui seluk-beluk Ngo-gak-kiam-pay kita, orang ini telah sekongkol dengan Mo-kau, sungguh merupakan bahaya besar bagi kita. Jika bukan dia yang membocorkan rahasia, dari mana Mo-kau mengetahui kita akan lalu di Sian-he-nia ini?”

“Supek,” cepat Gi-lim berkata, “dia … dia … Lenghou-suheng kan juga tidak mengetahui perjalanan kita ini?”

Dengan tajam Ting-cing menatap Gi-lim, jawabnya, “Dia tidak tahu? Dari mana pula kau mengetahuinya?”

“Saat ini entah di mana beradanya Lenghou-suheng, masakah dia bisa bersekongkol dengan Mo-kau untuk membikin susah kita?” ujar Gi-lim.

Ting-cing mendengus dengan kurang senang, katanya, “Gi-lim, kau adalah orang yang telah meninggalkan rumah, jiwamu sudah berada pada Buddha, janganlah kau tersesat agar tidak sesal di kemudian hari.”

Gi-lim merangkap kedua tangannya sambil menunduk dan berkata perlahan, “Tecu tidak berani.”

Melihat kedua mata Gi-lim basah berkaca mengembeng air mata, Ting-cing menjadi tidak tega dan merasa kasihan. Ia tepuk-tepuk bahu Gi-lim dan berkata, “Musuh sudah kabur jauh, untuk sementara agaknya mereka tidak berani mengusik kita lagi. Habis bertempur tentu kalian sudah lelah, bolehlah makan ransum dulu di sini dan tidurlah sebentar di bawah pohon yang rindang sana.”

Beramai-ramai anak murid Hing-san-pay sama mengiakan, lalu mereka sibuk bekerja, ada yang memasang api unggun untuk memasak air dan sebagainya.

Kiranya keberangkatan orang-orang Hing-san-pay ke selatan ini sebenarnya sangat dirahasiakan. Tapi beritanya toh diketahui oleh pihak Mo-kau, sebab itulah Ting-cing merasa sangsi dan khawatir.

Sesudah mengaso beberapa jam, selesai makan siang, Ting-cing melihat beberapa murid yang terluka itu masih lesu semangatnya, katanya, “Jejak kita sudah ketahuan, selanjutnya tidak perlu berjalan di malam hari, yang luka juga perlu dirawat maka malam ini biarlah kita menginap di Ji-pek-poh saja.”

Begitulah mereka terus turun ke bawah, beberapa jam kemudian sampailah mereka di Ji-pek-poh, suatu kota kecil yang merupakan kota perbatasan antara Ciatkang dan Hokkian. Setiba di kota itu cuaca sudah mulai remang-remang. Anehnya tiada terdapat seorang pun di kota kecil itu.

“Adat kebiasaan Hokkian mengapa begini aneh, masakah begini dini orang di sini sudah masuk tidur?” kata Gi-ho heran.

“Coba kita mencari suatu hotel untuk bermalam,” kata Ting-cing Suthay.

Biasanya Hing-san-pay mempunyai hubungan baik dengan berbagai nikoh dunia persilatan yang menghuni di kuil atau kelenteng setempat, tapi Ji-pek-poh ini tiada kelenteng sehingga terpaksa mereka harus mencari hotel.

Seluruh kota Ji-pek-poh ada ratusan rumah dan toko, tapi aneh, semua pintu rumah sudah tertutup rapat. Sepanjang mata memandang keadaan sunyi lelap, mirip sebuah kota mati belaka. Meski hari belum gelap sama sekali, tapi suasana di tengah kota seperti di tengah malam buta saja sepinya.

Setelah membelok di pengkolan jalan sana, tertampaklah sehelai spanduk yang bertuliskan nama sebuah hotel “Sian-an-khek-tiam” (Rumah Penginapan Sian-an). Tapi pintu hotel itu pun tertutup rapat, keadaan sunyi senyap.

Seorang murid perempuan bernama The Oh lantas maju mengetok pintu hotel itu. The Oh adalah murid dari keluarga preman, raut mukanya yang bulat telur itu selalu mengulum senyum manis. Pintar bicara dan pandai menjawab, maka sangat disukai kawan-kawannya. Sepanjang jalan dia boleh dikata ditugaskan sebagai juru bicara dan hubungan luar bagi rombongan mereka.

Begitulah The Oh berulang-ulang telah mengetok pintu hotel, tapi sampai lama sekali masih belum ada orang membukakan pintu. Ia lantas berseru, “Bukakan pintu, Paman!”

Suaranya nyaring dan jelas, meski terhalang beberapa ruangan rumah juga akan mendengarnya. Tapi aneh, tetap tiada seorang pun dalam hotel itu membukakan pintu, keadaan jelas sangat luar biasa.

Gi-ho lantas maju dan pasang kuping di daun pintu, tapi tiada suatu suara apa-apa yang terdengar di dalam. Ia berpaling dan berkata kepada Ting-cing, “Supek, di dalam memang tiada orang.”

Ting-cing juga merasakan ketidakwajaran suasana itu, dilihatnya kain spanduk yang bertuliskan nama hotel itu masih baru, daun pintu juga cukup bersih, pasti hotel itu bukan menghentikan usahanya. Katanya kemudian, “Coba kita ke sana, hotel di kota ini tentunya tidak cuma satu ini saja.”

Tidak jauh ke depan sana kembali ada sebuah Hotel “Lam-an-khek-tiam” lagi. Akan tetapi sesudah The Oh mengetok pintu seperti tadi, keadaan tetap sama tiada jawaban seorang pun.

“Gi-ho Suci, marilah kita periksa ke dalam,” ajak The Oh.

Gi-ho mengiakan, bersama mereka lantas melompati pagar tembok ke dalam. The Oh segera berseru, “Adakah orang di dalam?”

Tetap tiada jawaban apa-apa. Mereka lantas melolos pedang dan masuk ke ruangan hotel itu, lalu masuk ke ruangan dalam, dapur, dan sekelilingnya, memang benar tiada seorang pun, namun di atas meja kursi tiada berdebu, bahkan satu poci teh rasanya juga masih hangat-hangat.

The Oh membuka pintu membiarkan Ting-cing Suthay dan rombongan masuk ke dalam, lalu melaporkan apa yang dilihatnya. Semua orang sama menyatakan keheranan mereka.

“Coba kalian bertujuh menjadi satu kelompok memeriksa ke berbagai pelosok di sana, carilah tahu apa sebabnya kota menjadi kosong begini?” Ting-cing memberi perintah. “Tujuh orang tidak boleh terpencar, begitu ada jejak musuh segera berikan tanda dengan suitan.”

Para murid Hing-san-pay mengiakan, masing-masing kelompok lantas berjalan ke luar dengan cepat, dalam sekejap saja di ruang hotel itu hanya tinggal Ting-cing sendirian. Semula masih terdengar suara tindakan kepergian murid-murid itu, sampai akhirnya suasana menjadi sunyi senyap dan mendirikan bulu roma. Sebuah kota dengan ratusan rumah itu ternyata hening lelap, sampai suara kokok ayam atau salak anjing juga tak terdengar, benar-benar suasana yang luar biasa.

Selang sejenak, Ting-cing mendadak merasa khawatir, “Jangan-jangan pihak Mo-kau sengaja pasang jebakan, anak murid itu sebagian besar belum berpengalaman, bisa jadi mereka akan masuk perangkap musuh.”

Ia coba ke luar pintu hotel itu, terlihat bayangan orang berkelebatan di ujung timur sana, di sebelah lain ada beberapa bayangan melompat ke dalam rumah orang lagi, semuanya dikenali sebagai anak murid Hing-san-pay, legalah hati Ting-cing.

Tidak lama kemudian para murid telah kembali susul-menyusul dan sama melaporkan tiada menemukan seorang pun di seluruh kota. Kata Gi-ho, “Jangankan manusia, hewan juga tiada seekor pun.”

“Tampak belum lama penduduk kota ini meninggalkan tempatnya,” sambung Gi-jing. “Banyak tanda-tanda yang menunjukkan mereka baru saja berangkat dengan tergesa-gesa dengan barang-barang berharga sekadarnya.”

Ting-cing manggut-manggut, tanyanya kemudian, “Bagaimana pendapat kalian?”

“Tecu kira semuanya ini adalah perbuatan kaum iblis Mo-kau,” ujar Gi-ho. “Mereka telah mengusir pergi penduduk kota, tidak lama lagi mereka tentu akan menyerang kita secara besar-besaran.”

“Benar!” sahut Ting-cing. “Sekali ini rupanya kaum iblis hendak bertempur dengan kita secara terang-terangan, itulah sangat bagus. Kalian takut atau tidak?”

“Menumpas kaum iblis adalah tugas suci murid Buddha kita,” sahut para murid serentak.

Ting-cing berkata pula, “Baiklah, kita akan bermalam di hotel ini, paling perlu tanak nasi dan makan kenyang dulu. Coba dulu apakah air dan bahan makanan ada racunnya atau tidak?”

Begitulah anak murid Hing-san-pay lantas sibuk menyiapkan daharan. Di waktu makan biasanya murid Hing-san-pay memang dilarang bicara. Sekarang mereka lebih-lebih prihatin lagi. Mereka sama pasang kuping untuk mendengarkan kalau-kalau ada sesuatu suara yang mencurigakan di luar. Selesai kelompok pertama makan mereka lantas keluar berjaga menggantikan kelompok yang lain dan begitu seterusnya.

Tiba-tiba Gi-jing mendapat satu akal, katanya, “Supek, bagaimana kalau kita pergi menyalakan pelita di rumah-rumah penduduk yang lain agar musuh tidak tahu pasti di mana kita berada.”

“Akal membingungkan musuh ini sangat bagus,” ujar Ting-cing. “Kalian bertujuh boleh pergi menyalakan pelita.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: